Anda di halaman 1dari 86

LAPORAN PRATIKUM

PERALATAN DIAGNOSTIK DASAR

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : SETIA GUNAWAN MENDROFA

NIM : 150104012

MATA KULIAH : PERALATAN DIAGNOSTIK DASAR

PENGASUH : SITI RAHMAH,ST,M.KES /


HOTROTMASARI DABUKKE, S.Si

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK ELEKTROMEDIK


FAKULTAS SAIN,TEKNOLOGI & INFORMASI
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN AJARAN
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas terselesaikannya
laporan peratikum Peralatan Dignostik dasar ini

Laporan pratikum ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen
mata kuliah peralatan Dignostik dasar supaya dapat mengetahui tentang Peralatan peralatan
Dignostik dasar , baik cara menggunakan , fungsi , kegunaan, pemeriharaan , perawatan serta
troubleshooting Peralatan Dignostik dasar ini .

Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar yang telah memberi
bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan laporan pratikum ini dengan baik.Saya berharap
laporan pratikum ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca dalam menambah ilmu dan
memperluas wawasannya mengenai Peralatan Diagnostik dasar. Tentunya laporan pratikum ini
masih banyak kekurangan, oleh karena itu saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam
penulisan, oleh karena itu , kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
saya harapkan demi kesempurnaan laporan pratikum ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih

Medan ,28 Fembruari 2017

Penulis;

Setia Gunawan Mendrofa


DAFTAR ISI
Cover............................................................................................... 1
Kata Pengantar............................................................................... 2
Daftar isi.......................................................................................... 3
Pembahasan.................................................................................... 4
1. Stetoskop............................................................................ 4
2. Sphygmomanometer (Tensi Meter)................................... 20
3. Elektrokardiogram (EKG)................................................. 34
4. Doppler.............................................................................. 47
5. Peralatan Mata................................................................... 57
6. Dental Unit......................................................................... 70
PENUTUP...................................................................................................... 85

1. Kesimpulan ........................................................................ 85
LAPORAN PRATIKUM
STETOSKOP

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 TUJUAN PRAKTIKUM
1.Mahasiswa mampu mengoperasikan,memelihara dan memperbaiki Stetoskop
2.Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dan kegunaan Stetoskop

1.2 MANFAAT PRATIKUM


1.Mahasiswa dapat mengoperasikan,memelihara dan memperbaiki Stetoskop
2.Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan Stetoskop

1.3 LANDASAN TEORI


Stetoskop adalah sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh.Dia
banyak digunakan untuk mendengar suara jantung dan pernapasan, meskipun dia juga
digunakan untuk mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan vein.Stetoskop
digunakan sebagai alat untuk mendiagnosa penyakit tertentu. Stetoskop dapat
menyalurkan suara tertentu dan menghilangkan suara yang lain.

Jenis jenis Stetoskop ada 2 , yakni Stetoskop akustik dan Stetoskop elektronik.
Stetoskop akustik yang paling umum digunakan, dan beroperasi dengan menyalurkan
suara dari bagian dada, melalui tabung kosong berisi-udara, ke telinga pendengar.
Sedangkan, Stetoskop elektronik mengatasi tingkatan suara yang rendah dengan cara
memperkuat suara tubuh.

Fungsi Alat :

Stetoskop digunakan sebagai alat untuk mendiagnosa penyakit tertentu. Stetoskop dapat
menyalurkan suara tertentu dan menghilangkan suara yang lain. Dan sebuah alat medis
akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh. Dia banyak digunakan untuk mendengar
suara jantung dan pernapasan, meskipun juga digunakan untuk mendengar intestine dan
aliran darah dalam arteri dan vein.
Stetoskop memiliki banyak fungsi di bidang kesehatan dan merupakan alat yang sangat
berguna untuk,
a. Memeriksa Tekanan Darah
b. Paru-paru
c. Jantung
d. Pemeriksaan prenatal
e. Gangguan Perut

1.4 Perkembangan Stetoskop


Stetoskop ditemukan di Perancis pada 1816 oleh Ren-Thophile-Hyacinthe Laennec.
Dia terdiri dari tabung kayu kosong. Konon dia menciptakan stetoskop sehingga ia tidak
perlu menaruh telinganya di buah dada wanita Perancis. Namun demikian konsep analisa
mealui suara detak jantung ternyata sudah dikenal sejak lama di literature Mesir.
Gambar 4.1 Ren Thophile Hyacinthe Lannec

Sejarah Medis dari Mesir dan Awal Abad 15


Mendiagnosa melalui suara dari tubuh manusia telah dilaporkan dalam literatur
medis kuno. Hippocrates, Bapak Kedokteran, menganjurkan untuk mencari instrumen
yang praktis untuk dunia kedokteran di tahun 350 SM. Hippocrates menggunakan metode
untuk menggunakan telinga secara langsung ke dada dan menemukan bahwa hal itu
berguna untuk mendeteksi akumulasi cairan yang ada di dalam dada. Pada abad 16, ahli
bedah terkenal Ambroise Pare mencatat bahwa jika ada materi lain di dalam dada, kita
bisa mendengar suaranya dari botol yang diisi setengah.

Gambar 4.2 Contoh Pemeriksaan Pasien dengan Stetoskop Awal


Gambar 4.3 Model Pertama Stetoskop

Sejarah Perkembangan Stetoskop

Stetoskop ditemukan pada tahun 1816 ketika seorang dokter Prancis muda bernama
Rene Theophile Hyacinthe Laennec sedang memeriksa seorang pasien perempuan muda.
Laennec malu untuk menempatkan telinganya di dada, yang merupakan metode
auskultasi yang digunakan oleh dokter pada saat itu. Dia teringat sebuah trik yang ia
pelajari sebagai pada saat dia masih anak-anak yang bermain suara melalui suatu padatan,
kemudian ia menggulung 24 lembar kertas, ditempatkan satu ujung ke telinga dan ujung
lainnya ke dada wanita itu. Ia senang menemukan bahwa dari kerucut kertas itu ia bisa
mendengar suara dengan keras dan jelas. Itulah kali pertama yang tercatat dalam
dokumentasi naskah auskultasi menggunakan stetoskop (Mediate Auskultasi) di 8 Maret,
1817 ketika Laennec memeriksa Marie-Melanie Basset, yang berumur 40 tahun.

Gambar 4.4 Model Kedua Stetoskop


Laennec menyebut alatnya dengan sebutan Le Cylindre, yang kemudian berubah
menjadi Stetoskop, yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti saya lihat dan
dada. Dia menciptakan sebuah stethoscope dari sepotong kayu (seperti pada gambar di
atas). Salah satu ujung memiliki lubang untuk menempatkan di dekat telinga dan ujung
lainnya berbentuk cekung. Laennec menerbitkan hal tersebut pada risalah klasik pada
auskultasi di tahun 1819 di mana di sana ia membahas tentang stetoskop serta
diilustrasikan desainnya. Edisi kedua diterbitkan pada tahun 1826, setelah Laennec
meninggal akibat penyakit Tuberculosis. Stetoskop itu digambarkan memiliki panjang 12
inci dan 1,5 inci dengan diameter lubang 3/8 inci. Pada saat itu, Stetoskop bisa dibeli
dengan harga 2 franc.

Dalam perkembangan selanjutnya, stetoskop sendiri terbagi menjadi dua macam,


yaitu stetoskop Monaural dan Stetoskop Binaural.

a. Stetoskop Monoaural Kayu

Pada 1816, Rene Laennec, seorang dokter Perancis menggunakan gulungan kertas
untuk melakukan auskultasi pada pasien perempuan muda. Hal ini dilakukan karena
Laennec merasa sungkan untuk melakukan metode sebelumnya yakni auskultasi
langsung (telinga langsung ditempatkan pada tubuh pasien). Tahun berikutnya,
Laennec menggunakan potongan kayu cekung sebagai alat auskultasi yang kemudian
disebut sebagai stetoskop. Sampai hari ini, stetoskop monaural hampir semuanya
terbuat dari kayu.

Gambar 4.5 Stetoskop Monoaural Kayu


b. Stetoskop Binaural Karet

Stetoskop Binaural terdiri dari pipa karet, logam untuk telinga, dan untuk bagian
dada terbuat dari logam yang dilindungi dengan karet di sekitar lingkaran luarnya
untuk kenyamanan pasien. Sebagian besar stetoskop binaural dibuat dari bahan dasar
yang sama sejak ditemukan pada tahun 1850-an.

Gambar 4.6 Stetoskop Binaural Karet

Saat ini Stetoskop telah mengalami perubahan menjadi lebih modern. Ada dua jenis
stetoskop: akustik dan elektronik.

1) Stetoskop Akustik

Paling umum digunakan, dan beroperasi dengan menyalurkan suara dari bagian
dada, melalui tabung kosong berisi-udara, ke telinga pendengar. Bagian chestpiece
biasanya terdiri dari dua sisi yang dapat diletakkan di badan pasien untuk
memperjelas suara; sebuaah diaphgram (disk plastik) atau bell (mangkok kosong).
Bila diaphgram diletakkan di pasien, suara tubuh menggetarkan diaphgram,
menciptakan tekanan gelombang akustik yang berjalan sampai ke tube ke telinga
pendengar. Bila bell diletakkan di tubuh pasien getarakn kulit secara langsung
memproduksi gelombang tekanan akustik yang berjalan ke telinga pendengar. Bell
menyalurkan suara frekuensi rendah, sedangkan diaphgram menyalurkan frekuensi
suara yang lebih tinggi.

Gambar 4.7 Stetoskop Akustik

2) Stetoskop Elektronik

Stetoskop Elektronik mengatasi tingkatan suara yang rendah dengan cara


memperkuat suara tubuh. mungkin dalam beberapa tahun lagi, stetoskop elektronik
akan menjadi lebih umum dari stetoskop akustik.

Stetoskop dua sisi ini diciptakan oleh Rappaport dan Sprague pada awal abad ke-
20. Permasalahan dengan akustik stetoskop adalah tingkatan suara sangat rendah,
membuat diagnosis sulit. Stetoskop digunakan sebagai alat untuk mendiagnosa
penyakit tertentu. Stetoskop dapat menyalurkan suara tertentu dan menghilangkan
suara yang lain.tetoskop seringkali dianggap sebagai simbol pekerjaan dokter,
karena dokter sering dilihat atau digambarkan dengan sebuah stetoskop yang
tergantung di sekitar lehernya.
Gambar 4.8 Stetoskop Elektronik

1.4 ALAT DAN BAHAN


1Stetoskop
2.OP (Orang Percobaan)/Probandus
3.dll

BAB II
PENGENALAN ALAT SPHYGMOMANOMETER

2.1 GAMBARAN ALAT SECARA KESELURUHAN

Stetoskop AKUSTIK Stetoskop Elektrik


SEPESIFIKASI ALAT MELIPUTI :
NOMOR SERI : 731 7348
NAMA ALAT : STETOSKOP
MERK : B.BRAUN
BUATA N :Made In Japan

2.2 BAGIAN-BAGIAN ALAT

Bagian bagian dari Stetoskop AKUSTIK, yakni :

Eartips
Adalah bagian yang menempel pada telinga, biasanya terbuat dari karet lembut atau
plastic yang keras. Eartips berfungsi untuk mendengar bunyi dari dalam tubuh.

Binaural / pipa besi


Binaural / pipa besi berfungsi untuk menjaga stetoskop tetap tegak dan tidak lembek.
Pada binaural terdapat besi stanles lentur supaya nyaman digunakan dan ergonomis
(sesuai dengan posisi telinga).\
Tubing / selang karet
Tubing berfungsi menyalurkan suara dari chestpiece ke telinga. Selang ini ini
biasanya berjumlah 1 buah dan terbuat dari karet yang lentur. Ada tipe stetoskop
tertentu yang terdiri dari 2 selang yang disebut Sprague rappaport.
Chestpiece
Chestpiece adalah bagian yang ditempelkan ke tubuh pasien untuk menangkap suara
yang diperiksa. Berdasarkan jumlah kepalanya, chestpiece ada 2 yaitu dual head dan
single head. Dual head memiliki dua muka depan dan belakang, keduanya bisa
digunakan untuk pemeriksaan yang berbeda. Kepala bagian depannya ada
membrannya sedangkan bagian belakang atau selang karet tanpa membran.
Diafragma ada pada bagian depan chestpiece ini yang berfungsi untuk memperbesar
bunyi jantung.
Bagian bagian dari Stetoskop ELEKTRIK, yakni :
- Sensor
- Filter
- Op-amp
- Power suplyy
- Speaker
- display

2.3 PRINSIP KERJA ALAT

1.Stetoskop akustik yang paling umum digunakan, dan beroperasi dengan menyalurkan
suara dari bagian dada, melalui tabung kosong berisi-udara, ke telinga pendengar. Bagian
chestpiece biasanya terdiri dari dua sisi yang dapat diletakaan di badan pasien untuk
memperjelas suara; sebuaah diaphgram (disk plastik) atau bell (mangkok kosong). Bila
diaphgram diletakkan di pasien, suara tubuh menggetarkan diaphgram, menciptakan
tekanan gelombang akustik yang berjalan sampai ke tube ke telinga pendengar. Bila
bell diletakkan di tubuh pasien getarakn kulit secara langsung memproduksi gelombang
tekanan akustik yang berjalan ke telinga pendengar. Bell menyalurkan suara frekuensi
rendah, sedangkan diaphgram menyalurkan frekuensi suara yang lebih tinggi.
2. Stetoskop elektronik
mengatasi tingkatan suara yang rendah dengan cara memperkuat suara tubuh. Sekarang
ini, telah ada beberapa perusahaan menawarkan stetoskop elektronik, dan mungkin dalam
beberapa tahun lagi, stetoskop elektronik akan menjadi lebih umum dari stetoskop
akustik.

