Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi

Usus halus terbentang dari pylorum sampai caecum dengan panjang 270 cm

sampai 290 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum dan ileum.

Duodenum panjangnya sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai jejenum. Panjang

jejenum 100-110 cm dan panjang ileum 150 -160 cm. Pemisahan duodenum dan

jejenum ditandai oleh Ligamentum Treitz. Ligamentum ini berperan sebagai

ligamentum suspensorium. Kira-kira dua per lima dari sisa usus halus adalah

jejenum, dan tiga per lima bagian terminalnya adalah ileum. Jejenum mempunyai

vaskularisasi yang besar dimana lebih tebal dari ileum. Apendiks vermiformis

merupakan tabung buntu berukuran sekitar jari kelingking yang terletak pada

daerah ileosekal, yaitu pada apeks sekum. (Basson, 2004)

Arteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri

celiaca. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang

diperdarahi oleh arteri gastroduodenalis dan cabangnya arteri

pankreatikoduodenalis superior. Darah dikembalikan lewat vena mesenterika

superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta.1,2

Usus halus dipersarafi cabang-cabang kedua sistem saraf otonom.

Rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan pergerakan, sedangkan

rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Serabut saraf sensorik sistem

simpatis menghantarkan nyeri, sedangkan serabut saraf parasimpatis mengatur

refleks usus.

16
Usus besar dibagi menjadi caecum, colon dan rektum. Pada caecum terdapat

katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung caecum. Caecum

menempati sekitar dua atau tiga inchi pertama dari usus besar. Kolon dibagi lagi

menjadi colon ascenden, colon transversum, descenden dan sigmoid. Tempat

dimana colon membentuk belokan tajam yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas

berturut-turut dinamakan fleksura hepatika dan fleksura lienalis. Colon sigmoid

mulai setinggi krista iliaka dan berbentuk suatu lekukan berbentuk S. Lekukan

bagian bawah membelok ke kiri waktu colon sigmoid bersatu dengan rektum.3,4

Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti bagian usus lainnya.

Sekum, kolon ascenden dan bagian kanan kolon transversum diperdarahi oleh

cabang a.mesenterika superior yaitu a.ileokolika, a.kolika dekstra dan a.kolika

media. Kolon transversum bagian kiri, kolon descendens, kolon sigmoid dan

sebagian besar rektum perdarahi oleh a.mesenterika inferior melalui a.kolika

sinistra, a.sigmoid dan a.hemoroidalis superior. Pembuluh vena kolon berjalan

paralel dengan arterinya. Kolon dipersarafi oleh oleh serabut simpatis yang

berasal dari n.splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang

berasal dari N.vagus. (Basson, 2004)

17
B. Fisiologi

Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi

bahan-bahan nutrisi, air, elektrolit dan mineral. Proses pencernaan dimulai dalam

mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan

yang masuk. Proses dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-

enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein menjadi zat-

zat yang lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu

menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi

empedu dari hati membantu proses pencernaan dengan mengemulsikan lemak

sehingga memberikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.

Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus

(sukus enterikus). Banyak di antara enzim enzim ini terdapat pada brush border

vili dan mencernakan zat zat makanan sambil diabsorbsi. Pergerakan segmental

usus halus akan mencampur zat zat yang dimakan dengan sekret pankreas,

hepatobiliar dan sekresi usus dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari salah

satu ujung ke ujung lainnya dengan kecepatan yang sesuai untuk absorbsi optimal

dan suplai kontinu isi lambung. Absorbsi adalah pemindahan hasil akhir

18
pencernaan karbohidrat, lemak dan protein melalui dinding usus ke sirkulasi darah

dan limfe untuk digunakan oleh sel sel tubuh. Selain itu, air, elektrolit dan

vitamin juga diabsorbsi (Price, 2002).

