Anda di halaman 1dari 13

Otitis Media Efusi dan Penatalaksanaannya pada Anak

M.Ibnu Sinna Faiz

102013471
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510


Telp. 021-56942061. Fax. 021-5631731

M.Ibnu
No.6
11510 Sinna
102013471
Universitas
Krida Wacana
Jakarta
56942061.
5631731 Faiz
Efusi pada Anak
Telp. Kristen
Fax. Barat
021-
I. PENDAHULUAN

Telinga merupakan salah satu panca indera dalam tubuh manusia yang memiliki
peranan yang sangat penting karena memilki fungsi sebagai alat pendengaran dan
keseimbangan.1 Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media merupakan salah
satu penyebab utama gangguan pendengaran dan ketulian, bahkan dapat menimbulkan
penyulit yang mengancam jiwa.1 The American Academy of Pediatrics (AAP) dan The
American Academy of family Physician (AAFP) mendefinisikan otitis media akut sebagai
suatu infeksi dari telinga tengah dengan onset akut dan terdapatnya efusi telinga tengah serta
terdapat tanda-tanda peradangan dari telinga tengah. Otitis media dengan efusi atau disebut
juga dengan otitis media serosa (OMS) adalah cairan di dalam telinga bagian tengah tanpa
disertai gejala dan tanda infeksi. OMS biasanya terjadi ketika tuba eustachius tertutup dan
cairan terperangkap di dalam telinga bagian tengah.2
Otitis media serosa, lebih dikenal sebagai cairan dalam telinga tengah (Middie Ear
Effusion), adalah kondisi yang paling sering menyebabkan hilangnya pendengaran pada anak.
Normalnya, ruang di belakang gendang telinga yang terdiri dari tulang-tulang pendengaran
diisi oleh udara. Hal inilah yang memungkinkan terjadinya transmisi suara normal. Ruangan
ini dapat terisi oleh cairan selama periode flu atau pada kondisi infeksi saluran nafas bagian
atas. Ketika flu sembuh, cairan ini secara keseluruhan akan di alirkan keluar dari telinga
melalui sebuah saluran yang menghubungkan telinga luar dengan hidung yaitu tuba
eustachius. Tuba eustachius tidak dapat kering dengan baik pada anak-anak. Cairan yang
telah terakumulasi didalam ruang di telinga tengah seringkali terblokir untuk keluar.2
Maka dari itu, sesuai dengan skenario 9 seorang anak usia 4 tahun, dibawa ibunya ke
poliklinik THT dengan keluhan 1 bulan terakhir ini anak menonton TV selalu mengeraskan
suara TV. Didapatkan anak sering pilek, batuk, bersin dan pada pemeriksaan fisik ditemukan
membran timpani pada telinga kanan suram. Sedangkan pada hidung, didapatkan mukosa

1
pucat. Penulis akan membahas mengenai otitis media, berserta penanganan dan edukasi
kepada pasien.
1.1 HIPOTESIS
Anak berusia 4 tahun tersebut menderita otitis media efusi

II. PEMBAHASAN
2.1. ANAMNESIS
Diagnosis OME seringkali sulit ditegakkan karena prosesnya sendiri yang kerap
tidak bergejala (asimptomatik), atau dikenal dengan silent otitis media. Dengan
absennya gejala seperti nyeri telinga, demam, ataupun telinga berair, OME sering tidak
terdeteksi baik oleh orang tuanya, guru, bahkan oleh anaknya sendiri. 3 Oleh karena itu
diperlukan anamnesa yang lengkap dan teliti mengenai keluhan yang dirasakan dan
riwayat penyakit pasien, misalnya :
- Pendengaran berkurang atau terdengar suara sendiri lebih keras
- Telinga rasa seperti tertutup/penuh dan tidak nyaman
- Telinga berdengung(tinitus)
- Ada nyeri yang dirasakan atau tidak terasa nyeri pada telinga
- Pada anak-anak ditanyakan ada tidak gangguan bicara, penurunan prestasi
belajar dan masalah perilaku sejak akhir-akhir ini.
- Riwayat alergi
- Riwayat infeksi saluran napas bagian atas dan riwayat infeksi telinga berulang.
- Riwayat dalam keluarga dengan sakit yang sama.

