Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gangguan jiwa merupakan masalah yang serius dan penting, karena menyangkut
individu dan dapat merugikan baik utuk klien itu sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bisa
sampai pemerintah. Fenomena yang terjadi dan berkembang di Indonesia diantaranya adalah
tingginya atau semakin bertambahnya klien dengan gangguan jiwa. Hal ini terjadi karena
dampak dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Menurut Prof. Dr. Azrul Anwar, masalah
kesehatan mental yang dialami meliputi depresi, stres, penyalahgunaan obat, sampai
skizofrenia (Stuart, 2002).

Halusinasi adalah perasaan di mana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya


tidak ada. Halusinasi bisa terjadi pada kelima panca indra manusia, tetapi yang paling sering
di temui dan yang sering muncul adalah halusinasi pendengaran dan penglihatan. Gejala yang
bisa muncul pada halusinasi yaitu: berbicara sendiri, sibuk dengan dirinya sendiri, menarik
diri, perawatan diri kurang, dan bisa terjadi marah-marah. Dengan adanya tanda-tanda di atas,
dapat memberikan dampak gangguan jiwa lebih lanjut, seperti perilaku kekerasan, resiko
mencederai diri sendiri dan orang lain (Maramis, 1998).

Kasus halusinasi yang terjadi di ruangan Saraswati, Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki
Mahdi mengalami peningkatan sebanyak 2%. Adapun data halusinasi yang di dapat pada
bulan Agustus sebanyak 14%, bulan September sebanyak 14,51%, dan Oktober sebanyak
16%.

Pada klien gangguan sensori persepsi; halusinasi, apabila tidak mendapatkan


pengawasan dan perawatan secara lanjut akan membahayakan diri ataupun orang lain,
misalnya membenturkan diri ketembok, mengamuk karena yang berhalusinasi itu dianggap
realita oleh pasien, sehingga tidak jarang ia menolak kenyataannya realitas yang ada
sekitarnya. Dari gambaran diatas, penulis tertarik untuk mengangkat judul Asuhan
keperawatan klien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran dan penglihatan.

1
B. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum:

Mahasiswa mampu memberikan Asuhan Keperawatan jiwa pada pasien dengan masalah
gangguan persepsi sensori : halusinasi.

Tujuan Khusus :

1. Menggambarkan hasil pengkajian keperawatan pada Tn D dengan gangguan persepsi


sensori: halusinasi
2. Mendeskripsikan hasil analisa data yang diperoleh pada Tn D dengan gangguan
persepsi sensori: halusinasi
3. Mendeskripsikan diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn D dengan gangguan
persepsi sensori: halusinasi
4. Mendeskripsikan intervensi yang dilakukan pada Tn D dengan gangguan persepsi
sensori: halusinasi
5. Mendiskripsikan implementasi yang telah dilakukan pada Tn D dengan gangguan
persepsi sensori: halusinasi
6. Mendiskripsikan evaluasi yang telah dilakukan pada Tn D dengan gangguan persepsi
sensori: halusinasi
7. Mengidentifikasi permasalahan yang muncul pada klien selama memberikan asuhan
keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi, dan berusaha menyelesaikan
masalah tersebut.

C. Metode Penulisan

Dalam pembuatan karya tulis megunakan metode kajian pustaka yaitu menjelaskan
tentang halusinasi melalui data yang didapat dari buku atau reverensi berbagai karangan,
dan juga menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang
terdiri dari lima tahap atas pengkajian, perumusan masalah, perecanaan, implementasi dan
evaluasi. Adapun teknik penulisan adalah dekriptif, yang merupakan gambaran kasus yang
dikelola dengan cara pengumpulan data yang diperoleh saat pengkajian.

2
1. Wawancara

Mengadakan tanya jawab dengan pihak yang terkait : klien maupun tim
kesehatan mengenai data klien gangguan sensori persepsi halusinasi pendengaran.
Wawancara dilakukan selama proses keperawatan berlangsung.

2. Observasi partisipasi

Dengan mengadakan pendekatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara


langsung pada klien selama di Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi.

3. Studi dokumentasi

Dokumentasi ini diambil dan dipelajari dari catatan medis, catatan


keperawatan, dan dari pasien sendiri serta dari perawat di ruangan Saraswati untuk
mendapatkan data-data mengenai perawatan maupun pengobatan.

4. Studi kepustakaan

Menggunakan dan mempelajari literatur medis maupun perawatan penunjang


sebagai teoritis untuk menegakkan diagnosa dan perencanaan keperawatan.

D. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai makalah case conference ini,
penulis menggunakan sistematika penulisan makalah, yaitu:

BAB I : Pendahuluan; meliputi: latar belakang masalah, tujuan penulisan, dan sistematika
penulisan.

BAB II : Konsep dasar; meliputi: pengertian, etiologi, manifestasi klinik, pohon masalah,
fokus intervensi.

BAB III : Tinjauan kasus, asuhan keperawatan dengan perubahan persepsi persepsi :
Halusinasi meliputi Pengkajian, Analisa data, masalah keperawatan, pohon masalah,
diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi.

3
BAB IV : Pembahasan kasus yang bertujuan untuk menentukan kesenjangan antara teori
dan fakta yang ada dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

BAB V : Penutup meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan
internal dan rangsangan eksternal. Klien memberi 5 pendapat tentang lingkungan tanpa
ada objek atau rangsangan yang nyata, misalnya klien mengatakan mendengar suara
padahal tidak ada orang yang berbicara (Kusumawati, 2010). Halusinasi ialah suatu
pengalaman pada suatu kejadian sensoris tanpa ada input dari lingkungan sekitarnya. Mark
Durrand dan David H. Barlow (2007), mendeskripsikan halusinasi adalah suatu
penghayatan kepada kejadian-kejadian yang tidak mendasar pada kejadian eksternal
(Pieter, Herri Zan, Bethsaida Janiwarti dan Marti Saragih, 2011). Halusinasi adalah salah
satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa, klien
merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan
tanpa stimulus nyata. ( Dr. Budi Anna Keliat 2012)

B. Etiologi
1. Faktor predisposisi ( stuart and sundeen,1995 )
a. Faktor perkembangan
Pada tahap perkembangan individu mempunyai tugas perkembangan yang
berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal, bila dalam pencapaian tugas
perkembangan tersebut mengalami gangguan akan menyebabkan seseorang berperilku
menarik diri.
b. Faktor biologis
Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologist yang mal adaptif
yang baru di mulai di pahami,ini termasuk hal hal sebagai berikut :
Penilaian pencitraan otak sudah mulai menuunjukan keterlibatan otak yang lebih luas
dalam perkembangan skizofrenia:lesi pada area frontal temporal dan limbic paling
berhubunggan dengan perilaku psikotik,beberapa kimia otak dikaitkan dengan gejala
skizofrenia antara lain:dopamin, neurotransmitter dan lain lain.

4
c. Faktor sosiokultural
Teori social budaya atau lingkungan meyakini bahwa orang yang berasal dari sosial
ekonomi rendah atau kondisi orang tua tunggal dan tidak mempunyai kesempatan
mendapatkan penghargaan dari orang lain yang dapat mempengaruhi gangguan
orientasi realita sehingga memberikan reaksi yang salah dan tidak mampu berespon
terhadap stimulus dari luar. Isolasi sosial merupakan factor dalam gangguan
berhubungan akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain
atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif seperti lansia,orang
cacat dan berpenyakit kronis.
d. Faktor keluarga
Keluarga dapat mengembangkan perilaku menarik diri. Faktor genetic dapat
mendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial, sehingga, menimbulkan
perilaku menarik diri sampai dengan halusinasi. Sistem keluarga yang terganggu dan
norma dalam keluarga yang tidak mendukung dapat menjadi salah satu faktor
hubungan keluarga dengan pihak lain diluar menjadi tidak efektif.
e. Faktor Presipitasi (stuart and sundeen,1995).
1) Stressor sosio kultural
Menurunnya stabilitasi unit keluarga.
Berpisah dari orang yang berarti di kehidupannya, misalnya karena
dirawat di rumah sakit, perceraian.
2) Stresor psikologik.

Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan


kemampuan untuk mengatasinya.

3) Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologist yang


maladaptif.

4) Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi.

C. Rentang Respon Halusinasi


Halusinasi merupakan salah satu respon maldaptive individual yang berbeda
rentang respon neurobiologi (Stuart and Laraia, 2005). Ini merupakan persepsi
maladaptive. Jika klien yang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasikan dan
menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera
(pendengaran, pengelihatan, penciuman, pengecapan dan perabaan). Klien halusinasi

5
mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun stimulus tersebut tidak ada.
Diantara kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena suatu hal mengalami
kelainan persensif yaitu salah mempersepsikan stimulus yang diterimanya, yang disebut
sebagai ilusi. Klien mengalami jika interpretasi yang dilakukan terhadap stimulus panca
indera tidak sesuai dengan stimulus yang diterimanya, rentang respon tersebut sebagai
berikut:

Adaptif Maladaptif

Respon Adaptif Distorsi pikiran Gejala pikiran

- Respon logis - Distorsi pikiran - Delusi halusinasi

- Persepsi akurat - Perilaku tidak sesuai - Perilaku disgonisasi

- Perilaku sesuai - Menarik diri -Sulit berespon dengan pengalaman

- Emosi social - Emosi berlebihan

D. Jenis Halusinasi

Jenis-Jenis Halusinasi menurut Rasmun (2001), itu dapat menjadi :

1. Halusinasi penglihatan (visual, optik): tak berbentuk(sinar, kilapan atau pola cahaya)
atau yang berbentuk(orang, binatang, barang yang dikenal) baik itu yang berwarna
atau tidak.
2. Halusinasi pendengaran (autif, akustik): suara manusia, hewan, binatang mesin,
barang, kejadian alamiah atau music.
3. Halusinasi Penciuman (olfaktorius): mencium sesuatu bau.
4. Halusinasi pengecap (gustatorik) : merasa/ mengecap sesuatu.
5. Halusinasi peraba (taktil) : merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada
ulat bergerak di bawah kulitnya.
6. Halusinasi kinestetik : merasa badannya bergerak dalam sebuah ruangan

E. Tahapan Intensitas Halusinasi

Tingkat intensitas halusinasi ( Stuart dan Sundeen, 1995 : 328 ) :

6
1. Tahap I : Menyenangkan Ansietas tingkat sedang.
Tingkat : Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan
Karakteristik:
Orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian, merasa
bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran untuk
mengurangi ansietas, individu mengetahui bahwa pikiran dan sensori yang dialami
tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya bisa diatasi (Non Psikotik).

Perilaku klien:
a. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
b. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
c. Gerakan mata yang cepat.
d. Respon verbal yang lamban.
e. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

2. Tahap II : Menyalahkan Ansietas tingkat berat


Tingkat: Secara umum halusinasi menjijikkan.
Karakteristik:
Pengalaman sensori bersifat menjijikkan dan menakutkan, orang yang berhalusinasi
mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin berusaha untuk menjauhkan dirinya
dari sumber yang dipersepsikan, individu mungkin merasa malu karena pengalaman
sensorinya, dan menarik diri dari orang lain ( Non Psikotik ).

Perilaku klien
a. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas, misal peningkatan
tanda tanda vital.
b. Penyempitan kemampuan konsentrasi.
c. Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk
membedakan antara halusinasi dengan realita.

3. Tahap III : Mengendalikan Ansietas tingkat berat


Tingkat :Pengalaman sensori menjadi penguasa
Karakteristik:
Orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan
membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa permohonan,
individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori tersebut berakhir
(Psikotik).

