Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MATAKULIAH MIKROBIOLOGI

FLORA NORMAL PADA TUBUH MANUSIA

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 11
FARMASI E

NAMA STAMBUK

MAGHFIRANI FAROH FAUZIA G701 15 192

SELVIANUR ASWADI G701 15 157

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
K ATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Segala puji hanya milik AllahSWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada junjunan kita semua yakni habibana wanabiyana Muhammad
SAW kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan kepada tabiit tabiinnya tak
lupa kepada kita semua selaku umatnya sampai akhir zaman. Amin Ya rabbal Alamin.
Akhirnya kami dapat menyelesaikan dengan lancar dalam penyusunan Makalah
Flora Normal Pada Tubuh Manusia
Dalam penyusunan laporan ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu kami
menerima saran dan kritik yang bersifat membangun. kami selaku penyusun
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Kami berharap
semoga makalah ini bisa memberikan informasi penting dan bermanfaat bagi kita
semua untuk mengembangkan dan peningkatkan wawasan.

Palu, 23 April 2017

Kelompok 11

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang..4

B. Rumusan Makalah....5

C. Tujuan MakalahB. Rumusan Makalah.....5

C. Tujuan Makalah
BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi.....6

1. Hubungan Manusia Dengan Mikroorganisme.6

2. Flora Normal Kulit..8

3. Flora Normal Saluran Pernafasan..10


4. Flora Normal Saluran Pencernaan.11
5. Flora Normal Mata.... 13
6. Flora Normal Pada Genitourinaria 17
7. Konstribusi Flora Normal Dalam Tubuh ..21
B. Faktor Flora Normal..22
C. Penggolongan Flora Normal.22

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan..24

B. Saran...24

DAFTAR PUSTAKA...25

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG

Manusia sejak lahir berada didalam biosfer yang penuh dengan


mikroorganisme. Mikroorganisme berada didalam tubuh manusia, tumbuhan
dibeberapa bagian tubuh dalam keadaan tidak pernah statis, selalu berubah dari waktu
ke waktu sesuai kondisi lingkungan setempat. Pada tubuh dalam keadaan normal,
diperkirakan terdapat lebih kurang 1012 bakteri yang menghuni kulit, 1010 di mulut
dan 1014 di saluran pencernaan. Kebanyakan diantaranya merupakan bakteri yang
sangat spesifik dalam hal kemampuan menggunakan bahan makanan, kemampuan
menempel pada permukaan tubuh, dan mampu beradaptasi (secara evolusi) terhadap
hospes.
Adanya flora normal pada beberapa bagian tubuh manusia sangat
menyulitkan bagi seorang mokrobiolog untuk menentukan mikroorganisme penyebab
infeksi pada spesimen klinik yang diperiksanya. Biasanya seorang ahli mikrobiologi
klinik dituntut bertanggung jawab untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab
infeksi pada spesimen secara tepat, dalam waktu singkat. Untuk menentukan
mikroorganisme mana yang bertanggung jawab pada timbulnya infeksi di area
mengandung flora normal, adalah suatu pekerjaan yang sulit. Seorang klinisi atau ahli
mikrobiologi klinik harus mengkorelasikan dengan data-data klinik pasien, sebelum
menentukan penyebabnya. Untuk itu pengetahuan mengenai flora normal sangat
penting dlam penegakan diagnosis penyakit infeksi.

I.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa hubungan manusia dengan mikroorganisme ?

2. Bagaimana flora normal kulit ?

3. Bagaimana flora normal saluran pernafasan ?


4. Bagaimana flora normal saluran pencernaan ?
5. Bagaimana flora normal mata ?
6. Bagaimana flora normal pada genitourinaria ?
7. Bagaimana konstribusi flora normal dalam tubuh ?
I.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui hubungan manusia dengan mikroorganisme.

