Anda di halaman 1dari 18

PANDUAN

PENDIDIK
PETA
Mata Pelajaran : P K n
Kelas / Semester: V I / 2
Tahun Pelajaran : 2012 - 2013

MILIK

SEKOLAH DASAR NEGERI


SUKOREJO I
KECAMATAN SUKOREJO
KOTA BLITAR

NAMA : MUJI HARYANTI, S.Pd


NIP : 19660101 199002 2 002
NUPTK : 0433 7446 4430 0012
NO PESERTA : 11056502710083
SILABUS dan R P P
( Dilengkapi dengan KKM, Prota dan
Promes )

Kegiatan Pendampingan

Mata Pelajaran : PKn


Kelas / Semester : VI
Tanggal Pelaksanaaan : Kamis,31
Januari 2013

NAMA
MUJI HARYANTI,S.Pd.
NIP. 19660101 199002 2 002.
SEKOLAH DASAR NEGERI
SUKOREJO I
KECAMATAN SUKOREJO
KOTA BLITAR

PROPOSAL
PENILAIAN TINDAKAN KELAS
( PTK )

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF


MODEL JIGSAW DALAM UPAYA MENINGKATKAN
MUTU BELAJAR BAHASA INDONESIA KELAS V
TAHUN 2011 / 2012

OLEH
MUJI HARYANTI,S.Pd
NIP: 19660101 199002 2002

DINAS PENDIDIKAN KOTA BLITAR


UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN SUKOREJO
SEKOLAH DASAR NEGERI SUKOREJO I
KOTA BLITAR

MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DALAM UPAYA MENINGKATKAN


HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA
PADA SISWA KELAS V SDN SUKOREJO I
TAHUN PELAJARAN 2015 / 2016

ABSTRAK

Muji Haryanti
SDN Sukorejo 1, Kecamatan Sukorejo ,Kota Blitar

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor


diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar
mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi,
membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa.
Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan
pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan
diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu
memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-
konsep mata pelajaran yang akan disampaikan
Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a)
Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan
diterapkannya pembelajaran model jigsaw? (b) Bagaimanakah
pengaruh metode pembelajaran model jigsaw terhadap motivasi
belajar siswa?Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah: (a) Ingin
mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya
pembelajaran model jigsaw. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi
belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran model
jigsaw.Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action
research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat
tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi.
Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sukorejo I. Data
yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan
belajar mengajar.Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar
siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu,
siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%).Kesimpulan
dari penelitian ini adalah metode model jigsaw dapat berpengaruh
positif terhadap motivasi belajar Siswa V SDN Sukorejo I., serta
metode pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu
alternatif pembelajaran bahasa Indonesia.

Kata Kunci: pembelajaran bahasa Indonesia, metode jigsaw

Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia dan berlangsung

sepanjang hayat. Sejak kelahirannya ke dunia, anak memiliki kebutuhan untuk

memperoleh pendidikan. Pendidikan sangat dibutuhkan oleh setiap manusia agar

dapat melakukan aktivitas sosial di masyarakat tempat mereka berada. Adalah

suatu kenyataan, anak sebagai makhluk yang belum dewasa harus ditolong,

dibantu, dibimbing, serta diarahkan agar dapat mengembangkan potensinya secara

optimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pendidikan formal

di sekolah. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah tidak hanya berfungsi

mengembangkan kecerdasan anak tetapi juga mengembangkan kepribadian. Hal

itu tertuang dalam Undang-undang (UU) RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 sebagai berikut. Pendidikan Nasional

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat,

berilmu, cakap, kreatif, mandiri , dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab. (hal. 7) Selanjutnya dalam UU Nomor 20/2003 ditegaskan

bahwa penyelenggaraan pendidikan pada Sekolah Dasar (SD) bertujuan

memberikan bekal kepada siswa untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan

bernegara dalam konteks masyarakat yang berkeadaban berdasarkan nilai dan

moral Pancasila serta dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pelajaran

bahasa Indonesia. Dari hasil pengamatan di SDN Sukorejo I tampak bahwa soal
pelajaran bahasa Indonesia yang kurang dikuasai oleh sebagian besar siswa adalah

materi pelajaran penggunaan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Hal ini

disebabkan siswa kurang cermat membaca dan kurang memahami kalimat demi

kalimat dan siswa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan soal dengan tepat dan

benar. Pengamatan ini terlihat dari uji coba soal dengan menggunakan soal cerita

yang diberikan pada siswa kelasV.


