Anda di halaman 1dari 27

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian ini bertujuan untuk mensisntesis kolagen yang berasal dari

tendon sapi untuk dijadikan komposit kolagen – hidroksiapatit sebgai bahan bone

filler. Dalam bab ini penulis akan membahas tentang tinjauan pustaka, dengan

penekanan pembahasan pada tinjauan teori tentang tulang, protein kolagen, sapi,

Secara garis besar tulang dikenal ada dua
Secara garis
besar
tulang dikenal
ada dua

kolagen tendon sapi, keramik hidroksiapatit, komposit kolagen – hidroksiapatit,

serta karakteristik komposit kolagen - hidroksiapatit.

2.1 Tulang

2.1.1 Struktur mikroskopis tulang

tipe yaitu tulang

korteks

(kompak atau cortical) dan tulang trabekular (berongga = spongy = cancelous).

Bagian luar kedua tulang tersebut merupakan tulang padat yang disebut korteks

tulang dan bagian dalamnya adalah tulang trabekular yang tersusun seperti bunga

karang (Riis, 1996). Tulang korteks merupakan bagian terbesar (80%) penyusun

kerangka,mempunyai fungsi mekanik, modulus elastisitas yang tinggi dan mampu

menahantekanan mekanik berupa beban tekukan dan puntiran yang berat. Tulang

korteks terdiri dari lapisan padat kolagen yang mengalami mineralisasi, tersusun

konsentris sejajar dengan permukaan tulang (Riis, 1996).

Tulang spongiosa atau cancellous atau trabekular mempunyai elastisitas

yang

lebih

kecil

dari

tulang

korteks,

mengalami

proses reabsorpsi lebih

cepat dibandingkan dengan tulang korteks. Tulang spongiosa terdapat pada daerah

metafisis dan epifisis tulang panjang serta pada bagian dalam tulang pendek

Skripsi

6

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

(Buckwalter, 1995).

dan tulang berlapis

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

7

Secara makroskopis tulang dibedakan menja di tulang woven

lamellar (tulang sekunder) . Tulang woven adala h bentuk tulang

yang paling awal pa da embrio dan selama pertumbuhannya terd iri dari jaringan

kolagen berbentuk ir

eguler. Setelah dewasa tulang woven dig anti oleh tulang

berlapis lamellar yan

g terdiri dari tulang korteks dan trabekular (

Rachman, 2006).

Struktur tulang norm

al ditunjukkan pada Gambar 2.1.

l
l

Menurut sudu

Gambar 2.1. Struktur tulang dewasa norma (Rachman, 2006) t pandang struktural, tulang pada dasarnya

2006) t pandang struktural, tulang pada dasarnya adalah gabungan dari komponen organ ik dan anorganik

adalah gabungan

dari komponen organ

ik dan anorganik yaitu, kolagen dan hidrok siapatit. Kolagen

adalah protein denga

n kekuatan tarik yang tinggi dan sifat viskoel astik, sedangkan

hidroksiapatit adalah

senyawa kalsium fosfat

dengan sifat yan

g mirip dengan

sebuah keramik. Str

uktur kristal hidroksiapatit, berbentuk jarum

dengan ukuran

Skripsi

angstrom, tertanam d

i sisi serat panjang kolagen. Serat kolagen k emudian disusun

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

8

dalam lembaran sebagai struktur paralel, yang pada gilirannya berlapis dalam

lingkaran konsentris dengan orientasi serat kolagen bervariasi antara lapisan.

Dimensi lapisan konsentris komposit, atau lamella ini berbeda untuk setiap jenis

tulang (Grimm, Michele J, 2004).

2.1.2 Matriks tulang

Berdasarkan

beratnya,

matriks

tulang

yang

merupakan

substansi

dalam bentuk kristal-kristal hydroxyapatite. Kristal (K) yang ditunjukkan pada Tabel 2.1 (Kalfas dalam
dalam
bentuk
kristal-kristal
hydroxyapatite.
Kristal
(K)
yang ditunjukkan
pada Tabel
2.1
(Kalfas
dalam
kompleks,
seperti
dapat
hadir
dalam
berbagai
fase
matriks,
sedangkan
dalam
kekuatannya
tergantung
dari

yang

interseluler terdiri dari ± 70% garam anorganik dan 30% matriks organik. Matriks

anorganik merupakan bahan mineral yang sebagian besar terdiri dari kalsium dan

fosfat

tersebut

–kristal

tersusun sepanjang serabut kolagen. Mineral – mineral lain yang terkandung

dalam tulang yaitu magnesium (Mg), fluoride (F) dan klor (Cl), natrium (Na) dan

kalium

2009).

Dewi,

Kehadiran mineral tersebut menjadikan kalsium fosfat dalam tulang mempunyai

sifat

dan

adanya

kemurnian (Dewi, 2009). Kekerasan tulang tergantung dari kadar bahan anorganik

dalam

bahan-bahan

organik khususnya serabut kolagen (Rachman, 2006).

Sebesar 95%

komponen organik dibentuk dari kolagen, sisanya terdiri

dari substansi dasar proteoglikan dan molekul non kolagen yang terlibat dalam

pengaturan mineralisasi tulang. Kolagen yang dimiliki oleh tulang adalah kurang

lebih setengah dari total kolagen tubuh, strukturnya pun sama dengan kolagen

pada jaringan pengikat lainnya. Hampir seluruhnya adalah fiber kolagen tipe I.

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

9

Ruang pada struktur tiga dimensinya yang disebut sebagai hole zones, yang

merupakan tempat mineral tulang (Grimm, Michele J, 2004) .

