Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

PROMOSI KESEHATAN

Disusun Oleh
Adnan Al Thoriq 260112160553
Panggih Saputro 260112160555

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JANTINANGOR

2017
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Konsep promosi kesehatan merupakan pengembangan dari konsep pendidikan kesehatan, yang
berlangsung sejalan dengan perubahan paradigm kesehatan masyarakat (public health).
Perubahan paradigma kesehatan masyarakat terjadi antara lain akibat berubahnya pola
penyakit, gaya hidup, kondisi kehidupan, lingkungan kehidupan, dan demografi. Pada awal
perkembangannya, kesehatan masyarakat difokuskan pada faktor-faktor yang menimbulkan
risiko kesehatan seperti udara, air, penyakit-penyakit bersumber makanan seperti penyakit
penyakit lain yang berhubungan dengan kemiskinan dan kondisi kehidupan yang buruk. Dalam
perkembangan selanjutnya, disadari bahwa kondisi kesehatan juga dipengaruhi oleh gaya hidup
masyarakat (Depkes RI., 2004). Aktivitas promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa adalah
advokasi (advocating), pemberdayaan (enabling) dan mediasi (mediating). Selain itu, juga
dirumuskan 5 komponen utama promosi kesehatan yaitu: 1) membangun kebijakan public
berwawasan kesehatan (build healthy public policy), 2) menciptakan lingkungan yang
mendukung (create supportive environments), 3) memperkuat gerakan masyarakat (strengthen
community action), 4) membangun keterampilan individu (develop personal skill), dan 5)
reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services). Berdasarkan Piagam Ottawa
tersebut, dirumuskan strategi dasar promosi kesehatan, yaitu empowerment (pemberdayaan
masyarakat), social support (bina suasana), dan advocacy (advokasi) (WHO, 2009).
Sesuai dengan perkembangan promosi kesehatan tersebut di atas, pada tahun 2009
WHO memberikan pengertian promosi kesehatan sebagai proses mengupayakan individu-
individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan faktor-faktor
yang mempengaruhi kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya. Bertolak
dari pengertian yang dirumuskan WHO tersebut, di Indonesia pengertian promosi kesehatan
dirumuskan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran
dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan budaya setempat
dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Depkes RI., 2004).
Upaya yang dapat dilakukan seorang apoteker di fasilitas kesehatan primer dapat berupa
pelayanan kesehatan promotive (promosi kesehatan), preventive (pencegahan penyakit),
curative (pengobatan penyakit) dan rehabilitation. Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan

2
yang optimal dibutuhkan tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan, dan sarana
prasarana yang berkualitas (pemulihan kesehatan). Apoteker sebagai salah satu tenaga
kesehatan yang diakui oleh pemerintah, memiliki peran dalam pembangunan kesehatan
terutama kesehatan masyarakat. Apoteker sebagai profesi kesehatan yang memiliki kompetensi
dan keahlian di bidang kefarmasian (sediaan farmasi dan alat kesehatan) bertanggung jawab
dalam penjaminan kualitas dan ketepatan obat pada seluruh proses terkait sediaan farmasi (IAI,
2010).
2. Tujuan Promosi Kesehatan
Tujuan umum dari promosi kesehatan adalah meningkatakan kemampuan individu, keluarga,
kelompok masyarakat untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang
bersumber dari masyarakat serta terciptanya lingkungan yang kondusif untuk mendorong
terbentuknya kemampuan tersebut.

BAB II
ISI

A. Pengertian Promosi Kesehatan


Promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan kesehatan, yang dilakukan

3
dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan sesuatu anjuran yang
ada hubungannya dengan kesehatan (Azwar,1983 ; Machfoedz, et al., 2005).
Tujuan promosi kesehatan sendiri adalah mengubah perilaku masyarakat ke arah
perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, tentunya perubahan perilaku yang
diharapakan setelah menerima promositidak dapat terjadi sekaligus (Herijulianti, 2002).
Menurut (Machfoedz, et al., 2005), Promosi kesehatan merupakan proses perubahan,
yang bertujuan mengubah individu, kelompok dan masyarakat menuju hal-hal yang
positif secara terencana melalui proses belajar. Perubahan tersebut mencakup antara lain
pengetahuan, sikap dan keterampilan melalui proses promosikeseahatan. Adapun tujuan
promosi jangka panjang adalah terciptanya perilaku sehat dan tujuan jangka menengah
adalah terciptanya pengertian, sikap, norma, dan sebagainya. Sedangkan tujuan jangka
pendek ialah tentang jangkauan kelompok sasaran atau bisa juga menyangkut
terlaksananya kegiatan-kegiatan penyuluhan.
B. Sasaran Promosi Kesehatan
Dalam pelaksanaan promosi kesehatan dikenal adanya 3 (tiga) jenis sasaran, yaitu (1)
sasaran primer, (2) sasaran sekunder dan (3) sasaran tersier.
1. Sasaran Primer

Sasaran primer (utama) upaya promosi kesehatan sesungguhnya adalah pasien, individu
sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen dari masyarakat. Mereka ini
diharapkan mengubah perilaku hidup mereka yang tidak bersih dan tidak sehat menjadi
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Akan tetapi disadari bahwa mengubah perilaku
bukanlah sesuatu yang mudah. Perubahan perilaku pasien, individu sehat dan keluarga
(rumah tangga) akan sulit dicapai jika tidak didukung oleh: Sistem nilai dan norma-norma
sosial serta norma-norma hukum yang dapat diciptakan/dikembangkan oleh para pemuka
masyarakat, baik pemuka informal maupun pemuka formal.

