Anda di halaman 1dari 11

BAHAN PELATIHAN UNTUK

TEKNIK WAWANCARA KUALITATIF

Tujuan Pelatihan

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang dan panduan


praktis untuk menggunakan teknik wawancara. Keterbatasan waktu training
(maupun waktu penelitian) dan keperluan praktis menyebabkan pembahasan
tentang teknik ini hanya dibatasi pada persoalan praktis dalam kaitannya dengan
isu penelitian yang akan dilakukan dan pilihan-pilihan teknik pengumpulan data
yang sudah ditentukan dalam rancangan penelitian. Namun demikian, bilamana
dirasakan perlu, beberapa hal yang lebih konseptual juga akan diberikan agar
teknik-teknik pengumpulan data yang akan dibahas bisa lebih dipahami.

Meskipun fokus pelatihan adalah teknik wawancara, materi pelatihan ini akan
dibuka dengan pembahasan tentang beberapa hal penting yang relevan dengan
metode ini. Dua hal yang dirasakan relevan dan penting dibahas untuk memahami
latar belakang teknik wawancara adalah fungsi teori dan sampling di dalam
penelitian kualitatif. Fungsi (dan karakter) teori dalam penelitian kualitatif penting
dibahas karena sangat berpengaruh terhadap tujuan-tujuan teknik wawancara
kualitatif dan bagaimana wawancara harus dilakukan. Di samping merupakan isu
yang sering menjadi sumber kesalah pahaman, isu sampling perlu dibahas dalam
kaitannya dengan wawancara kualitatif karena pada dasarnya sampling
merupakan sebuah cara untuk menentukan siapa yang harus diwawancara.
Pembahasan tentang sampling akan difokuskan pada perbedaan tujuan sampling
di dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif.

Di bagian materi metode wawancara pembahasan akan dimulai dengan overview


dan tujuan umum metode wawancara dan kemudian dilanjutkan dengan jenis-jenis
metode wawancara kualitatif. Mengingat bahwa penelitian yang akan dilakukan
sangat tergantung pada semi-structured-open-ended interview untuk individu dan
kelompok, bobot pembahasan akan lebih banyak diberikan pada teknik
wawancara tersebut.

Secara umum pelatihan ini diberikan kepada mereka yang akan melakukan
evaluasi. Secara khusus pelatihan ini ditujukan kepada para peneliti yang kurang
familiar dengan penelitian dan wawancara kualitatif.

Beberapa hal penting yang berkaitan dengan Metode Wawancara

Fungsi Teori dalam penelitian Kualitatif

Teori merupakan seperangkat proposisi tentang suatu hal. Selain memperlihatkan


keterkaitan (hubungan saling pengaruh) antara konsep tertentu, secara implisit teori
juga berisi prediksi yang memungkinkan peneliti meramalkan sejumlah kemungkinan
yang akan terjadi jika ia mendapatkan input yang memadai tentang gejala yang
menjadi fokus penelitiannya. Di dalam pelaksanaan penelitian, teori menjadi

1
semacam pemandu bagi peneliti untuk menyeleksi data, memusatkan perhatian
pada topik-topik tertentu, dan untuk menentukan metode serta teknik
pengumpulan data apa yang relevan untuk digunakan.

Dalam penelitian kuantitatif teori menjadi hipotesa baku yang harus diuji di
lapangan. Hipotesa tersebut harus diterjemahkan kedalam pertanyaan-pertanyaan
baku yang kemudian dicantumkan ke dalam kuesioner. Pengumpulan data di
lapangan dilakukan untuk menguji keberlakuan hipotesa-hipotesa yang ada.
Karena teori maupun hipotesa dalam penelitian kuantitatif bersifat baku dan sudah
ditentukan sebelum pengumpulan data dilakukan, maka input dari lapangan
hanya akan mengkonfirmasi atau menolak hipotesa yang ada.

