Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP PROFESI


2.1.1. Pngertian Profesi
Profesi adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris "Profess", dan dalam
bahasa Yunani adalah "", yang bermakna, "janji untuk memenuhi kewajiban
melakukan suatu tugas khusus secara tetap atau permanen".

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap


suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik,
serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh
profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer, teknik dan desainer.

Berikut beberapa istilah profesi yang dikemukakan oleh para ahli :

1. Wilensky (1964)
Profesi berasal dari profession yang berarti suatu pekerjaan yang membutuhkan
dukungan dengan badan ilmu (body of knowledge) sebagi dasar untuk pengembangan teori
yang sistematis guna menghadapiu banyak tantangan baru, memerlukan pendidikan dan
pelatihan yang cukup lama, serta memiliki kode etik denganj focus utama pada pelayanan
(altruism).
2. Schein E. H (1962)
Profesi merupakan suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set
norma tertentu dan berasal dari perannya yang khusus di masyarakat.
3. Hughes
Profesi merupakan suatu keahlian dalam mengetahui segala sesuatu dengan lebih baik
disbanding orang lain (klien).
4. Hamid A. Y (1996)
Profesi merupakan pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan
bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu
5. DeYoung (1985)
Profesi merupakan keterkaikatan adanya 7 elemen yang memiliki dasar ilmu yang
kuat berorientasi pada pelayanan,mempunyai otoritas,memiliki kode etik,mempunyai
organisasi profesi,melakukan penelitian secara terus menerus serta memiliki otonomi.
2.1.2 Kriteria Profesi
Menurut Moore dalam Martinis Yamin (2009: 14) profesi memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Seorang profesional menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaanya;
2. Ia memperlakukan pekerjaannya sebagi seperangkat norma kepatuhan dan perilaku;
3. Ia anggota organisasi profesional yang formal;
4. Ia menguasai pengetahuan yang berguna dan keterampilan atas dasar latihan dan
spesialisasi atau pendidikan yang khusus;
5. Ia terikat dengan syarat-syarat kompetensi, kesadaran prestasi, dan pengabdian;
6. Ia memperoleh otonomi dengan berdasarkan spesialisasi teknis yang tinggi.
Sedangkan menurut Komisi Kebijaksanaan NEA Amerika Serikat dalam Martinis
Yamin (2009: 15) menyebutkan kriteria profesi sebagai berikut:
1. Profesi didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikhususkan;
2. Profesi mengejar kemajuan dalam kemajuan dalam kemampuan anggotanya;
3. Profesi melayani kebutuhan para anggotanya;
4. Profesi memiliki norma-norma etis;
5. Profesi memperngaruhi kebijaksanaan pemerintahan di bidangnya;
6. Profesi memiliki solidaritas kelompok profesi.

2.1.3 Pengertian Keperawatan sebagai Profesi


Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian
integral pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan meliputi aspek
biologi,psikologi,sosial dan spiritual yang bersifat komprehensif ditujukan kepada
individu, keluarga dan masyarakat yang sehat maupun sakit mencangkup siklus hidup
manusia untuk mencapai derajat kesehatan optimal. (Lokakarya Nasional
Keperawatan, 1983).
Keperawatan sebagai profesi merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam
menentukan tindakannya didasarkan pada ilmu pengetahuan serta memiliki
keterampilan yang jelas dalam keahliannya.
Dengan adanya perkembangan keperawatan dari kegiatan yang sifatnya rutin
yang menjadi pemenuhan kebutuhan berdasarkan ilmu, membawa suatu perubahan
yang sangat besar dalam dunia keperawatan karena pelayanan yang semula hanya
berdasarkan pada insting dan pengalaman menjadi pelayanan keperawatan profesional
berdasarkan ilmu dan teknologi keperawatan yang selalu berubah sesuai dengan
kemajuan zaman. Perawatan sebagai profesi mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Memiliki body of knowledge
Perawat bekerja dalam kelompok dan dilandasi dengan teori yang
spesifik dan sistematis yang dikembangan melalui penelitian. Penelitian
keperawatan yang dilakukan pada tahun 1940, merupakan titik awal
perkembangan keperawatan. Pada tahun 1950 dengan semakin
berkembangnya penelitian yang dilakukan mempunyai kontribusi yang cukup
besar dalam dunia pendidikan keperawatan dan pada tahun 1960 penelitian
lebih banyak dilakukan pada praktik keperawatan. Sejak tahun 1970,
penelitian keperawatan lebih banyak dilakukan dengan memfokuskan diri
pada praktik yang dihubungkan dengan isu-isu yang ada pada saat itu.
Menurut Potter dan Perry (1997), perawat telah memperlihatkan diri
sebagai profesi dan dapat terlihat adanya pengetahuan keperawatan telah
dikembangkan melalui teori-teori keperawatan. Model teori memberikan
kerangka kerja bagi kurikulum dan praktik klinis keperawatan. Teori
keperawatan mendorong ke arah penelitian yang meningkatkan dasar ilmiah
untuk praktik keperawatan.
b. Berhubungan dengan nilai-nilai sosial
Kategori ini mendorong profesi untuk mendapatkan penghargaan yang
cukup baik dari masyarakat. Keperawatan telah diberi kepercayaan untuk
menolong dan melayani orang lain/klien. Pada awalnya perawat diharapkan
dapat menyisihkan sebagian besar waktunya untuk melayani, tetapi dengan
semakin berkembangnya ilmu keperawatan tuntutan tersebut telah bergeser,
perawat juga mengharapkan kompensasi dan mempunyai kehidupan yang lain
disamping perannya sebagai perawat.
