Anda di halaman 1dari 40

PERISTIWA WABAH

PENDAHULUAN
Untuk dpat melakukan penanggulangan wabah yang sebaik-baiknya, perlulah
diketahui pula apa yang dimaksud dengan peristiwa wabah itu sendiri serta
bagaimana munculnya peristiwa wabah tersebut. Pengetahuan yang seperti ini,
tidak hanya penting untuk mengenal keadaan wabah tetapi amat penting urituk
menangani terjangkitnya keadaan
wabah.
Jika ditinjau dan sejarah perkembangan penanggulangan wabah yang pernah
dikenal, ada atau tidaknya peptahuan yang seperti ini amat menentukan tindakan
yang dilakukan. Pada masa lalu, sebagai akibat pengetahuan yang belum
sempurna, tindakan penanggulangan wabah selalu dikaitkan dngan sesuatu
yang bersifat supra natural. Keadaan yang seperti ini bukan saja kan
menyebabkan wabah tidak mungkin ditanggulangi, tetapi juga dapat menyulitkan
kehidupan masyarakat, seperti misalnya yang pernah terjadi pada
penanggulangan wabah penyakit pes pada jaman era kegelapan.

Pada saat ini sejalan dengan kemajuan ilmu dan tekno logi kedokteran,
pengetahuan tentang munculnya keadaan wabah telah banyak diketahui. Namun
bukan berarti masalah yang ada kaitannya dengan keadaan wabah telah
berhasil dituntaskan. munculnya beberapa peristiwa wabah seperti penyakit
AIDS sebagaimana yang terjangkit kini, pada beberapa bagian tetap menjadi
misteri bagi kalangan kedokteran.

BATASAN

Sebagaimana telah disebutkan ada perbedaan pengertian wabah dari sudut


epidemiologi dan dari sudut peraturan perundang-undangan. Dan sudut
epidemiologi yang dimaksud dengan wabah ialah suatu keadaan dimana jumlah

1
penderita suatu penyakit tertentu dalam waktu dan tempat tertentu berada dalam
jumlah yang berbeda bermakna dan keadaan biasa. Sedangkan dari sudut
peraturan perundang-undangan yang dimaksud dengan keadaan wabah ialah
kejadian terjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Adanya perbcdaan yang seperti ini tidak perlu terlalu dirisaukan. Masih
diutamakannya keadaan wabah hanya untuk penyakit menular saja, karena
memanglah untuk Indonesia penyakit menular masih banyak ditemukan.

Sampai saat ini penyebab dari masih tingginya angka penyakit dan angka
kematian di Indonesia, memang masih berhubungan erat dengan sering
ditemukannya wabah penyakit menular. Jika wabah penyakit menular ini dapat
dicegah, maka pada gilirannya dapatlah diharapkan menurunnya angka penyakit
dan angka kematian yang dimaksud.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA WABAH

Timbul atau tidaknya wabah suatu penyakit menular dipengarui oleh banyak
faktor. Faktor-faktor tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh Gordon dan Le
Richt ialah terdapat pada pejamu, bibit penyakit dan Iingkungan.

Pada dasarnya semua faktor yang terdapat pada pejamu, bibit penyakit serta
lingkungan dapat mempengaruhi timbulnya keadaan wabah. Hanya saja dari
sekian banyak faktor yang terdapat pada ketiga hal tersebut diatas, yang
terpenting diantaranya ialah faktor herd immunity yang terdapat pada pejamu,

2
faktor patogenisiti yang terdapat pada bibit penyakit serta faktor llngkungan yang
buruk yang terdapat pada lingkungan.

1. Herd immunity yang rendah


Faktor pertama yang mempengaruhi timbulnya wabah ialah herd immunity
atau kekebalan masyarakat. Herd immunity ini terdapat pada pejamu yang
peranannya amat penting dalam menimbulkan keadaan wabah. Adapun
yang dimaksud dengan herd immunity atau kekebalan tersebut adalah
daya tahan masyarakat terhadap penyebaran penyakit infeksi karena
sebagian besar anggota masyarakat memiliki kekebalan terhadap
penyakit infeksi tersebut.

Dan pengertian yang seperti ini jelas jika pada suatu daerah berhasil
dilaksanakan program imunisasi misalnya, maka kekebalan masyarakat
terhadap penyakit yang ingin dicegah dengan diimunisasi tersebut akan
tinggi sehingga wabah tidak mudah terjadi. Sebaliknya jika kekebalan
masyarakat tersebut rendah, maka masyarakat mudah terserang penyakit
yang apabila jumlah penderitanya meningkat dengan pesat, timbullah
keadaan wabah

Dalam keadaan tertentu sekalipun sebagian besar anggota masyarakat


telah memiliki kekebalan, dapat saja timbul keadaan wabah. ini berarti
terjadi penurunan herd immunity pada masyarakat tersebut. Menurunnya
kekebalan masyarakat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni:

3
a. Bila sebagian besar dan anggota masyarakat telah tidak
kebal lagi. Keadaan yang seperti ini dapat ditemukan
misalnya bila terjadi:
Penambahan dan atau kedatangan orang-orang
yang tidak kebal pada kelompok tersebut.
Pengurangan dan atau kepergian orang-orang yang
kebal dan kolompok tersebut.
Terjadinya perubahan sifat antigenisiti dari bibit
penyakit tersebut.
b. Bila anggota masyarakat yang tidak memiliki kekebalan
berkelompok pada suatu daerah tertentu sedangkan yang
memiliki kekebalan berkelompok ditempat lain,
Lazimnya jika sebagian besar anggota masyara kat (sekitar
80%) memiliki kekebalan, maka kelompok masyarakat
tersebut dapat menjadi perisai bagi kelompok masyarakat
lainnya yang kebetulan tidak memiliki kekebalan. Syaratnya
ialah apabila ditemukan penyebaran yang merata dari
anggota masyarakat yang di maksud.
Tetapi jika kebetulan penyebaran tersebut tidak merata,
dalam arti terjadi pengelompokkan dimana anggota
masyarakat yang memiliki kekebalan berkelompok secara
terpisah dengan anggota masyarakat yang tidak memiliki
kekebalan, sekalipun sebagian besar anggota masyarakat
telah memiliki kekebalan, tetap saja ada kemungkinan
terjadinya wabah.

Pada keadaan yang seperti ini penyakit tersebut akan


menyerang kelompok masyarakat yang tidak memiliki
kekebalan, yang apabila jumlahnya meningkat dengan cepat
dapat menimbulkan wabah.

4
c. Tingginya kesempatan orang-orang yang tidak kebal
berkontak satu sama lainnya. Timbulnya wabah disini ialah
karena orang- orang yang kebal tidak lagi berfungsi sebagai
perisai (pelindung) bagi yang tidak kebal.

2. Patogenesiti
Faktor kedua yang mempengaruhi timbulnya wabah ialah sifat patogenesi
dari bibit penyakit. Adapun yang dimaksud dengan patogenisiti disini,
seperti yang telah diuraikan ialah menunjuk kepada kemampuan bibit
penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul
penyakit.

Secara umum disebutkan bahwa makin besar kemampuan kuman


menimbulkan penyakit, maka besar pula kemungkinan penyakit tersebut
menjadi wabah. Keadaan yang seperti ini disebut bibit penyakit
patogenisiti kuat (high pathogenicity) misalnya virus cacar (smallpox).
Pada penyakit cacar, hampir setiap orang yang kontak dengan virus cacar
akan menjadi sakit sehingga dapat mendorong timbulnya wabah.