Dalam penelitian kualitatif teori diperlakukan secara lebih fleksibel dibanding dalam
penelitian kuantitatif. Hal ini terlihat dari operasi penelitiannya. Dalam penelitian
kualitatif, teori lebih merupakan proposisi yang berisi berbagai kemungkinan yang
akan dilihat bekerjanya di lapangan. Fleksibilitas dilakukan dengan dua alasan:

(1) penelitian kualitatif sangat mengakui pentingnya konteks kehidupan sebagai


rangkaian faktor yang menentukan cara berpikir maupun bertindak warga
masyarakat yang hidup di dalamnya. Konteks itu berbeda antar masyarakat
sehingga ada kemungkinan ada hal-hal yang tak terduga (yang tidak
tercakup dalam teori) yang ikut menentukan hal yang jadi fokus penelitian;
(2) Konteks bisa menyebabkan keberlakukan faktor yang sudah tercakup dalam
teori bekerja dengan cara yang tidak pernah diperhitungkan sebelum
penelitian dilakukan.

Sifat fleksibel teori dalam penelitian kualitatif menyebabkan input dari lapangan
tidak hanya dapat mengkonfirmasi atau menolak proposisi yang ada, tapi juga
untuk memodifikasinya dan mencari penjelasan/pemahaman tentang apa yang
menyebabkan proposisi itu bekerja atau tidak bekerja di dalam konteks masyarakat
yang diteliti. Hal ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana wawancara di
dalam penelitian kualitatif dilakukan. Satu hal yang sangat menyolok dari pengaruh
tersebut adalah pertanyaan dalam wawancara kualitatif sebagian besar
memerlukan jawaban yang bersifat open-ended. Pertanyaan diajukan tidak hanya
untuk mengkonfirmasi atau menolak hipotesa yang ada, tetapi juga untuk
memodifikasi hipotesa tersebut sehingga peneliti mendapatkan pemahaman yang
mendalam, padat, lengkap, dan sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat
yang ditelitinya.

Sampling dalam penelitian kualitatif

Baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif, kebutuhan akan sample selalu
dipicu oleh persoalan bagaimana dan kepada siapa kita bisa memperoleh
informasi yang diperlukan. Meskipun demikian, tujuan dan logika pengambilan
sample di dalam dua metode ini sangat berbeda.

2
Dalam penelitian kuantitatif sampling dilakukan untuk memperoleh informasi dari
sejumlah orang yang dianggap mewakili populasi yang lebih besar. Melalui
informasi tersebut peneliti bermaksud membuat generalisasi yang bisa berlaku untuk
populasi tersebut.

Dalam penelitian kualitatif sampling dilakukan untuk

memperoleh sumber/orang-orang/kasus/peristiwa yang


memilik/mengandungi banyak informasi (info-rich)
melakukan verifikasi (konfirmasi atau penolakan) terhadap informasi yang
diperoleh dari informan awal;
mendapatkan variasi yang lengkap dari sebuah gejala;
melengkapi puzzle.

Dengan demikian, di dalam penelitian kuantitatif sampling berkaitan dengan


representativeness yang diperlukan untuk membangun pernyataan-pernyataan
yang berlaku umum di dalam populasi yang diteliti (generalisasi). Jumlah sample
ditentukan menurut prosedur statistik yang baku. Di dalam penelitian kualitatif
sampling berkaitan dengan kepadatan, koherensi dan kelengkapan informasi yang
dibutuhkan dalam rangka membangun pemahaman (understanding) terhadap
sesuatu hal, memverifikasi pemahaman yang diperoleh (memperkuat validitas), dan
menangkap, mendeskripsikan, memahami keragaman/variasi dari sebuah gejala
tertentu.

Jumlah sample tidak ditentukan oleh prosedur standar dan banyaknya informan,
melainkan oleh:

Sejauh mana informasi yang dibutuhkan sudah cukup lengkap dan berbagai
variasi yang signifikan sudah tercakup
sejauh mana saturasi (tingkat kejenuhan informasi) sudah dicapai. Saturasi
terjadi bila informasi yang diperoleh dari informan tambahan sifatnya
mengulang atau hanya berisi info yang tidak terlalu penting.

