Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN

Banyak penyakit dan kondisi yang dapat menyerang gastrointestinal (GI) tract,
yang merupakan bagian dari sistem pencernaan termasuk esofagus, lambung, usus
halus, dan usus besar. Inflammatory Bowel Disease merupakan salah satu
diantaranya. Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah suatu penyakit idiopatik
yang disebabkan oleh disregulasi respon imun terhadap flora normal yang ada
pada intestinal. Setidaknya ada dua tipe mayor dari kelainan ini yaitu Ulcerative
Colitis (UC) yang kelainannya terbatas pada kolon, dan Crohns disease (CD)
yang dapat menyerang di setiap segmen dari saluran pencernaan dari mulut
sampai anus.1 Kolitis Ulseratif sebagai proses inflamasi idiopatik yang bersifat
kronis dan hilang timbul serta terbatas pada mukosa kolon dan rektum. Proses
inflamasi yang terjadi pada Kolitis Ulseratif relatif homogen pada mukosa yang
dimulai pada rektum dan melibatkan kolon kearah proksimal. Penyakit Crohn
pertama kali dikenal oleh Crohn, Ginzburg, dan Oppenheimer pada tahun 1932.
Saat ini, penyakit Crohn diketahui sebagai suatu proses inflamasi kronis
transmural yang melibatkan traktus gastrointestinal dari mulut sampai rektum.2
Kedua tipe IBD ini paling sering didiagnosa pada orang-orang berusia
dewasa muda. Insiden paling tinggi dan mencapai puncaknya pada usia 15-30
tahun dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.3,4 Insidens IBD
lebih tinggi dinegara maju dibanding negara berkembang. Di Amerika Serikat
diperkirakan 3,5 kasus baru Penyakit Crohn setiap 100.000 populasi/tahun dan 2,3
kasus baru Kolitis Ulseratif pada kelompok usia 10-19 tahun. Secara umum, lebih
banyak diderita oleh ras berkulit putih, didaerah urban, akan tetapi laki-laki
mempunyai insidens 20% lebih tinggi pada Penyakit Crohn. Pada anak, Penyakit
Crohn biasanya dijumpai saat usia 10-16 tahun, dan sekitar 25% kasus baru di
populasi berusia <20 tahun.4
Etiopatogenesis IBD belum sepenuhnya dimengerti. Faktor genetik dan
lingkungan dalam saluran cerna seperti perubahan bakteri usus dan peningkatan
permeabilitas epitel saluran cerna diduga berperan dalam gangguan imunitas
saluran cerna yang berujung pada kerusakan saluran cerna.5

Universitas Tarumanagara 1
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Anatomi Saluran Cerna
Anatomi saluran cerna terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan,
lambung, usus halus, usus besar, dan anus.6

Gambar 1. Anatomi Saluran cerna


2.2. Inflammatory Bowel Disease
2.2.1. Definisi
Crohns & Colitis Foundation of America mendefinisikan IBD sebagai suatu
kelompok dari kondisi inflamasi dimana sistem imun tubuh sendiri menyerang
bagian dari sistem digestif. Dua kondisi yang paling sering terjadi pada
Inflammatory Bowel Disease adalah Crohns disease (CD) dan Ulcerative Colitis
(UC). 7
CD dan UC menyebabkan inflamasi kronik dari GI tract. CD dapat
menyerang semua bagian dari GI tract, namun paling sering menyerang distal dari
usus halus dan proksimal dari usus besar. Inflamasi yang diakibatkan CD dapat
menyerang semua lapisan intestinal. Ulcerative Colitis (UC) dikarakteristikkan
dengan inflamasi pada usus besar (colon) dan rektum. Inflamasi pada UC hanya
terjadi pada lapisan bagian dalam saluran cerna.7

