Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Mastikasi dan Refles
Muntah, dengan tepat waktu. Laporan praktikum ini disusun untuk memenuhi
hasil praktikum Mastikasi dan Refles Muntah Kelompok C4 Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Jember.

Dalam penulisan laporan praktikum ini, penulis mendapat banyak bantuan


dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih
kepada :

1. drg. Suhartini, M.Biotech dan Dr. Zahreni Hamzah, drg., M.S selaku
pembimbing yang telah membimbing jalannya praktikum Kelompok
C4 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Kedokteran Gigi Universitas
Jember dan yang telah memberi masukan-masukan yang bermanfaat,
bagi pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini.

Dalam penulisan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun penulis harapkan demi
kesempurnaan laporan praktikum ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
orang lain.

Jember, 14 April 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. 1

Daftar Isi .......................................................................................................... 2

BAB I (Dasar Teori) ......................................................................................... 3

BAB II (Langkah Kerja) ..................................................................................10

BAB III (Data Pengamatan dan Jawaban Pertanyaan) ....................................15

BAB IV (Pembahasan) ....................................................................................22

BAB V (Kesimpulan).......................................................................................28

Daftar Pustaka ..................................................................................................29

2
BAB I
DASAR TEORI
Pengunyahan adalah mengigit dan menggiling makanan di antara gigi
atas dan bawah. Gerakan lidah dan pipi pembantu dengan memindah-mindahkan
makanan lunak ke palatum keras dan ke gigi-gigi. (Pearce,2002). Pengunyahan
merupakan hasil kerjasama antara predaran darah, otot pengunyahan, saraf, tulang
rahang, sendi temporo mandibula, jaringan lunak rongga mulut, dan gigi-gigi.
Adapun, organ tubuh yang terlibat dalam proses pengunyahan ini antara lain:
bibir, pipi, lidah, palatum, gigi-gigi, kelenjar saliva, faring, dan laring. Pada
umumnya, otot pengunyahan dipersarafi oleh cabang motorik N.trigeminus
khususnya saraf yang mandibularis yang dikontrol oleh nuleus batang otak.

Pada umumnya otot-otot pengunyahan dipersarafi oleh cabang motorik


dari saraf kranial kelima dan proses mengunyah dikontrol oleh nukleus dalam
batang otak. Perangsangan formasia retikularis dekat pusat batang otak untuk
pengecapan dapat menimbulkan pergerakan mengunyah yang ritmis secara
kontinu. Demikian pula perangsangan area di hipotalamus, amigdala dan bahkan
di korteks serebri dekat area sensor untuk pengecapan sering kali dapat
menimbulkan gerakan mengunyah (Guyton, 2014).

1.1 Komponen Mastikasi


a) Sendi temporomandibular (TMJ)
Temporomandibular Joint (TMJ) merupakan sendi sinovial yang
menghubungkan mandibula dengan tulang temporal pada posisi yang
tepat. Pada posisi normal kondilus mandibula berada tepat pada fossa
glenoidea tulang temporal. Tulang kartilago (articilar disc) merupakan
bantalan yang berada diantara kondilus dan fossa glenoidea yang
memungkinkan mandibula bergerak tanpa menimbulkan rasa sakit. TMJ
didukung oleh beberapa struktur, antara lain struktur tulang, ligamen,
muskulus, dan saraf. TMJ menghubungkan tulang mandibula dan tulang
temporal.

3
b) Otot-otot Pengunyahan
Otot masseter
Otot temporal
Otot pterigoid medial
Otot pterigoid lateral

c) Pengaturan Syaraf Otot Mastikasi


Kegiatan pengunyahan tidak hanya kegiatan pusat pengunyahan
yang terletak di formasio retikularis batang otak. Pusat pengunyahan dapat
dipengaruhi oleh aferen dari perifer bagian lain, termasuk wajah dan
mulut, dan dipengaruhi juga oleh bagian otak lain, misalnya emosi, stress,
dan kehendak. Pengunyahan dapat terjadi tanpa rangsang dari perifer,
sekali dimulai dapat terus berlangsung tanpa dipengaruhi kemauan. Tetapi
kemauan berperan dalam memulai atau menghentikan pengunyahan, yang
pengaturannya terletak dalam korteks serebri.
Mekainsme penghantaran impuls berserta jalur persarafan yang
secara umum terjadi dimana stimulus yang diterima oleh tubuh akan
dihantarkan ke SSP, namun stimulus yang berasal dari wajah dan struktur
di dalam rongga mulut tidak dihantarkan ke korda spinalis melalui jalur-
jalur spinal. Sebagai gantinya, implus akan dibawa oleh saraf aferen dari
sistem trigeminal. Badan sel saraf aferen trigeminal terletak di ganglion
gasserian. Impuls yang dibawa oleh saraf aferen akan dihantarkan ke
dalam batang otak (kompleks nukleus sensorik trigeminal) untuk
bersinapsis dengan antarneuron pada daerah trigeminal spinal tract
nucleus. Daerah ini memiliki kesamaan dengan tanduk dorsal dari korda
spinalis.
Kompleks nekleus sensorik trigeminal terdiri dari main sensory
nucleus (neukleus sensori utama), yang menerima masukan dari neuron
aferen yang mempersarafi jaringan pulpa serta periodontal dan trigeminal

