Anda di halaman 1dari 36

DAFTAR ISI

Daftar Isi 2
Skenario 3
Penentuan Kata-Kata Sulit 4
Pertanyaan 5
Jawaban 5
Hipotesis 7
Sasaran Belajar 8
LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Prostat 9
LO. 1.1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makro Prostat 9
LO. 1.2. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikro Prostat 11
LI. 2. Memahami dan dan Menjelaskan Fisiologi Prostat 12
LI. 3. Memahami dan Menjelaskan BPH 13
LO. 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi BPH 13
LO. 3.2. Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi BPH 13
LO. 3.3. Memahami dan Menjelaskan Etiologi BPH 14
LO. 3.4. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi dan Patogenesis BPH 15
LO. 3.5. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis BPH 17
LO. 3.6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding BPH 20
LO. 3.7. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana BPH 27
LO. 3.8. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan BPH 31
LO. 3.8. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi BPH 31
LO. 3.9. Memahami dan Menjelaskan Prognosis BPH 31
LI. 4. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam pada Pemeriksaan dan 32
Penatalaksanaan Kelainan pada Saluran Kemih Laki laki
Daftar Pustaka 35

SKENARIO

2
Laki-laki, 65 tahun datang berobat ke Poliklinik Bedah dengan keluhan tidak bisa kencing
sejak 1 hari yang lalu, meskipun merasa sangat ingin kencing. Sebelumnyariwayat LUTS
(Lower Urinary Tract Syndrome) seperti hesistensi, nokturia, urgensi, frekuensi, terminal
dribbling sering dirasakan sebelumnya. IPSS (International Prostate Syndrome Score) >30
dan Skor Kualitas Hidup (QoL) >5. Pada pemeriksaan fisik didapatkan region suprapubic
bulging dan pada pemeriksaan colok dubur didapatkan prostate membesar. Oleh dokter yang
memeriksanya dianjurkan untuk pasang kateter urin dan dilakukan BNO-IVP.

I. KATA SULIT

3
1. BNO IVP
Intra Vena Pyelograpm ; X-Ray dengan injeksi untuk evaluasi ginJal, ureter,
bladder, dengan cairan kontras (Iodin).
2. Bulging
Bengkak ketika di palpasi.
3. Colok Dubur
Pemeriksaan prostat lewat dubur. Pemeriksaan ini mengukur : ukuran, contour,
dan letak adanya pembesaran/massa.
4. Hesistensi
Sulit untuk miksi (mengejan; pelu tenaga bantuan tambahan).
5. IPSS
Scoring / penilaian untuk mengetahui seberapa parah BPH (7 pertanyaan +
QoL).
6. LUTS
Kumpulan gejala penyakit pada saluran kemih bawah.
7. Nokturia
Frekuensi pengeluaran urin pada malam hari.
8. QoL (Quality of Life)
Pemeriksaan untuk menentukan seberapa terganggunya kehidupan pasien
terhadap penyakit.
9. Terminal Dribbling
Keluarnya sisa urin dalam beberapa detik.
10. Urgensi
Dorongan mendesak/mendadak untuk mengeluarkan urin.

4
II. PERTANYAAN
1. Apakah hubungan faktor usia dengan gejala ?
2. Mengapa pasien sulit berkemih meskipun merasa ingin berkemih ?
3. Mengapa pasien mengalami nokturia, hesistensi, urgensi, dan frekuensi ?
4. Pada bagian prostat manakah yang mengalami pembesaran ?
5. Apakah maksud dari IPSS >30 dan berapakah nilai normalnya ?
6. Mengapa region suprapubic bulging ?
7. Apa saja pemeriksaan lanjutannya ?
8. Apakah maksud dari QoL >5 dan nilai normal ?
9. Bagaimana penilaian IPSS ?
10. Apa saja tindakan yang harus dilakukan dokter pada pasien ini ?
11. Mengapa bisa terjadi terminal dribbling ?
12. Apa hukum dari pemeriksaan colok dubur ?
13. Apa saja syarat untuk melakukan pemeriksaan colok dubur ?
14. Bagaimana pandangan Islam terhadap pemeriksaan dengan membuka aurat ?
15. Apa tujuan, cara, persiapan, dan syarat BNO-IVP ?
16. Apa diagnosis kasus ini ?
17. Mengapa bisa terjadi pembesaran prostat ?
18. Mengapa dokter mengajurkan pemasangan kateter dan apakah hal tersebut
tidak melukai saluran uretra pasien ?
19. Apa fungsi prostat ?
20. Apa yang akan terjadi apabila tidak ditangani lebih lanjut ?

III. JAWABAN
1. Faktor hormone testosterone pada umur yang semakit lanjut akan mengalami
penurunan dan terjadi peningkatan jumlah hormone estrogen yang
menyebabkan prostat membesar.
2. Prostat yang membesar akan menekan uretra sehingga terjadinya LUTS yang
menyebabkan dinding Vesika Urinaria menebal dan terbentuknya trabekula
dan terjadi iritasi sehingga terjadi hipertrofi yang menyebabkan kontraksi M.
detrusor menurun dan terjadi retensi urin.
3. Prostat yang membesar akan menekan uretra sehingga terjadinya LUTS yang
menyebabkan dinding Vesika Urinaria menebal dan terbentuknya trabekula
dan terjadi iritasi sehingga terjadi hipertrofi yang menyebabkan kontraksi M.
detrusor menurun dan terjadi retensi urin, urgensi, frekuensi, dan hesistensi.
4. Bagian yang sering mengalami BPH adalah lobus lateral dan lobus media.
Pada bagian lobus posterior biasanya keganasan.
5. Pada scoring >30 bernilai BERAT/PARAH. Penilaian scoring pada IPSS :
a) 1 7 = ringan
b) 8 19 = sedang
c) 20 35 = parah
6. Prostat yang membesar akan menekan uretra sehingga terjadinya LUTS yang
menyebabkan dinding Vesika Urinaria menebal dan terbentuknya trabekula
dan terjadi iritasi sehingga terjadi hipertrofi yang menyebabkan saat dilakukan
palpasi terdapat pembengkakan.
7. Biopsy, PSA (Prostat Specific Antigen), USG, urinalisis, dan kultur urin.
8. Nilai QoL >5 berarti bermasalah / terganggun dalam kehidupan sehari
harinya. Penilaian normal / tidaknya tergantung dengan hasil scoring.

5
9. Penilaian scoring pada IPSS :
a) 1 7 = ringan
b) 8 19 = sedang
c) 20 35 = parah

Pertanyaan yang diajukan pada IPSS yaitu :


1) Riwayat
2) Frekuensi
3) Intermitten
4) Urgensi
5) Weak stream
6) Strain
7) Nokturia
10. Dengan IPSS >30 dilakukan tindakan operatif . Tindakan berdasarkan
penilaian scoring pada IPSS :
a) 1 7
Menghindari makanan yang mampu mengganggu fungsi VU.
b) 8 19
Medikamentosa
c) 20 35
Operatif
11. Prostat yang membesar akan menekan uretra sehingga menyebabkan urin
keluar sedikit sedikit dan masih akan keluar setelah beberapa detik.
12. Hukumnya dalam keadaan kegawat daruratan diperbolehkan.
13. Harus steril, menggunakan sarung tangan, dan lebih baik hanya pada dewasa.
14. Hukumnya dalam keadaan kegawat daruratan diperbolehkan. Pemeriksaan
dengan berbeda kelamin harus ditemani muhrimnya agar tidak timbul fitnah.
15.
16. BPH, dengan diagnosis banding prostatitis, Ca Prostat, dan ISK.
17. Faktor hormone testosterone pada umur yang semakit lanjut akan mengalami
penurunan dan terjadi peningkatan jumlah hormone estrogen yang
menyebabkan prostat membesar.
18. Kateter dipasang karena untuk mempermudah mengeluarkan urin. Infeksi atau
tidak tergantung dengan kebersihan dan pemasangan.
19. Fungsi prostat salah satunya adalah mencegah infeksi.
20. Infeksi, obstuksional, hipertrofi VU, hernia, dan hematuria.

