Anda di halaman 1dari 2

Pertanyaan :

Jika Pihak dalam Perjanjian Beriktikad Buruk


Mohon penjelasan, apakah setiap perjanjian yang sudah disepakati oleh para pihak itu tetap
berkekuatan mengikat, sekalipun salah satu pihak telah melakukan iktikad buruk?
Jawaban :
Berdasarkan Pasal 1320 BurgerlijkWetboek (BW atau KUH Perdata), ada 4
(empat) syarat sahnya suatu perjanjian, yakni: (1) sepakat mereka yang
mengikatkan dirinya; (2) kecakapan para pihak untuk membuat perjanjian; (3)
mengenai suatu hal tertentu (ada objeknya); dan ada suatu sebab (causa)
yang halal.

Dengan demikian, apabila suatu perjanjian sudah memenuhi syarat sahnya


perjanjian (termasuk telah disepakati oleh para pihak), maka sepanjang syarat
lainnya juga terpenuhi (jika ada), perjanjian dimaksud tentu mempunyai kekuatan
hukum yang mengikat (beginzel dercontract vrijheid). Demikian juga perjanjian
tersebut mengikat sebagai -dan merupakan- undang-undang (pacta sun
servanda) bagi mereka yang membuatnya (vide Pasal 1338 BW).

Sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian, yang dimaksud


dengan sepakat(Prof. Subekti, hal. 17), adalah konsensus untuk seia sekata
(consensual) di antara para pihak. Dalam arti, apa yang dikehendaki oleh pihak
yang satu, juga dikehendaki oleh pihak lainnya. Tidak ada unsur-unsur
kehilafan (dwaling), tidak karena paksaan (dwang) dan juga bukan karena
penipuan (bedrog) dari satu pihak terhadap pihak lainnya secara bertimbal-balik
(Pasal 1321 BW).

Oleh karena itu, suatu perjanjian harus disertai dengan iktikad baik
atau goodfaith, (vide Pasal 1338 ayat [3] BW). Apabila salah satu pihak
mempunyai niat buruk (istilah Saudara: salah satu pihak telah melakukan iktikad
buruk), maka menurut hemat kami, pihak yang bersangkutan telah sejak awal
ada niat buruk (untuk melakukan penipuan) terhadap pihak lainnya sehingga
tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian. Artinya, perjanjian yang mengandung
unsur penipuan yang dilakukan dan diniatkan oleh salah satu pihak, atau
mungkin juga- oleh kedua belah pihak dalam konteks yang sebaliknya, tentu
tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian.

Dengan perkataan lain, bilamana secara umum syarat sepakat tersebut tidak
terpenuhi (dengan adanya penipuan), maka perjanjian dimaksud dapat
dibatalkan (voidable). Namun, karena syarat yang diabaikan adalah syarat
subjektif (yakni unsur sepakat), maka apabila salah satu pihak tidak berkenan
dengan perjanjian yang mengandung unsur penipuan dimaksud, pihak lainnya
dapat membatalkan (voidable). Maksudnya, pihak yang tidak suka dengan
perjanjian (yang mengandung unsur penipuan) tersebut, dapat melakukan upaya
pembatalan, dan tidak batal dengan sendirinya (null and void).

Demikian opini kami, mudah-mudahan dapat menambah wawasan Saudara.

Dasar hukum:
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No.
23)