Anda di halaman 1dari 75

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Darah manusia adalah cairan di dalam tubuh yang berfungsi untuk
mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga
menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan
mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan
tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan
melalui darah. Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk
45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel
darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang
lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut
plasma darah. Korpuskula darah terdiri dari Sel darah merah atau eritrosit (sekitar
99%), Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%), Sel darah putih atau leukosit
(0,2%).
Anemia merupakan suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) di dalam
darah lebih rendah dari pada nilai normal. Sebagian besar penyebab anemia di
Indonesia adalah kekurangan zat besi yang berasal dari makanan yang dimakan setiap
hari dan diperlukan untuk pembentukan hemoglobin sehingga disebut anemia
kekurangan besi (Depkes RI, 2000). Anemia merupakan masalah gizi di dunia,
terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Angka anemia di Indonesia
sebanyak 72,3%. Kekurangan zat besi mengakibatkan pucat, lemah, letih, pusing, dan
menurunnya konsentrasi belajar. Penyebabnya, antara lain: tingkat pendidikan orang
tua, tingkat ekonomi, tingkat pengetahuan tentang anemia dari remaja putri, konsumsi
Fe, Vitamin C, dan lamanya menstruasi. Angka prevalensi anemia di Indonesia, yaitu
pada remaja wanita sebesar 26,50%, pada wanita usia subur sebesar 26,9%, pada ibu
hamil sebesar 40,1% dan pada balita sebesar 47,0% (Burner, 2012).
Secara umum tingginya prevalensi anemia disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya rendahnya asupan zat besi dan zat gizi lainnya seperti vitamin A, C, folat,

3
riboplafin dan B12 untuk mencukupi kebutuhan zat besi dalam seharinya bisa
dilakukan dengan mengkonsumsi sumber makanan hewani sebagai salah satu sumber
zat besi yang mudah diserap, mengkonsumsi sumber makanan nabati yang
merupakan sumber zat besi yang tinggi tetapi sulit diserap (Briawan, 2014).
Menurut data hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi anemia di Indonesia
meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 21,7% dengan penderita anemia berumur 5-
14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun (Kemenkes RI,
2014). Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 menyatakan bahwa
prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu hamil sebesar 50,5%, ibu nifas
sebesar 45,1%, remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19-45 tahun
sebesar 39,5%. (Kemenkes RI, 2013). Demikian juga di RSUD Raden Mattaher
Jambi, penderita anemia meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2014 ada
sebanyak 21 orang anak yang dirawat dengan anemia, pada tahun 2015 ada sebanyak
30 orang dan pada tahun 2016 ada sebanyak 36 orang pasien. Data anemia di RSUD
Raden Mattaher Jambi khususnya di bangsal anak 3 bulan terakhir pada tahun 2017
yaitu bulan januari ada 6 orang, bulan februari ada 8 orang dan bulan maret ada 6
orang anak yang dirawat dengan anemia.
Oleh karena masih tingginya angka kejadian anemia di Indonesia, dan
meningkatnya angka kejadian anemia dari tahun ke tahun di RSUD Raden Mattaher
Jambi maka kelompok tertarik mengangkat masalah ini untuk dijadikan issu dalam
seminar kasus di RSUD Raden Mattaher Jambi.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat
diangkat adalah bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada An. D dengan
Anemia di RSUD Raden Mattaher Jambi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum

4
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada An. D dengan Anemia di
RSUD Raden Mattaher Jambi.

2. Tujuan Khusus
1. Diketahuinya pengkajian pada An. D dengan Anemia di RSUD Raden
Mattaher Jambi.
2. Diketahuinya diagnosa keperawatan pada An. D dengan Anemia di RSUD
Raden Mattaher Jambi.
3. Diketahuinya rencana keperawatan pada An. D dengan Anemia di RSUD
Raden Mattaher Jambi.
4. Diketahuinya implementasi pada An. D dengan Anemia di RSUD Raden
Mattaher Jambi.
5. Diketahuinya evaluasi pada An. D dengan Anemia di RSUD Raden Mattaher
Jambi.

D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Hasil dari penulisan ini diharapkan sebagai tambahan informasi dan
masukan untuk meningkatkan asuhan keperawatan pada anak dengan Anemia di
RSUD Raden Mattaher Jambi.
2. Bagi Perawat
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi
bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan Anemia
di RSUD Raden Mattaher Jambi.
3. Bagi mahasiswa
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi
bagi mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan
Anemia.

5
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Anemia adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar
hemoglobin (Hb) atau sel darah merah (eritrosit) sehingga
menyebabkan penurunan kapasitas sel darah merah dalam
membawa oksigen (Badan POM, 2011). Anemia adalah penyakit
kurang darah yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel
darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal
(Soebroto, 2010).
Anemia adalah berkurangnya kadar Hb dalam darah sehingga
terjadi gangguan perfusi O2 ke jaringan tubuh, disebut gravis yang
artinya berat dan nilai Hb di bawah 7 g/dl sehingga memerlukan
tambahan umumnya melalui transfusi. Anemia adalah
berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah,
kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells
(hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006).
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau
kadar Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang
sehat. Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti
kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat atau kurang
nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang
mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah
dan ada banyak tipe anemia dengan beragam penyebabnya.
(Marilyn E, Doenges, 2002).
Dengan kata lain, anemia terjadi apabila kadar eritrosit atau
hemoglobin dalam darah menurun dan mengakibatkan penurunan
fungsi utamanya.
Nilai normal hemoglobin
Pria Dewasa 13,5 17,5 g/dl

6
Wanita Dewasa 11,5 15,5 g/dl
Infant 15,0 21,0 g/dl
3 Bulan 9,5 12,5 g/dl
1 tahun pubertas 11 13,5 g/dl

B. Epidemiologi
Anemia merupakan masalah gizi di dunia, terutama di negara
berkembang termasuk Indonesia. Angka anemia di Indonesia
sebanyak 72,3%. Kekurangan zat besi mengakibatkan pucat, lemah,
letih, pusing, dan menurunnya konsentrasi belajar. Penyebabnya,
antara lain: tingkat pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, tingkat
pengetahuan tentang anemia dari remaja putri, konsumsi Fe,
Vitamin C, dan lamanya menstruasi. Angka prevalensi anemia di
Indonesia, yaitu pada remaja wanita sebesar 26,50%, pada wanita
usia subur sebesar 26,9%, pada ibu hamil sebesar 40,1% dan pada
balita sebesar 47,0% (Brunner, 2012).
Prevalensi anemia di negara-negara berkembangan sekitar empat kali lebih
besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan prevalensi anemia di
negara berkembang dan di negara maju adalah 53% dan 9% (Allen & Stuart, 2001).
Prevalensi anemia usia 5-14 tahun 428 per 1.000 anak lelaki dan 492 per 1.000 anak
perempuan. Keadaan ini menggambarkan bahwa anemia lebih banyak ditemukan
pada anak perempuan (Anonim, 2010). Survey yang dilakukan oleh Mercy Cups di 4
provinsi (Sumatera Barat, Riau, Bengkulu dan Lampung) ditemukan bahwa anak usia
sekolah yang menderita anemia sebanyak 45.31% mempunyai dampak yang
merugikan bagi kesehatan anak, seperti terhambatnya tumbuh kembang, penurunan
daya tahan tubuh dan penurunan kemampuan belajar, sehingga menurunkan prestasi
belajar di sekolah (Asterina, 2012).

C. Etiologi
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan
pembentukan kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta
penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut :

7
1. Anemia karena perdarahan : berkurangnya volume darah dalam
tubuh akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan
persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun
a. Perdarahan akut : mungkin timbul renjatan bila pengeluaran
darah cukup banyak, sedangkan kadar Hb baru terjadi
beberapa hari kemudian
b. Perdarahan kronik : pengeluaran biasanya sedikit-sedikit
sehingga tidak diketahui penyebab tersering antara lain
karena ulkus peptikum, perdarahan saluran cerna karena
pemakaian analgesic.
2. Anemia defisiensi : kekurangan bahan baku pembuat sel darah
merah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis
kurang dan keperluan yang bertambah.
a. Anemia defisiensi besi : umumnya disebabkan karena
perdarahan kronik, infeksi cacing tambang, diet yang tidak
mencukupi, kebutuhan yang meningkat pada kehamilan,
perdarahan pada saluran cerna, menstruasi.
b. Anemia pernisosa : kekurangan vitamin B12, faktor intrinsik
terjadi karena gangguan absorbpsi vitamin, faktor ekstrinsik
terjadi karena kekuarangan intake vitamin.
c. Anemia defisiensi asam folat : kekurangan asam folat yang
berhubungan dengan malnutrisi, sirosis hepatis, dan
gangguan pada saluran cerna
3. Anemia hemolitik : terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan
karena faktor intrasel : talaseia, hemoglobinopatic, kelainan
glikolisis. Sedangkan faktor ekstrasel : intosikasi, infeksi malaria,
reaksi hemolitik transfuse darah, luka bakar.
4. Anemia aplastik : disebabkan kerna ketidaksanggupan pembuatan
sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
(Price, 2006)

D. Manifestasi Klinis

8
1. Manifestasi klinis yang sering muncul
a. Pucat
b. Takikardi
c. Anoreksia
d. Lemah
e. Pembesaran jantung
f. Sakit kepala
g. palpitasi
2. Gejala khas masing-masing anemia
a. Anemia karena perdarahan : muka tampak pucat, erytrosit
dan Hb di bawah normal, mata berkunang-kunang, telinga
berdenging, jantung berdebar-debar, mudah lelah dan
pusing , thrombosis meninggi dan perdarahan berulang /
kronik pada anemia pasca perdarahan
b. Anemia defisiensi :
1) Anemia defisiensi besi : palpitasi (berdebar-debar), cepat
lelah, pucat, sakit kepala, defisiensi besi yang berat akan
mengakibatkan perubahan kulit dan mukosa yang
progresif, seperti lidah yang halus, dan didapatkan tanda-
tanda malnutrisi
2) Anemia pernisiosa : anoreksia, diare, lidah licin, pucat,
nyeri lambung, mual dan muntah, cepat lelah dan pusing,
jantung berdebar-debar, mata berkunang-kunang, telinga
berdengung.
3) Anemia defisiensi asam folat : tampak pucat, mudah lelah,
palpitasi, sakit kepala, insomnia, depresi mental.
c. Anemia hemolitik : ikterus, urin berwarna kuning tua/ coklat,
perut merongkol/ makin buncit, lemas.
d. Anemia aplastik : ptekie, ratopenic, demam, anemis, pucat,
lelah, takikardi.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda anemia umum : pucat, takikardia, pulsus celer,
suara pembuluh darah spontan, bising karotis, bising sistolik
anorganik, pembesaran jantung
b. Manifestasi khusus pada anemia :
1) Defisiensi besi : spoon nail, glositis

9
2) Defisiensi B12 : paresis, ulkus di tungkai
3) Hemolitik : ikterik, splenomegali
4) Aplastik : anemia biasanya berat, perdarahan, infeksi.
(Brunner, 2012)

10
E. Klasifikasi
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologi :
1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah
merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah,
meliputi:
a. Anemia aplastik
Penyebab :
1) Agen neoplastik/sitoplastik
2) Terapi radiasi
3) Antibiotic tertentu
4) Obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
Benzene
5) Infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum
tulang
Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi,
deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik
Gejala-gejala :
1) Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
2) Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis,
perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih,
perdarahan susunan saraf pusat.
3) Morfologis: anemia normositik normokromik

b. Anemia pada penyakit ginjal


Gejala-gejala :
1) Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
2) Hematokrit turun 20-30%
3) Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi

11
4) Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel
darah merah maupun defisiensi eritopoitin
c. Anemia Pada Penyakit Kronik
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan
anemia jenis normositik normokromik (sel darah merah
dengan ukuran dan warna yang normal). Kelainan ini
meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis,
tuberkolosis dan berbagai keganasan.
d. Anemia Defisiensi Besi
Penyebab :
1) Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama
hamil, menstruasi.
2) Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
3) Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip,
gastritis, varises oesophagus, hemoroid, dll.)

gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi

Gejala-gejalanya :
1) Atropi papilla lidah
2) Lidah pucat, merah, meradang
3) Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
4) Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
e. Anemia megaloblastik
Penyebab :
1) Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
2) Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor

12
3) Infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen
kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang
terinfeksi, pecandu alkohol.

Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

2. Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah


disebabkan oleh destruksi sel darah merah :
a. Pengaruh obat-obatan tertentu
b. Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia
limfositik kronik
c. Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
d. Proses autoimun
e. Reaksi transfusi
Malaria

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis

13
Klasifikasi berdasarkan berdasarkan derajat keparahan :
Dalam menjelaskan definisi anemia, diperlukan adanya batas batas
kadar hemoglobin dan hematokrit sehingga bisa dianggap telah
terjadi anemia. Batasan (cut off point) ini sangat dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor, diantaranya adalah usia, jenis kelamin,
ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut, dan lain lain.14
Batasan yang umumnya digunakan adalah cutt off point kriteria
WHO, yang selanjutnya membagi derajat keparahan anemia
berdasarkan nilai hemoglobinnya.

b.1 tabel kadar hemoglobin pada anemia


Kadar Hemoglobin*
Kriteria Non Anemia Anemia Anemia
Anemia Ringan Sedang Berat
Laki Laki
> 13 11,0 12,9 8,0 10,9 < 8,0
dewasa
Perempuan
dewasa tak >12 11,0 11,9 8,0 10,9 <8,0
hamil
Perempuan
>11 10,0 10,9 7,0 9,9 <7,0
Hamil
Anak usia 6
>12 11,0 11,9 8,0 10,9 < 8,0
14 tahun
Anak usia 6
bulan 5 >11 10,0 10,9 7,0 9,9 < 7,0
tahun
(Sjaifoellah, 2010).

14
F. Patofisiologi
Adanya suatu anemia mencerminkan adanya suatu kegagalan
sumsum atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau
keduanya. Kegagalan sumsum (misalnya berkurangnya eritropoesis)
dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor
atau penyebab lain yang belum diketahui. Sel darah merah dapat
hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi).
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel
fagositik atau dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati
dan limpa. Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan
memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah
(hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin
plasma (konsentrasi normal 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam
sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul
dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya
melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan
berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin
(hemoglobinuria).
Anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah
merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi
biasanya dapat diperoleh dengan dasar : hitung retikulosit dalam
sirkulasi darah,derajat proliferasi sel darah merah muda dalam
sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat
dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan
hemoglobinemia
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai
rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit).
Fungsi darah adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh

15
organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan
kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting.
Salah satunya otak, otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika
kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang
memorinya lemah, lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak,
tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 2010).
G. WOC

Terhentinya
Perdarahan Kurang Penghancuran pembuatan
masif bahan baku eritrosit yang sel darah
pembuat sel berlebihan oleh sumsum
Kehilangan sel
darah merah tulang
belakang

Anemia
(Hb)

Pertahanan Resiko Kadar Hb menurun


sekunder tidak Infeksi

Lemas, Penurunan
Infeksi atau lesu transport O2
cedera
jaringan Cepat Hipoksia
lelah
Inflamasi
Intolera Ketidakefektif
nsi an Perfusi
Akumulasi monosit,
makrofag, sel T Jaringan
Helper dan fibroblas
Gangguan
Pelepasan pirogen fungsi otak
endogen
Intake nutrisi
Merangsang saraf turun,
vagus anoreksia

Sinyal mencapai Ketidakseimba


system saraf pusat ngan Nutrisi
Kurang Dari
Merangsang
16
Kebutuhan
Mengigil,
hipotalamus
Pembentukan meningkatkan titik meningkatk hiperter
prostaglandin otak patokan suhu an suhu
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Kadar Hb
Kadar Hb < 10 gr/dl, eritrosit rata-rata < 32% (normal : 32-37%).
Hemoglobin, Hct dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) menurun,
Hapus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik, Kadar besi
serum (SI) menurun dan TIBC meningkat , saturasi menurun, Kadar
feritin menurun dan kadar Free Erythrocyte Porphyrin (FEP) meningkat
sumsum tulang : aktifitas eritropoitik meningkat
2. Keadaan laboratorium sederhana untuk masing-masing tipe anemia
:
a. Anemia karena perdarahan : jumlah eritrosit dan macrosit
berkurang, Pemeriksaan andoskopik dan radiografik untuk
memeriksa sisi perdarahan : perdarahan GI
b. Anemia defisiensi
1) Anemia defisiensi besi : berlangsung secara bertahap dan
lambat, pada tahap awal terjadi penurunan simpanan Fe,
kadar Hb 10 gr/dl dan pada tahap awal leukosit dan
trombosit normal
2) Anemia pernisiosa: sel darah merah meningkat normal 5-7
mikron, netrofil hiperpigmentasi, gambaran sumsum
tulang belakang megalobastik
3) Anemia defisiensi asam folat : kadar Hb dalam darah
sangat rendah, kadar vitamin B12 serum normal, dan
asam folat serum rendah (biasanya kurang dari 3 mg/dl )
kadar folat sel darah merah kurang dari 150 mg/dl
c. Anemia hemolitik : eritrosit mengalami pemecahan , terjadi
penurunan kadar Ht, retikulosis, peningkatan bilirubin indirek
dalam darah dan peningkatan total bilirubin sampai dengan 4
mg/dl, peningkatan urobilinogen urine dan eritropoeisis
dalam susmsum tulang.
d. Anemia aplastik : sumsum tulang kosong diganti lemak,
retikulosis menurun, makrotik ringan, serum dan bilirubin
rendah.

17
18
I. Komplikasi
Anemia berkelanjutan pada anak-anak akan sangat
berpengaruh dalam kehidupan mereka di masa mendatang.
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah proses pertumbuhan dan
perkembangan mereka yang terhambat. Tanpa nutrisi dan oksigen
yang cukup, perkembangan mental, intelektual dan kemampuan
kognitif anak bisa terhambat. Energi dan kemampuan anak untuk
beraktivitas fisik juga berkurang jika sedang mengalami anemia.
Pada akhirnya, semua ini bisa berdampak buruk pada fungsi emosi
dan sosial mereka. Perilaku dan performa akademik anak pun lebih
tertinggal dibanding anak-anak seusia yang tidak mengalami
anemia.
Anemia juga menyebabkan daya tahan tubuh berkurang.
Akibatnya, penderita anemia akan mudah terkena infeksi. Gampang
batuk-pilek, gampang flu, atau gampang terkena infeksi saluran
napas, jantung juga menjadi gampang lelah, karena harus
memompa darah lebih kuat. Pada kasus ibu hamil dengan anemia,
jika lambat ditangani dan berkelanjutan dapat menyebabkan
kematian, dan berisiko bagi janin. Selain bayi lahir dengan berat
badan rendah, anemia bisa juga mengganggu perkembangan
organ-organ tubuh, termasuk otak (Sjaifoellah, 2010).

J. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Tindakan umum:
Penatalaksanaan anemia ditunjukan untuk mencari penyebab
dan mengganti darah yang hilang.
a. Transpalasi sel darah merah.
b. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi.
c. Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel
darah merah.
d. Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang
membutuhkan oksigen
e. Obati penyebab perdarahan abnormal bila ada.

19
f. Diet kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
2. Anemia karena perdarahan : lakukan transfusi darah, pilihan kedua
plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat
bisa diberikan infuse IV apa saja
3. Anemia defisiensi : makanan adekuat, diberikan SF 3 x 10 mg/kg
BB/hari. Transfusi darah diberikan bila Hb < 5 gr/dl. Mengatur
makanan yang mengandung zat besi, usahakan makanan yang
diberikan seperti ikan, daging, telur dan sayur. Pemberian
preparat fe, Perrosulfat 3x 200mg/hari/per oral sehabis makan,
Peroglukonat 3x 200 mg/hari /oral sehabis makan.
4. Anemia hemolitik : disesuaikan dengan penyebabnya, bila karena
reaksi toksik imonologik yang diberikan adalah kortikosteroid
5. Anemia aplastik : prednisone dan testosterone, transfusi darah,
pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat. (Sjaifoellah,
2010).

K. Pencegahan
Menurut Tarwoto, dkk (2010), upaya-upaya untuk mencegah
anemia, antara lain sebagai berikut:
1. Makan makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani
(daging, ikan, ayam, hati, dan telur); dan dari bahan nabati
(sayuran yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan, dan
tempe).
2. Banyak makan makanan sumber vitamin c yang bermanfaat
untuk meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya: jambu,
jeruk, tomat, dan nanas.
3. Minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat
mengalami haid.
4. Bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera
konsultasikan ke dokter untuk dicari penyebabnya dan diberikan
pengobatan.

20
Menurut Ahmad Syafiq, dkk (2008) screening diperlukan
untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus diobati dalam
mengurangi mordibitas anemia. CDC menyarankan agar remaja
putri dan wanita dewasa yang tidak hamil harus di-screening tiap 5-
10 tahun melalui uji kesehatan, meskipun tidak ada faktor risiko
anemia seperti perdarahan, rendahnya intake Fe, dan sebagainya.
Namun, jika disertai adanya faktor risiko anemia, maka
screening harus dilakukan secara tahunan. Penderita anemia harus
mengkonsumsi 60-120 mg Fe per hari dan meningkatkan asupan
makanan sumber Fe. Satu bulan kemudian harus dilakukan
screening ulang. Bila hasilnya menunjukkan peningkatan
konsentrasi Hb minimal 1 g/dl atau hematokrit minimal 3%,
pengobatan harus diteruskan sampai tiga bulan

21
L. Asuhan Keperawatan Teoritis
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses
keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994).
Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi :
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan
produktivitas, penurunan semangat untuk bekerja,
toleransi terhadap latihan rendah, kebutuhan untuk
tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda : takikardia/ takipnae, dispnea pada waktu bekerja
atau istirahat. Letargi, menarik diri, apatis, lesu, dan
kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot,
dan penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak
tegak. Bahu menurun, postur lunglai, berjalan
lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan
keletihan.
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat kehilangan darah kronik, misalnya
perdarahan GI kronis, menstruasi berat (DB), angina,
CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat
endokarditis infektif kronis. Palpitasi (takikardia
kompensasi).
Tanda: TD peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan
tekanan nadi melebar, hipotensi postural. Disritmia :
abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan
pendataran atau depresi gelombang T; takikardia.
Bunyi jantung : murmur sistolik (DB). Ekstremitas
(warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa
(konjuntiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku.
(catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat
tampak sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin,

22
pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon terang (AP).
Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB).
Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah
ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku :
mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia)
(DB). Rambut : kering, mudah putus, menipis,
tumbuh uban secara premature (AP).
c. Integritas ego
Gejala : Keyakinan agama /budaya mempengaruhi pilihan
pengobatan, misalnya penolakan transfusi darah.
Tanda : depresi.
d. Eliminasi
Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom
malabsorpsi (DB). Hematemesis, feses dengan
darah segar, melena. Diare atau konstipasi.
Penurunan haluaran urine.
Tanda : distensi abdomen.
e. Makanan/cairan
Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein
hewani rendah/masukan produk sereal tinggi (DB).
Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus
pada faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia.
Adanya penurunan berat badan. Tidak pernah puas
mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung
jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi
asam folat dan vitamin B12). Membrane mukosa
kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak
kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis
(status defisiensi). Bibir : selitis, misalnya inflamasi
bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).
f. Neurosensori

23
Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus,
ketidak mampuan berkonsentrasi. Insomnia,
penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ;
parestesia tangan/kaki (AP) ; klaudikasi. Sensasi
manjadi dingin.
Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur,
apatis. Mental : tak mampu berespons, lambat dan
dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP).
Epitaksis : perdarahan dari lubang-lubang (aplastik).
Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan rasa
getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis
(AP).
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri abdomen samara, sakit kepala (DB)
h. Pernapasan
Gejala : riwayat TB, abses paru, napas pendek pada
istirahat dan aktivitas.
Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.
i. Keamanan
Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia.
Riwayat terpajan pada radiasi; baik terhadap
pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi
kanker. Tidak toleran terhadap dingin dan panas.
Transfusi darah sebelumnya. Gangguan penglihatan,
penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam,
limfadenopati umum. Ptekie dan ekimosis (aplastik).

j. Seksualitas
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia
atau amenore (DB). Hilang libido (pria dan wanita).