Karakteristik keperawatan merupakan suatu bentuk yang relevan
dengan nilai-nilai masyarakat, seperti pentingnya kesehatan, kesembuhan dan
keperawatan.
Masyarakat pada umumnya mengakui bahwa perawat mempunyai
tugas untuk melawan klien dan juga melakukan upaya-upaya dalam promosi
kesehatan dan pencegahan penyakit tetapi masih ada sebagian masyarakat
yang belum mengetahui bahwa perawat adalah sebuah profesi. Untuk itu perlu
adanya usaha dari perawat itu sendiri agar dapat meyakinkan masyarakat guna
mendapatkan pengakuan sesuai dengan yang diinginkannya.
c. Masa pendidikan
Kategori ini mempunyai empat bagian tambahan yaitu isi pendidikan,
lamanya pendidikan, penggunaan simbol dan proses idealisme yang dituju
serta tingkatan dari spesialisasi yang berhubungan dengan praktik. Menurut
Nightingale pendidikan keperawatan harus melibatkan dua area penting yaitu
teori dan praktik yang sampai saat ini masih dianut. Perkembangan pendidikan
keperawatan dewasa ini sama dengan bidang ilmu yang lain, yaitu pendidikan
tinggi.
Pendidikan tinggi menimbulkan perubahan yang sangat berarti bagi
perawat terhadap cara pandang asuhan keperawatan secara bertahap
keperawatan beralih dari yang semulai berorientasi pada tugas menjadi
berorientasi pada tujuan yang berfokus pada asuhan keperawatan yang efektif
serta menggunakan pendekatan holisitik dan proses keperawatan.
d. Motivasi
Motivasi untuk bekerja merupakan kategori keempat dari Pavalko.
Motivasi bukan hanya secara individu tetapi juga menyeluruh dalam
kelompok. Motivasi diartikan sebagai suatu perhatian yang mengutamakan
pelayanan kelompok keperawatan kepada klien. Ada beberapa pendapat
bahwa saat ini anak-anak muda menginginkan menempuh pendidikan tinggi
agar dapat mempunyai kehidupan yang lebih baik seperti mendapatkan gaji
lebih, kekuasaan, status disamping pekerjaan yang dilakukannya. Biasanya
karakteristik ini tidak diasosiasikan dengan profesi keperawatan, walaupun
demikian banyak perawat yang melakukan pelayanannya dengan
berorientasikan kepada klien/pasien mereka dengan baik.
e. Otonomi
Kategori kelima Pavalko adalah kebebasan untuk mengontrol dan
mengatur dirinya sendiri. Profesi mempunyai otonomi untuk regulasi dan
membuat standar bagi anggotanya. Hak mengurus diri sendiri merupakan
salah satu tujuan dari asosiasi keperawatan, karena hal ini juga berarti
keperawatan mempunyai status dan dapat mengontrol seluruh kegiatan praktik
anggotanya. Otonomi juga dapat diartikan sebagai suatu kebebasan dalam
bekerja dan pertanggungjawaban dari suatu tindakan yang dilakukannya.
f. Komitmen
Kategori keenam adalah komitmen untuk bekerja. Manusia yang
komitmen untuk bekerja menunjukkan adanya suatu keunggulan, untuk
melaksanakan pekerjaannya dengan baik, mencegah terjadinya kemangkiran,
menekuni pekerjaannya seumur hidup atau dalam periode waktu yang lama.
Komitmen perawat juga dapat menurun, hal ini terjadi karena kebanyakan dari
perawat adalah wanita, yang harus membagi perhatiannya dengan keluarga,
sehingga mereka sering mengalami konflik yang berkepanjangan dan kadang-
kadang harus keluar dari pekerjaannya.
Orientasi karir juga merupakan salah satu ciri dari komitmen, karena
dengan adanya pengembangan karir melalui pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi membuat perawat dapat bekerja dengan lebih baik dan bertanggung
jawab dalam melakukan asuhan keperawatan.
g. Kesadaran bermasyarakat
Kesadaran bermasyarakat bagi perawat diartikan sebagai anggota
kelompok yang ikut mengambil bagian dalam persamaan pedoman, nasib serta
memiliki kebudayaan tersendiri. Perawat mempunyai simbol-simbol yang
dikenal masyarakat sebagai ciri yang khas dari sebuah profesi seperti seragam
putih, pin dan cap. Walaupun akhir-akhir ini banyak yang mengubah identitas
tersebut, tetapi perawat telah memiliki perasaan yang kuat untuk tetap bersatu
dalam kelompoknya.
h. Kode etik
Eksistensi kode etik merupakan kategori terakhir dari Pavalko. Etika
keperawatan merujuk pada standar etik yang membimbing perawat dalam
praktik sehari-hari seperti jujur terhadap pasien, menghargai pasien atas hak-
hak yang dirahasiakannya dan beradvokasi atas nama pasien.
Etika keperawatan ditujukan untuk mengidentifikasi,
mengorganisasikan, memeriksa dan membenarkan tindakan-tindakan
kemanusiaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu, selain itu juga
menegaskan tentang kewajiban-kewajiban yang secara suka rela diemban oleh
perawat dan mencari informasi mengenai dampak dari keputusan-keputusan
perawat yang mempengaruhi kehidupan dari pasien dan keluarganya. Ciri dari
praktik profesional adalah adanya komitmen yang kuat terhadap kepedulian
individu, khususnya kekuatan fisik, kesejahteraan dan kebebasan pribadi,
sehingga dalam praktik selalu melibatkan hubungan yang bermakna. Oleh
karena itu seorang profesional harus memiliki orientasi pelayanan, standar
praktik dan kode etik untuk melindungi masyarakat serta memajukan profesi.
