Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah swt yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesa ikan makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Neuropati Diabetik. Makalah ini disusun
dimaksudkan agar mahasiswa keperawatan pada khususnya dan perawat yang masih pemula
pada umumnya dapat semakin memahami bagaimana proses penyusunan makalah jenis
penyakit Neuropati Diabetik pada sistem Endokrin.

Di harapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang
Bagaimana cara penyusunan makalah pada sistem respirasi. Kami menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari sempurna, karena kami juga masih dalam tahap pembelajaran ,sempurna
hanya milik Allah dan kekurangan hanya milik kami hamba-Nya.

Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan manfaatnya bagi kami semua.

Demikian, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhoi segala usaha dan proses belajar kami amin.

Kediri, April 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

COVER ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ............................................................................................. 01
B. Tujuan
1. Rumusan masalah ..................................................................................... 02
2. Tujuan Umum ........................................................................................... 01
3.Tujuan Khusus ........................................................................................... 01
BAB II PEMBAHASAN
A .Definisi ....................................................................................................... 03
B. Klasifikasi .................................................................................................. 04 .
C. Etiologi ...................................................................................................... 05
D.Tanda gejala ................................................................................................. 06
E. Patofisiologi................................................................................................. 06
F. Pathway ....................................................................................................... 08
G. Manifestasi klinis......................................................................................... 10
H. Pemeriksaan diagnostik .............................................................................. 10
I. Penatalaksanaan /terapy ............................................................................... 11

J. Asuhan keperawatan ..................................................................................... 13


BAB III ANALISA KASUS
A. Kasus acuan....................................................................................................
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................
B. Saran .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 15

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Neuripati diabetik (ND) merupakan salah satu komplikasi kronis paling sering
ditemukan pada diabetes melitus. Resiko yang dihadapi pasien diabetes melitus
dengan neuropati diabetik antara lain ialah infeksi berulang, ulkus yang tidak sembuh-
sembuh dan amputasi jari atau kaki. Angka drajat keparahan neuropati diabetik
bervariasi sesuai dengan usia, lama menderita diabetes melitus, kendali glikemik, juga
fluktuasi kadar glukosa darah sejak diketahui diabetes melitus. Neuropati simptomatis
ditemukan pada 28,5% dari 6.500 pasien diabetes melitus. Hingga saat kini
patogenesis neuropati diabetik belum seluruhnya diketahui dengan jelas, namun
demikian dianggap bahwa hiperglikemia persisten merupakan faktor primer. Faktor
metabolik ini bukan satu satunya yang bertanggung jawab terhadap terjadinya
neuropati diabetik, tetapi beberapa teori lain yang diterima ialah teori vaskuler, auto
imun dan nerve growth factor. Manifestasi neuropati diabetik bervariasi, mulai dari
tanpa keluhan dan hanya bisa terdeteksi dengan pemeriksaan elektrofisiologis, hingga
keluhan nyeri hebat. Bisa juga keluhannya dalam bentuk neuropati lokal atau
sistemik, yang semua itu bergantung pada lokasi dan jenis syaraf yang terkena lesi.

B. Tujuan

1. Rumusan masalah

a. Apa definisi dari neuro diabetik?


b. Bagaimana klasifikasi neuro diabetik?
c. Bagaimana epidemiologi pada penderita neuro diabetik?
d. Bagaimana etiologi pada neuro diabetik?
e. Bagaimana tanda dan gejalanya?
f. Bagaimana patofisiologinya?
g. Bagaimana pathway dari neuro diabetik?
h. Bagaimana manifestasi klinisnya?
i. Bagaimana pemeriksaan diagnosisnya ?
j. Bagaimana dengan penatalaksanaan pada neuro diabetik ?
k. Bagaimana asuhan keperawatan pada neuro diabetik ?

2. Tujuan umum

3
Sebagai pembelajaran bagi kami (penulis) dan bagi mahasiswa S-1
keperawatan yang mempelajarinya.

3. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui definisi dari neuro diabetik
2. Mengetahui apa saja klasifikasi dari neuro diabetik
3. Untuk mengetahui epidemiologi yang terjadi pada pasien bronkhtis
4. Untuk memahami etiologi dari neuro diabetik
5. Untuk mengetahui tanda dan gejala yang mungkin muncul pada
penderita neuro diabetik
6. Untuk mengetahui patofisiologi dari neuro diabetik
7. Untuk memahami pathway dari neuro diabetik
8. Untuk memahami manifestasi klinis dari neuro diabetik
9. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan / terapy dari bronchitis
10. Menegetahui apa saja pemeriksaan diagnosis neuro diabetik
11. Mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan indikasi bronkhitis.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Neuropati diabetika adalah adanya gejala dan atau tanda dari disfungsi syaraf
perifer dari penderita tanpa ada penyebab lain selain diabetes melitus setelah
dilakukan eksklusi penyebab lainnya (Serrano & Gutierrez, 2009)

