Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRATIKUM LAB K3

PENGUKURAN INTENSITAS PENDENGARAN (AUDIOMETRI)

Disusun Oleh:

Nama : Evi Febrika Widyastuti

NIM : J410140005

Semester/Shift: 6/A

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2017
I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pendengaran normal ialah dapat mendengar pembicaraan biasa dan
tidak ada kesukaran mendengar suara perlahan. Secara fisiologis telinga
manusia dapat mendengar suara denga interval 20-2000 Hz.
Audiologi adalah ilmu pendengaran yang meliputi evaluasi
pendengaran dan reahibilitasi individu dengan masalah komunikasi
sehubungan dengan gangguan pendengaran. Ada dua alasan untuk
melakukan evaluasi yaitu pertama, untuk mendiagnosis lokasi dan jenis
penyakit dan kedua, untuk menilai dampak gangguan pendengaran
terhadap proses belajar, interaksi sosial dan pekerjaan.
Audiometri monitoring adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tingkat kepekaan terhadap pendengaran. Manfaat pemeriksaan audiometri
monitoring sendiri yaitu: sebagai bagian dan program awal dari sebuah
perusahaan sehingga perusahaan mempunyai data awal tingkat ambang
dengar tenaga kerja yang akan di tempatkan di tempat bising sebagai dasar
evaluasi untuk pemeriksaan berkala. Jika hasil pemeriksaan tidak
menunjukkan peningkatan paparan dan hasil tidak ada perubahan maka
program konservasi pendengaran tersebut efektif.
Hasil peningkatan paparan berupa kebisingan akan menyebabkan
intensitas gangguan pendegaran sesorang akan terganggu. Gangguan
intensitas pendengaran tersebut biasanya dikenal dengan tuli.
Tuli adalah keadaan dimana individu tidak dapat mendengar sama
sekali (total deafness), suatu bentuk ekstrim dari kekurangan pendegaran.
Pendapat lain menytakan bahwa tuli adalah penurunan fungsi pendengaran
yang sangat berat. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
tuli adalah keadaan dimana individu tidak dapat mendengar nada anatara
20-20.000 Hz.
Pratikum pengukuran intensitas pendengaran ini dilakukan dengan
menggunakan audiometric. Sementara itu, yang menjadi petugas pemeriksa
dan responden adalah mahasiswa. Diman pemeriksaan ini untuk
mengetahui apakah pendengaran masih normal atau tidak.
b. Tujuan
Tujuan dilakukannya pratikum pengukuran intensitas pendengaran
adalah untuk:
1. Mahasiswa mengenal metode dan peralatan pengukuran intensitas
pendengaran.
2. Mahasiswa mampu melakukan kegiatan pengukuran intesitas
pendengaran dengan menggunakan audiometri.
3. Mahasiswa mampu menganalisis data hasil pengukuran intensitas
pendengaran.

