Anda di halaman 1dari 14

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

F3 UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK SERTA KELUARGA BERENCANA

Pada hari ini tanggal ______________________ telah dipresentasikan portofolio oleh :

Nama peserta : dr. Edwin Dermody Sirait dan dr.Dwi Permana Putra

Judul / topik : Faktor resiko Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK)

Nama pendamping : dr. Willy Gunawan

Nama wahana : UPTD Puskesmas Kedondong

No Nama Peserta Presentasi No Nama Peserta Presentasi


. .
1 dr.Dwi Permana Putra 1 dr. Dofi Pebriadi

2 2 dr. Cika tio Angela Simamora

3 3 dr. Lela Mantili

4 4 dr. Yollalita Putryady

5 5

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

dr. Willy Gunawan


NIP 197302072000121001

F3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga Berencana (KB)

Nama Peserta : dr. Dwi Permana Putra


dr. Edwin Dermody Sirait

Nama Wahana : UPTD Puskesmas Kedondong, Ketapang


Topik : Faktor resiko Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK)
Tanggal Pelaksanaan :
Tanggal Presentasi : Nama Pendamping : dr. Willy Gunawan
Obyektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Balita Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi :
Terdapatnya angka kejadian kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) di wilayah kerja
Puskesmas Kedondong Ketapang tahun 2016.
Tujuan :
- Memberikan gambaran mengenai data demografi wanita dan pasangan usia subur di wilayah
kerja Puskesmas Kedondong.
- Memberikan gambaran mengenai data KJDK di wilayah kerja Puskesmas Kedondong.
- Memberikan gambaran mengenai data faktor-faktor resiko yang mungkin menyebabkan
terjadinya KJDK di wilayah kerja Puskesmas Kedondong.
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas :
Diskusi Presentasi dan Diskusi Email Pos
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Data Demografi
Penduduk pada wilayah kerja Puskesmas Kedondong merupakan komunitas masyarakat
perkotaan yang heterogen dengan distribusi jumlah penduduk per desa sebagai berikut :

No DESA / KEL JUMLAH RT LUAS JUMLAH


WILAYAH KM2 PENDUDUK
1 KEL. TENGAH 22 1.92 8.314
2 KEL. SAMPIT 49 2.40 14.771
3 KEL. SUKAHARJA 39 3.80 12.481
4 DS. PAYA KUMANG 21 3.0 5.627
JUMLAH 131 11.12 41.193

Dengan luas wilayah 11,12 km2, rata-rata jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas
kedondong adalah 3.704 jiwa/km2. Sebagian besar mata pencahariannya adalah sebagai pekerja
swasta, PNS, pedagang, nelayan, petani dan buruh.

Berdasarkan riset yang didapatkan, di wilayah kerja Puskesmas Kedondong didapatkan data
wanita usia subur sebanyak 11.753 jiwa dengan jumlah masing-masing kelurahan adalah :
- Kelurahan Tengah : 2.983 jiwa
- Kelurahan Sampit : 4.108 jiwa
- Kelurahan Sukaharja : 3.680 jiwa
- Kelurahan Payak Kumang : 1.027 jiwa

Jumlah Sasaran Wanita Usia Subur di wilayah kerja Puskesmas Kedondong


4500 4108
4000 3680
3500 2938
3000
2500
2000 Jumlah WUS di wilayah
1500 1027 kerja Puskesmas
1000 Kedondong
500
0

Diketahui juga tentang jumlah pasangan usia subur sebanyak 7.951 jiwa dengan jumlah
masing-masing kelurahan adalah :
- Kelurahan Tengah : 2.307 jiwa
- Kelurahan Sampit : 1.981 jiwa
- Kelurahan Sukaharja : 2.020 jiwa
- Kelurahan Payak Kumang : 1.640 jiwa
Jumlah Sasaran Pasangan Usia Subur di Wilayah Kerja Puskesmas Kedondong
2500 2307
1981 2020
2000
1640
1500
Jumlah Sasaran Pasangan
1000 Usia Subur di Wilayah Kerja
Puskesmas Kedondong
500

