Anda di halaman 1dari 655

PEMBAHASAN

(TO ONLINE 6)

Office Address:
Jakarta :
Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi,
Jakarta Selatan
(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number: 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694

Medan :
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan
Phone Number : 061 8229229
dr. Widya, dr. Alvin, dr. Yolina
Pin BB : 24BF7CD2 dr. Cahyo, dr. Ayu, dr. Gregorius
www.optimaprep.com
IPD
1-2. Spektrum dari ACS
http://acutemed.co.uk/diseases/ACS+%28Acute+Coronary+Syndrome%29
Pengobatan ACS
Evolusi EKG pada Acute MI dan Waktu Peningkatan
Biomarker
Diagnosis Banding Infark Miokard
Kelainan Etiologi Manifestasi klinis
Pleuritis Bakteri/TB Nyeri dada pleuritik, batuk,
sesak nafas dan demam
Miokardial Infark Miokardial iskemia Nyeri dada saat
beraktivitas, terdapat
gejala autonom, durasi >20
menit, dapat tidak
membaik dengan
pemberian nitrat
Angina pektoris Miokardial iskemia Nyeri dada saat saat
aktivitas, membaik dengan
nitrat
GERD Reflux Gastric Rasa terbakar, disfagia,
batuk dan suara serak
3. Karsinoma Kolorektal
Carcinoma colorectal merupakan keganasan
yang paling sering pada traktus
gastrointestinal. Keganasan yang menyerang
bagian colon dan rectum dengan predileksi
terbanyak di rectosigmoid. Sekitar 75%
carcinoma colorectal ditemukan di
rectosigmoid.

Harrisons principles of internal medicine.


Current diagnosis & treatment in gastroenterology
Faktor Risiko
Etiologi tumor colorectal belum diketahui secara pasti,
beberapa faktor yang diduga berperan adalah:
Faktor herediter. Diperkirakan bahwa 10-15% carcinoma
colorectal merupakan kasus familial.
Usia. Usia merupakan faktor risiko dominan untuk
carcinoma colorectal. Insidensi meningkat diatas 50 tahun
Diet dan lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa
carcinoma colorectal lebih sering terjadi pada populasi
yang mengkonsumsi diet tinggi lemak hewani dan rendah
serat.
Inflammarory bowel disease. Pasien dengan Inflammatory
bowel disease, khususnya colitis ulceratif kronis,
berhubungan dengan meningkatnya risiko carcinoma
colorectal.
Gejala
Gejala awal dari karsinoma colorectal biasanya
tidak jelas, seperti kehilangan berat badan dan
kelelahan. Namun ebberapa gejala umum
diantaranya:
Perubahan Pola BAB, dapat berupa konstipasi
maupun diare.
Perasaan BAB yang tidak tuntas (tenesmus) dan
diameter feces mengecil sering ditemukan pada
karsinoma colorectal.
Feces yang bercampur darah
Obstruksi usus menyebabkan nyeri, kembung,
dan muntah yang seperti feces.
Dapat teraba massa di abdomen.
Pemeriksaan Penunjang
Fecal occult blood test (FOBT) : pemeriksaan
terhadap darah dalam feces. Ada 2 tipe
pemeriksaan darah pada feces yaitu guaiac
based (pemeriksaan kimiawi) dan
immunochemical.
Endoskopi
Rectosigmoidoskopi
Fleksibel sigmoidoskopi dan colonoskopi
Pemeriksaan Penunjang
Double contrast barium
enema (DCBE): Barium
enema dimasukkan,
diikuti dengan pemasukan
udara untuk
mengembangkan colon.
Hasilnya adalah lapisan
tipis dari barium akan
meliputi dinding sebelah
dalam dari colon yang
akan terlihat pada hasil
pemeriksaan sinar X.
Tatalaksana
Pembedahan
Tujuan utama tindakan bedah adalah memperlancar
saluran cerna, baik bersifat kuratif maupun nonkuratif.
Kemoterapi dan radiasi bersifat paliatif dan tidak
memberikan manfaat kuratif. Bedah kuratif dilakukan
bila tidak ditemukan gejala penyebaran lokal maupun
jauh.
Tindakan bedah terdiri atas reseksi luas carcinoma
primer dan kelenjar limfe regional. Bila sudah ada
metastasis jauh, tumor primer akan direseksi juga
dengan maksud mencegah obstruksi, perdarahan,
anemia, inkontinensia, fistel dan nyeri.
Kemoterapi
Kemoterapi berguna untuk mengurangi
kemungkinan metastasis, mengecilkan ukuran
tumor, atau memperlambat pertumbuhan tumor.
Radioterapi
Radioterapi tidak digunakan secara rutin pada
karsinoma colon, karena dapat menyebabkan
radiation enteritis, dan sulit untuk membidik
daerah spesifik dari colon. Biasanya lebih sering
diberikan radioterapi pada karsinoma rectal
karena rectum tidak bergerak sebanyak colon
maka lebih mudah untuk dibidik.
4. Endokarditis Bakterialis
Endokarditis merupakan infeksi mikroorganisme
pada permukaan endotel jantung atau
endokardium, paling banyak mengenai katup
jantung.
Endokarditis dapat pula terjadi pada lokasi defek
septal, korda tendinea, atau endokardium mural.
Lesi endokarditis yang khas berupa vegetasi, yaitu
massa yang terdiri dari platelet, fibrin,
mikroorganisme, dan sel-sel inflamasi dengan
ukuran yang bervariasi.
Organisme yang dapat menyebabkan endokarditis

Stafilokokus
S. aureus
Koagulase negatif
Streptokokus
S. viridans
Enterokokus
S. bovis
Streptokokus lainnya
Organisme lain (jamur, gram negatif)
Polimikrobial
MANIFESTASI KLINIS
Tampilan klinis endokarditis terdiri dari:
Demam
Murmur jantung
Pembesaran limpa
Gejala muskuloskeletal: artralgia dan mialgia
Kejang
Ensefalopati
Glomerulonefritis
Artritis
Tampilan Klinis Endokarditis
Kriteria Diagnosis
Kriteria mayor Kriteria minor

Kultur darah positif: 1. Predisposisi: pengguna narkoba suntik atau kondisi


a. Konsisten ditemukan mikoorganisme tipikal penyebab jantung sebelumnya
2. Demam: suhu >380C
endokarditis infektif dari 2 kultur darah terpisah: (i)
3. Fenomena vaskular: emboli arterial mayor, infark
Streptococcus viridans, Streptococcus bovis, atau grup pulmoner septik, aneurisma mikotik, perdarahan
HACEK; atau (ii) Staphylococcus aureus atau intrakranial, perdarahan konjungtiva, dan lesi
enterokokus komunitas; atau Janeway
b. Konsisten ditemukan mikoorganisme endokarditis 4. Fenomena imunologis: glomerulonefritis, nodus Osler,
infektif dari kultur darah yang tetap positif: (i) > 2 bercak Roth, dan faktor reumatoid
5. Bukti mikrobiologis: kultur darah positif namun tidak
sampel kultur darah positif yang diambil dengan jarak
memenuhi kriteria mayor atau bukti serologis
>12 jam; (ii) ketiganya atau mayoritas > 4 kultur darah mengenai adanya infeksi aktif dengan organisme
terpisah (sampel pertama dan terakhir diambil dalam penyebab endokarditis infektif
jarak > 1 jam) 6. Temuan ekokardiografi: konsisten dengan endokarditis
infektif namun tidak memenuhi kriteria mayor
Bukti keterlibatan endokardial:
a. Ekokardiogram positif endokarditis infektif: (i) massa
intrakardiak osilasi pada katup atau struktur penunjang,
pola regurgitant jets, atau materi yang tampak tertanam
tanpa alternatif penjelasan anatomis lainnya, atau (ii)
abses, atau (iii) dehisensi parsial baru katup prostetik,
atau
a. Regurgitasi katup baru (perburukan atau perubahan
murmur yang sebelumnya sudah ada tidak cukup
dijadikan bukti)
Diagnosis Kriteria patologis Kriteria klinis

Pasti (definite) Mikroorganisme ditemukan 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor + 3


endokarditis infektif dalam kultur atau kriteria minor atau 5 kriteria minor
histologi vegetasi/ emboli
vegetasi/ abses
intrakardiak
Atau
Lesi patologis: tampak
vegetasi atau abses
intrakardiak (konfirmasi
histologis terdapat
endokarditis aktif

Kemungkinan (possible) Temuan konsisten endokarditis infektif namun tidak memenuhi kriteria pasti
endokarditis infektif (definite) tetapi tidak rejected

Bukan (rejected) Ditemukan diagnosis lain untuk manifestasi endokarditis infektif yang ada,
endokarditis infektif atau
Resolusi manifestasi endokarditis infektif dengan terapi antibiotik selama < 4
hari, atau
Tidak ada bukti patologis endokarditis infektif pada operasi atau otopsi setelah
pemberian terapi < 4 hari
Tatalaksana
Tata laksana endokarditis terdiri dari terapi antimikroba
dan bedah (jika terdapat indikasi).
Terapi antimikroba dilakukan secara empiris atau tanpa
data kultur. Endokarditis akut pada pengguna narkoba
suntik biasanya disebabkan oleh S. aureus resisten
metisilin dan bakteri gram negatif, sehingga dapat
diberikan terapi vankomisin dan gentamisin.
Endokarditis katup asli subakut dapat diberikan
seftriakson dan gentamisin, sementara pada katup
prostetik dapat diberikan dua antibiotik tersebut
ditambah vankomisin.
Diagnosis Banding Keluhan
Penyakit jantung reumatik (PJR) biasanya didahului infeksi Streptokokus
beta hemolitikus grup A (biasanya berupa
faringitis). Kriteria mayor diagnosis PJR
meliputi poliartritis berpindah-pindah,
tanda karditis (takikardia, murmur, gallop,
kardiomegali), nodul subkutan, eritema
marginatum, dan korea Sydenham.
Kriteria minor PJR ialah demam bersuhu
tinggi, artralgia, riwayat demam reumatik
atau PJR, dan hasil laboratorium
menunjukkan reaksi akut.
Miokarditis umumnya disebabkan oleh virus, dan
secara objektif ditemukan peningkatan
enzim jantung. Dapat pula ditemukan
peningkatan CRP dan LED.
Perikarditis Nyeri dada tiba-tiba, tajam, pleuritik,
retrosternal atau prekordial kiri,
memberat pada inspirasi.
Stenosis katup mitral murni umumnya tidak disertai gejala
demam, batuk, dan nyeri dada seperti
pada soal
5-6. Syok Anafilaktik
World Allergy Organization
anaphylaxis guidelines:
Summary
World Allergy
Organization
anaphylaxis
guidelines: Summary
7. Arrhytmia

SVT:
Gambaran ini merupakan gambaran SVT. Biasanya SVT memiliki rate 150-250, terkesan
teratur.

AF:
Biasanya terjadi pada usia tua, ciri khas dari gelombang ini adalah jarak
antar gelombang QRS yang tidak teratur, dan tidak dijumpai gelombang
p yang jelas. Garis isolelektrik terlihat bergetar tanpa gelombang p.
8. Komplikasi CHF
, 68 tahun
Penurunan kesadaran sejak 4 hari yang lalu,
sulit diajak bicara, terlihat sering mengantuk
dan lemah. RPD jantung kongestif dan
hipertensi
Mekanisme Hiponatermia pada CHF
Pasien dengan CHF penurunan cardiac
outputpenurunan volume sirkulasi efektif
pengaktifan baroreseptorkonsumsi air
berlebih, peningkatan vasopressin
kelebihan air relatif terhadap natirum
Hyponatremia
Definisi:
Serum natrium dengan nilai dibawah 135 meq/L
Hyponatremia menunjukkan adanya kelebihan air relatif
terhadap natrium
Hyponatremia
Manifestasi klinis
Umumnya pasien asimptomatik pada keadaan
natrium diatas 125 mEq/L are asymptomatic
Pasien dengan hiponatremia akut dapat emngalami
gejala pada kadar natrium sekitar 120 mEq/L
Penemuan yang tidak normal pada pemeriksaan fisik
biasanya terkait dengan manifestasi neurologis:
Gejala ringan seperti mual dan lemas, sakit kepala, bahkan
letargi.
Gejala yang parah seperti kejang, koma atau henti nafas.
Tipe dari Hyponatremia

Hypovolemic hyponatremia : Diare, muntah,


berkeringat berlebihan, insufisiensi renal aku dan
kronik
Euvolemic hyponatremia
Hypervolemic hyponatremia : cirrosis, Congestive
Heart Failure, Nefrotic syndrom
Redistributive hyponatremia
Pseudohyponatremia
9. Mekanisme Diare
, 20 tahun
BAB 5x, demam, nyeri ketika BAB, lendir (+), darah +)
Lab : leukosit 15000, tropozoid (-)
Definisi diare:
Defekasi yang lebih sering, pengeluaran feses yang lembek atau berair
(Harrisons Principle of Internal Medicine)
Feses kehilangan konsistensi normal, biasanya berhubungan dengan
peningkatan berat feses (pada pria > 235; pada wanita > 175 g/d) dan
peningkatan frekuensi (> 2/ day) (Color Atlas of Pathophysiology)
Causes of diarrhea:
Osmotic
Malabsorption
Secretory
Resection of the ileum
Pathophysiology
of Different
Causes of
Diarrhea
Mekanisme Diare
Terdapat beberapa macam diare berdasarkan
mekanisme terjadinya. Secara umum dapat
dikelompokkan menjadi:
Sekretorik, contoh: Vibrio Cholera. Toksind ari vibrio
cholera memicu sekresi Na. Pasien akan mengeluhkan
diare yang profuse.
Osmotik, contoh: Penggunaan laksative. Konsumsi
makanan tertentu dapat meningkatkan tekanan
intraluminal dan menyebabkan diare.
Inflamatorik/Eksudatif, contoh IBD, infeksi (disentri).
Terjadi kerusakan mukosa usus. Pasien dapat
mengeluhkan diare yang disertai darah.
10. Diabetes
Antidiabetik Oral
Cara Pemberian obat antidiabetik oral, terdiri dari:
Obat dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara
bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat
diberikan sampai dosis optimal
Sulfonilurea: 15 30 menit sebelum makan
Repaglinid, Nateglinid: sesaat sebelum makan
Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan
Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan
suapan pertama
Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan.
DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atau
sebelum makan.
16. Antidiabetic Drugs
11. Keganasan
Multiple myeloma: Proliferasi malignan dari
sel plasma
Trias Klasik Myeloma Multiple:
marrow plasmacytosis (>10%),
Lesi tulang litik,
serum dan/atau komponen urine M Lesi "punched out mewakili lesi
(komponen M merupakan bagian dari osteolitik dengan aktivitas
imunoglobulin yang dapat meningkat pada osteoblastik yang minimal.
peningkatan sel plasma)
Invesitigasi awal pada pasien dengan myeloma:
Screening tests:
Full blood count (FBC), ESR or plasma viscosity
Urea, creatinine, calcium, albumin
Electrophoresis of serum and concentrated urine
Quantification of non-isotypic immunoglobulins
X-ray of symptomatic areas

Tests to establish diagnosis


Bone marrow aspirate + trephine biopsy with plasma
cell phenotyping
Immunofixation of serum & urine
Guidelines on the diagnosis and management of multiple myeloma.
British Committee for Standards in Haematology in conjunction with the UK Myeloma Forum (UKMF)
12. Leukemia
CLL CML ALL AML
Sum-sum tulang membuat leukosit abnormal sel ini tidak mati dan terus
berproliferasi Menekan pertumbuhan leukosit, eritrosit dan platelet Hal ini
membuat fungsi sel darah terganggu.
Prevalensi Di atas 55 tahun Umumnya orang Umumnya pada Dewasa dan anak
dewasa anak-anak
Gejala Pertumbuhan berlahan bisa Tumbuh perlahan berasa sakit dan
simptomatik, atau asimptomatik, pergi ke dokter
penyakit ini biasa ditemukan pada tes
skrining.
Demam, pembengkakan kelenjar limfe, infeksi berulang, lemah, perdarahan/
mudah luka, hepatomegali/splenomegali, penurunan berat badan, nyeri tulang.
Lab Limfosit matur, Granulosit matur, Lymphoblast Myeloblast
limfosit abnormal myelosit dominan dan >20% >20%, aeur rod
yang pecah segment dapat (+)
(smudge cells)
Terapi Jika asimptomatik bisa ditunda Ditangani secepatnya

CDC.gov
Leukemia
Manifestasi Klinis
Lebih umum pada AML:
Leukostasis (hitung blas>50.000/uL): mikrosirkulasi tersumbat sakit
kepala, penglihatan buram, TIA, CVA, sesak nafas dan hypoxia
DIC (promyelocitic subtype)
Infiltrasi leukemik pada kulit dan gingiva (subtipe monocytic)
Chloroma: extramedullary tumor, bisa terjadi pada berbagai daerah.

Umumnya pada ALL:


Nyeri tulang, lymphadenopathy, hepatosplenomegaly (dapat terlihat
pada AML monositik)
Keterlibatan CNS : cranial neuropathies, mual, muntah, sakit kepala,
massa mediastinal anterior(T-cell ALL)
Tumor lysis syndrome

Pocket medicine.
13. Dislipidemia
, 50 tahun
Peningkatan LDL darah
mendapat terapi oral
nyeri otot yang
semakin luas terutama
bila beraktivitas
13. Dislipidemia

Lullmann H, et al. Color atlas of pharmacology. 2nd ed. Thieme; 2000.


13. Dislipidemia

How Statin Induce Muscle Problem


14. Anemia Hemolitik
, 27 tahun
Terkena malaria dan diberi obat malaria
2 hari kemudian, mengigil hebat & tampak
kuning
Lab: Hb 5 gr/dl, Ht 28 %. Apusan darah tepi :
defek membran eritrosit dan heinz body
Disturbance of
proliferation and
differentiation of
Impaired RBC stem cells
production Disturbance of
proliferation and
maturation
of erythroblast

Hereditary spherocytosis.
ANEMIA

Hereditary elliptocytosis

Abetalipoproteinemia Pyruvate
kinase and hexokinase defic
iencies

Enzyme deficiencies
Intrinsic Glucose-6-phosphate
Increased RBC dehydrogenase
destruction deficiency and glutathione
synthetase deficiency
(hemolytic anemias)
Extrinsic

Sickle cell anemia


Blood loss Hemoglobinopathies

Hemoglobinopathies
causing unstable
Fluid overload Paroxysmal nocturnal hemoglobins
hemoglobinuria
Glucose-6-phosphate
dehydrogenase deficiency
Penyakit herediter terkait kromosom X, yang
ditandai dengan kadar yang rendah dari glucose-
6-phosphate dehydrogenase
Blood smear: Heinz body pada sel darah merah

http://www.diseaseaday.com/wp- http://en.wikipedia.org/wiki/Glucose-6-
content/uploads/2009/05/g6pddeficiencyprocess.png phosphate_dehydrogenase_deficiency
Mekanisme anemia akibat defisiensi
G6PD
G6PD adalah enzim yang berfungsi pada jalur
pentosa phosphate. Apabila G6PD tidak
adagluthation menurun (glutathion
berfungsi untuk menetralisis free radical
free radical meningkat peningkatan stress
oksidatif.
Faktor pemicu
Penyakit (khususnya infeksi)
Obat-obat tertentu
Antimalarialprimaquine, pamaquine, and chloroquine
Sulfonamidessulfanilamide, sulfamethoxazole, and mafenide
Thiazolesulfone
methylene blue
Naphthalene
Analgesicsaspirin, phenazopyridine, and acetanilide
non-sulfa antibioticsnalidixic acid, nitrofurantoin, isoniazid,
dapsone, and furazolidone
Henna
Makanan tertentu fava beans
Kimia tertentu
Diabetic ketoacidosis
15. Hipoglikemia pada Pasien DM
Pasien dengan diabetes dapat mengalami episode
hipoglikemia karena berbagai penyebab. Salah
satu penyebabnya adalah kelebihan insulin, baik
eksogenik maupun endogenik.

Insidensi terjadinya hipoglikemia (episodes per


100 pasien/tahun):
Pada pasien dengan diabetes tipe 111.5
Pada pasien dengan diabetes tipe 2 dengan insulin11.8
Pada pasien dengan diabetes tipe 2 dengan obat
hipoglikemik oral0.05.

Hypoglycemia in diabetes: Common, often unrecognized. Cleveland clinical journal of medicine. Vol 71. 4 April 2004.
15. Hipoglikemia in DM Patients
Diagnosis hipoglikemia adalah adanya kriteria
Whipple's triad:
Gejala konsisten dengan hipoglikemia
Plasma konsentrasi glukosa yang rendah
Hilangnya gejala hipoglikemia setelah diberikan glukosa.
Apabila pasien masih sadar dan dapat mengkonsumsi
secara oral, maka dapat diberikan glukosa tablet atau
cairan yang mengandung glukosa, permen, atau
makanan.
Jika pasien tidak sadar atau tidak dapat mengkonsumsi
makanan per oral, dapat diberikan cairan glukosa (25g)
diikuti dengan infuse glukosa dan pemantauan glukosa
serial.
Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.
15. Hipoglikemia in DM Patients
PERKENI 2011:
Bagi pasien dengan kesadaran yang masih baik,
diberikan makanan yang mengandung karbohidrat
atau minuman yang mengandung gula berkalori atau
glukosa 15-20 gram melalui intra vena.
Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15
menit setelah pemberian glukosa.
Glukagon diberikan pada pasien dengan hipoglikemia
berat.
Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar,
sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena
terlebih dahulu sebagai tindakan darurat, sebelum
dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran.
16. Pseudomembranous Colitis
Clostridium difficile infection
(CDI) Normal ileum
Penyakit kolon yang
dihubungkan dengan
penggunaan antrimikrobial
dan gangguan flora normal
kolon.
AB yang terkait dengan CDI
Clindamycin, ampicillin, &
cephalosporins
The 2nd & 3rd cephalosporins,
(cefotaxime, ceftriaxone,
cefuroxime, and ceftazidime)
ciprofloxacin, levofloxacin, and
moxifloxacin (hospital
outbreak)

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


Pseudomembranous Colitis
Penelanan spora

bervegetasi

melepaskan toksin

diare &
pseudomembranous
colitis

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


Pseudomembranous Colitis
Kriteria diagnosis CDI:
Diare (3 feses cair per 24 jam selama 2 hari) with no other recognized
cause plus
toxin A atau B dideteksi pada feses, C. difficile yang dapat mendeteksi
toksin terdeteksi pada feses dengan PCR atau kultur, atau
pseudomembran terlihat dari pemerikksaan kolon.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


Pseudomembranous Colitis
Ketika memungkinkan, penghentian antimikrobial yang
sedang digunakan merupakan langkah awal dalam
penanganan Clostridium difficile infection (CDI).
Walaupun demikian, dengan perburukan keadaam
pada sebagian pasien, pemberian antibiotik segera
direkomendasikan.
Pengobatan umum dari kolitis ini adalah dengan hidrasi
dan hindari pemberian antiperistaltik dan opiate, yang
dapat menutup gejala dan dapat memperburuk
keadaan.
Pengobatan untuk CDI adalah pemberian vancomicin
dan metronidazole untuk CDI ringan-sedang.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.


17. Polisitemia Vera
Polisitemia Vera
Polisitemia adalah keadaan dimana kadar sel
darah merah meningkat.
Polisitemia bisa dibagi menjadi:
Polisitemia primer yang merupakan gangguan
neoplastik genetik. Mutasi somatikproliferasi
neoplastik sel darah emrah
Polisitemia sekunder merupakan peningkatan sel
darah merah sebagai respon dari penyebab sekunder
seperti hypoxia yang menyebabkan peningkatan
produksi eritropoietin, atau produksi eritropoietin
yang meningkat oleh tumor, seperti: wilms tumor
17. Polisitemia Vera
18. Diseksi Aorta
Faktor mendasari: HT (70%), Marfan sy
Manifestasi klinis:
Nyeri dada akut seperti dirobek, menjalar ke
punggung
Penjalaran ke leher & ekstremitas sesuai
berlanjutnya diseksi
Bedakan dgn nyeri infark!
Nyeri maksimal saat onset
Tidak dengan nitrat
Perbedaan TD & pulsasi pada lengan
Hipertensi > hipotensi
Sesak, diaforesis
Kompresi mediastinum tamponade jantung, dll

Ro thoraks: mediastinum melebar


Dx: aortografi, CT, MRI
Tatalaksana
Beta-bloker iv inotropik (-), vasodilatasi
shear stress
antitrombotik/antikoagulan
Tipe A: bedah cito
Tipe B: medikamentosa, bedah elektif
19. Acute Limb Ischemia ec Emboli dari Jantung
Penurunan perfusi
ekstremitas secara
mendadak yang dapat
mengancam viabilitas
jaringan
Onset <2 minggu
6P Pain, pallor,
pulselessness, paresthesia,
poikilothermia, paralisis
Golden period: 6 jam
Dx: arteriografi Doppler

Inter-Society Consensus for the Management of PAD . TASC II Guidelines. 2009.


20. Myoglobinuria
Trias klasik rhabdomyolisis: Etiologi:
myalgia, kelemahan otot, urin Trauma & kompresi (crush injury)
berwarna gelap
Exercise atlet lebih rentan
Faktor predisposisi: hipokalemia (myoglobin >>)
Viral myositis kausa
Pemeriksaan lab: rhabdomyolisis tersering pada
Myoglobin dalam 24 jam
anak influenza virus
CKMB >1000 U/L peak di hari-
Gangguan elektrolit: hipokalemia
3A Toksin, bisa ular
Enzim otot lain: aldolase, LDH, Obat zidovudine, statins
SGOT Alkohol, kokain, amfetamin.
Infeksi, sepsis: gas gangrene,
Myoglobinuria vs hematuria: tetanus, shigellosis, Coxsackie
Myoglobinuria: coklat, RBC Metabolik: KAD
dipstisk (-) Hipertermia malignan, demam
Hematuria: sedimen RBC (+), tinggi
red/brown coloration in serum Herediter: McArdle syndrome,
muscular dystrophy
21. ASD
Left-to-right shunt overload RA
dilatasi RA
beban volume RV
pulmonary blood flow
HT pulmoner
Dekade 3-4
Penyakit vaskuler paru
Reverse shunting (Eisenmenger
syndrome) sianosis, hipoksemia

Palpasi: RV heaving
Auskultasi
Widened, fixed splitting of S2
Inspirasi: venous return ke
LA shunting
Murmur ejeksi sistolik katup
pulmonal
Murmur middiastolik trikuspid
22. Regulasi
Osmolaritas
Hiperglikemia
meningkatkan
osmolaritas.
23. Takayasus Arteritis
Vaskulitis granulomatosa
sistemik aorta dan
percabangannya
Arteri besar & sedang A.
Subklavia & a.
brachiocephalica
Kriteria dx (3 dari 6, Se 90.5%,
Sp 97.8%
Usia 40 tahun
Klaudikasio ekstremitas
pulsasi a. Brakhialis
Perbedaan TD >10 mmHg
antara kedua lengan
Bruit a. subklavia atau aorta
Abnormalitas angiogram

American College of Rheumatology 1990 criteria for the diagnosis of Takayasus arteritis. Arth Rheum 1990;330:1129
Aneurisma aorta Dilatasi aorta true & pseudo
Root, thoraksik, thorako-abdominal, abdominal
Asimptomatik nyeri dada/punggung
Aorta thoraksik: ro thoraks
Aorta abdomen: pulsasi (+)
Tromboangitis obliterans Rx inflamasi non-ateromatosa (vasospasme) pada arteri & vena kecil
ulkus atau gangren digiti
Laki-laki muda, perokok
Giant cell arteritis Vaskulitis pada percabangan kranial arkus aorta, terutama a.
Temporalis (temporal arteritis) + demam, fatigue, BB turun,
anoreksia
Arteri-arteri wajah klaudikasio mandibula
Chronic limb ischemia Terutama arteri ekstremitas bawah setelah keluar dari percabangan
aortoiliaka (a. Iliaka, a. Femoralis, a. Tibialis, a. Dorsalis pedis)
Dx: ABI <0.9
24. Tipe Dispepsia
Rome III membagi keluhan dispepsia sebagai berikut:
1. Jika gejala utamanya adalah nyeri pada abdomen bagian atas,
kemungkinan adalah ulcer-like dyspepsia.
2. Jika gejala utamanya adalah keluhan tidak nyaman (seperti perasaan
penuh, cepat kenyang dan mual), dan tidak nyeri, maka subtypenya
dysmotility-type dyspepsia.
3. Jika gejala pada pasien tidak khas, dan tidak termasuk dari gejala diatas
maka disebut unspecified (non- specific) dyspepsia.
25. Defisiensi Vitamin B
Gejala defisiensi Vitamin B

Vitamins Sign of Deficiency


Tiamin Neuropathy, muscle weakness and wasting, cardiomegaly, edema,
(Beri-beri) ophthalmoplegia, confabulation
Niasin Loss of appetite, weakness, irritability, abdominal pain, vomiting, brighted
(Pellagra) glossitis, Casals necklace, four Ds: dermatitis, di- arrhea, and dementia leading
to death.
Pyridoxine; Sign of anemia, atherosklerosis, early AMI, earl stroke, recurrent
B6 thromboembolism, bilateral distal limb numbness, burning paresthesia,
anorexia, vomitting, glossitis
Riboflavin Magenta tongue, angular stomatitis, seborrhea, cheilosis
Biotin Hypotonia, lethargy, and apathy. In addition, the infant may develop alopecia
and a characteristic rash that includes the ears.
26. COX-2 Selective inhibitor
Golongan NSAID
Golongan asam propionate, seperti ibuprofen, naproxen,
fenoprofen, ketoprofen, flurbiprofen, dan oxaprozin.
Golongan asam asetat, seperti indometasin, sulindac,
etodolac, dan diklofenak.
Golongan derifat asam enolic (oxicam), seperti piroksikam,
meloksikam, tenoxicam, droxicam, lornoxicam, dan
isoxicam.
Gologan asam fenamic, seperti asam mefenamat, asam
meclofenamic, asam flufenamic, dan tolfenamic.
Gologan COX-2 inhibitor (coxib), seperti celecoxib, rofecoxib
(telah ditarik dari pasar), valdexocib (telah ditarik dari
pasar), parecoxib, lumiracoxib, dan etoricoxib.
Mekanisme kerja NSAID

Prostaglandin adalah suatu senyawa kimia yang


diproduksi oleh sel tubuh yang mengakibatkan
rasa nyeri, panas badan, peradangan, berperan
dalam proses pembekuan darah dan melindungi
lambung dari asam.
Mekanisme utama obat golongan NSAIDs adalah
menghambat enzim COX dan menurunkan
produksi prostaglandin di seluruh tubuh,
sehingga proses radang, nyeri, dan demam
berkurang.
Dalam proses pembentukannya, prostaglandin
membutuhkan suatu enzim yang dinamakan enzim
siklooksigenase (COX).
Enzim siklooksigenase ini terdiri dari dari 2 tipe, yakni
COX-1 dan COX-2. Kedua tipe enzim ini berperan
menghasilkan prostaglandin yang memiliki fungsi
tertentu.
Enzim COX-1 terdapat di perut; berfungsi mengontrol
produksi prostaglandin yang bertugas melindungi
lambung dari asam.
Enzim COX-2 terdapat dalam sel darah putih; berfungsi
mengontrol produksi prostaglandin yang berperan
menghasilkan rasa sakit dan peradangan.
ILMU BEDAH
27. The Breast
Tumors Onset Feature
Breast cancer 30-menopause Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca Insitu),
Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass
Fibroadenoma < 30 years They are solid, round, rubbery lumps that move freely in
mammae the breast when pushed upon and are usually painless.
Fibrocystic 20 to 40 years lumps in both breasts that increase in size and
mammae tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge
Mastitis 18-50 years Localized breast erythema, warmth, and pain. May be
lactating and may have recently missed feedings.fever.
Philloides 30-55 years intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,
Tumors smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.
Duct Papilloma 45-50 years occurs mainly in large ducts, present with a serous or
bloody nipple discharge
Pemeriksaan Radiologis Payudara
USG Mamae
Tujuan utama USG mamae adalah untuk
membedakan massa solid dan kistik
Sebagai pelengkap pemeriksaan klinis dan
mamografi
Merupakan pemeriksaan yang dianjurkan untuk
wanita usia muda (<35) dan berperan dalam
penilaian hasil mamografi dense breast
Mammography
Skrening wanita usia 50thn atau lebih yang
asimptomatik
Skrening wanita usia 35 thn atau lebih yang
asimtomatik dan memiliki resiko tinggi terkena kanker
payudara :
Wanita yang memiliki saudara dengan kanker payudara
yang terdiagnosis premenopaus
Wanita dengan temuan histologis yang memiliki resiko
ganas pada operasi sebelumnya, spt atypical ductal
hyperplasia
Untuk pemeriksaan wanita usia 35 thn atau lebih yang
simptomatik dengan adanya massa pada payudara
atau gejala klinis kanker payudara yang lain

www.rad.washington.edu
28.

leg weakness (69%),


gibbus (46%),
pain (21%),
palpable mass (10%)
Turgut M. Spinal tuberculosis (Pott's disease): its clinical presentation, surgical management, and
outcome. A survey study on 694 patients Neurosurg Rev. 2001 Mar;24(1):8-13.

Potts disease=spondylitis TB
Spondylolisthesis
Spondylolisthesis
Tulang vertebra bergeser
dari posisi yang normal Spondylolisis

Symptoms may include:


Lower back pain
Muscle tightness (tight
hamstring muscle)
Nyeri, baal, atau
kesemutan pada paha dan
gluteus
Stiffness
Tenderness in the area of
the slipped disc
Kelemahan tungkai
Spondylolisthesis
Gradation of
spondylolisthesis
Meyerdings Scale
Grade 1 = up to 25%
Grade 2 = up to 50%
Grade 3 = up to 75%
Grade 4 = up to 100%
Grade 5 >100%
(complete dislocation,
spondyloloptosis)
Spondylolisthesis
Diagnosis
Plain radiographs
CT, in some cases with
leg symptoms
Nonoperative Care
Istirahat
NSAID
Fisioterapi
Injeksi Steroid
Surgical care
Dilakukan bila terapi non operatif
gagal
Dekompresi dan fusi
Instrumented
Posterior approach
With interbody fusion
Spondylolysis
Spondylolysis
Also known as pars defect
Also known as pars fracture
Dengan atau tanpa
spondylolisthesis
Fraktur atau defek pada
vertebra, biasanya pada
bag.posterior, paling sering
pada pars interarticularis
Spondylolysis
Symptoms
Low back pain/stiffness
Membungkuk ke depan, makin nyeri
Makin memberat dengan aktivitas
May include a stenotic component resulting in leg
symptoms
Sering terlihat pada atlet
SenamCaused by repeated strain
Diagnosis
Plain oblique radiographs
CT, in some cases
Nonoperative care
Membatasi aktivitas
Fisioterapi
Sebagian besar fraktur akan sembuh tanpa intervensi medis
Surgical care
Dilakukan bila terapi non operatif gagal
Posterior fusion
Instrumented
May require decompression
Ankylosing Spondilitis
Symptoms
Kaku tulang belakang di pagi hari,
Membaik dengan aktivitas dan olah
raga,
Onset timbul perlahan
Onset <40 years,
Nyeri tulang belakang >3 months
Sign
RoBamboo spine, Straightening /
squaring of anterior vertebral
margins Osteitis of anterior corners
Genotype HLA-B27

http://bestpractice.bmj.com/best-
practice/monograph/366/
29. Gallbladder Disorder
Kolelitiasis
Pemeriksaan penunjang kolelitiasis
Ultrasonography
(US)pemeriksaan
penunjang pilihan untuk
mengidentifikasi batu
empedu
Dapat mendeteksi batu
empedu sebesar 2 mm
sensitivitas > 95%
Cepat, noninvasif, dapat Ultrasound image obtained with a 4-MHz
dilakukan secara bedside, transducer demonstrates a stone in the
Tidak melibatkan radiasi gallbladder neck with typical acoustic
shadow
Pada foto Polos on CT scan
Abdomenbatu Gallstones appear as
empedu tampak single or multiple filling
sebagai kalsifikasi pada defects densely
calcified, rim calcified, or
kuadran kanan atas
laminated or have a
Hanya 50% dari batu central nidus of
pigmen dan 20% dari calcification
batu kolesterol yang Kurang lebih 20% dari
dapat terlihat pada foto batu empedu tidak
polos abdomen terlihat pada CT

http://emedicine.medscape.com/article/366246-overview#a20
Mosby's Medical Dictionary, 8th edition. 2009, Elsevier.
Gallbladder Disorder
Term Definition Clinical symptoms
Cholecystitis Inflammation of the gallbladder Acute: fever,right upper
quadrant(RUQ) pain,murphys sign +,
may be icteric
Chronic:no fever,recurrent RUQ
pain,no icteric,USG:may be
calculus/not,cyst wall thickening
Cholecystolitiasis the presence of gallstones in the Recurrent RUQ pain,recurrent
gallbladder. dyspepsia,no fever,no icteric,pain
after fatty meal,Ro:radioopaque RUQ
Cholelitihiasis The presence or formation of Symptoms depend on stone location,
gallstones in the gallbladder or only use this terms if the stone
bile ducts location is not established
Choledocholithiasis the presence of gallstones in the Colicky pain(biliary colic),icteric,may
common bile duct be with cholangitis signs(charcoats
triads)
Appendicitis Inflammation of the vermiform Pain on right lower
appendix. quadrant,migratory
pain,nausea,vomiting,specific
signs(rovcing,McBurney,etc)
30. Atheroma cyst (Sebacous cyst)
Massa non kanker yang
tumbuh dengan lambat
Berisi material dari folikel
ramabutkulit atau
komponen minyak yang
disebut dengan sebum
Kista sebaceous dapat
muncul saat pilosebaseus
atau kelenjar sebaseus
tersumbat
Biasanya sewarna dengan
kulit, dan memiliki punctum
(comedo, blackhead) pada
bag.puncak kubah
Diagnosis Histologic

Lipoma Soft mass, pseudofluctuant with a slippery


edge

Epidermal cyst Raised nodule on the skin of the face or


neck. HistologicLined by keratinizing
epithelium the resembles the epithelium of
the skin. The lumen is usually filled with
keratin scales
Dermoid Cyst and Benign Cystic Teratoma Developmental cyst often present at birth or
noted in young children. It is usually found on
the floor of the mouth. May have a doughy
consistency.
Histologic Lined by orthokeratinized,
stratified squamous epithelium surrounded
by a connective tissue wall. Hair follicles,
sebaceous glands, and sweat glands may be
seen in the cyst wall
31. Batu Saluran Kemih Pada Anak
Predisposisi
penurunan jumlah air kemih,
hiperkalsiuria,
pengeluaran pirofosfat didalam urin atau natrium
dan magnesium,
PH urin yang rendah/tinggi
Berkaitan dengan gangguan metabolisme
Klinis
Rasa nyeri intens yang tiba-tiba terjadi di
belakang dan memancar ke bawah, terpusat
menuju perut bagian bawah atau pangkal
paha.
Hematuria, biasanya makroskopis (gross
hematuria), terjadi dengan atau tanpa rasa
sakit.
Nefrolitiasis (batu ginjal)
Sering asimptomatik, Nyeri kolik bila ada dapat menjalar sampai
kuadran lateral bawah dinding perut
Ureterolitiasis
nyeri dimulai pada daerah pinggang dan menjalar ke arah testis,
disertai mual atau muntah, keringat dingin, pucat
Vesikolitiasis (batu buli-buli)
Rasa nyeri waktu berkemih (disuria, stranguria). Hematuria
kadang-kadang disertai urin keruh.
Pancaran urin tiba-tiba berhenti dan keluar lagi pada perubahan
posisi.
Pada anak, nyeri miksi ditandai oleh kesakitan, menagis,
menarik-narik penis, miksi mengedan sering diikuti defekasi
atau prolapsus ani
32. Cardiac
Arrest
Indication for
CPR
No response
Not breathing
No pulse
Check Pulse
a.Carotis

http://circ.ahajournals.org/content/11
2/24_suppl/IV-156/F2.expansion.html
Identification Of Cardiac Arrest
Tenaga medis harus
memeriksa pulse sebelum
melakukan chest
compressions pada pasien
yang disangka cardiac
arrest.
Untuk dewasa dan anak,
pulse diperiksa pada a.
carotis selama 5 sampai 10
detik
Tidak ada pulsecardiac
arrest

http://www.cardiopulmonaryresuscitation.net/
33. Male Breast Cancer
Massa payudara pada laki-laki jarang terjadicuriga ganas sampai
dibuktikan tidak
Mayoritas Ca mamae pada pria (50% to 97%) memiliki gejala klinis adanya
massa pada payudara biasanya timbul di dekat puting sebagai massa yang
keras dan tidak nyeri, lebih sering melibatkan KGB
Karakteristik massa dapat seperti pada kanker payudara pada wanita
Biasanya timbul setelah usia 65 thn
Faktor risiko:
Ginekomastia
Kanker prostat
Terekspos radiasi
Memiliki penyakit yang berkaitan dengan kadar estrogen yang tinggi seperti
sirosis atau sindrome klinefelter
Memiliki riwayat penyakit keluarga kanker payudara, terutama bila memiliki
gen BRCA2
Bila terdapat keragu-raguanbiopsi jarum atau operasi
Sindrom Klinefelter meningkatkan kecenderungan untuk ganas
Pemeriksaan penunjang dan tatalaksanasama sepert pada wanita
Gynicomastia
Hipertrofi jaringan payudara normal pada priaJaringan
payudara dan duktus-duktusnya
pubertal hypertrophy (ages 1317), senescent
hypertrophy (age >50)
Dikaitkan dengan obat terapetik atau
rekreasional:digoxin, thiazides, estrogens,
phenothiazines, theophylline marijuana
Dapat berkaitan dengan penyakit genetiksindrome
klinefelter
Gejala dan tanda:
Pembesaran payudara unilateral atau bilateral
Palpasi: jaringan payudara yang homogen
http://www.cancer.gov/cancertopics/pdq/treatment/malebr
east/Patient/page1/AllPages
Wagner FW: The diabetic foot and amputations of the foot. In Surgery of the Foot. 5th ed. Mann, R editor. St Louis, Mo. The C.V. Mosby Company.

