Anda di halaman 1dari 4

PERJANJIAN REASURANSI

PENGERTIAN
Undang-Undang menyadari dengan sesungguhnya bahwa beban penanggung berat. Oleh karena itu,
Undang-Undang mengijinkan dilakukannya pertanggungan ulang untuk meringankan beban
penanggung terhadap akseptasi risiko-risiko yang ditanggung. Pertanggungan ulang atau reasuransi
ini biasanya didasarkan atas suatu perjanjian tertulis yang disebut dengan Reinsurance Treaty.
Pasal yang mengatur tentang reasuransi adalah Pasal 271 KUHD.

Pada umumnya ada 3 bentuk Reasuransi, yaitu:


Pertama:
Penanggung pertama kepada penanggung lainnya yang sama tingkatnya, artinya penanggung
yang kedua ini adalah penanggung yang setingkat dengan penanggung pertama.
Kedua:
Penanggung pertama kepada penanggung ulang atau perusahaan reasuransi dalam negeri.
Ketiga:
Penanggung pertama atau penanggung ulang dalam negeri kepada penanggung ulang luar
negeri. Penanggung ulang/perusahaan reasuransi luar negeri ini disebut retrocessionaire
(penanggung ulangnya reasuransi dalam negeri). Misalnya: PT Reasuransi Umum Indonesia di
Jakarta mereasuransikan lagi obyek pertanggungan pertama itu kepada perusahaan reasuransi
luar negeri J.H. Minet & Co Ltd. di London.

Jadi yang dimaksud dengan pertanggungan ulang atau reasuransi, adalah:


perjanjian timbal balik antara seorang penanggung pertama dengan seorang penanggung
lainnya (penanggung reasuransi), dimana penanggung reasuransi itu dengan menerima uang
premi yang telah ditetapkan lebih dulu jumlahnya, bersedia untuk mengganti rugi kepada
penanggung pertama (tertanggung kedua), bilamana dia menurut hukum harus memberi
ganti kerugian kepada tertanggung pertama, sebagai akibat dari perjanjian asuransi yang
dibuat oleh penanggung pertama dengan tertanggung pertama.

Persoalan tentang sampai seberapa besar jumlah pertanggungan yang menjadi beban penanggung
pertama dalam hal adanya reasuransi tersebut, tergantung dari perjanjian yang telah ditutup antara
penanggung pertama dengan penanggung ulang. Dimana besarnya jumlah pertanggungan tersebut
ada hubungannya dengan kemampuan penanggung pertama untuk menanggung risiko sendiri
(disebut Own Retention atau O/R). Sedangkan tentang besar kecilnya O/R ini dapat diukur dengan
tingkat kemajuan penanggung pertama. Jika aset penanggung pertama itu besar, maka ia juga
mempunyai kemampuan untuk membayar yang juga besar. O/R penanggung pertama itu
dinyatakan dalam jumlah uang, yang ia merasa mampu untuk membayar sendirian ganti kerugian
tertanggung.

ASAS-ASAS DALAM REASURANSI


Ada beberapa asas yang harus dipenuhi dalam perjanjian reasuransi, yaitu:
1. Asas Kepentingan (Insurable Interest)
Dalam reasuransi, yang dimaksud dengan kepentingan adalah kewajiban penanggung pertama
untuk mengganti kerugian kepada tertanggung pertama.

2. Asas Itikad Baik/Kejujuran Yang Sempurna (Utmost Good Faith)


Dalam perjanjian reasuransi, penanggung pertama/tertanggung kedua harus memberitahukan
kepada penanggung ulang/penanggung kedua segala sesuatu mengenai risiko yang akan
dilimpahkan kepadanya dan sebaliknya si penanggung ulang tidak boleh mencari-cari alasan yang

1
tidak masuk akal dengan maksud untuk menghindari kewajibannya membayar ganti kerugian yang
menurut hukum harus dilaksanakan.