2. Untuk mengetahui flora normal kulit.

3. Untuk mengetahui flora normal saluran pernafasan.


4. Untuk mengetahui flora normal saluran pencernaan.
5. Untuk mengetahui flora normal mata.
6. Untuk mengetahui flora normal pada genitourinaria.
7. Untuk mengetahui konstribusi flora normal dalam tubuh .
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 DEFINISI

Flora normal merupakan mikroorganisme yang dapat ditemukan pada


tubuh manusia tanpa menyebabkan penyakit. Banyaknya flora normal yang
ada di bagian-bagian tubuh kita tergantung dari faktor lingkungan dan host itu
sendiri. Dalam aktivitas sehari- hari, kita selalu menginput mikroorganisme
ke dalam tubuhnya, misalnya menelan mikroorganisme yang ada pada
makanan, minuman ataupun menghirup udara, memegang benda, dan
berkontak dengan makhluk hidup lainnya yang ternyata terdapat
mikroorganisme tersebut menempel pada bagian tubuh kita dan sebagian
besar memiliki efek menguntungkan dan merugikan malahan tubuh kita ini
dilindungi oleh flora normal tipe flora residen (menetap) (Davis,1996).

1. Hubungan Manusia Dengan Mikroorganisme.

Pada keadaan alamiah, janin manusia mula-mula memperoleh


mikroorganisme ketika lewat di sepanjang saluran lahir. Jasad-jasad renik
tersebut diperolehnya melalui kontak permukaan, penelanan atau
penghisapan. Mikroba-mikroba ini segera disertai oleh mikroba-mikroba lain
dari banyak sumber yang langsung berada disekeliling bayi yang baru lahir
tersebut. Mikroorganisme yang menemukan lingkungan yang sesuai, pada
permukaan luar atau dalam tubuh, dengan cepat berkembangbiak dan
menetap. Jadi di dalam waktu beberapa jam setelah lahir, bayi memperoleh
flora mikrobe yang akan menjadi mikrobiotanya yang asli (Pelczar dan Chan,
1988).
Setiap bagian tubuh manusia, dengan kondisi lingkungannya yang
khusus, dihuni berbagai macam mikroorganisme tertentu. Sebagai contoh, di
rongga mulut berkembang populasi mikrobe alamiah yang berbeda dengan
yang ada di usus. Dalam waktu singkat, bergantung kepada faktor-faktor
seperti berapa seringnya dibersihkan, nutrisinya, penerapan prinsip-prinsip
kesehatan, serta kondisi hidup, maka anak tersebut akan mempunyai
mikrobiota normal yang macamnya sama seperti yang ada pada orang dewasa
Walaupun seorang individu mempunyai mikrobiota yang normal, seringkali
terjadi bahwa selama hidupnya terdapat fluktuasi pada mikrobiota ini
disebabkan oleh keadaan kesehatan umum, nutrisi, kegiatan hormon, usia, dan
banyak faktor lain (Pelczar dan Chan, 1988).

Mikroba diperoleh melalui kontak permukaan, penelanan atau


penghisapan. Mikrobe-mikrobe ini segera disertai oleh mikrobe-mikrobe lain
dari banyak sumber yang langsung berada di sekeliling bayi yang baru lahir
tersebut. Mikroorganisme yang menemukan lingkungan yang sesuai, pada
permukaan luar atau dalam tubuh, dengan cepat berbiak dan menetap. Jadi di
dalam waktu beberapa jam setelah lahir, bayi memperoleh flora mikrobe yang
akan menjadi mikrobiota yang asli. Setiap bagian tubuh manusia, dengan
kondisi lingkungan yang khusus, dihuni berbagai macam mikroorganisme
tertentu. Sebagai contoh, di rongga mulut berkembang populasi mikrobe
alamiah yang berbeda dengan yang ada di usus. Dalam waktu singkat,
bergantung kepada faktor-faktor seperti berapa seringnya dibersihkan,
nutrisinya, penerapan prinsip-prinsip kesehatan, serta kondisi hidup, maka
anak tersebut akan mempunyai mikrobiota normal yang macamnya sama
seperti yang ada pada orang dewasa.
2. Flora Normal Kulit

Kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau


dari benda-benda, tetapi kebanyakan bakteri ini tidak tumbuh pada kulit
karena kulit tidak sesuai untuk pertumbuhannya (Michael J. Pelczar, Jr.
dan E.C.S Chan 2008).Kebanyakan bakteri kulit di jumpai pada epitelium
yang seakan-akan bersisik (lapisan luar epidermis), membentuk koloni pada
permukaan sel-sel mati. Kebanyakan bakteri ini adalah spesies
Staphylococcus dan sianobakteri aerobik, atau difteroid. Jauh di dalam
kelenjar lemak dijumpai bakteri-bakteri anaerobik lipofilik,
seperti Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Jumlah dari mikroba tidak
dipengaruhi oleh pencucian. Staphylococcus yang terdapat pada epidermidis
kulit yang bersifat nonpatogen, namun dapat menimbulkan penyakit saat
mencapai tempat -tempat tertentu seperti katup jantung buatan dan sendi
prostetik (sendi buatan).

