Anda di halaman 1dari 29

PRESENTASI KASUS

Prolaps Uterus

PEMBIMBING:
dr. Kartika Budi P M. Kes, Sp.OG

Disusun oleh :
Meiria Sari ( 030.11.186 )
Scerlly Reviana ( 030.11.269 )

UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS KEDOKTERAN
RSUD SEMARANG
DEPARTEMEN ILMU KEBIDANAN DAN
PENYAKIT KANDUNGAN
Periode 11 April 2016 18 Juni 2016

DAFTAR ISI

0
DAFTAR ISI......................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................2
BAB II LAPORAN KASUS..............................................................................3
BAB III TINJAUAN PUSTAKA......................................................................18
BAB IVKESIMPULAN....................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................30

1
BAB I
PENDAHULUAN

Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena kelemahan
otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau turunnya uterus melalui
dasar panggul atau genitalis (Wiknjosastro, 2007). Prolapsus uteri adalah suatu hernia,
dimana uterus turun melalui hiatus genitalis. Prolapsus uteri lebih sering ditemukan pada
wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita yang bekerja berat. Pertolongan
persalinan yang tidak terampil seperti memimpin meneran pada saat pembukaan rahim belum
lengkap, perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan ikat di bawah
panggul kendor, juga dapat memicu terjadinya prolapsus uteri. Prolapsus uteri adalah suatu
keadaan yang terjadi akibat otot penyangga uterus menjadi kendor sehingga uterus akan turun
atau bergeser ke bawah dan dapat menonjol keluar dari vagina. Pada kasus ringan, bagian
uterus turun ke puncak vagina dan pada kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi
melalui orifisium vagina dan berada di luar vagina. (Marmi, 2011)

2
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. J

Umur : 55 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Alamat : Gemah timur

Tanggal Masuk : 15 April 2016

Tanggal Keluar : 23 April 2016

No CM : 199583

II. ANAMNESA

Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa pada tanggal 21 April 2016 pukul 12.00
WIB di ruang Parikesit RSUD Kota Semarang

Keluhan Utama : Adanya benjolan pada tempat kencing

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke IGD RSUD Kota Semarang dengan keluhan adanya benjolan
pada tempat kencingnya. Pasien mengatakan keluhan sudah dirasakan 1 bulan yang
lalu sebelum masuk rumah sakit. Semakin hari benjolannya tidak mengalami
perubahan ukuran, tidak membesar dan juga tidak mengecil. Pasien juga merasakan

3
adanya nyeri perut yang memberat terutama saat sedang melakukan aktivitas berat
seperti mengangkat perabotan rumah dan makan berlebihan. Pasien mengatakan telah
mendapatkan pengobatan alternative/diurut di dekat rumahnya. Nyeri perut sempat
hilang tapi benjolan tidak hilang.

Riwayat keluar lendir dan darah tidak ada. Riwayat keputihan tidak ada.
Pasien menyatakan jika dirinya tidak merokok, pasien tidak minum alkohol ataupun
mengkonsumsi obat terlarang. Riwayat BAB dan BAK tidak ada keluhan.

Riwayat Haid

Menarche : 12 tahun

Lama : 7 hari

Siklus : 28 hari

Menopause : 50 tahun

Riwayat Perkawinan

Menikah 1x

Pernikahan sudah 35 tahun (Istri : 25 tahun / Suami : 26 tahun)

Riwayat Obstetri : P2 A0

Anak 1 : 1985, laki-laki, berat lahir 3000 gr, lahir spontan, ditolong oleh dukun bayi di
rumah

Anak 2 : 1989, perempuan, berat lahir 3200 gr, lahir spontan, ditolong oleh dukun
bayi di rumah

Riwayat KB : -

Riwayat Ginekologi : -
4
Riwayat Sosial Ekonomi :

Pasien seorang ibu rumah tangga, dahulu bekerja sebagai buruh di pabrik cengkeh dan
suami bekerja sebagai karyawan swasta.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi : Ya, dengan pengobatan sejak 2013

Riwayat DM : Ya, dengan pengobatan oral sejak 2013

Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

Riwayat Penyakit Paru : disangkal

Riwayat Alergi : disangkal

Riwayat Operasi : disangkal

Lainnya : Riwayat gangguan pendengaran sejak kecil, vertigo


dan dyspepsia.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Hipertensi : Ya, ibu kandung

Riwayat DM : Ya, ibu kandung

Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

Riwayat Penyakit Paru : disangkal

Riwayat Alergi : disangkal

Ibu pasien pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.