24
Imppoten.
Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

25
2. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan berhubungan dengan
penurunan konsentrasi Hb dan darah, suplai oksigen
berkurang
2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatatan metabolism
tubuh
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang kurang, anoreksia
4. Keletihan berhubungan dengan anemia
5. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ventilasi-
perfusi
6. Resiko infeksi

26
3. Rencana keperawatan
N DIANGOSA
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
O KEPERAWATAN
1 Ketidakefektifan PerfusiNOC : NIC :
jaringan perifer
Setelah dilakukan tindakan Peripheral Sensation Management
berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam (Manajemen sensasi perifer)
penurunan konsentrasi perfusi jaringan klien adekuat 1. Monitor adanya daerah tertentu
Hb dan darah, suplai dengan kriteria : yang hanya peka terhadap panas/
oksigen berkurang 1. Membran mukosa merah dingin/ tajam/ tumpul
2. Konjungtiva tidak anemis 2. Monitor adanya paretese
3. Akral hangat 3. Instruksikan keluarga untuk
4. Tanda-tanda vital dalam mengobservasi kulit jika ada lesi
rentang normal atau laserasi
4. Gunakan sarung tangan untuk
proteksi
5. Batasi gerakan pada kepala, leher
dan punggung
6. Monitor kemampuan BAB
7. Kolaborasi pemberian analgetik
8. Monitor adanya tromboplebitis
9. Diskusikan mengenai penyebab
perubahan sensasi
2 Hipertermi berhubungan NOC : NIC :
dengan peningkatatan Setelah diberikan perawatan pasien 1. Monitor suhu sesering mungkin
metabolism tubuh akan menunjukkan termoregulasi 2. Monitor warna dan suhu kulit

27
yang dibuktikan oleh indicator 3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
sebagai berikut: 4. Monitor penurunan tingkat
1 ganguan eksterm kesadaran
2 berat 5. Monitor intake dan output
3 sedang 6. Kompres pasien pada lipat paha dan
4 ringan axial
5 tidak ada gangguan 7. Monitor hidrasi seperti turgor kulit ,
kelembaban membrane mukosa
8. Berikan antipiretik
Indicator 1 2 3 4 5
Peningkat
an suhu
kulit
Hiperter
mia
Dehidrasi
Mengant
uk
Berkering
at saat
panas
Denyut
nadi
radialis
Frekuensi
pernapas
an

28
3 Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari Setelah dilakukan tindakan Nutrition Management
kebutuhan tubuh keperawatan selama 3x24 jam 1. Kaji adanya alergi makanan
berhubungan dengan status nutrisi klien adekuat dengan 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
intake yang kurang, kriteria : menentukan jumlah kalori dan
anoreksia 1. Adanya peningkatan berat nutrisi yang dibutuhkan pasien.
badan sesuai dengan tujuan 3. Anjurkan pasien untuk
2. Berat badan ideal sesuai meningkatkan intake Fe
dengan tinggi badan 4. Anjurkan pasien untuk
3. Mampu mengidentifikasi meningkatkan protein dan
kebutuhan nutrisi vitamin C
4. Tidak ada tanda-tanda 5. Berikan substansi gula
malnutrisi 6. Yakinkan diet yang dimakan
5. Menunjukkan peningkatan mengandung tinggi serat untuk
fungsi pengecapan dari mencegah konstipasi
menelan 7. Berikan makanan yang terpilih
6. Tidak terjadi penurunan berat ( sudah dikonsultasikan dengan
badan yang berarti ahli gizi)
7. Pemasukan yang adekuat 8. Ajarkan pasien bagaimana
8. Tanda-tanda malnutrisi membuat catatan makanan
9. Membran konjungtiva dan harian.
mukosa tidak pucat 9. Monitor jumlah nutrisi dan
10. Nilai Lab : Hb > 10 gr/dl kandungan kalori
10. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
11. Kaji kemampuan pasien untuk

29
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
Nutrition Monitoring
12. BB pasien dalam batas normal
13. Monitor adanya penurunan berat
badan
14. Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
15. Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
16. Monitor lingkungan selama
makan
17. Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam makan
18. Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
19. Monitor turgor kulit
20. Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
21. Monitor mual dan muntah
22. Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
23. Monitor makanan kesukaan
24. Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
25. Monitor pucat, kemerahan, dan

30
kekeringan jaringan konjungtiva
26. Monitor kalori dan intake nuntrisi
27. Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan
cavitas oral.
28. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet
4 Keletihan berhubungan NOC : NIC :
dengan anemia Setelah dilakukan tindakan Energi manajemen
keperawatan selama 3x24 jam 1. Monitor respon klien terhadap
.keletihan klien teratasi dengan aktivitas takikardi, disritmia,
kriteria : dispneu, pucat, dan jumlah
1. Kemampuan aktivitas adekuat respirasi.
2. Mempertahankan nutrisi 2. Monitor dan catat jumlah tidur
adekuat klien.
3. Keseimbangan aktivitas dan 3. Monitor ketidaknyamanan atau
istirahat nyeri selama bergerak dan
4. Menggunakan teknik energi aktivitas.
konservasi 4. Monitor intake nutrisi
5. Mempertahankan interaksi 5. Instruksikan klien untuk mencatat
sosial tanda-tanda dan gejala kelelahan.
6. Mengidentifikasi faktor-faktor 6. Jelaskan kepada klien hubungan
fisik dan psikologis yang kelelahan dengan proses
menyebabkan kelelahan penyakit.
7. Mempertahankan kemampuan 7. Catat aktivitas yang dapat

31
untuk konsentrasi meningkatkan kelelahan.
8. Anjurkan klien melakukan yang
meningkatkan relaksasi.
9. Tingkatkan pembatasan bedrest
dan aktivitas
5 Gangguan pertukaran NOC : NIC :
gas berhubungan Setelah dilakukan tindakan Terapi Oksigen
dengan ventilasi-perfusi keperawatan selama 3x24 jam 1. Bersihkan mulut, hidung dan
status respirasi : pertukaran gas secret trakea.
membaik dengan kriteria : 2. Pertahankan jalan nafas yang
1. Mendemonstrasikan paten.
peningkatan ventilasi dan 3. Atur peralatan oksigenasi.
4. Monitor aliran oksigen.
oksigenasi yang adekuat.
5. Pertahankan posisi pasien.
2. Memelihara kebersihan paru
6. Onservasi adanya tanda tanda
paru dan bebas dari tanda
hipoventilasi.
tanda distress pernafasan. 7. Monitor adanya kecemasan
3. Mendemonstrasikan batuk
pasien terhadap oksigenasi.
efektif dan suara nafas yang
Vital sign Monitoring
bersih, tidak ada sianosis dan
8. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR.
dyspneu (mampu 9. Catat adanya fluktuasi tekanan
mengeluarkan sputum, mampu darah.
bernafas dengan mudah, tidak 10. Monitor VS saat pasien
ada pursed lips). berbaring, duduk, atau berdiri.
4. Tanda tanda vital dalam 11. Auskultasi TD pada kedua lengan
rentang normal dan bandingkan.

32
12. Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas.
13. Monitor kualitas dari nadi.
14. Monitor frekuensi dan irama
pernapasan.
15. Monitor suara paru.
16. Monitor pola pernapasan
abnormal.
17. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit.
18. Monitor sianosis perifer.
19. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik).
20. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign.
6 Resiko infeksi NOC : NIC :
Setelah dilakukan tindakan Infection Control (Kontrol infeksi)
keperawatan selama 3x24 jam 1. Bersihkan lingkungan setelah
status imun klien meningkat dengan dipakai pasien lain
kriteria 2. Pertahankan teknik isolasi
1. Klien bebas dari tanda dan 3. Batasi pengunjung bila perlu
4. Instruksikan pada pengunjung
gejala infeksi
2. Menunjukkan kemampuan untuk mencuci tangan saat
untuk mencegah timbulnya berkunjung dan setelah
berkunjung meninggalkan pasien

33
infeksi 5. Gunakan sabun antimikrobia
3. Jumlah leukosit dalam batas untuk cuci tangan
normal 6. Cuci tangan setiap sebelum dan
4. Menunjukkan perilaku hidup sesudah tindakan keperawatan
sehat 7. Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung.
8. Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat.
9. Ganti letak IV perifer dan line
central dan dressing sesuai
dengan petunjuk umum
10. Gunakan kateter
intermiten untuk menurunkan
infeksi kandung kencing
11. Tingktkan intake nutrisi
12. Berikan terapi antibiotik
bila perlu
Infection Protection (proteksi
terhadap infeksi)
13. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
14. Monitor hitung granulosit,
WBC
15. Monitor kerentanan
terhadap infeksi
16. Batasi pengunjung

34
17. Saring pengunjung
terhadap penyakit menular
18. Partahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
19. Pertahankan teknik isolasi
k/p
20. Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
21. Inspeksi kulit dan
membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
22. Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
23. Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
24. Dorong masukan cairan
25. Dorong istirahat
26. Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
27. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
28. Ajarkan cara menghindari
infeksi
29. Laporkan kecurigaan
infeksi

35
30. Laporkan kultur positif

36
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 29 Maret 2017 Pukul: 16.00 17.00 Wib
Tanggal masuk RS : 29 Maret 2017 Pukul: 07.00 Wib
Ruang Praktek : Bangsal Anak RSUD Raden Mattaher
Nama Dokter : dr. Dian Anggraini, Sp.A
No Rekam Medis : 852716
Diagnosa Medis : Anemia Mikrositik Hipokromik

1. Identitas Klien
Nama : An. D
Tempat/ tgl lahir : Tebing tinggi, 6 Juli 2009
Usia : 8 tahun
Nama ayah/ ibu : Tn. Z / Ny. S
Pekerjaan ayah/ ibu : Swasta / IRT
Pendidikan ayah/ ibu : SMP / SD
Suku/bangsa : Melayu / Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Distrik II Kuala Tungkal

2. Keluhan Utama
An. D merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Pijoan Baru.
Keluarga mengatakan anak D lemah dan mengeluh pusing serta HB rendah.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


An. D merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Pijoan Baru.
Keluarga mengatakan anak D lemah dan mengeluh pusing serta HB rendah.
An. D tampak pucat, conjunctiva anemis, mukosa kering dan pucat,
ekstremitas pucat, aktivitas dibantu oleh keluarga dan tenaga kesehatan, An.D
juga tidak nafsu makan. An.D tampak sesak dengan RR 32x/menit, Nadi 110
x/menit. Sehari sebelum dibawa ke RSUD Raden Mattaher Jambi an. D
dibawa ke ke klinik untuk berobat dengan keluhan batuk yang sudah beberapa
hari di alaminya. Di klinik dilakukan penanganan dan dilakukan cek
laboratorium darah lengkap didapatkan hasil HB= 2,5 gr/dL, kemudian anak
dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi dengan alasan di klinik tersebut dan
dirumah sakit terdekat sulit untuk mendapatkan tindakan transfusi

37
sementara anak harus segera mendapatkan transfusi untuk menstabilkan nilai
HB.
An.D masuk ke bangsal anak melalui IGD, An.D masuk dengan HB
masih 2,5gr/dL, anak tidak dirujuk langsung ke ruang PICU karena pada saat
itu ruang PICU dalam keadaan penuh. Pada hari pertama anak dirawat
dibangsal An.D belum bisa mendapatkan transfusi dikarenakan persedian
darah di UTDRS dan PMI untuk golongan darah O sedang tidak tersedia,
sehinggan keluarga mencari pendonor dari anggota keluarga, dan darah
diperoleh dari anggota keluarga dan kemudian anak mendapatkan transfusi
PRC kolf 1 80cc setelah satu hari perawatan yaitu pada tanggal 30 Maret
2017.
Setelah 2 hari dirawat tanggal 31 Maret 2017, An.D mengalami
demam dengan suhu 39,4 C, keluarga mengatakan An.D kejang, pusing.
An.D mengatakan capek, kesadaran menurun hingga delirum, berontak, mata
tampak keruh, pandangan kabur.

