Anda di halaman 1dari 24

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) sebagai salah satu strategi


pembinaan Calon Guru Keahlian Ganda dan tenaga kependidikan diharapkan
dapat menjamin guru dan tenaga kependidikan mampu secara terus menerus
memelihara, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan PKB bagi calon Guru
Keahlian Ganda akan mengurangi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki
guru dan tenaga kependidikan dengan tuntutan profesional yang dipersyaratkan.
Guru dan tenaga kependidikan wajib melaksanakan PKB baik secara mandiri
maupun kelompok. Khusus untuk PKB dalam bentuk diklat dilakukan oleh
lembaga pelatihan sesuai dengan jenis kegiatan dan kebutuhan guru.
Penyelenggaraan diklat PKB Grade 1 dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK
KPTK atau penyedia layanan diklat lainnya. Pelaksanaan diklat tersebut
memerlukan modul sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat. Modul
merupakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh
peserta diklat berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi
yang disajikan secara sistematis dan menarik untuk mencapai tingkatan
kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
Modul diklat Pengelolaan Usaha ini untuk guru dan tenaga kependidikan calon
Keahlian Ganda merupakan acuan bagi penyelenggara pendidikan dan pelatihan
dalam memfasilitasi pencapaian kompetensi dalam pelatihan yang diperlukan
guru pada saat melaksanakan kegiatan PKB.

B. Tujuan
Modul Pengelolaan Usaha membahas tentang ekonomi kreatif dalam mengelola
usaha, strategi bauran pemasaran, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan
dokumen dengan tujuan untuk memfasilitasi peserta dengan sikap, pengetahuan
dan keterampilan tentang cara pengelolaan usaha yang dipersyaratkan pada
kegiatan pembelajaran mengaitkan kompetensi pengelolaan usaha dibidang
perhotelan, kepariwisataan, tata boga, kecantikan kulit dan kecantikan rambut.
Sikap, pengetahuan dan keterampilan tersebut merupakan kompetensi-
Pengelolaan Usaha
1
kompetensi profesional yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia agar mampu:
1. Memahami ekonomi kreatif, cara merencanakan, mengelola usaha
dibidangnya dan mengevaluasi secara komprehensif dengan memanfaatkan
ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni.
2. Memecahkan permasalahan secara ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau seni
di dalam bidang keilmuannya.
3. Mampu mengambil keputusan strategis dengan akuntabilitas dan tanggung
jawab penuh dalam mengelola usaha yang dijalankan sesuai bidang usahanya.

Kemampuan ini merupakan bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan


agar para guru calon keahlian ganda dapat menguasai materi, struktur, konsep
dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu di lingkup
pendidikan kejuruan yang akan menyumbang pengembangan profesi di bidang
pengelolan usaha yang dapat diterapkan dimasing-masing paket kompentensi.

Pengelolaan Usaha
2
Ekonomi Kreatif dan Strategi Bauran Pemasaran
dalam Mengelola Usaha
A Tujuan
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran tentang ekonomi kreatif dan
strategi bauran pemasaran, peserta diklat mampu:
1. Menjelaskan ekonomi kreatif
2. Menerapkan strategi produk
3. Menerapkan strategi harga
4. Menerapkan startegi promosi
5. Menerapkan strategi distribusi

A. Indikator Pencapaian Kompetensi


Indikator pencapaian kompetensi pada materi ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian ekonomi kreatif
2. Menerapkan strategi produk dalam mengelola usaha
3. Menerapkan strategi harga dalam mengelola usaha
4. Menerapkan strategi promosi dalam mengelola usaha
5. Menerapkan strategi distribusi dalam mengeloa usaha

B. Uraian Materi
1. Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang
mengintensifkan informasi dan kreatifitas dengan mengandalkan ide dan
keluasan pengetahuan dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor
produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
Alasan Indonesia perlu mengembangkan ekonomi kreatif antara lain
karena ekonomi kreatif berpotensi besar dalam memberikan kontribusi
ekonomi yang signifikan, menciptakan Iklim bisnis yang positif, membangun
citra dan identitas bangsa, mengembangkan ekonomi berbasis kepada
sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas yang
merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, dan memberikan dampak
sosial yang positif. Sub sektor ekonomi kreatif terdiri atas :

Pengelolaan Usaha
3
1. Periklanan (advertising):

Kegiatan kreatif yang berkaitan jasa periklanan (komunikasi satu arah


dengan menggunakan medium tertentu).

2. Arsitektur

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan desain bangunan secara


menyeluruh baik dari level makro sampai level mikro.

3. Pasar Barang Seni

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang


asli, unik dan langka serta memiliki nilai estetika seni yang tinggi.

