Anda di halaman 1dari 11

III.

HASIL PENGAMATAN
1. Tabel klasifikasi
N Foto Spesies Klasifikasi
o
1 Rajungan Bulat (Portunus Kingdom : Animalia
pelagicus) Phyllum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Ordo : Decapoda
Famili : Portunidae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus pelagicus
(Kurnia, Mennofatria dan Zairion, 2014)
(Dok. Pribadi, 2017)
2 Udang Pancet (Penaeus Kingdom : Animalia
monodon) Phyllum : Arthropoda
Class : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Penaeidae
Genus : Penaeus
Species : Penaeus monodon Fabricus
(Suyanto dan Mudjiman, 1999)
(Dok. Pribadi, 2017)
3 Lobster Hias (Procambarus Kingdom : Animalia
clarkii) Phylum : Arthropoda
Class : Malacostraca
Order : Decapoda
Family : Cambaridae
Genus : Procambarus
Species : Procambarus clarkii
(Pedto , et., al, 2005).

(Dok. Pribadi, 2017)


2. Tabel Pengamatan

No Karakteristik SP1 SP2 SP3


1 Warna Tubuh Hitam Hitam Putih
2 Bentuk Bulat Simetris Simetris
3 Kaki Renang 1 pasang 5 Pasang 4 Pasang
4 Kaki Jalan 2 pasang 6 Pasang 4 Pasang
5 Tubuh menyatu antara kaki dan Ada Tidak ada Tidak ada
kepala
6 Antena Tidak ada 1 pasang 1 Pasang
7 Jumlah segmen abdomen 5 6 6
8 Bentuk mata Oval Bulat Bulat
9 Jumlah Carapace Ada Tidak ada Tidak ada
10 Ekor Tidak ada ada ada

Keterangan: - SP1: Rajungan Bulat (Portunus Pelagicus)


- SP2: Udang Pancet (Penacus Monodon)
- SP3: Lobster hias (Procambarus Clarkii)

2. Tabel Perbandingan

No SP1 SP2 SP3


1 0 0 1
2 0 1 1
3 0 1 1
4 1 0 1
5 0 1 1
6 0 1 1
7 0 1 1
8 0 1 1
9 0 1 1
10 0 1 1
Jumla 1 8 10
h

Perhitungan Matriks
Indeks Kesamaan
S = 2C X 100
%
A+
B
Keterangan: - C : Kesamaan
- A + B : jumblah spesies versus
Perhitungan matriks 1:
2 (0)
SP1 Vs SP2 = S = x 100
1+8
= 0%
2 (1)
SP1 Vs SP3 = S = x 100
1+10
= 18%
2 ( 8)
SP1 Vs SP3 = S = x 100
8+10
= 88%

3. diagram metriks 1
SP1 SP2 SP3
SP1 * 0% 18
%
SP2 * * 88
%
SP3 * * *
Dari diagram matriks diatas didapatkan nilai tertinggi nya adalah SP2 Vs SP1