Kontribusi substansi dasar proteoglikan pada tulang memiliki proporsi

yang

jauh

lebih

kecil

dibandingkan

pada

kartilago,

terutama

terdiri

atas

chondroitin sulphate dan asam hyaluronik. Substansi dasar mengontrol kandungan

air dalam tulang, dan kemungkinan terlibat dalam pengaturan pembentukan fiber

kalsium selama proses mineralisasi, osteonektin yang Tabel 2.1. Kandungan Unsur Mineral dalam Tulang (Aoiki dalam
kalsium
selama
proses
mineralisasi,
osteonektin
yang
Tabel 2.1. Kandungan Unsur Mineral dalam Tulang
(Aoiki dalam Dewi, 2009)
Unsur
Kandungan (% berat)
Ca
34,00
P
15,00
Mg
0,50
Na
0,80
K
0,20
C
1,60
Cl
0,20
F
0,08
Zat sisa
47,62

kolagen. Materi organik non kolagen terdiri dari osteokalsin yang terlibat dalam

berfungsi

pengikatan

sebagai jembatan antara kolagen dan komponen mineral, sialoprotein yang kaya

akan asam salisat dan beberapa macam protein lainya (Grimm, Michele J, 2004).

2.1.3 Sel tulang

Tulang terdiri atas matriks tulang dan 3 jenis sel tulang yaitu, osteosit,

osteoblast yang mensintesis unsur organik matriks dan osteoklas yang merupakan

sel raksasa multinuklear yang terlibat dalam reabsorbsi dan remodeling jaringan

Skripsi

tulang.

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

10

Osteoblast memproduksi osteoid atau matriks tulang, berbentuk bulat, oval

atau

polihedral,

terpisah

dari

matriks

yang

telah

mengalami

mineralisasi.

Osteoblast

berfungsi

mensintesis

dan

mensekresi

matriks

organik

tulang,

mengatur perubahan

elektrolit

cairan

ekstraselular pada proses

mineralisasi.

Osteoblast mengandung retikulum endoplasmik, membran golgi dan mitokondria.

Osteoblast salingberhubungan melalui gap junction. Osteoblast yang menetap pada

Sel osteoklast ditemukan pada permukaan tulang yang
Sel
osteoklast
ditemukan
pada
permukaan
tulang
yang

permukaan tulang bentuknya pipih yang dinamakan bone lining cells /

resting

osteoblast (Depster, 2001)

mengalami

resorpsi dan kemudian membentuk cekungan yang dikenal sebagai lacuna Howship.

Sitoplasma Osteoklas terisi oleh mitokondria yang berguna untuk menyediakan

energi untuk proses reabsorbsi tulang (Depster, 2001). Osteoblast dan osteoklast

ditunjukkan pada Gambar 2.2.

Osteoblast dan osteoklast ditunjukkan pada Gambar 2.2. Gambar 2.2 Sel tulang (B= Bone ; ob =

Gambar 2.2 Sel tulang (B= Bone; ob = osteoblast; oc = osteoklas) (Depster, 2001) Osteosit berasal dari osteoblas dimana pada akhir proses mineralisasi akan

tersimpan pada matriks tulang. Osteosit mempunyai satu inti, jumlah organela

Skripsi

bervariasi dan sel ini menjangkau permukaan luar dan dalam tulang, membuat

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

 

11

tulang

menjadi

sensitif

terhadap

tekanan,

mengontrol

pergerakan

ion

serta

mineralisasi tulang

(Drajad, 2002). Osteosit

pada akhir proses mineralisasi

terhimpit oleh ekstraselular matriks (Drajad, 2002). Pada Gambar 2.2 tidak terlihat

adanya osteosit. Letak osteosit ada dibagian bawah osteoblast (Depster, 2001).

2.2 Biomaterial

Biomaterial merupakan semua material sintetik yang digunakan untuk

transplantasi jaringan dari satu bagian individu yang sama. Allograft merupakan
transplantasi jaringan dari
satu bagian
individu yang sama.
Allograft merupakan

menggantikan atau memperbaiki fungsi jaringan tubuh yang secara berkelanjutan

atau sekedar bersentuhan dengan cairan tubuh (Cahyanto, 2009 ). Berdasarkan

sumbernya, biomaterial ada 2 macam, yaitu biomaterial alam dan biomaterial

sintetik. Biomaterial alam terdiri dari autograft, allograft dan xenograft. Autograft

merupakan

dalam

tubuh ke tubuh yang lain

transplantasi organ atau

jaringan dari satu individu ke individu lain, dalam satu spesies namun berbeda

genotip. Sedangkan xenograft merupakan transplantasi organ atau jaringan dari

spesies yang berbeda. Untuk biomaterial sintetik dapat disintesis dari bahan

logam, polimer, keramik atau komposit. Allograftt memiliki keterbatasan antara

lain kelangkaan donor, betuk anatomi tubuh yang setiap orang dapat berbeda dan

kurangnya tingkat penerimaan organ selama masa penyembuhan. Sedangkan

untuk

autograft

memiliki

kelemahan

pada

respon

kekebalan

dan

dapat

menghilangkan osteokonduksi (Rodrigues et al, 2002).

Usaha melakukan perbaikan fungsi organ atau jaringan pun semakin

berkembang,

sehingga

muncul

berbagai

bahan

biomaterial.

Biomaterial

merupakan suatu material tak hidup yang digunakan sebagai perangkat medis dan

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

12

mampu berinteraksi dengan sistem biologis (Williams dalam Cahyanto, 2009).

Syarat utama material yang akan digunakan di dalam tubuh adalah biokompatibel,

artinya material yang digunakan mampu bekerja sesuai dengan respon penerima.

Namun, tidak ada material yang biokompatibel menyeluruh. Hal ini disebabkan

material untuk suatu aplikasi bisa saja biokompatibel tetapi tidak untuk aplikasi

lain. Oleh karena itu biokompabilitas dapat berbeda bergantung aplikasinya

Skripsi

biokompabilitas dapat berbeda bergantung aplikasinya Skripsi (Williams dalam Cahyanto, 2009). 2.3 Protein Kolagen Kolagen

(Williams dalam Cahyanto, 2009).