4. Kerajinan (craft)

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi


produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari
desain awal sampai proses penyelesaian produknya.

5. Desain

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain grafis, desain


interior, desain produk, desain industri, konsultasi identitas perusahaan
dan jasa riset pemasaran serta produksi kemasan dan jasa
pengepakan.

6. Fesyen (fashion)

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas
kaki, dan desain aksesoris mode lainnya.

7. Video, Film dan Fotografi

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi produksi video, film, dan
jasa fotografi, serta distribusi rekaman video dan film.

Pengelolaan Usaha
4
8. Permainan Interaktif (game)

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi, dan distribusi


permainan komputer dan video yang bersifat hiburan, ketangkasan,
dan edukasi. Subsektor permainan interaktif bukan didominasi sebagai
hiburan semata-mata tetapi juga sebagai alat bantu pembelajaran atau
edukasi.

9. Musik

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi/komposisi, pertunjukan,


reproduksi, dan distribusi dari rekaman suara.

10. Seni Pertunjukan (showbiz)

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha pengembangan konten,


produksi pertunjukan.

11. Penerbitan dan Percetakan

Kegiatan kreatif yang terkait dengan penulisan konten dan penerbitan


buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan
kantor berita dan pencari berita.

12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak (software)

Kegiatan kreatif yang terkait dengan pengembangan teknologi


informasi termasuk jasa layanan computer serta perawatannya.

13. Televisi & Radio (broadcasting)

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan usaha kreasi, produksi dan


pengemasan acara televisi dan radio.

14. Riset dan Pengembangan (R&D):

Pengelolaan Usaha
5
Kegiatan kreatif terkait dengan usaha inovatif yang menawarkan
penemuan ilmu dan teknologi serta penerapan ilmu dan pengetahuan
tersebut untuk perbaikan produk dan kreasi produk baru,

15. Kuliner

Kegiatan kreatif dengan usaha inovatif yang menawarkan produk-


produk kuliner yang menarik, mulai dari penyajian, cara pembuatan,
sampai dengan komposisi makanan atau minuman yang disajikan.

Untuk pariwisata dapat dikembangkan pada bidang Transportasi,


Infrastruktur, Akomodasi (tempat menginap), dan Paket Wisata.

2. Strategi Bauran Pemasaran


Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan dalam mengelola
usahanya untuk mencapai tujuan, harus menerapkan strategi bauran
pemasaran, meliputi :
a. Strategi produk
Dalam mengelola usaha, langkah yang pertama dilakukan adalah strategi
produk. Hal ini penting karena yang akan dijual adalah produk, dan
konsumen akan mengenal perusahaan melalui produk yang ditawarkan.
Dalam strategi produk yang perlu diingat adalah yang berkaitan dengan
produk secara utuh, mulai dari nama produk, bentuk, isi, atau pembungkus.

Strategi produk yang perlu dilakukan dalam mengembangkan produk


adalah sebagai berikut:
1). Menentukan Logo dan Motto
Logo merupakan ciri khas suatu perusahaan, sedangkan motto
merupakan serangkaian kata yang berisikan visi dan misi perusahaan
dalam melayani masyarakat. Baik logo maupun motto harus dirancang
secara baik dan benar. Dalam menentukan logo dan motto perlu
beberapa pertimbangan, yaitu :
Memiliki arti (dalam arti positif);
Menarik perhatian;
Mudah diingat.
Pengelolaan Usaha
6
2). Menciptakan Merk
Merek merupakan suatu tanda bagi konsumen untuk mengenal barang
atau jasa yang ditawarkan. Pengertian merek sering diartikan sebagai
nama, istilah, simbol, desain, atau kombinasi dari semuanya. Agar
merek mudah dikenal masyarakat, penciptaan merek harus
mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
Mudah diingat;
Terkesan hebat dan modern;
Memiliki arti (dalam arti positif);
Menarik perhatian.
3). Menciptakan Kemasan
Kemasan merupakan pembungkus suatu produk. Penciptaan
kemasanpun harus memenuhi berbagai persyaratan, seperti :
Kualitas kemasan (tidak mudah rusak);
Bentuk atau ukuran termasuk desain menarik;
Warna menarik, dsb.

