Anda di halaman 1dari 36
OLEH AINUL MARDIAH
OLEH AINUL MARDIAH
OLEH AINUL MARDIAH
OLEH AINUL MARDIAH
OLEH AINUL MARDIAH

OLEH

AINUL MARDIAH

DIC  Disseminated Intravaskuler Coagulation ( DIC) atau pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM)  Suatu sindroma

DIC

Disseminated Intravaskuler Coagulation ( DIC) atau pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM)

Suatu sindroma dimana terjadi pembentukan fibrin

yang menyebar di pembuluh darah kecil yang terjadi

sebagai akibat terbentuknya trombin(erwin silman)

Pengertian DIC  Suatu keadaan dimana bekuan bekuan darah kecil tersebar diseluruh aliran darah,menyebabkan penyumbatan
Pengertian DIC  Suatu keadaan dimana bekuan bekuan darah kecil tersebar diseluruh aliran darah,menyebabkan penyumbatan
Pengertian DIC  Suatu keadaan dimana bekuan bekuan darah kecil tersebar diseluruh aliran darah,menyebabkan penyumbatan
Pengertian DIC  Suatu keadaan dimana bekuan bekuan darah kecil tersebar diseluruh aliran darah,menyebabkan penyumbatan

Pengertian DIC

Suatu keadaan dimana bekuan bekuan darah kecil tersebar diseluruh aliran darah,menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil dan berkurangnya faktor pembekuan yang diperlukan

untuk mengendalikan pendarahan (PD Science)

Gambaran klinis DIC bervariasi dari pendarahan akut yang berat sampai kelainan yang ringan dengan lebih menonjolkan manifestasi trombosis.

 Pengukuran D-dimer bersama dengan tes lainnya (PT, aPTT, fibrinogen dan hitung trombosit) juga digunakan
 Pengukuran D-dimer bersama dengan tes lainnya (PT, aPTT, fibrinogen dan hitung trombosit) juga digunakan
 Pengukuran D-dimer bersama dengan tes lainnya (PT, aPTT, fibrinogen dan hitung trombosit) juga digunakan
 Pengukuran D-dimer bersama dengan tes lainnya (PT, aPTT, fibrinogen dan hitung trombosit) juga digunakan

Pengukuran D-dimer bersama dengan tes lainnya (PT, aPTT, fibrinogen dan hitung trombosit) juga digunakan untuk membantu mendiagnosis DIC. Proses ini diawali dengan munculnya aktifitas faktor

pembekuan dalam sirkulasi yang akhirnya diikuti

dengan fibrinolisis sekunder. DIC merupakan suatu kondisi yang kompleks yang dapat timbul dari berbagai situasi, seperti :

 solusio plasenta, abruptio placenta, embolus cairan ketuban, trauma, sindrom emboli lemak, sepsis, leukemia
 solusio plasenta, abruptio placenta, embolus cairan ketuban, trauma, sindrom emboli lemak, sepsis, leukemia
 solusio plasenta, abruptio placenta, embolus cairan ketuban, trauma, sindrom emboli lemak, sepsis, leukemia
 solusio plasenta, abruptio placenta, embolus cairan ketuban, trauma, sindrom emboli lemak, sepsis, leukemia

solusio plasenta, abruptio placenta, embolus cairan ketuban, trauma, sindrom emboli lemak, sepsis, leukemia promielositik, sindrom retensi janin meninggal, hemolisis intravascular akut, bedah pintas kardiopulmonal penyakit kompleks imun, penyakit hati, sengatan panas (heat stroke), luka bakar, vaskulitis, anoksia, asidosis

pankreatitis akut, syok septik, gigitan ular berbisa,

kehamilan, eklampsia, penyakit jantung, beberapa

jenis kanker, pasca persalinan.

 Pada DIC, faktor-faktor pembekuan diaktifkan dan kemudian digunakan di seluruh tubuh. Hal ini menciptakan
 Pada DIC, faktor-faktor pembekuan diaktifkan dan kemudian digunakan di seluruh tubuh. Hal ini menciptakan
 Pada DIC, faktor-faktor pembekuan diaktifkan dan kemudian digunakan di seluruh tubuh. Hal ini menciptakan
 Pada DIC, faktor-faktor pembekuan diaktifkan dan kemudian digunakan di seluruh tubuh. Hal ini menciptakan