6
IV. HIPOTESIS

BPH adalah pembesaran prostat yang disebabkan oleh faktor hormone testosterone pada
umur yang semakit lanjut akan mengalami penurunan dan terjadi peningkatan jumlah
hormone estrogen yang menyebabkan prostat membesar dan menimbulkan gejala retensi
urin, urgensi, frekuensi, dan hesistensi yang dapat diagnosis dengan penilaian scoring pada
IPSS, nilai QoL, dan pemeriksaan lanjutan seperti Biopsy, PSA (Prostat Specific Antigen),
USG, urinalisis, dan kultur urin. Umumnya pembesaran prostat terjadi pada lobus lateral dan
lobus media yang dapat ditentukan dengan pemeriksaan colok dubur, dan dapat ditangani
dengan tindakan sesuai hasil scoring IPSS, apabila tidak ditangani , maka dapat terjadi
infeksi, obstuksional, hipertrofi VU, hernia, dan hematuria. Pada pandangan Islam melakukan
pemeriksaan pada penyakit ini hukumnya dalam keadaan kegawat daruratan diperbolehkan,
pemeriksaan dengan berbeda kelamin harus ditemani muhrimnya agar tidak timbul fitnah

7
V. SASARAN BELAJAR

LI 1 MM Anatomi Prostat
LO 1.1 Makroskopik
LO 1.2 Mikroskopik

LI 2 MM Fisiologi Prostat

LI 3 MM BPH
LO 3.1 Definisi
LO 3.2 Epidemiologi
LO 3.3 Etiologi
LO 3.4 Patogenesis dan Patofisiologi
LO 3.5 Manifestasi Klinis
LO 3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding
LO 3.7 Tatalaksana
LO 3.8 Pencegaham
LO 3.9 Komplikasi
LO 3.10 Prognosis

LI 4 MM Pandangan Islam pada Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Kelainan


pada Saluran Kemih Laki laki

LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Prostat


LO.1.1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makro Prostat
Prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra pars prostatica.
Prostata mempunyai panjang + 3 cm dengan berat + 20 gram dan terletak di antara collum
vesicae di atas dan diaphragma urogenitale di bawah.

8
Prostat dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar
capsula terdapat selubung fibrosa, yang
merupakan bagian lapisan visceral fascia
pelvis. Prostat yang berbentuk kerucut
mempunyai basis prostatae yang terletak
superior dan berhadapan dengan collum vesicae
dan apex prostatae yang terletak di inferior
dan berhadapan dengan diaphragma
urogenitale.
Kedua ductus ejaculatorius menembus bagian
atas fascies posterior prostatae untuk bermuara
ke urethra pars prostatica pada pinggir lateral
utriculus prostaticus.
Kelenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran otot polos dan jaringan
ikat, dan ductusnya bermuara ke urethra pars prostatica. Prostat secara tidak sempurna terbagi
menjadi lima lobus:
Lobus anterior terletak di depan urethra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar.
Lobus medius/medianus adalah kelenjar berbentuk baji yang terletak di antara urethra
dan ductus ejaculatorius. Permukaan atas lobus medius berhubungan dengan trigonum
vesicae, bagian ini mengandung banyak kelenjar.
Lobus posterior terletak dibelakang urethra dan di bawah ductus ejaculatorius, juga
mengandung kelenjar.
Lobus prostatae dextra dan sinistra terletak di samping urethra dan dipisahkan satu
dengan lainnya oleh alur vertikal dangkal yang terdapat pada fascies posterior prostatae.
Lobus laterales mengandung banyak kelenjar.

9
Snell, Richard S. (2011). Clinical Anatomy by Systems. Lippincott Williams
& Wilkins/Wolters Kluwer Health Inc. USA. alih bahasa Liliana Sugiharto.
Jakarta: EGC.

Vaskularisasi Prostata
Cabang arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media.
Venae membentuk plexus venosus prostaticus, yang terletak di antara capsula prostatica
dan selubung fibrosa. Plexus venosus prostaticus menampung darah dari vena dorsalis
profunda penis dan sejumlah venae vesicales, selanjutnya bermuara ke vena iliaca interna.

Persarafan Vesica Urinaria


Persyarafan prostat berasal dari plexus hypogastricus inferior. Saraf simpatik merangsang
otot polos prostat selama ejakulasi. Duktus ejakulatorius bermuara ke uretra saat ketiga
bangunan menembus substansi kelenjar prostat, dimana kapsulanya terdiri atas jaringan ikat
fibroelastis dan sel otot polos. Stroma kelenjar yang padat, kontinyu dengan kapsula.
Parenkim prostat terdiri atas sejumlah kelenjar yang masing-masing tersusun dalam tiga
lapisan: mukosa, submukosa dan eksterna (utama). Lumen ketiga kelompokan ini dicurahkan
ke dalam tiga sistem saluran menuju ke dalam sinus uretra yang melebar. Mukosa kelenjar
yang berlipat-lipat terdiri atas epitel selapis kubis sampai torak (dengan daerah-daerah
bertingkat torak) disokong oleh stroma vaskular fibroelastis yang memperlihatkan sel otot

10
polos. Seringkali, lumen kelenjar pada pria usia lanjut mempunyai konkremen prostat bulat
sampai lonjong, sering berlapis-lapis dan mungkin mengalami kalsifikasi
LO.1.2. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikro Prostat
Prostat melingkari pangkal
uretra yang keluar dari
kandung kemih. Merupakan
kumpulan dari 30-50 kelenjar
tubuloalveolar kompleks yang
kecil kecil, bermuara ke dalam
uretra pars prostatica. Kelenjar
kelenjar kecil terletak di
mukosa dan dikelilingi
kelenjar sub mukosa. Kelenjar
utama di bagian tepi dan
merupakan bagian terbesar
kelenjar.
Secara umumnya, kalenjar prostat terbentuk dari glandular fibromaskuler dan juga stroma, di
mana prostat berbentuk piramida, berada di dasar musculofascia pelvis dan dikelilingi oleh
selaput tipis dari jaringan ikat. Keseluruhan kelenjar dibungkus oleh simpai fibroelastik yang
mengandung banyak serat otot polos disebelah dalam dan kaya akan plexus vena. Bagian
kelenjarnya terbenam didalam stroma padat yang dibagian tepi berlanjut pada simpai. Alveoli
dan tubuli kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk dan ukurannya. Alveoli
dan tubuli bercabang berkali kali dan memiliki lumen yang lebar. Lamina basal kurang jelas
dan epitel sangat berlipat. Jenis epitelnya selapis atau bertingkat dan bervariasi dari silindris
sampai kubis rendah, tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar. Sitoplasma
banyak mengandung butir sekret , lisosom dan butir lipid. Saluran keluar mempunyai lumen
yang tidak teratur dan mirip tubuli sekretori kecil.

Secara histologinya, prostat dapat dibagi menjadi 3 bagian atau zona, yakni :
Zona perifer, memenuhi hampir 70% dari bagian kalenjar prostat di mana ia mempunyai
duktus yang menyambung dengan urethra prostat bagian distal. Zona perifer merupakan
tempat prediksi timbulnya kanker prostat .
Zona sentral atau bagian tengah pula mengambil 25% ruang prostat dan juga seperti
zona perifer tadi, ia juga memiliki duktus akan tetapi menyambung dengan uretra prostat
di bagian tengah, sesuai dengan bagiannya.
Zona transisi, atau bagian yang terakhir dari kelenjar prostat terdiri dari dua lobus, dan
juga seperti dua zona sebelumnya, juga memiliki duktus yang mana duktusnya
menyambung hampir ke daerah sphincter pada urethra prostat dan menempati 5%
ruangan prostat. Zona transisional ini mempunyai arti medis yang penting karena
merupakan tempat asal sebagian besar hiperplasia prostat jinak. Seluruh duktus ini, selain
duktus ejakulator dilapisi oleh sel sekretori kolumna dan terpisah dari stroma prostat oleh
lapisan sel basal yang berasal dari membrana basal.

