Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN II:

Penggabungan Badan Usaha


PT. Bank CIMB Niaga, Tbk
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Akuntansi Keuangan Lanjutan II
Dosen pengampu: Hj. Khusnatul Zulfa Wafirotin, MM, Ak, CA

Disusun oleh :
Andita Dewi Nastiti (14440808)

Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi S1 (Prosus)


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
Jl. Budi Utomo No. 10 Ponorogo 63471 Jawa Timur, Indonesia
Tlp: (0352) 481124 Fax : (0352) 461796
e-mail : akademik@umpo.ac.id web : www.umpo.ac.id
Tahun Ajaran 2016/2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT penyusun panjatkan, karena berkat rahmat serta

bimbingan-Nya penulis berhasil menyelesaikan makalah tentang Penggabungan Badan

Usaha PT. Bank CIMB Niaga, Tbk. Adapun makalah ini diajukan guna memenuhi tugas

mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan II. Makalah ini berisikan tentang informasi

penggabungan badan usaha yaitu Bank Niaga dan Bank Lippo menjadi PT. Bank CIMB

Niaga, Tbk.

Semoga makalah Penggabungan Badan Usaha PT. Bank CIMB Niaga, Tbk

memberikan informasi yang berguna serta bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan

peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Disusun oleh,

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Era globalisasi yang membuka peluang usaha semakin lebar secara langsung
menciptakan persaingan usaha diantara perusahaan-perusahaan baik lokal maupun asing
semakin ketat.Kondisi tersebut memicu atau dapat dikatakan memaksa perusahaan untuk
selalu mengembangkan strategi usahanya agar dapat bertahan atau lebih berkembang.
Beberapa perusahaan melakukan pertumbuhan internal dengan cara memperluas kegiatan
perusahaan yang sudah ada, misalnya dengan cara menambahkan kapasitas pabrik, menambah
produk atau mencari pasar baru. Namun, lebih banyak perusahaan yang memilih
mengembangkan usahanya dengan melakukan merger. Dalam praktiknya, banyak transaksi
merger yang dilakukan oleh perusahaan didorong oleh motif untuk meningkatkan kekuatan
pasar (market power) di pasar bersangkutan, baik peningkatan kekuatan pasar pada satu
perusahaan (single dominance) maupun peningkatan kekuatan pasar pada sekelompok
perusahaan yang independen (collective dominance). Motif merger untuk meningkatkan
kekuatan pasar (market power)tersebut dapat mengacu pada praktik persaingan usaha tidak
sehat yang dalam hal ini praktik monopoli.
Dalam perkembangannya, perusahaan dapat mengadakan kerjasama, penggabungan
dengan perusahaan lain, atau berkembang sendiri tanpa mengikutsertakan peran perusahaan
lain. Pembentukan organisasi baru dapat dilakasanakan baik dengan ataupun tanpa melebur
organisasi yang sudah lama. Merger, konsolidasi, akuisisi adalah hal yang sangat umum
dilakukan agar perusahaan dapat memenangkan persaingan, serta terus tumbuh dan
berkembang. Pembahasan berikut adalah mengenai merger Merger merupakan salah satu
pilihan terbaik untuk memperkuat fondasi bisnis, jika merger tersebut dapat memberikan
sinergi. Sutan Remy Syahdeini memberikan definisi merger atau penggabungan usaha adalah
penggabungan dari dua perusahaan atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya
salah satu perusahaan dan melikuidasi perusahaan-perusahaan lainnya.