Pada DIC, faktor-faktor pembekuan diaktifkan dan kemudian digunakan di seluruh tubuh. Hal ini menciptakan gumpalan darah di banyak tempat dan pada saat yang sama pasien rentan terhadap

perdarahan yang

Tehnik pemeriksaan  Hasil akurat → GLP ( good laboratory prosedur) yaitu mll : pre
Tehnik pemeriksaan  Hasil akurat → GLP ( good laboratory prosedur) yaitu mll : pre
Tehnik pemeriksaan  Hasil akurat → GLP ( good laboratory prosedur) yaitu mll : pre
Tehnik pemeriksaan  Hasil akurat → GLP ( good laboratory prosedur) yaitu mll : pre

Tehnik pemeriksaan

Hasil akurat GLP ( good laboratory prosedur) yaitu mll :

pre analitik, analitik,pasca analitik Pre analitik tahap persiapan awal kualitas sampel,kondisi pasien,cara pengambilan darah

vena

Cara pengambilan darah vena : - Identifikasi pasien → mencocokan nama lengkap,Tanggal lahir, no medical
Cara pengambilan darah vena : - Identifikasi pasien → mencocokan nama lengkap,Tanggal lahir, no medical
Cara pengambilan darah vena : - Identifikasi pasien → mencocokan nama lengkap,Tanggal lahir, no medical
Cara pengambilan darah vena : - Identifikasi pasien → mencocokan nama lengkap,Tanggal lahir, no medical

Cara pengambilan darah vena :

- Identifikasi pasienmencocokan nama lengkap,Tanggal lahir, no medical record serta mencantumkan tanggal dan waktu pengambilan tanggal expayer jarum dan tabung

- Pemilihan lokasi vena Pembuluh darah vena besar Pembuluh darah kecil dapat menjadi kolaps aliran darah terhambat

- AntikoagulanNa citrat 3,2% ( 1:9)

Sitrat akan menyingkirkan calsium sehingga tdk terjadi proses pembekuan

Urutan penampungan
Urutan penampungan
Urutan penampungan
Urutan penampungan

Urutan penampungan

Urutan penampungan
Urutan penampungan
Urutan penampungan
Urutan penampungan
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan PT yg di sentrifugasi atau tdk di sentrifugasi
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan PT yg di sentrifugasi atau tdk di sentrifugasi
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan PT yg di sentrifugasi atau tdk di sentrifugasi
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan PT yg di sentrifugasi atau tdk di sentrifugasi

Stabilitas dan penyimpanan

Sampel untuk pemeriksaan PT yg di sentrifugasi atau tdk di sentrifugasi di biarka pada suhu 18 -24 °c harus diperiksa dalam waktu 24 jam setelah pengambilan.

Sampel untuk pemeriksaan APTT pada pasien yg tidak mendapat heparin disimpan pada 2 4 °c atau 18 24 °c harus diperiksa dalam 4 jam, sedangkan untuk pemeriksaan APTT pada sampel yg diduga mengandung unfracture heparin di simpan pada 2 4 °c atau 18 24 °c yg harus dikerjakan dalam waktu 1

jam.

Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan D-Dimer di biarkan pada suhu 5 -20 °c
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan D-Dimer di biarkan pada suhu 5 -20 °c
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan D-Dimer di biarkan pada suhu 5 -20 °c
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel untuk pemeriksaan D-Dimer di biarkan pada suhu 5 -20 °c

Stabilitas dan penyimpanan

Sampel untuk pemeriksaan D-Dimer di biarkan pada

suhu 5 -20 °c

setelah pengambilan. Pada suhu - 20 °c bisa sampai 1

bulan .

harus diperiksa dalam waktu 8 jam

Stabilitas dan penyimpanan  Sampel di kirim secepat mungkin untuk mencegah deteriorisasi faktor pembekuan yg
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel di kirim secepat mungkin untuk mencegah deteriorisasi faktor pembekuan yg
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel di kirim secepat mungkin untuk mencegah deteriorisasi faktor pembekuan yg
Stabilitas dan penyimpanan  Sampel di kirim secepat mungkin untuk mencegah deteriorisasi faktor pembekuan yg

Stabilitas dan penyimpanan

Sampel di kirim secepat mungkin untuk mencegah deteriorisasi faktor pembekuan yg labil( f v dan f VIII)

Tidak perlu di antar dalam pendingin namun pada suhu 15 22 ° c Untuk pasien rujukan plasma dapat disimpan dalam suhu 20 °c dan bertahan selama 2 4 minggu.dan pada suhu 80 ° c dapat disimpan dalam kurun waktu yang lama.