34. Diabetic Foot


Wagner Classification X-ray
osteomyelitis, osteolysis,
0- kulit intak (dapat ditemukan deformitas fractures, dislocations
tulang) Kalsifikasi arteri medial dan
gas pada jar.lunak
1- Ulkus superfisial terlokalisasi gangrene

2- Ulkus dalam sampai tendon, tulang,


ligament atau sendi.

3- abses dalam atau osteomyelitis.

4- Gangren jari-jari kaki atau bag.depan kaki

5- Gangrene seluruh kaki.

http://www.annalsofvascularsurgery.com/article/S0890-5096(11)00060-4
osteomyelitis,
soft-tissue gas osteolysis,
fractures
35. Urachal abnormalities
Kegagalan penutupan dari urachus
menghasilkan duktus urachus persisten
Komplit atau parsial
< 1/1000 live births
Peradangan atau keluarnya cairan dari
umbilikus
USG, CT, contrast studies, atau injeksi zat
pewarnaconfirm diagnosis

the beefy red


appearance of the
umbilical end of a patent
urachus
Patent Urachus (50%)
Urachal cyst (30%)
Urachal sinus (15%)
Vesicourachal diverticulum (5%)

bladder
Patent Urachus
Karena tidak adanya involusi dari duktus
Terdapat saluran yang meghubungkan vesika urinaria dengan
umbilicus
Datang pada usia1-3 bulan
The presenting complaint
Keluarnya cairan dari umbilikus42% of the patients
serous, purulent, or bloodyurachal sinus or cyst
Keluarnya cairan jernih yang terus menerus (spt urin)sangat
mengarah pada patent urachus
Berlangsung selama beberapa minggu
Massa Umbilical yang nyeri karena adanya infection

www.mssurg.net/.../Pediatric%20Umbilical%20Abnormalities%20-
Superior vesica fissure(Exstrophy bladder variants)
Simfisis pubis lebar
Umbilikus letak rendah atau memanjang
A small superior bladder opening or a patch of isolated
bladder mucosaInfraumbilica
Genitalia are intact

Umbilical Herniaoutward bulging


(protrusion) of the abdominal lining or
part of the abdominal organ(s) through
the area around the belly button

Omphalitis Infeksi dari tali pusat


(umbilical stump )
Muncul setelah hari ke 3
the stump appears reddened,oedematous,
exudative discharge, signs of cellulitis
("cord flare")
36. Airway Obstruction
Snoring/mengorok karena sumbatan
saluran napas atas oleh lidah
Gurgling karena benda cair (darah,
muntahan)
Wheezing karena mnyempitnya saluran
napas bawah
PATENT Vs COLLAPSED AIRWAY

2006 American Academy of Sleep medicine


Obstructive Sleep Apnea
Episodes of complete or partial collapse of airway
apnea and hypopnea events
Apnea = Hilangnya airflow > 10 seconds
Hypopnea = penurunan airflow > 10 seconds
berkaitan dengan:
Bangun (Arousal)
Oxyhemoglobin desaturation
Cardinal symptoms "3 S s
S noring
S leepinessmengantuk
S ignificant-other report of sleep apnea
episodesadanya laporan tentang episode sleep
apnea
37. Syok Anafilaktik
www.resus.org.uk/pages/reaction.pdf
2012.

If there are symptoms of airway


obstructionconsider early
intubation
Anaphylaxis flowchart

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/anaphylaxis/
Basic Life support
Approach safely
Check response
Shout for help
Open airway
Check breathing
Call 112
30 chest compressions
Mouth to
2 rescue breaths mouth
Bag Valve
Mask
European Resuscitation Council
38. Brain Death Neurological
Examination
Mati otak/Mati batang otak 3 Kondisi harus ada:
(MBO) : Koma
Hilangnya fungsi otak/batang Tidak adanya refleks batang
otak secara Irreversibel
otak
Kondisi klinis yang Apnea
sebelumbya harus ada:
Diketahui adanya penyebab
yang Irreversibel
Eksklusi kondisi Reversible
yang potensial
Intoksikasi atau keracunan
obat
Gangguan keseimbangan asam
basa, elektrolit
Gangguan endokrin
Suhu tubuh inti> 32 C
Absence of Brain
Stem Reflexes
Apnea Testing

Refelsk pupil Kondisi yang harus ada


Gerakan bola mata sebelumnya:
Respon sensorik dan Suhu tubuh inti > 32 C
motorik fasial Tekanan darah sistolik
90 mm Hg
Pharyngeal (Gag) Reflex
Normal Electrolytes
Tracheal (Cough) Reflex
Normal PCO2
Apnea Testing
1. Pre-Oxygenation
100% Oxygen via Tracheal Cannula
PO2 = 200 mm Hg
2. Monitor PCO2 and PO2 dengan pulse oksimetri
3. Ventilator dilepas
4. Perhatikan gerakan napas sampai PCO2 = 60 mm Hg
5. Hentikan pemeriksaan bila tekanan darah sistolik < 90,
saturasi PO2 menurun atau terlihat adanya disaritmia

Joel S. Cohen, M.D. Associate Professor of Clinical Neurology


Albert Einstein College of Medicine.
https://hods.org/English/ppt/new/DrCohen.ppt
Brainstem Reflexes
Reflex Injury
Facial palsy unilateral Kerusakan N.VII- Basilar skull #
Corneal reflex ( V1+V2) Rostral Pontine function
Dolls eye maneuver Vestibuloocular function
Ice water caloric test ( never in awake child) COWS normal responseCold Opposite,
Warm SameFAST direction of nystagmus
Coma same side deviation
Stuporous/obtunded nystagmus to
contralateral rapid component
Gag and cough reflex N. IX,X, Pusat menelan batang otak
Periodic( Cheyne-stokes) Caused by hemispheric/diencephalic injury
to as caudal as upper pons
Apneustic ( prolonged ispiratory plateau) Mid- caudal pons injury
Ataxic breathing( irregular stuttering resp) Medullary respiratory generator center.
Diagnosis MATI OTAK/MATI BATANG OTAK harus ditunda bila Ada
satu atau lebih refleks batang otak (walaupun hanya satu sisi)
Brainstem Reflexes
Pupillary Reflex
Pupils dilated with no
Eye Movements
constriction to bright light

Occulo-Cephalic Response
Dolls Eyes Maneuver

Facial Sensation and Motor Response:


Corneal Reflex
Jaw Reflex
Grimace to Supraorbital or
Temporo-Mandibular Pressure
Batang otakkerusakan dimulai dari midbrain,
pons, terakhir medulla oblongata

MidbrainCranial Nerve III


pupillary function
eye movement

MedullaCranial Nerves IX, X


Pons Cranial Nerves IV, V, VI
conjugate eye movement Pharyngeal (Gag) Reflex

corneal reflex Tracheal (Cough) Reflex


Respiration
39. GANGLION Cyst

Kista ganglion
merupakan tumor yang
sangat sering muncul
pada tangan dan
pergelangan tangan
Timbul pada daerah
yang berdekatan dengan
sendi atau tendon.
Lokasi tersering:
pergelangan tangan
(top of the wrist)
Diagnosis
Berdasarkan lokasi dari tumor dan
penampakannya
Karakteristik
Bulat atau oval
Lunak atau kenyal(oft or firm)
Nyeri saat terkena tekanan, contohny pada saat
menggenggam.
Transillumination +

American Society for Surgery of the Hand


www.handcare.org
40.Intestinal Atresia and Stenosis
Gejala Klinis Diagnosis
1.Muntah
onset: sejak pertama X-ray
pemberian minum, sampai duodenal atresiaDouble
beberapa hari setelah lahir bubble sign
vomitus: hijau atau feses jejunal atresiatriple bubble
2Distensi abdominal sign
high: terbatas pada low intestinal
epigastrium (ileal/jejunoileal)
low: seluruh abdomen terlihat atresiamultiple air-fluid
distensi level
3Tidak dapat mengeluarkan
mekonium
Normalnya mekonium
dikeluarkan dalam 24 jam
pertama kehidupan dan
bersih dalam 2-3 hari
Atresia Intestin
Atresia Jejunum merupakan atresia
tersering
1 per 2,000 live births
Atresia terjadi karena adanya oklusi
pembuluh darah sebagian atau
seluruhnya yang memperdarahi usus,
terjadi in utero
Classification--Types I-IV
Gejala Klinis:
Muntah hijau
Distensi Abdomen
Tidak dapat mengeluarkan
meconium (70%)
Ileal atresia. Upright Jejunal atresia: The triple
radiograph of the abdomen bubble sign on the erect
Duodenal atresia. Doble demonstrates many dilated plain abdominal
buble sign loops of bowel and air-fluid radiograph.
levels
Atresia Duodenum
Dibagi menjadi menjadi :
Complete (atresia)
Partial (web, stenosis, ladd band, annular
pancreas)
Diagnois Antenatal :
Polyhydramnios
Dilated stomach and 1st part Duodenum
Down syndrome 30%
Symptoms and Signs:
vomiting, bilious 80%
High gastric aspiration: >30ml
X-rays:
Double bubble shadow
Management:
Singkirkan Volvulus
Resuscitation
NGT, Vitamin K
Stabilisasi sebelum operasi
Duodeno-duodenostomy
41. Blunt Abdominal Trauma
Signs of intraperitoneal injury
Nyeri Abdominal, iritasi peritoneum
Distensi karena pneumoperitoneum,
Pembesaran gaster, atau terjadi ileus
Ekimosis daerah pinggang (gray-turner
sign) atau umbilikus(cullen's sign)
retroperitoneal hemorrhage
Kontusio Abdominal seat belts sign
Bising usus mengarahkan pada
trauma intraperitoneal
RT: Darah atau emfisema subkutan

http://regionstraumapro.com/post/663723636
Pekak pada ruang Traube's Trauma pada uretra
above the left midaxillary membranosa disebabkan
costal margin karena adanya fraktur pada
Mengarahkan pada simfisis pubis atau pada ramus
pembesaran limpa dan dapat pubis.
muncul saat inspirasi Uretra membranosa akan
Kehr's sign robek sehingga prostat akan
Nyeri tiba-tiba pada puncak tertarik keatas
bahu (tip of the shoulder) RT: Prostat akan teraba letak
karena adanya darah atau tinggi atau melayang (high
cairan lain yang dapat overriding prostate)
mengiritasi peritoneum, saat
pasien tidur telentang dan
kaki
Kehr's sign pada bahu kiri
merupakan tanda klasik dari
ruptur limpa

http://www.sharinginhealth.ca/clinical_assessment/abdominal_exam.html
Organs
Limpa (Traubes space
dullness, Kehrs sign)
Usus (Udara bebas,tonus
sphincter berkurang)
Urethra(high overriding
prostate)
42. Volume Perdarahan Fraktur Femur

Femur bone anatomy


Terletak dekat dengan
pembukuh darah besar
(femoral artery)
Pada fraktur femur
kehilangan darah
sampai 1,500 ml per
femur
Fluid Resuscitation
Crystalloids Non-protein colloids
Sama efektifnya dengan albumin Digunakan sebagai second-line
pada pasien post-operative agents pada pasien yang tidak
Merupakan pilihan cairan merespon dengan pemberian
resusitasi awal he initial kristaloid
resuscitation fluid untuk: Dapat digunakan pada pasien
Hemorrhagic shock / edema perifer atau edema paru
traumatic injury dengan kebocoran kapiler
Syok septik Lebih dipilih daripada albumin
Hepatic resection karena lebih murah
Thermal injury
Cardiac surgery
Dialysis induced hypotension
Resuscitation
Cairan kristaloid menyamakan tekanan
intravaskuler dan intersisial dengan cepat
Pemulihan/restorasi stabilitas hemostatik yang
adekuat akan membutuhkan volume RL yang
banyak
Sudah diobservasi secara empirik, kurang
lebih 300 cc kristaloid dibutuhkan untuk
mengkompensasi setiap kehilangan darah 100
cc (3:1 rule)
Targer resusitasi
cairan:
Euvolemia
Improve perfusion
Improve oxygen
delivery

British Consensus Guidelines on


Intravenous Fluid Therapy for Adult
Surgical Patients 2011
43. The Breast Lump
Tumors Onset Feature
Breast cancer 30-menopause Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca Insitu),
Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass
Fibroadenoma < 30 years They are solid, round, rubbery lumps that move freely in
mammae the breast when pushed upon and are usually painless.
Fibrocystic 20 to 40 years lumps in both breasts that increase in size and
mammae tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge
Mastitis 18-50 years Localized breast erythema, warmth, and pain. May be
lactating and may have recently missed feedings.fever.
Philloides 30-55 years intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,
Tumors smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.
Duct Papilloma 45-50 years occurs mainly in large ducts, present with a serous or
bloody nipple discharge
Treatment:
Watchfull waiting
Traditional open excisional biopsy
Biopsy
Pengambilan sampel sel atau jaringan untuk
diperiksa
Untuk menentukan adanya suatu penyakit
Types of Biopsy Definitions
Excisional biopsy Bila seluruh massa atau area yang dicurigai dapat diangkat
Incisional biopsy Bila hanya sebagian jarinngan sebagai sampel, yang dapat
or core biopsy diangkat, dengan tetap mempertahankan gambaran
histologis jaringan dan sel yang diambil
Needle aspiration Bila sampel jaringan atau cairan diambil dengan jarum tanpa
biopsy mempertahankan gambaran histologisnya

Terminology Definitions
Enucleation Pengangkatan massa tanpa memotong atau mengiris massa
tersebuteye enucleation
Debulking Operasi pengangkatan bagian dari tumor ganas yang tidak
dapat diangkat semuanya, untuk meningkatkan efektivitas
dari radiasi atau kemoterapi
Extirpation Pengangkatan massa dari suatu organ atau jaringan
44. HYDROPNEUMOTHORAKS
Akumulasi dari cairan dan
udara bebas pada rongga
pleura
Menyebabkan tekanan
positif pada rongga
pekuraparu-paru
kolaps
Karena trauma
Biasanya darah
hematopneumothorax
X-RaysAir fluid
45. Atropine in Organophosphat
Poisoning
Atropine merupakan antagonis kompetitif dari
asetilkolin pada reseptor muskarinik
Tidak menyebabkan kelemahan otot atau paralisis
Tidak menyebabkan reaktivasi dari asetilkolinesterase

Efek
Kontrol sekresi paru dan bronkorea
Kontrol kejang dan manifestasi gejala SSP pada
keracunan organofosfat
Dosis
Adult 1-3mg iv (0.05mg/kg) bolus dalam 3 menit
Children 0.015-0.05mg/kg iv bolus

diulangi setiap 5-10 menit sampai
FN>80x/menit
clear chest
Gejala membaik

Infus atropin dimulai (10-20% dari dosis inisial/jam)

Dosis atropin Inadekuatgejala kolinergik akan muncul kembali


Terlalu banyak atropin agitasi, hipertermia,ileus , retensi urin
(Atropine toxicity)

Infus stop restart infusion setelah 30-60 mins (70-80% initial rate)
Durasi pemberian atropin maintenance 24-48 jam (lebih lama pada
kasus yang berat), diturunkan secara bertahap dalam 3-5 hari
Target End Points For Atropine Therapy
Clear chesttidak ada wheezing
FN> 80x/min
Pupil tidak lagi pin point (tidak harus dilatasi)
Aksila kering
Tekanan darah Sistolik > 80 mm Hg

Dilatasi pupil bukan merupakan tanda yang


reliable dari atropinisasi
46. Sertoli Cell Only-syndrome
Epidemiology: Normal : > 15juta sperma /ml
Pria antara 20-40 thn Oligozoospermia : < 15 juta
spema/ml
Sign&Symptoms: Azoospermia : tidak ditemukan
infertilitas sperma
Tanpa kelainan seksual
Ukuran testis nomal-kecil
Azoospermia
Pada beberapa kasus, sperma dapat ditemukan dalam jumlah yang
sangat sedikit < 1 juta sperma per mL. hypospermatogenesis.
Diagnosis
Testicular biopsy tidak adanya spermatozoa, hanya sel
Sertoli yang membatasi tubulus seminiferus
Pathophysiology
Kerusakan kromosom yang mengatur spermatogenesis (Yq11 pada kromosom
Y)
Sel Sertoli merespon FSH
Kadar testosterone and LH akan normal, tapi karena kurangnya inhibin, kadar
FSH akan meningkat

http://emedicine.medscape.com/article/437884-overview#a0104
Tipe SCO
Tipe I
Bila tidak ada sel germinativum pada seluruh
tubulus seminiferus
Tipe II
Bila sel germinativum dapat ditemukan dalam
jumlah yang sangat sedikit pada tubulus
seminiferus

http://emedicine.medscape.com/article/437884-clinical
47. Luka Bakar Pada Genitalia
Sebagian luka bakar Perawatan luka
genitalia pada dewasa Luka didinginkan dengan
disebabkan karena api air
atau bahan kimia Perawatan dengan
physiological dressings dan
Pada anak-anakair antibiotik topikal.
panas atau cairan panas Silver sulfadiazin
Burn ointment
Pada luka bakar derajat II
dalam dan derajat
IIImungkin diperlukan
debridemen dan grafting
jaringan(tissue grafting)

International Journal of Urology (2010)17, 755758


Indikasi rawat pasien luka bakar (LB)
LB derajat II > 10 % ( < 10 LB Listrik / Petir dengan
tahun / > 50 tahun ). kerusakan jaringan
LB derajat II > 20 % ( 10 dibawah kulit
50 tahun ) LB Kimia / Radiasi /
LB derajat II > 30 % ( 10 Inhalasi dengan penyulit.
50 tahun )ICU LB dengan penyakit
LB yang mengenai : Penyerta.
wajah, leher, mata, LB dengan Trauma
telinga, tangan, kaki, Inhalasi
sendi, genitalia.
LB derajat III > 5 %, semua
umur.

http://emedicine.medscape.com/article/1277360-overview#showall
Indikasi resusitasi cairan
American Burn Unit Luka Bakar RSCM
Association LB derajat II > 10 % ( < 10
LB derajat II > 10 % ( < 10 tahun / > 50 tahun ).
tahun / > 50 tahun ). LB derajat II > 15% ( 10
LB derajat II > 20 % ( 10 50 tahun )
50 tahun )
Cairan RL 4cc x BB (Kg)x
% luas luka bakar
(Baxter) dibagi 8 jam
pertama dan 16 jam
berikutnya
http://emedicine.medscape.com/article/1277360
SOP Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar RSUPNCM 2011
48. Bisa Ular
1. Neurotoksin 2. Hemotoksin
jenis racun yang menyerang sistem jenis racun yang menyerang
saraf. sistem sirkulasi darah dalam
Bekerja cepat dan cepat diserap tubuh, terdapat pula enzim
Racun jenis ini melumpuhkan otot- pemecah protein (proteolytic).
otot hingga otot pernafasan, yang Akibatnya sel-sel darah akan
dapat menyebabkan kematian
gagal napas rusak dan terjadi penggumpalan
darah, pembengkakan di daerah
Mulai bergejala dalam hitungan
menit setelah tergigitmengalami sekitar luka gigitan,
kelemahan yang progresif. beberapa menit saja korban akan
Kematian terjadi setelah 5-15 jam merasakan sakit yang dan terasa
Contoh jenis ular yang memiliki racun panas yang luar biasa.
neurotoksin adalah jenis elapidae
seperti ular Kobra

http://www.chm.bris.ac.uk/webprojects2003/stoneley/types.htm
Tanda dan gejala neurotoksin
Gejala yang segera muncul:
Sensasi seperti ditusuk jarum pada tempat gigitan,
akan menyebar keseluruh tubuh dalam 2-5 menit
setelah gigitan
Udem minimal disekitar tempat gigitantidak
meluas
Gigitannya sendiri tidak nyeri
Gejala lain:
Fang marks Tremor otot(fasiciculation)
Nyeri abdomen dan otot Abdominal Menyerang motor neuron
Drowsiness.
Ptosis Midriasis
Paralisis otot leherkepala terkulai Halusinasi and confusion
Hilangnya koordinasi otot
Kesulitan berbicara 20 minutes setelah gigitan Hipotensi
Mual dan muntah
Disfagia Konstriksi esofagus Takikardia atau bradikardi

Peningkatan salivasikarena tidak dapat menelan


Peningkatan produksi keringat Paralisis flaksid
Chest tightness.
Respiratory distress.
Respiratory muscle paralyses.
Gelisah/REstlessness.
Kehilangan kontrol terhadap
fungsi tubuhinkontinensia
Koma
Mati

http://www.snakes-uncovered.com/Neurotoxic_Venom.html
Derajat Parrish (Gigitan Ular)
Derajat 0 Derajat 2
Tidak ada gejala sistemik Sama dengan derajat 1
setelah 12 jam Ptechiae, echimosis
Pembengkakan minimal Nyeri hebat dalam 12 jam
diameter 1 cm pertama
Derajat 1 Derajat 3
Bekas gigitan 2 taring Sama dengan derajat 2
Bengkak dengan diameter Syok dan distress
1-5 cm pernafasan/ptechiae,
Tidak ada tanda-tanda echimosis seluruh tubuh
sistemik sampai 12 jam Derajat 4
Sangat cepat memburuk
Venomous Snakebites in the United States:
Management Review and Update at
http://www.aafp.org/afp/2002/0401/p1367.html
49. X-ray
Riwayat penurunan kesadaran atau pada pasien
dengan trauma multipelindicasi dilakukannya
CT kepala+bone window, 3D bila terdapat fraktur
fasial
USG abdomen pada trauma tidak diindikasikan
FAST
Focused Assesment with Sonography for Trauma
Abdomen USG membutuhkan persiapan, kandung
kemih harus penuh
FASTUSG tanpa persiapan, Kandung kemih penuh
tidak diharuskan, terfokus untuk menilai organ
abdomen yang padat dan adanya udara bebas
50. ASA Classification

E for Emergency Patients


PS Physical status
51. Esofagitis Korosif
Peradangan dan kerusakan
pada esofagus setelah
menelan cairan kimia
kaustik corrosive or
caustic esophagitis
Kerusakan dapat
menyebabkan striktur
esofagus sementara atau
permanenmembutuhkan
operasi koreksi
J Clin Gastroenterol 2003;37(2):119124.
FREQUENT SIGNS AND SYMPTOMS
Tiba-tiba tidak dapat menelan atau secara
perlahan-lahan menjadi sulit menelan.
Disfagia secara gradual, awalnya terhadap
makanan padat, kemudian cairan.
Nyeri pada mulut dan dada saat makan.
Hipersalivasi.
Takipnea.
Muntah, kadang disertai lendir atau darah
Term Definition
erosive esophagitis when the esophagus is repeatedly
exposed to refluxed material for
prolonged periods. It is erosions of
squamous epithelium
barrets esophagus replacement of the normal squamous
epithelial lining of the esophagus by
specialized columnar type epithelium
Eophageal stricture narrowing or stenosis of the esophagus
that requires corrective surgery
erosive gastritis result from the exposure to a variety of
agents or factors: NSAIDs, alcohol,
cocaine, stress, radiation, bile reflux, and
ischemia
52. Open fracture

Gustillo-Anderson
Open Fracture Treatment
Irigasi dan debridement yang adekuatTerapi
yang paling penting
The wound should be extended proximally and
distally to examine the zone of injury
Meticulous debridement should be performed,
starting with the skin and subcutaneous fat
Pulsatile lavage irrigation, with or without
antibiotic solution, should be performed. Some
authors have demonstrated decreased infection
rates with >10 L of irrigation under pulsatile
lavage
Koval, Kenneth J.; Zuckerman, Joseph D.
Handbook of Fractures, 3rd Edition
ILMU PENYAKIT MATA
53-54. Ulkus Kornea

Keratitis Inflammation of the cornea


Ulkus Kornea A corneal ulcer, or ulcerative keratitis, or
eyesore is an inflammatory or more seriously,
infective condition of the cornea involving
disruption of its epithelial layer with
involvement of the corneal stroma.
Keratokonjungtivitis Inflammation of the cornea and conjunctiva
Blefaritis Inflammation of the eyelids
Konjungtivitis Inflammation of the conjunctiva
ULKUS KORNEA
Gejala Subjektif
Ulkus kornea adalah hilangnya Eritema pada kelopak mata dan
sebagian permukaan kornea konjungtiva
akibat kematian jaringan kornea Sekret mukopurulen
Merasa ada benda asing di mata
ditandai dengan adanya infiltrat Pandangan kabur
supuratif disertai defek kornea Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi
bergaung, dan diskontinuitas ulkus
jaringan kornea yang dapat Silau
terjadi dari epitel sampai stroma. Nyeri
nfiltat yang steril dapat menimbulkan
Etiologi: Infeksi, bahan kimia, sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada
perifer kornea dan tidak disertai dengan
trauma, pajanan, radiasi, sindrom robekan lapisan epitel kornea.
sjorgen, defisiensi vit.A, obat-
obatan, reaksi hipersensitivitas, Gejala Objektif
Injeksi siliar
neurotropik
Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan
adanya infiltrat
Hipopion
ULKUS KORNEA
Peripheral Ulcerative Keratitis (PUK)
Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2
Ulcer progressing slowly and easily,
: circumferentially, and deeper toward the
center of the cornea
1. Ulkus kornea sentral Etiology connectivetissuedisease
Ulkus kornea bakterialis Rheumatoid arthritis (RA)
Sjogren syndrome
Ulkus kornea fungi Mooren ulcer
systemic vasculitic disorder (eg, SLE,
Ulkus kornea virus Wegener granulomatosis, polyarteritis
nodosa).
Ulkus kornea acanthamoeba
2.Ulkus kornea perifer Mooren ulcer
rapidly progressive, painful, ulcerative
Ulkus marginal keratitis
initially affects the peripheral cornea, spread
Ulkus mooren (ulkus circumferentially and then centrally
serpinginosa kronik/ulkus can only be diagnosed in the absence of an
infectious or systemic cause.
roden) Kausa tidak jelas, mungkin karena infeksi
virus, alergi terhadap protein
Ulkus cincin (ring ulcer) tuberkulosa/toksin ankilostoma, atau
autoimun
Ulkus Kornea
Penatalaksanaan : Penatalaksanaan bedah
harus segera ditangani oleh pada ulkus roden:
spesialis mata Keratotomi
Pengobatan tergantung keratoplasti
penyebabnya, diberikan obat
tetes mata yang mengandung
antibiotik, anti virus, anti
jamur,
sikloplegik
Mengurangi reaksi
peradangan dengan steroid.
Berikan analgetik jika nyeri
Jangan menggosok-gosok
mata yang meradang
Mencegah penyebaran infeksi
dengan mencuci tangan
An inflammatory or more seriously, infective condition of the cornea
involving disruption of its epithelial layer with involvement of the
corneal stroma
Causative Agent Feature Treatment
Fungal Fusarium & candida species, conjungtival Natamycin,
injection, satellite lesion, stromal infiltration, amphotericin B,
hypopion, anterior chamber reaction Azole derivatives,
Flucytosine 1%
Protozoa infection associated with contact lens users swimming in
(Acanthamoeba) pools
Viral HSV is the most common cause, Dendritic Acyclovir
lesion, decrease visual accuity
Staphylococcus Rapid corneal destruction; 24-48 hour, stromal Tobramycin/cefazol
(marginal ulcer) abscess formation, corneal edema, anterior in eye drops,
segment inflammation. Centered corneal ulcers. quinolones
Pseudomonas
Traumatic events, contact lens, structural (moxifloxacin)
Streptococcus malposition
connective tissue RA, Sjgren syndrome, Mooren ulcer, or a
disease systemic vasculitic disorder (SLE)
55. Kalazion
Kalazion
Inflamasi idiopatik, steril, dan kronik dari kelenjar Meibom
Ditandai oleh pembengkakan yang tidak nyeri, muncul
berminggu-minggu.
Dapat diawali oleh hordeolum, dibedakan dari hordeolum
oleh ketiadaan tanda-tanda inflamasi akut.
Pada pemeriksaan histologik ditemukan proliferasi endotel
asinus dan peradangan granullomatosa kelenjar Meibom
Tanda dan gejala:
Benjolan tidak nyeri pada bagian dalam kelopak mata.
Kebanyakan kalazion menonjol ke arah permukaan konjungtiva,
bisa sedikit merah. Jika sangat besar, dapat menekan bola mata,
menyebabkan astigmatisma.
Tatalaksana: steroid intralesi (untuk lesi kecil), eksisi

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia:
McGraw-Hill, 2007.
56. HORDEOLUM
Peradangan supuratif kelenjar kelopak mata
Infeksi staphylococcus pada kelenjar sebasea
Gejala: kelopak bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal,
merah, nyeri bila ditekan, ada pseudoptosis/ptosis akibat
bertambah berat kelopak
Gejala
nampak adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau
bawah
berwarna kemerahan.
Pada hordeolum interna, benjolan akan nampak lebih jelas
dengan membuka kelopak mata.
Rasa mengganjal pada kelopak mata
Nyeri takan dan makin nyeri saat menunduk.
Kadang mata berair dan peka terhadap sinar.
Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas
2 bentuk :
Hordeolum internum: infeksi kelenjar Meibom di dalam
tarsus. Tampak penonjolan ke daerah kulit kelopak, pus
dapat keluar dari pangkal rambut
Hordeolum eksternum: infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.
Penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal

http://www.huidziekten.nl/zakboek/dermatosen/htxt/Hordeolum.htm

Hordeolum Eksterna Hordeolum Interna


Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas
Pengobatan
Self-limited dlm 1-2 mingu
Kompres hangat selama sekitar 10-15 menit, 4x/hari
Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin,
Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol
Jika tidak menunjukkan perbaikan : Antibiotika oral (diminum),
misalnya: Ampisilin, Amoksisilin, Eritromisin, Doxycyclin
Insisi bila pus tidak dapat keluar
Diagnosis Banding
Kalazion
Inflamasi idiopatik, steril, dan kronik dari kelenjar Meibom
Ditandai oleh pembengkakan yang tidak nyeri, muncul
berminggu-minggu.
Dibedakan dari hordeolum oleh ketiadaan tanda-tanda inflamasi
akut
Jika sangat besar, kalazion dapat menekan bola mata,
menyebabkan astigmatisma
Blefaritis
Radang kronik pada kelopak mata, disebabkan peradangan
kronik tepi kelopak mata (blefaritis anterior) atau peradangan
kronik kelenjar Meibom (blefaritis posterior)
Gejala: kelopak mata merah, edema, nyeri, eksudat lengket,
epiforia, dapat disertai konjungtivitis dan keratitis
Selulitis palpebra
Infiltrat difus di subkutan dengan tanda-tanda radang akut,
biasanya disebabkan infeksi Streptococcus. th
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17 ed. Philadephia:
McGraw-Hill, 2007.
Definisi Gejala Tatalaksana

Blefaritis superfisial Infeksi kelopak superfisial yang Terdapat krusta dan bila Salep antibiotik
diakibatkan Staphylococcus menahun disertai dengan (sulfasetamid dan
meibomianitis sulfisoksazol), pengeluaran
pus

Hordeolum Peradangan supuratif kelenjar Kelopak bengkak, sakit, rasa Kompres hangat, drainase
kelopak mata mengganjal, merah, nyeri bila nanah, antibiotik topikal
ditekan

Blefaritis skuamosa Blefaritis diseratai skuama atau Etiologi: kelainan metabolik Membersihkan tepi kelopak
krusta pada pangkal bulu mata atau jamur. Gejala: panas, dengan sampo bayi, salep
yang bila dikupas tidak terjadi luka gatal, sisik halus dan mata, dan topikal steroid
pada kulit, berjalan bersamaan penebalan margo palpebra
dengan dermatitis sebore disertai madarosis

Meibomianitis Infeksi pada kelenjar meibom Tanda peradangan lokal pada Kompres hangat, penekanan
kelenjar tersebut dan pengeluaran pus,
antibiotik topikal
Blefaritis Angularis Infeksi Staphyllococcus pada tepi Gangguan pada fungsi Dengan sulfa, tetrasiklin,
kelopak di sudut kelopak atau pungtum lakrimal, rekuren, sengsulfat
kantus dapat menyumbat duktus
lakrimal sehingga mengganggu
fungsi lakrimalis

Ilmu Penyakit Mata, Sidharta Ilyas


57. Strabismus/ heterotropia
Def: deviasi mata yang bermanifestasi (deviasi mata
yang laten
Pembagian:
1. Paralitik (nonkonkomitan)
Sudut deviasi tidak sama ke semua arah
Disebabkan hilangnya fungsi dari salah satu /lebih dari otot
salah satu mata. Paralisis bisa bersifat parsial ataupun total
2. Non paralitik (konkomitan)
Seudut deviasi tetap untuk semua arah
Terdiri dari:
Akomodatif: berhubungan dengan kelainan refraksi
Nonakomodatif: tidak ada hubungan dengan kelainan refraksi
Klasifikasi strabismus berdasarkan
arah deviasi:
Esotropia/ strabismus konvergen/ crossed eye:
deviasi mata ke nasal
Eksotropia/ stabismus divergen/ wall eye:
deviasi mata ke temporal
Hipertropia: deviasi mata ke arah atas
Hipotropia: deviasi mata ke arah bawah
57. Esotropia
Esotropia is a type of strabismus
One or both eyes turned in toward the nose
inward deviation of the eyes
Can begin as early as infancy, later in childhood,
or even into adulthood.
Esotropia can be classified by age of onset
(congenital/infantile vs. acquired); by frequency
(intermittent vs. constant); or by whether it can
be treated with glasses (accommodative vs. non-
accommodative).
Esotropia nonakomodatif
Deviasi sudah timbul pada waktu lahir/ tahun-
tahun pertama kehidupan
Deviasi sama ke semua arah dan tidak
berhubungan dengan kelainan refraksi atau
kelumpuhan otot
Penyebab: insersi otot horisontal yang salah,
kelainan persarafan supranuklear
Esotropia akomodatif
Accommodative esotropia is defined as the convergent
deviation of the eyes associated with activation of the
accommodative reflex.
Patients with refractive esotropia are typically
farsighted (hyperopic).
It is classically divided into three categories:
Refractive accommodative esotropia (low accommodative
convergence/accommodation or AC/A ratio of less than 5),
Nonrefractive accommodative esotropia (high AC/A ratio),
and
Partially accommodative esotropia
Calculation of Accommodative
Convergence/Accommodation (AC/A) ratio by
the gradient method (measurements with and
without the additional lens are done at the
same distance):
Esotropia akomodatif
Pada esotropia akomodatif non refraktif,
deviasi pada pengelihatan dekat lebih besar
jika dibandingkan penglihatan jauh.
Pada esotropia akomodatif refraktif, deviasi
pada penglihatan jauh lebih besar
dibandingkan penglihatan dekat
58. Anisometropia
Def: a difference in refractive error between
their two eyes
Children who have anisometropia are known
to be at risk of amblyopia.
However there is considerable variability
among professional groups and clinician
investigators as to which aspects of refractive
error should be used to define anisometropia
Associations between Anisometropia, Amblyopia, and Reduced Stereoacuity in a School-Aged Population with a High Prevalence of Astigmatism
Dobson et al. Investigative Ophthalmology & Visual Science, October 2008, Vol. 49, No. 10. 4427-4436
Anisometropic & Amblyopia
When the magnitude of anisometropia exceeded 1.75 D,
the more myopic eye was almost always the sighting
dominant eye.
Anisometropic amblyopia is the second most common
cause of amblyopia (present as single cause in 37% of cases
and present concomitantly with strabismus in an additional
24% of clinical populations.)
Anisometropic amblyopia occurs when unequal focus
between the two eyes causes chronic blur on one retina.
Anisometropic amblyopia can occur with relatively small
amounts of asymmetric hyperopia or astigmatism.
Larger amounts of anisomyopia are necessary for
amblyopia to develop.

