Anda di halaman 1dari 11

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA KONTRASEPSI

2.1. Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat/Obat


2.1.1. Senggama terputus (coitus interuptus)
Cara ini mungkin merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh
manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan
sampai sekarang. Senggama terputus ialah penarikan penis dari vagina
sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa akan
terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar pria, dan
setelah itu masih ada waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu
yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik keluar penis dari vagina.
Keuntungannya, cara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun
persiapan, Manfaat senggama terputus berdasarkan kontrasepsi dan
nonkontrasepsi:
A. Kontrasepsi
Efektif bila dilaksanakan dengan benar
Tidak mengganggu ASI
Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya
Tidak ada efek samping
Dapat digunakan setiap waktu
Tidak membutuhkan biaya
B. Nonkontrasepsi
Meningkatkan keterlibatan suami dalam KB
Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dengan dan
pengertian sangat dalam
Kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan
pengendalian diri yang besar dari pihak laki-laki. Beberapa laki-laki karena
faktor jasmani dan emosional tidak dapat mempergunakan cara ini.
Selanjutnya, penggunaan cara ini dapat menimbulkan neurasteni.
Kegagalan dengan cara ini dapat disebabkan oleh:
1. Adanya pengeluaran air mani sebelum ejakulasi (praejeculatory fluid)
yang dapat mengandung sperma,
2. Koitus yang berulang (repeated coitus)
3. Terlambatnya pengeluaran penis dari vagina
4.
Pengeluaran semen dekat pada vulva (petting) dapat menyebabkan
kehamilan
Kontrasepsi senggama terputus ini dapat dipakai untuk:
Suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam KB
Pasangan yang taat beragama atau mempunyai filosofi untuk tidak
memakai metode-metode lain
Pasangan yang memerlukan kontrasepsi segera
Pasangan yang memerelukan metode sementara, sambil menunggu
metode lain
Pasangan yang membutuhkan metode pendukung
Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur
Begitu pula sebaliknya senggama terputus tidak dapat dipakai untuk:
Suami dengan pengalaman ejakulasi dini
Suami yang sulit melakukan senggama terputus
Suami yang memiliki kelainan fisik atau psikologis
Istri yang mempunyai pasangan yg sulit bekerja sama
Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi
Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus
2.1.2. Pembilasan pascasenggama (postcoital douche)
Pembilasan vagina dengan air biasa dengan atau tanpa tambahan
larutan obat (cuka atau obat lain) segera setelah koitus merupakan cara yang
telah lama sekali dilakukan untuk tujuan kontrasepsi. Maksudnya ialah untuk
mengeluarkan sperma secara mekanik dari vagina. Penambahan cuka ialah
untuk memperoleh efek spermasida serta menjaga asiditas vagina.
Cara ini mengurangi kemampuan terjadinya konsepsi hanya dalam
batas-batas tertentu karena sebelum pembilasan dapat dilakukan,
spermatozoa dalam jumlah besar telah memasuki servik uteri.

2.1.3. Perpanjangan masa menyusui anak (prolonged lactation)


Sepanjang sejarah para wanita mengetahui bahwa kemungkinan untuk
menjadi hamil lebih kecil apabila mereka menyusui anaknya segera setelah
melahirkan. Efektivitas menyusui akan dapat mencegah ovulasi dan
memperpanjang amenorea post partum. Hal ini dapat efektif bila ibu
menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per
laktasi, ibu belum mendapat haid, dan atau dalam 6 bulan pasca persalinan.
Laktasi dikaitkan dengan adanya prolaktinemia dan prolaktin menekan
adanya ovulasi. Tetapi ovulasi pada suatu saat akan terjadi dan dapat
mendahului haid pertama sehingga apabila hanya mengandalkan pemberian
ASI saja dapat memberikan resiko kehamilan untuk itu dapat dipertimbangan
pemakaian kontrasepsi lain. Berikut adalah tabel mengenai waktu yang
dianjurkan untuk memulai kontrasepsi pada wanita menyusui

Persalinan 3 minggu 6 minggu 6 bulan

Metode Amenorea
Laktasi (MAL)

