Anda di halaman 1dari 15

LO 1

Kegagalan sementasi.
Kegagalan sementasi bisa sebagian atau seluruhnya, biasanya terjadi karena retainer yang
tidak memadai. Jika mahkota gigi pendek, preparasi sebaiknya dibuat full crown dan dapat
ditambah auxilliary groove. Preparasi sedapat mungkin mendekati paralel dengan sudut
konvergensi 5-6. Selain itu kegagalan dapat terjadi karena teknik sementasi yang tidak baik.
Apabila suatu GTC menjadi longgar karena teknik sementasi, maka dapat dianggap bahwa
baik gigi abutment maupun permukaan sebelah dalam dari retainer tidak kering atau bersih,
atau bahwa semen tidak tercampur dengan baik. Insersi prothesa pada saat semen mulai
setting, akan menghasilkan semen yang lemah dan GTC tidak terpasang dengan sempurna.
Selain itti semen dapat terlarut karena salah satu dari tiga alasan berikut ini: margin sudah
terbuka sejak mulanya, retainer telah mengalami deformasi sehingga membuat margin
terbuka, atau sebuah lubang telah kelihatan melalui permukaan okltisal dari retainer.

Yun LO 5 iki aku ganemu seng mergo kegagalan perawatan e, aku nemu ne langsung soko
tahap awal GTSL

Mungin bisa embantu

LO 5 Versi I

II. DIAGNOSIS PASIEN


a. Anamnesis
b. Pemeriksaan umum
c. Pemeriksaan lokal
d. Diagnosis

a. Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan ingin membuat gigi palsu atas dan bawah karena pasien
telah kehilangan gigi belakang dan beberapa gigi depan, pasien mengeluhkan sulit untuk
mengenyah. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, pasien mengatakan belum pernah memakai
gigi tiruan.

b. Pemeriksaan Umum
1. Penyakit sistemik/penyakit infeksi : Hipertensi
2. Kebiasaan jelek : Tidak ada
3. Pernah memakai gigi tiruan :
a. Rahang atas : tidak b. Rahang bawah : tidak
4. Sikap mental pasien : Filosofis

c. Pemeriksaan Lokal
1. Ekstra Oral
a. Wajah Depan : Oval Samping : Cembung
b. Bibir : Normal
c. Mata : Tidak Bergerak
d. Sendi temporo mandibular : Normal
2. Intra Oral
a. Status Gigi : Gigi yang masih ada 13 11 23 21 35 33 32 31 41 42 43 45
b. Gigi yang hilang : Sebagian
c. Kelainan gigi : Mobiliti : Ada, gigi 31 dan 41
Malposisi : Ada, gigi 33 linguoversi gigi 45 mesioversi
Elongasi : Ada
Diastema : Ada
d. Oklusi (angle) : Klas.....
e. Derajat karies : Rendah
f. Oral higiene : Baik
g. Mukosa linggir aveloaris : Atas kanan : Normal Atas kiri : Normal Bawah kanan :
Normal Bawah kiri : Normal
h. Linggir alveolaris : Bentuk : - Mx. Ka: Tapering
- Mx. Ki: Ovoid
- Md. Ka: Knife edge
- Md. Ki: Knife edge
Lengkung : Trapesium
Relasi rahang : Normal
Ruang antar linggir : 5mm
Palatum : .......
Torus palatinus : Rendah
Posterior palatal seal : .........
Lidah : Sedang
Kondisi saliva : Kental
Dasar : Dalam

d. Diagnosis :
RA : Klas I modifikasi 2 Kennedy
RB : Klas I modifikasi 2 Kennedy

III. RENCANA PERAWATAN


a. Perawatan Persiapan
Tindakan Tanpa Bedah : Tidak perlu
Tindakan Bedah : Tidak perlu

b. Pencetakan Anatomis
a. Tujuan : Untuk pembuatan sendok cetak fisiologis dan survey pendahuluan.