Ocular characteristics of anisometropia Stephen J Vincent. Institute of Health and Biomedical Innovation School of Optometry Queensland University of Technology &
http://eyewiki.aao.org/Anisometropic_Amblyopia & Treatment of Anisometropic Amblyopia in Children with Refractive Correction . Pediatric Eye Disease Investigator Group. Ophthalmology
2006;113:895903
Interocular acuity difference criteria in anisometropia
Interocular
NCT (non contact tonometry), GAT
(Goldmann applanation tonometry), OBF
(ocular blood flow tonometry), SPH
Acuity
(spherical component), SEq (spherical
equivalent), EMM (emmetropia), HYP
Difference
(hyperopia)
Criteria in
Anisometropia

Ocular characteristics of anisometropia


Stephen J Vincent. Institute of Health and
Biomedical Innovation School of Optometry
Queensland University of Technology
Hemeralopia Day blindness; defective vision in bright
light.
Heterotropia strabismus
Hipermetropia Kelainan refraktif mata dimana bayangan
jatuh di belakang retina
Astigmatisme Kelainan refraktif mata di mana bayangan
tidak jatuh di satu titik fokus yang sama
59. Konjungtivitis Neonatal
Bacterial conjunctivitis contracted by newborns during
delivery
Cause:
Neisseria gonorrhoeae ( inkubasi 1-7 hari)
Chlamydia trachomatis (inkubasi 5-14 hari)
S. Aureus (inkubasi nongonokokal dan nonklamidial 5-14
hari)
Mucopurulent discharge
Neisseria gonorrhoeae Chlamydia trachomatis
manifests in the first five days of life 5 to 12 days after birth
marked bilateral purulent Mucopurulent discharge
discharge less inflamed eyelid swelling,
local inflammation palpebral chemosis, and
edema pseudomembrane formation
Complication diffuse epithelial
edema and ulceration, perforation of
Complication pneumonitis
the cornea and endophthalmitis (range 2 weeks 19 weeks after
Gram-negative intracellular diplococci
delivery)
on Gram stain Blindness rare and much
Culture Thayer-Martin agar slower to menifest caused by
eyelid scarring and pannus
Etiology Treatment
Chemical None
Chlamydia Erythromycin syrup 50 mg/kg/day orally, in two or four
divided doses for 14 days
Bacteria
Gram-positive cocci Erythromycin 0.5% or tetracycline 1% ointment every 4 hours
for 7 days
Gram-negative bacilli Gentamicin or tobramycin ointment every 4 hours for 7 days
Neisseria gonorrhoeae Aqueous penicillin G, 100,000 U/kg/day in four divided doses
IV for 7 days. Topical antibiotics are not required when
systemic treatment is given.
Note: Penicillinase-producing isolates should be treated with
ceftriaxone 2550 mg/kg IV or IM once a day for 7 days, or
gentamicin 5 mg/kg/day in two divided doses for 7 days
Virus
Herpes simplex virus Trifluridine 1% solution every 2 hours for 7 days, or until re-
epithelialization of cornea, but not longer than 21 days
Acyclovir 10 mg/kg or 500 mg/m2 IV every 8 hours for 10
days
http://80.36.73.149/almacen/medicina/oftalmologia/enciclopedias/duane/pages/v4/v4c006.html
Microscopic Findings

Etiology Findings
Chemical PMNs, few lymphocytes
Chlamydia PMNs, lymphocytes, plasma cells, Leber cells,
intracytoplasmic basophilic inclusions
Bacteria PMNs, bacteria
Virus Lymphocytes, plasma cells, multinucleated
giant cells, intranuclear eosinophilic inclusion

http://80.36.73.149/almacen/medicina/oftalmologia/enciclopedias/duane/pages/v4/v4c006.html
60. Konjungtivitis
Conjunctivitis is swelling (inflammation) or infection of
the membrane lining the eyelids (conjunctiva)

Pathology Etiology Feature Treatment


Bacterial staphylococci Acute onset of redness, grittiness, topical antibiotics
streptococci, burning sensation, usually bilateral Artificial tears
gonocci eyelids difficult to open on waking,
Corynebacter diffuse conjungtival injection,
ium strains mucopurulent discharge, Papillae
(+)
Viral Adenovirus Unilateral watery eye, redness, Days 3-5 of worst, clear
herpes discomfort, photophobia, eyelid up in 714 days without
simplex virus edema & pre-auricular treatment
or varicella- lymphadenopathy, follicular Artificial tears relieve
zoster virus conjungtivitis, pseudomembrane dryness and inflammation
(+/-) (swelling)
Antiviral herpes simplex
virus or varicella-zoster
http://www.cdc.gov/conjunctivitis/about/treatment.html virus
Pathology Etiology Feature Treatment
Fungal Candida spp. can Not common, mostly occur in Topical antifungal
cause immunocompromised patient,
conjunctivitis after topical corticosteroid and
Blastomyces antibacterial therapy to an
dermatitidis inflamed eye
Sporothrix
schenckii
Vernal Allergy Chronic conjungtival bilateral Removal allergen
inflammation, associated atopic Topical antihistamine
family history, itching, Vasoconstrictors
photophobia, foreign body
sensation, blepharospasm,
cobblestone pappilae, Horner-
trantas dots
Inclusion Chlamydia several weeks/months of red, Doxycycline 100 mg PO
trachomatis irritable eye with mucopurulent bid for 21 days OR
sticky discharge, acute or Erythromycin 250 mg
subacute onset, ocular irritation, PO qid for 21 days
foreign body sensation, watering, Topical antibiotics
unilateral ,swollen lids,chemosis
,Follicles
CHLAMYDIAL KONJUNGTIVITIS
EPIDEMIOLOGY SIGNS
Adult chlamydial conjunctivitis is a Preauricular lymphadenopathy
sexually transmitted disease (STD) Mucopurulent discharge
All ages but particularly young adults Conjunctival injection
More women than men affected C. Chemosis
trachomatis serotypes D-K Follicular reaction (especially bulbar or
plica semilunaris follicles)
Histopathology: basophilic intracytoplasmic Superior micropannus
epithelial inclusion bodies (on Giemsa Fine or coarse epithelial or subepithelial
staining) corneal infiltrates

SYMPTOMS TREATMENT
Unilateral or bilateral involvement Options include one of the following:
Purulent discharge, crusting of lashes, Azithromycin 1000mg single dose
swollen lids, or lids "glued together" Doxycycline 100mg BID for 7 days
Patient may also complain of: Tetracycline 100mg QID x 7 days (avoid in
red eyes pregnant women and in children)
irritation Erythromycin 500 mg QID x 7 days
tearing Patient and sexual contacts should be
photophobia evaluated and treated for other STDs.
blurred vision
http://www.aao.org/theeyeshaveit/red-eye/chlamydial-conjunctivitis.cfm
Chronic follicular conjunctivitis in adult
Chlamydial conjunctivitis

Magnified view clearly shows the distinct


follicles on the semilunar fold and bulbar
conjunctiva
http://www.aao.org/theeyeshaveit/red-eye/chlamydial-conjunctivitis.cfm
http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/cases/68-Adult-Chlamydial-Conjunctivitis-Red-Eyes-
Chronic.htm
61. RETINOPATI HIPERTENSI
Kelainan retina dan pembuluh darah retina akibat tekanan darah tinggi arteri
besarnya tidak teratur, eksudat pada retina, edema retina, perdarahan retina
Kelainan pembuluh darah dapat berupa : penyempitan umum/setempat, percabangan
yang tajam, fenomena crossing, sklerose
Pada retina tampak :
warna pembuluh darah lebih pucat
kaliber pembuluh lebih kecil
akibat sklerose (refleks copper wire/silver wire, lumen pembuluh irreguler, fenomena crossing)
perdarahan atau eksudat retina (gambaran seperti bintang, cotton wool patches)
perdarahan vena (flame shaped)

Ilmu Penyakit Mata, Sidarta Ilyas, 2005


Retinopati Hipertensi
Pemeriksaan rutin:
Pemeriksaan tajam
penglihatan
Pemeriksaan biomikroskopi
Pemeriksaan fundus
Pemeriksaan penunjang:
Foto fundus
Fundus Fluorescein
Angiography
Tatalaksana :
Kontrol tekanan darah dan
faktor sistemik lain (konsultasi
penyakit dalam)
Bila keadaan lanjut terjadi
pendarahan vitreous dapat
dipertimbangkan Vitrektomi.

Panduan Praktik Klinik RSCM Kirana


Dinding arteriol normalny tidak terlihat;
arteri terlihat sebagai erythrocyte
column / pipa merah dengan central Penebalan yg progresif akan
light reflex pada funduskopi terjadi menutup gambaran pipa
penebalan dinding pada retinopati HT merah sepenuhnya
central light reflex lebih difus dan lebar menjadi silver wire
memberikan gambaran dinding arteriol yg
kekuningan/copper wire appearance. Bersamaan dengan itu,
terjadi fenomena
arteriovenous crossing (AV
crossing) vena yang
berjalan bersilangan di
bawah arteri yang
mengalami arterosklerosis
mengalami deformitas,
berbelok, bulging,
menyempit seperti jam
pasir, atau tampak seperti
terputus akibat penekanan
dari arteri.
Schema of ophthalmoscopic grading of arteriolar sclerosis. (Scheie HG:
Evaluation of ophthalmoscopic changes of hypertension and arteriolar
sclerosis. Arch Ophthalmol 49:117, 1953) http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v3/v3c013.html

http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v3/ch013/005f.html
http://www.theeyepractice.com.au/optometrist-sydney/high_blook_pressure_and_eye_disease
Definisi dan gejala

Oklusi Penyumbataan arteri sentralis retina dapat disebabkan oleh radang arteri,
arteri thrombus dan emboli pada arteri, spsame pembuluh darah, akibat
sentral terlambatnya pengaliran darah, giant cell arthritis, penyakit kolagen, kelainan
retina hiperkoagulasi, sifilis dan trauma. Secara oftalmoskopis, retina superficial
mengalami pengeruhan kecuali di foveola yang memperlihatkan bercak merah
cherry(cherry red spot). Penglihatan kabur yang hilang timbul tanpa disertai
rasa sakit dan kemudian gelap menetap. Penurunan visus mendadak biasanya
disebabkan oleh emboli
Oklusi Kelainan retina akibat sumbatan akut vena retina sentral yang ditandai dengan
vena penglihatan hilang mendadak.
sentral Vena dilatasi dan berkelok, Perdarahan dot dan flame shaped , Perdarahan
retina masif pada ke 4 kuadran , Cotton wool spot, dapat disertai dengan atau tanpa
edema papil

Retinopati Mata tenang visus turun perlahan dengan tanda AV crossing cotton wol spot-
Hipertensi hingga edema papil; copperwire; silverwire

Retinopati Mikroaneorisme, Hard Exudate, Daerah Hipoksia dan Iskemik (cotton wool
Diabetik spot); Neovaskularisasi (NVD, NVE); perdarahan bintik dan bercak; perdarahan
intraretinal
http://sdhawan.com/ophthalmology/lens&cataract.pdf E-mail: sdhawan@sdhawan.com

62. Cataract Morphological classification :


Capsular
Any opacity of the lens or loss of Subcapsular
transparency of the lens that causes Nuclear
diminution or impairment of vision Cortical
Classification : based on etiological, Lamellar
morphological, stage of maturity Sutural
Etiological classification : Stage of maturity classification :

Immature
Senile
Mature
Traumatic (penetrating, concussion, infrared
irradiation, electrocution) Intumescent
Metabolic (diabetes, hypoglicemia, Hypermature
galactosemia, galactokinase deficiency, Morgagnian
hypocalcemia) Chronological classification:
Toxic (corticosteroids, chlorpromazine,
miotics, gold, amiodarone) Congenital (since birth)
Complicated (anterior uveitis, hereditary Infantile ( first year of life)
retinal and vitreoretinal disorder, high myopia, Juvenile (1-13years)
intraocular neoplasia Presenile (13-35 years)
Maternal infections (rubella, toxoplasmosis, Senile
CMV)
Maternal drug ingestion (thalidomide, Sign & symptoms:
corticosteroids) Near-sightedness (myopia shift) Early in the
Presenile cataract (myotonic dystrophy, atopic development of age-related cataract, the power
dermatitis) of the lens may be increased
Syndromes with cataract (downs syndrome, Reduce the perception of blue colorsgradual
werners syndrome, lowes syndrome) yellowing and opacification of the lens
Hereditary Gradual vision loss
Secondary cataract Almost always one eye is affected earlier than
the other
Shadow test +
Cataract
Treatment : Surgery
Cataract surgery is the removal of the natural lens of the eye that has
developed an opacification then an artificial intraocular lens implant is inserted
Pirenoxine (Catalin) is a medication used in the possible treatment and
prevention of cataracts.
A report in the journal of Inorganic Chemistry showed that in liquid solutions
Pirenoxine could cause decreased cloudiness of a crystallin solution produced
to mimic the environment of the eye.
Abstract of a research on how pirenoxine (PRX) interacts with selenite or
calcium ions that have been proven as factors leading to the formation of lens
cataract is available at
http://pubs.acs.org/stoken/presspac/presspac/full/10.1021/ic102151p
Researchers found that pirenoxine reduced the cloudiness of the lens solution
containing calcium by 38 per cent and reduced the cloudiness of the selenite
solution by 11 per cent.

http://en.wikipedia.org/wiki/Pirenoxine
Quinolone A family of synthetic broad-spectrum antibacterial drugs

Pilokarpine A parasympathomimetic alkaloid, used to treat chronic open-


angle galucoma, acute angle-closure glaucoma

Betamethasone Corticosteroid for eye inflammation. Contraindicated in fungal


infections and hypersensitivity

Hidroksietilselulosa Eye lubricants, for dry and irritated eye


63. TRAUMA TUMPUL
These can be caused in a variety of ways, eg sports balls (especially squash balls), elastics
snapping back, champagne corks, etc. The globe is compressed antero-posteriorly and
stretched equatorially.
This primarily impacts on the lens and iris but can also cause damage at the posterior pole of
the eye. Injuries seen include:
Corneal abrasion
Acute corneal oedema: look for clouding of the cornea and a reduced visual acuity.
Hyphaema: look for a fluid level of blood just anterior to the iris.
Pupillary damage
Iris damage
Ciliary body damage
Lens damage
Posterior vitreous detachment
Retinal damage: Commotio retinae (swelling giving it a grey/red appearance) or retinal breaks can occur, Retinal
detachment can occur some time after the injury - so symptoms of flashers/floaters need urgent referral.
Optic nerve damage: less common but a neuropathy may occur, or even avulsion where there has been sudden
extreme rotation or anterior displacement of the globe.
Rupture of the globe: this results from very severe blunt trauma. The eye contents prolapse through the weakest
part of the eye wall, causing an open globe injury (above).
Management:
All but the most minor blunt injuries should be referred, as the extent of the injury may not be
visible on initial assessment.
http://www.patient.co.uk/doctor/Eye-Trauma.htm
63. TRAUMA MEKANIK BOLA MATA
Cedera langsung berupa ruda Pemeriksaan Rutin :
paksa yang mengenai jaringan
mata. Visus : dgn kartu Snellen/chart
Beratnya kerusakan jaringan projector + pinhole
bergantung dari jenis trauma serta TIO : dgn tonometer
jaringan yang terkena aplanasi/schiotz/palpasi
Gejala : penurunan tajam Slit lamp : utk melihat segmen
penglihatan; tanda-tanda trauma anterior
pada bola mata
USG : utk melihat segmen posterior
Komplikasi :
Endoftalmitis
(jika memungkinkan)
Uveitis Ro orbita : jika curiga fraktur
Perdarahan vitreous dinding orbita/benda asing
Hifema
Retinal detachment
Tatalaksana :
Glaukoma Bergantung pada berat trauma,
Oftalmia simpatetik mulai dari hanya pemberian
antibiotik sistemik dan atau topikal,
perban tekan, hingga operasi repair
Panduan Tatalaksana Klinik RSCM Kirana, 2012
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

Ablasio Retina
Ablasio retina adalah suatu Jenis:
keadaan terpisahnya sel Rhegmatogenosa (paling
kerucut dan batang retina sering) lubang / robekan
(retina sensorik) dari sel pada lapisan neuronal
epitel pigmen retina menyebabkan cairan vitreus
Mengakibatkan gangguan masuk ke antara retina
nutrisi retina pembuluh sensorik dengan epitel
darah yang bila berlangsung pigmen retina
lama akan mengakibatkan Traksi adhesi antara vitreus
gangguan fungsi / proliferasi jaringan
penglihatan fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Etiologi Ablasio Retina
Rhegmatogenosa: Serosa / hemoragik:
Miopia Hipertensi
Trauma okular Oklusi vena retina
Afakia sentral
Degenerasi lattice Vaskulitis
Traksi: Papilledema
Retinopati DM Tumor intraokular
proliferatif
Vitreoretinopati
proliferatif
Retinopati prematuritas
Trauma okular
Ablasio
Rhegmatogenosa

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology


17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Ablasio Retina
Anamnesis: Funduskopi : adanya
Riwayat trauma robekan retina, retina yang
Riwayat operasi mata terangkat berwarna keabu-
Riwayat kondisi mata abuan, biasanya ada fibrosis
sebelumnya (cth: uveitis, vitreous atau fibrosis
perdarahan vitreus, miopia preretinal bila ada traksi.
berat) Bila tidak ditemukan
Durasi gejala visual & robekan kemungkinan suatu
penurunan penglihatan
ablasio nonregmatogen
Gejala & Tanda:
Fotopsia (kilatan cahaya)
gejala awal yang sering
Defek lapang pandang
bertambah seiring waktu
Floaters
Tatalaksana
Ablasio retina
kegawatdaruratan mata
Tatalaksana awal:
Puasakan pasien u/ persiapan
operasi
Hindari tekanan pada bola
mata
Batasi aktivitas pasien sampai
diperiksa spesialis mata
Segera konsultasi spesialis
retina konservatif (untuk
nonregmatogen), pneumatic
retinopexy, bakel sklera,
vitrektomi tertutup

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
64. Gangguan Lapang Pandang:
Hemianopia
Hemianopia, also known as Hemianopsia is
loss of vision in either the right or left sides
of both eyes
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/hemianopia
Definisi Kebutaan
NEUROLOGI
65. Migrain

Migrain merupakan nyeri kepala primer yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan.
Patofisiologi aktivasi mekanisme di otak menyebabkan pelepasan sitokin
proinflamasi yang kemudian merangsang nyeri pada saraf dan pembuluh darah di
kepala.

Migraine sering mengenai usia 3545 tahun, tapi dapat juga


muncul pada usia lebih muda dan anak kecil.
Terdiri atas dua subtipe utama :
1. Migrain tanpa aura nyeri kepala khas tanpa disertai gejala
neurologis
2. Migrain dengan aura nyeri kepala khas disertai dengan
gejala neurolgis fokal sementara yang munculnya sebelum
atau selama serangan nyeri

Olesen J et al. The International Classification of Headache Disorders 3rd edition. International Headache Society . 2013
Kriteria Diagnosis Nyeri Kepala Migrain tanpa
Aura
Serangan nyeri kepala minimal 5 kali dan memenuhi kriteria A-D
A. Nyeri berlangsung antara 4 C. Selama nyeri terdapat
72 jam (tanpa atau setidaknya salah satu dari hal
dengan pengobatan) berikut
B. Memenuhi 2 dari empat 1. Mual dan/atau muntah
kriteria berikut : 2. Fotofobia atau fonofobia
a. Lokasi unilateral D. Tidak memenuhi kriteria nyeri
kepala lain
b. Berdenyut
c. Intensitas nyeri ringan
sedang
d. Diperburuk dengan
aktivitas fisik (berjalan
atau menaiki tangga)
Gilmore B, Michelle M. Treatment of Acute Migrain Headache. (Am Fam Physician. 2011;83(3):271-280.
66. Apraxia

KETERANGAN
Alexia Kehilangan kemampuan membaca yang sebelumnya dimiliki

Agnosia Kegagalan dalam mengenal suatu objek walaupun indranya berfungsi secara baik.
Agnosia dapat melibatkan seluruh jenis sensasi

Aphasia Merupakan gangguan dalam memproduksi dan atau memahami bahasa. Terjadi
defek pada pemrosesan bahasa ditingkat integratif yang lebih tinggi

Apraxia merupakan suatu gangguan yang didapat pada gerakan motorik yang dipelajari dan
berurutan, yang bukan disebabkan oleh gangguan elementer pada tenaga
koordinasi, sensorik atau kurangnya pemahaman atau atensi. Apraxia terdiri atas
apraxia ideomotor dan apraxia ideasional. Pada apraxia ideomotor, pasien tidak
mampu melakukan gerakan yang pernah dipelajari olehnya sebelumnya secara
akurat.

Agraphia Gangguan pada bahasa yang dinyatakan dalam penulisan. Bukan pada bentuk huruf
dan tulisan yang buruk
67. Mild Cognitive Impairment
merupakan gangguan kognitif ringan yang sudah terjadi pada kelompok lanjut usia
nondemensia

Ketika MCI berlanjut, gangguan memori makin terlihat. Lingkungan sekitar akan
mulai menyadari hal hal sebagai berikut:
bertanya secara berulang ulang
menceritakan cerita yang sama berulang ulang
kurangnya inisiatif untuk memulai atau menyelesaikan aktivitas
Kesulitan untuk melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan angka seperti
membayar tagihan
kurang fokus selama melakukan aktivitas atau percakapan
tidak mampu mengikuti perintah atau langkah langkah yang kompleks

Penegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


tambahan berupa pemeriksaan MMSE

Sidhi P. Gambaran gangguan kognitif pada lanjut usia nondemensis di puskesmas tebet dan pasar minggu.
http://lontar.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp?id=107384&lokasi=lokal
68-69. Status Epileptikus
kejang yang berlangsung lebih dari 5 menit atau kejang berulang dimana di antara
serangan yang pertama dan berikutnya kesadaran pasien tidak kembali normal
Sirven J, Waterhouse E. Management of Status Epilepticus. Am Fam Physician 2003;68:469-76
70. Tekanan Intrakranial
Intrakranial tersusun atas :
Otak (80%) Hukum Monroe Kellie

Cairan serebrospinal (10%) Komposisi tiap komponen


intrakranial dapat berubah ubah,
namun volume intrakranial total akan
Volume darah otak (10%) selalu tetap

V (intracranial vault)= V (CSF) + V (brain) + V (blood) + V (lainnya, massa)

tubuh memiliki mekanisme kompensasi untuk


mempertahankan tekanan intrakranial yang normal
seperti mengubah tekanan darah
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tanda vital, reflex cahaya pupil, kesadaran,
defisit fokal, fontanel (pada bayi)
Tanda dan Gejala peningkatan tekanan
intrakranial
Nyeri kepala
Mual dan muntah
Perubahan kesadaran
Ubun ubun membonjol pada bayi
Defisit neurologis
Kejang
Kaku kuduk (terutama akibat meningitis)
Perubahan pola nafas : stridor, hiperventilasi,
Cheyne Stokes
71. Tumor Intrakranial
Tumor otak primer adalah penyakit yang jarang ditemui, insidensnya hanya sekitar 2% dari
populasi di USA
Tumor lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita, dengan umur yang paling sering
terkena adalah 69 75 tahun

Chandhana S, Singh T. Primary Brain Tumors in Adult. (Am Fam Physician. 2008;77(10):1423-1430.
Tanda dan gejala tumor otak primer

Tanda dan Gejala Persentase %


1. Nyeri kepala 56
2. Hilangnya memori 35
3. Perubahan kognitif 34
4. Defisit motorik 33
5. Defisit bahasa 32
6. Kejang 32
7. Perubahan kepribadian 23
8. Gangguan penglihatan 22
9. Perubahan kesadaran 16
10. Mual dan muntah 13
11. Defisit sensoris 13
12. Papiledema 5

Chandhana S, Singh T. Primary Brain Tumors in Adult. (Am Fam Physician. 2008;77(10):1423-1430.
72. Efek Samping obat obatan Kejang

Greenwood S. Adverse Effects of Antiepileptic Drugs. Epilepsia, 41(Suppl. 2):S42-S52, 2000


73. Traumatic Brain Injury
KETERANGAN
Concussion Merupakan cedera kepala yang paling ringan dan sering terjadi.
Terjadi kehilangan kesadaran sementara setelah cedera (gegar
otak)
Contussion Pembengkakan jaringan otak disertai dengan bocornya darah
dari pembuluh darah yang robek. Dapat disebabkan oleh
cederea countercoup.
Countercoup terjadinya goncangan pada kepala, sehingga
otak terbentur ke kranium contoh: mobil dengan kecepatan
tinggi berhenti mendadak atau shaken baby syndrome

Hematom Cedera kepala yang menyebabkan robeknya pembuluh darah


otak dapat menyebabkan hematoma (hematom epidural,
subdural, subarakhnoid)
Diffuse Axonal Kerusakan pada sel saraf (neuron) sehingga sinaps antar neuron
Injury rusak atau terputus. Biasanya disebabkan oleh cedera
countercoup
74. Central Visual Pathways
75. Tatalaksana Stroke Iskemia
76. Ischialgia
Ischialgia timbul
karena
terangsangnya
serabut-serabut
sensorik dimana
nervus ischiadicus
berasal yaitu radiks
posterior L4, L5, S1,
S2, S3.
Penyebab ischialgia dapat dibagi dalam :
1. Ischialgia diskogenik, biasanya terjadi pada penderita
hernia nukleus pulposus (HNP).
2. Ischialgia mekanik terbagi atas :
Spondiloarthrosis defermans.
Spondilolistetik.
Tumor caud.
Metastasis carsinoma di corpus vertebrae lumbosakral.
Fraktur corpus lumbosakral.
Fraktur pelvis, radang atau neoplasma pada alat- alat dalam
rongga panggul sehingga menimbulkan tekanan pada pleksus
lumbosakralis.
3. Ischailgia non mekanik (medik) terbagi atas:
Radikulitis tuberkulosa
Radikulitas luetika
Adhesi dalam ruang subarachnoidal
Penyuntikan obat-obatan dalam nervus ischiadicus
Neuropati rematik, diabetik dan neuropati lainnya
Gambaran klinis
1. Lokasi nyeri, sudah berapa lama, mula nyeri,
jenis nyeri (menyayat, menekan, dll), penjalaran
nyeri, intensitas nyeri, pinggang terfiksir, faktor
pencetus, dan faktor yang memperberat rasa
nyeri
2. Kegiatan yang menimbulkan peninggian tekanan
didalam subarachnoid seperti batuk, bersin dan
mengedan memprivakasi terasanya ischialgia
diskogenik
3. Faktor trauma hampir selalu ditemukan kecuali
pada proses neoplasma atau infeksi
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Perhatikan keadan tulang belakang, misalnya skoliosis,
hiperlordosis atau lordosis lumbal yang mendatar
2. Palpasi
Nyeri tekan pada tulang belakang atau pada otot-otot
di samping tulang belakang
3. Perkusi
Rasa nyeri bila prosesus diketok
4. Reflek
KPR dan atau APR
Laseque, patrick, antipatrick, naffziger
Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan umum
Istirahat lebih kurang 2-3 minggu
Analgetik
NSAID
Rehabilitasi (Mobilisasi)
2. Penatalaksanaan khusus
Diberikan sesuai dengan etiologi ischialgia
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan:
Foto Ro lumbosakral
MRI
HNP
HNP merupakan salah satu penyebab dari ischialgia
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu : keluarnya
nucleus pulposus dari discus melalui robekan annulus
fibrosus keluar ke belakang/dorsal menekan medulla
spinalis atau mengarah ke dorsolateral menakan saraf
spinalis sehingga menimbulkan gangguan.

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Gejala Klinis
Adanya nyeri di pinggang bagian bawah yang menjalar ke
bawah (mulai dari bokong, paha bagian belakang, tungkai
bawah bagian atas). Dikarenakan mengikuti jalannya N.
Ischiadicus yang mempersarafi kaki bagian belakang.
1. Nyeri mulai dari pantat, menjalar kebagian belakang lutut,
kemudian ke tungkai bawah. (sifat nyeri radikuler).
2. Nyeri semakin hebat bila penderita mengejan, batuk,
mengangkat barang berat.
3. Nyeri bertambah bila ditekan antara daerah disebelah L5 S1
(garis antara dua krista iliaka).
4. Nyeri Spontan, sifat nyeri adalah khas, yaitu dari posisi
berbaring ke duduk nyeri bertambah hebat. Sedangkan bila
berbaring nyeri berkurang atauhilang.

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Pemeriksaan
Motoris
Gaya jalan yang khas, membungkuk dan miring ke sisi tungkai yang nyeri dengan fleksi di sendi
panggul dan lutut, serta kaki yang berjingkat.
Motilitas tulang belakang lumbal yang terbatas.
Sensoris
Lipatan bokong sisi yang sakit lebih rendah dari sisi yang sehat.
Skoliosis dengan konkavitas ke sisi tungkai yang nyeri, sifat sementara.

Tes-tes Khusus
1. Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)
Tungkai penderita diangkat secara perlahan tanpa fleksi di lutut sampai sudut 90.
2. Gangguan sensibilitas, pada bagian lateral jari ke 5 (S1), atau bagian medial
dari ibu jari kaki (L5).
3. Gangguan motoris, penderita tidak dapat dorsofleksi, terutama ibu jari kaki
(L5), atau plantarfleksi (S1).
4. Tes dorsofleksi : penderita jalan diatas tumit
5. Tes plantarfleksi : penderita jalan diatas jari kaki
6. Kadang-kadang terdapat gangguan autonom, yaitu retensi urine, merupakan
indikasi untuk segera operasi.
7. Kadang-kadang terdapat anestesia di perincum, juga merupakan indikasi untuk
operasi.
8. Tes kernique
Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
Foto X-ray tulang belakang. Pada penyakit diskus, foto ini
normal atau memperlihatkan perubahan degeneratif dengan
penyempitan sela invertebrata dan pembentukan osteofit.
Myelogram mungkin disarankan untuk menjelaskan ukuran dan
lokasi dari hernia. Bila operasi dipertimbangkan maka
myelogram dilakukan untuk menentukan tingkat protrusi diskus.
CT scan untuk melihat lokasi HNP
Diagnosis ditegakan dengan MRI setinggi radiks yang dicurigai.
EMG
Untuk membedakan kompresi radiks dari neuropati perifer

Fakultas Kedokteran UI, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, Media Acsculapius, Jakarta 2000, hal; 54-57.
ILMU PSKIATRI
77. Insomnia
Diagnosis Sindrom Insomnia
Membutuhkan waktu lebih dari jam untuk tertidur
atau tidur kembali setelah terbangun sehingga siklus
tidur tidak utuh dan menimbulkan keluhan gangguan
kesehatan
Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari hari,
bermanifestasi dalam gejala: penurunan kemampuan
bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan
rutin.
Lama tidur :
Long sleeper (7-8 jam/hari)
Short sleeper (3-4 jam/hari)

Panduan Klinis Obat Psikotropik, Maslim R


Obat anti insomnia
Benzodiazepin
Nitrazepam 5 10 mg/malam
Flurazepam 15 20 mg/malam
Estazolam 1 -2 mg/malam
Non-benzodiazepin
Zolpidem 10 20 mg/malam

Panduan Klinis Obat Psikotropik, Maslim R


78. Ganguan obsesif kompulsif
merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan
pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih
dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan.
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala gejala obsesif atau tindakan
kompulsif, atau kedua duanya, harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya 2 minggu berturut turut.
Gejala gejala obsesif harus mencakup hal hal berikut :
Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada
lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi
kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak
dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas).
Gagasan , bayangan pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang
tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

Maslim R, Buku Saku Diagnosis gangguan


Jiwa Rujukan ringkas dari PPDGJ - III
Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan :
kebersihan (khususnya mencuci tangan), memeriksa
berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang
dianggap berpotensi bahaya tidak terjadi atau masalah
kerapihan dan keteraturan.
Neurotransmitter yang berperan pada kasus OCD
serotonin dan dopamine. Pada pemberian SSRI dapat
menurunkan gejala OCD. Sementara dopamine
dianggap berperan pada kelainan ini. Pemberian SSRI
yang disertakan dengan antagonist dopamine dapat
menguatkan efektifitas pengobatan OCD

(Kaplan synopsis edisi 10)


79. Gangguan Somatoform
Diagnosis Presentasi klinis
Somatization Banyak keluhan
disorder Berulang dan kronis
Riwayat penyakit lama
Conversion disorder Satu keluhan
Kebanyakan akut
Adanya stimulus penyebab penyakit

Hypochondriasis Penyakit dimana pasien meyakini satu keluhan yang dideritanya


Kelainan Body Perasaan subjektif dimana pasien merasa bagian tubuhnya
dysmorphic terdapat kekurangan atau suatu yang buruk pada dirinya (fisik).
Pain disorder Sindrome keluhan denggan tekanan

(Adapted from Folks DG, Ford CV, Houck CA. Somatoform disorders, factitious disorders,
and malingering. In: Stoudemire A, ed. Clinical Psychiatry for Medical Students.
Philadelphia: JB Lippincott; 1990:233, with permission.)
80. Patofisiologi depresi
Neurochemistry and Brain Anti-depressant drugs
Areas such as Prozac increase
Depression - (SER, NE, DA) brain SER function in
in limbic system animal studies.
OCD - (SER) in It is inferred that
orbitofrontal cortex, decreased brain SER
cingulate cortex, function is one of the
caudate nucleus causes of depression in
humans.
Indirect evidence
supports this
80. Depresi
Neurotransmitter

Dopamin Mania Depresi

Serotonin Eksitasi, cemas Depresi

Norepinefrin Cemas, gembira Depresi

Katekolamin Elasi Depresi


Acetylcholine (ACh)
Dopamine (DA)
Serotonin (SER)
Gamma aminobutyric
acid (GABA)
Endorphins (END)
Glutamate (GLU)
81. Gangguan disosiatif (konversi)
Gangguan Disosiatif adalah adanya kehilangan
(sebagian atau seluruh) dari integrasi normal
(dibawah kendali kesadaran) antara:
Ingatan masa lalu
Kesadaran identitas dan peng-inderaan segera
(awareness of identity and immediate sensation) dan
Kontrol terhadap gerakan tubuh
Jenis jenis gangguan disosiatif : amnesia
disosiatif, fugue disosiatif, stupor dissosiatif, trans
disosiatif
Konvulsi disosiatif Konvulsi disosiatif (pseudo seizures) dapat sangat mirip dengan
kejang epileptic dalam hal gerakan gerakannya, akan tetapi
sangat jarang disertai lidah tergigit, luka serius karena jatuh saat
serangan dan mengompol. Juga tidak dijumpai kehilangan
kesadaran atau hal tersebut diganti dengan keadaan seperti stupor
atau trans.

Tetanus Kontraksi otot yang bersifat nyeri, ditandai dengan tonus otot
meningkat, rigiditas muskuler dan spasme yang menyerupai kejang.
Spasme otot berupa (rigiditas abdomen, kontraksi otot wajah,
kontraksi otot rahang dan leher, trismus, disphagia)

Hipokalsemia Kadar kalsium total > 11 mg/dL gejala: hipertensi, cardiac ischemia,
arrythmia, bradikardi, koma, kejang, konstipasi, sudden death
Keadaan putus alcohol bicara ngaco, euphoria, gangguan keseimbangan, koordinasi buruk,
mata dan muka merah, perilaku sexual errotis, ataxia
Epilepsi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure)
berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara
intermiten yang disebabkan oleh pelepasan muatan listrik abnormal
dan berlebihan di neuron-neuron secara paroksismal, yang didasari
oleh berbagai faktor etiologi.