Kontraksi usus halus disebabkan oleh aktifitas otot polos usus halus yang

terdiri dari 2 lapis yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler. Otot

yang terutama berperan pada kontraksi segmentasi untuk mencampur makanan

adalah otot longitudinal. Bila bagian mengalami distensi oleh makanan, dinding

usus halus akan berkontraksi secara lokal. Tiap kontraksi ini melibatkan segmen

usus halus sekitar 1 4 cm. Pada saat satu segmen usus halus yang berkontraksi

mengalami relaksasi, segmen lainnya segera akan memulai kontraksi, demikian

seterusnya. Bila usus halus berelaksasi, makanan akan kembali ke posisinya

semula. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur dengan

enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus dan

selanjutnya terjadi absorbs (Price, 2002).

Kontraksi segmentasi berlangsung oleh karena adanya gelombang lambat

yang merupakan basic electric rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna. Proses

kontraksi segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum dan

sekitar 7 kali/menit pada ileum. Gerakan peristaltik pada usus halus mendorong

makanan menuju ke arah kolon dengan kecepatan 0,5 sampai 2 cm/detik, dimana

pada bagian proksimal lebih cepat daripada bagian distal. Gerakan peristaltik ini

sangat lemah dan biasanya menghilang setelah berlangsung sekitar 3 sampai 5 cm

Aktifitas gerakan peristaltik akan meningkat setelah makan. Hal ini sebagian besar

disebabkan oleh masuknya makanan ke duodenum sehingga menimbulkan refleks

19
peristaltik yang akan menyebar ke dinding usus halus. Selain itu, hormon gastrin,

CCK, serotonin, dan insulin juga meningkatkan pergerakan usus halus.

Sebaliknya sekretin dan glukagon menghambat pergerakan usus halus. (Manaf,

2003)

Fungsi sfingter ileocaecal diatur oleh mekanisme umpan balik. Bila tekanan

di dalam caecum meningkat sehingga terjadi dilatasi, maka kontraksi sfingter

ileocaecal akan meningkat dan gerakan peristaltik ileum akan berkurang sehingga

memperlambat pengosongan ileum. Bila terjadi peradangan pada caecum atau

pada appendiks maka sfingter ileocaecal akan mengalami spasme, dan ileum akan

mengalami paralisis sehingga pengosonga ileum sangat terhambat.

C. Ileus Paralitik

1. Definisi

Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal atau

tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. Ileus ini

bukan suatu penyakit primer usus melainkan akibat dari berbagai penyakit primer,

tindakan (operasi) yang berhubungan dengan rongga perut, toksin atau obat

obatan yang dapat memperngaruhi kontraksi otot polos usus.

Gerakan peristaltik merupakan suatu aktivitas otot polos usus yang

terkoordinasi dengan baik, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti keadaan otot

polos usus, hormone hormon intestinal, sistem saraf simpatik dan parasimpatik,

keseimbangan elektrolit dan sebagainya.

Ileus paralitik hampir selalu dijumpai pada pasien pasca operasi abdomen.

Keadaan ini biasanya hanya berlangsung antara 24-72 jam. Beratnya ileus

20
paralitik pasca operasi bergantung pada lamanya operasi/narkosis, seringnya

manipulasi usus dan lamanya usus berkontak dengan udara luar. Pencemaran

peritoneum oleh asam lambung, isi kolom, enzim pankreas, darah, dan urin akan

menimbulkan paralisis usus. Kelainan retroperitoneal seperti hematoma

retroperitoneal, terlebih lagi bila disertai fraktur vertebra sering menimbulkan

ileus paralitik yang berat. Demikian pula kelainan pada rongga dada seperti

pneumonia paru bagian bawah, empyema, dan infark miokard dapat disertai

paralisis usus. Gangguan elektrolit terutama hypokalemia merupakan penyebab

yang cukup sering.