BAB II
LANDASAN TEORI
1. Pengertian Merger
Merger adalah proses difusi dua perseroan dengan salah satu diantaranya tetap berdiri
dengan nama perseroannya sementara yang lain lenyap dengan segala nama dan kekayaannya
dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut.
a) Merger terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Merger Horizontal, adalah merger yang dilakukan oleh usaha sejenis
(usahanya sama), misalnya merger antara dua perusahaan roti, merger perusahaan
sepatu, merger perusahaan kapas. Contoh PT A yang mengusahakan kapas,
bergabung dengan PT B yang mengusahakan pemintalan, bergabung dengan PT C
yang mengusahakan kain dan seterusnya. Dengan demikian, tujuan kerjasama disini
adalah menjamin tersedianya pasokan atau penjualan dan distribusi, dimana PT B
akan mempergunakan produk PT B dan seterusnya.
2. Merger vertikal, adalah merger yang terjadi antara perusahaan-perusahaan
yang saling berhubungan, misalnya dalam alur produksi yang berurutan. Contohnya:
perusahaan pemintalan benang merger dengan perusahaan kain, perusahaan bank
merger dengan peurusahaan mobil. Contoh: PT. A, PT. B, PT. C bergabung, lalu PT B
yang menjadi induk perusahaan.
3. Konglomerat ialah merger antara berbagai perusahaan yang menghasilkan
berbagai produk yang berbeda-beda dan tidak ada kaitannya, misalnya perusahaan
sepatu merger dengan perusahaan elektronik, atau perusahaan mobil merger dengan
perusahaan makanan. Tujuan utama konglomerat ialah untuk mencapai pertumbuhan
Badan Usaha dengan cepat dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Caranya ialah
dengan saling bertukar saham antara kedua perusahaan yang disatukan.
b) Syarat Syarat Merger
Hazel J.Johnson (1995) menyatakan, prasyarat yang harus dianalisis terlebih
dahulu dari kedua Bank yang akan melakukan merger adalah:
1. Kondisi keuangan masing-masing Bank, merger sesama bank sehat atau
karena collapse.
2. Kecukupan modal.
3. Manajemen, baik sebelum atau sesudah merger.
4. Apakah merger dapat memberi manfaat bagi pengguna jasa Bank tersebut.
c) Joseph F. Sinkey (1983), menjelaskan motivasi yang mendorong perusahaan untuk
melakukan merger, antara lain:
1. Untuk mendapatkan kesempatan beroperasi dalam skala usaha yang
hemat,Guna meningkatkan pangsa pasar.

2. Menghilangkan tidak efisien melalui operasional dan pengendalian finansial


yang lebih baik.

3. Kesempatan menggabungkan sumber daya ataupun pasar yang dimiliki


masing-masing perusahaan.

d) Ronnie H. Rusli (1992:30) mengemukakan lima macam alasan suatu perusahaan


melakukan merger, yaitu:

1. Keinginan untuk mengurangi kompetisi antar perusahaan atau ingin


memonopoli salah satu bidang usaha.

2. Untuk memanfaatkan kekuatan pasar yang belum sepenuhnya terbentuk.

3. Untuk mencapai skala ekonomi tertentu sehingga dapat menjadi lowest cost
producer.

4. Untuk memperoleh sumber bahan baku yang murah (dari hulu ke hilir).

5. Untuk mendapatkan akses pasar atau dana yang relatif murah karena kapasitas
utang yang semakin besar serta kemampuan, baik dalam hal teknologi maupun
manajerial.

Selain itu masih terdapat beberapa faktor yang mendorong motivasi untuk
merger, seperti: upaya diversifikasi, menurunkan biaya dana, dan menaikkan harga
saham secara emosi (bootstrapping of earning per share) karena adanya pengumuman
akan merger bagi perusahaan publik.