II. TINJAUAN PUSTAKA


a. Pengertian Audiometri
Audiometri berasal dari kata audire dan metrios yang berarti
mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Pengertian audiometri yang
lain adalah suatu sistem uji pendengaran yang mempergunakan alat
listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai
frekuensi 250-500- 1000-2000-4000-8000 (Dullah, 2009).
Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman
pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi
kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran Nada
murni berarti bunyi yang hanya mempunyai satu frekuensi, dinyatakan
dalam jumlah getaran per detik. Audiometri nada murni/ pure tune
audiometry (PTA) adalah salah satu jenis uji pendengaran untuk menilai
fungsi pendengaran (Dhingra, 2007).
b. Manfaat Audiometri
1. Untuk mengukur batas pendengaran pada konduksi udara dan tulang
serta derajat atau tipe ketulian.
2. Merekam hasil dapat disimpan dan dapat dugunakan untuk rujukan
masa akan datang.
3. Audiogram berguna sebagai ukuran untuk pengunaan alat bantu
dengar.
4. Membantu untuk mencari derajat kecacatan untuk tujuan medikolegal.
(Dhingra, 2007)
c. Istilah-Istilah dalam Audiometr
1. Nada murni (pure Tone): merupakan bunyi yang hanya mempunyai
satu frekuensi, dinyatakan dalam jumlah getaran per detik.
2. Bising: merupakan bunyi yang mempunyai banyak frekuensi, terdiri
dari spectrum terbatas (Narrow band), spektrum luas (White noise).
3. Frekuensi: merupakan nada murni yang dihasilkan oleh getaran suatu
benda yang sifatnya harmonis sederhana (simple harmonic motion).
Dengan satuannya dalam jumlah getaran per detik dinyatakan dalam
Hertz (Hz).
4. Intensitas bunyi: dinyatakan dalam desibel (dB). Dikenal dB HL
(hearing level), dB SL (sensation level), dB SPL (sound pressure
level). dB HL dan dB SL dasarnya adalah subjektif, dan inilah yang
biasanya digunakan pada audiometer, sedangkan dB SPL digunakan
apabila ingin mengetahui intensitas bunyi yang sesungguhnya secara
fisika (ilmu alam).
5. Ambang dengar: merupakan bunyi nada murni yang terlemah pada
frekuensi tertentu yang masih dapat didengar oleh telinga seseorang.
Terdapat ambang dengar menurut konduksi udara (AC) dan menurut
konduksi tulang (BC). Bila ambang dengar ini dihubung-hubungkan
dengan garis, baik AC maupun BC, maka akan didapatkan audiogram.
Dari audiogram dapat diketahui jenis dan derajat ketulian.
6. Nilai nol audiometrik (audiometric zone) dalam dB HL dan dB SL,
yaitu intensitas nada murni yang terkecil pada suatu fekuensi tertentu
yang masih dapat didengar oleh telinga rata-rata dewasa muda yang
normal (18-30 tahun). Pada tiap frekuensi intensitas nol audiometrik
tidak sama. Pada audiogram angka-angka intensitas dalam dB bukan
menyatakan kenaikan linier, tetapi merupakan kenaikan logaritmik
secara perbandingan. Terdapat dua standar yang dipakai adalah ISO
(International Standard Organization) dan ASA (American standard
Association). Dengan nilai berupa 0dB ISO = -10 dB ASA atau 10dB
ISO = 0 dB ASA.
7. Notasi pada audiogram. Untuk pemeriksaan audiogram dipakai grafik
AC, yaitu dibuat dengan garis lurus penuh (intensitas yang diperiksa
antara 125 8000 Hz) dan grafik BC yaitu dibuat dengan garis
terputus-putus (intensitas yang diperiksa: 250 4000 Hz). Untuk
telinga kiri dipakai warna biru sedangkan untuk telinga kanan, warna
merah.