11
Mescher, Anthony L. (2011). Junqueiras Basic Histology Tesxt & Atlas. 12th Ed. The McGraw-Hill
Companies Inc. alih Bahasa Frans Dany. Jakarta: EGC

LI. 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Prostat


Kelenjar prostat menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung ion sitrat, kalsium,
dan ion fosfat, enzim pembeku, dan profibrinolisis. Selama pengisian, sampai kelenjar prostat
berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer seperti susu yang
dikeluarkan oleh kelenjar prostat menambah lebih banyak lagi jumlah semen. Sifat yang
sedikit basa dari cairan prostat mungkin penting untuk suatu keberhasilan fertilisasi ovum,
karena cairan vas deferens relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolisme
sperma, dan sebagai akibatnya, akan menghambat fertilisasi sperma. Sekret vagina juga
bersifat asam (ph 3.5 4). Sperma tidak dapat bergerak optumal sampai pH sekitarnya
meningkat kira kira 6 6.5. Sehingga merupakan suatu kemungkinan bahwa cairan prostat
menetralkan sifat asam dari cairan lainnya setelah ejakulasi dan juga meningkatkan motilitas
dan fertilisasi sperma.
Kelenjar prostat secara relatif tetap kecil sepanjang masa kanak kanak dan mulai tumbuh
pada masa pubertas di bawah rangsangan testosteron. Kelenjar ini mencapai ukuran hampir
tetap padausia 20 tahun dan tetap dalam ukuran itu sampai pada usia kira kira 50 tahun.
Pada waktu tersebut, beberaoa orua kelenjarnya mulai berinvolusi, bersamaan dengan
penurunan pembentukan testosteron oleh testis. Sekali kelenjar prostat terjadi, sel sel
karsinogen biasanya dirangsang untuk tumbuh lebih cepat oleh testosteron, dan dihambat
dengan pengangkatan testis, sehingga testosteron tidak dapat dibentuk lagi.

Fungsi prostat
Fungsi kelenjar prostat pada umumnya sebagai sumber nutrisi dan perlindungan spermatozoa
yaitu dengan cara:
1. Mengeluarkan cairan alkalis yang berfungsi untuk menetralkan sekresi vagina yang
asam. Fungsi ini bertujuan untuk sperma agar dapat bertahan hidup dalam lingkungan
yang sedikit basa

12
2. Menghasilkan enzim-enzim pembekuan dan fibrinolisin. Enzim pembekuan prostat
bekerja pada fibrinogen dari vesikula seminalis untuk enghasilkan fibrin yang bertujuan
untuk membekukan semen sehingga sperma yang diejakulasikan dapa bertahan di dalam
saluran reproduksi wanita. Setelah itu bekuan seminal diuraikan oleh fibrinolisin, yaitu
suatu enzim pengurai fibrin dari prostat,sehingga sperma motil yang dikeluarkan dapat
bergerak bebas di dalam saluran reproduksi wanita

LI. 3. Memahami dan Menjelaskan BPH


LO.3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi BPH
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau tumor prostat jinak adalah pertumbuhan berlebihan
dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel prostat
memperbanyak diri melebihi kondisi normal, biasanya dialami laki-laki berusia di atas 50
tahun.

LO.3.2. Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi BPH


Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau dalam bahasa umumnya dinyatakan sebagai
pembesaran prostat jinak (PPJ), merupakan suatu penyakit yang biasa terjadi. Ini di lihat dari
frekuensi terjadinya BPH di dunia, di Amerik secara umum dan di Indonesia secara
khususnya. Di dunia, diperkirakan bilangan penderita BPH adalah seramai 30 juta, bilangan
ini hanya pada kaum pria kerana wanita tidak mempunyai kalenjar prostat, maka oleh sebab
itu, BPH terjadi hanya pada kaum pria (emedicine, 2009). Jika dilihat secara
epidemiologinya, di dunia, dan kita jaraskan menurut usia, maka dapat di lihat kadar insidensi
BPH, pada usia 40-an, kemungkinan seseorang itu menderita penyakit ini adalah sebesar
40%, dan setelah meningkatnya usia, yakni dalam rentang usia 60 hingga 70 tahun,
persentasenya meningkat menjadi 50% dan diatas 70 tahun, persen untuk mendapatkannya
bisa sehingga 90% (A.K. Abbas, 2005). Akan tetapi, jika di lihat secara histologi penyakit
BPH, secara umum membabitkan 20% pria pada usia 40-an, dan meningkat secara dramatis
pada pria berusia 60-an, dan 90% pada usia 70 . Di indonesia, penyakit pembesaran prostat
jinak menjadi urutan kedua setelah penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara
umumnya, diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang berusia di atas 50 tahun,
dengan kini usia harapan hidup mencapai 65 tahun ditemukan menderita penyakit PPJ atau
BPH ini. Selanjutnya, 5 persen pria Indonesia sudah masuk ke dalam lingkungan usia di atas
60 tahun. Oleh itu, jika dilihat, dari 200 juta lebih bilangan rakyat indonesia, maka dapat
diperkirakan 100 juta adalah pria, dan yang berusia 60 tahun dan ke atas adalah kira-kira
seramai 5 juta, maka dapat secara umumnya dinyatakan bahwa kira-kira 2.5 juta pria
Indonesia menderita penyakit BPH atau PPJ ini. Indonesia kini semakin hari semakin maju
dan dengan Universitas Sumatera Utara 2 berkembangnya sesebuah negara, maka usia
harapan hidup pasti bertambah dengan sarana yang makin maju dan selesa, maka kadar
penderita BPH secara pastinya turut meningkat. (Furqan, 2003) Secara pasti, bilangan
penderita pembesaran prostat jinak belum di dapat, tetapi secara prevalensi di RS, sebagai
contoh jika kita lihat di Palembang, di RS Cipto Mangunkusumo ditemukan 423 kasus
pembesaran prostat jinak yang dirawat selama tiga tahun (1994-1997) dan di RS Sumber
Waras sebanyak 617 kasus dalam periode yang sama (Ponco Birowo, 2002). Ini dapat
menunjukkan bahawa kasus BPH adalah antara kasus yang paling mudah dan banyak
ditemukan. Kanker prostat, juga merupakan salah satu penyakit prostat yang lazim berlaku
dan lebih ganas berbanding BPH yang hanya melibatkan pembesaran jinak daripada prostat.
Kenyataan ini adalah berdasarkan bilangan dan presentase terjadinya kanker prostat di dunia
secara umum dan Indonesia secara khususnya. Secara umumnya, jika diperhatikan, di dunia,
pada 2003, terdapat lebih kurang 220,900 kasus baru ditemukan, dimana, daripada jumlah ini,

13
29.000 daripadanya berada di tahap membunuh (A.K. Abbas, 2005) . Seperti juga BPH,
kanker prostat juga menyerang pria berusia lebih dari 50 dan pada usia di bawah itu bukan
merupakan suatu yang abnormal. Secara khususnya di Indonesia, menurut (WHO,2008),
untuk tahun 2005, insidensi terjadinya kanker prostat adalah sebesar 12 orang setiap 100,000
orang, yakni yang keempat setelah kanker saluran napas atas, saluran pencernaan dan hati .
Setelah secara umum melihat dan mengetahui akan epidemiologi dari kedua penyakit, yakni
BPH dan kanker prostat, penulis tertarik untuk mengetahui dengan lebih dalam lagi mengenai
gambaran penyakit ini terutama berdasarkan gambaran secara histopalogi memandangkan
tiada penelitian khusus yang setakat diketahui oleh penulis mengenainya dijalankan di
Medan.
BPH merupakan tumor
jinak yang paling sering pada laki-
laki, insidennya berhubungan
dengan usia. Prevalensi histologis
BPH meningkat dari 20% pada
laki-laki berusia 41-50 tahun, 50%
pada laki-laki usia 51-60 tahun
hingga lebih dari 90% pada laki
berusia diatas 80 tahun.
Meskipun bukti klinis belum
muncul , namun keluhan obstruksi
juga berhubungan dengan usia.
Pada usia 55 tahun 25% laki-laki mengeluh gejala obstruksi pada saluran kemih bagian
bawah, meningkat hingga usia 75 tahun dimana 50% laki-laki mengeluh berkurangnya
pancaran atau aliran pada saat berkemih (Cooperberg, 2013).

Di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, selama tahun 2013 terdapat 103
pasien dengan BPH yang menjalani operasi, dari total 1161 pasien urologi yang menjalani
operasi. Faktor-faktor resiko terjadiny aBPH masih belum jelas, beberapa penelitian
mengarah pada predisposisi genetik atau perbedaan ras. Kira-kira 50% laki-laki berusia
dibawah 60 tahun yang menjalani operasi BPH memiliki faktor keturunan yang kemungkinan
besar bersifat autosomal dominan, dimana penderita yang memiliki orangtua menderita BPH
memiliki resiko 4x lipat lebih besar dibandingkan dengan yang normal (Cooperberg, 2013).