2.2. PEMERIKSAAN FISIK


Dari anamnesa, selanjutnya bisa dilakukan pemeriksaan fisik untuk memperkuat
diagnosa kerja. Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain : nyeri tarik, nyeri tekan
tragus, dan inspeksi kondisi liang telinga luar. Beberapa instrumen penunjang juga
membantu menegakkan diagnosis OME, antara lain:
- Otoscope
Pemeriksaan otoskop bertujuan untuk memeriksa liang dan gendang telinga
dengan jelas. Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang
menggembung, perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak
kuning dan suram, serta cairan di liang telinga.1
Pemeriksaan otoskopik dapat memperlihatkan:
a. Membran timpani yang retraksi (tertarik ke dalam), dan opaque yang
ditandai dengan hilangnya refleks cahaya
b. Warna membran timpani bisa merah muda cerah hingga biru gelap.

2
c. Processus brevis maleus terlihat sangat menonjol dan Processus longus
tertarik medial dari membran timpani.
d. Adanya level udara-cairan (air fluid level).1,4

- Pneumatic otoscope
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai respon gendang telinga terhadap
perubahan tekanan udara. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada
sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini.1

- Pemeriksaan Tuba
Untuk menilai ada tidaknya oklusi tuba, bisa dilakukan pemeriksaan tuba
misalnya dengan manuver Valsava, pulitzer balik.

- Tes Pendengaran dengan Garpu Tala


Pemeriksaan dilakukan sebagai salah satu langkah skrining ada tidaknya
penurunan pendengaran yang biasa timbul pada otitis media efusi. Pada pasien
dilakukan tes Rinne, Weber, dan Swabach. Pada otitis media didapatkan
gambaran tuli konduktif.

2.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Impedance audiometry (tympanometry)
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur perubahan impedans akustik
sistem membran timpani telinga tengah melalui perubahan tekanan udara di telinga
luar. Timpanogram tipe A merupakan gambaran dimana tekanan telinga tengah
kurang lebih sama dengan tekanan atmosfer (contoh: gambaran normal),
timpanogram tipe B adalah gambaran datar tanpa compliance (contoh: adanya efusi
di telinga tengah), timpanogram tipe C (contoh: adanya tekanan negatif pada
telinga tengah). Pada otitis media efusi, biasanya didapatkan timpanogram tipe
B.4,5,6

- Pure tone Audiometry


PTA digunakan untuk menentukan derajat ketulian dan jenis ketulian. Dalam
kebanyakan kasus audiogram menunjukkan rata-rata penurunan adalah 28 db.
Perlu diingat bahwa dalam kasus-kasus ringan sedikit atau tidak penurunan terlihat

3
mungkin hadir. Variasi ini mungkin berkaitan dengan jumlah dan jenis cairan
(serous atau mucous) dan lokasi yang tepat dalam telinga tengah. Perlu diketahui
bahwa audiometri tidak diperlukan untuk mendiagnosis otitis media efusi, tetapi
hal ini tetap berguna dalam mengungkapkan sejauh mana gangguan pendengaran
yang dialami dan dalam mengukur efektivitas pengobatan.4,5,6

2.4. DIAGNOSIS BANDING


Terdapat beberapa hal yang tumpang tindih antara otitis media akut (OMA) dan
Otitis media efusi, sangat sulit membedakan keduanya pada pemeriksaan kecuali
terdapat otalgia dan demam. OMA dapat dibedakan dari otitis media dengan efusi yang
dapat menyerupai OMA. Efusi telinga tengah (middle ear effusion) merupakan tanda
yang ada pada OMA dan otitis media dengan efusi.1 Untuk membedakannya dapat
diperhatikan hal-hal berikut:

Gambar 1: Diagnosis banding Otitis Media Akut dengan Otitis Media Efusi.