B. Klasifikasi neuropati diabetik:


Menurut perjalanan penyakitnya, neuropati diabetik dibagi menjadi :

4
1. Neuropati fungsional / subklimis, yaitu gejala timbul sebagai akibat perubahan
biokimiawi. Pada fase ini belum terdapat kelainan patologik sehingga masih
reversibel.
2. Neuropati struktural / klinis, yaitu gejala timbul akibat kerusakan struktural
serabut syaraf. Pada fase ini masih ada komponen yang reversibel.
3. Kematian neuron atau tingkat lanjut, yaitu terjadi penurunan kepadatan serabut
syaraf akibat kematian neuron. Pada fase ini ireversibel. Kerusakan serabut syaraf
pada umumnya dimulai dari distal menuju ke proksimal, sedangkan proses
perbaikan dimulai dari proksimal menuju distal. Oleh karena itu lesi distal paling
banyak ditemukan, seperti polineuropati simetris distal.

Menurut jenis serabut syaraf yang terkena lesi:

a. Neuropati difus
1) Polineuropati sensori-motor simetris distal
2) Neuropati otonom : Neuropati sudomotor, neuropati otonom kardiovaskuler,
neuropati gastrointestinal, neuropati genitourinaria
3) Neuropati lower limb simetris proksimal (amiotropi)
b. Neuropati fokal
1) Neuropati kranial
2) Radikulopati / pleksopati
3) Entrapment neuropathy

Menurut anatomi serabut syaraf perifer dibagi atas 3 sistem:

1) Sistem motorik
2) Sistem sensorik
3) Sistem otonom

5
(Floyd E. Hosmer, 2006)

C. Epidemiologi
Diteliti pasien dan populasi neuropati diabetik dengan prevalensi 12-50%.
Pada suatu penelitian dasar, neuropati simptomatis ditemukan pada 28,5% dari 6.500
pasien diabetes melitus.
D. Patogenesis
1. Faktor metabolik

6
Proses terjadinya neuropati diabetik berawal dari hiperglikemia yang
berkepanjangan. Hiperglikemia persisten menyebabkan aktivasi jalur poliol
meningkat, yaitu terjadi aktivasi enzim aldose-reduktase, yang merubah glukosa
menjadi sorbitol, yang kemudian dimetabolisme oleh sorbitol dehidrogenase
menjadi fruktosa. Akumulasi sorbitol dan friuktosa dalam sel syaraf merusak sel
syaraf akibatnya menyebabkan keadaan hipertonik intra seluler sehingga
mengakibatkan edema syaraf.
2. Kelainan vaskuler
Hiperglikemia juga mempunyai hubungan dengan kerusakan mikrovaskuler.
Mekanisme kelainan mikrovaskuler tersebut dapat melalui peneblan membrana;
trombosis pasda arterial intraneura; peningkatan agregasi trombosit dan
berkurangnya deformitas eritrosit; berkurangnya aliran darah syaraf dan
peningkatan resistensi vaskular; statis aksonal, pembengkakan dan demielinasi
pada syaraf akibat iskemia akut.
3. Mekanisme imun
Mekanisme patogeniknya ditemukan adanya antineural antibodi pada serum
sebagian penyandang DM. Auto antibodi yang beredar ini secara langsung dapat
merusak struktur syaraf motorik dan sensorik yang bisa dideteksi dengan
imunoflorens indirek dan juga adanya penumpukan antibodi dan komplemen pada
berbagai komponen syaraf suralis.
4. Peran nerve growth factor (NGF)
NGF diperlukan untuk mempercepat dan mempertahankan pertumbuhan syaraf.
Pada penyandang diabetes, kadar NGF serum cenderung turun dan berhubungan
dengan derajat neuropati. NGF juga berperan dalam regulasi gen substance P dan
calcitonin gen regulated peptide (CGRP). Peptide ini mempunyai efek
terhadap fasedilatasi, motilisasi intestinal dan nosiseptif, yang kesemuanya itu
mengalami gangguan pada neuropati diabetik.