Mengingat pentingnya pembinaan bagi tenaga keperawatan agar dapat
bekerja dengan baik maka perlu adanya pemahaman tentang fungsi dari
asosiasi keperawatan yang terdiri dari:
a. Penetapan standar praktik, pendidikan dan pelayanan keperawatan.
b. Menetapkan kode etik bagi perawat.
c. Menetapkan sistem kredensial dalam keperawatan.
d. Menetapkan untuk ikut berinisiatif dalam legislasi, program
pemerintah, kebijakan kesehatan nasional dan internasional.
e. Mendukung adanya sistem pendidikan yang baik, evaluasi dan
perhatian dalam keperawatan.
f. Adanya agensi sentral untuk mengoleksi, menganalisa dan
desiminasi dari informasi yang relevan dengan keperawatan.
g. Promosi dan proteksi ekonomi dan kesejahteraan bagi perawat.
h. Membina kepemimpinan bagi perawat baik untuk tingkat nasional
maupun internasional.
i. Membina sikap profesionalisme bagi perawat.
j. Menyelenggarakan program secara benar.
k. Memberikan pelayanan masalah-masalah politik pada perawat.
l. Menjaga terjadinya komunikasi bagi seluruh anggotanya.
m. Menyediakan advokasi bagi anggotanya.
n. Berbicara dan menjelaskan tentang profesi keperawatan kepada
pihak lain.
o. Melindungi dan mempromosikan kemajuan kesejahteraan manusia
yang terkait dengan perawat kesehatan.

2.1.4 Ciri-Ciri Keperwatan sebagai Profesi


Menurut Prof. Marifin Husin, keperawatan sebagai profesi memiliki ciri ciri
sebagai berikut.
1. Memberi pelayanan/asuhan dan melakukan penelitian sesuai dengan kaidah ilmu dan
keterampilan serta kode etik keperawatan.
2. Telah lulus dari pendidikan pada jenjang perguruan tinggi (JPT) sehingga diharapkan
mempu untuk:
1. bersikap profesional,
2. mempunyai pengetahuan dan keterampilan profesional,
3. memberi pelayanan asuhan keperawatan profesional, dan
4. menggunakan etika keperawatan dalam memberi pelayanan.
3. Mengelola ruang lingkup keperawatan berikur sesuai dengan kaidah suatu profesi
dalam bidang kesehatan, yaitu:
1. Sistem pelayanan/asuhan keperawatan,
2. Pendidikan/pelatihan keperawatan yang berjenjang dan berlanjut,
3. Perumusan standar keperawatan (asuhan keperawatan, pendidikan
keperawatan registrasi/legislasi), dan
4. Melakukan riset keperawatan oleh perawat pelaksana secara terencana dan
terarah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dean teknologi.
Dengan melihat sebagai definisi, ciri, dan kriteria profesi yang telah disebutkan di atas
maka dapat dianalisis bahwa keperawatan di Indonesia saat ini telah:
1. Memiliki badan ilmu dan telah diakui secara undang undang oleh pemerinyah
Indonesia melalui UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesahatan.
2. Memiliki institusi pendidikan jenjang perguruan tinggi, yakni AKPER/DIII
Keperawatan, DIV Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan (S1), dan Program
Pasca Sarjana Keperawatan (S2).
3. Memiliki kode etik keperawatan, standar profesi, standar praktik keperawatan, standar
pendidikan keperawatan, dan standar asuhan keperawatan.
4. Memiliki legislasi keperawatan (sedang diproses menjadi undang undang).
5. Memiliki organisasi profesi yaitu Persatuan Perawat Nasional Indinesia (PPNI).
6. Memberikan asuhan keperawatan secara mandiri menggunakan pendekatan proses
keperawatan.
7. Melaksanakan riset keperawatan.
2.2 Organisasi Profesi Keperawatan di Indonesia
Pengertian organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah
para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama
untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam
kapasitas mereka seagai individu. Merton mendefinisikan bahwa organisasi profesi
adalah : organisasi dari praktisi yang menilai/mempertimbangkan seseorang atau yang
lain mempunyai kompetensi professional dan mempunyai ikatan bersama untuk
menyelenggarakan fungsi sosial yang mana tidak dapat dilaksanakan secara terpisah
sebagai individu. Organisasi profesi mempunyai 2 perhatian utama :
a. Kebutuhan hukum untuk melindungi masyarakat dari perawat yang
tidak dipersiapkan dengan baik.
b. Kurangnya standar dalam keperawatan.
Organisasi profesi menyediakan kendaraan untuk perawat dalam menghadapi
tantangan yang ada saat ini dan akan datang serta bekerja kearah positif terhadap
perubahan-perubahan profesi sesuai dengan perubahan social
1. Ciri-ciri Organisasi Profesi
Menurut prof. DR. Azrul Azwar, MPH (1998), ada 3 ciri organisasi sbb:
1) Umumnya untuk satu profesi hanya terdapat satu organisasi profesi yang para
anggotanya bewrasal dari satu profesi, dalam arti telah menyelesaikan
pendidikan dengan dasar ilmu yang sama.
2) Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik dan
kompetensi prifesi serta memperjuangkan otonomi profesi.
3) Kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta merumuskan
standar pelayanan profesi, standar pendidikan dan pelatihan profesi serta
menetapkan kebijakan profesi.
2. Peran organisasi profesi
1. Pembina, pengembang dan pengawas terhadap mutu pendidikan keperawatan.
2. Pembina, pengembang dan pengawas terhadap pelayanan keperawatan.
3. Pembina serta pengembang ilmu pengetahuan dan tehknologi keperawatan.
4. Pembina, pengembang dan pengawas kehidupan profesi.
3. Fungsi organisasi profesi
1. Bidang kependidikan keperawatan
Menetapkan standar pendidikan.
Mengembangkan pendidikan keperawatan berjenjang lanjut.
2. Bidang kepelayanan keperawatan
Menetapkan standar profesi keperawatan.
Memberikan izin praktik.
Memberikan registrasi tenaga keperawatan.
Menyusun dan memerlukan kode keperawatan.
3. Bidang IPTEK
Merencanakan,melaksanakan dan mengawasi riset keperawatan..
Merencanakan,melaksanakan dan mengawasi perkembangan IPTEK dan
keperawatan
4. Bidang kehidupan profesi
Membina,mengawasi organisasi profesi
Membina kerja sama dengan pemerintah,masyarakat,profesi lain dan antar
anggota.
Membina kerja sama dengan organisai profesi sejenis dengan tenaga lain.
Membina, mengupayakan dan mengawasi kesejahteraan anggota.
4. Manfaat organisasi profesi
Menurut Breckon (1989)anfaat organisasi profesi mencakup 4 hal yaitu
Mengembakan dan mememajukan profesi
Menertibkan dan memperluas ruang gerak profesi
Menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi
Memberikan kesempatan pada semua anggota untuk berkarya dan
berperan aktif dalam megembangkandan memajukan profesi.
1. Organisasi Profesi Keperawatan di Indonesia
Organisasi keperawan tingkat nasional yang merupakan wadah bagi perawat di
Indonesia adalah persatuan perawat nasional Indonesia (PPNI) yang didirikan pada tanggal
17 maret 1974 dan merupakan gabungan dari berbagai organisasi keperawatan saat itu.
PPNI pada awalnya terbentuk dari beberapa penggabungan beberapa organisasi keperawatan
seperti IPI (ikatan perawat Indonesia),PPI (persatuan perawat Indonesia) ,IGPI(ikatan guru
perawat Indonesi),IPWI (ikatan perawat wanita Indonesia), dalam penggabungan ini IBI
(ikatan bidang Indonesia)tidak ikut serta karena mempuyai anggapan bahwa bidang adalah
profesi sendiri.
Setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang sah dapat
mendaftarkan diri sebagai anggota PPNI dan semua siswa/mahasiswa keperawatan yang
sedang belajar dapat disebut calon anggota.
A. Tujuan PPNI
1. Membina dan mengambangkan organisasi profesi keperawatan
antara lain : persatuan dan kesatuan,kerja sama dengan pihak
lain dan pembinaan manajemen organisasi
2. Membina, mengambangkan dan mengawasi mutu pendidikan
keperawatan di Indonesia
3. Membina, mengembangkan dan mengawasi mutu pelayanan
keperawatan di indonesia
4. Membina dan mengembangkan IPTEK keperawatan di
Indonesia.
5. Membina dan mengupayakan kesejahteraan anggota
B. Fungsi PPNI
1. Sebagai wadah tenaga keperawatan yang memiliki kesatuan
kehendak sesuai dengan posisi jabatan, profesi dan lingkungan
untukmencapai tujuan organisasi
2. Mengembangkan dan mengamalkan pelayanan kesehatan yang
berorientasi pada program-program pembangunan manusia
secara holistic tanpa membedakan golongan, suku, keturunan,
agama/kepercayaan terhadap Tuhan YME.
3. Menampung,memadukan,menyalurkan dan memperjuangkan
aspirasi tenaga keperawatan serta mengembangkan keprofesian
dan kesejahteraan tenaga keperawatan.
C. Struktur Organisasi PPNI Jenjang organisasi
Dewan pimpinan pusat (DPP) PPNI
Dewan pimpinan daerah tingkat I (DPD I) PPNI
Dewan pimpinan daerah tinggkat II(DPP) PPNI
Komisariat PPNI (pengurus pada indtitusi dengan jumlah
anggota 25 orang)
1. Struktur organisasi tingkat pusat
a. Ketua umum
Ketua-ketua:
Pembinaan organisasi
Pembinaan pendidikan dan latihan
Pembinaan pelayanan
Pembinaan IPTEK
Pembinaan kesejahteraan
Sekretarias jenderal
Sekretarias berjumlah 5 orang yang dibagi sesuai dengn
pembidangan ketua-ketua dan departemen:
a. Departeman organisasi,keanggotaan dan kederisasi
b. Departemen pendidikan
c. Departemen pelatihan
d. Departemen palayanan di RS
e. Departemen pelayanan puskesmas
f. Departemen p[nenlitian
g. Departemen hubunagan luar negeri
h. Departemen kesejahteraan anggota
i. Departemen pembinaan yayasan
Lama pengurusan adalah 5 tahun dan dipilih dalam
musyawarah nasional atau musyawarah daerah yang juga
diselenggarakan untuk :
a. Menyempurnakan AD/ART
b. Perumusan program kerja
c. Pemilihan pengurus
PPNI juga menyelenggarakan rapat pimpinan (rapim) dan rapat pimpinan
daerah (rapimda) setiap 2 tahun sekali dalam rangka evaluasi dan penyempurnaan
program kerja berikutnya. Selain itu,PPNI juga mengadakan rapat bulanan atau harian
sesuai dengan kebutuhan. Keanggotaan PPNI baiasanya terdiri dari tenaga perawat.