Perilaku klien
a. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada
menolaknya.
b. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
c. Rentang perhatian hanya beberapa menit.

7
d. Gejala fisik ansietas berat (berkeringat, tremor, ketidakmampuan untuk mengikuti
petunjuk).

4. Tahap IV : Menaklukkan Ansietas tingkat panik


Tingkat : Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi.
Karakteristik :
Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah,
halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa hari bila tidak ada
intervensi terapeutik (Psikotik).

Perilaku klien
a. Perilaku menyerang seperti panik.
b. Potensial melakukan bunuh diri.
c. Amuk, agitasi, menarik diri, dan katakonik.
d. Tidak mampu berespon terhadap lingkungan

F. Tanda dan Gejala


Klien dengan gangguan sensori persepsi halusinasi dapat memperlihatkan berbagai
manifestasi klinis yang bisa kita amati dalam perilaku mereka sehari-hari. Menurut
NANDA (2010), tanda dan gejala halusinasi meliputi:
Konsentrasi kurang Selalu berubah respon dari rangsangan
Kegelisahan Perubahan sensori akut
Mudah tersinggung Disorientasi waktu
Tempat, dan orang Perubahan kemampuan pemecahan masalah
Perubahan pola perilaku Bicara dan tertawa sendiri
Menarik diri Mondar-mandir

Mengatakan melihat dan mendengar sesuatu padahal objek sebenarnya tidak ada.
Individu terkadang sulit untuk berpikir dan mengambil keputusan. Banyak dari mereka
yang justru mengganggu lingkungan karena perilakunya itu. Pasien halusinasi biasanya
dibawa ke rumah sakit dalam kondisi akut yang memperlihatkan gejala seperti bicara dan
tertawa sendiri, berteriak-teriak, keluyuran, dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri.
Hal tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila keluarga mengetahui tanda dan gejala awal
dari halusinasi (Yusnipah,2012).

8
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

PADA KLIEN DENGAN HALUSINASI

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap
pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan, atau masalah klien. Data
yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, social, dan spiritual. Data pada pengkajian
kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi factor predisposisi, factor presipitasi penilaian
terhadap stressor, sumber koping, dan kemampuan koping yang dimiliki klien, cara ini yang akan
dipakai pada uraian berikut. Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi, yaitu fisik,
emosional, intelektual, social, dan spiritual. ( Keliat, 2005 )

1. Faktor Predisposisi
a. Faktor Genetik dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif melalui
riwayat keluarga atau keturunan.
b. Teori agresif menyerang menunjukkan bahwa depresi terjadi karena perasaan
marah yang ditunjukkan pada diri sendiri.
c. Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik individu dengan
benda atau yang sangat berarti.
d. Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri yang negatif
dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang
terhadap stressor.
e. Model kognitif, menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang
didominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang, dunia
seseorang dan masa depan seseorang.
f. Model ketidakberdayaan, yang dipelajari menunjukkan bahwa bukan semata
mata trauma yang menyebabkan depresi, tetapi, keyakinan bahwa seseorang tidak
mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam kehidupannya.
g. Model perilaku, mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan
positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.

9
2. Faktor Presipitasi

Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya
hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan
tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stresor dan masalah koping dapat
mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006). Menurut Stuart (2007),
faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:

a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Stres Lingkungan
Ambang toleransi terhadap stres yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber Koping Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari
pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiology termasuk:
1) Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk
mengurangi ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang tertinggal untuk
aktivitas hidup sehari-hari.
2) Projeksi sebagai upaya untuk menjelaskan keracunan persepsi.
3) Menarik diri.

B. Masalah Keperawatan
Adapun masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan sensori
persepsi: halusinasi pendengaran dan penglihatan, antara lain:
a. Isolasi Sosial (Townsend, 1998 : 192)
b. Resiko Perilaku kekerasan (Keliat, 1998 : 28-29)
c. Kerusakan Komunikasi Verbal (Townsend, 1998 : 73)
d. Harga Diri Rendah. (Townsend, 1998 : 73)

C. Pohon Masalah
Resiko Perilaku kekerasan
Core Problem

Isolasi Sosial
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi
(Keliat,2006)

10
D. Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku Kekerasan
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi
Isolasi sosial

(Keliat 2006)

11
E. Intervensi Keperawatan

N Perencanaan
T o
Dx Keperawatan Intervensi
gl D Tujuan Kriteria Evaluasi

x
1 Gangguan sensori Pasien dapat mengontrol Setelah 5x interaksi pasien 1. Bina hubungan saling percaya
persepsi: Halusinasi halusinasi yang dialaminya meunjukan tanda-tanda dengan menggunakan prinsip
(Lihat/dengar/penghidu 1. Pasien dapat membina percaya kepada perawat: komunikasi terapeutik:
/ raba/kecap) hubungan saling 1. Ekspresi wajah bersahabat a. Sapa pasien dengan ramah
2. Menujukan rasa senang
percaya baik verbal maupun non verbal
3. Ada kontak mata
b. Tanyakan nama lengkap dan
4. Mau berjabat tangan
5. Mau menyebutkan nama nama panggilan yang disukai
6. Mau menjawab salam
pasien
7. Mau duduk berdampingan
c. Buat kontrak yang jelas
dengan perawat d. Tunjukan sikap jujur dan
menepati janji setiap kali
berinteraksi
e. Tunjukan sikap empati dan
menerima apa adanya klien
f. Beri perhatian kepada pada
pasien dan perhatikan
kebutuhan dasar pasien
g. Tanyakan perasaan pasien dan
masalah yang dihadapi pasien
2. Pasien dapat mengenal Setelah 5x interaksi pasien 1. Adakah kontrak sering dan

12
halusinasinya dapat menyebutkan: singkat secara bertahap
a. Observasi tinglah laku
1. Jenis halusinasi
2. Isi pasien terkait dengan
3. Waktu
halusinasinya
4. Frekuensi
b. Tanyakan apakah pasien
5. Respon dari klien terhadap
mengalami
halusinasi
sesuatu/halusinasi
c. Jika pasien menjawab iya,
tanyakan apa yang sedang
dialaminya
d. Katakan bahwa perawat
percaya pasien mengalami
hal tersebut, namun
perawat sendiri tidak
mengalami apa yang
dirasakan klien
e. Katakan bahwa ada pasien
yang lain yang mengalami
hal yang sama
f. Katakan bahwa perawat
akan membantu pasien
1. Jika pasien tidak mengalami
Setelah 5x interaksi pasien
halusinasi, klarifikasi tentang
menyatakan perasaan dan
adanya pengalaman halusinasi,
responya saat mengalami
diskusikan dengan pasien:
halusinasi: marah, takut, sedih,

13
senang, cemas, jengkel. a. Isi, waktu, frekuensi
b. Situasi dan kondisi yang
menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi
2. Pasien dapat Setelah 5x interaksi pasien 1. Identifikasi bersama klien cara
mengontrol menyebutkan: yang dilakukan jika terjadi
halusinasinya 1. Tindakan yang biasanya halusinasi
2. Diskusikan cara cara yang
dilakukan untuk
digunakan pasien:
mengendalikan
a. Jika cara yang diguanakan
halusinasinya
adaptif beri pujian
2. Pasien dapat menyebutkan
b. Jika cara yang digunakan
cara baru mengontrol
maladaptive diskusikan
halusinasinya
kerugian cara tersebut
3. pasien dapat memilih cara
3. Diskusikan cara baru untuk
untuk mengendalikan
memutuskan/mengontrol
halusinasinya
4. pasien melaksankan cara timbulnya halusinasi
yang dipilih untuk a. Katakan pada diri sendiri
mengendalikan bahwa itu tidak nyata
halusinasinaya (Saya tidak mau
5. pasien mengikutsertakan
dengar/lihat/penghidu/ra
terapi aktivitas kelompok.
ba/kecap pada saat
halusinasi terjadi)
b. Menemui orang lain atau
perawat/teman/anggota

14
keluarga untuk
menceritakan tentang
halusinasinya
c. Membuat dan
melaksanakan jadwal yang
telah disusun
d. Meminta
keluarga/teman/perawat
untuk menyapa jika terjadi
halusinasi
4. Bantu pasien memilih cara
yang sudah dinjurkan dan latih
untuk mencobanya
5. Beri kesempatan klien untuk
melakukan cara yang sudah
dipilih dan dilatih jika berhasil
diberi pujian 6. Anjurkan pasien
mengikuti terapi aktivitas
kelompok.
3. Pasien dapat dukungan Setelah 5x pertemuan keluarga 1. Buat kontrak dengan keluarga
dari keluarga dalam menyatakan setuju untuk untuk pertemuan (waktu, tempat
mengontrol mengikuti pertemuan dengan dan topik)
halusinasinya perawat, keluarga mempu 2. Diskusikan dengan keluarga
menyebutkan pengertian, tanda (pada saat pertemuan

15
dan gejala, proses terjadinya keluarga/kunjungan rumah)
halusinasi a. Pengertian halusinasi
b. Tanda dan gejala halusinasi
c. Obat-obatan untuk halusinasi
d. Cara yang dapat dilakukan
pasien dan keluarga untuk
memutuskan halusinasi
e. Cara merawat anggota
keluaraga yang halusinasi
dirumah (Beri kegiatan
berpergian bersama serta pantau
obatobatan dan cara
pemberianya untuk mengatasi
halusinasi)
4. Pasien dapat Setelah 5x interaksi pasien 1. Diskusikan dengan pasien
memanfaatkan obat dapat menyebutkan: tentang manfaat dan kerugian
dengan baik 1. Pasien dapat tidak minum obat ( Nama,
mendemonstrasikan warna, dosis, cara, efek
pengguanaan obat dengan terapi, dan efek samping)
2. Pantau pasien pada saat
benar
2. Pasien dapat menyebutkan minum obat
3. Beri pujian jika pasien
akibat berhenti minum
menggunakan obat dengan
obat
benar

16
4. Diskusikan akibat berhenti
minum obat tanpa konsultasi
dengan dokter 5. Anjurkan
pasien untuk konsultasi
kepada dokter atau perawat
jika terjadi hal yang tidak
diinginkan

17
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HALUSINASI

I. PENGKAJIAN
A. Identitas
Nama : Tn.D
No.RM : 016214
Jenis kelamin : laki-laki
Umur : 57 tahun
Diagnosa medis : Skizofrenia Paranoid
Tgl Masuk : 3 November 2016
Tgl pengkajian : 8 November 2016

B. Alasan Masuk
Klien masuk rumah sakit dengan keluhan marah-marah, tidak mau tidur, dan sering
berbicara sendiri.

C. Faktor Predisposisi
1. Riwayat kesehatan di masa lalu
Klien sakit sejak umur 19 tahun, sering di rawat keluar masuk RSMM. Dalam
perawatan satu bulan di rumah sakit, lalu pasien kembali ke rumah. Selama 10 hari
dirumah, lalu klien kembali lagi ke RS. Klien terakhir dirawat pada bulan September
2016.
2. Riwayat pengobatan
Pengobatan klien kurang berhasil, karena minum obat tidak teratur. Klien sempat
putus obat selama 1 minggu karena tidak ada yang mengawasi.
3. Aniaya fisik
Klien pernah mengalami aniaya fisik sebagai pelaku pada umur 13 tahun dengan
memukul temannya dan klien pernah dikecewakan keluarganya karena masalah
ekonomi.