2. Epidemiologi

Pada bagian penyakit dalam, ileus paralitik lebih sering diakibatkan

peritonitis atau sepsis.5 Penyebab yang lain disebutkan sering disebabkan

pankreatitis akut.6 Data spesifik angka insiden ileus paralitik masih belum

diketahui karena dipertimbangkan sebagai kejadian transien gastrointestinal

dengan prognosis yang baik.5 Di Amerika, kejadian ileus akibat pembedahan

pasca operasi disebutkan bahkan mencapai 50% pada pasien terutama yang

menjalani operasi bedah mayor.6 Sumber lain kejadian ileus pasca operasi pada

pembedahan saluran pencernaan berkisar 15-20%, terjadi pada histerektomi (4%),

pada kolesistektomi (8,5%), appendektomi (6%), dan rata-rata 9% untuk prosedur

lainnya.4

3. Etiologi

21
Ileus paralitik ini sering terjadi akibat penyakit lainnya, seperti tindakan

operasi yang berhubungan dengan rongga perut, toksin dan obat-obatan yang

dapat mempengaruhi otot polos. Di Indonesia ileus obstruksi paling sering

disebabkan oleh hernia inkarserata, sedangkan ileus paralitik sering disebabkan

oleh peritonitis. Ilues paralitik bersifat primer bila tidak terdapat penyebab lain

yang berkontribusi dan disebut sekunder bila adanya penyakit lain ikut

berkontribusi terjadinya ileus.4

Gerakan usus merpakan kondisi yang terkoordinasi dengan baik dan

dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keadaan otot polos usus, hormon

intestinal, sistem saraf simpatik dan parasimpatik, keseimbangan elektrolit dan

lain-lain. Ileus paralitik biasanya dijumpai pada pasien pasca operasi yang

tergantung dari lamanya operasi, beratnya anastesi dan manipulasi yang dilakukan

terhadap usus. Keadaan ini biasanya berlangsung antara 24-72 jam sampai ada

juga yang menyebutkan sampai 5 hari.4 Pencemaran rongga peritoneum oleh

asam lambung, isi kolon, enzim pankreas, darah, dan urin menimbulkan paralisis

usus.

Ileus paralitik dapat disebabkan beberapa hal seperti iritasi peritoneum.

Iritasi peritoneum dapat disebabkan melalui peritonitis yang menyebabkan radang

pada dinding usus kemudian hilangnya stimulus kontraksi ileus, penyebab lain

yang merangsang iritasi peritoneum yaitu adanya kolesistitis akut, appendisitis

akut, dan post laparotomi yang lama. 2,3 Hal kedua yaitu melalui penyebab ekstra

peritoneal seperti trauma abdomen menyebabkan perdarahan intra peritoneal

menyebakan ileus paralitik, kemudian trauma ginjal menyebabkan perdarahan

22
retriperitoneal mengganggu persarafan, kolik ureter.2,3 Penyebab yang lain yaitu

adanya gangguan elektrolit seperti hipokalemi yang menyebabkan gangguan

kontraksi otot polos, syok, uremia, komplikasi dari DM, dan infeksi abdomen

seperti peritonitis. Penyebab lain yaitu neurogenik melalui lesi saraf, kerusakan

medulla spinalis, pada fraktur vertebra, atau fraktur costa bagian bawah, penyebab

lain seperti adanya pemakaian obat-obatan seperti opioid, antihipertensi,

narkotika, dan obat lainnya.2,3,5

Kausa ileus paralitik :

Neurogenik. Pasca operasi, kerusakan medulla spinalis, keracunan timbal,

kolik ureter, iritasi persarafan splanknikus, pankreatitis.


Metabolik. Gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia),

uremia, komplikasi DM, penyakit sistemik seperti SLE, sclerosis multipel.


Obat-obatan. Narkotik, antikolinergik, katekolamin, fenotiazin, antihistamin.
Infeksi. Pneumonia, empyema, urosepsis, peritonitis, infeksi sistemik, berat

lainnya.
Iskemia usus

4. Patofisiologi

Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya

sistem saraf simpatis dengan dapat menghambat aktivitas dalam traktus

gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang

ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya

melalui dua cara: (1) pada tahap yang kecil melalui pengaruh langsung

norepineprin pada otot polos, dan (2) pada tahap yang besar melalui pengaruh

inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf enterik. Jadi,

23
perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan

makanan melalui traktus gastrointestinal.4,7

Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik akan

menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastrointestinal,

namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi saraf parasimpatis

bersifat eksitatorik, beberapa neuron bersifat inhibitorik. Respon stres bedah

mengarah ke generasi sistemik endokrin dan mediator inflamasi yang juga

menyebabkan perkembangan ileus.7

1. Neurogenik

Saraf-saraf duodenum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis

(vagus) dari pleksus mesentericus superior dan pleksus coeliacus. Sedangkan

saraf untuk jejenum dan ileum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis

(nervus vagus) dari pleksus mesentericus superior. Rangsangan parasimpatis

merangasang aktivitas sekresi dan pergerakan, sedangkan rangsangan simpatis

menghambat pergerakan usus. Serabut-serabut sensorik sistem simpatis

menghantarkan nyeri, sedangkan serabut-serabut parasimpatis mengatur refleks

usus. Dalam keadaan terstimulasi, parasimpatis melepaskan asetilkolin yang

menyebabkan motilitas usus, sedangkan saraf simpatis melepaskan

noradrenalin yang menghambat peristaltik usus.6

Suplai saraf intrinsik, yang menimbulkan fungsi motorik, berjalan

melalui pleksus Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis, dan pleksus

Meissner di lapisan submukosa. Kedua pleksus tersebut berhubungan dengan

serat-serat simpatis dan parasimpatis. Walaupun sistem saraf enterik dapat

24
berfungsi dengan sendirinya, tidak bergantung pada saraf-saraf ekstrinsik ini,

perangsangan oleh sistem parasimpatis dan simpatis dapat mengaktifakan atau

menghambat fungsi gastrointestinal lebih lanjut. Pleksus mienterikus atau

Auerbach terutama mengatur pergerakan gastrointestinal dan pleksus

submukosa atau Meissner terutama mengatur sekresi gastrointestinal dan aliran

darah lokal.6

2. Hormonal

Beberapa hormon yang disekresi saat proses pencernaan yaitu seperti

gastrin, kolesistokinin, motiline, P substance, dan insulin meningkatkan

peristaltik usus, sedangkan hormon vasoaktif intestinal polipeptida, dan

glukagon menghambat aktivitas peristaltik usus.6

Kolesistokinin salah satu contohnya, disekresi oleh sel dalam mukosa

duodenum dan jejunum terutama sebagai respons terhadap adanya pemecahan

produk lemak di dalam usus. Kolesistokinin mempunyai efek yang kuat dalam

meningkatkan kontraktilitas kandung empedu, jadi mengeluarkan empedu

kedalam usus halus dimana empedu kemudian memainkan peranan penting

dalam mengemulsikan substansi lemak sehingga mudah dicerna dan

diabsorpsi. Kolesistokinin menghambat motilitas lambung secara sedang. Oleh

karena itu disaat bersamaan dimana hormon ini menyebabkan pengosongan

kandung empedu, hormon ini juga menghambat pengosongan makanan dari

lambung untuk memberi waktu yang adekuat supaya terjadi pencernaan lemak

di traktus gastrointestinal bagian atas.6

3. Inflamasi

25
Mediator mediator inflamasi juga menyebabkan terjadinya ileus. Mediator

seperti prostaglandin dapat menginhibisi kontraksi otot polos usus.

4. Farmakologi

Opioid menurunkan aktivitas dari neuron eksitatorik dan inhibisi dari

pleksus mienterikus. Selain itu, opioid juga meningkatkan tonus otot polos usus

dan menghambat gerak peristaltik yang diperlukan untuk gerakan propulsi.

Opioid dengan efek inhibitor menghambat excitatory neurons yang

mempersarafi otot polos usus.4

5. Elektrolit

Gangguan elektrolit dapat menimbulkan terjadinya ileus. Keadaan yang

paling sering yaitu hipokalemia selain juga bisa terjadi pada hipermagnesemia

atau hipokalsemia. Hipokalemia dapat akibat diare kronis, atau kelebihan

penggunaan diuretik. Ketidakseimbangan elektrolit mempengaruhi transpor

kalsium melalui otot polos yang diperlukan untuk kontraksi otot polos.