4). Keputusan Label


Label meruapkan sesuatu yang dilekatkan pada produk yang
ditawarkan dan merupakan bagian dari kemasan. Di dalam label harus
dijelaskan :
Siapa yang membuat;
Dimana dibuat;
Kapan dibuat;
Cara menggunakannya;
Waktu kadaluarsa;
Dan informasi lainnya

b. Strategi Harga
Setelah produk berhasil diciptakan dengan segala antributnya, langkah
selanjutnya adalah menentukan harga produk. Penentuan harga yang akan
ditetapkan harus disesuaikan dengan tujuan perusahaan. Adapun tujuan

Pengelolaan Usaha
7
penentuan harga oleh suatu perusahaan secara umum adalah sebagai
berikut:
1). Untuk bertahan hidup
Jika tujuan perusahaan dalam menentukan harga adalah untuk bertahan
hidup, penentuan harga dilakukan semurah mungkin. Tujuannya adalah
agar produk atau jasa yang ditawarkan laku dipasaran dengan harga
murah, tetapi masih dalam kondisi yang menguntungkan.
2). Untuk memaksimalkan laba
Penentuan harga bertujuan agar penjualan meningkat, sehingga laba
menjadi maksimal. Penentuan harga biasanya dapat diakukan dengan
harga murah atau tinggi
3). Untuk memperbesar market share
Untuk memperbesar market share maksudnya adalah untuk
memperluas atau memperbesar jumlah pelanggan. Penentuan harga
murah yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah pelanggan dan
pelanggan pesaing beralih ke produk yang ditawarkan.

4). Mutu produk


Tujuan penentuan harga dengan pertimbangan mutu produk adalah
untuk memberikan kesan bahwa produk atau jasa yang ditawarkan
memiliki kualitas yang tinggi atau lebih tinggi dari kualitas pesaing.
Biasanya harga ditentukan setinggi mungkin karena masih ada
anggapan bahwa produk yang berkualitas adalah produk yang harganya
lebih tinggi dibandingkan harga pesaing.
5). Karena pesaing
Penentuan harga dengan melihat harga pesaing bertujuan agar harga
yang ditawarkan lebih kompetitif dibandingkan harga yang ditawarkan
pesaing. Artinya dapat melebihi harga pesaing untuk produk tertentu
atau sebaliknya bisa lebih rendah.

Pengelolaan Usaha
8
Setelah ditetapkan tujuan dari penentuan harga, langkah selanjutnya adalah
menentukan besarnya harga berdasarkan angka. Besarnya nilai harga yang
harus dipasang tentu disesuaikan dengan tujuan penentuan harga.

Berikut ini beberapa metode dalam penentuan suatu harga produk


1). Modifikasi harga atau diskriminasi harga dapat dilakukan menurut hal-hal
berikut.
a. Menurut pelanggan
Harga dibedakan berdasarkan pelanggan utama (primer) atau
pelanggan biasa (sekunder). Pelanggan utama adalah konsumen
yang loyal dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Penentuan
harga untuk pelanggan utama biasanya relatif lebih murah.
b. Menurut bentuk produk
Harga ditentukan berdasarkan bentuk atau ukuran produk atau
kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh suatu produk. Misalnya, untuk
kartu kredit ada master card dan visa card.
c. Menurut tempat
Harga ditentukan berdasarkan lokasi atau wilayah di mana produk
atau jasa tersebut ditawarkan. Hal ini dilakukan karena setiap wilayah
atau daerah memiliki daya beli dan kondisi persaingan tersendiri.

d. Menurut waktu
Harga ditentukan berdasarkan periode atau masa tertentu. Harga
tersebut dapat berubah pada jam-jam tertentu (telepon), hari-hari
tertentu (untuk hotel hari Sabtu dan Minggu), dan Minggu atau bulan-
bulan tertentu (musiman).

2). Penetapan harga untuk produk baru


a. Market Skimming pricing
Yaitu harga awal produk yang ditetapkan setinggi-tingginya dengan
tujuan produk atau jasa memiliki kualitas.
b. Market penetration pricing

Pengelolaan Usaha
9
Yaitu menetapkan harga serendah mungkin dengan tujuan untuk
menguasai pasar.
3). Metode Penetapan harga
a. Cost plus pricing
Metode ini adalah menentukan harga jual per unit produk dengan
menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu
untuk menutup laba yang anda kehendaki pada unit tersebut, atau
disebut marjin. Penentuan harga ini biasanya digunakan untuk
usaha yang menghasilkan produk. Harga jual produk dapat dihitung
dengan rumus:
Harga Jual = Biaya Total + Marjin
Biaya total merupakan Total Biaya Tetap ditambah Total Biaya
Variabel yang terjadi pada suatu periode.
Biaya tetap (fixed cost) merupakan biaya/pengeluaran bisnis yang
tidak bergantung pada jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh
bisnis tersebut. Pengeluaran ini berkaitan dengan waktu, seperti gaji
atau beban sewa yang dibayar setiap bulan berapapun barang atau
jasa yang dihasilkan pada bulan tersebut. Sehingga biaya tetap
sering diartikan sebagai biaya yang jumlahnya selalu tetap, tidak
tergantung pada jumlah barang/jasa yang dihasilkan.
Contoh biaya tetap untuk usaha di bidang boga (misalnya usaha
warung makan) adalah :
Peralatan masak (wajan, panci, kompor dll)
Peralatan jualan (gerobak/etalase, meja, kursi, piring, sendok,
gelas dll)
Gaji pegawai
Spanduk
Sewa tempat
Sedangkan biaya variabel (variable cost) adalah biaya/pengeluaran
bisnis yang berubah-ubah jumlahnya mengikuti jumlah barang/jasa
yang dihasilkan. Semakin besar volume/jumlah barang/jasa yang
dihasilkan maka akan semakin besar biaya variabel yang dikeluarkan.
Biaya variabel ini berkaitan dengan biaya yang dikeluarkan per
barang/jasa yang diproduksi.