2.4 PENGOPERASIAN ALAT

a. Siapkan klien dengan posisi senyaman mungkin


b. Buka bagian baju yang menutupi dada klien
c. Pasang stetoskop pada telinga pemeriksa
d. Gunakan diafragma untuk dewasa dan bell untuk anak-anak
e. Letakkan stetoskop diatas kulit pada area intercostal (otot antar tulang rusuk)
f. Instruksikan pada pasien untuk bernafas perlahan dengan mulut sedikit tertutup
g. Dengarkan inspirasi dan ekspirasi
h. Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antar tulang rusuk sehingga
rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil
daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
i. Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang
rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada
menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar
daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida
keluar.
j. Catat hasil auskultasi (Auskultasi, adalah sebuah istilah kedokteran di mana seorang
dokter mendengarkan suara di dalam tubuh pasien untuk mendapatkan informasi
fungsinya).

BAB III
PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN ALAT

3.1 TROUBLESHOUTING PADA ALAT SERING TERJADI


Troubleshooting pada Setetoskop Akustik :
Kerusakan
Suara dari tubuh pasien tidak jelas terdengar
Analisa kerusakan/penanganan
1. Letakkan membran atau diapragm pada posisi benar
2. Cek membran / diagprm apa sobek atu tidak layak pake
3. Periksan ring
4. Periksa ear tip
5. Lakukan pengecekan pada tubing dan stem

Troubleshooting pada Setetoskop Elektrik :


Kerusakan
Suara dari tubuh pasien tidak jelas terdengar
Analisa kerusakan/penanganan
1. Letakkan membran atau diapragm pada posisi benar
2. Cek membran / diagprm apa sobek atu tidak layak pake
3. Periksan ring
4. Periksa ear tip
5. Lakukan pengecekan pada tubing dan stem
6. Periksa sensor
7. Cek power supllay
8. Periksa adcnya
9. Stel volume
10. Periksa output pada speaker

3.2 PEMELIHARAAN ALAT

Karena setiap hari dipakai, pasti harus dirawat secara rutin juga untuk agar
performa akustik stetoskop tetap baik. Sehingga suara-suara di dalam tubuh bisa tetap
terdengar jelas dan diagnosis dapat ditegakkan dengan baik. Untuk mendapatkan
performa akustik yang baik, kita harus memerhatikan hal-hal di bawah ini:

1. Ukuran eartip

Sesuaikan eartip dengan lubang telinga kita. Apalagi bila jenisnya yang soft. Bila
terlalu besar, tekanan yang terjadi di lubang telinga akan menghasilkan suara yang
buruk. Begitu juga bila terlalu kecil. Maka, saat membeli, harus benar-benar
dicoba agar ukurannya benar dan suara yang terdengar pun jelas.

2. Periksa, apakah ada sesuatu yang menghambat

Bila stetoskop sering dibawa di dalam saku jas, atau tidak rutin di bersihkan, ada
kemungkinan kotoran dan serat kain bisa masuk lewat sela-sela pipa dan
menghalangi jalur suara. Perawatan dan pemeliharaan rutin dapat mencegah hal
ini terjadi.

3. Periksa segel
Stetoskop mengandalkan segel kedap udara untuk mengirimkan sura tubuh pasien
ke telinga pemeriksa. Jika pipa longgar, retak, atau lepas, maka suara yang
terdengar pun tidak akan optimal.

4. Periksa bell/diafragma

Bell dan diafragma itu bagian paling depan, yang ditempelkan ke tubuh pasien.
Jika kita mengguanakan stetoskop yang 2 sisi, lehernya kan bisa diputar-putar,
tergantung kita mau memakai bell atau diafragma. Jika mau menggunakan
diafragma, maka bell harus ditutup, agar kedap udara dan suara bisa terdengar,
begitu sebaliknya.

Catatan :

1.Pemeliharaan eartip. Untuk pemeliharaan kita dapat mencopot eartip dan


membersihkannya. Untuk perawatan dan pembersihan, yang harus diperhatikan
adalah melakukannya dengan rutin 1 bulan sekali, jika memang dipakai setiap
hari. Agar performa akustik tetap baik. Aertip sangat sensitif dengan kotoran.
Ketika aertip mengalami sumbatan maka akan mengganggu dan menghambat
suara detak jantung pasien saat diperiksa. Cara merawatnya adalah dengan cara
membersihkannya dengan menggunakan cotton bud.

2.Usap seluruh permukaan diafragma dan bell dengan alcohol isopropyl 70%. Hal
ini bisa mengurangi jumlah bakteri hingga 94%. Lalu beri sedikit pelumas khusus
di lubang suara, putar-putar agar pelumas tersebar. Jika diafragma pecah, maka
sudah tidak dapat digunakan lagi sehingga harus diganti dengan yang baru.

3. Untuk pipa karet, bersihkan dengan pembersih vinil, plastic, dan karet. Jangan
pernah mencelupkan stetoskop ke dalam cairan apapun, atau terkena proses
sterilisasi, misalnya menggunakan alcohol. Jika desinfektan diperlukan, pakailah
larutan alcohol isopropil 70%. Jauhkan dari panas dan dingin yang ekstrim,
minyak, dan pelarut lainnya.

4.Pipa stetoskop biasanya terbuat dari PVC (polyvinylchloride). PVC ini lama-
lama akan menjadi kaku bila bersentuhan dengan kulit, karena ada minyak yang
keluar dari sana. Jadi, jika ingin digantungkan di leher, jangan langsung kena kulit
leher, gantungkan di kerah baju atau jas. Hal ini memang tidak mencegah
kekakuan, tapi bisa memperlama terjadinya kekakuan tersebut.
3.3 SOP (STANDART OPERATIONAL PROSEDUR)

a. Penggunaan
Cara Penggunaan Stetoskop
1. Siapkan klien dengan posisi senyaman mungkin
2. Buka bagian baju yang menutupi dada klien
3. Pasang stetoskop pada telinga pemeriksa
a. Posisi penggunaan

Setiap stetoskop telah dirancang untuk di kenakan pada sudut yang benar dan
sesuai secara anatomis dan pas digunakan di lubang telinga pengguna.
Awalnya, renggangkan dulu kedua eartip, arahkan ke telinga.

b.

Kemudian masukkan ke lubang telinga. Pastikan nyaman saat dipakai,


biasanya dokter atau perawat yang memakai kerudung agak kesulitan
memasukkan eartip dari luar, karena mungkin terhalang ciput kerudung
sehingga eartip terlalu menekan telinga dan jadi tidak nyaman. Kemudian
rambut-rambut kecil juga kemungkinan bisa keluar dan terlihat. Agar tidak
mengurangi performa akustiknya, yang pasti eartip masuk sempurna ke
lubang telinga. Agar nyaman saat dipakai, bisa disiasati dengan memasukan
eartip dari dalam kerudung. Dengan posisi yang benar pula tentunya, seperti
ini. Eartip mengarah ke depan.
c.

Gambar yang ketiga ini contoh penggunaan stetoskop yang salah. Eartipnya
mengarah ke belakang. Jika begini, suara tidak akan terdengar jelas atau
bahkan tidak terdengar apa-apa. Hal ini pastinya akan menghambat
pekerjaan.

4. Letakkan stetoskop diatas kulit pada area intercostals Area interkostal adalah area
diantara tulang iga.
5. Instruksikan pada pasien untuk bernafas perlahan dengan mulut sedikit tertutup
6. Dengarkan inspirasi dan ekspirasi Inspirasi adalah : Saat udara masuk ke dalam
paru-paru. Ekspirasi adalah : Saat udara keluar dari paru-paru.
7. Catat hasil auskultasi. Auskultasi, adalah sebuah istilah kedokteran di mana
seorang dokter mendengarkan suara di dalam tubuh pasien
Jika untuk pemeriksaan di leher maka meletakkan stetoscope di leher meletakkan
stetoskop di leher dengan cara kedua tangan memegang ujung stetoskop kemudian
stetoskop dilingkarkan pada leher.

Jika untuk pemeriksaan nadi, maka meletakkan membrane stetoskop di bagian tangan
yang lurus dengan ibu jari.
BAB IV
KESIMPULAN

Stetoskop adalah sebuah alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh.Dia
banyak digunakan untuk mendengar suara jantung dan pernapasan, meskipun dia juga digunakan
untuk mendengar intestine dan aliran darah dalam arteri dan vein.Stetoskop digunakan sebagai
alat untuk mendiagnosa penyakit tertentu. Stetoskop dapat menyalurkan suara tertentu dan
menghilangkan suara yang lain.

Stetoskop memiliki banyak fungsi di bidang kesehatan dan merupakan alat yang sangat berguna
untuk :

a. Memeriksa Tekanan Darah


b. Paru-paru
c. Jantung
d. Pemeriksaan prenatal
e. Gangguan Perut
DAFTAR PUSTAKA

http://amazine.co/17166/monoaural-binaural-jenis-bahan-pembuat-stetoskop/
http://bimbingan.org/cara-menggunakan-stetoskop.htm
http://blog.umy.ac.id/arsasih/cara-merawat-stetoskop/
https://buyadana.wordpress.com/2012/02/17/stetoskop/
http://freshlifegreen.blogspot.com/2012/09/stetoskop.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Stetoskop
http://informasitips.com/penemu-stetoskop-ketahui-sejarah-
perkembangannyahttp://sainskesehatan.blogspot.com/2014/03/stetoskop-seorang-dokter-rentan-
bakteri.html
https://scribd.com/doc/88984742/stetoskop
https://salmahayaty70.wordpress.com/2013/11/22/stetoskop/
http://sahunie.blogspot.com/2013/04/pengertian-dan-fungsi-stetoskop.html
http://slideshare.net/rikiperdana562/tugas-tes-kinerja
LAPORAN PRATIKUM
SPHYGMOMANOMETER
( TENSIMETER )
BAB I
PENDAHULUAN

1.5 TUJUAN PRAKTIKUM


1.Mahasiswa mampu mengoperasikan,memelihara dan memperbaiki sphygmomanometer
2.Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dan kegunaan sphygmomanometer

1.6 MANFAAT PRATIKUM


1.Mahasiswa dapat mengoperasikan,memelihara dan memperbaiki sphygmomanometer
2.Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan sphygmomanometer

1.7 LANDASAN TEORI


Tekanan darah adalah tekanan dari darah terhadap dinding pembuluh darah yang merujuk
kepada tekanan darah pada arteri secara sistemik. Dimana, tekanan darah di vena lebih rendah
daripada tekanan di arteri. Nilai tekanan darah secara umum dinyatakan dalam mmHg (milimeter
air raksa). Tekanan sistolik didefinisikan sebagai tekanan puncak pada arteri selama siklus
jantung; tekanan diastolik merupakan tekanan terendah (pada fase istirahat siklus jantung)
(Wikibooks, 2007: 149).
Selama gerakan jantung dapat terdengar dua macam suara yang disebabkan oleh katup-
katup yang menutup secara pasif. Bunyi pertama disebabkan menutupnya katup atrio-ventrikuler
dan kontraksi ventrikel. Bunyi kedua karena menutupnya katup aortik dan pulmoner sesudah
kontraksi ventrikel. Yang pertama adalah panjang dan rata (terdengar seperti lup), yang kedua
pendek dan tajam (terdengar seperti dup) (Evelyn C. Pearce, 2010: 149). Pengukuran tekanan
darah dilakukan dengan menggunakan alat yaitu sphygmomanometer dan dibantu dengan
stetoskop (lihat gambar di bawah).
Sphygmomanometer adalah alat pengukuran tekanan darah sering juga disebut
tensimeter.Penggunaan pertama kali sphygmomanometer ialah sphygmomanometer air raksa
yang telah digunakan sebagai standar emas pengukuran tekanan darah oleh para dokter.