4. Riwayat kehamilan dan kelahiran


a) Prenatal
Ibu mengatakan selama kehamilan an. D, tidak ada masalah. Ibu rajin
memeriksa kehamilannya, ibu juga memperhatikan pola makan dan
pola istirahat.

b) Intranatal
Ibu mengatakan tidak ada penyulit selama proses kelahiran. Anak lahir
spontan, aterm ditolong oleh bidan.

c) Postnatal
Ibu mengatakan berat badan anak saat lahir 3,2 kg, kondisi kesehatan
anak baik dan tidak terdapat kelainan kongenital.

5. Riwayat masa lampau


a) Penyakit waktu kecil
Keluarga mengatakan an. D pernah menderita penyakit asma 2 tahun
yang lalu dan dirawat di klinik Ananda Tebing Tinggi Kuala tungkal.
Untuk penyakit anemia keluarga mengatakan sudah mengetahuinya
sejak 1,5 bulan yang lalu, kemudian keluarga membawa anak berobat
ke beberapa tempat dengan alasan jika tidak sembuh di klinik yang
satu maka anak dibawa lagi berobat ke klinik yang lain. Walaupun

38
sudah berusaha semaksimalkan mungkin namun kondisi HB An.D
masih rendah malah semakin menurun dan badan anak semakin
terlihat pucat.
b) Pernah dirawat di RS
Iya. An. D pernah dirawat di klinik Ananda Tebing Tinggi Tungkal 2
tahun yang lalu dengan diagnosa asma, sekitar 1,5 bulan yang lalu
anak juga pernah di rawat di klinik dr.Adi dengan diagnosa anemia.
c) Obat- obatan yang digunakan : Obat asma (keluarga lupa namanya)
d) Tindakan (operasi) : Tidak pernah
e) Alergi : Tidak ada
f) Imunisasi : Lengkap

6. Riwayat Keluarga (Genogram)

Keluarga mengatakan terdapat anggota keluarga yang menderita asma


yaitu kakek dari ibu dan kakek dari ayah. Tetapi tidak ada anggota keluarga
yang menderita anemia.

Keterangan :

: Kakek An. D yang memiliki penyakit asma

: Bapak An. D

: Ibu An. D

: An. D

39
7. Riwayat Sosial
a) Yang mengasuh : Ibu kandung
b) Hubungan dengan keluarga : baik, anak senang berkomunikasi
dengan keluarga.
c) Hubungan dengan teman sebaya: baik, anak senang berinteraksi
dengan teman sebaya
d) Pembawaan secara umum : an. D tampak periang dan kooperatif

8. Kebutuhan Dasar
a. Makanan yang disukai : an. D suka makan nasi uduk dan nasi
goreng
- Selera
Di rumah : An.D makan kadang 2 x sehari,
kadang 3 x sehari
Di rumah sakit : An. D tidak nafsu makan karena
tidak biasa dengan makanan lembek
- Alat makan yang dipakai : piring, sendok, gelas
- Pola makan
Di rumah : Tidak teratur, anak malas makan
Di rumah sakit : Teratur walaupun sedikit, sesuai
pemberian ahli gizi
b. Pola tidur

Di rumah : 8-9 jam sehari


Di rumah sakit : 7-8 jam sehari
Tidur siang : 30 menit 2 jam sehari
c. Mandi
Di rumah : 2 kali sehari
Di rumah sakit : 1 kali sehari
d. Aktivitas bermain
Di rumah : an. D senang bermain bersama
teman-teman sekolahnya.
Di rumah sakit : anak tidak dapat bermain karena
tirah baring

40
e. Eliminasi
Di rumah : Pola eliminasi BAB 2 kali sehari
dengan karakteristik lembek, pola
eliminasi BAK 1500 cc/ hari warna
kuning

Di rumah sakit : Pola eliminasi BAB 1 kali sehari


dengan karakteristik lembek, pola
eliminasi BAK 1000 cc/ hari warna
kuning

9. Keadaan Kesehatan Saat ini


a) Diagnosa Medis : Anemia Mikrositik Hipokromik
b) Tindakan operasi : Tidak dilakukan
c) Status nutrisi :
IMT = BB (kg) / TB2 (dalam meter)

Keterangan :

- Kurus tingkat Berat jika nilai IMT <17.0


- Kurus tingkat Ringan Jika nilai IMT berada diantara 17.0- 18.4
- Normal jika nilai IMT berada diantara 18,5 25.0
- Gemuk tingkat Ringan Jika IMT berada 25,1 -27.0
- Gemuk tingkat berat jika nilai IMT berada >27

BB an. D = 20 kg
TB an. D = 101 cm (1,01 m)
IMT = 20/1,012 = 19,8
IMT = 19,8
Hasil IMT di atas adalah normal, hal ini berarti BB (Berat Badan) anak
sesuai dengan TB (Tinggi Badan).
d) Obat-obatan :
- cefotaxim 3x500 gr diberikan pukul 06.00, 12.00 dan 20.00
- tetes mata : isotic adretor satu tetes mata kanan dan kiri diberikan
pukul. 07.00, 15.00, dan 23.00
- Asam Folat 3x/hari
- ceftrizin
- paracetamol 3 x /hari
e) Aktivitas : An. D lemah, aktivitas dibantu oleh keluarga dan
perawat

10. Hasil laboratorium

41
Tanggal : 29 Maret 2017
1) Hasil Hematologi

No Item Result Limit Alert


1 WBC 33,4 x 109 / L 4-10 Meningkat
2 RBC 0,88 x 1012 / L 3,5-5,5 Menurun
3 HB 2,5 gr/ dL 11-16 Menurun
4 HCT 6,7 % 36-48 Menurun
5 PLT 306 x 109 /L 100-300 Meningkat

2) Pemeriksaan elektrolit

No Item Result Limit


1 Natrium 134,10 mmol / L 135-148
2 Kalium 3,54 mmol / L 3,5-5,3
3 Clorida 100,60 mmol/ L 98-110
4 Kalsium 1,29 mmol/ L 1,19-1,23

Tanggal : 30 Maret 2017

1) Hasil pemeriksaan kimia darah

No Parameter Hasil Limit


1 Si 178 / dL L : 65-175
P : 50-170
2 TIBC 389 / dL Anak : 100-400
Dewasa : 250- 425

2) Hasil pemeriksaan kimia darah

No Parameter Hasil Limit


1 SGOT 20 U / L < 40
2 SGPT 8 U/ L < 41

Tanggal : 01 April 2017


1) Hasil Hematologi

No Item Result Limit Alert


1 WBC 42 x 109 / L 4-10 Meningkat
2 RBC 1,91 x 1012 / L 3,5-5,5 Menurun
3 HB 5,5 gr/ dL 11-16 Menurun
4 HCT 15,3 % 36-48 Menurun
5 PLT 306 x 109/L 100-300 Meningkat

2) Pemeriksaan elektrolit

42
No Item Result Limit
1 Natrium 139, 21 mmol / L 135-148
2 Kalium 3,70 mmol / L 3,5-5,3
3 Clorida 104,83 mmol/ L 98-110
4 Kalsium 1,28 mmol/ L 1,19-1,23

Tanggal : 05 April 2017


1) Hasil Hematologi

No Item Result Limit Alert


1 WBC 38,2 x 109 / L 4-10 Meningkat
2 RBC 4,37 x 1012 / L 3,5-5,5 Normal
3 HB 12,2 gr/ dL 11-16 Normal
4 HCT 32,7 % 36-48 Menurun
5 PLT 327 x 109/L 100-300 Meningkat

11. Hasil rontgen : tidak ada

12. Data tambahan


Transfusi PRC 6 kolf dari
Kolf 1 80 cc diberikan tanggal 30 maret 2017 jam 18.00
Kolf 2 130 cc diberikan tanggal 31 maret 2017 jam 12.00
Kolf 3 150 cc diberikan tanggal 01 April 2017 jam 18.00
Kolf 4 150 cc diberikan tanggal 02 maret 2017 jam 18.00
Kolf 5 150cc diberikan tanggal 04 April 2017 jam 18.00
Kolf 6 150 cc diberikan tanggal 05 April 2017 jam 12.00

13. Pemeriksaan fisik

Keadaan umum : buruk

Kesadaran : delirium

Mata

Inspeksi : mata kiri kanan tampak simetris,


sclera tampak ikterik, conjunctiva tampak anemis,
mata tampak keruh, penglihatan kabur, tidak ada
penggunaan kacamata/lensa kontak
Palpasi : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada pembengkakan

Hidung

43
Inspeksi : simetris, tidak ada polip/
pembengkakan, tidak ada pernapasan cuping
hidung, tidak ada sumbatan, tidak ada lesi, tidak ada
secret dan tidak ada perdarahan.
Palpasi : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan

Telinga

Inspeksi : bentuk dan posisi simetris kiri dan


kanan, integritas kulit bagus dan tidak ada
penggunaan alat bantu dengar.
Palpasi : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan

Tengkuk

Inspeksi : tidak ada pembengkakan, tidak ada lesi


Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Dada

Inspeksi : simetris kiri dan kanan , tidak ada


pembengkakan, ronchi/wheezing (-), tidak ada
penggunaan otot bantu dada, tidak ada lesi.
Palpasi :tidak ada nyeri tekan/massa/tanda-tanda
peradangan, ekspansi simetris, taktil vremitus
cendrung sebelah kanan lebih teraba jelas.
Perkusi : resonan (dug dug dug)
Auskultasi : bunyi suara napas vesikuler

Jantung

Inspeksi : ictus cordis tidak tampak


Palpasi : denyutan aorta teraba.
Auskultasi : terdengar bunyi jantung I/S1 (lub)
dan bunyi jantung II/S2 (dub), tidak ada bunyi
jantung tambahan (S3 atau S4)

44
Perut

Inspeksi : tidak ada pembengkakan/ asites,


tidak ada lesi, tidak ada striae.
Palpasi : tidak teraba penonjolan dan tidak ada nyeri
tekan
Perkusi : tidak ada massa dan penumpukan
cairan
Auskultasi : suara peristaltic terdengar setiap 5-
20x/dtk.

Punggung

Inspeksi : simetris, tidak ada pembengkakan, tidak ada lesi.


Palpasi : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan.

