Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

Eunike Vidya Pandie


TRAUMA KIMIA
1. Diagnosis
a. Anamnesis
- Nyeri (sangat nyeri sering kali)
- Terasa mengganjal (seperti ada benda asing)
- Penglihatan kabur
- Silau (fotofobia)
- Mata merah
- Mata berair (lakrimasi)
- Pada trauma yang parah mata tidak berwarna merah namun akan tampak
putih (karena iskemik pada pembuluh darah)
- Kelopak mata bengkak karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah
- Riwayat cairan atau gas yang disemprotkan atau disiram mata atau jatuh
ke mata.
b. Pemeriksaa fisik
- Inspeksi : edema kelopak mata, hiperemis konjungtiva, kemosis
- Pemeriksaan visus penurunan visus mendadak akibat defek pada
kornea
- Pemeriksaan TIO dapat terjadi peningkatan TIO akibat deformitas dan
pengurangan serabut kolagen
c. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan dengan kertas lakmus atau dengan menggunakan PH
universal
- Tes flouresin dilakukan untuk mengetahui kerusakan epitel kornea

2. Tatalaksana
- Membersihkan bahan kimia melalui irigasi
Pengobatan untuk semua trauma kimiawi harus dimulai sesegera
mungkin. Ini adalah satu-satunya cara untuk dapat mempertahankan
kemampuan penglihatan, adalah untuk memulai irigasi sesegera mungkin
dan mempertahankannya sedikitnya sekitar 30 menit. Tujuan dari
pengobatan pada luka bakar kimiawi adalah untuk mengurangi
peradangan, nyeri, dan resiko infeksi. Jika pasien datang ke tempat
praktek atau ke unit gawat darurat, larutan garam fisiologis adalah yang
terpilih, akan tetapi, jika tidak tersedia, air keran dapat digunakan. Mata
dapat diberikan anestetik bila diperlukan untuk memfasilitasi irigasi yang
baik. Pemeriksaan pH dari air mata dengan kertas lakmus jika tersedia
dilakukan setiap 5 menit dan dilanjutkan sampai pH menjadi netral
(warna kertas akan berubah menjadi biru jika terkena basa dan menjadi
merah jika terkena asam). Larutan steril dengan osmolaritas tinggi seperti
larutan amphoter (Diphoterine) atau larutan buffer (BSS atau Ringer
Laktat) merupakan pembilas ideal. Jika tidak tersedia, larutan garam
isotonis steril merupakan pembilas yang cocok. Larutan hipotonik, seperti
air biasa, dapat menyebabkan penetrasi lebih dalam dari larutan korosif
kedalam struktur kornea karena kornea memiliki gradien osmotik yang
lebih tingi (420 mOs/L)
- Memfasilitasi proses reepiteliasi kornea
Setelah bahan kimia dibersihkan dari permukaan bola mata, proses
reepiteliasi mulai terjadi. Proses ini dapat difasilitasi dengan pemberian
air mata artifisial, karena pada mata yang terkena trauma kimia, produksi
air mata cenderung tidak stabil. Sebagai tambahan, beberapa ahli
mengajukan penggunaan vitamin C oral (sampai dengan 2 gram QID)
karena telah terbukti meningkatkan produksi kolagen