Namun terdapat juga anggota non-perawat yang telah berjasa dibidang keperawatan
dan mereka ini termasuk dalam anggota luar biasa /kehormatan.
Sumber dana PPNI: uang pangkal,iuran balanan dan sumber-sumber lain yang
sah.
2. Program kerja utama PPNI
1. Pembinaan organisasi dan keanggotaan
2. Pengembangan dan pembinaan pendidikan
3. Pengembangan dan pembinaan serta pendidikan latihan keperawatan
4. Pengembangan dan pembinaan pelayanan keperawatan di rumah sakit
5. Pengembanga dan pelayanan keperawatan di puskesmas
6. Pembinaan dan pembinaan IPTEK
7. Pembinaan dan pengembangan kerja sama dengan profesi lain dan organisasi
keperawatan internasional
8. Pembinaan dan pengembangan sumber daya/yayasan
9. Pembinaan dan pengembangan sumber kesejahteraan anggota
Antisipasi yang harus dilakukan PPNI dalam rangka memenuhi tuntutan
masyarakat akan pelayanan keperawatan yang bekualitas dan dalam rangka
prifesionalisasi keperawataan adaalah dengan melakukan upaya antara lain :
a) Membenahi system pendidikan keperawatan yang berorientasi pada
kebutuhan masyarakat serta pelayanan kesehatan utama (PHC) dengan
landasan yang kokoh meliputi wawasan keilmuan,orientasi pendiikan dan
kerangka konsep pendidikan keperawatan profesianal yang berfokus pada
penguasaan iptek keperawatan
b) Membenahi system pelayanan keperawatan. Upaya ini dapat dilakukan
dengan selalu berusaha dengan memberikan asuhan keperawatan yang
professional dengan menggunakan pendekatan proses kepaerawatan.
Dalam rangka menopang keterlaksanaan asuhan keperawatan profesional
diperlukan sumber daya yang berkualitas. Untuk itu diperluka
pengembangan kemauan tenaga keparawatan secara kualitatif
dan juga advokasi terhadap perawat
c) Membenahi kineja PPNI. Dalam hal ini sangat mendesak untuk
mengaoptimalkan peran dan funsinya,sehingga mampu mengagkat citra
keperawatan ,menyusun standar p[elayanan/praktik keperawatan dan
memelihara kesejahteraan anggota
d) Mendosiminasikan pengertian keoerawatan professional serta lingkup
peran,fungsi,tanggung jawab,dan kewenagan profesi keperawatan kepada
masyarakat luas dan para penyusun/pengambil kebijakan.
3. Kewajiban anggota PPNI
a. Menjunjung tinggi, menaati dan mengamalkan AD dan ART organisai.
b. Membayar uang pangkal dan uang iuran kecuali anggota penghormatan.
c. Menaati dan menjalanka segala keputusan.
d. Menghadiri rapat yang diadakan organisasi.
e. Menyampaikan usul untuk mencapai tujuan yang digariskan dalam program kerja.
f. Memelihara kerukunan dalam organisasi secara kosikuen
g. Setiap anggota baru yang diterima menjadi anggota membayar uang pangkal dan
uang iuran.
4. Hak Anggota PPNI
a) Semua anggota berhak dapat pembelaan dsn perlindungan Dario organisasi dalam hal
yang benar dan adil dalam rangka tujuan organisasi.
b) Semua asggota berhak mendapat kesempatan dalanm menambah dan
mengembangkan ilmu serta kecakapannya yang diadakan oleh organisasi
c) Semua anggota berhak menghadiri rapat,member usul balik lisan maupun tilisan.
d) Semua anggota kecuali anggota kehormatan yang mempuyai hak untuk memilih dan
dipilih sebagai pengurus dan dipilih sebagai pengurus atau perawatan atau perwakilan
organisasi.
5. Tugas pokok PPNI
a) Bidang pembinaan organisasi PPNI bertugas membina kelembagaan
anggotanya dan kadar kepemimpinan.
b) Bidang pembinan profesi PPNI berugas meningkatkan mutu
pelayanan,penghayatan dan penglaman keode etik perawat,mengutamakan
tebentuknya peraturan perundang-undangan keperawatan serta
mengembangkan ilmu dan teknologi keperawatan.
c) Bidang ksejahteraan anggota PPNI bertugas membina hubunga kerja sama
dengan organisasi dan lembaga lain didalam maupun dinegeri.
6. Keanggotaan PPNI
a. Anggota biasa
1. WNI,tidak telibat organisasi terlarang.
2. Lulus bidang pendidikan keperawatan formal dan disahkan oleh pemerintah.
3. Sanggup aktif mengikuti kegiatan yang ditentukan organisasi
4. Pernyataan diri untuk menyatakan anggota
b. Anggota kehormatan
Syratnya sama dengan anggota biasa yaitu pada butir a,c,d, dan bukan
berasal dari pendidikan perawatan tetapi telah berjasa terhadap organisasi
PPNI yang ditetapkan oleh DPP(dewan pimpina pusat).