Gambar: simbol-simbol notasi pada audiogram


(Soepardi, Arsyad, 2008)
d. Fisiologi pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh
daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau
tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membrane timpani,
diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang
akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong
(Soepardi, Arsyad, 2008).
Oleh karena luas permukaan membran tympani 22 kali lebih besar
dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan tekanan gelombang suara
15-22 kali pada tingkap oval. Selain karena luas permukaan membran
timpani yang jauh lebih besar, efek dari pengungkit tulang-tulang
pendengaran juga turut berkontribusi dalam peningkatan tekanan
gelombang suara (Sherwood, 2007).
Energi getar yang telah diamplifikasikan ini akan diteruskan ke stapes
yang menggerakkan tingkap lonjong. Sehingga cairan perlimfa pada skala
vestibuli bergerak. Getaran ini diteruskan melalui membrane Reissner yang
mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara
membrane basalis dan membran tektoria. Proses ini merupakan ransangan
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut,
sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari
badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut,
sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke
nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus
temporalis (Katz, 2009).
e. Nilai Ambang Dengar
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor PER. 25/MEN/XII/2008, tingkat cacat ditentukan dengan
mengukur nilai ambang dengar (Hearing Threshold Level = HTL), yaitu
angka rata-rata penurunan ambang dengan dengan dB pada frekuensi 500,
1000, 2000, 4000 Hz. Penurunan nilai ambang dengar dilakukan pada
kedua telinga:
1. Telinga normal: Pada pemeriksaan audio metrik ambang dengar tidak
melebihi 25 dB dan di dalam pembicaraan biasa tidak ada kesukaran
mendengar suara perlaha.
2. Tuli ringan: Pada pemeriksaan audio-metrik ambang dengar 25 - 40
dB dan terdapat kesukaran mendengar.
3. Tuli sedang: Pada pemeriksaan audio-metrik terdapat ambang dengar
antara 40 55 dB Seringkali terdapat kesukaran untuk mendengar
pembicaraan biasa.
4. Tuli sedang berat: Pada pemeriksaan audiometri terdapat ambang
dengar rata-rata antara 55 - 70 dB. Kesukaran mendengar suara
pembicaraan kalau tidak dengan suara keras.
5. Tuli berat: Ambang dengar rata-rata antara 70 - 90 dB. Hanya dapat
mendengar suara yang sangat keras.
6. Tuli sangat berat: Ambang dengar 90 dB atau lebih. Sama sekali tidak
mendengar pembicaraan.
f. Macam Gangguan Pendengaran (Ketulian)
Kesehatan serta keselamatan kerja merupakan masalah penting dalam
setiap proses operasional di tempat kerja. Dengan berkembangnya
industrialisasi di Indonesia maka sejak awal disadari tentang kemungkinan
timbulnya dampak baik terhadap tenaga kerja maupun pad a masyarakat di
lingkungan sekitarnya. Faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja dapat
digolongkan menjadi golongan fisik, kimia, infeksi, fisiologis dan mental
psikologis. Bising, yang termasuk dalam golongan fisik, dapat
menyebabkan kerusakan pendengaran/tuli (Soemonegara, 1975; Miller,
1975).
Kurang pendengaran akibat bising terja di secara perlahan, dalam
waktu hitungan bulan sampai tahun. Hal ini sering tidak disadari oleh
penderitanya, sehingga pada saat penderita mulai mengeluh kurang
pendengaran, biasanya sudah dalam stadium yang tidak dapat disembuhkan
(irreversibe). Kondisi seperti ini akan mempengaruhi produktivitas tenaga
kerja yang pada akhirnya akan menyebabkan menurunnya derajad
kesehatan masyarakat pekerja. Hal ini maka cara yang paling
memungkinkan adalah mencegah terjadinya ketulian total (Ballantyne,
1990; Beaglehole, 1993).
Sataloff (1987) mendapati sebanyak 35 juta orang Amerika menderita
ketulian dan 8 juta orang diantaranya merupakan tuli akibat kerja.
Oetomo, A dkk (Semarang, 1993) dalam penelitiannya terhadap 105
karyawan pabrik dengan intensitas bising antara 79 s/d 100 dB didapati
bahwa sebanyak 74 telinga belum terjadi pergeseran nilai ambang,
sedangkan sebanyak 136 telinga telah mengalami pergeseran nilai ambang
dengar, derajat ringan sebanyak 116 telinga (55,3%), derajat sedang 17
(8%) dan derajat berat 3 (1,4%). Kamal, A ( 1991 ) melakukan
penelitian terhadap pandai besi yang berada disekitar kota Medan. Ia
mendapatkan sebanyak 92,30 % dari pandai besi tersebut menderita
sangkaan NIHL. Sedangkan Harnita, N (1995) dalam suatu penelitian
terhadap karyawan pabrik gula mendapati sebanyak 32,2% menderita
sangkaan NIHL.
Berikut adalah macam-macam ketulian:
1. Tuli Konduktif
Diagnosis gangguan dengar konduktif ditegakkan berdasarkan
prinsip bahwa gangguan konduktif (telinga tengah) menyebabkan
gangguan hantaran udara yang lebih besar daripada hantaran tulang.
Pada keadaan tuli konduktif murni, keadaan koklea yang baik (intak)
menyebabkan hantaran tulang normal, yaitu 0 dB pada audiogram.
Selama koklea normal, gangguan pendengaran maksimum tidak
melebihi 60 dB. Konfigurasi audiogram pada tuli konduktif biasanya
menunjukkan pendengaran lebih pada frekuensi rendah. Dapat pula
berbentuk audiogram yang datar.

Gambar: Audiogram tuli konduktif


(Soepardi, Arsyad, 2008)
2. Tuli Sensorineural (SNHL)
Tuli sensorineural terjadi bila didapatkan ambang pendengaran
hantaran tulang dan udara lebih dari 25 dB. Tuli sensorineural ini
terjadi bila terdapat gangguan koklea, N.auditorius (NVIII) sampai ke
pusat pendengaran termasuk kelainan yang terdapat didalam batang
otak (Soepardi, Arsyad, 2008).
Kelainan pada pusat pendengaaran saja (gangguan pendengaran
sentral) biasanya tidak menyeababkan gangguan dengar untuk nada
murni, namun tetap terdapat gangguan pendengaran tertentu.
Gangguan pada koklea terjadi karena dua cara: pertama sel rambut
didalam koklea rusak, kedua karena stereosilia dapat hancur. Proses ini
dapat terjadi karena infeksi virus, obat ototoxic, dan biasa terpapar
bising yang lama, dapat pula terjadi congenital (Kutz,).