Genitalia

Inspeksi : bersih, tidak ada pembengkakan,


tidak ada lendir, dan tidak ada bau

Ekstremitas

Inspeksi : simetris kiri dan kanan, warna kulit tampak pucat,


sianosis, 4 4 kekuatan otot
4 4

Palpasi : tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri tekan


Perkusi : reflek (+)
Auskultasi : CRT > 3 detik

Kulit

Inspeksi : kulit An. D tampak bersih, warna


tampak pucat, tidak ada lesi atau pembengkakan,
tampak berkeringat.
Palpasi : kulit teraba panas dan tidak ada edema
Auskultasi : suhu 39,4C

45
Tanda vital :

Hari/ tanggal RR Nadi Suhu


29 Maret 2017 32 110 36,6
30 Maret 2017 28 96 36,6
31 Maret 2017 32 110 39,4
01 April 2017 26 115 38,6
02 April 2017 24 96 36,5
03 April 2017 24 96 36,3

46
B. ANALISA DATA

No Data klien Etiologi Masalah


keperawatan
1 DS : Penurunan konsentrasi Ketidakefektifan
- Keluarga mengatakan anak hemoglobin dalam perfusi jaringan
D lemah, HB rendah, an. darah perifer
D mengeluh capek dan
pusing
Do :
- An. D tampak pucat,
conjunctiva anemis,
mukosa kering dan pucat,
ekstremitas pucat,
- CRT > 3 detik
- kesadaran menurun hingga
delirum, berontak
- Hb= 2,5 gr/ dL
- An.D tampak sesak
- RR=32 x / menit
- Nadi = 110 x / menit

2 Ds : Peningkatan laju Hipertermi


- Keluarga mengatakan an. D metabolisme
demam, kejang, pusing.

Do :
- Suhu 39,4 C
- Anak tampak kejang
- Anak tampak berkeringat
- Suhu kulit hangat
- RR=32 x / menit
- Nadi = 110 x / menit

3 Ds : Ketidakseimbangan Intoleransi aktivitas


- An. D mengatakan antara suplai dan
capek, kepala pusing kebutuhan oksigen

DO :
- An.D tampak lemah
- Aktivitas dibantu oleh
keluarga
- Kesadaran menurun
hingga delirum, berontak
- Mata tampak keruh,

47
pandangan kabur.
- RR=32 x / menit
- Nadi = 110 x / menit
4 Ds: Resiko infeksi
- Keluarga mengatakan
anak D lemah, HB
rendah
DO :
- Anak tampak lemah
- Hb : 2,5 g/dl
- Leukosit : 33,4 x 109 / L
- mata tampak keruh dan
pandangan kabur.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan Penurunan
konsentrasi hemoglobin dalam darah, ditandai dengan keluarga
mengatakan anak D lemah, Hb rendah 2,5 gr/ dl , an. D mengeluh capek
dan pusing, An. D tampak pucat, CRT > 3 detik, conjunctiva anemis,
mukosa kering dan pucat, ekstremitas sianosis, kesadaran menurun hingga
delirum dan berontak.
Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism, ditandai
dengan keluarga mengatakan an. D kejang, pusing, dan Suhu tinggi 39,4
C, Suhu kulit hangat, anak tampak berkeringat, RR : 32 x / menit, Nadi :
110 x / menit
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen, ditandai dengan An. D mengatakan capek, kepala
pusing, An.D tampak lemah, aktivitas dibantu oleh keluarga, kesadaran
menurun hingga delirum, berontak, Mata tampak keruh dan pandangan
kabur
Resiko infeksi ditandai dengan keluarga mengatakan anak D lemah, Hb
rendah 2,5 g/dl, leukosit meningkat 33,4 x 109 / L dan mata tampak keruh
dan pandangan kabur.

48
D. RENCANA KEPERAWATAN

49
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Ketidakefektifan perfusi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Lakukan pengkajian komprehensif terhadap
jaringan perifer 5 x 24 jam perfusi jaringan perifer pasien efektif sirkulasi.
berhubungan dengan dengan KH : 2. Pantau status cairan
Penurunan konsentrasi - Pengisian ulang kapiler baik (<3 detik) 3. Pantau hasil laboratorium
- Warna kulit kemerahan 4. Ajarkan keluarga untuk menghindari suhu
hemoglobin dalam darah
- Pucat (-) yang ekstrem, terlalu dingin atau terlalu
- Hb dalam rentang normal (11,0 16,0 g/dL). panas
- RR dalam batas normal (16 24x/menit) 5. Anjurkan keluarga untuk memeriksa kulit
setiap hari untuk mengetahui perubahan
integritas kulit.
6. Kolaborasi dalam memberikan transfusi
darah
7. Kolaborasi terapi oksigen 2L/menit
2 Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Pantau TTV tiap 4 jam
dengan Peningkatan laju 2 x 24 jam suhu tubuh dalam rentang normal 2. Pantau warna dan suhu kulit
metabolism dengan KH: 3. Pantau intake dan output
S : 36,5 37,5 C 4. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Nadi dan RR dalam rentang normal 5. Tingkatkan sirkulasi udara
Tidak ada perubhan warna kulit dan tidak
Kolaborasi pemberian IV dan pemberian
antipiretik
ada pusing
3 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas
berhubungan dengan 3 x 24 jam mampu melakukan ativitas sendiri yang mampu dilakukan
Ketidakseimbangan antara dengan KH : 2. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien.
suplai dan kebutuhan Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa 3. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan
oksigen disertai peningkatan TD, Nadi dan RR ADL nya.
TTV normal 4. Berikan lingkungan yang tenang.
Mampu berpindah dengan atau tanpa
bantuan alat
Sirkulasi status baik
4 Resiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
3 x 24 jam diharapkan tidak ada tanda-tanda 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
infeksi ditandai dengan KH : kerentanan terhadap infeksi
Hb dalam rentang normal berkisar antara 3. Pantau hasil laboratorium
11-16 gr/dl 4. Amati penampilan personal hygiene untuk
50 perlindungan terhadap infeksi
Leukosit dalam rentang normal berkisar
5. Ajarkan pasien teknik mencuci tangan yang
antara 4- 10 x 109/L
benar
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
E. CATATAN PERKEMBANGAN

Hari/Tgl/Jam Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi


Rabu, 29 Maret Ketidakefektifan 1. Lakukan pengkajian komprehensif S : Ibu mengatakan anak masih pucat dan
2017 / 10.00 perfusi jaringan perifer terhadap sirkulasi. lemah
WIB berhubungan dengan Nadi perifer : 96 x/menit
Penurunan konsentrasi Edema (-) O:
hemoglobin dalam Pengisian ulang kapiler >3 detik Anak tampak pucat
darah. Warna kulit : pucat Keadaan umum tampak lemah
Suhu tubuh : 36,6 c0
Pengisian kapiler >3 detik
RR : 28x/menit Hb 2,5 g/dL
2. Memantau status cairan, Intake : cairan
infus 1500 cc + air minum 1000 cc A : Masalah belum teratasi
Output : BAK : 1200 cc
3. memantau hasil laboratorium terutama
P : Intervensi dilanjutkan

51
hasil Hb. Hasil Hb 2,5 g/dL.
4. Mengajarkan keluarga untuk 1. Kaji komprehensif terhadap sirkulasi
menghindari suhu yang ekstrem, perifer
terlalu dingin atau terlalu panas 2. Pantau status cairan, termasuk asupan
5. Menganjurkan keluarga untuk dan haluaran
memeriksa kulit setiap hari untuk 3. Ajarkan keluarga untuk menghindari
mengetahui perubahan integritas kulit. suhu yang ekstrem
Kulit masih tampak pucat. 4. Anjurkan keluarga untuk memeriksa
6. Melakukan kolaborasi dalam kulit setiap hari
memberikan transfusi darah hingga Hb Kolaborasi
normal (11,0 16,0 g/dL). 5. Berikan transfusi darah hingga Hb
Melakukan kolaborasi terapi oksigen normal (11,0 16,0 g/dL).
2L/menit 6. Pemberian terapi oksigen
Intoleransi aktivitas 1. Menganjurkan keluarga untuk S : Keluarga mengatakan An.D aktivitas
berhubungan dengan membantu anaknya duduk saat anak masih dibantu keluarga
ketidakseimbangan pusing. O : An. D terlihat masih terbaring lemah
antara suplai dan 2. Menganjurkan keluarga untuk A : Masalah belum teratasi
kebutuhan oksigen mendekatkan peralatan makan dan P : Intervensi dilanjutkan
minum. 1. Bantu klien untuk mengidentifikasi
3. Menganjurkan keluarga dalam aktivitas yang mampu dilakukan
membantu dalam pemenuhan 2. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan
kebutuhan seperti makan dan minum. klien.
4. Membatasi pengunjung. 3. Bantu klien dalam memenuhi
kebutuhan ADL nya.
4. Berikan lingkungan yang tenang.

52
Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Keluarga mengatakan anak D lemah, HB
Hb : 2,5 g/dl rendah
Leukosit : 33,4 x 109 / L
2. Mengkaji faktor yang dapat O:
meningkatkan kerentanan terhadap Anak tampak lemah
infeksi Hb : 2,5 g/dl
Leukosit meningkat 33,4 x 109 / L Leukosit : 33,4 x 109 / L
3. memantau hasil laboratorium A : masalah belum teratasi
Hb : 2,5 g/dl P : intervensi dilanjutkan
Leukosit : 33,4 x 109 / L 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
4. Mengamati penampilan personal 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
hygiene kerentanan terhadap infeksi
Anak terlihat bersih, selama dirawat 3. Pantau hasil laboratorium
ibu nya selalu memandikan anaknya 4. Amati penampilan personal hygiene
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci untuk perlindungan terhadap infeksi
tangan yang benar 5. Ajarkan pasien teknik mencuci
6. Kolaborasi pemberian antibiotik tangan yang benar
Cefotaxim 3 x 500 gr 6. Kolaborasi pemberian antibiotik
jam 12.00, 20.00, 04.00 WIB
Kamis, 30 Ketidakefektifan 1. Lakukan pengkajian komprehensif S : Ibu mengatakan anak masih pucat
Maret 2017 perfusi jaringan perifer terhadap sirkulasi.
berhubungan dengan Nadi perifer : 96 x/menit O:
10.00 WIB Penurunan konsentrasi Edema (-) Anak tampak pucat
hemoglobin dalam Pengisian ulang kapiler >3 detik Keadaan umum lemah
darah. Warna kulit : pucat Pengisian kapiler < 3 detik
Suhu tubuh : 36,60c

53
RR : 28x/menit A : Masalah belum teratasi
2. Memantau status cairan, termasuk
asupan dan haluaran. P : Intervensi dilanjutkan
Intake : cairan infus 1500 cc + air
minum 1000 cc 1. Kaji komprehensif terhadap sirkulasi
Output : BAK : 1200 cc perifer
3. Mengajarkan keluarga untuk 2. Pantau status cairan, termasuk asupan
menghindari suhu yang ekstrem, dan haluaran
terlalu dingin atau terlalu panas 3. Ajarkan keluarga untuk menghindari
4. Menganjurkan keluarga untuk suhu yang ekstrem
memeriksa kulit setiap hari untuk 4. Anjurkan keluarga untuk memeriksa
mengetahui perubahan integritas kulit. kulit setiap hari
Kulit masih tampak pucat. Kolaborasi
5. Melakukan kolaborasi dalam 5. Berikan transfusi darah hingga Hb
memberikan transfusi darah hingga Hb normal (11,0 16,0 g/dL)
normal (11,0 16,0 g/dL). Transfusi 6. Pemberian terapi oksigen
PRC 1 kolf 80 cc jam 18.00 WIB.
6. Melakukan kolaborasi terapi oksigen
2L/menit
Intoleransi aktivitas 1. Menganjurkan keluarga untuk S : Keluarga mengatakan An.D sudah bisa
berhubungan dengan membantu anaknya duduk saat duduk tetapi masih dibantu oleh
Ketidakseimbangan pusing. keluarga.
antara suplai dan 2. Menganjurkan keluarga untuk O : An.D tampak duduk walaupun masih
kebutuhan oksigen mendekatkan peralatan makan dan dibantu oleh keluarga.
minum. A : Masalah teratasi sebagian
3. Menganjurkan keluarga dalam P : Intervensi dilanjutkan