A. Jenis jenis Sphygmomanometer


Sphygmomanometer Air Raksa
Sphygmomanometer ini menggunakan system konvensional.Dimana masih
menggunakan air raksa sebagia media skala tensinya
Sphygmomanometer Aneroid
Sphygmomanometer ini lebih aman karena tidak lagi menggunakan air raksa tetapi
menggunakan putaran berangka sebagai penggantinya.Sama dengan tensimeter air
raksa, tensimeter aneroid masih menggunakan stetoskop.
Sphygmomanometer Digital
Sphygmomanometer digital merupakan tensimeter yang lebih modern dan akurat,
langsung menunjukan hasil dalam bentuk angka. Tensimeter digital juga sangat
praktis dalam penggunaan karena hanya tinggal menekan tombol dan alat akan
bekerja sendiri dalam menghitung tekanan darah. Tensimeter digital
menggunakan sensor sebagai alat pendeteksinya.

1.8 ALAT DAN BAHAN


1. Sphygmomanometer
2. Stetoskop (jika menggunakan Sphygmomanometer air raksa & aneroid)
3. Jam/stopwatch (jika menggunakan Sphygmomanometer air raksa & aneroid)
4. OP (Orang Percobaan)/Probandus
5. Handscoon
6. Dll
BAB II
PENGENALAN ALAT SPHYGMOMANOMETER

2.1 GAMBARAN ALAT SECARA KESELURUHAN


SEPESIFIKASI ALAT MELIPUTI :
NOMOR SERI :20140502261VG
NAMA ALAT :OMRON Automatic Blood Pressure Monitor
BUATAN :Made In Japan
MODEL : HEM-7203 (HEM-7203-AP)
RATING :DC 6 V 4W

2.2 BAGIAN-BAGIAN ALAT


Bagian bagian Sphygmomanometer air raksa :
1. Menset berfungsi untuk menampung udara yang dipompa dari bulb dan untuk
mendeteksi tekanan darah pasien yang pada penggunaannya dipasang pada lengan pasien.
2. Bulb atau pemompa berfungsi untuk mempompa udara kedalam menset.
3. Tabung kaca pengukur berfungsi untuk mengukur air raksa yang dipompa oleh udara
di dalam menset. Diatas tabung kaca pengukur terdapat lubang pembuangan udara.
4. Valve on/off berfungsi untuk membuka atau menutup jalannya air raksa.
5. Tabung air raksa berfungsi untuk menampung air raksa. Diatas tabung air raksa
terdapat filternya.
Bagian bagian Sphygmomanometer Aneroid :
1.Skala Tensi
2.Balon Pompa
3.Selang
4.Manset
Bagian bagian Sphygmomanometer Digital :
1.Tombol Start dan Stop Indikator Systole Indikator Diastole Indikator
2.Bateray

3.LCD/DISPLAY/Tampilan hasil
2.3 BLOK DIAGRAM ALAT

Spygmomanometer Air Raksa

Sphygmomanometer Aneroid

Sphygmomanometer Digital

2.4 PRINSIP KERJA ALAT

Prinsip kerja Alat Sphygmomanometer Air Raksa

Alat pengukur tekanan darah (tensimeter) sama dengan U-Tube Manometer. Manometer
adalah alat pengukur tekanan yang menggunakan tinggi kolom (tabung) yang berisi
liquid statik untuk menentukan tekanan. Manset dipasang mengikat mengelilingi lengan
dan kemudian ditekan dengan tekanan di atas tekanan arteri lengan (brachial) dan
kemudian secara perlahan tekanannya diturunkan. Pembacaan tinggi mercuri dalam
kolom (tabung manometer) menunjukkan peak pressure (systolic) dan lowest pressure
(diastolic).

Prinsip kerja Alat Sphygmomanometer Air Aneroid\

Tekanan dalam bellow B didapat dari tekanan pompa udara sehingga pin P bergerak,
gerakan dari pin P menyebabkan gigi Gbergerak. Gerakan gigi G ini akan menyebabkan
jarum bergerak di seluruh muka manometer. Di bawah jarum penunjuk terdapat pegas
tipis yang berfungsi mengembalikan posisi jarum ke nol kembali ketika katup dibuka
perlahanlahan (udara dikeluarkan sedikit demi sedikit). Dengan demikian pembacaan
tekanan darah dicatat oleh pengguna.

Prinsip kerja Alat Sphygmomanometer Digital

Udara akan dipompa ke manset sekitar 20 mmHg di atas tekanan sistolik rata-rata (sekitar
120 mmHg untuk rata-rata). Setelah itu perlahan-lahan udara akan dilepaskan dari manset
dengan mengendorkan knop pada tensimeter sehingga menyebabkan tekanan dalam
manset akan menurun. Secara perlahan manset akan mengempes, kita akan mengukur
osilasi kecil dalam tekanan udara dari manset lengan. Tekanan sistolik merupakan
tekanan di mana denyut nadi mulai terjadi atau bisa dikatakan sebagai batas bawah. Kami
akan menggunakan MCU untuk mendeteksi titik di mana osilasi ini terjadi dan kemudian
merekam tekanan dalam manset. Kemudian tekanan dalam manset akan menurun lebih
lanjut. Tekanan diastolik akan diambil pada titik di mana osilasi mulai menghilang.

2.5 PENGOPERASIAN ALAT

Prosedur Penggunaan Sphygmomanometer Air Raksa


1. Mengkondisikan pasien yang akan diperiksa (berbaring atau duduk).\
2. Pasang manset tensimeter pada lengan bagian atas (2 ruas jari dari siku bagian
dalam).
3. Dengarkan denyut nadi dengan seksama sambil naikkan tekanan tensimeter sampai
suara denyutan tidak terdengar lagi.
4. Lepaskan tekanan tensimeter secara perlahan-lahan.
5. Ketika suara denyut nadi terdengar kembali, baca tekanan darah pada batas
permukaan tabung raksa pada tensimeter, tekanan ini disebut sistolik.
6. Ketika proses penurunan, akan terdengar suara terakhir sebelum suara denyut nadi
menghilang, baca tekanan darah pada batas permukaan tabung raksa, tekanan ini
disebut diastolik.
Prosedur Penggunaan Sphygmomanometer Aneroid

1. Menempatkan manset di lengan atas (kiri) yang tidak tertutup, lilitkan dengan
selang yang mengarah ke telapak tangan, dan tanda arteri utama berada di atas
arteri utama. Tepi manset harus sekitar 1,5 sampai 2,5 cm di atas bagian dalam
engsel siku
2. Dengan katup tertutup, tekan pompa dan tetap memompa sampai mencapai nilai
30-40 mmHg di atas tekanan darah normal Anda.
3. Buka katup untuk mengeluarkan tekanan manset secara perlahan sebesar 2-3
mmHg per detik.
4. Catat awal suara Korotkoff (Korotkoff sound) sebagai tekanan sistolik, dan
menghilangnya suara ini sebagai tekanan diastolik.
5. Setelah pengukuran selesai, buka katup secara penuh untuk melepas sisa udara
dalam manset.
Prosedur Penggunaan Sphygmomanometer Digital

1.Tekan tombol start/stop untuk mengaktifkan alat.


2.Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, responden sebaiknya
menghindar kegiatan aktivitas fisik seperti olah raga, merokok, dan makan,
minimal 30 menit sebelum pengukuran. Dan juga duduk beristirahat setidaknya 5
- 15 menit sebelum pengukuran.
3 .Hindari melakukan pengukuran dalam kondisi stres. Pengukuran sebaiknya
dilakukan dalam ruangan yang tenang dan dalam kondisi tenang dan posisi duduk
tegak.
4.Pastikan responden duduk dengan posisi kaki tidak menyilang tetapi kedua
telapak kaki datar menyentuh lantai. Letakkan lengan kanan responden di atas
meja sehinga mancet yang sudah terpasang sejajar dengan jantung responden.
5.Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kanan responden dan memintanya
untuk tetap duduk tanpa banyak gerak, dan tidak berbicara pada saat pengukuran.
Apabila responden menggunakan baju berlengan panjang, singsingkan lengan
baju ke atas tetapi pastikan lipatan baju tidak terlalu ketat sehingga tidak
menghambat aliran darah di lengan.
6.Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak tangan terbuka ke atas.
Pastikan tidak ada lekukan pada pipa mancet.
7. Ikuti posisi tubuh.
8. Jika pengukuran selesai, manset akan mengempis kembali dan hasil pengukuran
akan muncul. Alat akan menyimpan hasil pengukuran secara otomatis.

BAB III
PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN ALAT
3.4 TROUBLESHOUTING PADA ALAT SERING TERJADI
Troubleshooting pada Sphygmomanometer Air Raksa

Penurunan raksa yang lambat ini dapat disebabkan oleh keadaan berikut:
a. Saringan yang mampet karena dipakai terlalu lama
b. Tabung kaca kotor (air raksa oksidasi)
c. Udara atau debu di air raksa
Alasan yang pertama mudah kelihatan.Ada dua saringan dalam setiap
sphygmomanometer air raksa yaitu di lubang tabung kaca dan tendon.Saringan di atas
tabung kaca dapat menjadi tersumbat dengan mudah. Ketika air raksa menyentuh
saringan, akan terjadi kelebihan tekanan. Penanganan yang tidak baik setelah dipakai
yaitu membiarkan air raksa di tabung kaca dan tidak kembali ke tabung air raksa.

Troubleshooting pada Sphygmomanometer Aneroid

Pada sphygmomanometer Aneroid yang perlu diperhatikan adalah udara di dalam


manset tensimeter harus benar benar dikeluarkan secara menyeluruh. Maka
Troubleshooting yang mungkin terjadi pada tensimeter Aneroid ini adalah Udara yang
belum dikeluarkan secara maksimal sehingga alat tidak berfungsi secara normal.

Troubleshooting pada Sphygmomanometer Digital


Kerusakan
Alat tidak mau hidup
Analisa kerusakan/penanganan
Cek bateray apakah masih berisi atau sudah habis

3.2 PERBAIKAN APABILA TERJADI KERUSAKAN PADA ALAT


Kerusakan
Alat tidak hidup
Perbaikan
Mengganti bateray jika sudah tidak bisa dipakai lagi

3.3 PEMELIHARAAN ALAT


3.3.1 PEMELIHARAAN HARIAN
Sphygmomanometer Air Raksa :
1.Simpan tensimeter dalam suhu ruangan yang sesuai untuk menjaga ketahanan
tensimeter.

2.Membersihkan kaca dan bagian-bagian tensimeter dari debu dan kotoran.


3.Bersihkan valve inlet/klep masuk pada bulb dengan menggunakan kapas yang
dibasahi dengan alkohol.
4.Didalam valve outlet/klep keluar terdapat filter, lepas dan bersihkan.

Sphygmomanometer Aneroid :
1.Setelah pengukuran selesai, lilitkan manset dengan tensimeter dan pompa serta
simpan dalam kotaknya bersama dengan stetoskop.

2. Buang semua udara dalam manset sebelum disimpan.

3.Jangan pernah menyentuhkan manset atau komponennya dengan benda tajam.


4.Akurasi tensimeter dapat diperiksa secara visual: pastikan agar jarum berhenti
dalam area garis merah di bawah "0" saat unit sudah benar-benar kosong.
Normalnya, kalibrasi harus dilakukan setiap 2 tahun.

Sphygmomanometer Digital :
1. Hindari suhu dan kelembaban yang tinggi baik pada saat penggunaan atau
penyimpanan. Suhu dan kelembaban yang tinggi mempercepat kerusakan pada
alat.
2.Hindari dari kontak dengan zat-zat kimia. Di rumah sakit banyak zat kimia yang
dapat merusak alat tensimeter.
3.Hindari dari benda-benda tajam yang juga dapat merusak alat.
4.Jagalah agar manometer (tabung air raksa, gauge atau LCD) dari benturan keras.

3.3.2 PEMELIHARAAN MINGGUAN


Memeriksa uji kinerja alat bila tidak bisa dikalibrasi
3.3.3 PEMELIHARAAN BULANAN
Cek fungsi alat dan kebersihan alat
Kalibrasi jika perlu
3.3.4 PEMELIHARAAN TAHUNAN
Kalibrasi oleh BPFK atau teknisi agen alat Sphygmomanometer
tersebut

3.4 SOP (STANDART OPERATIONAL PROSEDUR)


Sphygmomanometer Air Raksa :
1. Mengkondisikan pasien yang akan diperiksa (berbaring atau duduk).\
2. Pasang manset tensimeter pada lengan bagian atas (2 ruas jari dari siku bagian
dalam).
3. Dengarkan denyut nadi dengan seksama sambil naikkan tekanan tensimeter sampai
suara denyutan tidak terdengar lagi.
4. Lepaskan tekanan tensimeter secara perlahan-lahan.
5. Ketika suara denyut nadi terdengar kembali, baca tekanan darah pada batas
permukaan tabung raksa pada tensimeter, tekanan ini disebut sistolik.
6. Ketika proses penurunan, akan terdengar suara terakhir sebelum suara denyut nadi
menghilang, baca tekanan darah pada batas permukaan tabung raksa, tekanan ini
disebut diastolik.

