Anda di halaman 1dari 14

KOMUNIKASI SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI

KECAMATAN BIDUKBIDUK KAMPUNG TELUK SUMBANG


(Tugas Responsi Pengembangan Masyarakat)

Oleh
Kelompok 4

AnwarHanif 1414071013
Danang Rezki Nugraha 1414071021
Retno Ayu Kusuma W 1414071079
Sukron Mahmud 1414071093

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Komunikasi merupakan peristiwa sosial yang paling dominan terjadi dalam


kehidupan manusia. Komunikasi berperan sangat penting manakala manusia ingin
berinteraksi dengan manusia lainnya dan terus berkembang menjadi komunikasi
yang sangat modern dan canggih. Perkembangan dan pentingnya komunikasi pada
saat ini dapat dibuktikan dengan perangkat-perangkat komunikasi yang sudah
semakin canggih dan relatif sudah menyebar di setiap lapisan masyarakat.
Selain dalam kehidupan bermasyarakat, komunikasi juga sangat berperan dalam
pengembangan potensi masyarakat. Dengan adanya komunikasi yang baik
diharapkan mampu membantu penyuluh dalam pelaksanaan program. Oleh
karena itu, komunikasi diharapkan efektif agar mampu mencapai tujuan dari
program yang direncanakan.

Dalam pengembangan masyarakat dapat dibantu dengan adanya program-program


yang dibuat sesuai kebutuhan masyarakat sekitar. Program-program yang dibuat
harus mengandung 5 elemen pengembangan masyarakat, yaiut : advokasi,
pengorganisasian komunitas, pengembangan jaringan, pengembangan kapasitas
dan komunikasi, informasi, dan edukasi. Dalam hal ini elemen Komunikasi,
informasi dan edukasi sangat penting dalam membangun sebuah program
pengembangan masyarakat. Dimana komunikasi dapat membuat berbagai pihak
pihak yang diperlukan agar terlibat dalam program.

Komunikasi dalam pelaksanaan program pembangunan sering disebut dengan


komunikasi sosial. Komunikasi sosial dapat dijadikan sebagai indikator dalam
menganalisis proses-proses pelaksanaan program pengembangan masyarakat.
Oleh karena itu, untuk mengetahui komunikasi sosial yang diterapkan dalam
pengembangan masyarakat di

I.1 Tujuan

Tujuan dari turun lapang ini adalah sebagai berikut:


1. Mengetahui pengertian dan model-model komunikasi
2. Mengetahui komunikasi yang diterapkan di
3. Mengetahui kendala yang dihada
II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Komunikasi Sosial

Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator)


menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan
mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak) (Widjaya,
2008). Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi,
keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata,
gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain (Little John, 1995).

Komunikasi sosial dapat di artikan suatu proses interaksi dimana seseorang atau
sesuatu lembaga menyampaikan amanat kepada pihak lain agar pihak lain itu
dapat menangkap maksud yang dikehendaki penyampainya baik secara verbal
maupun nonverbal (Sutaryo, 2005).

II.2 Model-Model Komunikasi Sosial

Model-model komunikasi adalah sebagai berikut:


1. Model Komunikasi Linear
Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren
Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication.
Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik
pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang
dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel).
Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication
model). Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci: sumber (source),
pesan (message) dan penerima (receiver). Model linear berasumsi bahwa
seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Tentu saja hal ini merupakan
pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalam proses
komunikasi. Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise),
yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat
mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Gangguan ini selalu ada
dalam saluran bersama sebuah pesan yang diterima oleh penerima.
2. Model Interaksional
Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954
yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para
komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari
pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses
melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para
peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang
mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya
melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini
menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat.
Satu elemen yang penting bagi model interkasional adalah umpan balik
(feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan.
4. Model transaksional
Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun
1970. Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang
berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi.
Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan
penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas
komunikasi yang terjadi. Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-
menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan
elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi
(komunikator) melalukan proses negosiasi makna.