b. Bahan : Hydrocolloid Irreversible (alginate)

c. Bahan Pengisi : Dental stone tipe III

d. Pemilihan sendok cetak :


Menggunakan sendok cetak pabrik
Bagian permukaan sendok cetak persegi
Ukuran sendok cetak lebih besar 3-6 dibandingkan dengan linggir pasien.
Sendok cetak RA harus mencakup Hamular Notch dan Vibrating line
Sendok cetak RB harus mencakup Retromolar Pad dan Sulkus Aveolingual.

e. Cara mencetak :
1. Dudukkan pasien di denta unit dengan posisi badan yang tegak
2. Pilih sendok cetak yang sesuai dengan pasien.
3. Aduk bahan cetak dengan perbandingan 1:1 (alginate:air), aduk sampai homogen.
4. Masukkan bahan cetak ke sendok cetak secukupnya.
Pada RA : operator berdiri di sebelah belakang kanan pasien.
Pada RB : operator berdiri di sebelah kanan depan pasien.
5. Masukkan sendok cetak ke mulut pasien, dan dilakukan penekanan pada daerah yang
edentulous. Periksa daerah perlekatan frenulum, dan daerah2daerah tempat yang akan
dijadikan retensi untuk GTSL.
6. Tunggu sampai bahan cetak mengeras, dan keluarkan dari mulut pasien,
7. Hasil cetakan dicuci di bawah air mengalir, perhatikan apakah hasil cetakan sudah
memenuhi syarat cetakan yang baik.

f. Evaluasi hasil cetakan:


1. Mencakup seuruh gigi, daerah linggir dan jaringan lunak harus jelas tercetak.
Batas cetakan
Posterior : Mencakup Fovea Palatine ke arah posterior sampai AH Line. RA
Lateral : Meliputi Hamular Notch Batas Cetakan
Posterior : Retromolar pad RB
Lateral : Linggir Oblique bagian luar dan menyempit ke arah bawah sebagai frenulum
bukalis.
Seluruh linggir alveolus sampai dasar mulut (dalam keadaan istirahat).
2. Pinggiran cetakan harus membulat kea rah perekatan otot.
3. Tidak ada geembung-gelembung udara atau sobekan atau lubang.
4. Dasar sendok cetak tidak boleh nampak.

c. Model Cetak Anatomis


1. Hasil cetakan anatomis diisi dengan dental stone.
2. Setelah keras, hasil cetakan dikeluarkan dan didapatkan model anatomis dan kemudian
ditanam dalam basis.

d. Desain Perawatan
Perencanaan Desain
- Klasifikasi (Kennedy) : Klas I Modifikasi 2
- Penentuan dukungan : Gigi dan mukosa
- Penentuan gigi penyangga : 13 23 35 33 45

RA: Diametrik
RB: Segitiga

- Penentuan cangkolan/desain cangkolan : Tipe pengungkit Klas II

a. Letak cangkolan
Pada permukaan bukal dibagi atas 4 kuadran, kuadran II dan IV berada dekat bagian
edentulus cangkolan melalui 3 kuadran yaitu I, III dan IV untuk mendapatkan retensi
yang benar.
Lengan retentive= pada bagian bukal, terbagi pada 2 bagian yaitu retensi dan bracing
o Retensi: terletak di bawah garis survei
o Bracing: diatas garis survei
o Panjang retensi= Panjang bracing
Lengan resiprokal= pada bagian palatal/ lingual, berada diatas garis survei
Dukungan (oklusal rest) = pada permukaan oklusal disebelah dista/mesial gigi penyangga.

b. Desain cangkolan Desain cangkolan pada kasus rahang atas yaitu:


Pada gigi13 dan 23 :berjalan dari arah mesial ke distal Pada kasus rahang bawah yaitu:
Pada gigi 33 : cangkolan berjalan dari arah distal ke mesial
Pada gigi 35 : cangkolan berjalan dari arah mesial ke distal
Pada gigi 45 : cangkolan berjalan dari arah mesial ke distal Survei :

e. Sendok Cetak Fisiologis


1. Pembuatan Sendok Cetak Fisiologis
Pembuatan outline pada model anatomis untuk batas sendok cetak fisiologis dengan pensil
biru di daerah forniks (batas mukosa bergerak dan tidak bergerak) pada daerah edentulous.
Dengan pensil merah 2 mm di atas garis biru sebagai batas pembuatan wax (spacer) pada
daerah edentulous dan di daerah prominensia pada daerah bergigi.
Lapis 1 lembar wax di atas model anatomis tebal 1-2 mm sebagai spacer (tempat bahan
cetak) sampai garis merah.
Pembuatan stopper berbentuk persegi panjang (4-5 mm) di daerah molar dan kaninus kanan
dan kiri untuk tahanan vertikal.
Aduk resin akrilik, lalu masukkan ke stopper dan ratakan di atas wax 2 mm
Buat tangkai sendok cetak di bagian anterior posisi tidak mengganggu bibir saat
memasukkna sendok cetak ke dalam mulut dan tidak mengganggu proses muscle trimming.
Rapikan dan haluskan sendok cetak dan bagian tepinya tidak melewati garis merah.

2. Uji Coba Sendok Cetak Fisiologis


- Mencobakan sendok cetak ke mulut pasien.
Sendok cetak harus mencakup jaringan pembatas GTSL. - Perhatikan hal berikut:
Permukaan labial dan bukal harus lebih pendek 1-2 mm dari forniks.
Berkontak rapat dengan mukosa jaringan pendukungnya.

3. Pembuatan Muscle Trimming (Border molding)


Proses yang diakukan untuk mendapatkan batas anatomi struktur pembatas gigi tiruan yang
lebih akurat. Tepi sendok cetak harus lebih pendek 1-2 mm dari batas tepi jaringan yang
harus dicetak.
Tujuan muscle trimming : - Untuk mendapatkan anatomis struktur pembatas GTSL yang
lebih akurat.
- Pembentukkan sekitar rongga mulut sehingga dapat terbentuk seal
yang baik.
Prosedur muscle trimming:
Pastikan terlebih dahulu tepi sendok cetak harus lebih pendek 1-2 mm dari batas tepi mukosa
yang akan dicetak.
Modeling compound (Green Kerr) dipanaskan dan dietakkan di tepi sendok cetak secara
bertahap, didinginkan sedikit demi sedikit sebelum dimasukkan ke mulut.

Border molding pada RA:


Labial : Bibir atas diturunkan ke bawah
Frenulum labial : Bibir atas diturunkan ke bawah
Bukal : Tarik pipi ke bawah, ke depan, dan ke belakang
Bukal posterior : Tarik pipi ke bawah, ke depan, dan ke belakang
Frenulum bukal : Tarik pipi ke arah luar, bawah, belakang, dan depan.
Belakang palatum : Pasien diinstruksikan untuk mengucapkan kata Ah

Border molding pada RB:


Labial : Bibir bawah ditarik ke atas dan memijatnya
Frenulum labial : Bibir bawah ditarik ke atas
Bukal : Pegang pipi dengan ibu jari dan jari telunjuk, tarik pipi ke atas dan lakukan gerakan
pemijatan.
Anterior lingual : Pasien diinstruksikan untuk menjulurkan lidah ke arah gagang sendok
cetak dan diinstruksikan untuk menjilat bibir atas dari sisi ke sisi.
Disto lingual : Pasien diinstruksikan untuk menjulurkan lidah ke arah pipi yang
berlawanan.

Evaluasi hasil border molding


Antara wax dengan Green Kerr tidak terdapat step.
Terlihat adanya guratan otot.
Sendok cetak semakin cekat seteah dilakukan muscle trimming.
Permukaan Green Kerr harus berwarna suram (dove) yang berarti sudah terjadi kontak rapat
antara Green Kerr dengan mukosa.