Sphygmomanometer Aneroid:
1. Menempatkan manset di lengan atas (kiri) yang tidak tertutup, lilitkan dengan
selang yang mengarah ke telapak tangan, dan tanda arteri utama berada di atas
arteri utama. Tepi manset harus sekitar 1,5 sampai 2,5 cm di atas bagian dalam
engsel siku
2. Dengan katup tertutup, tekan pompa dan tetap memompa sampai mencapai nilai
30-40 mmHg di atas tekanan darah normal Anda.
3. Buka katup untuk mengeluarkan tekanan manset secara perlahan sebesar 2-3
mmHg per detik.
4. Catat awal suara Korotkoff (Korotkoff sound) sebagai tekanan sistolik, dan
menghilangnya suara ini sebagai tekanan diastolik.
5. Setelah pengukuran selesai, buka katup secara penuh untuk melepas sisa udara
dalam manset.

Sphygmomanometer Digital :
1.Masukkan ujung pipa manset pada bagian alat.
2. Perhatikan arah masuknya perekat manset.
3.Pakai manset, perhatikan arah selang.
4.Pastikan selang sejajar dengan jari tengah, dan posisi lengan terbuka keatas.
5.Jika manset sudah terpasang dengan benar, rekatkan manset.
6. Tekan tombol start/stop untuk mengaktifkan alat
7. Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah, responden
sebaiknya menghindar kegiatan aktivitas fisik seperti olah raga,
merokok, dan makan, minimal 30 menit sebelum pengukuran. Dan
juga duduk beristirahat setidaknya 5 - 15 menit sebelum pengukuran.
8. Pengukuran dilakukan dua kali, jarak antara dua pengukuran sebaiknya antara 2
menit dengan melepaskan mancet pada lengan.
9. Apabila hasil pengukuran satu dan kedua terdapat selisih > 10 mmHg, ulangi
pengukuran ketiga setelah istirahat selama 10 menit dengan melepaskan mancet
pada lengan.
10.Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan dengan
posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut di lembar catatan.

BAB IV
KALIBRASI
4.1 KALIBRASI SPHYGMOMANOMETER

a. Kalibrasi Sphygmomanometer Air Raksa


Cara melakukan kalibrasi yang sederhana adalah sebagai berikut:
Sebelum dipakai, air raksa harus selalu tetap berada pada level angka nol (0 mmHg).
Pompa manset sampai 200mmHg kemudian tutup katup buang rapat-rapat. Setelah
beberapa menit, pembacaan mestinya tidak turun lebih dari 2mmHg (ke 198mmHg).
Disini kita melihat apakah ada bagian yang bocor.
Laju Penurunan kecepatan dari 200mmHg ke 0 mmHg harus 1 detik, dengan cara
melepas selang dari tabung kontainer air raksa.
Jika kecepatan turunnya air raksa di sphygmomanometer lebih dari 1 detik, berarti
harus diperhatikan keandalan dari sphygmomanometer tersebut. Karena jika
kecepatan penurunan terlalu lambat, akan mudah untuk terjadi kesalahan dalam
menilai. Biasanya tekanan darah sistolic pasien akan terlalu tinggi (tampilan) bukan
hasil sebenarnya. Begitu juga dengan diastolik.

b. Kalibrasi Sphygmomanometer Aneroid


Akurasi tensimeter dapat diperiksa secara visual: pastikan agar jarum berhenti dalam area
garis merah di bawah "0" saat unit sudah benar-benar kosong. Normalnya, kalibrasi harus
dilakukan setiap 2 tahun.

c. Kalibrasi Sphygmomanometer Digital


Biasanya kalau alat spygmomanometer digital ini diKalibrasi oleh BPFK
atau teknisi agen alat Sphygmomanometer tersebut

BAB V
KESIMPULAN

Tensimeter adalah alat kesehatan yang digunakan untuk mengukur tekanan darah
dan saat ini dikembangkan untuk keperluan dunia medis. Tensimeter terbagi menjadi
beberapa jenis, di antaranya yaitu tensimeter Hg/ tensimeter air raksa, tensimeter aneroid
dan tensimeter digital. Tensimeter air raksa bekerja secara manual dan menggunakan air
raksa. Apabila air raksa tersebut bocor maka akan menyebabkan gangguang bahkan
kematian pada manusia. Tensimeter aneroid bekerja secara manual, tetapi tidak
mengguanakan air raksa sehingga aman untuk digunakan. Tensimeter digital bekerja
secara otomatis, dan tanpa menggunakan air raksa.

DAFTAR PUSTAKA

Kondou, M.Febriyani, Bahrun, dkk. 2014. Teknik Elektro dan Komputer. Rancang Bangun Alat
Ukur Tekanan Darah Manusia Menggunakan Sensor 2SMPP Yang Dapat Menyimpan Data.
ISSN : 2301-8402. Hal: 57-58
Natalia, Reni. 2011. Alat-alat ukur dalam fisika. http://phys-edc.blogspot.co.id/2011/11/alat-alat-
ukur-dalam-fisika.html. Diakses tanggal 3 Juni 2016
Zurdano, danu. 2014. Apa itu spygnometer. http://www.alattensidarah.com/2015/01/mengukur-
tekanan-darah.html. Diakses tanggal 3 juni 2016
LAPORAN PRATIKUM
ELEKTROKARDIAGRAM
(EKG)

BAB I
PENDAHULUAN

1.9 TUJUAN PRAKTIKUM


1.Mahasiswa mampu mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki electrocardiogram
2.Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dan kegunaan electrocardiogram
1.10 MANFAAT PRAKTIUKUM
1.Mahasiswa dapat mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki electrocardiogram
2. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan electrocardiogram

1.11 LANDASAN TEORI


Elektrokardiogram (EKG) merupakan suatu grafik yang dihasilkan oleh suatu
elektrokardiograf. Alat ini merekam aktivitas listrik jantung pada waktu tertentu (saat
pemeriksaan). Secara harafiah didefinisikan : elektro = berkaitan dengan elektronika,
dan kardio = berasal dari bahasa Yunani yang artinya jantung, kemudian gram,
berarti tulis / menulis. Analisis sejumlah gelombang dan vektor normal depolarisasi dan
repolarisasi menghasilkan informasi diagnostik yang penting. Elektrokardiogram tidak
menilai kontraktilitas jantung secara langsung, namun dapat memberikan indikasi
menyeluruh atas naik-turunya kontraktilitas jantung (Dharma, 2010).
Sebuah elektrokardiograf khusus berjalan di atas kertas dengan kecepatan 25 mm/s,
meskipun kecepatan yang di atas daripada itu sering digunakan. Setiap kotak kecil kertas
EKG berukuran 1 mm. Dengan kecepatan 25 mm/s, 1 kotak kecil kertas EKG sama
dengan 0,04 s (40 ms). 5 kotak kecil menyusun 1 kotak besar, yang sama dengan 0,20 s
(200 ms). Karena itu, ada 5 kotak besar per detik. 12 sadapan EKG berkualitas diagnostik
dikalibrasikan sebesar 10 mm/mV, jadi 1 mm sama dengan 0,1 mV. Sinyal "kalibrasi"
harus dimasukkan dalam tiap rekaman. Sinyal standar 1 mV harus menggerakkan jarum 1
cm secara vertikal, yakni 2 kotak besar di kertas EKG (Sika, 2009).
Banyak kegunaan yang dapa diambil dari penggunaan Elektrokardiogram (EKG)
diantaranya, yaitu :
Merupakan standar emas untuk diagnosis aritmia jantung.
EKG memandu tingkatan terapi dan risiko untuk pasien yang dicurigai ada infark otot
jantung akut.
EKG membantu menemukan gangguan elektrolit (misal hiperkalemia dan hipokalemia).
EKG memungkinkan penemuan abnormalitas konduksi (misal blok cabang berkas kanan
dan kiri).
EKG digunakan sebagai alat tapis penyakit jantung iskemik selama uji stres jantung.
EKG kadang-kadang berguna untuk mendeteksi penyakit bukan jantung (misal emboli
paru atau hipotermia).
EKG normal memperlihatkan tiga bentuk gelombang, yaitu :
Gelombang P yang mewakili depolarisai atrium.
Kompleks QRS yang mewakili depolarisai ventrikel.
Gelombang T yang mewakili repolarisasi ventrikel.
Ketika impuls jantung melewati jantung, arus jantung akan menyebar ke dalam jaringan
di sekeliling jantung, dan sebagian kecil dari arus jantung ini akan menyebar ke segala
arah di seluruh permukaan tubuh. Terdapat potensial listrik di daerah jantung, yang
terletak pada kulit yang berlawanan dengan sisi jantung yang terdapat elektroda. Pada
daerah elektroda terdapat cairan tubuh (konduktor volume), dimana cairan tersebut
merupakan konduktor yang baik untuk aliran listrik sehingga dapat mengalirkan arus
yang dapat direkam. Dimana hasil dari perekaman yang didapatkan dari dua denyut
jantung yang terekam pada secarik kertas (Anonim, 2010)..

1.12 ALAT DAN BAHAN


1. Mesin elektrokardiogram
2. Elektroda ektremitas
3. Elektroda isap (suction electrode)
4. Kapas/ tissue
5. Alcohol
6. jelly
7. Probandus
8. dll

BAB II
PENGENALAN ALAT ELEKTROCARDIOGRAM

2.1 GAMBAR ALAT SECARA KESELURUHAN


SPESIFIKASI ALAT MELIPUTI :
NOMOR SERI: SN E 121016978
NAMA ALAT : ECG MACHINE EC3T
BUATAN : MADE IN CINA
POWER :
BATERAY : 7,2 V; 1,0 A ; NiCd 230V ; 50
Hz ; 7 VA
12 15 V DC power supply

2.2 BAGIAN BAGIAN ALAT EKG


1. 4 (empat) buah sadapan ekstremitas, yaitu;
Tangan kiri (LA) = Warna Kuning
Tangan kanan (RA) = Warna Merah
Kaki kiri (LL) = Warna Hijau
Kaki kanan (RL) = Warna Hitam
2. 6 (enam) buah sadapan dada yaitu V1, V2, V3, V4, V5, V6
3. Kabel sadapan yang terdiri dari 10 elektroda (4 buah untuk elektroda ekstremitas, dan
6 buah untuk elektroda dada)
4. Kertas grafik EKG
6 Bateray (untuk supply tegangan)
7. Lcd / Display

2.3 BLOG DIAGRAM


2.4 PRINSIP KERJA ALAT
Input sinyal berasal dan pasien melalui elektroda yang disambungkan kerangkaian
multiplexer, kita atur lead selektor, kemudian dikuatkan menjadi I mV oleh pre Amp yang
biasanya digunakan untuk kalibrasi, selanjutnya sinyal 1 mV difilter guna menghilangkan
noise atau gangguan dari frekuensi lain, setelah sinyal difilter bersih 1 mV dikuatkan
dalam level Volt oleh Main Amp mencapai 400x dan penguatan dapat diatur melalui
sensitifiti, selanjutnya sinyal yang telah dikuatkan diproses oleh galvanometer dan stylus,
galvanometer ini akan bergerak mengikuti amplitude dan irama denyut jantung hingga
tergambar di kertas ECG yang kesemuanya itu disupply oleh blok power supply.

2.5 PROSEDUR PENGOPERASIAN ALAT


Pengoperasian ECG Recorder
a. Cara merekam Elektrocardiogram (EKG)

- Hidupkan mesin ECG dan tunggu sebentar untuk pemanasan


- Periksa kembali standarisasi ECG antara lain :
Kalibrasi 1 mv (10 mm)
Kecepatan 25 mm/detik
- Setelah itu lakukan kalibrasi dengan menekan tombol run/start dan setelah kertas
bergerak, tombol kalibrasi ditekan 2 3 kali berturut-turut dan periksa apakah 10
mm
- Dengan memindahkan lead selector kemudian dibuat pencatatan EKG secara
berturut-turut yaitu sandapan (lead) I, II, III, aVR, aVL, aVF, VI, V2, V3, V4, V5,
V6. Setelah pencatatan, tutup kembali dengan kalibrasi seperti semula sebanyak 2
3 kali, setelah itu matikan mesin EKG.
- Rapikan pasien dan alat-alat
- Dibawah tiap lead, diberi tanda sesuai nama lead yang digunakan

b. Cara membaca Elektrokardiogram (EKG) Ukuran pada kertas EKG

Pada perekaman EKG standar telah ditetapkan yaitu :


1. Kecepatan rekaman 25 mm/detik (25 kotak kecil)
2. Kekuatan voltage 10 mm = 1 millivolt (10 kotak kecil)
Jadi ini berarti ukuran di kertas ECG adalah
Pada garis horizontal
Tiap satu kotak kecil = 1 mm = 1/25 detik = 0,04 detik
Tiap satu kotak sedang = 5 mm = 5/25 detik = 0,20 detik
Tiap satu kotak besar = 25 mm = 25/125 detik = 1,00 detik
Pada garis vertikal
1 kotak kecil = 1 mm = 0,1 mv
1 kotak sedang = 5 mm = 0,5 mv
1 kotak besar = 10 mm = 1 mv

BAB III
PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN ALAT

3.1 TROUBLESHOOTING PADA ALAT YANG SERING TERJADI


Keluhan pesawat
Alat tidak hidup
Analisa kerusakan/penanganan
Periksa alat kalau sudah terhubung dengan sumber
tengangan/PLN dengan baik
Kabel putus
Cek fuse pada alat apakah sudah putus atau masih bagus
Cek bateray apakah masih berisi atau sudah habis
Keluhan pesawat
Pada hasil ECG grafik pada kertas ECG tintany tebal-tebal
Analisa kerusakan/penanganan
Periksa gel pada sadapan apakah sudah dilumuri atau
belum ,jika belum lumuri gel pada sadapan secukupnya
Keluhan pesawat
Pada hasil pemeriksaan ECG terjadi trilling
Analisa kerusakan/penanganan
Filter pada pesawat ECG Belum diaktifkan sehingga dapat
interferensi dariluar.
Kabel elektroda ECG ada yang putus
ECG tidak mendapat grounding.