AKDR

Sterilisasi

Kondom/spermasida

Kontrasepsi
Progestin

KB Alamiah

Kontrasepsi
kombinasi

Tabel 1. Waktu yang dianjurkan untuk memulai kontrasepsi pada


perempuan menyusui

Keuntungan penggunaan Kontrasepsi Amenorea Laktasi adalah


sebagai berikut:
1. Keuntungan kontrasepsi
Efektivitas tinggi (keberhasilan 98%)
Segera efektif
Tidak mengganggu senggama
Tidak ada efek samping sistemik
Tidak perlu pengawasan medis
Tidak perlu obat dan alat
Tanpa biaya
2. Keuntungan Nonkontrasepsi
Untuk Bayi
Mendapat kekebalan pasif ( mendapat antibodi perlindungan lewat
ASI)
Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh
kembang optimal
Terhindar dari paparan terhadap kontaminasi air, susu lain atau
formula atau alam minum yang dipakai
Untuk Ibu
Mengurangi perdarahan pascapersalinan
Mengurangi resiko anemia
Meningkatkan hubungan psikologis ibu dan anak
Yang dapat menngunakan metode prolong laktasi adalah ibu yang menyusui
secara eksklusif, bayinya berumur kurang dari 6 bulan dan belum mendapat
haid setelah melahirkan.

2.1.4. Pantang berkala (rhythm method)


Cara ini awalnya diperkenalkan oleh Kyusaku Ogino dari Jepang dan
Hermann Knaus dari Jerman, pada saat yang sama, kira-kira tahun1931.
Oleh karena itu cara ini sering juga disebut cara Ogino-Knaus. Mereka bertitik
tolak dari hasil penyelidikan bahwa seorang wanita hanya dapat hamil
selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa subur yang
disebut Fase Ovulasi mulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam
setelah ovulasi. Sebelum dan sesudah masa itu, wanita tersebut berada
dalam masa tidak subur.
Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk
ditentukan; ovulasi umumnya terjadi 14 2 hari sebelum hari pertama haid
yang akan datang. Dengan demikian, pada perempuan dengan haid yang
tidak teratur, sangat sulit atau sama sekali tidak dapat diperhitungkan saat
terjadina ovulasi. Selain itu, pada perempuan dengan haid teratur pun ada
kemungkinan hamil, oleh salah satu sebab ovulasi tidak datang pada
waktunya atau sudah datang sebelum saat semestinya.
Bentuk kontrasepsi ini mencakup semua metode keluarga berencana
yang berusaha untuk mengidentifikasi masa subur pada masing-masing
siklus dan mengatur perilaku seksual. Jika metode berdasarkan masa subur
(MMS) melibatkan abstinensia seksual selama masa subur, maka teknik ini
dinamakan keluarga berencana alami (KBA).
Karena ovum kemungkinan besar berhasil dibuahi hanya selama 12-
24 jam setelah ovulasi, maka pentang berkala mempunyai pertimbangan
intuitif sebagai cara control kelahiran. Akan tetapi, angka kehamilan, dengan
berbagai metode pantang berkala, diperkirakan sekitar 5-40 per 100 orang
wanita. Dengan kata lain, angka kehamilan yang tidak diinginkan selama
tahun pertama penggunaan sekitar 20%.
Manfaat dalam penggunaan Metode Keluarga Berencana Alamiah
(KBA) yaitu teknik pantang berkala, sebagai berikut:
A. Kontrasepsi
Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan
Tidak ada efek samping sistemik
Tidak ada risiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi
Tidak ada efek samping
Tidak membutuhkan biaya
B. Nonkontrasepsi
Meningkatkan keterlibatan suami dalam KB
Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dengan dan
pengertian sangat dalam
Efektivitas cara ini akan lebih tepat jika dibarengi dengan cara
pengukuran suhu basal badan dengan pengukuran ini dapat ditentukan
dengan tepat saat terjadinya ovulasi. Untuk memprediksi timbulnya ovulasi
dapat digunakan beberapa metode sebagai berikut:
Keterbatasan dalam penggunaan metode ini adalah sebagai berikut:
Sebagai kontrasepsi sedang (9-20 kehamilan/100 perempuan selama
tahun pertama pemakaian. Bila aturan ditaati tingkat kegagalan 0%
namun sebaliknya jika pasangan dengan atau tanpa sengaja
melanggar aturan maka 0-3% tingkat kegagalannya
Keefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan untuk
mengikuti instruksi
Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis
KBA yang paling efektif dan benar
Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan
Perlu pencatatan setiap hari
Infeksi pada vagina membuat lender serviks sulit dinilai
Thermometer basal diperlukan untuk metode tertentu
Tidak terlindungi dari IMS
A.
Metode irama kalender