BAB III
PEMBAHASAN
1. Profil Bank
a. Bank Niaga

Bank Niaga didirikan pada 26 September 1955, dan saat ini merupakan bank ke-7
terbesar di Indonesia berdasarkan aset serta ke-2 terbesar di segmen Kredit
Kepemilikan Rumah dengan pangsa pasar sekitar 9-10%. Bumiputra-Commerce
Holdings Berhad (BCHB) memegang kepemilikan mayoritas sejak 25 November
2002, kemudian dialihkan kepada CIMB Group, anak perusahaan yang dimiliki
sepenuhnya oleh BCHB, pada 16 Agustus 2007. Sebagai salah satu bank paling
inovatif di Indonesia, Bank Niaga memperkenalkan layanan ATM pada tahun 1987
dan menerapkan sistem perbankan on-line pada tahun 1991. Dengan lebih dari 6.000
karyawan, Bank Niaga menawarkan rangkaian lengkap produk dan jasa perbankan,
baik konvensional maupun Syariah melalui 256 kantor cabang di 48 kota di Indonesia.
Bank Niaga memiliki reputasi yang sangat baik di bidang pelayanan nasabah dan tata
kelola perusahaan, serta telah melahirkan banyak bankir handal di Indonesia.
Melalui jaringan kantor cabang dan ATM yang luas serta keberagaman jalur
distribusi perbankan elektronik, Bank Niaga menghadirkan layanan perbankan yang
dikemas sesuai selera nasabahnya. Diantara berbagai penghargaan pernah diterima
diantaranya peringkat pertama untuk Performance Management and Training and
Development pada ajang HR Excellence Award 2007, dinobatkan sebagai Bank
Terbaik oleh Majalah Investor, serta predikat The Most Consistent Bank in Service
Excellence oleh Marketing Research Indonesia pada tahun 2006. Selama lima tahun
berturut-turut antara 2003-2007, Bank Niaga memperoleh penghargaan Laporan
Tahunan Terbaik untuk kategori perusahaan swasta publik sektor keuangan dalam
Annual Report Award.
b. Bank Lippo
Bank Lippo didirikan pada bulan Maret 1948. Menyusul merger dengan PT Bank
Umum Asia, Bank Lippo mencatatkan sahamnya di Bursa Efek pada November 1989.
Pemerintah RI menjadi pemegang saham mayoritas di Bank Lippo melalui program
rekapitalisasi yang dilaksanakan pada 28 Mei 1999. Pada tanggal 30 September 2005,
setelah memperoleh persetujuan Bank Indonesia, Khazanah Nasional Berhad
mengakuisisi kepemilikan mayoritas di Bank Lippo.
Sejak saat itu, Bank Lippo bergerak cepat menerapkan strategi pertumbuhan yang
baru, yang dirancang untuk membawa Bank Lippo setara dengan bank kelas dunia.
Bank Lippo mempelopori layanan E-Banking di Indonesia. Saat ini, Bank Lippo
merupakan salah satu bank terkemuka di Indonesia dengan hampir 5.000 karyawan,
yang menghadirkan produk dan layanan perbankan berkualitas melalui 401 kantor
cabang dan 722 ATM untuk melayani nasabah di lebih dari 120 kota di seluruh
Indonesia. Dengan 126 bank di sektor perbankan di Indonesia, maka dipandang perlu
untuk melakukan langkah konsolidasi untuk mewujudkan struktur industry perbankan
yang lebih kokoh dan sehat. Untuk memfasilitasi konsolidasi tersebut, Bank Indonesia
(BI) melakukan restrukturisasi kepemilikan bank melalui apa yang disebut Kebijakan
Kepemilikan Tunggal bagi Bank. Sesuai dengan kebijakan ini, sebuah entitas hanya
diperbolehkan menjadi pemegang saham pengendali di satu bank saja.

2. Latar Belakang Penggabungan


Merger Niaga Dan Lippo merupakan dampak dari diterapkannya aturan kepemilikan
tunggal (single presence policy / SPP ) yang ditetapkan Bank Indonesia. Ketentuan SPP
mewajibkan kepemilikan tunggal bagi pemegang saham pengendali dilebih dari satu Bank.
Oleh karena itu, Khazanah Berhad asal Malaysia selaku pemilik saham Bank CIMB Niaga
dan Lippo Bank memutuskan untuk merger. Selain itu jika merger terlaksana, struktur
permodalan akan semakin kokoh dengan asumsi Niaga memiliki ekiuditas sebesar Rp 5 triliun
dan Lippo sebesar Rp 3,6 triliun, maka merger akan memiliki modal Rp 8,7 triliun. Dengan
modal sebesar itu, akan memberikan kredit tanpa harus khawatir terbentuk BMPK ( batas
maksimium pemberian kredit ). Disamping itu, bank hasil merger juga akan lebih cepat
memenuhi syarat Arsitektur Perbankan Indonesia (API) untuk menjadi bank berskala nasional
yang mensyaratkan modal minimal sebesar 10 triliun. Merger itu juga akan melahirkan sinergi
positif. Lippo yang dikenal cukup kuat diusaha kecil menengah (UKM) dan system
pembayaran (Payment back), diyakini akan bias menopang bisnis Niaga sebagai pemain kuat
disegmen korporat dan kredit perumahan. Kondisi yang ada adalah penetrasi kredit Lippo
masih amat rendah. Itu terbukti dari Loan to deposit ratio (LDR) yang hanya sekitar 50,7 %.
Sedangkan di Niaga sekitar 95 % dana masyarakat mengalir dalam bentuk kredit.

