Anda di halaman 1dari 13

Sistem Endokrin

72

6
6

SISTEM ENDOKRIN

Organ kelenjar pada serangga tersusun lebih dari satu sel yang mensekresi- kan substansi yang diperlukan atau yang harus dibuang dari tubuh. Ada dua tipe utama struktur sekretori. Pertama adalah organ eksokrin, yaitu merupakan organ yang dilengkapi dengan kurang lebih sebuah saluran dan menyalurkan sekresi keluar tubuh atau ke dalam lumen pada salah satu isi rongga perut. Kedua adalah organ endokrin, yaitu merupakan organ yang tidak mempunyai saluran khusus, hasil sekresinya (hormon) biasanya terdifusi ke dalam darah yang akan membawanya ke seluruh bagian-bagian tubuh. Dalam bab ini hanya akan dibicarakan mengenai sistem endokrin.

Organ endokrin dibagi menjadi dua, yaitu sel-sel neurosekretori di dalam susunan syaraf pusat dan kelenjar endokrin khususnya. Sel-sel neurosekretori, yang mana mungkin merupakan modifikasi syaraf-syaraf motor, membentuk suatu jalinan antara sistem endokrin dan sistem syaraf. Dua tipe organ tersebut menghasilkan hormon-hormon yang umumnya dilepas secara langsung atau tak langsung melalui organ-organ penyimpanan ke dalam darah, tetapi dalam beberapa hal hormon-hormon yang dihasilkan oleh sel-sel neurosekretori dibawa ke organ yang dituju sepanjang axon-axon sel. Rangsangan syaraf umumnya menyebabkan pelepasan hormon-hormon. Dalam beberapa keadaan rangsangan ini hampir dipastikan bahwa hormon-hormon bekerja secara langsung pada inti sel-sel yang dituju sehingga perubahan biokimia dapat terjadi di dalam sel-sel, tetapi dalam hal lain pengaruh hormon adalah secara tak langsung.

Hormon serangga ada banyak dan bermacam-macam dalam memberikan pengaruhnya dan hormon-hormon yang sama dari suatu organ tunggal dapat memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Aktifitas-aktifitas yang dipengaruhi homon antara lain, molting, metamorfosis, reproduksi oocyte, perubahan warna dan ritme aktifitas harian.

Sistem Endokrin

73

A. STRUKTUR ORGAN-ORGAN ENDOKRIN

Organ-organ endokrin pada dasarnya terbagi menjadi dua macam yaitu sel-sel neurosekretori yang terdapat dalam susunan syaraf pusat dan kelenjar- kelenjar endokrin khususnya seperti, corpora cardiaca, corpora allata, dan glandula prothoracic.

1. Sel-sel neurosekretori.

Sel-sel neurosekretori biasanya terdapat di dalam ganglia susunan syaraf pusat dan dalam corpora cardiaca. Sel neurosekretori merupakan neuron-neuron khusus yang menunjukkan isyarat-isyarat elektrik pada aktifitas syaraf dan juga memiliki fungsi-fungsi endokrin. Sel-sel tersebut coraknya mirip sel-sel syaraf axon, tetapi secara sitologi menunjukkan perbedaan sekresi yang dihasilkan. Sekresinya berbentuk granulair dengan sifat-sifat pewarnaan yang khas dan granul-granul ini akan berjalan sepanjang axon-axonnya.

Sejumlah bahan granulair di dalam sel pada suatu saat merupakan akibat suatu keseimbangan antara jumlah kecepatan yang diproduksi dan kecepatan yang dihasilkan.

Aktifitas endokrin pada sel-sel dapat menghasilkan hormon yang bekerja langsung pada organ-organ efektor atau dapat bekerja pada organ-organ endokrin lainnya, dalam hal ini terjadi rangsangan untuk menghasilkan hormon. Jadi sel- sel neurosekretori bekerja sebagai jembatan antara susunan syaraf dan kelenjar endokrin.