2.5. DIAGNOSIS KERJA


Otitis media dengan efusi adalah adanya cairan di telinga tengah tanpa tanda-
tanda atau gejala infeksi telinga akut. Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media
serosa dan apabila efusi tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue
ear). Otitis media serosa terjadi terutama akibat adanya transudat atau plasma yang
mengalir dari pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi akibat
adanya perbedaan tekanan hidrostatik, sedangkan pada otitis media mukoid, cairan
yang ada di telinga tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang
terdapat di dalam mukosa telinga tengah, tuba eustachius dan rongga mastoid. Faktor
yang berperan utama adalah terganggunya fungsi tuba eustachius. Faktor lain yang
dapat berperan sebagai penyebab adalah adenoid hipertrofi, adenoitis, sumbing palatum

4
(cleft-palate), tumor di nasofaring, barotrauma, sinusitis, rinitis, defisiensi imunologik
atau metabolik. Keadaan alergik sering berperan sebagai faktor tambahan dalam
timbulnya cairan di telinga tengah (efusi telinga tengah).1

2.6. EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, infeksi telinga tengah adalah masalah kesehatan utama
yang ditemukan pada bayi dan anak. Suatu survei yang melakukan skrining pada anak-
anak yang sehat usia bayi sampai 5 tahun menunjukkan sebanyak 15-40% memiliki
efusi pada telinga tengah. Studi lain, pada anak yang diperiksa secara berkala selama 1
tahun, 50-60% peserta dan 25% anak usia sekolah ditemukan efusi pada telinga tengah,
dengan puncak insiden pada musim dingin.7
Sekitar 80% anak-anak mengalami episode otitis media dengan efusi saat
berusia kurang dari 10 tahun. Lima persen dari anak-anak usia 2-4 tahun mengalami
hilangnya pendengaran karena efusi telinga tengah yang menetap selama 4 bulan
ataulebih. Prevalensi otitis media dengan efusi didapatkan paling tinggi pada kelompok
usia 2 tahun ke bawah dan menurun secara drastis pada anak di atas 6 tahun.7

2.7. ANATOMI TELINGA


Telinga terdiri atas tiga bagian yaitu bagian luar, bagian tengah dan bagian dalam.1,2

Gambar 2. Anatomi Telinga

ANATOMI TELINGA TENGAH


Struktur yang terganggu pada otitis media adalah bagian telinga tengah. Dimana
telinga tengah itu sendiri terdiri dari :
a) Batas Luar: Membran timpani
b) Batas Depan: Tuba eustachius
c) Batas Bawah: Vena Jugularis
d) Batas Belakang: Aditus ad Antrum, Kanalis fasialis pars vertikalis

5
e) Batas Atas: Tegmen Timpani
f) Batas dalam: berturut-turut dari atas ke bawah yaitu kanalis semisirkularis
horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong, tingkap bundar, dan promontorium.1

Dari batas-batas tersebut maka terbentuklah suatu ruangan/kavitas yang berisi


tulang-tulang pendengaran/osikula auditiva yang terdiri dari Maleus (yang
bersentuhan dengan membrane timpani), Inkus, lalu Stapes yang berlekatan dengan
tingkap lonjong.1

Membran Timpani merupakan suatu bagian yang terdiri dari 2 lapis yaitu pars
flaksid dan pars tensa. Untuk pars. Flaksid ini berada di bagian atas dan hanya terdiri
dari 2 lapis yaitu lanjutan dari epitel kulit telinga dan lapisan mukosa yang terletak
dibagian dalam.Oleh karena lapisannya tipis, maka daerah ini yang sering mengalami
retraksi jika terjadi tekanan negatif di telinga tengah.2

Gambar 3. Anatomi Membran timpani.