Keteladanan dari para pemuka masyarakat, baik pemuka informal maupun pemuka formal,
dalam mempraktikkan PHBS. Suasana lingkungan sosial yang kondusif (social pressure)
dari kelompok-kelompok masyarakat dan pendapat umum (public opinion).

4
Sumber daya dan atau sarana yang diperlukan bagi terciptanya PHBS, yang dapat
diupayakan atau dibantu penyediaannya oleh mereka yang bertanggung jawab dan
berkepentingan (stakeholders), khususnya perangkat pemerintahan dan dunia usaha.

2. Sasaran Sekunder

Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka informal (misalnya
pemuka adat, pemuka agama dan lain-lain) maupun pemuka formal (misalnya petugas
kesehatan, pejabat pemerintahan dan lain-lain), organisasi kemasyarakatan dan media
massa. Mereka diharapkan dapat turut serta dalam upaya meningkatkan PHBS pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan cara: Berperan sebagai panutan dalam
mempraktikkan PHBS. Turut menyebarluaskan informasi tentang PHBS dan menciptakan
suasana yang kondusif bagi PHBS. Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group)
guna mempercepat terbentuknya PHBS.

3. Sasaran Tersier

Sasaran tersier adalah para pembuat kebijakan publik yang berupa peraturan perundang-
undangan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lain yang berkaitan serta mereka yang
dapat memfasilitasi atau menyediakan sumber daya. Mereka diharapkan turut serta dalam
upaya meningkatkan PHBS pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) dengan
cara:

Memberlakukan kebijakan/peraturan perundangundangan yang tidak merugikan kesehatan


masyarakat dan bahkan mendukung terciptanya PHBS dan kesehatan masyarakat.
Membantu menyediakan sumber daya (dana, sarana dan lain-lain) yang dapat mempercepat
terciptanya PHBS di kalangan pasien, individu sehat dan keluarga (rumah tangga) pada
khususnya serta masyarakat luas pada umumnya.
C. Strategi Promosi Kesehatan

Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku, maka perlu dilaksanakan strategi promosi
kesehatan paripurna yang terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina
suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan.

5
Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan dalam mencegah dan
menanggulangi masalah kesehatan, guna membantu individu, keluarga atau kelompok-
kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.

Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial yang kondusif dan
mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-panutan dalam mengadopsi
PHBS dan melestarikannya.

Sedangkan advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu yang
diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segi materi
maupun non materi

Gambar 1. Strategi Promosi Kesehatan

1. Pemberdayaan

Dalam upaya promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat merupakan bagian yang sangat
penting dan bahkan dapat dikatakan sebagai ujung tombak. Pemberdayaan adalah proses
pemberian informasi kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus-menerus
dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu klien, agar
klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu
menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang

6
diperkenalkan (aspek practice). Oleh sebab itu, sesuai dengan sasaran (klien)nya dapat
dibedakan adanya (a) pemberdayaan individu, (b) pemberdayaan keluarga dan (c)
pemberdayaan kelompok/masyarakat.

Dalam mengupayakan agar klien tahu dan sadar, kuncinya terletak pada keberhasilan
membuat klien tersebut memahami bahwa sesuatu (misalnya Diare) adalah masalah
baginya dan bagi masyarakatnya. Sepanjang klien yang bersangkutan belum mengetahui
dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah, maka klien tersebut tidak akan
bersedia menerima informasi apa pun lebih lanjut. Saat klien telah menyadari masalah yang
dihadapinya, maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang
masalah yang bersangkutan.

Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan menyajikan fakta-fakta dan
mendramatisasi masalah. Tetapi selain itu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah
tersebut bias dicegah dan atau diatasi. Di sini dapat dikemukakan fakta yang berkaitan
dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan (misalnya tentang seorang tokoh agama
yang dia sendiri dan keluarganya tak pernah terserang Diare karena perilaku yang
dipraktikkannya).

Bilamana seorang individu atau sebuah keluarga sudah akan berpindah dari mau ke mampu
melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada
yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung. Tetapi yang seringkali dipraktikkan
adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pemberdayaan kelompok/masyarakat melalui
pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat
(community development). Untuk itu, sejumlah individu dan keluarga yang telah mau,
dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi.
Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari
pemerintah atau dari dermawan). Di sinilah letak pentingya sinkronisasi promosi kesehatan
dengan program kesehatan yang didukungnya dan program-program sektor lain yang
berkaitan. Hal-hal yang akan diberikan kepada masyarakat oleh program kesehatan dan
program lain sebagai bantuan, hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya.
Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat.

7
Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui kemitraan serta menggunakan
metode dan teknik yang tepat. Pada saat ini banyak dijumpai lembaga-lembaga swadaya
masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan atau peduli terhadap kesehatan. LSM
ini harus digalang kerjasamanya, baik di antara mereka maupun antara mereka dengan
pemerintah, agar upaya pemberdayaan masyarakat dapat berdayaguna dan berhasilguna.
Setelah itu, sesuai ciri-ciri sasaran, situasi dan kondisi, lalu ditetapkan, diadakan dan
digunakan metode dan media komunikasi yang tepat.

2. Bina Suasana

Bina Suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu
anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan
terdorong untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial di mana pun ia berada
(keluarga di rumah, organisasi siswa/mahasiswa, serikat pekerja/karyawan, orang-orang
yang menjadi panutan/idola, kelompok arisan, majelis agama dan lain-lain, dan bahkan
masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu, untuk
memperkuat proses pemberdayaan, khususnya dalam upaya meningkatkan para individu
dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan bina suasana. Terdapat tiga kategori proses bina
suasana, yaitu (a) bina suasana individu, (b) bina suasana kelompok dan (c) bina suasana
publik.