Pada susunan syaraf terdapat banyak sel-sel neurosekretori, namun tidak semuanya menghasilkan hormon, dan yang dapat menghasilkan antara lain : sel- sel neurosekretori pada otak dan sel-sel neurosekretori pada ganglia lainnya.

a. Sel-sel neurosekretori pada otak

Ada dua kelompok sel neurosekretori pada setiap sisi otak. Kelompok pertama adalah terletak pada “pars intercerebralis”, dekat garis tengah. Axon dari

Sistem Endokrin

74

sel-sel ini berjalan ke belakang melalui otak, dan beberapa atau semuanya menyeberang ke sisi yang berlawanan, keluar dari otak sebagai suatu syaraf yang berjalan ke belakang menuju corpus cardiacum dan disinilah kebanyakan benang- benang syaraf berakhir, tetapi beberapa ada yang melewati corpus cardiacum menuju ke corpus allatum (Gambar 33).

Kelompok yang kedua letaknya bervariasi yang kadang-kadang berada pada bagian tengah dari corpora pedunculata, tetapi kadang-kadang terdapat diantara bagian paling belakang dari corpora pedunculata dan optic lobes.

Hasil-hasil sel neurosekretori pada otak berjalan sepanjang axon-axon, biasanya ke corpora cardiaca atau corpora allata dan disini hasil tersebut dapat disimpan atau dilepaskan. Sekresi sel-sel neurosekretori pada pars intercerebralis memacu fungsi kelenjar protoracic, merangsang sintesa protein dan kemungkinan mengendalikan hilangnya air, perkembangan telur dan aktifitas serangga.

b. Sel-sel neurosekretori pada ganglia lainnya.

Sebagian besar sel neurosekretori terjadi dalam ganglia ventral pada nerve-cord. Pada Bombyx mori, ganglia otak pada Scistocerca sp. tidak demikian. Tipe-tipe sel yang berbeda tersebar secara luas di dalam ganglia yang berbeda, tetapi beberapa tipe terbatas pada ganglia tertentu. Sekresi dari sel-sel tersebut akan berjalan sepanjang penghubung interganglionic ke berbagai arah dan juga ke arah luar melalui syaraf-syaraf peripheral. Diduga hasil-hasil sekresi dilepaskan ke dalam darah, tetapi ada juga yang dibawa langsung ke organ-organ efektor.

2. Corpora cardiaca.

Corpora cardiaca (corpora paracardiaca, post cerebral atau pharyngeal “ganglia”) merupakan sepasang organ yang seringkali berhubungan erat dengan aorta, di belakang otak. Masing-masing dihubungkan ke protocerebrum oleh sepasang syaraf dan ke hypocerebral ganglion pada susunan stomatogastric oleh syaraf tunggal dan kedua kelenjar sering menunjukkan sedikit penyatuan dibagian

Sistem Endokrin

75

tengah. Pada serangga-serangga tingkat tinggi seperti Lepidoptera, Coleoptera dan beberapa Diptera, corpora cardiaca terpisah dari aorta (terdapat batas yang jelas). Corpora cardiaca diketahui tidak terdapat pada Collembola. Corpora cardiaca adalah merupakan organ neurohaemal yang mengandung ujung-ujung axon dari sel neurosekretori pada otak dan axon lainnya masuk menembus corpora allata dan isi rongga perut lainnya.

Corpora cardiaca dapat menyimpan dan melepas hormon dari sel-sel neurosekretori pada otak yang kepadanya dihubungkan oleh satu atau dua pasang syaraf. Corpora cardiaca pada Pterigota juga mengandung sel-sel neurosekretori intrinsik (parenchymal cells) dan interstitial, merupakan jaringan yang menyerupai glia (glia-like tissue), sehingga corpora cardiaca tidak hanya menyimpan dan melepas bahan-bahan (hormon) dari sel neurosekretori cerebral tetapi juga dari kelenjar-kelenjar endokrin yang sebenarnya dimiliki. Sel-sel sekretori intrinsik menghasilkan hormon yang penting bagi pengaturan denyut jantung dan memberikan pengaruh fisiologis lainnya. Kadang-kadang sel penyimpanan dan sel sekretori tercampur (bercampur baur), tetapi pada Schistocerca sp. (Gambar 34) dan beberapa Heteroptera, satu bagian corpus cardiacum berkepentingan dengan sekresi dan bagian lain berkepentingan dengan penyimpanan.

