Anda di halaman 1dari 5

Riza Eka Novita Sari (150342602425)

Yunaida Dwi Permata (150342607628)


S1 Biologi
RQA GENETIKA 1
14 Maret 2017

Kode Genetik
Sequence dari empat pasang basa pada DNA dapat mengontrol sequence
dari 20 asam amino yang ditemukan pada protein. Dengan penemuan mRNA
intermediet, memunculkan satu pertanyaan yaitu bagaimana sequence dari empat
basa pada molekul mRNA mampu menspesifikkan sequence asam amino pada
sebuah polypeptida. Apa kode genetik alami yang menghubungkan sequence basa
mRNA (atau sequence pasangan basa pada DNA) dengan sequence.

Tiga Nukleotida per Kodon


Dua belas asam amino yang berbeda disatukan selama translasi. Kurang
lebih 20 kodon yang berbeda harus dibentuk dengan empat simbol (basa) di dalam
(mRNA). Dua basa per kodon mungkin hanya akan menghasilkan 16 kodon, jelas
tidak cukup. Tiga basa per kodon kemungkinan menghasilkan 64 kodon, jelas
tidak boleh. F. H. C. Crick dan Coleagues (1961) mengisolasi bahwa fakta bahwa
kode genetik adalah kode triplet (tiga basa proflavin yang per kodon), dihasilkan
dari analisis mutasi gen akibat induksi proflavin pada lokus rII yang dibawa phage
T4.
Penambahan atau penghapusan pasangan basa akan mengubah bingkai
baca pada gen dan mRNA (kodon pada fase translasi) sehingga membuat bagian
distal gen mengalami mutasi. Ketika suppressor mutasi diisolasi dari satu mutan
dan diamati keturunan dari persilangannya dengan tipe liar (bebas), ternyata
ditemukan mereka menghasilkan fenotip mutan, sama seperti mutasi pada
umumnya.
Degenerasi Dan Ketidak Seimbangan
Semua asam amino kecuali methionin dan triptophan spesific terhadap
lebih dari satu kodon. Tiga asam amino leucine, serine, dan arginin spesifik
terhadap 6 kodon yang berbeda. Isoleucin spesifik terhadap tiga kodon. Asam
amino lainnya memiliki dua sampai empat kodon yang spesifik. Terjadinya lebih
dari satu kodon per asam amino disebut degenerasi. Dalam pengaturan kode
genetik lambat laun telah meminimalisir mutasi mematikan.
Pada dasarnya, jarak molekuler dan pertimbangan steric, Crick mengusulkan
ketidakseimbangan akan dilakukan pada beberapa tipe, tetapi tidak semua tipe,
pasangan basa pada kodon ketiga dalam interaksi kodon-antikodon. Hipotesis
ketidakseimbangan memperkirakan kejadian dari tiga tRNA pada enam kodon
serin. Tiga serin tRNA telah dikarateristikan: (1) tRNA ser1 (antikodon AGG)
berikatan dengan kodon UCU dan UCC, (2) tRNAser2 (antikodon AGU) berikatan
dengan kodon UCA dan UCG, dan (3) tRNA ser3 (antikodon UCG) berikatan
dengan kodon AGU dan AGC.

Insiasi dan Terminasi kodon


Kode genetik memberikan tanda baca dari sup informasi genetik pada tingkat
translasi. Rantai polipetida dari tiga kodon yaitu UAA, UAG, dan UGA
ditentukan oleh protein release factor, bukan ditentukan oleh tRNA. Salah satu
protein ini ditunjuk oleh RF-1 yang tampaknya spesifik untuk UAA dan UAG.
Sedangkan pada RF-2 menyebabkan penghentian pada kodon UAA dan UGA.
Met
Dua kodon yaitu AUG dan GUG dikenal oleh intiator tRNA, tRNA t , tapi
tampaknya hanya ketika mereka mengikuti urutan nukleotida tepat di segmen
pertama sebuah molekul mRNA. Pada posisi internal, AUG dikenali oleh valine
tRNA. Dalam kasus tersebut, kodon insiasi UAG dan GUG dan tRNA tMet,
menjadi dasar perpindahan yang pertama atau 5 dasar kodon.

Universalitas Kode
Sejumlah besar data yang tersedia dari
studi in vitro, asam amino yang diganti karena mutasi, dan dari asam nukleat
berkolerasi menjadi sepasang sequence yang menunjukan bahwa kode genetic
hampir sama di semua organisme. Kecuali pada universilitas kode yang terjadi
pada mitokondria manusia, ragi dan beberapa spesies lainnya, dimana UGA
adalah kodon tryptopan. UGA adalah kodon terminasi nonmithocondrial system.
Dalam mitokondria ragi, CUA menspesifikasikan bahwa threonine bukan leusin
biasa. Dalam mitokondria mamalia, AUA menspesifikasikan methionine bukan
isoleusin biasa.