Terapi Cairan dan elektrolit, Dr. Ery Leksana


SpAn; Kegawatdaruratan Neurology RSHS -
FKUNPAD, PPDGJ
82. Agoraphobia
Pedoman diagnostik agorafobia:
Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk
diagnosis pasti:
Gejala psikologis, perilaku, atau otonomik yang timbul
harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan
bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti waham atau
pikiran obsesif
Anxietas yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi
dalam hubungan dengan) setidaknya dua dari situasi
berikut: banyak orang/keramaian, tempat umum,
bepergian keluar rumah, dan bepergian sendiri, danda
Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan
gejala yang menonjol (penderita menjadi house bound)

Ref: Diagnosis gangguan jiwa PPDGJ III


Reaksi stress akut Harus ada kaitan waktu kejadian yang jelas antara terjadinya pengalaman stresor
luar biasa (fisik atau mental) dengan onset dari gejala, biasanya setelah beberapa
menit atau segera setelah kejadian
Gejala gejala biasanya baru mereda setelah 24 48 jam dan biasanya hampoir
menghilang setelah 3 hari.

Gangguan penyesuaian Diagnosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara:


- Bentuk, isi, dan beratnya gejala;
- Riwayat sebelumnya dan corak kepribadian; dan
- Kejadian, situasi yang stressful, atau krisis kehidupan.
Onset biasanya terjadi dalam 1 bulan setelah terjadinya kejadian yang stressfull
dan gejalanya biasanya tidak melebihi 6 bulan kecuali dalam hal reaksi depresif
berkepanjangan.
Depresi Gejala utama: Afek depresif, Kehilangan minat dan kegembiraan, Berkurangnya
energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya
aktivitas
Gejala lainnya: Konsentrasi dan perhatian berkurang, Harga diri dan
kepercayaan diri berkurang, Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna,
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, Gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh diri, Tidur terganggu, Nafsu makan berkurang
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan masa 2 minggu
Gangguan somatisasi Kelainan ini ditandai dengan onset yang dini (<30 hari), dapat kambuh, mencakup
keluhan fisik yang multiple. Pada kelainan somatisasi, yang terjadi adalah
preokupasi tentang beberapa gejalayang timbul, bukan tentang penyakit yang
mendasarinya. Gejala yang timbul haruslah memenuhi pola yang spesifik untuk
dapat diklasifikasikan sebagai gangguan somatisasi yaitu perasaan nyeri yang
terjadi pada 4 tempat yang berbeda, 2 gejala gastrointestinal yang berbeda, 1
gejala seksual, dan 1 gejala neurologi.
Ref: Diagnosis gangguan jiwa PPDGJ III
83. DEPRESI Kriteria depresi berat menurut DSM IV
Diagnosis gangguan depresi: 5 atau lebih gejala selama 2 minggu, setidaknya 1 dari
Gejala utama: simptom mood depresif atau kehilangan minat
Mood yang depresif hampir tiap hari perasaan
afek depresif sedih atau kosong pada anak-anak dan dewasa
kehilangan minat dan kegembiraan (mood yang irritable)
berkurangnya energi mudah lelah, Kehilangan minat atau kepuasan di semua
aktivitas hampir setiap hari
menurunnya aktivitas
Penurunan BB yang signifikan ketika tidak sedang
Gejala lain: diet atau penurunan nafsu makan/ penurunan
konsentrasi dan perhatian << hampir setiap haari
Insomnia atau hiperinsomnia
harga diri dan kepercayaan diri <<
Agitasi psikomotor hampir setiap hari ata
gagasan tentang rasa bersalah dan tidak retardasi
berguna Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap
pandangan masa depan yang suram dan hari
pesimistis Merasa tidak berharga atau bersalah hampir
setiap hari
gagasan atau perbuatan membahayakan Berkurangnya kemampuan konsentrasi atau
diri atau bunuh diri mengambil keputusan hampir setiap hari
Tidur terganggu Pikiran tentang kematian yang berulang, pikiran
tentang ide bunuh diri atau percobaan bunuh diri
nafsu makan <<
Simptom tidak memenuhi kriteria episode campuran
(Buku saku diagnosis gang jiwa PPDGJ Rusdi Simptom menyebabkan distres yang signifikan atau
Maslim) hendaya sosisal, pekerjaan dan fungsi lainnya
Simptom bukan efek psikologi dari substansi zat
(contoh: PGZ dan obat) atau karena kondisi medik
umum (contoh hipotiroid)
Gejala tidak lebih baik dibandingkan dengan duka cita
tentamen Suicide/ bunuh diri
Definisi tentamen Suicide:
Bunuh diri merupakan kematian yang diperbuat oleh sang
pelaku sendiri secara sengaja
(Harold I, Kaplan & Berjamin J. Sadock, 1998)
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri
dan dapat mengakhiri kehidupan
(Budi Anna Kelihat, 1991)
Etiologi/Penyebab
Anak Remaja Mahasiswa Lansia

1) Pelarian dari 1) Hubungan interpersonal 1) Self ideal terlalu tinggi 1) Perubahan status dari
penganiayaan atau yang tidak bermakna 2) Cemas akan tugas mandiri ke tergantung
pemerkosaan 2) Sulit akademik yang banyak 2) Penyakit yang
2) Situasi keluarga yang mempertahankan 3) Kegagalan akademik menurunkan kemampuan
kacau hubungan interpersonal berarti kehilangan berfungsi
3) Perasaan tidak 3) Pelarian dari penghargaan dan kasih 3) Perasaan tidak berarti
disayang atau selalu dikritik penganiayaan fisik atau sayang orang tua. di masyarakat.
4) Gagal sekolah pemerkosaan 4) Kompetisis untuk 4) Kesepian dan isolasi
5) Takut atau dihina di 4) Perasaan tidak sukses sosial
sekolah dimengerti orang lain 5) Kehilangan ganda
6) Kehilangan orang 5) Kehilangan orang (seperti pekerjaan,
yang dicintai yang dicintai kesehatan, pasangan)
7) Dihukum orang lain 6) Keadaan fisik 6) Sumber hidup
7) Masalah orang tua berkurang
8) Masalah seksual
9) Depresi
Faktor resiko bunuh diri:
Gangguan mental, seperti:
Depression or bipolar (manic-depressive) disorder
Alcohol or substance abuse or dependence
Schizophrenia
Borderline or antisocial personality disorder
Conduct disorder (in youth)
Psychotic disorders; psychotic symptoms in the context of any disorder
Anxiety disorders
Impulsivity and aggression, especially in the context of the above
mental disorders
Percobaan bunuh diri sebelumnya
Riwayat keluarga mencoba bunuh diri atau telah bunuh diri
Dalam kondisi kesehatan buruk untuk menahan rasa sakit

http://www.afsp.org/understanding-
suicide/risk-factors-and-warning-signs
84. Obat Anti Psikosis
Pada pilihan ganda terdapat 5 obat anti psikosis tipikal: Chlorpromazine
dan Thioridazine efek sedatif kuat digunakan pada kasus psikosis dengan
gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif, sulit tidur, kekacauan pikiran,
perasaan, dan perilaku,
Sedangkan Trifluoperazine, Haloperidol, Fluphenazine, yang efek sedatif
lemah diberikan pada kasus psikosis dengan gejala dominan : menarik diri,
perasaan tumpul, kehilangan minat dan inisiatif, hipoaktif, waham,
halusinasi.
Jadi kemungkinan pilihannya karena pada kasus ini dominan gelisah maka
diberikan Chlorpromazine dan Thioridazine. Diantara ke 2 obat tersebut
obat acuan pertama adalah Chlorpromazine

Panduan Klinis Obat Psikotropik, Maslim R


Dari Panduan praktis penggunaan obat psikotropik Rusdi Maslim:
Untuk rapid neuroleptization: haloperidol 5 10 mg im dapat
diulangi setiap 2 jam, dosis maksimum adalah 100mg dalam 24 jam,
biasanya dalam 6 jam sudah dapat mengatasigejala-gejala akut dari
sindrom psikosis (agitasi, hiperaktivitas psikomotor, impulsif,
menyerang, gaduh gelisah, perilaku destruktif, dll.)

Dari Kaplan&Sadocks synopsys of psychiatry:


In an acutely distressed, psychotic patient one might use
haloperidol, 10 mg intramuscularly, which is absorbed rapidly and
achieves an initial tenfold plasma level advantage over equal oral
doses. Psychomotor agitation, racing thoughts, and general arousal
are quickly reduced. The dose can be repeated every 34 hours;
when the patient is less symptomatic, oral doses can replace
parenteral administration in most cases.
85. Delusi/ Waham
Waham adalah suatu keyakinan yang dipertahankan secara kuat terus-
menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Tanda dan gejala waham berdasarkan jenisnya meliputi :
Waham kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan
khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, Saya ini
pejabat di separtemen kesehatan lho! atau, Saya punya tambang emas.
Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya dan siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Contoh, Saya tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup
saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.
Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, Kalau
saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.
Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau
terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan. Misalnya, Saya sakit kanker. (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium
tidak ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa ia sakit
kanker).
Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal
dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, Ini kan alam kubur
ya, sewmua yang ada disini adalah roh-roh.
Delusi/ Waham Delusion of control=waham tentang dirinya dikendalikan oleh
kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influence= waham tentang dirinya dipengaruhi oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar
Delusion of passivity = waham tentang dirinya tak berdaya
terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusional perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar

Ilusi Persepsi sensorik yg salah dr stimuli eksternal yg nyata

Flight of ideas Gangguan pola pikiran dimana proses berpikir mudah teralihkan
dari satu tema ke tema yang lain. Susah untuk hanya
berkonsentrasi pada satu tema saja.

Sirkumtantial Pola pembicaraan yg tdk langsung & ditunda dlm mencapai


tujuannya

Asosiasi longgar Gangguan Progresi pikiran dimana pikiran berpindah dari subjek
satu ke lainnya tanpa kejadian yg berhubungan
86. Disfungsi seksual
Disfungsi ereksi Gangguan terus menerus atau berulang ketidakmampuan dalam
mencapai atau menjaga dan menyelesaikan aktifitas seksual, ereksi
tidak adekuat
Gangguan karena stress atau masalah interpersonal
Gangguan fungsi seksual bukan masuk ke axis 1 (kecuali gangguan
seksual lainnya)
Aversi seksual Keenganan dan penghindaran untuk hubungan seksual dengan partner
sex yang berulang atau terus menerus
Gangguan karena stress atau masalah interpersonal
Gangguan fungsi seksual bukan masuk ke axis 1 (kecuali gangguan
seksual lainnya)
Ejakulasi terhambat Gangguan Ejakulasi terus menerus atau berulang yang muncul dengan
stimulus seksual minimal, sebelum,. Saat sedang berlangsung atau segera
setelah penetrasi dan sebelum orangnya menginginkan
Dorongan hiposeksual Kurangnya fantasi dan keinginan untuk aktifitas seksual secara terus
menerus atau berulang
Gangguannya disebabkan oleh stress atau masalah interpersonal
Gangguan seksual bukan mask ke axis 1 dan bukan efek dari penggunaan
obat.

Kaplan & Sadock Synopsis of Psychiatry:


behavioral science/ clinical psychiatry, ED10
Orgasmic Disorders
Male Orgasmic Disorder: persistent difficulty
or inability to achieve orgasm despite the
apparent presence of adequate desire,
arousal, and stimulation.
Usually able to ejaculate during masturbation
or sleep
Retarded Ejaculation
also known as the male Defined by the American
orgasmic disorder, Psychiatric Association
inhibited ejaculation, (APA) as:
impaired ejaculation, the persistent or
delayed ejaculation, recurrent difficulty,
ejaculatory delay in, or absence of
incompetence, attaining orgasm
anejaculation, impaired following sufficient
orgasm, inhibited male sexual stimulation,
orgasm, ejaculatory which causes personal
overcontrol) distress
87. Eating disorder
Bulimia nervousa - Terdapat preokupasi yang menetap untuk makan
dan ketagihan terhadap makanan yang tidak bisa
dilawan
- Pasien berusaha melawan efek kegemukan dengan
merangsang muntah oleh diri sendiri atau
pencahar berlebihan, puasa berkala, memakai
obat2an penekan nafsu makan, seperti tiroid,
diuretik.
Anoreksia Nervosa - Mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu
dan atau dipertahankan oleh penderita.
- Berat badan dipertahankan 15% dibawah yang
seharusnya
Obesitas klasifikasi BMI menurut WHO 30,0 34,9
Kluver Bucy Syndrome Gejala yang disebabkan oleh lesi bilateral gejalanya
hyperphagia, hypersexuality, hyperorality, dan
kepatuhan
Kleine Levin Syndrome penyakit syaraf yang langka dimana penderita tidak
bisa mengontrol rasa kantuknya (tidur 20 jam), makan
berlebihan, kelainan dorongan seksual
88. Retardasi Mental
Menurut Rusdi Maslim (2001) retardasi mental
adalah suatu keadaan perkem-bangan jiwa yang
terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai
oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat
kecerdasan secara menyeluruh, misalnya
kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
Ringan Sedang Berat

IQ 50 69 IQ 35 49 IQ 20 - 34

85% dari semua Dapat bicara dan Pada umumnya mirip


penderita MR belajar berkomunikasi dengan retardasi mental
Umumnya tidak Kesadaran social sedang dalam ha;
terdeteksi hingga setelah kurang koordinasi otot cukup gambaran klinis,
kelas 1 atau 2 SD Dapat mempelajari terdapatnya etiologi
Saat late beberapa kemampuan social organik, kondisi yang
adolescence kemampuan dan pekerjaan pada usia 6 menyertainya, tingkat
akademik setara anak kelas 6 20 tahun prestasi yang rendah
SD Dapat belajar Kebanyakan retardasi
Kebanyakan bepergian sendiri ke tempat mental mengalami
dewasa dengan mild MR yang dikenal pada jarak usia gangguan motorik yang
dapat hidup mandiri, 6 20 Tahun mencolok atau defisit lain
dan dapat yang menyertainya
membangun keluarga sendiri

PPDGJ & Buku Pedoman Diagnosis dan


Terapi Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD
ILMU PENYAKIT KULIT DAN
KELAMIN
89. Gonorrhea
Penyakit yang disebabkan infeksi Neisseria
gonorrhoeae
Masa tunas 2-5 hari
Jenis infeksi:
Pada pria: uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis,
cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis,
trigonitis
Gambaran uretritis: gatal, panas di uretra distal, disusul
disuria, polakisuria , keluar duh yang kadang disertai
darah, nyeri saat ereksi
Pada wanita: uretritis, oarauretritis, servisitis, bartholinitis,
salpingitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis (pada bayi
baru lahir), gonorrhea diseminata

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Gonorrhea
Pemeriksaan:
Sediaan langsung: diplokokus gram negatif
Kultur: agar Thayer-Martin
Pengobatan
Diagnosis Pilihan pengobatan
Uncomplicated gonococcal First line: Ceftriaxone (250 mg IM, single dose) or Cefixime
infection of the cervix, (400 mg PO, single dose)
urethra, pharynx, or rectum plus
Treatment for Chlamydia if chlamydial infection is not ruled
out: Azithromycin (1 g PO, single dose) or Doxycycline (100 mg
PO bid for 7 days)

Alternative: Ceftizoxime (500 mg IM, single dose) or


Cefotaxime (500 mg IM, single dose) or Spectinomycin (2 g IM,
single dose) or Cefotetan (1 g IM, single dose) plus probenecid
(1 g PO, single dose) or Cefoxitin (2 g IM, single dose) plus
probenecid (1 g PO, single dose)

Longo DL. Harrisons principles of internal medicine, 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
http://www.microbelibrary.org

Media kultur
Media Kultur Kegunaan
Mc-Conkey Bersifat selektif dan diferensiasi. Untuk menumbuhkan bakteri
gram negatif dan membedakan bakteri gram negatif yang
dapat memfermentasi laktosa dengan yang tidak. Bakteri yang
dapat memfermentasi laktosamemunculkan warna pink
TCBS (Thiosulfate-citrate-bile Media selektif untuk menumbuhkan Vibrio cholera dan jenis
salts-sucrose) vibrio lainnya
Agar Darah Untuk membedakan bakteri berdasarkan kemampuan
menghemolisis darah
Saboroud Agar Menumbuhkan jamur dermatofita dan jenis jamur lainnya

Thayer-Martin agar Untuk menumbuhkan Neisseria, yaitu Neisseria gonorrhoe dan


Neisseria meningitidis
V. cholerae
Large yellow
colonies.

1. Gram negatif, dapat memfermentasi Trichophyton rubrum


laktosa
2. Gram negatif, dapat memfermentasi
laktosa
3. Gram positiftidak tumbuh koloni
4. Gram negatif, tidak dapat Candida albicans
memfermentasi laktosa
90. Herpes zoster

Penyakit yang disebabkan virus varicella zoster yang menyerang kulit dan
mukosa, merupakan reaktivasi setelah infeksi primer (varicella)
Predileksi: daerah torakal, unilateral, bersifat dermatomal
Gejala:
Gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) & lokal (myalgia, gatal,
pegal)
Timbul eritema yang kemudian menjadi vesikel yang berkelompok dengan
dasar eritematosa & edema, kemudian menjadi pustul dan krusta
Pembesaran KGB regional
Herpes zoster oftalmikus: infeksi n.V-1
Sindrom Ramsay-Hunt: gangguan n. fasialis & otikus
Komplikasi: neuralgia pascaherpetik: nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan lebih dari sebulan setelah sembuh
Pengobatan: acyclovir (pada herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan
defisiensi imun)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Terapi
Terapi Antiviral terutama direkomendasikan pada:
Pada pasien lebih dari 50thn
Pasien dengan rash yang nyeri (moderate severe)
Terdapat keterlibatan dermatom nontrunkal
(co:wajah).
Pemberian terbaik adalah dalam waktu 72 jam
setelah onset rash
Namun, terapi Antiviral harus tetap diberikan
walaupun onset rash sudah lebih dari 72 jam,
terutama bila masih muncul vesikel baru atau
terdapat komplikasi.

Mayo Clin Proc. March 2009;84(3):274-280


91. Urinary Tract Infection (UTI)
Background
1. ISKbiasanya menyebabkan pasien datang ke dokter
2. Umumnya pada wanita muda dan jarang pada pria usia
dibawah 50
3. Organisme penyebab yang sering
Escherichia coli (gram-negative enteral
bacteria)penyebab sebagian besar infeksi yang didapat
pada komunitas (community acquired infections)
Staphylococcus saprophyticus, gram-positive organism
causes 10 15%
Catheter-associated UTIs disebabkan oleh gram-
negative bacteria: Proteus, Klebsiella, Seratia,
Pseudomonas
Urinary Tract Infection (UTI)
Pathophysiology
1. Infection spreads from renal pelvis to renal cortex
2. Kidney grossly edematous; localized abscesses in cortex
surface
3. E. Coli responsible organism for 85% of acute pyelonephritis;
also Proteus, Klebsiella

Manifestations
1. Demam dan menggigil yang tiba-tiba
2. Malaise
3. muntah
4. Nyeri pinggang
5. Nyeri dan nyeri ketok Costovertebral
6. Urinary frequency, dysuria
Ada di GIT
E. coli
Patofisiologi:
Infeksi endogen setelah menembus barier imun
Sepsis dengan fokus infeksi pada traktus urinarius atau GIT, merupakan bakteri
gram negatif tersering penyebab sepsis
Urinary tract infectionSebagian besar menginfeksi pasien dalam komunitas,
ditransmisikan dari GIT secara asenden, beberapa serotipe menempel pada
traktus urinarius
Forms complex of numerous o-somatic, H- flagellar and K - capsular antigens
Tes indentifikasi:
Tes indoluntuk membedakan bakteri batang gram negatif dalam famili
Enterobacteriaceaemerubah triptofan menjadi indole
tes indol +
Escherichia coli
Haemophilus influenzae
Proteus sp. (not P. mirabilis and P. penneri)
Vibrio sp
Tes indol
most Bacillus sp.
Enterobacter sp.
most Klebsiella sp.
Proteus mirabilis,
Pseudomonas sp.
Proteus mirabilis

Batang gram negatif, facultatif anaerob


Menyebabkan infeksi traktus urinarius (pyelonephritis, kidney
stones) diikuti dengan septikemia
Proteus sp. Memiliki enzim urease, yang akan
menyebabkan peningkatan pH dan memicu
terbentuknya kristal fosfat sehingga menyebabkan
terbentuknya batu
motile bacterium with peritrichous flagella
Morphology change in swarming process
Catheter associated UTI caused by proteus spurinary tract
stone
92. Urethritis
Peradangan pada uretra
Infectious causes (typically
sexually transmitted)
Gonococcal urethritis
(GCU) - Neisseria
gonorrhea
Nongonococcal urethritis
(NGU) - Chlamydia
trachomatis, Ureaplasma
urealyticum, Mycoplasma
genitalium, or Trichomonas
vaginalis.
Non Gonococcal Urethritis
Diagnosis Etiology
Algoritma
Chlamydia trachomatis 20-40%
Pewarnaan gram dari
sediaan cairan serviks Mycoplasma genitalium15-25%
atau uretra Ureaplasma urealyticum10-20%
leukosit PMN
Tidak ditemukan Trichomonas vaginalis 5-15%
bakteri Adenovirus 1-4%
Nucleic acid amplification Herpes simplex virus 1-2%
testing using first void
urine
Management
1. Terapi Antibiotik
Non-gonococcal Urethritis
Azithromycin, 1 g dosis tunggal
doxycycline, 2x100 mg selama 7 hari
Recurrent and persistent urethritis
Metronidazole, 2 g dosis tunggal, plus
erythromycin base, 4x500 mg oral selama 7 hari; or eryhtromycin
ethylsuccinate, 4x800 mg oral selama 7 hari
2. Partner Sexual harus dievaluasi dan diterapi juga

www.medmicrobiol.sdu.edu.cn/ppt/Chlamydia%20trachomatis.ppt
93. Melasma
Acquired bilateral symmetrical
hypermelonosis
Irregular light to gray brown macule and patch
Ill defined margin
Involved sun exposure area
Most common in women
particularly affects those with Fitzpatrick skin
types IVVI
Distribution of melasma
Central facial pattern (63%) : cheek, forehead,
nose, chin
Malar pattern (21%) : cheek, nose
Mandibular pattern (16%) :chin
Cause of melasma
Light : UVA, UVB, visible light
Hormone : pregnancy, contraceptive pill
Drug : dilantin, anti-malarial drug,
tetracycline, minocycline
Cosmetic : perfume, color
Genetic
Malnutrition : liver dysfunction, B12 def.
94. DERMATITIS NUMULARIS
Sinonim :
Ekzem numular
Ekzem diskoid

Etiopatogenesis

Tidak diketahui : Multi Faktor


Peningkatan koloni Staphylococcus &
Micrococcus
Mekanisme ? Hipersensitifitas, infeksi o
bakteri
Dermatitis kontak ( nikel, krom, kobalt )
Trauma fisik / kimiawi
Kelembaban kurangkulit kering
Stres emosional
Gejala Klinis
>> pada laki-laki
awitan 55 th 65 th/ 15 th 25 th
Subjektif : gatal hebat
Objektif
Lesi awal: vesikel / papulovesikel bergabung :
Coin berbatas tegas, edematosa & eritematosa
vesikel pecah : krusta kekuningan
melebar : ukuran 5 cm
Lesi lama : likenifikasi, skuama
Predileksi : tungkai bawah, lengan
bawah, badan dan punggung
tangan
Distribusi : bilateral, simetris
Jumlah : 1 atau lebih tersebar
Ukuran : bervariasi milier plakat
Pengobatan
UMUM
Cari faktor provokasi
Fokal infeksi
Kulit kering
Hindari bahan iritan / alergen
KHUSUS
Sistemik : Antibiotika
Kortikosteroid
Topikal : Kompres PK 1/10.000 (lesi basah)
Kortikosteroid (lesi kering)
95. Vehikulum Obat Topikal
Cairan (solusio, tingtura, kompres)
Membersihkan kulit dari debris
Perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, pustula
Keadaan yang basah menjadi kering
Merangsang epitelisasi
Bedak
Penetrasi sedikit
Diberikan pada dermatosis yang kering dan superfisial
Berguna untuk mempertahankan vesikel/bula agar tidak pecah
Salep
Diberikan pada dermatosis yang kering dan kronik, berkrusta
Penetrasi paling kuat
Kontraindikasi pada dermatitis madidans (dengan eksudasi), tidak
dianjurkan pada bagian tubuh yang berambut
Vehikulum obat topikal (contd)
Bedak kocok
Diberikan pada dermatosis yang kering, superfisial, agak luas. Pada keadaan
yang subakut
Penetrasi sedikit, mengurangi gatal
Kontraindikasi: dermatitis madidans, daerah berambut
Krim
Indikasi kosmetik
Dermatosis subakut yang luas, penetrasi >> bedah kocok
Boleh digunakan di daerah berambut
Kontaindikasi: dermatitis madidans
Pasta (campuran bedak & vaselin)
Dermatosis yang agak basah (bersifat mengeringkan)
Kontraindikasi: dermatitis madidans, daerah berambut, tidak dianjurkan pada
daerah lipatan
Linimen (campuran cairan, bedak, salep)
Diberikan pada dermatosis yang subakut
Kontraindikasi: dermatosis madidans

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
96. Pioderma
Pioderma adalah penyakit kulit yang disebabkan
oleh staphylococcus, streptococcus, atau oleh
kedua-duanya.
Faktor predisposisi: higiene yang kurang,
menurunnya daya tahan tubuh, telah ada
penyakit kulit yang lain.
Pengobatan umum:
Sistemik:penisilin G prokain 1.2 juta per hari, ampisilin
4x 500 mg, linkomisin 3x500mg, eritromisin 4x500 mg
Topikal: salep antibiotik seperti basitrasin, neomisin
atau mupirosin
Furunkel
Furunkel adalah peradangan folikel rambut
dan sekitarnyafolikel pilosebaseus
Etiologi: staphylococcus aureus
Karbunkelkumpulan furunkel (beberapa
furunkel beronfluens)
Gejala klinis: Nyeri, nodus eritematosa
berbentuk kerucut, di tengah terdapat pustul
Pengobatan: antibiotik topikal

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima
Impetigo
Impetigo Krustosa Impetigo bulosa
Penyebab: streptococcus B Penyebab: Staphylococcus
hemolyticus aureus
Tempat predileksi di muka, Tempat predileksi di ketiak,
sekitar hidung dan mulut. dada, punggung.
Gejala Klinis: eritema dan Gejala klinis: eritema, bula,
vesikel yang cepat dan bula hipopion.
memecah, krusta tebal Pengobatan: vesikel baru
kekuningan seperti madu bisa dipecahkan lalu
Pengobatan: krusta diberikan salep antibiotik
dilepaskan dan diberi salep atau cairan antiseptik.
antibiotik

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima
Jenis-jenis pioderma yang lain
Ektima: ulkus superficial akibat infeksi
Streptococcus B hemolyticus, dengan krusta
Erisipelas: Eritema merah cerah dengan batas
tegas.
Hidroadenitis: infeksi kelenjar apokrin oleh
Staphylococcus aureus. Usia akil balik , didahului
trauma (rambut ketiak digunting). Nodus yg
dapat melunak menjadi abses
Abses multipel kelenjar keringat: infeksi kelenjar
keringat, berupa abses multipel tidak nyeri
berbentuk kubah
Penyakit Definisi
Impetigo krustosa Pioderma superfisial (terbatas pada epidermis) yang
ditandai dengan adanya krusta tebal berwarna kuning
Furunkel Radang folikel rambut dan sekitarnya
Ektima Ulkus superfisial dengan krusta di atasnya disebabkan
infeksi Streptococcus
Folikulitis Radang folikel rambut, papul,pustul eritematosa terdapat
rambut pada tengahnya
97&98. Bacterial Vaginosis
Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis
Sebagian besar wanita asymptomatic
Signs/symptoms when present:
Reported malodorous (fishy smelling) vaginal
dischargeduh tubuh ringan-sedang keabuan
berbau tidak enak (amis)
bau lebih busuk setelah bersenggama dan setelah
gatal dan rasa terbakar
kemerahan dan edem pada vulva
Gejala dapat menghilang secara spontan

311
Wet Prep: Bacterial Vaginosis
Saline: 40X objective

NOT a clue cell

Clue cells

Pemeriksaan sediaan basah


sekret: clue cell (epitel vagina
diliputi kokobasil sehingga
batas sel tidak jelas, disebut
clue cell).
Pewarnaan gram ditemukan
batang kecil negatif gram
NOT a clue cell
312
Source: Seattle STD/HIV Prevention Training Center at the University of Washington
BV Diagnosis: Amsel Criteria
Vaginal pH >4.5

Presence of >20% per HPF


of "clue cells" on wet mount
examination
Amsel Criteria:
Positive amine or "whiff"
Setidaknya 3 dari test
tanda berikut ini Homogeneous, non-viscous,
milky-white discharge
adherent to the vaginal
walls
Absence of the normal
vaginal lactobacilli 313
Other Diagnostic Tools

Vaginal Gram stain


(Nugent or Speigel
criteria)
Culture
DNA probe
Newer diagnostic
modalities include:
PIP activity
Sialidase tests

314
Tatalaksana
Sebagian infeksi BV dapat sembuh secara spontan,
sebagian yang lain membutuhkan pengobatan
Pengobatan dibutuhkan pada pasien wanita
asimptomatik dengan:
Kehamilan
Persalinan Risiko Infeksi asenden ke
uterus
Operasi ginekologi
Infeksi rekuren
Metronidazole
Oralmenurunkan pregnancy-associated morbidity
Vagina Ovuladigunakan pada pasien yang tidak dapat
mentoleransi efek samping metronidazol oral dan sedang
menyusui
Pengobatan terhadap pasangan tidak diperlukan
Vaginitis Differentiation
Normal Bacterial Vaginosis Candidiasis Trichomoniasis

Itch, discomfort,
Symptom Itch, discharge, 50%
Odor, discharge, itch dysuria, thick
presentation asymptomatic
discharge
Homogenous,
Clear to adherent, thin, milky Thick, clumpy, white Frothy, gray or yellow-
Vaginal discharge
white white; malodorous cottage cheese green; malodorous
foul fishy
Inflammation and Cervical petechiae
Clinical findings
erythema strawberry cervix

Vaginal pH 3.8 - 4.2 > 4.5 Usually < 4.5 > 4.5

KOH whiff test Negative Positive Negative Often positive

Motile flagellated
Clue cells (> 20%),
NaCl wet mount Lacto-bacilli Few WBCs protozoa, many
no/few WBCs
WBCs

Pseudohyphae or
KOH wet mount spores if non-albicans
species 317
Karakteristik beberapa IMS
Penyakit Karakteristik
Gonorrhea Duh purulen kadang-kadang disertai darah. Diplokokus gram
negatif.
Trikomoniasis Duh seropurulen kuning/kuning kehijauan, berbau tidak
enak, berbusa. Strawberry appearance.
Vaginosis bakterial Duh berbau tidak enak (amis), warna abu-abu homogen,
jarang berbusa. Clue cells.
Kandidosis vaginalis Duh berwarna kekuningan, disertai gumpalan seperti kepala
susu berwarna putih kekuningan. Sel ragi, blastospora, atau
hifa semu.
99&101. Kusta/Morbus Hansen
Penyakit infeksi kronik akibat infeksi
Mycobacterium leprae
Gejala klinis:
Acromia
Anestesi
Anhidrosis
Alopesia
Atrofi

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Tuberculoid Lepromatous
Makula hipopigmentasi hipestesi yang Nodul atau papul sewarna dengan
berbatas tegas, berjumlah beberapa lesi. kulit atau sedikit eritematosa.
Makula memiliki tepi yang meninggi dengan
ukuran dari yang kecil hingga dapat Lesi membesar; Lesi baru muncul
menutupi seluruh badan. dan berkonfluens.
Tepi Eritematosa atau keunguan dengan Later: symmetrically distributed
hipopigmentasi pada bag. tengah. Berbatas nodules, raised plaques, diffuse
tegas dan meninggi, seringkali annular dan dermal infiltrate, which on face
membesar pada ba.tepi, dengan daerah results in loss of hair (lateral
sentral menjadi atropi atau terdepresi. eyebrows and eyelashes) and
Lesi lanjut anestetik, tidak adanya adneksa leonine facies (lion's face).
kulit (sweat glands, hair follicles). test
pinprick, temperature, vibration Bilaterally symmetric involving
Dapat mengenai berbagai daerah termasuk
earlobes, face, arms, and buttocks,
muka. or less frequently the trunk and
May be a thickened nerve on the edge of the
lower extremities.
lesion; large peripheral nerve enlargement More extensive nerve involvement
frequent (ulnar).