3.2 PERBAIKAN APABILA TERJADI KERUSAKAN PADA ALAT


Kerusakan
Alat tidak hidup
Perbaikan
Periksa alat kalau sudah terhubung dengan sumber
tengangan/PLN dengan baik
Mengganti fuse pada alat apabila sudah putus
Mengganti bateray jika sudah tidak bisa dipakai lagi
Menyambungkan atau mengganti baru kabel yang putus

3.3 PEMELIHARAAN ALAT


3.3.1 PEMELIHARAAN HARIAN
Melakukan pembersihkan baik alat ECG setiap habis pakai dan melakukan desinfekta
pada alat yang kontak dengan pasien
Bersihkan bekas gel yang ada pada sadapan dengan tissue
Rapikan alat setelah selesai digunakan dan letakkan pada tempat
yang aman
Ganti filter dan baterai jika diperlukan berdasarkan Kebijakan Parts Dijadwalkan
Penggantian.
3.3.2 PEMELIHARAAN MINGGUAN
Memeriksa uji kinerja alat bila tidak bisa dikalibrasi
3.3.3 PEMELIHARAAN BULANAN
Cek fungsi alat dan kebersihan alat
Kalibrasi jika perlu
3.3.4 PEMELIHARAAN TAHUNAN
Kalibrasi oleh BPFK atau teknisi agen alat ECG tersebut

3.4 SOP (STANDART OPERATIONAL PROSEDUR)

1. Atur Posisi Pasien, posisi pasien diatur terlentang datar

2. Buka dan longgarkan pakaian pasien bagian atas, bila pasien memakai jam tangan,
gelang, logam lain agar dilepas

3. Bersihkan kotoran dengan menggunakan kapas pada daerah dada, kedua pergelangan
tangan dan kedua tungkai dilokasi manset elektroda.

4. Mengoleskan jelly pada permukaan elektroda.

5. Memasang manset elektroda pada kedua pergelangan tangan dan kedua tungkai.

6. Memasang arde.

7. Menghidupkan monitor Elektrokardiogram.

8. Menyambungkan kabel Elektrokardiogram pada kedua tungkai pergelangan tangan


dan kedua tungkai pergelangan kaki pasien, untuk rekaman ekstremitas lead (Lead I,
II, III, AVR, AVL, AVF) dengan cara :
Warna merah pada pergelangan tangan kanan

Warna hijau pada kaki kiri

Warna hitam pada kaki kanan.

Warna kuning pada pergelangan tangan kiri.

Memasang elektroda dada untuk rekaman precardial lead

o V1 pada interkosta keempat garis sternum kanan


o V2 pada interkosta keempat garis sternum kiri
o V3 pada pertengahan V2 dan V4
o V4 pada interkosta kelima garis pertengahan clavikula kiri
o V5 pada axila sebelah depan kiri
o V6 pada axila sebelah belakang kiri

9. Melakukan kalibrasi dengan kecepatan 25 mili/detik


10. Bila rekaman Elektrokardiogram telah lengkap terekam, semua elektroda yang melekat
ditubuh pasien dilepas dan dibersihkan seperti semula.
11. Pasien dibantu merapihkan pakaian

Catatan :
Harap diperhatikan urutan pemasangan LEAD pada EKG agar tidak terjadi kesalahan
interpretasi data yang dikeluarkan oleh EKG itu sendiri.

BAB V
Kesimpulan

Elektrokardiogram (EKG) adalah grafik yang dibuat oleh sebuah


elektrokardiograf, yang merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu.
Prinsip utama belajar EKG adalah mengetahui anatomi fisiologi jantung, dan persyarafan
jantung. Elektrokardiogram (EKG) tidak menilai kontraktilitas jantung secara langsung,
namun dapat memberikan indikasi menyeluruh atas naik-turunya kontraktilitas jantung.
EKG normal memperlihatkan tiga bentuk gelombang, yaitu :
Gelombang P yang mewakili depolarisai atrium.
Kompleks QRS yang mewakili depolarisai ventrikel.
Gelombang T yang mewakili repolarisasi ventrikel.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.digilib.ui.ac.id/helper/viewKoleksi.jsp?id=110526&lokasi=lokal&template=
absrak.detail.template
http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?option=com_content&view=article&id=633
elektrokardiogram-ekg&catid=15:pemrosesan-sinyal&Itemid=15
http://www.wartamedika.com/2008/02/elektrokardiogram-ekg.html
http://ionozer.blogspot.com/2010/03/elektrokardiogram-ekg.html
http://kirana-5451.blogspot.com/2008/11/elektrokardiogram.html
LAPORAN PRATIKUM
DOPPLER

BAB I
PENDAHULUAN

1.13 TUJUAN PRAKTIKUM


1.Mahasiswa mampu mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki alat doppler.
2.Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dan kegunaan alat doppler.
1.14 MANFAAT PRAKTIUKUM
1.Mahasiswa dapat mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki alat doppler.
2.Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan alat doppler.

1.15 LANDASAN TEORI


Selama masa kehamilan tentunya ibu selalu berharap yang terbaik untuk janin di
dalam kandungan. Tak urung tiap kali melakukan pemeriksaan ke dokter atau bidan, ibu
akan bertanya-tanya bagaimana keadaan janin.
Pemantauan janin tentunya tidak bisa dilakukan dengan kasat mata. Maka dari itu,
biasanya pemantauan dilakukan dengan mendengarkan denyut jantungnya. Bukan hanya
memantau apakah denyut jantung janin keras atau lemah, tetapi juga dilihat perubahan
iramanya terutama saat terjadi kontraksi rahim. Ketika janin stress, denyut jantung yang
tadinya berirama dan cepat bisa jadi tidak berirama dan melemah.
Hal ini perlu diketahui untuk mengetahui sejauh mana toleransi janin terhadap
proses persalinan sehingga dokter atau bidan bisa memutuskan apakan perlu intervensi
atau tidak. Sebagai informasi denyut jantung normal janin adalah 120-160 per menit
dengan variabilitas 5-25 denyut per menit.
Doppler bestman adalah salah satu doppler yang mempunyai ketahanan
penggunaan yang tinggi, serta mempunyai sensitifitas suara yang baik. Fetal doppler
merupakan alat yang digunakan untuk mendengarkan detak jantung bayi selama masih
ada didalam kandungan, pada umumnya detak jantung bayi sudah dapat didengarkan
pada usia 1 bulan atau 4 minggu, doppler ini mempunyai jenis dan tipe yang beragam,
terdapat jenis yang mempunyai layar LCD sehingga dapat mendeteksi kekuatan atau
volume detak jantung dalam satuan angka, atau doppler yang tanpa LCD sehingga hanya
mampu mengeluarkan suara detak jantung saja.
Dengan bantuan probe alat ini meradiasi gelombang ultrasonik dan organ yang
bergerak seperti hati, aliran darah. Sinyal ultrasonik akan menginterprestasikan setiap
perubahan yang terjadi. Alat ini dapat secara otomatis mengukur detak jantung dengan
menggunakan teknologi mikroprosesor dan output secara digital.
1. Sensor Ultrasonik
Gelombang ultrasonik merupakan gelombang akustik yang memiliki frekuensi
mulai 20 kHz hingga sekitar 20 MHz. Frekuensi kerja yang digunakan dalam
gelombang ultrasonik bervariasi tergantung pada medium yang dilalui, mulai dari
kerapatan rendah pada fasa gas, cair hingga padat. Jika gelombang ultrasonik
berjalan melaui sebuah medium, Secara matematis besarnya jarak dapat dihitung
sebagai berikut:
s = v.t/2 .Pers (1)
dimana s adalah jarak dalam satuan meter, v adalah kecepatan suara yaitu 344
m/detik dan t adalah waktu tempuh dalam satuan detik. Ketika gelombang
ultrasonik menumbuk suatu penghalang maka sebagian gelombang tersebut akan
dipantulkan sebagian diserap dan sebagian yang lain akan diteruskan.
Sensor ultrasonik adalah sebuah sensor yang mengubah besaran fisis (bunyi)
menjadi besaran listrik. Pada sensor ini gelombang ultrasonik dibangkitkan
melalui sebuah benda yang disebut piezoelektrik. Piezoelektrik ini akan
menghasilkan gelombang ultrasonik dengan frekuensi 40 kHz ketika sebuah
osilator diterapkan pada benda tersebut. Sensor ultrasonik secara umum
digunakan untuk suatu pengungkapan tak sentuh yang beragam seperti aplikasi
pengukuran jarak. Alat ini secara umum memancarakan gelombang suara
ultrasonik menuju suatu target yang memantulkan balik gelombang kearah sensor.
Kemudian sistem mengukur waktu yang diperlukan untuk pemancaran gelombang
sampai kembali kesensor dan menghitung jarak target dengan menggunakan
kecepatan suara dalam medium. Rangkaian penyusun sensor ultrasonik ini terdiri
dari transmitter, reiceiver, dan komparator. Selain itu, gelombang ultrasonik
dibangkitkan oleh sebuah kristal tipis bersifat piezoelektrik.
a. Piezoelektrik
Kristal piezoelektrik ditemukan oleh Piere Curie dan Jacques pada tahun 1880,
dengan tebal ,85 mm. Bila kristal ini diberi tegangan listrik, maka lempengan
kristal akan mengalami vibrasi sehingga timbullah ultrasonik .
Sebaliknya , vibrasi pada kristal akan menghasilkan listrik . Oleh karena itu maka
kristal piezo elektrik digunakan sebagai transduser pada Fetal Doppler. Frekuensi
dan daya ultrasonik yang dipakai dalam bidang kedokteran disesuaikan dengan
kebutuhan. Untuk diagnostik digunakan frekuensi 1 5 MHz dengan daya 0,01
W/cm2. Untuk terapi digunakan daya 1 W/cm2, bahkan untuk menghancurkan
kanker diperlukan daya 1000 W/cm2. Dasar penggunaan ultrasonik adalah efek,
Doppler, yaitu terjadi perubahan frekuensi akibat adanya pergerakan pendengar,
sebaliknya dan getaran yang dikirim ke obyek akan direfleksikan oleh obyek itu
sendiri . Sensor piezoelektrik secara langsung mengubah energi listrik menjadi
energi mekanik. Tegangan input yang digunakan menyebabkan bagian keramik
meregang dan memancarkan gelombang ultrasonik. Tipe operasi transmisi elemen
piezoelektrik sekitar frekuensi 32 kHz. Efisiensi lebih baik, jika frekuensi osilator
diatur pada frekuensi resonansi piezoelektrik dengan sensitifitas dan efisiensi
paling baik. Jika rangkaian pengukur beroperasi pada mode pulsa elemen
piezoelektrik yang sama dapat digunakan sebagai transmitter dan reiceiver.
Frekuensi yang ditimbulkan tergantung pada osilatornya yang disesuiakan
frekuensi kerja dari masing-masing transduser. Karena kelebihannya inilah maka
tranduser piezoelektrik lebih sesuai digunakan untuk sensor ultrasonik.
b. Transmitter
Transmitter adalah sebuah alat yang berfungsi sebagai pemancar gelombang
ultrasonik dengan frekuensi sebesar 40 kHz yang dibangkitkan dari sebuah
osilator. Untuk menghasilkan frekuensi 40 KHz, harus di buat sebuah rangkaian
osilator dan keluaran dari osilator dilanjutkan menuju penguat sinyal. Besarnya
frekuensi ditentukan oleh komponen kalang RLC / kristal tergantung dari disain
osilator yang digunakan. Penguat sinyal akan memberikan sebuah sinyal listrik
yang diumpankan ke piezoelektrik dan terjadi reaksi mekanik sehingga bergetar
dan memancarkan gelombang yang sesuai dengan besar frekuensi pada osilator.
c. Receiver
Receiver terdiri dari transduser ultrasonik menggunakan bahan piezoelektrik,
yang berfungsi sebagai penerima gelombang pantulan yang berasal dari
transmitter yang dikenakan pada permukaan suatu benda atau gelombang
langsung LOS (Line of Sight) dari transmitter. Oleh karena bahan piezoelektrik
memiliki reaksi yang reversible, elemen keramik akan membangkitkan tegangan
listrik pada saat gelombang datang dengan frekuensi yang resonan dan akan
menggetarkan bahan piezoelektrik tersebut

1.16 ALAT DAN BAHAN


1.Fetal doppler
2.Frekuensi Ultrasound: 2 MHz
3,Intensitas: < 10 mW/cm2
4.Sensitivitas: Janin berumur 10 12 minggu ke atas
5.Jangkauan: 50 240 bpm
6.Akurasi: Kurang lebih 2% dari jangkauan
7.Dimensi: Bodi Utama: 75 x 128 x 26 mm dan Probe: 25 x 131 x 25 mm
8.Berat (Bodi Utama dan Probe): 200 gram
9.Power Supply: Baterai AA 1,5V x 2
10.PC Interface: Sound Card (menggunakan BCM 220 S/W
11.Pasien
12.Jelly
13.Stopwatch

BAB II
PENGENALAN ALAT DOPPLER

2.1 GAMBAR ALAT SECARA KESELURUHAN


SPESIFIKASI ALAT MELIPUTI :
NOMOR SERI: SN
NAMA ALAT : ULTRASOUND DOPPLER SYSTEM (BT-200)
BUATAN : MADE IN KOREA
POWER :
BATERAY : 3 V (1,5V X 2,LR6 Bateray)

2.2 BAGIAN BAGIAN ALAT DOPPLER

Keterangan
1. Tranduser, ini diletakkan diatas obyek (perut). Dalam tranduser ini terdapat :
oscilator yang mengbangkitkan frekuensi, transmitter memancarkan frekuensi
yang dibangkitkan oscilator , reciver menerima frekuensi yang terpantulkan
olehobyek.
2. Settingan volume,untuk mengatur tinggi rendahnya suara.
3. Speaker, untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal suara.
4. Display,sebagai penunjukan nilai denyut jantung yang terukur.

