Anda di halaman 1dari 6

1.

Kesadaran Lingkungan Hidup Secara Nasional

Langkah awal pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia tidak

terlepas dari siding umum PBB atau Konferensi PBB tentang Lingkungan

Hidup Manusia di Stockholm pada bulan Juni 1972. Oleh karena itu corak

kebijakan hukum lingkunganya cenderung bersifat incidental, parsial,

sektoral dan jalan pintas. Diharapkan kedepan akan dibangun corak

kebijakan hukum lingkungan yang lebih bersifat komprehensif, kohesif,

dan konsisten. Jika kebijakan lingkungan kemudian dirumuskan dalam

rangkayan norma yang tertuang dalam peraturan perundang-undangan

lingkungan, maka Yang dimaksud dengan kebijakan hukum lingkungan

dalam arti sempit adalah penentuan konsep, proses, strategi dan siasat

yang termasukan secara sistematis berkenaan dengan rencana, program,

proyek dan kegiatan pemerintah dan masyarakat sebagai sarana

pencapaian tujuan pengelolaan lingkingan hidup melalui pendaya gunaan

peraturan perundang-undangan beserta kelembagaannya.

Pemikiran yang didukung oleh hasil penelitian dan pengkajian

mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi buruknya

pengaturan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah karena

kebijakan peraturan perundang-undangan yang sengaja didesain (atau

mungkin juga karena kelalaian) untuk tidak cukup efektif mencegah dan

menyelesaikan masalah lingkungan. Kelemahan ini dapat dilihat dari

beberapa peraturan perundang-undangan linkungan hidup yang


cenderung bersifat pragmatis, reaktif, sektoral, parsial dan berjanka

pendek. Dengan demikian, tidak sedikit terjadi disharmoni antara

peraturan perundang- undangan lingkungan hidup dengan perundang-

undangan sector, yankni berupa konflik, kontradiksi, tumpang tindih, gap

dan inkonsistensi.

Adapun titik kelemahan dari keberadaan UU No.23/1997 tentang

pengelolaan lingkungan hidup (UUPLH) adalah tidak cukup mampu

menempatkan dirinya sebagai UU yang menjadi landasan untuk menilai

dan menyesuaikan (atau dengan perkataan lain sebagai undang-undang

yang berfunsi payung ) tehadap UU Sektor. Bahkan UU Sektor ini

dalam tataran pelaksanaannya justru lebih dominan dan malah terkesan

mengnyampingkan keberlakuan UUPLH.

.2. Kesadaran Lingkungan Hidup Secara Global

Melalui perjanjian internasional, tiap Negara menggariskan dasar

kerja sama mereka, mengatur berbagai kegiatan, menyelesaikan berbagai

masalah demi kelangsungan hidup masyrakat itu sendiri. Perjanjian

internasional yang merupakan sumber hukum internasiona, adalah

instrument-instrumen yuridik yang menampung kehendak dan persetujuan

Negara atau sbjek hukum internasional lainya untuk mencapai tujuan

bersama yang dirumuskan dalam perjanjian tersebut merupakan dasar


hukum internasional untuk mengatur kegiatan Negara-negara atau subjek

hukum internasional lainnya.

Ditinjau dari segi materi, perjanjian-perjanjian yang dibuat Indonesia

meliputi hamper semua bbidang, apakah politik, ekonomi, hukum, keuangan,

lingkungan hidup, maupun kerja sama dibidang kebudayaan, ilmu

pengetahuan dan teknologi.

Kegiatan dan partisipasi Indonesia dalam perjanjian internasional dan

regional pada bidang lingkungan hidup dirumuskan dalam berbagai

instrument hukum mulai dari yang paling resmi sampai yang paling

sederhana. Dalam praktek pembuatan perjanjian (treaty-making practice)

maka dibedakan antara perjanjian-perjanjian yang sangat penting yang

biasanya disebut traktat dan konvensi, sedangkan untuk perjanjian yang

biasa atau yang mengatur pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang terdapat

dalam perjanjian umum disebut persetujuan ( agreement).

