Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI UMUM

PENGAMATAN STRUKTUR SEL PROTOZOA DAN ALGAE

oleh
FEBBY DIOVANY
155090101111041

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
Pengamatan Struktur Sel Protozoa dan Alga
Febby Diovany
Departement of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Brawijaya University, Malang
2017
ABSTRAK
Protozoa dan alga, bersama dengan tumbuhan, hewan, dan fungi
diklasifikasikan dalam eukariota. Sel-sel eukariota memiliki nukleus dan
organel-organel terselubung membran yang lain. Protista memiliki
keanekaragaman struktural dan fungsional yang lebih tinggi
dibandingkan kelompok eukariota yang lain. Kebanyakan protista
bersifat uniselluler, tetapi sebagian ada yang multiselluler dan kolonial.
Praktikum ini bertujuan untuk mengamati struktur morfologi protozoa
dan alga.. pengamatan alga dan protozoa yang pertama dilakukan
adalah, disiapkan 3 jenis medium cair yang berasal dari air JPC, air
sawah dan air Bundaran UB. Dilakukan sterilisasi dan diamati bentuk
dan struktur protozoa dan alga untuk selanjutnya digambar dan
diidentifikasi kira-kira termasuk apakah protozoa atau alga tersebut.
Berdasarkan dari hasil pengmatan yang telah dilakukan alga dan
protozoa masing-masing memiliki keragaman dan characteristik yang
berbeda. Protozoa hanya dapat ditemukan pada air sawah. Sedangkan
pada air kolam bundaran UB dan perairan JPC ditemukan jenis alga
yang hampir sama dengan jumlah yang banyak. Hal ini menunjukkan
bahwa protista dapat bertumbuh pada media yang memiliki maka
nutrisi, dan cahaya.

Kata kunci: alga, protozoa,air kolam, air JPC, air sawah.


Observation of the Structure of Protozoa cell and Algae
Febby Diovany
Departement of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences,
Brawijaya University, Malang
2017

ABSTRACT

Protozoa and algae, along with plants, animals, and fungi are
classified in eukaryotes. Eukaryotic cells have a nucleus and organelles-
organelle membrane disguised as others. Protists have structural and
functional diversity that is higher than any other group of eukaryotes.
Most protists are uniselluler, but there are multiselluler and colonial.
Practical work aims to observe the steel structure morphology of
protozoa and algae. observation of algae and protozoa is done first,
prepared 3 types of liquid media originating from the J. P. C. water,
fields water, and water traffic circle UB. Sterilization is carried out and
observed the diminutive and steel structure of protozoa and algae for the
next drawn and identified approximately including whether protozoa or
algae. Based on observations of the algae and protozoa do tlah each
have the diversity and the characteristic different. Protozoa can only be
found on the air. While in the pool water and the waters of J. P. C. UB
roundabout found a type of algae that is almost equal to the number of
the lot. This shows that protists are able to grow on media which has
then the nutrients, and light.

Key words: algae, protozoa, pond water, the J. P. C. water, fields water
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Protista, bersama dengan tumbuhan, hewan, dan fungi
diklasifikasikan dalam eukariota. Sel-sel eukariota memiliki nukleus dan
organel-organel terselubung membran yang lain. Protista memiliki
keanekaragaman struktural dan fungsional yang lebih tinggi
dibandingkan kelompok eukariota yang lain. Kebanyakan protista
bersifat uniselluler, tetapi sebagian ada yang multiselluler dan kolonial
(Campbell, 2008).
Protista bersel tunggal dianggap sebagai eukariota yang paling
sederhana, namun pada tingkat selular, banyak protista yang sangat
kompleks diantara semua sel. Pada organisme multiselluler fungsi-
fungsi biologis yang penting dilaksanakan pada organ-organ. Protista
uniselluler melaksanakan fungsi-fungsi penting yang sama, tetapi
menggunakan organel-organel subseluler (Campbell, 2008).
Protista memiliki kandungan nutrisi yang lebih besar dibandingkan
dengan kelompok eukariota yang lain. Protista biasanya heterotrof dan
mengabsorbsi molekul organik yang lebih besar. Terdapat beberapa
protista yang fotoautotrof dan memiliki klorofil. Protista memiliki
reproduksi dan siklus hidup yang bervariasi (Campbell, 2008).
Praktikum ini penting dilakukan agar praktikan lebih memiliki
kesadaran untuk menjaga protista yang ada, dan praktikan dapat
memahami perbedaan mendasar pada struktur protozoa dan alga.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada Praktikum ini adalah bagaimana struktur
morfologi protozoa dan alga?