2.6 BLOG DIAGRAM

2.7 PRINSIP KERJA ALAT


Alat ini mengubah sinyal bio elektro yang kemudian diteruskan ke pre-Amp
sehingga sinyal tersebut di ubah ke bentuk suara melalui sebuah speaker.

2.8 PROSEDUR PENGOPERASIAN ALAT


1. Hubungkan alat pada catu daya
2. Tekan tombol ON
3. Atur volume suara
4. Berikan jel pada noodle pada pasien
5. Bersihkan setelah selesai.

BAB III
PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN ALAT

3.1 TROUBLESHOOTING PADA ALAT YANG SERING TERJADI


Keluhan pesawat
Alat tidak hidup
Analisa kerusakan/penanganan
Cek bateray apakah masih bagus atau tidak
Keluhan pesawat
Suara tidak keluar saat pemeriksaan
Analisa kerusakan/penanganan
Periksa speaker pada alat apakah masih bagus atau tidak
Keluhan pesawat
Tampilan pada lcd tidak muncul
Analisa kerusakan/penanganan
Cek lcd bagus atau tidak
Cek bateray masih bagus atau tidak

3.2 PERBAIKAN APABILA TERJADI KERUSAKAN PADA ALAT


Kerusakan
Alat tidak hidup
Perbaikan
Mengganti bateray jika sudah tidak bisa dipakai lagi
Kerusakan
Suara tidak keluar saat pemeriksaan
Perbaikan
Mengganti speaker pada alat jika sudah tidak bisa dipakai lagi
Kerusakan
Tampilan pada lcd tidak muncul
Perbaikan
Mengganti lcd dan bateray pada alat jika sudah tidak bisa dipakai lagi

3.3 PEMELIHARAAN ALAT


3.3.1 PEMELIHARAAN HARIAN
Melakukan pembersihkan baik alat DOPPLER setiap habis pakai dan melakukan
desinfekta pada alat yang kontak dengan pasien
Bersihkan bekas gel apabila masih ada tertinggal dialat
Rapikan alat setelah selesai digunakan dan letakkan pada tempat yang aman
Ganti baterai jika diperlukan berdasarkan Kebijakan Parts Dijadwalkan Penggantian

3.3.2 PEMELIHARAAN MINGGUAN


Memeriksa uji kinerja alat bila tidak bisa dikalibrasi
3.3.3 PEMELIHARAAN BULANAN
Cek fungsi alat dan kebersihan alat
Kalibrasi jika perlu
3.3.4 PEMELIHARAAN TAHUNAN
Kalibrasi oleh BPFK atau teknisi agen alat DOPPLER tersebut

3.4 SOP (STANDART OPERATIONAL PROSEDUR)


9. Atur Posisi Pasien, posisi pasien diatur terlentang datar

10. Beri jelly pada doppler /lineac yang akan digunakan


11. Tempelkan doppler pada perut ibu hamil didaerah punggung janin.
12. Hitung detak jantung janin :
13. Dengar detak jantung janin selama 1 menit, normal detak jantung janin 120-140 /
menit.
14. Beri penjelasan pada pasien hasil pemeriksaan detak jantung janin
15. Jika pada pemeriksaan detak jantung janin, tidak terdengar ataupun tidak ada
pergerakan bayi, maka pasien diberi penjelasan dan pasien dirujuk ke RS.
16. Pasien dipersilahkan bangun
17. Catat hasil pemeriksaan jantung janin pada buku Kart Ibu dan Buku KIA

BAB V
Kesimpulan

Dopler adalah alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi denyut jantung bayi yang
menggunakan prinsip pantulan gelombang elektromagnetik.
Alat ini ditemukan oleh Cristian Jhann Doppler dari Australia pada tahun 1842. Kato dan
Izumi pada tahun 1966 adalah yang pertama menggunakan ociloscope pada penggunaan Doppler
Ultrasound sehingga pergerakan pembulauh darah dapat didokumentasikan. Tahun 1968 H.
Takemura dan Y. Ashitaka dari Jepang memperkenalkan penggunaan Doppler velocimetri di
bidang kebidanan dengan menggambarkan tentang spektrum Doppler dari arteri umbilikalis.
Aplikasi klinis dari Doppler adalah untuk mendeteksi dan mengukur keceptan aliran
darah dan untuk menghitung jumlah dan menilai ritme denyut jantung bayi.
Prinsip efek doppler ini sendiri yaitu ketika gelombang ultrasound ditransmisikan kearah
sebuah reflektor stationer, gelombang yang dipantulkan memiliki frekuensi yang sama. Jadi, jika
reflektor bergerak ke
arah transmiter, frekuensi yang dipantulakn akan lebih tinggi, sedangkan jika reflektor
bergerak menjauhi maka frekuensi yang dipantulkan akan lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Kusuma,C.F.2013.Doppler.
http://ekgmurah.blogspot.com.
Luria, Ingrassia.2012Persalinan dengan ekstrasi vacuum.
http://luriaingrassia.blogspot.com.
Dharmanto, wali.2012.Pemeriksaan denyut jantung janin.
http://walidharmanto.blogspot.com.
http://prodia.co.id/pemeriksaan-penunjang/usg.
Dyan,rizqi.2012.vacuum ekstraksihttp://rizqidyan.wordpress.com
LAPORAN PRATIKUM
PERALATAN MATA

BAB I
PENDAHULUAN

1.17 TUJUAN PRAKTIKUM


1.Mahasiswa mampu mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki peralatan
pemeriksaan mata
2.Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dan kegunaan memperbaiki peralatan
pemeriksaan mata

1.18 MANFAAT PRAKTIUKUM


1.Mahasiswa dapat mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki peralatan
pemeriksaan mata
2.Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan memperbaiki peralatan
pemeriksaan mata

1.19 LANDASAN TEORI


Dari sekian banyak peralatan mata, hanya beberapa peralatan yang akan dibahas
dalam kaitan pemeriksaan mata. Ada tiga prinsip dalam pemeriksaan mata yaitu :
pemeriksaaan mata bagian dalam, pengukuran daya focus mata, penmgukuran
kelengkungan kornea. Peralatan dalam pemeriksaan mata dan lensa ada 6 macam yaitu :

OPTHALMOSKOP
Prinsip pemeriksaan dengan opthalmoskop untuk mengetahui keadaan fundus okuli
( retina mata dan pembuluh darah khoroidea keseluruhannya).

RETINOSKOP
Alat ini dipakai untuk menentukan reset lensa demi koreksi mata penderita tanpa aktivitas
penderita, meskipun demikian mata penderita perlu terbuka dan dalam posisi nyaman
bagi si pemeriksa.

KERATOMETER
Alat ini untuk mengukur kelengkungan kornea. Pengukuran ini diperuntukkan pemakaian
lensa kontak; lensa kontak ini dipakai langsung yaitu dengan cara menempel pada kornea
yang mengalami gangguan kelengkungan.
TONOMETER

Penderita ditelentangkan dengan mata menatap ke atas, kemudian kornea mata dibius.
Tengah-tengah alat ( Plug) diletakkan di atas kornea menyebabkan suatu tekanan ringan
terhadap kornea. Plug dari tonometer berhubungan dengan skala sehingga dapat terbaca
nilai skala tersebut.

PUPILOMETER

Diameter pupil dapat diukur dengan menggunakan pupilometer dari eindhoven. Yaitu
lempengan kertas terdiri dari sejumlah lubang kecil dengan jarak tertentu.

LENSOMETER

Lensometer merupakan Suatu alat yang dipakai untuk mengukur kekuatan lensa baik
dipakai si penderita atau sekedar untuk mengetahui dioptri lensa tersebut.
1.20 ALAT DAN BAHAN
1.Peralatan mata
2.pasien
3.dll

BAB II
PENGENALAN PERALATAN MATA

2.1 GAMBAR ALAT SECARA KESELURUHAN


SPESIFIKASI ALAT MELIPUTI : SPESIFIKASI ALAT MELIPUTI :
NOMOR SERI: SN Z4 BP 0732 2015 NOMOR SERI: SN Z4 BP 0732 2015
NAMA ALAT : TONOMETER NAMA ALAT : TONOMETER
BUATAN : MADE IN JAPAN BUATAN : MADE IN JAPAN
POWER : 60V INPUT : 100-240V, 50/60Hz,90VA
INPUT : 100-240V 50/60Hz

2.2 BAGIAN BAGIAN PERALATAN MATA


5. Lcd / Display/ Tampilan

6. Kertas hasil pengukuran

7. Handle untuk mengatur focus


2.2 BLOG DIAGRAM
Tonometer

Karatometer

2.3 PRINSIP KERJA ALAT


Tonometer dan karatometer non kontak ini menggunakan semburan udara sebagai
pengganti prisma untuk meratakan kornea, sehingga tidak ada kontak langsung antara
mata dengan alat yang dapat mencegah penularan penyakit. Alat ini juga mengeluarkan
cahaya yang diarahkan ke kornea yang sudah diratakan oleh semburan udara , cahaya ini
kemudian direfleksikan oleh kornea yang sudah rata ke photoreceptor yang mengaktifkan
penghentian semburan udara
2.4 PROSEDUR PENGOPERASIAN ALAT
1. Hubungkan alat pada catu daya
2. Tekan tombol ON
3. Atur focus
4. Tekan tombol ekspose (kalau belum diotomatiskan)
5. Print hasil
6. Rapikan kembali alat

BAB III
PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN ALAT

3.1 TROUBLESHOOTING PADA ALAT YANG SERING TERJADI


Keluhan pesawat
Alat tidak hidup
Analisa kerusakan/penanganan
Cek kabel catu daya apakah sudah tersambung dengan baik
Cek fuse pada alat padakah sudah putus

3.2 PERBAIKAN APABILA TERJADI KERUSAKAN PADA ALAT


Kerusakan
Alat tidak hidup
Perbaikan
Periksa alat kalau sudah terhubung dengan sumber tengangan/PLN dengan
baik
Mengganti fuse pada alat apabila sudah putus
Menyambungkan atau mengganti baru kabel yang putus

3.3 PEMELIHARAAN ALAT


3.3.1 PEMELIHARAAN HARIAN
o Melakukan pembersihkan peralatan mata setiap habis pakai
o Rapikan alat setelah selesai digunakan dan letakkan pada tempat yang aman
3.3.2 PEMELIHARAAN MINGGUAN
o Memeriksa uji kinerja alat bila tidak bisa dikalibrasi
3.3.3 PEMELIHARAAN BULANAN
o Cek fungsi alat dan kebersihan alat
o Kalibrasi jika perlu
3.3.4 PEMELIHARAAN TAHUNAN
o Kalibrasi oleh BPFK atau teknisi agen peralatan mata tersebut

3.4 SOP (STANDART OPERATIONAL PROSEDUR)


a. Opthalmoskop

Langkah-langkah Pemeriksaan dengan ophtalmoskop :