Gambar. Audiogram tuli sensorineural


3. Tuli Campuran
Menunjukkan gangguan fungsi koklea ditambah dengan penurunan
pendengaran karena sumbatan konduksi udara mengambarkan tingkat
ketulian yang disebabkan oleh komponen konduktif (Kutz,). Menurut
Iskandar (1993), tuli ini merupakan kombinasi antara tuli konduktif
dengan tuli sensorineural.
Gambar. Audiogram tuli campuran

g. Cara Penanggulangan Ketulian


Pada dasarnya tuli bersal dari kebisingan atau bunyi di tempat kerja
yang melebihi nilai ambang batas. Sesuai dengan penyebab ketulian,
penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila
tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga yaitu
berupa sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muffs), dan pelindung
kepala (helmet). Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang
bersifat menetap (irreversible), bila gangguan pendengaran sudah
mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan biasa,
dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar (ABD). Apabila
pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD
pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat, perlu dilakukan psikoterapi
supaya pasien dapat menerima keadaannya. Latihan pendengaran (auditory
training) juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa
pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca gerak
bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa
isyaratuntuk dapat berkomunikasi.
h. Cara Pencegahan Ketulian
Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk
mencegah terjadinya NIHL (Noise Induced Hearing Loss) yang disebabkan
oleh kebisingan di lingkungan kerja. Program ini terdiri dari 3 bagian yaitu:
1. Pengukuran pendengaran
Test pendengaran yang harus dilakukaan ada 2 macam, yaitu:
a. Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja.
b. Pengukuran pendengaran secara periodik.
2. Pengendalian suara bising
Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a. Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai
tutup telinga (ear muff), sumbat telinga (ear plugs), dan pelindung
kepal (helmet)
b. Mengendalikan suara bising dari sumbernya, dapat dilakukan
dengan cara:
- Memasang perdam suara
- Menempatkan suara bising (mesin) di dalam suatu ruangan
yang terpisah dari pekerja
3. Analisa bising
Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising,
fekuensi bising, lama dan distribusi pemaoaran serta waktu total
pemaparan bising. Alat utama untuk pengukuran kebisingan adalah
Sound Level Meter.
(Pohan, 2013)
III. ALAT & BAHAN
a. Audiometri
b. Lembar data

IV. CARA KERJA


1. Persiapan Alat
a. Audiometer
b. 1 Kursi
2. Persiapan Tempat
a. Tempat yang digunakan harus kedap suara. Agar tidak mengganggu
pada saat proses pemeriksaan dilaksanakan.
b. Namun, pada saat proses pemeriksaan pada klien dilakukan di ruang
kelas biasa yang berakibat tidak heningnya ruangan tersebut.
3. Persiapan Kllien
a. Menjelaskan kepada klien proses yang akan dilakukan hingga benar-
benar paham
b. Berkan sedikit terapi pernapasan agar klien tidak tegang dan menjadi
rileks
c. Apabila klien telah rileks dan siap, lakukan proses tesnya.
4. Pelaksanaan
a. Nyalakan Audiometri
b. Pasang headphone ke kepala klien dengan tepat dan pas
c. Merah sebelah kanan, dan biru sebelah kiri
d. Pengetesan dilakukan pada telinga kana dan kiri dengan memberikan
rangsangan secara bergantian.
e. Dimulai pada frekuensi 500 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz, 8000 Hz
f. Disetiap Hz diberi nada Hearing Level yang berbeda-beda, dimulai
dari 70 dB, 65 dB, 60 dB, 55 dB, 50 dB, 45 dB, 40 dB, 35 dB, 30 dB,
25 dB, 20 dB, 15 dB, 10 dB, 5 dB.
g. Pantau pada bagian monitor dari audimetri, jika responden/ klien
menunjukkan respon maka catat (ceklist) pada bagian lembar data
hasil pengukuran.