2.3 Protein Kolagen

Kolagen adalah suatu protein struktural yang panjang dan berserat yang

berisi tiga rantai peptida, yang membentuk struktur heliks rangkap tiga oleh ikatan

hidrogen intra-molekuler antara Gly dan Hyp dalam rantai yang berdekatan

(Zeugolis dalam Hua-Jie Wang et al, 2009). Fibril kolagen terdiri dari sub-unit

polipeptida berulang yang disebut tropokolagen yang disusun dalam untaian

paralel dari kepala sampai ekor seperti terlihat pada Gambar 2.3. Tropokolagen

terdiri atas tiga rantai polipeptida yang terpilin erat menjadi tiga untaian atau

lembaran panjang, tiap rantai polipeptida dalam tropokolagen juga merupakan

satu heliks (Lehninger dalam Hajrawati , 2006).

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

13

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga 13 Gambar 2.3. Susunan molekul tropokolagen dari fibril kolagen ( Lehninger dalam
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga 13 Gambar 2.3. Susunan molekul tropokolagen dari fibril kolagen ( Lehninger dalam
ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga 13 Gambar 2.3. Susunan molekul tropokolagen dari fibril kolagen ( Lehninger dalam

Gambar 2.3. Susunan molekul tropokolagen dari fibril kolagen ( Lehninger dalam Hajrawati, 2006 ) Kolagen seperti umumnya protein, memiliki struktur yang terdiri dari

hidrogen, gugus hidroksil (OH), gugus karbonil (C=O), gugus CN dan

karbon,

gugus amina (N-H). Gugus amina (N-H) pada kolagen terdiri dari pita amida A,

amida I, amida II serta amida III (Marsaid, 2010). Gugus tersebut sesuai dengan

struktur kimia kolagen dan struktur rantai polipeptida yang ditunjukkan pada

Gambar 2.4. Molekul kolagen terdiri dari tiga rantai polipeptida yang saling

berulang.

terdiri dari tiga rantai polipeptida yang saling berulang. Gambar 2.4. Struktur rantai panjang kolagen ( kiri

Gambar 2.4. Struktur rantai panjang kolagen ( kiri ) dan struktur rantai

polipeptida ( kanan ) (Martianingsih et al, 2010)

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

14

Protein kolagen terdiri dari polipeptida dan lebih 1000 residu asam amino.

Polipeptida tersebut adalah glisin – prolin dan hidroksiprolin atau Gly–X-Y,

dimana residu glisin tersembunyi pada bagian dalam rantai, sedangkan asam

amino X-Y berada di bagian permukaan rantai tripel polipeptida. Asam amino

glisin, protein prolin

dan

hidroksiprolin

merupakan

asam

amino

utama

kolagen Struktur asam amino glisin dan hidroksiprolin ini

yang menyusun

(Martianingsih et al, 2010)
(Martianingsih et al, 2010)

komponen protein kolagen secara berulang dengan beberapa asam amino lainya.

Struktur glisin dan hidroksiproline ditunjukkan pada Gambar 2.5 yang terdiri dari

gugus karboksil dan amida sekunder, dengan bentuk ikatan yang berbeda. Asam

amino aromatik dan sulfur terdapat dalam jumlah yang sedikit (Ward Ward et

al, 1977).

Gambar 2.5 Struktur rantai glisin (kiri), dan struktur rantai hidroksiprolin (kanan )

Penyebaran kolagen pada tubuh mamalia terdapat sekitar 25% sampai 35%

protein kolagen dari seluruh tubuh mamalia ( Di LulloDagger et al dalam Hua-Jie

Wang et al, 2009 ). Lebih dari 90% protein ekstraseluler ada di tendon dan kulit

dan

lebih

dari

50% kolagen

terdapat

pada kulit

(Piez

dalam

Friess,1997).

Penyebaran kolagen pada berbagai jaringan mamalia dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

15

Tabel 2.2 Penyebaran Kolagen pada Berbagai Jaringan Hewan Mamalia

(Ward et al, 1977)

Kandungan Jenis Jaringan Kolagen (%) Kulit 89 Tendon 85 Tulang 24 Aorta 23 Lambung 23
Kandungan
Jenis Jaringan
Kolagen (%)
Kulit
89
Tendon
85
Tulang
24
Aorta
23
Lambung
23
Usus besar
18
Ginjal
5
Otot
2
Hati
2
Menurut Brown
et
al
(1997), kolagen

merupakan kelompok protein

struktural yang bersumber dari matriks ekstraseluler. Fibril kolagen merupakan

struktur protein yang penting dalam kulit, tulang, dinding jaringan darah serta

organ bagian dalam.

Sesuai dengan struktur alami, secara komersial kolagen

banyak dimanfaatkan dalam dunia kedokteran, pangan dan industri perkulitan.

Rantai peptida kolagen setiap individu sangat panjang dan mengandung kira-

kira

1050 asam amino residu. Kolagen memiliki kekuatan tarik yang besar, dan

merupakan komponen utama dari fasia, tulang rawan, ligamen, tulang tendon, dan

kulit.

Terdapat banyak tipe kolagen penyusun jaringan, antara lain tipe I kolagen

ditemukan terutama pada kulit, tulang dan tendon, tipe II kolagen ditemukan pada

tulang rawan arteri pada tulang sendi, dan tipe III kolagen merupakan unsur utama

dari pembuluh darah (Cahyanto, 2009). Kolagen yang paling dikenal adalah

kolagen tipe I yang banyak terdapat di jaringan tubuh yang lunak seperti kulit dan

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

16

tendon, maupun jaringan jaringan tubuh yang keras seperti tulang dan kartilago.

Kolagen tipe 1

terdiri dari tiga rantai polipeptida. Dua rantai polipeptida disebut

tipe 1 dan polipeptida yang ketiga disebut tipe 2 (Prayitno, 2007).