1.3 Tujuan
Tujuan dari Praktikum ini adalah mengamati struktur morfologi
protozoa dan alga.

1.4 Manfaat Praktikum


Manfaat dari praktikum ini adalah setelah melakukan
praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat lebih mudah dalam
melanjutkan proyek penelitian tentang protozoa dan alga.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Protozoa
Protozoa merupakan mikroorganisme yang termasuk dalam
subkingdom pada kingdom Protista, meskipun dalam sistem klasik
mereka ditempatkan di kingdom Animalia. Protozoa merupakan
organisme yang hidup bebas dan dapat hampir disetiap tempat. Anton
van Leeuwenhoek adalah orang yang pertama kali menemukan
protozoa. Penelitian Anton van Leeuwenhoek menggunakan mikroskop
dengan lensa yang sederhana (Jasin, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian Anton van Leeuwenhoek diketahui
bahwa protozoa hidup bebas, tetapi beberapa hidup parasit. Hampir
semua manusia memiliki protozoa yang tinggal di atau terdapat pada
tubuh manusia pada beberapa waktu, dan banyak orang yang terinfeksi
dengan satu atau lebih spesies sepanjang hidupnya. Beberapa spesies
dianggap komensal, yaitu, biasanya tidak berbahaya, sedangkan lain
patogen dan biasanya menghasilkan penyakit. Penyakit protozoa
berkisar dari sangat ringan sampai mengancam kehidupan (Jasin, 2002).
Protozoa yang parasit pada manusia memiliki ukuran kurang
dari 50 m. Protozoa memiliki kromatin yang menyebar ke inti sel.
Organel-organel protozoa memiliki fungsi yang mirip dengan organ-
organ hewan tingkat tinggi. Didalam membran plasma terdapat
sitoplasma yang memiliki struktur sperma yang digunakan sebagai
penggerak pseudopodia, Silia dan flagel. Protozoa memiliki pellicle
yang merupakan permukaan lapisan luar yang bertekstur kaku. Dalam
kebanyakan protozoa sitoplasma dibedakan menjadi ectoplasm (lapisan
luar, transparan) dan endoplasm (lapisan bagian yang mengandung sel).
Protozoa beberapa ada yang memiliki sitosom atau sel mulut untuk
menelan cairan atau partikel padat (Jasin, 2002).
Reproduksi Protozoa mungkin aseksual, seperti amoeba dan
flagellata yang menginfeksi manusia. Protozoa juga ada yang
bereproduksis secara aseksual dan seksual, seperti Apicomplexa yang
penting dalam dunia medis. Jenis reproduksi aseksual yang paling
umum adalah pembelahan biner, di mana organel-organel diduplikasi.
Endodyogeny adalah bentuk aseksual yang terdapat di Toxoplasma dan
beberapa terkait organisme. Dua anak sel akan terbentuk dalam sel
induk, yang kemudian pecah, melepaskan keturunan kecil yang tumbuh
untuk ukuran penuh sebelum mengulangi proses. Dalam schizogony,
bentuk umum dari Apicomplexa, inti membagi beberapa kali, dan
kemudian sitoplasma membagi menjadi lebih kecil uninucleate
merozoites. Plasmodium, Toxoplasma dan apicomplexans, dan siklus
seksual lainnya melibatkan produksi gamet (gamogony), pemupukan
untuk membentuk zigot, encystation dari zigot untuk membentuk
oocyst, dan pembentukan infektif sporozoites (sporogony) dalam oocyst
(Jasin, 2002).