Wolff K. Fitzpatricks color atlas & synopsis of clinical dermatology, 5th ed. McGraw-Hill; 2007.
Tipe Lesi Batas Permukaan BTA Lepromin
I Makula Jelas Halus agak - +
hipopigmentasi berkilat,
anestesi
TT Makula eritematosa Jelas Kering - + kuat
bulat/lonjong, bagian bersisik,
tengah sembuh anestesi
BT Makula eritematosa Jelas Kering +/- + lemah
tidak teratur, mula- bersisik,
mula ada tanda anestesi
kontraktur
BB Plakat, dome-shaped, Agak Agak kasar, + -
punched-out jelas agak berkilat
BL Makula infiltrat merah Agak Halus + -
jelas berkilat
LL Makula infiltrat difus Tidak Halus + kuat -
berupa nodus simetri, jelas berkilat
saraf terasa sakit
Pausibasilar Multibasilar
Lesi kulit 1-5 lesi >5 lesi
(makula datar, papul Hipopigmentasi/eritema Distribusi lebih simetris
meninggi, nodus) Distribusi tidak simetris Hilangnya sensasi kurang
Hilangnya sensasi yang jelas
jelas
Kerusakan saraf Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf
(menyebabkan hilangnya
sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi)

Kriteria Diagnosis Lepra:


Lesi hipopigmentasi dengan gangguan sensibilitas
Penebalan saraf
BTA (+)
Pemeriksaan
Bakterioskopik: Ziehl-Neelsen
Histopatologik: sel datia Langhans, atau sel Virchow
Serologik: MLPA, ELISA, ML dipstick
Pemeriksaan Sensibilitas
Jarumnyeri
Kapasraba
Rasa suhu bila belum jelas
Dengan tabung reaksi panas dan dingin
Tes gunawanmengetahui kondisi anhidrosis
Dengan menggunakan pensil tintadigoreskan
dari tengah lesi ke arah kulit normal
Positif bila tinta tidak lunturanhidrosis
Negatif bila tinta lunturpada kulit normal
100. Moluskum
Kontagiosum
Penyakit yang disebabkan oleh poxvirus berupa papul-papul, pada
permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum
Transmisi: kontak langsung, autoinokulasi
Gejala:
Masa inkubasi: satu hingga beberapa minggu
Papul miliar, kadang-kadang lentikular dan berwarna putih seperti lilin,
berbentuk kubah yang ditengahnya terdapat lekukan, jika dipijat keluar
massa yang berwarna putih seperti nasi
Predileksi: muka, badan, ekstremitas, pubis (hanya pada dewasa)
Pemeriksaan:
Sebagian besar berdasarkan klinis
Pemeriksaan mikroskopik badan moluskum (Henderson-Paterson bodies)
menggunakan pewarnaan Giemsa atau gram
Diagnosis pasti: biopsi kulit menggunakan pewarnaan HE

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Bhatia AC. Molluscum contagiosum. http://emedicine.medscape.com/article/910570-overview
Tatalaksana
Molluskum kontagiosum merupakan penyakit yang
dapat sembuh sendiri bila mengenai individu sehat
Dapat menghilang dengan sendirinya dalam 2 sampai 4
bulan
Terapi dapat menurunkan autoinokulasi dan penularan
terhadap orang lain dengan kontak dekat(close contact)
dan memperbaiki penampakan klinis
Tata laksana:
mengeluarkan massa
manual, elektrokauterisasi, bedah beku
Topikal: podofilin, tretinoin, catharidin, asam salisilat

http://emedicine.medscape.com/article/910570-treatment#aw2aab6b6b2
102. Sindrom Stevens-JohnsonTEN
Sindrom yang mengenai kulit, selaputlendir di orifisium, dan
mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat
Biasanya pada usia dewasa (rata-rata 20-40 thn) saat imunitas
telah berkembang baik dan belum menurun seperti pada usia
lanjut
Penyebab: alergi obat (>50%), infeksi, vaksinasi, graft vs host
disease, neoplasma, radiasi
Reaksi hipersensitivitas tipe 2
Trias kelainan
Kelainan kulit: eritema, vesikel, bula
Kelainan mukosa orifisium: vesikel/bula/pseudomembran pada
mukosa mulut (100%), genitalia (50%). Berkembang menjadi krusta
kehitaman
Kelainan mata: konjungtivitis
Komplikasi: bronkopneumonia, gangguan elektrolit, syok
Pengobatan: KS sistemik-oral, antibiotik, suportif
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
TEN Definitions
SJS/TEN:
Lesions: Small blisters on dusky purpuric macules or atypical
targets
Mucosal involvement common
Prodrome of fever and malaise common
Stevens-Johnson Syndrome:
Rare areas of confluence.
Detachment </= 10% BSA
Toxic Epidermal Necrolysis:
Confluent erythema is common.
Outer layer of epidermis separates easily from basal layer with
lateral pressure.
Large sheet of necrotic epidermis often present.
>30% BSA involved.
Presentation of TEN
Demam (sering kali >39) dan flu-like illness 1-3 hari
sebelum lesi mukokutaneus muncul
Eritema yang berkonfluensi
Facial edema or central facial involvement
Lesi terasa nyeri
Palpable Purpura
Nekrosis kulit, dan blisters and/or epidermal detachment
Krusta/erosis pada membran mukosa, sore throat
Gangguan penglihatankarena ada keterlibatan mata
Rash muncul 1-3 minggu setelah exposure, atau
beberapa hari pada 2nd exposure
Eritema multiforme Nekrolisis epidermal toksik
Erupsi mendadak dan rekuren Bentuk parah SSJ
pada kulit dan kadang-kadang
pada mukosa dengan gambaran Gejala:
bermacam-macam spektrum Mirip SSJ namun lebih berat
Penyebab pasti belum diketahui Hampir seluruh tubuh
Gejala:
Tipe makula-eritema
Epidermolisis: tanda Nikolsky
Mendadak, simetrik, predileksi di (+)
punggung tangan, telapak tangan,
ekstensor ekstremitas, mukosa. Obat:
Gejala khas: bentuk iris
KS sistemik dosis tinggi
Tipe vesikobulosa
Makula, papula, urtika yang Sulfadiazin perak topikal
kemudian timbul lesi vesikobulosa (sama seperti luka bakar)
di tengah
Obat: simtomatik, KS oral Suportif
Pemfigus Vulgaris
Kelainan Penjelasan
Pemfigus vulgaris Penyakit kulit autoimun berbula kronik
menyerang kulit dan membran mukosa
EpidemiologiUmumnya mengenai umur
pertengahan (dekade ke 4 dan ke 5)
Histologik bula intraepidermal akibat proses
akantolisis bula dengan dinding kendur
Imunopatologik antibodi terhadap komponen
desmosom pada Stratum Basale sampai spinosum
jenis IgG, baik terikat maupun beredar dalam darah
Pemfigoid bulosa Penyakit autoimun kronik yang ditandai oleh adanya
bula subepidermal yang besar dan berdinding tegang
Imunologik komplemen C3 dan IgG linear pada
dermo-epidrmal junction(DEJ). Keadaan umum baik
Pemphigus Vulgaris Pemphigus Vulgaris Bullous Pemphigoid

Scalded Staphylococcal Syndrome Pemphigus Foliceus

Steven Johnsons syndrome


103 Strongyloidasis
Parasitic infection
with a predilection for the intestines
2 most common and clinically relevant species
are:
Strongyloides stercoralis
Strongyloides fuelleborni
Limited to Africa and Papua New Guinea
Epidemiology
Relatively uncommon in the US
BUT, endemic areas in the rural parts of the
Southeastern states and the Appalachian
mountain area
Certain pockets with prevalence 4%
Usually found in tropical and subtropical
countries
Prevalence up to 40% in areas of West Africa, the
Caribbean, Southeast Asia
Affects >100 million worldwide
No sexual or racial disparities. All age groups.
How Do You Get It?
Penetration of intact skin by filiariform larvae in
the soil, or ingestion through contaminated food
or water
Larvae enter the circulation
Lungs alveoli ascension up tracheobronchial
tree swallowed molt in the small bowel and
mature into adult female
Females enter the intestinal mucosa and produce
several eggs daily through parthenogenesis
(hatch during transit through the gut)
Clinical manifestations
diarrhea, abdominal pain,
nausea, and vomiting
dry cough, dyspnea,
transient pulmonary
infiltrate, throat irritation,
wheezing
Loffler syndrome
(eosinophilic pneumonia)
fluctuating eosinophilia
rash (larva currens)
asymptomatic
Diagnosis

Roxby 2009
Treatment
ivermectin 200 ug/kg once daily for 2-3 days
thiabendazole 25 mg/kg twice daily for 3 days
more effective in killing the adult worms than
the migrating larvae
Prevention
wearing shoes
improved sanitation
screening prior to transplantation?
104.malaria
The Malarial Parasite
Malaria the disease

9-14 day incubation


period
Fever, chills, headache,
back and joint pain
Gastrointestinal
symptoms (nausea,
vomiting, etc.)
Malaria the disease
Malaria the disease
Malaria tertiana: 48h
between fevers (P. vivax
and ovale)

Malaria quartana: 72h


between fevers (P.
malariae)

Malaria tropica: irregular


high fever (P. falciparum)
The disease spectrum and clinical features of
large numbers of patients infected with P.
knowlesi have not been described
To reliably differentiate P. malariae from P.
knowlesi infections by using only microscopy is
difficult
The only reliable method to identify parasite is
PCR
105. ACNE CONGLOBATA
Acne conglobata (AC) is a chronic, severe form of acne
characterized by burrowing and interconnecting abscesses
and irregular scars (both keloidal and atrophic), often
producing pronounced disfigurement.
The nodules are usually found on the chest, the shoulders, the
back, the buttocks, the upper arms, the thighs, and the face.
AC may develop as a result of a sudden deterioration of
existing active papular or pustular acne, or it may occur as the
reactivation of acne that has been inactive for years

http://emedicine.medscape.com/article/1072716-treatment#showall
Epidemiology
The primary causes of acne conglobata remain
unknown.
Chromosomal defects in the XYY karyotype may be
responsible for severe forms of acne conglobata.
Affects males >> females.
The onset of acne conglobata usually occurs in young
adults aged 18-30 years, but infants may develop this
condition as well.
Acne conglobata can be induced by anabolic-
androgenic steroid abuse
http://emedicine.medscape.com/article/1072716-treatment#showall
Clinical Features
Burrowing, interconnecting, In patients with acne
abscessed lesions. conglobata and
The nodules are succulent, sacroiliitis, acute anterior
tender, and dome shaped. uveitis may occur.
break down to discharge pus; and
often fuse crusts may form The formation of nodules
over a deep ulcer, which extends
centrifugally but tends to heal
begins in early puberty;
centrally. the severity increases
until late adolescence
This process is persistent, and
slow healing is characteristic. Active nodule formation
The lesions eventually form may persist for years
irregular, disfiguring scars.
http://www.acnevulgaristreatments.org/acne-conglobata-treatment/
Treatment Acne Conglobata
The therapy of choice : isotretinoin Surgical Care
0.5-1 mg/kg for 4-6 months.
systemic steroids, such as prednisone Large hemorrhagic nodules
1 mg/kg/d for 2-4 weeks, may may be aspirated.
beneficial Intralesional triamcinolone
Alternatives include oral tetracycline, or cryotherapy may also be
minocycline, or doxycycline.
valuable.
Oral tetracycline should not be
combined with oral isotretinoin Occasionally, surgical
because of risk of pseudotumor excision of interconnecting
cerebri. large nodules may be
For treatment-resistant cases, beneficial.
dapsone 50-150 mg/d is
recommended

http://emedicine.medscape.com/article/1072716-treatment#showall
Nodules on the face. A close-up view of nodules and pustules
on the forehead

http://emedicine.medscape.com/article/1072716-overview
Kelainan Karakteristik
Furunkulosis Furunkel dalam jumlah banyak. Furunkel merupakan
peradangan pada folikel rambut dan jaringan di
sekitarnya
Eritroderma kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema
universalis (90-100%), biasanya disertai skuama
Akne rosasea (Rosasea) Penyakit radang kronik di daerah muka dengan gejala
eritema, pustula, talangiektasia dan hipertrofi kelenjar
sebasea. Tidak terdapat komedo. Biasanya terdapat
sensasi burning & tingling
Impetigo vesikobulosa Salah satu jenis pioderma, disebabkan oleh stafilokokus
atau streptokokus dengan gambaran eritema disertai
bula hipopion. Nama lain cacar monyet
Rosacea (Acne Rosacea)
Rosacea is a Latin word meaning (Like-Roses), is an Acne-like
rash, caused by disorder of the Pilo-Sebaceous unit, often
affect the central region of the face (Centro-facial).
Rosacea often seen in patients from third to sixth decade,
peak incidence in the fourth or fifth decade of life,
sometimes seen in younger children, affects both genders,
but affects women more than men.
Papulopustular rosacea this type of rosacea is very
similar to Acne Vulgaris, this type of rosacea may coexist
with acne and comedones may appear thus it is very crucial
to notice accompanying symptoms i.e. (tingling and burning
sensation)
Papulopustular
Rosacea
Characterized by
continuing erythema and
the appearance of
transient papules or
pustules in the Central
face, papules and
pustules may appear
elsewhere, for example,
around the mouth or
around the eyes, nose
106 - 107. Spora aseksual
Secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara,
yaitu secara aseksual dan seksual.
Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara
sel membagi diri, penguncupan, (sel anak yang tumbuh dari
penonjolan kecil pada sel inangnya) atau pembentukan spora.
Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut :
a. Konidiospora
b.Sporangiospora
c. Oidium / artrospora , yaitu spora bersel tunggal yang terbentuk
karena terputusnya sel-sel hifa.
d.Klamidospora
e. Blatospora merupakan spora aseksual berbentuk tunas pada
permukaan sel, ujung hifa, atau pada sekat/ septum hifa semu.
Contohnya pada M. furfur
M. Furfur
Malassezia furfur merupakan jamur saprofit,
lipofitik dari kelas deuteromycetes, genus
pityrospurum, spesies furfur.
Fase blastopore jamur besifat saprofitik dan
sering dijumpai pada kulit normal.
Jamur tersebut menjadi pathogen setelah fase
blastopor berubah menjadi fase miselal.
Temuan mikroskopis adalah hifa-hifa pendek
lurus atau bengkok berkelompok dengan spora
bulat berkelompok.
Pitiriasis versikolor
Penyakit jamur superfisial yang kronik disebabkan
Malassezia furfur
Gejala:
Bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai
coklat hitam, meliputi badan, ketiak, lipat paha, lengan,
tungkai atas, leher, muka, kulit kepala yang berambut
Asimtomatik gatal ringan, berfluoresensi
Pemeriksaan mikroskop PV: KOH 20% (hifa pendek,
spora bulat: meatball & spaghetti appearance)
Obat: selenium sulfida, azole, sulfur presipitat

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Malassezia furfur

Blastophora
108. Infeksi non dermatofita

Dermatofita Non-dermatofita (pitiarisis


versicolor)
Lesi merupakan suatu reaksi
Etiologi Malassezia sp
inflamasi kemerahan,
bersisik pada tepi lesi dan Bentuk makuler:
terkadang terbentuk blister Berupa bercak-bercak yang
agak lebar, dengan skuama
Central clearing menjadi halus diatasnya dan tepi tidak
pembeda dengan lesi lain meninggi
seperti lesi Bentuk folikuler :
papulosquamous Seperti tetesan air, sering
(psoriasis atau lichen timbul disekitar rambu
planus)

Hainer B. Dermatophyte Infection. Am Fam Physician 2003;67:101-8


Hainer B. Dermatophyte Infection. Am Fam Physician 2003;67:101-8
109. Selulitis
Selulitis Erisipelas
Peradangan piogenik akut Selulitis superfisial dengan
yang mengenai dermis dan disertai gangguan limfatik
jaringan subkutan lesi indurasi, peau
Merupakan komplikasi dari dorange appearance, tepi
luka, dermatosis atau ulkus meninggi dan batas tegas
yang tidak sembuh dengan dengan kulit normal
baik
Lokasi yang sering terkena
adalah kaki lesi nyeri,
hangat, eritem, dan
bengkak , batas tigak tegas

Swartz M. Cellulitis. N Engl J Med 2004;350:904-12


110. Patogenesis Akne Vulgaris
111. Diagnosis E. Vermicularis
Diagnosis

1. Pemeriksaan tinja
Untuk menemukan cacing dewasa atau
menemukan telur cacing secara
mikroskopis hanya 5% penderita
yang memiliki telur dalam tinjanya
2. Cellophane tape test
cara diagnosis yang cepat, dilakukan
langsung pada saat bangun tidur di pagi
hari selama 3 hari berturut turut.
sensitivitasnya mencapai 90%

Kucik et.al. Common intestinal Parasite. Am Fam Physician


2004:69:1161-8
112. Terapi Pityarisis versicolor
Topikal Sistemik
Salep whitfield`s Asam Digunakan pada pasien
benzoat 12%, asam salisilat 6%, dengan lesi yang luas,
tincture iodida 2,5%, tolnaftat
kesulitan untuk
Sodium tiosulfat 25% selama 7
hari, oleskan selama 10 menit lalu
menggunakan terapi
cuci topikal, relaps berulang,
Salep klotrimazole, miconazole, atau pilihan pasien untuk
ketoconazole dll terapi oral
Resiko rekurensi setelah Ketoconazole 1 x 200 mg
penggunaan terapi topikal selama 10 hari
4 6 minggu 60-80% Itrakonazol 1 x 200 mg 7
Sebaiknya terapi digunakan hari
selama 6 8 minggu Flukonazole 1 x 300 mg

Gothamy z. Review of Pytiarisis Versicolor. Egyp wor dermato soc vol.1 2004
ILMU KESEHATAN ANAK
113-114. Ikterus Neonatorum
Ikterus neonatorum: fisiologis vs non fisiologis.
Ikterus fisiologis:
Awitan terjadi setelah 24 jam
Memuncak dalam 3-5 hari, menurun dalam 7 hari (pada NCB)
Ikterus fisiologis berlebihan ketika bilirubin serum puncak adalah 7-
15 mg/dl pada NCB
Ikterus non fisiologis:
Awitan terjadi sebelum usia 24 jam
Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff > 15 mg/dl pada NCB
Ikterus bertahan > 8 hari pada NCB, > 14 hari pada NKB
Tanda penyakit lain
Gangguan obstruktif menyebabkan hiperbilirubinemia direk.
Ditandai bilirubin direk > 2 mg/dl. Penyebab: kolestasis, atresia
bilier, kista duktus koledokus.

Indrasanto E. Hiperbilirubinemia pada neonatus.


20
18
16
14
12
fisiologis
10
non- fisiologis
8
6
4
2
0
hari 1 hari 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari 6 hari 7

Ikterus yang berkembang cepat pada hari ke-1


Kemungkinan besar: inkompatibilitas ABO, Rh, penyakit hemolitik,
atau sferositosis. Penyebab lebih jarang: infeksi kongenital,
defisiensi G6PD
Ikterus yang berkembang cepat setelah usia 48 jam
Kemungkinan besar: infeksi, defisiensi G6PD. Penyebab lebih
jarang: inkompatibilitas ABO, Rh, sferositosis.
Panduan foto terapi

AAP, 2004
Panduan transfusi tukar

AAP, 2004
Grading Scheme of Kramer for
Neonatal Jaundice
Daerah tubuh Kadar bilirubin (mg/dl)

Muka 4 -8
Dada/punggung 5 -12
Perut dan paha 8 -16
Tangan dan kaki 11-18
Telapak tangan/kaki >15
113-114. Ikterus yang Berhubungan
dengan ASI
Breast Feeding Jaundice (BFJ) Breast Milk Jaundice (BMJ)
Disebabkan oleh kurangnya asupan Berhubungan dengan pemberian ASI dari ibu
tertentu dan bergantung pada kemampuan
ASI sehingga sirkulasi enterohepatik bayi mengkonjugasi bilirubin indirek
meningkat (pada hari ke-2 atau 3 saat
Kadar bilirubin meningkat pada
ASI belum banyak)
hari 4-7
Timbul pada hari ke-2 atau ke-3
Dapat berlangsung 3-12 minggu
Penyebab: asupan ASI kurang tanpa penyabab ikterus lainnya
cairan & kalori kurang penurunan
Penyebab: 3 hipotesis
frekuensi gerakan usus ekskresi
Inhibisi glukuronil transferase oleh
bilirubin menurun
hasil metabolisme progesteron
yang ada dalam ASI
Inhibisi glukuronil transferase oleh
asam lemak bebas
Peningkatan sirkulasi enterohepatik
Indikator BFJ BMJ
Awitan Usia 2-5 hari Usia 5-10 hari
Lama 10 hari >30 hari
Volume ASI asupan ASI kurang cairan & Tidak tergantung dari volume ASI
kalori kurang penurunan
frekuensi gerakan usus
ekskresi bilirubin menurun
BAB Tertunda atau jarang Normal
Kadar Bilirubin Tertinggi 15 mg/dl Bisa mencapai >20 mg/dl
Pengobatan Tidak ada, sangat jarang Fototerapi, Hentikan ASI jika kadar
fototerapi Teruskan ASI bilirubin > 16 mg/dl selama lebih
disertai monitor dan evaluasi dari 24 jam (untuk diagnostik)
pemberian ASI AAP merekomendasikan
pemberian ASI terus menerus dan
tidak menghentikan
Gartner & Auerbach
merekomendasikan penghentian
ASI pada sebagian kasus
For healthy term infants with breast milk or breastfeeding
jaundice and with bilirubin levels of 12 mg/dL to 17 mg/dL, the
following options are acceptable: Increase breastfeeding to 8-12
times per day and recheck the serum bilirubin level in 12-24
hours.
Temporary interruption of breastfeeding is rarely needed and is
not recommended unless serum bilirubin levels reach 20 mg/dL.
For infants with serum bilirubin levels from 17-25 mg/dL, add
phototherapy to any of the previously stated treatment options.
The most rapid way to reduce the bilirubin level is to interrupt
breastfeeding for 24 hours, feed with formula, and use
phototherapy; however, in most infants, interrupting
breastfeeding is not necessary or advisable

Breast Milk Jaundice Treatment & Management. Medscape.com


115-116. Developmental Milestone
Skrining Tumbuh Kembanga Anak
Pertumbuhan : bertambahnya ukuran fisik anak dalam
hal panjang/tinggi badan, berat badan, dan lingkar
kepala
Pemantauan : melalui penilaian klinis dan pengukuran
antropometris (Z Score WHO atau kurva NCHS CDC)
Perkembangan : bertambahnya kemampuan fungsi
individu antara lain dalam bidang motorik kasar,
motorik halus, komunikasi dan bahasa, intelektual,
emosi, dan sosial
Pemantauan : penilaian klinis dan skrining perkembangan
Denver II
Pemantauan setiap bulan hingga usia 1 tahun dan
setiap 3 bulan hingga 5 tahun
Denver II
Mencakup usia 0-6 tahun
Ada 4 bidang perkembangan
Personal-sosial: berhubungan dengan orang lain dan
pemenuhan kebutuhan sendiri
Motorikhalus: koordinasimata- tangan, manipulasi
objek kecil
Motorik kasar: meliputi gerakan yang menggunakan
otot-otot besar secara keseluruhan (duduk, berjalan,
melompat)
Bahasa-dengar: mengerti dan menggunakan bahasa
Interpretasi Denver II
Skor Penilaian
P (Pass) : Anak dapat melakukan ujicoba dengan baik, atau terdapat
laporan yang dapat dipercaya
F (Fail) L : Anak tidak dapat melakukan ujicoba dengan baik
No (No opportunity) : Tidak ada kesempatan untuk ujicoba karena ada
hambatan
R (Refusal) : Anak menolak melakukan ujicoba
Interpretasi
Lebih (advanced) : bila anak Pass pada uji coba yang terletak di kanan
garis umur
Normal : bila anak Fail/Refusal pada ujicoba di sebelah kanan garis
Caution/peringatan : bila anak Fail/Refusal pada ujicoba yang dilewati
garis umur pada persentil 75-90
Delayed/keterlambatan : bila anak Fail/Refusal pada ujicoba yang
terletak lengkap di sebelah kiri garis umur
Pada soal, anak 2 tahun dengan:
bisa duduk tanpa pegangan delayed
bisa bicara dengan kalimat normal
bermain kubus 4-6 kubus normal
bisa menyebutkan nama teman jika ditanya
normal
117. Wilms Tumor
Wilms tumor/nephroblastoma, cancer of the
kidneys, is the most common childhood
abdominal malignancy
Survival rates of children with Wilms tumor
are approximately 80-90%.
Wilms tumor is thought to be caused by
alterations of genes responsible for normal
genitourinary development (WT1 gene, tumor
suppressor gene)
Arnold C Paulino. Wilms Tumor. http://emedicine.medscape.com/article/989398
Anamnesis
Asymptomatic abdominal mass
Abdominal pain or hematuria occurs in 25%
Hypertension, gross hematuria, and fever are observed in 5-
30% of patients.
Physical examination
Palpable abdominal mass.
Pay special attention to features of those syndromes
(WAGR syndrome and Beckwith-Wiedemann syndrome
[BWS]) associated with Wilms tumor (ie, aniridia,
genitourinary malformations, and signs of overgrowth)
Diagnosis Banding : Neuroblastoma, Polycystic Kidney
Disease, Rhabdomyosarcoma
Diagnosis
Laboratorium : Complete blood count (CBC), Chemistry profile -
Including kidney function tests and routine measurements of
electrolytes and calcium, Urinalysis, Coagulation studies
Radiologi :
USG: initial study, because it does not expose children to the
detrimental effects of radiation
CT Scan Abdomen: determining the origin of the tumor, involvement
of the lymph nodes, bilateral kidney involvement, invasion into major
vessels, and liver metastases
Penatalaksanaan (Berdasarkan staging)
Nephrectomy
Chemotherapy (Vincristine, dactinomycin, doxorubicin,
cyclophosphamide, etoposide)
Radiasi
118-119. Difteri
Penyebab : toksin Corynebacterium diphteriae
Organisme:
Basil batang gram positif
Pembesaran ireguler pada salah satu ujung (club shaped)
Setelah pembelahan sel, membentuk formasi seperti huruf cina
atau palisade
Gejala:
Gejala awal nyeri tenggorok
Bull-neck (bengkak pada leher)
Pseudomembran purulen berwarna putih keabuan di faring,
tonsil, uvula, palatum. Pseudomembran sulit dilepaskan. Jaringan
sekitarnya edema.
Edema dapat menyebabkan stridor dan penyumbatan sal.napas

Todar K. Diphtheria. http://textbookofbacteriology.net/diphtheria.html


Demirci CS. Pediatric diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview
http://4.bp.blogspot.com/
Pemeriksaan : Gram, Kultur
Obat:
Antitoksin: 40.000 Unit ADS IM/IV, skin test
Anbiotik: Penisillin prokain 50.000 Unit/kgBB IM per
hari selama 7 hari
Hindari oksigen kecuali jika terjadi obstruksi saluran
repirasi (Pemberian oksigen dengan nasal prongs
dapat memebuat anak tidak nyaman dan
mencetuskan obstruksi)
Indikasi trakeostomi/intubasi : Terdapat tanda tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam yang berat
Komplikasi : Miokarditis dan Paralisis otot 2-7
minggu setelah awitan penyakit
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.
Tindakan Kesehatan Masayarakat
Rawat anak di ruangan isolasi
Lakukan imunisasi pada anak serumah sesuai
dengan riwayat imunisasi
Berikan eritromisin pada kontak serumah
sebagai tindakan pencegahan (12.5 mg/kgBB,
4xsehari, selama 3 hari)
Lakukan biakan usap tenggorok pada keluarga
serumah

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO.


120-121. Pertusis
Batuk rejan (pertusis) adalah penyakit akibat
infeksi Bordetella pertussis dan Bordetella
parapertussis (basil gram -)
Karakteristik : uncontrollable, violent coughing
which often makes it hard to breathe. After fits of
many coughs needs to take deep breathes which
result in a "whooping" sound.
Anak yang menderita pertusis bersifat infeksius
selama 2 minggu sampai 3 bulan setelah
terjadinya penyakit
Pertusis
Stadium:
Stadium katarrhal: hidung tersumbat, rinorrhea,
demam subfebris. Sulit dibedakan dari infeksi
biasa. Penularan terjadi dalam stadium ini.
Stadium paroksismal: batuk paroksismal yang
lama, bisa diikuti dengan whooping atau stadium
apnea. Bisa disertai muntah.
Stadium konvalesens: batuk kronik hingga
beberapa minggu
Guinto-Ocampo H. Pediatric pertussis. http://emedicine.medscape.com/article/967268-
overview
Diagnosis dan Tatalaksana Pertusis
Diagnosis :
Curiga pertusis jika anak batuk berat lebih dari 2 minggu, terutama jika
penyakit diketahui terjadi lokal.
Tanda diagnostik : Batuk paroksismal diikuti whoop saat inspirasi
disertai muntah, perdarahan subkonjungtiva, riwayat imunisasi (-),
bayi muda dapat mengalami henti napas sementara/sianosis
Penatalaksanaan :
Kasus ringan pada anak-anak umur 6 bulan dilakukan secara rawat
jalan
< 6 bulan, dengan pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti
napas, atau sianosis dirawat di RS
Komplikasi : Pneumonia, Kejang, Gizi kurang, Perdarahan dan Hernia
Beri imunisasi DPT pada pasien pertusis dan setiap anak dalam keluarga

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


Antibiotik dalam Penatalaksanaan Pertusis

Beri eritromisin oral (12.5 mg/kgBB/kali, 4 kali


sehari) selama 10 hari atau makrolid lainnya
Jika terdapat demam atau eritromisin tidak tersedia,
berikan kloramfenikol oral (25 mg/kg/kali, 3 kali
sehari) selama 5 hari sebagai penatalaksanaan
terhadap kemungkinan pneumonia sekunder
Tanda pneumonia sekunder : pernapasan cepat diantara
episode batuk, demam, dan gejala distres pernapasan
dengan onset akut
Jika kloramfenikol tidak tersedia, berikan
kotrimoksazol
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008
122. GERD in Pediatric
Gastroesophageal reflux (GER) occurs in more than
two-thirds of otherwise healthy infants
Prevalence of pediatric GERD in Eastern Asia is 8.5%
GER, defined as the passage of gastric contents into the
esophagus, is distinguished from gastroesophageal
reflux disease (GERD), which includes troublesome
symptoms or complications associated with GER.
GER is considered a normal physiologic process that
occurs several times a day in healthy infants, children,
and adults.
Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition (NASPGHAN) and the European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and
Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY,
AND NUTRITION. Pediatrics; originally published online April 29, 2013
Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition (NASPGHAN) and the European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and
Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY,
AND NUTRITION. Pediatrics; originally published online April 29, 2013
Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical
Practice Guidelines: Joint Recommendations of
the North American Society for Pediatric
Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition
(NASPGHAN) and the European Society for
Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric
Gastroenterology and Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management
Guidance for the Pediatrician . Jenifer R.
Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON
GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY, AND
NUTRITION. Pediatrics; originally published
online April 29, 2013
Clinical Features Differentiating GER
and GERD in Infants and Children
GER GERD
Regurgitation with normal Regurgitation with poor weight gain
weight gain
No signs or symptoms of Persistent irritability; pain in infants
esophagitis
Lower chest pain, dysphagia, pyrosis in children
Hematemesis and iron deficiency anemia
No significant respiratory Apnea and cyanosis in infants
symptoms
Wheezing
Aspiration or recurrent pneumonia
Chronic cough
Stridor
No neurobehavioral Neck tilting in infants (Sandifer's syndrome)
symptoms
http://www.aafp.org/afp/2001/1201/p1853.html
Diagnosis
The diagnosis of GERD is often made clinically based on the
bothersome symptoms or signs that may be associated
with GER.
In infants and toddlers, there is no symptom or symptom
complex that is diagnostic of GERD or predicts response to
therapy.
In older children and adolescents history and physical
examination may be sufficient to diagnose GERD if the
symptoms are typical.
The diagnosis of GERD is concluded when tests show
excessive frequency or duration of reflux events,
esophagitis, or a clear association of symptoms and signs
with reflux events in the absence of alternative diagnoses.
Diagnostic Testing
The strategy of using diagnostic testing to diagnose GERD full of
complexity, because there is no single test that can rule it in or out.
The diagnostic methods most commonly used to evaluate pediatric
patients with GERD symptoms are
Upper GI tract contrast radiography series are useful to delineate
anatomy and to occasionally document a motility disorder
Esophageal pH monitoring and intraluminal esophageal impedance
represent tools to quantify GER.
Upper endoscopy with esophageal biopsy represents the primary
method to investigate the esophageal mucosa.
Other tests:
Motility Studies: Esophageal manometry

Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition (NASPGHAN) and the European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and
Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY,
AND NUTRITION. Pediatrics; originally published online April 29, 2013
Approch to the infant with regurgitation and vomitting

Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (NASPGHAN) and the European
Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY, AND NUTRITION. Pediatrics; originally
published online April 29, 2013
Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition (NASPGHAN) and the European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and
Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY,
AND NUTRITION. Pediatrics; originally published online April 29, 2013
Management
Lifestyle changes are emphasized as first-line
therapy in both GER and GERD, whereas
medications are explicitly indicated only for
patients with GERD.

Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and
Nutrition (NASPGHAN) and the European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and
Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY,
AND NUTRITION. Pediatrics; originally published online April 29, 2013
Management
Medications

Pediatric Gastroesophageal Reflux Clinical Practice Guidelines: Joint Recommendations of the North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (NASPGHAN) and the
European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN). Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition . 49:498547
Gastroesophageal Reflux: Management Guidance for the Pediatrician . Jenifer R. Lightdale, David A. Gremse and SECTION ON GASTROENTEROLOGY, HEPATOLOGY, AND NUTRITION. Pediatrics; originally
published online April 29, 2013
123-124. Defisiensi Vitamin B
Beriberi - a disease whose symptoms include weight loss,
Vitamin B1 (Thiamine) body weakness and pain, brain damage, irregular heart rate,
heart failure, and death if left untreated
Causes distinctive bright pink tongues, although other
Vitamin B2 (Riboflavin) symptoms are cracked lips, throat swelling, bloodshot eyes,
and low red blood cell count
Pellagra - symptoms included diarrhea, dermatitis, dementia,
Vitamin B3 (Niacin)
and finally death (4D)
Vitamin B5
Acne and Chronic paresthesia
(Pantothenic Acid)
Microcytic anemia, depression, dermatitis, high blood
Vitamin B6
pressure (hypertension), water retention, and elevated levels
(Pyridoxine)
of homocysteine
Causes rashes, hair loss, anaemia, and mental conditions
Vitamin B7 (Biotin)
including hallucinations, drowsiness, and depression
Causes gradual deterioration of the spinal cord and very
Vitamin B12
gradual brain deterioration, resulting in sensory or motor
(Cobalamin)
deficiencies
123. Defisiensi Biotin (Vitamin B7)
Defisiensi biotin (Vitamin B7) jarang terjadi karena :
Kebutuhan harian yang sedikit (150-300 g)
biotin terdapat hampir di semua jenis makanan
Flora normal usus mensintesis biotin
Biotin mengalami proses recycle.
Penyebab defisiensi Biotin :
Konsumsi antikonvulsan tertentu (phenytoin, primidone, carbamazepine)
Penggunaan antibiotik spektrum luas
Konsumsi putih-telur mentah dalam jumlah cukup banyak (Egg-white injury
syndrome). putih telur mentah berisi glycoprotein avidin yang mempunyai
afinitas tinggi terhadap biotin berikatan secara ireversibel tidak bisa
diserap usus defisiensi
Defisiensi enzim biotinidase (defek genetik)

Scheinfeld, NS. Biotin Deficiency. http://emedicine.medscape.com/article/984803-overview


Manifestasi Klinik
Timbul 3-5 minggu setelah onset defisiensi biotin:
Kulit Kering
Dermatitis seboroik
Infeksi jamur
Rash
Brittle hair (mudah patah), rambut rontok, alopecia
Gejala traktus gastrointestinal (Mual, muntah, anoreksia)

Dalam 1-2 minggu kemudian, timbul gejala neurologis :


Depresi ringan
Perubahan status mental
Generalized Myalgia
Hyperesthesia, paresthesia
Penatalaksanaan
Deteksi dini dan pengobatan dengan biotin
Dosis biotin terdapat dua pendapat :
Injeksi Biotin IM 150 g per hari gejala mulai hilang
dlm 3-5 hari, sembuh total dalam 3-5 bulan
Dosis lebih tinggi 5-20 mg per hari IM. Gejala lebih
cepat tertangani
Makanan kaya biotin : swiss chard, kuning-telur
mentah, hati, saskatoon berries, sayuran hijau,
dan kacang-kacangan
Hentikan konsumsi telur setengah matang
124. Vitamin B1
Vitamin thiamin (B1) memiliki bentuk aktif thiamine
pyrophosphate yang merupakan koenzim dari metabolism
karbohidrat dalam proses dekarboksilasi alpha ketoacids
(cth: asam piruvat) .
Dengan kata lainn, Thiamin berperan penting pada siklus
kreb di dua tempat:
The oxidative decarboxylation of pyruvate to acetyl CoA;
The oxidative decarboxylation of alpha-ketoglutarate to
succinyl CoA.
Thiamine juga berperan sebagai koenzim pada
pembentukan glukosa di jalur pentose monophosphate
(reaksi transketolase).
Krebs cycle

TPP: Thiamine Pyrophosphate


TPP is the coenzyme for alpha-ketoacid dehydrogenases:
pyruvate dehydrogenase
alpha-ketoglutarate dehydrogenase
Defisiensi Mineral
Defisiensi Vitamin Lainnya
125. PHYSIOLOGY OF THE HORMONE

http://wmaresh.wikispaces.com/file/view/antpostpit.JPG/167267823/antpostpit.JPG
Physiology of Growth Hormone Secretion. Aysun Bideci, Orhun amurdan.2008.
in http://www.jcrpe.org/sayilar/27/buyuk/29-132-1-GH.pdf

Growth Hormone
Secreted in pulsatile
fashion anterior
pituitary gland
Regulated by:
Growth hormone-
releasing hormone
(GHRH)
stimulates both the
synthesis and the release
of GH
Somatostatin
inhibits the release of GH
IGF
end product of GH
bioeffect
negativefeedback effect
on GH secretion http://pharmaxchange.info/press/wp-content/uploads/2011/03/pharm2009.08.fig1_.gif
Allen DB. Growth Hormone Treatment. In: Lifshitz, F (eds). Pediatric Endocrinology. 4th edition. New York, NY. Marcel Dekker Inc. 2003;87-111.
http://www.healio.com/~/media/Images/News/Online/Endocrinology/2009/06_June/01/Sperling_fig2_450_288_42087.gif

BIOEFFECTS

http://novocrine.com/images/stories/how-gh-
works.jpg
Growth Hormone
Deficiency
Proportional short stature
Below-normal velocity of
growth
Delayed physical maturation
The child may look
younger than other
children his or her age
Delayed bone age
Increased amount of fat
around the waist http://trialx.com/curetalk/wp-content/blogs.dir/7/files/2011/05/diseases/Growth_Hormone_Deficiency-
3.jpg

Delayed tooth development http://en.wikipedia.org/wiki/Growth_hormone_deficiency#Pathophysiology

Delayed onset of puberty http://www.emedicinehealth.com/growth_hormone_deficiency/page3_em.htm#growth_hormone_d


eficiency_symptoms
http://www.montp.inserm.fr/u632/images/TR-CAR1.gif
Pathology: Congenital Hypotyroidism

http://php.med.unsw.edu.au/embryology
/index.php?title=File:Congenital_hypothyr
oidism.jpg

Causes:
Deficient production of thyroid
hormone
Disgenesis congenital
Hypothyroidism
Iodine deficiencyendemic goiter
Defect in thyroid hormonal
receptor activity
Hipotiroid kongenital pada Anak
Hipotiroid kongenital (kretinisme) ditandai produksi
hormon tiroid yang inadekuat pada neonatus
Penyebab:
Defek anatomis kelenjar tiroid atau jalur metabolisme hormon
tiroid
Inborn error of metabolism
Merupakan salah satu penyebab retardasi mental yang
dapat dicegah. Bila terdeteksi setelah usia 3 bulan, akan
terjadi penurunan IQ bermakna.
Tata laksana tergantung penyebab. Sebaiknya diagnosis
etiologi ditegakkan sebelum usia 2 minggu dan normalisasi
hormon tiroid (levotiroksin)sebelum usia 3 minggu.