Protein kolagen memiliki biokompatibilitas sangat baik, imunogenisitas

yang baik, dan bioabsorbabilitas yang

tinggi. Sebagai contoh, Thumann et al

(2009) membuktikan bahwa kolagen tidak beracun oleh morfologi, viabilitas dan

dan juga tidak menimbulkan penolakan atau
dan
juga
tidak
menimbulkan
penolakan
atau

respon

analisis diferensiasi. Setelah 24 minggu implantasi subconjunctival, membran

kolagen tidak menunjukkan bukti adanya peradangan atau fibrosis, dan berhasil

diserap dalam 17 minggu. Membran kolagen terdegradasi lambat dalam ruang

inflamasi

subretinal

(Thumann et al, 2009). Dalam percobaan Hong et al, 2007, disiapkan 2-D dan

matriks 3-D tipe I kolagen dan menemukan bahwa geometri dan komposisi

matriks mempengaruhi aktivasi kontekstual dari jalur ERK (Extracellular Signal-

Regulated Kinases), yang mengakibatkan efek yang berbeda pada fenotipe sel

(Hong et al, 2007).

2.4 Sapi (Bos sondaicus)

Bangsa (breed) sapi adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik

tertentu yang sama. Atas dasar karakteristik tersebut, mereka dapat dibedakan dari

ternak lainnya meskipun masih dalam spesies yang sama. Karakteristik yang

dimiliki dapat diturunkan ke generasi berikutnya.

Menurut Romans dalam Arbi (2009), bangsa sapi mempunyai klasifikasi

Skripsi

taksonomi sebagai berikut :

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

17

Filum

:

Subfilum

:

Kelas

:

Sub kelas

:

Infra kelas

:

Ordo

:

Sub ordo

:

Infra ordo

:

Famili

:

Genus

:

Grup

:

Spesies

Chordata

Vertebrata

Mamalia

Theria

Eutheria

Artiodactyla

Ruminantia

Pecora

Bovidae

Bos (cattle) Taurinae Bos taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi India/sapi zebu),

: Bos sondaicus (banteng/sapi Bali). Gambar 2.6 Sapi bali (Bos sondaicus)
:
Bos
sondaicus (banteng/sapi Bali).
Gambar 2.6 Sapi bali (Bos sondaicus)

Spesies sapi potong yang paling umum ditemui di Indonesia adalah Bos

saondaicus atau sapi Bali seperti pada Gambar 2.6.

Sapi Bali merupakan

keturunan sapi liar yang disebut sapi banteng (Bos bibos atau Bos sondaicus) yang

telah mengalami proses penjinakan (domestikasi) berabad - abad lamanya. Sapi

jenis ini termasuk dalam golongan sapi pedaging dan pekerja. Bentuk tubuhnya

menyerupai banteng, tetapi ukuran tubuh lebih kecil akibat proses domestikasi,

dadanya dalam, dan badanya padat. Warna tubuh ketika masih kecil berwana

sawo matang. Namun setelah dewasawarna bulu akan berubah menjadi cokelat

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

18

kehitaman. Tanduk pada jantan tumbuh keluar kebagian luar kepala, sedangkan

pada betina, tanuk ini tumbuh kebagian dalam kepala. Tinggi sapi dewasa

mencapai 130 cm dan berat rata-rata sapi jantan adalah 450 kg, sedangkan sapi

betina beratnya mencapai 400 kg (Arbi, 2009).

2.5 Kolagen dari Tendon Sapi

Kolagen secara khas dapat dibuat dari kulit dan tendon. Ekstrak kolagen

enzim sebagai katalis merupakan metode yang lebih kemurnian kolagen yang tinggi. Banyak dengan menggunakan
enzim
sebagai
katalis
merupakan
metode
yang
lebih
kemurnian
kolagen
yang
tinggi.
Banyak
dengan
menggunakan
enzim
pepsin
sebagai
katalis
yang
berlebih
akan
membuat
kolagen
terhidrolisis

dari tendon sapi relatif lebih mudah untuk dilakukan dan menghasilkan kolagen

dalam jumlah cukup banyak. Kandungan kolagen pada tendon terdapat sekitar

85% dari berat keseluruhan tendon. Prosedur untuk membuat kolagen adalah

dengan menyertakan asam atau ekstrak enzim ( Kempt et al, 1992 ). Menyertakan

ekstrak

baik

untuk

ekstraksi

proses

menghasilkan

ditemukan

kolagen

dalam

ekstraksi. Namun kereaktifan enzim juga perlu diperhatikan. Enzim dengan

dan

rusak.

kereaktifan

Akibatnya kandungan kolagen tidak terlihat sama sekali ( Kempt et al, 1992 ).

Kandungan kolagen pada tendon sapi jenis bos sondaicus, bos indicus dan

bos taurus kurang lebih sama, sekitar 85% dari total berat tendon diseluruh sapi

(Arbi, 2009). Hal ini bisa dikarenakan berat dari ketiga jenis sapi yang umum ada

di Indonesia ini kurang lebih sama, berkisar 400-500 kg untuk sapi dewasa (Arbi,

Skripsi

2009).

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

2.6 Keramik Hidroksiapatit

19

Mineral apatit, baik sintetis ataupun alami, yang paling stabil dan umum

digunakan

dalam

kedokteran

dan

kedokteran

gigi

adalah

hidroksiapatit.

Hidroksiapatit

merupakan material kisi kristal heksagonal dengan formula kimia

yang

ideal,

yaitu,

Ca 10 (PO 4 ) 6 (OH) 2. Struktur

kristal

monosiklik

heksagonal

hidroksiapatit ditunjukkan pada Gambar 2. Hidroksiapatit memiliki Ca:P sebesar

pada Gambar 2. Hidroksiapatit memiliki Ca:P sebesar 1,67. Secara teoritis, hidroksipatit mempunyai densitas

1,67. Secara teoritis, hidroksipatit mempunyai densitas 3,156 gr/cm 3 (Aoki dalam

Dewi, 2009).

Hidroksiapatit adalah salah satu dari sekian banyak biokeramik

yang digunakan untuk rekontruksi jaringan tulang dan gigi. (Rodrigues et al,

2003).

jaringan tulang dan gigi. (Rodrigues et al , 2003). Gambar 2.7 Skema struktur kristal hidroksiapatit :

Gambar 2.7 Skema struktur kristal hidroksiapatit : (a) Hexagonal; (b) Monoslinik

(Billote, 2003)

Kehadiran karbonat (CO 3 2- ) dalam tubuh dapat mensubtitusi formula

hidroksiapatit

dengan

menempati

dua posisi.