Sedangkan untuk pars tensa merupakan bagian yang terletak dibawah yang
terdiri dari 3 lapis yaitu : lapisan kutaneous (Lapisan paling luar yang terdiri dari
berlapis kubis), lapisan mukosa (Lapisan paling dalam yang terdiri dari epitel selapis
kubis atau lanjutan dari mukosa saluran nafas, dan Lamina propria (terletak di
tengah dan terdiri dari lapisan sirkuler dan radier). Fungsi dari membrane timpani ini
adalah untuk mengubah gelombang suara menjadi getaran yang akan diteruskan
oleh tulang-tulang pendengaran.2
Pada kavum timpani terdapat 3 ruangan yaitu epitimpani, mesotimpani dan
hipotimpani. Pada epitimpani terdapat jaringan yang berguna untuk mempertahan
tulang-tulang pendengaran dan juga terdapat sedikit udara dan terdapat pintu dari
mastoid. Mastoid ini merupakan hasil pneumatisasi dari os. Temporal. Sampai saat ini
fungsi dari mastoid masih belum diketahui secara pasti.2

Gambar 4. Anatomi telinga tengah.


Sedangkan pada Hipotimpani, berbatasan dengan vena jugularis dan terdapat
tuba eustachius. Untuk tulang-tulang pendengaran/osikula auditiva, terdiri dari
Maleus (yang bersentuhan dengan membrane timpani), Inkus, lalu Stapes yang
berlekatan dengan tingkap lonjong. Fungsi dari tulang pendengaran ini selain
menghantarkan getaran dari membrane timpani juga untuk memperkuat getaran
tersebut sampai 17 kali.2

6
Tuba eustachius merupakan suatu saluran yang menghubungkan antara
cavum timpani dengan nasofaring yang bermuara di Ostium Pharyngeum Tuba
Auditifa (OPTA). Fungsi dari tuba eustasi ini sendiri adalah sebagai ventilasi dari
cavum timpani, menyeimbangkan tekanan di kavum timpani dan di atmosfir (diluar),
sebagai barrier terhadap infeksi asending. Pada anak-anak tuba eustasi ini lebih
horizontal dan lebih pendek daripada orang dewasa. Hal inilah yang dapat
mencetuskan mudahnya anak-anak menderita otitis media.2

Gambar 4. Tuba Eustachius.


2.8. ETIOPATOGENESIS
Pada dasarnya otitis media efusi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu otitis
media serosa dan otitis media mukoid. Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media
serosa dan apabila efusi tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid.1

Otitis media serosa terutama terjadi akibat adanya transudat atau plasma yang
mengalir dari pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar terjadi perbedaan
tekanan hidrostatik, sedangkan pada otitis media mukoid, cairan yang ada di telinga
tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang terdapat di dalam mukosa
telinga tengah, tuba eustachius, dan rongga mastoid. Faktor yang berperan utama dalam
keadaan ini adalah terganggunya fungsi tuba eustachius. Faktor lain yang dapat
berperan sebagai penyebab barotrauma, sinusitis, rinitis, defisiensi imunologik atau
metabolik. Keadaan alergik sering berperan sebagai faktor tambahan dalam timbulnya
cairan di telinga tengah (efusi di telinga tengah).1

7
Gambar 5: Patofisiologi Otitis Media Efusi.

Disfungsi tuba eustachius adalah prekursor yang utama. Jika tuba eustachius
tersumbat, maka akan tercipta keadaan vakum di dalam telinga tengah. Sumbatan yang
lama dapat mengarah pada peningkatan produksi cairan yang semakin memperberat
masalah. Gangguan pada tuba eustachius yang membuat tuba eustachius tidak dapat
membuka secara normal antara lain berupa palatoskisis dan obstruksi tuba serta
barotrauma.8
Palatoskisis dapat menyebabkan disfungsi tuba eustachius akibat hilangya
penambat otot tensor veli palatini. Pada palastokisis yang tidak dikoreksi, otot menjadi
terhambat dalam kontraksinya membuka tuba eustachius pada saat menelan.
Ketidakmampuan untuk membuka tuba ini menyebabkan ventilasi telinga tengah tidak
memadai, dan selanjutnya terjadi peradangan.8
Obstruksi tuba eustachius dapat disebabkan oleh berbagai keadaan termasuk
peradangan, seperti nasofaringitis atau adenoitis. Obstruksi juga disebabkan oleh tumor
nasofaring. Bila suatu tumor nasofaring menyumbat tuba eustachius, temuan klinis
pertama dapat berupa cairan dalam telinga tengah. Obstruksi dapat pula disebabkan
oleh benda asing, misalnya tampon posterior untuk pengobatan epistaksis, atau trauma
mekanis akibat adenoidektomi yang terlalu agresif sehingga terbentuk parut dan
penutupan tuba.6
Barotrauma adalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba
di luar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, yang menyebabkan
tuba gagal untuk membuka. Apabila perbedaan tekanan mencapai 90 cmHg, maka otot