Pengelolaan Usaha
10
Contoh biaya variabel untuk usaha di bidang boga (misalnya usaha
warung makan) adalah :
Bahan utama (Daging ayam, Minyak Goreng)
Bahan pendukung (Bumbu, plastik/kertas pembungkus)
Gas
Rumus menghitungnya adalah sebagai berikut:
Harga Jual = ( (TFC + TVC ) / TS ) + M
Keterangan :
TFC = Total Fixed Cost (Total Biaya tetap)
TVC = Total Variable Cost (Total Biaya Variabel)
TS = Total Sales (Total penjualan)
M = Margin Laba

Contoh untuk usaha ayam goreng jumlah biaya tetap per bulan yang
dibutuhkan sebesar Rp 1.600.000,00 dan total biaya variabel sebulan
sebesar Rp 4.400.000,00. Total penjualan sebulan 1.200 potong ayam
goreng. Dengan keuntungan yang dikehendaki sebesar Rp 500,00 per
potong. Maka perhitungan harga jualnya adalah sebagai berikut:

Harga Jual = ( (TFC + TVC ) / TS ) + M


= Rp 1.600.000,00 + Rp 4.400.000,00 + Rp 500,00
1.200 potong
= Rp 5.500,00/potong
Namun jika telah diketahui biaya variabel satuan untuk tiap produk,
maka bisa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Harga jual = VC + FC + M
TS
Keterangan :
VC = Variable Cost (Biaya Variabel)
FC = Total Fixed Cost (Total Biaya tetap)
TS = Total Sales (Total penjualan)
M = Margin Laba

Contoh biaya tetap per bulan yang dibutuhkan sebesar Rp 1.600.000,00


dan total biaya variabel per potong ayam goreng sebesar Rp 3.667,00.
Total penjualan sebulan 1.200 potong ayam goreng. Dengan
keuntungan yang dikehendaki sebesar Rp 500,00 per potong. Maka
perhitungan harga jualnya adalah sebagai berikut:

Pengelolaan Usaha
11
Harga Jual = VC + FC + M
TS

Harga Jual = Rp 3.667,00 + Rp 1.600.000,00 + Rp 500


1.200 potong
= Rp 3.667,00 + Rp 1.333,00 + Rp 500
= Rp 5.500,00/potong

b. Penetapan Harga MarkUp (MarkUp Pricing Method)


Penetapan harga markup ini hampir sama dengan penetapan harga
biaya plus. Penetapan harga markup ini sering digunakan oleh
pedagang atau perusahaan dagang. Jumlah mark up bisa berupa jumlah
rupiah yang dikehendaki ataupun berbentuk prosentase dari harga beli.
Caranya lebih sederhana. Anda membeli barang dagangan, kemudian
harga jualnya ditentukan setelah menambah harga beli dengan sejumlah
markup,seperti rumus di bawah ini:

Harga Jual = Harga Beli + Mark Up

Contoh: pedagang kue, membeli kue seharga Rp 3.000,00. Kemudian


ingin mendapat keuntungan Rp 1.000,00, jadi kue dijual seharga :
Rp. 3.000,00 + Rp 1.000,00 = Rp. 4.000,00.
c. Penetapan Harga dalam Hubungannya dengan Pasar (Market Based
Pricing)
Kalau menggunakan cara yang satu ini, penentuan harga tidak
didasarkan pada biaya, tetapi justru sebaliknya. Harga yang menentukan
biaya bagi usaha anda. Anda dapat menentukan harga sama dengan
tingkat harga pasar agar dapat ikut bersaing, atau dapat juga ditentukan
lebih tinggi atau lebih rendah dari tingkat harga dalam persaingan.
Tergantung strategi dan segmentasi pasarnya.
d. Break Even Point (BEP) atau Target Pricing, yaitu harga ditentukan
berdasarkan titik impas (pulang pokok)
Break Even Point (BEP) atau titik impas adalah sebuah istilah ekonomi
yang menunjukkan kapan total keuntungan sebuah usaha setara atau
sama dengan modal yang telah dikeluarkan. Titik impas bisa
menunjukkan mulai kapan usaha anda memberikan keuntungan yang
sesungguhnya.
Pengelolaan Usaha
12
Dengan asumsi Pendapatan Total (TR) adalah sama dengan Biaya total
(TC) maka perhitungan BEP berdasarkan unit dapat diturunkan melalui
turunan rumus berikut :