Masalah keperawatan :
- Resiko Perilaku Kekerasan
- Rejimen Terapeutik In-efektif
- Koping Keluarga In-efektif

4. Riwayat Penyakit keluarga


Di dalam riwayat keluarga, ada 6 orang yang sakit jiwa yaitu, kakak dan adik dari ibu
klien, kakak perempuan klien gejalanya marah-marah dan ansietas, adik perempuan

18
klien mengalami ansietas dan adik laki-laki klien yang saat ini di rawat bersama
dengan klien di RSMM dengan gejala suka menyendiri.
Masalah keperawatan : Koping Keluarga In-efektif

5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan


Klien mengatakan kesal kepada saudaranya karena pernah dipukul oleh saudaranya.
Masalah keperawatan: Resiko Perilaku Kekerasan

D. Pemeriksaan fisik
- Tekanan Darah : 110/80 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- Suhu : 36C
- Pernafasan : 20 x/menit
- Berat Badan : 49 kg
- Tinggi Badan :166 cm
- Keluhan fisik : klien mengeluh tubuhnya gatal-gatal dan terdapat luka
akibat garukan.

Masalah keperawatan: Kerusakan Integritas Kulit

E. Psikososial
1. Genogram Tn. D

Keterangan :

= laki-laki yang mengalami gangguan jiwa

19
= wanita yang mengalami gangguan jiwa

= wanita yang mengalami gangguan jiwa yang meninggal

= laki-laki yang meninggal

= wanita yang meninggal

= laki-laki

= wanita

= klien

-------- = yang tinggal serumah

Klien anak ke-5 dari 10 bersaudara, kakak perempuan klien pernah mengalami
gangguan jiwa dengan gejala marah-marah karena ansietas dan sekarang sudah
meninggal, adik perempuan mengalami ansietas dan adik laki-laki Tn.D juga
mengalami gangguan jiwa, serta kakak dan adik dari ibu klien mengalami gangguan
jiwa. Klien tinggal bersama adik perempuan yang mengalami ansietas, suami adiknya,
dan 4 orang anak dari adiknya, serta adik laki-lakinya yang mengalami gangguan jiwa
dan saat ini dirawat di satu ruangan yang sama dengan Tn.D di RSMM. Klien lebih
sering berinteraksi hanya dengan adiknya yang mengurusnya dan adiknya yang lain
tidak peduli,

Masalah Keperawatan : Koping Keluarga In-efektif

2. Konsep Diri
a. Gambaran Diri
Klien menggambarkan dirinya sebagai orang yang biasa-biasa saja, klien
menyukai hidungnya dikarenakan hidungnya mancung dan klien menyukai tinggi
badannya.

b. Identitas diri
Klien dapat menyebutkan namanya dengan jelas, pasien juga dapat menyebutkan
pekerjaannya sebagai security dan pernah dipecat, tetapi klien tidak dapat
menyebutkan umur yang sebenarnya.

20
c. Peran
Klien mengatakan berperan sebagai anak ke-5 serta sebagai kakak dan adik.

d. Ideal Diri
Klien mempunyai cita-cita ingin menjadi kontraktor, tetapi tidak mempunyai
ijazah. Harapan klien ingin cepat pulang dan segera melamar pekerjaan agar
mempunyai uang yang banyak. Klien mengatakan sudah mempunyai istri, pada
kenyataannya klien belum pernah menikah.

e. Harga Diri
Klien menceritakan bahwa pernah direndahkan oleh orang disekitarnya.
Masalah keperawatan: Harga Diri Rendah

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti
Klien mengatakan mempunyai teman dekat yang bernama Tn.Y, yang menurutnya
sangat berarti bagi hidupnya. Dalam keluarga klien, hanya 1 orang adik
perempuannya yang peduli dan mengurusnya.

b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat


Klien tidak mempunyai kegiatan kelompok/masyarakat. Klien tampak tidak mau
berinteraksi dengan pasien lain jika tidak diberi motivasi.

c. Hambatan yang berhubungan dengan orang lain


Klien mengatakan tidak mau mengobrol karena takut mengganggu temannya.
Klien mengetahui nama orang disekitarnya, tetapi tidak mau berinteraksi dan
tampak tidak fokus, apatis pada keadaan disekitarnya, dan terlihat menyendiri.
Masalah keperawatan : Isolasi Sosial

4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan agamanya adalah Islam
b. Kegiatan ibadah
Klien mengatakan tidak pernah menjalani shalat, dan klien lupa bagaimana
caranya untuk shalat.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah

F. Status Mental
1. Penampilan
Dalam penampilan, klien tampak tidak rapih dan menggunakan pakaian yang
tidak sesuai, bahkan klien kadang melepas pakaiannya. Klien tampak sering menggaruk
garuk badannya, saat ditanya, klien selalu menjawab sudah mandi dan tidak
menggunakan sabun. Kulit klien tampak bersisik, kering, dan kotor.

21
Masalah keperawatan : Defisit Perawatan Diri: Personal Hygiene

2. Pembicaraan
Klien berbicara cepat, ketus dan inkoheren, saat ditanyakan kembali klien tidak
dapat mengulang jawabannya.
Klien cenderung banyak diam, klien tampak bicara sendiri, terkadang klien
terlihat menunjuk-nunjuk kearah tak tentu. Saat ditanyakan bahwa klien sedang
berhalusinasi (mendengar dan melihat saudaranya). Klien mengaku umurnya masih 25
tahun, masih muda, kadang mengaku bujangan dan kadang mengaku sudah menikah. Isi
pembicaraan klien kacau.

Masalah keperawatan :

- Kerusakan Komunikasi Verbal


- Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi pendengaran dan penglihatan
- Resiko Perilaku Kekerasan
3. Aktivitas motorik
Klien tampak selalu menggerakan pipi kirinya ke atas. Klien dapat mengikuti
aktivitas dengan motivasi yang kuat karena klien sering mengeluh dan menghindar
karena pusing dan sakit gigi. Aktivitas lain klien yaitu lebih banyak tiduran atau pada
saat tidak tidur, klien lebih sering mondar-mandir.
Masalah keperawatan : Isolasi Sosial

4. Alam perasaan
Klien tampak putus asa dan khawatir terjadi sesuatu. Klien mengatakan tidak
merasakan apa-apa, dan berkata saya pusing.

Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

5. Afek
Afek klien terkadang tumpul karena klien harus dimotivasi dalam menjawab
pertanyaan dan terkadang labil, klien mudah marah jika ditanya perawat, kadang tidak
berespon.
Masalah keperawatan : Kerusakan Interaksi Sosial
Resiko Perilaku Kekerasan

6. Interaksi selama wawancara


Klien tampak tidak kooperatif, tampak menghindar, dan tidak mau berinteraksi.
Klien sering menolak untuk berinteraksi dengan alasan klien pusing. Emosinya terlihat
labil.

Masalah keperawatan :

22
- Isolasi Sosial
- Resiko Perilaku Kekerasan

7. Persepsi
Klien mengatakan ada yang berbicara pada dirinya. Klien mengatakan ada
bisikan-bisikan saudaranya. Klien tampak berbicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk
ke arah tak tentu dengan frekuensi saat pagi, siang dan malam. Respon klien
mengatakan terganggu saat halusinasinya (pendengaran dan penglihatan) itu datang.
Klien tampak menggerakkan bibirnya, klien tampak berhenti berbicara jika diajak
berbincang-bincang.
Masalah keperawatan :
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan.

8. Proses pikir
Isi pembicaraan klien berbelit-belit, tidak fokus dan tidak dapat diarahkan
karena halusinasinya.
Masalah keperawatan : Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Pendengaran
dan Penglihatan

9. Isi Pikir
Klien sering mengatakan kepalanya pusing, dan giginya sakit, pada
kenyataannya klien hanya ingin menghindar saat diajak berinteraksi. Tidak didapatkan
obsesi, fobia, ataupun waham.
Masalah keperawatan: Tidak ada masalah

10. Tingkat Kesadaran


Tingkat kesadaran pasien adalah compos mentis, jika ditanya klien menjawab
dengan cukup jelas. Orientasi pasien terhadap tempat, waktu, dan orang cukup baik.
Masalah Keperawatan :Tidak ada masalah

11. Memori
Klien dapat menceritakan kejadian masa lalu, klien juga dapat menceritakan hal
jangka pendek, dan dapat menceritakan kejadian saat ini.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

12. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung


Klien mampu berhitung perhitungan sederhana seperti; pertambahan, perkalian, dan
pengurangan, tetapi, klien kurang mampu berfokus pada pertanyaan.
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah.

13. Kemampuan Penilaian

23
Klien mengatakan memilih mandi sore saja daripada mandi siang karena merasa
dingin.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah

14. Daya Tilik Diri


Klien mengingkari penyakit yang diderita dengan mengatakan saat dibawa ke RS
tidak mengalami sakit apapun.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah

G. Kebutuhan Persiapan Pulang


1. Makan
Klien dapat makan mandiri, tetapi terlihat berantakan.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah

2. Defekasi/miksi
Klien sering BAK bukan di closet, klien tidak mencuci tangan sesudah buang air kecil.
Masalah keperawatan: defisit perawatan diri: toileting

3. Mandi
Klien dapat mandi sendiri tetapi tidak menggunakan sabun dan tidak sikat gigi.
Masalah keperawatan: defisit perawatan diri: personal hygiene.

4. Istirahat dan Tidur


Klien dapat tidur siang, dan tidur malam secara mandiri. Kegiatan sebelum tidur yaitu
rebahan bersandar di tempat tidurnya.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah

5. Pemeliharaan Kesehatan
Jika kembali ke rumah, klien mempunyai sistem pendukung yaitu keluarga, tetapi
keluarga kurang mampu merawatnya karena keluarga mengalami sakit jiwa.
Masalah keperawatan: Koping Keluarga In-efektif

6. Kegiatan di dalam rumah


Jika klien kembali ke rumah, kegiatan mempersiapkan makanan, menjaga kerapihan
rumah, mencuci pakaian, dan mengatur keuangan adalah adik perempuannya.
Masalah keparawatan: tidak ada masalah

H. Mekanisme Koping
1. Adaptif
Klien dapat berbicara dengan orang lain, klien dapat melakukan kegiatan, tetapi harus
diberi motivasi yang kuat.

2. Maladaptive
Klien sering kali menghindar dengan alasan kepalanya pusing dan giginya sakit, klien
sering terlihat mondar-mandir, berbicara sendiri sambil menunjuk-nunjuk.
Masalah keperawatan: Koping Individu In-efektif

24
I. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Masalah klien dengan lingkungan dalam keluarganya ada, karena hanya 1 orang
adiknya yang mengurusnya dan adiknya yang lain tidak peduli, masalah klien dengan
pekerjaan yaitu klien seorang pengangguran, masalah klien dengan ekonomi yaitu klien
tidak mempunyai uang karena klien adalah seorang pengangguran.
Masalah keperawatan: Koping Keluarga In-efektif

J. Pengetahuan Kurang tentang


1. Penyakit Jiwa
Klien tidak menyadari bahwa dirinya sedang menderita sakit jiwa.
2. Koping
Koping klien terhadap penyakitnya adaptif, tetapi harus diberi motivasi yang kuat.
3. Sistem pendukung
Sistem pendukung dalam keluarganya adalah adik perempuan dan suami dari adik
perempuannya.
4. Penyakit fisik
Klien mengetahui dirinya gatal-gatal tetapi klien tidak tahu bahwa penyebabnya
adalah kurangnya kebersihan diri.
5. Obat-obatan
Klien dapat menyebutkan warna obat yaitu abu-abu, orange dan merah jambu. Klien
kurang memahami tentang manfaat dan efek samping dari obat tersebut.
Masalah keperawatan : Kurang Pengetahuan

K. Aspek Medik
1. Diagnosa medik : Skizofrenia Paranoid
2. Terapi medik :
- Depacote 500 mg/24 jam/oral (pagi)
- Clozapine 25 mg/24 jam/oral (malam)
- Olazapine 5mg/24jam/oral (malam)
- Stelazine 5mg/8jam/oral (pagi, siang, sore)
- Trihexepenidine 2 mg/8jam/oral (pagi, siang, sore)
- Cetirizine 1 tab/24 jam/oral (malam)

II. ANALISA DATA

25
DATA OBJEKTIF DATA SUBJEKTIF MASALAH
KEPERAWATAN
- Klien tampak berbicara - Klien mengatakan ada yang
sendiri sambil menunjuk- berbicara pada dirinya.
- Klien mengatakan yang
nunjuk kearah tak tentu. Gangguan Sensori Persepsi:
- Klien tampak menggerakan membisikan adalah
bibirnya. saudaranya.
Halusinasi Pendengaran dan
- Klien tampak menghentikan - Klien mengatakan suaranya
Penglihatan
pembicaraan. datang pada pagi, siang dan
- Saat di rumah, klien sering
sore.
berbicara sendiri.