5. Model Tubbs
Tubbs menerangkan bahwa komunikasi merupakan transaksi yang
berkeseninambungan, komunikasi bisa saja dimulai dari satu orang yang bisa
sementara disebut sebagai sumber akan tetapi pada kenyataannya diantara
kedua pelaku komunikasi akan terjadi pengiriman dan penerimaan pesan
secara terus menerus. Bisa disimpulkan bahwa komunikasi yang terjadi di
kehidupan nyaris tidak memiliki struktur utuh karena setiap komunikasi yang
terjadi merupakan sambungan dari komunikasi yang terjadi sebelumnya, dan
sesutu yang dianggap akhir dari komunikasi merupakan awal dari terjalinnya
komunikasi selanjutnya (Mulyana, 2007).
III. ISI DAN PEMBAHASAN

III.1 Rangkuman Artikel


Rencana pembangunan pabrik semen di kecamatan Bidukbiduk, atau tepatnya di
sekitar Kampung Teluk Sumbang, menuai pro dan kontra. Mahasiswa Berau yang
tergabung dalam wadah Keluarga Pelajar Mahasiswa Kabupaten Berau (KPMKB)
Cabang Samarinda bersama sejumlah aktivis lingkungan pada hari Rabu tanggal
26 Oktober 2016, ngeluruk ke kantor gubernur. Menurut analisa mereka,
pembangunan pabrik semen di Kecamatan Bidukbiduk dinilai lebih banyak
membawa mudarat berupa kerusakan dan pencemaran lingkungan alam sekitar,
maupun dampak polusi udara yang bisa membahayakan kesehatan manusia.
Sementara sisi positifnya kalaupun ada, tidak sebanding dengan dampak destruktif
yang ditimbulkan. Pada saat yang bersamaan, di aula pendopo Kecamatan
Bidukbiduk, dilaksanakan konsultasi publik oleh PT Semen Kalimantan Timur
serta PT Alam Bhana Lestari Resources dan PT Gawi Manuntung Resources,
selaku pemilik modal. Konsultasi diadakan untuk mendengarkan saran atau
tanggapan masyarakat yang berada di Kecamatan Bidukbiduk terkait rencana
berdirinya pabrik semen. Seperti yang disampaikan Camat Bidukbiduk Muzakir,
masyarakat bisa menerima kehadiran perusahaan dengan sejumlah persyaratan.
Antara lain, diharapkan agar perusahaan memberikan prioritas kepada warga
setempat pada saat merekrut tenaga kerja. Ada yang setuju dengan keberadaan
pabrik semen dengan harapan akan membuka lapangan kerja baru dan
menggerakkan roda perekonomian daerah dan masyarakat setempat. Sebaliknya
yang kontra dengan gigih menolak pembangunan pabrik dengan beragam
argumentasi terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan manakala pabrik
beroperasi. Lokasi yang selama lebih sepuluh tahun digadang-gadang sebagai
areal pabrik semen di Kutai Timur, ternyata masuk dalam kawasan ekosistem
karst Sangkulirang-Mangkalihat. Ini berarti zona merah bagi pabrik semen. Pak
Bupati Kutai Timur tentu saja merasa kecewa. Berpindahnya lokasi pabrik semen
dari Sangkulirang Kutai Timur ke Kecamatan Bidukbiduk di Kabupaten Berau,
disambut hangat masyarakat kecamatan pesisir selatan. Dampak positif yang
nyata adalah roda perekonomian di Kecamatan Bidukbiduk akan bergerak lebih
cepat. Kehadiran pabrik semen akan membutuhkan tenaga kerja, menciptakan
lapangan kerja baru dan mendorong tumbuhnya wirausaha, termasuk
perkembangan pariwisata yang telah ada di Kecamatan Bidukbiduk. Masyarakat
memang perlu memperoleh informasi yang utuh, apalagi warga kita yang tinggal
di desa. Adalah kewajiban bagi pemangku kepentingan untuk menjelaskan
seterang-terangnya, mana sisi negatif dan sisi mana yang menggembirakan dari
kehadiran sebuah pabrik semen, secara lengkap dan berimbang. Solusi yang
cerdas perlu dibangun, bagaimana memadu serasikan antara kepentingan
pembangunan yang memerlukan investasi bisa berjalan seiring dengan kebutuhan
penataan konservasi.

