Anda di halaman 1dari 19

Observer

: Rizky Erlinda Febrina


MATERI PENYULUHAN
1. Pengertian TB Paru

TB paru adalah suatu penyakit radang paru menahun dan dapat menular yang disebsbkan oleh infeksi bakteri.

Penyakit TB paru menyerang segala umur terutama pada mereka yang lemah, kekurangan gizi serta tinggal

bersama

dengan penderita TB paru. Penyakit ini juga sangat dipengaruhi oleh keadaan
dan sanitasi lingkungan
2. Penyebab TB Paru
penyebab dari penyakit TB paru adalah kuman atau bakteri Mycobacterium
tubercolosis
3. Tanda Dan Gejala Penyakit TB Paru

penyakit TB paru sukar ditemukan saat timbulnya gejala pertama, karena mulainya secara perlahan-lahan

sehingga orang yang merasa sehatpun mengidap kuman TB paru. Kadang-kadang terdapat demam yang tidak

diketahui penyebabnya dan sering disertai tanda-tanda infeksi saluran pernapasan bagian atas, seperti batuk,

pilek, tenggorokan sakit atau nyeri tekan.

TB paru gejalanya cenderung mereda sendiri, tetapi sebagian besar akan menyebar ke organ lain sehingga

dapat menimbulkan komplikasi dan kuman dapat masuk ke dalam aliran darah menuju otak, tulang, hati, ginjal

dan limpha dan jika kuman TB di paru semakin banyak maka kemungkinan besar akan menyebar ke jantung.

Gejala dari TB paru adalah :

batuk lebih dari 2 minggu baik disertai dahak atau tidak

pernah batuk yang dahaknya bercampur dengan darah

merasa tidak enak didada dengan sesak

demam, meriang lebih dari 1 bulan dan malam sering keluar keringat

dingin
tidak nafsu makan dan badan makin kurus
1. Penularan TB Paru
1. langsung
kuman-kuman yang berasal dari percikan ludah atau cairan hidung penderita berpindah ke orang lain secara

langsung pada waktu mereka berbicara, berhadapan, berciuman atau bersin.

2. tidak langsung

bila penderita TB paru meludah di sembarang tempat, kemudian ludak yang mengandung kuman TB

paru itu mengering, berterbangan dan dihirup oleh orang lain.

5. Pencegahan Penularan TB Paru

untuk mencegah agar penyakit TB paru tidak menular/menyebar kepada orang lain, hendaknya keluarga dan

penderita senantiasa untuk selalu mengingatkan yaitu :

jika batuk, mulut ditutup dengan sapu tangan


dahak ditampung pada tempat kemudian diberi lysol atau pembunuh
kuman
anggota keluarga dan orang yang sering bergaul dengan penderita
sebaiknya memeriksakan diri kelab
pada bayi jangan lupa diimunisasi BCG
secara dini dilakukan pengobatan dan memeriksakan kesehatannya bila
batuk lebih dari 2 minggu
ventilasi rumah harus ada dan memenuhi syuarat kesehatan dan sinar
matahari dapat masuk ke ruangan, terutama pada pagi hari sehingga
dapat membunuh kuman TB paru
meningkatkan daya tahan tubuh antara lain dengan memakan makanan
bergizi
6. Pengobatan TB Paru

TB paru dapat disembuhkan dengan berobat secara rutin dan teratur selama 6 bulan atau 12 bulan. Obat-obatan

yang diberikan dipergunakan sesuai dengan petunjuk dokter.

7. Prognose/Gambaran Penyakit TB Paru


Ada beberapa prognose TB paru tergantung dari pengobatan yang diberikan
Bisa sembuh dengan pengobatan yang tepat dan minum obat secara
teratur
Bila tidak diobati secara adekuat dapat menyebar ke organ tubuh yang
lainmelalui aliran darah
Bisa terlihat sembuh/ gejala menurun tapi sewaktu-waktu kambuh lagi
karena kuman TB paru masih hidup namun tidak aktif

Laporan Pendahuluan (Askep) Tuberculosis (TBC)

A. DEFINSI
Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe

humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus). TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran

napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru

melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer (ghon).

Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks

(ranke). (ilmu penyakit paru, muhammad Amin).

Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan

gejala yang sangat bervariasi.

B. ETIOLOGI

Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk

batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar kuman terdiri

atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan

kimia dan fisik.

Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-

tahan dalam lemari es).

C. PROSES PENULARAN

Tuberculosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang

dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk

dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi didalam ruangan

dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar

matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab

dapat bertahan sampai beberapa jam.