Persiapkan alat untuk pemeriksaan segmen posterior bola mata (direct


ophthalmoscope). Ruangan dibuat setengah gelap, penderita diminta melepas
kacamata dan pupil dibuat midriasis dengan tetes mata midriatil.
Sesuaikanlah lensa ophtalmoskop dengan ukuran kaca mata penderita.
Mata kanan pemeriksa memeriksa mata kanan penderita, mata kiri pemeriksa
memeriksa mata kiri penderita.
Jika pemeriksaan menggunakan kaca mata, maka kaca mata harus dilepas supaya
dapat melihat retina dengan lebih baik. Lampu ophtalmoskop dinyalakan, lubang
dipindahkan ke lubang kecil. Pemeriksa harus memulai dengan diopter lensa diatur
pada angka 0 jika ia tidak menggunakan kaca mata.
Mintalah penderita untuk melihat satu titik di belakang pemeriksa.
Arahkan ke pupil dari jarak 25-30 cm ophtalmoskop untuk melihat refleks fundus
dengan posisi/cara pegang yang benar. Cahaya harus menyinari pupil. Pantulan sinar
berwarna merah, reflex merah, dapat dilihat pada pupil. Pemeriksaan harus
memperhatikan setiap kekeruhan pada kornea atau lensa.
Periksa secara seksama dengan perlahan maju mendekati penderita kurang lebih 5
cm.
Sesuaikan fokus dengan mengatur ukuran lensa pada ophtalmoskop.
Jika sudah terjadi kontak dengan retina pasien, maka akan terlihat papil saraf optikus
atau pembuluh darah, dengan memutar roda diopter dengan jari telunjuk, pemeriksa
akan bisa melihat struktur ini dengan focus yang tajam. Amati secara sistematis
struktur retina dimulai dari papil N. optik, arteri dan vena retina sentral, area makula,
dan retina perifer.
Pemeriksaan dilakukan pada kedua mata
Catatlah hasil yang didapat dalam status penderita

b. Retinoskop

Langkah langkah menggunakan Retinoskop :

Tangan anda (salah satu) memegang alat itu untuk melihat mata pasien melalui
lubang yang ada di kepala optik. Dan ini tergantung model retinoskop yang dipakai
gunakan ibu jari atau telunjuk anda untuk memutar sleevenya dengan posisi sleep-up
atau memutarnya untuk memutar streaknya.
kalau model Allen, tombol ada di atas, sedang model Copeland, tombol ada di bagian
bawah pemegangnya.
Streak sinarnya di lewatkan pupil mata pasien dengan posisi orientasi yang lurus.
Maksudnya , arah streak itu lurus orientasinya misal arah 90 derajat maka sinar yang
terbentuk di mata adalah vertikal dan gerakan yang akan di lakukan adalah gerakan
horisontal maka hal ini di sebut Streak 180.
Selanjutnya posisi pasien, Pemriksaan lebih efisien adalah dengan phoroptor dimana
kita tidak susah payah untuk mengganti lensa, sehingga lebih effisien. Untuk dalam
hal ini kita bicara dengan phoroptor
c. Keratometer

Langkah langkah penggunaan Keratometer yakni :


Pasien mengambil kursi dan menempatkan mereka pada dagu istirahat didepan
computer
Satu mata pada satu waktu, mereka melihat ke dalam mesin di dalam gambar
Gambar bergerak masuk dan keluar dari fokus dan mesin akan mengambil
pembacaan untuk menentukan kapan gambar pada retina
Pembacaan Data oleh instrumen diambil rata-rata untuk membentuk resep.

d. Tonometer dari Schiozt

Langkah langkah penggunaan tonometer dari Schiozt , yakni :

Pasien berbaring tanpa bantal


kemudian matanya ditetesi pantocain 1-2% satu kali
Instruksikan klien untuk melihat ibu jarinya yang diacungkan didepan matanya dan
letakkan tonometer di puncak kornea.
Pemeriksa menentukan ukuran bayangan yang direfleksi dengan mengatur sudut prisma
agar menghasilkan dua bayangan.
Posisi prisma setelah diatur akan dikaliberasi dengan daya focus kornea ( dalam dioptri).
Nilai rata-rata 44 dioptri dengan rata-rata radius kelengkungan kornea 7,7 mm.

e. Pupilometer

Langkah langkah penggunaan pupilometer , yakni :

Mata pasien diarahkan pada lubang lubang kecil dengan latar belakang dan tanpa
akomodasi maka diperoleh perjalanan sinar sebagai berikut :
Lingkaran yang terproyeksi pada jaringan retina saling menyentuh berarti garis 1 dan 2
adalah sejajar.
Garis 1 dan 2 inilah garis terluar yang masih dapat masuk melalui pupil, sehingga
deperoleh jarak d, jarak ini adalah diameter pupil.
Pada penentuan besar pupil, jarak antara lubang dan mata tidak menjadi masalah.

f. Lensometer
Langkah langkah penggunaan Lensometer :
letakkan lensometer pada permukaan yang stabil . Sesuaikan ketinggian kursi dan sudut
lensometer sehingga Anda dapat dengan mudah melihat melalui eyepeace pada
lensometer tersebut .
Putar eyepeace perlahan-lahan berlawanan arah jarum jam sampai silang hitam menjadi
benar-
benar jelas pada area display
Putar roda power pada skala nol . Garis pemisah di tengah area layar harus di jelas
terlihat
Putar roda power ke skala tertinggi agar terlihat garis yang paling terang .
atur lensa kanan kacamata pada dudukan dari lensometer dengan bagian depan
menghadap ke arah Anda . Perlahan lepaskan bagian penekan dudukan sehingga kaki
penahan memegang lensa di tempatnya . Ini akan memastikan bahwa lensa tidak akan
bergeser sementara Anda bekerja , tetapi jangan terlalu banyak tekanan sehingga merusak
lensa .
Putar roda pengukur power sehingga garis power diperoleh . Sementara Anda bekerja
mencari fokus , geser lensa dari sisi ke sisi sehingga garis pemisah dan pusat potongan
garis hitam terlihat jelas dan benar benar ditengah . Anda harus melakukan pada dua lensa
Baca skala pada titik pada garis skala. Bacaan ini memberi Anda hasil dioptri ,
putar roda power untuk menurunkan skala power perlahan . Ketika Anda melakukan ini ,
garis berlawanan akan mengabur atau tidak fokus . kurangi sampai baris ketiga benar-
benar fokus dan bacalah skala.
Kurangi hasil kedua dari yang pertama untuk menentukan kekuatan silinder lensa .
Lepaskan lensa lakukan pengaturan seperti yang Anda lakukan di awal. Ulangi semua
langkah untuk lensa kiri .

BAB V
Kesimpulan

Peralatan mata adalah alat atau unit instrument yang mempunyai fungsi masing-masing
yang membantu dokter atau refraksionis untuk mendiagnosis penyakit ataupun kelainan pada
mata pasien.
DAFTAR PUSTAKA

1. Southeast Asia glaucoma interest group. Asia Pasific guidelines for glaucoma

2. Stamper RL. Diagnosis and therapy of the glaucomas. 7th ed. Mosby Inc: St Louis; 1999.
p. 65-79.
3. Rhee DJ. Color atlas and synopsis of clinical ophthalmology: Glaucoma. Mc Graw-Hill:
Philadelphia; 2003. p. 15-23

4. Japan Glaucoma society. Guidelines for glaucoma 2004. p. 20-1

5. Supiandi E, Haroen M. Glaukoma: Cara pemeriksaan dan jenis glaukoma. Penerbit


FKUI: Jakarta; 1986. p. 7-12.

6. American academy of ophthalmology staffs. Intraocular pressures and aqueous humor


dynamics. American academy of ophthalmology section 10: San Frasisco; 2005-2006.
p.17-30.

7. Shields MB. Textbook of glaucoma. William & Wilkins: Baltimore; 1998. p. 46-65.

8. Harvey B. Examination of intraocular pressure. In:Doshi S, Harvey W, eds. Investigative


techniques and ocular examination.Butterworth Heineman: Spain; 2003. p.61-7.
LAPORAN PRATIKUM
DENTAL UNIT
BAB I
PENDAHULUAN

1.21 TUJUAN PRAKTIKUM


1.Mahasiswa mampu mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki alat dental unit.
2.Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dan kegunaan alat dental unit.

1.22 MANFAAT PRAKTIUKUM


1.Mahasiswa dapat mengoperasikan, memelihara dan memperbaiki alat dental unit.
2.Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan alat dental unit.

1.23 LANDASAN TEORI


Dental unit merupakan alat kesehatan,pada Undang Undang kesehatan No36
Tahun 2009 Pasal 4 Tentang Alat kesehatan yang menjelaskan bahwa alat
kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak mengandung
obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan
penyakit, merawat orang sakit,memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau membentuk
struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat dental unit adalah adalah suatu alat yang dipakai
oleh dokter gigi untuk membantu pemeriksaan dan kemudian menentukan terapi apa
yang dapat diberikan kepada pasien. Secara umum untuk membantu perawatan gigi dan
mulut ( pengeboran, penambalan, pembersihan, dan pemeriksaan ).
Tipe-tipe Dental Unit
Tipe Unit Kedokteran gigi dalam spesifikasi terdiri dari :
1. Tipe Fixed Pedestal
Adalah sebuah unit kedokteran gigi dengan landasan dan dipasang tetap pada lantai.
2. Tipe Chair Mountaid
Adalah sebuah unit kedokteran gigi yang dipasang tetap pada kursi pasien kedokteran
gigi.
3. Tipe Mobile
Adalah sebuah unit kedokteran gigi yang dapat dipindah dengan mudah melalui peralatan
bantu yang sudah terpasang pada unit itu.
4. Tipe Console
Adalah sebuah unit kedokteran gigi yang dipasang secara tetap dimana saja.
5. Tipe Portabel
Adalah sebuah unit kedokteran gigi yang dapat ditenteng dengan mudah kemana saja
diperlukan.
Dental unit pada umumnya mempunyai 3 sumber tenaga yaitu :
Sumber tenaga listrik untuk memberikan satu daya pada semua system elektrik misal :
lampu operasi, switch valve electric, system hidrolik, dan mikromotor. Juga diaplikasikan
pada system dental chair untuk semua garakan ( naik, turun, menyandar, dan duduk ).
Sumber tenaga udara untuk memberikan pada semua sistem yang bekerja berdasarkan
tekanan udara. Udara bertekanan ini berasal dari compressor ( takanan yang dibutuhkan
sekitar 2,5 atm sampai 4 atm ). Tekanan maksimal dari compressor dapat mencapai 7 atm.
System atau bagian yang bekerja berdasarkan takanan misal : turbine jet/bor jet, switch
valve, spray git, scaller, dan sistem hidrolik pada kursi atau chair dental.
Sumber tenaga air untuk digunakan pada system pendinginan turbine jet/bor jet, spray
git, dan pembuagan kotoran. Tekanan yang dibutuhkan minimal 1 atm. Walaupun tekanan
air yang dihasilkan juga berasal dari tekanan yang dihasilkan dari compressor.

1.24 ALAT DAN BAHAN


1.Dental unit
2.Masker
3,Handscoon
4.Pasien
5.DLL

BAB II
PENGENALAN ALAT DENTAL UNIT

2.1 GAMBAR ALAT SECARA KESELURUHAN

SPESIFIKASI ALAT MELIPUTI :


NOMOR SERI: ST D302
NAMA ALAT : DENTAL UNIT (SUNTEM)
BUATAN : MADE IN CINA
POWER :
220 V -50 Hz
2.2 BAGIAN BAGIAN ALAT EKG
1. Dentist chair (kursi dokter gigi)
Yaitu kursi yang digunakan oleh para dokter gigi saat memeriksa pasien.Kursi ini memili
roda yang dimaksutkan untuk memudahkan gerakan dokter.Pada seperangkat Dental Unit
biasanya terdapat dua buah kursi yaitu untuk dokter dan asisten control.

2. Air-controlled feet (pengendali air)


Untuk memudahkan dokter gigi saat merawat pasien pengendali air ini biasanya terletak
dibawah kursi pasien yang dikendalikan oleh dokter gigi dengan menggunakan kaki.

3. Assistant control (asisten control)


Adanya asisten control yaitu untuk lebih memudahkan dokter dalam bekerja. Asisten
control ini tentunya decontrol oleh asisten dokter/perawat.

4. Electric dental patient chair switch assembly (kursi pasien)


Kursi pasien yaitu kursi dimana pasien berbaring/duduk saat memeriksa gigi.

5. Spittoon assembly (wadah kumur)


Wadah kumur berada di sebelah kiri pasien yang diperuntukkan sebagai tempat pasien
membuang ludah/kumuran saat memeriksa gigi.

6. Bowl rinse (bowl bilas)


Bowl bilas yaitu wadah sebagai tempat pasien ataupun dokter/perawt saat membilas
sesuatu ketika pemerisaan gigi.

7. Cup fill (keran air)


Keran air pada Dental Unit jug terletak di sebelah kiri pasien. Keran air ini berfungsih
sebagai sumber air dan memudahkan dokter/perwat serta asisten control saat
membutuhkan air ketika pemeriksaan gigi.

