Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KONTRASEPSIS AKDR

Disusun Oleh:

Mega Rachmawati (NIM. 34403515076)

Kelas 2 A

AKADEMI KEPERAWATAN

PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR

BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)

Jl. Pasir Gede Raya No.19 Tlp. (0263) 267206 Fax. 270953 Cianjur 43216

2017

A.
B. DEFINISI
C. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau di sebut juga Intra Uterin

Devices (IUD) adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang sangat

efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usi

produktif (Saefudin. 2003).


D. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) disebut juga spiral, alat ini

dipasang dalam rahim wanita. IUD atau AKDR adalah suatu alat kontrasepsi yang

efektif, aman, dan nyaman bagi banyak wanita. AKDR memiliki efektifitas lebih

dari 99% dalam mencegah kehamilan pada pemakaian 1 tahun atau lebih. (Anna,

2006).
E. Infeksi adalah proses invasif oleh mikroorganisme dan berpoliferasi
didalam jaringan tubuh yang dapat menyebabkan cedera seluler setempat akibat
metabolisme toksin maupun reaksi antibodi-antigen (Potter & Perry. 2005)
F.
G. ETIOLOGI
H. Penyebab terjadinya infeksi pada proses pemasangan IUD adalah
1. Memiliki resiko infeksi seksual sebelumnya seperti nutrisi ibu tidak adekuat
2. Tidak mengkonsumsi antibiotik dalam 20 hari pertama setelah pemasangan IUD
3. Teknik dan proses pemasangan IUD
I.
J. FATOFISIOLOGI
K.
L.
M. Pencegahan kehamilan
N. Pemasangan KB IUD
O.
P.
Masuknya benda asing dari vagina Ibu menderita/beresiko menderita PMS
Q.
R. menuju uterus
S. Proses infeksi
T.
Perangsangan
U. reseptor nyeri Infeksi Kurang paparan informasi
V.
Nyeri Kurang Pengetahuan
W. Jenis AKDR
X. Dimasa lampau AKDR dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan-
bahan berbeda, saat ini AKDR yang tersedia diseluruh dunia hanya tiga tipe
saja :
1 Menurut bentuknya :
a Bentuk terbuka, seperti :
Y.
Z.
AA.
AB. Lippes Loop Multiload
b Bentuk tertutup, seperti :
AC.

AD. Ota Ring


AE.
2 Menurut tambahan obat atau metal
a Medicated IUD, seperti :

AF.
AG. Cupper T-200 Copper 7
b Unmedicated IUD, seperti :
AH.

AI. Saf-T Coil.