5
III. PEMERIKSAAN FISIK

Status Pasien :

KU : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda Vital Suhu : 36,5 0C

TD : 150/100 mmHg

Nadi : 86 x / menit

RR : 22x / menit

SpO2 : 99%

GCS : E4 M6 V5 (GCS = 15)

TB : 149 cm

BB : 62 kg

Status Internus

1. Kepala : Normosefali, tidak teraba benjolan

2. Mata : Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-

3. Telinga : Discharge (-), bentuk normal

4. Hidung : Discharge (-), septum deviasi (-)

5. Mulut dan Tenggorok :

Bibir : Sianosis (-), Pucat (-)

Lidah : Kotor (-)

Uvula : Di tengah

Tonsil : Ukuran T1/T1, tenang, hiperemis (-)


6
Faring : hiperemis (-)

6. Leher : Trakea di tengah, kelenjar tiroid tidak membesar

7. KGB : Retroarikuler, submandibular, servikal, supra


klavikula, aksila, dan inguinal Pembesaran (-)

8. Payudara : Simetris kanan dan kiri. Areola mammae :


hiperpigmentasi (+/+) , nipple : Retraksi (-/-), Mammae : tidak
teraba massa.

9. Thorax

Paru :

Inspeksi : Retraksi (-), Simetris kanan dan kiri

Palpasi : Stem fremitus kanan dan kiri sama kuat

Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung :

Inspeksi : Tidak tampak iktus kordis

Palpasi : Iktus Kordis teraba di ICS V linea axillaris Sinistra

Perkusi : Kiri : ICS V, midclavicular line sinistra

Kanan : Sejajar ICS V midsternal line dextra

Pinggang Jantung : ICS III Parasternal line sinistra

Auskultasi : BJ I dan II reguler, Murmur (-), Gallop (-)

10. Abdomen :

Inspeksi : Simetris

Palpasi : Supel, nyeri tekan (+), pembesaran hepar dan lien (-), nyeri ketok
CVA (-/-)

7
Perkusi : Redup

Auskultasi : Bising usus (+) Normal

11. Anus dan Genitalia : Tampak adanya benjolan


dari vagina

12. Ekstremitas atas : Akral hangat, oedem -/-,


tonus otot baik

Ekstremitas bawah : Akral hangat, oedem -/-, tonus otot baik

13. Neurologis : Tidak ditemukan adanya defisit


neurologis

Status Ginekologi

Inspeksi: tampak massa uterus keluar seluruhnya dari introitus vagina, bentuk bulat,
warna merah muda, rugae pada mukosa vagina berkurang, sekresi vagina berkurang,
perineum tipis, discharge (-)
Palpasi : Teraba massa ukuran 8x8x8 cm3, konsistensi kenyal, nyeri tekan (-), dapat
dimasukkan ke introitus vagina seluruhnya.

8
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium (15 April 2016) :

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


Hematologi
Hemoglobin 12.5 g/dl 11,7-15,5
Hematokrit 36.20 35-47
Jumlah leukosit 10.3 u/dl 3,6-11,0
Jumlah trombosit 340 ml 150-400
Kimia Klinik
GDS 237 Mg/dl 70-115
Hitung jenis
Netrofil 70.3 50-70
Limfosit 22.2 23-40
Monosit 5.2 2-8
Eosinofil 2.0 2-4
Basofil 0.3 0-1
MCV 83 fL 150-400
MCH 29.3 pg 80100
MCHC 34.5 26-34
Masa 2min00sec 2-7
perdarahan/BT
Masa 08min15sec 4-10
pembekuan/CT
Kimia Klinik

Ureum 21.0 Mg/dL 17-42


Creatinin 0.5 Mg/dL 0.5-0.8
Natrium 136 Mmol/L 135-140
Kalium 3.20 Mmol/L 3.5-5
Calcium 1.17 Mmol/L 1.12-1.32

Laboratorium 16-4-2016 :

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal


Hematologi
Hemoglobin 9.7 g/dl 11,7-15,5
Hematokrit 29.5 35-47
Jumlah leukosit 10.4 u/dl 3,6-11,0
Jumlah trombosit 271 ml 150-400

Laboratorium 18-4-2016

9
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Hematologi
Hemoglobin 9.9 g/dl 11,7-15,5
Hematokrit 30.30 35-47
Jumlah leukosit 10.9 u/dl 3,6-11,0
Jumlah trombosit 283 ml 150-400

Hasil Foto Thorax :

V. RESUME

Pasien datang ke IGD RSUD Kota Semarang dengan keluhan adanya benjolan pada tempat
kencing. Pasien mengatakan keluhan sudah dirasakan 1 bulan yang lalu sebelum masuk
rumah sakit. Semakin hari benjolannya tidak mengalami perubahan ukuran, tidak membesar
dan juga tidak mengecil. Pasien juga merasakan adanya nyeri perut yang memberat terutama

10
saat sedang melakukan aktivitas berat seperti mengangkat perabotan rumah dan makan
berlebihan. Pasien mengatakan telah mendapatkan pengobatan alternative/diurut di dekat
rumahnya. Nyeri perut sempat hilang tapi benjolan tidak hilang. Pada inspeksi tampak massa
uterus keluar seluruhnya dari introitus vagina, bentuk bulat, warna merah muda, rugae pada
mukosa vagina berkurang, sekresi vagina berkurang, perineum tipis, discharge (-). Pada
palpasi teraba massa dengan konsistensi kenyal, nyeri tekan (-), dapat dimasukkan ke
introitus vagina seluruhnya.