Tabel Gambaran Keluarga Miskin di Puskesmas Kedondong tahun 2015


Nomor Kelurahan/Desa Jumlah KK Miskin %
1 Tengah 3.058 258 8,4
2 Sampit 4.361 422 9,7
3 Sukaharja 3.625 204 5,6
4 Payak Kumang 2.071 224 10,8
Total 13.115 1.108 10,8

2. Gambaran Kematian Janin di Dalam Kandungan di Wilayah Kerja Puskesmas


Kedondong
Angka Kejadian Kematian Janin Dalam Kandungan
3.5
3
3
2.5
2
2
1.5 Angka Kejadian Kematian
1 Janin Didalam Kandungan
0.5
0
0 0

Tabel diatas menunjukkan angka KJDK dari lima kelurahan di Wilaya Kerja Puskesmas
Kedondong pada tahun 2016. Dari kelurahan Payak Kumang dan Kelurahan Sampit tidak
ditemukan adanya laporan mengenai KJDK, tetapi di Kelurahan Sukaharja didapatkan sebanyak
tiga kematian dan di Kelurahan Tengah sebanyak 2 kematian janin
3. Laporan Capain Program KIA di Puskesmas Kedondong
Jenis Kegiatan Juli Agustus September Oktober November
K1 80 78 75 70 62
Trimester 1 30 26 30 26 18
Trimester 2 28 30 21 24 20
Trimester 3 22 22 24 20 24
Primigravida < 20 th 1 1 4 1 2
Primigravida > 35 th 0 0 1 0 0
Jumlah anak > 4 1 2 0 2 2
Anemia (Hb < 11 gr/dl 5 2 12 10 15
KPD 0 0 1 0 0
HPP 0 0 0 0 0
Riw. DM,HT, Cacat 0 0 0 0 0
35

30

25

20
Trimester 1
Trimester 2
15
Trimester 3

10

0
Juli Agustus September Oktober November

Kunjungan Ibu Hamil K4


90
78
80 75
70 68
70
60
60
50 Kunjungan Ibu Hamil K4

40
30
20
10
0
Juli Agustus September Oktober November
16 15

14
12
12
Primigravida usia < 20 th
10
10 Primigravida usia >35 th
Jumlah anak >4
8 Anemia (Hb <11 gr dl
KPD
6 5 HPP
4 Riw. DM,Hipertensi, Cacat
4
Kongenital
22 2 2 2
2 1 1 1 1 1

0
0 Juli 0
Agustus 0
September 0
Oktober 0
November

4. Gambaran faktor-faktor resiko yang menyebabkan terjadinya KDJK di wilayah


kerja Puskesmas Kedondong
Menurut Mochtar (2004), lebih dari 50% kasus, etiologi kematian janin dalam kandungan tidak
ditemukan atau belum diketahui penyebabnya dengan pasti. Beberapa penyebab yang bisa
mengakibatkan kematian janin dalam kandungan, antara lain :
a. Perdarahan : plasenta previa dan solusio plasenta.
b. Preeklampsi dan eklampsia
c. Penyakit-penyakit kelainan darah
d. Penyakit infeksi dan penyakit menular
e. Penyakit saluran kencing
f. Penyakit endokrin: diabetes melitus
g. Malnutrisi