3. Corpora allata.

Organ ini terletak secara lateral di belakang otak, biasanya dekat corpora cardiaca, dan terdapat pada semua serangga. Corpora allata merupakan badan- badan glandular, biasanya ada satu pada setiap sisi oesophagus (Gambar 33) tetapi pada Diptera tingkat tinggi mungkin akan terdifusi atau bergabung menjadi satu organ. Masing-masing dihubungkan dengan corpus cardiacum pada sisi yang sama oleh benang-benang syaraf dari sel neurosekretori otak. Disamping itu ada syaraf-syaraf halus yang menghubungkan setiap corpus allatum dengan suboesophageal ganglion. Secara histologi ada dua tipe utama yaitu tipe vesicular merupakan susunan dinding epithelial dengan suatu pusat, kurang lebih daerah

Sistem Endokrin

76

vacuolar sedang yang lain merupakan padatan dan mungkin berbeda dalam cortex dan medulla.

Corpora

allata

menghasilkan

juvenile

hormone

yang

mengatur

metamorfosis dan deposisi yolk di dalam telur.

4. Glandula prothoracic.

Glandula ini merupakan struktur-struktur yang berpasangan, juga diketahui sebagai glandula thoracic, glandula pericardial, glandula ecdysial atau glandula ventral, rupanya timbul sebagai epithelial invaginations pada segmen labial kepala. Organ tersebut terdapat di bagian belakang kepala atau pada thorax (Gambar 33), tetapi pada Thysanura terdapat pada pangkal labium. Setiap glandula mempunyai hubungan informasi dengan tracheal dan seringkali dengan syaraf, tetapi hal tersebut tidak terdapat pada beberapa Heteroptera dan Coleoptera.

optic lobe pars intercerebralis median neurosecretory cells corpus pedunculatum lateral neurosecretory cells axon of
optic lobe
pars intercerebralis
median neurosecretory cells
corpus pedunculatum
lateral neurosecretory cells
axon of neurosecretoy cells
aorta
corpus cardiacum
cut end of aorta
hypocerebral ganglion
corpus allatum
oesophagus
circumoesophageal connective
prothoracic glands
suboesophageal ganglion
groups of neurosecretoy cells
interganglionic connective

Gambar 33. Diagram adanya hubungan pada organ-organ endokrin

Sistem Endokrin

77

Sistem Endokrin 77 lumen of aorta part of storage lobe of corpus cardiacum secretory lobe of

lumen of aorta

part of storage lobe of corpus cardiacum

secretory lobe of corpus cardiacum

Gambar 34. Potongan melintang melalui bagian posterior corpora cardiaca pada Schistocerca.

Alat ini mempunyai daur perkembangan yang berhubungan dengan

sekresi. Dalam keadaan isterahat, nuklei berbentuk oval dan kecil, tetapi dalam

keadaan aktif akan menggembung bulat dan lebih besar, dan sitoplasma berwarna

lebih gelap. Sejumlah mitokondria di sekeliling inti juga membesar dan

endoplasmic reticulum akan lebih mengembang. Mula-mula sintesa RNA

dipindahkan dengan kuat ke dalam inti dan kemudian RNA dimasukkan ke dalam

sitoplasma dimana sintesa protein terjadi. Hal tersebut agaknya menggambarkan

produksi ensim-ensim yang berhubungan dengan sintesa ecdyson (moulting

hormone). Glandula ini akan berhenti menghasilkan hormon bila serangga telah

dewasa.