VI. DIAGNOSA

P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I dan DM tipe 2

VII. PENATALAKSANAAN

Bed rest
Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu
Konsul interna
Pro histrektomi Senin 18 April 2016

VIII. PROGNOSIS

Ad Vitam : Dubia ad bonam

Ad Sanationam : Ad bonam

Ad Functionam : Ad malam

IX. FOLLOW UP

15 April 2016

S : Adanya benjolan di tempat kencing

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 140 / 90 mmHg N : 74 x / m
11
S : 36,5 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV

P : Konservatif, Bed rest

Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital


Infus RL 20 tpm
Konsul interna
Pro histrektomi Senin 18 April 2016

16 April 2016

S :-

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 130 / 80 mmHg N : 84 x / m

S : 36,2 0C RR : 18 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV

P : Konservatif, Bed Rest

Observasi keadaan umum dan tanda vital ibu


Infus RL 20 tpm
Interna: Amlodipin 1x5mg, metformin 2x500, diomycron 60 mg, KSR

2x500mg, spironolacton 25 mg
Sharox 2x1

17 April 2016

S :-

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 150/90 mmHg N : 80 x / m

S : 36,2 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV

12
P : Konservatif, Bed Rest

Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu dan ppv


Infus RL 20 tpm
Pro histrektomi 18 April 2016 jam 09.00

18 April 2016

S :-

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 140/90 mmHg N : 80 x / m

S : 36,2 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, post histrektomi pervaginam kolporasi anterior,


kolporasi posterior

P : Advice post hostrektomi

Infus RL 20 tpm

Inj. Sharox 2x1

Co amoxiclav3x1

Asam mefenamat 3x1

BC/C 3x1

SF 3x1

Aff infus hari ke-3

BT hari ke-3

Aff DC hari ke-4

19 April 2016

13
S : Nyeri ulu hati

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 110 / 70 mmHg N : 80 x / m

S : 36,2 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, post histrektomi pervaginam kolporasi anterior,


kolporasi posterior, hipertensi dan DM

P : Konservatif, Bed Rest

Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu


Inj. Sharox 2x1
Inj. Deksketoprofen 2x1
Inj. Ranitidine 2x1 amp
Antasid syr 4x2 sdm

20 April 2016

S :-

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 130 / 70 mmHg N : 80 x / m

S : 36,5 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, post histrektomi pervaginam kolporasi anterior,


kolporasi posterior, hipertensi & DM

P :

Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu


Infus RL 20 tpm
Anjuran mobilisasi
Penuhi kebutuhan nutrisi
Memberikan terapi sesuai advice

14
21 April 2016

S :-

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 120 / 80 mmHg N : 80 x / m

S : 36,5 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, post histrektomi pervaginam kolporasi anterior,


kolporasi posterior, hipertensi & DM

P : Observasi dan perbaikan keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu

Aff tampon
Aff infuse
Co amoxiclav 3x625 mg
Asam mefenamat 2x500mg
Metronidazol 3x1
Etabion 1x1

22 April 2016

S :-

O : KU / Kes : Baik / CM

TD : 130 / 80 mmHg N : 80 x / m

S : 36,5 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, post histrektomi pervaginam kolporasi anterior,


kolporasi posterior, hipertensi & DM

P : Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu

Aff DC
GDS pagi
Terapi sesuai advice

23 April 2016

15
S :-

O : KU / Kes : Baik / CM, mobilisasi (+)