2.2 Alga
Alga merupakan organisme eukariotik yang tidak memiliki akar,
batang, atau daun tetapi memiliki klorofil dan pigmen lain untuk
melaksanakan fotosintesis. Alga dapat multiseluler atau bersel satu atau
uniselluler. Alga uniseluler baiasanya terdapat diperairan, terutama di
plankton. Fitoplankton adalah penduduk freefloating mikroorganisme
terdiri dari ganggang uniselluler. Selain itu, ganggang terdapat di tanah
lembab atau pada permukaan lembab batu dan kayu. Alga hidup dengan
jamur di Lumut (Campbell, 2008).
Menurut skema Whittaker, ganggang diklasifikasikan pada
tujuh divisi, yang lima dianggap dalam Kerajaan Protista dan dua di
kerajaan Plantae. Sel alga memiliki sifat eukariotik, dan beberapa
spesies memiliki flagel. Terdapat inti, dan beberapa kromosom diamati
dalam mitosis. Klorofil dan pigmen lain terdapat di kloroplas, yang
berisi membran yang dikenal sebagai thylakoids. Kebanyakan ganggang
fototrof dan melakukan fotosintesis. Beberapa ganggang ada yang
chemoheterotrophic dan memperoleh energi dari reaksi kimia dan
nutrisi dari bahan organik preformed. Kebanyakan spesies saprobes, dan
beberapa parasit (Campbell, 2008).
Reproduksi dalam ganggang terjadi dalam bentuk aseksual dan
seksual. Aseksual terjadi melalui fragmentasi ganggang kolonial dan
berserabut atau dengan spora pembentukan (seperti dalam jamur).
Pembentukan spora berlangsung mitosis. Pembelahan biner juga
berlangsung seperti pada bakteri. Selama reproduksi seksual, bentuk
ganggang dibedakan sel-sel seks yang menyatu untuk menghasilkan
zigot diploid dengan dua set kromosom. Zigot berkembang menjadi
spora seksual, yang berkecambah ketika kondisi lingkungan
menguntungkan untuk mereproduksi dan menghasilkan organisme
haploid yang memiliki satu set kromosom. Pola ini reproduksi disebut
pergantian generasi (Campbell, 2008).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Mikrobiologi Umum topik Identifikasi Alga dan
Protozoa dilaksanakan pada Kamis, 14 Maret 2017 pukul 07.30 11.05
WIB. Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Brawijaya, Malang.

3.2 Pengamatan Struktur Sel Protozoa dan Alga


Pada praktikum pengamatan alga dan protozoa yang pertama
dilakukan adalah, disiapkan 3 jenis medium cair yang berasal dari air
JPC, air sawah dan air Bundaran UB. Dilakukan sterilisasi dengan
alkohol pada glass obyek agar glass obyek bersih dari lemak. Pada glass
obyek yang sudah steril dan bersih diteteskan satu tetes media cair dan
diletakkan di tengah glass obyek. Glass obyek yang sudah berisi media
cair tersebut ditutup menggunakan cover glass dan diamati dibawah
mikroskop mulai dan perbesaran rendah hingga tinggi. Diamati bentuk
dan struktur protozoa dan alga untuk selanjutnya digambar dan
diidentifikasi kira-kira termasuk apakah protozoa atau alga tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Chlorococcum

(Guiry, 2007).
Gambar 1 . Chlorococcum. (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan berkoloni
dan memiliki bentuk bulat (coccus), memiliki klorofil hijau dikarenakan
alga berwarna hijau. Chlorococcum merupakan alga yang mengandung
klorofil dan karotin berwarna kuning. Spesies ini biasanya memiliki
warna hijau kekuningan. Spesies ini biasanya hidup pada perairan tawar.
Spesies ini dapat berperan sebagai plankton yang dapat menjadi sumber
makan pada perairan laut (Guiry, 2007).