Sebaliknya pada penyakit poliomylitis, tidaklah semua orang yang kontak


dengan poliovirus akan menjadi sakit. Oleh karena itu poliovirus
digolongkan kedalam bibit penyakit dengan patogenisiti lemah (low
patoganasiti). Patogenisiti suatu agent penyakit dapat dihitung dengan
mempergunakan rumus sebagai berikut :

Jumlah yang sakit

Patogenesiti = -----------------------

Jumlah orang yang kontak

5
3. Lingkungan yang buruk
Faktor ketiga yang mempengaruhi timbulnya wabah ialah keadaan
lingkungan yang buruk. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan disini
ialah seluruh kondisi yan terdapat disekitar organisme tetapi
mempengaruhi kehidupan dan ataupun perkembangan organisme
tersebut.

Secara umum lingkungan tersebut dibedakan atas tiga macam yakni


lingkungan fisik, lingkungan biologis serta Iingkungan sosial. Apabila
terjadi perubahan pada lingkungan maka berubah pulalah pengaruhnya
terhadap kehidupan dan ataupun perkembangan organisme.

Berubahnya Iingkungan menjadi buruk pada dasarnya karena ekosistem


yang ada telah tidak mampu lagi menyerap perubahan yang terjadi.
Mungkin karena perubahan tersebut terjadi terlalu cepat (faktor waktu)
dan ataupun mungkin karena volume perubahan terlalu berat untuk
ekosistem yang ada. Dalam keadaan yang seperti ini akan timbul banyak
masalah yang untuk bidang kesehatan antara lain dapat mendorong
timbulnya wabah.

Contoh terjadinya perubahan lingkungan yang buruk ialah ketika terjadi


bencana alam. Keadaan Iingkungan yang tidak menguntungkan (seperti
misalnya banjir, kekeringan, letusan gunung berapi dan tanah longsor)
yang kesemuanya ini bersifat menguntungkan bibit penyakit (lalat mudah
berkembang biak) dan kemudian ditambah lagi dengan menurunnya daya
tahan tubuh (seperti misalnya kurang istirahat serta tidak cukup makan)
akan menyebabkan penyakit mudah terjangkit serta memudahkan
timbulnya wabah.

6
MACAM WABAH

Tergantung dari sifat-sifat yang dimilikinya, wabah dapat dibedakan atas tiga
macam yakni :

1. Point source epidemic (common source epidemic).


Yang dimaksud dengan point source epidemic ialah suatu keadaan wabah
yang ditandai oleh:

a. timbulnya gejala penyakit (onset penyakit) yang cepat.


b. Masa inkubasi penyakit yang pendek
c. Episode penyakit merupakan peristiwa tunggal
d. Waktu munculnya penyakit jelas
e. Lenyapnya penyakit dalam waktu cepat.
Keadaan wabah yang seperti ini ditemukan misalnya pada peristiwa
keracunan makanan. Sekelompok orang yang selesai pesta tiba-tiba
menderita penyakit muntah berak.

Wabah yang muncul disini adalah merupakanperistiwa tunggal (penyakit


muntah berak), waktu munculnya penyakit jelas (setelah ikut pesta) serta
sumber penyebabnya adalah sama yakni karena memakan makanan
yang disajikan dalam pesta (common source/point source).

Lamanya masa inkubasi, saat timbul gejala penyakit serta saat lenyapnya
penyakit tergantung dari penyebab penyakitnya, tetapi pada umumnya
lebih singkat daripada wabah penyakit lainnya.

2. Contagious disease epidemic (propagated epidemic)


Yang dimaksud dengan contagious disease epidemic ialah suatu keadaan
wabah yang ditandai oleh :

a. timbulnya gejala penyakit (onset penyakit) yang pelan.


b. Masa inkubasi penyakit yang panjang

7
c. Episode penyakit yang bersifat majemuk
d. Waktu munculnya penyakit yang tidak jelas
e. Lenyapnya penyakit dalam waktu lama.
Keadaan wabah yang seperti ini umumnya berlaku untuk suatu penyakit
menular. Timbulnya keadaan wabah disini adalah karena adanya faktor-
faktor yang menguntungkan timbulnya wabah (propagated) serta karena
adanya hubungan (contact) antara penderita dengan orang lain yang
rentan.

3. Mix source epidemic


Yang dimaksud dengan mix epidemic (wabah campuran) ialah suatu
keadaan wabah yang disamping ditemukan gejala-gejala dari wabah
bentuk kedua. Karena gejala-gejala pada wabah campuran ini tidak khas,
sering mengacaukan interpretasi sehingga dapat mempersulit upaya
penanggulangannya.

8
MENETAPKAN TERJANGKITNYA KEADAAN WABAH

PENDAHULUAN

Telah disebutkan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan pada


penganggulangan wabah ialah menetapkan terjangkitnya keadaan wabah. Pada
dasarnya menetapkan ada atau tidaknya keadaan wabah tersebut merupakan
tanggung jawab masyarakat secara keseluruhan. Mudah dipahami karena hanya
dengan adanya keikutsertaan masyarakatlahakan dapat dilakukan penemuan
wabah yang sedini-dininya. Dengan ikut sertanya masyarakat tersebut, bukan
saja keadaan wabah akan dapat diketahui, tetapi juga yang terpenting ialah akan
dapat digerakkan keikutsertaan masyarakat dalam penanganan wabah
selanjutnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun adanya peran serta masyarakat amat


penting, namun untuk dapat menjamin segera diketahui terjangkitnya atau
tidaknya keadaan wabah, keterlibatan petugas kesehatan tetap diperlukan.
Sesuai dengan peranan, wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki,
keterlibatan yang dimaksud terutama adalah dalam hal pengambilan inisiatif.
Inisiatif yang seperti ini makin bertambah penting jika kebetulan berhadapan
dengan kelompok masyarakat yang karena tingkat kehidupan sosial ekonomi
dan pendidikannya, belum begitu memahami akan pentingnya kesehatan.

Untuk Indonesia inisiatif yang seperti ini terutama diharapkan dari petugas
kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan lini terdepan. Fasilitas yang
dimaksud ialah PUSKESMAS yang oleh pemerintah telah didirikan hampir
diseluruh pelosok tanah air.

9
BATASAN

Batasan tentang penetapan terjangkitnya keadaan wabah banyak macamnya.


Secara sederhana yang dimaksud dengan penetapan keadaan wabah ialah
suatu proses pengumpulan dan penganalisaan data dari suatu penyakit disuatu
daerah tertentu serta menarik kesimpulan atasnya sehingga dapat segera
diketahui ada atau tidaknya keadaan wabah didaerah tersebut.

Dari batasan sederhana yang seperti ini jelaslah untuk dapat melakukan
penetapan terjangkitnya keadaan wabah ada beberapa kegiatan yang harus
dilaksanakan, yang jika disederhanakan dapat dibedakan atas tiga macam yakni:

1. Melakukan pengumpulan data


Kegiatan pertama yang harus dilaksanakan ialah melakukan
pengumpulan data. Untuk Indonesia jenis data yang dikumpulkan masih
bersifat terbatas. Disesuaikan dengan UU No. 4 tahun 1984, maka yang
perlu dikumpulkan hanyalah data tentang penyakit menular saja.

Sekalipun data yang dikumpulkan masih bersifat terbatas, namun untuk


melakukan pengumpulan data tersebut secara aktif tidaklah semudah
yang diperkirakan. Masalah pokok yang dihadapi ialah karena terbatasnya
tenaga, dana dan sarana yang dimiliki.

Untuk mengatasinya, sering dimanfaatkan data yang dikumpulkan secara


pasif saja. Data yang dimaksudkan disini secara umum dapat dibedakan
atas dua macam yakni:

a. Data kegiatan rutin


Untuk PUSKESMAS data kegiatan rutin ini misalnya adalah
laporan pelayanan berobat jalan yang diselenggarakan oleh Balai
Pengobatan yang ada di tiap PUSKESMAS.