TD : 130 / 80 mmHg N : 80 x / m

S : 36,5 0C RR : 20 x / m

A : P2 A0, Umur 53 tahun, post histrektomi pervaginam kolporasi anterior,


kolporasi posterior, hipertensi & DM

P : Pasien dipulangkan atas indikasi medis

Obat pulang: metformin 3x500mg, Amlodipin 1x5mg, Diamicorn 60mg, KSR

2x500 mg, Spironolakton 25mg, Paracetamol 3x1, Antasid syr 4x2, Co

amoxiclav 3x1, metronidazol 3x1, Asam mefenamat 3x1, BC/C 3x1, Sucralfat

syr 3x1

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Dasar Panggul

Tulang panggul mengelilingi dan melindungi organ di dalamnya, tetapi tulang hanya
berperan sedikit sebagai organ penyokong. Organ panggul terutama disokong oleh otot dasar
panggul, dan ditunjang oleh ligamentum.1 Fungsi anatomi otot dasar panggul (otot levator
ani) telah dipelajari selama beberapa tahun, tetapi sulit dipahami. Otot dasar panggul
berkontraksi untuk menahan urin dan feses dan relaksasi untuk pengosongan urin dan feses.
Dasar panggul juga berperan dalam respon seksual wanita normal. Otot ini akan meregang
saat proses kelahiran bayi, tetapi akan kembali berkontraksi saat postpartum. 1
Pintu bawah panggul terdiri atas diafragma pelvis, diafragma urogenital, dan lapisan-
lapisan otot yang berada di luarnya. Pada persalinan, lapisan-lapisan otot dan fasia
mengalami tekanan dan dorongan sehingga dapat timbul prolapsus genitalis.2 Diafragma
pelvis terbentuk oleh otot levator ani dan otot koksigeus dan menyerupai sebuah mangkok.
Di garis tengah bagian depan mangkok ini terbuka (hiatus genitalis). Di sana uretra, vagina
dan rektum keluar dari pelvis minor. Diafragma urogenitalis yang menutup arkus pubis
16
dibentuk oleh aponeurosis otot transversus perinei profundus dan otot transversus
superfisialis. Di dalam sarung aponeurosis itu terdapat otot rhabdosfingter uretra.

Gambar 1. Lapisan Otot-Otot Paling Luar dari Pintu Bawah Panggul

Lapisan paling luar (distal) dibentuk oleh otot bulbokavernosus yang melingkari genitalia
eksterna, otot perinei transversus superfisialis, otot iskhiokavernosum, dan otot sfingter ani
eksternus.2
Semua otot ini di bawah pengaruh saraf motorik dan dapat dikejangkan aktif. Fungsi
otot-otot tersebut di atas adalah sebagai berikut. Otot levator ani menahan dan memfiksasi
alat-alat rongga panggul pada tempatnya, menahan tekanan intraabdominal yang mendadak
meninggi seperti pada waktu batuk dan mengejan, bekerja sebagai sfingter terutama pada
wanita sebagai sfingter vagina3; otot sfingter ani eksternus diperkuat oleh otot levator ani
menutup anus, otot bulbokavernosum mengecilkan introitus vagina di samping memperkuat
fungsi otot sfingter vesisae internus yang terdiri atas otot polos.2

2.2. Anatomi Penyokong Uterus

Gambar 2. Anatomi dan Ligamen Penyangga Uterus


17
Uterus difiksasi dalam rongga pelvis oleh jaringan ikat dan ligamen antara lain.4
- Ligamentum kardinale sinistrum et dekstrum (Mackenrodt) yaitu ligamentum yang
terpenting, berperan mencegah penurunan uterus, terdiri atas jaringan ikat tebal, dan
berjalan dari serviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis.
- Ligamentum sakro-uterinum sinistrum et dekstrum, yaitu ligamentum yang menahan
uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan dari serviks bagian belakang, kiri dan
kanan, ke arah os sacrum kiri dan kanan.
- Ligamentum rotundum sinistrum et dekstrum, yaitu ligamentum yang menahan uterus
dalam antefleksi dan berjalan dari sudut fundus uteri kiri dan kanan, ke daerah
inguinal kiri dan kanan. Pada kehamilan, uterus berkontraksi kuat dan ligamentum
rotundum menjadi kencang serta menarik daerah inguinal.
- Ligamentum latum sinistrum et dekstrum, yaitu ligamentum yang meliputi tuba,
berjalan dari uterus ke arah sisi, merupakan bagian peritoneum viserale yang meliputi
uterus dan kedua tuba dan berbentuk lipatan.
- Ligamentum infundibulo-pelvikum, yaitu ligamentum yang menahan tuba fallopii
berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis.

2.3. Definisi dan Klasifikasi Prolaps Uterus


Prolaps uterus adalah penurunan uterus dan serviks melalui kanalis vaginalis menuju introitus
vagina karena kehamilan, persalinan yang sulit, otot-otot peyokong yang melemah atau
karena wanita usia tua dengan penurunan hormon estrogen yang alami. 5

Gambar 3. Prolaps Uterus


Klasifikasi berdasarkan derajatnya adalah 6
- Derajat 1 : Uterus turun sampai vagina.
- Derajat 2 : Uterus turun sampai membuka orifisium vagina
- Derajat 3 : Uterus turun sampai di luar vagina
- Derajat 4 : Uterus di luar vagina seluruhnya (prosidensia uteri).