AJ.
3 Mengandung hormon steroid seperti progesteron dan Levonorgestrel
AK. CARA KERJA AKDR
AL. Menurut Saifudin (2010), Cara kerja AKDR adalah
1. Mengambat kemampuan spresma untuk masuk ketuba falopi
2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR
membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
kemampuan sperma untuk fertilisasi
4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi dalam uterus
AM.
AN.MEKANISME KERJA AKDR
AO. Menurut Mochtar, 2008 dalam buku Sinopsis Obstetri : hal 109-111,
mekanisme kerja yang pasti dari AKDR belum diketahui. Ada beberapa mekanisme
kerja AKDR yang telah dianjurkan :
1 Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik didalam cavum uteri sehingga
implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu.
2 Prodiksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambat
implantasi.
3 Teori reaksi benda asing yang menyebabkan pemadatan endometrium oleh sel-sel
makrofag dan limfosit yang menyebabkan blastokis rusak atau tidak dapat
bernidasi.
4 Teori pengaruh zat bioaktif progesteron (untuk AKDR yang berisi progesteron)
yang menghambat ovulasi, mempengaruhi endometrium yang berakibat
menghambat nidasi, mempengaruhi lendir serviks yang menghalangi gerak
sperma.
5 AKDR menimbulkan perubahan pengeluaran cairan, prostaglandin yang
menyebabkan rahim berkontraksi sehingga menghalangi transport sel sperma ke
kavum uteri.
6 Ion Cu yang dikeluarkan AKDR dengan Cuppes menyebabkan gangguan gerak
spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk melaksanakan konsepsi.
AP.
AQ.
AR.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS IUD
AS. Menurut Hanafi Hartanto, 2003 dalam buku KB dan Kontrasepsi,
Efektifitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate) yaitu
berapa lama IUD tetap tinggal di uteri tanpa :
1 Ekspulsi spontan
2 Terjadinya kehamilan
3 Pengangkatan atau pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi.
AT. Efektifitas dari macam-macam IUD tergantung pada IUD nya : Jenis,
ukuran, besar dan luasnya permukaan IUD, untuk IUD medisionalis bergantung
pada luasnya permukaan bahan bioaktif yang dikandung dan lama pemakaian.
AU. Akseptor : Umur, paritas, ketaatan dan keteraturan kontrol dan frekuensi
senggama, personal hygiene. Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor
yaitu umur dan paritas, diketahui :
a. Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan
atau pengeluaran IUD.
b. Makin muda usia terutama pada multigravida, maka tinggi angka ekspulsi
dan pengangkatan atau pengeluaran IUD.
AV. Maka efektifitas IUD tergantung pada variabel administratif pasien dan
medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi
dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi dan
kemudahan akseptor untuk mendapatkan pertolongan medis.
AW.Menurut Sujiyantini dan Arum (2009), keefektifitasan IUD adalah sangat
efektif yaitu 0,5 1 kehamilan per 100 perempuan selama 1 tahun pertama
penggunaan.
AX.
AY. TANDA DAN GEJALA
AZ. Tanda dan gejala dari infeksi genitalia pada pemasangan
IUD adalah:
1. Nyeri di area yang terinfeksi
2. Muncul tanda-tanda infeksi seperti rubor, kolor, dolor,
3. Ibu tampak tidak nyaman
BA.
BB. PENATALAKSANAAN
1. Mengkonsumsi antibiotik sesuai indikasi
2. Melepaskan IUD
BC.
BD. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN IUD
BE. Menurut Saifuddin Abdul Bari dalam buku Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kontrasepsi, 2008:
BF. Keuntungannya :
1 Sangat efektif, angka kegagalan 0,3 % sampai 1 %
2 IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.
3 Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT.380A dan tidak perlu
diganti).
4 Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
5 Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
6 Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
7 Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu IUD (CuT.380A)
8 Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
9 Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau setelah abortus (apabila tidak
terjadi infeksi)
10 Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
11 Membantu mencegah kehamilan ektopik
BG. Kerugiannya :
1 Resiko penyakit radang panggul meningkat.
2 Bertambahnya darah haid dan rasa sakit selama beberapa bulan pertama pada
berbagai pemakai IUD.
3 Tidak dapat melindungi klien dari PMS dan AIDS.
4 Tali IUD dapat menimbulkan perlukaan partia uteri dan mengganggu hubungan
sseksual pada sebagian pemakai.
5 Perfosari dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)
6 Klien tidak dapat mencabut sendiri IUD nya.
7 Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering
berganti pasangan
8 Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai
AKDR PRP dapat memicu infertilitas.
BH.
BI. INDIKASI PEMASANGAN IUD
BJ. Menurut Manuaba, 2010 dalam buku Penyakit Kandungan dan KB, pemasangan
IUD untuk bertujuan kontrasepsi dapat dilakukan pada wanita yang :