D. ANATOMI FISIOLOGI
E. PATOFISIOLOGI

Port deentri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran

pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui

udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil

tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.

Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu

sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung dan cabang

besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus

biasanya dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah atau paru-paru

tau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan.

Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun

tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh

makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia

akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denagn sendirinya sehingga tidak ada sisa yang

tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang

biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang
mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel

epitolit yang dikelilingi leh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 10 hari.

F. MANIFESTASI KLINIS

Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu

Sesak napas dan nyeri dada

Badan lemah, kurang enak badan

Berkeringat pada malam hari walau tanpa kegiatan berat badan menurun (Penyakit infeksi TB

paru dan ekstra paru, Misnadiarly)

G. JENIS-JENIS PENYAKIT TBC

Penyakit tuberkulosis ( TBC ) terdiri atas 2 golongan besar,yaitu :

1. TB paru ( TB pada organ patu-paru )

2. TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru )

a. Tuberkulosis milier

b. Tuberkulosis sistem saraf pusat ( TB neningitis )

c. Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula

d. Tuberkulosis Pericarditis

e. Tuberkulosis Skelet / Tulang

f. Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih

g. Tuberkulosis Peritonitis

h. Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)

i. Tuberkulosis Iymphadenitis

j. Tuberkulosis Catan / Kulit


k. Tuberkulosis Laringitis

l. Tuberkulosis Otitis

H. KOMPLIKASI

1. Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial

2. Pleuritis tuberkulosa

3. Efusi pleura

4. Tuberkulosa milier

5. Meningitis tuberkulosa

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit

2. Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)

3. Poto Thorak adalah Infiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak gambaran

bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan, berupa cincin :

pada klasifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.

4. Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb paru

5. Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED)

6. Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun

J. PENATALAKSANAAN

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase Intensif (2-3 bulan) dan Fase

Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat

tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah

Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan
adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat,

derivat rifampisin / INH.

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah.

Kriteria hasil :

Mempertahankan jalan nafas pasien

Mengeluarkan sekret tanpa bantuan

Intervensi :

Kaji fungsi pernapasan contoh : Bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot

aksesori

Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif : catat karakter, jumlah

sputum, adanya emoptisis

Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam

Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan

Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan

Rasionalisasi :

Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis


Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah

diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkal dan dapat memerlukan evaluasi

Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan

Mencegah obstruksi / aspirasi

2. Pertukaran gas, kerusakan dan resiko.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sering batuk atau produksi sputum

meningkat.

Kriteria hasil :

BB meningkat

Intervensi :

Catat status nutrisi pasien

Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai

Berikan makanan sedikit tapi sering

Anjurkan keluarga klien untuk membawa makanan dari rumah dan berikan pada klien kecuali

kontra indikasi

Kolaborasi dengan ahli gizi

Rasionalisasi :

Berguna dalam mendefinisikan derajat / luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat

Pertimbangan keinginan dapat memperbaiki masukan diet


Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan

Membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural

3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan

tidak akurat dan tidak lengkap informasi yang ada.

Kriteria hasil :

Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan

Intervensi :

Kaji kemampuan pasien untuk belajar

Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat

Berikan instruksi dan informasi tertulis

Anjurkan klien untuk tidak merokok

Kaji bagaimana TB ditularkan

Rasionalisasi :

Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu

Dapat menunjukkan kemajuan atu pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan

evaluasi lanjut

Infomasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi

Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB tetapi meningkatkan disfungsi

pernapasan
4. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari

pemajanan patogen.

Kriteria hasil :

Menurunkan resiko penyebaran infeksi

Intervensi :

Kaji patologi penyakit

Identifikasi orang lain yang berisiko

Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah

Kaji tindakan kontrol infeksi

Awasi suhu sesuai indikasi

Kolaborasi dengan tim medis

Rasionalisasi :

Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program pengobatan

Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran /

terjadinya infeksi

Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien

Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut

Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran

infeksi
Label: askep (keperawatan), kePerawaTan mediKaL bedah, Kesehatan, News

0 Comments:

1.

Post a Comment

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Subscribe to: Poskan Komentar (Atom)

Sabtu, 21 Agustus 2010


Laporan Pendahuluan (Askep) Tuberculosis (TBC)

Diposkan oleh _Ly_`s pageS at Sabtu, Agustus 21, 2010


Label: askep (keperawatan), kePerawaTan mediKaL bedah, Kesehatan, News

A. DEFINSI

Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe

humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus). TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran

napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru

melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer (ghon).

Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks

(ranke). (ilmu penyakit paru, muhammad Amin).


Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan

gejala yang sangat bervariasi.

B. ETIOLOGI

Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk

batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar kuman terdiri

atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan

kimia dan fisik.

Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-

tahan dalam lemari es).

C. PROSES PENULARAN

Tuberculosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang

dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk

dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi didalam ruangan

dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar

matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab

dapat bertahan sampai beberapa jam.

D. ANATOMI FISIOLOGI
E. PATOFISIOLOGI

Port deentri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran

pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui

udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil

tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.

Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu

sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung dan cabang

besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus

biasanya dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah atau paru-paru

tau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan.

Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun

tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh

makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia

akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denagn sendirinya sehingga tidak ada sisa yang

tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang

biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang

mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel

epitolit yang dikelilingi leh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 10 hari.

F. MANIFESTASI KLINIS

Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu

Sesak napas dan nyeri dada

Badan lemah, kurang enak badan


Berkeringat pada malam hari walau tanpa kegiatan berat badan menurun (Penyakit infeksi TB

paru dan ekstra paru, Misnadiarly)

G. JENIS-JENIS PENYAKIT TBC

Penyakit tuberkulosis ( TBC ) terdiri atas 2 golongan besar,yaitu :

1. TB paru ( TB pada organ patu-paru )

2. TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru )

a. Tuberkulosis milier

b. Tuberkulosis sistem saraf pusat ( TB neningitis )

c. Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula

d. Tuberkulosis Pericarditis

e. Tuberkulosis Skelet / Tulang

f. Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih

g. Tuberkulosis Peritonitis

h. Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)

i. Tuberkulosis Iymphadenitis

j. Tuberkulosis Catan / Kulit

k. Tuberkulosis Laringitis

l. Tuberkulosis Otitis

H. KOMPLIKASI

1. Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial

2. Pleuritis tuberkulosa

3. Efusi pleura

4. Tuberkulosa milier
5. Meningitis tuberkulosa

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit

2. Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)

3. Poto Thorak adalah Infiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak gambaran

bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan, berupa cincin :

pada klasifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.

4. Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb paru

5. Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED)

6. Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun

J. PENATALAKSANAAN

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase Intensif (2-3 bulan) dan Fase

Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat

tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah

Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan

adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat,

derivat rifampisin / INH.

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah.

Kriteria hasil :

Mempertahankan jalan nafas pasien


Mengeluarkan sekret tanpa bantuan

Intervensi :

Kaji fungsi pernapasan contoh : Bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan otot

aksesori

Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif : catat karakter, jumlah

sputum, adanya emoptisis

Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas dalam

Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan

Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan

Rasionalisasi :

Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis

Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah

diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkal dan dapat memerlukan evaluasi

Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan

Mencegah obstruksi / aspirasi

2. Pertukaran gas, kerusakan dan resiko.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sering batuk atau produksi sputum

meningkat.
Kriteria hasil :

BB meningkat

Intervensi :

Catat status nutrisi pasien

Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai

Berikan makanan sedikit tapi sering

Anjurkan keluarga klien untuk membawa makanan dari rumah dan berikan pada klien kecuali

kontra indikasi

Kolaborasi dengan ahli gizi

Rasionalisasi :

Berguna dalam mendefinisikan derajat / luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat

Pertimbangan keinginan dapat memperbaiki masukan diet

Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan

Membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural

3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan

tidak akurat dan tidak lengkap informasi yang ada.

Kriteria hasil :

Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan

Intervensi :

Kaji kemampuan pasien untuk belajar


Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat

Berikan instruksi dan informasi tertulis

Anjurkan klien untuk tidak merokok

Kaji bagaimana TB ditularkan

Rasionalisasi :

Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu

Dapat menunjukkan kemajuan atu pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan

evaluasi lanjut

Infomasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi

Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB tetapi meningkatkan disfungsi

pernapasan

4. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari

pemajanan patogen.

Kriteria hasil :

Menurunkan resiko penyebaran infeksi

Intervensi :

Kaji patologi penyakit

Identifikasi orang lain yang berisiko

Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah
Kaji tindakan kontrol infeksi

Awasi suhu sesuai indikasi

Kolaborasi dengan tim medis

Rasionalisasi :

Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program pengobatan

Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran /

terjadinya infeksi

Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien

Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut

Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran

infeksi

Read more: http://sely-biru.blogspot.com/2010/08/laporan-pendahuluan-askep-


tuberculosis.html#ixzz1Z2GW7YP7