3. Advokasi

Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang
terkait ini berupa tokoh-tokoh masyarakat (formal dan informal) yang umumnya berperan
sebagai narasumber (opinion leader), atau penentu kebijakan (norma) atau penyandang
dana. Juga berupa kelompok-kelompok dalam masyarakat dan media massa yang dapat
berperan dalam menciptakan suasana kondusif, opini publik dan dorongan (pressure) bagi
terciptanya PHBS masyarakat. Advokasi merupakan upaya untuk menyukseskan bina
suasana dan pemberdayaan atau proses pembinaan PHBS secara umum.

Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi jarang
diperoleh dalam waktu singkat. Pada diri sasaran advokasi umumnya berlangsung tahapan-

8
tahapan, yaitu (1) mengetahui atau menyadari adanya masalah, (2) tertarik untuk ikut
mengatasi masalah, (3) peduli terhadap pemecahan masalah dengan mempertimbangkan
berbagai alternatif pemecahan masalah, (4) sepakat untuk memecahkan masalah dengan
memilih salah satu alternatif pemecahan masalah dan (5) memutuskan tindak lanjut
kesepakatan. Dengan demikian, maka advokasi harus dilakukan secara terencana, cermat
dan tepat. Bahan-bahan advokasi harus disiapkan dengan matang, yaitu:

Sesuai minat dan perhatian sasaran advokasi


Memuat rumusan masalah dan alternatif pemecahan masalah
Memuat peran si sasaran dalam pemecahan masalah
Berdasarkan kepada fakta atau evidence-based
Dikemas secara menarik dan jelas
Sesuai dengan waktu yang tersedia

Sebagaimana pemberdayaan dan bina suasana, advokasi juga akan lebih efektif bila
dilaksanakan dengan prinsip kemitraan. Yaitu dengan membentuk jejaring advokasi atau
forum kerjasama. Dengan kerjasama, melalui pembagian tugas dan saling-dukung, maka
sasaran advokasi akan dapat diarahkan untuk sampai kepada tujuan yang diharapkan.
Sebagai konsekuensinya, metode dan media advokasi pun harus ditentukan secara cermat,
sehingga kerjasama dapat berjalan baik.

4. Kemitraan

Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaan maupun bina suasana dan
advokasi guna membangun kerjasama dan mendapatkan dukungan. Dengan demikian
kemitraan perlu digalang antar individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintah yang
terkait dengan urusan kesehatan (lintas sektor), pemuka atau tokoh masyarakat, media
massa dan lain-lain. Kemitraan harus berlandaskan pada tiga prinsip dasar, yaitu (a)
kesetaraan, (b) keterbukaan dan (c) saling menguntungkan.

D. Metode Promosi Kesehatan

Metode Promosi Kesehatan dapat digolongkan berdasarkan Teknik Komunikasi,


Sasaran yang dicapai dan Indera penerima dari sasaran promosi.

1. Berdasarkan Teknik Komunikasi

9
a. Metode penyuluhan langsung.
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan
sasaran. Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan diskusi (FGD),
pertemuan di balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
b. Metode yang tidak langsung.
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka
dengan sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara (media).
Umpamanya publikasi dalam bentuk media cetak, melalui pertunjukan film, dsb
2. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai
a. Pendekatan Perorangan
Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak
langsung dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah, hubungan
telepon dan lain-lain
b. Pendekatan Kelompok

Dalam pendekatan ini petugas promosi berhubungan dengan sekolompok


sasaran. Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain :
Pertemuan, Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain-lain

c. Pendekatan Masal
Petugas Promosi Kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepada
sasaran yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan ini
adalah : Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/media cetak
lainnya, Pemutaran film, dll.

3. Berdasarkan Indera Penerima


a. Metode MELIHAT/MEMPERHATIKAN. Dalam hal ini pesan diterima sasaran
melalui indera penglihatan, seperti : Penempelan Poster, Pemasangan
Gambar/Photo, Pemasangan Koran dinding, Pemutaran Film
b. Metode PENDENGARAN. Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui
indera pendengar, umpamanya : Penyuluhan lewat radio, Pidato, Ceramah, dll
c. Metode KOMBINASI. Dalam hal ini termasuk : Demonstrasi cara (dilihat,
didengar,dicium, diraba dan dicoba)
E. Media Promosi Kesehatan

Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai alat bantu
untuk promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk

10
memperlancar komunikasi dan penyebarluasan informasi. Media promosi kesehatan
adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin
disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik (TV, radio,
komputer, dan lain-lain) dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat
pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya kearah positif
terhadap kesehatannya.

Adapun tujuan media promosi kesehatan diantaranya (Notoatmodjo, 2005) :

a. Media dapat mempermudah penyampaian informasi.

b. Media dapat menghindari kesalahan persepsi.

c. Dapat memperjelas informasi

d. Media dapat mempermudah pengertian.

e. Mengurangi komunikasi yang verbalistik

f. Dapat menampilkan obyek yang tidak bisa ditangkap dengan mata.

g. Memperlancar komunikasi.

F. Jenis Media Promosi Kesehatan


a. Berdasarkan bentuk umum penggunaan (Notoatmodjo, 2005)
1) Bahan bacaan : Modul, buku rujukan/bacaan, folder, leaflet, majalah, buletin,
dan sebagainya.
2) Bahan peragaan : Poster tunggal, poster seri, plipchart, tranparan, slide, film,
dan seterusnya.
b. Berdasarkan cara produksinya, media promosi kesehatan dikelompokkan menjadi:
1) Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual.
Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau
foto dalam tata warna. Fungsi utama media cetak ini adalah memberi informasi
dan menghibur. Adapun macam-macamnya adalah poster, leaflet, brosur,
majalah, surat kabar, lembar balik, sticker, dan pamflet.