Metode ini memerlukan perhitungan jumlah hari-hari siklus menstruasi


terpendek dan terpanjang selama jangka waktu 6-12 bulan. Dari siklus
terpendek, dikurangi 18 hari untuk menghitung hari subur pertama. Dari
siklus terpanjang, dikurangi 11 untuk mengidentifikasi hari subur terakhir. Ini
menjadi masalah karena ovulasi paling sering terjadi 14 hari sebelum awitan
menstruasi berikutnya. Karena bukan 14 hari setelah awitan menstruasi
terakhir, maka metode irama kalender tidak dapat diandalkan.

B. Metode irama suhu tubuh

Menjelang ovulasi suhu basal badan turun, sesudah ovulasi suhu


basal badan naik lebih tinggi dari sebelumnya sampai akan terjadinya haid.
Beberapa factor yang dapat menyebabkan kenaikan suhu basal tubuh tanpa
terjadinya ovulasi, misalnya karena infeksi, kurang tidur, atau minum alcohol.
Metode ini bergantung pada perubahan kecil, peningkatan sebesar
0,4oF yang terus-menerus, pada suhu tubuh basal yang biasanya terjadi tepat
sebelum ovulasi. Metode ini kemungkinan besar berhasil jika dalam tiap
siklus menstruasi, hubungan seksual dihindari sampai peningkatan suhu
tubuh ovulasi selesai. Supaya metode ini dapat sangat efektif, seorang
wanita harus menghindari hubungan seksual dari hari pertama menstruasi
sampai hari ketiga setelah peningkatan suhu tubuh. Untuk alasan yang jelas,
ini bukanlah sebuah metode yang popular. Akan tetapi dengan kepatuhan
yang baik, angka kehamilan yang tidak diinginkan sekitar 2% pada tahun
pertama.

C. Metode irama mucus serviks

Metode yang disebut metode Billings ini bergantung pada kesadaran


akan kekeringan dan kebasahan vagina. Hal tersebut merupakan
konsekuensi dari perubahan jumlah dan kualitas mucus serviks pada waktu
yang berbeda dalam siklus menstruasi. Abstinensia diperlukan dari awal
menstruasi sampai 4 hari setelah mucus yang licin teridentifikasi. Walaupun
metode ini tidak popular, jika digunakan secara akurat, maka angka
kegagalan pada tahun pertama sekitar 3%.
D. Metode simtotermal

Metode ini menggabungkan penggunaan perubahan mucus serviks,


awitan masa subur, perubahan pada suhu tubuh basal, masa akhir subuh,
dan perhitungan untuk memperikirakan waktu ovulasi. Walaupun metode ini
lebih kompleks untuk dipelajari dan diterapkan, namun realibilitasnya tidak
meningkat cukup besar. Penggunaan home kit untuk mendeteksi peningkatan
LH pada urin pada hari sebelum ovulasi dapat meningkatkan keakuratan
metode pantang berkala.

2.2. Progestin Implants


2.2.1. Etonogestrel Implant
Kontrasepsi berbentuk tipis, lentur, tabung yang berisi progestin yang
ditanam subdermisdan melepaskan hormon selama beberapa tahun. Salah
satunya, Implanon, batang tunggal dengan 68mg etonogestrel.Implant
ditanam di bawah kulit di daerah medial dari lengan atas 8-10cm dari siku di
insersi biceps dan membujur sesuai dengan axis lengan. Dapat digunakan
sebagai kontrasepsi selama 3 tahun dan dapat diganti pada tempat yang
sama atau di tangan lainnya.2
Implanon tidak bersifat radioopaque, kesalahan letak pemasangan
dapat dilihat melalui sonografi. Nexplanon, mempunyai bentuk dan
kandungan yang sama dengan Implanon, tetapi bersifat radioopaque. Kedua
implan bersifat sangat efektif. Walaupun masih disetujui oleh Food and Drug
2
Administration, Implanon sudah tidak diproduksi.