Universitas Tarumanagara 2
2.2.2. Epidemiologi
Sebelum tahun 1960, insidensi Ulcerative Colitis beberapa kali lebih tinggi
dibandingkan Crohns disease. Setiap tahunnya, sekitar 700.000 kunjungan pada
tenaga kesehatan dan 100.000 hospitalisasi disebabkan karena IBD.8 Diperkirakan
1-2 juta orang di Amerika Serikat memiliki penyakit ulcerative colitis dan crohns
disease, dengaan insidensi 70-150 kasus per 100.000 indvidu.9,10 Perbandingan
rasio laki-laki dan perempuan untuk ulcerative colitis dan crohns disease adalah
1:1 dimana jumlah perempuan sedikit lebih tinggi insidensi terkena penyakit ini
dan kedua kasus tersebut lebih banyak ditemukan pada orang-orang dewasa muda.
Distribusi usia yang terdiagnosa IBD ini muncul pada orang-orang yang
menginjak usia awal 20 tahun , dengan jenjang usia 15-40 tahun. Dan
diperkirakan 10% pasien IBD berusia kurang dari 18 tahun.
Rasio tertinggi dari IBD diasumsikan terutama pada negara berkembang,
dan rasio terendah dianggap ada pada area kota dengan iklim dingin diandingkan
dengan area perkampungan dengan iklim hangat. Secara internasional, insidensi
dari IBD ini mencapai 0,5-24,5 kasus per 100.000 orang/tahun untuk ulcerative
colitis dan 0,1-16 kasus per 100.000 orang/ tahun untuk crohns disease. Secara
keseluruhan, prevalensi IBD adalah 396 kasus per 100.000 orang/ tahun.8
Berdasarkan studi yang telah dilakukan didapatkan bahwa pasien dengan
IBD memiliki kecenderungan untuk berkembang menjadi keganasan. Orang-
orang dengan crohns disease memiliki rasio yang lebih tingggi untuk
berkembang menjadi keganasan kolon setelah 8-10 tahun. 8

2.2.3. Etiologi
Penyebab pasti dari IBD masih belum dapat diketahui, namun pendapat-pendapat
yang pernah terdengar menyatakan bahwa hal ini ada kaitannya dengan interaksi
antara gen, sistem imun, dan faktor lingkungan. Sistem imun berfungsi untuk
menyerang dan membunuh benda-benda asing seperti bakteria, virus, fungi, dan
mikroorganisme lainnya. Namun pada orang-orang dengan IBD, sistem imun ini
berfungsi secara tidak normal terhadap sistem intestinal dan menyebabkan
inflamasi.
Ketidaknormalan reaksi sistem imun muncul pada orang-orang yang
memiliki gen keturunan yang membuat mereka mudah terkena IBD. Faktor

Universitas Tarumanagara 3
lingkungan yang tidak diketahui berperan sebagai pencetus yang menginisiasi
respon imum berbahaya pada intestinal.2

2.2.4. Patofisiologi
Secara umum hasil akhir dari perjalanan penyakit ini adalah inflamasi dari
mukosa sistem intestinal, menyebabkan ulserasi, edema, perdarahan, serta
kehilangan cairan dan elektrolit.11 Dalam beberapa studi, faktor genetik disebut-
sebut sebagai faktor yang cukup berperan dalam terjadinya IBD dengan
menyebabkan disrupsi dari integritas pertahanan epitel, defisit dari autophagy,
defisiensi reseptor innate, dan masalah dengan diferensiasi limfosit terutama pada
crohns disease.12
Adanya mediator inflamasi telah dikonfirmasi pada kasus IBD ini, dan
berdasarkan bukti yang jelas menyatakan bahwa mediator-mediator ini memiliki
peranan yang penting dalam proses patologis dan karakteristik secara klinis dari
kelainan ini. Sitokin yang diproduksi oleh makrofag akibat respon dari berbagai
antigen stimuli, berikatan dengaan reseptor-reseptor berbeda dan memproduksi
autokrin, parakrin, dan endokrin efek. Sitokin mendiferensiasi limfosit kepada T-
cell berbeda. T-helper tipe 1 (Th-1) lebih berkaitan dengan kejadian Crohns
disease sedangkaan Th-2 lebih berkaitan dengan terjaddinya ulcerative colitis.
Respon imun tersebut merusak mukosa intestinal sehingga menyebabkan proses
inflamasi kronik.13
2.2.4.1. Ulcerative Colitis
Pada ulcerative colitis, inflamasi berawal dari rektum dan semakin meluas
ke arah proksimal ke colon proksimal dan dapat melibatkan seluruh luas
usus besar. Rektum selalu terlibat dalam kasus ulcerative colitis, dan tidak
seperti crohns disease, tidak ada are aygn terlewatkan kecuali daerah yang
sudah ditreatment dengan pengobatan topikal.
Jenis penyakit ini yang tertahan hanya di sekitar rektum saja terjadi
padda 25% kasus. Pancolitis terjadi pada 10% pasien. Saat ulcerative colitis
menjadi kronik, usus besar akan menjadi kaku yang terlihat seperti tabung
pipa jika diamati dengan barium enema.14