Berapa banyak informan yang perlu diwawancara seringkali juga ditentukan oleh
hal-hal praktikal seperti jumlah tenaga pewawancara, waktu, biaya, dan berbagai
kendala yang ada di lapangan.

Overview Metode Wawancara

Teknik wawancara digunakan untuk memperoleh informasi verbal dari informan


mengenai hal-hal yang tidak bisa secara langsung diperoleh melalui pengamatan.
Bila kita ingin mendapatkan keterangan verbal tentang suatu kejadian,
perspektif,penilaian, pemikiran, gagasan tentang kejadian atau gejala tertentu,
wawancara merupakan teknik yang tepat untuk digunakan. Hal ini dilakukan
dengan asumsi bahwa seringkali ada kesenjangan antara gejala atau tindakan
dengan makna yang diberikan kepada gejala tersebut.

3
Metode wawancara kualitatif digunakan dengan tujuan-tujuan tertentu. Tujuan itu
antara lain adalah:

Mendapatkan deskripsi yang rinci tentang suatu hal (peristiwa, situasi, kondisi,
proses, perspektif, makna, penilaian)
Mendapatkan perspektif yang lengkap dan terintegrasi tentang suatu hal.
Perspektif ini dicari dari sejumlah sumber yang relevan dengan hal yang ingin
diketahui
Memahami dan menjelaskan sesuatu dengan cara memperlihatkan
prosesnya.
Mengembangkan deskripsi holistik (tentang bekerjanya sebuah sistem,
kegagalan, kemacetan, keberhasilan)
Mendapatkan pemahaman tentang bagaimana sebuah persoalan atau
persitiwa diinterpretasi secara berbeda oleh pihak-pihak yang relevan.
Mengungkap pengalaman-pengalaman orang secara kongkrit dan
terperinci sehingga pembaca memperoleh empati atau bisa turut
merasakan apa yang telah terjadi.
Mengidentifikasi variabel-variabel yang diperlukan untuk membuat hipotesa
dalam sebuah survey atau hipotesa kerja dalam penelitian kualitatif.

Secara umum metode wawancara bisa diletakan kedalam sebuah kontinum :


pertanyaan tertutup dengan jawaban tertutup di satu kutub dan pertanyaan
terbuka dengan jawaban terbuka di kutub yang lain.

Di dalam penelitian kualitatif, kontinum itu dipersempit menjadi Pertanyaan terbuka


dengan jawaban terbuka di satu kutub dan pertanyaan tertutup/berstruktur
dengan jawaban terbuka di kutub yang lain.

Dilihat seperti itu, maka salah satu ciri menonjol dari metode wawancara kualitatif
adalah pentingnya informan memberikan jawaban yang terbuka terhadap
pertanyaan yang diberikan oleh peneliti. Hal ini disebabkan karena penelitian
kualitatif sangat mementingkan konteks, proses, dan koherensi dari jawaban-
jawaban informannya. Hal itu sulit diperoleh ketika alternatif jawaban informan telah
ditentukan sebelum wawancara dilakukan.

Berdasarkan kontinum itu, secara umum metode wawancara kualitatif dapat dibagi
menjadi tiga jenis: wawancara informal/bebas, wawancara dengan pedoman
wawancara, dan wawancara semi struktur.

A. WAWANCARA INFORMAL/BEBAS

Definisi2 penting dalam metode Wawancara Informal/Bebas

Wawancara informal adalah sebuah teknik wawancara yang dilakukan di dalam


proses interaksi alamiah/percakapan informal. Pertanyaan yang diajukan
pewawancara muncul dan berkembang dari percakapan dengan informan.

4
Meskipun peneliti tahu informasi apa yang dicari, pertanyaan maupun jawaban di
dalam teknik ini tidak ditentukan sebelum wawancara dilakukan.