Bakteri ini lebih sering ditemui pada kulit dibandingkan dengan


kerabatnya yang bersifat patogen yaitu Staphylococcus aureus. Secara
keseluruhan ada sekitar 103-104 mikroorganisme/cm2 yang kebanyakan
terletak pada stratum (lapisan) korneum. Bakteri anaerob dan aerob sering
bersama-sama menyebabkan infeksi sinergistik, selulitis dari kulit dan
jaringan lunak. Bakteri-bakteri tersebut merupakan bagian dari flora normal.

Faktor-faktor yang berperan menghilangkan flora sementara pada kulit adalah


pH rendah, asam lemak pada sekresi sebasea dan adanya lisozim. Berkeringat
yang berlebihan atau pencucian dan mandi tidak menghilangkan atau
mengubah secara signifikan flora tetap. Jumlah mikroorganisme permukaan
mungkin berkurang dengan menggosok secara kuat setiap hari dengan sabun
yang mengandung heksakloforen atau desinfektan lain, namun flora secara
cepat muncul kembali dari kelenjar sebasea dan keringat, meskipun tidak ada
hubungan secara total terhadap kulit bagian lain maupun lingkungan.
Penggunaan tutup rapat pada kulit cenderung menyebabkan populasi
mikrobiota secara keseluruhan sangat meningkat dan dapat menimbulkan
perubahan kualitatif flora kulit. pH kulit pada umumnya 5-6, sehingga
terdapat jenis mikroba pada kulit antara lain: Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis, Corynebacterium sp., Micrococcus sp., C.
albican , Pityrosporum ovale, Pityrosporum obiculare

Gambar 1. Staphylococcus aureus Gambar 2. Corynebacterium sp.

Gambar 3. Staphylococcus epidermidis Gambar 4. Pityrosporum


ovale

Gambar 5. Micrococcus sp

3. Flora Normal Saluran Pernafasan

Mikroorganisme yang ada pada saluran pernapasan sebagian besar


berada di saluran pernapasan bagian atas terutama pada mukosa hidung.
Walaupun pada umumnya saluran pernapasan agak steril pada kondisi
normal, mikroorganisme akan terus menerus masuk sewaktu bernafas
(Raharja, 2010). Flora normal pada saluran pernapasan bagian atas terutama
bagian hidung antaralain adalah anggota Staphylococcus (baik S. epidermis
atau S. aureus) yang menetap, dan anggota Streptococcus. Selaput mukosa
dan faring biasanya steril ketika lahir, tetapi dapat terkontaminasi saat keluar
melalui jalan kelahiran. Dalam 4-12 jam setelah kelahiran, Sterptococcus
viridians menetap sebagai flora paling utama selama kehidupan (Whidia,
2010). Kontaminasi mikroorganisme ini dapat berasal dari saluran pernapasan
ibu atau tenaga medis yang ada selama persalinan.

Dalam mukosa faring dan trakea, flora yang dapat ditemukan sama
dengan pada hidung, namun juga ada S. pneumococcus, Streptococcus
haemolyticus, dan anggota Mycoplasma (Whidia, 2010). Walaupun saat
mikroorganisme memasuki mukosa trakea akan ada mekanisme fisik untuk
mengeluarkannya seperti batuk (Ryan, 2011). Namun pada kondisi normal, di
bronkus hampir tdak ada mikroorganisme yang dapat ditemukan. Dan
umumnya kondisi bronkiolus dan alveolus adalah steril.

Secara umum seluruh manusia adalah karier (pembawa) bagi


mikroorganisme tertentu penyebab infeksi saluran pernapasan.
Mikroorganisme tersebut dapat hidup di saluran pernapasan manusia sehat
dan manusia ini dikatakan sebagai karier sehat (healthy carrier).
Mikroorganisme yang ada pada karier sehat selain yang telah disebutkan di
atas ada pula Haemophillus influenza (penyebab influenza), Diplococcus
pneumonia (penyebab radang paru), Neisseria meningitides (penyebab
meningitis), dan Streptococcus pyogenes (penyebab faringitis) (Ryan, 2011).

4. Flora Normal Saluran Pencernaan

Saluran pencernaan adalah saluran yang berliku dan panjang.