54
membantu dalam pemenuhan 1. Bantu klien untuk mengidentifikasi
kebutuhan seperti makan dan minum. aktivitas yang mampu dilakukan
Membatasi pengunjung. 2. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan
klien.
3. Bantu klien dalam memenuhi
kebutuhan ADL nya.
4. Berikan lingkungan yang tenang.
Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Keluarga mengatakan anak D lemah, HB
Hb : 2,5 g/dl rendah
Leukosit : 33,4 x 109 / L
2. Mengkaji faktor yang dapat O :
meningkatkan kerentanan terhadap Anak tampak lemah
infeksi Hb : 2,5 g/dl
Leukosit meningkat 33,4 x 10 / L9
Leukosit : 33,4 x 109 / L
3. memantau hasil laboratorium
Hb : 2,5 g/dl A : masalah belum teratasi
Leukosit : 33,4 x 10 / L
9 P : intervensi dilanjutkan
4. Mengamati penampilan personal 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
hygiene 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
Anak terlihat bersih, selama dirawat kerentanan terhadap infeksi
ibu nya selalu memandikan anaknya 3. Pantau hasil laboratorium
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci 4. Amati penampilan personal hygiene
tangan yang benar untuk perlindungan terhadap infeksi
6. Kolaborasi pemberian antibiotik 5. Ajarkan pasien teknik mencuci
Cefotaxim 3 x 500 gr tangan yang benar
jam 12.00 WIB , 6. Kolaborasi pemberian antibiotik

55
jam 20.00 WIB
jam 04.00 WIB
Jumat, 31 Ketidakefektifan 1. Lakukan pengkajian komprehensif S : Ibu mengatakan anak masih pucat
Maret 2017 perfusi jaringan perifer terhadap sirkulasi.
berhubungan dengan Nadi perifer : 110 x/menit O:
10.00 WIB Penurunan konsentrasi Edema (-) Anak masih tampak pucat
hemoglobin dalam Pengisian ulang kapiler >3 detik Keadaan umum lemah
darah Warna kulit : pucat Pengisian kapiler > 3 detik
Suhu tubuh : 39,30c
RR : 28x/menit A : Masalah belum teratasi
2. Memantau status cairan, termasuk
asupan dan haluaran. P : Intervensi dilanjutkan
Intake : cairan infus 1500 cc + air
minum 1000 cc
1. Kaji komprehensif terhadap sirkulasi
Output : BAK : 1200 cc
3. Mengajarkan keluarga untuk perifer
2. Pantau status cairan, termasuk asupan
menghindari suhu yang ekstrem,
dan haluaran
terlalu dingin atau terlalu panas
3. Pantau hasil laboratorium terutama
4. Menganjurkan keluarga untuk
Hb
memeriksa kulit setiap hari untuk
4. Ajarkan keluarga untuk menghindari
mengetahui perubahan integritas kulit.
suhu yang ekstrem
Kulit masih tampak pucat. 5. Anjurkan keluarga untuk memeriksa
5. Melakukan kolaborasi dalam
kulit setiap hari
memberikan transfusi darah hingga Hb
normal (11,0 16,0 g/dL). Transfusi Kolaborasi
PRC 1 kolf 130 cc jam 12.00 WIB

56
6. Melakukan kolaborasi terapi oksigen 6. Berikan transfusi darah hingga Hb
2L/menit normal (11,0 16,0 g/dL)
7. Pemberian terapi oksigen
Hipertermi 1. Melakukan pemantauan tanda tanda S : Keluarga mengatakan An.D masih kejang
berhubungan dengan vita setiap 4 jam sekali dan demam
peningkatan laju RR : 32x/i
metabolisme Nadi : 110x/i O:
Suhu : 39,40 C Suhu : 38,9 0 C
2. Melakukan pemantauan warna dan Nadi : 105 x/i
suhu kulit RR : 30x/i
Warna kulit : pucat Warna kulit masih pucar
Suhu kulit : kulit teraba panas
Kulit teraba panas
3. Melakukan pemantauan intake dan
Anak pusing
output
Intake
Infus : 1500 cc A : Masalah belum teratasi
Air minum : 1000 cc
BAK : 1200 cc P : Intervensi dilanjutkan
1. Pantau TTV tiap 4 jam
4. Melakukan kompres dengan air hangat
2. Pantau warna dan suhu kulit
pada anak di bagian lipatan seperti 3. Pantau intake dan output
paha dan ketiak 4. Kompres pasien pada lipat paha dan
5. Melakukan peningkatan sirkulasi aksila
udara, seperti menggantikan pakaian 5. Tingkatkan sirkulasi udara
anak dengan baju yang tipis 6. Kolaborasi pemberian IV dan
pemberian antipiretik
6. Melakukan kolaborasi

57
Pemberian cairan IV D5-1/4 NS
dengan 10 tpm
Pemberian obat antipiretik
paracetamol 2 sdt
Intoleransi aktivitas 1. Menganjurkan keluarga untuk S : Keluarga mengatakan An.D sudah bisa
berhubungan dengan membantu anaknya duduk saat duduk, makan, dan minum dengan
Ketidakseimbangan pusing. sendirinya.
antara suplai dan 2. Menganjurkan keluarga untuk O : An.D tampak mampu duduk, makan dan
kebutuhan oksigen mendekatkan peralatan makan dan minum dengan sendirinya.
minum. A : Masalah teratasi
3. Menganjurkan keluarga dalam P : Intervensi dihentikan
membantu dalam pemenuhan
kebutuhan seperti makan dan minum.
4. Membatasi pengunjung.
Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Keluarga mengatakan anak D lemah, HB
Hb : 2,5 g/dl rendah
Leukosit : 33,4 x 109 / L
mata tampak keruh dan pandangan O:
kabur. Anak tampak lemah
2. Mengkaji faktor yang dapat Hb : 2,5 g/dl
meningkatkan kerentanan terhadap Leukosit : 33,4 x 109 / L
infeksi mata tampak keruh dan pandangan
Leukosit meningkat 33,4 x 109 / L kabur.
3. memantau hasil laboratorium
Hb : 2,5 g/dl A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan

58
Leukosit : 33,4 x 109 / L 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
4. Mengamati penampilan personal 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
hygiene kerentanan terhadap infeksi
Anak terlihat bersih, selama dirawat 3. Pantau hasil laboratorium
ibu nya selalu memandikan anaknya 4. Amati penampilan personal hygiene
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci untuk perlindungan terhadap infeksi
tangan yang benar 5. Ajarkan pasien teknik mencuci
6. Kolaborasi pemberian antibiotik tangan yang benar
Cefotaxim 3 x 500 gr 6. Kolaborasi pemberian antibiotik
jam 12.00 WIB ,
jam 20.00 WIB
jam 04.00 WIB
Sabtu, 01 Ketidakefektifan 1. Lakukan pengkajian komprehensif S : Ibu mengatakan anak masih pucat
Maret 2017 perfusi jaringan perifer terhadap sirkulasi.
berhubungan dengan Nadi perifer : 115 x/menit O:
10.00 WIB Penurunan konsentrasi Edema (-) Anak masih tampak pucat
hemoglobin dalam Pengisian ulang kapiler >3 detik Keadaan umum lemah
darah Warna kulit : pucat Pengisian kapiler < 3 detik
Suhu tubuh : 38,6 c 0
Hb 5,5 g/dL
RR : 28x/menit
2. Memantau status cairan, termasuk A : Masalah belum teratasi
asupan dan haluaran.
Intake : cairan infus 1500 cc + air
P : Intervensi dilanjutkan
minum 1000 cc
Output : BAK : 1200 cc
3. Memantau hasil laboratorium terutama 1. Kaji komprehensif terhadap sirkulasi
perifer

59
hasil Hb. Hasil Hb : 5,5 g/dL. 2. Pantau status cairan, termasuk asupan
4. Mengajarkan keluarga untuk dan haluaran
menghindari suhu yang ekstrem, 3. Ajarkan keluarga untuk menghindari
terlalu dingin atau terlalu panas suhu yang ekstrem
5. Menganjurkan keluarga untuk 4. Anjurkan keluarga untuk memeriksa
memeriksa kulit setiap hari untuk kulit setiap hari
mengetahui perubahan integritas kulit. Kolaborasi
Kulit masih tampak pucat. 5. Berikan transfusi darah hingga Hb
6. Melakukan kolaborasi dalam normal (11,0 16,0 g/dL)
memberikan transfusi darah hingga Hb
normal (11,0 16,0 g/dL). Transfusi
PRC 1 kolf 150 cc jam 18.00 WIB
Hipertermi 1. Melakukan pemantauan tanda tanda S : Keluarga mengatakan An.D tidak kejang
berhubungan dengan vita setiap 4 jam sekali dan demam
peningkatan laju RR : 26x/i
metabolisme Nadi : 115x/i O:
Suhu : 38,80 C
Suhu : 37,3 0 C
2. Melakukan pemantauan warna dan
Nadi : 105 x/i
suhu kulit
Warna kulit : pucat RR : 25x/i
Suhu kulit : kulit tidak teraba panas Warna kulit pucat
3. Melakukan pemantauan intake dan Kulit tidak teraba panas
output Anak tidak pusing
Intake
Infus : 1500 cc
Air minum : 1000 cc A : Masalah teratasi
BAK : 1200 cc

60
4. Melakukan kompres dengan air hangat
pada anak di bagian lipatan seperti P : Intervensi dihentikan
paha dan ketiak
5. Melakukan peningkatan sirkulasi
udara, seperti menggantikan pakaian
anak dengan baju yang tipis

6. Melakukan kolaborasi
Pemberian cairan IV D5-1/4 NS
dengan 10 tpm
Pemberian obat antipiretik
paracetamol 2 sdt
Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Keluarga mengatakan anak D lemah, Hb
Hb : 5,5 gr/ dL rendah
Leukosit : 42 x 109 / L
2. Mengkaji faktor yang dapat O:
meningkatkan kerentanan terhadap Anak tampak lemah
infeksi Hb : 5,5 gr/ dL
Leukosit meningkat Leukosit : 42 x 109 / L
42 x 109 / L
3. memantau hasil laboratorium A : masalah belum teratasi
Hb : 5,5 gr/ dL P : intervensi dilanjutkan
Leukosit : 42 x 109 / L 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
4. Mengamati penampilan personal 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
hygiene kerentanan terhadap infeksi
Anak terlihat bersih, selama dirawat 3. Pantau hasil laboratorium

61
ibu nya selalu memandikan anaknya 4. Amati penampilan personal hygiene
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci untuk perlindungan terhadap infeksi
tangan yang benar 5. Ajarkan pasien teknik mencuci
6. Kolaborasi pemberian antibiotik tangan yang benar
Cefotaxim 3 x 500 gr 6. Kolaborasi pemberian antibiotik
jam 12.00 WIB ,
jam 20.00 WIB
jam 04.00 WIB
Senin, 03 Ketidakefektifan 1. Lakukan pengkajian komprehensif S : Ibu mengatakan anak masih sedikit pucat
Maret 2017 perfusi jaringan perifer terhadap sirkulasi.
berhubungan dengan Nadi perifer : 96 x/menit O:
10.00 WIB Penurunan konsentrasi Edema (-) Anak tampak masih pucat
hemoglobin dalam Pengisian ulang kapiler >3 detik Keadaan umum masih lemah
darah Warna kulit : pucat Pengisian kapiler < 3 detik
Suhu tubuh : 36,50c
RR : 24x/menit A : Masalah belum teratasi
2. Memantau status cairan, termasuk
asupan dan haluaran. P : Intervensi dilanjutkan
Intake : cairan infus 1500 cc + air
minum 1000 cc
1. Kaji komprehensif terhadap sirkulasi
Output : BAK : 1200 cc
3. Mengajarkan keluarga untuk perifer
2. Pantau status cairan, termasuk asupan
menghindari suhu yang ekstrem,
dan haluaran
terlalu dingin atau terlalu panas
3. Ajarkan keluarga untuk menghindari
4. Menganjurkan keluarga untuk
suhu yang ekstrem
memeriksa kulit setiap hari untuk
4. Anjurkan keluarga untuk memeriksa