3. Proses Penggabungan
Proses merger melibatkan dua institusi perbankan terkemuka di
Indonesia yaitu Bank CIMB Niaga (selanjutnya disebut Bank Niaga) dan
Bank Lippo, menjadi Bank CIMB Niaga.
Merger ini berawal dari kebijakan BI mengenai kepemilikan tunggal
di Indonesia, dimana pemegang saham mayoritas dari Bank Niaga
maupun Bank Lippo memilih merger sebagai opsi terbaik demi
kepentingan seluruh stakeholder. Merger ini membentuk bank keenam
terbesar di Indonesia berdasarkan aset. Perpaduan keunggulan kedua
bank menciptakan sebuah bank yang lebih baik dan bersaing serta
tumbuh di tengah makin ketatnya persaingan sektor perbankan Indonesia.
Bagi CIMB Group, merger ini akan memperkokoh posisi dan meningkatkan
prospek pertumbuhannya sebagai kelompok bisnis terkemuka di Asia
Tenggara. Selama tahap perencanaan merger, terjadi beberapa peristiwa
penting di sektor industri keuangan di Indonesia.
Sekalipun demikian, Bank CIMB Niaga tetap memiliki pijakan kokoh
untuk menjadi sebuah bank terpercaya yang diperhitungkan di sektor
perbankan Indonesia yang sangat kompetitif. Tantangan saat ini adalah
bagaimana kami dapat melakukan integrasi operasional kedua bank untuk
menggalang potensi sinergi di antara Bank Niaga, Bank Lippo dan CIMB
Group. Kami telah bertekad untuk mewujudkan Bank CIMB Niaga sebagai
bank universal di Indonesia.
Dimana jenis penggabungan yang dilakukan CIMB Niaga dengan
Lippo adalah Merger Statutori, dimana entitas Bank CIMB Niaga
dipertahankan karena memiliki asset lebih besar, sedangkan nama Lippo
Bank masuk kotak sejarah penggabungan itu akan menguatkan posisi
CIMB Niaga dalam persaingan industry keuangan di Indonesia, ujar Group
chief executive CIMB Group , Dato Nazir Razak.
Merger Bank Lippo dan Bank Niaga, dilaksanakan pada tanggal 3
Juni 2008 dengan nama baru PT CIMB Niaga Tbk dan selanjutnya seluruh
aset dan kewajiban Bank Lippo di alihkan ke CIMB Niaga. Berdasarkan data
BI triwulan 1-2008, nilai aset CIMB Niaga sebesar Rp 54,82 triliun,
sedangkan nilai aset Lippo sebesar Rp 39,73 triliun. Merujuk pada data BI
tersebut, total aset kedua bank setelah merger diperkirakan menjadi RP
94,55 triliun. Merger Niaga dan Lippo merupakan dampak dari
diterapkannya aturan kepemilikan tunggal (single presence policy/spp)
yang ditetapkan Bank Indonesia. Sebelum merger, Khazanah memiliki 93%
saham bank Lippo melalui Santubong Investment BV dan Greatville Pte
Ltd. Sedangkan di Bank Niaga sebesar 62,41% melalui CIMB Group
penyedia jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia milik Bumiputera-
Commerce Holding Berhad (BCHB). Setelah merger, CIMB dan Khazanah
masing-masing menguasai saham sebesar 58,7% dan 18,7%.
4. Proses Penggabungan
Merger ini merupakan penggabungan dari Bank Niaga, yang selama 53 tahun telah
mengukir namanya dalam sejarah kredit bank di Indonesia.
Bank Lippo yang memiliki posisi di segmen ritel melalui jaringan cabang yang luas
dan produk pendanaan yang terkenal. Dari awal, kami menyadari bahwa nama Bank Lippo
memiliki keterkaitan yang erat dengan aktivitas kelompok perusahaan Lippo Group,
sementara kami lebih menginginkan membangun suatu identitas yang sama sekali baru
sebagai bagian dari CIMB Group. Setelah melalui diskusi berkepanjangan, kami memilih
menggunakan nama CIMB Niaga, menandai dimulainya suatu babak perjalanan yang baru
bagi bank hasil merger yaitu:
a. CIMB Niaga adalah brand utama dari PT Bank CIMB Niaga Tbk, dan logo CIMB
Niaga tampil mewakili entitas tersebut pada kebanyakan materi komunikasi dan
signage. Selain itu, terdapat dua sub-brand masing-masing untuk segmen pasar
yang berbeda.
b. CIMB Niaga Preferred Circle menggabungkan layanan Preferred Circle (dari Bank
Niaga) dan VIP Banking (dari Bank Lippo) yang ditujukan untuk segmen pasar
mass affluent.
c. CIMB Niaga Private Banking adalah nama baru bagi layanan Bank Niaga Private
Banking yang ditujukan pada segmen high net worth individual.
BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
a. Merger hanya akan dilakukan jika nilai dari perusahaan hasil merger lebih

besar dibanding dengan jumlah nilai masing-masing perusahaan.


