Anda di halaman 1dari 8

A.

Asal Usul Bangsa Indonesia


Siapakah sesungguhnya Bangsa Indonesia? Ada banyak cara/versi untuk menerangkan
jawaban atas pertanyaan tadi. Dari semua versi, keseluruhannnya berpendapat sama jika
lelulur masyarakat Indonesia yang sekarang ini mendiami Nusantara adalah bangsa
pendatang. Penelitian arkeologi dan ilmu genetika memberikan bukti kuat jika leluhur
Bangsa Indonesia bermigrasi dari wilayah Asia ke wilayah Asia bagian Selatan.
Masyarakat Indonesia mungkin banyak yang tidak menyadari apabila perbedaan warna
kulit, suku, ataupun bahasa tidak menutupi fakta suatu bangsa yang memiliki rumpun
sama, yaitu rumpun Austronesia. Jika melihat catatan penelitian dan kajian ilmiah
tentang asal-usul suatu bangsa, apakah masyarakat Indonesia menyadari jika mereka
berasal (keturunan) dari leluhur yang sama (satu rumpun)?

Topik dalam tulisan ini sebelumnya sudah sering dibahas di media cetak maupun
elektronik, termasuk juga dituliskan oleh beberapa blogger. Sayang sekali di setiap
penulisan tidak memberikan penegasan apapun kecuali hanya sekedar informasi umum.
Pada prinsipnya, dengan menelusuri asal-usul suatu bangsa, setidaknya akan diketahui
gambaran atas pemikiran, paham, ataupun anggapan tentang sikap suatu bangsa.