4
spinal tract nucleus. Spinal tract nucleus dibagi menjadi 3 bagian yaitu
subnukleus oralis, subnukleus interpolaris dan subnukleus kaudalis.
1.2 Proses Mastikasi
Proses mastikasi merupakan suatu proses gabungan gerak antar dua
rahang yang terpisah, termasuk proses biofisik dan biokimia dari penggunaan
bibir, gigi, pipi, lidah, langit-langit mulut, serta seluruh struktur pembentuk
oral, untuk mengunyah makanan dengan tujuan menyiapkan makan agar
dapat ditelan. Lidah berfungsi mencegah tergelincirnya makanan, mendorong
makanan kepermukaan kunyah, membantu mencampur makanan dengan
saliva, memilih makanan yang halus untuk ditelan, membersihkan sisa
makanan, membantu proses bicara dan membantu proses menelan. Pada
waktu mengunyah kecepatan sekresi saliva 1.0 1.5 liter/hari, pH 6 7.4.
Saliva berfungsi mencerna polisakarida, melumatkan makanan, menetralkan
asam dari makanan, melarutkan makanan, melembabkan mulut dan anti
bakteri. Pada proses mastikasi terjadi beberapa stadium antara lain stadium
volunter dimana makanan diletakkan diatas lidah kemudian didorong ke atas
dan belakang pada palatum lalu masuk ke pharynx, di mana hal ini dapat
dipengaruhi oleh kemauan. Selanjutnya pada stadium pharyngeal bolus pada
mulut masuk ke pharynx dan merangsang reseptor sehingga timbul refleks-
refleks antara lain terjadi gelombang peristaltik dari otot-otot konstriktor
pharynx sehingga nafas berhenti sejenak. Proses ini sekitar 1 2 detik dan
tidak dipengaruhi oleh kemauan. Kemudian pada stadium oesophangeal
terjadi gelombang peristaltik primer yang merupakan lanjutan dari gelombang
peristaltik pharynx dan gelombang peristaltik sekunder yang berasal dari
dinding oesophagus sendiri. Proses ini sekitar 5 10 detik dan tidak
dipengaruhi oleh kemauan. Setelah melalui proses ini makanan siap untuk
ditelan.
Mekanisme dalam pengunyahan secara normal dan yang mengalami
kelainan sendi temporomandibula pada pasien yang mengunyah satu sisi
berbeda. Terlihat perbedaan aktivitas otot-otot pengunyahan pada yang
normal dan yang abnormal. Pada dasarnya dapat dilihat dari 3 fase,yaitu fase

5
membuka saat gigi meninggalkan kontak dengan lawannya dan mandibula
turun, kedua fase menutup, saat mandibula bergerak kembali ke atas sampai
terjadinya kontak pertama antara gigi geligi bawah dan gigi geligi atas,
dan fase ketiga fase oklusi ,yaitu saat mandibula kembali ke posisi interkupasi
maksimal dengan dipandu oleh bergesernya kontak gigi- geligi bawah dan
gigi geligi atas.
Pada keadaan normal pergerakan sendi yaitu gerakan rotasi terjadi
pada kondilus dengan permukaan bawah discus disebut struktur kondilus
disckomplek (sendi bawah). Gerakan menggelincir terjadi pada sendi bagian
atas antara kondilus disckomplek dengan fosa glenoidalis.
Pada kasus mengunyah dengan satu sisi pada fase membuka mulut
terjadi rotasi dimana discus bergerak sedikit ke posterior, kondilus ke anterior
m.pterygoideuslateral inferior dan m.pterygoideuslateral superior
berkontraksi. Dan terjadi translasi dimana discus beserta kondilus bergerak ke
anterior mengikuti guiding line sampai eminentia artikular.
Semua ototnya dalam keadaan kontraksi. Pada fase menutup mulut
discus artikularis bergerak ke anterior dan kondilus ke posterior untuk
mempertahankan kedudukan kondilus agar tetap berada pada zona
intermediet, maka m.pterygoideus lateral superior kontraksi dan
m.pterygoideus lateral inferior relaksasi.
1.3 Penelanan
Proses penelanan adalah aktivitas terkoordinasi yang melibatkan
beberapa macam otot dalam mulut, otot palatum lunak, otot faring dan otot
laring. Aktivitas otot penelanan di mulai sebagai kerja volunter dan kemudian
berubah menjadi refleks infolunter. Holinshead, loogmore (1985) menyatakan
bahwa peristiwa menelan adalah peristiwa yang terjadi setelah proses
pengunyahan selesai di dalam mulut,kemudian mulut menutup. Lidah bagian
ventral bergerak ke arah palatum sehingga mendorong bolus ke arah istmus
fausium menuju faring untuk selanjutnya di teruskan ke esofagus.