Karbonat

menggantikan

posisi

hidroksil (OH - ) disebut apatit karbonat tipe A dan menggantikan posisi fosfat

(PO 4 ) 3- disebut apatit karbonat tipe B (Tomazik dalam Dewi, 2009).

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

 

20

Hidroksiapatit

merupakan

komponen

utama

pembentuk

tulang.

Hidroksiapatit merupakan jenis material yang sering diaplikasikan dalam bidang

medis diantaranya sebagai material untuk menggantikan mineral jaringan tulang

(Dewi, 2009). Selain itu juga cukup baik dalam menyerap unsur kimia organik

dalam

tubuh,

bersifat

non

toksik,

cepat

membangun

ikatan

dengan

tulang

(bioaktif),

memiliki

biokompatibilitas

dengan

jaringan

sekitar

dan

dapat

baik dalam jaringan lokal. Selain itu hidroksiapatit hidroksiapatit, yang osteokonduktivitas. Implant yang
baik
dalam
jaringan
lokal.
Selain
itu
hidroksiapatit
hidroksiapatit, yang
osteokonduktivitas.
Implant
yang
dibuat
dari

mendorong pertumbuhan tulang baru dalam strukturnya yang berpori.

Menurut Xie et al dalam Wahl et al, 2006, hidroksiapatit sangat cocok

digunakan sebagai implant atau filler kerena material ini mempunyai sifat adhesi

yang

terbukti

telah

meningkatkan proliferasi dan diferensiasi osteoblast.

2.7

Komposit Kolagen – Hidroksiapatit

Tulang rangka terutama mengandung kolagen (umumnya tipe I) dan

karbonat yang digantikan dengan

keduanya merupakan

tersebut

komponen

komponen

cenderung berperilaku sama dengan sifat asli tulang. Baik kolagen tipe I dan

hidroksiapatit ditemukan untuk meningkatkan diferensiasi osteoblast (Xie et al

dalam

Wahl

et

al,

2006.).

Namun,

jika

keduanya

dikombinasikan,

dapat

mempercepat osteogenesis. Osteogenesis merupakan proses pembentukan tulang

baru oleh osteoblast.

osteoblast

yang

mirip

Sebuah komposit matriks ketika tertanam dengan sel

dengan

osteoblast

manusia,

memperlihatkan

sifat

osteokonduktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan hidroksiapatit monolitik

(Serre dalam Wahl et al, 2006). Selain itu, kolagen-hidroksiapatit komposit

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

21

terbukti biokompatibel baik pada manusia dan hewan (Serre dalam Wahl et

al,2006). Oleh sebab itu, komposit kolagen – hidroksiapatit memang didesain

sebagai scaffold yang bersifat osteoinduktif dan osteokonduktif (Rodrigues et al,

2002).

Keuntungan biologis komposit kolagen – hidroksiapatit dibandingkan

dengan perancah polimer sintetis adalah dalam hal peningkatan regenerasi tulang.

hidroksiapatit dibuat dalam bentuk scaffold
hidroksiapatit dibuat dalam bentuk scaffold

Perancah merupakan struktur untuk menyangga suatu bahan. Perancah polimer

bisa memakan waktu hingga 2 tahun untuk meningkatkan regenerasi tulang

sementara kolagen – hidroksiapatit memiliki tingkat degradasi yang lebih masuk

akal berkaitan dengan penggunaan klinis dari 2 bulan sampai 1 tahun (Johnson

dalam Wahl et al,2009 ). Selanjutnya, sel osteogenik melekat lebih baik secara in

vitro untuk kolagen permukaan dibandingkan dengan implant polimer lain seperti

Poly-L-Lactide Acid (PLLA) dan Polyglycolic acid (PGA) (El-Amin et al dalam

(Wahl et al,2009).

Percobaan yang dilakukan Rodrigues et al,(2003), variasi komposisi antara

kolagen dan hidroksiapatit yang digunakan adalah 1:1 dan 1:2,6. Komposit

kolagen

berpori. Pada variasi

komposisi ini, keduanya memiliki sifat osteoinduktif dan osteokonduktif yang

baik.

Osteoinduktif

adalah

proses

untuk

menstimulasi

pertumbuhan

atau

perkembangan dari tulang. Osteokonduktif memberikan sebuah matriks fisik atau

scaffolding yang sesuai untuk pembentukan tulang baru.

Rodrigues, et al, 2003 menggunakan human osteoblast untuk uji toksisitas

dan interaksi osteoblast dalam komposit. Tidak ada degenerasi seluler atau

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

22

kematian sel yang diamati dalam tes toksisitas ini. Osteoblast yang dikultur

selama 4 hari terlihat jarang pada permukaan komposit.

Pada hari ke 11 setelah seeding sel, sel menunjukkan tingkat proliferasi

yang tinggi dan menutupi sebagian permukaan komposit (Gambar 2.8). Sel

bermigrasi melalui blok komposit (pori komposit) mencapai permukaan bawah

dan kemudian coverslip (muncul ke permukaan) serta coverslip ke permukaan

.
.
(muncul ke permukaan) serta coverslip ke permukaan . komposit. Pada waktu inilah terlihat osteoblast bentuk

komposit. Pada waktu inilah terlihat osteoblast bentuk polygonal melekat pada

permukan partikel hidroksiapatit dan juga serat kolagen (Gambar 2.9).

Gambar 2.8 Osteoblast menempel pada permukaan hidroksiapatit pada hari ke-11 (Rodrigues et al, 2003)

Gambar 2.9 Osteoblast menempel kuat pada serat kolagen (Rodrigues et al, 2003) Hasil data morfometrik sampel menunjukkan kolagen – hidroksiapatit

yang

diberi

perlakuan

dehidrasi

dan

diradiasi

pada

perbandingan

1

:

2.6,

menunjukkan pertumbuhan sel yang terbanyak. Sedangkan kontrol sampel dengan

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

 

23

perbandingan

1:1

menunjukkan

hasil

yang

lebih

rendah.