III.2 Pembahasan
Pada artikel, diketahui bahwa komunikasi yang dilakukan para masyarakat baik
yang pro maupun kontra dalam pembangunan pabrik semen ini sangat
berpengaruh dalam pembangunan desa hal ini dinyatakan dengan penolakan
pembangunan pabrik semen oleh para masyarakat ataupun mahasiswa semua
aspirasi ataupun pendapat yang realistis dapat dipertimbangakan. Dan para
pemerintah yang pro memaparkan dampak positif yang nyata engan cara
perusahaan memberikan prioritas kepada warga setempat pada saat merekrut
tenaga kerja sehingga roda perekonomian di Kecamatan Bidukbiduk akan
bergerak lebih cepat. Kehadiran pabrik semen akan membutuhkan tenaga kerja,
menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong tumbuhnya wirausaha, termasuk
perkembangan pariwisata yang telah ada di Kecamatan Bidukbiduk. Masyarakat
memang perlu memperoleh informasi yang utuh, apalagi warga kita yang tinggal
di desa.
Di Kecamatan Bidukbiduk Kampung Teluk Sumbang menerapkan model
komunikasi interaksional dalam kegiatan pengembangan masyarakat. Model
komunikasi ini menekankan pada proses komunikasi berlangsung dua arah dari
pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Komunikasi
dilakukan yaitu para masyarakat dan mahasiswa dengan cara demonstrasi kantor
gubernur dan pada saat yang bersamaan, di aula pendopo Kecamatan Bidukbiduk,
dilaksanakan konsultasi publik oleh PT Semen Kalimantan Timur serta PT Alam
Bhana Lestari Resources dan PT Gawi Manuntung Resources, selaku pemilik
modal. Konsultasi diadakan untuk mendengarkan saran atau tanggapan
masyarakat yang berada di Kecamatan Bidukbiduk terkait rencana berdirinya
pabrik semen. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah
orang-orang yang mengembangkan potensinya melalui interaksi sosial, tepatnya
melalui pengambilan peran orang lain. Dalam model ini menempatkan sumber
dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting
bagi model interkasional adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap
suatu pesan. Kecamatan Bidukbiduk Kampung Teluk Sumbang karena dapat
membuat masyarakat mengembangkan pemikiran dan pendapat mereka mengenai
suatu permasalahan sehingga memunculkan aspirasi-aspirasi untuk program-
program yang akan dilaksanakan. Sehingga terjadi proses komunikasi yang aktif
karena berbedanya pemikiran dari masyarakat di Kecamatan Bidukbiduk
Kampung Teluk dan menerapkan diskusi antara masyarakat dengan pihak
perusahaan dalam pengambilan keputusan masalah.

Manfaat Komunikasi Sosial :


1. Untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi-diri
2. Untuk kelangsungan hidup
3. Untuk memperoleh kebahagiaan
4. Terhindar dari tekanan dan ketegangan
5. Lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang
lain.
6. Pernyataan eksistensi diri dan untuk kelangsungan hidup
IV. KESIMPULAN
V.
VI.
VII. Adapun kesimpulan dari laporan ini:
1. Komunikasi sosial yang dilakukan pada artikel ini sangat memberikan
pengaruh terhadap pembangunan di desa tersebut.
2. Kecamatan Bidukbiduk Kampung Teluk Sumbang menerapkan model
komunikasi interaksional dalam kegiatan pengembangan masyarakat.
7. Manfaat dari komunikasi sosial adalah untuk membangun konsep diri kita,
aktualisasi-diri , untuk kelangsungan hidup, dan untuk memperoleh
kebahagiaan.
IV.
V.
VI.
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.
XII.
XIII.
XIV.
XV.
XVI.
XVII.
XVIII.
XIX.
XX.
XXI. DAFTAR PUSTAKA
XXII.
XXIII.
XXIV.
XXV.Little John, S.W. 1995. Theories of Human Communication Edisi
Kesembilan. Wadsworth publishing Company. Belmont California
XXVI.
XXVII. Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. PT
Remaja Rosdakarya. Bandung
XXVIII.
XXIX. Sutaryo. 2005. Sosiologi Komunikasi. Arti Bumi
Intaran. Yogyakarta
XXX.
XXXI. Widjaya H.A.W. 2008. Komunikasi & Hubungan Masyarakat. PT Bumi
Angkasa. Jakarta
XXXII.
XXXIII.
XXXIV.
XXXV.
XXXVI.
XXXVII.
XXXVIII.
XXXIX.
XL.
XLI.
XLII.
XLIII.
XLIV.
XLV.
XLVI.
XLVII.
XLVIII. LAMPIRAN
XLIX.
L.
LI.
LII.
LIII.
LIV.
LV.
LVI.
LVII.
LVIII.
LIX.
LX.
LXI.
LXII.
LXIII.
LXIV.
LXV.
LXVI.
LXVII.
LXVIII.
LXIX.