18
2.4. Epidemiologi
Defek jaringan penyokong pelvis relatif sering dan meningkat seiring usia dan paritas. Di
Amerika Serikat, studi dari 16.000 paien menunjukkan frekuensi prolaps uteri sebesar
14,2%. Rerata usia dilakukannya bedah untuk prolaps organ uteri adalah 54,6 tahun.
Perbedaan frekuensi berdasar ras diperkirakan berhubungan dengan komponen genetik.
Prolaps uteri paling sering terjadi pada multipara (sekitar >50%) dan wanita menopause.
Prolaps terkadang terjadi pada wanita nullipara atau wanita muda (sekitar 2% untuk prolaps
simtomatik) dan jarang terjadi pada neonatus.5.6

2.5. Etiologi
Kondisi yang berhubungan dengan prolaps uteri antara lain:4-8
- Trauma obstetrik (meningkat dengan multiparitas, ukuran janin lahir per vaginam)
akibat peregangan dan kelemahan jaringan penyokong pelvis
- Kelemahan kongenital dari jaringan penyokong pelvis (berhubungan dengan spina
bifida pada neonatus)
- Penurunan kadar estrogen (contohnya menopause) berakibat hilangnya elastisitas
struktur pelvis.
- Peningkatan tekanan intraabdominal, contohnya obesitas, penyakit paru kronik, asma
- Varian anatomi tertentu seperti wanita dengan diameter transversal pintu atas panggul
yang lebar atau pintu atas panggul dengan orientasi vertikal yang kurang, serta uterus
yang retrograde.

2.6. Patofisiologi
Prolaps uteri diakibatkan oleh kelemahan jaringan penyokong pelvis, meliputi otot,
ligament, dan fasia. Pada dewasa, kondisi ini biasanya disebabkan oleh trauma obstetrical dan
laserasi selama persalinan. Proses persalinan per vaginam menyebabkan peregangan pada
dasar pelvis, dan hal ini merupakan penyebab paling signifikan dari prolaps uteri. Selain itu,
seiring proses penuaan, terdapat penurunan kadar estrogen sehingga jaringan pelvis
kehilangan elastisitas dan kekuatannya.8
Rendahnya kadar kolagen berperan penting dalam prolaps uteri, ditunjukkan oleh
peningkatan risiko pada pasien dengan sindrom Marfan dan sindrom Ehlers-Danlos. Pada
neonatus, prolaps uteri disebabkan oleh kelemahan otot atau defek persarafan pelvis secara
kongenital.8

19
2.7. Diagnosis
2.7.1 Anamnesis
Gejala diperberat saat berdiri atau berjalan dalam waktu lama dan pulih saat
berbaring. Pasien merasa lebih nyaman saat pagi hari, dan gejala memberat saat siang
hari. Gejala-gejala tersebut antara lain:5-8
- Pelvis terasa berat dan nyeri pelvis
- Protrusi atau penonjolan jaringan
- Disfungsi seksual seperti dispareunia, penurunan libido, dan kesulitan orgasme
- Nyeri punggung bawah
- Konstipasi
- Kesulitan berjalan
- Kesulitan berkemih
- Peningkatan frekuensi, urgensi, dan inkontinensia dalam berkemih
- Nausea
- Discharge purulen
- Perdarahan
- Ulserasi
2.7.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan pelvis lengkap, termasuk pemeriksaan
rektovaginal untuk menilai tonus sfingter. Alat yang digunakan adalah spekulum Sims
atau spekulum standar tanpa bilah anterior. Penemuan fisik dapat lebih diperjelas dengan
meminta pasien meneran atau berdiri dan berjalan sebelum pemeriksaan. Hasil
pemeriksaan fisik pada posisi pasien berdiri dan kandung kemih kosong dibandingkan
dengan posisi supinasi dan kandung kemih penuh dapat berbeda 1-2 derajat prolaps.
Prolaps uteri ringan dapat dideteksi hanya jika pasien meneran pada pemeriksaan
bimanual. Evaluasi status estrogen semua pasien. Tanda-tanda menurunnya estrogen:
o Berkurangnya rugae mukosa vagina
o Sekresi berkurang
o Kulit perineum tipis
o Perineum mudah robek
Pemeriksaan fisik juga harus dapat menyingkirkan adanya kondisi serius yang
mungkin berhubungan dengan prolaps uteri, seperti infeksi, strangulasi dengan iskemia
uteri, obstruksi saluran kemih dengan gagal ginjal, dan perdarahan. Jika terdapat

20
obstruksi saluran kemih, terdapat nyeri suprapubik atau kandung kemih timpani. Jika
terdapat infeksi, dapat ditemukan discharge serviks purulen.5-8
2.7.3 Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Pemeriksaan ditujukan untuk mengidentifikasi komplikasi yang serius
(infeksi, obstruksi saluran kemih, perdarahan, strangulasi), dan tidak diperlukan untuk
kasus tanpa komplikasi. Urinalisis dapat dilakukan untuk mengetahui infeksi saluran
kemih. Kultur getah serviks diindikasikan untuk kasus yang disertai ulserasi atau
discharge purulen. Pap smear atau biopsi mungkin diperlukan bila diduga terdapat
keganasan. Jika terdapat gejala atau tanda obstruksi saluran kemih, pemeriksaan BUN
dan kadar kreatinin serum dilakukan untuk menilai fungsi ginjal.8
b. Radiologi
USG pelvis dapat berguna untuk memastikan prolaps ketika anamnesis dan
pemeriksaan fisik meragukan. USG juga dapat mengeksklusi hidronefrosis. MRI
dapat digunakan untuk menentukan derajat prolaps namun tidak rutin dilakukan.8