Bagi guru bahasa Indonesia SDN Sukorejo I, memberikan soal bahasa

Indonesia yang berkaitan dengan soal cerita bukanlah hal yang mudah. Seringkali

siswa yang telah memahami topik bahasa Indonesia secara teoristis mengalami

kesulitan ketika bentuk soal atau permasalahan disajikan dalam bentuk cerita.

Sementara itu, dalam kurikulum Pendidikan Dasar 1994, fungsi pengajaran

bahasa Indonesia adalah mempersiapkan anak didik agar dapat menjadi warga

masyarakat yang demokratis dalam kehidupan sehari-hari melalui latihan yang

praktis, bervariasi, dan aplikatif. Di sisi lain ada sebagian siswa masih mengalami

kesulitan dalam membaca teks bahasa Indonesia. Sementara itu, siswa akan lebih

mudah mencerna soal cerita bahasa Indonesia apabila siswa mampu membaca

teks dengan baik dan benar, mengerti maksud cerita yang ada di dalamnya, serta

memahami gambar yang ada. Bagi sebagian besar guru bahasa Indonesia SD,

mengajarkan materi bahasa Indonesia yang berkaitan dengan kemampuan siswa

memahami soal uraian bukanlah hal yang mudah. Meskipun banyak siswa yang

telah mampu memahami topik bahasa Indonesia secara teoritis, akan tetapi banyak

mengalami kesulitan ketika bentuk soal atau permasalahan disajikan dalam bentuk

soal uraian. Dalam hal ini guru dituntut untuk mampu memberikan materi yang

mudah diterima oleh siswa. Di samping itu pula, hendaknya guru memberikan

contoh yang kongkret dan jelas berkaitan dengan materi soal berbentuk uraian.
Bila upaya tersebut dapat dilakukan dengan baik, hasil belajar siswa dalam mata

pelajaran bahasa Indonesia juga akan meningkat.


Berdasarkan situasi tersebut, dilakukan penelitian untuk mengembangkan strategi

pembelajaran yang efektif dalam memahami materi bahasa Indonesia bagi siswa

SD. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dalam bentuk penelitian

tindakan kelas. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu

masalah sebagai berikut.(1)Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siwa

dengan diterapkannya pembelajaran model jigsaw? (2) Bagaimanakah pengaruh

metode pembelajaran model jigsaw terhadap motivasi belajar siswa?Sesuai

dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: (1)Ingin mengetahui

peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran model

jigsaw.(2 )Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan

pembelajaran model jigsaw.Adapun manfaat dalam penelitian tindakan kelas ini

adalah:(a)Bagi diri peneliti, merupakan pengalaman yang berarti sebagai bekal

untuk meningkatkan kemampuan dalam perbaikan proses pembelajaran;(b) Bagi

Peserta Didik, membantu mengatasi kesulitan dalam mengikuti proses

pembelajaran, terutama mata pelajaran Bahasa Indonesia;(c).Bagi Guru, sebagai

bahan koreksi dan perbaikan untuk melaksanakan proses pembelajaran bagi

peserta didik pada masa-masa berikutnya;(d).Bagi Sekolah, meningkatkan

pelayanan kepada peserta didik, meningkatkan sumber daya manusia guru, secara

umum prestasi sekolah mejadi lebih meningkat. Berdasarkan Kajian Teori,

Pembelajaran kooperatif mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari

pengalaman mereka dan partisipasi aktif dalam kelompok kecil. Ahli pedagogi

Dewey mengharuskan guru menciptakan didalam lingkungan belajarnya suatu

sistem sosial yang dicirikan dengan prosedur demokrasi dan proses ilmiah.
Tanggung jawab utama mereka adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara

kooperatif dan untuk memikirkan masalah sosial penting yang muncul pada hari

itu Arends (dalam Risnawati, 2005:18). Ada beberapa definisi pembelajaran

kooperatif yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Menurut Slavin (dalam

