Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

HERPES ZOSTER

Bramanthya Reinhart
Ria Takbirani Permatasai
Shinta Rapika Pratama

Pembimbing :
dr. Silvi T.Bangun M.Ked, Sp.KK

KEPANITRAAN KLINIK SENIOR KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2017
A. Identitas

Nama : Tn. K
Umur : 79 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Kabanjahe
Pekerjaan : Pensiunan
Rekam Medis : 148234

B. Keluhan Utama
Bintil bintil kemerahan disertai rasa nyeri.

C. Riwayat Penyakit Sekarang


Os datang ke poliklinik kulit kelamin RSUD Kabanjahe dengan keluhan timbul bintil-
bintil kemerahan di daerah dahi kiri disertai rasa nyeri sejak 5 hari yang lalu. Kemudian bintil
tersebut bertambah dan menyebar ke kelopak mata kiri.
Keluhan tersebut disertai perih dan rasa panas seperti terbakar. Sebelum timbul keluhan
os mengaku mengalami demam dan nyeri kepala, setelah itu timbul kemerahan di dahi kiri dan
kemudian timbul bintil-bintil berkelompok berisi cairan.
Dua hari sebelum datang ke poliklinik os mengoleskan minyak karo dan balsem ke
daerah dahi kiri, kemudian bintil kemerahan berisi cairan tersebut pecah dan kering.
Os mengatakan bahwa ia tidak pernah di gigit oleh serangga, tidak pernah mempunyai
luka sbelumnya dan tidak ada kontak alergi terhadap bahan kimia seperti detergen dan serbuk
pestisida.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Os tidak pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya. Riwayat cacar (+) saat masih
kanak-kanak. Sebelumnya os pernah operasi polip hidung dan kemoterapi.

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga os yang mempunyai keluahan yang sama.

F. Riwayat Pengobatan dan Alergi


Os rujukan dari dokter spesialis mata dan os tidak mempunyai alergi terhadap obat-
obatan atau mkanan tertentu.

G. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : TD : tidak dilakukan
RR : tidak dilakukan
Nadi : tidak dilakukan
Suhu : tidak dilakukan

Status generalisata
Kepala : terdapat kelainan kulit
Mata : terdapat kelinan kulit
Telinga : DBN
Leher : DBN
Thorax : DBN
Abdomen : DBN
Ekstremitas : DBN
Status Dermatologis
Regio frontal sinistra :

Tampak vesikel berkelompok di atas kulit yang eritematosus, unilateral, dipisahkan oleh
kulit yang normal sesuai dermatom. Di beberapa tempat terdapat krusta. Skuama (-),
ulkus (-), pustul (-), urtika (-), hipopigmentasi (-), kulit kering (-), sikiatrik (-).

H. Resume
Os datang ke poliklinik kulit kelamin RSUD Kabanjahe dengan keluhan timbul bintil-
bintil kemerahan di daerah dahi kiri disertai rasa nyeri sejak 5 hari yang lalu. Kemudian bintil
tersebut bertambah dan menyebar ke kelopak mata kiri.
Keluhan tersebut disertai perih dan rasa panas seperti terbakar. Sebelum timbul keluhan
os mengaku mengalami demam dan nyeri kepala, setelah itu timbul kemerahan di dahi kiri dan
kemudian timbul bintil-bintil berkelompok berisi cairan.
Dua hari sebelum datang ke poliklinik os mengoleskan minyak karo dan balsem ke
daerah dahi kiri, kemudian bintil kemerahan berisi cairan tersebut pecah dan kering. Riwayat
cacar (+) saat masih kanak-kanak.
Pada pemeriksaan at regio frontal sinistra tampak vesikel berkelompok diatas kulit yang
eritematosus, unilateral, dipisahkan oleh kulit yang normal sesuai dermatom. Di beberapa tempat
terdapat krusta.

I. Diagnosa Kerja
Herpes Zoster

J. Diagnosa Banding Kasus


Herpes Simplek
Pemfigus Vulgaris
Impetigo Vesikobulosa

K. Penatalaksanaan
Non Farmakologi
- Istirahat yang cukup
- Menjaga kebersihan diri dengan tetap mandi
- Jangan menggaruk dan memecahkan bintil-bintil
- Makan makanan yang bergizi
Farmakologi
- Kompres Nacl 0.9% selama 15 menit setiap 4 jam pada lesi.
- Acyclovir 5x800mg tab
- Neurodex 1x1tab
- Fuldic cream 2x1 ue (antibiotik cream)

L. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Quo ad Fungtionam : dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Herpes zozter adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi
primer.1,2