2.3 Sosialisasi Profesi


Sosialisasi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai proses dimana seseorang
belajar menjadi anggota sebuah kelompok atau masyarakat dan belajar aturan-aturan sosial
tentang arti hubungan ke dalam kelompok atau masyarakat dimana ia akan masuk (Kozier,
Erb dan Blais,1997).
Sosialisasi meliputi belajar tentang tingkah laku, perasaan dan melihat dunia (orang)
lain dalam suatu pandangan yang sama seperti yang dilakukan orang lain dimana orang
tersebut menempati peran yang sama dalam posisi tersebut.
Tujuan sosialisasi profesianal adalah untuk menanamkan norma, nilai, sikap dan
tingkahlaku yang dianggap sangat penting untuk kelangsungan sebuah profesi.
Suatu aspek instrinsik dari proses sosialisasi adalah sosial kontrol yaitu kapasitas dari
sebuah kelompok soaial untuk mengatur atau meregulasi dirinya sendiri melalui penyesuaian
diri dan ketaatan terhadap norma kelompok untuk mempertahankan perintah atau keinginan
kelompok social atau organisasi tersebut. Sangsi digunakan untuk memaksa menjalankan
norma. Penghargaan atau reward adalah sangsi positif bagi mereka yang dapat menyesuaikan
diri terhadap norma yang belaku di kelompok sosial tersebut dan begitupun sangsi hukuman
atau punishment digunakan terhadap mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan
norma yang berlaku di organisasi atau kelompok sosial tersebut.
Sosialiasi profesional meliputi pemaparan terhadap berbagai agen sosialiasi. Agen
sosialisasi adalah orang yang memulai proses sosialisasi seperti anggota keluarga, guru, anak
dari pemberi pelayanan, kelompok dan media masa.
Nilai-Nilai kritis dari Keperawatan Profesional
Di dalam program pendidikan keperawatan seorang perawat mengembangkan,
mengklarifikasi dan menginternalisasikan nilai-nilai professional. Nilai-nilai professional
keperawatan yang spesifik dinyatakan dalam kode etik keperawatan dan standar praktek
keperawatan. Watson (1981, dikutip oleh Kozier, Erb dan Blais, 1997) secara garis besar
mengemukanan nilai-nilai kritis professional keperawatan:
1. Suatu komitmen yang kuat untuk memberikan pelayanan kepada publik
Keperawatan adalah suatu bantuan dan pelayanan humanistic diarahkan terhadap
kebutuhan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Peran perawat dalam hal ini
berfokus pada kesehatan dan pelayanan keperawatan. Perawat bertangungjawab untuk
mengkaji dan mempromosikan status kesehatan semua manusia, perlu menilai
kontribusinya terhadap kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Sehingga care dan caring
adalah pusat inti dan esensi dari keperawatan. Perawat juga perlu menilai aspek caring
dari keperawatan.
2. Mengakui martabat dan menghargai setiap orang
Karena profesi keperawatan yang berorientasi pada orang, suatu pengakuan dasar dan
penghargaan setiap orang berdasarkan nasionalitas, ras/ warna kulit, umur, jenis
kelamin, aliran politik, kelas social dan status kesehatan merupakan dasar dalam
keperawatan. Penerapan dalam praktik keperawatan berarti bahwa perawat selalu
melakukan tindakan dengan perhatian baik bagi kliennnya.
3. Suatu komitment terhadap pendidikan
Hal ini berarti seorang perawat perlu melanjutkan pendidikan keperawatannya untuk
mempertahankan dan memperluas tingkat kompetensi yang dimilikinya untuk
memenuhi kriteria professional, mengantisipasi peran perawat dimasa yang akan
datang dan memperluas body of professional knowledge. Perawat secara kritis harus
mempertanyakan pengetahuan dan praktik keperawatnnya untuk mendorong dirinya
berkontribusi dalam pengembangan dasar teori keperawatan dan mengetes teori
tersebut dalam praktik keperawatan.
4. Otonomi
Otonomi diartikan sebagai hak untuk menentukan diri sendiri sebagai profesi. Watson
menyatakan bahwa seorang perawat harus mempunyai kebebasan untuk
menggunakan pengetahuannya dan ketrampilannya untuk kebaikan manusia dan
kewenangan dan kemampuan untuk melihat pelayanan keperawatan adalah pelayanan
yang aman dan efektif.

Memulai Proses Sosialisasi Profesional Keperawatan


Memulai sosialisasi berarti menyiapkan mahasiswa keperawatan untuk bekerja
dilapangan pekerjaan yang sebenarnya. Beberapa model telah dikembangkan untuk
menjelaskan memulai proses sosialisasi dalam peran professional. Setiap model
merupakan suatu seperangkat rangkaian atau mata rantai kejadian, dimulai pada peran
orang awam dan diakhiri dengan peran orang seorang professional
1. Model Simpson
Ida Harper Simpson (1967) secara garis besar membedakan menjadi 3 bagian
dari fase sosialisasi professional. Fase yang pertama, seseorang berkonsentrasi dan
menjadi cakap dalam tugas yang spesifik. Fase kedua, seseorang menjadi akrab
dengan orang lain atau kelompok yang dilayani dalam bekerja. Fase ketiga, seseorang
menginternalisasi nilai kelompok professional dan mengadopsi tingkah laku yang
disyaratkan.
2. Model Hinshaw
Ada Sue Hinshaw (1986) memberikan model umum sosialisasi professional
menjadi 3 fase yang diadaptasi dari Model Simpson.