11
Kelebihan media cetak diantaranya adalah : a) Tahan lama, b) Mencakup
banyak orang, c) Biaya tidak tinggi, d) Tidak perlu listrik, e) Dapat dibawa
ke mana-mana, f) Dapat mengungkit rasa keindahan, g) Meningkatkan
gairah belajar.
Kelemahan media cetak yaitu : a) Media ini tidak dapat menstimulir efek
suara dan efek gerak, b) Mudah terlipat (Notoatmodjo, 2005).
2) Media elektronika yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan
didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika.
Adapun macam-macam media tersebut adalah TV, radio, film, video film,
cassete, CD, VCD.
Kelebihan media elektronika diantaranya : a) Sudah dikenal masyarakat, b)
Mengikutsertakan semua panca indra, c) Lebih mudah dipahami, d) Lebih
menarik karena ada suara dan gambar bergerak, e) Bertatap muka, f)
Penyajian dapat dikendalikan, g) Jangkauan relatif lebih besar, h) Sebagai
alat diskusi dan dapat diulang-ulang.
Kelemahan media elektronika diantaranya : a) Biaya lebih tinggi, b) Sedikit
rumit, c) Perlu listrik, d) Perlu alat canggih untuk produksinya dan persiapan
matang, e) Peralatan selalu berkembang dan berubah serta perlu
keterampilan penyimpanan, f) Perlu terampil dalam pengoperasian
(Notoatmodjo, 2005).
3) Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar ruang
secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis, misalnya: Papan
reklame yaitu poster dalam ukuran besar yang dapat dilihat secara umum di
perjalanan, spanduk yaitu suatu pesan dalam bentuk tulisan dan disertai gambar
yang dibuat di atas secarik kain dengan ukuran tergantung kebutuhan dan
dipasang di suatu tempat yang strategi agar dapat dilihat oleh semua orang,
pameran, banner dan TV layar lebar (DEPKES RI, 2006).
Kelebihan media luar ruang diantaranya : a) Sebagai informasi umum dan
hiburan, b) Mengikutsertakan semua panca indra, c) Lebih mudah dipahami,
d) Lebih menarik karena ada suara dan gambar bergerak, e) Bertatap muka,
f) Penyajian dapat dikendalikan, g) Jangkauan relatif lebih besar, h) Dapat
menjadi tempat bertanya lebih detail, i) Dapat menggunakan semua panca
indra secara langsung, dan lain-lain.

12
Kelemahan media luar ruang diantaranya : a) Biaya lebih tinggi, b) Sedikit
rumit, c) Ada yang memerlukan listrik, d) Ada yang memerlukan alat
canggih untuk produksmya, e) Perlu persiapan matang, f) Peralatan selalu
berkembang dan berubah, g) Perlu keterampilan penyimpanan, h) Perlu
keterampil dalam pengoperasian (DEPKES RI, 2006).
G. Rancangan Pengembangan Media
Pada tahap ini dirancang atau direncanakan berbagai strategi dan model intervensi yang
menjelaskan beberapa komponen utama, yaitu :
a. Menetapkan tujuan
Tujuannya adalah suatu pernyataan tentang suatu keadaan di masa datang yang akan
dicapai melalui pelaksanaan kegiatan tertentu (Notoatmodjo,2005).
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan harus :
1) Realistis, artinya bisa dicapai bukan hanya angan-angan.
2) Jelas dan dapat diukur.
3) Apa yang akan diukur.
4) Siapa sasaran yang akan diukur.
5) Seberapa banyak perubahan yang akan diukur.
6) Berapa lama dan di mana pengukuran dilakukan.
Penetapan tujuan adalah sebagai dasar untuk merancang media promosi kesehatan
dan dalam merancang evaluasi. Jika tujuan yang ditetapkan tidak jelas dan tidak
operasional maka program menjadi tidak fokus dan tidak efektif
(Notoatmodjo,2005).
b. Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih kelompok sasaran yang tepat dan
dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi kesehatan. Tujuannya adalah
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan memberikan kepuasan pada
masing-masing segmen. Dapat juga untuk menentukan ketersediaan, jumlah dan
jangkauan produk. Selain itu juga dapat menghitung jenis media dan menempatkan
media yang mudah diakses oleh khalayak sasaran. Sebelum media promosi
kesehatan diluncurkan hendaknya perIu mengumpulkan data sasaran seperti : 1)
Data karakteristik perilaku khalayak sasaran, 2) Data epidemiologi, 3) Data
demografi, 4) Data geografi, 5) Data psikologi (Notoatmodjo,2005).
c. Mengembangkan posisioning pesan
Posisioning adalah suatu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk
perusahaan, individu atau apa saja dalam alam pikiran mereka yang dianggap
sebagai sasaran atau konsumennya. Posisioning bukan sesuatu yang dilakukan