Postellon DC. Congenital hypothyroidism. http://emedicine.medscape.com/article/919758-overview


Most affected infants have few or no symptoms,
because their thyroid hormone level is only
slightly low. However, infants with severe
hypothyroidism often have a unique
appearance, including:
Dull look
Puffy face
Thick tongue that sticks out
This appearance usually develops as the disease
gets worse. The child may also have:
Choking episodes
Constipation
Dry, brittle hair
Jaundice
Lack of muscle tone (floppy infant)
Low hairline
Poor feeding
Short height (failure to thrive)
Sleepiness
Sluggishness

Neeonatal hypothyroidism. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002174/


Figure 3 Diagnostic algorithm for the detection of primary congenital hypothyroidism

Grters, A. & Krude, H. (2011) Detection and treatment of congenital hypothyroidism


Nat. Rev. Endocrinol. doi:10.1038/nrendo.2011.160
http://findmeacure.com/2008/04/13/growth-disorders/
Diagnosa Lain Karakteristik
Defisiensi Growth Growth hormone deficiency may result from disruption of the
Hormone growth hormone axis in the higher brain, hypothalamus, or
pituitary.
Poor growth and/or shortness is the hallmark of childhood GH
deficiency, tends to be accompanied by delayed physical
maturation so that bone maturation and puberty may be several
years delayed. Tidak ada retardasi mental
Defisiensi Epinefrin Hypoglycemia, dehydration, weight loss, and disorientation.
dan cortisol Symptoms may also include weakness, tiredness,
(Adrenocortical dizziness, orthostatic hypotension, cardiovascular collapse,
Deficiency) muscle aches, nausea, vomiting, and diarrhea
Defisiensi Iodium Diffuse enlargement of the thyroid gland, signs and symptoms
of hypothyroidism (weight gain, cold intolerance, dry skin,
constipation, or depression, periorbital edema, and delayed
relaxation phase of the deep tendon reflexes), Reduction in IQ.
Tidak ada gangguan pertumbuhan.
126. URACHAL REMNANTS
The urachus is a structure that connects the
dome of the bladder to the anterior
abdominal wall at the level of the umbilicus.
During earlier development, the urachus is a
patent tube, but postnatally it is normally just
a solid core of tissue (the median umbilical
ligament).
The failure of its lumen to obliterate may
result in several pathological conditions.
URACHAL REMNANTS
Patent urachus: a complete
communication between the
bladder and umbilicus remains.
Urine is noted to drain from the
umbilicus.
Urachal sinus: The blind-end
opening of the urachal sinus is
noted at the umbilicus either
incidentally or because of drainage.
Urachal cyst: A urachal cyst, a
residual cyst without
communication to the bladder or
the umbilicus
Urachal diverticulum: the urachus
did not seal close to the bladder
and leads to a blind ending tract
from the bladder into the urachus

Disorders of the umbilicus in infants and children: A consensus statement of the Canadian Association of Paediatric Surgeons. Paediatr
Child Health Vol 6 No 6 July/August 2001 &
http://urology.ucsf.edu/sites/urology.ucsf.edu/files/uploaded-files/basic-page/urachal_abnormalities_0.pdf
NEONATAL OMPHALITIS
Neonatal umbilical infections
Staphylococcus and Streptococcus species, as
well as Gram-negative
Clinical features: purulent umbilical discharge
or periumbilical cellulitis.
Recommendations: parenteral antibiotics
Complications: Omphalitis may progress to
necrotizing fasciitis.
Disorders of the umbilicus in infants and children: A consensus statement of the Canadian Association of Paediatric Surgeons. Paediatr
Child Health Vol 6 No 6 July/August 2001
Omphalocele
incomplete closure of the
abdominal wall and persistent
herniation of the midgut
because of failure of central
fusion at the umbilical ring due
to defective mesodermal
growth
The abdominal viscera are
contained in a translucent sac
Omphalocele - 1 case in 4000
births
About 50% of infants with an
omphalocele have other
congenital anomalies.
http://missionarydoctors.blogspot.com/2011/10/65-operative-report-2-
omphalocele.html

Disorders of the umbilicus in infants and children: A consensus statement of the Canadian Association of Paediatric Surgeons. Paediatr
Child Health Vol 6 No 6 July/August 2001
Bladder exotrophy
The bladder exposed on the outside
of the lower abdomin abnormality of
formation of the bladder and the
bony pelvis.
One of 10,000 to 50,000 live births.
Clinical features:
Bladder: The bladder is small, flattened,
turned inside out and exposed on the
abdominal wall.
Epispadia
Widening of the pubic bones: the pubic
bones do not join, leaving a wide
opening.
Vesicoureteral reflux (VUR): VUR is a
condition where urine travels back up
into the kidneys. This may develop after
the bladder is reconstructed
Abnormal Development of Genitalia

http://www.hopkinschildrens.org/bladder-exstrophy.aspx
http://www.chop.edu/healthinfo/exstrophy-of-the-bladder.html
127. Dosis Obat
dosis per sekali pemberian 20kg x 10
mg/kgBB/ kali = 200 mg/ kali pemberian
Jumlah volume cairan obat per kali pemberian
= 200mg/250mg x 5 cc = 4 cc
Obat diberikan per 8 jam obat diberikan 3 x
4 cc dalam sehari
128-130. Meningitis & ensefalitis
Meningitis
Meningitis bakterial: E. coli, Streptococcus grup B (bulan
pertama kehidupan); Streptococcus pneumoniae, H. influenzae,
N. meningitidis (anak lebih besar)
Meningitis viral: paling sering pada anak usia < 1 tahun.
Penyebab tersering: enterovirus
Meningitis fungal: pada imunokompromais
Gejala klasik: demam, sakit kepala hebat, tanda rangsang
meningeal (+). Gejala tambahan: iritabel, letargi, muntah,
fotofobia, gejala neurologis fokal, kejang
Ensefalitis: inflamasi pada parenkim otak
Penyebab tersering: ensefalitis viral
Gejala: demam, sakit kepala, defisit neurologis (penurunan
kesadaran, gejala fokal, kejang)
Hom J. Pediatric meningitis and encephalitis.
http://emedicine.medscape.com/article/802760-overview
Meningitis bakterial: Patofisiologi
Pemeriksaan Penunjang
Darah perifer lengkap dan kultur darah
Gula darah dan elektrolit jika terdapat indikasi
Pungsi lumbal untuk menegakkan diagnosis dan menentukan
etiologi
Pada kasus berat sebaiknya ditunda
Kontraindikasi mutlak : Terdapat gejala peningkatan tekanan
intrakranial
Diindikasikan pada suspek meningitis, SAH, dan penyakit SSP yang lain
(eg. GBS)
Protokol pertama pada kasus kejang pada anak usia < 1 tahun
sangat dianjurkan; 12-18 bln dianjurkan; > 18 bln tidak rutin
dilakukan
CT Scan dengan kontras atau MRI pada kasus berat, atau dicurigai
adanya abses otal, hidrosefalus, atau empiema subdural
EEG jika ditemukan perlambatan umum
Normal CSF Values in Children
White cell count Biochemistry
Neutrophils Lymphocytes Protein Glucose
(x 106 /L) (x 106/L) (g/L) (CSF:blood ratio)

Normal 0 5 < 0.4 0.6 (or 2.5


(>1 month of mmol/L)
age)
Normal 0 < 20 <1.0 0.6 (or 2.5
neonate mmol/L)
(<1 month of
age)

http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/CSF_Interpretation/
Cairan serebrospinal pada infeksi SSP
Bact.men Viral men TBC men Encephali Encephal
tis opathy
Tekanan Normal/

Makros. Keruh Jernih Xantokrom Jernih Jernih

Lekosit > 1000 10-1000 500-1000 10-500 < 10

PMN (%) +++ + + + +

MN (%) + +++ +++ ++ -

Protein Normal/ Normal Normal

Glukosa Normal Normal Normal

Gram Positif Negatif Negatif Negatif Negatif


/Rapid T.
HAEMOPHILUS MENINGITIS
Haemophilus influenzae is a nonmotile, History: From 60-80% of children
Gram-negative, rod-shaped bacterium who develop Hib meningitis have
(coccobacilli; (0.5-1.5 micrometres). had otitis media or an upper
respiratory illness immediately
before the onset of meningitis
Symptoms
Altered cry
Lethargy
Nausea or vomiting
Fever
Headache
Photophobia
Meningismus
Irritability
Anorexia
Seizures
Haemophilus Meningitis
Treatment: Cefotaxime and ceftriaxone
Antimicrobial therapy
are the initial drugs of choice
for suspected Hib meningitis.
Dexamethasone may help
decrease the inflammatory
Do not use ampicillin
response & prevent hearing
empirically, since as many as
50% of the isolates are
loss.
resistant, usually because of
Increased intracranial plasmid-mediated beta-
pressure (ICP) can be treated lactamase production.
with mannitol.
Meropenem is considered an
Anticonvulsant alternative to cephalosporins;
as an option in patients who
are intolerant of
cephalosporins.

http://emedicine.medscape.com/article/218271-treatment
http://emedicine.medscape.com/article/1164916-medication#2
MENINGOCOCCAL MENINGITIS

caused by the gram- Medication:


negative diplococcus Penicillin is the drug of choice
for the treatment
Neisseria meningitidis Chemoprophylactic
Symptoms antimicrobials most commonly
used to eradicate meningococci
acute onset include rifampin, quinolones
Intense headache (eg, ciprofloxacin), ceftriaxone.
Fever
Nausea
Vomiting
Photophobia
Stiff neck
Lethargy or drowsiness

http://emedicine.medscape.com/article/1165557-overview
http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2008/bingen_sama/
Diagnosis diferensial infeksi SSP
Klinis/Lab. Ensefalitis Meningitis Mening.TBC Mening.viru Ensefalopati
bakterial s
Onset Akut Akut Kronik Akut Akut/kronik

Demam < 7 hari < 7 hari > 7 hari < 7 hari </> 7 hari/(-)

Kejang Umum/fo Umum Umum Umum Umum


kal
Penurunan Somnolen Apatis Variasi, apatis CM - Apatis Apatis -
kesadaran - sopor - sopor Somnolen
Paresis +/- +/- ++/- - -

Perbaikan Lambat Cepat Lambat Cepat Cepat/Lambat


kesadaran
Etiologi Tidak dpt ++/- TBC/riw. - Ekstra SSP
diidentifik kontak
asi
Terapi Simpt/ant Antibiotik Tuberkulostatik Simpt. Atasi penyakit
iviral primer
131. Dismaturity/postmaturity Syndrome
Kehamilan post term (lewat waktu) bisa menimbulkan
komplikasi seperti Macrosomia, Fetal Asphyxia, Meconium
Aspiration, termasuk Fetal dysmaturity
Fetal dysmaturity disebut juga "postmaturity
syndrome," pertumbuhan fetus intrauterin terhambat,
dikarenakan tidak cukupnya aliran darah menuju plasenta.
Kurang lebih 20% janin posterm akan mengalami
dysmaturitas (sindrom postmaturitas), dengan karakteristik
chronic intrauterine growth restriction akibat insufisiensi
uteroplasental
It is more commonly seen after 42 weeks and in
conjunction with oligohydramnios.

http://www.uptodate.com/contents/postterm-pregnancy-beyond-the-basics
http://emedicine.medscape.com/article/261369-overview
Postmaturity Syndrome
The hallmarks of the postmature infant as described by
Clifford:
meconium staining
loss of subcutaneous fat reserves
skin peeling.
The infant's appearance is like that of a wizened old
gnomelong, thin, and wrinkled with decreased muscle
mass and long nails on the toes and fingers.
The decreased stores of fat and glucose predispose
these infants to metabolic disturbances such as
hypoglycemia, hypothermia, and polycythemia.
http://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/v2/v2c054.html
Dysmaturity. Pediatrics 1958;22;477.
http://pediatrics.aappublications.org/content/22/3/477.full.pdf+html
132. Status Gizi
Berat Badan/Umur
Parameter pertumbuhan yang paling sederhana,
mudah diukur dan diulang, dan merupakan indeks
untuk status nutrisi sesaat
Tinggi Badan/Umur
Memberikan informasi bermakna (menggambarkan
status nutrisi dan pertumbuhan fisik) apabila dikaitkan
dengan hasil pengukuran BB
Berat Badan/Tinggi Badan
Untuk penilaian status nutrisi, mencerminkan proporsi
tubuh serta dapat membedakan antara wasting dan
stunting atau perawakan pendek
132. Pemantauan Pertumbuhan
Interpretasi Pengukuran TB/U Interpretasi Pengukuran BB/U
Z Score Z Score
>2 SD : Tergolong sangat tinggi. > 2 SD : Memiliki masalah
Rujuk anak jika dicurigai adanya pertumbuhan, lebih baik dinilai
gangguan endokrin (tinggi tidak dari pengukuran berat
sesuai perkiraan tinggi kedua orang terhadap tinggi atau BMI/U
tua, atau cenderung terus 2 sd (-2) SD : Normal
meningkat) <-2 SD : Underweight
2 sd (-2) SD : Normal
<-3 SD : Severly underweight
<-2 SD : Stunted
<-3 SD : Severly stunted
CDC-NCHS
>120% : Gizi lebih
CDC-NCHS
80-120% : Gizi baik
90-110% : Baik/normal
60-80% : Gizi kurang, buruk
70-89% : Tinggi kurang dengan edema
<70% : Tinggi sangat kurang <60% : Gizi buruk

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI


Status Nutrisi BB/TB
Cara penilaian status nutrisi:
Z-score menggunakan kurva WHO weight-for-height
>3 obesitas
>2 overweight
>1 possible overweight
<-2 moderate wasted
<-3 severe wasted
BB/IBW (Ideal Body Weight) menggunakan kurva CDC
120% obesity
110 -120% overweight
90-110% normal
80-90% mild malnutrition
70-80% moderate malnutrition
70% severe malnutrition.
Interpretasi Pengukuran BMI/U
BMI-for-age (Weight [kg]/Height [m2]) is a tool used to screen
children two to 20 years old to help identify individuals who
are potentially overweight; however, it is not a diagnostic tool

Use and Interpretation of the CDC Growth Charts


IDAI
Keterangan
1. Anak dalam kelompok ini berperawakan tubuh tinggi. Hal ini tidak
masih normal. Singkirkan kelainan hormonal sebagai penyebab
perawakan tinggi.
2. Anak dalam kelompok ini mungkin memiliki masalah
pertumbuhan tapi lebih baik jika diukur menggunakan
perbandingan beratbadan terhadap panjang / tinggi atau IMT
terhadap umur.
3. Titik plot yang berada di atas angka 1 menunjukan berisiko gizi
lebih. Jika makin mengarah ke garis Z-skor 2 resiko gizi lebih makin
meningkat.
4. Mungkin untuk anak dengan perawakan pendek atau sangat
pendek memiliki gizi lebih.
5. Hal ini merujuk pada gizi sangat kurang dalam modul pelatihan
IMCI (Integrated Management of Childhood Illness in-service
training. WHO, Geneva, 1997).
133. Hepatitis Viral Akut
Hepatitis viral: Suatu proses peradangan pada hati atau
kerusakan dan nekrosis sel hepatosit akibat virus
hepatotropik. Dapat akut/kronik. Kronik jika berlangsung
lebih dari 6 bulan
Perjalanan klasik hepatitis virus akut
Stadium prodromal: flu like syndrome,
Stadium ikterik: gejala-gejala pada stadium prodromal
berkurang disertai munculnya ikterus, urin kuning tua
Anamnesis Hepatitis A :
Manifestasi hepatitis A: Anak dicurigai menderita hepatitis A jika
ada gejala sistemik yang berhubungan dengan saluran cerna
(malaise, nausea, emesis, anorexia, rasa tidak nyaman pada
perut) dan ditemukan faktor risiko misalnya pada keadaan
adanya outbreak atau diketahui sumber penularan.

Pedoman Pelayanan Medis IDAI


Hepatitis A
Virus RNA (Picornavirus)
ukuran 27 nm
Kebanyakan kasus pada usia
<5 tahun asimtomatik atau
gejala nonspesifik
Rute penyebaran: fekal oral;
transmisi dari orang-orang
dengan memakan makanan
atau
minumanterkontaminasi,
kontak langsung.
Inkubasi: 2-6 minggu (rata-
rata 28 hari)

Behrman RE. Nelsons textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011.


Hepatitis A
Self limited disease dan Diagnosis
tidak menjadi infeksi kronis Deteksi antibodi IgM di darah
Gejala: Peningkatan ALT (enzim hati
Fatique Alanine Transferase)
Demam Pencegahan:
Mual Vaksinasi
Nafsu makan hilang Kebersihan yang baik
Jaundice karena Sanitasi yang baik
hiperbilirubin Tatalaksana:
Bile keluar dari peredaran Simptomatik
darah dan dieksresikan ke
urin warna urin gelap Istirahat, hindari makanan
berlemak dan alkohol
Feses warna dempul (clay-
coloured) Hidrasi yang baik
Diet
Penanda
Serologis
Hepatitis
Hepatitis
Hepatitis Jenis virus Antigen Antibodi Keterangan
HAV RNA HAV Anti-HAV Ditularkan
secara fekal-
oral
HBV DNA HBsAg Anti-HBs Ditularkan
HBcAg Anti-HBc lewat darah
HBeAg Anti-HBe Karier
HCV RNA HCV Anti-HCV Ditularkan
C100-3 lewat darah
C33c
C22-3
NS5
HDV RNA HBsAg Anti-HBs Membutuhkan
HDV antigen Anti-HDV perantara HBV
(hepadnavirus)
HEV RNA HEV antigen Anti-HEV Ditularkan
secara fekal-
oral
134. Anemia Mikrositik Hipokrom
Anemia Defisiensi Fe (IDA)

Stage Iron Depletion Iron Deficiency Iron Deficiency


I II Anemia
III
Iron Store
(Ferritin)
Serum Iron Normal
Hb Normal Normal MCV, MCH MCHC

Windiastuti E. Anemia in children.


Anemia Defisiensi Besi
Anemia in Infant
Anemia (WHO):
A hemoglobin (Hb) concentration 2 SDs below the mean
Hb concentration for a normal population of the same
gender and age range
US National Health and Nutrition Examination Survey
(1999 2002) anemia:
Hb concentration of less than 11.0 g/dL for both male and
female children aged 12 through 35 months

Robert D. Barker, Frank R. Greer, and The Committee of Nutrition. Diagnosis and Prevention of Iron Defiency and Iron Anemia in Infants and Young Children (0-3 years of Age.
Pediatrics 2010; 126; 1040.
Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi. Maria Abdulsalam, Albert Daniel. Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2, September 2002
Tatalaksana IDA
Atasi penyakit yang mendasari
Nutrisi yang cukup
Besi elemental
3-6 mg/kg/hari dibagi 2 dosis, sebelum makan. Dilanjutkan hingga 2
bulan setelah anemia terkoreksi dan penyakit etiologi teratasi.
Transfusi PRC dibutuhkan bila Hb <6 g/dl; atau Hb 6 g/dl dengan
penyerta (dehidrasi, persiapan operasi, infeksi berat, gagal jantung,
distress pernafasan)
Pencegahan
Primer
Diet: makanan yang kaya besi dan vitamin C
ASI eksklusif. Suplemen besi dimulai pada 4-6 bulan (non prematur) atau 2
bulan (prematur)
Sekunder: skrining

Harper JL. Iron deficiency anemia. http://emedicine.medscape.com/article/202333-overview


Tatalaksana
Fe oral
Aman, murah, dan efektif
Enteric coated iron tablets tidak dianjurkan karena
penyerapan di duodenum dan jejunum
Beberapa makanan dan obat menghambat penyerapan
Jangan bersamaan dengan makanan, beberapa antibiotik, teh,
kopi, suplemen kalsium, susu. (besi diminum 1 jam sebelum atau 2
jam setelahnya)
Konsumsi suplemen besi 2 jam sebelum atau 4 jam setelah
antasida
Tablet besi paling baik diserap di kondisi asam konsumsi
bersama 250 mg tablet vit C atau jus jeruk meningkatkan
penyerapan
Tatalaksana
Absorbsi besi yang terbaik adalah pada saat
lambung kosong,
Jika terjadi efek samping GI, pemberian besi dapat
dilakukan pada saat makan atau segera setelah
makan meskipun akan mengurangi absorbsi obat
sekitar 40%-50%
Efek samping:
Mual, muntah, konstipasi, nyeri lambung
Warna feses menjadi hitam, gigi menghitam (reversibel)
Suplemen Besi
Bayi prematur dan bayi berat Pemberian ASI eksklusif pada
badan lahir rendah yang bayi sesudah 4-6 bulan masih
mendapat ASI membutuhkan dapat menyebabkan terjadinya
suplemen besi elemental anemia defisiensi besi,
sekitar 2 mg/kgBB/hari yang sehingga suplementasi besi
diberikan sejak umur 1 bulan. perlu diberikan.
Pada bayi BB 1000-1500 g Pada bayi cukup bulan
membutuhkan suplemen 3 diberikan 1 mg besi
mg/kgBB/hari, elemental/kgBB/hari dimulai
bayi BB< 1000 g pada umur 4-6 bulan.
membutuhkan suplemen 4
mg/kgBB/hari.
Pemberian dilakukan hingga
usia 12 bulan

Terapi dan Suplementasi Besi pada Anak. Dedy Gunadi, Bidasari Lubis, Nelly Rosdiana. Sari Pediatri, Vol.
11, No. 3, Oktober 2009
Screening
Universal screening for anemia should be performed
at approximately 12 months of age with
determination of Hb concentration and an
assessment of risk factors associated with ID/IDA.

Robert D. Barker, Frank R. Greer, and The Committee of Nutrition. Diagnosis and Prevention of Iron
Defiency and Iron Anemia in Infants and Young Children (0-3 years of Age. Pediatrics 2010; 126; 1040.
135. Acquired Prothrombine Complex Deficiency
(APCD) dengan Perdarahan Intrakranial
Sebelumnya disebut sebagai Hemorrhagic Disease of
the Newborn (HDN) atau Vitamin K Deficiency Bleeding
Etiologinya adalah defisiensi vitamin K yang dialami
oleh bayi karena : (1) Rendahnya kadar vitamin K dalam
plasma dan cadangan di hati, (2) Rendahnya kadar
vitamin K dalam ASI, (3) Tidak mendapat injeksi vitamin
K1 pada saat baru lahir
Mulai terjadi 8 hari-6 bulan, insidensi tertinggi 3-8
minggu
80-90% bermanifestasi menjadi perdarahan
intrakranial
Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010
Hemorrhagic disease of newborn (HDN)
Acquired prothrombrin complex deficiency (APCD)
Stadium Characteristic
Early HDN Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Baby
born of mother who has been on certain drugs: anticonvulsant,
antituberculous drug, antibiotics, VK antagonist anticoagulant.
Classic HDN Occurs during 2 to 7 day of life when the prothrombin complex
is low. It was found in babies who do not received VKP or
VK supplemented.
Vit K deficiency Occurs within 2 days and not more than 5 days of life. Definite
etiology inducing VKP is found in association with bleeding:
malabsorption of VK ie gut resection, biliary atresia, severe liver
disease-induced intrahepatic biliary obstruction.
Late HDN / APCD Acquired bleeding disorder in the 2 week to 6 month age infant
caused by reduced vitamin K dependent clotting factor (II, VII,
IX, X) with a high incidence of intracranial hemorrhage and
responds to VK.
Diagnosis APCD
Diagnosis
Anamnesis : Bayi kecil yang sebelumnya sehat, tiba-tiba
tampak pucat, malas minum, lemah. Tidak mendapat
vitamin K saat lahir, konsumsi ASI, kejang fokal
PF : Pucat tanpa perdarahan yang nyata. Tanda
peningkatan tekanan intrakranial (UUB membonjol,
penurunan kesadaran, papil edema), defisit neurologis
fokal
Pemeriksaan Penunjang : Anemia dengan trombosit
normal, PT memanjang, APTT normal/memanjang. USG/CT
Scan kepala : perdarahan intrakranial
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, disertai UUB
membonjol harus difikirkan APCD sampai terbukti bukan

Buku PPM Anak IDAI


Tatalaksana APCD
Pada bayi dengan kejang fokal, pucat, dan UUB membonjol,
berikan tatalaksana APCD sampai terbukti bukan
Vitamin K1 1 mg IM selama 3 hari berturut-turut
Transfusi FFP 10-15 ml/kgBB selama 3 hari berturut-turut
Transfusi PRC sesuai Hb
Tatalaksana kejang dan peningkatan tekanan intrakranial
(Manitol 0,5-1 g/kgBB/kali atau furosemid 1 mg/kgBB/kali)
Konsultasi bedah syaraf
Pencegahan : Injeksi Vitamin KI 1 mg IM pada semua bayi
baru lahir

Buku PPM Anak IDAI


136. Cerebral Palsy
A diagnostic term used to describe a group of motor
syndromes (development of movement and posture causing
activity limitations) resulting from disorders of early brain
development (developing fetal or infant brain)
The motor disorders of cerebral palsy are often accompanied
by disturbances of sensation, cognition, communication,
perception, and/or behavior and/or a seizure disorder.
CP is caused by a broad group of developmental, genetic,
metabolic, ischemic, infectious, and other acquired etiologies
that produce a common group of neurologic phenotypes

Behrman: Nelson Textbook of Pediatrics, 17th ed


Clinical Manifestation
CP is generally divided into several major motor syndromes
that differ according to the pattern of neurologic involvement,
neuropathology, and etiology
Clinical Manifestation
Spastic hemiplegia: decreased spontaneous movements on the affected
side, the arm is often more involved than the leg. Spasticity is apparent in
the affected extremities, particularly the ankle, causing an equinovarus
deformity of the foot
Spastic diplegia is bilateral spasticity of the legs greater than in the arms.
Examination: spasticity in the legs with brisk reflexes, ankle clonus, and a
bilateral Babinski sign. When the child is suspended by the axillae, a
scissoring posture of the lower extremities is maintained
Spastic quadriplegia is the most severe form of CP because of marked
motor impairment of all extremities and the high association with mental
retardation and seizures
Athetoid CP, also called choreoathetoid or extrapyramidal CP, is less
common than spastic cerebral palsy. Affected infants are characteristically
hypotonic with poor head control and marked head lag
FISIOTERAPI
Target fisioterapi pada pasien cerebral palsy
adalah meningkatkan kemampuan mobilisasi,
interaksi dengan orang lain, termasuk mampu
beradaptasi dan melakukan tugas sederhana
seperti merawat diri sesuai dengan umurnya.
Target ini dicapai dengan cara memperkuat
kekuatan otot serta fleksibilitas.
Rehabilitation and Prognosis
The management of patients with cerebral palsy must be
individualized based on the child's clinical presentation and
requires a multidisciplinary approach
Comprehensive intervention strategy designed to facilitate
adaptation to and participation in an increasing number and
variety of settings in a particular society and culture.
With appropriate therapeutic services, patients may be able to fully
integrate academically and socially.
The overall rate of mental retardation in affected persons is thought
to be 30-50%. Some form of learning disability (including mental
retardation) has been estimated to occur in perhaps 75% of
patients.
In some studies, 25% of patients with cerebral palsy are unable to
walk. However, many patients with this disorder (particularly those
with spastic diplegia and spastic hemiplegia types) can ambulate
independently or with assistive equipment
137. Komplikasi Diare
Dehidrasi
Asidosis Metabolik
Hipoglikemia, terutama dengan predisposisi
undernutrition
Gangguan elektrolit
hipo/hipernatremia
Hipokalemia
(NB: Hiperkalemia bisa menstimulasi intestinal
motility menyebabkan watery diarrhea.)
Gangguan gizi
Gangguan sirkulasi (syok)
Kelainan elektrolit pada diare
Natrium regulation
Sodium functions:
fluid balance (the major
factor in extracellular
osmolality)
nerve impulse generation
& transmission
(neuromuscular
function).

Lauralee S. Human physiology. From cells to system.


Hyponatremia
Hypovolemic states, such as hemorrhage or dehydration,
prompt increases in sodium absorption in the proximal
tubule. Increases in vascular volume suppress tubular sodium
reabsorption, resulting in natriuresis and helping to restore
normal vascular volume
Hyponatremia is physiologically significant when it indicates a
state of extracellular hyposmolarity and a tendency for free
water to shift from the vascular space to the intracellular
space.
Cellular edema is well tolerated by most tissues, it is not well
tolerated within the rigid confines of the bony calvarium.
Therefore, clinical manifestations of hyponatremia are related
primarily to cerebral edema
Electrolyte: hyponatremia
Many symptoms of hyponatremia
are associated with the hypotonic
hydration.

The most common symptoms:


Headache
Nausea
Disorientation
Tiredness
Muscle cramps

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Electrolyte: hyponatremia
Natrium concentration is influenced by the balance of natrium
& water in the body.

Harrisons principles of internal medicine. 18th ed.


Electrolyte: hypernatremia
Hypernatremia can affect
Hypernatremia
brain cells and cause
neurologic damage,
resulting in
Fluid moves out of the cells
Confusion
Paralysis of the
muscles of the lungs
Cell dehydration with shrinkage
Coma
Even death
Dry tissues dry mucous membrane,
loss of turgor, & thirst

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Electrolyte: hypernatremia

Burtis Ca et al. Tietz textbook of clinical chemistry & molecular


diagnostic. 4th ed.2008
Electrolyte: kalium
K has important role in resting membrane potential & action potentials.

The level of K influences cell depolarization


the movement of the resting potential closer to the threshold more
excitability & hyperpolarization
decreased resting membrane potential to a point far away from the threshold
less excitability.

The most critical aspect of K, it affects:


Cardiac rate, rhythm, and contractility
Muscle tissue function, including skeletal muscle and muscles of the diaphragm,
which are required for breathing
Nerve cells, which affect brain cells and tissue
Regulation of many other body organs (intestinal motility)

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Electrolyte: kalium

Hypokalemia Hyperkalemia

Disorientation Rapid heart beat


Confusion (fibrillation)
Discomfort of muscles Skin tingling
Muscle weakness Numbness
Ileus paralytic Weakness
Paralysis of the Flaccid paralysis
muscles of the lung,
resulting in death

Johnson JY. Fluids and Electrolytes demystified. 2008


Tatalaksana Hipokalemia

PPM IDAI
Electrolye: kalium
Electrolyte: kalium
Summary
HIPER HIPO
Natremia (> 144 mEq/L) Natremia (<136 mEq/L)
Hiperrefleks, mental status Hiporeflexia, mental status
changes (lethargy, stupor, coma changes, seizures
etc), seizures Kalemia (<3.6 mEq/L)
Kalemia (>5.2 mEq/L) Muscle weakness, cramps,
Weakness, flaccid paralysis, tetany, polyuria, polydipsia,
decreased motor strength,
hyperactive tendon reflexes, ileus, orthostatic hypotension
decreased motor strength,
ventricular fibrillation risk Kalsemia (<8.4 mEq/L)
Hypertension, peripheral &
Kalsemia (> 10.2 mEq/L) perioral paresthesia, abdominal
Stones in UT, HTN, constipation, pain & cramps, lethargy,
hyporeflexia, polydipsia, polyuria, Trousseau sign (obstetrics
fatigue, anorexia, nausea hand), Chvostek sign,
generalized seizures, tetany
138. Infant Feeding Practice
Rekomendasi WHO dan UNICEF, 2002, dalam Global Strategy
for Infant and Young Child Feeding :
Memberikan ASI segera setelah lahir-1jam pertama
Memberikan hanya ASI saja atau ASI Eksklusif sejak lahir
sampai umur 6 bulan
Memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi
mulai umur 6 bulan
Diberikan karena ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan zat
gizi
Pengaturan MP-ASI agar tidak diberikan terlalu
dini/terlambat/terlalu sedikit/kurang nilai gizi
Tetap memberikan ASI sampai anak umur 2 tahun atau
lebih
Pemberian ASI
ASI eksklusif : - on demand Tanda perlekatan bayi yang baik
adalah:
monitor kenaikan BB : Lebih banyak areola yang terlihat di
trimester 1 : 25-30 g/h = 200 atas mulut bayi
g/mg = 750-900 g/bln Mulut bayi terbuka lebar
trimester 2 : 20 g/h = 150 Bibir bawah bayi membuka keluar
Dagu bayi menyentuh payudara ibu.
g/mg = 600 g/bln
Trimester 3: 15 g/h = 100 Cara ibu menyangga bayinya.
Bayi digendong merapat ke dada ibu
g/mg = 400 g/bln
Wajah bayi menghadap payudara ibu
Trimester 4: 10 g/h = 50-75 Tubuh dan kepala bayi berada pada
g/mg = 200-300 g/bln satu garis lurus
Seluruh tubuh bayi harus tersangga.
Tahap Penyapihan
Panduan praktis mengenai kualitas, frekuensi, dan jumlah
makanan yang dianjurkan untuk bayi dan anak berusia 6-23
bulan yang diberi ASI on demand

Energi yang Jumlah rata-


Usia Tekstur Frekuensi
Dibutuhkan rata makanan
2-3 sendok
Mulai dengan bubur
makan,
6-8 kental/makanan yang 2-3 kali/hari Plus
200 kkal/hari tingkatkan
bulan dihaluskan. 1-2 kali snack
bertahap sampai
Buah dapat diberikan
125 ml
Makanan yang
dicincang halus dan
9-11 3-4 kali/hari Plus
300 kkal/hari makanan yang dapat 125 ml
bulan 1-2 kali snack
diambil sendiri oleh
bayi
Tiga perempat
12-23 3-4 kali/hari Plus
550 kkal/hari Makanan keluarga sampai satu
bulan 1-2 kali snack
cangkir 250 m
Pemberian Buah sebagai MP-ASI
Jangan dimulai dengan pemberian jus buah yangasam
Pada tahap awal, berikanlah kira-kira 30-50 ml jus buah sebagai
pengenalan pada organ pencernaan bayi. Lihat reaksi yang timbul.
Bila tidak ada alergi yang timbul maka bisa diteruskan
Jumlah jus buah yang diberikan sebaiknya tidak melebihi 120- 180
ml dalam sehari. Apabila bayi minum jus buah terlalu banyak dapat
mengakibatkan kembung dan terkena diare
Selalu cuci bersih setiap buah sebelum diberikan
Sebaiknya jus buah yang Anda berikan adalah 100 % dari buah asli,
bukan minuman buah yang mengandung pemanis buatan.
Berikan jus buah kepada bayi di cangkir minumnya, bukan diberikan
lewat botol
ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
139. Tanda Kehamilan
Tanda Hegar Terjadi perlunakan meluas mengelilingi serviks

Tanda Ladin Perubahan konsistensi dan bentuk :


Terjadi perlunakan serviks pada minggu ke 4 pada perbatasan uterus dan
serviks dilinea mediana
depan
Tanda Perubahan konsistensi serviks (dari seperti meraba hidung menjadi seperti
Goodel meraba bibir)
karena peningkatan aliran darah pada vagina dan serviks pada awal
kehamilan
Tanda Van Pada awal kehamilan minggu 4 -5 terjadi perlunakan pada fundus uteri
Fernwald terjadi implantasi

Tanda Pada minggu ke 7-8 kesan serviks dan uterus terpisah karena sangat lunak
McDonald
140 Pencegahan Preeklampsia
Pencegahan Medikal :
Diuretik : tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsi bahkan
memperberat hipovolemia
Anti hipertensi tidak terbukti mencegah terjadinya preeklamsi
Kalsium : 1500 2000 mg/ hari, dapat dipakai sebagai suplemen
pada risiko tinggi terjadinya preeklamsi, meskipun belum terbukti
bermanfaat untuk mencegah preeklamsi.
Zinc : 200 mg/hari
Magnesium : 365 mg/hari
Obat anti thrombotik :
Aspirin dosis rendah : rata2 dibawah 100 mg/hari, tidak terbukti mencegah preeklamsi.
Dipyridamole
Obat2 : vitamin C, vitamin E, eta-carotene, CoQ10, N-
Acetylcysteine,
Asam lipoik.
141. Infeksi Torch Dalam Kehamilan
Pada dasarnya manusia resisten terhadap infeksi toksoplasma gondii, kecuali pada
penurunan kekebalan (infeksi HIV dsb) dan pada kehamilan
Semakin muda usia kehamilan pada saat infeksi primer maka semakin kecil
kemungkinan transmisi vertikal namun semakin besar defek dan sebaliknya
semakin tua usia kehamilan maka semakin besar transmisi namun semakin kecil
defek bahkan mungkin subklinis
Dari penelitian yang dikerjakan Foulon di Belgia ternyata kampanye pendidikan
masyarakat yang intensif dapat mengurangi 63% angka serokonversi.
Adapun pendidikan pada masyarakat ini adalah:
Tidak makan daging kecuali matang. Tidak minum susu kecuali telah dipasteurisasi.
Hindari menyentuh mata, mulut pada saat mengolah daging mentah. Setelah
mengolah daging mentah maka wajib melakukan cuci tangan dengan sabun
Hindari kontak dengan kotoran kucing atau kontaminannya (misalnya saat
berkebun).
Pada kasus ini IgM(-) artinya bukan infeksi akut, kemudian IgG(+) artinya kasus ini
adalah kasus infeksi kronik dianggap resiko tertular ke janin rendah
Manajemen
Diagnosis
Spiramycin 3MIU : 3 X 1 setiap hari atau
Umumnya menggunakan tes serologi Azitromycin 1 X 500 mg, atau 5 hari
(hanya berlaku pada ibu hamil dengan perminggu, 4 minggu per bulan
imunokompeten)
clindamycin 3 X 300 mg 5 hari perminggu,
Infeksi primer: terdapat serokonversi tes 4 minggu per bulan sejak ditegakan
serologi infeksi; diteruskan hingga akhir kehamilan
Reaktivasi: bila terdapat peningkatan IgG bila janin terbukti terinfeksi.
dua kali lipat pada pemeriksaan serologi Dapat pula diberikan pyrimetamine sejak
dengan jarak 4 minggu amniosintesis memberi hasil positif:
Infeksi strain lain bila ditemukan Pirimetamin (50 mg/kg/hari) + sulfadiazine
perbedaan beberapa band IgG pada (3g/hari) + kalsium folinat (50 mg/minggu)
immunoblotting Pirimetamin (2 kali mg/hari) + sulfadoksin (500
mg/minggu) + kalsium folinat (50 mg/minggu)
Janin dikatakan terinfeksi bila
pemeriksaan PCR, inokulasi cairan amnion Bila infeksi janin (-) pengobatan dihentikan
pada mencit (dari amniosintesis pada Janin yang terinfeksi, pada masa neonatus
kehamilan 16 20 minggu) menunjukan hingga 1 tahun pertama
hasil + pengobatan diteruskan dengan
pyrimetamine
Janin yang terinfeksi, pada masa bayinya
di follow up untuk kemungkinan
retinitis, hepatitis, carditis dan
hidrocephalus

SPM POGI
142
Pemeriksaan abdomen
Inspeksi (bentuk, ukuran,
parut, tanda-tanda
kehamilan, gerakan janin,
varises, edema, hernia)
Palpasi (tinggi fundus,
punggung,
presentasi, bagian
yang sudah masuk
PAP)
Auskultasi
143. Emergency Contraception
Banyak wanita yang datang untuk mendapatkan kontrasepsi setelah
berhubungan tanpa pengaman,terjadi juga pada kasus
pemerkosaan, pada kasus ini untuk mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan diperlukan kontrasepsi darurat
Hormonal Emergency Contraception (Morning-After Pill or Yuzpe
Method)
Ada 3 metode hormonal yang tersedia :
1. yuzpe method (terdiri dari kombinasi kontrasepsi oral)
2. gabungan estrogen dan progesteron
3. progestin only pill
Menurut Task Force on Postovulatory Methods of Fertility
Regulation (1998), mini-pill progestins are more effective than
combination estrogen-progestin pills

Williams Obstetric ed 22
Cara Dosis Waktu pemberian
Mekanik Dalam waktu 7 hari pasca senggama
AKDR-Cu 1 kali pemasangan

Dalam waktu 3 hari pasca senggama, dosis


kedua 12 jam kemudian
Pil kombinasi dosis tinggi 2x2 tablet

Dalam waktu 3 hari pasca senggama, dosis


kedua 12 jam kemudian
Dosis rendah 2x4 tablet

Dalam waktu 3 hari pasca senggama, dosis


kedua 12 jam kemudian
Progestin 2x1 tablet

Dalam waktu 3 hari pascasenggama, 2x1 dosis


Estrogen Tergantung sediaan selama 5 hari

Dalam waktu 3 hari pasca senggama


Mifepristone 1x600 mg

Dalam waktu 3 hari pasca senggama, dosis


kedua 12 jam kemudian
Danazol 2x4 tablet
Medik
144. Polihidroamnion
Air ketuban yang paling banyak pad aminggu ke 38
adalah 1030 cc, pada akhir kehamilan tinggal 790 cc,
dan terus berkurang sehingga pada minggu ke 43
hanya 240 cc.
Bila melebihi 2000 cc disebut polihidroamnion atau
singkat hidramion
Ada 2 bentuk hidramnion:
Hidramnion yang kronis (bentuk paling umum)
Hidramnion yang akut ex kehamilan kembar
Etiologi
Produksi air ketuban bertambah
Pengaliran air keluar tergangu

Obstetri Patologi FK UNPAD


Polihidroamnion
Gejala Klinis pada Hydramnion/ Polyhydramnion
1. Perut Ibu hamil sangat besar. Misalnya saja pada usia kehamilan enam minggu, besar perut Ibu
seperti telah menginjak usia kehamilan delapan hingga sembilan bulan.
2. Tulang punggung Ibu semasa hamil terasa nyeri.
3. Perut terasa kembung dan lebih kencang.
4. Kulit perut tampak mengkilap.
5. Terkadang Ibu merasakan sakit pada perut ketika berjalan.
6. Rahim Ibu tumbuh lebih cepat daripada yang seharusnya. Tekanan pada diafragma menyebabkan
ibu mengalami sesak nafas.
7. Denyut jantung janin sulit dipantau.
8. Bagian-bagian tubuh janin sulit diraba.Gejala utama yang meyertai hidramnion terjadi semata-
mata karena faktor mekanis dan terutama disebabkan oleh tekanan di dalam sekitar uterus yang
mengalami overdistensi terhadap organ-organ di dekatnya.
9. Apabila peregangannya berlebihan, ibu dapat mengalami dispnea dan pada kasus ekstrim,
mungkin hanya dapat bernafas bila dalam posisi tegak.
Sering terjadi edema akibat penekanan sistem vena besar oleh uterus yang sangat besar, terutama
di ekstremitas bawah, vulva, dan dinding abdomen. Walaupun jarang, dapat terjadi oligouria berat
akibat obstruksi ureter oleh uterus yang sangat besar.
145. Hiperemesis gravidarum
Mallory- weiss syndrome Penyakit ulseratif/ erosive (Ulkus peptikum
(tukak petik) dan Erosive gastritis)
terjadi di simpangan gastroesofagus, Erosi atau ulkus mukosa
diduga setelah serangan ingin ketidakseimbangan antara faktor agresif dan
faktor protektif dari mukosa.
muntah atau muntah Faktor agresif yang dapat merusak integritas
Perdarahan terjadi saat robekan mukosa termasuk asam yang berlebih,
pepsin, garam empedu, iskemia, aspirin,
melibatkan penyakit venous NSAID, dan H. pylori
esophageal atau pleksus arteri. Hal-hal Penting dalam Diagnosis
Sakit perut, mual, muntah, hematemesis
Perdarahan terjadi ketika robekan atau melena.
melibatkan vena esofagus Sakit perut membaik dengan makan
makanan atau antasid.
terselubung dan pleksus arteri.
Riwayat penggunaan aspirin atau NSAID,
Pasien dengan hipertensi portal ulkus peptikum dan perdarahan saluran
cerna atas.
risiko tinggi untuk perdarahan masif
Nyeri tekan epigastrium, succussion splash
Hal-hal penting untuk diagnosis: mengarah
Mual, muntah diikuti dengan
hematemesis.
Riwayat konsumsi alkohol,
kemoterapi, atau obat-obatan.
Ca Gaster RUPTUR VARISES GASTROESOGAFEAL
Perdarahan SMBA akibat tumor Varises esofagus dan lambung vena-vena
biasanya menunjukkan stadium lanjut kolateral yang berkembang sebagai hasil dari
neoplasma sudah mengembangkan hipertensi portal segmental atau sistemik.
suplai darahnya, menyebabkan Penyebab: hipertensi portal termasuk trombosis
ulserasi mukosa. prehepatik (vena portal atau splenik), penyakit
Perdarahan dapat terjadi dari ulserasi hepar (sirosis), dan penyakit postsinusoidal
mukosa difus atau erosi ke pembuluh (schistosomiasis). Penyakit hepar alkoholik dan
di bawahnya. hepatitis viral (B dan C) uptur varises esophagus
Hal-hal penting untuk diagnosis:
Hal-hal penting untuk diagnosis
Perdarahan saluran cerna atas masif
Anoreksia, penurunan berat badan, (hematemesis, hematochezia, hipotensi,
cepat kenyang, atau disfagia. takikardia).
Kaheksia, feses dengan darah positif Riwayat penyakit hepar kronis dan sirosis
tersembunyi, anemia defisiensi besi.
Riwayat episode perdarahan varises
Endoskopi atas menunjukkan massa Jaundice, spider telangiectasias,
ulseratif dengan stigmata hemoragik splenomegali, asites, ensefalopati,
yang masih baru (oozing, clot, or asterixis.
visible vessel).
Kenaikan enzim hepar, koagulopati,
trombositopenia.
146. Kanker Serviks Preklinik/
Preinvasif
Kanker serviks preklinik/preinvasif disebut juga Neoplasia
Intraepitel
Serviks (NIS), merupakan gangguan diferensiasi sel pada
lapisan
skuamosa, dan mempunyai potensi menjadi karsinoma
serviks.
Neoplasia intraepitel serviks ini dibagi menjadi 3 tingkat
yaitu :
NIS I, disebut juga displasia ringan.
NIS II, atau displasia sedang.
NIS III, atau displasia berat. Secara biologik dengan
karsinoma insitu tidak ada perbedaan.