V. HASIL
Nama Responden: - P1: Faijin, 23 tahun
- P2: Sandy, 22 tahun
Pemeriksa : - P1: Sandy
- P2: Anggita
Tanggal : 3 April 2017
AUDIOLOGICAL RECORD

P1 P2 P1 P2 P1 P2 P1 P2

500 500 2000 2000 4000 4000 8000 8000

R L R L R L R L R L R L R L R L

5 X X X X X X X X X X X X

10 X X X X X X X X X X X

15 X X X X X X X X X

20 X X X X X X

25 X X X X
Hearing Level (dB)

30 X X

35 X

40

45

50

55
60

65

70

Frekuensi (Hz)

Rata-Rata (X)
1. P1
a. Telingan Kanan (R)

13.25 dB

b. Telinga Kiri (L)

10 dB

2. P2
a. Telinga Kanan (R)

15 dB

b. Telinga Kiri (L)

17.5 dB

VI. PEMBAHASAN
Pratikum yang dilakukan pada tanggal 3 April 2017 adalah pengukuran
intensitas pendengaran dengan Audiometri. Pratikum ini dilakukan untuk
mengetahui intensitas pendengaran seseorang, sehingga dengan begitu dapat
diketahui apakah orang tersebut mengalami gangguan pendengaran atau tidak.
Gangguan pendengaran yang umumnya diderita yaitu ketulian. Apabila orang
tersebut mengalami ketulian dapat langsung dilakukan penanganan
(perawatan) terhadap ketulian.
Audiologi adalah ilmu pendengaran yang meliputi evaluasi pendengaran
dan reahibilitasi individu dengan masalah komunikasi sehubungan dengan
gangguan pendengaran. Sedangkan Audiometri monitoring adalah alat yang
digunakan untuk mengukur tingkat kepekaan terhadap pendengaran. Manfaat
pemeriksaan audiometri monitoring sendiri yaitu: sebagai bagian dan program
awal dari sebuah perusahaan sehingga perusahaan mempunyai data awal
tingkat ambang dengar tenaga kerja yang akan di tempatkan di tempat bising
sebagai dasar evaluasi untuk pemeriksaan berkala. Ada dua alasan untuk
melakukan evaluasi yaitu pertama, untuk mendiagnosis lokasi dan jenis
penyakit dan kedua, untuk menilai dampak gangguan pendengaran terhadap
proses belajar, interaksi sosial dan pekerjaan.
Pengkuran intensitas pendengaran ini dilakukan pada dua responden,
dimana yang berperan sebagai Probandus 1 (P1) adalah Sdra. Faijin, sedangkan
Probandus 2 (P2) adalah Sdra. Sandy. Dan untuk pemeriksa Probandus 1 (P1)
adalah Sdra. Sandy, sementera pemeriksa Probandus 2 (P2) adalah Sdri.
Anggita.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Audimetri (Audiometri Monitor) yang telah
dilakukan terhadap Probandus 1 dan 2, dimana hasil pemeriksaan pemeriksaan
Probandus 1 (P1) dimana ia tidak mulai mendengar pada telinga kanan yaitu
500 Hz (30 dB), 2000 Hz (15 dB), 4000 Hz (10 dB), 8000 Hz (0 dB),
sementara itu pada telinga kiri yaitu 500 Hz (25 dB), 2000 Hz (10 dB), 4000
Hz (5 dB), 8000 Hz (0 dB). Hasil pemeriksaan nilai ambang ia mulai tidak
mendengar pada Probandus 2 (P2) di telingan kanan, yaitu 500 Hz (25 dB),
2000 Hz (0 dB), 4000 Hz (15 dB), 8000 Hz (20 dB), sedangkan pada telinga
kiri yaitu 500 Hz (15 dB), 2000 Hz (0 dB), 4000 Hz (40 dB), 8000 Hz (20 dB).
Semua hasil pemeriksaan tersebut kemudian di rata-rata untuk mengetahui
hasil akhirnya yang nantinya akan dibandingkan dengan standar nilai ambang
dengar dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor PER. 25/MEN/XII/2008. Hasil rata-rata pada Probandus 1
(P1) di telinga kanan yaitu 13,25 dB, hal ini menunjukkan bahwa telinga kana
Probandus 1 (P1) dalam keadaan normal. Sementara pada telinga kiri yaitu 10
dB, hasil ini juga menunjukkan bahwa telinganya dalam keadaan normal. Hasil
perhitungan pada Probandus 2 (P2) di telinga kanan yaitu 15 dB, berarti
telinganya dalam keadaan normal, sedangkan pada telinga kiri yaitu 17.5 dB,
hasil ini juga menunjukkan bahwa telinga pada bagian kiri Probandus 2 (P2)
berada dalam keadaan normal.
Masalah kebisngan di tempat kerja sendiri erat kaitannya dengan penyakit
akibat kerja yaitu ketulian. Oleh karena itu setiap perusahaan harus melakukan
upaya pecegahan mencegah ketulian terhadap tenaga kerjanya yaitu dengan
memberikan APD (Alat Pelindung Diri) berupa erar plug, ear muff. Selain itu
dapat dilakukan pengukuran tingkat/intensitas kebisingan di tempat kerja
dengan menggunakan Sound Level Meter secara berkala. Hasil pengukuran
yang diperoleh ini kemudian dianalisis untuk mengetahui apakah suara bising
tersebut melebih Nilai Ambang Batas (NBA) atau tidak. Apabila suara bising
tersebut melebihi Nilai Ambang Batas (NBA) maka dapat dilakukan upaya
pengendalian/penanganan terhadap sumber kebisingan. Sementara itu apabila
tenaga kerja mengalami ketulian maka dapat dilakukan penanganan
(perawatan) kepada tenaga kerja dengan cara diberikan ABD (Alat Bantu
Dengar) ataupun memberika psikoterapi pada tenaga kerja.