Dalam penelitiannya secara retospektif Sharma (2016) mendapatkan 250 KJDK dari total 6942
persalinan yang terjadi selama masa penelitiannya. Dari hasil tersebut maka angka insidensi
KJDK adalah 36/1000 kelahiran hidup, dimana 222 KJDK merupakan persalinan yang tidak
tercatat dan tanpa ditolong oleh petugas kesehatan. Dari hasil observasi penelitian tersebut 58%
KJDK terjadi pada daerah terpencil; 71,2% KJDK terjadi pada persalinan ibu dengan keluarga
yang keadaan sosioekonominya rendah; 9,2% KJDK terjadi pada ibu yang memiliki riwayat
KJDK sebelumnya; 32.8% KJDK terjadi pada ibu dengan hipertensi gestasional (32.8%) dan
sebesar 15,2% dengan PEB, 74,4% KJDK terjadi pada ibu dengan anemia, 51,2% memiliki
anemia ringan; 8,4% memiliki anemia berat, 14.4% memiliki anemia berat. 18,8% KJDK
terjadi pada persalinan dengan perdarahan antepartum, dimana 15,6% merupakan ablasio
plaseta dan 3,2 % dengan plasenta previa. Kondisi kesehatan ibu lainnya yang berkaitan dengan
KJDK adalah diabetes, penyakit jantung, hiperpirexia (2,4%) dan hepatitis infektif (0.8%)
3.1 Faktor Ibu
1. Umur
Bertambahnya usia ibu, maka terjadi juga perubahan perkembangan dari organ-organ tubuh
terutama organ reproduksi dan perubahan emosi atau kejiwaan seorang ibu. Hal ini dapat
mempengaruhi kehamilan yang tidak secara langsung dapat mempengaruhi kehidupan janin
dalam rahim. Usia reproduksi yang baik untuk seorang ibu hamil adalah usia 20-30 tahun
(Wiknjosastro, 2005). Pada umur ibu yang masih muda organ-organ reproduksi dan emosi
belum cukup matang, hal ini disebabkan adanya kemunduran organ reproduksi secara umum
(Wiknjosastro, 2005).
2. Paritas
Paritas yang baik adalah 2-3 anak, merupakan paritas yang aman terhadap ancaman mortalitas
dan morbiditas baik pada ibu maupun pada janin. Ibu hamil yang telah melahirkan lebih dari 5
kali atau grandemultipara, mempunyai risiko tinggi dalam kehamilan seperti hipertensi,
plasenta previa, dan lain-lain yang akan dapat mengakibatkan kematian janin (Saifuddin, 2002).
3. Pemeriksaan Antenatal
Setiap wanita hamil menghadapi risiko komplikasi yang mengancam jiwa, oleh karena itu,
setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya 4 kali kunjungan selama periode antenatal.
a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (umur kehamilan 1-3 bulan)
b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (umur kehamilan 4-6 bulan)
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (umur kehamilan 7-9 bulan).
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan sedini mungkin pada seorang wanita hamil penting
sekali sehingga kelainan-kelainan yang mungkin terdapat pada ibu hamil dapat diobati dan
ditangani dengan segera. Pemeriksaan antenatal yang baik minimal 4 kali selama kehamilan
dapat mencegah terjadinya kematian janin dalam kandungan berguna untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan dalam rahim, hal ini dapat dilihat melalui tinggi fundus uteri
dan terdengar atau tidaknya denyut jantung janin (Saifuddin, 2002).
4. Penyulit / Penyakit
a. Anemia
Hasil konsepsi seperti janin, plasenta dan darah membutuhkan zat besi dalam jumlah besar
untuk pembuatan butir-butir darah pertumbuhannya, yaitu sebanyak berat zat besi. Jumlah ini
merupakan 1/10 dari seluruh zat besi dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan
bergantung dari jumlah persediaan zat besi dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Selama
masih mempunyai cukup persediaan zat besi, Hb tidak akan turun dan bila persediaan ini habis,
Hb akan turun. Ini terjadi pada bulan kelima sampai bulan keenam kehamilan, pada waktu janin
membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi salah
satunya adalah kematian janin dalam kandungan (Mochtar, 2004). Menurut Manuaba (2003),
pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat digolongkan sebagai berikut :
- Normal : 11 gr%
- Anemia ringan : 9-10 gr%
- Anemia sedang : 7-8 gr%
- Anemia berat : <7 gr%.