8
yang normal aktivitasnya tidak mampu membuka tuba. Pada keadaan ini terjadi tekanan
negatif di rongga telinga tengah, sehingga cairan keluar dari pembuluh darah kapiler
mukosa dan kadang-kadang disertai dengan ruptur pembuluh darah, sehingga cairan di
telinga tengah dan rongga mastoid tercampur darah.1
Otitis media efusi dapat didahului dengan otitis media akut. Hal ini disebabkan
oleh sekresi cairan dari mukosa yang terinflamasi. Mukosa telinga tengah tersensitisasi
oleh paparan bakteri sebelumnya, dan melalui reaksi alergi terus menerus memproduksi
sekret. Tetapi otitis media dengan efusi tidak harus selalu diawali dengan otitis media
akut.5

2.9. KLASIFIKASI
Pada dasarnya otitis media serosa dapat dibagi atas 2 jenis:
1. Otitis media serosa akut
Adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah secara tiba-tiba yang
disebabkan oleh gangguan fungsi tuba eustachius yang terjadi disebabkan oleh
infeksi saluran nafas bagian atas atau serangan alergik pada nasal.9

2. Otitis media serosa kronis


Pada keadaan kronis, terjadinya sumbatan pada tuba eustachius dalam jangka
waktu yang lama atau terbentuknya sekret yang lebih kental sehingga sekret tidak
dapat diserap dan tidak bisa disalurkan melalui tuba eustachius.9

2.10. MANIFESTASI KLINIS


Otitis media efusi seringkali muncul tanpa nyeri. Cairan yang terkumpul dalam
telinga tengah dapat mengurangi pendengaran. Gejala yang menonjol pada otitis media
efusi biasanya pendengaran berkurang. Selain itu pasien juga dapat mengeluh rasa
tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda, pada
telinga yang sakit (diplacusis binauralis). Umumnya orang dewasa dapat menjelaskan
gejala-gejala yang dialaminya secara lebih dramatis, dapat berupa perasaan rasa penuh
dalam telinga, menurunnya ketajaman pendengaran dan tinitus. Masalah cairan dalam
telinga tengah ini paling sering ditemukan pada anak dan biasanya bermanifestasi
sebagai tuli konduktif. Pada kebanyakan anak, otitis media serosa terjadi secara
asimptomatik terutama pada anak-anak dibawah umur 2 tahun. Karena anak-anak
memerlukan pendengaran untuk belajar berbicara, maka hilangnya pendengaran akibat

9
cairan di telinga tengah dapat menyebabkan keterlambatan bicara, pemahaman
pembicaraan, gangguan perkembangan bahasa dan belajar.10