10
b. Data laporan masyarakat.
Karena terjangkitnya penyakit dengan jumlah yang besar akan
menggelisahkan masyarakat, maka masyarakat sering
melaporkannya ke instansi kesehatan. Data tersebut dapat
dimanfaatkan untuk menetapkan ada atau tidaknya wabah disuatu
daerah.

Sekalipun kedua jenis data ini dapat dimanfaatkan, haruslah diingat


bahwa data yang diperoleh tersebut tidak menggambarkan keadaan yang
sebenarnya. Data kegiatan rutin PUSKESMAS misalnya, tidaklah lengkap.
Dimasyarakat masih ditemukan banyak penderita lain, yang karena satu
dan lain hal, tidak datang berobat ke PUSKESMAS, sehingga datanya
tidak dimiliki.

2. Melakukan analisa data


Kegiatan kedua yang harus dilaksanakan adalah melakukan analisa data
dalam bentuk mengolah dan menyajikan data yang telah terkumpul. Pada
analisa data ini dilakukan pula beberapa perhitungan termasuk
perhitungan tentang jumlah dan penyebaran orang-orang yang terserang
penyakit tersebut.

3. Menarik kesimpulan.
Kegiatan ketiga yang perlu dilakukan ialah menarik kesimpulan dari hasil
analisa data yang dilakukan. Untuk dapat menarik kesimpulan ini tentu
diperlukan suatu tolak ukur. Tolok ukur yang dimaksud dikenal dengan
nama nilai Batas Keadaan Wabah.

Kesimpulan yang dapat ditarik pada dasarnya dapat dibedakan atas dua
macam yakni:

a. Tidak terjadi keadaan wabah


Disebut tidak terjadi keadaan wabah apabila jumlah dan
penyebaran penderita tidak berbeda bermakna dengan Nilai Batas
Keadaan Wabah yang telah ditetapkan

11
b. Telah terjadi keadaan wabah
Disebut telah terjadi keadaan wabah apabila jumlah dan
penyebaran penderita meningkat secara cepat dan berbeda
bermakna dengan melebihi Nilai Batas Keadaan Wabah yang telah
ditetapkan.

NILAI BATAS KEADAAN WABAH

Yang dimaksud dengan Nilai Batas Keadaan Wabah ialah suatu nilai yang
dipakai untuk menentukan terjadi atau tidaknya suatu wabah. Tergantung dari
jenis penyakitnya, ciri-ciri penduduk yang terserang serta situasi dan kondisi
daerah yang terjangkit, maka Nilai Batas Keadaan Wabah ini tidaklah sama.

Bertitik tolak dari pendapat yang seperti ini jelaslah untuk menentukan ada atau
tidaknya wabah disuatu daerah, tidaklah tepat jika dipergunakan nilai nasional.
Cara yang tepat untuk menentukan ada atau tidaknya wabah pada suatu daerah
ialah menghitung Nilai Batas Keadaan Wabah untuk daerah itu sendiri.

Untuk menghitung Nilai Batas Keadaan Wabah ini diperlukan tersedianya dua
angka yakni yang menunjukkan keadaan yang lazim (normal) dari suatu penyakit
yang dapat diketahui dengan menghitung jumlah rata-rata penderita (mean)
serta nilai standar penyimpangan (standard deviasi) dari penyakit tersebut.

Perhitungan kedua nilai ini adalah untuk suatu kurun waktu tertentu. Kurun waktu
tertentu tersebut yang disesuaikan dengan situasi dengan kondisi PUSKESMAS
ialah untuk satu minggu. Apabila data tersedia, perhitungan dilakukan dengan
memanfaatkan data tahun yang lalu. Tetapi jika tidak tersedia, dapat
dimanfaatkan data untuk 12 minggu.

Nilai Batas Keadaan Wabah suatu penyakit ialah nilai jumlah rata-rata penderita
penyakit ditambah dengan dua kali nilai standar penyimpangannya.

12
CONTOH:

Pencatatan terhadap penyakit A selama 12 minggu memperlihatkan jumlah


penderita baru dari minggu pertama sampai minggu ke 12 berturut-turut 8 orang,
10 orang, 13 orang, 9 orang, 9 orang, 15 orang, 10 orang, 8 orang, 11 orang, 13
orang, 14 orang dan 14 orang. Berapakah nilai rata-rata (mean) dan standar
penyimpangan (SD) dari penyakit A tersebut untuk 1 minggu?.

Untuk mencari nilai mean dipergunakan rumus sebagai berikut:

Ex

X = ---------------

X = nilai rata-rata kasus perminggu

Ex = jumlah seluruh kasus

N = jumlah minggu

Hasil yang diperoleh adalah:

X= 134/ 12 = 11

Artinya jumlah kasus penyakit A rata-rata seminggu adalah sebanyak 11 orang.

Untuk mencari nilai standar deviasi dipergunakan rumus sebagai berikut:

13
E(x X )2
SD
N 1

SD = Standard deviasi

X = jumlah kasus seminggu

X = nilai rata-rata kasus seminggu

N = jumlah minggu

Untuk memudahkan perhitungan nilai standard deviasi ada baiknya data tentang
penyakit tersebut disusun dalam bentuk tabel. Hasil yang diperoleh terlihat
sebagai berikut :

Minggu Jumlah (x X) (x X)2


ke Kasus Baru
(N) Penyakit A
(x)
1 8 -3 9
2 10 -1 1
3 13 2 4
4 9 -2 4
5 9 -2 4
6 15 4 16
7 10 -1 1
8 8 -3 9
9 11 0 0
10 13 2 4
11 14 3 9
12 14 3 9
TOTAL 134 71
Dengan demikian nilai standar deviasi untuk penyakit A dalam seminggu adalah :

71
2,54
11

14
Dari perhitungan yang seperti ini dapatlah ditetapkan nilai batas keadaan wabah
yakni nilai rata-rata ditambah dua standard deviasi. Nilai yang diperoleh ialah : 11
+ 2 (2,54) = 16 kasus baru (dibulatkan).

Artinya kalau dalam waktu satu minggu jumlah kasus baru penyakit A mencapai
17 penderita atau lebih maka ditempat tersebut terjadi wabah atau kejadian luar
biasa untuk penyakit A.

Perlu dikemukakan disini, penetapan nilai batas keadaan wabah dengan cara ini
haruslah berhati-hati, karena data yang dipergunakan tidaklah lengkap.
Dimasyarakat ditemukan penderita yang tidak datang berobat, berobat sendiri,
berobat ketempat lain atau bahkan ada yang meninggal dunia yang datanya
sama sekali tidak tercatat.

Selanjutnya, perlu pula dikemukakan bahwa Nilai Batas Keadaan Wabah yang
diperoleh harus selalu ditinjau secara berkala. Siapa tahu telah terjadi perubahan
yang dapat mempengaruhi jumlah dan penyebaran suatu penyakit.

KESIMPULAN TERJANGKIT TIDAKNYA KEADAAN WABAH.

Setelah analisa data berhasil dilakukan dilanjutkan dengan menarik kesimpulan


dari data yang telah dianalisa. Tujuannya adalah untuk mengetahui ada atau
tidaknya keadaan wabah disuatu daerah. Untuk dapat menarik kesimpulan ini
banyak cara yang dapat dipergunakan. Dua diantaranya yang terpenting ialah
mempergunakan teknik grafik penyakit disatu pihak serta teknik tabel penyakit
dipihak yang lain.