B. Epidemiologi
Penyebarannya sama seperti varisela. Lebih sering pada orang tua jarang pada anak-anak dan
dewasa muda.1

C. Etiologi
Varisela zoster1,2
Masa inkubasi 7-12 hari
Masa aktif 1 minggu
Resolusi 1-2 minggu

D. Patofisiologi
Setelah infeksi primer oleh virus varisela zoster, partikel virus dapat tetap tinggal dalam ganglion
sensoris saraf spinalis, kranialis, atau otonom selama betahun-tahun. Pada saat respon imunitas
seluler dan titer antibodi spesifik terhadap virus varisela zster menurun ( misalnya karena umur
atau penyakit imunosupresif) sampai tidak lago efektif mencegah infeksi virus, maka partikel
virus varisela zoster yang laten tersebut mengalami reaktivasi dan menimbulkan ruam kulit yang
terlokalisata di dalam suatu dermatom.1
E. Gejala Klinis1

Gejala prodromal : sensasi abnormal atau nyeri otot lokal, nyeri tulang, pegal, parastesia
sepanjang dermatom, gatal, rasa terbakar ringan hingga berat. Gejala prodromal
berlangsung beberapa hari (1-10 hari, rata-rata 2 hari).
Gejala konstitusi : nyeri kepala, demam.
Erupsi kulit : Makula kemerahan terbatas dalam 1 dermatom = papul = vesikel jernih
berkelompok = isi vesikel menjadi keruh = vesikel pecah = krusta = involusi
Bila menganai nervus fasialis dan nervus auditorius menyebabkan Sindrom Ramsay Hunt
yaitu erupsi kulit timbul di liang telinga luar atau membran timpani disertai paresis
fasialis, gangguan lakrimalis, gangguan pengecapan 2/3 lidah bagian depan ; tinitus,
vertigo, dan tuli.
Bila mengenai cabang pertama Nervus trigeminus = herpes zoster oftalmikus.
Zoster sine herpete : nyeri segmental tidak diikuti erupsi kulit.
Herpes zoster abortil : erupsi kulit hanya berupa eritem dengan atau tanpa vesikel yang
langsung mengalami resolusi (perjalanan peyakit singkat).
Herpes zoster aberans : erupsi kulit garis tengah.

F. Diagnosis Banding1

Herpes zoster awal : dermatitis kontak


Herpes zoster di daerah genital : herpes simpleks
Herpes zoster diseminata : varisela
Diagnosis Banding Kasus
Herpes Simpleks2

Suatu lesi akut berupa vesikel berkelompok di atas daerah yang eritem, dapat satu atau beberapa
kelompok terutama pada atau dekat sambungan mukokutan.
Etiologi : Herpes virus hominins
Epidemiologi : Dapat menyerang semua umur.
Gejala : gatal, rasa terbakar dan eritema, terkadang timbul nyeri. Dapat disertai demam, malaise,
dan nyeri otot.
Lokasi : sering pada daerah sambungan mukokutan.
Efloresensi : Vesikel- vesikel miliar berkelompok, jika pecah membentuk ulkus yang dangkal
dengan kemerahan pada daerah disekitarnya.

Pemfigus Vulgaris2

Penyakit berlepuh dengan pembentukan bula diatas kulit normal dan selaput lendir.
Etiologi : Penyebab pasti belum diketahui, diduga berhubungan dengan autoimun.
Epidemiologi : Banyak pada dasawarsa ke5 dan ke6, dapat juga semua umur.
Gejala : gatal dan nyeri.
Lokasi : generalisata, 60% lesi pada kepala dan mukosa mulut.
Efloresensi : Bula berdinding kendur, eritema, krusta, erosi dan hipo-hiperpigmentasi.

Impetigo Vesikobulosa2

Suatu bentuk impetigo dengan gejala utama berupa lepuh lepuh berisi cairan kekuningan
berdinding tegang, terkadang tampak hipopion.
Etiologi : staphylococcus
Epidemiologi : Anak anak dan dewasa
Gejala : Tanpa gejala sistemik. (eritema, vesikel, bula, bula hipopion, erosi dengan skuama).
Lokasi : Ketiak, dada, punggung, dan ekstremitas atas dan bawah.
Efloresensi : vesikel-bula berdinding tebal dan tipis, miliar hingga lentikular, kulit sekitar tidak
menunjukan peradangan, kadang-kadang tampak hipopion.

G. Komplikasi
Neuralgia pasca herpes1

H. Pencegahan
Vaksin

I. Tatalaksana
Prinsip : menghilangkan nyeri secepat mungkin dengan cara membatasi replikasi virus
sehingga mengurangi kerusakan saraf lebih lanjut.1
Sistemik :
1. Obat antivirus :
Famsiklovir 3x500mg
Valasiklovir 3x1000mg
Asiklovir 5x800mg
Diberikan 72 jam sebelum awitan lesi, selama 7 hari.
2. Kortikosteroid
3. Analgetik
4. Antidepresan dan antikonvulsan : Gabapentin
Topikal :
1. Kompres terbuka dengan solusio burowi
2. Analgetik topikal
3. Anestetik lokal
Daftar Pustaka

1. Djuanda, Adhi dr. Editor: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI, 2010.
2. Siregar, RS dr. Saripati Penyakit Kulit.Jakarta : EGC, 2014.