1. Telah memakai IUD di masa lalu dengan memuaskan dan aman.
2. Pernah melahirkan dan telah punya anak hidup.
3. Ukuran rahim tidak kurang dari 15 cm.
4. Telah cukup jumlah anaknya dan belum memutuskan untuk steril.
5. Tidak ingin hamil paling tidak lebih 2 tahun atau menjarangkan kehamilan.
6. Tidak boleh atau tidak cocok memakai kontrasepsi horrmonal (mengidap penyakit
jantung, hipertensi, hati).
7. Sedang menyusui dan menginginkan kontrasepsi.
8. Tidak ada kontra indikasi.
BK.
BL. KONTRA INDIKASI PEMASANGAN IUD
BM. Menurut Manuaba, 2010 dalam buku Penyakit Kandungan dan KB,
kontraindikasi pemasangan IUD antara lain :
1. Diketahui dan curiga hamil.
2. Infeksi panggul (pelvis)
3. Pendarahan vagina yang tidak diketahui.
4. Dicurigai atau dikrtahui adanya kanker rahim.
5. Kelainan rahim (rahim kecil, stenosis kanalis servikalis, polip endometrium)
6. Anemi berat dan gangguan pembukaan darah.
7. Wanita dengan resiko tinggi mendapat PMS.
BN.
BO.
BP.
BQ. EFEK SAMPING
BR. Menurut Sujiyantini dan Arum (2009), Efek samping IUD yaitu
a Perdarahan (menorangia atau spotting menorangia)
b Rasa nyeri dan kejang perut
c Terganggunya siklus menstruasi (umumnya terjadi pada 3 bulan pertama
pemakaian)
d Disminore
e Gangguan pada suami (sensasi keberadaan benang iud dirasakan sakit atau
mengganggu bagi pasangan saat melakukan aktifitas seksual)
f Infeksi pelvis dan endometrium
BS. Menurut Zahra (2008), Efek samping dari penggunaan IUD meliputi,
pada minggu pertama, mungkin ada pendarahan kecil. Ada perempuan - perempuan
pemakai spiral yang mengalami perubahan haid, menjadi lebih berat dan lebih lama,
bahkan lebih menyakitkan. Tetapi biasanya semua gejala ini akan lenyap dengan
sendirinya sesudah 3 bulan.
BT.
BU. KUNJUNGAN ULANG SETELAH PEMASANGAN IUD
BV. Kunjungan ulang setelah pemasangan IUD Menurut BKKBN (2003), yaitu
1. 1 minggu pacsa pemasangan
2. 2 bulan pasca pemasangan
3. Setiap 6 bulan berikutnya
4. 1 tahun sekali
5. Bila terlambat haid 1 minggu
6. Perdarahan banyak dan tidak teratur
BW.
BX. PEMERIKSAAN PADA SAAT KUNJUNGAN ULANG
BY. Menurut Varney, Kriebs dan Gegor (2006), Setelah IUD dipasang
seorang klien wanita, ia harus diarahkan untuk menggunakan preparat spermisida
dan kondom pada bulan pertama. Tindakan ini akan memberi perlindungan penuh
dari konsepsi karena IUD menghambat serviks, uterus, dan saluran falopii tempat
yang memungkinkan pembuahan dan penanaman sel telur dan ini merupakan kurun
waktu IUD dapat terlepas secara spontan. Klien harus melakukan kunjungan ulang
pertamanya dalam waktu kurang lebih enam minggu. Kunjungan ini harus dilakukan
setelah masa menstruasi pertamanya pasca pamasangan IUD. Pada waktu ini, bulan
pertama kemungkinan insiden IUD lebih tinggi untuk terlepas secara spontan telah
berakhir. IUD dapat diperiksa untuk menentukannya masih berada pada posisi yang
tepat. Selain itu, seorang wanita harus memiliki pengalaman melakukan pemeriksaan
IUD secara mandiri dan beberapa efeksamping langsung harus sudah diatasi.
Kunjungan ulang memberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan memberi
semangat serta meyakinkan klien. Diharapkan, hal ini membuahkan hasil berupa
peningkatan jumlah pengguna IUD. Data-data terkait IUD berikut dapat diperoleh
pada kunjungan ulang ini.
a Riwayat
1 Masa menstruasi (dibandingkan dengan menstruasi sebelum menggunakan
IUD)
a Tanggal
b Lamanya
c Jumlah aliran
d Nyeri
2 Diantara waktu menstruasi (dibading dengan sebelum menggunakan IUD)
a Bercak darah atau perdarahan: amanya, jumlah
b Kram: lamanya, tingkat keparahan
c Nyeri punggung: lokasi, lamanya, tingkat keparahan.
d Rabas vagina: lamanya, warna, bau, rasa gatal, rasa terbakar saat berkemih
(sebelum atau setelah urine mulai mengalir)
3 Pemeriksaan benang
a Tanggal pemeriksaan benang yang terakhir
b Benang dapat dirasakan oleh pasangan selama melakukan hubungan
seksual
4 Kepuasaan terhadap metode yang digunakan (baik pada wanita maupun
pasangannya)
5 Setiap obat yang digunakan: yang mana, mengapa
6 Setiap kunjungan ke dokter atau keruang gawat darurat sejak pemasangan
IUD: mengapa
7 Preparat spermisida dan kondom: kapan, apakah ada masalah
8 Tanda-tanda dugaankehamilan jika ada indikasi
b Pemeriksaan fisik
1 Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan pada bagian
bawah abdomen
2 Pemeriksaan untuk mengetahui adanya nyeri tekan akibat CVA, jika
diindikasikan untuk diagnose banding
3 Tanda-tanda kemungkinan kehamil, jika ada indikasi.
c Pemeriksaan pelvic
1 Pemeriksaan speculum
a Benang terlihat
b Panjang benang: pemotongan benang bila ada indikasi
c Rabas vagina: catat karakteristik dan lakukan kultur dan apusan basah bila
diindikasikan.
BZ. 2) Pemeriksaan bimanual
CA. a) Nyeri ketika serviks atau uterus bergerak
CB. b) Nyeri tekan pada uterus
CC. c) Pembesaran uterus
CD. d) Nyeri tekan pada daerah sekitar
CE. e) Tanda-tanda kemungkinan kehamilan bila diindikasikan

