Anda di halaman 1dari 13

2.

3 Prospek Kedepannya Politik Identitas dan Multikultural di Indonesia


Menurut Buya
Kemajemukan Indonesia tak dapat kita pungkiri, ini yang ditekankan oleh
Syafii Maarif yang biasa disapa Buya untuk menggambarkan fenomena
sosial yang terjadi di Indonesia. seperti telah Cak Nur tegaskan, berbicara
mengenai kemajemukan Indonesia, yaitu bahwa keberagaman suku dan agama
yang dimiliki negeri ini bukanlah sesuatu yang layak dibangga-banggakan,
sebab hal demikian itu tidaklah unik, apalagi istimewa dan bukan hanya
dimiliki Indonesia. mengapa demikian? Sebab tidak ada satu pun masyarakat
yang benar-benar tunggal, uniter (unitary) tanpa ada unsur-unsur perbedaan di
dalamnya.
Berbeda dengan pandangan Buya, ia melihat bahwa hal yang demikian itu
unik dan perlu dibanggakan, karena bangsa dan negara kepulauan yang
terbesar dan terluas hanya terdapat di satu dunia, yaitu Indonesia, sebuah
bangsa muda yang belum berumur 100 tahun. Jumlah pulaunya lebih dari
17.000, bahasa lokal dan etnisitasnya ratusan, agama pun bervariasi yang
tercatat secara resmi oleh pemerintah atau agama lokal yang belum terlirik
oleh pemerintah. Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk indonesia
(sekitar 88,22 %) dalam sistem iman relatif tunggal, tetapi sebagai ekspresi
kultural-intelektual, paham agama dan politik ternyata Islam itu majemuk.
Sama halnya dengan agama katolik yang secara teologis terlihat kompak,
dalam hal politik umat Katolik ternyata juga tidak tunggal, tetapi plural,
apalagi umat Protestan yang terdiri dari aneka sekte.
Kemajemukan Indonesia ini menjadi kekhawatiran Buya dengan
timbulnya politik identitas yang akan menghancurkan integritas umat yang
telah lama dibangun oleh para founding fathers bangsa ini. Karena
menurutnya, gerakan-gerakan yang berbasis politik identitas sangat
membahayakan masa depan Indonesia karena cenderung anti-pluralisme, anti-
demokrasi dan anti-nasionalisme. Dalam konteks ini, buku yang ditulis oleh
Buya - seorang cendikiawan muslim yang tak diragukan lagi gagasan-gagasan
pluralismenya dan seringkali membela kaum yang tertindas atas nama agama.
Ia membandingkan politik identitas di negeri-negeri lain dan di Indonesia
sendiri, menurutnya, politik identitas itu secara substantif muncul akibat
sebuah kepentingan kelompok sosial yang merasa diperas dan tersingkir oleh
dominasi arus besar dalam sebuah bangsa atau negara. Ia juga
menggambarkan gerakan politik identitas yang ekstrim sehingga mencuatnya
gagasan separatisme.
Ini terlihat misalnya di Quebeck, yang berbahasa dan berbudaya Perancis,
yang ingin memisahkan diri dari bangsa Kanada yang berbahasa Inggris.
Setelah kita menyoroti politik identitas di negara lain sudah saatnya kita
meneropong isu serupa berdasarkan pengalaman sejarah dalam rentang waktu
100 tahun terakhir. Secara historis politik identitas di negeri ini bisa bermuatan
etnisitas, agama dan ideologi politik. Tapi memang yang diwaspadai oleh
Buya adalah kelompok-kelompok radikal dan setengah radikal yang berbaju
islam, yang mendapat pengaruh dari gerakan islamis dan salafi yang mulanya
berpusat di beberapa negara Arab. Kita sebut saja misalnya Hizbut Tahrir
Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), dan Majelis Mujahidin Indonesia
( MMI) dalam satu hal mereka mempunyai tuntutan yang sama, yakni
menjalankan syariah Islam di Indonesia.
Pada akhirnya, politik identitas dalam bentuk apa pun tidak akan
membahayakan keutuhan bangsa dan negara ini di masa depan, jika cita-cita
pendiri bangsa tentang persatuan dan integrasi nasional, semangat sumpah
pemuda yang telah melebur sentimen kesukuan dan filosofi pancasila tidak
dibiarkan tergantung mengawang-awang di atas awan, tapi tak dihayati dan
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggungjawab, sehingga
mampu turun ke bumi dan dirasakan oleh banyak orang.