- Kontak mata klien kurang. - Klien mengatakan takut


- Klien tampak menyendiri
mengganggu temannya jika
- Klien tampak menghindar
- Klien tampak tidak mau mengobrol.
berinteraksi dengan pasien
lain jika tidak diberi Isolasi Sosial
motivasi.
Klien mengetahui nama
orang disekitarnya,
- tetapi tidak mau berinteraksi
dan tampak tidak fokus,
apatis pada keadaan
disekitarnya, dan terlihat
menyendiri.
-
- Emosi klien tampak labil, - Klien mengatakan kesal
dan klien sering kepada saudaranya karena
menunjuk-nunjuk ke arah masalah ekonomi.
- Klien mengatakan pernah
tak tentu
- klien mudah marah jika berkelahi dengan teman
Resiko Perilaku Kekerasan
ditanya perawat, kadang sebayanya.
- Klien ketika di rumah
tidak berespon.
sering marah-marah, tidak
mau tidur,
- Klien mengatakan pernah
mengalami aniaya fisik
sebagai pelaku pada umur
13 tahun dengan
memukul temannya
- Klien pernah dikecewakan
keluarganya karena
masalah ekonomi. 26
-
POHON MASALAH

Resiko Perilaku Kekerasan

Rejimen Terapeutik in-efektif Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi

Pendengaran dan Penglihatan

Isolasi Sosial Defisit Perawatan Diri: Kebersihan Diri

Harga Diri Rendah

Koping keluarga inefektif

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan


2. Resiko Perilaku Kekerasan
3. Isolasi Sosial
4. Harga Diri Rendah
5. Defisit Perawatan Diri
6. Rejimen Terapeutik In-efektif
7. Koping Keluarga In-efektif

27
IV. INTERVENSI KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

Nama Klien : Tn.D DX Medis : Psikozefrenia Paranoid

No. Rekam Medik : 016214 Ruangan : Saraswati

Tg No Perencanaan
Dx Keperawatan Intervensi
l Dx Tujuan Kriteria Evaluasi
1 Gangguan sensori Pasien dapat mengontrol Setelah 5x interaksi pasien 1. Bina hubungan saling percaya
persepsi: Halusinasi halusinasi yang dialaminya meunjukan tanda-tanda
dengan menggunakan prinsip
(Lihat/dengar/penghidu 1. Pasien dapat membina percaya kepada perawat: komunikasi terapeutik:
/ raba/kecap) hubungan saling 1. Ekspresi wajah bersahabat
a. Sapa pasien dengan ramah
percaya 2. Menujukan rasa senang baik verbal maupun non verbal
3. Ada kontak mata b. Tanyakan nama lengkap dan
4. Mau berjabat tangan nama panggilan yang disukai
5. Mau menyebutkan nama
pasien
6. Mau menjawab salam
c. Buat kontrak yang jelas
7. Mau duduk berdampingan
d. Tunjukan sikap jujur dan
dengan perawat
menepati janji setiap kali
berinteraksi
e. Tunjukan sikap empati dan
menerima apa adanya klien
f. Beri perhatian kepada pada
pasien dan perhatikan
kebutuhan dasar pasien
g. Tanyakan perasaan pasien dan
masalah yang dihadapi pasien
2. Pasien dapat Setelah 5x interaksi pasien 2. Adakah kontrak sering dan

28
mengenal dapat menyebutkan: singkat secara bertahap
halusinasinya 1. Jenis halusinasi a. Observasi tinglah laku
2. Isi pasien terkait dengan
3. Waktu halusinasinya
4. Frekuensi b. Tanyakan apakah pasien
5. Respon dari klien mengalami
terhadap halusinasi sesuatu/halusinasi
c. Jika pasien menjawab iya,
tanyakan apa yang sedang
dialaminya
d. Katakan bahwa perawat
percaya pasien mengalami
hal tersebut, namun
perawat sendiri tidak
mengalami apa yang
dirasakan klien
e. Katakan bahwa ada pasien
yang lain yang mengalami
hal yang sama
f. Katakan bahwa perawat
akan membantu pasien
Setelah 5x interaksi pasien 3. Jika pasien tidak mengalami
menyatakan perasaan dan halusinasi, klarifikasi tentang
responya saat mengalami adanya pengalaman halusinasi,
halusinasi: marah, takut, sedih, diskusikan dengan pasien:
senang, cemas, jengkel. a. Isi, waktu, frekuensi
b. Situasi dan kondisi yang
menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi

29
c. Pasien dapat Setelah 5x interaksi pasien 5. Identifikasi bersama klien cara
mengontrol menyebutkan: yang dilakukan jika terjadi
halusinasinya 1. Tindakan yang biasanya halusinasi
dilakukan untuk 6. Diskusikan cara cara yang
mengendalikan digunakan pasien:
halusinasinya a. Jika cara yang diguanakan
2. Pasien dapat adaptif beri pujian
menyebutkan cara baru b. Jika cara yang digunakan
mengontrol halusinasinya maladaptive diskusikan
3. Pasien dapat memilih cara kerugian cara tersebut
untuk mengendalikan 3. Diskusikan cara baru untuk
halusinasinya memutuskan/mengontrol
4. Pasien melaksankan cara timbulnya halusinasi
yang dipilih untuk a. Katakan pada diri sendiri
mengendalikan bahwa itu tidak nyata
halusinasinaya (Saya tidak mau
5. Pasien mengikutsertakan dengar/lihat/penghidu/ra
terapi aktivitas kelompok. ba/kecap pada saat
halusinasi terjadi)
b. Menemui orang lain atau
perawat/teman/anggota
keluarga untuk
menceritakan tentang
halusinasinya
c. Membuat dan
melaksanakan jadwal yang
telah disusun
d. Meminta
keluarga/teman/perawat

30
untuk menyapa jika terjadi
halusinasi
4. Bantu pasien memilih cara
yang sudah dinjurkan dan latih
untuk mencobanya
5. Beri kesempatan klien untuk
melakukan cara yang sudah
dipilih dan dilatih jika berhasil
diberi pujian
6. Anjurkan pasien mengikuti
terapi aktivitas kelompok.
7. Pasien dapat dukungan Setelah 5x pertemuan keluarga 1. Buat kontrak dengan keluarga
dari keluarga dalam menyatakan setuju untuk untuk pertemuan (waktu, tempat
mengontrol mengikuti pertemuan dengan dan topik)
halusinasinya perawat, keluarga mempu 2. Diskusikan dengan keluarga
menyebutkan pengertian, tanda (pada saat pertemuan
dan gejala, proses terjadinya keluarga/kunjungan rumah)
halusinasi a. Pengertian halusinasi
b. Tanda dan gejala halusinasi
c. Obat-obatan untuk halusinasi
d. Cara yang dapat dilakukan
pasien dan keluarga untuk
memutuskan halusinasi
e. Cara merawat anggota
keluaraga yang halusinasi
dirumah (Beri kegiatan
berpergian bersama serta pantau
obatobatan dan cara

31
pemberianya untuk mengatasi
halusinasi)
8. Pasien dapat dukungan Setelah 5x interaksi pasien 5. Diskusikan dengan pasien
dari keluarga dalam dapat menyebutkan: tentang manfaat dan kerugian
mengontrol 3. Pasien dapat tidak minum obat ( Nama,
halusinasinya mendemonstrasikan warna, dosis, cara, efek
pengguanaan obat dengan terapi, dan efek samping)
benar 6. Pantau pasien pada saat
4. Pasien dapat menyebutkan minum obat
akibat berhenti minum 7. Beri pujian jika pasien
obat menggunakan obat dengan
benar
8. Diskusikan akibat berhenti
minum obat tanpa konsultasi
dengan dokter 5. Anjurkan
pasien untuk konsultasi
kepada dokter atau perawat
jika terjadi hal yang tidak
diinginkan
2 Isolasi Sosial Klien dapat berinteraksi Setelah dilakukan 1x interaksi 1. Bina hubungan saling percaya
dengan orang lain sehingga pasien menunjukkan tanda- dengan menggunakan prinsip
tidak terjadi perilaku tanda percaya terhadap komunikasi terapeutik:
menarik diri perawat dengan menunjukkan: a. Sapa klien dengan nama
1. Klien dapat membina 1. Ekspresi wajah bersahabat, baik verbal maupun non
hubungan saling menunjukkan rasa tenang, verbal
percaya ada kontak mata, mau b. Perkenalkan diri dengan
berjabat tangan, mau sopan
c. Tanyakan nama lengkap
menyebutkan nama, mau
dan nama panggilan yang
menjawab salam, mau

32
duduk berdampingan disukai klien
dengan perawat, mau d. Jelaskan tujuan pertemuan
mengutarakan masalah e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati
yang dihadapi.
dan menerima klien
dengan apa adanya
g. Berikan perhatian kepada
klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat Klien dapat menyebutkan 1. Kaji pengetahuan klien tentang
menyebutkan penyebab menarik diri yang perilaku menarik diri dan
penyebab menarik diri berasal dari: tandanya:
a. Diri sendiri a. Dirumah klien tinggal
b. Orang lain dengan siapa
c. Lingkungan b. Siapa yang paling dekat
dengan klien
c. Apa yang membuat klien
dekat dengannya
d. Dengan siapa klien tidak
dekat
e. Apa yang membuat klien
tidak dekat
3. Klien dapat 1. Klien dapat berinteraksi 1. Kaji pengetahuan klien tentang
menyebutkan menyebutkan keuntungan keuntungan memiliki teman
keuntungan berinteraksi dan kerugian 2. Beri kesempatan kepada klien
berinteraksi dengan tidak berinteraksi dengan untuk berinteraksi dengan
orang lain dan orang lain. Misalnya : orang lain
kerugian tidak a. Banyak teman 3. Diskusikan bersama klien
berinteraksi dengan b. Tidak sendiri tentang keuntungan
c. Bisa diskusi, dll berinteraksi dengan orang lain

33
orang lain 4. Beri penguatan positif
terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan
2. Klien dapat menyebutkan
berinteraksi dengan orang lain
kerugian bila tidak
berinteraksi dengan orang
1. Kaji pengetahuan klien tentang
lain. Misalnya:
a. Sendiri kerugian bila tidak berinteraksi
b. Tidak memiliki teman dengan orang lain
c. Sepi, dll 2. Beri kesempatan kepada klien
untuk mengungkapkan
perasaan tentang kerugian bila
tidak berinteraksi dengan
orang lain
3. Diskusikan bersama klien
tentang kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain
4. Beri penguatan positif
terhadap kemampuan
mengungkapkan perasaan
tentang kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain.