CF. d. Laboratorium
1 Hemoglobin atau hematokrit
2 Urinalis rutin sesuai indikasi untuk diagnosis banding
3 Kultur serviks dan apusan basah, jika ada indikasi
4 Tes kehamilan, jika ada indikasi
CG. Apabila hasil pemeriksaan diatas memuaskan, maka klien akan
mendapatkan jadwal untuk melakukan pemeriksaan fisik rutinnya. Pada kunjungan
tersebut bidan akan melakukan hal-hal seperti mengkaji riwayat penapisan umum
yaitu pemeriksaan fisik dan pelvic, pap smear, kultur klamedia dan gonorea, tes
laboratorium rutin lain dan pengulangan kunjungan ulang IUD seperti dijelaskan
diatas. Pengarahan supaya klien memeriksakan IUD nya, kapan harus menghubungi
bila muncul masalah atau untuk membuat perjanjian sebelum kunjungan tahunnya
dapat ditinjau kembali bersama klien selama kunjungan ulang ini.
CH.
CI.
CJ.WAKTU PEMASANGAN IUD
CK.Menurut Manuaba, 2010 dalam buku Ilmu Penyakit Kandungan dan KB, waktu
pemasangan IUD yaitu :
1. Sewaktu haid sedang berlangsung
CL. Pada waktu ini pemasangan akan mudah karena kanalis servikalis agak
melebar dan kemungkinan terjadi kehamilan sangat kecil, perasaan sakit kurang
dan perdarahan tidak begitu banyak
1. Pasca Persalinan
CM. Pemasangan dini yaitu pemasangan sebelum ibu dipulangkan dari
rumah sakit. Pemasangan langsung yaitu pemasangan 3 bulan setelah ibu
dipulangkan. Pemasangan tidak langsung yaitu pemasangan setelah lebih dari 3
bulan pasca persalinan atau keguguran.
1. Pasca Keguguran
CN. Langsung setelah keguguran, atau dipasang sewaktu ibu pulang dari
rumah sakit.
1. Sewaktu Seksio Sesaria
CO. Sebelum luka rahim ditutup terlebih dahulu dikeluarkan darah-darah
beku dari kavum uteri, kemudian IUD dipasangkan pada bagian fundus.
CP.
CQ. Tehnik Pemasangan
1. Puh Out Technique : Lippes Loop
2. Withdrawal Technique : Cu T 380 A, Cu T 200, Cu 7, ML Cu
CR.
CS.
CT. HAL-HAL YANG HARUS DIKETAHUI OLEH AKSEPTOR KB IUD
CU. Menurut BKKBN tahun 2010 dalam buku Kapita Selekta Peningkatan
Pelayanan Kontrasepsi:
1. Cara memeriksa sendiri benang IUD pada bulan-bulan pertama post insersi dan
setiap selesai haid.
a. Mencuci tangan dengan air sabun kemudian duduk dengan posisi jongkok
b. Memasukkan jari telunjuk atau jari tengah kedalam liang senggama sampai
menjangkau rahim.
c. Raba adanya benang berarti IUD ada pada posisi yang benar dan jangan
ditarik.
2. Setelah pemasangan IUD boleh melakukan aktifitas seperti biasa dan boleh
melakukan hubungan suami istri setelah 3 hari pemasangan.
3. Efek samping yang terjadi misalnya perdarahan bertambah banyak atau lama, rasa
sakit atau kram.
4. Mengetahui tanda-tanda bahaya IUD.
a Terlambat haid, perdarahan abnormal.
b Nyeri abdomen, disparenmia.
c Vaginal discargo abnormal.
d Merasa tidak sehat, menggigil dan benang IUD teraba tambah panjang, ujung
IUD keluar, benang tambah pendek atau tidak teraba.
5. Bila berobat karena alasan apapun (medis, chinergis, problem sexual) beritahu
dokter bahwa metode KB yang dipakai IUD.
6. Sebaiknya tunggu 3 bulan untuk hamil kembali setelah IUD dilepas dan gunakan
kontrasepsi lain selama waktu tersebut, untuk mencegah hubungan ektopik.
7. IUD tidak memberi perlindungan terhadap AIDS dan penyakit sexual lainnya dan
bagian perut tidak boleh dipijat.
8. Bila suami merasa nyeri saat berhubungan intim kemungkinan disebabkan oleh
benang yang terlalu panjang atau pendek, segera kontrol.
9. Boleh dilepas bila akseptor ingin hamil lagi atau ada komplikasi berat meskipun
daya kerjanya belum habis.
CV.
CW. Alasan Pencabutan
1. Atas permintaan sendiri
a. Ingin hamil lagi
b. Ingin ganti cara kontrasepsi
2. Alasan medis
a. Erosi hebat
b. Perdarahan banyak
c. Nyeri berlebihan yang tidak teratasi dengan pengobatan
d. Infeksi berat yang tidak terobati dengan antibiotik
e. Hamil dengan AKDR ( hamil < 13 minggu )
f. Keputihan yang tidak teratasi dengan pengobatan
CX.
CY. ASUHAN KEPERAWATAN
1. KEMUNGKINAN DATA FOKUS/PENGKAJIAN
a. Wawancara
CZ. Identitas klien, keluhan utama (nyeri), riwayat obstetrik, riwayat
ginekologi, riwayat perkawinan, pekerjaan, pendidikan, keluhan sejak
kunjungan terakhir, pengeluaran pervaginam, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, Riwayat KB.
b. Pemeriksaan Fisik (Head To Toe)
DA. Kesadaran: composmentis, GCS 15.
DB. Tanda-tanda vital: nadi meningkat (> 100 x/mnt), suhu
meningkat (> 370C), RR normal (16 20 x/mnt)
DC. Genitalia: adanya tanda-tanda infeksi
DD. Ekstremitas: akral dingin
c. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan cultus jaringan yang terinfeksi
2. Laboratorium hematologi
DE.
DF.
DG. ANALISA DATA