13
terhadap produk tetapi sesuatu yang dilakukan terhadap otak calon konsumen atau
khalayak sasaran. Hal ini bukan strategi produk tetapi strategi komunikasi. Di sini
berhubungan dengan bagaimana calon konsumen menempatkan produk kesehatan di
dalam otaknya (Notoatmodjo,2005).
d. Menentukan strategi posisioning
Pada prinsipnya seseorang yang ingin melakukan kegiatan posisioning memerlukan
suatu ketekunan dan kejernihan berpikir dalam memandang produk dan pasar yang
tengah diusahakan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan (Notoatmodjo, 2005).
1) Identifikasi para pesaing.
Tujuannya adalah melakukan identifikasi atas sejumlah pesaing yang ada di
masyarakat.
2) Persepsi konsumen.
Tujuannya adalah memperoleh sejumlah atribut yang dianggap penting oleh
khalayak sasaran.
3) Menentukan posisi pesaing.
Mengetahui posisi yang diduduki oleh pesaing dilihat dari berbagai sudut
pandang.
4) Menganalisis preferensi khalayak sasaran.
Mengetahui posisi yang dikehendaki oleh khalayak sasaran terhadap suatu
produk tertentu.
5) Menentukan posisi merek produk sendiri.
Penentuan posisi merek yang akan kita jual harus mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut : analisis ekonomi, komitmen terhadap segmen pasar, jangan
mengadakan perubahan yang penting, pertimbangkan simbol-simbol produk.
6) Ikuti perkembangan posisi.
Secara bersekala posisi produk harus ditinjau dan dinilai kembali apakah masih
cocok dengan keadaan.

e. Memilih Media Promosi Kesehatan.


Pemilihan media adalah jabaran saluran yang akan digunakan untuk menyampaikan
pesan pada khalayak sasaran. Yang perlu diperhatikan di sini adalah :
1) Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak sasaran, bukan pada selera
pengelola program.
2) Media yang djpilih harus memberikan dampak yang luas.
3) Setiap media akan mempunyai peranan yang berbeda.
4) Penggunaan beberapa media secara serempak dan terpadu akan meningkatkan
cakupan, frekuensi dan efektifitas pesan (DEPKES RI, 2006).

H. Langkah-Langkah Pelaksanaan Promosi Kesehatan

14
Langkah-langkah pelaksanaaan promosi kesehatan dibedakan atas dua kelompok,
yaitu (1) langkah-langkah promosi kesehatan di Puskesmas, dan (2) langkah-langkah
promosi kesehatan di masyarakat.
1. Langkah-langkah promosi kesehatan di Puskesmas
Pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas pada dasarnya adalah penerapan strategi
promosi kesehatan, yaitu pemberdayaan, bina suasana, dan advokasi di tatanan sarana
kesehatan, khususnya Puskesmas. Oleh karena itu, langkah awalnya adalah berupa
penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas Puskesmas agar
mampu mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang disandang pasien/klien
Puskesmas dan menyusun rencana untuk menanggulanginya dari sisi promosi
kesehatan. Setelah itu, barulah dilaksanakan promosi kesehatan sesuai dengan peluang-
peluang yang ada, yaitu peluangpeluang di dalam gedung Puskesmas dan peluang-
peluang di luar gedung Puskesmas. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari
dinas kesehatan kabupaten/kota . Oleh karena itu, keberhasilan pelaksanaan promosi
kesehatan di Puskesmas juga merupakan tanggung jawab dari dinas kesehatan
kabupaten/kota. Dengan demikian, sangat diperlukan keterlibatan dinas kesehatan
kabupaten/kota dalam pelaksanaan promosi kesehatan di Puskesmas, khususnya dalam
langkah penggerakan dan pengorganisasian untuk memberdayakan para petugas
Puskesmas. Petugas Puskesmas harus mendapat pendampingan oleh fasilitator dari
dinas kesehatan kabupaten/kota agar mampu melaksanakan: (1) Pengenalan Kondisi
Puskesmas, (2) Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas, (3)
Musyawarah Kerja, (4) Perencanaan Partisipatif, (5) Pelaksanaan Kegiatan dan (6)
Pembinaan Kelestarian.
1) Pengenalan Kondisi Masyarakat

Pengenalan kondisi institusi kesehatan untuk memperoleh data dan informasi tentang
PHBS di Puskesmas tersebut, sebagai data dasar (baseline data). Yang digunakan
sebagai standar adalah persyaratan Puskesmas yang Ber-PHBS (8 indikator proksi).
Pengenalan kondisi Puskesmas ini dilakukan oleh fasilitator dengan dukungan dari
Kepala dan seluruh petugas Puskesmas. Pengenalan kondisi Puskesmas dilakukan
melalui pengamatan (observasi), penggunaan daftar periksa (check list), wawancara,
pemeriksaan lapangan atau pengkajian terhadap dokumen-dokumen yang ada.

15
2) Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS di Puskesmas

Pengenalan kondisi Puskesmas dilanjutkan dengan identifikasi masalah, yaitu masalah-


masalah kesehatan yang saat ini diderita oleh pasien/pengunjung dan masalah-masalah
kesehatan yang mungkin akan terjadi (potensial terjadi) jika tidak diambil tindakan
pencegahan. Masalah-masalah kesehatan yang sudah diidentifikasi kemudian diurutkan
berdasarkan prioritas untuk penanganannya.

3) Musyawarah Kerja

Musyawarah Kerja yang diikuti oleh seluruh petugas/karyawanPuskesmas,


diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai Mawas Diri, sehingga masih menjadi tugas
fasilitator untuk mengawalnya.

4) Perencanaan Partisipatif

Setelah diperolehnya kesepakatan, fasilitator mengadakan pertemuan-pertemuan secara


intensif dengan petugas kesehatan guna menyusun rencana pemberdayaan pasien dalam
tugas masingmasing. Pembuatan rencana dengan menggunakan tabel berikut:

Di luar itu, fasilitator juga menyusun rencana bina suasana yang akan dilakukannya di
Puskesmas, baik dengan pemanfaatan media maupun dengan memanfaatkan
pemuka/tokoh. Untuk bina suasana dengan memanfaatkan pemuka/tokoh digunakan
tabel berikut.