1. Teknik grafik penyakit.


Pada teknik ini data tentang nilai batas keadaan wabah yang telah
dihitung diubah kedalam bentuk grafik. Pada contoh diatas, gambaran
grafik yang diperoleh terlihat sebagai berikut:

15
Keterangan :

Daerah A ; daerah dimana terjadi wabah

Daerah B ; daerah dimana pengamatan harus lebih intensif

Daerah C ; daerah dimana keadaan penyakit normal/lazim.

Jika pada pengamatan 12 minggu kemudian didapatkan data penyakit


yang sama sebagai berikut :

Minggu Jumlah Kasus


Baru
1 6
2 9
3 12
4 8
5 15
6 24
7 27
8 19
9 15
10 9
11 11
12 8

Bagaimana mengetahui bahwa keadaan penyakit tersebut masih lazim


atau sudah menjadi wabah?.

Dengan mempergunakan teknik grafik penyakit, maka data tentang


penyakit A selama 12 minggu tersebut dipindahkan kedalam grafik yang
telah dibuat. Gambaran yang terlihat adalah sebagai berikut :

Dari gambaran grafik yang seperti ini dapatlah disimpulkan bahwa pada
minggu ke 6, 7 dan 8 telah terjadi wabah penyakit A dan menurun lagi
pada minggu ke 9 dan seterusnya.

16
Adanya keterangan yang seperti ini sekalipun telah memadai (menunjuk
pada waktu = time), tetapi belum lengkap. Keterangan yang diperoleh
tersebut perlu dilengkapi dengan data tentang siapa yang terkena (man),
dan alamat penderita (place). Keterangan seperti ini, dapat diperoleh dari
buku Register Rawat Jalan yang tersedia.

Setelah jelas tempat dan orang-orangnya yang terkena dilakukan


penelitian di tempat tersebut untuk mencari kasus-kasus lain.

2. Teknik tabel penyakit


Bila penyakit yang diamati terdiri dari beberapa penyakit dengan nilai
batas keadaan wabah yang berbeda-beda, dapat dipergunakan teknik lain
yang disebut dengan nama Teknik Tabel Penyakit. Pada dasarnya
membuat Tabel Penyakit adalah sama dengan membuat Grafik Penyakit
yakni perlu melakukan perhitungan nilai rata-rata jumlah penyakit, nilai
standard deviasi serta nilai batas keadaan wabah untuk setiap jenis
penyakit.

Setelah masing-masing nilai ini diperoleh, dilanjutkan dengan membuat


tabel penyakit. Hal yang khusus pada tabel penyakit ini ialah
dipergunakannya perbedaan nilai pengamatan dengan nilai batas
keadaan wabah sebagai tolok ukur menentukan ada tidaknya wabah.
Hasil yang diperoleh dapat dibedakan atas tiga macam yakni:

a. nilai negatif artinya tidak terjadi wabah


b. nilai 0 artinya tidak terjadi wabah
c. nilai positif artinya terjadi wabah
Untuk memudahkan pemahaman perhatikan contoh di bawah ini :

Ada 5 penyakit menular yang perlu diawasi yakni A, D, C, dan E . Nilai


Batas Keadaan Wabah untuk masing-masing penyakit tersebut adalah 16,
28, 48, 37, dan 52. Pada pengamatan selama 8 minggu didapatkan
hasilnya sbb:

17
No Nama Batas Batas Wabah
Penyaki Waba
t h
1 2 3 4 5 6 7 8
1 A 16 6 9 9 12 14 19 24 15
2 B 28 13 21 19 24 23 18 15 17
3 C 48 32 38 48 56 72 52 37 35
4 D 37 21 28 27 33 28 21 31 28
5 E 52 48 37 42 35 31 28 42 39

Bagaimana mengetahui bahwa penyakit-penyakit tersebut masih berada


dalam batas-batas normal atau telah terjadi wabah.

Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dipergunakan tabel penyakit


sebagaimana terlihat sebagai berikut.

LAPORAN KASUS DARI MASYARAKAT

Telah disebutkan bahwa data laporan kasus dari masyarakat dapat pula
dimanfaatkan untuk menentukan ada atau tidaknya wabah disuatu daerah.
Lazimnya laporan tersebut diperoleh dari ketua RT, RW atau Kepala Desa/Lurah
setempat.

Ikut sertanya masyarakat dalam pengamatan wabah memang dianjurkan,


sebagaimana yang dapat dilihat pada pasal 6 Bab V Undang-undang Republik
Indonesia nomor 4 tahun 1984 yakni :

Pasal 6 ayat (1)

18
Upaya penanggulangan wabah sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 5 ayat
(1) dilakukan dengan mengikut sertakan masyarakat secara aktif.

Pasal 6 ayat (2)

Tatacara dan syarat-syarat peran serta masyarakat sebagaimana yang dimaksud


dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Mengingat pentingnya peran serta masyarakat tersebut, perlulah diketahui cara-


cara untuk memunculkan peran serta yang dimaksud. Untuk ini ada beberapa
hal yang dapat dilakukan yakni:

1. Melakukan persiapan PUSKESMAS


Agar peran serta masyarakat dapat diwujudkan secara maksimal, hal
pertama yang perlu dilakukan ialah mempersiapkan kalangan
PUSKESMAS sendiri. Tujuannya ialah agar segala perangkat kerja
PUSKESMAS siap menghadapi masalah wabah.

Persiapan tersebut dapat dilakukan misalnya dengan memanfaatkan


Lokakarya Mini yang diselenggarakan oleh PUSKESMAS. Melalui
Lokakarya ini bukan saja segala perangkat PUSKESMAS dapat
dipersiapkan, tetapi dapat pula diatur pembagian wilayah kerja serta
penunjukan petugas PUSKESMAS sebagai penanggung jawab untuk tiap-
tiap wilayah.

2. Melakukan persiapan masyarakat.


Hal yang kedua yang harus dilakukan ialah mempersiapkan masyarakat
sehingga dapat berperan aktif dalam melakukan pengamatan penyakit.
Persiapan masyarakat ini dapat ditugaskan kepada petugas kesehatan
penanggung jawab wilayah yang telah ditunjuk oleh Lokakarya Mini.

Agar tugas ini berhasil, tentu perlu dilakukan penataran terlebih dahulu
dan kalau dapat dilengkapi pula dengan buku pegangan sederhana.

19
Sebelum terjun ke masyarakat ada baiknya petugas kesehatan tersebut
diperkenalkan secara resmi kepada Pamong Desa dan masyarakat di
wilayah kerjanya. Perkenalan resmi ini dapat mengangkat status petugas
kesehatan sehingga dengan demikian dapatlah diharapkan hasil kerja
yang lebih optimal.

Apabila peran serta masyarakat telah berhasil dimunculkan, maka


kegiatan selanjutnya yang harus dilakukan ialah mengarahkan peran serta
tersebut, yang dapat dilakukan antara lain dalam bentuk penyuluhan.

Apabila pengarahan ini berhasil dilakukan, dapatlah dihindari


kemungkinan terjadinya Peran serta Berlebihan atau Peran serta
Kurang.

Peranserta berlebihan diartikan bahwa masyarakat terlalu sering


melaporkan adanya wabah, padahal yang ada hanya satu atau dua orang
yang menderita bukan penyakit menular. Misalnya, dilaporkan adanya
penduduk yang menderita muntah berak. Ketika diteliti ternyata hanya
menderita penyakit masuk angain saja.

Kerugian dari Peranserta berlebih ialah petugas PUSKESMAS akan


disibukkan untuk menangani laporan yang tidak benar. Kecuali itu jika
laporan yang tidak benar tersebut sering ditemukan, akan mengurangi
ketanggapan petugas. Pada suatu ketika terjadi wabah yang sebenarnya,
petugas puskesmas kurang memperhatikannya.

Peranserta kurang diartikan bahwa masyarakat sangat apatis, sehingga


adanya wabah tidak segera dilaporkan, atau datangnya laporan sangat
terlambat.

