Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH UTILITAS

INDUSTRI SUPERFOSAT DAN SODIUM TRIPOLIFOSFAT

Disusun oleh:
Rifqi Taufik A (08.2014.1.01620)
Hana Nur Aini (08.2014.1.01645)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena Berkat dan Rahmat
Nya, yang besar sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
INDUSTRI SUPERFOSFAT DAN SODIUM TRIPOLIFOSAT, tepat pada
waktunya.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas untuk memenuhi target
kurikulum pendidikan di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, juga dapat memberi
manfaat bagi para pembaca dimana bisa lebih memahami informasi & pengetahuan
tentang super fosfat dan sodium tripolifosfat
Kami menyadari, bahwa masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
peningkatan penulisan makalah pada masa mendatang.

Surabaya, 23 November 2016

Penulis

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fosfor merupakan salah satu nutrisi utama yang sangat penting dalam pertumbuhan
tanaman. Fosfor tidak terdapat secara bebas di alam. Fosfor ditemukan sebagai fosfat dalam
beberapa mineral, tanaman dan merupakan unsur pokok dari protoplasma. Fosfat terdapat
dalam tiga bentuk yaitu H2PO4-, HPO42-, dan PO43-. Fosfat umumnya diserap oleh
tanaman dalam bentuk ion ortofosfat primer H2PO4- atau ortofosfat sekunder HPO42-
sedangkan PO43- lebih sulit diserap oleh tanaman. Fosfat dipasarkan dengan berbagai
kandungan P2O5, antara 4-42 %. Sementara itu, tingkat uji pupuk fosfat ditentukan oleh
jumlah kandungan N (nitrogen), P (fosfat atau P2O5), dan K (potas cair atau K2O).
Fosfat sebagai pupuk alam tidak cocok untuk tanaman pangan, karena tidak larut
dalam air sehingga sulit diserap oleh akar tanaman pangan. Fosfat untuk pupuk tanaman
pangan perlu diolah menjadi pupuk buatan. Di Indonesia, jumlah cadangan yang telah
diselidiki adalah 2,5 juta ton endapan guano (kadar P2O5= 0,17-43 %). Keterdapatannya di
Propinsi Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah
dan NTT, sedangkan tempat lainnya adalah Sumatera Utara, Kalimantan, dan Irian Jaya.
Eksplorasi fosfat dimulai sejak tahun 1919. Umumnya, kondisi endapan fosfat
guano yang ada ber-bentuk lensa-lensa, sehingga untuk penentuan jumlah cadangan, dibuat
sumur uji pada kedalaman 2 -5 meter. Penggunaan asam fosfat, garam-garam fosfat dan
turunannya meningkat dengan pesat. Dalam beberapa dasawarsa terakhir industri fosfat
mengalami banyak kemajuan dalam menurunkan biaya produksi. Hal tersebut yang
menyebabkan fosfor, asam fosfat dan garam-garam fosfat banyak dipakai dalam bidang
yang lebih luas dan banyak dibuat turunan barunya.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari super fosfat dan sodium tripolifosfat ?
2. Apa saja kegunaan dari super fosfat dan sodium tripolifosfat ?
3. Bagaimana cara pembuatan super fosfat dan sodium tripolifosfat ?

1.3 Tujuan Makalah


1. Untuk menjelaskan pengertian dari super fosfat dan sodium tripolifosfat.
2. Untuk mengetahui kegunaan super fosfat dan sodium tripolifosfat.
3. Untuk mengetahui cara pembuatan super fosfat dan sodium tripolifosfat.

BAB 2

PEMBAHASAN

2
2.1 Super Fosfat
Pupuk superfosfat ; terbuat dari fosfat alam yang dicampur dengan asam belerang.
Pupuk superfosfat berbentuk bubuk yang berwarna abu abu dengan kandungan fosfat antara
1420 %. Sifatnya mudah larut dalam air dan agak sedikit higroskopis. Pupuk ini juga
mampu mengikat amoniak. Pupuk superfosfat buatan ini terdiri dari beberapa macam yaitu
Normal Superfosfat (DS) dan Triple Superfosfat (TSP).
Superfosfat merupakan pupuk yang dapat bereaksi dengan cepat. Hal ini disebabkan
oleh mudah larutnya kalsium fosfat asam primer. Di dalam pabrik superfosfat, kalsium
fosfat alam diolah dengan asam sulfat menjadi kalsium fosfat primer, Reaksinya
berlangsung sebagai berikut :
Ca3(PO4)2 + 2 H2SO4 Ca(H2PO4)2 + 2 CaSO4
Pada tanah yang mengandung kalsium, maka kalsium fosfat asam primer bereaksi
dengan kalsium bikarbonat, sehingga terjadilah kalsium fosfat asam sekunder dan
selanjutnya trikalsium fosfat :
Ca(H2PO4)2 + Ca(HCO3)2 2 CaHPO4 + 2 H2O + 2 CO2
2 CaHPO4 + 2 H2O + 2CO2 Ca3(PO4)2 + 2 H2O + 2 CO2
Dengan cara inilah kalsium fosfat yang tidak larut mengendap di dalam tanah dalam
bentuk yang sangat halus. Karena sangat halusnya, maka sangat mudah ditransformasi
dengan asam karbonat dan asam lainnya menjadi kalsium fosfat asam primer yang mudah
diserap (Rinsema,1993).