2.8. Penatalaksaan
2.8.1 Terapi Medis
Pasien prolaps uteri ringan tidak memerlukan terapi, karena umumnya
asimtomatik. Akan tetapi, bila gejala muncul, pilihan terapi konservatif lebih banyak
dipilih. Sementara itu, pasien dengan prognosis operasi buruk atau sangat tidak
disarankan untuk operasi, dapat melakukan pengobatan simtomatik saja. 7,9
2.8.2 Terapi Konservatif
Pengobatan cara ini tidak terlalu memuaskan tetapi cukup membantu. Cara ini
dilakukan pada prolapsus ringan tanpa keluhan, atau penderita yang masih menginginkan
anak lagi, atau penderita menolak untuk dioperasi, atau kondisinya tidak mengizinkan
untuk dioperasi. 8-10
a. Latihan-latihan otot dasar panggul
Latihan ini sangat berguna pada prolapsus ringan, terutama yang terjadi pada
pasca persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya untuk menguatkan otot-otot dasar
panggul dan otot-otot yang mempengaruhi miksi. Latihan ini dilakukan selama beberapa
bulan. Caranya ialah penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan dasar panggul
seperti biasanya setelah selesai BAB, atau penderita disuruh membayangkan seolah-oleh
sedang miksi dan tiba-tiba menahannya. Latihan ini menjadi lebih efektif dengan

21
menggunakan perineometer menurut Kegel. Alat ini terdiri atas obrturator yang
dimasukkan ke dalam vagina, dan yang dengan suatu pipa dihubungkan dengan suatu
manometer. Dengan demikian, kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur.
b. Penatalaksanaan dengan pessarium
Pengobatan dengan pessarium sebenarnya hanya bersifat paliatif, yaitu menahan
uterus di tempatnya selama dipakai. Oleh karena itu, jika pessarium diangkat, timbul
prolapsus lagi. Ada berbagai macam bentuk dan ukuran pessarium. Prinsip pemakaian
pessarium adalah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian
atas, sehingga bagian dari vagina tersebut berserta uterus tidak dapat turun dan melewati
vagina bagian bawah. Jika pessarium terlalu kecil atau dasar panggul terlalu lemah,
pessarium dapat jatuh dan prolapsus uteri akan timbul lagi. Pessarium yang paling baik
untuk prolapsus genitalis ialah pessarium cincin, terbuat dari plastik. Jika dasar panggul
terlalu lemah dapat digunakan pessarium Napier. Pessarium ini terdiri atas suatu gagang
(stem) dengan ujung atas suatu mangkok (cup) dengan beberapa lubang, dan di ujung
bawah 4 tali. Mangkok ditempatkan di bwah serviks dan tali-tali dihubungkan dengan

sabuk pinggang untuk memberi sokongan kepada pessarium. Sebagai pedoman untuk
mencari ukuran yang cocok, diukur dengan jari jarak antara forniks vagina dengan
pinggir atas intraoitus vagina. Ukuran tersebut dikurangi dengan 1 cm untuk
mendapatkan diameter dari pessarium yang dipakai.
Gambar 4. Macam-macam pessarium

Pessarium diberi zat pelicin dan dimasukkan miring sedikit ke dalam vagina.
Setelah bagian atas masuk ke dalam vagina, bagian tersebut ditempatkan ke forniks

22
vagina posterior. Untuk mengetahui setelah dipasang, apakah ukuran pessarium cocok
atau tidak, penderita disuruh mengejan atau batuk. Jika pessarium tidak keluar, penderita
disuruh jalan-jalan, apabila ia tidak merasa nyeri, pessarium dapat dipakai terus.8
Pasien yang menggunakan pessarium harus mempunyai vagina yang well-
esterogenized. Pasien postmenopause sebaiknya diberikan terapi sulih hormon, atau
sebagai alternatif, dapat digunakan esterogen topikal intravaginal, 4-6 minggu sebelum
pemasangan pessarium, sehingga saat pemasangan pessarium pasien dapat merasa
nyaman, meningkatkan komplians, serta pemakaian dapat lebih lama. Terapi sulih
esterogen dapat membantu mengurangi kelemahan otot dan jaringan penghubung lainnya
yang menyokong uterus. Esterogen juga dapat memperlambat terjadinya prolaps lebih
lanjut, dan dapat mencegah terjadinya iritasi pada serviks, kandung kemih, dan rektum
(tergantung bagian mana yang prolaps dahulu), juga esterogen dapat membantu proses
penyembuhan pada wanita yang menjalani proses operasi prolaps vagina. Ada beberapa
efek samping pemakaian esterogen, antara lain meningkatkan risiko pembekuan darah,
penyakit empedu, dan kanker payudara. Pemakaiannya pun harus dengan pengawasan
dokter. 8,10
Indikasi penggunaan pessarium adalah:8,10
Kehamilan
Bila penderita belum siap untuk dilakukan operasi
Sebagai terapi tes, menyatakan bahwa operasi harus dilakukan
Penderita menolak untuk dioperasi, lebih memilih terapi konservatif
Untuk menghilangkan gejala simptom yang ada, sambil menunggu waktu
operasi dapat dilakukan.
Kontraindikasi terhadap pemakaian pessarium ialah:8
Radang pelvis akut atau subakut
Karsinoma
Komplikasi penggunaan pessarium ada beberapa, antara lain:6,8
Penyakit inflamasi akut pelvis
Nyeri setelah insersi
Rekuren vaginitis
Fistula vesikovaginal
Prolaps uteri biasanya disertai dengan prolaps vagina. Maka, jika likakukan
pembedahan untuk prolapsus uteri, prolapsus vagina perlu ditangani pula. Ada
kemungkinan terdapat prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan, padahal