8. Dental complex treatment unit (unit pengolahan gigi yang komplex)


Dental complex treatment unit merupakan salah satu yang terpentting pada Dental Unit
dimana pada Dental complex treatment unit ini adalah unit pengolahan gigi seperti
Handpieces "bor gigi".

9. Instrument arm (instrument lengan)


Instrument arm yaitu bagian Dental Unit yang berkaitan dengan tangan seperti
Handpieces "bor gigi".

10. Operating light (pencahayaan)


Operating light yaitu lampu yang difungsikan sebagai pencahayaan kedalam rongga
mulut pasien saat melakukan pemeriksaan.Operating light ini teletak dihadapan pasien
yang dapat diatur posisinya oleh dokter/perawat sesuai keinginan/kebutuhan.
LAMPU
11. Tray assembly (baki perakitan)
Tray assembly yaitu bagian dari Instrument tray assembly.

12. Instrument tray assembly (instrument nampan perakitan)


AIR KUMUR
Instrument tray assembly yaitu bagian pada Dental Unit yang berfungsih sebagai tempat
menaru komponen komponen yang dibutuhkan saat melakukan perawatan gigi oleh
dokter/perawat gigi.

13.Compresor AIR BILAS


Alat yang berfungsi memberikan tekanan udara pada alat dental unit

AIR HANDPIECE

SUMBER TEGANGAN KONTROL PNEUMATIK SALIVA EJECTOR

2.9 BLOG DIAGRAM


UDARA TEKAN
SPRAYER

KONTROL MOTOR ELEKTRIK DENTAL CHAIR


2.10 PRINSIP KERJA ALAT
Sistem Kerja Dental Unit
Seiring dengan makin kompleksnya pelayanan kedokteran gigi, profesi di bidang
ini turut ikut berkembang. Bila dahulu cukup hanya dokter gigi saja yang
memberikan pelayanan, kini di negara-negara maju seperti Amerika Serikat,
pelayanan diberikan oleh sebuah tim yang terdiri dari Dentist, Dental Hygienist,
Dental Assistant, dan Dental Technician. Dentist adalah dokter gigi yang
memberikan pelayanan kedokteran gigi. Dental Hygienist bertugas mengisi
Rekam Medis, serta melakukan tindakan Preventive Dentistry seperti
membersihkan karang gigi secara mandiri. Dental Assistant bertugas sebagai
asisten yang membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan,
mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta mengatur cahaya lampu selama
suatu prosedur perawatan sedang dilakukan. Dental Technician berkerja di
Laboratorium, membuat protesa dan alat bantu yang akan dipasang di mulut
pasien4. Di Indonesia kondisinya sedikit berbeda, hanya dikenal 2 profesi
kesehatan gigi diluar dokter gigi yaitu Perawat Gigi dan Tekniker Gigi. Perawat
Gigi bertugas seperti Dental Assistant dan Dental Hygienist, sedangkan Tekniker
Gigi bertugas sama seperti Dental Technician. Pada saat suatu pelayanan
kedokteran gigi dilakukan hanya akan ada 2 orang yang berada disekitar pasien
yaitu Dokter Gigi dan Perawat Gigi. Tugas kedua orang ini berbeda namun saling
mendukung, ini kemudian melahirkan istilah Four Handed Dentistry. Konsep
Four Handed Dentistry telah diadopsi oleh para produser pembuatan dental unit,
sehingga saat ini seluruh dental unit yang dibuat selalu dilengkapi dengan sisi
Dental Asistant disebelah kiri pasien. Oleh karena itulah konsep Four Handed
Dentistry menjadi dasar dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi.

Jalur Kerja dan Pergerakan Dental Unit


Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona
kerja disekitar Dental Unit yang disebut Clock Concept. Bila kepala pasien
dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang kepala pasien, maka arah
jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4 disebut
Assistens Zone, arah jam 4 sampai jam 8 disebut Transfer Zone, kemudian dari
arah jam 8 sampai jam 11 disebut Operators Zone sebagai tempat pergerakan
Dokter Gigi.

Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat
Gigi serta tidak terlihat oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen
Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen Tangan serta peralatan yang
dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan
Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan Semprotan Air/Angin
dan Penghisap Ludah, serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap.
Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan dipertukarkan antara tangan
dokter gigi dan tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai tempat
pergerakan Dokter Gigi.
Selain pergerakan yang terjadi di seputar Dental Unit, pergerakan lain
yang perlu diperhatikan ketika membuat desain tata letak alat adalah pergerakan
Dokter Gigi, Pasien, dan Perawat Gigi di dalam ruangan maupun antar ruangan.
Jarak antar peralatan serta dengan dinding bangunan perlu diperhitungkan untuk
memberi ruang bagi pergerakan Dokter Gigi, Perawat Gigi, dan Pasien ketika
masuk atau keluar Ruang Perawatan, mengambil sesuatu dari Dental Cabinet,
serta pergerakan untuk keperluan sterilisasi.

2.11 PROSEDUR PENGOPERASIAN ALAT


a. Hidupkan micromotor handpiece dengan cara mengatur kecepatan putaran, mulai
dari putaran rendah sampai dengan putaran yang tinggi. Untuk micromotor
handpiece yang dilengkapi dengan pengatur kecepatan ( foot switch control ), periksa
kecepatan putaran mata bor dengan merubah foot switch dengan merubah foot switch
dan periksalah apakah air keluar dari ujung handpiece pada waktu mata bor berputar.
b. Hidupkan Syringe/sprayvit dengan cara menekan tombol pada handpiece baik untuk
tekanan air maupun untuk tekanan udara.
c. Hidupkan turbine air jet handpiece dengan cara mengatur kecepatan putaran mulai
dari putaran rendah sampai putaran tinggi. Periksa apakah bersih keluar dari ujung
handpiece pada waktu mata bor berputar.
d. Operasikan suction injector dengan cara menekan tombol pada handpiece injector,
kemudian celupkan ujung injector ke dalam gelas yang berisi air bersih dan lakukan
pengisapan.
e. Gerakkan dental chair dengan cara menekan tombol/sakelar yang tersedia sesuai
fungsinya, yaitu gerakan naik turun, gerakan sandaran badan dan gerakan sandraran
kepala.
f. Hidupkan lampu dengan cara menekan tombol on
g. Setelah seluruh kegiatan selesai, maka lakukan pengemasan alat kembali.
h. Matikan lampu periksa
i. Kembalikan posisis dental chair
j. Matikan kran air dan compressor. Kemudian lakukan pembuangan sisa udara dalam
tangki compressor
k. Matiakan saklar utama dental unit
l. Lepaskan mata bor dari handpiece dan kembalikan pada tempat yang tersedia.

BAB III
PERBAIKAN DAN PEMELIHARAAN ALAT

3.1 TROUBLESHOOTING PADA ALAT YANG SERING TERJADI


Keluhan pesawat
Alat tidak hidup
Analisa kerusakan/penanganan
Periksa alat kalau sudah terhubung dengan sumber
tengangan/PLN dengan baik
Kabel putus
Cek fuse pada alat apakah sudah putus atau masih bagus
Keluhan pesawat
Air dan udara pada alat ditidak dapat keluar
Analisa kerusakan/penanganan
Periksa selang air dan udara apakah sudah bocor atau
putus
Lihat selang apakah sudah putus
Cek selang udara apakah sudah tersambung dengan
kompersor
Keluhan pesawat
Kursi pasien tidak mau naik
Analisa kerusakan/penanganan
Cek pompa hindrolit pada alat apakah berfungsi atau tidak
Cek Kabel pada alat hindrolit

3.2 PERBAIKAN APABILA TERJADI KERUSAKAN PADA ALAT


Kerusakan
Alat tidak hidup
Perbaikan
Periksa alat kalau sudah terhubung dengan sumber
tengangan/PLN dengan baik
Mengganti fuse pada alat apabila sudah putus
Menyambungkan atau mengganti baru kabel yang putus
baru kabel yang putus
Keluhan pesawat
Air dan udara pada alat ditidak dapat keluar
Perbaikan
Mengganti selang air dan udara dengan selang baru

3.3.PEMELIHARAAN ALAT
Perawatan dan pengecekan pada Dental Unit perlu dilakukan minimal 3bulan
sekali tergantung pada frekuensi operational Dental Unit tersebut. Mulai dari
membersihkan dan lubricating handpiece dan check rotary, check vacuum sytem
pada sistem pembuangan, periksa kebocoran pada instalasi Dental Unit, ataupun
masalah kontrol electrical pada dental chair maupun handpiece control untuk
pemeliharaan tahunan dilakukan kalibrasi oleh BPFK atau lembaga swasta yang
menjamin mutu alat keshatan.

1. Persiapan bahan pemeliharaan:

a. Tool set

b. Kain lap halus


c. Contack cleaner

d. Lubrican pelumas

e. Kuas

2. Tata laksana :

a. Periksa kelengkapan alat seperti ada tidaknya dental chair,film


viewer,hand piece,scaler,kompresor,canula suction..

b. Periksa steker listrik beserta catu daya PLN dengan menggunakan


multitester listrik yang besarnya kurang lebih 220 VAC.

c. Periksa pembumian listrik dengan menggunakan mulititester .

d. Pastikan alat tidak terhubung ke catu daya PLN kemudian lakukan


pembersihan alat dental unit dimulai dari chasing , arm,dental
chair,handpiece, dari debu & kotoran dengan menggunakan lap basah
kemudian keringkan dengan lap kering.

e. Lakukan pula pembersihan filter suction,bersihkan dari kotoran plak.

f. Buanglah kondensasi air pada kompresor angin dengan membuka katup


pembuang air dibagian canula kompresor.

g. Periksa fungsi sistem alat dental unit dengan mengoperasikan alat


tersebut

3.4 SOP (STANDART OPERATIONAL PROSEDUR).


a. Hidupkan Syringe/sprayvit dengan cara menekan tombol pada handpiece baik untuk
tekanan air maupun untuk tekanan udara.
b. Hidupkan micromotor handpiece dengan cara mengatur kecepatan putaran, mulai
dari putaran rendah sampai dengan putaran yang tinggi. Untuk micromotor
handpiece yang dilengkapi dengan pengatur kecepatan ( foot switch control ), periksa
kecepatan putaran mata bor dengan merubah foot switch dengan merubah foot switch
dan periksalah apakah air keluar dari u jung handpiece pada waktu mata bor berputar.
c. Hidupkan turbine air jet handpiece dengan cara mengatur kecepatan putaran mulai
dari putaran rendah sampai putaran tinggi. Periksa apakah bersih keluar dari ujung
handpiece pada waktu mata bor berputar.
d. Operasikan suction injector dengan cara menekan tombol pada handpiece injector,
kemudian celupkan ujung injector ke dalam gelas yang berisi air bersih dan lakukan
pengisapan.
e. Gerakkan dental chair dengan cara menekan tombol/sakelar yang tersedia sesuai
fungsinya, yaitu gerakan naik turun, gerakan sandaran badan dan gerakan sandraran
kepala.
f. Hidupkan lampu dengan cara menekan tombol on
g. Setelah seluruh kegiatan selesai, maka lakukan pengemasan alat kembali.
h. Matikan lampu periksa
i. Kembalikan posisis dental chair
j. Matikan kran air dan compressor. Kemudian lakukan pembuangan sisa udara dalam
tangki compressor
k. Matiakan saklar utama dental unit
l. Lepaskan mata bor dari handpiece dan kembalikan pada tempat yang tersedia.

BAB V
Kesimpulan

Dental Unit adalah salah satu alat yang sangat penting dalam ilmu kedokteran gigi. Dan
dengan perkembangannya Dental Unit semakin dibutukan disemua kalangan.Namun dengan
berkembangnya jaman, teknologi yang ada akan semakin maju. Oleh karena itu, perlunya
pemahaman tentang Teknologi-teknologi maju yang tidak luput dari Prinsip-prinsip dasar alat
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Dougherty, M. Information for Consideration in an Ergonomic Standard for Dentistry.


2. Design by Feel Papers. www.designbyfeel.com. Diakses 4 Juli 2006.
3. Murdick, B. dkk. Service Operation Management. Boston : Allyn and Bacon. 1990.
4. Heizer, J. dan B. Render. Operation Management. Sixth Edition. Upper Saddle River :Prentice
Hall.
Penutup

Terima kasih kepada Tuhan yang maha Esa karena atas rahmat dan karunianya

dapat terselesaikan laporan ini,dan juga saya berterima kasih kepada dosen mata kuliah

peralatan diagnostik dasar yang telah banyak membantu dalam pembuatan laporan

pratikum ini dan juga teman teman yang telah menberikan masukkan untuk pembuatan

laporan praktikum peralatan diagnostik dasar ini.

Semoga dengan laporan pratikum ini dapat membuka wawasan dan dapat memberi

informasi kepada yang memerlukan tentang peralatan diagnostik dasar pada pelayanan
kesehatan baik dirumah sakit maupun diklinik. Bila masih ada kekurangan harap

dimaklumi dan mohon masukkan yang dapat berguna bagi kami untuk pengembangan

selanjutnya.