4. Pembuatan Retensi pada Sendok Cetak Fisiologis


Lapisan wax bagian dalam sendok cetak dilepas.
Sendok cetak dilubangi dengan round bur, jarak tiap lubang 4-5 mm, lubang tidak boleh
dibuat pada daerah palatum dan di atas linggir alveolaris untuk mengalirkan bahan cetak yang
berlebih pada saat pencetakan. Jika tidak dibuat lubang, maka bahan cetak yang berlebih akan
menyebabkan tekanan yang berlebih pada jaringan pendukung gigi tiruan.

f. Pencetakan Fisiologis
i. Metode fungsional: kombinasi antara metode mukostatis dan mukokompresi
ii. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan kompresibilitas antara jaringan mukosa dengan
gigi.
iii. Teknik mukokompresi untuk daerah tidak bergigi dengan bahan cetak silikon atau
polieter, dan teknik mukostatis untuk daerah bergigi dengan bahan cetak hidrokoloid
irreversible.
iv. Penggunaan teknik pencetakan mukofungsional: Dengan teknik mukokompresi yang
disesuaikan dengan kemampuan jaringan menerima beban (mukofungsional) jaringan lunak
alveolaris berada di bawah penekanan, sehingga pada waktu tekanan pengunyahan hanya
sedikit terjadi pergerakan dari jaringan lunak hingga dapat mengurangi efek torsi gigi
penyangga.
v. Tujuan cetak fisiologis:
1. Mengetahui arah pasang dan lepas yang tepat
2. Dukungan pada gigi penyangga lebih akurat
3. Stabilisasi pada gigi penyangga lebih baik
4. Retensi Pada rahang atas, pencetakan fisiologis menggunakan bahan cetak elastomer
untuk memperoleh hasil cetakan yang akurat.

g. Surveying
Tujuan Survei Model:
i. Menentukan lingkaran terbesar dari gigi penyangga untuk menentukan posisi cangkolan
yang tepat
ii. Menentukan permukaan gigi dan jaringan lunak yang perlu diblocking out yang akan
menggangu pasang dan lepas gigitiruan
iii. Mengindentifikasi permukaan proksimal gigi agar dapat dibuat sejajar sehingga dapat
bertindak sebagai guiding plane atau menentukan dataran petunjuk sehingga dapat dipasang
dengan mudah
iv. Mengukur derajat undercut pada gigi penyangga
v. Menentu arah pasang dan lepas terbaik
vi. Mencatat posisi model berhubung arah pasang dan lepas

h. Cara membuat Shellac dan Oklusal Rim:


RA dan RB : Basis shellac dipanaskan dan ditekan sampai rata, dibuang yang berlebih.
Oklusal rim diletakkan pada basis tersebut di daerah proccesus alveolaris yang tidak bergigi
setinggi dataran oklusal.
Guna oklusal rim: o Untuk menemukan dataran oklusal dan relasi vertikal
o Tempat penyusunan gigi
o Mengembalikan profil pasien

Faktor yang harus diperhatikan:


Oklusal rim RA dan RB harus berkontak bidang.
Inklinasi anterior RA lebih ke labial
Pada posisi istirahat, oklusal rim terlihat 2 mm

i. Pembuatan klammer
Tentukan garis survey yang benar dan untuk mendesain letak cangkolan yang tepat

j. Perluasan Basis
a. Rahang Atas:
Bila gigi posterior tidak ada, basis diperluas menutupi palatum sampai ke tuberositas dan
hamular notch.
Bagian posterior sampai ke batas mukosa bergerak dan tidak bergerak.
Bagian bukal sampai tidak mengganggu pergerakan frenulum
b. Rahang Bawah:
Pada basis dukungan jaringan, perluasan menutupi retromolar pad dan meluas ke lateral
sampai sulkus bukalis.
Bagian distolingual meluas dari retro molar pad ke sulkus alveolingual.
Batas sayap lingual tergantung dari anatomi linggir milohyoid.
Bila linggir tajam, maka sayap berakhir pada puncak linggir milohioid.
Bila linggir tidak tajam, sayap dapat diperluas sampai sulkus alveolingual