b. Pre-eklampsi dan eklampsi


Pada pre-eklampsi terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Jika
semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha
untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Maka aliran
darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan karena
kekurangan oksigen terjadi gawat janin (Mochtar,2004).
c. Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari
perlekatannya sebelum janin lahir. Solusio plasenta dapat terjadi akibat turunnya darah secara
tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju ke ruang intervili maka terjadilah anoksemia dari
jaringan bagian distalnya. Sebelum ini terjadi nekrotis, spasme hilang darah kembali mengalir
ke dalam intervilli, namun pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuh, mudah pecah
terjadinya hematoma yang lambat laun melepaskan plasenta dari rahim, sehingga aliran darah
ke janin melalui plasenta tidak ada dan terjadilah kematian janin (Wiknjosastro, 2005).
a. Diabetes Mellitus
Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit keturunan dengan ciri-ciri kekurangan atau tidak
terbentuknya insulin, akibat kadar gula dalam darah yang tinggi dan mempengaruhi
metabolisme tubuh secara menyeluruh dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
janin. Umumnya wanita penderita diabetes melahirkan bayi yang besar (makrosomia).
Makrosomia dapat terjadi karena glukosa dalam aliran darah, dimana pankreas yang
menghasilkan lebih banyak insulin untuk menanggulangi kadar gula yang tinggi. Glukosa
berubah menjadi lemak dan bayi menjadi besar. Bayi besar atau makrosomia menimbulkan
masalah sewaktu melahirkan dan kadang-kadang mati sebelum lahir (Stridje, 2000).
b. Rhesus Iso-Imunisasi
Jika orang berdarah rhesus negatif diberi darah rhesus positif, maka antigen rhesus akan
membuat penerima darah membentuk antibodi antirhesus. Jika transfusi darah rhesus positif
yang kedua diberikan, maka antibodi mencari dan menempel pada sel darah rhesus negatif dan
memecahnya sehingga terjadi anemia ini disebut rhesus iso-imunisasi. Hal ini dapat terjadi
begitu saja di awal kehamilan, tetapi perlahan- lahan sesuai perkembangan kehamilan. Dalam
aliran darah, antibodi antihresus bertemu dengan sel darah merah rhesus positif normal dan
menyelimuti sehingga pecah melepaskan zat bernama bilirubin, yang menumpuk dalam darah,
dan sebagian dikeluarkan ke kantong ketuban bersama urine bayi. Jika banyak sel darah merah
yang hancur maka bayi menjadi anemia sampai akhirnya mati (Llewelyn, 2005).
c. Infeksi dalam kehamilan
Kehamilan tidak mengubah daya tahan tubuh seorang ibu terhadap infeksi, namun keparahan
setiap infeksi berhubungan dengan efeknya terhadap janin. Infeksi mempunyai efek langsung
dan tidak langsung pada janin. Efek tidak langsung timbul karena mengurangi oksigen darah ke
plasenta. Efek langsung tergantung pada kemampuan organisme penyebab menembus plasenta
dan menginfeksi janin, sehingga dapat mengakibatkan kematian janin in utero (Llewellyn,
2001).
d. Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini merupakan penyebab terbesar persalinan prematur dan kematian janin
dalam kandungan. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Kejadian ketuban pecah
dini mendekati 10% semua persalinan. Pada umur kehamilan kurang dari 34 minggu,
kejadiannya sekitar 4%. Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara dunia
luar dan ruangan dalam rahim, sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Salah satu fungsi
selaput ketuban adalah melindungi atau menjadi pembatas dunia luar dan ruangan dalam rahim
sehingga mengurangi kemungkinan infeksi. Makin lama periode laten, makin besar
kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas dan selanjutnya meningkatkan
kejadian kesakitan dan kematian ibu dan kematian janin dalam rahim (Manuaba, 2003).
e. Letak lintang
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada
sisi yang satu sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Pada letak lintang dengan ukuran
panggul normal dan cukup bulan, tidak dapat terjadi persalinan spontan. Bila persalinan
dibiarkan tanpa pertolongan, akan menyebabkan kematian janin. Bahu masuk ke dalam panggul
sehingga rongga panggul seluruhnya terisi bahu dan bagian-bagian tubuh lainnya. Janin tidak
dapat turun lebih lanjut dan terjepit dalam rongga panggul. Dalam usaha untuk mengeluarkan
janin, segmen bawah uterus melebar serta menipis, sehingga batas antara dua bagian ini makin
lama makin tinggi dan terjadi lingkaran retraksi patologik sehingga dapat mengakibatkan
kematian janin (Wiknjosastro, 2005).