Mikroorganisme memasuki saluran pencernaan dengan mudah dari makanan
yang masuk ke dalam tubuh. Pada dasarnya saat dilahirkan, usus adalah steril
yang kemudian dapat dimasuki mikroorganisme melalui air susu. Dimana
sebagian besar mikroorganisme pada saluran pencernaan in bersifat anaerob
dan sisanya anaerob fakultatif (Dian, 2011).

Mikroorganisme saluran pencernaan biasanya ditemukan pada usus


besar, walaupun tidak menutup kemungkinan ditemukan di organ lain.
(Tanjung, 2012). Pada mulut, ada 2 macam mikroorganisme dominan yang
menyebabkan kerusakan gigi, yaitu Strepcoccus sanguinis dan S. aureus.
Keduanya adalah bakteri yang menghasilkan polisakarida ekstra seluler
(dekstran) sebagai perekat bakteri pada permukaan gigi yang disebut plak
(Plague). Fermentasi gula oleh bakteri dapat menyebabkan turunnya pH
(asam) yang dapat menyebabkan email gigi larut dan gigi berlubang . Selain
kedua bakteri tersebut, mikroorganisme penetap pada mulut antara lain adalah
C. albicans,Treponema denticum, anggota Streptococcus, Neisseria,
Actynomyces, dan Lactobacillus (Ismail, 2012).

Pada esofagus dan lambung, umumnya bersifat steril kecuali saat ada
makanan yang masuk atau melewatinya. Makanan yang tidak steril secara
otomatis akan menjadi steril ketika memasuki lambung dan terkena getah
lambung. Pada saluran setelah lambung, akan lebih sering ditemukan bakteri
E. coli. Pada usus duabelas jari, terdapat bakteri yang didominasi bentuk
kokus dan basil, sedangkan pada bagian jejunum terdapat bakteri yang antara
lain merupakan anggota dari : Enterococcus, Lactobasilus, Difteroid,
Candida. Pada Ileum ditemukan banyak E. coli.

Selanjutnya adalah pada usus besar. Pada usus besar ditemukan banyak
jenis mikroorganisme tinggal dan merupakan populasi terbanyak flora normal
dalam saluran pencernaan (Ismail, 2012). Jenis mikroba yang hidup dalam
usus besar antara lain adalah E.coli, Enterobacter aerogenes, Salmonella sp,
Shigella sp, Candida sp, Penicillium sp, dan Aspergillus sp. Hal ini
disebabkan karena pada usus besar banyak terdapat makanan yang telah
dicerna dan sisa-sisa makanan, sehingga menjadi tempat yang ideal bagi
mikroorganisme untuk dapat hidup. Secara umum, flora normal yang ada pada
saluran pencernaan dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 13 bagan persebaran flora normal tubuh manusia terutama pada


saluran pernapasan dan saluran pencernaan.
5. Flora Normal Mata

Keragaman flora mikroba berhubungan dengan kulit dan selaput lendir


setiap manusia sejak lahir sampai mati. Tubuh manusia yang berisi 1.013 sel,
secara rutin mengandung sekitar 1.014 bakteri. Populasi bakteri ini
merupakan flora normal. Flora normal relatif stabil , dengan genera tertentu
yang mengisi berbagai daerah tubuh selama periode tertentu dalam kehidupan
individu. Mikroorganisme dari flora normal dapat membantu tuan rumah
(lebih efektif melawan mikroba lingkungan yang patogen seperti Salmonella
spp atau memproduksi nutrisi yang dapat digunakan host), dapat
membahayakan host (dengan menyebabkan karies gigi, abses, atau penyakit
menular lainnya), atau mungkin ada sebagai commensals ( menghuni tuan
rumah untuk waktu yang lama tanpa menyebabkan kerusakan terdeteksi atau
manfaat). Meskipun sebagian besar elemen flora normal menghuni kulit
manusia , kuku, mata, orofaring, alat kelamin, dan saluran pencernaan tidak
berbahaya pada orang sehat, organisme ini sering menyebabkan penyakit pada
host immunocompromised. Virus dan parasit tidak dianggap anggota flora
normal oleh sebagian peneliti karena mereka tidak commensals dan tidak
membantu host.

Mata merupakan organ yang sebagian besar lapisannya berupa mukosa.