k. Pemasangan ke Artikulator
l. Pemilihan Anasir gigitiruan
Pemiihananasirgigitiruan posterior:
i. Ukuran Gigi:
Mesio distal Pada kasus basis berujung bebas, ukuan mesio distal diukur dari tepi distal
gigi yang berdekatan dengan edentulus sampai mesial dari retromolar pad
Okluso gingival Ditentukan oleh besarnya ruangan inter oklusal. Panjang anasir
gigitiruan disesuaikan dengan gigi tetangga terutama gigi premolar.
Buko lingual/palatal Disesuaikan dengan lebar mesio distalnya sehingga bentuk
sebanding, tetapi pada kasus linggir alveolus datar diperlukan ukuran oklusal yang sempit
untuk mengurangi daya kunyah yang besar dan memberi tempat pada lidah.

ii. Bentuk: Gigi Anatomik Pemilihan anasir gigi tiruan anterior


Pemilihan anasir gigitiruan:
Mesiodistal yang kecil
Bukolingual yang sempit dibandingkan dengan gigi asli agar daya yang diterima oleh
jaringan pendukung lebih kecil.

m. Pasang percobaan
Hal yang dilihat:
Warna
Bentuk
Oklusi
Estetik

n. Pemasangan GTSL
a. Adaptasi basis gigitiruan pada mukosa
b. Retention masuk ke daerah gerong serta terletak tepat pada tempatnya
c. Oklusal rest berkontak rapat pada permukaan oklusal gigi sandaran
d. Tahanan gigitiruan tidak boleh samai menyebabkan gigi sandaran terasa sakit
e. Oklusi dan artikulasi rapat
f. Letak cangkolan harus tepat
g. Hal yang diperhatikan sewaktu pasca pemasangan:
- Pada gigi asli:
Kebersihan mulut dan gigi baik
Pemeriksaan gigi asli berkaitan karies, mobility, dan jaringan pendukung
Jaringan lunak yang ditutupi gigitiruan berkaitan inflamasi akibat iritasi
- Pada gigitiruan
Kebersihan gigitiruan
Retensi
Oklusi dan artikulasi

LO 5 Versi II

Faktor- faktor yang juga perlu diperhatikan dalam mendesain GTS :


1.Retensi
Merupakan kemampuan GTS dalam melawan gaya pemindah yang cenderung melepaskan
GTS ke arah oklusal.
2.Stabilisasi
Merupakan kemampuan GTS untuk menahan gaya yang cenderung menggerakkan gigi tiruan
dalam arah horizontal. Stabilisasi ini sangat tergantung pada garis retensi yang dibuat pada
gigi pegangan, dan dapat berupa aktivitas otot saat berbicara, mastikasi, tertawa, batuk, bersin
dan gravitasi untuk rahang atas.
3.Estetika
Penempatan cangkolan harus sedemikian rupa sehingga tidak terlihat dalam posisi apapun.
Selain itu gigi tiruan harus tampak asli dan pantas untuk tiap pasien. Hal ini meliputi warna
gigi, posisi dan inklinasi tiap gigi, gingival contouring harus sesuai dengan keadaan pasien
dan perlekatan gigi di atas ridge.

III. PROSEDUR KERJA DAN RENCANA PERAWATAN

A.Kunjungan Pertama

1.Anamnesa Indikasi
2.Membuat Studi Model
a.Alat : Sendok cetak nomor dua
b.Bahan Cetak : Hyidrokoloid Irreversible (alginat)
c.Metode Mencetak : Mucostatik
Posisi operator : RB : di kanan depan pasien
Posisi pasien : RB : pasien duduk tegak dan bidang oklusal sejajar lantai posisi mulut setinggi
siku operator.
d.Cara mencetak
Mula-mula dibuat adonan sesuai dengan perbandingan P/W yaitu 3:1, setelah dicapai
konsistensi yang tepat dimasukkan ke dalam sendok cetak dengan merata, kemudian
dimasukkan ke dalam mulut pasien dan tekan posisi ke atas atau ke bawah sesuai dengan
rahang yang dicetak. Di samping itu dilakukan muscle triming agar bahan cetak mencapai
lipatan mukosa. Posisi dipertahankan sampai setting, kemudian sendok dikeluarkan dari
mulut dan dibersihkan dari saliva. Hasil cetakan diisi dengan stone gips dan di-boxing.