4. Klien dapat Klien dapat 1. Kaji kemampuan klien


melaksanakan interaksi mendemonstrasikan interaksi membina hubungan dengan
social secara bertahap social secara bertahap antara : orang lain.
a. Klien perawat 2. Bermain peran tentang cara
b. Klien perawat perawat berhubungan/berinteraksi
lain dengan orang lain.

34
c. Klien perawat perawat 3. Dorong dan bantu klien untuk
lain klien lain berinteraksi dengan orang lain
d. Klien- melalui tahap:
keluarga/kelompok/masyar a. Klien perawat
akat b. Klien perawat perawat
lain
c. Klien perawat perawat
lain klien lain
d. Klien-
keluarga/kelompok/masyar
akat
4. Beri penguatan positif terhadap
keberhasilan yang telah dicapai
5. Bantu klien untuk
mengeevaluasi keuntungan
menjalin hubungan social
6. Diskusikan jadwal harian yang
dapat dilakukan bersama klien
dalam mengisi waktu, yaitu
berinteraksi dengan orang lain
7. Motivasi klien untuk
mengikuti kegiatan ruangan
8. Beri penguatan positif atas
kegiatan klien dalam kegiatan
ruangan
5. Klien dapat Klien dapat mengungkapkan 1. Dorong klien untuk
mengungkapkan perasaannya setelah mengungkapkan perasaannya
perasaannya setelah berinteraksi dengan orang lain bila berinteraksi dengan
berinteraksi dengan untuk: orang lain

35
orang lain a. Diri-sendiri 2. Diskusikan dengan klien
b. Orang lain tentang perasaan keuntungan
berinteraksi dengan orang
lain
3. Beri penguatan posiitif atas
kemampuan klien
mengungkapkan perasaan
keuntungan berhuubungan
dengan orang lain
6. Klien dapat Keluarga dapat : 1. Bina hubungan saling percaya
memberdayakan a. Menjelaskan dengan keluarga:
system pendukung atau perasaannya a. Salam, perkenalkan diri
keluarga b. Menjelaskan cara b. Jelaskan tujuan
merawat klien menarik c. Buat kontrak
d. Eksplorasi perasaan klien
diri
2. Diskusikan dengan anggota
c. Mendemonstrasikan
keluarga tentang:
cara perawatan klien
a. Perilaku menarik diri
menarik diri b. Penyebab perilaku menarik
d. Berpartisipasi dalam
diri
perawatan klien c. Akibat yang akan terjadi
menarik diri jika perilaku menarik diri
tidak ditanggapi
d. Cara keluarga menghadapi
klien menarik diri
3. Dorong anggota keluarga
untuk memberikan dukungan
kepada klien dalam
berkomunikasi dengan orang
lain

36
4. Anjurkan anggota keluarga
untuk secara rutin bergantian
menjenguk klien minimal satu
kali seminggu
5. Beri penguatan positif atas hal-
hal yang telah dicapai oleh
keluarga.
3. Resiko Perilaku Klien tidak melakukan
Kekerasan perilaku kekerasan.
1. Klien dapat membina 1. Setelah x pertemuan 1. Bina hubungan saling percaya
hubungan saling klien menunjukkan tanda- dengan :
percaya. tanda percaya kepada a. Beri salam setiap
perawat : berinteraksi
Wajah cerah, tersenyum b. Perkenalkan nama, nama
Mau berkenalan panggilan perawat dan
Ada kontak mata tujuan perawat
Bersedia meneceritakan berinteraksi
perasaan c. Tanyakan dan panggil
nama kesukaan klien
d. Tunjukkan sikap empati,
jujur dan menepati janji
setiap kali berinteraksi
e. Tanyakan perasaan klien
dan masalah yang
dihadapi klien
f. Buat kontrak interaksi
yang jelas
g. Dengarkan dengan penuh
perhatian ungkapan

37
perasaan klien.
2. Klien dapat 2. Setelah x pertemuan 2. Bantu klien menungkapkan
mengidentifikasi klien meneceritakan perasaan marahnya :
penyebab perilaku penyebab perilaku a. Motivasi klien untuk
kekerasan yang kekerasan yang menceritakan penyebab
dilakukannya dilakukannya: rasa kesal atau jengkelnya
Menceritakan penyebab b. Dengarkan tanpa menyela
perasaan jengkel/kesal atau member penilaian
baik dari diri sendiri setiap ungkapan perasaan
maupun lingkungannya klien.
3. Klien dapat 3. Setelah x pertemuan 3. Bantu klien mengungkapkan
mengidentifikasi tanda- klien menceritakan tanda- tanda-tanda perilaku kekerasan
tanda perilaku tanda saat perilaku yang dialaminya:
kekerasan kekerasan a. Motivasi klien
Tangan fisik : mata menceritakan kondisi fisik
merah, tangan (tanda-tanda fisik) saat
mengepal, eksresi perilaku kekerasan terjadi
tegang dan lain-lain b. Motivasi klien
Tanda emosional : menceritakan kondisi
perasaan marah, emosinya (tanda-tanda
jengkel, bicara kasar emosional) saat terjadi
Tanda social : perilaku kekerasan
bermusuhan yang c. Motivasi klien
dialami saat terjadi menceritakan kondisi
perilaku kekerasan. hubungan dengan orang
lain (tanda-tanda social)
saat terjadi perilaku
kekerasan
4. Klien dapat 4. Setelah x pertemuan 4. Diskusikan dengan klien

38
mengidentifikasi jenis klien menjelaskan akibat perilak kekerasan yang
perilaku kekerasan tindak kekerasan yang dilakukannya selama ini :
yang pernah dilakukannya a. Motivasi klien
dilakukannya Diri sendiri : luka, menceritakan jenis-jenis
dijauhi teman, dll tindak kekerasan yang
Orang lain/keluarga : selama ini pernah
luka, tersinggung dilakukannya
ketakutan, dll b. Motivasi klien
Lingkungan : barang menceritakan perasaan
atau benda rusak, dll klien setelah tindak
kekerasan tersebut tejadi
c. Diskusikan apakah denga
tindak kekerasan yang
dilakukakannya masalah
yang dialami teratasi
5. Klien dapat 5. Setelah x pertemuan 5. Diskusikan dengan klien
mengidentifikasi akibat klien mejelaskan akibat akibat negative (kerugian) cara
perilaku kekerasan tindak kekerasan yang yang dilakukan pada :
dilakukannya a. Diri sendiri
Diri sendiri : luka, b. Orang lain/keluarga
dijauhi teman, dll c. lingkungan
Orang lain/keluarga :
luka, tersinggung,
ketakuan, dll
Lingkungan : barang
atau benda rusak, dll
6. klien dapat 6. Setelah x pertemuan 1. Diskusikan dengan klien :
mengidentifikasi cara klien : a. Apakah klien mau
konstruktif dalam Menjelaskan cara-cara mempelajari cara baru

39
mengungkapkan sehat mengungkapkan mengungkapkan marah
kemarahan marah yang sehat
b. Jelaskan berbagai
alternative pilihan untuk
mengungkapkan marah
selain perilaku kekerasan
yang diketahui klien.
c. Jelaskan cara-cara sehat
untuk mengungkapkan
marah :
1) Cara fisik : nafas
dalam, pukul bantal/
kasur, olahraga
2) Verbal :
mengungkapkan
bahwa dirinya sedang
kesal kepada orang
lain
3) Social : latihan asertif
dengan orang lain
4) Spiritual :
sembahyang/doa,
zikir, meditasi, dsb
sesuai keyakinan
agamanya masing-
masing
7. Klien dapat 7. Setelah x pertemuan 1. Diskusikan cara yang mungkin
mendemonstrasikan klien memperagakan cara dipilh dan anjurkan klien
cara mengontrol mengontrol perilak memilih cara yang mungkin

40
perilaku kekerasan kekerasan : untuk menungkapkan
Fisik : tarik nafas kemarahannya.
dalam, memukul 2. Latih klien memperagakan
bantal/kasur cara yang dipilih :
Verbal : a. Peragakan cara
mengungkapkan melaksanakan cara
perasaan kesal/jengkel yang dipilih
pada orang lain tanpa b. Jelaskan manfaat cara
menyakiti tersebut
c. Anjurkan klien
Spiritual : zikir/doa,
menirukan peragaan
meditasi sesuai
yang sudah
agamanya
dilakukannya
d. Beri penguatan pada
klien, perbaiki cara yang
masih belum sempurna
2. Anjurkan klien menggunakan
cara yang sudah dilatih saat
marah/jengkel
8. Klien mendapat 3. Setelah x pertemuan a. Diskusikan pentingnya peran
dukungan keluarga keluarga : serta keluarga sebagai
untuk mengontrol Menjelaskan cara pendukung klien untuk
perilaku kekerasan merawat klien dengan mengatasi perlaku kekerasan
perilaku kekerasan b. Diskusikan potensi keluarga
Mengungkapkan rasa untuk membantu klien
puas dalam merawat mengatasi perilaku kekerasan
klien c. Jelaskan pengertian, penyebab,
akibat dan cara merawat klien
perilaku kekerasan yang dapat

41
dilaksanakan oleh keluarga
d. Pergakan cara merawat klien
(menangani perilaku
kekerasan)
e. Beri kesempatan keluarga
untuk memperagakan ulang
f. Beri pujian kepada keluarga
setelah peragaan
g. Tanyakan perasaan keluarga
setelah mencoba cara yang
dilatihkan
9. Klien menggunakan a. Setelah x pertemuan 1. Jelaskan manfaat
obat sesuai program klien menjelaskan : menggunakan obat secara
yang telah ditetapkan Manfaat minum obat teratur dan kerugian jika tidak
Kerugian tidak minum menggunakan obat
obat 2. Jelaskan kepada klien :
Nama obat a. Jenis obat (nama, warna
Bentuk dan warna obat dan bentuk obat)
Dosis yang diberikan b. Dosis yang tepat untuk
kepadanya klien
c. Waktu pemakaian
Waktu pemakaian
d. Cara pemakaian
Cara pemakaian e. Efek tyang akan dirasakan
Efek yang dirasakan klien
b. Setelah x pertemuan klin 3. Anjurkan klien :
menggunakan obat sesuai a. Minta dan menggunakan
program obat tepat waktu
b. Lapor ke perawat/dokter
jika mengalami efek yang
tidak biasa

42
c. Beri pujian terhadap
kedisiplinan klien
menggunakan obat.
Gangguan Konsep 1. Pasien memiliki konsep Setelah dilakukan 1x 1. Bina hubungan saling percaya
Diri : Harga Diri diri yang positif 1. interaksi, pasien dengan menggunakan prinsip
Rendah Pasien dapat membina menunjukan: terapeutik:
hubungan saling 1. Ekspresi wajah a. Sapa klien dengan ramah
percaya bersahabat b. Perkenalkan diri
2. Menunjukan rasa senang c. Tanyakan nama lengkap
3. Ada kontak mata dan nama panggialan yang
4. Mau berjabat tangan disukai pasien
5. Mau menyebutkan nama d. Jelaskan tujuan pertemuan
6. Mau menjawab salam e. Jujur dan menempati janji
7. Pasien mau duduk f. Tunjukan sikap empati dan
berdampingan dengan menerima pasien apa adanya
perawat g. Beri perhatian dan
8. Pasien mau perhatikan kebutuhan dasar
mengutarakan masalah yang pasien
di hadapi
2. Pasien dapat Setelah 2x interaksi pasien 1. Diskusikan dengan pasien
mengidentifikasi aspek dapat menyebutkan: tentang pasien tentang: a. Aspek
positif dan kemampuan a. Aspek positif dan positif yang dimiliki pasien,
yang dimiliki kemampuan yang dimiliki keluarga, lingkungan b.
pasien. Kemampuan yang dimiliki pasien
b. Aspek positif keluarga 2. Bersama pasien buat daftar
c. Aspek positif lingkungan
tentang:
a. Aspek positif yang dimiliki
pasien, keluarga, lingkungan
b. Kemampuan yang dimilki
pasien