Fungsi dan tujuan-tujuan digunakannya metode wawancara informal

Rapport
Eksplorasi
Probing, menanyakan isu yang sama dengan pertanyaan yang berbeda-
beda
Mendapatkan informasi yang erat berkaitan dengan konteks kehidupan
masyarakat

Prasyarat yang diperlukan untuk dapat menggunakan metode wawancara informal

Mampu menjadi pendengar yang baik


Bisa menciptakan pertanyaan-pertanyaan penting di dalam sebuah
percakapan
Dapat membangun situasi yang nyaman bagi informan dan memicu minat
informan untuk membicarakan topik-topik tertentu
Siap menghadapi ambiguitas
Sensitif terhadap situasi dan kebiasaan di tempat baru

Kekuatan/keterbatasan/kelemahan metode wawancara informal

Kekuatan:

pewawancara bisa sangat fleksible dalam mengikuti gaya dan karakter


informan yang berbeda-beda.
Pertanyaan yang sama bisa ditanyakan secara berbeda tergantung pada
siapa informan yang diwawancara.
Situasi percakapan memungkinkan informan mengungkap hal-hal yang sulit
keluar melalui proses yang lebih formal, standar, dan kaku.
Cara ini paling bagus untuk menangkap perspektif informan karena
berbagai kendala yang ada dalam suasana formal dapat diperkecil
Cara ini merupakan tahap awal yang efektif bagi proses pembentukan
teknik wawancara yang lebih berstruktur atau survey

Kelemahan:

Memerlukan banyak waktu dan tenaga serta keluwesan.


Memerlukan kualitas pewawancara yang berpengalaman dan kemampuan
interaksi sosial yang relatif baik.
Penyusunan data agar menjadi sistematik memakan waktu yang lama
Bukan teknik yang efektif ketika tim peneliti terdiri dari orang yang berbeda
pengalaman peneltiannya

5
B. WAWANCARA DENGAN PEDOMAN WAWANCARA

Definisi2 penting dalam metode Wawancara dengan Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara adalah daftar topik-topik penting yang akan dicakup dalam
sebuah proses pengumpulan data. Dalam bentuk yang lebih rinci, masing-masing
topik yang ada dalam daftar/pedoman bisa juga disertai dengan sejumlah
pertanyaan alternatif. Pertanyaan tersebut lebih berfungsi sebagai pemicu
wawancara dan strategi wawancara, bukan daftar pertanyaan yang harus
ditanyakan secara kaku. Pedoman wawancara yang cukup lengkap biasanya juga
mencakup keterangan dan rationale dari masing-masing topi yang akan diliput
(mengapa topik ini penting untuk diliput? Apa asumsi yang mendasari dipilihnya
topik tertentu dst).

Fungsi dan tujuan-tujuan digunakannya metode Wawancara dengan Pedoman


Wawancara

Wawancara dengan menggunakan pedoman dilakukan untuk tujuan dan dalam


kondisi tertentu:

Teknik ini berguna apabila kita ingin mempertahankan kekuatan penelitian


(mendapatkan jawaban yang open-ended dan sesuai dengan keadaan
informan) tetapi ingin memastikan bahwa topik-topik yang telah ditentukan
sebelum wawancara dapat terliput
Topik yang akan diliput cukup banyak dan proses wawancara dilakukan oleh
sebuah tim pewawancara yang pemahaman terhadap isu yang akan diteliti
bervariasi. Pedoman ini sekaligus juga berperan sebagai pedoman
pengumpulan data yang bisa terus menerus diperiksa untuk mengingatkan
peneliti tentang apa yang perlu diliput.
Pedoman wawancara juga berguna untuk digunakan sebelum dan sesudah
wawancara dilakukan

Prasyarat yang diperlukan untuk dapat menggunakan metode Wawancara dengan


Pedoman Wawancara

Mempunyai pemahaman yang baik terhadap topik-topik yang akan diliput


Mampu menjadi pendengar yang baik dan menciptakan pertanyaan dari
rangkaian jawaban informan
Bisa menciptakan alternatif pertanyaan dan variasi strategi bertanya dari
topik yang sama
Dapat membangun situasi yang nyaman bagi informan dan memicu minat
informan untuk membicarakan topik-topik tertentu
Siap menghadapi ambiguitas dan kemungkinan berubahnya topik-topik
yang ada dalam pedoman wawancara