B.Kunjungan Kedua
1.Membuat work model
a.Alat : sendok cetak fisiologis
b.Bahan cetak : hyidrokoloid irreversible (alginat)
c.Metode mencetak : mucocompresi
d.Cara mencetak
Rahang Atas :
Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok
cetak. Posisi operator di samping kanan belakang. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak
ke dalam mulut, sehingga garis tengah sendok cetak berimpit dengan garis median wajah.
Setelah posisinya benar sendok cetak ditekan ke atas. Sebelumnya bibir dan pipi penderita
diangkat dengan jari telunjuk kiri, sedang jari manis, tengah dan kelingking turut menekan
sendok dari posterior ke anterior. Pasien disuruh mengucapkan huruf U dan dibantu dengan
trimming.
Rahang Bawah :
Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok
cetak. Pasien dianjurkan untuk membuang air ludah. Posisi operator di samping kanan depan.
Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, kemudian sendok ditekan ke
processus alveolaris. Pasien diinstruksikan untuk menjulur lidah dan mengucapkan huruf U.
dilakukan muscle trimming supaya bahan mencapai lipatan mucobuccal. Posisi dipertahankan
sampai setting.

2.Pembuatan cangkolan yang akan digunakan untuk retensi gigi tiruan dengan melakukan
survey model terlebih dahulu pada gigi yang akan dipakai sebagai tempat cangkolan berada
nantinya.

3.Pembuatan basis gigi tiruan dengan menggunakan malam merah yang dibuat sesuai dengan
desain gigi tiruan.

4.Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing, polishing.

C.Kunjungan Ketiga
1.Try in basis gigi tiruan akrilik dengan cangkolannya.
2.Pembuatan gigitan kerja yang digunakan untuk menetapkan hubungan yang tepat dari
model RA dan RB sebelum dipasang di artikulator dengan cara : pada basis gigi tiruan yang
telah kita buat tadi ditambahkan dua lapis malam merah dimana ukurannya kita sesuaikan
dengan lengkung gigi pasien. Malam merah dilunakkan kemudian pasien diminta mengigit
malam tersebut.
3.Pemasangan model RA dan RB pada artikulator dengan memperhatikan relasi gigitan kerja
yang telah kita dapatkan tadi.
4.Penyusunan gigi tiruan dimana pada kasus ini akan dipasang gigi posterior maka perlu
diperhatikan bentuk dan ukuran gigi yang akan dipasang. Posisi gigi ditentukan oleh
kebutuhan untuk mendapatkan oklusi yang memuaskan dengan gigi asli atau gigi tiruan
antagonis untuk mendapatkan derajat oklusi yang seimbang. Malam dibentuk sesuai dengan
kontur alami prosesus alveolar dan tepi gingiva.
5.Proses flasking, wax elimination, packing, processing deflasking, finishing, polishing.