1. Perjanjian ( Internasional ) Regional Bidang Lingkungan Hidup.

a. Konvensi ASEAN tentang pelestarian Alam dan sumber daya alam

(Kuala Lumpur-Malaysia, 9 juli 1995).

b. Deklarasi ASEAN tentang kawasan lindung (Yangoon-Myanmar, 18

desember 2003).

c. Resolusi Yangoon tentang Pembangunan Berkelanjutan (Yangoon-

Myanmar, 18 Desember 2003).

d. Resolusi tentang Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Singapore, 18

Februari 1992).
e. Resolusi Jakarta tentang Pembangunan yang berkelanjutan (Jakarta-

Indonesia, 30 oktober 1987).

f. Deklarasi Bangkok tentang Lingkungan Hidup ASEAN (Bangkok-

Thailand, 29 November 1984).

.2. Pengelolaan Lingkungan Hidup Secara Nasional

Sebagai salah satu negra anggota PBB Indonesia turut berperan serta dalam

konperesi Stockholm 1972 dengan mengajukan pikiran berupa Indonesias Countri

Report, suatu dokumen resmi yang semula disampaikan untu forum ECAFE Seminar

on Development and Environment di Bangkok, tanggal 17-23 Agustus 1971. Laporan

tersebut kemudian direvisi untuk disajikan oleh delegasi Indonesia pada Konperensi

Stockholm 1972 dengan judul National Report of Indonesia.

Setelah berlangsungnya Konperensi Stockholm, kegiatan pengelolaan lingkungan

mulai ditangani secara langsung oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden

RI No. 60 Tahun 1972 tanggal 17 Oktober 1972 tentang Pembentukan Panitia

perumus dan Rencana Kerja bagi Pemerintah di Bidang Pengembangan Lingkungan

Hidup. Tugas panitia antar Departemen ini adalah menyusun, membuat

inventarisasi dan rencana kerja bagi pemerintah di bidang pengembangan

lingkungan hidup. Disamping pokok-pokok kebijaksanaan pengelolaan sumber-

sumber alam dan lingkungan hidup, ditetapkan pula langkah-langkah

pengelolaannya dalam proses pelaksanaan pembangunan.

Pada tanggal 31 Maret 1975 Mentri Kehakiman membentuk Team Teknis

Penyusunan RUU Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaram Laut, khususnya

di Selat Malaka dan Selat Singapura, yang merupakan awal permulaan Indonesia

membenahi hukum lingkungan secara konsepsional.


Sebagai tindak lanjut usaha pemerintah menangani masalah lingkungan, pada

tanggal 25 Juni 1975 telah dikeluarkan keputusan Presiden RI No. 27 Tahun 1975

tentang pembentukan panitia Inventarisasi dan Evaluasi Kekayaan Alam (disebut

panitia kekayaan Alam) yang merupakan wadah bagi penyelenggaraan koordinasi,

sinkronisasi dan integrasi untuk mempersiapkan kebijaksanaan umum Pemerintah di

bidang inventarisasi, evaluasi , pengelolaan, pengembangan dan pengamanan

kekayaan alam.

Arah pembangunan lingkungan hidup lebih disempurnakan lagi dalam ketetapan

MPR RI No. IV Tahun 1978 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara, yang husus

memuat Butir 13 Sumber Alam dan Lingkungan Hidup dalam Bab IV Pola Umum

Pelita Ketiga, Bidang Ekonomi. Penjabaran lebih rinci kemudian dituangkan dalam

keputusan Presiden RI No. 7 Tahun 1979 tentang REPELITA III, Bab 7 pengelolaan

Sumber Alam dan lingkungan Hidup.

Akhirnya, RUU tentang Ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan Lingkungan Hidup

dapat diajukan ke sidang DPR pada bulan januari 1982 dan berhasil diundangkan

pada Tanggal 11 Maret 1982 menjadi Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang

Ketentuan ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dengan demikian,

terbukalah lembaran baru bagi kebijaksanaan lingkungan hidup di Indonesia menuju

kepada pembangunan hukum lingkungan nasional berdasarkan prinsip-prinsip

hukum lingkungan modern yang diakui secara internasional.


Hukum lingkungan, selain dipengaruhi oleh hukum keperdataan
dan hukum administrasi, juga dipengaruhi oleh nilai-nilai moral
yang dianut masyarakat setempat, dalam bentuk hukum adat
atau hukum kebiasaan. Nilai-nilai moral tersebut diyakini apabila
dilanggar bisa mendapatkan sanksi, yang umumnya berupa
denda.