62
mengetahui perubahan integritas kulit. kulit setiap hari
Kulit masih tampak pucat. Kolaborasi
5. Melakukan kolaborasi dalam 5. Berikan transfusi darah hingga Hb
memberikan transfusi darah hingga Hb normal (11,0 16,0 g/dL).
normal (11,0 16,0 g/dL). Transfusi
PRC 1 kolf 150 cc jam 18.00 WIB
Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Ibu mengatakan anak masih sedikit pucat
Hb : 5,5 gr/ Dl O:
Leukosit : 42 x 10 / L
9 Anak tampak lemah
mata tampak keruh dan pandangan Hb : 5,5 gr/ dL
kabur. Leukosit : 42 x 109 / L

2. Mengkaji faktor yang dapat A : masalah belum teratasi


meningkatkan kerentanan terhadap P : intervensi dilanjutkan
infeksi 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
Leukosit meningkat 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
9
42 x 10 / L kerentanan terhadap infeksi
3. memantau hasil laboratorium 3. Pantau hasil laboratorium
Hb : 5,5 gr/ dL 4. Amati penampilan personal hygiene
9
Leukosit : 42 x 10 / L untuk perlindungan terhadap infeksi
4. Mengamati penampilan personal 5. Ajarkan pasien teknik mencuci
hygiene tangan yang benar
Anak terlihat bersih, selama dirawat 6. Kolaborasi pemberian antibiotik
ibu nya selalu memandikan anaknya
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci
tangan yang benar

63
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
Cefotaxim 3 x 500 gr, jam 12.00
WIB , jam 20.00 WIB dan jam
04.00 WIB
tetes mata : isotic adretor satu
tetes mata kanan dan kiri
diberikan pukul. 07.00, 15.00, dan
23.00 WIB
Selasa, 04 Ketidakefektifan 1. Lakukan pengkajian komprehensif S : Ibu mengatakan anak sudah tidak pucat
maret 2017 perfusi jaringan perifer terhadap sirkulasi. lagi.
berhubungan dengan Nadi perifer : 96 x/menit
10.00 WIB Penurunan konsentrasi Edema (-) O:
hemoglobin dalam Pengisian ulang kapiler >3 detik Anak tampak membaik
darah Warna kulit : pucat Keadaan umum baik
Suhu tubuh : 36,30c Pucat (-)
RR : 24x/menit Pengisian kapiler < 3 detik
2. Memantau status cairan, termasuk TTV normal
asupan dan haluaran. Hb 12,2 g/dL
Intake : cairan infus 1500 cc + air
minum 1000 cc
A : Masalah teratasi
Output : BAK : 1200 cc
3. Mengajarkan keluarga untuk
menghindari suhu yang ekstrem, P : Intervensi dihentikan
terlalu dingin atau terlalu panas
4. Menganjurkan keluarga untuk

64
memeriksa kulit setiap hari untuk
mengetahui perubahan integritas kulit.
Kulit masih tampak pucat.
5. Melakukan kolaborasi dalam
memberikan transfusi darah hingga Hb
normal (11,0 16,0 g/dL). Transfusi
PRC 1 kolf 150 cc jam 12.00 WIB
Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Ibu mengatakan anak sudah tidak pucat
Hb : 12,2 g/dl lagi.
Leukosit : 38,2 x 109 / L
mata tampak keruh dan pandangan O:
kabur. Leukosit : 38,2 x 109 / L
2. Mengkaji faktor yang dapat A : masalah belum teratasi
meningkatkan kerentanan terhadap P : intervensi dilanjutkan
infeksi 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
Leukosit meningkat 33,4 x 109 / L 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
3. memantau hasil laboratorium kerentanan terhadap infeksi
Hb : 12,2 g/dl 3. Pantau hasil laboratorium
4. Amati penampilan personal hygiene
Leukosit : 33,4 x 109 / L
untuk perlindungan terhadap infeksi
4. Mengamati penampilan personal
5. Ajarkan pasien teknik mencuci
hygiene
tangan yang benar
Anak terlihat bersih, selama dirawat
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
ibu nya selalu memandikan anaknya
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci
tangan yang benar
6. Kolaborasi pemberian antibiotik

65
Cefotaxim 3 x 500 gr, jam 12.00
WIB , jam 20.00 WIB dan jam
04.00 WIB

Rabu, 05 maret Resiko Infeksi 1. Memantau tanda dan gejala infeksi S : Ibu mengatakan anak sudah tidak pucat
2017 Leukosit : 33,4 x 109 / L lagi.
mata tampak keruh dan pandangan O:
10.00 WIB kabur. Leukosit : 38,2 x 109 / L
2. Mengkaji faktor yang dapat A : masalah belum teratasi
meningkatkan kerentanan terhadap P : intervensi dilanjutkan
infeksi 1. Pantau tanda dan gejala infeksi
Leukosit meningkat 33,4 x 109 / L 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan
3. memantau hasil laboratorium kerentanan terhadap infeksi
Hb : 2,5 g/dl 3. Pantau hasil laboratorium
4. Amati penampilan personal hygiene
Leukosit : 38,2 x 109 / L
4. Mengamati penampilan personal untuk perlindungan terhadap infeksi
5. Ajarkan pasien teknik mencuci
hygiene
Anak terlihat bersih, selama dirawat tangan yang benar
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
ibu nya selalu memandikan anaknya
5. Mengajarkan pasien teknik mencuci
tangan yang benar
6. Kolaborasi pemberian antibiotik
Cefotaxim 3 x 500 gr, jam 12.00
WIB , jam 20.00 WIB dan jam

66
04.00 WIB

67
BAB IV
PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN
Pengkajian pada An. D dilakukan dengan cara anamnesa pada anggota keluara
yang meliputi identitas anak, keluhan utama (riwayat yang berhubungan dengan
keluhan utama/ alasan masuk rumah sakit), riwayat kesehatan dahulu, riwayat
kesehatan keluarga, dan pemeriksaaan fisik

Pengkajian pertama sekali dilakukan pada tanggal 29 Maret 2017,


berdasarkan format pengkajian asuhan keperawatan anak yang dilakukan oleh
mahasiswa profesi keperawatan Universitas Jambi, maka ada beberapa hal yang
ditemukan antara lain: pada pengkajian hari pertama ditemukan data bahwa anak
mengalami anemia berat yang ditunjukkan melalui nilai Hb 2,5 g/dL saat masuk
rumah sakit, selain itu anak tampak pucat dengan kulit berwarna kekuningan, mukosa
kering dan pucat, ekstremitas pucat, sclera ikterik, mata tampak keruh, dan
penglihatan kabur. Sesuai dengan pengertian yang dikutip dari Price (2006) anemia
adalah berkurangnya kadar Hb dalam darah sehingga terjadi gangguan perfusi O2 ke
jaringan tubuh, disebut gravis yang artinya berat dan nilai Hb di bawah 7 g/dl
sehingga memerlukan tambahan umumnya melalui transfusi.

Dari hasil wawancara dengan keluarga klien diperoleh data bahwa An. D
merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Pijoan Baru. Keluarga mengatakan anak D
lemah dan mengeluh pusing serta HB rendah. Sehari sebelum dibawa ke RSUD
Raden Mattaher Jambi an. D dibawa ke ke klinik untuk berobat dengan keluhan batuk
yang sudah beberapa hari di alaminya. Di klinik dilakukan penanganan dan dilakukan
cek laboratorium darah lengkap didapatkan hasil HB= 2,5 gr/dL, kemudian anak
dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi untuk mendapatkan penanganan
dikarenakan di klinik tersebut dan di rumah sakit terdekat sulit untuk mendapatkan
tindakan transfusi.

68
Pada pemeriksaan fisik An.D didapatkan Suhu tubuh 39,4 oC, RR 32x/menit,
Nadi 110x/menit, An.D tampak sesak , tampak pucat, conjunctiva anemis, mukosa
kering dan pucat, ekstremitas pucat, aktivitas dibantu oleh keluarga dan tenaga
kesehatan, An.D juga tidak nafsu makan.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal: 29 Maret 2017didapatkan


WBC 33,4 g/l (N: 4-10), HGB 2,5 g/dl (N: 11-16), HCT 6,7 % (N:36-48), RBC
0,88/L(N:3,5-5,5). Terapi pengobatan saat ini IVFD RL Loading 1409cc (15tpm),
ondansentron 2x2mg, ceftriaxone 1x 750g, ranitidin 2x12,5g, domperidon 3x1cth dan
OBH 3x1cth.

Hasil ini sesuai dengan hal yang dikemukan oleh Saifuddin Sirajuddin (2013)
dalam jurnalnya mengatakan bahwa hal utama yang menujukkan gejala dari anemia
dapat dilihat dari hasil laboratorium Hemoglobin yang menunjukkan angka < 12g/dL
untuk usia anak- anak dapat dikatakan mengalami anemia sementara untuk nilai
normalnya 12 16 g/dL. Teori ini sesuai dengan hasil pengkajian yang didapatakn
An,D dimana nilai Hb anak hanya 2,5g/dl yang menunjukkan angka ynag sangat
rendah dibandingkan dengan nilai normalnya menurut teori di atas. Menurut Handrey
Irawan (2013) dalam jurnalnya mengatatakan bahawa tanda dan gejala yang biasanya
ditemui pada anak dengan anemia yaitu pucat, CRT >3 detik , sclera ikterik,
konjungtiva anemis, keletihan dan jika nilai hb menurun drastis dapat mengakibatkan
penurunan kesadaran dan gangguan pengelihatan. Hal ini sesuai denga tanda dan
gejala yang ditemukan pada pengkajian pemeriksaan fisik dimana ditemukan tnada
dan gejala pada An.D yaitu, pucat CRT >3 detik , sclera ikterik, konjungtiva anemis,
keletihan dan jika nilai Hb menurun drastis dapat mengakibatkan penurunan
kesadaran (delirium) dan gangguan pengelihatan.

Pada proses keperawatan, kelompok mengakkan diagnosa keperawatan


ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin dalam darah, intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, hipertermi berhubungan

69
dengan peningkatan laju metabolisme, dan resiko infeksi. Kelompok memberi
intervensi yang salah satunya melakukan pengkajian komprehensif terhadap sirkulasi
perifer, memantau tingkat ketidaknyamanan atau nyeri saat melakukan aktifitas fisik,
mengukur TTV, memantatu keadaan umum klien dan memberi tindakan pengobatan
secara oral dan injeksi intravena.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Sesuai dengan diagnosa teoritis pada anemia didapatkan
maslah keperawatan yang lazim muncul yaitu ketidakefektifan
perfusi jaringan, hipertermi, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh, keletihan , gangguan pertukaran gas, resiko
infeksi.
Pada proses keperawatan, kelompok menegakkan 4 (empat) diagnosa
keperawatan yang muncul pada An. D yaitu sebagai berikut :
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
konsentrasi hemoglobin dalam darah, diagnosa ini sesuai dengan diagnosa
keperawatan secara teoritis untuk klien anemia bahwa hb rendah, hal ini sesuai
dengan pemeriksaan darah pada an. D diperoleh HB= 2,5 gr/ dl dan
saat pengkajian diperoleh data, keluarga an. D mengatakan anak D lemah, an. D
mengeluh capek dan pusing, An. D tampak pucat, conjunctiva anemis, mukosa
kering dan pucat, CRT 3, ekstremitas sianosis, kesadaran menurun hingga
delirum dan berontak.
2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism, diagnosa ini
sesuai dengan diagnosa keperawatan secara teoritis untuk klien anemia,
hipertermi ini dapat disebabkan karena meningkatnya nilai leukosit yang
kemungkinan disebabkan oleh infeksi dalam tubuh akibat pertahanan tubuh yang
tidak adekuat. Pada saat pengkajian keluarga mengatakan an. D kejang, pusing,
dan suhu tinggi 39,4 C, suhu kulit hangat.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen, diagnosa ini sesuai dengan diagnosa keperawatan secara
teoritis dimana klien dengan anemia biasanya lemah, sakit kepala, mudah

70
lelah dan pusing. Sesuai pengkajian, An. D mengatakan capek, kepala
pusing, An.D tampak lemah, aktivitas dibantu oleh keluarga, kesadaran menurun
hingga delirum, berontak, mata tampak keruh dan pandangan kabur.
4. Resiko infeksi ditandai dengan keluarga mengatakan anak D lemah, diagnosa ini
sesuai dengan diagnosa keperawatan secara teoritis dimana pertahanan tubuh
klien tidak adekuat / menurun. Pada saat pengkajian didapatkan leukosit
meningkat 33,4 x 109 / L, mata tampak keruh dan pandangan kabur.