4.2 Pediastrum brayanum

(Paztaleniec, 2004).
Gambar 2 . Pediastrum brayanum (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan berkoloni
dan memiliki bentuk polygonal pada bagian dalam dan dikelilingi
dengan bentuk sayatan u, memiliki duri, serta memiliki klorofil hijau
dikarenakan alga berwarna hijau. Pediastrum sp. Merupakan sppesies
yang hidup pada perairan air tawar. Spesies ini berbentuk variasi tetapi
umumnya polygonal. Variasi bentuk tergantung pada penyusunan
suberin pada dinding selnya. Dinding sel pada spesies ini memiliki 3
bentuk yaitu mulus, berongga dan retikularis. Pediastrum sp. memiliki
klorofil yang digunakan fotosintesis. Spesies ini berperan sebagai
sumber karbon bagi lingkungan (Paztaleniec, 2004).

4.3 Naviculla

( Ardiyanti, 2015)
Gambar 2 . Pediastrum brayanum (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk seperti daun, memiliki klorofil merah
dikarenakan alga berwarna merah. Navicula memiliki dua bagian tubuh
yaitu hipoteka dan epiteka. Spesies ini berreproduksi dengan membelah
diri dan konjugasi. Spesies ini hidup di perairan tawar dan digunakan
sebagai makanan larva atau juvenille ( Ardiyanti, 2015).
4.4 Gleokapsa

A
(Guiry, 2013).
Gambar 4. Gleokapsa (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamaatan alga yang ditemukan berkoloni
dan memiliki bentuk lonjong, memiliki klorofil hijau dikarenakan alga
berwarna hijau. Menurit literatur yang ada, Gleokapsa memiliki bentuk
lonjong yang berkoloni, Gleokapsa memiliki sel yang berkoloni yang
rata, terdapat lendir padat yang dibentuk oleh lapisan selubung
konsentris. Spesies ini m,embentuk 4 kelompok sel dengan pembelahan
biner yang simetris. Habitat pada perairan, batu besar basah, serta tanah
yang lembab (Guiry, 2013).

4.5 Oscillatoria

A
(Campbell, 2008).
Gambar 5 . Oscillatoria (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk memanjang dan bersegmen, memiliki
klorofil merah dikarenakan alga berwarna merah. Oscillatoria adalah
genus dari cyanobacteria yang memiliki tekstur berserabut tak
bercabang dengan selubung mucilaginous. Genus ini dinamai
pergerakannya berosilas. Filamen dapat bolak-balik untuk
mengorientasikan koloni menuju sumber cahaya. Oscillatoria dapat
menghasilkan kedua anatoxin-a dan microcystins (Campbell, 2008).

4.6 Tabelaria

A B

(Decolibus, 2013).
Gambar 6 . Tabelaria (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk persegi panjang. Memiliki katup linear
dengan inflasi medial yang luas, atau sedikit lebih luas, daripada apices
jelas capitate. Striae sejajar dan alternatif. Daerah aksial sangat sempit
dan linier. Striae mencapai pusat katup. Memiliki band terbuka, dengan
septa biasa. Sel-sel bergabung di koloni yang membentuk lama, rantai
lurus. Memiliki bentuk persegi panjang dengan panjang maksimum
katup adalah 103 m (Decolibus, 2013).