Perubahan patofisiologi utama pada usus adalah lumen usus secara progresif

akan teregang oleh cairan dan gas. Akibat peningkatan tekanan intralumen,

yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Tidak

adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat.

Pengaruh atas kehilangan ini adalah penyempitan ruang cairan ekstrasel yang

mengakibatkan syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi

jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus

mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan

sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat

26
distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-

toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk

menyebabkan bakteriemia. Distensi intestinal yang berat, secara terus menerus

dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan

meningkatkan resiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan

kematian.

5. Manifestasi Klinis

Ileus paralitik ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang disebabkan oleh

penghambatan neuromuskular dengan aktifitas simpatik yang berlebihan. Sangat

umum, terjadi setelah semua prosedur abdomen, gerakan usus akan kembali

normal dalam 2-3 hari. Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung

(abdominal distention). Nyeri abdomen bersifat sedang dapat sampai difus.

Keluhan mual dapat terasa. Muntah mungkin ada, mungkin pula tidak ada.

Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan

perut kembung pada ileus obstruksi. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan

perut kembung, tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal. Pasien juga

akan mengeluh anorexia, obstipasi sampai keadaan susah flatus.2,3,6

Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi

timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar

sama sekali. Pada palpasi, pasien hanya menyatakan perasaan tidak enak pada

perutnya. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri lepas

negatif). Apabila penyakit primernya peritonitis, manifestasi klinis yang

ditemukan adalah gambaran peritonitis.2,3,6

27
6. Diagnosis

Tanda klinis ileus paralitik yaitu distensi, bunyi peristaltis usus kurang atau

menghilang, tidak ada nyeri tekan lokal atau strangulasi, nyeri hebat sekali, nyeri

tekan kurang jelas. Perut kembung (distensi), muntah, tidak bisa buang air besar,

dapat disertai demam, keadaan umum pasien sakit ringan sampai berat, bisa

disertai penurunan. kesadaran, auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu

bising usus menghilang. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran

udara usus halus atau besar tanpa air-fluid level. 2,3,6

Anamnes:
Pada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus, rasa

mual dan dapat disertai muntah. Pasien kadang juga mengeluhkan tidak bisa

BAB ataupun flatus, rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri.2,3,6
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang mencakup

kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen

harus dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen.

Pada pasien yang kurus tidak terlihat gerakan peristaltik.


2. Palpasi
Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau

nyeri tekan, yang mencakup defence muscular involunter atau rebound dan

pembengkakan atau massa yang abnormal untuk mengetahui penyebab

ileus.

28
3. Perkusi

Hipertimpani

4. Auskultasi

Bising usus lemah atau tidak ada sama sekali (silent abdomen) dan

borborigmi. 2,3,6

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium mungkin dapat membantu mencari kausa

penyakit. Pemeriksaan yang penting untuk dilakukan yaitu leukosit darah, ureum,

glukosa darah. Foto abdomen 3 posisi tampak dilatasi usus menyeluruh dari gaster

sampai rectum. Penebalan dinding usus halus yang dilatasi memberikan gambaran

herring bone appearance (gambaran seperti tulang ikan), karena dua dinding

usus halus yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan

muskulus yang sirkuler menyerupai kosta dan gambaran penebalan usus besar

yang juga distensi tampak di tepi abdomen. Pada ileus paralitik tampak gambaran

air fluid level yang segaris (line up) berbeda pada ileus obstruktif yang

memberikan gambaran air fluid level pendek-pendek berbentuk seperti tangga

yang disebut step ladder appearance.6,8 Bila dianggap perlu dapat dilakukan

pemeriksaan seperti ultrasonografi atau bahkan CT scan.

Dari gambaran radiologis yaitu:

Terdapat distensi baik pada usus halus maupun usus besar, termasuk lambung

dan rektosigmoid
Air-fluid level pada usus halus dan usus besar muncul hanya jika ileus bertahan

sampai 5-7 hari.