LO.3.3. Memahami dan Menjelaskan Etiologi BPH


BPH merupakan proses normal selama penuaan dan tergantung oleh produksi hormone
testosterone dan dihydritestosterone (DHT). Kira-kira 50% laki-laki menunjukkan adanya
histopatologi BPH pada usia 60 tahun. Angka ini meningkat manjadi 90% pada usia 85 tahun.
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hyperplasia prostat
tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hyperplasia prostat erat kaitannya dengan
peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
Menurut sebuah studi yang menganalisis data dari kelompok plasebo dalam Prostate Cancer
Prevention Trial (PCPT), yang terdaftar 18.880 pria berusia lebih dari 50 tahun, tingginya
konsumsi daging merah dan diet tinggi lemak dapat meningkatkan risiko BPH, dan tingginya
konsumsi sayuran dikaitkan dengan penurunan risiko BPH. Lycopene dan suplemen dengan
vitamin D bisa menurunkan risiko pembesaran prostat, tetapi vitamin C, vitamin E, dan selenium
dilaporkan tidak ada hubungannya dengan BPH. Aktivitas fisik juga terbukti mengurangi
kemungkinan pembesaran prostat dan Lower Urinary Tract Symptom (LUTS).

14
Dalam meta-analisis yang terdaftar 43.083 pasien laki-laki, intensitas latihan itu terkait dengan
pengurangan risiko pembesaran prostat. Sebuah korelasi negatif antara asupan alkohol dan
pembesaran prostat telah ditunjukkan dalam banyak studi penelitian. Pria yang mengkonsumsi
alkohol secara sedang memiliki risiko 30% lebih kecil kemungkinan terjadi gejala BPH, 40%
lebih kecil kemungkinan untuk mengalami transurethral resection prostate, dan 20% lebih kecil
kemungkinan mengalami gejala nokturia. Namun, dalam meta-analisis dari 19 studi terakhir,
menggabungkan 120.091 pasien, pria yang mengkonsumsi 35 gram atau lebih alkohol per hari
dapat menurunkan risiko BPH sebesar 35% tetapi peningkatan risiko LUTS dibandingkan dengan
pria yang tidak mengkonsumsi alkohol.

LO.3.4. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi dan Patogenesis BPH

PATOGENESIS
Hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya BPH, tetapi beberapa
hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar
dihidrotestosteron dan proses aging (menjadi tua). Beberapa hipotesis yang diduga sebagai
penyebab timbulnya BPH adalah:
a. Teori Dihidrotestosteron

15
Untuk pertumbuhan sel kelenjar
prostat sangat dibutuhkan suatu
metabolit androgen yaitu
dihidrotestosteron atau DHT.
Dihidrotestosteron dihasilkan dari
reaksi perubahan testosteron di
dalam sel prostat oleh enzim 5-
reduktase dengan bantuan koenzim
NADPH. Dihidrotestosteron yang
telah berikatan dengan reseptor
androgen (RA) membentuk
kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang
menstimulasi pertumbuhan sel prostat Perubahan testosteron menjadi dihidrotestosteron oleh
enzim 5-reduktase. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak
jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5-
reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel
prostat pada BPH lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi
dibandingkan dengan prostat normal.

b. Teori Ketidakseimbangan Estrogen dan Testosteron


Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen relatif tetap
sehingga perbandingan antara estrogen dan testosteron relatif meningkat. Telah diketahui
bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel prostat terhadap
rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan menurunkan
jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru
akibat rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur
yang lebih panjang sehingga masa prostat menjadi lebih besar.

c. Teori Interaksi Stroma dan Epitel


Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel
stroma melalui suatu mediator (growth factor) tertentu. Setelah sel-sel stroma mendapatkan
stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis growth factor yang selanjutnya
mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu menyebabkan terjadinya proliferasi
sel-sel epitel maupun sel stroma.

d. Berkurangnya Kematian Sel Prostat


Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologi untuk
mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh sel-
sel di sekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom.
Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel.
Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel
prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat
yang mengalami apoptosis menyebabkan pertambahan massa prostat. Sampai sekarang belum
dapat diterangkan secara pasti faktor-faktor yang menghambat proses apoptosis. Diduga
hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan
kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat. Estrogen diduga mampu
memperpanjang usia sel-sel prostat, sedangkan faktor pertumbuhan TGF- berperan dalam
proses apoptosis.

e. Teori Sel Stem

16
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apotosis, selalu dibentuk sel-sel baru. Di dalam
kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu suatu sel yang mempunyai kemampuan
berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormon
androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi,
menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan
sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel
stroma maupun sel kelenjar

PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan
lumen uretra prostatika dan menghambat aliran
urin. Keadaan ini menyebabkan peningkatan
tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan
urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat
guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus
menerus ini menyebabkan perubahan anatomi
buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan
divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada
buli-buli tersebut, oleh pasien dirasakan sebagai
keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau
LUTS yang dahulu dikenal dengan gejala
prostatismus.
Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke
seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada
kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara
ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin
dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks
vesikoureter.
Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan
akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.
Obstruksi pada leher kandung kemih mengakibatkan berkurangnya atau tidak adanya aliran
kemih, dan ini memerlukan intervensi untuk membuka jalan keluar urin. Metode yang
mungkin adalah prostatektomi parsial, Transurethral Resection of Prostate (TURP) atau insisi
prostatektomi terbuka, untuk mengangkat jaringan periuretral hiperplasia insisi transuretral
melalui serat otot leher kandung kemih untuk memperbesar jalan keluar urin, dilatasi balon
pada prostat untuk memperbesar lumen uretra, dan terapi antiandrogen untuk membuat atrofi
kelenjar prostat.
Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap kelenjar. Pada prostat normal
rasio stroma dibanding dengan kelanjar adalah 2:1, pada BPH, rasionya meningkat menjadi 4:1,
hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan dengan
prostat normal. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen statik
sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi
prostat.

LO.3.5. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis BPH


Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan
di luar saluran kemih.
17
1.) Gejala pada saluran kemih:
- Gejala pada saluran kemih bagian atas: Nyeri pinggang, demam (infeksi),
hidronefrosis.
- Gejala pada saluran kemih bagian bawah: Keluhan pada saluran kemih sebelah
bawah ( LUTS ) terdiri atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif
disebabkan oleh karena penyempitan Uretra pars prostatika karena didesak oleh
prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat
dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.

Gejala obstruktif ialah :


a. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy)
b. Pancaran miksi yang lemah (Weak stream)
c. Miksi terputus (Intermittency)
d. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
e. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of Incomplete Bladder Emptying )
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga
faktor, yaitu :
- Volume kelenjar periuretral
- Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
- Kekuatan kontraksi otot detrusor
Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga meskipun
volume kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot polos prostat
dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan kenaikan daya
kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan.
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna pada
saat miksi atau disebabkan oleh hipersensitivitas otot detrusor karena pembesaran prostat
menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum
penuh.
Gejala iritatif ialah :
a. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
b. Nokturia
c. Miksi sulit ditahan (Urgency)
d. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Gejala-gejala tersebut di atas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat
gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing < 50ml
Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml
Grade III : Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas
sisa urin > 150 ml

Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk
mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan
(fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi
urin akut.

18
Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahului oleh beberapa faktor pencetus,
antara lain:
- Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing
terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum
(alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan.
- Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau
mengalami infeksi prostat akut.
- Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau
yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan antikolinergik atau
alfa adrenergik.

2.) Gejala di luar saluran kemih:


Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit hipertropi prostat.
Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga
mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal. Benigna Prostat Hipertropi selalu
terjadi pada orang tua, tetapi tak selalu disertai gejala-gejala klinik, hal ini terjadi karena
dua hal yaitu:
- Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih.
- Retensi urin dalam kandung kemih menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi
kandung kemih dan cystitis (Hidayat, 2009).
Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna Prostat Hipertrofi:
a. Retensi urin (urine tertahan di kandung kemih, sehingga urin tidak bisa keluar).
b. Kurangnya atau lemahnya pancaran kencing.
c. Miksi yang tidak puas.
d. Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari (nocturia).
e. Pada malam hari miksi harus mengejan.
f. Terasa panas, nyeri atau sekitar waktu miksi (disuria).
g. Massa pada abdomen bagian bawah.
h. Hematuria (adanya darah dalam urin).
i. Urgency (dorongan yang mendesak dan mendadak untuk mengeluarkan urin).
j. Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksi.
k. Kolik renal (kerusakan renal, sehingga renal tidak dapat berfungsi).
l. Berat badan turun.
m. Anemia, kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui.
n. Pasien sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter.