TR : Pendapatan total (Total Revenue)


P : Harga Per Unit (jual)
X : Jumlah Unit
TC : Biaya total (Total Cost)
TFC : Biaya tetap total (Total Fix Cost)
V : Biaya variabel per unit (produksi)

Misalkan kita ingin menghitung BEP usaha frenchise ayam goreng. Modal
awal yang diperlukan hingga usaha siap berjalan adalah Rp 21 juta. Ongkos
produksi untuk setiap 1 item (potong) ayam goreng adalah Rp 5.000,00
(termasuk untuk minyak goreng, tepung, bumbu, ongkos kerja, dan lain
sebagainya) Sedangkan harga jual Rp 8.000,00 per potong ayam. Maka
perhitungan BEP usaha tersebut dilakukan sebagai berikut:
BEPunit : X = TFC / ( P V)
= Rp 21.000.000,00 / (Rp 8.000,00/potong - Rp 5.000,00/potong
= 7.000 potong

Kalau secara rata-rata terjual 20 potong ayam per hari maka waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai BEP adalah 7.000/20 = 350 hari. Kalau bisa laku
35 potong per hari maka 7.000/35 = 200 hari, dan seterusnya.

Jadi berapa omzet yang harus diperoleh untuk BEP? Jawabannya adalah
jumlah unit barang dikali harga jual :

BEPRupiah = 7.000 x Rp 8.000,00 = Rp 56.000.000,00

Untuk menghitung jumlah omzet saat BEP tanpa menghitung jumlah unit
dahulu, maka menggunakan rumus berikut :

Keterangan :
FC : Biaya Tetap
P : Harga jual per unit
VC : Biaya Variabel per unit

Pengelolaan Usaha
13
Berdasarkan data pada contoh di atas maka BEP nilai atau rupiah didapat
pada saat mencapai omset berikut ini :

BEPNilai = Rp 21.000.000,00 / ( 1 [Rp 5.000,00 / Rp 8.000,00] )


= Rp 21.000.000,00 / (1 0,625)
= Rp 56.000.000,00

Untuk mempercepat BEP maka bisa dengan menaikan harga bagi produk
yang elastisitas pemintaannya rendah. Karena kenaikan harga tidak
berdampak signifikan terhadap permintaan pasar. Sedangkan produk yang
elastisitas permintaannya tinggi maka untuk mempercepat BEP bisa
dilakukan dengan menurunkan harga. Dengan harga turun maka permintaan
meningkat maka volume penjualan akan meningkat tinggi walaupun margin
laba lebih rendah.

e. Percieved Value Princing


Yaitu penentuan harga yang didasarkan oleh kesan (persepsi) pembeli
terhadap produk yang ditawarkan. Kadang-kadang mutu atau kualitas produk
tidak sesuai dengan harga produknya. Artinya, mutunya biasa saja, namun
harganya tinggi.

3. Strategi Promosi
Promosi pada hakekatnya adalah suatu upaya atau kegiatan perusahaan dalam
mempengaruhi konsumen aktual, yaitu : konsumen yang langsung membeli
produk yang ditawarkan pada saat atau sesaat setelah promosi produk tersebut
dilancarkan perusahaan maupun konsumen potensial adalah konsumen yang
berminat melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan perusahaan
dimasa yang akan datang. Ada 5 (lima) jenis kegiatan promosi, yaitu :
1. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal dengan
menggunakan berbagai media baik lisan maupun tulisan yang ditujukan untuk
merangsang pembeli. Pemilihan kata dalam mempromosikan produk dalam
bentuk tulisan hendaknya :
Jelas, kata yang maksudnya tidak akan ditafsirkan lain oleh pembaca
sebagaimana yang dikehendaki penulisnya.
Lugas, sederhana, tidak berbelit-belit dan tidak berlebih-lebihan. Kata-kata
tersebut hanya memiliki satu pengertian saja.
Pengelolaan Usaha
14
Umum, Pilihlah kata-kata yang umum dipakai dalam komunikasi di
masyarakat.
Baku, bahasa yang strukturnya standar. Yaitu kata-kata yang sudah
dinyatakan benar baik ditinjau dari segi penulisan, pengucapan dan artinya.
Sopan, kata yang memiliki makna yang membuat sejuk/senang yang
membacanya. Tidak membuat orang lain menjadi marah atau gusar karena
makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut. Tata cara melakukan
promosi dengan komunikasi tulisan