Menelusuri asal-usul suatu bangsa tidak sekedar membutuhkan bidang ilmu antropologi,
akan tetapi sudah masuk ke dalam ranah ilmu genetika. Pada awalnya, penelurusuran
hanya didasarkan pada bukti-bukti arkeologi dan pola penuturan bahasa. Temuan terbaru
cukup mengejutkan karena merubah keseluruhan fakta di masa lalu jika selama ini
leluhur Bangsa Indonesia bukan berasal dari Yunan.
1. Teori Awal Tentang Yunan
Teori awal tengan asal-usul Bangsa Indonesia dikemukakan oleh sejarawan kuno
sekaligus arkeolog dari Austria, yaitu Robern Barron von Heine Geldern atau lebih
dikenal von Heine Geldern (1885-1968). Berdasarkan kajian mendalam atas
kebudayaan megalitik di Asia Tenggara dan beberapa wilayah di bagian Pasifik
disimpulkan bahwa pada masa lampau telah terjadi perpindahan (migrasi) secara
bergelombang dari Asia sebelah Utara menuju Asia bagian Selatan. Mereka ini
kemudian mendiami wilayah berupa pulau-pulau yang terbentang dari Madagaskar
(Afrika) sampai dengan Pulau Paskah (Chili), Taiwan, dan Selandia Baru yang
selanjutnya wilayah tersebut dinamakan wilayah berkebudayaan Austronesia. Teori
mengenai kebudayaan Austronesia dan neolitikum inilah yang sangat populer di
kalangan antropolog untuk menjelaskan misteri migrasi bangsa-bangsa di masa
neolitikum (2000 SM hingga 200 SM).
R.H Geldern dan J.H.C. Kern yang juga mendukung teori ini. Dasar pembenaran
yang mendukung pendapat mereka berdua adalah :
Ditemukannya kapak tua di wilayah Nusantara yang memiliki kemiripan dengan
kapak tua yang ada di kawasan Asia Tengah. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa telah tejadi migrasi penduduk dari Asia Tengah ke
Kepulauan Nusantara.
Bahasa melayu yang berkembang di Nusantara memiliki kemiripan dengan
bahasa champa yang ada di Kamboja. Hal ini membuka kemungkinan bahwa
penduduk champa yang ada di Kamboja berasal dari dataran Yunnan dengan
menyusuri sungai Mekong. Arus perpindahan ini selanjutnya diteruskan ketika
sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampai ke wilayah
Nusantara.
Menurut teori ini, migrasi penduduk dari Yunnan menuju Kepulauan Nusantara ini
melalui tiga gelombang, yaitu ; perpindahan orang negrito, proto melayu dan juga
deutro nelayu.
Orang Negrito diperkirakan sudah memasuki Kepulauan Nusantara sejak 1000 SM.
Mereka diyakini sebagai penduduk paling awal Kepulauan Nusantara. Hal ini
dibuktikan dengan penemuan arkeologi di gua Cha, Malaysia. Pada
perkembangannya, orang Negrito menurunkan orang Semang. Cirri-ciri fisik orang
Negrito yaitu berkulit gelap, rambut keriting, hidung lebar dan bibir tebal. Di
Indonesia, ras ini sebagian besar mendiami daerah Papua. Keturunan ras ini terdapat
di Riau (pedalaman) yaitu suku Siak (Sakai), serta suku Papua melanosoid mendiami
Pulau Papua dan Pulau Melanesia. Pertanyaan saya : Apakah orang-orang Afrika dan
Papua itu berasal dari ras yang sama?
Proto Melayu Migrasi orang proto Melayu ke Kepulauan Nusantara diperkirakan
memasuki wilayah Nusantara pada 2500 SM. Sebutan Proto Melayu adalah untuk
menyebutkan orang-orang yang melakukan migrasi pada gelombang pertama ke
Nusantara. Yang termasuk orang-orang Proto Melayu adalah suku Toraja, Dayak,
Sasak, Nias, Rejang, dan Batak. Orang proto Melayu memiliki keahlian lebih baik
dalam hal bercocok tanam bila dibandingkan dengan orang Negrito.
Deutro Melayu Deutro Melayu adalah sebutan untuk orang-orang yang melakukan
gelombang migrasi pada gelombang kedua ke Nusantara. Kedatangan Deutro
Melayu ke Nusantara diperkirakan pada 1500 SM. Suku bangsa yang termasuk
Deutro Melayu di Indonesia, antara lain Minangkabau, Aceh, Sunda, Jawa, Melayu,
Betawi, dan Manado.
Teori von Heine Geldern tentang kebudayaan Austronesia mengilhami pemikiran
tentang rumpun kebudayaan Yunan (Cina) yang masuk ke Asia bagian Selatan
hingga Australia. Salah satunya pula yang melandasi pemikiran apabila leluhur
Bangsa Indonesia berasal dari Yunan. Teori ini masih sangat lemah (kurang akurat)
karena hanya didasarkan pada bukti-bukti kesamaan secara fisik seperti temuan
benda-benda arkeologi ataupun kebudayaan megalitikum. Teori ini juga sangat
mudah diperdebatkan setelah ditemukannya catatan-catatan sejarah di Borneo
(Kalimantan), Sulawesi bagian Utara, dan Sumatera yang saling bertentangan
dengan teori Out of Yunan.
2. Teori Linguistik
Teori mengenai asal-usul Bangsa Indonesia kemudian berpijak pada studi ilmu
linguistik. Dari keseluruhan bahasa yang dipergunakan suku-suku di Nusantara
memiliki rumpun yang sama, yaitu rumun Austronesia. Akar dari keseluruhan
cabang bahasa yang digunakan leluhur yang menetap di wilayah Nusantara berasal
dari rumpun Austronesia di Formosa atau dikenal dengan rumpun Taiwan. Teori
linguistik membuka pemikiran baru tentang sejarah asal-usul Bangsa Indonsia yang
disebut pendekatan Out of Taiwan. Teori ini dikemukakan oleh Harry Truman
Simandjuntak yang selanjutnya mendasar teori moderen mengenai asal usul Bangsa
Indonesia.