DH. DK. MASALAH


DI. DATA DJ. ETIOLOGI
NO KEPERAWATAN

DM. DS: klien mengeluh DO. Pemasangan KB DX. Nyeri


DL. nyeri skala 3-5 (0-5) diarea genitalia
DP.
1 melakukan KB dengan pemasangan IUD beberapa
DQ. Terinfeksi
waktu yang lalu
DR.
DN. DO:
DS. Reaksi peradangan
klien tampak kesakitan
DT.
klien tampak memegang area yang sakit
Nadi meningkat (> 100 x/mnt), suhu meningkat (> DU. Merangsang reseptor
370C), RR normal (16 20 x/mnt) nyeri
Muncul tanda-tanda infeksi pada genitalia DV.
DW. Nyeri
DZ. DS: klien mengeluh EB. Pemasangan KB EK. Resiko penyebaran
DY. cemas dengan keadaannya
EC. infeksi
2 dirinya tidak paham mengenai penyakit yang sedang
ED. Terinfeksi
dideritanya
tetap melakukan hubungan seksual EE.
EF.Reaksi peradangan
EA. DO:
klien dan keluarga tampak cemas EG.
Nadi meningkat (> 100 x/mnt), suhu meningkat (> EH. Berhubungan seksual
0
37 C), RR normal (16 20 x/mnt) EI.
Muncul tanda-tanda infeksi pada genitalia
EJ.Resiko penyebaran infeksi
EM. DS: klien mengeluh EP.Pemasangan KB EY. Kurangnya
EL. cemas dengan keadaannya
EQ. pengetahuan yang
3 dirinya tidak paham mengenai penyakit yang sedang
ER. Terinfeksi berhubungan dengan
dideritanya
EN. ES. kurang pemahaman atau