D.Kunjungan Keempat
Dilakukan insersi yaitu pemasangan GTS lepasan dalam mulut pasien. Hal-hal yang perlu
diperhatikan antara lain :
1.Part of insertion and part of removement
Hambatan pada permukaan gigi atau jaringan yang dijumpai pada saat pemasangan dan
pengeluaran gigi tiruan dapat dihilangkan dengan cara pengasahan permukaan gigi tiruan
(hanya pada bagian yang perlu saja).
2.Retensi
Yaitu kemampuan GTS untuk melawan gaya pemindah yang cenderung memindahkan gigi
tiruan ke arah oklusal. Retensi gigi tiruan ujung bebas di dapat dengan cara :
a.Retensi fisiologis, diperoleh dari relasi yang erat antara basis gigi tiruan dengan membarana
mukosa di bawahnya.
b.Retensi mekanik, diperoleh dari bagian gigi tiruan yang bergesekan dengan struktur
anatomi. Retensi mekanik terutama diperoleh dari lengan traumatic yang menempati undercut
gigi abutment.
3.Stabilisasi
Yaitu perlawanan atau ketahanan GTS terhadap gaya yang menyebabkan perpindahan
tempat/gaya horizontal. Stabilisasi terlihat dalam keadaan berfungsi, misal pada saat
mastikasi. Pemeriksaan stabilisasi gigi tiruan dengan cara menekan bagian depan dan
belakang gigi tiruan secara bergantian. Gigi tiruan tidak boleh menunjukkan pergeseran pada
saat tes ini.
4.Oklusi
Yaitu pemeriksaan aspek oklusi pada saat posisi sentrik, lateral, dan anteroposterior. caranya
dengan memakai kertas artikulasi yang diletakkan di bawah gigi atas dan bawah, kemudian
pasien diminta melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi pasien diminta
melakukan gerakan mengunyah. Setelah itu kertas artikulasi diangkat dan dilakukan
pemeriksaan oklusal gigi. Pada keadaan normal terlihat warna yang tersebar secara merata
pada permukaan gigi. Bila terlihat warna yang tidak merata pada oklusal gigi maka dilakukan
pengurangan pada gigi yang bersangkutan dengan metode selective grinding. Pengecekan
oklusi ini dilakukan sampai tidak terjadi traumatik oklusi.
Selective grinding yaitu pengrindingan gigi-gigi menurut hukum MUDL (pengurangan
bagian mesial gigi RA dan distal RB) dan BULL (pengurangan bagian bukal RA dan lingual
RB).

Instruksi yang harus disampaikan kepada pasien


1.Mengenai cara pemakaian gigi tiruan tersebut, pasien diminta memakai gigi tiruan tersebut
terus menerus selama beberapa waktu agar pasien terbiasa.
2.Kebersihan gigi tiruan dan rongga mulut harus selalu dijaga. Sebelum dipakai sebaiknya
gigi tiruan disikat sampai bersih.
3.Pada malam hari atau bila tidak digunakan, protesa dilepas dan direndam dalam air dingin
yang bersih agar gigi tiruan tersebut tidak berubah ukurannya.
4.Jangan dipakai untuk makan makanan yang keras dan lengket.
5.Apabila timbul rasa sakit setelah pemasangan pasien harap segera kontrol.
6.Kontrol seminggu berikutnya setelah insersi.

E.Kunjungan Kelima
Kontrol dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Tindakan yang perlu
dilakukan :
1.Pemeriksaan subjektif
Pasien ditanya apa ada keluhan rasa sakit atau rasa mengganjal saat pemakaian gigi tiruan
tersebut.
2.Pemeriksaan objektif
a.Melihat keadaan mulut dan jaringan mulut
b.Melihat keadaan GTS lepasan baik pada plat dasar gigi tiruannya maupun pada mukosa di
bawahnya.
c.Melihat posisi cangkolan.
d.Melihat keadaan gigi abutment dan jaringan pendukungnya.
e.Memperhatikan oklusi, retensi, dan stabilisasi gigi tiruan.

DAFTAR PUSTAKA

Applegate, 1960, Essentials of Removable Partial Denture Prothesis, 2nd edition, W.B.
Saunders Co. Philadelphia

Haryanto, A.G., 1995, Buku Ajar Ilmu Gigi Tiruan Sebagian Lepasan, Jilid II, Cetakan I,
Hipokrates, Jakarta

Itjiningsij, 1980, Dental Teknologi, cetakan I, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti,
Jakarta

Soelarko, R.M dan Wachijati, H., 1980, Diktat Prostodonsia Gigi Tiruan Sebagian Lepasan,
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran, Bandung

Swenson, M.G., dan Terkla, I.G., 1959. Partical Denture, C.V., Mosby Co., St. Louise