2.4 Prospek Kedepan Politik Indonesia dan Multikultural di Indonesia


Menurut Tap MPR RI
Masuknya globalisasi ekonomi dan budaya oleh negara sekular ke negara
berkembang selalu akan melalui sistem pemerintahan negara berkembang itu
sendiri. Oleh karena itu, sistem pemerintahan negara berkembang yang
bercorak sekular dan materialisrtik akan menjadi makanan empuk bagi
program globalisasi negara maju. Akan ditemui segelintir elit (pejabat
pemerintah dan swasta) nasional yang mendukung program mereka dalam
meperkaya diri dan mengeksploirasi rakyat serta menyerap kekayaan tanah
air.
Oleh karena itu diperlukan orang kuat dalam negara berkembang yang mampu
menahan gelombang arus globalisasi disamping penataaan sistem pemerintahan
berdasarkan moral agama. Globalisasi telah mengikis pula budaya dan kultur yang
telah menjadi ciri khas bangsa kita. Dunia seni dan hiburan banyak dipengaruhi
Barat, identitas bangsapun mulai luntur seiring denga kemajuan jaman. Untuk
melawan hegemoni Barat tersebut Indonesia kaya akan seni dan budaya, akan tetapi
potensi tersebut tidak mampu diberdayakan dengan baik. Hal ini karena
pemberdayaa seni dan budaya terkesan sentralistik, sehingga kebudayaan kita
terhegemoni dan dimonopoli oleh kebudayaan etnik tertentu. Kesenjangan budaya
Jawa dan luar pulau Jawa begitu menonjol dan nampak dalam penyajian di berbagai
media. Kesenjangan tersebut melahirkan perasaan tidak puas dan kemudian dilawan
dengan cara menggugat nasionalisme. Karena nasionalisme terkadang digunakan
oleh etnik tertentu untuk melanggengkan hegemoninya.
Fenomena ini dapat berimplikasi pada terancamnya masa depan bangsa sehingga
perlu perumusan nasionalisme baru untuk menaggulanginya. Abad 21 juga jelas
merupakan era kompetitif dan Indonesia sebagai suatu kesatuan bangsa akan
meghadapi kompetisi yang ketat di dunai internasional dalam berbagai aspek
kehidupan. Untuk itu secara internal bangsa ini perlu mempersapkan diri dalam
segala aspek khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi Masa depan
Indonesia mungkin saja baik, lebih cemerlang dari semua yang pernah kita
bayangkan, namun mungkin yang terjadi sangat buruk, sesuatu yang belum pernah
kita bayangkan, bahkan dalam mimpi buruk kita sekalipun. Yang jelas, dalam upaya
mewujudkan cita-cita reformasi dalam penyelesaian berbagai masalah bangsa dan
negara diperlukan visi Indonesia masa depan sebagai fokus pada arah
penyeelnggaraan kehidupan berbamgsa dan bernegara menuju masa depan yang
lebih baik. Para wakil kita di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah
merumuskan visi Indonesia masa depan melalui Tap. MPR RI Nomor :
V/MPR/2000. Dalam Tap MPR tersebut dikemukakan bahwa :Visi adalah wawasan
ke depan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu. Visi bersifat kearifan
intuitif yang menyentuh hati dan mnggerakkan jiwa untuk berbuat. Visi tersebut
merupakan sumber inspirasi, motivasi dan kreativitas yang mengarahkan proses
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara menuju masa depan yang
dicita-citakan. Penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara diorientasikan
ke arag perwujudan visi tersebut karena pada hakekatnya hal itu merupakan
penegasan bersama cita-cita seluruh rakyat. Bagi bangsa Indonesia, Visi Indonesia
didasari dan diilhami oleh cita-cita luhur yang telah digariskan para pendiri negara
sebagaimana termasuk dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk pencapaian visi
tersebut maka selanjutnya dirumuskan visi antara yang disebut VISI INDONESIA
2002 sebagai berikut :
2.4.1 Visi Indonesia 2020
Visi Indonesia 2020 adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius,
manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri serta baik dan
bersih dalam penyelenggaraan negara. Untuk mengukur tingkat keberhasikan
perwujudan Visi Indonesia 2020 diperlukan indikator-indikator utama sebagai
berikut :
1. Religius
a. Terwujudnya masyarakat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia
sehingga ajaran agama, khususnya yang bersifat universal dan nilai-
nilai luhur budaya terutama kejujuran, dihayati dan diamalkan dalam
berilaku keseharian;
b. Terwujudnya toleransi antar dan antara umat beragama;
c. Terwujudnya penghormatan terhadap martabat kemanuasiaan.
2. Manusiawi
a. Terwujudnya masyarakat yang menghargai nilai-nilai kemanuasiaan
yang adil dan beradab;
b. Terwujudnya hubungan harmonis antar manusia indonesia tanpa
membedakan latar belakang budaya, suku, ras, agama dan lain-lain;
c. Berkembangnya dinamika kehidupan bermasyarakat ke arah
peningkatan harkat dan martabat manusia.
d. Terwujudnya keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam perilaku
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3. Bersatu
a. Meningkatnya semangat persatuan dan kerukunan bangsa;
b. Meningkatnya toleransi, kepedulian dan tanggung jawab sosial;
c. Berkembangnya budaya dan perilaku sportif serta menghargai dan
menerima perbedaan dalam kemajemukan.
d. Berkembangnya semangat anti kekerasan
e. Berkembangnya dialog secara wajar dan saling menghormati antar
kelompok dalam masyarakat.
4. Demokratis
a. Terwujudnya keseimbangan kekuasaan antara lembaga
penyelenggara negara dan hubungan kekuasaan antara
pemerintahan nasional dan daerah;