Pada prinsipnya, menurut pendekatan ilmu linguistik, asal-usul suatu bangsa dapat
ditelusuri melalui pola penyebaran bahasanya. Pendekatan ilmu linguistik
mendukung fakta penyebaran bangsa-bangsa rumpun Austronesia. Istilah
Austronesia sendiri sesungguhnya mengacu pada pengertian bahasa penutur. Bukti
arkeologi menjelaskan apabila keberadaan bangsa Austronesia di Kepulauan
Formosa (Taiwan) sudah ada sejak 6000 tahun yang lalu. Dari kepulauan Formosa
ini kemudian bangsa Austronesia menyebar ke Filipina, Indonesia, Madagaskar
(Afrika), hingga ke wilayah Pasifik. Sekalipun demikian, pendekatan ilmu linguistik
masih belum mampu menjawab misteri perpindahan dari Cina menuju Kepulauan
Formosa.
3. Pendekatan Teori Genetika
Teori dengan pendekatan Out of Taiwan nampaknya semakin kuat setelah disertai
bukti-bukti berupa kecocokan genetika. Riset genetika yang dilakukan pada ribuan
kromosom tidak menemukan kecocokan pola genetika dengan wilayah di Cina.
Temuan ini tentunya cukup mengejutkan karena dianggap memutuskan dugaan
gelombang migrasi yang berasal dari Cina, termasuk di antaranya pendekatan Out
of Yunan. Sebaliknya, kecocokan pola genetika justru semakin memperkuat
pendekatan Out of Taiwan yang sebelumnya juga dijadikan dasar pemikiran
arkeologi dengan pendekatan ilmu linguistik.
Dengan menggunakan pendekatan ilmu linguistik dan riset genetika, maka asal-usul
Bangsa Indonesia bisa dipastikan bukan berasal dari Yunan, akan tetapi berasal dari
bangsa Austronesia yang mendiami Kepulauan Formosa (Taiwan). Direktur Institut
Biologi Molekuler, Prof. Dr Sangkot Marzuki menyarankan untuk dilakukan
perombakan pandangan yang tentang asal-usul Bangsa Indonesia. Dari pendekatan
genetika menghasilkan beragam pandangan tentang pola penyebaran bangsa
Austronesia. Hingga saat ini masih dilakukan berbagai kajian mendalam untuk
memperkuat pendugaan melalui pendekatan linguistik tentang pendekatan Out of
Taiwan.
4. Jalur Migrasi
Jalur migrasi berdasarkan pendekatan Out of Taiwan bertentangan dengan
pendekatan Out of Yunan. Pendekatan Out of Yunan menerangkan migrasi
Austronesia bermula dari Utara menuju semenanjung Melayu yang selanjutnya
menyebar ke wilayah Timur Indonesia. Pendekatan Out of Yunan dapat dilemahkan
setelah ditelusuri berdasarkan pendekatan linguistik dan diperkuat pula oleh
pembuktian genetika.
Berdasarkan pendekatan Out of Taiwan, migrasi leluhur dari Taiwan (Formosa)
tiba terlebih dulu di Filipina bagian Utara sekitar 4500 hingga 3000 SM. Diduga
migrasi dilakukan untuk memisahkan diri mencari wilayah baru di Selatan. Akibat
dari migrasi ini kemudian membentuk budaya baru, termasuk diantaranya
pembentukan cabang bahasa yang disebut Proto-Malayo-Polinesia (PMP). Teori
migrasi awal bangsa Austronesia dari Formosa disampaikan oleh Daud A. Tanudirjo
berdasarkan pandangan pakar linguistik Robert Blust yang menerangkan pola
penyebaran bangsa-bangsa Austronesia.
Pada tahap selanjutnya sekitar 3500 hingga 2000 SM terjadi migrasi dari Masyarakat
yang semula mendiami Filipina dengan tujuan Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku
Utara. Migrasi yang berakhir di Maluku Utara ini kemudian meneruskan migrasinya
sekitar tahun 3000 hingga 2000 SM menuju ke Selatan dan Timur. Migrasi di bagian
Selatan menuju gugus Nusa Tenggara, sedangkan di bagian Timur menuju pantai
Papua bagian Barat. Dari Papua Barat ini kemudian mereka bermigrasi lagi dengan
tujuan wilayah Oseania hingga mencapai Kepulauan Bismarck (Melanesia) sekitar
1500 SM.