Flora normal pada mata memiliki peran sebagai pencegah kolonisasi kuman
patogen dan kemungkinan terjadinya penyakit.Mekanisme pencegahan
tersebut dilakukan melalui mekanisme interferensi. Flora residen di daerah
tertentu memainkan peranan yang nyata dalam mempertahankan kesehatan
dan fungsi normal. Anggota flora residen dalam saluran cerna menyintesis
vitamin K dan membantu absorpsi makanan. Pada membran mukosa dan
kulit, flora residen mencegah kolonisasi patogen dan kemungkinan terjadinya
penyakit melalui interferensi bakteri (Yulianti,2013)

Menurut Brooks dkk dalam Nasution (2010) menyatakan bahwa


mekanisme gangguan interfernsi tersebut tidak jelas.Mekanisme tersebut
dapat meliputi kompetisi terhadap reseptor atau tempat pengikatan (binding
sites) pada sel pejamu, kompetisi mendapatkan makanan, saling menghambat
oleh hasil metabolik atau toksik, saling menghambat oleh bahan antibiotik
atau bakteriosin, atau dengan mekanisme lain. Supresi flora normal secara
jelas menyebabkan kekosongan lokal parsial yang cenderung diisi oleh
organisme dari lingkungan atau dari bagian tubuh yang lain. Organisme
tersebut bersifat oportunistik dan dapat menjadi patogen.

Bagian mata yang ditempati oleh mikroorganisme adalah konjungtiva.


Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan
tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris).
Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan
melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva
melipat ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus
jaringan episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris
melekat longgar ke septum orbital di forniks dan melipat berkali-kali. Adanya
lipatan - lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar
permukaan konjungtiva sekretorik (Vaughan, 2010).

Gambar 9. anatomi konjungtiva

Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti


Streptococci, Staphylococci dan jenis Corynebacterium. Perubahan pada
mekanisme pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal
tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat
terjadi karena adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ sekitar
ataupun melalui aliran darah (Rapuano dalam Anonim 2012).
Penggunaan antibiotik topikal jangka panjang merupakan salah satu
penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata, serta resistensi terhadap
antibiotik (Visscher dalam Anonim 2012).
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel
yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya
adalah sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan
imunoglobulin yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan
oleh lakrimasi dan berkedip. Adanya gangguan atau kerusakan pada
mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada konjungtiva
(Amadi dalam Anonim 2012).
Mikroorganisme yang dapat ditemukan adalah Corynebacterium
xerosis, Staphylococcus epidermidis,Streptococcus non hemolitik, Neisseria
sicca, dan Moraxella. Untuk mendeteksi adanya flora normal pada mata dapat
dilakukan melalui pemeriksaan air mata.

Gambar 10. Corynebacterium xerosis,


Gambar 11.. Staphylococus epidermis

Gambar 12. Streptococcus non hemolitik


Mikroorganisme konjungtiva terutama adalah difteroid
(Coynebacterium xerosis), S. epidermidis dan Streptokukus non hemolitik.
Neiseria dan basil gram negatif yang menyerupai spesies Haemophilus
(Moraxella) seringkali juga ada. Flora konjungtiva dalam keadaan normal
dikendalikan oleh aliran air mata, yang mengandung lisozim (Yulianti,2013)
6. Flora Normal Pada Genitourinaria

Usus Kecil
Lambung dan usus halus tidak mempunyai flora normal, karena
lingkungan bersifat asam. Pada bagian ujung posterior ileum terdapat bakteri
E.coli dan Streptococcus faecalis

Gambar 7. E.coli

Usus Besar

Di dalam tubuh manusia, kolon atau usus besar, mengandung populasi


mikrobe yang terbanyak. Telah diperkirakan bahwa jumlah mikroorganisme
di dalam spesimen tinja adalah kurang lebih 1012 organisme per gram.
Basilus gram negatif anaerobik yang ada meliputi
spesies Bacteroides(B. fragilis, B. melaninogenicus, B. oralis) dan
Fusobacterium. Basilus gram positif diwakili oleh spesies-
spesies Clostridium(serta spesies-spesies Lactobacillus.

Flora saluran pencernaan berperan dalam sintesis vitamin K, konversi


pigmen empedu dan asam empedu, absorpsi zat makanan serta antagonis
mikroba patogen. Jenis mikroba dalam usus besar antara lain: E.coli,
Enterobacter aerogenes, Salmonella sp., Shigella sp., Candida sp.,
Penicillium sp., Aspergillus sp.