1.4 Refleks Muntah

6
Refleks muntah (gagging refleks) dianggap suatu mekanisme
fisiologis tubuh untuk melindungi tubuh terhadap benda asing atau bahan-
bahan yang berbahaya bagi tubuh, masuk ke dalam tubuh melalui faring,
laring, atau trakea. Refleks muntah merupakan suatu respon tubuh untuk
menjaga keseimbangan homeostatis. Muntah merupakan suatu cara dimana
traktus gastrointestinal membersihkan dirinya sendiri dari isinya ketika
hampir semua bagian atas traktus gastrointestinal teriritasi dengan secara
luas, sangat mengembang, atau bahkan sangat terangsang. Distensi yang
berlebihan atau iritasi duodenum menyebabkan suatu rangsangan khusus
yang kuat untuk muntah. Impuls ditransmisikan, baik oleh saraf aferen vagal
maupun oleh saraf simpatis ke pusat muntah bilateral di medula, yang
terletak didekat traktus solitaries lebih kurang pada tingkat nukleus motorik
dorsalis vagus. Reaksi motorik otomatis yang sesuai kemudian
menimbulkan perilaku muntah. Impuls-impuls motorik yang menyebabkan
muntah ditransmisikan dari pusat muntah melalui saraf kranialis V, VII, IX,
X, dan XII ke traktus gastrointestinal bagian atas dan melalui saraf spinalis
ke diafragma dan otot abdomen. Pada tahap awal dari iritasi gastrointestinal
atau distensi yang berlebihan, antiperistaltik mulai terjadi, sering beberapa
menit sebelum muntah terjadi. Antiperistaltik dapat dimulai sampai sejauh
ileum di traktus gastrointestinal, dan gelombang antiperistaltik bergerak
mundur naik ke usus halus dengan kecepatan dua sampai 3cm/detik; proses
ini benar-benar dapat mendorong sebagian besar isi usus kembali ke
duodenum dan lambung dalam waktu 2-5 menit. Kemudian, pada saat
bagian atas traktus gastrointestinal, terutama duodenum, menjadi sangat
meregang dimana peregangan ini menjadi faktor pencetus yang
menimbulkan tindakan muntah yang sebenarnya. Pada saat muntah,
kontraksi intrinsik kuat terjadi baik pada duodenum maupun pada lambung,
bersama dengan relaksasi sebagian dari sfingter esophagus bagian bawah,
sehingga membuat muntahan mulai bergerak ke dalam esophagus. Dari sini,

7
kerja muntah spesifik yang melibatkan otot-otot abdomen mengambil alih
dan mendorong muntahan ke luar.
Sekali pusat muntah telah cukup dirangsang dan timbul perilaku
muntah, efek yang pertama adalah:
(1) Bernafas dalam,
(2) Naiknya tulang lidah dan laring untuk menarik sfingter esophagus
bagian atas supaya terbuka
(3) Penutupan glotis
(4) Pengangkatan palatum molle untuk menutupi nares posterior. Kemudian
datang dengan kontraksi yang kuat ke bawah diafragma bersama dengan
rangsangan kontraksi semua otot dinding abdomen. Keadaan ini memeras
perut diantara diafragma dan otot-otot abdomen, membentuk suatu tekanan
intragastrik sampai ke batas yang tinggi. Akhirnya sfingter esophagus
bagian bawah berelaksasi secara lengkap membuat pengeluaran isi lambung
ke atas melalui esophagus.
Jadi, kerja muntah berasal dari suatu kerja memeras otot-otot
abdomen bersama dengan pembukaan sfingter esophagus secara tiba-tiba
sehingga isi lambung dapat dikeluarkan. Selain dari muntah yang dicetuskan
oleh rangsangan iritasi traktus gastrointestinal itu sendiri, muntah juga dapat
disebabkan oleh impuls saraf yang timbul pada daerah otak di luar pusat
muntah. Ini terutama berlaku pada daerah kecil yang terletak bilateral pada
lantai ventrikel ke empat dekat daerah postrema dan disebut zona pencetus
kemoreseptor perangsangan elektrik pada daerah ini juga mencetus muntah.
Dan yang lebih penting, pemakaian obat-obat tertentu, tremasuk apomorfin,
morfin, dan beberapa derivate digitalis, dapat secara langsung merangsang
zona pencetus kemoreseptor dan memulai muntah.
Muntah adalah aktivitas mengeluarkan isi perut melalui mulut yang
disebabkan oleh kerja motorik dari saluran pencernaan. Kemampuan untuk
muntah dapat mempermudah pengeluaran toksin dari perut. Penyebab
muntah bisa karena penyakit infeksi atau radang di saluran pencernaan atau
di pusat keseimbangan, penyakit-penyakit karenagangguan metabolisme

8
seperti kelainan metabolisme karbohidrat (galaktosemia dan sebagainya),
kelainan metabolisme asam amino/asam organic (misalnya gangguan siklus
urea dan fenilketonuria), gangguan pada system saraf (neurologic) bisa
karena gangguan pada struktur (misalnya hidrosefalus), adanya infeksi
(misalnya meningitis dan ensefalitis), maupun karena keracunan (misalnya
keracunan saraf oleh asidosis dan hasil samping metabolisme lainnya), juga
karena kondisi fisiologis misalnya yang terjadi pada anakanak yang sedang
mencari perhatian dari lingkungan sekitarnya dengan mengorek
kerongkongan dengan jari telunjuknya.