SPM OBGYN POGI


Padanan hasil Pelaporan Tes Pap
Derajat Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kelas V
Pap
Derajat Normal Inflamasi Displasia Displasia Karsinoma
Displasia Ringan - Berat -
Displasia Karsinoma
Sedang insitu
Normal Atipik NIS I - NIS II
NIS Koilositosis NIS III Karsinoma

Sistem Batas Perubahan lesi derajat Lesi derajat Karsinoma


Bethesda Normal seluler jinak rendah tinggi
lesi derajat
tinggi
Pemeriksaan tes Pap merupakan cara efektif untuk mendeteksi NIS.
Bila tes Pap abnormal selanjutnya dilakukan pemeriksaan
kolposkopi.
Bila gambaran abnormal berupa atipia, displasia ringan/infeksi
(pemeriksaan sekret vagina) maka infeksi diobati dahulu dan tes
Pap diulang 2 minggu kemudian.
Kalau gambaran kolposkopi normal, sitologi ulang mencurigakan/
abnormal kelompok lesi intraepitel derajat tinggi atau karsinoma,
maka selanjutnya dilakukan konisasi diagnostik.
Kalau gambaran kolposkopi abnormal memuaskan maka dilakukan
biopsi loop diatermi dan kuretase endoserviks.
Kalau gambaran kolposkopi abnormal tidak memuaskan, sitologi
abnormal/ mencurigakan, maka dilakukan konisasi diagnostik.
Management
Hasil konisasi NIS I/II cukup dengan pengamatan lanjut
saja.
Hasil konisasi NIS III
Ingin anak, pengamatan lanjut
Cukup anak, histerektomi total
Hasil biopsi terarah/kuretase endoserviks
NIS II, krioterapi/elektrokoagulasi
NIS III, maka pengobatan sama dengan bagan 3.
Hasil biopsi/kuretase endoserviks/konisasi karsinoma
serviks invasif, maka pengobatan seperti pada kanker
serviks yang invasif.
Penatalaksanaan Lesi Pra Kanker Serviks
Fase Laten: Belum jelas diduga dapat dengan suatu
Imunomodulator
Fase Subklinik : Diagnosis harus berdasarkan biopsi
histopatologi
Lesi derajat rendah : Krioterapi,
Prosedur eksisi loop elektrokauter (LEEP)
Lesi derajat tinggi : LEEP
LLETZ (Large Loop Excision
Tranzformation Zone)
Konisasi
Histerektomi
147
Femur length can be used to determine gestational age, but it is more useful in helping evaluate fetal weight.
It is also useful as a marker for fetal malformation and genetic abnormality.
Gestational The first element to be measurable is the gestation sac of the early pregnancy.
sac The gestational sac is measured in three dimensions, and the average, the Mean Sac Diameter (MSD)
used for estimating gestational age. It is useful between 5 and 8 menstrual weeks with accuracy of +/- 3
days .
As a rough rule of thumb, the MSD + 30 = Menstrual Age in days.
Crown rump The length of the embryo on the longest axis (excluding the yolk sac) constitutes the crown-rump length.
length This is among the best documented parameters to date the embryo,
with accuracy of +/- 3-5 days. As a rough rule of thumb,
the CRL + 6.5 = Menstrual Age in Weeks;
A pregnancy ultrasound measurement that measures the length in centimeters
from the top of the baby's head to the bottom of the buttocks;
Can be measured by around seven weeks of pregnancy
Biparietal among the most accurate 2nd trimester measures of gestational age.
diameter Measured from the beginning of the fetal skull to the inside aspect of the distal fetal skull
("outer to inner") at the level of the cavum septum pelucidum,
this is one of the basic fetal measurements.
Using this same image, the frontal occipital diameter (FOD) is obtained
and the fetal head circumference (HC) is either obtained directly, or by formula from the BPD
and FOD.
Humerus Useful as a marker for fetal malformation and genetic abnormality, together with femur length.
length
148 Perdarahan Nifas
Perdarahan yang terjadi setelah kelahiran.
Perdarahan nifas dini : perdarahan yang
terjadi dalam 24 jam pertama setelah
persalinan.
Perdarahan nifas lanjut: perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam persalinan.
Perdarahan pascasalin dini
Etiologi
Atonia uteri
Perlukaan jalan lahir
Retensio plasenta/ sisa plasenta
Gangguan pembekuan darah
Kriteria diagnosis
Atonia uteri
Kontraksi rahim buruk
Perdarahan banyak
Tidak ada perlukaan jalan lahir
Tidak ada sisa plasenta
Pada umumnya disertai tanda tanda syok hipovolemik
Perlukaan jalan lahir
Perdarahan banyak
Umumnya kontraksi rahim baik, kecuali pada robekan rahim
Sisa plasenta
Perdarahan
Kontraksi baik
Pada pemeriksaan teraba sisa plasenta
Gangguan pembekuan darah
Kontraksi baik, tidak ada perlukaan jalan lahir, tidak ada sisa
jaringan
Terdapat gangguan faktor pembekuan darah
Pengelolaan (lanjutan)
Atonia uteri
Masase uterus, pemberian oksitosin 20 IU dalam
500 cc Dekstrosa 5% dan ergometrin intravena,
atau misoprostol
Jenis dan Cara Oksotosin Ergometrin misoprostol
Dosis dan cara IV : 20 unit dalam 1 L IM atau IV Oral atau rectal 400
pemberian awal larutan garam (lambat):0,2mg mg
fisiologis dengan
tetesan cepat
IM: 10 unit
Dosis lanjutan IV: 10 unit dalam 1 L Ulangi 0,2 mg IM 400 mg 2 4 jam
larutan garam setelah 15 menit. setelah dosis awal
x fisiologis dengan 40 Bila masih
tetes/menit diperlukan beri
IM/IV setiap 2 -4 jam
Dosis maksimal per Tidak lebih dari 3 L Total 1 mg atau 5 Total 1200 mg atau 3
hari larutan dengan dosis dosis
oksitosin
Indikasi kontra atau Pemberian IV secara Preeklamsi, vitium Nyeri kontraksi asma
hati - hati cepat atau bolus kordis, hipertensi
Bila perbaikan +, perdarahan berhenti, oksitosin atau
misoprostol diteruskan
Bila tidak ada perbaikan dilakukan kompresi bimanual
Bila tetap tidak berhasil, lakukan lapartotomi, kalau
mungkin lakukan ligasi arteri uterina atau hipogastrika
(khusus pasien belum ada anak), bila tidak mungkin
lakukan histerektomi

Langkah-langkah Rinci Penatalaksanaan Atonia Uteri


Pascapersalinan (lihat tabel di bawah)
Pemeriksaan penunjang
Hemoglobin, hematokrit
Faktor pembekuan darah
Waktu perdarahan
Masa pembekuan
Trombosit
fibrinogen
Pengelolaan
Segera setelah diketahui perdarahan pascasalin, tentukan
ada syok atau tidak, bila ada segera berikan transfusi darah,
infus cairan, kontrol perdarahan dan berikan oksigen
Bila syok tidak ada, atau keadaan umum telah optimal,
segera lakukan pemeriksaan untuk mencari etiologi
No. Langkah Keterangan
No. Langkah Keterangan
1. Lakukan masase fundus uteri segera setelah plasenta Masase merangsang kontraksi uterus. Sambil melakukan
dilahirkan masase sekaligus dapat dilaku-kan penilaian kontraksi uterus

2. Bersihkan kavum uteri dari selaput ketuban dan gumpalan Selaput ketuban atau gumpalan darah dalam kavum uteri akan
darah. dapat menghalangi kontraksi uterus secara baik

3. Mulai lakukan kompresi bimanual interna. Jika uterus Sebagian besar atonia uteri akan teratasi dengan tindakan ini.
berkontraksi keluarkan tangan setelah 1-2 menit. Jika Jika kompresi bimanual tidak berhasil setelah 5 menit,
uterus tetap tidak berkontraksi teruskan kompresi diperlukan tindakan lain
bimanual interna hingga 5 menit

4. Minta keluarga untuk melakukan kompresi bimanual Bila penolong hanya seorang diri, keluarga dapat meneruskan
eksterna proses kompresi bimanual secara eksternal selama anda
melakukan langkah-langkah selanjutnya.

5. Berikan Metil ergometrin 0,2 mg intramuskular/ intra vena Metil ergometrin yang diberikan secara intramuskular akan
mulai bekerja dalam 5-7 menit dan menyebabkan kontraksi
uterus
Pemberian intravena bila sudah terpasang infus sebelumnya

6. Berikan infus cairan larutan Ringer laktat dan Oksitosin 20 Anda telah memberikan Oksitosin pada waktu penatalaksanaan
IU/500 cc aktif kala tiga dan Metil ergometrin intramuskuler. Oksitosin
intravena akan bekerja segera untuk menyebabkan uterus
berkontraksi.
Ringer Laktat akan membantu memulihkan volume cairan yang
hilang selama atoni. Jika uterus wanita belum berkontraksi
selama 6 langkah pertama, sangat mungkin bahwa ia
mengalami perdarahan postpartum dan memerlukan
penggantian darah yang hilang secara cepat.
7. Mulai lagi kompresi bimanual interna atau Jika atoni tidak teratasi setelah 7 langkah pertama,
Pasang tampon uterovagina mungkin ibu mengalami masalah serius lainnya.
Tampon uterovagina dapat dilakukan apabila
penolong telah terlatih.
Rujuk segera ke rumah sakit

8. Buat persiapan untuk merujuk segera Atoni bukan merupakan hal yang sederhana dan
memerlukan perawatan gawat darurat di fasilitas
dimana dapat dilaksanakan bedah dan pemberian
tranfusi darah

9. Teruskan cairan intravena hingga ibu mencapai tempat rujukan Berikan infus 500 cc cairan pertama dalam waktu 10
menit. Kemudian ibu memerlukan cairan tambahan,
setidak-tidaknya 500 cc/jam pada jam pertama, dan
500 cc/4 jam pada jam-jam berikutnya. Jika anda
tidak mempunyai cukup persediaan cairan
intravena, berikan cairan 500 cc yang ketiga tersebut
secara perlahan, hingga cukup untuk sampai di
tempat rujukan. Berikan ibu minum untuk
tambahan rehidrasi.

10. Lakukan laparotomi : Pertimbangan antara lain paritas, kondisi ibu,


Pertimbangkan antara tindakan mempertahankan uterus dengan jumlah perdarahan.
ligasi arteri uterina/ hipogastrika atau histerektomi.
149. PERDARAHANANTEPARTUM
Batasan : Ruptur dinding tuba
Penyebab utama dari ruptur tuba
Perdarahan dari jalan adalah penembusan dinding vili
lahir pada kehamilan < korialis ke dalam lapisan
muskularis tuba terus ke
20 mg peritoneum. Ruptur tuba sering
terjadi bila ovum yang dibuahi
Sebab-sebab : berimplantasi pada isthmus dan
KET biasanya terjadi pada kehamilan
Mola Hidatidosa muda. Sebaliknya ruptur yang
terjadi pada pars-intersisialis
Abortus pada kehamilan lebih lanjut.
Gangguan implantasi plasenta Ruptur dapat terjadi secara
spontan, atau yang disebabkan
trauma ringan seperti pada koitus
dan pemeriksaan vagina
KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU
KET ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel
telur yang telah dibuahi tidak menempel pada
dinding endometrium kavum uteri.
Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada
disaluran telur (tuba fallopi).
Pars ampularis 55%, pars ithmus 25%, pars
fimbrae 17%,pars interstitial 2%
Kehamilan ektopik lain < 5% antara lain terjadi di
serviks uterus , ovarium, atau abdominal
KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU:
KE: kehamilan yang hasil konsepsinya implantasi di luar kavum uteri
KET : KE yang berakhir dengan abortus atau rupture tuba
Diagnosis:
Anamnesis:
Terlambat haid, usia kehamilan trimester I, gejala subjektif kehamilan lainnya, nyeri perut yang
disertai spotting,
PF: tanda shock hipovolemik, nyeri abdomen (perut tegang, nyeri tekan dan nyeri lepas, dapat ditemukan
pekak samping dan pekak pindah)
Pemeriksaan ginekologis
Inspekulo: fluksus sedikit
Pemeriksaan dalam: uterus yang membesar, nyeri goyang serviks +, nyeri pada perabaan adneksa,
kavum douglas menonjol
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium: Hb, Leukosit, Hcg dalam serum, uji kehamilan
USG: uterus membesar, tidak ada kantung kehamilan, kelainan adneksa (adanya kantung
kehamilan, massa kompleks, cairan bebas sampai ke kavum douglas)
Kuldosentesis: untuk mengetahui adanya darah dalam kavun douglas
Diagnosis laparoskopi
GAMBARAN KLINIS
Pada kehamilan tuba yang PROGNOSIS
belum terganggu gambaran Kematian karena KET cenderung
klinisnya tidak khas dan turun dengan diagnosis dini dan
penderita maupun persediaan darah yang cukup.
dokternya biasanya tidak Akan tetapi bila pertolongan
terlambat angka kematian dapat
mengetahui adanya tinggi.
kelainan dalam kehamilan , Karakteristik Mola Komplit Mola Parsial
sampai terjadinya abortus Jaringan Tidak ditemukan Ditemukan, tidak
tuba atau ruptur tuba. Embrionik/ Fetal sempurna

Nyeri perut bawah Pembengkakan Difus Fokal


mendadak hidatidiform
korionik
vili

Perdarahan pervaginam Hiperplasi Difus Fokal


Pingsan tropoblas
Scalloping vili Tidak ditemukan Ditemukan
Syok korionik
Inklusi stroma Tidak ditemukan Ditemukan
tropoblas
150.KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU
KE: kehamilan yang hasil konsepsinya implantasi di luar kavum uteri
KET : KE yang berakhir dengan abortus atau rupture tuba
Diagnosis:
Anamnesis:
Terlambat haid, usia kehamilan trimester I, gejala subjektif kehamilan lainnya, nyeri perut yang
disertai spotting,
PF: tanda shock hipovolemik, nyeri abdomen (perut tegang, nyeri tekan dan nyeri
lepas, dapat ditemukan pekak samping dan pekak pindah)
Pemeriksaan ginekologis
Inspekulo: fluksus sedikit
Pemeriksaan dalam: uterus yang membesar, nyeri goyang serviks +, nyeri pada perabaan
adneksa, kavum douglas menonjol
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium: Hb, Leukosit, Hcg dalam serum, uji kehamilan
USG: uterus membesar, tidak ada kantung kehamilan, kelainan adneksa (adanya kantung
kehamilan, massa kompleks, cairan bebas sampai ke kavum douglas)
Kuldosentesis: untuk mengetahui adanya darah dalam kavun douglas
Diagnosis laparoskopi
151. Prolaps Uteri
Prolaps uteri adalah penurunan uterus dari
posisi anatomis yang seharusnya.
Insidens prolaps uteri meningkat dengan
bertambahnya usia.
Manifestasi klinis yang sering didapatkan
adalah keluarnya massa dari vagina dan
adanya gangguan buang air kecil hingga
disertai hidronefrosis
152. Infeksi saluran kemih

Infeksi Saluran Kemih (ISK)


merupakan salah satu
penyakit infeksi yang sering
ditemukan pada praktik
umum, mulai dari infeksi
ringan sampai menjadi
infeksi berat yang
berbahaya untuk jiwa.
Gambar 1. Sistem Urinaria pada perempuan (sumber: Tortora
GJ, Derrickson B, Urinary System in Principle of anatomy and
physiology 12th edition, USA, Willey, 2009)
Beberapa istilah dalam ISK yang perlu
dipahami
ISK sederhana (uncomplicated) yaitu ISK pada pasien tanpa disertai
kelainan anatomi maupun kelainan struktur saluran kemih.
ISK rumit (complicated) adalah ISK pada pasien dengan kelainan struktur
saluran kemih, atau adanya penyakit sistemik.
ISK Berulang yaitu timbulnya kembali bakteriuria setelah sebelumnya
dapat dibasmi dengan terapi antibiotika pada infeksi yang pertama.
ISK bagian bawah: infeksi pada kandung kemih/ vesika urinaria (sistisis)
dan uretra, batas atas dan bawah adalah vesicoureteric valve.
ISK bagian atas mungkin berhubungan dengan kerusakan ginjal dan
komplikasi yang berat serta membutuhkan pemeriksaan penunjang dan
terapi yang cepat
Pielonefritis
Pielonefritis adalah infeksi bakteri pada salah satu atau kedua ginjal.

GEJALA
Gejala biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di
punggung bagian bawah, mual dan muntah. Beberapa penderita menunjukkan
gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, yaitu sering berkemih dan nyeri
ketikaberkemih.Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal.Kadang otot
perut berkontraksi kuat. Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan
nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya
iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada anak-anak, gejala
infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi
menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilang-timbul
atau tidak ditemukan demam sama sekali. Pielonefritis kronis hanya terjadi pada
penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu
ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter
(pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga
ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagalginjal)
153
154. Fistula rektovaginal
Derajat laserasi perineum
I : Laserasi pada epitel vagina
atau kulit perineum saja
II : Melibatkan kerusakan pada
otot-otot perineum, tetapi
tidak melibatkan kerusakan
sfingter ani
III: Kerusakan pada otot
sfingter ani
3a : robekan <50% sfingter ani
eksterna
3b: robekan >50% sfingter ani
eksterna
3c: robekan juga meliputi
sfingter ani interna
IV: Robekan stadium tiga
disertai robekan mukosa
rektum
rectovaginal fistula (RVF)
Vaginal or rectal A few patients are
operative procedures, asymptomatic, but most
especially those report the passage of
performed near the flatus or stool through
dentate line, may cause the vagina, which is
RVFs. understandably
Traumatic injury distressing.
(penetrating or blunt)
and forceful coitus also
have produced RVFs.
155 Tanda Kehamilan
Tanda-tanda Kehamilan Tanda pasti kehamilan antara lain:
Tanda presumtif kehamilan adalah Terdengarnya denyut jantung janin melalui
perubahan fisiologis pada ibu yang auskultasi/ Doppler.
mengindikasikan bahwa ia telah Gerak janin yang dirasakan ibu mulai usia
gestasi 16-20 minggu
hamil.
Gambaran USG yang mengkonfirmasi
Tanda tidak pasti kehamilan adalah adanya kehamilan
perubahan anatomi atau fisiologis
Tanda tidak pasti kehamilan antara lain:
selain dari tanda presumtif yang
Amenorhea (penyebab lain: penyakit
dapat dideteksi oleh pemeriksa. kronik, tumor hipofisis, malnutrisi,
Tanda pasti kehamilan adalah data emosional, faktor lingkungan, dsb)
atau kondisi yang mengindikasikan Perubahan pada payudara dan puting
adanya buah kehamilan atau bayi (tegang, membesar dan sensitif)
yang diketahui melalui pemeriksaan Hiperpigmentasi kulit (kloasma
dan direkam oleh pemeriksa (denyut gravidarum, linea nigra,
jantung janin, gambaran USG janin, Pembesaran uterus
dan gerakan janin). Mual muntah/ morning sickness
Fatique
Tanda Chadwick: perubahan warna menjadi kebiruan pada vulva,
vagina dan serviks.
Tanda Goodell: perubahan konsistensi serviks (seperti bibir)
dibandingkan sebelum hamil (seperti ujung hidung).
Tanda Hegar:pelunakan dan kompresibilitas ismus serviks sehingga
ujung jari seakan dapat ditemukan bila ditekan berlawanan.
Tanda Piskacek: pembesaran uterus yang asimetris dan menonjol
pada salah satu kornu; dikonfirmasi dengan pemeriksaan bimanual
pada usia gestasi 8-10 minggu.
Kontraksi Braxton Hicks: kontraksi yang terjadi akibat peregangan
miometrium karena pembesaran uterus; awalnya non-ritmik,
sporadik, tanpa nyeri, timbul sejak usia gestasi 6 minggu dan
semakin meningkat seiring usia gestasi bertambah.
156. Perdarahan Antepartum
Plasenta Previa
Plasenta yang letaknya tidak normal
sehingga menutupi sebagian atau
seluruh ostium uteri internum
Faktor predisposisi:
Grande multipara
Riwayat kuretase berulang
Pemeriksaan klinis:
Perdarahan jalan lahir berulang tanpa
disertai rasa nyeri
Dapat diserati atau tanpa adanya
kontraksi
Pada pemeriksaan luar: bagian
terendah janin belum masuk PAP
atau ada kelainan letak
Pemeriksaan speculum: darah berasal
dari ostium uteri eksternum
Solusio Palsenta
Terlepasnya plasenta sebagian
atau seluruhnya, terjadi pada
plasenta yang implantasinya
normal sebelum janin lahir
Pemeriksaan Klinis:
Perdarahan dari jalan lahir
dengan atau tanpa disertai
rasa nyeri (tergantung derajat)
Perabaan uterus tegang,
palpasi bagian janin sulit
Janin dapat berada dalm
keadaan baik, gawat janin,
atau mati
156. Tatalaksana HAP
Kala I
157 Persalinan Dimulainya proses persalinan yang ditandai
dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat
dan menyebabkan perubahan pada serviks
hingga mencapai pembukaan lengkap. Terdiri
dari:
Persalinan normal:
Fase laten:
proses pengeluaran buah dimulai dari awal kontraksi hingga
kehamilan (bayi, plasenta dan pembukaan mendekati 4 cm
selaput ketuban) kontraksi mulai teratur tetapi lamanya
masih diantara 20-30 detik
usia gestasi aterm (>37 42
Berlangsung sekitar 8 jam
minggu)
Fase aktif:
persalinan spontan (dari rahim kontraksi di atas 3 kali/ 10 menit
ibu melalui jalan lahir dengan lama kontraksi 40 detik dan mules
tenaga ibu sendiri (tidak ada pembukaan dari 4 cm sampai lengkap
intervensi dari luar). (10cm)
presentasi kepala (posisi belakang terdapat penurunan bagian terbawah
janin
kepala)
Berlangsung sekitar 6 jam (Kecepatan
tidak lebih dari 18 jam rata-rata 1cm/jam pada nulipara dan
Tidak ada komplikasi pada ibu 1-2cm/jam pada multipara).
maupun janin.
Tanda dan gejala persalinan: Kala II
Timbulnya his persalinan, yaitu his Dimulai pada saat pembukaan
pembukaan dengan sifat : serviks telah lengkap dan
Nyeri melingkar dari punggung berakhir pada saat bayi telah lahir
hingga ke perut depan lengkap.
Teratur His menjadi lebih kuat, lebih
Makin lama interval makin sering, dan lebih lama. Selaput
pendek dan intensitas makin ketuban mungkin juga sudah
kuat pecah/ baru pecah spontan pada
awal Kala 2.
Jika berjalan bertambah kuat
Berpengaruh pada pendataran
Rata-rata waktu untuk
atau pembukaan serviks
keseluruhan proses Kala 2 pada
primigravida 1,5 jam, dan
Keluar lendir bercampur darah multipara 0,5 jam
Keluar cairan banyak tiba-tiba dari Kala II lama: > 1 jam pada
jalan lahir (bila ketuban pecah) multigravida; > 2 jam pada
Pada pemeriksaan dalam: terjadi primigravida
pendataran dan pembukaan serviks
Kala III Kala IV
Dimulai pada saat bayi telah lahir Segera setelah lahirnya plasenta
lengkap, dan berakhir dengan hingga 2 jam post partum
lahirnya plasenta. Monitor pada kala IV
Berlangsung 30 menit. Pemantaun kontraksi dan pencegahan
Tanda-tanda pelepasan plasenta perdarahan pervaginam:
Setiap 2-3 kali dalam 15 mrenit pertama
Tali pusat memanjang pasca salin
Uterus membulat Setiap 15 menit pada 1 jam pertama
Keluar semburan darah pasca salin
Setiap 20-30 menit pada jam kedua
Manajemen aktif kala III pasca salin
Menyuntikan oksitosin dalam 1 menit Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan
setelah bayi lahir, 10 IU secara IM pada kandung kemih ibu setiap 15 menit
1/3 paha atas bagian lateral pada jam pertama dan setiap 30 menit
Melakukan penegangan tali pusat pada jam kedua pasca salin.
terkendali dan dorongan dorso-kranial Pemeriksaan tanda vital bayi
sampai plasenta terlepas Memastikan bayi bernapas baik (40-
Melakukan masase uterus segera 60x/ menit) dan suhu stabil (36.5-
setelah plasenta dan selaput ketuban 37.50C)
lahir
158 Perdarahan Nifas
Perdarahan yang terjadi setelah kelahiran.
Perdarahan nifas dini : perdarahan yang
terjadi dalam 24 jam pertama setelah
persalinan.
Perdarahan nifas lanjut: perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam persalinan.
Perdarahan pada masa nifas
Etiologi
Sisa plasenta
Kriteria diagnosis
Perdarahan berulang
Pemeriksaan fisik, kadang kadang pasien febris, nadi
cepat dan syok
Pemeriksaan obstetri, fundus uteri masih tinggi,
subinvolusi
Uterus lembek dan nyeri tekan bila ada infeksi, teraba
ada sisa plasenta dalam kavum uteri
Pemeriksaan penunjang
Hb, Ht, Leukosit
USG untuk melihat sisa plasenta
Pengelolaan
Uterotonika
Antibiotika berspektrum luas
Transfusi darah bila perdarahan banyak
Kuretase, bila tidak berhasil lakukan histerektomi
Penyulit
Syok ireversible
Lama perawatan`
Bila dapat diatasi selama 5 6 hari
Bila dilakukan tindakan operatif 7 10 hari
159 Mola hidatidiform
DEFINISI Berdasar karakteristik dan
Mola hidatidiform/ hidatidosa susunan DNA-nya, mola
merupakan suatu kondisi hidatidosa dibagi menjadi:
kehamilan di mana ovum dan Mola Komplit
sperma yang bertemu Mola komplit terjadi apabila 1
memiliki materi genetik/ DNA ovum yang telah kehilangan
yang abnormal (seharusnya DNA-nya (ovum kosong)
ovum 23 X, dengan sperma 23 dibuahi oleh 1 sperma yang
X atau 23 Y). kemudian mengalami
reduplikasi menjadi 46 XX
homozigot (sekitar 90%
kejadian mola komplit) atau
dibuahi oleh 2 sperma menjadi
46 XX/XY heterozigot (sekitar
10% dari kejadian mola
komplit).
Mola Parsial
Mola parsial terjadi apabila
1 ovum dibuahi oleh 1 atau
2 sperma yang mengalami
reduplikasi DNA hasil
sehingga hasil konsepsinya
menjadi triploid atau
tetraploid.
Kondisi mola parsial lebih
sering dijumpai dan
cenderung kurang beresiko
mengakibatkan keganasan
tropoblastik.
TANDA DAN GEJALA Karakteristik Mola Komplit Mola Parsial
Tanda dan gejala mola hidatidosa, Jaringan Tidak Ditemukan,
terutama mola hidatidosa komplit cukup Embrionik/ ditemukan tidak
khas dan beragam antara lain: Fetal sempurna
Ukuran uterus yang lebih besar
dibanding usia kehamilannya Pembengkakan Difus Fokal
Kadar beta-hCG yang amat tinggi hidatidiform vili
korionik
Hiperemesis gravidarum
Hipertensi dan proteinuria (menyerupai Hiperplasi Difus Fokal
kondisi preeklamsia, namun pada usia tropoblas
kehamilan muda)
Scalloping vili Tidak Ditemukan
Adanya benjolan karena kista theca lutein korionik ditemukan
ovarium
Tanda-tanda abortus (perdarahan/ Inklusi stroma Tidak Ditemukan
spotting) tropoblas ditemukan
Mola hidatidosa parsial biasanya hanya
mengalami gejala seperti abortus di mana
ditemukan perdarahan dan kontraksi
uterus, namun sangat jarang
menunjukkan tanda dan gejala mola
hidatidosa komplit.
Ultrasonografi
Mola Komplit
Ditemukan gambaran sarang
lebah/ honeycomb ataupun
gambaran menyerupai badai
salju/ snowstorm (lihat
gambar) yang merupakan
karakteristik pembengkakan
vili korionik yang difus dan
vesikuler.
Mola Parsial
Ditemukan gambaran kistik
pada jaringan plasenta dan
pemanjangan diameter
transversa dari kantong
gestasional.
160 Distosia
Distosia adalah persalinan yang sulit yang Kekuatan mengejan kurang kuat, misalnya
ditandai adanya hambatan kemajuan karena kelainan dinding perut seperti luka
dalam persalinan. Distosia parut baru, diastase muskulus rektus
dikarakteristikan progres persalinan yang abdominis, atau kelaianan keadaan ibu
lambat secara abnormal. Biasanya seperti sesak napas atau kelelahan.
persalinan abnormal muncul setiap ada Kelainan presentasi, posisi, atau
disproporsi antara bagian yang perkembangan janin.
terpresentasi dari fetus dengan jalan lahir. Misalnya presentasi dahi, presentasi bahu,
Sedangkan persalinan normal (eutocia) presentasi muka, presentasi bokong, anak
ialah persalinan dengan presentasi besar, hidrosefal, dan monstrum.
belakang kepala yang berlangsung Kelianan tulang panggul ibu
spontan dalam 18 jam.
Kelainan jaringan lunak dari saluran
Etiologi reproduksi
Distosia merupakan konsekuensi dari 4 Kelainan ini secara mekanik
kelainan berbeda yang bisa muncul sendiri disederhanakan menjadi 3 kategori:
atau kombinasi:
Kelainan power kontraktilitas uterus dan
Kelainan kekuatan mendorong usaha mendorong ibu.
Kelainan his merupakan penyebab Kelainan passenger Janin
tersering.
Kelainan passage Pelvis
Distosia Bahu
Suatu keadaan diperlukan Kepala bayi sudah lahir
tambahan manuver tetapi tetap menekan
obstetrik oleh karena vulva dengan kencang
dengan tarikan biasa ke Dagu tertarik dan
arah belakang pada menekan perineum
kepala bayi tidak berhasil Traksi pada kepala tidak
untuk melahirkan bayi. berhasil melahirkan bahu
Diagnosis distosia bahu yang tetap tertahan di
Kepala bayi sudah lahir, kranial simfisis pubis
tetapi bahu tertahan dan Penanganan : episiotimi
tidak dapat dilahirkan luas, posisi McRobert
atau posisi dada - lutut
Manuever Mac Roberts
Maneuver ini terdiri dari melepaskan
kaki dari penyangga dan melakukan
fleksi sehingga paha menempel pada
abdomen ibu. Tindakan ini dapat
menyebabkan sacrum mendatar,
rotasi simfisis pubis kearah kepala
maternal dan mengurangi sudut
inklinasi. Meskipun ukuran panggul
tak berubah, rotasi cephalad panggul
cenderung untuk membebaskan
bahu depan yang terhimpit.
Maneuver Mc Robert
Fleksi sendi lutut dan paha serta
mendekatkan paha ibu pada
abdomen sebaaimana terlihat pada
(panah horisontal). Asisten
melakukan tekanan suprapubic
secara bersamaan (panah vertikal)
161. Perubahan Maternal selama Kehamilan
Perubahan anatomi dan fisiologi pada Uterus: beradaptasi untuk menerima dan
kehamilan sebagian besar sudah terjadi melindungi hasil konsepsi sampai persalinan.
segera setelah fertilisasi dan terus Uterus akan bertambah besar dengan cepat
berlanjut selama kehamilan.Kebanyakan selama kehamilan dan kembali seperti semula
perubahan merupakan respon terhadap beberapa minggu setelah persalinan.
janin. Hampir semua perubahan akan Serviks: satu bulan setelah konsepsi serviks
kembali seperti keadaan sebelum hamil akan menjadi lunak dan kebiruan akibat
setelah proses persalinan dan menyusui perubahan vaskularisasi dan edema pada
selesai. serviks serta hiperplasia dan hipertrofi
Ovarium: proses ovulasi akan kelenjar-kelenjarnya. Serviks
terhenti selama kehamilan dan bertanggungjawab menjaga janin di dalam
pematangan folikel baru juga ditunda. uterus sampai akhir kehamilan. Saat
Vagina dan perineum: terjadi mendekati aterm, terjadi penurunan lanjut
peningkatan vaskularisasi dan hiperemia dari konsentrasi kolagen serviks berhubungan
terlihat jelas saat kehamilan. Dinding dengan semakin melunaknya serviks.
vagina mengalami banyak perubahan Kulit: kulit dinding perut akan berubahn
sebagai persiapan untuk meregang saat warna menjadi kemerahan, kusam; kadang-
persalinan dengan meningkatnya kadang disertai daerah paha dan payudara
ketebalan mukosa, mengendornya (striae gravidarum). Linea alba akan berubah
jaringan ikat dan hipertrofi otot polos. menjadi linea nigra. Kadang muncul kloasma/
melasma gravidarum. Terjadi pigmentasi
berlebihan pada areola dan genital.
Payudara: payudara akan melunak saat Traktus digestivus: seiring besarnya
awal kehamilan, kemudian bertambah uterus, lambung dan usus akan tergeser.
besar ukurannyadengan vena yang akan Perubahan nyata terjadi pada penurunan
lebih terlihat. Kolostrum mulai keluar pada motilitas otot polos dan penurunan
bulan pertama. Ukuran payudara sebelum sekresi asam dan peptin di lambung yang
kehamilan tidak berhubungan dengan akan menimbulkan gejala heartburn, mual
banyaknya air susu yang akan dihasilkan. dan konstipasi.
Metabolik: kenaikan berat badan selama Traktus urinarius: pada bulan-bulan
kehamilan diperkirakan sebesar 12,5 kg. pertama kandung kemih akan tertekan
Pada trimester kedua dan ketiga sehingga akan sering berkemih. Keluhan
perempuan dengan gizi baik dianjurkan akan timbul kembali saat kepala janin
menambah berat 0,4 kg perminggu. sudah turun ke pintu atas panggul.
Sistem kardiovaskular: pada minggu ke-5 Sistem endokrin: kelenjar hipofisis akan
cardiac output akan meningkat untuk membesar 135%, hormon prolaktin
mengurangi resistensi vaskular sistemik meningkat 10x saat aterm dan menurun
dan terjadi peningkatan denyut jantung. setelah persalinan. Kelenjar tiroid akan
Antara minggu-10 dan 20 terjadi membesar sedangkan adrenal akan
peningkatan volume plasma dan mengecil. Hormon androstenedion,
mencapai puncak pada minggu 32-34. testosterone, dioksikortikosteron,
Sistem muskuloskeletal: lordosis yang aldosteron dan kortisol akan meningkat
progresif akan menjadi bentuk yang sedangkan dehidroepiandrosteron sulfat
umum pada kehamilan. akan menurun.
162. Anemia defisiensi besi pada
kehamilan
Penyebab: cadangan besi pada wanita kurang,, diantaranya disebabkan
oleh hilangnya darat setiap bulan (haid), pada wanita hamil cadangan ini
akan berkurang lebih bahkan habis karena kebutuhan janin akan zat besi
sangat besar> juga bertambahnya volume darah berperan dalam
menurunkan Hb.
Profilaksis: pemberian preparat FE ekstra, terutama pada 4-5 bulan
terakhir
Pengobatan: pemberian preparat besi (sulfas ferrosus 3x200 mg)
Suntikan IM hanya diberikan jika:
Obat tidak bias masuk per oral (muntah)
Tidak diabsorpsi (mencret)
JIka persalinan sudah dekat
Apabila anemia sangat berat (Hb< 8.0) dan persalinan sudah dekat perlu
dipertimbangkan transfuse darah dalam bentuk PRC
(Obstetri Patologi FKUP-RSHS)
Anemia aplastik = normokrom normositer
Anemia defisiensi besi = hipokrom mikrositer
Anemia megaloblastik = normokrom makrositer
Anemia hemolitik = normo/hipokrom mikrositer
Kriteria anemia pada ibu hamil :
trimester I dan III Hb < 11 gr/dl (anemia)
trimester II Hb < 10,5 gr/dl (anemia)
Leukosit pada ibu hamil rata-rata 14.000 16.000
tapi dapat mencapai 25.000
MCV (Mean Cellular volume) : Rata-rata
volume RBC (fL) dalam darah, yang didapat dari
hasil perhitungan HCT/RBC
MCH (Mean cellular hemoglobin) :Rata-rata
volume HGB (pg) dalam RBC, yang didapat dari
hasil perhitungan HGB/RBC
MCHC (Mean Cellular hemoglobin concentration)
:Rata-rata konsentrasi HGB (g/dL), yang didapat
dari hasil perhitungan HGB/HCT
(Harmenings Haematology)
163 Obat-obat yang berinteraksi
dengan kontrasepsi oral
Obat Interaksi
Ampisilin, INH, Kloramfenikol, Meningkatkan terjadinya
Neomisin sulfat, Penisilin V, pendarahan, dan kemungkinan
Nitrofurantoin, Fenilbutazon, terjadi kehamilan
Rifampisin, Tetrasiklin, Sulfonamida, Efektivitas obat antidiabetika dan
dan obat antikonvulsi. antihipertensi terganggu
Obat antidiabetika oral dan Insulin, Kadar obat antidepresi dalam plasma
dan obat antihipertensi meningkat. Kurangi dosisnya.
Obat antidepresi golongan trisiklik. Kadar vitamin berkurang.
Vitamin Dosis vitamin perlu ditambah
Efek obat TB pada Kontrasepsi