Perhitungan matriks 2

SP (2,3) Vs SP1

( SP 2 x SP 1 ) + SP3 x SP 1 0+18
= =9
2 2

SP2,3 SP1
SP2,3 * 9%
SP1 * *

Dendogram
3. Pembahasan
Ketika binatang mulai muncul di bumi, bumi tidak berbentuk seperti
sekarang ini. Tidak ada tumbuhan, daratan masih kosong, bukit, gunung-
gunung dan lembah belum terbentuk. Lautan yang dangkal menyelimuti
sebagian besar permukaan bumi. Dari dalam lautan inilah tumbuhan dan
binatang mulai muncul. Sekitar 3,5 milliar tahun yang lalu, Bakteri-lah
barangkali makhkluk hidup yang pertama kali muncul di bumi dan
organisma primitive lainnya. Fosil tertua yang berhasil ditemukan adalah
bakteri yang berusia 3,5 milliar tahun. Binatang pertama adalah berupa
organisme satu sel yang hidup di dalam laut. Binatang-binatang yang
tidak bisa dilihat mata ini berenang dengan menggerakkan ekor yang
menyerupai cambuk. Selanjutnya secara bertahap binatang tubuhnya
berkembang menjadi banyak sel. Beberapa kelompok sel memiliki fungsi
yang berbeda. Sel-sel ini dikelompokkan kedalam beberapa struktur yang
memiliki fungsi untuk mencerna makanan, berkembang biak, bergerak,
dan penginderaan. Dengan semakin berkembangnya binatang menjadi
lebih kompleks, mereka juga tumbuh menjadi lebih besar. Binatang yang
besar membutuhkan tulang, untuk menyangga otot dan memberi bentuk
yang tetap. Tulang pertama yang terbentuk adalah cangkang atau
pelindung luar tubuh yang terbuat dari mineral-mineral yang keras.
Hampir semua binatang yang tidak bertulang belakang sudah terbentuk
pada akhir periode Cambrian, sekitar 500 juta tahun yang lalu. Semua
binatang masih tinggal di lautan. Sejenis kerang yang disebut trilobita
merayap di dasar lautan, binatang ini dalam perkembangan selanjutnya
menjadi serangga, kepiting, udang, dan laba-laba (Campbell, 2003).
Pada awalnya sebagian besar ahli sistematika telah menyetuji
bahwa kingdom hewan adalah monofiletik yaitu jika kita dapat melacak
semua garis keturunan hewan kembali ke asal mulanya, hewan akan
menyatu pada suatu nenek moyang bersama, nenek moyang
kemungkinan adalah suatu protista berflagella pembentuk koloni yang
hidup pada masa prakambrium yang berkerabat dengan koanoflagelata.
Dari bentuk awal yang menyerupai flagelata kemudian timbul flagelata
yang menyerupai flagelata yang ada sekarang. Hal ini sesuai dengan teori
George Cuvier yang membuktikan adanya persamaan antara organism
yang dulu dengan yang sekarang. Organisme inilah yang kemudian
mewakili kelompok protozoa, yang kemudian dari radiasi yang bersifat
adaptatif timbullah protozoa-protozoa yang lain, yaitu kelompok ameboid,
kelompok yang bersilia, dan protozoa yang bersifat parasit. Hewan ciliata
cenderung untuk mempertahankan bentuknya dari masa ke masa,
sedangkan hewan protozoa mempunyai bentuk adaptasi antara lain yang
hidup di air tawar dan yang hidup di daratan (Avise, 2001).
Dari hewan bersel satu, terjadi perubahan yang berupa hewan
bersel banyak. Diduga bahwa hewan bersel banyak mula mula
berbentuk bola yang berongga, terdiri dari sel-sel yang hanya satu lapis
saja. Berdasarkan hipotesis, hewan tersebut disebut blastea. Nama ini
diambil dari satu bentuk esensial yang selalu dilalui oleh setiap makhluk
hidup bersel banyak dalam perkembangan embriologinya. Alga dan
protozoa sekarang ini merupakan hasil radiasi yang pertama, sedangkan
blastea tidak lagi dijumpai, kecuali dalam bentuk blastula dalam
perkembangan embrio makhluk hidup bersel banyak. Bentuk blastea
merupakan bentuk yang memungkinkan untuk berkembang lebih jauh
yaitu pada radiasi kedua dan ketiga (Iskandar, 2001).
Evolusi invertebrata yang terdiri dari 30 filum dimulai dari nenek
moyang berupa protista yang hidup di laut. Protista bercabang tiga,
dimulai dari filum Porifera, filum Cnidaria, dan filum Plathyhelminthes.
Filum Plathyhelminthes bercabang menjadi tiga. Cabang pertama
bercabang lagi menjadi tiga dimulai dari filum Mollusca, filum Annelida,
dan filum Arthropoda. Cabang kedua menjadi filum Nematoda. Sedang
cabang ketiga menjadi dua, yaitu filum Echinodermata dan filum
Chordata. Dari evolusi invertebrata dapat kita ketahui bahwa evolusi
vertebrata berasal dari nenek moyang berupa Echinodermata.
Echinodermata akan berkembang menjadi Echinodermata modern
contohnya bintang laut, dan bulu babi, Hemichordata, Chordata primitif
yang terdiri dari Tunicata dan Lancelets, vertebrata modern yang terdiri
dari tujuh kelas yaitu: Agnata, Chondrichtyes, Osteichthyes, Ampibia,
Reptilia, Aves, dan Mammalia (Avise, 2001).
Keanekaragaman adalah perbedaan di antara makhluk hidup yang
hidup yang berbeda jenis dan spesiesnya, sedangkan pengertian
keanekaragaman hayati adalah keseluruhan variasi berupa bentuk,
penampilan, jumlah, dan sifat yang dapat ditemukan pada makhluk
hidup. Setiap makhluk hidup memiliki ciri dan tempat hidup yang
berbeda. Keanekaragaman makhluk terjadi karena adanya perbedaan
sifat, seperti: ukuran, bentuk, warna, fungsi organ, tempat hidup dan lain
lain. Keanekargaman makhluk hidup sangat penting bagi kelangsungan
dan kelestarian makhluk hidup. Suatu kelompok makhluk hidup yang
memiliki kelestarian tinggi, terdapat keanekaragaman yang tinggi.
Sebaliknya makhluk hidup yang memiliki tingkat kelestarian rendah,
terdapat keanekaragaman rendah dan terancam punah. Faktor-faktor
yang menyebabkan timbulnya keanekaragaman makhluk hidup adalah
mutasi adalah peristiwa perubahan yang disebabkan oleh faktor internal
seperti materi genetik atau faktor lingkungan, seperti radiasi dan suhu.
Rekombinasi adalah proses atau peristiwa yang berakibat terbentuknya
kombinasi gen baru pada kromosom. Individu baru dari reproduksi seksual