9
BAB II

LANGKAH KERJA

2.1 Alat dan Bahan

1. Kaca mulut
2. Pinset
3. Spatel kayu
4. Stopwatch
5. Timbangan
6. Penggaris
7. Saringan
8. Permen karet
9. Es balok
10. Aqua gelas
11. Nasi putih berbagai kadar air (1:1, 1:2, 1:3)
12. Balok malam merah ukuran 1x1

2.2 Prosedur Percobaan


2.2.1 Pengunyahan
a Kekuatan Gigit Maksimal
Pilihlah dua anggota kelompok, laki-laki dan perempuan. Lakukan
percobaan sebagai berikut :
1 Siapkan orang coba dan balok dari malam merah
2 Letakan balok malam pada gigi orang coba perempuan yang
akan diuji
3 Minta orang coba untuk menggigit dengan maksimal
4 Ukurlah kedalaman gigit dengan jangka, untuk gigi molar
pertama, gigi kaninus, dan gigi insisiv pertama sebelah kanan
dan kiri
5 Lakukan percobaan 1-4 pada orang coba laki-laki
6 Lakukan pencatatan

10
b Efisiensi Kunyah
1 Jelaskan pada orang coba apa yang akan ada lakukan
2 Timbang nasi putih (rasio 1:2) satu sendok makan
3 Timbang saringan
4 Satu sendok makan nasi dikunyah 20 kali dengan kecepatan
1x/detik
5 Keluarkan dari mulut (jangan sampai ada yang tersisa) dan
letakkan di atas saringan
6 Berkumurlah dengan aqua 15 ml aqua
7 Air yang dikumur dikeluarkan diatas saringan
8 Siramlah saringan dengan air mengalir sebanyak 1 gelas (200
cc)
9 Berat sisa makanan yang telah dikunyah sama dengan jumlah
sisa makanan dan saringan dikurangi berat saringan
10 Hitung efisiensi kunyah dengan cara membagi berat sisa
makanan dengan berat nasi kali 100%
11 Ulangi percobaan 1-9 menggunakan pengunyahan 10 dan 15
kali dengan berat awal nasi yang sama
Perhitungan Efisiensi Kunyah
NA=(N+S)-S
= NA : berat bersih nasi sebelum dikunyah x100%
Efisisensi kunyah = 100% -
Keterangan :
NA = Berat sisa makanan
N = Jumlah sisa makanan setelah dikunyah
S = Berat Saringan
= Efisiensi kunyah sisa makanan
c Kelelahan pada Otot Wajah
1 Orang coba diinstruksikan untuk mengunyah permen karet
dengan kecepatan 1x/detik hingga otot mulut terasa benar-
benar letih (kaku)

11
2 Hitung dan catat waktu dan jumlah kunyah yang diperlukan
sejak kunyah awal hingga benar-benar letih
d Gerakan Lidah pada saat Pengunyahan
1 Amati lidah orang coba pada saat posisi relaksasi di dasar
rongga mulut baik bentuk, ukuran, warna, dan tekstur lidah
2 Orang coba diinstruksikan untuk menggerakkan lidah ke
anterior, lateral, dan ujung lidah ke bagian paling posterior dari
palatina
3 Amati gerakan dan koordinasi gerakan lidah
4 Catat apakah orang coba dapat melakukan dengan baik seluruh
gerakan sesuai dengan instruksi operator
5 Mengunyah permen karet dengan perlahan
6 Periksa bagaimana gerakan lidah pada saat pengunyahan
7 Catat secara rinci gerakan yang timbul
2.2.2 Pemeriksaan Proses Menelan
a Pemeriksaan Palpasi pada saat Menelan
1 Orang coba diminta duduk tegak
2 Minta orang coba untuk minum
3 Lakukan inspeksi dan palpasi di leher bagian atas, apa yang
Anda rasakan ketika orang coba menelan, dan bagaimana pola
gerakannya
4 Ulangi percobaan butir 1-3, jika anda belum jelas dengan apa
yang Anda rasakan
b Pengaruh Peningkatan Sekresi Saliva terhadap Penelanan
1 Orang coba diinstruksikan mengunyah nasi (1:2)
2 Pijatlah bagian pipi (di sekitar kelenjar parotis) sambil terus
mengunyah
3 Jika sudah 15x kunyah instruksikan untuk menelan
4 Catat respon orang coba dalam kemudahan menelan yang
dirasakan
5 Ulangi percobaan tanpa melalui pemijatan terlebih adahulu