V merger > V a + V b
V merger = nilai (value) perusahaan hasil merger
V a = nilai perusahaan a sebelum merger
V b = nilai perusahaan b sebelum merger
b. Walaupun hasil analisis menunjukkan bahwa hasil merger akan lebih baik,

namun tetap memerlukan waktu penyesuaian, terutama untuk menyatukan

budaya kerja dari kedua perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

http://buletinbisnis.wordpress.com/2017/04/07/cimb-niaga-nama-baru-bank-hasil-merger-

lippo-dan-niaga/

http://finance.detik.com/read/2016/04/07/190159/1021349/5/bi-setujui-merger-cimb-niaga-

dan-bank-lippo
http://buletinperusahaan.wordpress.com/2017/04/07/cimb-niaga-nama-baru-bank-hasil-

merger/

http://perbankan.detik.com/read/2016/04/07/190159/1021349/5/bi-setujui-merger-bank-niaga-

dan-bank-lippo

ARTIKEL

Events Highlights
Merger Kick of Bank Niaga and Bank Lippo 24 March 2008
Pada tanggal 24 Maret 2008, bertempat di Financial Hall, Graha Niaga Jakarta, telah
dilangsungkan acara merger kick off Bank Niaga dan Bank Lippo dengan tema Combined
Strength. Acara tersebut dihadiri oleh anggota Integration Steering Committee (ISC) yang
diketuai oleh Dato Sri Nazir Razak, Group CEO CIMB dan beranggotakan Bp. Glenn Yusuf,
Mr. Hendrik G. Mulder, Presiden Direktur Bank Lippo, Bp. Daniel James Rompas, Wakil
Presiden Direktur Bank Niaga, Bp. Lim Eng Khim, Direktur Bank Lippo dan Bp. Kenny Kim
dari CIMB Group serta Direksi dan Senior Officer dari kedua bank.

SENIOR MANAGEMENT BRIEFING 30 MAY 2008


Pada tanggal 30 Mei 2008, bertempat di Financial Hall Graha Niaga Lantai 2,
dilaksanakan Acara Senior Management Briefing yang dihadiri oleh Dato Sri Nazir Razak,
BOD Bank Niaga dan Bank Lippo, BoSE Bank Niaga, dan seluruh karyawan pimpinan dari
Bank Niaga dan Bank Lippo. Acara diisi dengan presentasi dari Dato Sri Nazir Razak -
Group Chief Executive Officer CIMB Group mengenai perkembangan terbaru proses merger
antara Bank Niaga dan Bank Lippo dan merger plan launching yang akan diadakan pada
Senin tanggal 2 Juni 2008. Nama baru bank hasil merger adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk.

MERGER PLAN SIGNING 02 JUNE 2008


Pada tanggal 02 Juni 2008 bertempat di Ballroom Shangri-La hotel, telah dilaksanakan
penandatanganan rancangan merger Bank Niaga dan Bank Lippo. Pada kesempatan
penandatanganan rencana merger ini yang disaksikan oleh Dato Sri Mohd Najib Tun Razak,
Wakil Perdana Menteri Malaysia, hadir wakil-wakil dari Bank Negara, Bank Niaga, dan Bank
Lippo. Acara penandatanganan rancangan merger Bank Niaga dan Bank Lippo dibarengi
dengan beberapa rangkaian kegiatan diantaranya acara jamuan makan siang yang turut
dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia H. M. Yusuf Kalla dan dilanjutkan juga
dengan konferensi pers diisi presentasi dari Dato Sri Nazir Razak tentang hasil kelayakan
merger Bank Niaga dengan Bank Lippo. Rangkaian kegiatan acara diakhiri dengan Analyst
Meeting, yang turut mengundang para analyst dari kedua bank.

EGM MERGER PLAN BANK NIAGA & BANK LIPPO 18 JULY 2008
Pemegang saham PT Bank Niaga Tbk dan PT Bank Lippo Tbk menyetujui resolusi
tentang penggabungan usaha (merger)kedua bank dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar
Biasa (RUPS-Bank Lippo) yang diadakan hari ini. Mereka menyetujui rencana penggabungan
usaha yang telah diumumkan pada 2 Juni 2008.