Adanya

kolagen

meningkatkan adhesi dan aktivitas osteoblast untuk tumbuh sampai ke permukaan

komposit kolagen – hidroksiapatit. Kolagen meningkatkan adhesi dalam proses

kontak

osteoblast

inokulasi

(osteoblast

dimasukkan

kedalam

sampel)

ke

permukaan komposit kolagen – hidroksiapatit melalui RGD (Argynine – Glysine -

Aspartate). RGD inilah yang membuat kolagen melekat kuat pada hidroksiapatit.

Bone filler merupakan salah satu bagian dari bone tulang. Bone grafting adalah prosedur Syarat utama
Bone
filler
merupakan
salah
satu
bagian
dari
bone
tulang.
Bone
grafting
adalah
prosedur
Syarat
utama
suatu
bahan
bisa
dijadikan
bone
dengan
jaringan
tubuh,
tidak
toksik
(racun)

(Rodrigue et al, 2003)

2.8 Bone Filler

grafting

atau

yang

pencangkokan

pembedahan

menempatkan tulang baru atau bahan pengganti ke dalam ruang pada sekitar

daerah fraktur tulang atau dalam lubang di tulang (cacat) untuk membantu dalam

filler

dan

adalah

mampu

pada tulang

penyembuhan.

biokompatibel

merangsang pertumbuhan sel tulang baru. Penggunaan bone filler

trabekular (sponge) dapat dilakukan denga cara menginjeksikan material filler

kedalam rongga tulang (Gambar 2.10). Bone filler

banyak digunakan untuk

implant mandibula pada kasus bedah mulut, dan maxillofacial seperti ditunjukkan

pada Gambar 2.11.

Gambar 2.11 menjelaskan, pada step1 gigi yang bermasalah dicabut, dan

terlihat adanya hole pada tulang mandibula pada step 2 yang harus segera diisi

dengan suatu filler. Step 3 menunjukkan adanya suatu filler berbentuk bubuk yang

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

24

diisikan kedalam hole yang kemudian ditutup seperti terlihat pada step 4 dan 5

(Michelle, 2012).

ditutup seperti terlihat pada step 4 dan 5 (Michelle, 2012). (www.n-forcefixation.com) Gambar 2.11 Bone filler pada
(www.n-forcefixation.com) Gambar 2.11 Bone filler pada kasus bedah mulut
(www.n-forcefixation.com)
Gambar 2.11 Bone filler pada kasus bedah mulut

Gambar 2.10 Bone filler pada tulang trabekular (sponge)

(Michelle, 2012)

Selain itu bone filler dapat diaplikasikan untuk regenerasi cartilage tissue

(Yasuda et al, 2010).

Dalam perawatan jaringan tulang rawan yang rusak,

masalah utama yang dihadapi para ahli adalah kesulitan untuk meregenerasi

tulang rawan secara alami tanpa melalui drug delivery. Sebagai contoh, metode

microfracture

yang

banyak

menghasilkan

microholes

di

tulang

subchondral

membentuk fibrocartilage, tapi tidak ada tulang rawan hialin artikular sebagai

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

25

penanda pertumbuhan tulang normal. Akibatnya, jaringan tulang rawan yang

rusak biasanya diobati dengan pencangkokan suatu jaringan tulang rawan lain

yang diperoleh dari tubuh pasien itu sendiri (Yasuda et al, 2010). Masalah yang

tibul dari pencangkokan tulang rawan lain dalam satu tubuh pasien adalah

kerusakan pada jaringan tulang rawan yang ditinggalkan dan jumlah tulang rawan

yang belum tentu mencukupi untuk pencangkokan. Oleh karena itu

penambahan

mencukupi untuk pencangkokan. Oleh karena itu penambahan bone fiiler pada kasus ini diperlukan untuk mengatasi

bone fiiler pada kasus ini diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut (Yasuda et

al, 2010).

2.9 Komposit Kolagen – Hidroksiapatit sebagai Bone Filler

Material bone filler seperti komposit kolagen – hidroksiapatit umumnya

digunakan pada tulang yang tidak terlalu panjang dan luas permukaanya. Sangat

jarang kasus kerusakan pada long bone yang menggunakan bone filler sebagai

tindakan penyembuhan. Misalnya saja, bila terdapat tumor pada long bone, tulang

yang sudah direseksi dari tumor biasanya ditambal dengan menggunakan tulang

dari bagian tubuh pasien lain ( autograft ) (Dubruille et al, 2000). Hal ini

dilakukan untuk menghindari infeksi yang dapat terjadi dan diharapkan bisa

menumbuhkan tulang baru. Namun autograft ini menimbulkan defek pada tulang

yang ditinggalkan. Bila tidak memungkinkan melakukan autograft, maka tindakan

alternatif

pilihan

adalah

menggunakan

donor

tulang

dari

tubuh

orang

lain

(allograft) Kelemahan dari allograft ini adalah tulang yang menjadi donor tidak

bisa berkembang, karena sel sel tulangnya sudah mati (Dubruille et al, 2000).

Alternatif terakhir adalah menggunakan bahan pengganti tulang (bone subtitute)

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

26

atau bone repair. Namun untuk

long bone, biasanya digunakan material dalam

bentuk scaffold atau bone cemens bukan filler (Dubruille et al, 2000).