43
3. Beri pujian yang realitis,
hindarkan memberi penilaian
negatif
3. Pasien dapat Setelah 3x interaksi pasien 1. Dilaksanakan pasien
membina kemampuan menyebutkan kemampuan Diskusikan kemampuan pasien
yang dimiliki untuk yang dapat dilaksanakan yang akan dilanjutkan
dilaksanakan pelaksanaanya

4. Pasien dapat Setelah 4x interaksi pasien 1. Rencanakan bersama pasien,


merencanakan kegiatan dapat membuat rencana aktivitas yang dapat dilakukan
sesuai dengan kegiatan harian setiap hari sesuai kemampuan
kemmpuan yang pasien
dimiliki 2. Tingkatkan kegiatan sesuai
kondisi pasien
a. Kegiatan mandiri
b. Kegiatan dengan bantuan
3. Beri contoh cara pelaksanaan
kegiatan yang dapat pasien
lakukan
5. pasien dapat Setelah 5x interaksi pasien 1. Anjurkan pasien untuk
melakukan kegiatan melakukan kegiatan sesuai melaksanakan kegiatan yang telah
sesuai rencana yang jadwal yang dibuat direncanakan
dibuat 2. Pantau kegiatan yang
dilaksankan pasien
3. Beri pujian atas usaha yang
dilakukan pasien
4. Diskusikan kemungkinan
pelaksanaan kegiatan setelah

44
pulang
6. pasien dapat Setelah 6x interaksi pasien 1. Beri pendidikan kesehatan
memanfaatkan sistem memanfaatkan system pada keluarga tentang cara
pendukung yang ada pendukung yang ada di merawat pasien dengan harga
keluarga diri rendah
a. Beri alasan setiap
berinteraksi
b. Perkenalkan namanama
panggilan perawat dan tujuan
perawat berkenalan
c. Tanyakan dan panggil
nama kesukaan pasien
d. Tunjukan sikap jujur dan
menepati janji setiap kali
berinteraksi
e. Tanyakan perasaan pasien
dan masalah yang dihadapi
klien
f. Buat kontrak interaksi yang
jelas
g. Dengarkan dengan penuh
perhatian ekspresi perasaan
klien

45
V. Catatan Keperawatan

Nama Pasien : Tn. D Ruangan : Saraswati

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Selasa, 8 Data Subyektif : S:
November 2016 Klien mengatakan ada yang berbicara Klien mengatakan masih tidak
pada dirinya dan mengatakan bahwa itu mengerti bagaimana cara
11.30 bisaikan saudaranya menghardik

Data Obyektif : O:
Klien tampak berbicara sendiri - Klien tampak kooperatif
- Klien tampak belum
Diagnosa Keperawatan : menghardik secara
Halusinasi maksimal

Terapi : A:
SP 1 tentang menidentifikasi halusinasi, SP 1 belum tercapai
frekuensi, waktu terjadinya, situasi,
pencetus, perasaan klien, respon klien, P:
latih cara mengkontrol halusinasi dengan Latihan cara menghardik
menghardik, memasukan kedalam jadwal
kegiatan latihan

RTL : TTD : Tia Maslika


- Evaluasi kegiatan menghardik.
Beri pujian
- Latih cara mengontrol halusinasi
dengan obat
- Memasukan pada jadwal kegiatan
untuk latihan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Selasa, 8 Data subyektif : S:
November 2016 Pasien mengatakan takut menggangu klien mengatakan tidak mau
temannya saat di suruh berkenalan saat di ajak berkenalan

Data Obyektif :
- Klien tampak menghindar O:
- Klien tampak tidak kooperatif klien tampak menghindar,

46
- Klien tampak tidak mau untuk klien tampak tidak kooperatif,
berkenalan kontak mata kurang

Diagnosa Keperawatan :
Isolasi Sosial
A:
Terapi : SP 1 belum tercapai latih cara
SP 1 tentang berkenalan
- identifikasi penyebab isolasi
sosial P:
- keuntungan punya teman dan latih cara berkenalan dengan 1-
bercakap cakap 2 orang
- kerugian tidak punya teman dan
tidak bercakap cakap
- latih cara berkenalan dngan
anggota keluarga TTD: Tia Maslika
- masukkan pada jadwal kegiatan
untuk latihan berkenalan

Rencana Tindak Lanjut (RTL) :


- evaluasi kegiatan pertama yang
telah dilatih dan diberikan pujian
- bantu klien memilih kegiatan
kedua yang akan dilatih
- latih kegiatan kedua
- masukkan pada jadwal kegiatan
latihan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Selasa, 8 Data subyektif : S:
November 2016 klien mengatakan badannya gatal gatal - Klien mengatakan iya
karena pada saat mandi tidak akan menggunakan sabun
13.00 menggunakan sabun - Klien mengatakan masih
gatal-gatal
Data Obyektif :
- klien tampak menggaruk garuk O :
badannya klien tampak belum memahami
- klien tampak terdapat luka akibat cara kebersihan diri
garukan di tanggan dan kakinya
A:
Diagnosa Keperawatan : SP 1 Belum tercapai cara
Defisit perawatan Diri kebersihan diri

Terapi : P:

47
SP 1 tentang latih cara menjaga kebersihan
- identifikasi masalah perawatan diri
diri
- jelaskan pentingnya kebersihan
diri TTD: Tia Maslika
- jelaskan cara dan alat kebersihan
diri
- latih cara menjaga kebersihan diri
- masukkan pada jadwal kegiatan
latihan

Rencana Tindak Lanjut (RTL) :


- Evaluasi kebersihan diri
- Latih cara menjaga kebersihan
diri
- Masukkan dalam jadwal kegiatan
latihan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Rabu 9 november Data subyektif : S:
2016 klien mengatakan tidak mau saat di ajak Klien mengatakan bingung saat
berkenalan di ajak berkenalan
09.00
Data Obyektif :
- klien tampak menghindar O:
- klien tampak tidak kooperatif Klien tampak mulai mau
- kontak mata kurang berjabat tangan, kontak mata
kurang
Diagnosa Keperawatan :
Isolasi Sosial
A:
Terapi : SP 1 belum tercapai, SP 2
SP 2 tentang sudah tercapai
- evaluasi kegiatan berkenalan
- latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian P:
- masukkan pada jadwal kegiatan
latihan berkenalan dengan 4-6
latihan
orang
Rencana Tindak Lanjut (RTL) :
TTD: Rayinda Sazkya
- ulangi berkenalan dengan 2-3
orang
- lanjut berkenalan lebih dengan 4-

48
6 orang
- masukkan kedalam jadwal
kegiatan latihan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Rabu 9 november Data subyektif : S:
2016 Klien mengatakan sudah minum obat klien mengatakan belum
berwarna putih mengerti manfaat minum obat
10.00
Data obyektif : O:
Pasien tampak dapat menyebutkan obat klien tampak menghindar saat
yang diminumnya dijelaskan

Diagnosa keperawatan : halusinasi A:


SP 2 belum tercapai
Terapi :
SP 2 tentang membicarakan tentang obat P:
- Ulangi latihan cara
Rencana Tindak Lanjut (RTL) : mengontrol halusinasi
- evaluasi membicarakan tentang - Latihan cara menghardik
obat halusinasi
- lanjut menghardik halisinasi
- lanjut membicarakan tentang obat TTD: Rayinda Sazkya
- latih cara mengontol halusinasi
dengan bercakap cakap
- masukkan dalam jadwal kegiatan
latihan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Rabu 9 november Data subyektif : S:
2016 Klien mengatakan masih gatal-gatal klien mengatakan tidak tahu
cara mandi yang benar
11.00 Data obyektif : Klien mengatakan masih gatal
- klien tampak belum memahami gatal
cara kebersihan diri
- klien tampak masih terdapat luka
akibat garukan di kaki dan O :
tangannya klien tampak belum mau mandi
dengan menggunakan sabun
Diagnosa keperawatan :
defisit perawatan diri
A:

49
Terapi : SP 1 belum tercapai cara
SP 1 tentang kebersihan diri
- Latihan cara menjaga kebersihan
diri
P:
Rencana Tindak Lanjut (RTL) : ulangi latihan cara menjaga
- Ulangi SP 1 kebersihan diri
- Evaluasi kebersihan diri
- Latih cara menjaga kebersihan
diri TTD: Rayinda Sazkya
- Masukkan dalam jadwal kegiatan
latihan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Kamis, 10 Data subyektif : S:
November 2016 Klien mengatakan lupa cara menghardik klien mengatakan akan
halusinasi dan macam macam obat melakukan apa yang sudah di
09.00 latih
Data obyektif :
Klien tampak kontak mata kurang
O:
Diagnosa keperawatan : halusinasi klien tampak diam

Terapi : A:
SP 3 tentang evaluasi kegiatan SP 3 belum tercapai
menghardik dan meminum obat, latih
cara mengontrol halusinasi dengan
bercakap cakap saat terjadi halusinasi, P :
masukan dalam jadwal kegiatan - Ulangi latih cara
mengontrol halusinasi
Rencana Tindak Lanjut (RTL) : dengan bercakap cakap
- Ulangi menghardik halusinasi, - Latihan cara menghardik
macam obat dan mengontrol halusinasi
halusinasi dengan bercakap - - Latihan cara mengontrol
cakap halusinasi dengan obat
- Masukkanpada jadwal kegiatan
latihan TTD: Triana Puspita

50
Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi
Kamis 10 Data Subyektif : S:
November 2016 - klien mengatakan tidak tahu cara klien mengatakan tidak mau
mandi yang benar dicukur rambutnya
11.00 - Klien mengatakan masih gatal
gatal O:
Data Obyektif : pasien tampak menghindar dan
- klien tampak belum mau mandi tidak mau untuk mencukur
dengan menggunakan sabun rambutnya
- klien tampak masih terdapat luka
akibat garukan di kaki dan A:
tangannya SP 2 belum tercapai

Diagnosa Keperawatan : defisit P :


perawatan diri - Latihan cara menjaga
kebersihan diri
- Latihan cara berdandan

Terapi :
SP 2 tentang TTD: Prili Handari
- evaluasi kegiatan kebersihan diri.
Beri pujian
- jelaskan cara dan alat untuk
berdandan
- latih cara berdandan setelah
kebersihan diri
- masukkan pada jadwal kegiatan
untuk kebersihan diri

Rencana Tindak Lanjut (RTL) :


- Ulangi SP 1
- Melakukan SP 2
- Evaluasi latih cara berdandan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi

51
Kamis, 10 Data Subyektif : S:
November Klien mengatakan mau berkenalan Klien mengatakan sudah
berkenalan
Data Obyektif :
Klien berjabat tangan dan mau O :
berinteraksi Klien tampak menghindar