Kepala surat
Nama kantor/organisasi/alamat lengkap

No. Surat : No.SK/Unit Kerja/Bulan/Tahun Tanggal Surat : Tanggal/Bulan/Tahun


Alamat Dalam :
Nama orang/Jabatan/perusahaan
Alamat lengkap perusahaan
Perihal : inti surat secara singkat
Salam Pembuka :
Merupakan tanda hormat pengirim surat
Isi Surat :
Alinea Pembukaan, berguna untuk mengantar dan menarik perhatian pembaca terhadap pokok surat.
Alinea Isi surat,berisi sesuatu yang diberitahukan atau yang disampaikan kepada penerima surat.
Alinea Penutup surat, merupakan simpulan yang berfungsi sebagai kunci isi surat. Misalnya: Atas
perhatian Bapak, kami ucapkan terimakasih.
Salam Penutup:
Nama jabatan/Tanda tangan
Nama terang

Lampiran : Menunjukkan sesuatu yang disertakan bersama dengan surat itu,


1. Bentuk surat lurus penuh (full block: Pengonsep/Pengetik/Penjab
Inisial style)

2. Bentuk surat setengah lurus (semi block style)

Pengelolaan Usaha
15
3. Bentuk surat lurus (block style)

4. Bentuk surat resmi Indonesia lama

2. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi secara


personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan calon
pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
3. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal
mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan
mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah).
4. Promosi Penjualan (Sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi
diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
5. Pemasaran Langsung (Direct marketing), yaitu suatu bentuk penjualan
perorangan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi pembelian
konsumen.

Promosi penjualan yang dilakukan oleh penjual dapat dikelompokkan


berdasar tujuan yang ingin dicapai. Pengelompokan tersebut adalah
sebagai berikut :
1) Customer promotion, yaitu promosi yang bertujuan untuk mendorong
atau merangsang pelanggan untuk membeli.

Pengelolaan Usaha
16
2) Trade promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk
merangsang atau mendorong pedagang grosir, pengecer, eksportir dan
importir untuk memperdagangkan barang / jasa dari sponsor.
3) Sales-force promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk
memotivasi armada penjualan.
4) Business promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk
memperoleh pelanggan baru, mempertahankan kontrak hubungan
dengan pelanggan, memperkenalkan produk baru, menjual lebih banyak
kepada pelanggan lama dan mendidik pelanggan.
Namun yang jelas apapun jenis kebutuhan yang akan diprogramkan untuk
dipengaruhi, tetap pada perencanaan bagaimana agar perusahaan tetap
eksis dan berkembang. Apalagi jika perusahaan tersebut mempunyai lini
produk lebih dari satu macam.

4. Strategi Distribusi
Cara menentukan metode dan jalur yang akan dipakai dalam menyalurkan
produk ke pasar. Jauh atau dekatnya jalur yang digunakan perlu
dipertimbangkan secara matang. Strategi distribusi penting dalam upaya
perusahaan melayani konsumen tepat waktu dan tepat sasaran. Keterlambatan
dalam penyalur mengakibatkan perusahaan kehilangan waktu dan kualitas
barang serta diambilnya kesempatan oleh pesaing. Oleh karena itu, perusahaan
harus memiliki strategi untuk mencapai target pasar dan menyelenggarakan
fungsi distribusi yang berbeda-beda.
Perlu diketahui bahwa saluran distribusi miliki fungsi tertentu. Fungsi-fungsi
tersebut menunjukkan betapa pentingnnya strategi distribusi bagi perusahaan.
Adapun fungsi saluran distribusi adalah sebagai berikut :
a. Fungsi transaksi
Fungsi transaksi adalah fungsi yang meliputi bagaimana perusahaan
menghubungi dan mengomunikasikan produksinya dengan calon pelanggan.
Fungsi ini membuat mereka satu terhadap produk yang telah ada dan
menjelaskan kelebihan serta manfaat produk tersebut.
b. Fungsi logistik
Fungsi logistik merupakan fungsi yang meliputi pengangkutan dan penyortiran
barang, termasuk sebagai tempat penyimpan, memeihara dan melindungi

