Anda di halaman 1dari 5

ARTIKEL SOSIOLOGI HUKUM

Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi dapat dipastikan akan
mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan. Adanya perubahan tersebut
akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbandingan dengan menelaah
suatu masyarakat pada masa tertentu dan kemudian kita bandingkan dengan
keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan yang terjadi di dalam
masyarakat, pada dasarnya merupakan suatu proses yang terjadi terus menerus.
Dalam artian bahwa bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami
perubahan.
Tetapi perubahan yang terjadi antara masyarakat yang satu dengan masyarakat
yang lain tidak selalu sama. Hal ini dikarenakan adanya suatu masyarakat yang
mengalami perubahan yang lebih cepat bila dibandingkan dengan masyarakat
lainnya. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan-perubahan yang tidak
menonjol atau tidak menampakkan adanya suatu perubahan. Juga terdapat adanya
perubahan-perubahan yang memiliki pengaruh luas maupun terbatas. Di samping
itu ada juga perubahan-perubahan yang prosesnya lambat, dan perubahan yang
berlangsung dengan cepat.

Sosiologi hukum adalah cabang kajian sosiologi, yakni ilmu yang mempelajari
hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, antara
gejala sosial dan gejala non sosial dan ciri- ciri umum semua jenis gejala sosial. 1
[1]
Dalam sosiologi hukum, tidak hanya mempelajari tentang hukum yang berlaku
secara murni (hukum normatif), tetapi lebih pada hukum yang berlaku di
masyarakat umum. Dimana, lebih pada realita masyarakat dalam merespon
hukum- hukum yang berlaku di sekitar masyarakat itu sendiri.
Menurut Soerjono Soekanto, perubahan sosial adalah segala perubahan pada
lembaga kemasyarakatan di dalam masyarakat, yang mempengaruhi sistem

1 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT. Rajagrafindo


Persada, 1982,) h. 17.
sosialnya, termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok
masyarakat. Pada umumnya suatu perubahan di bidang tertentu akan
mempengaruhi bidang lainnya. Maka dari itu jika diterapkan terhadap hukum
maka sejauh manakah perubahan hukum mengakibatkan perubahan pada bidang
lainnya.2[5] Adapun Kingsley Davis, berpendapat bahwa perubahan sosial adalah
perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
Salah satu sosiolog hukum yang membahas tentang pandangannya terhadap
sosiologi hukum adalah:
Emile Durkheim:
Adalah ilmuan sosiolog dari Prancis. Lahir tahun 1858 dan meninggal tahun
1917. Ayah dan kakeknya adalah rabi. Sejak kecil sudah mengikuti tradisi
keluarganya menjadi seorang rabi, namun pada akhirnya ia meninggalkan tradisi
ini. Diperkirakan karena pengalaman mistik, ia masuk agama Katolik. Tetapi
kemudian ia meninggalkan agama katoliknya dan menjadi seorang agnostik.
Masalah dasar dan titik fokusnya terhadap masyarakat menjadi studinya hingga
akhir hayatnya. Dia juga diakui sangat mahir dalam bidang ilmu hukum dan
filsafat positif.3[2]
Menurut Durkheim, hukum sebagai cerminan solidaritas.
Solidaritas disini terbentuk karena adanya rasa saling merasakan satu dengan
yang lain. Keterkaitan yang terbentuk karena adanya interaksi sosial yang
dilakukan. Dan salah satu bentuk solidaritas masyarakat yang adalah peraturan
yang ada di sekitar ruang lingkup masyarakat itu sendiri.
Menurut Emile Durkheim, jenis solidaritas ada 2:
1. Mekanis : - masyarakatnya cenderung homogen.
Cenderung mempunyai aktifitas kerja yang sama.
- Merupakan golongan masyarakat paguyuban.
Hubungan bermasyarakatnya erat
- Hukum diwujudkan secara Represif

2 Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Rajawali Pers, Jakarta,


2012, hlm. 101
3 Yesmil Anwar dan Adang, Pengantar Sosiologi Hukum (Jakarta: PT. Grasindo,
2007), h. 28
Biasanya wujud penghukuman bersifat balas dendam, dimana pelaku kejahatan
dihukumi setimpal dengan tindak kejahatannya oleh masyarakat lalu baru
kemudian diserahkan pada lembaga berwenang.
2. Organis : - masyarakatnya cenderung heterogen
Cenderung mempunyai aktifitas kerja yang berbeda.
- Merupakan golongan masyarakat patembayan.
Hubungan bermasyarakatnya renggang.
- Hukum diwujudkan secara Restitutif.
Pemulihan keadaan, penyelesaian masalah langsung ke lembaga berwenang.