Seluruh rongga usus terisi udara

29
Preperitoneal fat menjadi tipis atau kadang menghilang. Membentuk gambaran

herring bone (duri ikan).6,8

8. Penatalaksanaan

Penanganan pada ileus paralitik yaitu mencari kausa, hindari komplikasi,

penanganan bersifat konservatif, hindari lavement. Penanganan berupa rehidrasi,

elektrolit, antibiotik, obat-obat yang memacu spasmodik seperti pilokarpin,

asetilkolin, gangren. Tindakan operatif dilakukan bila terjadi perforasi dengan

laparotomi, atau bila terjadi iskemik dan gangrene dengan cara reseksi usus

kemudia end to end anastomose.2,3

Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. Tindakannya

berupa dekompresi, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengobati kausa

dan penyakit primer dan pemberian nutrisi yang adekuat. Tindakan dekompresi

abdomen mempunyai beberapa tujuan yaitu:

1. Mengurangi keluhan nyeri atau tidak nyaman pada abdomen

2. Mengurangi kesulitan bernapas

3. Mengurangi perasaan mual dan muntah

4. Mencegah aspirasi muntah ke saluran respirasi

Untuk dekompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik (bila perlu dipasang

juga rectal tube). Beberapa obat-obatan jenis penyekat simpatik (simpatolitik)

atau parasimpatomimetik pernah dicoba, ternyata hasilnya tidak konsisten.

Pemberian cairan, koreksi gangguan elektrolit dan nutrisi parenteral hendaknya

diberikan sesuai dengan kebutuhan dan prinsip-prinsip pemberian nutrisi

parenteral. Beberapa obat yang dapat dicoba yaitu metoklopramid bermanfaat

30
untuk gastroparesis, sisaprid bermanfaat untuk ileus paralitik pascaoperasi, dan

klonidin dilaporkan bermanfaat untuk mengatasi ileus paralitik karena obat-

obatan. Neostigmin juga efektif dalam kasus ileus kolon yang tidak berespon

setelah pengobatan konservatif. Metoklopramid bermanfaat untuk gastroparesis,

cisapride bermanfaat untuk ileus paralitik pasca operasi, dan klonidin dilaporkan

bermanfaat untuk mengatasi ileus paralitik karena obat-obatan. Neostigmin sering

diberikan pada pasien ileus paralitik pasca operasi. Bila bisisng usus sudah mulai

ada dapat dilakukan feeding test, bila tidak ada retensi, dapat dimulai dengan diet

cair kemudian disesuaikan sejalan dengan intoleransi ususnya.2,3,6

1). Konservatif

Penanganan konsrvatif diantaranya yaitu :

- Penderita dirawat di rumah sakit.

- Penderita dipuasakan

- Cari kausa penyakit

- Kontrol status airway, breathing and circulation.

- Dekompresi dengan nasogastric tube.

- Intravenous fluids and electrolyte

- Puasa dan nutrisi parenteral total sampai bising usus positif atau dapat buang

angin melalui dubur

- Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.

2). Farmakologis

- Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.

- Analgesik apabila nyeri.

31
- Prokinetik: obat obat seperti dopamine antagonis dan koliergik agonis seperti

metaklopromide secara teoritis dapat meningkatkan fungsi pencernaan. Obat

seperti cisapride yang merupakan agonis reseptor serotonin juga dapat digunakan

walaupun sudah jarang digunakan di Amerika karena efek samping

kardiovaskularnya.4

- Parasimpatis stimulasi: bethanecol, neostigmin

- Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagonis

3). Operatif

- Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan

peritonitis.

- Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah

sepsis sekunder atau rupture usus.

- Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang

disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi

9. Prognosis

Prognosis dari ileus berbeda tergantung dari penyebab ileus itu sendiri. Bila

ileus akibat kondisi operasi perut biasanya bersifat sementara dan berlangsung

sekitar 24-72 jam. Prognosis memburuk pada kasus dengan kematian jaringan

usus, operasi menjadi pertimbangan untuk menghilangkan jaringan nekrotik. Bila

penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih baik.

Prognosis juga membaik bila ileus cepat terdiagnosa dan cepat tertangani.6

32