5) Pelaksana Kegiatan

16
Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya operasional seperti
pemberdayaan pasien/pengunjung dan advokasi dapat dilaksanakan. Sedangkan
kegiatan-kegiatan lain yang memerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana,
apakah itu dana dari Puskesmas, dari pihak donatur atau dari pemerintah. Pembinaan
PHBS di Puskesmas dilaksanakan dengan pemberdayaan, yang didukung oleh bina
suasana dan advokasi.

2. Langkah Promosi Kesehatan Di Masyarakat

Langkah-langkah promosi kesehatan di masyarakat mencakup: (1) Pengenalan Kondisi


Wilayah, (2) Identifikasi Masalah Kesehatan, (3) Survai Mawas Diri, (4) Musyawarah Desa
atau Kelurahan, (5) Perencanaan Partisipatif, (6) Pelaksanaan Kegiatan dan (7) Pembinaan
Kelestarian.

1) Pengenalan Kondisi Wilayah

Pengenalan kondisi wilayah dilakukan oleh fasilitator dan petugas Puskesmas dengan
mengkaji data Profil Desa atau Profil Kelurahan dan hasil analisis situasi perkembangan
desa/kelurahan. Data dasar yang perlu dikaji berkaitan dengan pengenalan kondisi
wilayah adalah : Data geografi dan demografi (jumlah RT/RW, Tingkat pendidikan,
Jumlah desa, wilayah dsb), Data Kesehatan (Jumlah kematian bayi, jumlah ibu hamil,
menyusui dan bersalin, jumlah penyakit ISPA, TBC dsb),

2) Survei Mawas Diri

Sebagai langkah pertama dalam upaya membina peran serta masyarakat, perlu
diselenggarakan Survai Mawas Diri, yaitu sebuah survai sederhana oleh para pemuka
masyarakat dan perangkat desa/kelurahan, yang dibimbing oleh fasilitator dan petugas
Puskesmas. Selain untuk mendata ulang masalah kesehatan, mendiagnosis penyebabnya
dari segi perilaku dan menggali latar belakang perilaku masyarakat, survai ini juga
bermanfaat untuk menciptakan kesadaran dan kepedulian para pemuka masyarakat
terhadap kesehatan masyarakat desa/kelurahan, khususnya dari segi PHBS. Dalam
survai ini akan diidentifikasi dan dirumuskan bersama hal-hal seperti: Masalah-masalah
kesehatan yang masih diderita/dihadapi dan mungkin (potensial) dihadapi masyarakat

17
serta urutan prioritas penanganannya, Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah-
masalah kesehatan, baik dari sisi teknis kesehatan maupun dari sisi perilaku masyarakat.
Dari sisi perilaku, setiap perilaku digali faktor-faktor yang menjadi latar belakang
timbulnya perilaku tersebut.

3) Muswarah Desa/Kelurahan

Musyawarah Desa/Kelurahan diselenggarakan sebagai tindak lanjut Survai Mawas Diri,


sehingga masih menjadi tugas fasilitator dan petugas Puskesmas untuk mengawalnya.
Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan:

Menyosialisasikan tentang adanya masalah-masalah kesehatanyang masih


diderita/dihadapi masyarakat.
Mencapai kesepakatan tentang urutan prioritas masalah masalah kesehatan yang hendak
ditangani.
Mencapai kesepakatan tentang UKBM-UKBM yang hendak dibentuk baru atau
diaktifkan kembali.
Memantapkan data/informasi potensi desa atau potensi kelurahan serta
bantuan/dukungan yang diperlukan dan alternatif sumber bantuan/dukungan tersebut.
Menggalang semangat dan partisipasi warga desa atau kelurahan untuk mendukung
pengembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan.
Musyawarah Desa/Kelurahan diakhiri dengan dibentuknya Forum Desa, yaitu sebuah
lembaga kemasyarakatan di mana para pemuka masyarakat desa/kelurahan berkumpul
secara rutin untuk membahas perkembangan dan pengembangan kesehatan masyarakat
desa/kelurahan.
Dari segi PHBS, Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan untuk menjadikan masyarakat
desa/kelurahan menyadari adanya sejumlah perilaku yang menyebabkan terjadinya
berbagai masalah kesehatan yang saat ini dan yang mungkin (potensial) mereka hadapi.
4) Perencanaan

Setelah diperolehnya kesepakatan dari warga desa atau kelurahan, Forum Desa
mengadakan pertemuan-pertemuan secara intensif guna menyusun rencana
pengembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan untuk dimasukkan ke dalam
Rencana Pembangunan Desa/Kelurahan

18
5) Pelaksana Kegiatan

Sebagai langkah pertama dalam pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan, petugas


Puskesmas dan fasilitator mengajak Forum Desa merekrut atau memanggil kembali
kader-kader kesehatan yang ada. Selain itu, juga untuk mengupayakan sedikit dana
(dana desa/kelurahan atau swadaya masyarakat) guna keperluan pelatihan kader
kesehatan. Selanjutnya, pelatihan kader kesehatan oleh fasilitator dan petugas
Puskesmas dapat dilaksanakan.

Segera setelah itu, kegiatan-kegiatan yang tidak memerlukan biaya operasional seperti
penyuluhan dan advokasi dapat dilaksanakan. Sedangkan kegiatan-kegiatan lain yang
memerlukan dana dilakukan jika sudah tersedia dana, apakah itu dana dari swadaya
masyarakat, dari donatur (misalnya pengusaha), atau dari pemerintah, termasuk dari
desa /kelurahan.

Promosi kesehatan dilaksanakan dengan pemberdayaan keluarga melalui Dasawisma,


yang didukung oleh bina suasana dan advokasi.