Universitas Tarumanagara 4
Gambar 2. Mukosa kolon ynag inflamasi memperlihatkan pseudopolyps
pada pasien ulcerative colitis

2.2.4.2. Crohns Disease


Crohns disease dapat mempengaruhi berbagai bagian dari sistem
gastrointestinal, dari mulut sampai anus dan menyebabkan 3 patern
perkembangan: inflamasi, striktur, dan fistula. Penyakit ini terdiri dari
keterlibatan segmental oleh proses inflamasi graanulomatosa non spesifik.
Penampakan patologis yang paling penting pada crohns disease adalah
transmural, melibatkan seluruh lapisan usus tidak anya mukosa dan
submukosa yang adalah karakteristik ulcerative colitis. Lebih dari itu,
crohns disease ini bersifat diskontinu, dengan adanya daerah yang
terlewatkan diantara 2 daerah yang terkena.
Hasil akhir dari penyakit ini, mukosa berkembang menjadi
penampakan seperti cobblestone (gambar 3) yang dihasilkan dari ulserasi
yang dalam dan longitudinal yang diselingi dengan mukosa yang normal.
Pada 35% kasus, crohns disease muncul pada ileum dan kolon, 28% pada
usus halus, dan 5% pada gastroduodenal. Diare, cramping, dan nyeri perut
merupakan gejala yang sering ditemukan pada crohns disease di semua
lokasi tersebut kecuali pada gastroduodenal dimana anoreksia, nausea dan
vomitting merupakan gejala yang sering.14

Universitas Tarumanagara 5
Gambar 3. Gambaran cobblestone pada mukosa terminal ileum pada pasien
crohns disease

2.2.5. Gejala
Manifestasi klinis dari IBD secara general tergantung adri area yang terlibat.
Pengalaman yang paling sering dirasakan pada pasien dngan crohn;s disease
adalah nyeri abddomen yang berulang serta diare. Terkadang, diagnosis dapat
terlambat ditegakkan sampai beberapa bulan bahkan tahun karena simptom dari
IBD ini yang tidak spesifik. Pasien dengan IBD dapat memiliki gejala Irritable
Bowel Syndrome (IBS), dengan cramping, dan pasase mukus tanpa darah atau
pus.
Gejala sistemik yang sering dirasakan pada pasien IBD adalah penurunan
berat badan, demam, berkeringat, malaise, dan atralgia. Demam subfebris dapat
menjadi penanda awal terjadinya inflamasi. Pasien yang mengeluh fatigue, sering
berkaitan dengan rasa sakit, inflamasi, dan anemia yang bersamaan dengan
aktivitas penyakit ini. Rekurensi dapat terjadi dengan emosi stress, infeksi atau
berbagai penyakit akut lainnya, kehamilan, problem diet, penggunaan
antibiotik,dsb. Anak-anak yang terkena penyakit ii dapat menunjukan retardasi
pertumbuhan dan keterlambatan maturasi ciri-ciri seksual sekunder. Pada 10-20%
kasus, pasien datang dengan manifestasi ekstraintestinal seperti artritis, uveitis,
atau penyakit liver. Fese berdarah, atau terkadang disertai tenesmus merupakan
gejala ulcerative colitis, jarang pada crohn;s disease. Sekitar 50% dari pasien
dengan crohn;s disease dapat datang dengan keluhan perianal (fistula dan abses).
Terkadang, nyeri perut kanan bawah yang khas pada apendisitis dan obstruksi