Kerugian dari Perangserta kurang ialah wabah dapat menjalar lebih


besar dan ini mempersulit penanggulangannya. Kecuali itu dapat timbul
kesan seolah-olah PUSKESMAS tidak berfungsi dengan baik.

20
Untuk menghindari adanya Peranserta berlebih dan atau Peranserta
kurang, maka dalam penyuluhan harus pula dijelaskan keburukan dan
kerugian terjadinya kedua hal tersebut.

3. Memanfaatkan fasilitas kesehatan swasta.


Memanfaatkan fasilitas kesehatan swasta yang ada diwilayah kerja
dipandang penting untuk membantu tugas pengamatan wabah. Untuk ini
pelbagi fasilitas kesehatan swasta yang ada perlu didekati dan diajak
bekerjasama.

Jangan pula dilupakan tenaga kesehatan tradisional seperti dukun bayi,


karena dimasyarakat pedesaan peranan pengobatan tradisional tersebut
masih cukup besar.

Telah disebutkan bahwa laporan yang diterima dari masyarakat dibuat


oleh mereka yang tidak ahli. Karena itu petugas kesehatan harus
melakukan pemeriksaan tentang kebenarannya. Ini artinya melakukan
diagnosa ulang.

Adapun yang dimaksud dengan diagnosa ulang ialah melakukan


pemeriksaan klinik di lokasi wabah, terhadap tersangka penderita penyakit
menular oleh petugas medis untuk memastikan diagnosa penyakitnya.
Periksalah apakah kasus yang dilaporkan benar atau tidak.

Apabila diagnosa ulang membenarkan laporan masyarkat, lanjutkanlah


dengan menentukan ada atau tidaknya wabah. Caranya dengan
membandingkan jumlah penderita dengan Nilai Batas Keadaan Wabah
penyakitnya.

Kalau jumlah penderita tersebut sudah melampaui Nilai Batas Keadaan


Wabah maka dapatlah dipastikan adanya wabah. Kadang-kadang
keadaan wabah juga ditetapkan pada penemuan kasus yang tunggal, asal
saja kasus tersebut merupakan kasus yang sudah lama tidak ditemukan
atau kasus baru yang sama skali belum dikenal.

21
Data yang diperoleh ini perlu dilengkapi dengan keterangan tentang waktu
(time), tempat (place) dan orang (man) yang dapat diperoleh apabila
dilakukan wawancara dengan penderita atau keluarganya.

22
PENANGANAN WABAH

PENDAHULUAN

Apabila telah dapat dibuktikan terjangkitnya wabah disuatu wilayah maka


langkah selanjutnya yang harus dilakukan ialah menangani wabah tersebut.
Upaya penanganan wabah merupakan suatu yang amat penting. Dengan
dilakukannya upaya penanganan wabah tersebut, disatu pihak penderita akan
dapat diobati dan dipihak lain akan dapat dicegah makin menyebarnya wabah
yang dimaksud.

Jika dibandingkan dengan upaya pengamatan maka upaya penanganan wabah


ini lebih memerlukan pengetahuan dan keterampilan medis. Mudah dipahami
karena dalam penanganan wabah dilakukan antara lain upaya pencegahan dan
pengobatan penyakit yang dalam banyak hal memang memerlukan keterlibatan
profesi kedokteran.

Demikianlah, sekalipun pada upaya penanganan wabah, keikutsertaan


masyarakat juga diperlukan, namun untuk dapat tuntasnya masalah wabah
tersebut, diperlukan keterlibatan petugas kesehatan yang sebaik-baiknya.

Untuk itu, sebagaimana juga pada pengamatan wabah, banyak hal yang perlu
dipersiapkan. Salah satu diantaranya ialah yang menyangkut pengetahuan dan
keterampilan dalam menangani wabah itu sendiri.

BATASAN

Batasan penanganan wabah banyak macamnya. Secara sederhana yang


dimaksud dengan penanganan wabah ialah upaya mengobati penderita dan
mencegah makin bertambahnya jumlah penderita sedemikian rupa sehingga
masalah wabah dapat diatasi.

23
Yang dimaksud dengan pengobatan dan pencegahan disini tidak hanya dalam
arti medis tetapi juga yang menyangkut aspek non medis. Jika ditinjau dari
kehendak meniadakan wabah, aspek non medis ini tampak amat penting. Mudah
dipahami karena timbul atau tidaknya keadaan wabah dipengaruhi antara lain
oleh pelbagai faktor sosial budaya, sosial ekonomi dan sosial pendidikan
masyarakat setempat.

Apabila faktor-faktor non medis ini tidak sempurna, tidak mengherankan jika
penyakit mudah terjangkit yang apabila terus berkelanjutan, maka pada
gilirannya akan mendorong bertambahnya jumlah penderita sehingga timbul
keadaan wabah.

TINDAKAN

Tindakan penanganan wabah banyak macamnya. Secara sederhana tindakan


tersebut menurut sasarannya dapat dibedakan atas tiga macam yakni terhadap
kasus, terhadap masyarakat dan terhadap lingkungan.

1. Tindakan terhadap kasus


Pada dasarnya tindakan yang dilakuakan terhadap kasus, adalah dalam
rangka mengobati penyakit yang diderita dan karena itu pada umumnya
adalah sama dengan tindakan pengobatan biasa. Hanya saja karena
penyakit yang diderita adalah penyakit menular maka pada tindakan
terhadap kasus ini harus ditambahkan dengan tindakan yang lain sesuai
dengan tindakan terhadap penyakit menular.

Tindakan terhadap kasus secara garis besarnya dibedakan atas beberapa


macam yakti:

a. Anamnesa
Anamnesa dapat ditujukan terhadap kasus atau keluarga kasus.
Pada anamnesa ini dikumpulkan pelbagai keterangan yang
diperlukan. Keterangan yang dimaksud paling tidak harus
mencakup:

24
o identitas penderita yaitu nama, alamat, umur, jenis
kelamin, perkerjaan dan agama.
o keluhan utama, keluhan tambahan dan riwayat
penyakit.
Pada pertanyaan tentang riwayat penyakit perhatian perlu
dicurahkan pada keterangan disekitar dan selama nasa iknubasi.
Keterangan-keterangan tersebut diperlukan untuk menentukan
sumber penularan disatu pihak serta untuk pencarian kasus baru
dipihak lain.

Adapun sumber penularan banyak macamnya secara umum


dibedakan atas manusia, binatang atau benda mati yang
dipergunakan oleh penyebab penyakit sebagai tempat tinggal dan
berkembang biak. Sedangkan pencarian kasus baru dapat
dilakukan dengan mengamati orang-orang kontak dengan
penderita selama masa inkubasi atau masa awal penyakit.

Sekalipun lengkapnya semua keterangan ini adalah penting,


namun perlu diingat bahwa Anamnesa yang terlalu lama tidaklah
bijaksana.

Penderita dan juga keluarganya membutuhkan pengobatan bukan


tanya jawab. Jika memang diperlukan keterangan yang lengkap
dan diperkirakan akan membutuhkan waktu yang lama sebaiknya
keterangan tersebut ditanyakan setelah tindakan pengobatan
diberikan.

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap kasus adalah sama
seperti pemeriksaan penderita biasa yakni meliputi inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskulturasi terhadap tubuh dan atau organ
tubuh yang dicurigai sesuai dengan penyakit yang diderita.