Saluran Kemih

Pada orang sehat, ginjal, ureter (saluran dari ginjal ke kandung kemih),
dan kandung kemih bebas dari mikroorganisme, namun bakteri pada umunya
dijumpai pada uretra (saluran dari kandung kemih ke luar) bagian bawah baik
pada pria maupun wanita. Tetapi jumlahnya berkurang di dekat kandung
kemih, hal ini disebabkan oleh efek antibakterial yang dilancarkan oleh
selaput lendir uretra dan seringnya epitelium terbilas oleh air seni. Ciri
populasi ini berubah menurut variasi daur haid. Penghuni utama vagina
dewasa adalah laktobasilus yang toleran terhadap asam. Bakteri ini mengubah
glikogen yang dihasilkan epitelium vagina, dan didalam proses tesebut
menghasilkan asam. Penumpukan glikogen pada dinding vagina disebakan
oleh kegiatan indung telur; hal ini tidak dijumpai sebelum masa akil balig
ataupun setelah menopause (mati haid). Sebagai akibat perombakan glikogen,
maka pH di dalam vagina terpelihara pada sekitar 4.4 sampai 4,6.

Mikrooganisme yang mampu berkembang baik pada pH rendah ini


dijumpai di dalam vagina dan mencakup enterokokus, Candida albicans , dan
sejumlah besar bakteri anaerobik. Sistem urinari dan genital secara anatomis
terletak berdekatan, suatu penyakit yang menginfeksi satu sistem akan
mempengaruhi sistem yang lain khususnya pada laki-laki. Saluran urin bagian
atas dan kantong urine steril dalam keadaan normal. Saluran uretra
mengandung mikroorganisme seperti Streptococcus, Bacteriodes,
Mycobacterium, Neisseria dan enterik.

Flora normal genitalia laki-laki sama dengan flora normal pada kulit dan
uretra bagian anterior. Pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, sel epitelium
yang mengelupas dan sekresi kelenjar-kelenjar adneksal mukosa glans penis
akan terkumpul di bawah preputium dan membentuk smegma. Preputium juga
sering terpapar dengan urin, sekresi seksual, sabun, dan agen-agen infeksius
terutama mikroorganisme oportunistik dan mikroorganisme penyebab infeksi
menular seksual (IMS). Oleh sebab itu, pada tahun 2007 WHO menetapkan
bahwa sirkumsisi dapat dilakukan sebagai salah satu cara pencegahan infeksi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang ditularkan melalui hubungan
heteroseksual dari perempuan kepada laki-laki.
Sistema genitalia perempuan memiliki flora normal yang khas pada
vagina. Komposisi dan jumlah flora normal vagina dipengaruhi oleh usia, pH,
dan kadar hormonal perempuan:

Segera setelah lahir, Lactobacillus spp. mendominasi vagina bayi


perempuan (pH vagina 5) pada 2 bulan pertama kehidupan. Selain itu,
vagina juga dikolonisasi oleh corynebacteria, stafilokokus, streptokokus,
dan E. coli.
Setelah bulan kedua kehidupan hingga pubertas, sekresi glikogen kemudian
berhenti. Pada usia tersebut, pH vagina lebih tinggi ( 7), dan vagina
dikolonisasi dalam jumlah sedikit oleh Gardnerella vaginalis, Prevotella
bivia, mikoplasma genital, S. epidermidis, streptokokus, dan E. coli.
Selama usia reproduktif dari pubertas hingga menopause, estrogen yang
bersirkulasi menyebabkan epitelium vagina menebal dan banyak
mengandung glikogen. Sel epitel vagina kemudian memetabolisasi
glikogen menjadi glukosa dan selanjutnya menjadi asam laktat, yang
mengasamkan pH vagina dari 7 pada perempuan prepubertas hingga 5
meskipun tanpa adanya laktobasilus. Di samping itu, cairan serosa
ditransudasikan melewati epitelium, sebagai sumber utama glukosa dalam
cairan vaginal. Glikogen dan glukosa merupakan substrat bagi
Lactobacillus untuk memproduksi asam laktat, yang menurunkan pH
vagina lebih jauh menjadi 3,8-4,2. Vagina perempuan dewasa dikolonisasi
oleh Lactobacillus spp. (dominan), G. vaginalis, Ureaplasma urealyticum,
corynebacteria, peptostreptokokus, stafilokokus, streptokokus, dan
Bacteroides. Yeasts (Torulopsis dan Candida) juga dapat ditemukan pada
vagina.
Komposisi dan jumlah flora normal vagina perempuan dewasa pun selalu
berubah-ubah baik yang diakibatkan oleh sebab-sebab endogen sesuai
dengan siklus hormonal perempuan (preovulasi, ovulasi, postovulasi,
menstruasi, kehamilan), maupun eksogen seperti hubungan seksual
(termasuk di dalamnya jenis aktivitas seksual yang dilakukan), terapi
antibiotika, penggunaan produk-produk kewanitaan (tampon, pembalut
kewanitaan, pelumas, douching) dan alat-alat kontrasepsi.
Setelah menopause, pH kembali meningkat, sekresi glikogen berkurang,
dan flora normal kembali seperti yang ditemukan pada perempuan
prepubertas.