Karena urin selalu terisi dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan
selaputnya merusak ginjal.

Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia, mual dan muntah,
dan rasa tidak nyaman pada epigastrik.
Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:
1. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (colok dubur)
ditemukan penonjolan prostat dan sisa urine kurang dari 50 ml.
2. Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol,
batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.

19
3. Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin
lebih dari 100 ml.
4. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total.
Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk
mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan
(fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi
urin akut.

LO.3.6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding BPH


Anamnesis
o Riwayat pasien : keluhan yang dirasakan, riwayat penyakit lain dan penyakit pada
saluran urogenitalia (pernah mengalami cedera, infeksi, atau pembedahan), riwayat
kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual, tingkat kebugaran (yang mungkin
diperlukan untuk tindakan pembedahan), obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang
dapat menimbulkan keluhan miksi.
o International Prostate Symptom Score (IPSS) dan Quality of Life (QoL)
IPSS merupakan 7 pertanyaan yang ditanyakan dokter kepada pasien sebagai alat
screening untuk mendiagnosis BPH dan mengetahui tingkat keparahannya. Selain
untuk mendiagnosis, IPSS digunakan untuk menentukan terapi untuk pasien. Setiap
pertanyaan punya score 1-5, dimana pertanyaannya meliputi incomplete emptying,
frequency, intermittency, urgensi, weak stream, straining, nokturia. Keadaan pasien
BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang diperoleh adalah sebagai berikut.
Skor 0-7: bergejala ringan
Skor 8-19: bergejala sedang
Skor 20-35: bergejala berat.
Selain 7 pertanyaan di atas, di dalam daftar pertanyaan IPSS terdapat satu pertanyaan
tunggal mengenai kualitas hidup (quality of life atau QoL) yang juga terdiri atas 7
kemungkinan jawaban dan QoL berfungsi untuk menentukan kualitas hidup.
International Prostatic Symptom Score

20
Tidak <1 Hampi
Keluhan pada >50
Kualitas hidup Sangasama
bulan terakhir Senandalam 5
Umumn <50% 50% umumn r Tidak
Bercamp %
sekali kali Buru
disebabkan oleh t g ya puas ur ya selalu
bahag
k
gejala berkemih senan tidak ia
a. Seberapa sering sekali
g puas
anda merasa
Seandainya 0 1 2 3 4 5 6
kandung kemih 0 1 2 3 4 5
Anda harus
tidak kosong
menghabiskan
setelah berkemih?
sisa hidup
dengan kondisi
b. Seberapa sering
berkemih anda harus
seperti saat berkemih
ini, lagi 0 1 2 3 4 5
bagaimana dalam waktu
perasaan Anda?
kurang dari 2 jam?
Skor kualitas hidup (QoL) =
c. Seberapa sering
terjadi urin
berhenti sewaktu
0 1 2 3 4 5
kemudian mulai
lagi saat anda
berkemih?

d. Seberapa sering
anda merasa
kesulitan untuk 0 1 2 3 4 5
menunda
berkemih?

e. Seberapa sering
terjadi aliran 0 1 2 3 4 5
berkemih lemah?

f. Seberapa sering
anda harus
berusaha terlalu 0 1 2 3 4 5
besar untuk mulai
berkemih?

5 kali
Tidak 3
1 kali 2 kali 4 kali atau
pernah kali
lebih

g. Berapa kali anda


bangun untuk
0 1 2 3 4 5
berkemih di malam
hari?
Tabel Skor IPSS dan Kualitas Hidup

21
Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan fisik pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi
buli-buli
2. Colok dubur atau digital rectal examination (DRE) merupakan pemeriksaan yang penting
pada pasien BPH .
Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan adanya pembesaran prostat
melalui derajat kesimetrisan, konsistensi prostat,batas,sulcus medianus ,krepitasi
dan adanya nodul yang merupakan salah satutanda dari keganasan prostat.
Colok dubur (DRE) pada hiperplasia prostat : konsistensi prostat kenyal seperti
meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul.
Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul
dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan teraba
krepitasi.

Pemeriksaan Penunjang
a. PSA (protein spesifik antigen)
Prostate Specific Antigen (PSA) merupakan suatu glikoprotein protease yang diproduksi
dan disekresi oleh sel epitel prostat, yang merupakan tanda paling efektif untuk
mengetahui adanya kanker prostat dan keadaanya meningkat pada BPH. Peningkatan
PSA juga sebagai dari akibat colok dubur (DRE = Digital Rectal Examination),
pemasangan kateter, sistoskopi, biospsi jarum, ultrasonografi trasnrectal Transrectal
Ultrasound), reseksi prostat transuretra (TURP, Transurethral Resection of the Prostate),
bertambahnya umur dan retensi urin serta besarnya volume
PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer
specific. Jika kadar PSA tinggi berarti:
pertumbuhan volume prostat lebih cepat
keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek dan lebih mudah terjadinya
retensi urine akut.
pemasangan kateter, sistoskopi, biopsi jarum, ultrasonografi (Transrectal
Ultrasound), reseksi prostat transuretra (TURP, Transurethral Resection of the
Prostate)
Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA.
Dikatakan oleh Roehrborn et al (2000) bahwa makin tinggi kadar PSA makin cepat laju
pertumbuhan prostat. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar
PSA 0,2- 1,3 ng/dl laju adalah 0,7 mL/tahun, sedangkan pada kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl
sebesar 2,1 mL/tahun, dan kadar PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun19. Kadar PSA
di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada
prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan
prostat, dan usia yang makin tua. Sesuai yang dikemukakan oleh Wijanarko et al (2003)
bahwa serum PSA meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya
perlahanlahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi. Rentang kadar
PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah:
40-49 tahun: 0-2,5 ng/ml
50-59 tahun:0-3,5 ng/ml
60-69 tahun:0-4,5 ng/ml
70-79 tahun: 0-6,5 ng/ml

22
Meskipun BPH bukan merupakan penyebab timbulnya karsinoma prostat, tetapi
kelompok usia BPH mempunyai resiko terjangkit karsinoma prostat. Pemeriksaan PSA
bersamaan dengan colok dubur lebih superior daripada pemeriksaan colok dubur saja
dalam mendeteksi adanya karsinoma prostat. Oleh karena itu pada usia ini pemeriksaan
PSA menjadi sangat penting guna mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat.
Sebagian besar petunjuk yang disusun di berbagai negara merekomendasikan
pemeriksaan PSA sebagai salah satu pemeriksaan awal pada BPH, meskipun dengan
sarat yang berhubungan dengan usia pasien atau usia harapan hidup pasien.

Tes PSA ini sebaiknya dilakukan setiap tahun sejak berumur 50 tahun, namun untuk pria
yang memiliki riwayat penyakit kanker prostat atau orang keturunan Afrika-Amerika, tes
PSA sebaiknya dimulai sejak umur 40 tahun.

b. Imaging studies for BPH symptoms


1. Transuretral Ultrasound
2. Uroflowmetry
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urin selama proses miksi secara
elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran
kemih bagian bawah yang tidak invasif. Dari uroflometri dapat diperoleh informasi
mengenai volume miksi, pancaran maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave),
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum, dan lama pancaran.
Nilai Qmax dipengaruhi oleh: usia, jumlah urin yang dikemihkan, serta terdapat
variasi individual yang cukup besar. Oleh karena itu hasil uroflometri menjadi
bermakna jika volume urin (>150 mL) dan diperiksa berulang kali pada kesempatan
yang berbeda. Spesifisitas dan nilai prediksi positif Qmax untuk menentukan (Direct
Bladder Outlet Obstruction (BOO) harus diukur beberapa kali. Untuk menilai ada
tidaknya BOO sebaiknya dilakukan pengukuran pancaran urin 4 kali.