2.1.1 Proses Pembuatan Super fosfat


Proses pembuatan super fosfat pada umumnya ada empat cara yaitu :
1. Menyiapkan batuan fosfat
2. Mencampurkannya dengan larutan acid
3. Penguapan dan pengeringan slurry dari batuan fosfat diatas
4. Penggilingan, dan pengepakan hasil jadi dari super fosfat tersebut

3
Normal superfosfat (OSP) biasanya dapat dihasilkan reaksi stokiometri antara batu
fosfat (Ca5(PO4)3F2) dengan fosfat asam sulfat (H2SO4) dan penambahan air (H2O).
Sedangkan Triple Superfosfat dibuat dengan mengasamkan batuan fosfat oleh asam fosfat.
Triple superfosfat mengandung P2O5 berkisar 46-50%. Dalam triple superfosfat ini tidak
berbentuk gips (CaSO4).
Berikut adalah diagram alur proses pembuatan normal super fosfat dan triple
superfosfat
Gambar 1.1 Pembuatan Normal Super fosfat
Gambar 1.2 Pembuatan Triple Super Fosfat

2.2 Sodium Tripolifosfat


Salah satu produk turunan dari fosfat adalah sodium tripolyphosphate (STPP).
Sodium tripolyphosphate yang memiliki rumus molekul Na 5P3O10 disebut juga dengan
sodium triphosphate merupakan senyawa anorganik padat yang termasuk kelompok
senyawa condensed inorganic phosphate. Sodium tripolyphosphate dapat digunakan secara
aman sebagai aditif yang banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas makanan,

4
terutama produk daging dan ikan. Zat ini juga digunakan dalam pembuatan baking powder,
minuman cola serta deterjen.
Sodium tripolyphosphate dapat dibuat dari asam fosfat yang dimurnikan dengan
amoniak dan menghasilkan monoammonium phosphate. Monoammonium phosphate
kemudian direaksikan dengan natrium karbonat sehingga menghasilkan sodium
ammonium phosphate. Sodium ammonium phosphate yang dihasilkan lalu direaksikan
dengan natrium hidroksida menghasilkan orthophosphate. Orthophosphate dikonversi
menjadi sodium tripolyphosphate dengan proses pemanasan.
2.2.1 Proses Pembuatan Sodium TripoliFosfat
Proses pembuatan sodium tripolyphosphate dari asam fosfat dan natrium
karbonat secara garis besar terdiri dari tiga proses utama, yaitu:
1. Tahap Pemurnian bahan baku
Tahap ini dilakukan untuk meningkatkan kemurnian asam fosfat agar produk yang
terbentuk mempunyai kemurnian yang tinggi. Pemurnian asam fosfat dapat dilakukan
dengan dua macam proses yaitu presipitasi dan ekstraksi atau reaksi dengan amoniak.
1.a. Presipitasi dan Ekstraksi
Pada proses ini dihasilkan endapan kalsium sulfat. Kandungan unsur fluor dalam
asam dihilangkan dengan menambahkan natrium karbonat. Endapan Na2SiF6 dan NaF
dihilangkan lebih lanjut dengan cara filtrasi. Dihasilkan NaH 2PO4 dalam proses ini.
Selanjutnya komponen organik dalam asam akan diadsorpsi dalam lapisan karbon aktif.
Tahap ekstraksi dilakukan untuk memisahkan asam dari komponen lain yang tidak bias
dipisahkan dari proses sebelumnya. Solvent yang digunakan yaitu tri n-butylphosphate
(TBP).
1.b. Reaksi dengan Amoniak
Proses pemurnian larutan asam fosfat bisa juga dilakukan dengan menggunakan
amoniak. Metode ini didasarkan dari teori bahwa impurities akan bereaksi dengan basa dan
terpisah dari larutan induknya. Kandungan impurities kemudian dipisahkan dalam
centrifuge sehingga diperoleh larutan yang bebas impurities. Bahan baku asam fosfat
direaksikan dengan amoniak sehingga menghasilkan monoammonium phosphate. Dari
kedua proses pemurnian asam fosfat yang ada, dipilih reaksi dengan amoniak. Alasannya