Pada periode 3000 hingga 2000 SM, migrasi juga dilakukan ke bagian Barat yang
dilakukan oleh mereka yang sebelumnya menghuni Kalimantan dan Sulawesi
menuju Jawa dan Sumatera. Selanjutnya, hijrah pun diteruskan menuju semenanjung
Melayu hingga ke seluruh wilayah di Asia Tenggara. Proses migrasi berulang-ulang
dan menghabiskan masa ribuan tahun tidak hanya membentuk keanekaragaman
budaya baru, akan tetapi juga pola penuturan (bahasa) baru.
5. Teori Nusantara
Teori Nusantara menyatakan bahwa asal usul bangsa Indonesia berasal dari
Indonesia sendiri, bukan dari luar. Teori ini didukung antara lain oleh Muhammad
Yamin, Gorys Keraf, dan J.Crawford. Teori ini dilandasi oleh beberapa argument,
antara lain :
Bangsa Melayu merupakan bangsa yang berperadaban tinggi. Peradaban ini
tidak mungkin dapat dicapai apabila tidak melalui proses perkembangan dari
kebudayaan sebelumnya.
Bahasa Melayu memang memiliki kesamaan dengan bahasa Champa
(Kamboja), namun persamaan ini hanyalah suatu kebetulan saja.
Adanya kemungkinan bahwa orang Melayu adalah keturunan dari Homon
soloensis dan Homo wjakensis.
Adanya perbedaan bahasa antara bahasa Austronesia yang berkembang di
Nusantara dengan bahsa Indo-eropa yang berkembang di Asia Tengah.
Penutup
Teori asal-usul Bangsa Indonesia dengan pendekatan Out of Taiwan saat ini adalah teori
paling mendukung karena disertai bukti linguistik dan genetika. Kesamaan pola budaya
Megalitikum hanya bisa menjelaskan pola variasi budaya, akan tetapi belum mampu
untuk menjelaskan arus migrasi pertama kali. Pendekatan Out of Taiwan pun bukannya
tanpa celah. Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr Sangkot Marzuki, teori mengenai
keberadaan bangsa Austronesia berdasarkan pendekatan genetika juga masih beragam
dan belum menemukan titik temu.
Jika ditanya motif suku-suku bangsa ketika itu untuk menggabungkan diri ke dalam
NKRI bukanlah semata didasarkan atas kesamaan nasib. Kesamaan asal usul leluhur
sangat dimungkinkan bagi melatarbelakangi keinginan untuk menyatukan kembali
menjadi suatu bangsa. Kedatangan kolonial Eropa yang meng-kapling wilayah
menyebabkan suku-suku bangsa di wilayah penyebaran Austronesia menjadi terpisah
secara politik satu dengan yang lain. Tidak mengherankan apabila catatan sejarah
Majapahit dan Sriwijaya wilayah meng-klaim Nusantara sebagai wilayah kekuasaan
Austronesia.
Kisah tentang sejarah asal-usul Bangsa Indonesia sesungguhnya masih belum terungkap
penuh. Temuan terbaru dari Prof. Dr Sangkot Marzuki bahkan menyatakan jika
penyebaran bangsa dengan bahasa Austronesia berawal dari wilayah Sunda (Jawa Barat).
Perlu kiranya pemikiran atau teori baru tentang asal-usul Bangsa Indonesia dikaji ulang.
Untuk awal, setidaknya dengan membebaskan terlebih dahulu paham Out of Yunan.
Sekalipun belum ditemukan bukti-bukti genetika secara meyakinkan, suku bangsa
Austronesia yang menempati gugus kepulauan Formosa (Taiwan) diduga kuat bermigrasi
dari wilayah Utara (Cina). Rumpun bahasa Austronesia dan keluarga bahasa lainnya di
Asia Tenggara merupakan filum Bahasa Austrik. Dilihat dari kekerabatan linguistik
(hipotesis filum Austrik), semua bahasa di wilayah Tiongkok bagian Selatan memiliki
kedekatan (kekerabatan) dengan rumpun Bahasa Austrik. Jika hendak ditarik benang
merahnya, maka diskriminasi rasial tidak perlu terjadi di negeri ini. Dengan memahami
sejarah masa lalu dirinya sendiri, setidaknya bangsa ini akan lebih bijaksana dalam
memberikan sikap.