Buser et al (1998) melakukan filling kolagen pada tulang mandibula babi

yang telah diberi defek sebelumnya. Hasil menunjukkan bahwa dalam 4 minggu

tidak terlihat adanya kolagen yang tersisa dan terjadi perbaikan jaringan tulang

ini membuktikan bahwa kolagen mempunyai biokompatibilitas yang tinggi. Buser

Fourier Transform Infra Red atau FTIR adalah
Fourier
Transform
Infra
Red
atau
FTIR
adalah

et al (1998), juga melakukan filling pada tulang mandibula babi menggunakan

mineral hidroksiapatit. Hasil yang diperoleh menunjukkan pada 4 minggu awal

penyembuhan terlihat laju pertumbuhan sel yang sangat rendah dibandingkan

kolagen. Baru terlihat pertumbuhan yang cukup pesat pada 6 bulan kemudian.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Buser et al ini, ada kemungkinan bila

kolagen dan hidroksiapatit jikan dikompositkan akan memiliki sifat yang baik

yaitu cepat meregenerasi jaringan tulang dan memberikan sifat mekanik yang

tidak terlalu rendah (Buser et al, 1998).

2.10 FTIR ( Fourier Transform Infra Red)

spektroskopi

yang

mendasarkan fungsinya prinsip molekul yang dapat menyerap cahaya infra merah.

Hanya

molekul

monoatomik

(He,

Ne,

Ar,

dan

sebagainya)

dan

diatomik

homopolar (H 2 , N 2 , O 2, dan sebagainya) yang tidak dapat menyerap cahaya infra

merah (Perez et al, 2000). Pada dasarnya Spektrofotometer FTIR adalah sama

dengan

Spektrofotometer

IR

dispersi,

yang

membedakannya

adalah

pengembangan pada sistim optiknya sebelum berkas sinar infra merah melewati

sampel. Pada spektofotometer FTIR, seluruh sumber infra merah ditembakkan

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

27

pada sampel dan h asil spektrum yang berupa domain wakt u diolah secara

komputerisasi. Peng

amatan langsung spektrum domain waktu

yang dihasilkan

akan sulit untuk diba ca dan disimpulkan. Spektrum domain waktu diubah kedalam

domain frekuensi de ngan memanfaatkan sistem komputer fourie r transform agar

mudah dalam menga nalisis dan menyimpulkan data.

Skripsi

Diagram

ala t

FTIR

ditujukan

pada

Gambar

2.12.

Sistem

optik

et al, 2002). Sedangkan prinsip kerja FTIR ngukuran bisa terbaca.
et al, 2002). Sedangkan prinsip kerja FTIR
ngukuran bisa terbaca.

Spektrofotometer FT IR dilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan

cermin yang diam.

Dengan demikian radiasi infra merah aka n menimbulkan

perbedaan jarak yan g ditempuh menuju cermin yang bergerak d an jarak cermin

yang diam (Djawarni

ditunjukan pada

gambar 2.13. Prinsip

kerja FTIR adalah perbedaan jarak cermi n yang bergerak

tegak lurus dengan c ermin diam ketika dikenai sumber radiasi i nfra merah akan

terpantul menuju sa mpel. Spektrum yang diterima sampel ditan gkap oleh suatu

detektor. Detektor

mendeteksi sinyal sebagai time domain. K emudian sinyal

diubah melalui pera ngkat komputerisasi fourrier transform

m enjadi frequency

domain agar hasil pe

fourrier transform m enjadi frequency domain agar hasil pe Gambar 2.12 Diagram alat FTIR Sintesis dan

Gambar 2.12 Diagram alat FTIR

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

28

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga 28 Gambar 2.13. Prinsip kerja FTIR Spektrum infr 0 cm -1 ).
Gambar 2.13. Prinsip kerja FTIR Spektrum infr 0 cm -1 ). Daerah antara 4000 –
Gambar 2.13. Prinsip kerja FTIR
Spektrum infr
0 cm -1 ). Daerah antara 4000 – 1300 cm -1
reching. Frekuensi di wilayah finger print

amerah terletak pada daerah dengan panjang gelombang 0,78

sampai 1000 µm ata u bilangan gelombang dari 12800 sampai 1 0 cm -1 (Suyatno,

2011). FTIR termasu

k ke dalam kategori radiasi inframerah perten gahan (bilangan

gelombang 4000-20

disebut sebagai

daerah grup frequen

cy. Daerah 1300 – 200 cm -1 merupakan da erah finger print

(Gambar 2.14). Seba

gai contoh, pada daearah 900 – 1300 cm -1 t erdeteksi adanya

serapan dari C=O st

dipengaruhi oleh

vibrasi molekul seca ra keseluruhan. Serapan pada daerah finger print merupakan

karakteristik dari sua tu molekul secara keseluruhan. Atar molek ul yang berbeda,

dihasilkan spektrum yang berbeda pula di wilayah finger print ini . Wilayah finger

print

digunakan unt

yang berbeda struk

uk tujuan identifikasi suatu molekul. Tidak ada dua molekul

turnya akan mempunyai bentuk serapan

inframerah atau

spektrum inframerah yang sama (Koutsopoulus dalam Lestari, 20 09).

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

29

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga 29 dan finger print region. Spektrum FT IR kolagen menunjukkan adanya vibrasi
dan finger print region. Spektrum FT IR kolagen menunjukkan adanya vibrasi
dan finger print region.
Spektrum FT IR kolagen menunjukkan adanya vibrasi

cm -1 . Amida A terbentuk dari ikatan NH

Gambar 2.1 4 Frekuensi dari beberapa grup vibrasi pada grup frequency

2.10.1 Spektrum FT IR kolagen

gugus hidroksil

(OH), gugus karbonil

(C=O), dan gugus amina (N-H) (Marsaid, 2 010). Gugus OH

terletak di daerah ser apan sekitar 3500 – 3000 cm -1 . Gugus karbo nil C=O terletak

di daerah serapan 1 900 – 1650 cm -1 . Gugus CN pada kolag en terdeteksi di

daerah 2400 – 2100

cm -1 . Gugus amina (N-H) pada kolagen te rdiri dari 4 jenis

yaitu amida A, amid a I, amida II dan amida III. Amida A terdet eksi pada daerah

yang

serapan sekitar 3300

streching

berasosiasi dengan

OH dari hidroksiprolin (Puspawati et al,

2012). Amida I

terlihat di daerah sera pan 1597 – 1672 cm -1 . Serapan amida I terja di akibat adanya