b. Menguatnya partisipasi politik sebagai perwujudan kedaulatan


rakyat melalui pemilihan umum jujur, adil dan langsung, umum,
bebas dan rahasia, efektifitas peran dan fungsi partai politik dan
kontrol sosial masyarakat yang semakin meluas;

c. Berkembangnya organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan dan


organisasi politik yang bersifat tebuka;

d. Terwujudnya mekanisme kontrol di dalam kehidupan berbangsa


dan bernegara;

e. Berkembangnya budaya demokrasi, transparasi, akuntabilitas,


jujur, sportif, menghargai perbedaan;

f. Berkembangnya sistem kepemimpinan yang egaliter dan rasional.

5. Adil

a. Tega

b. Kuatnya hukum yang berkeadilan tanpa diskriminasi;

c. Terwujudnya institusi dan aparat hukum yang bersih dan


profesional;

d. Terwujudnya penegakan hak asasi manusia;


e. Terwujudnya keadilan gender;

f. Terwujudnya budaya penghargaan dan kepatuhan terhadap


hukum;

g. Terwujudnya keadilan dalam distribusi pendapatan, sumberdaya


ekonomi dan penguasaan aset ekonomi, serta hilangnya praktek
monopoli;

h. Tersedianya peluang yang lebih besar bagi kelompok ekonomi


kecil, penduduk miskin dan tertinggal.

6. Sejahtera

a. Meluasnya kesempatan kerja dan meningkatnya pendapatan


penduduk sehingga bangsa indonesia menjadi sejahtera dan
mandiri;

b. Meningkatnya angka partisipasi murni anak usia sekolah;

c. Terpenuhinya sistem pelayanan umum, bagi seluruh lapiran


masyarakat termasuk pelayanan kepada penyandang cacat dan
usia lanjut, seperti pelayanan transportasi, komunikasi,
penyediaan energi dan air bersih;

d. Tercapainya hak atas hidup sehat bagi seluruh lapiran masyarakat


melalui sistem kesehatan yang dapat menjamin terlindunginya
masyarakat dari berbagai resiko yang dapat mempengaruhi
kesehatan dan tersediannya pelayanan kesehatan yang bermutu,
terjangkau dan merata;

e. Meningkatnya indeks pengembangan manusia (human


development index), yang menggambarkan keadaan ekonomi,
pendidikan dan kesehatan secara terpadu;
f. Terwujudnya keamanan dan rasa aman dalam masyarakat.

7. Maju

a. Meningkatnya kemampuan bangsa dalam pergaulan antar bangsa;

b. Meningkatknya kualitas sdm sehingga mampu bekerja sama dan


bersaing dalam era global;

c. Meningkatnya kualitas pendidikan sehingga menghasilkan


tenaga;

d. Meningkatkan disiplin dan etos kerja;

e. Meningkatnya penguasaan ilmu pengetahuan dan pengembangan


teknologi serta pembudayaannya dalam masyarakat;

f. Teraktualisasinya keragaman budaya indonesia.