Universitas Tarumanagara 6
intestinal dapat dikeluhkan. Penurunan berat badan sering terjadi pada crohn
disease dibandingkan ulcerative colitis karena diasosiasikan dengan malabsorbsi
dari usus halus.
The World Gastroenterology Organization (WGO) mengindikasikan
beberapa gejala berikut ini yang kemungkinan dapat berhubungan dengan
kerusakan akibat inflamasi pada saluran cerna:15
Diare: mucus atau darah dapat terlihat pada feses, dapat terjadi pada
malam hari, inkontinensia dapat terjadi.
Konstipasi: ini dapat menjadi gejala utama dari ulcerative colitis ketika
penyakit ini hanya melibatkan rektum, obstipaasi dapat terjadi sampai
mengakibatkan obstruksi.
Aabnormalitaas gerakan usus: nyeri ataau perdarahan per-rectal dapat
terlihat, bergitupula dengan tenesmus.
Abdominal cramping adn pain: sering timbul pada kuadran kanan bawah
pada crohn disease, dan pada periumbilikal atau kuadran kiri bawah pada
ulcerative colitis.
Mual dan munath: lebih sering terjadi ada crohn disease dibandingkan
ulcerative colitis.
Dari hasil pemeriksaan fisik dapat didapatkan demam, takikardi, dan dehidrasi.
Pucat juga dapat terlihat merepresentasikan adanya anemia. Toxic Megacolon
adalah kondisi emergensi. Pasien terlihat sepsis (demam tinggi, letargi, takikardi,
dingin) dan memiliki nyeri perut serta distensi abdomen.
Pasien dengan crohn disease dapat teraba adanya massa pada kuadraan
kanan bawah. Komplikasi perianal (fistula, abses, dan prolapse rectum) dapat
ditemukan pada hampir 90% pasiend engan penyakit ini. Dari pemeriksaan rektal
dapat didapatkan bloody-stool.14

2.2.6. Diagnosa
Sampai saat ini berlum ada test laboratori yang cukup spesifik untuk secara
adekuat dan definitif menegakkan diagnosis IBD. Kegunaan tes laboratorium
hanya untuk sebagai penanda untuk inflamasi dan status nutrisi juga melihat
defisiensi dari vitamin dan mineral yang penting diperlukan tubuh. Serologi tes

Universitas Tarumanagara 7
diketahui dapat membantu menegakkan diagnosa IBD dan untuk mendiferensiasi
crohn disease dengan ulcerative colitis.14
Complete Blood Count (CBC) dapat bergunna untuk indikator
perkembangan penyakit serta melihat defisiensi dari vitamin atau nutrisi
seseorang. Leukosit biasanya meningkat pada pasien dengan inflamasi aktif.
Anemia merupakan gejala yang sering didapatkan pada pasien dengan penyakit
kronik. Perinuclear antineutrophil cytoplasmic antibodies (pANCA) telah
diidentifikasi pada beberapa pasien dengan ulserative colitis, dan anti-
Saccharomyces cerevisiae antibodies (ASCA) telah ditemukan pada pasien crohn
disease. Kombinasi dari positif pANCA dan negatif ASCA memiliki spesifitaas
terhadap ulcerative colitis begitupun sebaliknya. Namun harus diketahui bahwa
variasi dari crohn disease terutama yang melibatkan colon dapat membuat
pANCA menjadi positif yang kemudian akan membingungkan diagnosis. Respon
serum terhadap anti-Cbir1 (antibodi yang berkaitan dengan keberadaan IBD) telah
menunjukkan diferensiasi hasil positif pANCA pada ulcerative colitis dengan
ulcerative colitis-like crohn disease.16
Teknik pencitraan dengan barium enema dapat sangat berguna dalam
kasus dimana tidak ada kolonoskopi tersedia. Beberapa kondisi abnormalitas yang
dapat ditemukan dengan barium enema terhadap kolon adalah sebagai berikut:
Gambaran tabung pipa yang mengarah pada ulserative colitis akibat
hilangnya haustra kolon sehingga kolon menjadi kaku dan berbentuk
tabung

Gambar 4. Pseudopolyposis pada pasien ulcerative colitis

Universitas Tarumanagara 8
Rectal sparing yang menunjukkan crohn colitis dengan penampakan
adanya inflamasi pada daerah kolon yang terkena

Gambar 5. Double kontras barium enema yang menunjukkan ulserasi,


inflamasi, dan penyempitan pada kolon kanan pada pasien crohn colitis

Thumbprinting yang mengindikasikan inflamasi mukosa

Gambar 6. Foto polos abdomen pada pasien dnegan ulcerative colitis


menunjukkan thumbprinting pada regio splenic flexure dari kolon

Barium dapat reflux ke ileum terminal menimbulkan string sign (penampakan


barium yang menyempit mengalir melalui daerah radang atau bekas luka).
Barium enema dikontraindikasikan pada pasien dengan kolitis sedang sampai
bert karena dapat menyebabkan perforasi dan memmbuatnya mengarah pada
toxic megacolon.