4.7 Achnanthidium minutissimum

A b
(Potapva, 2009).
Gambar7. Achnanthidium minutissimum(a) Hasil Pengamatan
(b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan dengan
bentuk berkatub dan tidak berkoloni, memiliki klorofil hijau
dikarenakan alga berwarna hijau. Sel-sel soliter atau rantai yang
sederhana, sering melekat substrat oleh batang. Memiliki frustules yang
monoraphid dengan raphe cekung katup dan katup rapheless cembung.
Katup linear-ellips dengan sedikit berlarut-larut atau sedikit capitate
berakhir, 1.5-3,3 m lebar, panjang 5,6-20,8 m. Pusat raphe eksternal
berakhir sangat sederhana, terminal raphe celah pendek, hampir lurus,
atau absen. Secara internal, ujung pusat raphe berubah dalam arah yang
berlawanan. Striae memancarkan seluruh katup kedua, 25-35 di 10 m.
Striae terdiri dari satu baris dari areolae. Striae sering memotong di
bagian tengah raphe Valve untuk membentuk fasia simetris atau
asimetris. Satu baris memanjang areolae terdapat pada mantel katup.
Bukaan eksternal areolae dari areolae bervariasi dalam bentuk dari
melingkar untuk celah transapically memanjang. Bukaan internal
areolae elips, tersumbat oleh hymens yang berlubang oleh pori-pori
kecil. Memiliki band polos dan membuka (Potapva, 2009).

4.8 Staurastrum
A B
(Coesel dan Meesters, 2013).
Gambar 8 . Staurastrum (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk basal, memiliki klorofil merah
dikarenakan alga berwarna merah. Staurastrum merupakan alga yang
uniselluler. Spesies ini memiliki nukleus pada bagian tengah, kloroplas
menyebar. Memiliki bentuk sel yang bervariasi tergantung dengan
spesiesnya, memiliki struktur berduri, dan memiliki pori-pori yang
besar. Struktur berduri terdapat pada setiap sudut garis pembelahan
semi-sel. Spesies ini dapat berperan sebagai fitoplankton (Coesel dan
Meesters, 2013).

4.9 Nitzchia

A
(Kociolek, 2011).
Gambar 9 . Nitzchia (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk seperti daun, memiliki klorofil merah
dikarenakan alga berwarna merah. Spesies ini memiliki panjang sekitar
6-14 m dengan lebar 2-3 m, dan memiliki Striae di 10m. Spesies ini
memiliki katup apices linear-ellips, tumpul-rostrate. Memiliki fibulae
kecil, dengan panjang 10 m. Hidup pada air yang bersih (Kociolek,
2011).

4.10 Crucigenia rectangularis


A
Gambar 10. Crucigenia rectangularis (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan alga yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk seperti daun, memiliki klorofil merah
dikarenakan alga berwarna merah. Menurit literatur yang ada,
Crucigenia rectangularis memiliki bentuk lonjong yang berkoloni,
Crucigenia rectangularis memiliki sel yang berkoloni yang rata,
terdapat lendir padat yang dibentuk oleh lapisan selubung konsentris.
Spesies ini m,embentuk 4 kelompok sel dengan pembelahan biner yang
simetris. Habitat pada perairan, batu besar basah, serta tanah yang
lembab (Guiry, 2013).

4.11 Balantidium coli

A
(Melhorn, 2001)
Gambar 11 . Balantidium coli (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan spesies ini memiliki tubuh yang
lonjong, serta memiliki warna kecoklatan, dan ditemukan pada air
sawah. Spesies ini memiliki sel- sel pada bagian dalam tubuhnya.
Balantidium coli memiliki panjang antara 50-130 m dan lebar 20-70
m. Spesies ini memiliki penutup siliaris pendek dan motilitas spiral,
memiliki dua inti, memiliki peristome, yang merupakan pembukaan di
akhir anterior dari sel. Peristome mengarah ke cytostome (sel mulut).
Balantidium coli mereproduksi secara aseksual dengan pembelahan
biner atau secara seksual dengan konjugasi. Pada aseksual pembelahan
biner bakteri tumbuh dan membagi dua untuk membentuk dua sel anak
yang identik. Dalam reproduksi seksual konjugasi, transfer materi
genetik antara bakteri melalui sel-sel-untuk kontak langsung terjadi.
Selama seksual konjugasi dalam bakteri ini tidak sama bertukar materi
genetik. Biasanya ada donor dan Penerima. Balantidium coli melewati
makanan yang terkontaminasi dan air. Balantidium coli ditularkan
melalui rute oral tinja (Melhorn, 2001).