6
Kebutuhan-kebutuhan apa yang harus dipenuhi

Untuk menggunakan metode ini ada sejumlah langkah yang perlu dipenuhi:

Memahami dengan baik tujuan dari wawancara/penelitian yang akan


dilakukan
Mempunyai rumusan yang cukup jelas tentang topik-topik yang akan diliput
dalam wawancara (kerangka substantif, ruang lingkupnya, dan kedalaman
informasi)
Pewawancara memiliki pengetahuan (dan pengalaman) dengan topik-topik
yang akan ditanyakan. Hal ini penting untuk menjadi informed dan alert
interviewer, mendapatkan respect dan kepercayaan dari informan.
Mempunyai bayangan tentang bentuk laporan dan informasi yang penting
bagi laporan penelitian.

Kekuatan/keterbatasan/kelemahan metode Wawancara dengan Pedoman


Wawancara

Kekuatan :

Di samping bisa memperoleh data yang komprehensif, pedoman/outline topik


yang ada memungkinkan pengumpulan data yang lebih sistematik/seragam
dari beragam informan
Kesenjangan informasi dapat diantisipasi
Proses wawancara relatif bersifat alamiah dan situasional

Kelemahan :

Karena outline sudah ditentukan, ada kemungkinan info penting terabaikan


Fleksibilitas dalam proses wawancara dapat mengakibatkan jawaban yang
secara substansial berbeda dari informan yang berbeda
Akibatnya jawaban tentang topik yang sama sulit diperbandingkan
Meskipun relatif terstruktur, pengolahan dan penyusunan data masih cukup
rumit dan memakan waktu

Apa yang tidak boleh dilakukan ketika menerapkan metode x

Seperti telah dikemukakan di atas, pedoman wawancara berisi daftar topik


bukan pertanyaan (meskipun untuk setiap topik ada contoh/alternatif
pertanyaan, strategi bertanya dsb)
Jangan menggunakan pedoman wawancara sebagai daftar pertanyaan
seperti di dalam proses survey. Hal ini akan mengakibatkan pewawancara
lebih sibuk dengan pedoman dan daftar pertanyaan ketimbang jawaban
informan
Jangan membuat pertanyaan-pertanyaan yang mendorong informan
memberikan jawaban yang baku atau alternatif jawaban yang diajukan

7
oleh pewawancara. Hal ini akan mengikis motif informan untuk mengungkap
informasi yang lengkap dan terperinci
Tidak memberlakukan pedoman, topik, maupun alternatif pertanyaan
secara kaku. Kemungkinan modifikasi selalu terjadi.
Pedoman wawancara tidak perlu diterapkan secara seragam kepada
semua jenis informan.

C. WAWANCARA SEMI BERSTRUKTUR (SSI)

Karakteristik umum metode SSI

Susunan dan urutan pertanyaan sudah ditentukan sebelum wawancara


Pertanyaan ditanyakan sesuai dengan daftar pertanyaan yang sudah ada
(urutan dan kata-katanya)
Semua informan diberi pertanyaan yang sama dengan urutan yang sama
Informan tidak diberi pilihan jawaban (open-ended). Mereka tetap bisa
menjawab dengan caranya masing-masing

Fungsi dan tujuan-tujuan digunakannya metode SSI

Metode ini pada dasarnya dipilih karena sejumlah alasan:

Menutupi kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam metode


wawancara dengan pertanyaan dan jawaban yang terbuka. Namun
strategi ini mengandung dilema: semakin banyak kelemahan metode
kualitatif dapat dihindari oleh teknik ini, semakin sedikit kekuatan metode
kualitatif yang dapat dimanfaatkan oleh teknik ini.
Metode ini cukup efektif digunakan ketika wawancara dilakukan oleh
sebuah tim. Struktur pertanyaan berfungsi untuk mengurangi variasi
subyektivitas, cara bertanya, dan pemahaman pewawancara dalam
sebuah tim
Mendapatkan data yang cukup kaya dan detail tapi sangat sistematis.
Struktur pertanyaan yang sama memungkinkan perbandingan dilakukan
dengan lebih baik. Sampai titik tertentu kuantifikasi juga bisa dilakukan. Bagi
audience tertentu, cara ini sering dianggap lebih valid dan credible.
Mendapatkan informasi yang cukup luas dan detail dalam waktu yang relatif
singkat.

Kekuatan/keterbatasan/kelemahan metode SSI

Kekuatan:

Karena informan memberi info berdasarkan pertanyaan yang sama, data yang
diperoleh lebih mudah dibandingkan
Kelengkapan data yang diberikan setiap informan bisa lebih terjaga

8
Pengaruh dan bias pewawancara bisa relatif dikurangi bila menggunakan lebih
dari satu pewawancara
Pengorganisasian dan analisis data relatif mudah
Memungkinkan pengguna hasil penelitian untuk mengevaluasi instrumen yang
digunakan dalam peneltian

Kelemahan:

Tingkat fleksibilitas sebagaimana yang terkandung dalam wawancara bebas


sangat rendah.
Urutan dan pertanyaan yang baku bisa menjadi kendala bagi informan dan
membatasi relevansi pertanyaan dan jawaban dengan konteks yang ada
Semakin sistematis dan berstruktur, semakin berkurang kualitas informasi yang
diperoleh
Kalau tidak berhati-hati teknik ini bisa mendapatkan headline tapi kehilangan
ceritanya
Cenerung mendapatkan jawaban gelondongan ketimbang kongkrit dan detail

Apa yang perlu dipersiapkan untuk menggunakan teknik SSI

Menyadari dan sensitif terhadap konteks interaksi antara interviewer dan


interviewee (terutama konteks proyek)
Memahami dan mengetahui sebanyak mungkin berbagai info yang relevan
dengan topik yang akan ditanyakan dalam interview
Merencanakan dan memperkirakan berbagai peralatan apa yang
dibutuhkan sebelum wawancara dilakuka
Memilih tempat interview yang tepat (dimana interview bisa dilakukan)
Memilih informan yang dianggap relevan dengan tujuan wawancara
(sampling)
Bagaimana menanyakan pertanyaan dengan cara yang tepat (menurut
ukuran lokal)
Sebelum dan sesudah beberapa kali interview, perkirakan waktu kasar yang
diperlukan untuk menyelesaikan wawancara.

Pendekatan/strategi implementasi metode SSI

Bagaimana memperkenalkan diri, tujuan interview, topik yang akan


ditanyakan, dan pastikan mereka mengerti (buka peluang untuk mereka
bertanya). Sebutkan arti penting pandangan mereka bagi perbaikan
program.
Bagaimana mendapatkan kepercayaan dan memperkecil kepercayaan
dan kerjasama yang berlebihan
Proses interview sebaiknya dilakukan lewat pertanyaan yang paling
sederhana dan bisa diterima sampai ke hal yang kompleks (menentukan
strategi tentang tipe-tipe pertanyaan yang harus diajukan deskriptif,
struktural, dll)Strategi ini penting dilakukan walaupun harus luwes karena
situasi pribadi, pangkat, kebudayaan, dan wilayah berbeda2)

9
Bagaimana pencatatan harus dilakukan pada saat wawancara (jotting,
rekam, ketik)
Bagaimana interview diselesaikan (konfirmasi kesimpulan, rekap dan analisis
dengan informan, jangan lupa berterima kasih atas waktu dan pikiran
(bahwa keterangan sangat berguna untuk memperbaiki program) dan
sampaikan bahwa bila diperlukan informan akan diminta keterangannya lagi