12
6 Minta orang coba membandingkan kemudahan menelan antara
menelan dengan pemijatan dan tidak
c Pengaruh Jenis Makanan terhadap Penelanan
1 Orang coba diinstruksikan mengunyah nasi putih sebanyak 10
kali (1:1)
2 Minta orang coba untuk menelannya
3 Catat apa yang dirasakan
4 Ulangi percobaan butir 1-3 untuk beberapa jenis nasi putih
(1:2 dan 1:3)
5 Bedakan kemudahan penelanan pada beberapa nasi putih di
atas
2.2.3 Prosedur Percobaan Refleks (Gangging Reflexs)
a Pengaruh Sentuhan terhadap Refleks Muntah
1 Minta orang coba duduk tenang dan diminta untuk membuka
mulut
2 Lakukan sentuhan ringan dengan stapel lidah dari kayu, pada
beberapa bagian lidah : ujung lidah, dorsal lidah, lateral kiri
dan kanan lidah, bagian anterior dan posterior lidah, posterior
paltum, uvula, tonsil, faring bagian atas (jika memungkinkan)
3 Amati bagian rongga mulut yang mana yang paling sensitif
terhadap gangging refleks
b Pengaruh Suhu dan Sentuhan terhadap Refleks Muntah
Lakukan percobaan pada orang coba yang sama pada prosedur
2.2.3 (a) setelah beristirahat 10 menit :
1 Minta orang coba untuk berkumur dengan air es
2 Lakukan percobaan yang sama dengan prosedur 2.2.3 (a)
3 Catat bagaimana reaksi orang coba
4 Ulangi percobaan yang sama dengan orang coab yang
sama (setelah istirahat 10 menit), tetapi orang coba diminta
berkumur dengan air hangat sebelum percobaan dilakukan

13
c Pengaruh Rasa Pahit terhadap Refleks Muntah
Lakukan percobaan pada orang coba yang lain
1 Minta orang coba duduk tenang
2 Masukkan obat (rasa pahit) pada siring
3 Teteskan pada bagian lidah yang palig sensitif terhadap
gangging reflex
4 Catat reaksi orang coba

14
BAB III
DATA PENGAMATAN DAN JAWABAN PERTANYAAN

A. Data Pengamatan
3.1 Pengunyahan

a. Kekuatan Gigit Maksimal

Jenis kelamin orang Kedalaman gigit (mm)


Gigi
coba Kanan Kiri
Insisiv pertama 5 4
Perempuan Kaninus 5 5
Molar pertama 6 6
Insisiv pertama 6 6
Laki Laki Kaninus 7 6
Molar pertama 7 7
b. Efisiensi Kunyah

Perhitungan efisiensi kunyah

1. Pengunyahan 20 kali

Berat Nasi Awal = 20 gram

Berat Saringan = 11 gram

NA = (N + S) S
= (20 + 11) 11
= 20 gram
Efisiensi Kunyah = (Berat Sisa Makanan : Berat Nasi Awal) x
100%
= ( 20 : 20 ) x 100%
= 100 %

2. Pengunyahan 15 kali

Berat Nasi Awal = 20 gram

Berat Saringan = 11 gram

15
NA = (N + S) S
= (19 + 11) 11
= 19 gram
Efisiensi Kunyah = (Berat Sisa Makanan : Berat Nasi Awal) x
100%
= ( 19 : 20 ) x 100%
= 95 %

3. Pengunyahan 10 kali

Berat Nasi Awal = 20 gram

Berat Saringan = 11 gram

NA = (N + S) S
= (18 + 11) 11
= 18 gram
Efisiensi Kunyah = (Berat Sisa Makanan : Berat Nasi Awal) x
100%
= ( 18 : 20 ) x 100%
= 90 %

Jenis
Efisiensi kunyah
kelamin
20 kali 15 kali 10 kali
orang coba
Perempuan 100% 95% 90%

c. Kelelahan pada Otot Wajah

Jenis kelamin orang coba Waktu kunyah (awal kunyah lelah)

Perempuan 5 menit 11 detik (311x kunyahan)

d. Gerakan Lidah pada saat Mengunyah

Jenis Posisi lidah Bentuk Ukuran Warna Tekstur

16
(normal/
kelamin
tdk)
Relaksasi Normal Normal Merah muda Sedikit kasar
Anterior Memanjang Normal Merah muda Sedikit kasar
Memanjang satu
Lateral Normal Merah muda Sedikit kasar
Perempuan sisi
Posterior Memendek Normal Merah muda Sedikit kasar
Memendek
Mengunyah normal Merah muda Sedikit kasar
Memanjang

3.2 Pemeriksaan Proses Menelan

a. Pemeriksaan Palpasi pasa saat Menelan

Pola gerakan (deskripsikan apakah


Jenis kelamin orang coba
gerakannya normal atau ada hambatan)
Perempuan Normal, tidak ada hambatan
b. Pengaruh Peningkatan Sekresi Saliva terhadap Penelanan

Perlakuan Respon orang coba


Dengan pemijatan Penelanan terasa lebih mudah (2x penelanan)
Tanpa pemijatan Penelanan terasa sulit (3x penelanan)
Kemudahan menelan : Dengan pemijatan lebih mudah

c. Pengaruh Jenis Makanan terhadap Penelanan


Jenis kelamin Kemudahan menelan dan respon oran coba
orang coba 1:1 1:2 1:3
Sangat sulit Lancar, Penelanan
Perempuan Susah ditelan
ditelan mudah