7
E. Pathway

Glukosa untuk
dimetabolisme
Respon Respon tubuh
sel
tubuh naik glukoneo
naik genesis
Glikogenesis
menurun

Hiperglikemia
/ gula dlm
darah naik

Osmolaritas darah
Tekanan
naik
darah naik

Penekana Filtrasi
n glumerul Retensi -
pembulu us Na+air
h darah melebihi
pada ambang
normal
(hiperfiltr Resiko
Penaikan dehidrasi
tekanan Mekanis
onkotik me
filtrasi Resikokur
ginjal angnya
mengala Fibrosis
Cairan cairan
pada
berpinda dari
ginjal
h dari Kebocora kebutuha
membran n protein n tubuh
e darah Kematia
vaskuler (albumin sel ginjal
ke dalam
urin)
8
Edema
ekstrimit Hipoalbu
min

F. Manifestasi klinis

Manifestai klinis Neuropati Diabetik bergantung pada jenis serabut syaraf yang
mengalami lesi. Mengingat jenis sersbut syaraf yang terkena lesi bisa yang kecil atau
besar , lokasi proksimal atau distal, fokal atau difus, motorik atau sensorik ataukah
otonom, maka manifestasi klinisnya menjadi bervariasi diantaranya:

1. Kesemutan
2. Kebas
3. Tebal
4. Mati rasa
5. Rasa terbakar
6. Seperti ditusuk disobek atau ditikam

Prediksi paling sering terjadinya ulkus pada kaki diabetik adalah bagian dorsal ibu jari
dan bagian proksimal dan dorsal plantar metatarsal. Faktor- faktor yang berperan
terhadap timbulnya neuropati ditentukan oleh:

1. Respon mekanisme proteksi sensoris terhadap trauma


2. Macam,besar dan lamanya trauma
3. Peranan jaringan lunak kaki.

G. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium

1. Harus diperiksa laboratorium dan menyingkirkan kausa-kausa lain dari neuropati.


Semua hasil harus normal kecuali gula darah dan HbAi pada diabetes yang tidak
terkontrol dengan baik atau yang belum diketahui (undiagnosed diabetes).
Eritrosit, leukosit dan diff, elektrolit, gula darah puasa dan HbAi c walaupun
belum ada kolerasi yang langsung antara beratnya peninggian HbAic dengan
beratnya neuropati diabetik, vitamin B-12 dan kadar asam folat, thyroid-
stimulating homone dan tiroksin, LED.

9
2. Pemeriksaan imaging : MRI servikal, torakal atau lumbal untuk menyingkirkan
kausa sekunder dari neuropati, CT mielogram adalah suatu pemeriksaan alternatif
untuk menyingkirkan kompresi dan keadaan patologis di kanalis spinalis pada
radikulopleksopati lumbosacral dan neuropati torakoabdominal, imaging otak atau
untuk menyingkirkan aneurisma intracranial, lesi compresi dan infark pada
kelumpuhan nokulomotorik.
3. Pemeriksaan elektrofisiologi : EMG (elektromiografi)dan kecepatan daya hantar
syaraf (KHS/NCV)

H. Tatalaksana
Terapi Nonmedikamentosa
1. Edukasi
Edukasi pasien sangat penting dalam tatalaksana neuropati diabetik. Target
pengobatan dibuat serealistik mungkin sejak awal, dan hindari memberi
pengharapan yang berlebihan.
2. Perawatan umum (kaki)
Jaga kebersihan kaki, hindati trauma kaki seperti kaki sempi. Cegah trauma
berulang pada neuropati kompresi.
3. Pengendalian glukosa darah

Terapi Medika mentosa

Dengan menggunakan obat-obat:

1. Golongan aldolase reductase inhibitor, yang berfungsi menghambat penimbunan


sorbitol dan fruktosa
2. Penghambat ACE
3. Neurotropin
2 Nerve growth factor
3 Brain-derived neurotrophic factor
4. Alpha LipoicAcid, suatu antioksidan kuat yang dapat membersihkan radikal
hidroksil, superoksida dan peroksilserta membentuk kembali glutation

Pedoman tatalaksana neuropati diabetic dengan nyeri, diantaranya:

1. NSAID (ibuprofen dan sulindac)


2. Antidepresan trisiklik (amitriptilin, imipramin, nortriptilin, paroxetine)
3. Antikonvulsan (gabapentin, karbamazepin)
4. Antiarimia (mexilletin)
5. Topikal : capsaicin, fluphenazine, transcutaneous electrical nerve stimulation
I. Pencegahan
Pencegahan kaki diabetic tidak terlepas dari pengendalian (pengontrolan) penyakit
secara umum mencakup:

10
4 Pengendalian kadar gula darah
5 Status gizi
6 Tekanan darah
7 Kadar kolestrol, dan
8 Pola hidup sehat.