23
tidak ada prolaps uteri, atau sebaliknya. Indikasi untuk melakukan operasi pada
prolaps vagina ialah adanya keluhan.8,10
c. Terapi Operatif
Terapi pembedahan pada jenis-jenis prolapsus vagina:8
Sistokel
Operasi yang lazim dilakukan ialah kolporafia anterior. Setelah diadakan
sayatan dan dinding vagina depan dilepaskan dari kandung kencing dan urethta,
kandung kencing didorong ke atas, dan fasia puboservikalis sebelah kiri dan sebelah
kanan dijahit digaris tengah. Sesudah dinding vagina yang berlebihan dibuang,
dinding vagina yang terbuka ditutup kembali. Kolporafia anterior dilakukan pula pada
urethrokel.
Rektokel
Operasi disini adalah kolpoperinoplastik. Mukosa dinding belakang vagina
disayat dan dibuang berbentuk segitiga dengan dasarnya batas antara vagina dan
perineum, dan dengan ujungnya pada batas atas retrokel. Sekarang fasia
rektovaginalis dijahit di garis tengah, dan kemudian m. levator ani kiri dan kanan
didekatkan di garis tengah. Luka pada dinding vagina dijahir, demikian pula otot-otot
perineum yang superfisial. Kanan dan kiri dihubungkan di garis tengah, dan akhirnya
luka pada kulit perineum dijahit.
Enerokel
Sayatan pada dinding belakang vagina diteruskan ke atas sampai ke serviks
uteri. Setelah hernia enterokel yang terdiri atas peritoneum dilepaskan dari dinding
vagina, peritoneum ditutup dengan jahitan setinggi mungkin. Sisanya dibuang dan di
bawah jahitan itu ligamentum sakrouterinum kiri dan kanan serta fasia endopelvik
dijahit ke garis tengah.
Prolapsus uteri
Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari
beberapa faktor, seperti umur penderita, keinginannya untuk masih mendapatkan anak
atau untuk mempertahankan uterus, tingkat prolapsus, dan adanya keluhan.
Macam-macam Operasi:8-10
Ventrofikasasi
Pada golongan wanita yangmasih muda dan masih ingin mempunyai anak,
dilakukan operasi untuk membuat uterus ventrofiksasi dengan cara memendekkan
24
lIgamentum rotundum atau mengikat ligamentum rotundum ke dinding perut atau
dengan cara operasi Purandare.
Operasi Manchester
Pada operasi ini biasanya dilakukan amputasi serviks uteri, dan penjahitan
ligamentum kardinale yang telah dipotong, di muka serviks; dilakukan pula kolporafia
anterior dan kolpoperioplastik. Amputasi serviks dilakukan untuk memperpendek
serviks yang memanjang (elongasi colli). Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas,
abortus, partus prematur, dan distosia servikalis pada persalinan. Bagian yang
terpenting dari operasi Menchester adalah penjahitan ligamentum kardinale di depan
serviks karena dengan tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek, sehingga
uterus akan terletak dalam posisi anteversifleksi, dan turunnya uterus dapat dicegah.
Histerektomi vaginal
Operasi ini tepat untuk dilakukan pada prolaps uteri tingkat lanjut, dan pada
wanita menopause. Keuntungannya adalah pada saat yang sama dapat dilakukan
operasi vagina lainnya (seperti anterior dan posterior kolporafi dan perbaikan
enterokel), tanpa memerlukan insisi di tempat lain maupun reposisi pasien. Saat
pelaksanaan operasi, harus diperhatikan dalam menutup cul-de-sac dengan
menggunakan kuldoplasti McCall dan merekatkan fasia endopelvik dan ligamen
uterosakral pada rongga vagina sehingga dapat memberikan suport tambahan. Setelah
uterus diangkat, puncak vagina digantungkan pada ligamentum rotundum kanan kiri,
atas pada ligamentum infundibulo pelvikum, kemudian operasi akan dilanjutkan
dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi untuk mencegah prolaps vagina di
kemudian hari.
Kolpokleisis (Operasi Neugebauer-Le Fort)
Pada waku obat-obatan serta pemberian anestesi dan perawatan pra/pasca
operasi belum baik untuk wanita tua yang secara seksual tidak aktif, dapat dilakukan
operasi sederhana dengan men jahitkan dinding vagina depan dengan dinding
belakang, sehingga lumen vagina tertutup dan uterus letaknya di atas vagina. Tetapi,
operasi ini tidak memperbaiki sistokel dan rektokelnya sehingga dapat menimbulkan
inkontinensia urine. Obstipasi serta keluhan prolaps lainnya juga tidak hilang.