6) Evaluasi dan Pembinaan Kelestarian

Evaluasi dan pembinaan kelestarian merupakan tugas dari Kepala Desa/Lurah dan
perangkat desa/kelurahan dengan dukungan dari berbagai pihak, utamanya pemerintah
daerah dan pemerintah. Kehadiran fasilitator di desa dan kelurahan sudah sangat
minimal, karena perannya sudah dapat sepenuhnya digantikan oleh kader kader
kesehatan, dengan supervisi dari Puskesmas.

Perencanaan partisipatif dalam rangka pembinaan kesehatan masyarakat


desa/kelurahan, sudah berjalan baik dan rutin serta terintegrasi dalam proses
perencanaan pembangunan desa atau kelurahan dan mekanisme Musrenbang.
Kemitraan dan dukungan sumber daya serta sarana dari pihak di luar pemerintah juga
sudah tergalang dengan baik dan melembaga. Pada tahap ini, selain pertemuan-
pertemuan berkala serta kursuskursus penyegar bagi para kader kesehatan, juga
dikembangkan cara-cara lain untuk memelihara dan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan para kader tersebut.

19
Pembinaan kelestarian juga dilaksanakan terintegrasi dengan penyelenggaraan Lomba
Desa dan Kelurahan yang diselenggarakan setiap tahun secara berjenjang sejak dari
tingkat desa/kelurahan sampai ke tingkat nasional.

Dalam rangka pembinaan kelestarian juga diselenggarakan pencatatan dan pelaporan


perkembangan kesehatan masyarakat desa/kelurahan, termasuk PHBS di Rumah
Tangga, yang berjalan secara berjenjang dan terintegrasi dengan Sistem Informasi
Pembangunan Desa yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri.

20
Contoh Promosi Kesehatan

Perilaku Menyikat Gigi Yang Baik dan Benar


Menyikat adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membersihkan gigi dengan
menggunakan sikat gigi dan pasta gigi yang mengandung fluoride. Menyikat gigi bertujuan
untuk membersihkan gigi dari sisa makanan, mencegah dan membersihkan plak, membersihkan
pewarnaan yang menempel pada permukaan gigi, mengaplikasikan pasta gigi yang
mengandung fluor pada gigi serta memijat gusi.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menyikat gigi yaitu :


1. Bentuk sikat gigi yang baik.
Bentuk sikat gigi yang baik untuk digunakan adalah bulu sikat gigi lembut dan datar serta
kepala sikat gigi ramping, sehingga mudah mencapai daerah paling belakang. Bulu sikat
gigi yang keras dapat merusakkan gigi dan gusi, sedangkan kepala sikat gigi yang lebar
akan sulit menjangkau daerah paling belakang.

2. Frekuensi menyikat gigi dalam sehari.


Menyikat gigi sebaiknya dilakukan secara teratur 2 kali sehari yaitu pagi sesudah makan
dan malam sebelum tidur menggunakan pasta gigi berfluoride dengan tekanan yang ringan
dan gerakan yang lembut. Pasta gigi berperan penting dalam membersihkan dan
melindungi gigi dari kerusakan karena pasta gigi mengandung fluoride. Penggunaan pasta
gigi tidak perlu berlebihan karena yang terpenting dalam membersihkan gigi adalah
cara menyikat gigi.

3. Cara menyikat gigi yang benar.

21
Menyikat gigi yang benar harus dapat membersihkan semua permukaan gigi agar bebas
dari plak. Menyikat gigi yang terlalu cepat tidak akan efektif membersihkan plak.
Menyikat gigi dengan tekanan yang ringan dan gerakan yang lembut sudah dapat
membersihkan plak karena plak hanya lapisan lunak. Menyikat gigi dengan tekan terlalu
kuat dan gerakan yang cepat akan merusakkan gigi dan gusi. Menyikat gigi yang tepat
dibutuhkan waktu minimal 2 menit. Semua permukaan gigi harus disikat sebanyak 5-10
kali gerakan dengan cara sebagai berikut :
a. Permukaan gigi yang menghadap ke bibir dan pipi untuk rahang atas disikat dengan
gerakan searah ke bawah dan rahang bawah dengan gerakan searah ke atas.

b. Permukaan gigi belakang rahang atas yang menghadap ke langit-langit disikat dengan
gerakan searah ke bawah.

c. Permukaan gigi depan rahang atas yang menghadap ke langit-langit disikat dengan
gerakan menarik ke bawah.

d. Permukaan gigi belakang rahang bawah yang menghadap ke lidah disikat dengan
gerakan searah ke atas.

e. Permukaan gigi depan rahang bawah yang menghadap ke lidah disikat dengan gerakan
menarik ke atas.

f. Semua dataran pengunyah pada gigi rahang atas dan rahang bawah disikat dengan
gerakan maju mundur.

22
4. Cara memelihara sikat gigi setelah digunakan.
Kebersihan sikat gigi harus diperhatikan karena sikat gigi adalah salah satu sumber
menempelnya bakteri. Cara pemeliharaan sikat gigi yang baik setelah digunakan adalah
dicuci bersih dan disimpan di tempat yang kering dengan kepala sikat gigi menghadap ke
atas agar bulu sikat gigi cepat kering karena bakteri sangat menyukai tempat yang lembab.
Gantikan sikat gigi 3-4 bulan sekali atau jika bulu sikat gigi sudah rusak. Sikat gigi yang
terlalu lama tidak diganti dapat menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri. Apabila
kerusakan sikat gigi terjadi sebelum berusia 3 bulan merupakan tanda bahwa kita
menyikat gigi dengan tekanan terlalu kuat.