Diagnosa keperawatan keletihan tidak ditegakkan pada saat


pengkajian pasien tidak mengalami keletihan hanya saja pasien
lemah namun diatasi pada diagnosa intoleransi aktivitas. Diagnosa
gangguan pertukaran gas tidak ditegakkan pada saat pengkajian
pasien tidak mengalami pernapasan abnormal dan penggunaan otot
bantu tambahan.

C. PERENCANAAN
Diagnosa yang muncul selanjutnya disusun berdasarkan prioritas kebutuhan
dasar manusia, setelah diprioritaskan kemudian disusun rencana keperawatan yang
mengacu kepada teori yang ada, namun disesuaikan dengan kondisi klien serta sarana
dan prasarana yang ada. Rencana yang disusun untuk masing-masing diagnosa
sebanyak 4-6 rencana.
Untuk rencana keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan perifer disusun
rencana lakukan pengkajian komprehensif terhadap sirkulasi, pantau status cairan,
termasuk asupan dan haluaran, ajarkan keluarga untuk menghindari suhu yang
ekstrem, terlalu dingin atau terlalu panas, anjurkan keluarga untuk memeriksa kulit
setiap hari untuk mengetahui perubahan integritas kulit, lakukan kolaborasi dalam
memberikan transfusi darah hingga Hb normal, lakukan kolaborasi terapi oksigen.
Untuk rencana keperawatan hipertermi disusun rencana pantau tanda tanda vita setiap
4 jam sekali, pantau warna dan suhu kulit, rencana tindakan lainnya lakukan kompres
dengan air hangat pada anak di bagian lipatan seperti paha dan ketiak, lakukan
peningkatan sirkulasi udara, seperti menggantikan pakaian anak dengan baju yang

71
tipis, lakukan kolaborasi pemberian cairan intravena, pemberian obat antipiretik
paracetamol. Untuk rencana keperawatan intoleransi aktivitas disusun rencana
anjurkan keluarga untuk membantu anaknya duduk saat pusing, anjurkan keluarga
untuk mendekatkan peralatan makan dan minum, anjurkan keluarga dalam membantu
dalam pemenuhan kebutuhan seperti makan dan minum dan batasi pengunjung.
Untuk rencana keperawatan resiko infeksi disusun rencana pantau tanda dan gejala
infeksi, kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, pantau
hasil laboratorium, amati penampilan personal hygiene, ajarkan pasien teknik
mencuci tangan yang benar, kolaborasi pemberian antibiotik.

D. IMPLEMENTASI
Implementasi secara umum dapat dilakukan sesuai rencana. Asuhan
keperawatan diberikan kepada klien lebih di fokuskan dan penaganan nya bersifat
komprehensi (menyeluruh). Berdasarkan diagnosa masalah keperawatan
ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin dalam darah implementasi yang diberikan kepada klien yakni dengan
melakukan pengkajian komprehensip terhadap sirkulasi berupa nadi perifer, edema,
pengisian ulang kapiler, warna kulit, suhu tubuh, dan respirasi rate, memantau intake
dan output cairan termasuk asupan dan haluaran, menganjurkan kepada keluarga
untuk menghindari suhu yang ekstrim terlalu dingin ataupun terlalu panas,
menganjurkan keluarga untuk memeriksa kulit setiap hari untuk mengetahui
perubahan integritas kulit, melakukan kolaborasi dalam memberikan transfusi darah
hingga Hb normal, melakukan kolaborasi terapi oksigen 2L/menit.
Masalah keperawatan klien berhubungan dengan peningkatan laju
metabolisme dilakukan penatalaksanna demam dengan melakukan pemantauan tanda
tanda vital ( Suhu, RR dan Nadi ) 4 jam sekali, melakukan pemantauan warna kulit
dan suhu kulit , melakukan pemantauan intake dan output, melakukan kompres air
hangat pada anak dibagian dahi, lipatan paha dan axila, melakukan peningkatan
sirkulasi udara seperti menggantikan pakaian anak dengan baju yang tipis, melakukan
kolaborasi dengan pemberian cairan melalui IV dan memberikan obat antipiretik
kepada klien.

72
Masalah keperawatan klien dengan intoleransi aktifitas bberhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen dilakukan penatalaksanaan
dengan menganjurkan keluarga untuk membantu anak nya duduk saat pusing,
menganjurkan keluarga untuk mendekatkan peralatan makan dan minum,
menganjurkan keluarga untuk membantu dala hal pemenuhan kebutuhan seperti
makan dan minum dan membatasi pengunjun yang mengunjungi klien.
Masalah keperawatan klien dengan Resiko infeksi dilakukan penatalaksanaan
dengan memantau tanda dan gejala infeksi seperti Hb, Leukosit, mengkaji faktor yang
dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, memantau hasil laboratorium (Hb,
dan Leukosit ), mengamati tampilan personal hygine pada anak, mengajarkan pasien
teknik mencucui tangan yang benar dan melakukan kolaborasi dalam pemberian
antibiotik.

E. EVALUASI
Tahap evaluasi menilai keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah
dilakukan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan. Dari empat (4) diagnosa
keperawatan yang telah ditetapkan dan implementasi yang telah dilakukan sesuai
dengan rencana asuhan keperawatan didapatkan hasil yang dicantum kedalam
evaluasi dan masih terdapat intervensi yang tetap dilanjutkan guna memantau
kesinambungan terhadap komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi.
Catatan perkembangan dalam kasus ini dilakukan dari hari Rabu tanggal
Rabu, 29 Maret 2017 hingga Rabu, 05 maret 2017. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 7 hari, 3 dari masalah keperawatan teratasi sementara 1 masalah
keperawatan intervensi dilanjutkan.
Evaluasi masalah ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan
dengan penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah teratasi pada hari Selasa, 04
maret 2017 ditandai dengan anak tampak membaik, pucat (-), pengisian kapiler < 3
detik, TTV normal, Hb 12,2 g/dL. Evaluasi masalah hipertermi berhubungan dengan
peningkatan laju metabolisme teratasi pada hari Sabtu, 01 Maret 2017 ditandai
dengan keluarga mengatakan An.D tidak kejang dan demam, suhu : 37,3 0 C, nadi :
105 x/I, RR : 25x/I, kulit tidak teraba panas, anak tidak pusing. Evaluasi masalah
intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan

73
kebutuhan oksigen teratasi pada Jumat, 31 Maret 2017 ditandai dengan keluarga
mengatakan An.D sudah bisa duduk, makan, dan minum dengan sendirinya, An.D
tampak mampu duduk, makan dan minum dengan sendirinya. Sementara evaluasi
masalah resiko infeksi belum terasi dan intervensi masih ada intervensi yang tetap
dilanjutkan sampai tidak ada tanda-tanda infeksi dengan menurunnya nilai leukosit
dari 38,2 x 109 / L.

74
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan terhadap An.D Dengan
penyakit anemia, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Setelah dilakukan pengkajian terhadap kasus anemia yang diderita oleh An. D (8
tahun), dari pemeriksaan fisik diketahui bahwa pada pengkajian ditemukan data
bahwa anak mengalami anemia yaitu badan anak D terasa lemas, Hb rendah, anak
tampak pucat dengan hasil laboratorium pemeriksaan darah lengkap didapatkan
Hb 2,5 gr/dl (menurun), PLT 306 x 109/L (meningkat), WBC 33,4 x 109 /L
(meningkat) HCT 6,7 % (menurun), RBC 0,88/L (menurun). Pada hasil
pemeriksaan fisik An.D didapatkan Suhu tubuh : 39,3 0C, RR: 28 x/i, An. D
tampak pucat, conjunctiva anemis, sclera ikterik, mata tampak keruh, penglihatan
kabur, mukosa kering dan sianosis, ekstremitas sianosis, kulit tampak sianosis dan
aktivitas dibantu oleh keluarga.
2. Diagnosa keperawatan yang ditegakkan dari hasil pengkajian terhadap An.R.
Sesuai dengan data-data yang ada dan menunjang adalah :
a) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan Penurunan
konsentrasi hemoglobin dalam darah
b) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
d) Resiko infeksi
3. Diagnosa yang muncul disusun berdasarkan prioritas kebutuhan dasar manusia
menurut Maslow. Setelah diprioritaskan kemudian disusun rencana keperawatan
yang mengacu kepada teori yang ada, namun disesuaikan dengan kondisi pasien
serta sarana dan prasarana yang ada. Rencana yang disusun untuk masing-masing
diagnosa sebanyak 4 - 6 rencana.
4. Setelah dibuat rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan,
implementasi dilakukan berdasarkan masalah keperawatan yang timbul yaitu
mengupayakan sedapat mungkin agar tebebas dari ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer berhubungan dengan Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam

75
darah, hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism, intoleransi
aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen dan resiko infeksi
5. Evaluasi masalah ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah teratasi pada hari Selasa, 04
maret 2017 ditandai dengan anak tampak membaik, pucat (-), pengisian kapiler <
3 detik, TTV normal, Hb 12,2 g/dL. Evaluasi masalah hipertermi berhubungan
dengan peningkatan laju metabolisme teratasi pada hari Sabtu, 01 Maret 2017
ditandai dengan keluarga mengatakan An.D tidak kejang dan demam, suhu : 37,3
0
C, nadi : 105 x/I, RR : 25x/I, kulit tidak teraba panas, anak tidak pusing.
Evaluasi masalah intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen teratasi pada Jumat, 31 Maret 2017 ditandai
dengan keluarga mengatakan An.D sudah bisa duduk, makan, dan minum
dengan sendirinya, An.D tampak mampu duduk, makan dan minum dengan
sendirinya. Sementara evaluasi masalah resiko infeksi belum terasi dan intervensi
masih ada intervensi yang tetap dilanjutkan sampai tidak ada tanda-tanda infeksi
dengan menurunnya nilai leukosit dari 38,2 x 109 / L.

B. SARAN
1. Bagi pihak Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi
Diharapkan kepada pihak RSUD Raden Mattaher Jambi untuk meningkatkan
pelayanan khususnya dalam bidang sarana dan prasaranan dan prasrasarana agar
tercipta asuhan keperawatan yang komprehensif khususnya asuhan keperawatan
pada klien dengan anemia.

2. Bagi perawat
Diharapkan kepada perawat untuk dapat menerapkan asuhan keperawatan pada
klien dengan anemia khususnya di RSUD Raden Mattaher Jambi.
3. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa keperawatan diharapkan dapat menerapkan asuhan keperawatan yang
telah diharapakan secara teoritis dengan kasus yang ditemukan dilapangan.

76
77