4.12 Paramecium sp.

(Ezenwa, 2014)
Gambar 12 . Paramecium sp. (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan protozoa yang ditemukan tidak
berkoloni dan memiliki bentuk seperti daun, memiliki tubuh berwarna
coklat, serta ditemukan pada perairan tawar. Paramecium sangat sulit
diamati dikarenakan pergerakannya yang sangat cepat. Paramecium sp
memiliki ukuran tubuh sekitar 50-350 m, tmemiliki bentuk ubuh oval
seperti sandal dan bulat di bagian depan, memiliki tekstur yang tipis dan
elastis dan ditutupi oleh rambut-rambut halus atau silia. Paramecium sp
memiliki dua buah lubang pada bagian depan dan belakang tubuhnya,..
Paramecium berreproduksi secara seksual dan aseksual atau pembelahan
biner. Paramecium sp hidup di perairan yang memiliki suhu air yang
hangat. Paramecium berperan sebagai decomposer (Ezenwa, 2014).

4.13 Euglena sp.


(Verda, 2010)
Gambar 13 . Euglena sp. (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan Euglena sp. memiliki bentuk
lonjong dan runcing pada ujungnya. Spesies ini memiliki berwarna
cokelat. Menurut Verda (2010), Euglena sp. memiliki kloroplas yang
mengandung klorofil, sehingga dapat membuat makanannya sendiri
dengan cara melakukan fotosintesis. Spesies ini bersifat holozoik yang
memiliki sitofaring untuk memasukkan makanan menuju vakuola untuk
mencerna makanan. Spesies ini dapat berperan sebagai produsen
penghasil makanan untuk ikan.

4.14 Radiolaria sp.

(Campbell, 2008)
Gambar 14 . Radiolaria sp. (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan radiolaria memiliki bentuk bulat,
uniselluler, serta memiliki alat gerak berupa silia. Radiolaria memiliki
sangat beragam bentuk dari bola berbentuk batang, dan radial untuk
secara bilateral simetris. Radiolaria memiliki rangka internal yang rumit
dan simetris yang umumnya terbuat dari silika. Radiolaria memiliki
pseudopodia yang biasanya terdapat pada spesies yang hidup dilaut
yang diperkuat dengan berkas-berkas mikrotubulus. Mikrotubulus
tertutrup oleh lapisan tipis sitoplasma, yang menelan mikroorganisme-
mikroorganisme kecil yang melekat pada pseudopodia. Species ini
memiliki dua wilayah yang dipisahkan oleh membran bertulang. Lubang
pertama dari daerah ini adalah pusat massa, juga dikenal sebagai pusat
kapsul, dan kedua adalah extracapsulum, lapisan perifer sitoplasma
sekitar kapsul pusat. Pusat kapsul mengandung organel-organel umum
untuk semua sel-sel eukariotik, seperti mitokondria dan vakuola,
sedangkan extracapsulum ditandai dengan benang-seperti ekstensi dari
sitoplasma (Campbell, 2008).

4.15 Filamoeba

(Campbell, 2008)
Gambar 15 . Filamoeba (a) Hasil Pengamatan (b)Literatur
Berdasarkan hasil pengamatan filamoeba memiliki sel
uniseluller, memiliki inti dibagian tengah, memiliki alat gerak dengan
pseudopodia. Spesies ini merupakan uniseluller, memiliki dinding yang
tebal, memiliki sel rata berbentuk kipas. Beberapa berbentuk posterior
yang panjang pada sel garis spatulate. Memiliki panjang 15-50 m.
Spesie ini dapat bercabang, memiliki 15 sitoplasma dan memiliki efek
kontraktik pada vakuola. Habitatnya biasanya berada di air tawar
(Campbell, 2008).