5. Glandula cincin (Weissman’s Ring)

Pada larva golongan Cyclorhapa (Diptera), glandula cincin mengelilingi

aorta tepat di atas otak (Gambar 35). Alat ini dibentuk dari corpora allata, corpora

Sistem Endokrin

78

Glandula cincin

dihubungkan ke otak oleh sepasang syaraf dan juga dengan syaraf penghubung

yang lain.

cardiaca dan glandula protoracic yang kesemuanya menyatu.

cardiaca dan glandula protoracic yang kesemuanya menyatu. corpus allatum allatal nerve aorta prothoracic gland corpus

corpus allatum

allatal nerve

aorta

prothoracic gland

corpus cardiacum

hypocerebral

ganglion

Gambar 35. Glandula cincin pada awal pupa Eristalis (Diptera). Disini glandula cincin menyatu dengan hypocerebral ganglion, tetapi tidak selalu demikian.

B. HORMON

Hormon pada serangga ada banyak dan pengaruh yang ditimbulkannyapun

bermacam-macam, sedang hormon yang berasal dari satu organpun dapat

memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula.

1. Penyebaran Hormon

Hormon yang dihasilkan dalam sel neurosekretori dilepas melalui axon

pada sel-sel tersebut sebagai akibat adanya aliran intra-axonal pada sitoplasma

atau melalui pembuluh-pembuluh kecil yang memanjang pada axon. Dengan cara

Sistem Endokrin

79

ini hormon dapat berjalan secara langsung ke organ yang dituju atau mungkin akhirnya dilepas ke dalam darah.

Organ-organ neurohaemal (corpora cardiaca) mungkin terlibat atau mungkin juga tidak dalam hal pelepasan hormon ke dalam darah. Misalnya, Corpora cardiaca dapat bertindak sebagai pelepas dan kadang-kadang untuk menyimpan hormon otak, dan posisi organ tersebut yang dekat dengan aorta dapat memudahkan penyebaran hormon. Dilain pihak, pada Nebria (coleoptera) beberapa axon neurosekretori terdapat pada ujung otak dekat dengan ujung depan aorta, sehingga sekresinya disebarkan tanpa intervensi corpora cardiaca.

Hormon-hormon dari glandula prothoracic dan corpora allata dihasilkan dalam sel-sel glandular dan diangkut secara langsung ke dalam darah.

Hormon dapat ditransport dari organ asalnya ke organ sasaran atau yang dituju atau tempat pelepasan pada channel di dalam membrane jaringan penghubung. Misal, channel dalam membran basal glandula cincin pada larva Sarcophaga yang berhubungan dengan jaringan penghubung, sehingga sekresi dapat dibawa secara langsung dari glandula cincin ke jantung dan juga ke dalam darah pada suatu tempat dimana siap untuk disebarkan.

2. Kerja Hormon

Sebenarnya kerja hormon belum diketahui dengan baik. Ecdyson secara cepat terkumpul di dalam inti sel epidermal dan kemungkinan hormon tersebut akan bekerja secara langsung dalam inti. Perubahan aktivitas biokimia dalam sel pada saat moulting dapat disebabkan oleh aktivasi diferensial atau perbedaan penekanan perangkat gen oleh ecdyson.

Pada keadaan normal, gen-gen tidak aktif menghasilkan RNA sebab aktivitasnya dihambat oleh repressor. Pengaruh hormon adalah membebaskan gen dari repressi sehingga messenger RNA dihasilkan, dan kemudian akan masuk ke dalam sitoplasma dan sintesa protein terjadi.

Sistem Endokrin

80

Juvenil hormone juga diketahui bekerja pada aras seluler dan karena jumlah yang ada merupakan hal yang penting, hal ini menunjukkan bahwa juvenil hormone berperanan pada beberapa bagian kuantitatif dalam metabolisme. Susunan ensim dalam sel harus dianggap suatu perangkat sifat-sifat, dengan adanya juvenil hormone maka akan membawa ke perkembangan yang berkarakter larva dan tidak adanya juvenil hormone, akan mengakibatkan perkembangan karakter dewasa.

3. Struktur Hormon

Ecdyson merupakan suatu steroid dan kemungkinan diperoleh dari cholesterol atau semacam steroid yang didapatkan dari makanan, karena diketahui serangga tidak dapat mensintesa steroid.

Juvenil hormone, kemungkinan merupakan nonsterolic lipid. Terpenefarnesol diketahui menghasilkan pengaruh yang sama sebagaimana juvenil hormone dan terdapat pada serangga. Oleh karena itu dianggap bahwa juvenil hormone adalah farnesol atau suatu derivatnya.