3.3 Prosedur Percobaan Refleks Muntah

a. Pengaruh Sentuhan terhadap Refleks Muntah

Lokasi Respon orang coba (reflek muntah)

17
Ujung lidah

Dorsal lidah

Lateral kiri

Lateral kanan

Anterior

Posterior +

Posterior palatum

Uvula ++

Tonsil +++

Faring atas (jika bisa) ++++

Yang paling sensitif adalah : Faring atas

b. Pengaruh Suhu dan Sentuhan terhadap Refleks Muntah

Respon orang coba (reflek muntah)


Lokasi
Sentuhan Suhu

Ujung lidah

Dorsal lidah

Lateral kiri

Lateral kanan

Anterior

18
Posterior +

Posterior palatum

Uvula ++ +

Tonsil +++ ++

Faring atas (jika bisa) ++++ +++

Yang paling sensitif adalah : Faring atas Faring atas

c. Pengaruh Rasa Pahit terhadap Refleks Muntah


Jenis kelamin orang coba Daerah yang ditetesi Reaksi orang coba
Perempuan Posterior lidah Terasa pahit lalu terjadi
Refleks muntah
Laki Laki Posterior lidah Terasa pahit lalu sedikit
mual

B. Jawaban Pertanyaan
1. Apa ada perbedaan lebar permukaan rongga mulut antara laki laki dan
perempuan? Jelaskan mengapa?
Jawaban : Ya, terdapat perbedaan permukaan rongga mulut antara laki-laki
dan perempuan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan lengkung rahang
dimana bentuk rahang laki-laki lebih besar dari pada perempuan selain itu
kebiasaan laki-laki tertawa terlalu lebar juga mempengaruhi lebar dari
permukaan rongga mulut tersebut. lengkung rahang dipengaruhi oleh
faktor lokal baik oleh gigi geligi yang menyusun lengkung gigi itu sendiri,
hubungan antar gigi, maupun dengan gigi antagonisnya. Lengkung rahang
merefleksikan gabungan antara ukuran gigi, lidah, bibir, dan fungsi
dinding otot pipi.

19
2. Apa ada perbedaan kekuatan gigit maksimal laki laki dan perempuan?
Jelaskan mengapa?
Jawaban : Ya ada perbedaan kekuatan gigit maksimal antara laki-laki dan
perempan, kekuatan laki-laki dan perempuan hampir sama namun laki-
laki sedikit lebih kuat dari pada perempuan. Hal ini terjadi karena otot
pengunyahan pada laki-laki lebih kuat dari pada perempuan.
3. Mengapa makanan ada yang mudah ditelan dan ada yang sukar? Jelaskan
mengapa?
Jawaban : Makanan ada yang mudah ditelan dan ada yang sukar ditelan
karena kerja dari otot otot pengunyahan, gigi geligi dan organ
pengunyahan lain yang menyesuaikan dengan struktur / tekstur dari
makanan, hingga makanan yang kasar (mengandung sedikit air) lebih
sukar ditelan dibanding makanan yang halus ( mengandung banyak air).
4. Mengapa rasa pahit dapat merangsang refleks muntah?
Jawaban : Rasa pahit dapat merangsang refleks muntah karena rasa pahit
merupakan salah satu perangsang rasa muntah dimana rasa pahit ini
merangsang impuls saraf sensorik yang diteruskan ke otak melalui N.
Glossofaringeus, setelah mencapai otak rangsangan motoriknya akan
dibawa kembali oleh N.vagus untuk memberi refleks muntah, dimana di
dalam rongga mulut terdapat saraf motorik maupun sensorik yang
keduanya saling bekerja sama.. Hal inilah yang memberi refleks muntah
pada seseorang yang merasakan rasa pahit di dalam rongga mulut.

20
BAB IV

PEMBAHASAN

4.2.1 Pengunyahan
a. Kekuatan Gigit Maksimal
Kekuatan gigit maksimal adalah kekuatan gigi untuk menggigit
secara maksimal. Laki-laki dapat menahan beban sedikit lebih besar
daripada perempuan. Kekuatan gigit maksimal diukur antara gigi molar
pertama dan sedikit demi sedikit berkurang untuk gigi sebelahnya,
semakin ke proksimal, kekuatan gigit semakin berkurang pada gigi
insisiv. Refleks protektif mungkin saja dihasilkan oleh reseptor pada
jaringan periodontal dan mengahalangi kontraksi dari otot-otot
pengunyahan ketika beban menjadi sangat tinggi, jaringan periodontal
akan mendistribusikan tekanan lebih luas, sehingga menyebabkan
mechanoreseptor pada jaringan periodontal beraksi. Dari hasil percobaan
yang telah dilakukan pada orang coba berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan memiliki hasil yang berbeda.
b. Efisiensi Kunyah
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan memiliki
efisiensi kunyah sebesar 100% pada pengunyahan 20 kali, 95% pada
pengunyahan 15, dan 90% pada pengunyahan 10 kali. Jika kekuatan gigit
meningkat maka jumlah kunyahan menurun, demikian sebaliknya. Jika
jumlah kunyahan meningkat maka lama penelanan menurun, demikian
sebaliknya. Sehingga efisiensinya meningkat sejalan dengan
meningkatnya jumlah kunyahan. Hal ini disebabkan karena sifat manusia
yang memiliki kemampuan beradaptasi yang besar dengan
mengkompensir kekurangan dan kelebihan fungsi kunyahnya.
c. Kelelahan pada Otot Wajah
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan merasakan otot
mulutnya benar-benar letih (terasa kaku) pada saat pengunyahan
permen karet ditempuh dalam waktu 5 menit 11 detik. Jumlah