Universitas Tarumanagara 9
Gambar 7. String sign pada Crohn disease

Ultrasonography (USG) merupakan teknik non-invasif untuk mendiagnosa


crohn disease. Walaupun teknik ini memiliki tingkat sensitivitas 84% dan
spesifitas 92%, namun alat ini memiliki tingkat akurasi yang rendah jika
kelainan berlokasi pada bagain proximal dari ileum terminal. USG, MRI dan
Ct-scan memiliki tingkat akurasi yang sama untuk seluruh bagian usus dan
memungkinkan untuk mendeteksi adanya fistula, abses dan stenosis.17
Kolonoskopi merupakan alat yang paling bermakna untuk mendiagnosa
sekaligus tatalaksana dari IBD. Tidak semua inflamasi mukosa disebut
idiopatik IBD, infeksi harus tetap dipikirkan sebagai penyebab inflamasi,
begitu juga dengaan divertikulitis dan iskemia. Jika digunakan dengan baik,
kolonoskopi dapat membantu menegakkan keparahan kolitis, berguna dalam
membantu dalam memandu terapi, dan dapat mengambil sebagian jaringan
untuk membantu dalam hal diagnosis.

Gambar 8. Severe kolitis yang terlihat dengan kolonoskopi, mukosa usus


menjadi rusak dengan perdarahan aktif

Universitas Tarumanagara 10
2.2.7. Penatalaksanaan
Tatalaksana untuk pasien dengan IBD dapat dengan cara medikamentosa ataupun
operasi, namun dalam beberap apasien dapat dikombinasikan antara keduanya.
Manajemen penyakitnya pun tergantung dari diagnosisnya apakah crohn disease
atau ulcerative colitis. Pendekatan medis untuk pasien dengan IBD dapat berupa
simtomatik dan penyembuhan mukosa dengan mengikuti pendekatan bertahap
untuk obat-obatan sampai mencapai respon terapi. Konsep penyembuhan mukosa
terutama pada crohn disease semakin dianjurkan. Beberapa studi yang dilakukan
berpendapat bahwa dengan penggunaan anti-TNF agen menunjukkan
pengurangan inflamasi yang menghasilkan pengurangan kebutuhan untuk
dilakukannya pembedahan, pengggunaan kortikosteroid, dan masa hospitalisasi.14
Pasien dengan IBD membutuhkan terapi simptomatik. Terapi dengan agen
antidiarea seperti loperamid atau diphenocylate harus dihindarkan pada pasien
dengan inflamasi aktif karena obat-obatan ini dapat menimbulkan toxic
megacolon. Preparat oral 5-aminosalycylate yang tersedia untuk penggunaan di
AS adalah sulfasalazine, mesalamine, balsalazide dan olsalazine. Enema dan
formula supositoria juga tersedia. Semua sediaan 5- aminosalicylic acid (5-ASA)
berguna untuk penatalaksanaan IBD dengan cara menurunkan inflamasi ppada
dinding intestinal. Agen ini berfungsi lebih efektif pada ulcerative colitis dalam
mengurangi gejala ddan menjaga remisi dibandingkan dengan crohn disease.2,14
Kortikosteroid yang termasuk di dalamnya prednisone, prednisolone, dan
budesonid mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengurangi inflamasi.
Kortikosteroid efektif untuk mengontrol inflamasi dalam jangka waktu pendek.
Namun tidak direkomendasikan untuk pemakaian dalam jangka panjang atau
untuk maintenance karena efek sampingnya yang dapat menyebabkan infeksi,
osteoporosis, peningkatan berat badan, katarak, fragilitas kulit meningkat,
gangguan tidur, dan mood swing.2
Immunomodulator: medikasi jenis ini memodifikasi aktivitas dari sistem
imun sehingga tidak dapat menyebabkan inflamasi. Contoh-contoh obatnya
adalah azathioprne, 6-mercaptopurine (6-MO), dan methotrexate. Obat-obatan ini
secara umum digunakan untuk menjaga remisi pada orang-orang yang tidak