4. Fungsi Hormon

a. Pertumbuhan dan moulting

Pertumbuhan pada serangga dibatasi oleh kekerasan kutikula, sehingga harus ada penanggalan kutikula dari waktu ke waktu jika pertumbuhan berikutnya

terjadi. Oleh karena itu pertumbuhan dan pergantian kulit (moulting) mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebelum moulting sel-sel epidermal dan sel-sel pada beberapa jaringan lainnya, seperti otot-otot sternal intersegmental pada Rhodnius, akan menjadi aktif. Nukleolinya membesar, RNA di dalam sitoplasma meningkat dan mitokondria bertambah ukuran dan jumlahnya. Perubahan diawali oleh sekresi dari median neurosecretory cell yang masuk ke corpora cardiaca dan

kemudian dibebaskan ke dalam darah.

Sekresi akan merangsang glandula

Sistem Endokrin

81

prothoracic untuk menghasilkan moulting hormone (ecdyson), yang mengawal perubahan dalam sel-sel sehubungan dengan ecdysis.

Pada dasarnya kejadian tersebut diakibatkan dari aktivitas makan. Pada Locusta, bidang receptor dalam dinding pharyngeal akan dirangsang selama makan dan akan menyebabkan pelepasan hormon otak. Akumulasi hormon otak hingga mencapai konsentrasi cukup tinggi akan merangsang glandula prothoracic sehingga menyebabkan pergantian kulit atau moulting.

b. Diapause.

Diapause dapat diakibatkan dari gangguan aktifitas endokrin otak, sehingga hormon tidak tersedia. Ada pendapat yangmengatakan bahwa diapause pada beberapa larva serangga secara aktif diatur oleh adanya hormon yang disekresikan oleh corpora allata, hormon ini kemungkinan akan menghambat sekresi hormon otak.

Diapause tidak selalu tergantung dengan tidak adanya hormon otak, tetapi juga tergantung pada suhu dan kondisi pencahayaan. Sebagai contoh adalah diapause yang terjadi pada telur Bombyx race bivoltine. Diapause pada serangga dewasa diakibatkan dari inaktivasi corpora allata yang secara normal bertanggung jawab terhadap kemasakannya dan gangguan kemasakan itu karena perilaku serangga itu sendiri.

c. Metamorphosis

Serangga selalu mengalami pergantian kulit atau ecdysis dan terjadi perubahan bentuk dari tubuhnya. Misalnya pada metamorfosa hemimetabol dan holometabol, disini terjadi perubahan-perubahan yang sempurna yang biasanya dihubungkan dengan perkembangan sayap, menjadi serangga dewasa. Disini terlihat adanya suatu perkembangan tingkat larva pada akhir ecdysis dengan adanya differensiasi.

Ada dua tipe differensiasi : (a) Karena juvenil homone yang dihasilkan

Differensiasi tingkat larva yang

selama instar larva, kecuali pada tingkat akhir.

Sistem Endokrin

82

karakteristik membawa perubahan-perubahan dan secara berturut-turut terjadi moulting meskipun tergantung jumlah moulting hormone yang dihasilkan pada waktu-waktu tertentu terutama terjadi pada tingkat larva. (b) Selanjutnya ada tingkat perkembangan sebagai hasil pengurangan konsentrasi juvenil hormone selama fase pertumbuhan. Corpora allata bertambah besar tetapi pada instar larva terakhir konsentrasi juvenil hormone lebih kecil dari pada tingkat awal.

d. Polymorphism

Polimorfisme

pada

serangga

dewasa

ditunjukkan

perbedaan pada keseimbangan hormon.

oleh

perbedaan-

Ketidak seimbangan hormon dapat terjadi dengan dua cara, pengaruh juvenil hormone mungkin berlebihan, sehingga karakter juvenil tetap ada pada dewasa atau pengaruh juvenil hormone mungkin kurang, sehingga perkembangan karakter dewasa terlalu cepat terjadi pada larva.