3.2 Faktor Janin
1. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak
kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting
terjadinya kematian janin dalam kandungan, atau lahir mati. Bayi dengan kelainan kongenital,
umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil
untuk masa kehamilannya. Dilihat dari bentuk morfologik, kelainan kongenital dapat berbentuk
suatu deformitas atau bentuk malformitas. Suatu kelainan kongenital yang berbentuk
deformitas secara anatomik mungkin susunannya masih sama tetapi bentuknya yang akan tidak
normal. Kejadian ini umumnya erat hubungannya dengan faktor penyebab mekanik atau pada
kejadian oligohidramnion. Sedangkan bentuk kelainan kongenital malformitas, susunan
anatomik maupun bentuknya akan berubah. Kelainan kongenital dapat dikenali melalui
pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air ketuban, dan darah janin (Kadri, 2005).
2. Infeksi intranatal
Infeksi melalui cara ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain. Kuman dari vagina naik dan
masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban pecah. Ketuban pecah dini mempunyai
peranan penting dalam timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat pula terjadi
walaupun ketuban masih utuh, misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan
pemeriksaan vaginal. Janin kena infeksi karena menginhalasi likuor yang septik, sehingga
terjadi pneumonia kongenital atau karena kuman-kuman yang memasuki peredaran darahnya
dan menyebabkan septicemia. Infeksi intranatal dapat juga terjadi dengan jalan kontak
langsung dengan kuman yang terdapat dalam vagina, misalnya blenorea dan oral thrush
(Monintja, 2006).
3.3. Kelainan Tali Pusat
Tali pusat sangat penting artinya sehingga janin bebas bergerak dalam cairan amnion, sehingga
pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik. Pada umumnya tali pusat
mempunyai panjang sekitar 55 cm. Tali pusat yang terlalu panjang dapat menimbulkan lilitan
pada leher, sehingga mengganggu aliran darah ke janin dan menimbulkan asfiksia sampai
kematian janin dalam kandungan.
a. Kelainan insersi tali pusat
Insersi tali pusat pada umumnya parasentral atau sentral. Dalam keadaan tertentu terjadi
insersi tali pusat plasenta battledore dan insersi velamentosa. Bahaya insersi velamentosa
bila terjadi vasa previa, yaitu pembuluh darahnya melintasi kanalis servikalis, sehingga saat
ketuban pecah pembuluh darah yang berasal dari janin ikut pecah. Kematian janin akibat
pecahnya vase previa mencapai 60%-70% terutama bila pembukaan masih kecil karena
kesempatan seksio sesaria terbatas dengan waktu (Wiknjosastro, 2005)
b. Simpul tali pusat pernah ditemui kasus kematian janin dalam rahim akibat terjadi peluntiran
pembuluh darah umblikalis, karena selei Whartonnya sangat tipis. Peluntiran pembuluh
darah tersebut menghentikan aliran darah ke janin sehingga terjadi kematian janin dalam
rahim. Gerakan janin yang begitu aktif dapat menimbulkan simpul sejati sering juga
dijumpai (Manuaba, 2002).
c. Lilitan tali pusat
Gerakan janin dalam rahim yang aktif pada tali pusat yang panjang besar kemungkinan
dapat terjadi lilitan tali pusat. Lilitan tali pusat pada leher sangat berbahaya, apalagi bila
terjadi lilitan beberapa kali. Tali pusat yang panjang berbahaya karena dapat menyebabkan
tali pusat menumbung, atau tali pusat terkemuka. Dapat diperkirakan bahwa makin masuk
kepala janin ke dasar panggul, makin erat lilitan tali pusat dan makin terganggu aliran darah
menuju dan dari janin sehingga dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan
(Wiknjosastro, 2005).
Kesimpulan
1. Sebagian besar ibu hamil di wilayah kerja puskesmas kedondong tidak melakukan K1 pada
trimester pertama kehamilannya.
2. Angka kejadian KJDK di wilayah kerja Puskesmas Kedondong yang sebenarnya terjadi dapat
saja lebih tinggi dari pada data yang dimiliki, sebab berdasarkan hasil penelitian dikatakan bahwa
sebagian besar kejadian KJDK terjadi pada ibu yang melahirkan tanpa pertolongan petugas
kesehatan terlatih sehingga tidak tercatat.
3. KJDK yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Kedondong selama tahun 2016 hanya terjadi
pada Kelurahan Sukaharja dan Kelurahan Tengah yang jumlah keluarga miskinnya lebih rendah
dibanding Kelurahan Sampit dan Kelurahan Paya Kumang.
4. Anemia merupakan salah satu faktor resiko KJDK tertinggi pada ibu hamil, dan angka kejadian
Anemia pada ibu hamil di Puskesmas Kedondong masih cukup tinggi.
5. Faktor resiko lain KJDK seperti usia ibu <20 tahun dan >35 tahun; serta jumlah anak > 4 masih
ditemukan selama periode Juli-November 2016