2.9. Komplikasi

25
Pessarium dapat menyebabkan vaginitis, perdarahan, ulserasi, obstruksi saluran kemih
dengan retensi, fistula, dan erosi ke dalam kandung kemih atau rektum. Sebagian besar
komplikasi diakibatkan pemakaian pessarium yang terlalu lama tanpa kontrol. Perdarahan
abdomen adalah komplikasi yang dapat terjadi pada sakrokolpopeksi. Perlukaan pada pleksus
vena presakral atau arteri sakro media pada saat operasi dapat terjadi. 9,11

2.10. Pencegahan
Pemendekan waktu persalinan, terutama kala pengeluaran dan kalau perlu dilakukan
elektif (seperti ekstraksi forceps dengan kelapa sudah di dasar panggul), membuat episiotomi,
memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan lahir dengan baik, memimpin
persalinan dengan baik agar dihindarkan penderita meneran sebelum pembukaan lengkap
betul, menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta (perasat Crede), mengawasi involusi
uterus pasca persalinan tetap baik dan cepat, serta mencegah atau mengobati hal-hal yang
dapat meningkatkan tekanan intraabdominal seperti batuk-batuk yang kronik, merokok,
mengangkat benda-benda berat. Pada wanita sebaiknya melakukan senam Kegel sebelum dan
setelah melahirkan. Selain itu usia produktif dianjurkan agar penderita jangan terlalu banyak
punya anak atau sering melahirkan. Untuk wanita dengan IMT diatas normal, sebaiknya
menurunkan berat badan dengan olahraga, serta diet yang tinggi serat.6-10

2.11. Prognosis
Bila prolaps uteri tidak ditatalaksana, maka secara bertahap akan memberat. Prognosis
akan baik pada pasien usia muda, dalam kondisi kesehatan optimal (tidak disertai penyakit
lainnya), dan IMT dalam batas normal. Prognosis buruk pada pasien usia tua, kondisi
kesehatan buruk, mempunyai gangguan sistem respirasi (asma, PPOK), serta IMT diatas
batas normal. Rekurensi prolaps uteri setelah tindakan operasi sebanyak 16%.12

26
BAB IV
KESIMPULAN

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Menefee SA, Wall LL.Incontinence, Prolapse, and Disorders of the Pelvic


Floor. In: Berek JS. Novak's Gynecology. Lippincott Williams & Wilkins. 2002.
2. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan. Edisi kedua.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 2008. Hal.1-7
3. Widjaja S. Anatomi Alat-Alat Rongga Panggul. Jakarta: Balai Pustaka
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2002. Hal 12
4. Moeloek FA, Hudono ST. Penyakit dan Kelainan Alat Kandungan. Dalam:
Wiknjosastro H, ed. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 2005. hal.402-
428
5. Uterine Prolaps. Available at : http://www.mayoclinic.org/diseases-
conditions/uterine-prolapse/basics/definition/con-20027708 Accessed on : 19 May
2016
6. Prolaps Uterus. Available at :
http://www.webmd.com/women/guide/prolapsed-uterus Accessed on : 19 May 2016
7. DeLancey JOL. Strohbehn K. Pelvic Organ Prolapse. In: James R., Md. Scott,
Ronald S., Md. Gibbs, Beth Y., Md. Karlan, Arthur F., Md. Haney, David N.
Danforth's Obstetrics and Gynecology. 9th Ed. Lippincott Williams & Wilkins
Publishers. 2003.
8. Mailhot T. Uterine prolapse Available at : http://www.emedicine.com
Accessed on : 19 May 2016
9. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Prolaps genital. Dalam Ilmu
Kandungan. Edisi kedua. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Jakarta;1994; ha.428-33.
10. Lurain JR. in Menefee SA. Novaks Gynecology. Chapter 20: Incontinence,
Prolapse, and Disorder of the Pelvic Floor. Pelvic organ prolapse. Lippincott
Williams & Wilkins 2002. P28
11. Anonymous. Uterine prolapse. Available at:
http://www.patient.co.uk/showdoc/40000115/ Accessed on : 19 May 2016

28