TEHNIK PEMERIKSAAN  Analitik tahap pemeriksaan → penggunaan alat analitik modern saat ini sanggat membantu
TEHNIK PEMERIKSAAN  Analitik tahap pemeriksaan → penggunaan alat analitik modern saat ini sanggat membantu
TEHNIK PEMERIKSAAN  Analitik tahap pemeriksaan → penggunaan alat analitik modern saat ini sanggat membantu
TEHNIK PEMERIKSAAN  Analitik tahap pemeriksaan → penggunaan alat analitik modern saat ini sanggat membantu

TEHNIK PEMERIKSAAN

Analitik tahap pemeriksaan penggunaan alat analitik modern saat ini sanggat membantu dalam pemeriksaan laboratorium dengan hasil yg akurat. Pemantapan mutu internal dan external yang

dilakukan dengan baik diharapkan dapat mengurangi

kesalahn pada proses analitik. Setiap kali mengerjakan pemeriksaan koagulasi sebaik nya di periksa juga satu kontrol normal dan satu kontrol abnormal.plasma

yang dipakai sebagai kontrol tidak boleh

ikhterik,lipemik,maupun hemolisis

MASA PROTROMBIN PLASMA  Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses
MASA PROTROMBIN PLASMA  Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses
MASA PROTROMBIN PLASMA  Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses
MASA PROTROMBIN PLASMA  Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses

MASA PROTROMBIN PLASMA

Protrombin disintesis oleh hati dan merupakan prekursor tidak aktif dalam proses pembekuan. Protrombin dikonversi menjadi thrombin oleh tromboplastin yang diperlukan untuk membentuk bekuan darah.

Pemeriksaan ini digunakan untuk menguji pembekuan darah melalui jalur ekstrinsik dan jalur bersama yaitu faktor pembekuan VII, X, V, protrombin dan fibrinogen. Selain itu juga dapat dipakai untuk memantau efek antikoagulan oral karna golongan obat tersebut

menghambat pembentukan faktor pembekuan protrombin

MASA PROTROMBIN PLASMA  Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik
MASA PROTROMBIN PLASMA  Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik
MASA PROTROMBIN PLASMA  Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik
MASA PROTROMBIN PLASMA  Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik

MASA PROTROMBIN PLASMA

Perubahan faktor V dan VII akan memperpanjang PT selama 2 detik atau 10% dari nilai normal. Pada penyakit hati PT memanjang karena sel hati tidak dapat mensintesis protrombin.

International Committee for Standardization in Hematology (ICSH) menganjurkan tromboplastin jaringan yang digunakan harus distandardisasi dengan tromboplastin rujukan dari WHO untuk

mendapatkan International Sensitivity Index (ISI)

MASA PROTROMBIN PLASMA  International Normalized Ratio (INR) adalah satuan yang lazim digunakan untuk pemantauan
MASA PROTROMBIN PLASMA  International Normalized Ratio (INR) adalah satuan yang lazim digunakan untuk pemantauan
MASA PROTROMBIN PLASMA  International Normalized Ratio (INR) adalah satuan yang lazim digunakan untuk pemantauan
MASA PROTROMBIN PLASMA  International Normalized Ratio (INR) adalah satuan yang lazim digunakan untuk pemantauan

MASA PROTROMBIN PLASMA

International Normalized Ratio (INR) adalah satuan yang lazim digunakan untuk pemantauan pemakaian antikoagulan oral. INR didapatkan dengan membagi nilai PT yang didapat dengan nilai PT normal kemudian dipangkatkan dengan ISI. INR merupakan

rancangan untuk memperbaiki proses pemantauan

terhadap terapi warfarin sehingga INR digunakan sebagai uji terstandardisasi internasional untuk PT. INR dirancang untuk pemberian terapi warfarin

jangka panjang dan hanya boleh digunakan setelah

respons klien stabil terhadap warfarin.

Pemeriksaan masa protrombin plasma

Prinsip pemeriksaan ini adalah mengukur lamanya terbentuk bekuan bila kedalam plasma yg diinkubasi pada suhu 37°c ditambahkan reagen troboplastin

jaringan dan ion kalsium.

Bagaimana cara kerja alat dengan metode Crono Metik  Prinsip kerja dengan mengukur variasi dari

Bagaimana cara kerja alat dengan

metode Crono Metik

Prinsip kerja dengan mengukur variasi dari amplitude yang dihasilkan dari gerak osilasi bola besi.

Pada viskositas sampel yang tetap, bola akan

menghasilkan gerakan ayunan pendular yang konstan

Penurunan amplitude menunjukkan adanya peningkatan viskositas dari medium ada proses koagulasi terjadi

Bagaimana cara kerja alat dengan metode Chronometric  Terdapat medan electromagnet pada sisi kuvet. 