3. Asas Ganti Kerugian (Indemnity)


Dalam reasuransi, Asas Ganti Kerugian berlaku sepenuhnya. Pembagian premi dan pembagian
jumlah ganti kerugian antara penanggung pertama dengan penanggung kedua/penanggung ulang
adalah seimbang dengan pembagian yang telah ditetapkan dalam perjanjian reasuransi.

4. Asas Subrogasi
Dalam reasuransi, penanggung ulang yang sudah membayar ganti kerugian kepada penanggung
pertama, ia berhak atas subrogasi itu. Jadi jika penanggung pertama menerima subrogasi, maka
penanggung ulangpun mendapat subrogasi dari penanggung pertama sebanding dengan jumlah
penyertaannya. Dalam hal ini penanggung ulang itu memperoleh recovery (perolehan kembali).

5. Asas Follow The Fortunes


Asas Follow The Fortunes merupakan kata singkat dari kalimat the insurer follows the fortunes of
the ceeding company (penanggung ulang mengikuti suka duka penanggung pertama).
Asas ini hanya khusus berlaku bagi perjanjian reasuransi.
Asas Follow The Fortunes, menghendaki bahwa:
penanggung ulang tidak boleh mempertimbangkan secara tersendiri terhadap obyek
pertanggungan, akibatnya segala sesuatu, termasuk peraturan dan perjanjian, yang berlaku
bagi penanggung pertama berlaku pula bagi penanggung ulang.

METODE REASURANSI
Metode Reasuransi adalah cara menyerahkan sebagian risiko penanggung pertama kepada
penanggung lain atau penanggung ulang.
Penanggung Pertama : ceding company
Penanggung Ulang : reinsurer

Metode Reasuransi ada 2, yaitu:


1. Metode Proporsional
Metode proporsional, ialah metode berimbangan. Imbangan ini mengenai pembagian risiko, premi,
dan ganti kerugian bila ada peristiwa tak tertentu yang menimbulkan kerugian pada tertanggung.
Metode Proporsional dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
a. Dengan mengadakan perjanjian reasuransi (Reinsurance Treaty)
b. Dengan membentuk POOL
c. Dengan cara Fakultatif

a. Perjanjian Reasuransi (Reinsurance Treaty)


Imbangan porsi antara penanggung pertama dengan penanggung ulang diletakkan dalam suatu
perjanjian reasuransi yang dibuat oleh penanggung pertama dengan penanggung ulang. Jadi yang
diatur dalam perjanjian reasuransi (Reinsurance Treaty) adalah imbangan porsi antara penanggung
pertama dengan penanggung ulang mengenai risiko, premi, dan ganti kerugian, bila terjadi
peristiwa tak tertentu yang menimbulkan kerugian bagi tertanggung. Cara ini lebih disukai orang
karena lebih praktis dan menghemat biaya, serta bisa dipakai untuk semua jenis asuransi, baik
asuransi kerugian, jiwa, maupun sosial.

Perjanjian Reasuransi, ialah:


perjanjian timbal balik antara penanggung pertama dengan penanggung ulang, dengan mana
penanggung pertama setuju untuk menyerahkan sebagian risiko yang ditanggungnya kepada
penanggung ulang, dan penanggung ulang setuju untuk menerima bagian risiko tersebut
dalam batas maksimum sebagai yang telah ditetapkan lebih dulu.
2
Perikatan yang timbul, yaitu:
Penanggung Pertama :
terikat untuk mendahulukan pelaksanaan perjanjian ini daripada mencari penutupan di luar
perjanjian reasuransi.
Penanggung Ulang :
tidak dapat menolak penyerahan bagian risiko yang masih dalam ruang lingkup perjanjian
reasuransi itu.

Perjanjian Reasuransi Jenis Quota Share


Perjanjian reasuransi jenis Quota Share menghendaki agar penanggung pertama bersama-sama
dengan penanggung ulang menetapkan jumlah prosentase tetap tentang penyerahan risiko-risiko
dari jenis asuransi tertentu, yang berimbang dengan penyerahan premi dengan batas maksimum
tertentu.
Metode Quota Share ini sekarang sudah tidak begitu digemari orang, kecuali dalam hal-hal
tertentu, karena dengan menggunakan metode ini berarti penanggung pertama harus membayar
sebagian premi dari beberapa risiko dalam portfolio, yang sebenarnya dapat ditahan sendiri oleh
penanggung pertama. Namun, metode ini banyak dipakai bagi perusahaan asuransi kecil atau
perusahaan asuransi induk terhadap anak perusahaannya.