3. Pressure flow studies


4. Urethral cytoscopy
5. Postvoid residual urine measurement

Pemeriksaan pencitraan
a. Foto polos abdomen (BNO)
Dari sini dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit lain misalnya batu saluran
kemih, hidronefrosis, atau divertikel kandung kemih juga dapat untuk menghetahui
adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat.

b. Pielografi Intravena (IVP)

23

Pembesaran prostat dapat
dilihat sebagai lesi
defek isian kontras (filling
defect/indentasi
prostat) pada
dasar kandung kemih
atau ujung distal ureter membelok keatas berbentuk seperti mata kail (hooked fish).
Untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter
ataupun hidronefrosis serta penyulit yang terjadi pada buli buli yaitu adanya
trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli buli.
Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin

IVP memerlukan persiapan yaitu :


Malam sebeleum pemeriksaan diberi pencahar untuk membersihakan kolon dari feses
yang menutupi daerah ginjal
Pasien tidak diberi cairan mulai dari jam 10 sebelum pemeriksaan untuk mendapatkan
kondisi dehidrasi
Keesokan hari pasien diminta untuk berpuasa
Sebelum pasien disuntukian urografin 60 mg%, terlebih dahulu dilakukan penngujian
subkutan atau intravena kontras (conray/ meglumineiothalamat 60%) jika pasien alergi
terhadap kontras, maka IVP dibatalkan

Perbedaan IVP normal dan abnormal

24
Gambar3.53.Rontgen IVP normal

Gambar 3.5.4 Foto rontgen IVP pada 5 menit

25
Gambar 3.5.5. Foto rontgen IVP pada 10 menit

Gambar 3.5.6.Foto rontgen IVP pada 20 menit

26
Keuntungan dan kerugiaan IVP

Yang dapat mempengaruhi pemeriksaan IVP


Pasien yang tidak bisa diam
Masih terdapat fese, gas dalam kolon
Pasien belum lama melakukan tes enema barium tes untuk pemeriksaan kolon

c. Sistogram retrograd
Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram
retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi.

d. Transrektal Ultrasonografi (TRUS)


deteksi pembesaran prostat
mengukur volume residu urin

e. MRI atau CT jarang dilakukan


Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam macam potongan

f. Uretrosistoskopi
Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan buli-buli.
Terlihat adanya pembesaran prostat, obstruksi uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli,
trabekulasi buli-buli, selule, dan divertikel bulibuli. Selain itu sesaat sebelum dilakukan
sistoskopi diukur volume residual urine pasca miksi. Sayangnya pemeriksaan ini tidak
mengenakkan bagi pasien, bisa menimbulkan komplikasi perdarahan, infeksi, cedera
uretra, dan retensi urine sehingga tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada BPH.
Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk
menentukan perlunya dilakukan TUIP, TURP, atau prostatektomi terbuka. Disamping itu
pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya karsinoma buli-buli
sistoskopi sangat membantu dalam mencari lesi pada buli-buli.

27
g. Patologi anatomi
Kelainan jaringan prostat dicurigai nodular hiperplasia apabila pada makroskopisnya
tampak potongan jaringan prostat yang padat, kenyal, berwarna putih.Permukaan
potongannya mengandung nodus yang berbatas cukup tegas dan menonjol dari
permukaan potongan. Nodularitas ini mungkin terdapat di seluruh prostat, tetapi biasanya
paling menonjol di regio bagian dalam (sentral dan tensisional).

h. Pemeriksaan fungsi ginjal


Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus urinarius bawah
ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-
30% dengan rata-rata 13,6%. Gagal ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi
pasca bedah (25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai gagal ginjal (17%),
dan mortalitas menjadi enam kali lebih banyak. Pasien LUTS yang diperiksa
ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0,8% jika kadar kreatinin serum
normal dan sebanyak 18,9% jika terdapat kelainan kadar kreatinin serum10. Oleh
karena itu pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk perlu tidaknya
melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas.

Benign Prostat Hypertrophy atau Nodular Hyperplasia ciri mikroskopisnya yaitu tampak
jaringan prostat dengan adanya proliferasi dari kelenjar yang lumennya mengalami dilatasi
dan beberapa berisi korpora amilacea, dan tampak juga adanya proliferasi dari stroma
jaringan ikat fibromuskularis, tidak ditemukan sel-sel ganas.(Jika stroma dominan maka BPH
adenomyomatik,jika kelenjar dominan maka BPH myoadenomatik).
Diagnosa Banding
Dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat dapat
menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
Inkontinensia Paradoks
Batu Kandung Kemih
Hematuria
Sistitis
Pielonefritis
Retensi Urin Akut Atau Kronik
Refluks Vesiko-Ureter
Hidroureter
Hidronefrosis
Gagal Ginjal
Ca Prostat
Prostatitis
Neurogenik Bladder
Striktura Uretrha

LO.3.7. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana BPH


a. Tanpa terapi (watchful waiting)

28
Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS <8 dan 8, tetapi
gejala LUTS tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapatkan terapi
apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuau hal yang mungkin dapat
memperburuk keluhannya, misalnya tidak boleh mengkonsumsi kopi atau alkohol sebelum
tidur malam, kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi
atau cokelat), dan hindari penggunaan obat dekongestan atau antihistamin.
Secara periodik pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya keluhannya yang
mungkin menjadi lebih baik (sebaiknya memakai skor yang baku), disamping itu
dilakukan pemeriksaan laboratorium, residu urin, atau uroflometri. Jika keluhan miksi
bertambah buruk daripada sebelumnya, mungkin dipikirkan untuk memilih terapi yang
lain.

b. Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk mengurangi resistensi otot polos
prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi intravesika dengan obat-obatan
penghambat adrenergik- (adrenergic -blocker) dan mengurangi volume prostat sebagai
komponen statik dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron/dihidrotestosteron
melalui penghambat 5-reduktase.

Selain kedua cara di atas, sekarang banyak dipakai obat golongan fitofarmaka yang
mekanisme kerjanya masih belum jelas.
1. Penghambat reseptor -adrenergik
Fenoksibenzamin, yaitu penghambat alfa yang tidak selektif yang ternyata mampu
memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi. Fenoksibenzamin
mengikat reseptor alfa secara kovalen, yang menimbulkan penyekatan irreversibel
berjangka lama (1448 jam atau lebih lama). Obat ini cukup selektif terhadap reseptor
1, tetapi lebih lemah dari prasozin. Obat ini juga menghambat ambilan kembali
norepinefrin yang dilepas oleh ujung saraf presinaptik adrenergik. Fenoksibenzamin
menyekat reseptor histamin (H1), asetilkolin, dan serotonin seperti halnya reseptor .
Obat ini diserap per oral, walaupun biovailabilitasnya rendah dan sifat kinetiknya tidak
diketahui dengan baik. Biasanya obat ini diberikan per oral, dimulai dengan dosis
rendah sebesar 1020 mg/hari yang dapat dinaikkan sampai mencapai efek yang
diinginkan. Dosis kurang dari 100 mg/hari biasanya sudah cukup untuk menyekat
reseptor alfa secara adekuat.
Banyak efek samping yang ditimbulkan terutama hipotensi postural dan takikardi.
Sumbatan hidung dan hambatan ejakulasi dapat pula terjadi. Karena fenoksibenzamin
memasuki sistem saraf pusat, obat ini akan menimbulkan efek sentral yang kurang
spesifik seperti kelemahan, sedasi, dan mual. Obat ini dapat menimbulkan tumor pada
binatang, tetapi implikasi klinisnya belum diketahui.

Prasozin merupakan suatu piperazinyl quinazoline yang efektif pada penanganan


hipertensi. Obat ini sangat selektif terhadap reseptor 1 dan 1000 kali kurang kuat
pada reseptor 2. Hal ini dapat menjelaskan sebagian mengenai ketiadaan relatif
takikardi pada pemberian prasozin dibandingkan dengan pemberian fentolamin dan
fenoksibenzamin. Prasozin melemaskan otot polos arteri dan vena serta otot polos di
prostat akibat penyekatan reseptor 1.

Tamsulosin adalah suatu antagonis kompetitif 1 dengan struktur yang agak berbeda
dari struktur kebanyakan penyekat 1. Biovailabilitasnya tinggi dan memiliki waktu
paruh yang lama sekitar 915 jam. Obat ini dimetabolisme secara ekstensif di hati.

29
Tamsulosin memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap reseptor 1A dan 1D
dibandingkan dengan subtipe 1B. Percobaan mengindikasikan bahwa tamsulosin
memiliki potensi yang lebih besar dalam menghambat kontraksi otot polos prostat
versus otot polos vaskular dibandingkan dengan antagonis selektif 1 lain. Selain itu,
dibandingkan dengan antagonis lainnya, tamsulosin memiliki efek yang lebih kecil
terhadap tekanan darah pasien pada kondisi berdiri.