Universitas Tarumanagara 11
respon dengan medikasi lain atau untuk orang-orang yang hanya respon terhadap
kortikosteroid.2
Antibiotik sepertii ciprofloxacin dan methotrexate memiliki keuntungan
tersendiri untuk orang-orrang dengan crihn disease yang dapat mempengaruhi
kolon atau area sekitar anus. Antibiotik dapat berguna ketika infeksi terjadi seperti
adanya abses. Namun masih belum ada bukti yang kuat untuk penggunaan
antibiotik pada kasus ulcerative colitis.2
Terapi biologi erupakan salah satu terapi yang sedang dikembangakna
untuk menjadi pengobatan untuk IBD. Terapi biologi ini diindikasikaan utuk
orang-orang dengan penyakit moderate sampai severe yang tidak respon terhadap
terapi konvensional. Empat jenis agen ini adalimumab, ertolizumab pegol,
golimumab, dan infliximab menargetkan pada protein inflamasi yaitu TNF.
Natalizumab dan vetolizumab bekerja dengan membloking beberapa tipe leukosit
untuk masuk ke jaringan inflamasi.2
Terkadang medikasi saja tidak dapat secara adekuat untuk mengontrol
gejala pada pasien dengan IBD. Setelah berkembang penyakit ini selama 30
tahun, sekitar sepertiga pasien dengan penyakit ini membutuhkan tindakan
pembedahan. Standar surgical untuk ulcerative colitis adalah dengan memotong
kolon dan rektum. Kebanyakan pasien yang mendapatkan terapi pembedahan
akibat ulceratives colitis dapat menggunakan prosedur bernama ileal puch anal
anastomosis (IPAA). Pada prosedur ini, setelah seluruh kolon dan rektum
dibuang, usus halus disambungkan kepada area anal sehingga membentuk
kantung untuk tempat penampungan. Pembedahan ini masih memungkinkan
pasien untuk defekasi dari anus.2
Lebih dari 70% dari crohn disease membutuhkan tindakan pembedahan.
Bermacam tipe prosedur pembedahan yang dapat dilakukan untuk crohn disease
tergantung alasan dilakukannya pembedahan, keparahan penyakit, dan lokasi dari
penyakitnya dalam instestinal. Sekitar 30% pasien yang mendapatkan
pembedahan untuk kasus crohn disease mengalami rekurensi gejala setelah 3
tahun dan 60% akan menderita rekurensi setelah 10 tahun.2

Universitas Tarumanagara 12
BAB 3
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Banyak penyakit dan kondisi yang dapat menyerang gastrointestinal (GI) tract,
yang merupakan bagian dari sistem pencernaan termasuk esofagus, lambung, usus
halus, dan usus besar. Inflammatory Bowel Disease merupakan salah satu
diantaranya. Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah suatu penyakit idiopatik
yang disebabkan oleh disregulasi respon imun terhadap flora normal yang ada
pada intestinal. Setidaknya ada dua tipe mayor dari kelainan ini yaitu Ulcerative
Colitis (UC) yang kelainannya terbatas pada kolon, dan Crohns disease (CD)
yang dapat menyerang di setiap segmen dari saluran pencernaan dari mulut
sampai anus. Kolitis Ulseratif sebagai proses inflamasi idiopatik yang bersifat
kronis dan hilang timbul serta terbatas pada mukosa kolon dan rektum.
Penyebab pasti dari IBD masih belum dapat diketahui, namun pendapat-
pendapat yang pernah terdengar menyatakan bahwa hal ini ada kaitannya dengan
interaksi antara gen, sistem imun, dan faktor lingkungan. Secara umum hasil akhir
dari perjalanan penyakit ini adalah inflamasi dari mukosa sistem intestinal,
menyebabkan ulserasi, edema, perdarahan, serta kehilangan cairan dan elektrolit.
Dalam beberapa studi, faktor genetik disebut-sebut sebagai faktor yang cukup
berperan dalam terjadinya IBD dengan menyebabkan disrupsi dari integritas
pertahanan epitel, defisit dari autophagy, defisiensi reseptor innate, dan masalah
dengan diferensiasi limfosit terutama pada crohns disease. Sedangkan untuk
menegakkan diagnosa pasti dari IBD ini memerlukan pemeriksaan baik dari
darah, dan pencitraan. Untuk terapi dari IBD dapat dikombinasikan antara
tatalaksana medikamentosa dan terapi pembedahan.

Universitas Tarumanagara 13