21
pergerakan mastikasi bergantung pada jenis makanan, contohnya pada
pengunyahan telur dan daging. Jumlahnya pergerakan yang
dihasilkan akan lebih banyak pada orang yang menguyah daging
dibandingkan dengan orang yang menguyah telur. Dan permen karet
merupakan suatu jenis makanan yang memiliki tekstur kenyal sehingga
membutuhkan pergerakan mastikasi yang banyak
d. Gerakan Lidah pada Saat Mengunyah
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dengan orang coba berjenis
kelamin perempuan. Didapatkan hasil bahwasannya subjek
digolongkan dalam kategori normal. Dikarenakan dari pengamatan yang
dilakukan dengan menganalisi bentuk, warna, ukuran, dan tekstur
didapatkan gerakan yang normal.
Lidah dikatakan normal apabila pada gerakan ke samping secara
refleks lidah tidak akan menyentuh gigi, melainkan melewati permukaan
gigi dan menyentuh mukosa mulut. Apabila gerakan lidah ke lateral
menyentuh gusi, inilh indikasi ketidaknormalan. Berdasarkan percobaan
yang dilakukan gerakan lateral subjek tidak menyentuh gusi. Sedangkan
warna merah dan tekstur yang licin yang diamati pada lidah arah leteral,
disebabkan oleh sedikitnya papila-papila lidah bagian lateral,akibatnya
tekstur yang ditampilkan halus serta mengkilau dikarenakan pelumasan
saliva yang nampak pada lidah lateral. Untuk lidah posterior dikatakan
abnormal bila lidah tampak menebal dan menggelendong ketika
dilakukan retraksi ke arah posterior yang sangat kuat. Dimana dalam
keadaan normal penarikan lidah ke posterior hanya melibatakan 1/3
anterior dari lidah.
Untuk warna merah dan tekstur yang agak kasar ditemukan pada
lidah dengan retraksi ke arah posterior, alasanya mirip sekali dengan
lidah yang dilihat dalam keadaan bergerak lateral. Pada saat
pengunyahan, gerakan lidah bergerak ke segala arah, sehingga warna dan
tekstur disesuaikan beberapa pergantian posisi lidah ketika dilakukan
pengunyahan. Keadaan tremor yang diamati pada lidah subjek yang
menjalar dapat disebabkan faktor fisiologis, kelealahan otot, atau

22
pengamatan operator yang terbatas. Pada dasarnya tremor masih
dikatakan dalam faktor fisiologis masih dikatakan normal. Pada
percobaan ini tremor yang diketahui terhadap praktikum dikarenakan
kelelahan otot. Kelelahan otot juga memberikan andil dalam
memposisikan mulut dan sekresi saliva sebagai prosesfisiologisnya.

4.2.2 Pemeriksaan Proses Menelan


a. Pemeriksaan Palpasi pasa saat Menelan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan memiliki
pola gerakan saat melakukan penelanan yaitu bolus masuk lalu terjadi
tekanan pada laring hingga terdorong ke depan disertai dengan
prominensia thyroid yang terangkat sehingga bolus dapat lewat dan
akhirnya prominensia thyroid kembali ke posisi semula. Pergerakan
tersebut berjalan normal yaitu tanpa adanya hambatan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa orang coba memiliki gerakan pola penelanan yang
normal.
b. Pengaruh Peningkatan Sekresi Saliva terhadap Penelanan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan merasakan bahwa
pengunyahan yang disertai dengan pemijatan lebih
memudahkan penelanan karena makanan lebih halus dan berair.
Sedangkan pengunyahan yang tanpa disertai dengan pemijatan orang
coba tetap dapat menelan tanpa hambatan.
Berdasarkan literature pengunyahan yang disertai pemijatan justru
lebih mudah atau lebih nyaman karena dengan pemijatan
dapat mengurangi spasme otot yang terjadi akibat digunakan untuk
mengunyah.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan telah sesuai dengan
literature yang ada. Hal ini dapat disebabkan saat operator
melakukan pemijatan pada orang coba pemijatannya sudah benar,
sehingga tidak menimbulkan rasa mengganggu pada orang coba. Selain
itu ketika dilakukan pemijatan juga dapat membantu dalam proses
mengunyah karena di daerah pemijatan terdapat kelenjar saliva dimana