Selama fase pertama, individu merubah image peran dari dari menyiapkan
atau mengantisipasi konsep ke peran yang diharapkan dimana seseorang yang berada
dalam tatanan pelayanan sesuai standar yang ada. Hinshaw mengatakan bahwa: (a)
orang dewasa yang masuk dalam suatu profesi harus siap belajar sejumlah peran dan
nilai yang membantu mereka mengevaluasi peran barunya, (b) individu ini secara
aktif terlibat dalam proses sosialisasi, yang mengharuskan memilih peran baru yang
diharapkan dan masuk dalam proses sosialisasi.
Fase kedua mempunyai dua komponen: (a) belajar mengakrabkan diri dengan
orang lain dalam suatu system dan pada saat yang sama (b) mereka melabel situasi
yang tidak sesuai antara peran yang diantisipasinya dan yang ditunjukan oleh orang
lain.Dalam proses memlulai proses sosialisasi professional, orang lain yang disini
biasa kelompok di fakultas, ditatanan pekerjaan, mereka memilih sejawat tertentu.
Hinshaw mwnwkankan pentingnya modelperan yang tepat baik di saat program
pendidikan dan ditatanan pekerjaan. Pada tahap ini, seseorang dapat mengungkapkan
bahwa tingkah laku peran yang diinginkan tidak sama dengan apa yang telah
diantisipasinya. Ini merupakan suatu tahap dimana sering menyebabkan reaksi
emosial yang kuat kepada seperangkap peran yang diharapkan yang ternyata terjadi
konflik dengan apa yang diantispasinya. Resolusi konflik yang sukses sangat
tergantung pada keberadaan model peran yang mendemontrasikan tingkah laku yang
tepat dan menunjukan bagaimana standar system konflik dan nilai dapat
diintegrasikan.
Pada fase ketiga, seseorang menginternalisasikan bila dan standar dari peran
yang baru. Derajat nilai dan standar yang di internalisasikan sangat bervariasi.Kelman
(1961) mendefinisikan tiga tingkat orientasi nilai. Seseorang dapat mendemontrasikan
salah satu atau keseluruhan tiga tingkatan ini.
Pemenuhan (compliance). Seseorang menunjukan tingkah laku yang
diharapkan untuk mendapatkan reaksi yang positif dari orang lain
tetapi tidak menginternalisasi nilai tersebut. Memenuhi tingkah laku
yang diharapkan dapat berkurang jika respon positif yang diberikan
tidak lama.
Identifikasi (identification). Seseorang secara selektif mengadopsi
tingkah laku peran yang spesifik yang diterima semua orang.
Seseorang hanya menerima tingkahlaku yang diharapkan dari pada
menerima nilai secara keseluruhan. Tingkah laku identifikasi biasanya
berubah jika orang yang menjadi model peran juga berubah.
Internalisasi (internalization). Seseorang percaya dan menerima
standardari peran barunya. Standar tersebut menjadi salah satu bagian
dari suatu system nilai seseorang.
3. Model Davis
Fred davis (1966) menggambarkan enam tahapan proses
doktrin pada mahasiswa keperawatan.
Tahap pertama: Kemurnian awal (initial innoncence). Saat
mahasiswa masuk dalam suatu program professional, mereka
mempunyai suatu image apa yang mereka inginkan dan bagaimana
mereka akan bertindak atau bertingkah laku. Mahasiswa keperawatan
biasanya masuk pada suatu program pendidikan dengan orientasi
pelayanan dan berharap melihat seseorang setelah mengalami sakit.
Sementara itu, pengalaman pendidikan biasanya akan berbeda dengan
apa yang mahasiswa keperawatan harapkan. Selama fase ini,
mahasiswa mengalami kekecewaan dan frustrasi terhadap pengalaman
yang dialaminya dan mungkin mereka bertanya tentang nilai atau
keyakinan dirinya.
Tahap kedua: Melabel ketidakcocokan yang ditemukan
(labeled recognition of incongruity). Pada fase ini mahasiswa memulai
mengidentifikasi, mengartikulasi dan membagi masalahnya. Mereka
belajar bahwa mereka tidak sendirian dalam nilai-nilai yang tidak
sesuai dengan dirinya. Mereka akan membentuk kelompok dan
membagi masalahnya dalam kelompok tersebut.
Tahap ketiga: Penjiwaan dan stimulasi peran (Psyching out and
role stimulation). Inti dari tahap ini, kerangka dasar kognitif untuk
menginternalisasi nilai-nilai professional keperawatan memulai
tertanam. Mahasiswa mulai mengidentifikasi tingkah laku dimana ia
dapat diterima dan menunjukan hal tersebut serta mencari model peran
dan mempraktikan tingkah laku tersebut. Dalamistilah yang digunakan
oleh Davis adalah psyching out (penjiwaan). Hal ini akan lebih efektif
jika stimulasi peran dilakukan, dan lebih baik lagi jika seseorang
tersebut mempercayai tingkah laku tersebut dan hal ini merupakan
bagian dari orang tersebut. Tetapi, terkadang mahasiswa merasakan ia
sedang memainkan suatu permainan dan merasa tidak benar untuk
dirinya sehingga mengakibatkan perasaan bersalah dan asing.
Tahap keempat: Internalisasi sementara (provision
internalization). Pada tahap kelima ini, mahasiswa bimbang antara
komitmen terhadap image yang mereka buat tentang keperawatan dan
kinerja tingkah laku barunya terhadap image professional. Faktoryang
akan meningkatkan image baru mahasiswa adalah suatu peningkatan
kemampuan untuk menggunakan bahasa professional dan suatu
peningkatan identifikasi dengan role model professional.