Pada Aphids adanya bentuk yang tidak bersayap karena adanya juvenil yang berlebihan, tidak terdapat sklerotisasi pada thorax dan organ perasa yang sangat sedikit pada antera. Suhu akan berpengaruh terhadap jumlah juvenil hormone, pada suhu yang relatif rendah akan mengganggu keseimbangan hormon, jumlah juvenil hormone berkurang dan dimana pada suhu tinggi jumlah ecdyson berkurang. Oleh karena itu brachyptery pada Heteroptera didapatkan dari suhu yang relatif rendah.

e. Pemasakan Telur

Pada kebanyakan serangga, corpora allata mempunyai peranan penting dalam mengendalikan perkembangan telur secara normal.

Pengaruh hormon corpus allatum bukan merupakan hal yang sederhana untuk menaikkan perkembangan protein dalam haemolymph dan juga membuat tersedia untuk formasi yolk. Apabila ada gangguan pada corpus allatum sehingga tidak ada hormon yang dihasilkan maka tidak akan terjadi pemasakan telur-telur.

Sistem Endokrin

83

C. FEROMON.

Feromon merupakan hormon yang dilepas ke bagian luar tubuh, oleh karena itu seringkali disebut juga sebagai “ectohormone”. Feromon dapat didefinisikan sebagai suatu hormon yang dilepas keluar oleh organisme dan dapat menyebabkan suatu reaksi khusus pada organisme penerima dalam spesies yang sama. Ada dua kelompok fungsional dari feromon yaitu : “releaser” dan “primer”. Feromon releaser, memberikan pengaruh langsung terhadap sistem syaraf pusat individu penerima untuk menghasilkan tanggap tingkah laku dengan segera. Feromon primer, memberikan pengaruh terhadap sistem endokrin dan reproduksi individu penerima, sehingga menyebabkan suatu rangkaian perubahan- perubahan proses fisiologis.

1. Feromon Seks (sex pheromone).

Feromon seks ini merupakan suatu substansi yang dapat mempengaruhi tingkah laku seksual pada lawan jenisnya. Feromon ini biasanya dilepas oleh serangga betina yang sudah siap kawin dan feromon yang bersifat khusus ini akan dapat dideteksi oleh serangga jantan dari spesies yang sama melalui reseptor yang terdapat pada antena. Feromon seks yang dilepas oleh serangga betina biasanya dihasilkan dalam kelenjar abdominal. Pada ratu lebah-madu feromon ini dihasilkan dalam kelenjar mandibular dan ini merupakan suatu perkecualian.

2. Feromon jejak (trail pheromone)

Feromon ini pada umumnya terdapat pada semut dan rayap. Sebagai kasta pekerja yang seringkali pergi mencari makan dan pulang ke sarang, maka masing- masing individu akan meninggalkan deposit feromon jejak secara periodik. Pada beberapa spesies, seperti semut api, feromon tersebut akan diletakkan secara periodik melalui sengatnya. Pada kelompok spesies lain, substansi ini bisa berasal dari kelenjar pada tarsus (tarsal gland), kelenjar abdominal, atau dari saluran pencernaan. Karena feromon jejak bersifat mudah menguap, maka digunakan terus-menerus dan feromon diletakkan secukupnya untuk tetap mempertahankan

Sistem Endokrin

84

jejak.

Oleh karena itu feromon ini digunakan untuk membuat jejak jalur dari

sarang menuju ke sumber makanan.

3. Feromon Alarm (alarm pheromone).

Pada umumnya feromon ini dihasilkan oleh serangga-serangga sosial dan serangga-serangga yang sifatnya bergerombol. Keadaan yang menggerakkan pelepasan feromon ini dapat berupa adanya kerusakan pada dinding sarang, misal pada rayap yang bersarang di atas tanah, atau adanya serangan/gangguan dari predator. Jadi fungsi dari feromon ini adalah untuk mobilisasi anggota koloni dalam suatu bentuk pertahanan. Aphid yang terganggu akan melepas feromon alarm dari kornikelnya, sehingga akan memberikan reaksi melarikan diri pada anggota-anggota koloninya.