23
jika dilakukan pemijatan pada daerah tersebut maka akan merangsang
sekresi dari kelenjar saliva sehingga dapat membantu proses
pengunyahan.
c. Pengaruh Jenis Makanan terhadap Penelanan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan memiliki
kemampuan yang cukup baik untuk penelanan dalam berbagai jenis
makanan, nasi dalam berbagai perbandingan kadar air yang
digunakan untuk memasaknya.
Orang coba dengan percobaan nasi dengan perbandingan air yang
digunakan yaitu 1:1 memiliki pengunyahan yang paling susah,
yaitu dengan jumalah kunyah yang dibutuhkan lebih banyak dan proses
menelan lebih susah. Lalu pada percobaan nasi dengan perbandingan
air yang digunakan yaitu 1:2 memiliki pengunyahan yang mudah
dibandingkan dengan percobaan sebelumnya, yaitu dengan jumlah
kunyah berkurang dan proses menelan lebih mudah dari
sebelumnya. Dan pada percobaan nasi dengan perbandingan air yang
digunakan yaitu 1:3 memiliki pengunyahan yang paling mudah
diantara ketiga percobaan yang dilakukan, yaitu dengan jumlah
kunyah yang paling sedikit dan proses menelan yang paling mudah.
Hal ini disebabkan karena tekstur dari makanan sangat
mempengaruhi dari tingkat kemudahan maupun tingkat kesuliatan dari
pengunyahan makanan itu sendiri. Dimana makin lembut tekstur suatu
makanan akan makin mudah suatu makanan untuk dikunyah,
sebaliknya makin kasar tekstur suatu makanan maka akan makin sulit
suatu makanan untuk dikunyah.

4.2.3 Percobaan Reflkes Muntah (Gagging Refleks)

a. Pengaruh Suhu dan Sentuhan Terhadap Refleks Muntah


Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan memiliki gagging
refleks dengan spesifikasi sebagai berikut, pada bagian ujung
lidah;dorsal lidah; lateral kiri; lateral kanan; anterior; dan posterior

24
palatum ketika dilakukan percobaan, orang coba tidak merasakan
gagging refleks hanya terasa bahwa ada suatu sentuhan. Pada
bagian faring atas, orang coba merasakan gagging reflex yang kuat
saat tersentuh, dan gagging refleks ringan saat terkena suhu dingin.
Pada bagian u j u n g l i d a h , d o r s a l l i d a h , lateral kiri,
lateral kanan, anterior,, posterior, dan posterior palatum, orang coba
tidak merasakan adanya refleks muntah. Pada bagian uvula, tonsil, dan
faring atas, orang coba merasakan adanya refleks muntah. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa bagian di dalam rongga mulut yang
paling sensitive terhadap gagging refleks yaitu pada bagian faring atas.
Hal ini dikarenakan pada bagian uvula dan tonsil merupakan daerah
rangsang muntah atau Trigger Zone (CTZ). Bila pada CTZ ini terdapat
adanya rangsang maka akan dapat menyebabkan gagging refleks,
khususnya pada bagian posterior rongga mulut. Juga disebabkan oleh
adanya pengaruh suhu, yaitu suhu panas yang juga dapat memicu
terjadinya gagging reflex.
b. Pengaruh Rasa Pahit terhadap Refleks Muntah
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui
bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan d a n l a k i -
l a k i pada saat ditetesi obat (rasa pahit) merasakan mual (gagging
refleks). Penetesan ini dilakukan pada bagian yang paling sensitive
yakni bagian posterior dari lidah.
Hal ini dikarenakan rasa pahit adalah rasa yang kuat dan dapat
merangsang refleks muntah karena pahit dapat dirasakan pada bagian
posterior lidah dimana daerah tersebut merupakan daerah rangsang
muntah atau Trigger Zone (CTZ). Bila pada CTZ ini terdapat adanya
rangsang maka akan dapat menyebabkan gagging refleks, khususnya
pada bagian posterior rongga mulut.

25
BAB V

KESIMPULAN

Dalam proses makan terlibat beberapa fungsi penting seperti


pengunyahan, gerakan lidah, perasa, penelanan, dan salivasi. Pengunyahan
merupakan hasil kerja sama dari peredaran darah, otot mastikasi, saraf, tulang
rahang, sendi temporomadibular, jaringan lunak rongga mulut, dan gigi-gigi.jenis,
bahan dan komposisi setiap makanan berbeda, sehingga mempengaruhi
kemudahan makanan tersebut untuk ditelan. Dalam proses makan, terdapat benda
asing atau bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh yang disebut dengan refleks
muntah. Daerah paling sensitif yang menimbulkan refleks muntah adalah tonsil
sebab banyak mengandung reseptor nosiseptif.

26
DAFTAR PUSTAKA

Guyton & Hall.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Evelyn , C.Pearce . 2000 . Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis . Jakarta :


PT. Gramedia.

Sherwood, Lauralee.2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem,edisi 2.


Jakarta: EGC.

Ganong, W. F. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.

Pearce, E.C. 2000. Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT.
Gramedia.

27