25
Penerapannya tentu saja perlu disesuaikan dengan jenis penyakit
menular yang diderita.

c. Pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium


Pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium sangat
penting untuk konfirmasi diagnosa yang akan ditegakkan. Sediaan
(specimen) yang diambil dapat berupa :

o Darah.
Pengambilan darah biasanya sebanyak lebih kurang
10 cc. Darah tersebut perlu diberi anti koagulansia
dan kemuadian disimpan dalam botol steril.
Umumnya pengambilan darah tersebut dilakukan
sebanyak 2 kali yaitu pada masa akut dan pada masa
penyembuhan. Dari sediaan darah dapat dilakukan
pelbagai pemeriksaan termasuk pemeriksaan sera.

o Tinja
Tinja biasanya diambil untuk beberapa gram. Bila
tidak tersedia dapat dilakukan rectal swab. Tinja yang
diambil tersebut harus disimpan dalam botol steril
berisi cairan garam fisiologis.

o Contoh makanan
Apabila timbulnya keadaan wabah ada hubungannya
dengan makanan, perlu diambil contoh makanan
yang umumnya antara 100 500 gram. Contoh
makanan tersebut dibungkus dengan rapat dan kuat
agar tidak mudah rusak.

Pengambilan sediaan harus dilengkapi dengan


pemasangan label yang berisi keterangan tentang

26
tempat pengambilan, waktu pengambilan, nama
pasien, pemeriksaan yang diminta.

d. diagnosa
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan
diagnosa penyakit. Cara mengambil diagnosa yang seperti ini
disebut dengan nama diagnosa klinis. Untuk lebih memastikan
diagnosa klinis perlu dilengkapi dengan keterangan hasil
laboratorium.

Hanya saja jika pemeriksaan laboratorium tidak mungkin atau


hasilnya terlalu lama, konfirmasi yang seperti ini dapat diabaikan.
Dengan perkataan lain adanya diagnosa klinik telah dianggap
cukup untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan
selanjutnya.

e. Terapi
Apabila diagnosa telah ditegakkan, lanjutkanlah dengan pemberian
pengobatan sesuai dengan penyakit yang menderita. Terapi yang
dapat diberikan ada yang bersifat etiologis dan ada pula yang
bersifat simtomatis. Jika memang diperlukan, dapat ditambahkan
dengan perawatan penderita.

f. Isolasi.
Karena yang dihadapi pada wabah adalah penyakit menular, maka
perlu dipikirkan tindakan isolasi. Adapun yang dimaksud dengan
isolasi disini adalah memisahkan penderita dari orang lain untuk
beberapa waktu, pada tempat dan kondisi khusus untuk mencegah
secara langsung atau tidak langsung adanya pemindahan
penyebab penyakit dari penderita kepada orang lain yang rentan
atau yang mungkin menyebarkan bibit penyakit pada yang lain.
Lamanya masa isolasi ini tergantung dari lamanya masa inkubasi
dari penyakit tersebut.

27
Patut disampaikan disini bahwa pabila memang kemampuan
PUSKESMAS tidak memungkinkan, dapat diminta bantuan dari
fasilitas lain yang lebih tinggi, misalnya mengirimkan kasus ke
Rumah Sakit. Tindakan yang seperti ini dikenal dengan nama
rujukan, yang karena ruang lingkupnya untuk masalah kedokteran
disebut dengan nama rujukan medis.

2. Tindakan terhadap Masyarakat.


Yang dimaksud dengan masyarakat disini adalah penduduk yang
bertempat tinggal didaerah yang terjangkit wabah. Tindakan yang
dilakukan disini secara umum dapat dibedakan atas tiga macam yakni:

a. Tindakan health promotion.


Tujuan tindakan promotif ini ialah untuk lebih meningkatkan status
kesehatan masyarakat sehingga dengan demikian dapat terhindar
dari kemungkinan terserang penyakit yang sedang mewabah. Cara
yang dipakai biasanya dalam bentuk penyuluhan kesehatan

Pokok uraian yang disampaikan umumnya berkisar pada penyakit


yang sedang mewabah terutama yang menyangkut aspek
pencegahannya.

Ambil contoh jika sedang berhadapan dengan wabah penyakit


D.H.F. (Dengue Haemorrhagic Fever) nisalnya, disini diberikan
penyuluhan kesehatan mengenai:

- Pembersihan sarang nyamuk (PSN)

- Penyemprotan nyamuk dewasa

- Abatisasi

b. Tindakan spesifik protection

28
Tujuan tindakan preventif ialah melindungi pejamu (host) dari
penyakit tertentu, dengan cara atau sarana yang bersifat khusus.
Pada saat ini dikenal beberapa bentuk specific protection yakni :

- Dengan memberikan kekebalan pada pejamu (host) melalui


imunisasi.
- Dengan memberikan obat yang juga bersifat pencegahan
penyakit, misalnya Klorokuin untuk mencegah penyakit
malaria.
- Dengan cara mematikan vektor penyebab penyakit,
misalnya dengan cara abatisasi dan fogging (pengasapan)
untuk mematikan nyamuk Aedes Aegypti, vektor penyakit
demam berdarah.
c. Pencarian kasus
Tindakan lain yang dilakukan terhadap masyarakat ialah mencari
kemungkinan adanya kasus baru di masyarakat tersebut. Cara
mencari kasus baru ini secara umum dapat dibedakan atas dua
macam yakni :

1. Cara telusur kebelakang (Backward Tracking)


Tujuan dari cara ini ialah untuk menentukan sumber penularan. Cara yang
ditempuh dibedakan atas beberapa macam yang jika disederhanakan
terdiri dari :

- menentukan masa inkubasi penyakit yang sedang mewabah


- menentukan tanggal mulainya inkubasi
- menentukan sumber penularan penyakit tersebut, orang, binatang,
makanan, minuman dan lain-lain
- menentukan sumber penularan yang kontak dengan kasus pada saat
mulainya masa inkubasi.
- Menentukan sumber penularan yang kontak dengan kasus pada saat
mulainya masa inkubasi
- Menentukan tempat atau lokasi terjadinya kontak tersebut.

29
Apabila semua keterangan ini berhasil diperoleh, maka dapatlah
ditentukan sumber penularan penyakit. Dengan diketahuinya sumber
penularan penyakit akan dapat dilakukan penyelidikan lebih lanjut
disekitar sumber penularan yang dimaksud sehingga dapatlah diharapkan
ditemukannya adanya kasus lain yang mungkin terserang penyakit.

Terjadinya kontak dengan sumber penularan mungkin saja terjadi diluar


wilayah kerja. Dalam keadaan seperti ini perlu dilakukan kerjasama dan
koordinasi dengan petugas kesehatan yang lain yang berasal dari wilayah
tersebut.

3. Cara telusur ke depan (Forward Tracking)


Tujuannya ialah untuk mencari kasus baru yang ditulari oleh penderita.
Cara yang ditempuh secara sederhana dapat diuraikan sebaagai berikut:

- tentukan masa inkubasi penyakit tersebut


- catat kemana saja kasus tersebut pergi selama masa inkubasi dan
selama masa sakit
- catat orang-orang yang mungkin tertulari penyakit
- catat sumber makanan/minuman atau barang lain yang tercemari
- Lakukan konfirmasi hasil diagnosa dengan hasil laboratorium.
- Awasi tersangka kontak, bila masih sehat awasi paling tidak untuk
jangka waktu selama masa inkubasi penyakit tersebut.
Dengan cara seperti ini diharapkan semua kasus cepat diketahui dan
tindakan pengobatan, yang juga merupakan upaya pemutusan rantai
penularan, akan dapat dilakukan.

Sama halnya dengan tindakan terhadap kasus, maka apabila


kemampuan PUSKESMAS tidak memadai dapat dimintakan bantuan
dari instansi kesehatan yang lebih tinggi yakni Dinas Kesehatan
Tingkat II. Tindakan seperti ini disebut dengan rujukan, yang karena
ruang lingkupnya menyangkut masalah kesehatan masyarakat disebut
dengan nama rujukan kesehatan.