2.11. PENATALAKSANAAN
1. Terapi non-bedah
Otitis media efusi biasanya sembuh tanpa diobati dalam jangka waktu 2-3
minggu. Jika gangguan pada telinga berterusan setelah 1-3 bulan, pembedahan bisa
dilakukan. Terapi medikamentosa dapat berupa decongestan, anti histamin,
antibiotik, perasat valsava bila tidak ada tanda-tanda infeksi jalan napas atas dan
hiposensitisasi alergi. Dekongestan dapat diberikan melalui tetes hidung, atau
kombinasi anti histamin dengan dekongestan oral. Namun kepustakaan lain
menuliskan bahwa antihistamin maupun dekongestan tidak berguna bila tidak ada
kongest nasofaring. Untuk otitis media efusi itu sendiri, pemberian antibiotik tidak
disarankan. Dasar dari pemberian antibiotik adalah berdasarkan penelitian dari hasil
kultur bakteri cairan otitis media efusi. Cairan serosa dan mukoid yang
dikumpulkan pada miringotomi untuk diteliti, hasilnya ditemukan biakan kultur
positif pada 40% spesimen. Hasil biakan kultur tersebut mengandung organisme
yang identik dengan organisme yang didapat dari timpanosentesis otitis media akut.
Maka, pemilihan antibiotik pada otitis media serosa dan mukoid serupa dengan
otitis media akut. Hasil penelitian terkini, membuktikan bahwa penggunaan
antibiotik terbukti efektif hanya pada sejumlah kecil pasien, dan efeknya cenderung
bersifat jangka pendek. Oleh karena itu, penggunaannya tidak selalu mutlak,
mengingat efek sampingnya yang tidak sebanding dengan keefektifannya.
Hiposensitisasi alergi hanya dilakukan pada kasus-kasus yang jelas memperlihatkan
alergi dengan tes kulit. Bila terbukti alergi makanan, maka diet perlu dibatasi.
Tatalaksana lain yang masih kontroversial keefektifannya antara lain penggunaan
steroid dan mucolytik. Bagi kasus berulang, disarankan untuk melakukan drainage.6
Selain terapi medikamentosa, terdapat valsalva maneuver yang dapat
dilakukan untuk mengurangi gejala. Selama politzerization dan autoinflation, udara
dipaksa melalui tuba eustachius ke telinga tengah. Prosedur ini sering
mengakibatkan peningkatan pendengaran langsung, kemungkinan besar dengan
menggeser efusi di telinga tengah. Sayangnya, perbaikan biasanya berlangsung
sebentar, hanya berlangsung 40 menit sampai satu jam, dan tidak mengubah

10
perjalanan penyakit. Bagaimanapun, mungkin memiliki efek menggembirakan pada
pasien, yang menyadari bahwa gangguan pendengarannya bisa dikurangi.6

2. Terapi pembedahan
Beberapa pilihan untuk tatalaksana bedah antara lain paracentesis,
miringotomi, pemasangan tuba timpanostomi, adenoidektomi. Satu-satunya
pengobatan yang efektif pada pasien dengan otitis media efusi adalah evakuasi
cairan di telinga tengah dengan pembedahan. Evakuasi dari efusi oleh paracentesis
harus diikuti dengan upaya untuk menjaga aperture paracentesis tetap terbuka untuk
jangka waktu yang relatif lama untuk memfasilitasi masuknya udara ke dalam
telinga tengah dan memungkinkan silia untuk mengevakuasi efusi melalui tabung
eustachius. Aerasi tersebut dapat dicapai dengan pengenalan tabung ventilasi ke
dalam telinga tengah, sehingga secara fisik mencegah penutupan. Meskipun
penyisipan tabung ventilasi adalah prosedur yang relatif kecil, tetapi memiliki
dampak besar pada Otology modern. Ditemukan bahwa penyisipan tabung ventilasi
merupakan cara yang paling efisien untuk menganginkan telinga dalam kasus otitis
media efusi seperti pada pasien otitis media efusi dengan atelektasis. Sebuah
tabung ventilasi juga membantu untuk meringankan gejala di episode berulang
otitis media akut dan mungkin mengurangi jumlah mereka.6
Tabung ventilasi ditoleransi biasanya dengan baik. Jika dimasukkan dengan
benar, biasanya akan menetap di tempat selama sekitar 6 bulan sebelum terlepas
keluar secara spontan pada saat mukosa sembuh dan tidak perlu ventilasi lebih
lanjut. Sesetengah pasien bisa mengalami rekuren, bagaimanapun, ini memerlukan
pemasangan tabung ventilasi kembali. Ttubes menetap di tempat untuk waktu yang
lama, tapi semakin lama mereka tetap dalam telinga, besar kemungkinan terjadinya
komplikasi lokal. Membran timpani yang terinfeksi di sekitar tabung ventilasi dapat
diobati dengan pembersihan lokal, biasanya dilakukan dengan alat hisap. Ini
merupakan cara yang terbaik dilengkapi dengan penyemprotan lokal dengan asam
borat. Pemberian antibiotik adalah tidak berpengaruh.6,10
Setelah insisi dilakukan, tabung ventilasi bisa ditempatkan di beberapa bagian
membran timpani, tetapi harus waspada dalam menempatkan tabung karena
menempatkan tabung ventilasi pada kuadran posterosuperior ditakuti merusak sendi
Incudostapedial. Setelah tabung ditempatkan, aksi dari sistem mukosiliar akan
membersihkan efusi serosa, lendir, atau mucopus pada telinga tengah melalui