8. Mandiri

a. Memiliki kemampuan dan ketangguhan dalam menyelenggarakan


kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah-tengah pergaulan
antar bangsa agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain;

b. Terwujudnya politik luar negari yang berkepribadian dan bebas


aktif;

c. Terwujudnya ekonomi indonesia yuang bertumpu pada


kemampuan serta potensi bangsa dan negara termasuk
menyelesaikan hutang luar negeri;

d. Memiliki kepribadian bangsa dan identitas budaya indonesia yang


berakar dari potensi budaya daerah.
9. Baik dan Bersih Dalam Penyelenggaraan Negara.

a. Terwujudnya penyelenggaraan negara yang profesional,


transparan, akuntabel, memiliki kreadibilitas dan bebas kkn;

b. Terbentuknya penyelenggaraan negara yang peka dan tanggap


terhadap kepentingan dan aspirasi rakyat di seluruh wilayah
negara termasuk derah terpencil dan perbatasan;

c. Berkembangnya transparansi dalam budaya dan perilaku serta


aktivitas politik dan pemerintah.

d. Menggagas Format Indonesia Masa Depan Antara fenomena


Globalisasi dan Primordialisme Etnik. Puncak kesadaran sosial di
penghujung kekuasaan tirani Orde Baru telah menggesa seluruh
komponen bangsa untuk segera merekonstruksi tatanan sosial
yang mapan menuju format Indonesia masa depan. Kegelisihan
yang sekaligus sebagai cita-cita lihir tersebut kemudian
disimbolkan dalam beberapa terminologi seperti civil society,
masyarakat madani, Indonesia baru dan Indonesia Masa Depan
yang meskipun secara substantif terminologi-terminologi di atas
memiliki prinsip-prinsip yang sama dan bersifat universal. Cita-
cita mulia di atas tidak akan terwujud atau mati suri bila kondisi
sosio-kultural sebagai prasyarat masyarakat madani masih berada
di bawah bayang-bayang primordialisme agama dan
primordialisme etnik. Kedua kondisi sosio-kultural tersebut akan
menjadi sandungan sekaligus ancaman, sehingga menjadi agenda
internal dan terberat yang harus segera dituntaskan. Masyarakat
madani sebagai salah satu terminologi untuk sebuah tatanan sosial
masa depan adalah Indonesia tanpa dinding dan Indonesia tanpa
batas. Indonesia tanpa dinding adalah Indonesia masa depan yang
harus tegak di atas prinsip-prinsip :
Pluralitas

Toleransi

Sistem sosial yang teratur

Tidak adanya sekat agama maupun etnik

Kecerdasan masyarakat. Untuk mewujudkan kondis di atas


seluruh komponen bangsa harus memulainya dengan cara :

Mengapresiasikan pluralisme dengan baik

Adanya konsensus (kontrak sosial)

Penegakan supremasi hukum.

e. Akhirna, instrumrn yang dapat digunakan dalam pencapaian


Indonesia masa depan ada;ah epndidikan sebagai usaga
pencerahan dan penimngkatan kualitas manusia Indonesoa. Hal
ini akan emudagkan ruumbuhnya budaya dilaog dan
kesalingpahaman.

f. Tantangan mewujudkan visi Indonesia 2020


Dalam mewujudkan Visi Indonesia 2020, bangsa dan negara
menghadapi tantangan keadaan dan perubahan saat ini dan masa
depan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pertama, pemantapan persatuan bangsa dan kesatuan


negera. Kemajuan suku, ras, agama dan budaya merupakan
kekayaan bangsa yang harus diterima dan dihormati. Pengelolaan
kemajemukan bangsa secara baik merupakan tantangan dalam
mempertahankan integrasi dan intergritas bangsa. Penyebaran
penduduk yang tidak merata dan pengelolaan otonomi daerah
yang menggunakan konsep negara kepulauan sesuai dengan
Wawasan Nusantara merupakan tantangan pembangunan daerah
dalam lingkup Negara Kesatuan R.I. Disamping itu pengaruh
globalisasi juga merupakan tantangan bagi pemantapan persatuan
bangsa dan kesatuan negara.

Kedua, Sistem hukum yang adil. Semua warga negara


berkedudukan sama di depan hukum dan berhak mendapatkan
keadilan. Hukum ditegakkan untuk keadilan dan bukan untuk
kepentingan kekuasaan ataupun kelompok kepentingan tertentu.
Tantangan untuk menegakkan keadilan adalah terwujudnya aturan
hukum yang adil serta institusi hukum dan aparat penegak hukum
yang jujur, profesional, dan tidak terpengaruh oleh penguasa.
Supremasi hukum ditegakkan untuk menjamin kepastian hukum,
keadilan dan pembelaan hak asasi manusia.