Diagnosa Keperawatan : A:
Isolasi Sosial Isolasi sosial masih ada, SP 3
tercapai
Terapi :
SP 3 tentang evaluasi kegiatan P :
berkenalan, latih berbicara saat - Latihan cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian, masukkan melakukan kegiatan harian
pada jadwal kegiatan
- Latihan cara berkenalan
RTL : dengan 2-3 orang
- Evaluasi dan latih cara berbicara
saat melakukan kegiatan harian
- Lanjut berkenalan dengan 2-3 TTD: Prili Handari
orang
- Lanjut latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian
- Masukkan dalam jadwal

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Kamis, 10 Data Subyektif : S:
November Klien mengatakan kesal kepada Klien mengatakan tindakan
saudaranya karena tidak di beri uang dan mengontrol perilaku kekerasan
ditonjok oleh saudaranya saat ditanya fisik 1 dan 2 adalah salah, yang
perasaannya. benar adalah dengan
membalasnya
Data Obyektif :
Klien tampak marah-marah dan O :
menunjuk-nunjuk ke arah lain Klien tampak ngotot dan tidak
mau melakukan tindakan
Diagnosa Keperawatan :
Resiko Perilaku Kekerasan A:

52
Resiko perilaku kekerasan
masih ada ( SP 1 belum
Terapi : tercapai)
SP 1 tentang mengidentifikasi penyebab,
tanda dan gejala, perilaku kekerasan yang P :
dilakukan, akibat dari perilaku kekerasan. - Latihan cara mengontrol
Jelaskan cara mengontrol perilaku resiko perilaku kekerasan
kekerasan, latih cara mengontrol perilaku dengan cara perilaku
kekerasan fisik 1 dan 2, masukkan dalam kekerasan dengan cara
jadwal perilaku kekerasan fisik 1

RTL :
- Evaluasi dan latih cara mengontrol TTD: Stephanie Carissa
perilaku kekerasan fisik 1
- Lanjut cara mengontrol dengan
obat
- Masukkan dalam jadwal kegiatan
harian

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Kamis, 10 Data Subyektif : S:
November Klien mengatakan bisa main voli tapi Klien mengatakan saat di
lupa caranya dan tidak bisa melakukan rumah suka main voli
kegiatan lain karena lupa
O:
Data Obyektif : Klien tampak senang saat
Klien dengan kontak mata kurang diajak main voli dan bisa
bermain voli
Diagnosa Keperawatan :
Harga Diri Rendah A:
Harga diri rendah masih ada SP
Terapi : 1 tercapai
SP 1 tentang identifikasi kemampuan
melakukan kegiatan dan aspek positif P :
pasien, bantu pasien menilai kegiatan - Latihan kegiatan yang
yang dapat dilakukan saat ini, latih dapat dilakukan saat ini
kegiatan yang dapat dilakukan saat ini,
latih kegiatan yang dipilih, masukkan
pada jadwal kegiatan

RTL : TTD: Ulfa Isnaini


- Evaluasi pasien dalam menilai

53
kegiatan yang dapat dilakukan
- Lanjut latih kegiatan yang dipilih
- Lanjut latih kegiatan kedua
- Masukkan dalam jadwal

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Jumat, 11 Data Subyektif : S:
November Klien mengatakan engga ah, pusing Klien mengatakan mau
menggambar setelah di
Data Obyektif : motivasi
Kontak mata kllien kurang Klien menyanyikan lagu-lagu
Klien tampak menolak kebangsaan

Diagnosa Keperawatan : O:
Gangguan sensori persepsi : halusinasi Klien tampak diam setelah
berkenalan dan berbincang-
Terapi : bincang
SP 4 tentang evaluasi kegiatan
menghardik,, minum obat, dan bercakap- A:
cakap, latih cara mengontrol halusinasi Gangguan sensori persepsi :
dengan melakukan kegiatan harian, Halusinasi.
masukkan pada jadwal harian SP 1, 2, 3 belum tercapai
SP 4 tercapai
RTL :
- Evaluasi SP 4 P:
- Lanjut SP 1, 2, 3 - Latihan cara menghardik
- Masukkan dalam jadwal halusinasi mengontrol
kegiatan halusinasi dengan obat
dan bercakap-cakap

- Latihan cara mengontrol


halusinasi dengan
melakukan kegiatan
harian

TTD: Virdha Mifta

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Jumat, 11 Data Subyektif : S:

54
November Klien mengatakan belum berkenalan Klien mengatakan sudah
dengan temannya berkenalan dengan 2 orang

Data Obyektif : O:
Klien tampak menyendiri Klien tampak mau berkenalan
dengan motivasi
Diagnosa Keperawatan :
Isolasi Sosial A:
Isolasi sosial, SP 4 tercapai
Terapi :
SP 4 tentang evaluasi kegiatan P :
berkenalan dan bicara saat melakukan 4 - Latih cara berkenalan
kegiatan harian, latih cara berbicara
sosial : belanja ke warung meminta - Latih cara bercakap-cakap
sesuatu, menjawab pertanyaan, dan
- Latih cara berbicara sosial
masukkan pada jadwal latihan harian

RTL : Paraf dan nama


- Evaluasi SP 4
- Ulangi SP 1, 2, 3
- Lanjut SP 5

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Jumat, 11 Data Subyektif : S:
November Klien mengatakan macam macam alat Klien mengatakan iya, setelah
makan di beritahu untuk makan
selanjutnya makan pelan-
Data Obyektif : pelan
Klien tampak kurang fokus dalam
menyebutkan alat makan O:
Klienmakan dengan perlahan
Diagnosa Keperawatan : dan membersihkan sisa nasi di
Defisit Perawatan Diri tangannya

Terapi : A:
SP 3 tentang evaluasi kegiatan kebersihan Defisit Perawatan Diri SP 3
diri dan berdandan, jelaskan cara dan alat tercapai
makan dan minum, latih cara makan dan
minum yang baik, masukkan pada jadwal
kegiatan P:

55
- Latihan cara kegiatan
RTL : kebersihan diri
- Evaluasi SP 3 (latih cara cara
makan dan minum yang baik) - Latihan cara berdandan
- Lanjut SP 4 (Latih cara BAB
- Latihan cara makan dan
dan BAK yang baik )
- Ulangi SP 1 (latih cara minum yang baik
kebersihan diri : mandi)

TTD: Yurika Hartanti

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Sabtu, 12 Data Subyektif : S:
November Klien mengatakan tidak bisa bermain Klien mengatakan memilih
catur permainan ular tangga

Data Obyektif : O:
Klien tampak memilih permainan Klien tampak mampu bermain
ular tangga dengan arahan
Diagnosa Keperawatan : Klien bermain ular tangga
Harga Diri Rendah dengan 2 orang mahasiswa

Terapi : A:
SP 2 tentang evaluasi kegiatan pertama Harga Diri Rendah SP 2
yang telah dilatih, bantu pasien memilih tercapai
kegiatan kedua yang akan dilatih. Latih
kegiatan kedua masukkan dalam jadwal P:
kegiatan - Latihan kegiatan kedua
(bermain ular tangga)
RTL :
- Evaluasi SP 2 (Latih kegiatan
kedua) TTD: Stephanie Carissa
- Lanjut SP 3 (Latih kegiatan ke 4)
- Masukkan dalam jadwal kegiatan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Sabtu, 12 Data Subyektif : S:

56
November Klien mengatakan lupa saat ditanya cara Klien mengatakan cara
mengontrol Perilaku Kekerasan / pertama yaitu dengan cara tarik
kegiatan fisik 1 nafas dalam , pukul bantal dan
cara yang kedua dengan
Data Obyektif : minum obat.
Kontak mata klien kurang
O:
Diagnosa Keperawatan : Pasien tampak mendengarkan
Resiko Perilaku Kekerasan dan menyebutkan cara-cara
mengontrol Perilaku Kekerasan
Terapi :
SP 2 tentang evaluasi kegiatan fisik 1, A :
latih cara mengontrol Perilaku Kekerasan SP 2 tercapai
dengan obat, masukkan pada jadwal
kegiatan P:
- Latihan cara mengontrol
RTL : Perilaku Kekerasan
- Evaluasi SP 2 (mengontrol Perilaku dengan obat
Kekerasan dengan obat) - Latihan dan ulangi
- Lanjut SP 3 (Latih cara kegiatan fisik 1
mengontrol Perilaku Kekerasan
secara verbal)
- Ulangi SP 1 (kegiatan fisik 1 )
- Masukkan dalam jadwal kegiatan TTD: Tia Maslika

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Senin, 14 Data subyektif : S : - klien mengatakan ingin
november 2016 klien mengatakan tidak mau mengganggu membuat kopi
temannya
10.00 Data Obyektif : O : klien tampak mencuci
- klien tampak berbicara sendiri piring sebelum membuat kopi
- klien tampak menyendiri
- lien tampak mondar mandir tanpa A : SP 3 sudah tercapai
arah mencuci piring

Diagnosa Keperawatan : harga diri P : Latihan cara kegiatan


rendah positif dengan kemampuan
yang dimilikinya
Terapi :
SP 3 tentang

57
- Evaluasi kegiatan pertama dan TTD: Zakiyah Rahmayani
kedua yang telah di latih dan
berikan pujian
- Bantu klien memilih kegiatan
ketiga yang akan di latih
- Latih kegiatan ketiga
- Masukkan pada jadwal kegiatan
latihan
Rencana Tindak Lanjut (RTL) :
- Evaluasi kegiatan pertama, kedua,
dan ketiga yang telah di latih
- Bantu klien memilih kegiatan
yang ke empat
- Latih kegiatan yang keeempat
- Masukkan pada jadwal kegiatan
harian

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Selasa, 15 Data Subyektif : S : - klien mengatakan belum
november 2016 - klien mengatakan masih mampu menghardik, bercakap
mendengar suara cakap dan melakukan
11.00 kegiatan lainnya
Data Obyektif :
- klien tampak diam, saat di tanya O : klien tampak diam
apa yang bapak lakukan jika Klien tampak mengikuti cara
ditanyakan sesuatu menghardik dan mengontrol
halusinasi dengan obat dan
Diagnosa Keperawatan : halusinasi bercakap cakap

Terapi : A : semua SP belum tercapai


SP tentang
- evaluasi kegiatan menghardik, P:
minum obat, dan bercakap cakap. - latih cara menghardik
Beri pujian 3x sehari
- latih cara mengontrol halusinasi - latih cara mengontrol
dengan melakukan kegiatan dengan obat
harian - latih cara kontrol
- masukkan pada jadwal kegiatan dengan bercakap -
untuk latihan cakap

Rencana Tindak Lanjut (RTL) : TTD: Randi Agung


- Ulangi SP 1
- Ulangi SP 2
- Ulangi SP 3
- Evaluasi kegiatan latihan cara

58
mengotrol halusinasi, beri pujian
- Nilai kemampuan yang telah
mandiri
Masukkan dalam jadwal kegiatan

Hari / Tgl / Jam Implementasi Evaluasi


Rabu, 16 Data Subyektif : S : klien mengatakan ingin
november 2016 - klien mengatakan mendengar selalu marah marah pada
suara orang marah marah saudaranya
12.00 padanya
- Klien mengatakan melihat O : pasien tampak menghindar
seseorang marah marah Pasien tampak kontak mata
Data Obyektif : kurang
- klien tampak berbicara sendiri
- klien tampak dengan emosi A : SP 3 belum tercapai
labil
- klien tampak mudah
tersinggung
P : latihan cara kontrol PK
dengan nafas dalam dan pukul
Diagnosa Keperawatan : Resiko prilaku
bantal dan minum obat
kekerasan

Terapi :
TTD: Virdha Mifta
SP 3 tentang
- evaluasi kegiatan fisik 1 dan 2
serta minum obat
- latih cara mengontro PK
secara
verbal( mengungkapkan,
meminta, dan menolak )
- masukkan pada jadwal
kegiatan untuk latihan