11
tabung eustachius. Setelah melakukan pemasangan tabung, harus segera dilakukan
aspirasi cairan untuk menghindari penyumbatan dari tabung ventilasi.4,6

Gambar 6. Tuba miringotomi ditempatkan di anteroinferior.

2.12. KOMPLIKASI
Otitis media efusi yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi berupa
atelektasi membran timpani, adhesive otitis media, tympano/ myringosclerosis dan
ankilosis tulang pendengaran yang bisa menyebabkan pembentukan kolesteatoma.9,10

2.13. PROGNOSIS
Meskipun kebanyakan pasien dengan otitis media efusi akhirnya sembuh dengan
baik, dan cukup cepat pada saat itu, sejumlah kasus refrakter terus berlanjut bahkan
setelah berulang melakukan pemasangan tabung ventilasi. Kasus refrakter ini bisa
berlanjut menjadi kondisi atelektasis, kerusakan tulang pendengaran dan kolesteatoma.
Untuk kasus kronis otitis media efusi, aerasi jangka panjang yang buruk pada telinga
tengah, bisa mengarah pada komplikasi yang disebutkan di atas. Disebabkan
komplikasi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada struktur telinga tengah
pasien, harus dilakukan pemantauan untuk beberapa jangka waktu yang cukup setelah
sembuh untuk memastikan bahwa tidak ada atelektasis, saku retraksi, atau bahkan
kolesteatoma berkembang tanpa gejala.10

2.14. KESIMPULAN
Hipotesis diterima, anak tersebut menderita otitis media efusi.
Daftar Pustaka

12
1. Djaafar ZA, Helmi, Restuti RD. Kelainan Telinga Tengah. In: Soepardi EA, et all,
editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6 th
ed. Jakarta : Badan Penerbit FKUI. 2007. p. 64-74
2. Adams L George, R Lawrence, Higler A Peter. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Edisi 6.
Jakarta: EGC. 1997: 88-118
3. Sumit K Agrawal, Aguila J Demetrio, Ahn S Min, et al. Current Diagnosis &
Treatment Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2th ed. USA: Mc Graw Hill.
2008
4. Farida khan, Muhammad A, G.H. Faroqi, S.A. shah, T.sajid, Management outcome of
secretory otitis media, Departement of ENT, Ayub medical college 18(1);2006
5. Probost R, Grevers G, Iro H. Middle ear. In: Probost R, Grevers G, Iro H, editors.
Basic Otorhinolaryngology. Stutgart : Thieme.; 2006. p. 228-249
6. Trabajos cientificos, Diagnosis and treatment of secretory otitis media, IORL, 22(1);
1989:1-4
7. American Academy of Pediatric. 2004. Otitis Media with Effusion. Office Journal of
The American Academy of Pediatrics. Volume 113 No 5. p. 1412-29
8. Paparella,MM., Adams, GL., Levine, SC. Penyakit telinga tengah dan
mastoid. Dalam: Adams, GL., Boies,LR., Higler, PA. BOIES Buku Ajar
Penyakit THT. Ed. 6. Jakarta:EGC. 1997. P. 90-9
9. David L.S, Ear, Nose and throat disorders: serous otitis media, Netwellness; 2008
10. Surgical management of otitis media with effusion in children, NICE, 2008

13