30
4. Tindakan terhadap lingkungan
Tindakan terhadap lingkungan dapat dibedakan atas dua macam yakni
terhadap lingkungan fisik dan terhadap lingkungan biologik.

a. Lingkungan fisik.
Tindakan terhadap lingkungan fisik dibedakan atas beberapa macam
yakni :

1. Tindakan terhadap lingkungan fisik yang masih baik.


- Tujuannya ialah melindungi lingkungan fisik tersebut sehingga tidak
sampai berperan sebagai faktor yang mendorong timbulnya
penyakit. Contoh tindakan seperi ini ialah :
- perlindungan sumber air minum
- perlindungan makanan dan minuman.
2. Tindakan terhadap lingkungan fisik yang telah tercemar.
- Tujuannya ialah mengurangi kadar pencemaran yang telah terjadi.
Contoh tindakan seperti ini ialah :
- chloridasi sumber air
- pemberian antiseptik
- pemusnahan barang yang telah tercemar
3. Tindakan terhadap lingkungan fisik yang dipakai sebagai sarang
vektor.
Tujuannya ialah mengupayakan agar lingkungan fisik tersebut
bebas dari vektor penyebab penyakit. Tindakan yang dilakukan
dapat berbentuk pengobatan atau pemusnahan. Tindakan
berbentuk pengobatan dilakukan jika lingkungan fisik tersebut
masih diperlukan oleh manusia, misalnya abatisasi sumber air
untuk memusnahkan nyamuk Aedes Aegypty. Sedangkan tindakan
pemusnahan dilakukan jika lingkungan fisik tersebut tidak
diperlukan oleh manusia, misalnya penimbunan rawa.

d. Lingkungan biologik

31
Tindakan terhadap lingkungan biologik dapat dibedakan atas tiga macam
yakni :

2. Tindakan terhadap binatang yang sehat.


Tujuannya ialah untuk melindungi binatang tersebut sehingga tidak
sampai menjadi reservoir bibit penyakit. Misalnya imunisasi rabies
pada anjing yang sehat.

3. Tindakan terhadap binatang yang sakit.


Tujuannya ialah agar binatang yang sakit tersebut tidak sampai
menjadi penyebab timbulnya penyakit. Misalnya membunuh anjing
yang telah terserang rabies.

4. Tindakan terhadap vektor.


Karena pada umumnya vektor tersebut tidak bermanfaat lagi bagi
kehidupan, maka tindakan yang dilakukan umumnya bersifat
memusnahkannya. Misalnya melakukan fogging pada penyakit
demam berdarah serta spraying pada penyakit malaria.

32
MENETAPKAN BERAKHIRNYA KEADAAN WABAH.

PENDAHULUAN

Apabila penanganan wabah dapat dilaksanakan dengan baik, dapatlah


diharapkan teratasinya keadaan wabah tersebut. Seperti juga pada waktu
menetapkan berakhirnya keadaan wabah ini juga memerlukan pengetahuan dan
keterampilan sendiri. Mudah dipahami karena pada penetapan berakhirnya
wabah tersebut tercakup pula pengetahuan dan keterampilan yang bersifat
teknis yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki pengetahuan
dan keterampilan saja.

Ditinjau dari upaya penganggulangan wabah, menetapkan berakhirnya keadaan


wabah ini adalah amat penting. Bukan saja akan dapat meringankan beban
tugas PUSKESMAS, tetapi juga akan dapat menghilangkan kekhawatiran
masyarakat. Keadaan wabah, sebagaimana telah di kemukakan, adalah suatu
keadaan darurat, yang tentu saja jika tidak ada akhirnya akan menyulitkan
kehidupan masyarakat.

Hanya saja perlu diingat bahwa sekalipun menetapkan berakhirnya keadaan


wabah adalah penting dan karena itu harus dapat dilakukan oleh PUSKESMAS,
namun pengertian tentang penetapan berakhirnya wabah tersebut tidak sampai
dengan mencabut penetapan daerah wabah, karena yang terakhir ini
merupakan wewenang Menteri Kesehatan sebagaimana yang tercantum dalam
pasal 4 ayat 2 Undang-undang No. 4 tahun 1984 tentang wabah.

33
BATASAN

Yang dimaksud dengan menetapkan berakhirnya wabah disini ialah pengambilan


kesimpulan tentang berakhirnya keadaan wabah yang terjangkit disuatu daerah.

Sama halnya pada waktu menetapkan timbulnya keadaan wabah, maka pada
waktu menetapkan berakhirnya keadaan wabah ini, ada dua hal yang perlu
diketahui yakni:

1. Keadaan lazim (normal) dari suatu penyakit


Untuk ini Nilai Batas Keadaan Wabah sebagaimana telah diuraikan, perlu
dimiliki. Hitunglah Nilai Batas Keadaan Wabah tersebut untuk tiap penyakit
yang mewabah

2. Keadaan penyakit saat ini


Hal yang kedua yang perlu diketahui ialah keadaan penyakit saat ini.
Untuk ini lakukan pelbagai upaya pengumpulan data sebagaimana telah
diuraikan. Ada baiknya data yang dipergunakan tidak hanya data kegiatan
rutin atau laporan masyarakat saja, tetapi juga data yang dicari sendiri secara
aktif dilapangan. Hitunglah nilai jumlah rata-rata penyakit tersebut untuk satu
minggu.

Yang menjadi masalah pada penetapan berakhirnya keadaan wabah ini


ialah mengetahui keadaan penyakit saat ini. Mudah dipahami karena upaya
pengumpulan data tentang kasus baru tidaklah semudah yang diperkirakan.

Aktif atau tidaknya pengurus PUSKESMAS atau berperan atau tidaknya


Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat, turut menentukan
kelengkapan data yang dimiliki. Inilah sebabnya dalam melakukan
penanggulangan wabah, perlu diupayakan adanya peran serta masyarakat.
Untuk ini sebagaimana telah dikemukakan, diperlukan adanya kejelian dan
ketanggapan dari petugas PUSKESMAS sendiri yakni dalam rangka
menghindari adanya peran serta yang berlebihan dan atau peran serta
yang kurang.

34
Apabila data tentang kedua keadaan ini telah diketahui, lakukanlah
perbandingan. Dari hasil perbandingan ini akan dapat ditarik kesimpulan
apakah keadaan wabah telah berakhir atau tidak.

MENETAPKAN KESIMPULAN BERAKHIRNYA WABAH

Seperti juga pada waktu menetapkan munculnya keadaan wabah, maka cara
mengambil kesimpulan berakhirnya keadaan wabah, dapat mempergunakan
teknik Tabel Penyakit.

1. Teknik Grafik Penyakit


Teknik Grafik Penyakit dipergunakan jika berhadapan dengan satu macam
penyakit saja. Berakhir atau tidaknya wabah dilihat dari gambar grafik
yang dimiliki. Jika grafik penyakit yang diamati berada dibawah garis
horizon wabah, selama paling sedikit 2 kali masa inkubasi penyakit
tersebut, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa keadaan wabah telah
berakhir.

2. Teknik Tabel Penyakit


Teknik Tabel Penyakit dipergunakan jika berhadapan dengan beberapa
macam penyakit. Berakhir atau tidaknya wabah dapat dilihat dari data
yang dimiliki. Jika perbedaan antara data penyakit dengan data Nilai
Batas Keadaan Wabah telah negatif selama paling sedikit 2 kali masa
inkubasi penyakit tersebut, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa keadaan
wabah telah berakhir.

Sekalipun hasil perhitungan yang dilakukan telah menunjuk kepada tanda-


tanda berakhirnya keadaan wabah, bukan berarti pengumuman
berakhirnya keadaan wabah dapat segera dilaksankan. Dimasyarakat
mungkin saja ditemukan kasus yang baru berada dalam masa inkubasi
dan karena itu tidak tercatat sebagai penderita.