Lactobacillus spp. mempunyai kemampuan untuk memetabolisme


glikogen menjadi asam laktat. Asam laktat dan produk-produk metabolisme
lainnya menghambat kolonisasi oleh semua mikroorganisme lain selain
Lactobacillus spp. (antara lain L. crispatus, L. gasseri, L. jensenii, L.
vaginalis, L. iners). Sebagai hasilnya, pH epitel vagina yang rendah mencegah
keberadaan baik sebagian besar bakteri lain dan yeasts yang potensial sebagai
patogen seperti C. albicans, maupun organisme patogen lain dari luar vagina
seperti protozoa Trichomonas vaginalis.

Di samping itu, Lactobacillus spp. juga memproduksi H2O2 (hidrogen


peroksida) yang toksik untuk berbagai mikroorganisme. Oleh sebab itu,
Lactobacillus spp. sangat penting bagi perempuan karena dapat menurunkan
kerentanan terhadap infeksi HIV dan IMS yang disebabkan oleh bakteri, serta
dapat menurunkan risiko terjangkit infeksi virus herpes simpleks tipe 2
(herpes simplex virus type 2/HSV-2) dan virus papiloma manusia (human
papilloma virus/HPV).
7. Konstribusi Flora Normal Dalam Tubuh

Mikroorganisme yang secara tetap terdapat pada permukaan tubuh


bersifat komensal. Pertumbuhan pada bagian tubuh tertentu bergantung pada
faktor-faktor biologis seperti suhu, kelembapan dan tidak adanya nutrisi
tertentu serta zat-zat penghambat. Keberadaan flora tersebut tidak mutlak
dibutuhkan untuk kehidupan karena hewan yang dibebaskan (steril) dari flora
tersebut, tetap bisa hidup. Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu pada
manusia mempunyai peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan
hidup secara normal. Beberapa anggota flora tetap di saluran pencernaan
mensintesis vitamin K dan penyerapan berbagai zat makanan. Flora yang
menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit dapat mencegah kolonialisasi
oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat gangguan bakteri.
Mekanisme gangguan ini tidak jelas. Mungkin melalui kompetisi pada
reseptor atau tempat pengikatan pada sel penjamu, kompetisi untuk zat
makanan, penghambatan oleh produk metabolik atau racun, penghambatan
oleh zat antibiotik atau bakteriosin(bacteriocins). Supresi flora normal akan
menimbulkan tempat kosong yang cenderung akan ditempati oleh
mikroorganisme dari lingkungan atau tempat lain pada tubuh. Beberapa
bakteri bersifat oportunis dan bisa menjadi patogen. (Jawetz , 2005).
Sebaliknya, flora normal juga dapat menimbulkan penyakit pada
kondisi tertentu. Berbagai organisme ini tidak bisa tembus (non-invasive)
karena hambatan-hambatan yang diperankan oleh lingkungan. Jika hambatan
dari lingkungan dihilangkan dan masuk le dalam aliran darah atau jaringan,
organisme ini mungkin menjadi patogen. (Jawetz, 2005)
Streptococcus viridans, bakteri yang tersering ditemukan di saluran
nafas atas, bila masuk ke aliran darah setelah ekstraksi gigi atau tonsilektomi
dapat sampai ke katup jantung yang abnormal dan mengakibatkan subacute
bacterial endocarditis. Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat
menyebabkan peritonitis mengikuti suatu trauma. (Staf Pengajar,1994).
Spesies Bacteroides merupakan flora tetap yang paling sering dijumpai
di usus besar dan tidak membahayakan pada tempat tersebut. Tetapi jika
masuk ke rongga peritoneum atau jaringan panggul bersama dengan bakteri
lain akibat trauma, mereka menyebabkan supurasi dan bakterimia. Terdapat
banyak contoh tetapi yang penting adalah flora normal tidak berbahaya dan
dapat bermanfaat bagi tubuh inang pada tempat yang seharusnya atau tidak
ada kelainan yang menyertainya. Mereka dapat menimbulkan penyakit jika
berada pada lokasi yang asing dalam jumlah banyak dan jika terdapat faktor-
faktor predisposisi. (Jawetz, 2005).