4.16 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan protista


Menurut Campbell (2008) Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan protista adalah :
1. Cahaya
Protista menggunakan cahaya untuk fotosintesis. Laju
fotosintesis akan tinggi bila intensitas cahaya tinggi dan menurun bila
intensitas cahaya berkurang. Kelimpahan protista dipengaruhi oleh
intensitas cahaya dan suhu. Intensitas cahaya yang terlalu kuat dan suhu
yang terlalu tinggi akan merusak e nzim fito-oksidatif protista
akibatnya protista yang tidak tahan akan mati.
2. Kelimpahan Zooplankton
Protista disebut juga fitoplankton yang merupakan sumber
pakan alami bagi zooplankton. Dalam suatu ekosistem yang stabil
biasanya fitoplankton tersedia dalam jumlah yang melimpah
dibandingkan zooplankton sehingga apabila terjadi booming oleh
zooplankton maka keseimbangan ekosistem tetap terkendali. Penurunan
kelimpahan fitoplankton akan sangat drastis apabila kelimpahan
zooplankton tinggi.
3. Nutrien
Keberadaan protista berkaitan erat dengan nutrien yang
tersedia, terutama karbon, nitrogen, phosfor, dan kalium, serta silica
untuk kelompok diatom.
BAB V
PENUTUPAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pengmatan yang telah dilakukan
alga dan protozoa masing-masing memiliki keragaman dan
characteristik yang berbeda. Protozoa hanya dapat ditemukan
pada air sawah. Sedangkan pada air kolam bundaran UB dan
perairan JPC ditemukan jenis alga yang hampir sama dengan
jumlah yang banyak. Hal ini menunjukkan bahwa protista dapat
bertumbuh pada media yang memiliki maka nutrisi, dan cahaya.

5.2 Saran
Saran pada praktikum ini adalah sebaiknya praktikan
mempelajari lebih dalam karakteristik protozoa dan alga sehingga lebih
mudah dalam identifikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece. 2008. Biologi Jilid 2. Pearson education,Inc. New


York.

Coesel, P.F.M. & J. Meesters. 2013 . European flora of the


desmid genera Staurastrum and Staurodesmus. KNNV
Publishing. Elsivier

DeColibus, D. 2013. Tabellaria fenestrata. In Diatoms of the United


States.https://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/species/tabellaria_fenes
trata . diakses 28 Maret 2017

Ezenwa VO. 2014. Protozoa and Gastrointestinal Parasitism in


Sympatric African Bovids. Parasitology 126:379388.

Guiry, M.D. & Guiry, G.M. (2007)."Genus: Chlorococcum taxonomy


browser". AlgaeBase version 4.2 World-wide electronic
publication, National University of Ireland, Galway. Diakses
tanggal 28 maret 2017.

Guiry, M.D. and G.M. Guiry 2013. AlgaeBase. World-wide electronic


publication, National University of Ireland, Galway.
http://www.algaebase.org; searched on 04 September 2013.

Jasin,Maskur. 2002. Zoologi Invertebrata. Sinar Wijaya. Surabaya

Kociolek, Pat. 2011. Nitzchia sp..


https://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/species/nitzschia_innominata .
Diakses 28 maret 2017.

Melhorn, H. Encyclopedia Reference of Parasitology. Second


Edition. Spring, 2001. Volume I (pp. 47, 78), Volume II
(pp. 71)

Potapova, M. 2009. Achnanthidium ninutissimum. In Diatoms of the


United States.
https://westerndiatoms.colorado.edu/taxa/species/Achnanthidium_minut
issimum . diakses 28 maret 2107.

Paztaleniec, A., dan M. Poniewozik. 2004. Pediastrum Species


(Hydrodictyaceae, Spaeropleales) In phytoplankton of Sumin
Lake. Acta Societatis Botanicorum Poloniae. Vol. 73, NO 1 :
39-46

Verda, Vita. 2010. Euglena sp. (Online),


http://www.biocab.org/Euglena_ Clasif.html, diakses tanggal 26
maret 2017.