B. Bangsa Indonesia Sebelum Penjajahan Belanda


Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak
zaman prasejarah berdasarkan penemuan "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun
yang lalu. Periode sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era: Era Prakolonial,
munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang
terutama mengandalkan perdagangan; Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa
(terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh
Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20;
Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai
jatuhnya Soekarno (1966); Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (1966
1998); serta Orde Reformasi yang berlangsung sampai sekarang.

1. Prasejarah
Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut
Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng
Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi
Indonesia). Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat
melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah
pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni awal adalah fosil-
fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu.
Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores,
membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es
terakhir.

Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang
lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 sampai 70
000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. Mereka, yang
berfenotipe kulit gelap dan rambut ikal rapat, menjadi nenek moyang penduduk asli
Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong
(Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur
Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui
Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson).
Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan
gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak
penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan
menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa
serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling
lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik
tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta
benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk
permukiman-permukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah
masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.

2. Era Pra Kolonial


Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa
Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra atau Swarna dwipa sekitar 200 SM. Bukti fisik
awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada
abad ke-5, yaitu: Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan
Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan. Pada tahun 425 agama Buddha telah
mencapai wilayah tersebut.

Di saat Eropa memasuki masa Renaisans, Nusantara telah mempunyai warisan


peradaban berusia ribuan tahun dengan dua kerajaan besar yaitu Sriwijaya di Sumatra
dan Majapahit di Jawa, ditambah dengan puluhan kerajaan kecil yang sering kali
menjadi vazal tetangganya yang lebih kuat atau saling terhubung dalam semacam
ikatan perdagangan (seperti di Maluku).

a. Kerajaan Hindu Budha


Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan
bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan
dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-
14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah
Tiongkok I Ching mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada
puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa
Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya
sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara
tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas
wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh
Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi
hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat
dalam wiracarita Ramayana.
b. Kerajaan Islam
Islam sebagai sebuah pemerintahan hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun
sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu
sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional melalui Selat
Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara
dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7.

Menurut sumber-sumber Cina menjelang akhir perempatan ketiga abad 7,


seorang pedagang Arab menjadi pemimpin permukiman Arab muslim di pesisir
pantai Sumatera. Islam pun memberikan pengaruh kepada institusi politik yang
ada. Hal ini tampak pada Tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang
bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz
dari Kekhalifahan Bani Umayyah meminta dikirimkan da'i yang bisa menjelaskan
Islam kepadanya. Surat itu berbunyi: Dari Raja di Raja yang adalah keturunan
seribu raja, yang isterinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang
binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang
mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang
semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang
tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan
kepada anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak,
tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya
seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada
saya tentang hukum-hukumnya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja
Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal
dengan nama 'Sribuza Islam'. Sayang, pada tahun 730 M Sriwijaya Jambi ditawan
oleh Sriwijaya Palembang yang masih menganut Budha.

Islam terus mengokoh menjadi institusi politik yang mengemban Islam.


Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama Kesultanan Peureulak didirikan pada
1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh lain adalah Kerajaan
Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440. Rajanya
seorang Muslim bernama Bayanullah.

Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk


dan melalui pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada
akhir abad ke-16 di Jawa dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan
mayoritas Hindu. Di kepulauan-kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan
Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada
mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-kepulauan tersebut.

Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara;


hal ini, karena para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari
pemerintahan Islam yang datang dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri
dan keluarga mereka, para mubaligh ini bekerja melalui cara berdagang, para
mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para pedagang dari penduduk asli,
hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk
lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama
mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk di antaranya:
Kerajaan Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin hubungan
diplomatik dengan negara-negara Eropa, Kerajaan Mataram, Kerajaan Iha,
Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.