35
Untuk dapat menetapkan berakhir atau tidaknya keadaan wabah ini, perlu
ditunggu untuk satu kurun waktu tertentu. Kurun waktu yang dimaksud
palin tidak untuk dua masa inkubasi. Apabila dalam waktu dua masa
inkubasi tidak ditemukan lagi kasus baru, maka dapatlah dianggap
berakhirnya keadaan wabah tersebut.

Untuk penyakit yang bersifat kronis cara yang ditempuh pada umumnya
sama. Hanya saja yang dipakai sebagai pedoman tidak hanya fluktuasi
jumlah kasus baru, tetapi yang terpenting adalah angka kematian karena
penyakit kronis yang dimaksud.

Penetapan berakhirnya keadaan wabah ini harus diikuti dengan laporan


yang dikirimkan ke Dinas Kesehatan Tingkat II. Perlu disampaikan bahwa
dengan berakhirnya keadaan wabah bukan berarti pekerjaan
penanggulangan wabah telah berhenti. Pekerjaan penanggulangan
wabah tersebut tetap dilanjutkan yakni kembali melakukan pengamatan
untuk menentukan apakah keadaan wabah tersebut terjangkit lagi atau
tidak.

36
PELAPORAN WABAH

PENDAHULUAN

Telah disebutkan bahwa kewajiban pertama PUSKESMAS apabila mengetahui


terjangkitnya wabah didaerah kerja ialah mengirimkan laporan. Selanjutnya ialah
kewajiban PUSKESMAS pula untuk melaporkan upaya yang dilakukan dalam
menanggulangi wabah tersebut serta hasil yang dicapai.

Ditinjau dari upaya penanggulangan wabah secara keseluruhan, adanya laporan


ini amat penting. Dengan adanya laporan tersebut bukan saja akan dapat segera
diketahui terjangkitatau tidaknya keadaan wabah, tetapi juga akan dapat disusun
rencana kerja untuk penanggulangan wabah yang sebaik-baiknya.

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanggungjawab


pelaporan ini sebenarnya tidak berada ditangan Kepala Unit Kesehatan saja,
tetapi juga menjadi tanggung jawab Kepala Desa atau Lurah tempat dimana
terjangkitnya wabah.

Hanya saja, sekalipun Kepala Desa atau Lurah juga diikut sertakan dalam
pelaporan wabah, peranan laporan dari Kepala Unit Kesehatan yang untuk
Indonesia adalah PUSKESMAS terlihat paling penting. Mudah dipahami karena
pada pelaporan wabah tersebut terkait hal-hal yang bersifat teknis medis, yang
hanya dapat dilakukan oleh kalangan kesehatan saja.

37
JENIS LAPORAN

Untuk PUSKESMAS ada beberapa jenis laporan wabah yang dikenal. Laporan
tersebut jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas empat macam
yakni:

1. Laporan terjangkitnya keadaan wabah


Laporan pertama yang harus dilakukan oleh PUSKESMAS ialah tentang
terjangkitnya keadaan wabah. Laporan ini harus dikirimkan dalam waktu
24 jam setelah keadaan wabah tersebut diketahui. Karena itulah laporan
terjangkitnya wabah dikenal pula dengan laporan 24 jam .

Laporan 24 jam ini dilakukan dengan mempergunakan formulir W1. Ada


tiga jenis formulir W1 yakni formulir W1 Pu, W1 Ka dan W1 Pr. Yang
dipergunakan oleh PUSKESMAS ialah formulir W1 Pu (PUSKESMAS).
Formulir ini setelah diisi dikirimkan ke Dinas Kesehatan Tingkat II.
Formulir W1 Ka (Kabupaten) yang dipergunkan oleh Dinas Kesehatan
Tingkat II untuk dikirimkan ke Dinas Kesehatan Tingkat I serta Formulir
W1 Pr (Propinsi) yang dipergunakan oleh Dinas Kesehatan Tingkat I untuk
dikirimkan ke Direktur Jenderal P3M-PLP.

Sekalipun laporan terjangkitnya wabah dari PUSKESMAS harus


menggunakan formulir W1 Pu, bukan berarti laporan dengan cara lain
tidak diperlukan. Prinsip pokok pelaporan wabah ialah secepat-cepatnya.
Karena itulah mendahului dikirimnya formulir W1 Pu, laporan wabah dapat
disampaikan ke Dinas Kesehatan Tingkat II dengan mempergunakan
telepon, telegram atau kurir.

2. Laporan penyidikan epidemiologi sementara


Bersamaan dengan dikirimnya formulir W1 Pu, dikirim pula Laporan
penyidikan epidemiologi sementara yang dilakukan oleh PUSKESMAS.
Disini dilaporkan jenis penyakit yang mewabah, jumlah penderita yang

38
terserang, lokasi tempat terjadinya wabah serta waktu terjadinya wabah
tersebut. Jika data telah dimiliki, lengkapi pula dengan keterangan tentang
sumber penularan penyakit yang dicurigai.

3. Laporan keadaan wabah


Laporan yang lain yang harus dilakukan ialah tentang keadaan penyakit
wabah disatu daerah. Pada keadaan wabah mencakup hasil
penanggulangan yang dilakukan, sedangkan keadaan tidak wabah
menjelaskan keadaan penyakit wabah pada saat tersebut. Laporan
keadaan wabah ini harus dibuat setiap minggu dan karena itu dikenal
dengan laporan mingguan.

Laporan mingguan ini dibuat dengan mempergunakan formulir W2. Ada


tiga jenis formulir W2 yakni; W2 Pu, W2 Ka dan W2 Pr. Yang
dipergunakan oleh PUSKESMAS ialah formulir W2 Pu (PUSKESMAS).
Formulir ini setelah diisi dikirimkan ke Dinas Kesehatan Tingkat II.
Formulir W2 Ka (Kabupaten) yang dipergunkan oleh Dinas Kesehatan
Tingkat II untuk dikirimkan ke Dinas Kesehatan Tingkat I serta Formulir
W2 Pr (Propinsi) yang dipergunakan oleh Dinas Kesehatan Tingkat I untuk
dikirimkan ke Direktur Jenderal P3M-PLP.

Laporan mingguan ini berisikan data tentang peristiwa penyakit (morbidity)


dan peristiwa kematian (mortality) beberapa penyakit yang potensi
menimbulkan wabah. Karena tujuannya untuk mengetahui keadaan
penyakit wabah disuatu daerah, maka laporan mingguan ini harus dibuat
secara rutin, baik pada keadaan tidak ada wabah dan apalagi pada
keadaan wabah.

Sebagai bagian dari laporan rutin, maka formulir W2 ini harus diisi dan
dikirimkan setiap minggu sekali biasanya tiap hari Senin dan Selasa.

Pada formulir tersebut tersedia kolom-kolom yang menguraikan peristiwa


terjangkitnya penyakit yang termasuk dalam penyakit wabah menurut hari
demi hari.

39
Jika ada kekeliruan pada laporan minggu yang lalu dapat dilakukan
perbaikan dengan menulis huruf K (koreksi) pada bagian kanan dari yang
diperbaiki. Begitu pula jika ada data susulan, dengan menulis huruf S
(susulan) pada bagian kanan data yang disusulkan.

4. Laporan berakhirnya wabah


Laporan lain yang harus dikirimkan oleh PUSKESMAS ke Dinas
Kesehatan Tingkat II ialah laporan berakhirnya wabah. Sebagaimana
namanya, laporan ini dibuat apabila keadaan wabah telah berhasil
ditanggulangi.

40