Saran
1. Meningkatkan K1 pada trimester awal kehamilan sehingga penilain kehamilan yang beresiko
KJDK dapat dideteksi dan dicegah lebih awal, serta meningkatkan cakupan K4.
a. Memberikan edukasi kepada setiap calon pengantin sebelum pernikahan dan kepada semua
pasangan usia subur untuk melakukan K1 disetiap trimester pertama kehamilan.
b. Mendatangi setiap ibu hamil yang terdata di wilayah kerja Puskesmas Kedondong yang tidak
melakukan follow up pada trimester kedua dan ketiga hingga K4 pada waktunya.
2. Meningkatkan capaian ibu hamil yang melakukan persalinan ditolong oleh petugas kesehatan
terlatih, sehingga dapat menurunkan angka kejadian KJDK serta mendapatkan data persalinan yang
tercatat lebih lengkap.
a. Melakukan KIE (komunikasi informasi edukasi) kepada setiap ibu hamil yang melakukan
ANC sehingga persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dapat terencana sejak awal.
3. Memberikan perhatian khusus pada wilayah kerja yang memiliki resiko lebih tinggi (Kelurahan
Sampit dan Kelurahan Paya Kumang) terjadinya KJDK serta merencanakan upaya pecegahan.
4. Mengatasi banyaknya kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kedondong
yang mungkin menjadi salah satu faktor resiko utama terjadinya KJDK di wilyah kerja Puskesmas
Kedondong.
a. Meningkatkan kunjunangan ANC, skrining Hb pada setiap ibu hamil.
b. Memberikan suplemen Fe sebanyak 90x selama masa kehamilan, dan dapat ditambahkan
asam folat, vitamin b12, dan vitamin c serta memastikan suplemen tersebut dikonsumsi oleh ibu
hamil yang mendapatkannya.
c. Mempromosikan kepada setiap wanita usia subur mengenai gizi yang seimbang, sehingga
diharapkan setiap wanita usia subur sudah berada dalam kondisi gizi yang cukup sebelum hamil.
5. Mengurangi faktor resiko lainnya yang mungkin berhubungan dengan KJDK di wilayah kerja
Puskesmas Kedondong seperti Usia ibu hamil serta ibu yang melahirkan lebih dari 4 kali.
a. Memberikan edukasi kepada remaja, dan orang tua mengenai pengetahuan reproduksi.
b. Memberikan edukasi dan perhatian khusus kepada setiap wanita yang hamil pada usia> 30
dan wanita yang telah hamil > 4x sebab kehamilannya beresiko
c. Mempromosikan KB kepada setiap pasangan usia subur >30 tahun yang telah memiliki anak
serta wanita yang telah melahirkan lebih 4 kali.
Daftar Pustaka
Manuaba. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:
EGC

Sharma. Susmita, et al. 2016. Analytical study of intrauterine fetal death cases
and associated maternal conditions. Int j appl basic Med res. Jan-Mar; 6(1): 11
13.

Winknjosastro, hanifa, 2006, ilmu kebidanan, Edisi ketiga, jakarta: YBP-SP