Bagaimana hasil SSI dicatat, disusun, dan disimpan

Secepat mungkin membuat rekap


Merekap/ mencatat catatan singkat (dan ingatan) yang dibuat pada saat
wawancara
Susun hasil wawancara di bawah heading pertanyaan-pertanyaan yang
ditanyakan dalam wawancara /mungkin perlu form
Secara terpisah masukan analisis, kesimpulan, komentar, ataupun catatan
pribadi tentang isi wawancara maupun tentang informan.
Buat checklist kelengkapan sumber informasi
Untuk setiap issue simpan hasil wawancara berdasarkan tipe informan (poor
household, aparat, korkot, dll) di dalam sebuah map
Apa yang sebaiknya dihindarkan (menunda rekap)

D. WAWANCARA BIOGRAFI

Pada dasarnya wawancara untuk mendapatkan data tentang sejarah dan


pengalaman keterlibatan informan di dalam program menggunakan teknik yang
sama dengan SSI maupun teknik wawancara dengan pedoman wawancara.
Namun demikian, substansi yang ingin diperoleh (cerita tentang pengalaman dan
sejarah informan) mengandung beberapa isu khusus yang mungkin relatif berbeda
dengan teknik-teknik yang telah dibahas sebelumnya. Isu-isu tersebut antara lain
adalah:

Informasi tentang biografi bisa sangat kongkrit, terperinci, dan panjang


(meskipun tidak berbicara tentang keseluruhan sejarah hidup informan). Oleh
karena itu, sebelum wawancara ini dilakukan, sangat penting peneliti
membatasi hal yang ingin dicakup dan tingkat kedalaman yang ingin
dicapai dan bagaimana informasi dari berbagai biografi ini akan berperan di
dalam laporan penelitian.
Seringkali isi dan alur cerita tentang masa lalu bukan hal yang mudah untuk
diungkap karena sejumlah alasan (karena ingatan terhadap detail terbatas
atau karena pengalaman traumatik). Oleh karena itu pewawancara di
dalam bertanya perlu terus menerus memberikan pertanyaan yang dapat
memicu ingatan informan dan bersikap cukup sabar dan berhati-hati ketika
percakapan menyentuh persoalan yang sensitif atau pengalaman traumatik
informan. Pewawancara perlu mempunyai judgment yang tepat tentang
kapan sebuah pertanyaan sensitif/sulit bisa ditanyakan

10
Kemampuan untuk menanyakan suatu hal dari berbagai sudut pandang di
berbagai kesempatan yang berbeda menjadi penting di dalam wawancara
biografi.
Pengalaman dari berbagai praktek oral history interview memperlihatkan
bahwa cerita tentang masa lalu sangat dipengaruhi oleh posisi informan
pada masa kini, bayangan informan tentang apa yang terjadi pada masa
mendatang, dan siapa pewawancara yang dihadapinya. Hal ini perlu
disadari oleh pewawancara agar dapat memberikan interpretasi yang
memadai terhadap cerita informan.
Karena berkaitan dengan ingatan dan merupakan upaya informan untuk
merekonstruksi masa lalunya, maka sebisa mungkin pewawancara berbicara
sesedikit mungkin dan membiarkan informan mempunyai keleluasaan untuk
menjawab dengan kecepatan dan caranya sendiri.
Cerita tentang masa lalu juga sarat dengan muatan perasaan. Berbagai
perasaan yang menyertai fase-fase pengalaman seringkali tidak terungkap
dalam bentuk verbal. Oleh karena itu, sejauh perasaan informan merupakan
informasi yang relevan bagi peneliti, pewawancara juga perlu mengamati
tindak-tanduk, ekspresi, intonasi bicara informan di samping berbagai
jawaban yang diberikan.
Pengetahuan pewawancara tentang konteks lokal dan fase-fase program
dan sejarah program yang bisa diperoleh dari sumber lain akan sangat
membantu proses wawancara yang bertujuan untuk menggalli sejarah
pengalam informan berpartisipasi dalam program.

11