A. Persiapan
Hal yang perlu dipersiapkan dalam promosi untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku
masyarakat tentang menyikat gigi yang baik dan benar adalah :
1. Advokasi kepada pihak-pihak terkait
a. Dinas Kesehatan Kota Kupang
Dinas Kesehatan Kota Kupang agar dapat membantu memperbanyak media promosi
yang sudah dipersiapkan agar dapat menjangkau lebih banyak siswa/I yang melihat
dan membaca, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan perilaku dalam
menyikat gigi secara baik dan benar.
b. Dinas Pendidikan Nasional Kota Kupang
Dapat memasukan materi kesehatan gigi dan mulut diantaranya tentang cara
menyikat gigi yang baik dan benar kedalam kurikulum sekolah.
c. Sekolah Dasar
Pihak sekolah dasar khususnya guru-guru agar dapat membantu mengarahkan
kepada seluruh siswa/I tentang tujuan dan manfaat dari media yang diberikan untuk
dilihat dan dibaca, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan perubahan
perilaku dalam menyikat gigi secara baik dan benar.
2. Tenaga

23
Petugas kesehatan gigi yang bertugas untuk memberikan promosidan memasang media
promosi disekolah-sekolah dasar.
3. Media
Media yang dipersiapkan dan digunakan dalam promosi ini adalah menggunakan poster
yang berisi gambar-gambar dan petunjuk singkat tentang langkah-langkah menyikat
gigi secara baik dan benar.
4. Tempat
Media yang telah dipersiapkan (poster), selanjutnya di pasang pada tempat yang
strategis di seluruh sekolah dasar di Kota Kupang, sehingga mudah untuk dilihat dan
dibaca oleh seluruh siswa/I, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan perubahan
perilaku dalam menyikat gigi secara baik dan benar.
B. Pelaksanaan
1. Petugas kesehatan gigi meminta beberapa siswa/I untuk memperagakan cara menyikat
gigi yang biasanya dilakukan dirumah menggunakan alat peraga yang sudah
dipersiapkan (model gigi dan sikat gigi).
2. Petugas kesehatan gigi memberikan promosikepada siswa/I tentang cara menyikat gigi
secara baik dan benar menggunakan alat peraga (model gigi dan sikat gigi).
3. Petugas kesehatan gigi memasang poster yang sudah dipersiapkan pada tempat yang
strategis.
4. Petugas kesehatan menginstruksikan kepada siswa/I agar dapat melihat poster yang
telah dipasang.
C. Evaluasi
Evaluasi program promosi ini dilakukan untuk menilai hasil yang dicapai
dibandingkan dengan sumber daya (input) yang digunakan. Evaluasi merupakan
serangkaian kegiatan untuk membandingkan realisasi masukan (input), pencapaian keluaran
(output) dan dampak (outcome) dengan standar atau indikator yang direncanakan. Hasil
evaluasi dapat memberikan gambaran sejauh mana program promosi kesehatan gigi
mencapai tujuannya. Selain itu, hasil evaluasi ini dapat merupakan umpan balik atau
masukan untuk perbaikan atau peningkatan program. Evaluasi mencakup empat hal yakni :
a. Apa yang di evaluasi
Hal yang perlu di evaluasi adalah output dan outcome.
b. Cara evaluasi
Membandingkan output yang direncanakan dengan output yang dicapai.
Membandingkan outcome yang direncanakan dengan outcome yang dicapai.
c. Pelaksana evaluasi

24
Evaluasi dapat dilakukan secara :
Internal : Kepala Sekolah atau Guru yang diberi wewenang.
Eksternal : Kepala Puskesmas, Tim Pembina Program Promosi Kesehatan Gigi
tingkat Kecamatan, Kabupaten atau Provinsi.

d. Waktu evaluasi
Untuk evaluasi output dilakukan setahun sekali
Untuk evaluasi outcome dilakukan 2 tahun sekali.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan mempunyai peranan penting
dalam promosi kesehatan dengan tujuan mengubah perilaku masyarakat ke arah
perilaku sehat sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Strategi
promosi kesehatan yang dapat diakukan diantaranya adalah dengan dilakukanya (1)
pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi, serta dilandasi
oleh semangat (4) kemitraan. Diharapkan melalui promosi kesehatan yang dilakukan
dapat meningkatkan pengetahuan dan kesehatan masyarakat.

25
B. SARAN
Promosi kesehatan yang dilakukan apoteker dapat dilakukan secara berkala
sehingga masyarakat dapat mengetahui informasi kesehatan yang terbaru. Selain itu,
promosi kesehatan yang dilakukan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Promosi kesehatan juga dapat melibatkan organisasi, lembaga maupun perusahaan
swasta sehingga lebih massal dan cepat dalam penyebaran informasi kepada
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI., 2004, Pusat Promosi Kesehatan, Pengembangan Media Promosi
Kesehatan, Jakarta
Departemen Kesehatan RI., 2008, Pusat Promosi Kesehatan, Panduan Pelatihan Komunikasi
Perubahan Perilaku, Untuk KIBBLA, Jakarta
Departemen Kesehatan RI., 2008, Pusat Promosi Kesehatan, Pedoman Pengelolaan Promosi
Kesehatan, Dalam Pencapaian PHBS, Jakarta
Depkes RI., 2004, Pedoman Penyelenggaraan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, Dirjen Yan
Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Depkes RI., 2008, Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

26
Machfoedz, I.; Suryani, E ; Sutrisno ; Santoso, S., 2005, Pendidikan Kesehatan Bagian dari
Promosi Kesehatan, Fitramaya, Yogyakarta.
Notoatmodjo, S., 2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, S.; Hassan, A.; Hadi, E. N.; Krianto, T., 2012, Promosi Kesehatan Di Sekolah,
Rineka Cipta, Jakarta.
WHO., 1992, Pendidikan Kesehatan; Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar (terj.), ITB,
Bandung.

27