Perjanjian Reasuransi Jenis Surplus


Perjanjian reasuransi jenis Surplus ini ada, apabila penanggung pertama hanya ingin
mereasuransikan risiko-risiko yang tidak disukai dan tidak ditahan untuk dirinya sendiri. Akibat
dari adanya perjanjian reasuransi jenis Surplus ini adalah jika risiko-risiko yang diterima oleh
penanggung pertama dapat ditahan semuanya untuk dirinya sendiri, maka tidak ada premi yang
harus diserahkan kepada penanggung ulang untuk setiap polis.
Sistem Surplus ini memberikan kebebasan kepada penanggung pertama untuk menentukan
proporsi bagi setiap risiko yang ingin ditahan untuk ditanggung sendiri. Tetapi sekali retensi
(O/R) ini ditetapkan, maka sisanya diserahkan kepada penanggung ulang. Risiko yang
diserahkan kepada penanggung ulang tersebut juga ada batas maksimumnya. Sisa risiko yang
melebihi batas maksimum itu dapat diselesaikan melalui Surplus Treaty kedua atau ketiga. Jika
masih ada sisa risiko lagi, maka dapat diselesaikan dengan perjanjian reasuransi jenis lain atau
cara fakultatif, yakni dengan cara menawarkan risiko tersebut kepada perusahaan reasuransi
yang sama atau lainnya.

b. Metode POOL
Metode POOL ini dipakai untuk menampung risiko-risiko yang besar atau risiko-risiko yang
sifatnya sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Semua risiko tersebut ditaruh pada satu tempat atau di-pool dalam suatu wadah dan sejumlah
perusahaan reasuransi yang menjadi anggotanya mendapat bagiannya sesuai dengan prosentase
yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelaksanaan reasuransinya kepada para anggota tersebut dapat
dilakukan secara Quota Share dan/atau Surplus.
Administrasi POOL itu dilakukan oleh perusahaan anggota yang dipilih oleh seluruh anggota
POOL itu sebagai pimpinannya. Besarnya bagian tiap-tiap anggota ditetapkan berdasarkan
besarnya bisnis dan diukur atas dasar pemasukan preminya.
Dalam hal adanya kerugian atau penuntutan (klaim), maka kerugian yang dituntut itu dipikul
bersama oleh para anggota POOL menurut besar kecilnya bagian mereka masing-masing.

c. Reasuransi Secara Fakultatif

3
Dalam hal ini ialah bahwa imbangan antara porsi penanggung pertama dengan porsi penanggung
ulang itu tidak ditetapkan oleh suatu perjanjian reasuransi, tetapi oleh kehendak si penanggung
pertama sendiri.
Dulu, pada waktu permulaan adanya lembaga reasuransi, cara inilah satu-satunya cara yang dipakai
oleh para penanggung dalam menangani risiko besar yang tidak dapat ditanggung sendiri oleh si
penanggung pertama. Sekarang, orang lebih suka menggunakan metode Reinsurance Treaty untuk
menetapkan imbangan porsi penanggung pertama dengan porsi penanggung ulang.

2. Metode Non Proporsional


Di dalam metode non proporsional, tidak ada pembagian risiko secara proporsional antara
penanggung pertama dengan penanggung ulang. Di sini telah disepakati antara penanggung
pertama dengan penanggung ulang suatu jumlah tertentu sebagai batas terakhir risiko yang menjadi
tanggung jawab penanggung pertama, sedangkan risiko selebihnya menjadi tanggung jawab
penanggung ulang. Tanggung jawab penanggung ulang dimulai sesudah batas terakhir risiko bagi
penangggung pertama tercapai sampai pada jumlah batas maksimum tanggung jawab penanggung
ulang (limit).