J. Penegakan diagnosis
1. Anamesis : (Kelompok Studi Nyeri PERDOSSI, 2011)
a. Sensorik: rasa terbakar, ditusuk, ditikam, kesetrum, disobek, tegang,hilang
keseimbangan, kurang tangkas.
b. Motorik : gangguan koordinasi serta paresis distal atau proksimal antara lain
sulit naik tangga, suli bangkit dari kursi/lantai, terjatuh, sulit bekerja atau
mengangkat lengan keatas, ibu jari tertekuk, kedua kaki bertabrakan.
c. Otonom : gangguan berkeringat, sensasi melayang pada posisi tegak, synkope
saat BAK/batuk/kegiatan fisik, suli menahan BAB/BAK, muntah.
d. Neuropati diabetika dicurigai pada pasien DM tipe 1 yang lebih dari 5 tahun
dan semua DM tipe 2.
e. Pemeriksaan fisik (kelompok studi nyeri PERDOSSI, 2011)
Pada inspeksi dapat dijumpai kaki diabetik, neuroartropati dan deformitas.
2. Pemeriksaan neurologi (kelompok studi PERDOSSI, 2011)
a. Pemeriksaan motorik
b. Pemeriksaan sensorik untuk melihat distribusi lesi saraf
c. Pemeriksaan otonom termasuk evaluasi hipotensi ortostatik, nadi, tes valsava
dan kelenjar keringat.
3. Pemeriksaan penunjang (kelompok studi nyeri PERDOSSI, 2011 )
a. Elektroneuromiografi
b. Test sensoris kuantitatif
4. Laboratorium (kelompok studi nyeri PERDOSSI, 2011)
a. Kadar gul darah atau tes toleransi glukosa, HBA1c.
b. Laboratorium untuk menyingkirkan diagnosa banding

Berikut adalah kriteria diagnostik neuropati, di mana diagnostik neuropati


berdasarkan adanya gejala dua atau lebih dari empat kriteria di bawah ini : (Sjahrir,
2006).

a. Kehadiran satu atau lebih gejala


b. Ketidakhadiran dua atau lebih reflek ankle
c. Nilai ambang persepsi getaran/vibration abnormal
d. Fungsi otonomik abnormal (berkungnya heart rate variability(HRV), postural
hypotension dengan turunnya tekanan darah sistolik 20 mmhg atau lebih, atau
kedua-duanya.

Untuk menegakkan diagnosa neuropati diabetika, sekurang-kurangnya ada 2


upnormalitas dari 5 pemeriksaan yaitu : gejala, tanda klinis, elektrofisiologis

11
(kecepatan hantaran syaraf), quantitative sensori testing (QST), dan quantitative
autonomic testing (QAT) ) (Bril, 2007).

Selain itu juga, penegakan neuropati diabetika dapat ditegakkan berdasarkan


konsensus san antonio. Pada konsensus tersebut telah direkomendasikan bahwa
harus ada 1 dari 5 kriteria yakni : (1) symptom skoring, (2) physical examination
scoring, (3) quantitqtive sensori testing, (4) cardiovascular autonomic function
testing (AFT), (5) electrodiagnostic studies (EDS) (Mendel, 2007).

Pemeriksaan symtom scoring dan physical examination scoring yang telah


terbukti memiliki sensitifitas dan spesifisitas tinggi untuk mendiagnosa neuropati
diabetika adalah diabetic neuropathy symptom (DNS) dan diabetic neuropathy
examination (DNE) (Jan Willem, 2006).

BAB III

A. Asuhan Keperawatan

12
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Neuropati diabetik merupakan salah satu komplikasi kronik Diabetes Melitus
dengan prevelensi dan manifestasi klinis amat bervariasi. Dari 4 faktor (metabolik,
vaskuler, imun dan NGF) yang berperan pada mekanisme patogenik neuropati
diabetik, hiperglikemia yang berkepanjangan sebagai komponen faktor metabolik
merupakan dasar utama patogenesis neuropati diabetik.
Oleh karena itu, dalam pencegahan dan pengelolaan neuropati diabetik pada pasien
pada pasien diabetes melitus, yang penting adalah diagnosis diikuti pengendalian
glukosa darah dan perawatan kaki sebaik-baiknya. Usaha mengatasi keluhan nyeri
pada dasarnya bersifat simtomatis, dilakukan dengan memberikan obat yang bekerja
sesuai mekanisme yang mendasari keluhan nyeri tersebut. Pendekatan

13
nonfarmakologis termasuk edukasi sangat diperlukan, mengingat perbaikan total sulit
bisa dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

1. W.Sudoyo Aru, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, K Simadhibrata Marcellus,Setiati


Siti.2007 Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam,Edisi ke-4, Jilid III,Jakarta : Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia.Hal : 1902-1904
2. Thoha, D. Paling Ditakuti Tetapi Bisa Dihindari. 2006.
3. Armstrong, D & Laurence, A. Diabetic Foot Ulcers, Prevention, Diagnosis and
Classification. 2009.

14