Pengelolaan Usaha
17
barang. Fungsi ini penting agar barang yang diangkat tiba tepat waktu dan
tidak rusak atau cepat busuk.
c. Fungsi fasilitas
Fungsi fasilitas meliputi penelitian dan pembiayaan. Penelitian
yaknimengumpulkan informasi tentang jumlah anggota saluran dan
pelanggan lainnya. Pembiayaan adalah memastikan bahwa anggota saluran
tersebut mempunyai uang yang cukup guna memudahkan aliran barang
melalui saluran distribusi sampai ke konsumen akhir.
Dalam strategi saluran distribusi terdapat beberapa tujuan yang hendak
dicapai perusahaan. Strategi yang dijalankan tersebut akan memberikan
banyak manfaat dalam berbagai hal, seperti :
1) Melayani konsumen secara cepat;
2) Menjaga mutu produk agar tetap stabil
3) Menghemat biaya
4) Menghindari pesaing

Strategi yang akan dijalankan perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor


yang perlu dipertimbangkan karena faktor-faktor tersebut mempengaruhi
berhasil tidaknya strategi yang dijalankan. Berikut ini faktor-faktor yang
mempengaruhi strategi distribusi tersebut :
a. Pertimbangan pembeli atau faktor pasar
Karakteristik pelanggan mempengaruhi keputusan apakah perlu
menggunakan suatu pendekatan distribusi langsung.perusahaan harus
mempertimbangkan jumlah dan frekuensi pembelian; sasaran pelanggan,
apakah sasarannya pasar konsumen atau industri; serta lokasi geografis
dan ukuran pasar.
b. Karakteristik produk
Produk yang kompleks, dibuat khusus, dan mahal cenderung menggunakan
saluran distribusi yang pendek dan langsung. Daur hidupproduk juga
menentukan pilihan saluran distribusi. Pada tahap awal pembuatan, produk
dijual, secara langsung, tetapi dalam perkembangannya dapat digunakan
jasa perantara. Kepekaan produk , produk yang tidak tahan lama
memerlukan saluran distribusi yang pendek.
c. Faktor produsen atau pertimbangan pengawasan dan keuangan

Pengelolaan Usaha
18
Produsen yang memiliki sumber daya keuangan, manajerial, dan pemasaran
yang besar lebih baik menggunakan saluran langsung. Sebaliknya,
perusahaan yang kecil dan lemah lebih baik menggunakan jasa perantara.

Segala dokumen dalam melaksanakan aktivitas dalam pengelolaan usaha harus


tersimpan dengan rapi, sesuai dengan sistem file yang digunakan. Sistem
tersebut terdiri atas :
1. Sistem Penyimpanan Arsip
a. Sistem Abjad (Alphabetical filing system)
b. Sistem Subjek (Subjectical filing system)
c. Sistem Tanggal (Chronological filing system)
d. Sistem Wilayah (Geographical filing system)
e. Sistem Nomor (Numerical filing system)

a. Sistem Abjad
Sistem abjad adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang
disusun berdasarkan pengelompokan nama orang/badan/organisasi. Nama
orang/badan/organisasi tersebut disusun berdasarkan urutan abjad.

Contoh Sistem Abjad

Nama berikut ini akan diindek dan nam tersebut diindeks dan
Setelah
diklasifikasikan berdasarkan
diklasifikasikan, maka urutan
susunan abjad: surat-surat menjadi:
Abdurahman Abdi, Waluyo
Ali Abdurahman Abdurahman
Waluyo Abdi Abdurahman, Ali
Haryanto Arbi Arbi, Haryanto
Abdullah Badawi Badawi, Abdullah
Gunawan Budianto Binsar, Raihan
Raihan Binsar Budianti, Ratna
Ratna Budianti Budianto, Gunawan
Chacha Cahyati Cahaya, Alia, Mitha
Yulianti Cahyati Cahyati, Chacha
Septian Dwi Cahyo Cahyati, Yulianti
Pengelolaan Usaha
19
Penempatan Arsip Menurut Daftar
Klasifikasi abjad Penempatan arsip sistem abjad

b. Sistem Subjek
Sistem subjek adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang
disusun berdasarkan pengelompokkan nama masalah/subjek pada isi surat.

Tingkatan dalam menyusun daftar klasifikasi subjek


Tingkat I : masalah utama (masalah yang paling luas).
Tingkat II : sub masalah (masalah yang lebih kecil dari masalah utama).
Tingkat III : sub-sub masalah (masalah yang lebih kecil dari sub masalah).

Contoh: Penempatan arsip menurut


klasifikasi subjek
Kepegawaian (Masalah Utama)
Cuti (Sub Masalah)
Cuti Melahirkan
Cuti Sakit (Sub-sub Masalah)
Cuti Tahunan

c. Sistem Tanggal
Sistem tanggal adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip
yang disusun berdasarkan tahun, bulan, dan tanggal surat.

Daftar Klasifikasi Tanggal, tanggal terdiri dari:


Tahun (tanggal utama) sebagai kode laci
Bulan (sub tanggal) sebagai kode guide
Pengelolaan Usaha
20
Tanggal (sub-sub tanggal) sebagai kode hanging folder.