Rencana Tindak Lanjut (RTL) :


- evaluasi kegiatan fisik 1 dan
2, obat dan verbal
- latih cara mengntrol PK
secara spiritual
- Masukkan dalam jadwal
kegiatan

59
60
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada BAB ini penulis akan membahas tentang kesenjangan antara teori dan
kasus dari pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan, dan
mengidentifikasi faktor pendukung, dan faktor penghambat pelaksanaan asuhan
keperawatan, sehingga didapatkan alternatif pemecahan masalah. Pembahasan ini
menggunakan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

A. Pengkajian
Pada pengkajian yang dilakukan pada tanggal 8 november 2016 didapatkan data
subjektifnya : klien mengatakan ada yang berbicara pada dirinya, klien mengatakan
bisikannya adalah bisikan dari saudaranya, klien mengatakan suaranya datang pada
waktu pagi, sore, dan malam hari yang isinya pusing gue, banyak yang ngomong, pada
berisik, dijual rumah, jadi jatoh gue, banyak ngatur data objektif klien tampak
berbicara sendiri, klien tampak menggerakkan bibir, klien tampak mondar-mandir, klien
tampak menunjuk-nunjuk ke arah yang tidak ada fokusnya. Hasil pemeriksaan tanda-
tanda vital : TD : 110/80 mmHg, N: 80x/menit, S: 36C, RR : 20 x/menit. Diagnosa
medis Skizofrenia Paranoid.
Dari data tersebut dapat disimpulkan Tn.D mengalami masalah gangguan persepsi
sensori : Halusinasi pendengaran dan penglihatan. Diagnosa ini sesuai dengan Teori
yang dikemukakan oleh Dr. Budi Anna Keliat, 2012 yang berisi; Halusinasi adalah
salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa,
klien merasakan sensasi berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau
penghiduan tanpa stimulus nyata.
Tanda dan gejala yang muncul pada halusinasi pendengaran yaitu : mendengar
suara atau bunyi, biasanya suara orang. Suara dapat berkisar dari suara yang
sederhana sampai suara orang bicara mengenai klien, pasien mendengar suara orang
yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkan oleh klien dan
memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang berbahaya.

B. Diagnosa Keperawatan

61
Pada saat melakukan diagnosa, kami menemukan ketidaksenjangan antara
teori dan kasus. Pada teori, ada 3 diagnosa halusinasi : halusinasi, resiko perilaku
kekerasan, isolasi sosial. Sedangkan pada kasus penulisan ditemukan 7 diagnosa
tersebut halusinasi, resiko perilaku kekerasan, isolasi sosial, defisit perawatan diri,
harga diri rendah, rejimen terapeutik in-efektif, dan koping keluarga tidak efektif.
Diagnosa yang dapat diintervensikan hanya 5, yaitu halusinasi, resiko perilaku
kekerasan, isolasi sosial, defisit perawatan diri, harga diri rendah.
Masalah tersebut diangkat oleh kelompok dikarenakan pada kasus ditemukan data
yang menunjang baik subjektif maupun objektif untuk diangkat menjadi suatu
masalah keperawatan. Dalam menegakkan prioritas masalah pada teori dan kasus
tidak ditemukan ketidaksenjangan. Pada kasus diagnosa keperawatan yang menjadi
prioritas utama adalah halusinasi. Diagnosa ini dijadikan diagnosa utama karena data
yang didapat dari keadaan klien lebih banyak menunjang ke arah diagnosa tersebut
karena klien sering berbicara sendiri.
Faktor pendukung yang penulis temukan dalam menegakkan diagnosa
keperawatan yaitu adanya kesesuaian data yang ada di kasus untuk merumuskan
diagnosa keperawatan serta adanya sumber literatur yang mempermudah dalam
merumuskan diagnosa keperawatan.
Faktor penghambat yang penulis temukan yaitu kurangnya pengetahuan serta
pengalaman yang dimiliki oleh penulis sehingga menyulitkan penulis dalam
menyusun diagnosa keperawatan pada klien dengan halusinasi.
Solusi yang penulis temukan adalah meningkatkan kemampuan dan
memperdalam wawasan penulis serta membaca literatur-literatur yang berhubungan
dengan keperawatan jiwa khususnya asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan
halusinasi.

C. Rencana Keperawatan
Langkah ketiga adalah perencanaan. Penulis menggunakan perencanan
keperawatan jiwa dari teori yang dikemukaan oleh Budi Anna Keliat, dkk tahun 2005
yang mengungkapkan perencanaan keperawatan jiwa terdiri dari tiga aspek, yaitu
tujuan umum, tujuan khusus, dan rencana intervensi. Tujuan umum berfokus pada
penyelesaian permasalahan dari diagnosis. Tujuan khusus berfokus pada etiologi dari
diagnosis. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan yang dicapai atau dimiliki
klien. Tujuan Khusus dapat dibagi menjadi tiga aspek Yaitu: Kemampuan Kognitif,
Kemampuan Psikomor, Dan Kemampuan Afektif.

62
Rencana keperawatan tidak mendapatkan kesenjangan antara teori dan kasus, karena
teori dan kasus tujuan dan kriteria hasil mengacu pada konsep SMART yaitu spesifik,
measurable (dapat diukur), achieveble (dapat dicapai), Relevan dan Time.dan rencana
keperawatan di ruang Saraswati, seperti:

TUM : Setelah ... x interaksi pasien dengan halusinasi dapat mengontrol halusinasi
yang dialaminya.
TUK : Pasien dapat membina hubungan saling percaya, Pasien dapat mengenal
halusinasinya, Pasien dapat mengontrol halusinasinya, Pasien dapat
dukungan/motivasi dari perawat dalam mengontrol halusinasinya, Pasien dapat
memanfaatkan obat dengan baik.
Untuk rencana tindakan keperawatan sendiri pada teori dan kasus sesuai
karakteristik rencana tindakan keperawatan yang bersifat konsisten berdasarkan
prinsip ilmiah (rasional) dan berdasarkan situasi klien rencana tindakan dilakukan
mencakup waktu dan menggunakan kata kerja pada teori. Rencana keperawatan yang
di jabarkan seluruhnya, sedangkan pada kasus Tn. D kelompok hanya memasukkan
rencana keperawatan yang bersifat operasional dan sesuai kebutuhan Tn. D dalam
menyusun perencanaan. Faktor pendukung dalam tahap perencanaan terdapat pada
pedoman perencanaan tindakan keperawatan terstandarisasi yang sesuai dengan
kondisi klien dalam menemukan tujuan umum, tujuan khusus, dan kriteria evaluasi,
dan rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan literatur, sedangkan faktor
penghambat dalam masalah ini tidak ditemukan.

D. Pelaksanaan Keperawatan
Langkah selanjutnya adalah implementasi. Implementasi merupakan tindak
lanjut secara nyata dari apa yang telah direncanakan dalam langkah sebelumnya. Pada
dasarnya, tindakan keperawatan terdiri dari tindakan observasi dan monitoring, terapi
keperawatan, pendidikan kesehatan dan tindakan kolaborasi (Budi Anna Keliat, dkk,
2005 : 16). Pada kasus Tn. D, implementasi yang diberikan belum sesuai dengan
perencanaan. Intervensi hanya terbatas klien saja, belum memanfaatkan sistem
pendukung keluarga. Ini merupakan salah satu masalah yang menghambat tercapainya
tujuan asuhan keperawatan. Selain itu implementasi yang dilakukan hanya fokus pada
satu masalah dan belum mencakup semua masalah yang ada.
Implementasi yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan
perubahan persepsi sensori ; halusinasi dengar yaitu : membina hubungan saling
percaya dengan menggunakan prinsip terapeutik. Membina hubungan saling percaya

63
merupakan dasar dari terjadinya komunikasi terapeutik sehingga akan memfasilitasi
dalam pengungkapan perasaan, emosi, dan harapan klien ; Membantu klien mengenali
halusinasinya. Dengan mengetahui waktu munculnya, isi dan frekuensi dapat
diketahui sampai sejauh mana tahapan halusinasi yang dialami klien dan untuk
memudahkan penulis memilih cara penanganan agar sesuai dengan masalah yang
dialami klien ; mengajarkan klien cara mengontrol halusinasinya. Cara-cara untuk
mencegah/mengontrol halusinasi mungkin adalah hal yang baru dan perlu di
diskusikan sehingga memungkinkan munculnya inisiatif klien untuk memilih cara
yang dianggapnya tepat, serta aman bagi klien ataupun orang lain/lingkungan
sekitarnya.
Kekuatan dari implementasi yang dilakukan adalah kemauan klien yang besar
untuk menghilangkan halusinasi yang dialaminya,umur klien sudah tergolong usia
lanjut sehingga penulis haruskompeten dalam memilih cara berkomunikasi yang tepat.
Kelemahannya adalah klien susah diajak berkomunikasi karena sulit fokus dengan
pernyataan yang di katakan orang lain, khususnya perawat.

E. Evaluasi Keperawatan
Langkah terakhir yang dilakukan merupakan evaluasi yaitu langkah
berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Dalam hal ini
evaluasi yang dilakukan oleh penulis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif
dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikir. Evaluasi formatif
dilakukan setiap selesai melakukan tindakan, sedangkan evaluasi sumatif dilakukan
dengan membandingkan respon klien dengan tujuan khusus dan umum yang telah
ditentukan.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah membandingkan teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn. D
dengan halusinasi dengar, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

64
Proses keperawatan yang berada pada teori dan kasus terdapat kesenjangan, yaitu
berada pada tahap Diagnosa keperawatan. Dengan penjelasan teori, ada 3 diagnosa
halusinasi, yaitu halusinasi itu sendiri, resiko perilaku kekerasan, dan isolasi sosial.
Sedangkan pada pelaksanaan asuhan keperawatan kasus ditemukan 7 diagnosa, yaitu
halusinasi, resiko perilaku kekerasan, isolasi sosial, defisit perawatan diri, harga diri
rendah, rejimen terapeutik in-efektif, dan koping keluarga tidak efektif. Diagnosa yang
dapat diintervensikan hanya 5, yaitu halusinasi, resiko perilaku kekerasan, isolasi sosial,
defisit perawatan diri, harga diri rendah.
Sementara itu, cara kami menangani kasus tersebut, yaitu :
1. Dengan melakukan kontak yang sering dan singkat disertai dengan tidak
mendukung dan tidak menyangkal apa yang diungkapkan klien dapat membantu
memutuskan siklus halusinasi klien dan mempercepat orientasi klien pada realita.
2. Cara mengungkapkan marah yang konstruktif sangat diperlukan pada klien
halusinasi dengar, khususnya yang isi halusinasinya bersifat menyuruh, mengejek,
mengancam.

B. Saran
1. Dalam memberikan asuhan keperawatan klien dengan halusinasi dengar,
hendaknya dilakukan kontak yang sering dan singkat dengan memodifikasinya
berdasarkan kemampuan dan kebutuhan klien. Selain itu, tidak mendukung dan
tidak menyangkal isi halusinasinya.
2. Terapi aktifitas kelompok (TAK) hendaknya dilakukan secara rutin dan teratur
karena merupakan suatu terapi yang dapat mempercepat proses penyembuhan
(dapat memutuskan stimulus internal klien dengan memberikan stimulus
eksternal).
3. Klien dengan halusinasi dengar hendaknya diajarkan cara mengontrol marah yang
konstruktif, terutama bila isi halusinasinya bersifat menyuruh, mengejek dan
mengancam, agar tidak membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.

65