akan memiliki faktor keturunan dari kedua induknya (Leveque dan
Mounolou, 2003).
Keragaman genetik mengacu pada keragaman atau variabilitas
genetik dalam spesies. Setiap spesies individu memiliki gen yang
merupakan sumber dari fitur unik sendiri: Pada manusia, misalnya,
berbagai macam wajah orang mencerminkan individualitas genetik
masing-masing orang. Istilah Keragaman genetik juga mencakup populasi
yang berbeda dari spesies tunggal, seperti ribuan keturunan anjing yang
berbeda atau berbagai jenis mawar. Semua makhluk hidup dalam satu
spesies/jenis memiliki perangkat dasar penyusun gen yang sama. Gen
merupakan bagian kromosom yang mengendalikan ciri atau sifat suatu
organisme yang bersifat diturunkan dari induk/orang tua kepada
keturunannya. Gen pada setiap individu, walaupun perangkat dasar
penyusunnya sama, tetapi susunannya berbeda-beda bergantung pada
masing-masing induknya. Susunan perangkat gen inilah yang menentukan
ciri atau sifat suatu individu dalam satu spesies (Odum, 1993).
Dalam suatu keanekaragaman terdapat faktor-faktor yang
menyebabkan keanekaragaman tersebut terjadi, diantaranya adlah faktor
lingkungan dari habitat suatu keanekaragaman tersebut, perkawinan
silang antara satu spesies yang satu dan yang lainnya hal ini bertujuan
agar terbentuknya generasi penerus baru, selain itu juga terjadinya
perkawinan silang (hibridisasi) dan perkawinan antara dua individu
makhluk hidup sejenis menyebabkan keanekaragaman individu dalam
satu spesies berupa varietas-varietas (varitas) yang terjadi secara alami
atau secara buatan. Keanekaragaman yang terjadi secara alami adalah
akibat adaptasi atau penyesuaian diri setiap individu dengan lingkungan,
seperti pada rambutan. Faktor lingkungan juga turut mempengaruhi sifat
yang tampak (fenotip) suatu individu di samping ditentukan oleh faktor
genetiknya (genotip). Sedangkan keanekaragaman buatan dapat terjadi
antara lain melalui perkawinan silang (hibridisasi), seperti pada berbagai
jenis mangga. Keragaman jenis disebut juga keheterogenan jenis,
merupakan ciri yang unik untuk menggambarkan struktur komunitas di
dalam organisasi kehidupan. Suatu komunitas dikatakan mempunyai
keragaman jenis tinggi, jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi dan
sebaliknya keragaman jenis rendah jika hanya ter-dapat beberapa jenis
yang melimpah (Salam, 1994).
Menurut Schmera (2002), kekayaan spesies dan kesamaannya
dalam suatu nilai tunggal digambarkan dengan Indeks Deversitas. Indeks
diversitas merupakan hasil dari kombinasi kekayaan dan kesamaan
spesies. Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung
keanekaragaman adalah: NA = S (Pi) 1/(1-A) Dimana Pi = ukuran individu
(atau biomas, dll) yang dimiliki oleh satu species. menunjukkan bahwa
urutan 0, 1, dan 2 dari jumlah diversitas. Ada 2 indeks yang diperlukan
untuk melengkapi diversitas Hill yaitu:
1. Indeks Simpson
l = S Pi2
Dimana: Pi adalah kelimpahan proporsial tiap species dengan Pi = ni, i =
1, 2, 3, . . . . 5 dimana ni adalah jumlah individu pada species itu, N adalah
jumlah total inidividu yang diketahui untuk semua S species dalam
populasi itu nilai indeks ini dari 0 1 menunjukkan kemungkinan bahwa 2
individu yang diambil secara random dari suatu populasi untuk species
yang sama .
2. Indeks Shannon
Didasarkan pada teori informasi dan merupakan suatu hitungan
rata-rata yang tidak pasti dalam memprediksi individu species apa yang
dipilih secara random dari koleksi S species dan individual N akan dimiliki .
Rata-rata ini naik dengan naiknya jumlah species dan distribusi individu
antara species-species menjadi sama/merata. Ada 2 hal yang dimiliki oleh
indeks Shanon yaitu:
1. H=0 jika dan hanya jika ada satu species dalam sampel.
2. H adalah maksimum hanya ketika semua species S diwakili oleh jumlah
individu yang sama, ini adalah distribusi kelimpahan yang merata secara
sempurna. Adapun Indeks sorensen merupaka indeks yang diguanakan
untuk mencari tingkat kesamaan dari suatu spesies tertentu.
Keanekaragaman morfologi terjadi karena adanya peran dari faktor
tingkat gen, dimana gen mempengaruhi dalam keanekaragaman
morfologi ini karena sifat dari seorang induk akan diturunkan pada anak
nya baik itu sifat yang dominan maupun yang resesif. Tiap-tiap makhluk hidup
tersusun atas ribuan bahkan jutaan sel. di dalam inti sel tersebut tersimpan materi yang
menjadi pembawa sifat yaitu gen. Masing-masing individu membawa dan memilki variasi
susunan gen yang berbeda-beda hal tersebutlah yang menyebabkan terjadinya
keanekaragaman makhluk hidup di dalam satu spesies. Keanekakragaman pada tingkat gen
dapat kita amati dengan melihat perbedaan ciri-ciri yang dimiliki oleh makhluk hidup di
dalam suatu spesies. Contoh dari keanekaragaman gen adalah macam-macam ayam (ayam
hutan, ayam ras, ayam potong, ayam kate, ayam cemani, ayam sirama, dan sebagainya).
Pada praktikum yang telah dilakukan ini, hewan yang dijadikan bahan pengamatan
adalah dari kelas Crustaceae, dimana dari kelas ini hewan yang diamati ada 3 jenis, yaitu
Rajungan Bulat (Portunus Pelagicus), Udang Pancet (Penacus Monodon), dan Lobster hias
(Procambarus Clarkii). Dari ketiga jenis hewan tersebut sesuai dengan hasil pengamatan dan
terlihat dalam dendogram bahwa Udang Pancet (Penacus Monodon), dan Lobster hias
(Procambarus Clarkii) memiliki tingkat kekerabatan yang dekat yaitu mencapai 88%,
sedangkan dengan Rajungan Bulat (Portunus Pelagicus), kekerabatan nya sangat sedikit dan
jauh yaitu hanya 10%. Hal ini terjadi karena Udang Pancet (Penacus Monodon), dan Lobster
hias (Procambarus Clarkii) mempunyai kesamaan yang banyak dan dekat jika dibandingkan
dengan Rajungan Bulat (Portunus Pelagicus).