Penempatan Arsip Menurut Daftar Klasifikasi Tanggal

d. Sistem Wilayah
Sistem wilayah adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang
disusun berdasarkan pengelompokan menurut nama tempat. Nama tempat bisa
berupa nama kota, nama negara, dan nama wilayah khusus.

Daftar klasifikasi wilayah


Daftar klasifikasi wilayah memuat pengelompokan wilayah menjadi wilayah
utama, sub wilayah, dan sub-sub wilayah

Contoh daftar klasifikasi menurut pembagian wilayah propinsi


Jawa Barat (Nama Provinsi)
Bandung
Bogor
(Nama Kota/Kabupaten)
Cirebon
Depok
Depok Jaya
Pancoran Mas (Nama Kecamatan)
Sukma Jaya

Pengelolaan Usaha
21
e. Sistem Nomor
Sistem nomor adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang
disusun dengan menggunakan kode angka/nomor.

Membuat Daftar klasifikasi Dewey, setiap masalah utama terdiri dari 10


masalah. Setiap satu masalah utama terdiri dari 10 sub masalah. Setiap satu sub
masalah terdiri dari 10 sub-sub masalah. Contoh daftar klasifikasi nomor Dewey.
000 Organisasi Penempatan arsip menurut daftar
klasifikasi nomor Dewey
100 Kepegawaian
110 Cuti
111 Cuti Melahirkan
112 Cuti Sakit
113 Cuti Tahunan

TUGAS KELOMPOK

Bentuklah kelompok, masing-masing kelompok terdiri atas 8 Orang.


Kerjakan tugas di bawah ini :
1. Tentukan peluang pasar/produk barang atau jasa yang akan dijual
2. Buatlah logo, moto, kemasan, merek, dan label produk barang
atau jasa yang dihasilkan
3. Tentukan harga pokok, BEP unit dan rupiah
4. Buat promosi melalui iklan dan surat penawaran menggunakan
available templet atau fasilitas computer lainnya
5. Simpan dokumen/surat tersebut sesuai dengan sistem yang
sesuai
6. Setiap kelompok mempresentasikan, kelompok yang lain
memperhatikan dan memberikan masukan/tanggapan.
7. Waktu 90 menit.

Pengelolaan Usaha
22
===SELAMAT MENGERJAKAN====

DAFTAR PUSTAKA

Ardista. 2014. Generasi Millennial dalam Era Ekonomi Kreatif. Diakses melalui:
http://news.indonesiakreatif.net/gen-millennial/ tanggal: 6 November 2014
Bratawijaya, Thomas Wiyasa, (1988).SuratBisnis Modern, Jakarta. PT
PustakaBirawanPresidenbersama LPPM.
Departemen Perdagangan RI. 2008. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
2009-2025. Jakarta: Departemen Perdagangan.
HarianjaHerbin, SaharLalhuda,(2005). KecakapanDasarUmum untuk SMK Tingkat
1, Jakarta. PT. Galaxy Puspa Mega.
Haryono, Tulus FX. Dan KurniaSetyawati,
(1994).KorespondensiNiagaBahasaIndonesia 1, Jakarta.
Indonesia Kreatif. 2014. Apa itu Ekonomi Kreatif. Diakses melalui:
http://gov.indonesia kreatif.net/ekonomi-kreatif/ tanggal: 6 November 2014
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran Jilid I. Jakarta,
Erlangga
Lawalata, Caroline F.Ch.,(2012). Panduan Lengkap Pekerjaan Sekretaris,
Padang.Indeks.
Ngadiman, 2008. Marketing Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan

Pengelolaan Usaha
23
Puslatdikjur Jakarta Selatan. (2012). Modul Surat Niaga. Jakarta.
Rozana Cut, Noviarti, Tedjaningsih,(1994). Surat Menyurat dan Komunikasi Jilid 1,
Bandung.Angkasa.
Rozana Cut, Noviarti, Tedjaningsih,(1994). Surat Menyuratdan Komunikasi Jilid 3,
Bandung.Angkasa.
Slamet, SyahbanSutono, (1999).Surat Menyurat Jilid 2, Surakarta. CV. Seti-Aji.
Slamet, SyahbanSutono,(1999). Surat Menyurat Jilid 3, Surakarta. CV. Seti-Aji.
Swastha Basu DH, dkk, 1983 Manajemen Pemasaran Modern, Yogyakarta Liberty
Tjandra Sheddy Nagara, dkk., (2008). Kesekretarisan Jilid 2, Jakarta. Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
William, Stanton J, 1991. Prinsip Pemasaran, edisi ke tujuh, Jakarta : Erlangga

Pengelolaan Usaha
24