2. Penghambat 5-reduktase (5-ARI)


Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT) dari
testosteron yang dikatalis oleh enzim 5-reduktase di dalam sel prostat. Menurunnya
kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel prostat menurun. Preparat
yang tersedia mula-mula adalah finasteride, yang menghambat 5-reduktase tipe 2.
Dilaporkan bahwa pemberian obat ini 5mg sehari yang diberikan sekali setelah enam
bulan mampu menyebabkan penurunan prostat hingga 28%. Hal ini memperbaiki
keluhan miksi dan pancaran miksi. Saat ini telah tersedia preparat yang menghambat
enzim 5-reduktase tipe 1 dan tipe 2 (dual inhibitor), yaitu Duodart.

3. Fitofarma
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala
akibat obstruksi prostat, tetapi data farmakologis tentang kandungan zat aktif yang
mendukung mekanisme kerja obat fitofarma sampai saat ini belum diketahui pasti.
Kemungkinan fitofarma bekerja sebagai: antiestrogen, antiandrogen, menurunkan
kadar Sex Hormone Binding Globulin (SHBG), Inhibit Basic Fibroblast Growth
Factor (BFGF) dan Epidermal Growth Factor (EGF), mengacaukan metabolisme
prostaglandin, efek antiinflamasi, menurunkan outflow resistance,
dan memperkecil volume prostat. Diantara fitoterapi yang banyak
dipasarkan adalah Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis
rooperi, Radix urtica dan masih banyak lainnya.

c. Intervensi
Penyelesaian masalah pasien BPH jangka panjang yang paling baik saat ini adalah
pembedahan, karena pemberian obat-obatan atau terapi non-invasif lainnya membutuhkan
jangka waktu yang sangat lama untuk melihat hasil terapi. Desobstruksi kelenjar prostat
akan menyembuhkan gejala obstruksi dan miksi yang tidak lampias. Hal ini dapat
dikerjakan dengan cara operasi TURP, atau Insisi Prostat Transurehtra (TUIP atau BNI).
Pembedahan direkomendasikan pada pasien BPH yang tidak menunjukkan perbaikan
setelah terapi medikamentosa, mengalami retensi urin, infeksi saluran kemih berulang,
hematuria, gagal ginjal, dan timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat
obstruksi saluran kemih bagian bawah.

1. Pembedahan terbuka
Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesikal, retropubik atau perineal.
Pada operasi melalui kandung kemih dibuat sayatan perut bagian bawah, kemudian
prostat dienukleasi dari dalam simpainya. Keuntungan teknik ini adalah dapat
sekaligus untuk mengangkat batu buli-buli atau divertikelektomi
apabila ada divertikulum yang cukup besar. Cara pembedahan retropubik
dikerjakan melalui sayatan kulit perut bagian bawah dengan membuka simpai prostat
tanpa membuka kandung kemih, kemudian prostat dienukleasi. Kedua cara

30
pembedahan tersebut masih kalah dibandingkan dengan cara TURP, yaitu
mordibitasnya yang lebih lama, tetapi dapat dikerjakan tanpa memerlukan alat
endoskopi yang khusus, dengan alat bedah baku. Prostatektomi melalui sayatan
perineal tidak lagi dikerjakan.

2. Transurethra Resection of Prostate


Transurethral Resection of The Prostate adalah tatalaksana bedah standar untuk
pasien BPH. Cairan irigan (pembilas) non-konduktif digunakan selama TURP untuk
menjaga visibilitas yang baik dari lapangan operasi selama tindakan berlangsung.
Cairan ini tidak mengandung elektrolit, dan penyerapan larutan hipotonik ini ke dalam
aliran darah dapat menyebabkan kelebihan cairan dan hiponatremia, sehingga dapat
menyebabkan efek kardiovaskular dan sistem saraf yang merugikan. Sindrom TURP
didefinisikan sebagai tingkat natrium serum <125 mmol/L yang dikombinasikan
dengan gejala klinis kardiovaskular atau manifestasi neurologis. Namun, manifestasi
klinis juga dapat terjadi dengan tingkat natrium serum >125 mmol/L.
Menurut The European Association of Urology Guidelines 2009, TURP adalah
pengobatan pilihan untuk prostat, namun memiliki angka morbiditas pasca operasi
yang signifikan.
TURP dapat mengakibatkan komplikasi seperti perdarahan pascaoperasi, striktur
uretra, inkontinensia urin, ejakulasi retrograde, dan sindrom TURP. Komplikasi yang
menyebabkan perdarahan membutuhkan transfusi darah sesegera mungkin.

3. Elektrovaporasi prostat
Cara ini sama dengan TURP, hanya saja teknik yang dilakukan memakai roller ball
yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat, sehingga mampu membuat
vaporisasi kelenjar prostat. Teknik ini cukup aman, tidak banyak menimbulkan
perdarahan pada saat operasi, dan masa rawat inap di rumah sakit lebih singkat.
Namun teknik ini hanya diperuntukkan pada prostat yang tidak terlalu besar (<50
gram) dan membutuhkan waktu operasi yang lebih lama.

4. Laser prostatektomi
Energi laser mulai dipakai sebagai terapi BPH sejak tahun 1986, yang dari tahun ke
tahun mengalami penyempurnaan. Terdapat 4 jenis energi yang dipakai, yaitu:
Nd:YAG, Holmium:YAG, KTP:YAG, dan diode yang dapat dipancarkan melaui bare
fibre, right angle fibre, atau interstitial fibre. Kelenjar protat pada suhu 6065C akan
mengalami koagulasi dan pada suhu yang lebih dari 100C akan mengalami
evaporasi. Jika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian Laser ternyata lebih
sedikit menimbulkan komplikasi, dapat dikerjakan secara poliklinis, penyembuhan
lebih cepat, dan dengan hasil yang kurang lebih sama. Sayangnya terapi ini
membutuhkan terapi ulang sebesar 2% setiap tahun. Kekurangannya adalah tidak
dapat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi (kecuali pada Ho:YAG), sering
banyak menimbulkan disuria pasca-bedah yang dapat berlangsung sampai 2 bulan,
tidak langsung dapat miksi spontan setelah operasi, dan peak flow rate yang lebih
rendah dari pada pasca TURP.

5. Transurethral Needle Ablation of Prostate (TUNA)


Teknik ini memakai energi dari frekuensi radio yang menimbulkan panas sampai
mencapai 100C, sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Sistem ini terdiri
atas kateter TUNA yang dihubungkan dengan generator yang dapat membangkitkan
energi pada frekuensi radio 490 kHz. Kateter dimasukkan ke dalam uretra melalui

31
sistoskopi dengan pemberian anestesi topikal xylocaine sehingga jarum yang terletak
pada ujung kateter terletak pada kelenjar prostat. Pasien sering kali masih mengeluh
hematuria, disuria, kadang-kadang retensi urin, dan epididimo-orkitis.

32
LO.3.8. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan BPH
Banyak mengkonsumsi vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam
mencegah pertumbuhan sel kanker. Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam
proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ
tubuh lain tidak terlalu berat
Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.
Mengurangi makanan kaya lemak hewan
Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan laut),
vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
Berolahraga secara rutin
Pertahankan berat badan ideal dan jangan sering manahan air kencing

LO.3.9. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi BPH


Renal insufficiency
Recurrent urinary tract infections
Gross hematuria
Bladder calculi
Renal failure or uremia (rare in current practice)
Retensi urin akut, retensi urin kronik, refluks vesikoureter, hidroureter, hidronefrosis,
gagal ginjal
Hernia atau hemoroid. Disebabkan penderita mengejan sewaktu miksi
Batu endapan didalam kandung kemih karena selalu terdapat urin sisa
Batu endapan tersebut dapat menimbulkan hematuri, sistitis. Bila terjadi refluks akibat
batu, maka dapat terjadi pielonefritis.
Inkontinensia Paradoks

LO.3.10. Memahami dan Menjelaskan Prognosis BPH


Lebih dari 90% pasien mengalami perbaikan sebagian atau perbaikan dari gejala yang
dialami. Sekitar 10-20% akan mengalami kekambuhan penyumbatan dalam lima tahun.
Apabila tidak segera ditindak, BPH memiliki prognosis buruk karena dapat berkembang
menjadi kanker prostat.