Suppressor mutasi yang memproduksi tRNAs dengan mengubah kodon


pengenal
Kode genetik nonmitokondria tidak bersifat universal, hanya sebagian
kecil dari batas sense, karena adanya variasi minor pada kodon pengenal dan
translasi. Suppressor mutasi yang mengubah kekhususan tRNA adalah suppressor
dari mutasi yang memproduksi akhiran-rantai triplet UAG dalam mengkode
rangkaian structural gen. Mutasi tersebut disebut mutasi amber, yang terjadi
akibat dari sintesis dari akhiran fragmen asam amino yang menetapkan
polipeptida sebagai gen. Mutasi yang menghasilkan triplet rantai terminasi dengan
gen disebut nonsense mutasi, berkebalikan dengan mutasi missense yang
mengubah sebuah triplet menjadi triplet lain yang menghasilkan asam amino
berbeda.
Tidak terlihatnya suatu mutasi pada nonsense menunjukkan efek mutasi
pada gen tRNA yang disebabkan adanya mutasi dari tRNAs untuk mengenali
kodon nonsense (antisense) (UAG, UAA, or UGA). Ketika salah satu dari
supressor tRNA berupa UAG dari mutasi su3 berada pada satu baris yang sama
maka hal tersebut akan mengubah antikodon. Pada amber penekan mutasi yang
terjadi pada tRNAtyr2. Pada antikodon nonsuspensor tRNAtyr2 menunjukkan 5-
GUA-3 (dimana G merupakan derivat dari guanin). Sedangkan pada antikodon
dari mutasi (suppressor) tRNAtyr2 merupakan 5-CUA-3. Mutasi antikodon ini
dapat berpasangan dengan 5-UAG-3 kodon amber (Berpasangan dengan ujung
yang berlawanan) seperti:
3-AUC-5 (antikodon)
5- UAG-3 (kodon)
Suspensor tRNAs mengizinkan polipeptida yang telah lengkap untuk
disintesis dari mRNAs yang mengandung kodon antisense. Polipeptida akan
berfungsi selama asam amino disisipkan oleh suppressor tRNAs pada posisi yang
tepat dan nantinya akan menghasilkan gen-gen yang fungsional. Strain
Escherichia colli yang mengandung gen supresor menunjukkan tingkat
pertumbuhan yang sebanding dengan strain tanpa gen supresor. Penyebab
mengapa strain penekan tidak menunjukkan efek merugikan seperti "read-
through" belum terungkap jalan keluarnya. Mungkin sebagian gen seperti fag
MS2 mantel gen yang berakhir dengan dua atau lebih kodon stop yang berbeda.

Pertanyaan dan Jawaban

Riza Eka Novita Sari / 150342602425 / Biologi / G


1. Mengapa dalam sintesis protein dibutuhkan asam amino?
Jawab: Dalam sintesis protein dibutuhkan asam amino karena penyusun dasar
protein merupakan asam aminio, maka bahan dasar yang dibutuhkan untuk
mensistesis protein merupakan asam amino. Asam amino tersebut akan berderet-
deret sesuai dengan urutan polipeptidak yang diharapkan sesuai dengan perintah
pembentukan protein.
2. Bagaimana apabila terjadi perubahan kode-kode genetic DNA pada suatu
individu?
Jawab : Perubahan susunan DNA disebut mutasi. Demikian juga kesalahan dalam
penerjemahan kode-kode genetika merupakan suatu mutasi. Perubahan susunan
DNA terjadi akibat perubahan satu basa saja pada DNA dapat mengacaukan
pesan-pesan genetika, yang akan disampaikannya. Misalkan satu basa G pada gen
terlepas maka akan mengubah seluruh kodon yang dibawa oleh RNA-d. peristiwa
perubahan DNA ini disebut mutasi. Terjadinya mutasi dapat menyebabkan
terjadinya perubahan sifat yag diwariskan secara turun-menurun. Selain karena
perubahan pada DNA, mutasi dapat juga terjadi karena kesalahan penerjemahan
kode-kodegenetika. Dalam peristiwa ini DNA tidak berubah tetapi RNA-t salah
dalam menerjemahkan kodon.

Yunaida Dwi Permata / 150342607628 / Biologi / G


1. Bagaimana perbedaan karakter kode genetic untuk peran dan nama asam amino ?
Jawab : ada yang berfungsi sebagai agen pemotong gen atau tidak dapat
bersambung lagi dengan doubel helix asam amino yang berfungsi sebagai agen
pemotong gen diantaranya (UAA, UAG, UGA) yang kemudian ketiga kodon ini
kita sebut dengan kode stop. Beberapa sifat dari kode triplet diantaranya: Kode
genetik ini mempunyai banyak sinonim sehingga hampir setiap asam amino
dinyatakan oleh lebih dari sebuah kodon.
2. Bagaimana terjadinya degenerasi ?
Jawab : Terjadinya lebih dari satu kodon per asam amino yang disebut degenerasi.
Degenerasi dalam kode genetik tidak secara acak, sebaliknya, hal ini terjadi
dengan teratur. Beberapa kodon menentukan suatu asam amino hanya dengan pola
tertentu yaitu base ketiga atau 3 'dari kodon. Terdapat 2 jenis degenerasi yaitu:
degenerasi parsial dan degenerasi lengkap