IV. KESIMPULAN
Pada praktikum yang telah dilakukan pada hewan yang diamati pada Rajungan Bulat
(Portunus Pelagicus) mempunyai tingkat kekerabatan sebesar 10%, sedangkan pada Udang
Pancet (Penacus Monodon), dan Lobster hias (Procambarus Clarkii) memiliki kekerabatan
yang sangat dekat, yaitu 88%. Tingkat kekerabatan ini berdasarkan dari tingkat spesies.

DAFTAR PUSTAKA

Avise J.C. 2001. Moleculer Markers, Natural History, And Evolution. New
York: Chapman and Hall Inc.
Campbell. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.
Iskandar, Djoko T. 2001. Catatan Kuliah Evolusi. Bandung : ITB
Kurnia R, Mennofatria Boer dan Zairion. 2014. Biologi populasi rajungan
(Portunus pelagicus) dan karakteristik lingkungan habitat esensialnya
sebagai upaya awal perlindungan di Lampung Timur. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia (JIPI). Vol. 19(1): 22-8.
Leveque, C. & J. Mounolou. 2003. Keanekaragaman Hayati. New York: John
Wiley.
Odum,E P, Samingan T. 1993. Dasar dasar ekologi. Yogyakarta: Gadjah
mada University Press.
Pedto M. Anastacio, Vasco S. Parente dan Alexandra M. Correia. 2005.
Crayfish Effects On Seeds And Seedlings: Identification And
Quantification Of Damage. Freshwater Biology. Vol. 50 (4): 697704.
Salam, Abdul. 1994. Keanekaragaman Genetik. Yogyakarta: Andi Offset.
Schmera D. 2002. Comparison Of Species Richness Of Light Trap-Collected
Caddisfly Assemblages (Insecta: Trichoptera) Using Rarefaction. Plant
Protection Institute Ot The Hungarian Academy Of Science. Vol.
34:77-83.
Suyanto, S.R. dan Mudjiman, A. 1999. Budidaya Udang Windu. Jakarta:
Penebar Swadaya.
LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA
KEANEKARAGAMAN HEWAN

Nama : Enung Padilah


NIM : 1157020019
Kelas : 4-A
Kelompok : 6 (Enam)
Dosen :Opik Taufiqurrahman S.Si., M.
Biotek
Asisten : Auliadinny
Tanggal Praktikum : Rabu, 1 Maret 2017
Tanggal Pengumpulan : Rabu, 8 Maret 2017

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017