KEMUNGKINAN
EFEK SAMPING
PENYEBAB
Anoreksia, nausea, nyeri abdomen,
Rifampisin BAK merah, anemia hipokrom
mikrositer
Isoniazid Dermatitis, neuritis
Pirazinamid Artritis
Ethambutol Gangguan penglihatan
Tuli, gangguan keseimbangan
Streptomicin
(vertigo, nistagmus)
164, Asthma dalam kehamilan
Penanganan asma kronis
Menurut nasional asthma education and prevention program
expert panel, 1997 penanganan yang efektif asma kronis pada
kehamilan harus mencakup hal hal berikut :
Penilaian objektif fungsi paru dan kesejahteraan janin
Menghindari/ menghilangkan faktor presipitasi lingkungan
Terapi farmakologik
Edukasi pasien
Kromolin disodium atau ipratropium inhalasi menghambat
degranulasi sel mast. Jadi hanya efektif sebagai pencegahan pada
asma kronis.
Dapat juga pakai leukotrien modifier, teofilin merupakan
bronkodilator anti inflamasi

Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo


2010
Penanganan asthma kronis pada
kehamilan
Derajat asthma Terapi

Ringan intermiten B agonist inhalasi

Ringan persisten B agonist inhalasi +kromolin/


kortikosteroid inhalasi

Moderat persisten B agonist inhalasi +kortikosteroid inhalasi


+ teofilin peroral

Severe persisten B agonist inhalasi +kortikosteroid inhalasi


+ teofilin peroral +kortikosteroid per oral

Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo


2010
Penanganan asma akut
Penanganan asma akut pada kehamilan sama dengan
nonhamil, tetapi hospitality treshold lebih rendah,
dilakukan penanganan aktif dengan hidrasi intravena,
pemberian masker oksigen, supaya pO2>60 mmHg dan
saturasi O2 95%, juga pemeriksaan AGD , pulse
oxymetri
Penanganan lini pertama adalah B adrenergik agonis
(subkutan, peroral, inhalasi) loading dose 4 6
mg/kgbb dan dilanjutkan 0.8-1 mg/kgbb/jam sampai
tercapai kadar terapeutik dalam plasma sebesar 10
20 ug/ml
Bisa ditambahkan kortikosteroid: metilprednisolon

Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo


2010
ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
165. euthanasia
Euthanasia means a good death, dying
well.
What is a good death?
Peaceful
Painless
Lucid
With loved ones gathered around
Some Initial Distinctions
Active vs. Passive Euthanasia
Voluntary, Non-voluntary, and Involuntary
Euthanasia
Assisted vs. Unassisted Euthanasia

Lawrence M. Hinman
1/2/2016 575
http://ethics.sandiego.edu
Active vs. Passive Euthanasia
Active euthanasia occurs in those instances in
which someone takes active means, such as a
lethal injection, to bring about someones death;
Passive euthanasia occurs in those instances in
which someone simply refuses to intervene in
order to prevent someones death.

Lawrence M. Hinman
1/2/2016 576
http://ethics.sandiego.edu
Voluntary, Non-voluntary, and
Involuntary Euthanasia

Voluntary: patient chooses to be put to


death
Non-voluntary: patient is unable to make a
choice at all
Involuntary: patient chooses not to be put
to death, but is anyway

Lawrence M. Hinman
1/2/2016 577
http://ethics.sandiego.edu
166. Kasus Gantung Diri
Gantung Diri Pembunuhan
Simpul hidup Biasanya simpul mati
Jumlah lilitan satu atau lebih Jumlah lilitan hanya satu
Arah alat penjerat serong ke atas Arah alat penjerat mendatar
Jarak titik tumpu simpul jauh Jarak titik tumpu dengan simpul
Jejas jerat meninggi ke arah dekat
simpul
Jejas jerat berjalan mendatar
Tidak terdapat luka perlawanan,
mungkin terdapat luka percobaan Terdapat luka perlawanan dan
bunuh diri lainnya luka luka lain biasanya di sekitar
Lokasi TKP tersembunyi, kondisi leher
teratur dan pakain korban rapi Lokasi TKP bervariasi, kondisi
dan baik tidak teratur dan pakaian korban
Terdapat surat peninggalan dan robek atau tidak teratur
ruangan biasanya terkunci dari
dalam Tidak terdapat surat peninggalan
Ruangan tidak teratur
167. Pemeriksaan air mani

Cairan mani merupakan cairan agak kental, berwarna putih


kekuningan, keruh dan berbau khas
Cairan mani menjadi caira akibat enzim proteolitik dalam waktu 10
20 menit
Volume 3 5 mL sekali ejakulasi, pH 7,2 7,6
Dalam 2 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan
spermatozoa dalam vagina
Haid akan memperpanjang waktu menjadi 3 4 jam
Voight sperma masih dapat bergerak kira kira 4 jam pasca
persetubuhan
Gonzales sperma masih dapat bergerak 30 60 menit pasca
persetubuhan
Ponzold <5 jam pascapersetubuhan, bila pasien ovulasi dan
terdapat sekret serviks bisa bertahan sampai 20 jam
168. Pemeriksaan mayat pada kasus tenggelam
Pemeriksaan luar Pemeriksaan Dalam
Mayat dalam keadaan basah, mungkin Busa halus atau benda asing
berlumuran pasir, lumpur dan benda dalam saluran pernafasan
benda asing lain yang terdapat dalam Paru paru membesar seperti
air balon, lebih berat, sampai
Bisa halus pada hidung dan mulut menutupi kandung jantung . Pada
kadang berdarah pengirisan banyak keluar cairan
Mata setengah terbuka atau tertutup, (terutama untuk yang tenggelam
jarang terdapat perdarahan atau di air laut)
bendungan Petekiae sedikit sekali karena
Kulit anserina pada permukaan anterior
kapiler terjepit di antara septum
interalveolar
tubuh terutama pada ekstrimitas akibat
kontraksi otot erektor pili karena Otak, hati , limpa dan ginjal
rangsangan dinginnya air mengalami perbendungan
Washer women hand
Lambung dapat sangat membesar
berisi air, lumpur dan sebagian
Cadaveric spasme dapat pula ditemukan di dalam
Luka luka lecet pada siku, jari tangam, usus halus
lutut dan kaki akibat gesekan gesekan
benda dalam air
168. Tenggelam
169. jenis jenis kesalahan dalam pelayanan medis

KETERANGAN
Adverse Event Cedera yang timbul akibat tindakan medis, bukan karena
penyakit yang diderita
Nonpreventable
adverse event
Error of omission Cedera yang terjadi akibat penyakit yang diderita oleh pasien
yang seharusnya dapat dicegah dengan perawatan yang optimal
contoh : terjadi ulkus dekubitus pada pasien stroke yang
mengalami imobilisasi lama
Error of comission Tenaga medis melakukan pekerjaan secara tidak benar yang
mengakibatkan cedera pada pasien (kesalahan dalam
merencanakan dan eksekusi tindakan medis)
Near Miss Tindakan medis yang salah namun tidak menimbulkan cedera
pada pasien (tapi tindakan tersebut berpotensi menimbulkan
efek samping)

Jeffcott S. Error of Omission. Centre of Research Excellence in Patient Safety


170. Abortus
Definisi
Abortus adalah kehamilan yang berhenti
prosesnya pada umur kehamilan di bawah 20
minggu, atau berat fetus yang lahir 500 gram atau
kurang (Chalik, 1998).
Berdasarkan proses terjadinya abortus dapat
digolongkan dalam dua golongan yaitu
Abortus spontan
Abortus provokatus (buatan).
Abortus provokatus terapeutik dan
abortus provokatus kriminalis
Missed Abortion keadaan dimana janin sudah
meninggal, tetapi tetap berada dalam rahim dan
tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
Abortus Habitualis abortus spontan yang
terjadi 3 kali atau lebih berturut - turut.
Abortus infeksiosus abortus yang disertai
infeksi pada genetalia
Abortus Septik abortus infeksiosus berat
disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam
peredaran darah atau peritoneum
170. Abortus
171. Persetujuan Tindakan Medis
172. Kepemilikan dan Manfaat Rekam Medis

Kepemilikan Rekam Medis


Sesuai UU Praktik Kedokteran, berkas rekam medis
menjadi milik dokter, dokter gigi, atau sarana
pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis dan
lampiran dokumen menjadi milik pasien.
Penyimpanan Rekam Medis
Rekam medis harus disimpan dan dijaga kerahasiaan
oleh dokter, dokter gigi dan pimpinan sarana
kesehatan. Batas waktu lama penyimpanan menurut
Peraturan Menteri Kesehatan paling lama 5 tahun dan
resume rekam medis paling sedikit 25 tahun
173. Deontologi

Deon duty, bahasa yunani


sesuatu yang harus dilakukan atau kewajiban
yang harus dilakukan sesuai dengan norma
sosial yang berlaku
Lakukan hal yang benar
Jangan melakukan hal hal yang salah
174. Pemeriksaan jenazah korban mati akibat asfiksia

Pemeriksaan Luar Pemeriksaan Dalam


Sianosis pada bibir, ujung Darah berwarna lebih gelap dan
lebih encer
ujung jari dan kuku
Busa halus pada saluran nafas
Warna lebam mayat merah Perbendungan sirkulasi pada
kebiruan gelap dan terbentuk seluruh organ dalam tubuh
lebih cepat sehingga menjadi lebih berat,
Petekiae pada mukosa usus halus,
Bus ahalus pada hidung dan epikardium pada bagian belakang
mulut akibat peningkatan jantung
aktivitas pernafasan pada fase Edema paru
1 disertai sekresi selaput lendir Tindakan kekerasan fraktur
saluran nafas bagian atas laring langsung atau tidak langsung,
perdarahan faring terutama bagian
Tardieu`s spot belakang rawan krikoid
175.JUSTICE

Memberi perlakuan sama kpd pasien utk kebahagiaan pasien &


umat manusia
Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga dari setiap mahluk (pasien) yang berakal
budi (aspek sosial).
Memberi sumbangan relatif sama kebutuhan mereka (kesamaan
sumbangan sesuai kebutuhan pasien)
Menuntut pengorbanan mereka secara relatif sama kemampuan mereka
(kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).

JUSTICE ; FAIRNESS
SESEORANG MENERIMA YANG SELAYAKNYA DIA TERIMA
DISTRIBUTIVE JUSTICE
DISTRIBUSI SUMBER DAYA DALAM MASYARAKAT
176. Luka bakar, luka trauma listrik, luka akibat petir

Luka bakar Luka trauma listrik Luka petir


-Terjadi akibat kontrak kulit -Dipengaruhi oleh tegangan -Petir adalah loncatan arus
dengan benda bersuhu tinggi listrik, kuat arus, tahanan listrik tegangan tinggi antra
kulit, luas dan lama kontak awan dan tanah
-Terdiri atas 4 kelas :
I. Eritema - kerusakan lapisan tanduk -Dapat mencapai 10 mega
II. Vesikel dan bullae kulit sebagai luka bakar volt, kuat arus hingga 100.000
III. Nekrosis koagulatif dengan tepi yang menonjol, A.
IV. Karbonisasi di sekitarnya terdapat daerah - aboresent mark (kemerahan
yang pucat dikelilingi oleh kulit seperti percabangan
-Kematian pada luka bakar kulit yang hiperemi pohon
disebabkan oleh syok -Metalisasi pemindahan
neurogen (commotio neuro partikel metal dari benda
vascularis) atau dehidrasi yang dipakai ke dalam kulit
-Magnetisasi benda metal
yang dipakai berubah
menjadi magnet
-Pakaian sering terbakar dan
robek
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
177. Ketentuan Rumah Sehat Sederhana
Kebutuhan Minimal Masa (penampilan) dan Ruang (luar -
dalam)
Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar
manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi
aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus, cuci dan
masak serta ruang gerak lainnya
Dari hasil kajian kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan
perhitungan ketinggian rata - rata langit langit adalah 2.80 m.

Kebutuhan minimum ruangan pada rumah sederhana sehat


perlu memperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:
kebutuhan luas per jiwa
kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK)
kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK)
kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Tabel 2. Kebutuhan Luas Minimum Bangunan dan Lahan untuk Rumah
Sederhana Sehat (Rs Sehat Sederhana)
178. Penyuluhan Kesehatan

Kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan


cara menyebarkan pesan, menanamkan
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau
dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada
hubungannya dengan kesehatan

http://creasoft.files.wordpress.com/2008/04/penmas.pdf
Metode Penyuluhan Kesehatan

METODE DEFINISI
Ceramah menerangkan dan menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan
secara lisan kepada
Sasaran: sekelompok orang
Diskusi Kelompok pembicaraan yang direncanakan dan dipersiapkan tentang suatu topik
Sasaran:5 20 peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi
Curah Pendapat suatu bentuk pemecahan masalah
setiap anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan masalah
yang terpikirkan
evaluasi atas pendapat pendapat tadi
Panel pembicaraan yang telah direncanakan di depan pengunjung atau
peserta tentang sebuah topik
Dilakukan oleh 3 orang atau lebih panelis dengan seorang pemimpin

Notoatmodjo, 2002
METODE DEFINISI
Bermain peran memerankan sebuah situasi dalam kehidupan manusia tanpa latihan
dilakukan oleh dua orang atu lebih
sebagai bahan pemikiran oleh kelompok
Demonstrasi menunjukkan pengertian, ide dan prosedur tentang sesuatu hal
memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, adegan
dengan menggunakan alat peraga.
Sasaran:kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya.
Simposium Serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2 sampai 5 orang dengan
topik yang berbeda tetapi saling berhubungan
Seminar sekelompok orang berkumpul untuk membahas suatu masalah
dibawah bimbingan seorang ahli yang menguasai bidangnya

Notoatmodjo, 2002
KERUCUT EDGAR DALE
179 180. Uji Diagnostik

Condition
(by gold standard)
Present Absent Total
Positive True positive False positive a + b
(a) (b)
Test Negative False True c+d
negative (c) negative (d)
d
Total a+c b+d a+b+
c+d
Sensitivity
Proportion of people with the present absent
disease who have a positive test
A sensitive test will rarely miss Positive a b a+b
disease in those who have it
negative c d c+d
Sn = a / (a +c)
a+c b+d a+b+c+d

Specificity Positive predictive value


proportion of patients without Probability of disease in a patient with a
the disease with a negative test positive (abnormal) test That a
A specific test will rarely identify positive test is a true positive
disease in someone who does Highly specific diagnostic tests have high
not have it PPV
Sp = d / b+d Ppv = a / a + b
Negative predictive value
Probability that a patient with a negative
test (normal) does not have disease
NPV = d / c +d
More sensitive tests have higher NPV
181. Prinsip Pelayanan dokter keluarga

HOLISTIK
Mencakup seluruh tubuh jasmani dan rohani
pasien (whole body system), nutrisi
Tidak hanya organ oriented
Patient and Family oriented
Memandang manusia sebagai mahluk
biopsikososial pada ekosistemnya
Aspek Diagnosis holistik
1. Alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran
2. Diagnosis kerja / diagnosis banding
(termasuk diagnosis okupasi bila ada)
3. Masalah perilaku dan mental-psikologis
pasien
4. Masalah fungsi biopsikososial keluarga /
lingkungan
5. Penilaian status sosial
Perilaku individu dan Aspek 3
gaya hidup (life style)
pasien, kebiasaan yang
menunjang terjadinya
penyakit, atau beratnya
penyakit
HT Jantung Koroner
kebiasaan merokok
kebiasaan jajan,
kebiasaan makan
Perilaku Diet tidak sehat
kebiasaan individu
mengisi waktu dengan
perihal yang negatif
(dietary habits;tinggi
lemak, tinggi kalori)
182. Kasus Flu Burung
183. Peranan dokter dalam komunitas

Care-provider
Besides giving individual treatment five-star
doctorsmust take into account the total (physical,
mental and social) needs of the patient.
They must ensure that a full range of treatment -
curative, preventive or rehabilitative - will be
spensed in ways that are complementary,
integrated and continuous.
And they must ensure that the treatment is of the
highest quality.
Decision-maker.
have to take decisions that can be justified in terms of efficacy and
cost. From all the possible ways of treating a given health condition,
the one that seems most appropriate in the given situation must be
chosen. As regards expenditure, the limited resources available for
health must be shared out fairly to the benefit of every individual in
the community.

Communicator
Lifestyle aspects suchas a balanced diet, safety measures at work,
type of leisure pursuits, respect for the environment and so on all
have a determining influence on health.
The involvement of the individual in protecting and restoring his or
her own health is therefore vital, since exposure to a health risk is
largely determined by ones behaviour.
The doctors of tomorrow must be excellent communicators in order
to persuade individuals, families and the communities in their
charge to adopt healthy lifestyles and become partners in the
health effort
Community leader
The needs and problems of the whole community - in a suburb or a
district - must not be forgotten. By understanding the determinants
of health inherent in the physical and social environment and by
appreciating the breadth of each problem or health risk five-star
doctors will not simply be treating individuals who seek help but
will also take a positive interest in community health activities
which will benefit large numbers of people.

Manager.
To carry out all these functions, it will be essential for five-star
doctors to acquire managerial skills. This will enable them to
initiate exchanges of information in order to make better decisions,
and to work within a multidisciplinary team in close association
with other partners for health and social development.
Both old and new methods of dispensing care will have to be
integrated with the totality of health and social services, whether
destined for the individual or for the community.
184. Healthy Carrier

Health carrier atau dikenal juga asimtomatik


carrier merupakan individu yang telah
terinfeksi suatu penyakit akan tetapi tidak
menunjukkan gejala sama sekali
185. Penentuan Prioritas Masalah
Kepedulian
Masalah Besarnya Derajat Ketersediaan JUMLAH
Masyarakat dan
Kesehatan masalah keparahan teknologi MxSxVxC
pejabat

TBC 4 6 9 3 648

Hipertensi 7 4 4 5 560

Gizi buruk 3 4 5 2 120

Diare 6 4 7 2 336

DBD 3 5 3 7 315

M: MAGNITUDE
S: SEVERITY
V: VULNERABILITY
C: COMMUNITY&POLITICAL CLIMATE
A: AFFORDABILITY
186. Posyandu
Definisi
Suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan
masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh
masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan
serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga
berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan
sumber daya manusia sejak dini
Sasaran Posyandu :
Bayi/Balita
Ibu hamil/ibu menyusui.
WUS(wanita usia subur) dan PUS(pasangan usia subur)
Kegiatan Pokok Posyandudilakukan 1 bulan sekali
KIA Imunisasi, penimbangan balita, pemberian makanan
tambahan
KB
Lmunisasi
Gizi
Penggulangan Diare PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan
RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011
PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan
RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011

Tujuan penyelenggara Posyandu


Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka
Kematian Ibu ( ibu Hamil, melahirkan dan nifas)
Membudayakan NKKBS
Meningkatkan peran serta dan kemampuan
masyarakat untuk mengembangkan kegiatan
kesehatan dan KB Berta kegiatan lainnya yang
menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat
sejahtera
Berfungsi sebagai Wahana Gerakan Reproduksi
Keluarga Sejahtera, Gerakan Ketahanan Keluarga
dan Gerakan Ekonomi Keluarga Sejahtera
http://posyandu.org/posyandu/514-posyandu-sebagai-peran-serta-masyarakat-dalam-peningkatan-kesehatan-
masyarakat.html
Kriteria Pembentukan
Pembentukan Posyandu tidak terlalu dekat
dengan Puskesmas
agar pendekatan pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat lebih tercapai
Satu Posyandu melayani 100 balita/700
penduduk/120 KK

= 2900/100
29 POSYANDU
Keberhasilan Posyandu
Cakupan SKDN
S : Semua balita diwilayah kerja Posyandu
K : Semua balita yang memiliki KMS
D : Balita yang ditimbang
N : Balita yang naik berat badannya

D / S : baik/kurangnya peran serta masyarakat


N / D : Berhasil tidaknya Program posyandu
PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan
RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011
Tingkat partisipasi masyarakat
(D/S x 100%)
minimal mencapai 80 %
<80 % partisipasi mayarakat untuk kegiatan pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah
Tingkat Liputan Program
(K/S x 100%)
Mencapai 100 %.
Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS
program Posyandu tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah
Balita kehilangan kesempatan untuk mendapat pelayanan dalam KMS
Tingkat Kehilangan Kesempatan{(S-K)/S x 100%)
Tingkat Keberhasilan Program Posyandu
(N/D x 100%)
Indikator Drop Out
balita yang sudah mempunyai KMS dan pernah datang menimbang
berat badannya tetapi kemudian tidak pernah datang lagi di posyandu
untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan
(K-D)/K x 100%

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan


RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011
PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU.
Kementerian Kesehatan RI dan Kelompok Kerja
JENJANG POSYANDU Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011

Posyandu Pratama (warna merah) :


belum mantap.
kegiatan belum rutin
kader terbatas < 5 Orang
Posyandu Madya (warna kuning) :
kegiatan lebih teratur > 8x/tahun
Jumlah kader >5 orang
cakupan kelima kegiatan utamanya masih rendah <50%
Posyandu Purnama (Warna hijau) :
kegiatan sudah teratur, > 8x/tahun
cakupan program/kegiatannya baik, >50%
jumlah kader, >5 orang
mempunyai program tambahan
memiliki Dana Sehat dan JPKM <50% KK
Posyandu Mandiri (warna biru) :
kegiatan secara terahir dan mantap
cakupan program/kegiatan baik.
memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap.
Cakupan K/S
dan N/D
termasuk dalam
Cakupan
Kumulatif KIA

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN
POSYANDU. Kementerian
Kesehatan RI dan
Kelompok Kerja
Operasional (POKJANAL
POSYANDU). 2011
187. Relative Risk

PJK Ya Tidak TOTAL


Merokok
Ya 75 225 300

Tidak 50 650 700

TOTAL 125 875 1000

RR = A/A+B : C/C+D= 3,5


188.
THT
189. Otitis Media
Acute Otitis Media
Agen penyebab: Streptococcus
pneumoniae 35%, Haemophilus
influenzae 25%, Moraxella
catarrhalis 15%.

Urutan kejadian pada otitis media akut:


1. Oklusi tuba: retraksi membran timpani atau berwarna keruh.
2. Hiperemik/presupurasi: tampak hiperemis dan pelebaran
pembuluh darah.
3. Supurasi: edema yanghebat pada mukosa telinga tengah,
bulging, demam, nyeri
4. Perforasi: membran timpani ruptur, demam menurun
5. Resolusi: jika membran timpani tetap utuh maka membran
timpani akan kembali normal.
1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
190. Hearing Loss
Otosclerosis: spongiosis dari tulang stapes tulang stapes kaku
tidak dapat menghantarkan suara ke labirin
Dalam praktik, otosklerosis lebih sering etrjadi apda wanita
daripada pria, dengan ratio 2:1. Kebanyakan pasien bergejala pada
umur 20 dan 45.
Tanda dan gejala:
Penurunan pendengaran bilateral namun asimetrik
Tinnitus
Paracusis Willisii: mendengar lebih baik pada keadaan berisik
Schwarte sign: Membran timpani merah karena vasodilatasi dari
pembuluh darah promontium.
Eustachius tube intak, tidak ada riwayat trauma atau penyakit telinga.

Penanganan: Stapedectomy atau stapedomy; mengganti stapes


dengan prosthesis.
191. Infeksi Hidung
Selulitis:
Sering terjadi pada puncak hidung & batang hidung akibat
perluasan furunkel.
Hidung bengkak, kemerahan, sangat nyeri.
Etiologi: streptokokus & stafilokokus.
Antibiotik sistemik.

Vestibulitis:
Infeksi pada vestibulum akibat iritasi sekret rongga hidung atau
trauma karena dikorek-korek.
Furunkel juga dapat terjadi pada vestibulum nasi & potensial
berbahaya karena dapat menyebar ke vena fasialis, vena
oftalmika, lalu ke sinus kavernosus tromboflebitis sinus
kavernosus.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007
192. Otitis Media With Cholesteatoma
Chronic suppurative otitis media
Classification:

Jinak / tipe mukosa:


Tidak melibatkan tulang
Perforasi : sentral.
Large central perforation
Therapi : cuci telinga dengan H2O2 3%
selama 3-5 hari, tetes telinga AB &
steroid, systemic AB

Ganas/ tipe tulang:


Melibatkan tulang atau kolesteatoma.
Tipe Perforasi: marginal atau attic.
Terapi: mastoidectomy.

Cholesteatoma at attic
type perforation
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
192. Otitis Media dengan
Kolesteatoma
Aural cholesteatomas adalah kista inklusi epidermal dari telinga
tengah atau mastoid. Jaringan ini mengandung debris deskuamasi
(keratin), dari jaringan epitel gepeng berkeratin.

Ekspansi kolesteatoma erosi tulang ossicle, kapsul otikus, kanal


nervus fasialis, tegmen tympani, & tegmen mastoideum.

Dapat menyebabkan komplikasi intrakranial :


Penurunan pendengaran: conductive, sensorineural, mixed type
Labyrinthe fistula: mainly horizontal semicircular canal, rarely cochlea
Facial nerve paralysis: acute or chronic
Infeksi Intracranial
Brain hernia atau kebocoran cairan cerebrospinal
Penyebaran kerusakan oleh koleseteatoma dapat menyebabkan
labyrinitis vertigo & tuli sensorineural.
192. Otitis Media dengan
Kolesteatoma
Kolesteatoma dapat dieradikasi dari tulang
temporal dengan mastoidektomi.
Tujuan dari pembedahan:
Eradikasi penyakit
Penanganan komplikasi
rekonstruksi telinga telinga tengah
193. Rhinitis alergi
194. Le Fort

Le Fort 1 (horizontal): maxila


Le Fort 2 (piramidal): masila, os nasal, dan aspek
medial orbita
Le Fort 3: disosiasi craniofasial yang melibatkan
arkus zigomatik
194. Head & Facial Trauma
Maxillary (Le Fort) fractures
194. Head & Facial Trauma
195. Gangguan penghidu
Hiposmia: daya penghidu berkurang. Etiologi:
rhinitis, deviasi septum, polip, tumor.
Anosmia: daya penghidu hilang. Bisa disebabkan
oleh trauma di frontal atau oksipital, tumor.
Parosmia: sensasi penghidu perubah. Disebabkan
karena trauma
Kakosmia: halusinasi bau. Terjadi pada epilepsi
unsinatus, lobus temporalis. Dapat juga dijumpai
pada kelainan psikologis.
196. Nodul Pita Suara/Vocal nodule
Kelainan ini biasanya disebabkan oleh
penggunaan suara dalam waktu lama, seperti
pada seorang guru, penyanyi dan sebagainaya.
Keluhan: suara parau, batuk.
Pada pemeriksaan fisik: nodul pita suara, sebesar
akcang hijau berwarna keputihan. Predileksi di
sepertiga anterior pita suara dan sepertiga
medial. Nodul biasanya bilateral.
Pengobatan: istirahat bicara dan voice therapy.
Tindakan bedah mikro dilakukan bida dicurigai
adanya keganansan atau lesi fibrotik.
196. Vocal Cord Anatomy

Supraglotis: Ruang
laryngeal diatas
plika ventricularis.
Glotis: antara
plika ventricularis
& plika vocalis
Subglotis: ruang
laryngeal dibawah
plica vocalis
Grays anatomy for students. 2nd ed. Saunders.
Polip pita suara: lesi bertangkai apda seprtiga
anterior, sepertiga tengah atau seluruh pita suara.
Pasien biasa mengeluhkan suara parau.
Kista pita suara: kista retensi kelenjar minor
laring, terbentuk akibat tersumbatnya kelenjar
tersebut Faktor risiko: iritasi kronis, GERD dan
infeksi.
Keganasan laring: Keganasan pada daerah laring,
faktor risiko berupa perokok, peminum alkohol
dan terpajan sinar radioaktif.
196. Berbagai Kelainan Laryngeal
Diagnosis Characteristic
Polip pita suara Penyebab: inflamasi kronik. Polip bertangkai, unilateral. Di
sepertiga anterior/medial/seluruhnya. Dapat terjadi di segala
usia, umumnya dewasa. Gejala: parau. Jenis: polip mukoid
(keabu-abuan & jernih) & polip angiomatosa (merah tua).
Papilloma laring Tumbuh pada pita suara anterior atau subglottik. Seperti buah
murbei, putih kelabu/kemerahan. Sangat rapuh, tidak
berdarah, & sering rekuren.
Gejala: parau, kadang batuk, sesak napas. Terapi: ekstirpasi.
Carcinoma Faktor risiko: merokok.
Gejala: serak, dispnea, stridor, batuk (jarang pada tumor
glotik), hemoptisis (tumor glotik & supraglotik), pembesaran
KGB leher. Laringoskopi: tampak rapuh, nodular, ulseratif atau
perubahan warna mukosa.
Nodul pita suara Penyebab: penyalahgunaan suara dalam waktu lama. Suara
parau. Laringoskopi: nodul kecil berwarna keputihan,
umumnya bilateral, di sepertiga anterior/medial.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Papillomatosis

Vocal nodules
Vocal cord polyp

Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.


197. Benda Asing Yang Tersedak
(Swallowed Foreign bodies)
Gejala: Seperti tercekik, batuk, disfagia,
odinofagia dan hypersalivasi.

Pada jangka waktu yang panjang, benda


asing dapat menyebabkan perkembangan
jaringan granulasi atau peradangan
periesofageal.

Radiologis: PA & lateral cervical esophagus


& CXR.
Radioluscent FB may be known from
inflammation signs

Terapi: esophagoscopi dengan forceps. Jika


gagal: cervicotomy atau thoracotomy.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Grays anatomy for students. 1st ed. Saunders; 2005.
198. Mastoiditis
Mastoiditis
Hasil persebaran otitis media akut ke sel udara mastoid dengan supurasi dan
nekrosis tulang.
Gejala:
Nyeri, otorrheae (biasanya banyak) , ketulian yang meningkat.
Pemeriksaan fisik:
Demam, antrum mastoid yang melunak (tenderness), pembengkakan pada
postaurikular, pinna turun ke bawah, dan ke depan, membran timpani
perforasi dan ada sekret, kemerahan dan membonol.
Investigasi: CT scan memperlihatkan opasitas dan penggabuangan sel udara.
Penanganan:
Antibiotics IV. Organisme yang tidak diketahui dan tidak ada pus pada
pembiakan, mulai dengan amoxycillin & metronidazole .
Cortical mastoidectomy. Jika ada abses subperioteal atau jika respon
antibiotik tidak adekuat dapat dilakukan cortical mastoidectomy.

Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat.


198. Mastoiditis
Mastoiditis Akut
Seiring dengan perburukan infeksi, edema dan eritema
dari jaringan lunak postaurikular akan menyebabkan
kerusakan jaringan lanjut yang menyebabkan penggantian
pinna.
Jika abses subperioteal telah berkembang, fluktuasi dapat
ditemukan.
Dalam keadaan yang jarang, abses mastoid dapat menjalar
ke leher (Bezold's abscess) atau tulang oksipital (Citelli
abscess).
Setelah diagnosis mastoidits akut dicurigai, investigasi
radiologis pilihan adalah CT-scan, yang memberikan
informasi tentang derajat opasitas dari sel-sel udara dari
mastoid, pembentukan abses subperiosteal, dan adanya
komplikasi intracranial.
Current diagnosis & treatment in otorhinolaryngology.
198. Mastoiditis
Postauricular abscess merupakan
salah satu komplikasi dari
mastoiditis
Infeksi menjalar dari mastoid ke
ruang subperiosteal.
Pada keadaan tahap akhir, infeksi
jaringan lunak berakhir kepada
nekrosis jaringan dan
pembentukan abses. Sekitar
jaringan lunak akan menebal,
peradangan, eritema, dan
fluktuasi.
Ketika mastoditis telah menjadi
abses, eksisi dan drainase dengan
mastoidektomi diindikasikan.

1) Cummings otolaryngology head & neck surgery.


199. Tonsilitis difteri
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium
diphteriae, kuman gram positif.
Gejala: kenaikan suhu subfebris, nyeri kepala,
tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat
serta keluhan nyeri menelan.
Pemeriksaan fisik: Tonsil membengkak
ditutupi bercak putih kotor yang melekat erat
dengan dasarnya, mudah berdarah, infeksi
yang menjalar ke kelenjar limfe bull neck (+)
Terapi
Anti difteri serum 20.000-100.000 unit
Antibiotik Penicillin atau Eritromisin 25-50 mg/kg
dibagi 3 dosis selama 14 hari
Kortikosteroid 1,2 mg/kgbb/ hari
Pengobatan simptomatis (antipiretik)
Isolasi dan tirah baring selama 2-3 minggu
200. Infiltrat Peritonsil
Infiltrat peritonsil merupakan satu tahap sebelum
terjadinya abses. Namun pada infiltrate jumlah pus belum
banyak dan terlokalisir sehingga tidak ditemukan fluktuasi.
Komplikasi dari tonsilitis yang tidak diobati dengan
sempurna.
Pada daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan
jaringan ikat longgar sehingga bisa terjadi penjalaran pus.
Keluhan: nyeri menelan, trismus, hipersalivasi.
Pada pemeriksaan fisik terlihat: palatum mole
membengkak dan uvula bergeser
Terapi: antibiotik, obat kumur dan obat simptomatik.