Di mana ada masyarakat di situ ada hukum, merupakan adegium yang sering
kali diungkapkan oleh para ahli hukum. Maksud dari ungkapan tersebut adalah
karena dalam kehidupannya manusia senantiasa selalu mempunyai hasrat untuk
hidup bersama. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri, Aristoteles pernah
mengatakan bahwa manusia itu adalah zoon politicon, yang artinya bahwa
manusia itu sebagai makhluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan
sesama manusia lainya. Oleh karena sifatnya itu manusia disebut sebagai makhluk
sosial.4 [7]
Berbeda dengan Aristotoles, seorang ahli filsafat Inggris bernama Thomas
Hobbes[8] berusaha melahirkan sebuah tesis bahwa manusia terlahir dengan sifat
yang biadab, yakni hidup liar bagaikan serigala. Kehidupan liar ini terlihat di
dalam gambaran Hobbes, bahwa siapa yang kuat maka dialah yang menang.
Dengan adegium Homo Homini Lupus yang berarti, manusia yang satu adalah
serigala bagi manusia yang lain. Hobbes kemudian mengajukan teorinya bahwa
meskipun manusia hidup bagaikan serigala bagi manusia lain, tetapi pada suatu
ketika mereka juga berusaha untuk menyatukan kekuatan untuk menghadapi
serangan dari manusia lain. Kehidupan kelompok ini merupaka embrio kelahiran
suatu bentuk masyarakat meskipun berkembang dalam suasana saling menyerang.
[9]

4 Wasis S.P, Pengantar Ilmu Hukum, UMM Pres, Malang, 2002, Hlm 5.
Menyambung dari pendapat kedua filsuf di atas dapat disimpulkan bahwa
setiap manusia mempunyai sifat, watak, dan kehendak yang berbeda-beda. Di
dalam hubungan dengan sesama manusia dibutuhkan adanya kerjasama, tolong
menolong dan saling menbantu untuk memperoleh keperluan kehidupannya.
Kalau kepentingan tersebut selaras maka keperluan masing-masing akan mudah
tercapai. Tetapi kalau tidak malah akan menimbulkan masalah yang menganggu
keserasian. Apabila kepentingan tersebut berbeda, maka yang kuatlah yang akan
berkuasa dan menekan golongan yang lemah untuk memenuhi kehendaknya.

CONTOH KASUS:
Tidak lama ini ada kejadian kecelakaan disekitar rumah saya dikawasan Ds.
Doroampel Kec. Sumbergempol kab. Tulungagung. Kecelakaan tersebut
melibatkan dua pengendara sepeda motor, dari arah berlawanan. Dari arah utara
adalah seorang laki- laki yang berusia paruhbaya, sedangkan dari arah selatan
laki- laki berusia sekitar 20 an, terlihat pemuda tersebut adalah seorang
mahasiswa. Dilihat dari kartu identitasnya.Kontan keadaan tersebut menarik
perhatian masyarakat sekitar.
Kronologi kejadian menurut masyarakat sekitar sebagai berikut: Keadaan
jalan tergolong sedang sepi. Setelah diamati ternyata pria paruhbaya tersebut
diketahui berkendara dalam keadaan mabuk. Keadaan tersebut langsung
memancing amarah masyarakat.hampir saja masyarakat menghakimi pria
paruhbaya tersebut, untung saja tindakan tersebut berhasil di cegah oleh ketua RT
setempat yang langsung datang ke tempat kejadian setelah mendengar kabar ada
kejadian kecelakaan tersebut.
Kedua pengendara sama- sama dalam keadaan luka parah. Tetapi
masyarakat cenderung menolong pemuda berusia 20 an tersebut dan membiarkan
pria paruhbaya tersebut diseberang jalan, dan memilih menunggu
kedatangan polisi yang mengurus pria paruhbaya tersebut.

Dapat diketahui bahwa masyarakat sekitar tersebut merupakan masyarakat


yang tergolong masyarakat dengan sifat paguyuban, selain jiwa sosialnya yang
kuat. Juga masyarakatnya yang dominan represif. Ada wujud sikap balas dendam
terhadap pengendara yang mabuk tersebut dan lebih menolong pemuda tersebut.
Sambil menunggu polisi tiba ditempat kejadian.