- Mengendalikan proses peradangan


Pemberian steroid topikal adalah penting untuk mencegah infiltrasi sel-sel
netrofil sehingga akan mencegah pengumpulan kolagenase dan
menurunkan pembentukan fibroblas pada kornea, namun penggunaan
steroid tidak boleh digunakan untuk lebih dari satu minggu karena
menghambat reepitelisasi (vaughan) yang mengakibatkan resiko
melelehnya korneosklera. Tetapi, beberapa referensi lain
mempermasalahkan resiko potensi infeksi dan ulserasi yang melebihi
keuntungan yang didapatkan. Pemberian sitrat selain mempercepat proses
penyembuhan kornea, juga dapat menghambat agregasi sel PMN via
penghambatan ion kalsium. Sedangkan pemberian asetilsistein (10% atau
20%) dapat memfasilitasi proses kolagenasi sehingga menghambat
ulserasi kornea, walaupun penggunaan secara klinis masih dalam
perdebatan
- Mencegah terjadinya infeksi
Pasien dengan trauma pada kornea, konjungtiva, dan sklera dapat
dilakukan pemberikan antibiotik tetes mata atau salep mata topical
profilaksis. Pilihan antibiotik adalah yang berspektrum luas, seperti
tobramisin, gentamisin, siprofloxacin, norfloxacin, bacitrasin. Neomycin
dan golongan sulfa lebih jarang digunakan karena banyaknya kasus
alergi. Pada trauma kimia ringan hingga sedang, Pemberian salep
antibiotik dapatdiberikan tiap 1 sampai 2 jam.
- Mengendalikan tekanan intra okuler
Peninggian tekanan intraokular harus diterapi dengan Diamox jika perlu,
namun pemberian beta-blocker topikal dapat digunakan sendirian maupun
sebagai tambahan.
- Menurunkan rasa nyeri
Pemberian sikloplegik dapat membantu dalam pencegahan spasme siliar.
Ditambah lagi, bahan ini dipercaya menstabilisasi permeabilitas
pembuluh darah yang oleh karenanya, mengurangi peradangan dan
menurunkan rasa nyeri. Homatropine 5% sering direkomendasikan
karena memiliki masa kerja rata-rata 12-24 jam, waktu dimana pasien
harus menemui ahli mata untuk pemeriksaan lanjutan. Sikloplegik jangka
panjang, seperti scopolamine dan atropine, lebih jarang digunakan

- Terapi pembedahan tambahan jika terdapat gangguan penyembuhan luka


setelah trauma kimiawi yang amat parah
Suatu transplantasi conjunctival dan limbal (stem cell transfer) dapat
mengganti sel induk yang hilang yang penting untuk penyembuhan
kornea. Sehingga akan menyebabkan re-epitelisasi. Jika kornea tidak
mengalami penyembuhan, suatu lem cyanoacrylate dapat digunakan
untuk melekatkan suatu hard contact lens (epitel buatan) untuk membantu
penyembuhan. Prosedur Tenons capsuloplasty (mobilisasi dan penarikan
maju suatu flap [lembaran/sayap] dari jaringan subconjunctival ke
kapsula Tenons untuk menutupi defek yang ada) dapat membantu
menghilangkan defek pada konjunctiva dan sclera.
- Penatalaksanaan bedah lanjutan setelah mata stabil
Lisis dari symblepharon untuk meningkatkan motilitas okuler dan
palpebra. Bedah plastik pada palpebra untuk membebaskan bola mata. Ini
hanya boleh dilakukan sekitar 12 sampai 18 bulan setelah cedera. Jika
terdapat kehilangan total dari sel goblet, transplantasi dari mukosa nasal
biasanya menghilangkan nyerinya. Penetrating keratoplasty dapat
dilakukan untuk mengembalikan pengelihatan. Karena kornea yang rusak
sangat banyak mendapatkan vaskularisasi, prosedur ini diwarnai oleh
banyaknya insidensi penolakan cangkokan. Kornea yang jernih jarang
bisa didapatkan pada mata yang mengalami trauma parah bahkan dengan
suatu cangkok kornea dengan tipe HLA yang sama dan terapi
imunosupresif
3. Prognosis
Trauma kimia basa biasanyaa lebih parah dibandingkan asam karena dapat
terkena pada bagian mata yang lebih dalam.
At vitam : dubia ad bonam karena pasien masih dapat hidup
At fungsional : dubia karena bergantung pada derajatnya
At sanationam :dubia karena ini merupakan trauma apabila segera ditangani
dengan tepat maka kemungkinan baik.

Derajat 1: kornea jernih dan tidak ada iskemik limbus (prognosis sangat baik)
Derajat 2: kornea berkabut dengan gambaran iris yang masih terlihat dan terdapat
kurang dari 1/3 iskemik limbus (prognosis baik)
Derajat 3: epitel kornea hilang total, stroma berkabut dengan gambaran iris tidak jelas
dan sudah terdapat iskemik limbus (prognosis kurang)
Derajat 4: kornea opak dan sudah terdapat iskemik lebih dari limbus (prognosis
sangat buruk)