Prognosis BPH adalah:


1. Tergantung dari lokasi, lama dan kerapatan retensi.
2. Keparahan obstruksi yang lamanya 7 hari dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Jika
keparahan obstruksi diperiksa dalam dua minggu, maka akan diketahui sejauh mana
tingkat keparahannya. Jika obstruksi keparahannya lebih dari tiga minggu maka akan
lebih dari 50% fungsi ginjal hilang.
3. Prognosis yang lebih buruk ketika obstruksi komplikasi disertai dengan infeksi.
4. Umumnya prognosis lebih bagus dengan pengobatan untuk retensi urine.

33
LI. 4. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam pada Pemeriksaan dan
Penatalaksanaan Kelainan pada Saluran Kemih Laki-laki
A. Al-Quran
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al-Maidah : 2)

Dan Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali
apa yang terpaksa kamu lakukan. (Q.S. Al-Anam : 119)

B. Hadits

Siapa yang mampu untuk dapat bermanfaat buat saudaranya, maka berilah manfaat. (H.R.
Muslim)



Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan di turunkan-Nya pula obatnya,
yang diketahui oleh orang yang mengerti dan tidak diketahui oleh orang yang tidak
mengetahuinya. (H.R. Ahmad)




Dari Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi SAW.
bersabda: Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat lelaki (yang lain), dan janganlah
seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang lain)". (H.R. Muslim)

C. Pandangan Ulama
1. Fatwa Syaikh Muhammad Saleh Al-Utsmani RA. Dalam kitab Wa Rasaail Syaikh
Ibnu Utsmaimin Juz 1 halaman 30, Syamilah.





Sesungguhnya seorang wanita yang mendatangi dokter lelaki di saat tidak ditemukan
dokter wanita tidaklah mengapa, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, dan
dibolehkan bagi wanita tersebut membuka di hadapan dokter lelaki semua yang
dibutuhkan untuk dilihat, hanya saja disyaratkan harus ditemani mahram tanpa khalwat
dengan dokter lelaki tersebut, sebab khalwat diharamkan, dan ini termasuk kebutuhan.
Telah disebutkan pula oleh para ulama semoga Allah merahmati mereka- bahwa
perkara ini dibolehkan karena dia diharamkan dengan sebab sebagai wasilah (pengantar
kepada zina) dan sesuatu yang diharamkan karena dia sebagai wasilah dibolehkan
dalam kondisi dibutuhkan.

34
2. Fatwa Lajnah Daimah dalam fatwa bi ruqmi, wa tarikhul. Jannatiddaimati lil buhusil
alamiyati wal iftai No. 3201 tanggal 1/9/1400 H
,
,
. ,
Jika memungkinkan membuka aurat wanita tersebut dan mengobatinya pada dokter
wanita yang muslimah, maka tidak boleh baginya membuka auratnya dan melakukan
pengobatan kepada dokter lelaki meskipun dia seorang muslim. Namun jika tidak
memungkinkan, dan ia terpaksa melakukannya karena pengobatan, maka boleh dibuka
auratnya oleh dokter lelaki muslim dengan kehadiran suaminya atau mahramnya, karena
dikhawatirkan fitnah atau terjatuh kedalam perkara yang tidak disukai akibatnya. Jika
tidak ditemukan dokter lelaki muslim, maka dibolehkan dokter lelaki kafir dengan syarat
yang telah disebutkan.

Analisis
Islam sangat menghargai tugas kesehatan, karena tugas ini adalah tugas kemanusiaan yang
sangat mulia, sebab menolong sesama manusia yang sedang menderita. Dan menurut Islam,
hubungan antara petugas kesehatan dengan pasien adalah sebagai hubungan penjual jasa
dengan pemakai jasa, sebab si pasien dapat memanfaatkan ilmu, keterampilan, keahlian
petugas kesehatan, sedangkan petugas kesehatan memperoleh imbalan atas profesinya berupa
gaji atau honor. Karena itulah terjadilah akad ijarah antara kedua belah pihak, ialah suatu
akad, di mana satu pihak memanfaatkan barang, tenaga, pikiran, keterampilan, dan keahlian
pihak lain, dengan memberi imbalannya.
Namun semua itu ada ukuran dan batasannya. Dalam masalah merawat dan mengobati pasien
di dalam dunia kedokteran, secara umum Islam mengizinkan hal itu terjadi walau antara laki-
laki dan perempuan. Dalam hal ini bisa saja dokter laki-laki dan pasiennya perempuan, atau
sebaliknya. Kecuali untuk jenis penyakit tertentu dan penanganan tertentu yang
mengharuskan dengan sesama jenis.

1. Haram Melihat Aurat


Laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri atau mahram, diharamkan saling melihat
aurat.
Dari Ummi Hani berkata, Aku mendatangi Rasulullah SAW. di tahun kemenangan,
namun beliau sedang mandi dan Fatimah menutupinya. Beliau SAW. bertanya, siapakah
anda?. Dan aku pun menjawab, Umu Hani. (H.R. Bukhari)
Keharaman laki-laki melihat aurat wanita dan wanita melihat aurat laki-laki pada dasarnya
berlaku dalam urusan perawatan kesehatan dan penyembuhan. Tentu dikecualikan dalam
keadaan darurat yang mempertaruhkan nyawa atau yang memenuhi ketentuan syariat.
2. Haram Menyentuh
Keharaman menyentuh tubuh atau kulit dari lawan jenis adalah hal yang telah menjadi
kesepakatan para ulama, atau pendapat jumhur ulama. Kalau pun ada pengecualian,
namun hukum asalnya adalah at-tahrim (keharaman).
Dari Aisyah RA. Berkata, Telapak tangan Rasulullah SAW. tidak pernah menyentuh
telapak tangan seorang perempuan pun, dan beliau bersabda ketika membaiat para
wanita: Aku telah membaiat kalian lewat ucapan. (H.R. Muslim)

35
Dan pada dasarnya keharaman sentuhan kulit ini juga berlaku pada dokter atau perawat
laki-laki yang menangani pasien perempuan, dan dokter atau perawat perempuan yang
menangani pasien laki-laki. Tentu dikecualikan dalam keadaan darurat yang
mempertaruhkan nyawa, atau yang memenuhi ketentuan syariat.

3. Haram Berduaan
Selain diharamkan melihat aurat dan menyentuhnya, laki-laki dan perempuan yang bukan
mahram juga diharamkan untuk bersepi-sepi berdua. Tanpa ada kehadiran mahram.
Adapun duduk berkhalwat dengan dokter pria, meskipun dalam waktu yang lama,
semata-mata hanya karena tujuan pengobatan dan selama dokter itu seorang muslim yang
dapat dipercaya dan baik akhlaknya dan selama itu merupakan keharusan, maka hal itu
tidak dilarang.
Dalam keadaan darurat itu membolehkan segala yang dilarang, menurut kaidah Ushul
fiqh yang disepakati oleh sekalian ulama ushul. Dengan demikian, dokter boleh melihat
dan memegang bagian badan yang memerlukan pengobatan dan pemeriksaan sekalipun
kepada aurat terbesar. Ini berlaku umum baik terhadap tubuh pria maupun tubuh wanita
atau sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA
Dorland,W.A.Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland, 29TH Ed. Jakarta: EGC

36
FKUI, Departemen Farmakologi dan Terapeutik. 2007. Farmakologi dan Terapi, 5TH Ed.
Jakarta: EGC

FKUI. Buku Ajar Uroginekologi. Jakarta: FKUI

Snell, Richard S. (2011). Clinical Anatomy by Systems. Lippincott Williams &


Wilkins/Wolters Kluwer Health Inc. USA. alih bahasa Liliana Sugiharto. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. 2NDVol, 6THEd.
Jakarta: EGC

Robbins, Stanley L. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins, 2ND Vol, 7TH Ed. Jakarta: EGC

Eroschenko, Victor P. (2010). diFiores Atlas of Histolgy with Functional Correlations. 11th
ed. Lippincott Williams & Wilkins/Wolters Kluwer Health Inc. USA. alih bahasa Brahm U.
Pendit. Jakarta: EGC

Mescher, Anthony L. (2011). Junqueiras Basic Histology Tesxt & Atlas. 12th Ed. The
McGraw-Hill Companies Inc. alih Bahasa Frans Dany. Jakarta: EGC

Tausikal, M. A. 2012. Aturan Melihat Aurat Lawan Jenis Saat Berobat.


http://rumaysho.com/muslimah/aturan-melihat-aurat-lawan-jenis-saat-berobat-2763

http://www.healthline.com/health/enlarged-prostate

(http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/benign-prostatic-
hyperplasia/basics/risk-factors/con-20030812)

37