EO. DO: ET. Reaksi peradangan tidak mengenal sumber-

klien tampak cemas EU. sumber informasI


klien terus bertanya kepada tenaga kesehatan tentang EV. Kurang paparan
penyakitnya informasi dan pengalaman
Nadi meningkat (> 100 x/mnt), suhu meningkat (> EW.
0
37 C), RR normal (16 20 x/mnt) EX. Kurang pengetahuan
Muncul tanda-tanda infeksi pada genitalia
EZ.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
FA.Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut:
a. Nyeri yang berhubungan dengan adanya kotraksi dini yang semakin kuat dan semakin
sering
b. Resiko penyebaran infeksi menular seksual berhubungan dengan adanya jaringan pada
daerah genitalia yang terinfeksi
c. Kurangnya pengetahuan tentang kontraksi dini pada kehamilan yang berhubungan
dengan kurang pemahaman atau tidak mengenal sumber-sumber informasi.
FB.
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
FC.
N FD. DX FE. TUJUAN FF. INTERVENSI FG. RASIONAL
O
FH. FI. Nyeri FJ. Tujuan : setelah dilakukan 1 Tentukan sifat, lokasi dan durasi 1 Membantu dalam mendiagnosis
1 tindakan keperawatan selama nyeri. dan menentukan tindakan yang
FO.
1x24 jam, klien menyatakan akan dilakukan.
2 Kaji stres psikologi
2 Ansietas terhadap situasi darurat
memahami teknik relaksasi
ibu/pasangan dan respons
dapat memperberat ketidak
nyeri
emosional terhadap kejadian
nyamanan karena syndrome
FK. FP.
3 Berikan lingkungan yang tenang ketegangan, ketakutan, dan nyeri.
FL. Kriteria hasil:
3 Dapat membantu dalam
dan aktivitas untuk menurunkan
FM. nyeri berkurang, TTV
menurunkan tingkat asietas dan
rasa nyeri. Instruksikan klien
dalam batas normal, ibu dapat
karenanya mereduksi
untuk menggunakan metode
mendemonstrasikan teknik
ketidaknyamanan
relaksasi, misalnya: napas
relaksasi dan ibu tidak FQ.
dalam, visualisasi distraksi, dan FR.
meringis atau menunjukan
FS.
jelaskan prosedur.
raut muka yang kesakitan. 4 Meningkatkan kenyamanan dan
4 Kolaborasi: Berikan analgesik.
FN. mengurangi nyeri
FT. FU. Resik FV.Tujuan: setelah dilakukan 1 anjurkan klien untuk menjaga 1 Kebersihan mencegah
2 o penyebaran tindakan keperawatan selama higiene area genitalia pertumbuhan mikroorganisme
2 anjurkan klien untuk tidak
infeksi 1x24 jam penyebaran infeksi patogen
melakukan hubungan seksual 2 Penularan infeksi dapat terjadi
tidak terjadi
sementara dalam proses melalui hubungan seksual
FW. Kriteria Hasil:
FX.
pengobatan
4. Klien memahami informasi FY.
3 anjurkan klien untuk menjaga
3 Nutrisi yang baik mempercepat
mengenai pencegahan
keadekuatan nutrisi
proses penyembuhan luka dan
penyebaran infeksi
mencegah infeksi bertambah buruk
5. Penyebaran infeksi tidak
terjadi
6. Penyakit infeksi klien segera
dapat disembuhkan
FZ. GA. Kura GB. Tujuan: setelah dilakukan 1 kaji pengetahuan klien 1 Menyediakan intervensi yang tepat
GG.
4 ngnya tindakan keperawatan selama sasaran
2 jelaskan penyebab klien
2 Pengetahuan yang baik dari
pengetahuan 1x pertemuan klien
menderita infeksi setelah
seorang klien terhadap penyakit
memperoleh informasi
pemasangan IUD
yang dideritanya membantu
mengenai kondisinya secara GH.
3 jelaskan langkah-langkah yang menenangkan klien
akurat
3 Menjaga nutrisi, higene dan
diperlukan klien untuk
GC.
menghentikan aktifitas seksual
mengobati infeksi, mencegah
GD. Kriteria hasil:
sementara waktu dapat membantu
infeksi bertambah buruk,
GE. Klien mengungkapkan
pemahamannya terhadap mencegah penularan infeksi klien mencapai kondisi
4 Berikan kesempatan bagi ibu
informasi yang disampaikan kesehatannya seperti sediakala
untuk mengajukan pertanyaan 4 Proses tanya jawab penting untuk
GF.
mengetahui tingkat pemahaman
klien terhadap informasi yang
diberikan
GI.

GJ.
GK. DAFTAR PUSTAKA
GL. Mansjoer Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran.
Edisi III, Jilid I. Media Aesculapius FKUI
GM. Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan
Maternitas. Jakarta : Salemba medika
GN. Perry & Potter. 2005. Keperawatan Medical Bedah.
Jakarta. EGC
GO. Saefudin. 2003. Asuhan Keperawatan Maternitas.
Jakarta. Salemba Medika
GP. Yuliaikhah, Lily S.Si. T, 2009. Seri Asuhan Kebidanan
Kehamilan. Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta
GQ. WiknjosastroHanifa, Abdul Bari Saifuddin, dan Trijatmo
Rachimhadhi. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2002.

GR.