Anda di halaman 1dari 5

TUGAS FARMASI

Disusun oleh:

RIZKI PRATIWI
O11113012

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017

1
SOAL:
1. Jelaskan mengapa faktor-faktor dibawah ini dapat mempengaruhi kelarutan!
a. Polaritas
b. Co-solvency
c. Kelarutan
d. Termperatur
e. Salting out
f. Salting in
g. Pembentukan kompleks

JAWAB:
a. Polaritas
Polaritas adalah suatu kemampuan senyawa untuk membuat/membentuk dipol.
Polaritas ini dari suatu senyawa dijelaskan dalam istilah momer dipole polaritas suatu
senyawa juga dihubungkan dengan konstanta dielektriknya ( E) dimana jika nilai E
meningkat, maka kepolaran dari suatu senyawa juga meningkat. Polaritas dari suatu
senyawa dijelaskan dalam suatu istilah moment dipole.Polaritas dari suatu senyawa juga
dihubungkan dengan konstanta dielektrik dimana jika nilai konstanta dielektrik
meningkat maka kepolaran dari suati senyawa juga menngkat. Senyawa konstanta
dielektrik yang tinggi umumnya larut dalam air, sedangkan senyawa dengan konstanta
dielektrik yang rendah cenderung idak larut dalam air.
Aturan yang terkenal yaitu like dissolves like berdasarkan pada observasi bahwa
molekul molekul dengan distribusi muatan yang sama dapat larut timbal balik, yaitu
molekul polar, akan larut dalam media yang serupa yaitu polar, sedangkan molekul
nonpolar akan larut dalam media nonpolar. Konsep polaritas kurang jelas apabila
diterapkan pada kelarutan yang rendah
Berbicara mengenai kelarutan perlu kita ketahui bahwa kelarutan suatu senyawa
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain sifat kepolaran suatu senyawa dan massa
jenis atau densitas.
Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut yaitu oleh
momen dipolnya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan zat polar lalu.

2
Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen merupakan faktor yang lebih jauh
berpengaruh di bandingkan dengan polaritas yang direfleksikan dalam dipol momen yang
tinggi. Dapat di simpulkan bahwa pelarut polar bertindak sebagai pelarut menurut
mekanisme berikut:
1. Karena tingginya tatapan dielektrik, pelarut polar mengurangi gaya tarik menarik
antar ion dalam kristal yang bermuatan berlawanan.
2. Pelarut polar memecahkan ikatan kovalen dari elektrolit kuat dengan reaksi asam bisa
karena pelarut ini amfriprotik.
Pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarik menarik antara ion-ion elektrolit
kuat dan lemah karena tetapan dielektrik yang rendah. Pelarut non polar juga tidak dapat
memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut non
polar termasuk dalam golongan pelarut aprotik. Oleh karena itu, zat terlarut ionik dan
secara oral di dalam saluran cerna harus mengalami proses pelepasan dari sediaannya dan
kemudian zat aktif akan melarut untuk selanjutnya diabsorpsi. Proses pelepasan zat aktif
dari sediaannya dan proses pelepasan larutan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia
dan fisika zat terlarut serta formulasi sediaannya. Salah satu sifat zat aktif yang penting
untuk diperhatikan adalah kelarutan karena pada umumnya zat baru diabsopsi setelah
terlarut dalam cairan saluran cerna. Teori tumbukan yaitu dapat di jelaskan bahwa
semakin luas permukaan zat padat, maka semakin banyak tempat terjadinya tumbukan
antarpartikel zat yang bereaksi. Luas permukaan zat berkaitan dengan bidang sentuh zat
tersebut.

b. Co-solvency
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar
mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar sukar
larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Besarnya tetapan dielektrik ini menurut moore
dapat diatur dengan penambahan pelarut lain. Tetapan dielektrik suatu campuran pelarut
merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing yang sudah
dikalikan dengan % volume masing-masing komponen pelarut. Adakalanya suatu zat
lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut tunggalny. Fenomena ini
dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana dalam bentuk campuran dapat

3
menaikkan kelarutan suatu zat disebut co-solvent. Etanol, gliserin dan propilen glikol
adalah co-solvent yang umum digunakan dalam bidang farmasi untuk pembuatan eliksir.
c. Kelarutan
Kebanyakan garam anorganik lebih larut dalam air dari pada dalam pelarut organik
seperti metanol, etanol, propanol, aseton dan sebagainya. Air mempunyai momen dwi
kutub besar dan tertarik ke kedua kation dan anion untuk membentuk ion terhidrat. Ion
hidrogen dalam air terhidrasi sempurna membentuk ion hidroksonium ( H3O+ ). Semua
ion pasti terhidrasi sampai beberapa jauh dalam larutan berair, dan energi yang
dilepaskan oleh interaksi ion dan pelarut membantu mengatasi gaya tarik yang mencoba
menahan ion-ion di dalam kisi padatan. Ion di dalam sebuah kristal tidak mempunyai
tarikan demikian besar untuk pelarut organik dan karenanya kelarutannya biasanya lebih
kecil dari pada dalam air.

d. Temperatur
Kelarutan endapan-endapan yang dijumpai dalam analisis kuantitatif meningkat
dengan bertambahnya tempetarur. Kebanyakan garam organik bertambah kelarutannya
apabila temperatur dinaikkan. Hal ini menguntungkan dalam melakukan proses pencuian
dengan larutan panas, karena kotoran akan semakin mudah larut.
Perubahan kelarutan suatu zat terlarut karena pengaruh suhu erat hubungannya
dengan panas kelarutan dari zat tersebut. Panas kelarutan didefinisikan sebagai
banyaknya panas yang dibebaskan atau diperlukan apabila satu mol zat terlarut dilarutkan
dalam suatu pelarut untuk menghasilkan suatu larutan jenuh. Kelarutan zat padat dalam
larutan ideal tergantung kepada temperatur, titik leleh zat padat dan panas peleburan
molar zat tersebut. Kelarutan suatu zat padat dalam air akan semakin tinggi bila suhunya
dinaikan. Adanya panas (kalor) mengakibatkan semakin renggangnya jarak antar molekul
zat padat tersebut. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan
gaya antar molekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik
molekul-molekul air. Berbeda dengan zat padat, adannya pengaruh kenaikan suhu akan
menyebabkan kelarutan gas dalam air berkurang. Hal ini disebabkan karena gas yang
terlarut di dalam air akan terlepas meninggalkan air bila suhu meningkat.

4
e. Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan
lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau
terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak atsiri
dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.

f. Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama
dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi
larut dalam larutan yang mengandung Nicotinamida. Kosolven adalah pelarut yang
ditambahkan dalam suatu sistem untuk membantu melarutkan atau meningkatkan
stabilitas dari suatu zat, cara ini disebut kosolvensi. Cara ini cukup potensial dan
sederhana dibanding beberapa cara lain yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan
dan stabilitas suatu bahan. Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem,
yang dapat ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya.

g. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut
dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : Iodium larut
dalam larutan KI atau NaI jenuh.