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Flora Normal pada manusia

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kehadiran flora normal pada tubuh


manusia adalah :

1. Nutrisi

2. Kebersihan seseorang (berapa seringnya dibersihkan)

3. Kondisi hidup
4. Penerapan prinsip-prinsip kesehatan
C. Penggolongan Flora Normal Tubuh Manusia

Flora normal tubuh manusia berdasarkan bentuk dan sifat kehadirannya dapat
digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu :
a. Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous)

Mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian


tubuh tertentu dan pada usia tertentu. Keberadaan mikroorganismenya akan
selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya, jika ada perubahan akan kembali
seperti semula. Flora normal yang lainnya bersifat mutualisme. Flora normal
ini akan mendapatkan makanan dari sekresi dan produk-produk buangan
tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari
flora normal. Mikroorganisme ini umumnya dapat lebih bertahan pada kondisi
buruk dari lingkungannya.

Contohnya : streptococcus viridans, s. Faecalis, pityrosporum ovale, candida


albicans.
b. Mikroorganisme sementara (transient flora)

Mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di


kulit dan selaput lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau
minggu. Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap)
dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan
tidak menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih
utuh, jika flora tetap berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi,
berbiak dan menimbulkan penyakit.

Contohnya : escherichia coli, salmonella sp, shigella sp,


clostridium perfringens, giardia lamblia, virus norwalk dan virus hepatitis a.

BAB III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN

1. Flora normal adalah kumpulan mikroorganisme yang secara alami terdapat


pada tubuh manusia normal dan sehat. Mikroorganisme yang secara tetap
terdapat pada permukaan tubuh bersifat komensal.

2. Flora normal di kulit dikategorikan menjadi dua jenis yaitu mikroorganisme


resident (menetap) contohnya: Staphylococcus epidermisdis), dan transient
(sementara) contohnya: S.aureus.

3. Flora normal pada mata memiliki peran sebagai pencegah kolonisasi kuman
patogen dan kemungkinan terjadinya penyakit. Mikroorganisme yang dapat
ditemukan adalah Corynebacterium xerosis, Staphylococcus epidermidis,
Streptococcus non hemolitik, Neisseria sicca, dan Moraxella.

4. Flora normal pada saluran pernapasan biasanya berada pada hidung dan
laring, dengan spesies dominan anggota Staphylococcus (baik S. epidermis
atau S. aureus) yang menetap, dan anggota Streptococcus.

5. Flora normal Pada saluran pencernaan, mikroorganisme tumbuh, spesies


dominan mikroorganismenya adalah Strepcoccus sanguinis dan S. Aureus
yang menyebabkan kerusakan pada gigi karena aktivitasnya. Selebihnya
mikroorganisme dominan yang dapat hidup pada saluran pencernaan,
terutama pada usus besar adalah bakteri E. Coli, karena ketersediaan makanan
dan nutrisi dalam organnya.
III.2 Saran
Diharapkan kepada pembaca khususnya pada mahasiswa farmasi agar
dapat memahami mikroorganisme dan jenis-jenis flora normal yang terdapat
pada tubuh manusia
DAFTAR PUSTAKA
Jawetz, Melnick and Adelbergs, 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical
Microbiology). Salemba Medika, Jakarta.
Michael J. Pelczar and E.C.S Chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta:
UI-Press
Ryan, Chaterina. 2011. Bakteriologi: Flora Normal (Bakteri) Saluran Napas. Staf
Pengajar Fakultas Kedokteran UI. 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi
Revisi.Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran UI. 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi.
Jakarta: Bina Rupa Aksara.
http://pemburumikroba.blogspot.com/2010/09/flora-normal, di akses pada tanggal 26
April 2017.
http://universitasmuhammadiyahyogyakarta.ac.id, di akses pada tanggal 26 April
2017.
http://Wikipedia.org, di akses pada tanggal 26 April 2017.