VII. KESIMPULAN & SARAN


a. Kesimpulan
Ganguguan pendengaran pada tenaga kerja yang paling umum diderita
yaitu ketulian. Tuli pada tenaga kerja erat kaitannya dengan kebisingan di
tempat kerja. Suara bising yang berasal dari mesin-mesin yang ada di
tempat kerja/perusahaan, dimana suara tersebut melebihi Nilai Ambang
Batas (NBA) salah satu yang menjadi penyebab tuli.
Berdasarkan hasil pengukuran Audiometri didapati bahwa telinga
kedua Probandus tersebut berada dalam keadaan normal, semua hasil
mennjukka nilai dibawah (<) 25 dB. Oleh karena itu dengan upaya
intevensi baik pada faktor fisik yang ada di tempat kerja maupun pada
tenaga kerja dapat mencegah terjadinya ketulian.
b. Saran
1. Bagi pengukur konsentrasi, ketelitian dan kesungguhan dalam
mengukur perlu ditingkatkan agar hasil lebih akurat.
2. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap intensitas
pendengaran pada tenaga kerja sehingga dapat nantinya dapat
dilakukan upaya intervensinya.

DAFTAR PUSTAKA

Fadilah, Nani Ummi. 2012. Penerangan di Tempat Kerja (online),


(https://id.scribd.com/doc/83907104/Penerangan-Di-Tempat-Kerja, diakses
tanggal 25 Maret 2017).

Firmansyah, F. 2010. Pengaruh Intensitas Penerangan Terhadap Kelelahan Mata


pada Tenaga Kerja di Bagian Pengepakan PT. Ikapharmindo Putramas Jakarta
Timur . Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Gradjean, E. 1993. Fitting the Task to tha Man, 4th ed. London: Taylor and Franc Inc.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1405/MENKES/SK/XI/2002. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan Industri. Jakarta: Kemenkes

Reskiaddin, Laode. 2012. Penerangan dalam K3 (online), (http://kesmas-


ode.blogspot.co.id/2012/11/penerangan-dalam-k3.html, diakses tanggal 28 Maret
2017).
Setiawan. 2012. Analisis Hubungan Faktor Karakteristik Pekerja, Durasi Kerja,
Alat Kerja dan Tingkat Pencahayaan dengan Keluhan Subjektif Kelelahan Mata
pada Pengguna Komputer di PT Surveyor Indonesia Tahun 2012. Skripsi.
Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Soewarno. 1992. Penerangan Tempat Kerja. Jakarta: Pusat Pelayanan Ergonomi dan
Kesker

Suhadri, B. 2008. Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Indutsri. Jakarta:


Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan

Sumamur. 1993. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: CV Haji


SMasagung.
Sumamur. 1996. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Gunung Agung.
Sumamur, P.K. 2009. Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Sagung
Seto.

Sutaryono. 2002. Hubungan Antara Tekanan Panas, Kebisingan, dan Penerangan


dengan Kelelahan pada Tenaga Kerja di Bagian Tapel PT. Aneka Adhi Logam
Karya Ceper Klaten. Thesis. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Diponegoro.

Zaenab. 2012. Sanitasi Industri dan Kesehatan Keselamatan Kerja. Makassar:


Politeknik Kesehatan.
LAMPIRAN

*) Proses pengukuran intensitas penerangan umum


*) Proses pengukuran intensitas penerangan setempat