Ketiga, sistem politik yang demokratis Tantangan sistem


politik yang demokratis adalah terwujudnya kedaulatan di tangan
rakyat, partisipasi rakyat yang tinggi dalam kehidupan politik,
partai politik yang aspiratif dan efektif, pemilihan umum yang
berkualitas. Sistem politik yang demokratis ditopang oleh budaya
politik yang sehat, yaitu sportivitas, menghargai perbedaan,
santun dalam perilaku, mengutamakan kedamaian dan anti
kekerasan dalam berbagai bentuk. Semua itu diharapkan
melahirkan kepemimpinan nasional yang demikratis, kuat dan
efektif.

Keempat, Sistem ekonomi yang adil dan produktif.


Tantangan sistem ekonomu yang adil dan produktif adalah
terwujudnya ekonomi yang berpihak pada rakyat serta
terjaminnya sistem insentif ekonomi yang adil dan mandiri.
Sistem ekonomi tersebut berbasis pada kegiatan rakyat yang
memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan
berkesinambungan terutama yang bersumber dari pertanian,
kehutanan dan kalautan. Untuk merealisasikan sistem ekonomi
tersebut diperlukan sumber daya manusia yang kompeten dan
mekanisme ekonomi yang menyerap tenaga kerja. Di samping itu
negara mengembangkan ekonomi dengan mengolah sumber daya
alam dan industri lainnya termasuk industri jasa.

Kelima, Sistem sosial budaya yang beradab. Tantangan


terwujudnya sistem sosial yang beradab adalah terpelihara dan
teraktualisasinya nilai-nilai universal yang diajarkan setiap agama
dan nilai-nilai lihur budaya bangsa sehingga terwujud kebebasan
untuk berekspresi dalam rangka pencerahan, penghayatan dan
pengamalan agama serta keragaman budaya. Sisterm sosial yang
beradab mengutamakan terwujudnya masyarakatn yang
mempunyai rasa saling percaya dan saling penyayangi, baik
terhadap sesama masyarakat maupun antara masyarakat dengan
institusi publik. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat
mencakup peningkatan mutu pendidikan penghasilan rakyat, rasa
aman dan unsur-unsur kesejahteraan rakyat lainnya.

Keeman, Sumber daya manusia yang bermutu. Tangangan


dalam pengembangan sumber daya manusia bermutu adalah
terwujudnya sistem pendidikan yang berkualitas yang mampu
melahirkan sumber daya manusia yang andal dan berakhlak
mulia, yang mampu bekerja sama dan bersaing di era globalisasi
dengan tetap mencintai tanah air. Sumber daya manusia yang
bermutu tersebut memiliki keimanan dan ketakwaan serta
menguasai ilmu, pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja
dan mampu membangun budaya kerja yang produktif dan
berkepribadian.
Ketujuh, Globalisasi. Tantangan menghadapi globalisasi
adalah mempertahankan eksistensi dan intergritas bangsa dan
negara serta memanfaatkan epluang untuk memajuan bangsa dan
negara. Untuk menghadapi globalisasi diperlukan kemampuan
sumber daya manusia dan kelembagaan, baik di sektor negara
maupun disektor swasta.

Berdasarkan uraian diatas bahwa prospek politik identitas


dan multikultural di Indonesia dapat disimpulkan bahwa politik
identitas sangat mengancam ideologi dan dasar hukum bangsa
karena politik identitas mempengaruhi integritas suatu individu
maupun bangsa itu sendiri dimana terjadinya kesenjangan antara
suatu etnis dan dan kelompok-kelompok tersebut yang
menciptakan suatu kelompok-kelompok radikal yang dapat
memicu terjadinya gesekan/konflik yang menyebabkan terjadinya
perpecahan suatu bangsa.

Maka dari itu perlunya ideologi dan dasar hukum yang kuat
untuk melawan atau menahan perkembangan politik identitas tadi,
apabila pemerintah mampu mengatasi dan menekan
berkembangnya politik identitas maka politik identitas akan
berjalan dengan baik, yaitu melalui pemahaman ideologi
pancasila dan dasar hukum. Pemahaman ini harus meliputi semua
aspek masyarakat, bahwa pentingnya menjaga perbedaan suatu
kelompok. Indonesia harus mempunyai prinsip-prinsip:

Pluralitas

Toleransi

Sistem sosial yang teratur


Tidak adanya sekat agama maupun etnik

Kecerdasan masyarakat. Untuk mewujudkan kondis di atas


seluruh komponen bangsa harus memulainya dengan cara :

Mengapresiasikan pluralisme dengan baik

Adanya konsensus (kontrak sosial)

Penegakan supremasi hukum.