Risnawati, 2005:18) pembelajaran kooperatif mengandung pengertian siswa

belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggungjawab terhadap

pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Metode

Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Siswa bekerja dalam kelompok empat

atau lima orang. Setiap angota tim membaca pasal yang berlainan. Selanjutnya

para siswa didalam kelompok ahli tersebut kembali lagi ke timnya semula dan

bergantian mengerjakan apa yang sudah dipelajarinya kepada anggota tim

lain.Akhirnya, para siswa mengikuti kuis yang mencakup seluruh pasal, dan skor

kuis menjadi skor tim. Skor yang disumbangkan oleh siswa ke timnya didasarkan

pada peningkatan individual, dan siswa-siswa yang berada di tim dengan skor

tertinggi berhak mendapat sertifikat atau penghargaan lain. Jadi para siswa

dimotivasi untuk mempelajari bahan sebaik mungkin dan bekerja keras di dalam

kelompok ahli sehingga dapat membantu anggota kelompok lainnya .Prosedur;

(1)Pilihlah materi belajar yang bisa dipecah menjadi beberapa bagian. Sebuah

bagian bisa sependek kalimat atau spanjang beberapa paragraf. (Jika materinya

panjang, perintahkan siswa untuk membaca tugas mereka sebelum pelajaran.)

Contohnya antara lain: (1)Modul berisi beberapa poin penting.(2)Bagian-bagian

eksperimen ilmu pengetahuan.(3)Sebuah naskah yang memiliki bagian atau

subjudul yang berbeda.Metode Penelitian ini merupakan penelitian tindakan

(action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah


pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab

menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana

hasil yang diinginkan dapat dicapai. Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik

Sugiarti, 1997; 8) mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam

yaitu (a) guru bertindak sebagai peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif, (c)

Simultan terintegratif, dan (d) administrasi social ekperimental.Dalam penelitian

tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh

penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari penelitian tindakan

ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh

terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan

refleksi.Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun,

kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan

seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan

didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.

Penelitian ini akan dihentikan apabila ketuntasan belajar secara kalasikal telah

mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak tergantung pada

jumlah siklus yang harus dilalui.Rancangan Penelitian Penelitian ini

menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek

PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku

tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan

mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap

tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek

pembelajaran tersebut dilakukan (dalam Mukhlis, 2000: 3).Adapun tujuan

utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran


secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan

budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5).Sesuai dengan jenis

penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini

menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam

Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang

berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan),

observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus

berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan

refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang

berupa identifikasi permasalahan. Penjelasan alur di atas adalah:

(1)Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun

rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya

instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.(2)Kegiatan dan pengamatan,

meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun

pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya

metode pembelajaran model discovery .(3)Refleksi, peneliti mengkaji, melihat

dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan

berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.(4)Rancangan/rencana

yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang

direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.Observasi dibagi dalam tiga

putaran, yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang

sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang

diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran

dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah


dilaksanakan.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

(1)SilabusYaituseperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan

pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar. (2)Rencana

Pelajaran (RP)Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai

pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing

RP berisi kompetensi dasar, indicator pencapaian hasil belajar, tujuan

pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.(3)Lembar Kegiatan Siswa

Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses

pengumpulan data hasil eksperimen.(4)Lembar Observasi Kegiatan Belajar

Mengajar ;Lembar observasi pengolahan pembelajaran model jigsaw, untuk

mengamati ;kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran;Lembar observasi

aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru selama

proses pembelajaran.(5)Tes formatif Tes ini disusun berdasarkan tujuan

pembelajaran yang akan dicapai. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran.

Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda (objektif). Data-data yang

diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan

pembelajaran model jigsaw, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu

diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif

kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan

atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui

prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap

kegiata pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.Untuk

mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses


belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi

berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.Analisis ini dihitung dengan

menggunakan statistik sederhana yaitu.(1)Untuk menilai ulangan atau tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya

dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-

rata tes formatif. (2)Untuk ketuntasan belajarAda dua kategori ketuntasan belajar

yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan

belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah

tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas

belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih

dari sama dengan 65%. Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item

butir soal, data observasi berupa pengamatan pengelolaan pembelajaran model

jigsaw dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan

data tes formatif siswa pada setiap siklus.Data hasil uji coba item butir soal

digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginkan.

Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan

daya pembeda.Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data

pengamatan penglolaan pembelajaran model jigsaw yang digunakan untuk

mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran model jigsaw dalam

meningkatkan prestasi Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi

belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran model jigsaw.Sebelum

melaksanakan pengambilan data melalui instrumen penelitian berupa tes dan

mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisi. Uji coba

dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilakukan
meliputi:(1)Validitas butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes

sehingga dapat digunakan sebagai instrument dalam penelitian ini.(2)Reliabilitas

Soal-soal yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil

perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 775. Harga ini lebih besar

dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 22) dengan r (95%) =

0,423. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi syarat

reliabilitas.(3)Analisis Data Penelitian Persiklus;Siklus I ,Tahap Perencanaan Pada

tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari

rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang

mendukung. Siklus II Tahap perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan

perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS 2, soal tes

formatif II, dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Tahap kegiatan dan

pelaksanaan .Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar

mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada

siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada

siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan

belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II

dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa selama proses belajar

mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II.

Siklus III,Tahap PerencanaanPada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat

pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3, dan

alat-alat pengajaran yang mendukungTahap kegiatan dan pengamatan Dalam hal

ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada

rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan
atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan

(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.Pada

akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk

mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah

dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. RefleksiPada tahap

ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang

baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran model

jigsaw.Revisi Pelaksanaan Pada siklus III guru telah menerapkan pembelajaran

model jigsaw dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa

pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak

diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan

selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan apa yang telah ada dengan

tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan

pembelajaran model jigsaw dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga

tujuan pembelajaran dapat tercapai.

KESIMPULAN

Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran model jigsaw

memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat

dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang

disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan III)

Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data,

diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran model jigsaw dalam setiap

siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar

siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada
setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.Aktivitas Guru dan Siswa Dalam

Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses

pembelajaran bahasa Indonesia pada pokok bahasan penggunaan kalimat langsung

dan kalimat tak langsung yang paling dominan adalah bekerja dengan

menggunakan alat/media, mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru, dan

diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa

aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.Sedangkan untuk aktivitas guru selama

pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah pembelajaran model jigsaw

dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas

membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan

LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi

umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup

besar.

SARAN

Saran-saran berikut ini ditujukan kepada para praktisi pendidikan dan guru yang

ingin mengembangkan rancangan pembelajaran kooperatif model jigsaw dan/atau

melaksanakan penelitian lebih lanjut berkaitan dengan hasil penelitian ini ; secara

komparatif model pembelajaran kooperatif model jigsaw telah teruji memberikan

peningkatan hasil belajar belajar pada kelas V SD yang lebih baik dan segala

perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini seperti rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau skenario pembelajaran, bahan ajar, dan

lembar kerja siswa yang diimplementasikan, dikembangkan berdasarkan

kurikulum dan karakteristik siswa kelas V SDN Sukorejo I kota Blitar , sehingga

bila digunakan pada tempat lain harus dilakukan penyesuaian seperlunya


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Berg, Euwe Vd. (1991). Miskonsepsi bahasa Indonesia dan Remidi Salatiga:
Universitas Kristen Satya Wacana.

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.

Joyce, Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of Teaching Model. Boston: A Liyn
dan Bacon.

Masriyah. 1999. Analisis Butir Tes. Surabaya: Universitas Press.

Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah Panitia


Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.

Nur, Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk Belajar. Surabaya. University Press.
Universitas Negeri Surabaya.

Suryosubroto, B. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa


Cipta.

Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya.

Widoko. 2002. Metode Pembelajaran Konsep. Surabaya: Universitas Negeri


Surabaya.