5
adalah tahapan yang dibutuhkan lebih sedikit sehingga jenis alat yang digunakan lebih
sedikit dan membutuhkan biaya yang lebih rendah.
Selain itu proses ini tidak membutuhkan solvent seperti pada proses presipitasi dan
reaksi. Pada presipitasi, solvent yang digunakan tidak dapat di-recovery sehingga terjadi
pemborosan (Walters, Jr., 1979).
2. Tahap Pembentukan campuran orthophosphate
Larutan asam fosfat yang dimurnikan dengan presipitasi dikonversi menjadi larutan
orthophosphate melalui proses netralisasi. Netralisasi dilakukan dengan menambahkan
sodium dihydrogen phosphate (NaH2PO4) dan natrium karbonat. Dalam proses ini, larutan
asam akan terkonversi menjadi larutan orthophosphate yang terdiri dari natrium
orthophosphate dan disodium orthophosphate dengan perbandingan mol 1:2. Larutan
orthophosphate akan dikonversi menjadi sodium tripolyphosphate dengan proses
pemanasan. Sementara itu monoammonium phosphate yang terbentuk dari reaksi asam
fosfat dengan amoniak direaksikan dengan natrium karbonat membentuk sodium
ammonium phosphate. Sodium ammonium phosphate direaksikan dengan NaOH
membentuk larutan orthophosphate dengan perbandingan natrium orthophosphate dan
disodium orthophosphate sebesar 1:2
3. Tahap Pemanasan
Tahap ini bertujuan untuk mengkonversi orthophosphate menjadi sodium
tripolyphosphate dan mengeringkan produk akhir. Terdapat dua jenis proses pemanasan
orthophosphate, yaitu single stage (satu tingkat) dan two stages (dua tingkat). Perbedaan
kedua proses tersebut terletak pada alat yang digunakan.
3.a. Single Stage Process
Pada single stage processkonversi larutan orthophosphate menjadi sodium
tripolyphosphate terjadi dalam satu alat, yaitu spray dryer atau rotary kiln. Pada banyak
proses, lebih banyak digunakan spray dryer. Salah satu proses single stage adalah Hoechst
Knapsack (Ullmann, 2005). Larutan orthophosphate disemburkan dengan tekanan 1-2
MPa. Disekitar nozzle terdapat alat pembakar yang akan menghasilkan daerah api yang
mengerucut pada bagian puncak menara. Larutan disemburkan dari bagian atas menara.
Gas panas mengalir secara concurrent dengan larutan. Dehidrasi larutan orthophosphate

6
terjadi dengan cepat dan terkonversi menjadi triphosphate. Sodium tripolyphosphate yang
terbentuk ditampung pada bagian tower cone. Partikel-partikel kecil yang terbawa aliran
gas dipisahkan dengan menggunakan cyclone.
Gambar 1.1.Pembuatan Sodium Tripolyphosphate Satu Tahap (Single Stage)
3.b. Two Stages Process
Pada two stages process larutan orthophosphate dikonversi menjadi sodium
tripolyphosphate dengan proses pemanasan dan calcination. Larutan orthophosphate
dipekatkan terlebih dahulu dalam evaporator kemudian pengeringan dilakukan dalam dryer.
Sodium tripolyphosphate dihasilkan melalui proses calcination didalam rotary kiln.
Temperatur dalam rotary kiln diatur pada 300600 C. Dari kedua proses pemanasan yang
ada, dipilih proses pemanasan two stages. Proses two stages menghasilkan padatan sodium
tripolyphosphate yang lebih kering karena mengalami dua kali proses pemanasan.

7
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

8
DAFTAR PUSTAKA

US Patent No. 3.030.180. 1962. Manufacture Of Sodium Tripolyphosphate. United States


Pantent Office: USA
US Patent No.3.421.846. 1969. Production Of Sodium Phosphate. United States Pantent
Office: USA
US Patent No. 4.376.867, 1983.Manufacture of sodium tripolyphosphate. United States
Pantent Office: USA
Wallas, M.1990. Chemical Process Equipment. Butterworth-Heinemann : Boston
Wiedy Paristya, 2013. Formulasi Larutan Detergen Dari Natrium Dodisel Sulfat dan
Sintesis Natrium Dodesilbenzena Sulfonat. Universitas Diponegoro. Semarang.