Tahap kelima: Internalisasi stabil (Stable internalization).
Dalam tahap keenam, tingkah laku mahasiswa keperawatan
mencerminkan model pendidikan dan professional yang dapat diterima
oleh pofesi. Bagaimanapun, penyiapan mahasiswa pada tatanan kerja
hanya merupakan proses sosialisasi. Nilai baru dan tingkahlaku akan
dibentuk lagi ditempat kerja. Banyak faktor yang dapat menfasilitasi
proses sosialisasi.
2.4. Sosialisasi Profesi
Sosialisasi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai:
1. Proses yang dipelajari seseorang untuk menjadi anggota
kelompok dan masyarakat.
2. Proses yang mempelajari peraturan sosial yang membatasi
hubungan yang akan mereka masuki.
Sosialisasi mencakup belajar untuk berperilaku, merasakan, dan melihat dunia dalam
cara yang serupa dengan orang lain yang memiliki peran sama.
Tujuan sosialisasi adalah menanamkan kepada individu secara bertahap mengenai
norma, nilai, sikap, dan perilaku yang dianggap penting bagi kelangsungan profesi.
Sosialisasi mencakup belajar untuk berperilaku, merasakan, dan melihat dunia dalam
cara yang serupa dengan orang lain yang memiliki peran sama.

1. Model Konseptual
Mengacu pada ide-ide global, abstrak, dan umum serta proposisi yang menspesifikasi
mengenai individu, kelompok, situasi atau kejadian tertentu yang berkaitan dengan disiplin
yang spesifik.
2. Teori Keperawatan
Suatu metode untuk mengahasilkan dasar pengetahuan keperawatan ilmiah adalah
melalui pengembangan dan manfaatnya.
Jenis-jenis teori keperawatan
a. Florence Nigthtingale (1860)
Untuk mempasilitasi proses penyembuhan tubuh, dengan memanifulasi lingkuynagn klien
(Torres 1986)
b. Peplau (1952)
Untuk mengembangkan interaksi antara perawat dan klien
c. Henderson (1955)
Untuk bekerja secara mandiri dengan tenaga pemberi layanan kesehatan (Marriner Tomey,
1994), untuk membantu klien mendapatkan kemandiriannya secepat mungkin
d. Abdellah Faye (1990)
- Untuk memberikan pelayanan kepada individu, keluarga dan masyarakat
- Untuk menjadi perawat yang baik dan berpengertian keperawatan
- Mempunyai kemampuan intelegencia yang tinggi, kompoten dan memiliki
keterampilan yang baik dalam memberikan pelayanan
e. Jean Orlando (1961)
Untuk merespon terhadap perilaku klien dalam memenuhi kebuthan klien dengan segera
Untuk berinteraksi dengan klien untuk memenuhi kebutuhan klien secepat mungkin
dengan mengidenmtifikasi perilaku klien, treaksi perawat dan tindakan keperawatan yang
melakukan
f. Hall (1962)
Untuk memberikan asuhan dan kenyamanan bagi klien slama proses penyakit.
(Torres, 1986)
g. Wiedenbach (1964)
Untuk membantu individual dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan
kemampuan untuk memenuhi tekanan atau kebutuhan yang dihasil dari suatu kondisi,
lingkungan, situasi atau waktu. (Torres, 1986).
h. Levine (1966)
Untuk melakukan konservasi kegiatan yang ditujukan untuk menggunakan sumber
daya yang dimiliki klien secara optimal.
i. Johnson (1968)
Untuk mengurangi stress sehingga klien dapat bergerak lebih mudah melewati proses
penyembuhan.
j. Rogers (1970)
Untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, mencegah kesakitan, dan merawat
serat merehabilitasi klien yang sakit dan tidak mampu dengan pendekatan humanistic
keperawatan. Rogers 1979.
k. Orem (1971)
Untuk merawat dan membantu klien mencapai perawatan diri secara total.
l. King (1971)
Untuk memanfaatkan komunikasi dalam membantu pelayanan untuk mencapai adaptasi
secra positif terhadap ligkungan.
m. Treavelbee (1971)
Untuk membantu individu atau keluarga untuk mencegah atau mengembangkan koping
terhadap penyakit yang dideritanya, mendapatkan kembali kesehatan, menemukan arti dari
penyakit atau mempertahankan status kesehatan maksimalnya.
n. Beutty Neuman (1972)
Untuk membantu individu, keluarga, dan kelompok untuk mendapatkan dan
mempertahankan tingkat kesehatan maksimalnya melalui intervensi tertentu.
o. Patterson dan Zderad (1967)
Untuk berespon terhadap kebutuhan manusia dan membangun ilmu keperawatan yang
humanistic.
p. Leininger (1978)
Untuk memberikan keperawatan yang konsistem dengan ilmu keperawatan dengan caring
sebgai focus sentaral.
q. Roy (1979)
Untuk mengidentifikasi tipe kebutuhan klien, mengkaji kemampuan adaptasi terhadap
kebutuahan dan membantu klien beradaptasi.
r. Watson (1979)
Untuk meningkatkan kesehatan, mengembalikan klien pada kondisi sehatnya, dan
mencegah kesakitan.
s. Parse (1981)
Untuk menfokuskan pada manusia sebagai suatu unit yang hidup dan kualitas
partisipasi manusia terhadap pengalaman sehat.