Skripsi

ikatan C=O strechin

pada daerah 1480 – 1

– 1301 cm -1 .

g dengan kontribusi dari NH bending. Pita

amida II terlihat

575 cm -1 . Pita serapan daerah amida III terd eteksi pada 1229

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

2.10.2 Spektrum FTIR Hiroksiapatit

30

FTIR memanfaatkan energi vibrasi gugus fungsi penyusun senyawa

hidroksiapatit, yaitu gugus PO 4 3- , gugus CO 3 2- , serta gugus OH - . Gugus PO 4 3-

mempunyai empat mode vibrasi yaitu:

1. Vibrasi simetri stretching (υ 1 ) dengan bilangan gelombang sekitar 956 cm -1 .

2. Vibrasi simetri bending (υ 2 ) dengan bilangan gelombang sekitar 430 - 460

-1 . -1 .
-1 .
-1 .

cm

3. Vibrasi asimetri

stretching (υ 3 ) dengan bilangan gelombang sekitar 1040 -

1090 cm -1 .

4. Vibrasi asimetri bending (υ 4 ) dengan bilangan gelombang sekitar 575 - 610

cm

Bentuk pita υ 3 dan υ 4 yang tidak simetri merupakan tanda bahwa senyawa

hidroksiapatit tidak seluruhnya dalam bentuk amorf (tidak kristal). Spektrum

hidroksiapatit dapat diteliti yaitu pada υ 4 dalam bentuk belah dengan maksimum

562

cm -1 dan 602 cm -1 . Pita absorpsi υ 3 mempunyai dua puncak maksimum yaitu

pada bilangan gelombang 1090 cm -1 dan 1030 cm -1 . Pita absorpsi υ 1 dapat dilihat

pada bilangan gelombang 960 cm -1 (Hidayat dalam Lestari, 2009). Puncak pada

633 cm -1 dan 3570 cm -1 menunjukkan vibrasi dari OH. Luas puncak pada 3500 cm -

1 dan puncak pada 1660 cm -1 menunjukkan adanya penyerapan air, sehingga

teridentifikasi sebagai gugus OH (Lestari, 2009). Ikatan karbonat teramati pada

Skripsi

870 dan 1430 cm -1 .

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

2.11 Toksisitas

31

Dalam rekayasa biomaterial, material yang digunakan harus memenuhi

syarat yaitu biokompatibel dengan tubuh. Salah satu hal yang perlu dilakukan

adalah pengujian toksisitas material. Pengujian ini bertujuan untuk melihat efek

penggunaan material apabila nantinya ditanamkan dalam tubuh. Uji toksisitas

dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu uji secara in-vitro dan uji secara in- vivo.

Uji secara in-vitro atau sel sel- sel yang MTT
Uji secara in-vitro
atau sel sel- sel
yang
MTT

Uji Toksisitas dengan Metode MTT Assay

((3-(4,5-Dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetrazolium

berdasarkan penggunaan komponen sub subselular

diisolasi (kultur sel, sel

(misalnya enzim DNA, RNA),

darah merah, dan lain sebagainya), potongan jaringan atau seluruh seluruh organ

yang diisolasi.

Sedangkan uji in-vivo merupakan suatu uji toksisitas yang dilakukan

dalam tubuh. Uji ini biasanya memakai hewan coba yang struktur genetiknya

hampir menyerupai manusia. Uji toksisitas yang biasa dilakukan pada hewan uji

bertujuan untuk menggali informasi tentang resiko yang dapat terjadi pada

manusia atau lingkungan, baik karena obat atau bahan kimia.

2.12

bromide)

Assay adalah tes laboratorium dan dan Assay colorimetric standard (sebuah Assay

yang mengukur perubahan warna ) untuk mengukur pertumbuhan seluler. Uji ini

juga digunakan untuk menentukan toksisitas dari agen medikal dan material

toksik lainya. ( Harsas, 2008 ).

Jenis sel yang dapat digunakan untuk uji toksisisitas bahan biomaterial

adalah kultur cell line misalnya sel BHK – 21 (Baby Hamster Kidney) yang

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga

32

berasal dari fibroblas ginjal tikus. Jenis sel ini mudah untuk tumbuh dan mudah

dilakukan kultur (pembiakan) ulang.

Prinsip dari pewarnaan MTT adalah dengan pengubahan dari cincin

tetrazolium oleh karena aktifitas dari mitokondria pada sel hidup (sel mati tidak

mengakibatkan perubahan cincin tersebut). Mitokondria sel hidup berperan dalam

menghasilkan dehidrogenase, dan bila tidak aktif karena efek toksik maka tidak

OD perlakuan + OD kontrol media x 100% OD kontrol sel + OD kontrol media
OD perlakuan + OD kontrol media
x 100%
OD kontrol sel + OD kontrol media

akan terbentuk formazan garam tetrazolium. Jumlah yang terbentuk proporsional

dengan aktivitas enzimatik sel hidup. Produksi formazan dapat dihitung dengan

melarutkan dan mengukur densitas optik ( optical density /OD). Persentase jumlah

sel hidup untuk uji MTT dapat dihitung dengan Persamaan 2.1:

% sel hidup =

(2.1)

OD dapat diartikan sebagai kemampuan suatu material untuk menyerap

suatu cahaya. Nilainya setara dengan banyaknya sel hidup dalam lingkungan yang

dibuat. Makin tinggi nilai OD semakin banyak sel yang hidup. Jumlah sel produk

MTT

dapat

diukur

dengan

spektrofotometer

Elisa

Reader

pada

panjang

gelombang 540 – 570 nm. Semakin tinggi prosentase densitas optik, menunjukkan

sel yang metabolik aktif dapat mereduksi MTT semakin baik.

Skripsi

Sintesis dan Karakterisasi Kolagen dari Tendon Sapi (Bos sondaicus) sebagai Bahan Bone Filler Komposit Kolagen –Hidroksiapatit

Agnes Krisanti Widyaning