2.2.2. Levonorgestrel Implant


Implant progestin pertama berisi levonogestrel. Jadelle atau dulu
bernama Norplant-2, berisi levonorgestrel, dapat digunakan selama 5 tahun,
terdiri dari 2 batang Silastic. Sino Implant II juga merupakan 2 batang implant
dengan jumlah levonorgestrel yang sama (150mg) dan mekanisme yang
sama dengan Jadelle tetapi hanya untuk 4 tahun. Keduanya mempunyai
efektifitas yang tinggi. Cara pemasangan sama seperti etonogestrel. Impant
petama yang digunakan adalah Norplant System yang mengandung
levonorgestrel dengan 6 btang Silasic yang ditanam subdermis. Berhenti
diproduksi pada tahun 2002.2

Komplikasi
Komplikasi yang terjadi karena adanya kesalahan letak pemasangan.
Petama, cabang dari nervus kutaneus antebrachi medial dapat terkena bila
implant atau jarum diletakkan telalu dalam atau pencarian implant yang
hilang yang terlalu agresif. Secara klinis didapati keluhan mati rasa,
paresthesia di lengan bawah bagian anteromedial. Kedua, implant yang tidak
dapat diraba dan memerlukan gambaran radiologi untuk mencari lolasinya.
Bila radiologi gagal, kadar etnogestrel dalam darah dapat memastikan
implant telah masuk.2

Pemasangan
a. Waktu
Pada orang yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal, implant
etonogestrel dapat dimasukkan dalam 5 hari silkus menstruasi. Bila
dimasukkan setelahnya, kontrasepsi alternatif direkomendasikan selama 7
hari setelah pemasangan. Padaorang yang menggunakan ontrasepsi
hormonal, pemasangan dilakukan pada hari pertama pil placebo kontrasepsi
oral kombinasi, pada hari yang sama untuk KB suntik selanjutnya, atau 24
jam jam setelah minum pil progestin. Implant harus dipasang sebeluh keluar
discharge pada persalinan, keguguran, atau aborsi. 2
b. Teknik pemasangan
Tempat pemasangan implant 8-10cm proximal dari condilus medial humeus.
Nexplanin dimasukkan menggunakan teknik steril. Suntikkan lidocain 1%.
Untuk mengeluarkan implant, ujung proximal ditekan dengan jari dan ujung
distal akan keluar melalui kulit. Setelah menganestesi, insisi 2mm di sekitar
implant dan diambil.

4.2.4 Implan progestin


Gambar 12. Kontrasepsi implan

Sistem norplant menyalurkan levonorgestrel dalam wadah silastik


yang diimplantasikan dijaringan subdermal. Terdapat beberapa jenis
kontrasepsi implant seperti:

a. Norplant. Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan


panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg
levonorgestrel dan lama kerjannya 5 tahun.
b. Implanon. Terdiri dari datu batang putih lentur dengan panjang kira-
kira 40 mm, dengan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-
keto-desogestrel dan lama kerjannya 3 tahun.
c. Jadena, dan Indoplant. Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75
mg levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

Keunggulan dan kekurangan hampir identik dengan progestin oral,


kecuali efek pada metabolisme karbohidrat. Dilaporkan bahwa setelah
pemakaian 6 bulan, kadar glukosa dan insulin mengalami perubahan bahkan
pada perempuan nondiebetik. Pada perempuan normal perubahan ini tidak
bermakna, tetapi akan sangat mengkhawtirkan pada orang yang berpotensi
untuk diabetik. Setelah pencabutan implant, kesuburan dapat kembali
segera.

Pada pemakaian sistem norplant tampaknya tidak terjadi pengurangan


kepadatan tulang. Karena memerlukan tindakan bedah ringan, terdapat juga
masalah yang berkaitan dengan infeksi lokal. Dan apabila tidak dimasukkan
sesuai petunjuk, maka pengeluarannya akan menjadi lebih sulit.