Bagaimana cara kerja alat dengan

metode Chronometric

Terdapat medan electromagnet pada sisi kuvet.

Medan magnet dibentuk dengan 2 kumparan aktif.

Pergerakan bola dikontrol dari lintasan melengkung pada dasar kuvet. Setiap beberapa ms, kumparan (kiri atau kanan)teraktivasi.

Kekuatan inisiasi untuk menggerakan bola lebih kuat untuk mencampur isi kuvet. (BOOST parameters).

Nilai Rujukan Nilai normal uji PT adalah 77 – 105 detik, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji PT adalah 77 – 105 detik, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji PT adalah 77 – 105 detik, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji PT adalah 77 – 105 detik, namun hasil ini bisa

Nilai Rujukan

Nilai normal uji PT adalah 77 105 detik, namun hasil ini bisa bervariasi untuk tiap laboratorium tergantung pada peralatan dan reagen yang digunakan.

MASA TROMBOPLASTIN PARSIAL TERAKTIFASI  Tromboplastin parsial adalah fosfolipid yang berfungsi sebagai pengganti

MASA TROMBOPLASTIN PARSIAL

TERAKTIFASI

Tromboplastin parsial adalah fosfolipid yang berfungsi

sebagai pengganti platelet factor 3 (PF3), dapat berasal dari manusia, tumbuhan dan hewan, dengan aktivator seperti kaolin, ellagic acid, micronized silica atau

celite. Reagen komersil yang dipakai misalnya CK Prest

2 yang berasal dari jaringan otak kelinci dengan kaolin sebagai aktivator. Reagen Patrhrombin SL menggunakan fosfolipid dari tumbuhan dengan

aktivator micronized silica.

Pemeriksaan Masa Tromboplastin Partial Teraktivasi  Pemeriksaan APTT dapat dilakukan dengan cara manual (visual) ,

Pemeriksaan Masa Tromboplastin

Partial Teraktivasi

Pemeriksaan APTT dapat dilakukan dengan cara manual (visual) , dengan alat otomatis (koagulometer), yang menggunakan metode foto- optik dan elektro-mekanik, atau menggunakan metode crono metik. Teknik manual memiliki bias

individu yang sangat besar sehingga tidak dianjurkan

lagi. Tetapi pada keadaan dimana kadar fibrinogen sangat rendah dan tidak dapat dideteksi dengan alat otomatis, metode ini masih dapat digunakan. Metode

otomatis dapat memeriksa sampel dalam jumlah besar

dengan cepat dan teliti.

Pemeriksaan Masa Tromboplastin Partial Teraktivasi  Pemeriksaan ini gunakan untuk menguji pembekuan darah melalui

Pemeriksaan Masa Tromboplastin

Partial Teraktivasi

Pemeriksaan ini gunakan untuk menguji pembekuan darah melalui jalur intrinsik dan jalur bersama yaitu factor pembekuan XII, prekalikrein, kininogen, XI, IX VIII, X, V protrombin dan fibrinogen Prinsip pemeriksaan ini adalah mengukur lamanya terbentuk bekuan bila ke dalam plasma ditambahkan reagen tromboplastin parsial dan aktivator serta ion kalsium pada suhu 37oC, reagen tromboplastin parsial

adalah fosfolipid sebagai pengganti platelet factor 3

Nilai Rujukan Nilai normal uji APTT adalah 26 – 34 detik, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji APTT adalah 26 – 34 detik, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji APTT adalah 26 – 34 detik, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji APTT adalah 26 – 34 detik, namun hasil ini bisa

Nilai Rujukan

Nilai normal uji APTT adalah 26 34 detik, namun hasil ini bisa bervariasi untuk tiap laboratorium tergantung pada peralatan dan reagen yang digunakan.

D-Dimer  D-dimer adalah suatu protein dalam sirkulasi yang merupakan produk akhir degenerasi cross-linked fibrin
D-Dimer  D-dimer adalah suatu protein dalam sirkulasi yang merupakan produk akhir degenerasi cross-linked fibrin
D-Dimer  D-dimer adalah suatu protein dalam sirkulasi yang merupakan produk akhir degenerasi cross-linked fibrin
D-Dimer  D-dimer adalah suatu protein dalam sirkulasi yang merupakan produk akhir degenerasi cross-linked fibrin

D-Dimer

D-dimer adalah suatu protein dalam sirkulasi yang

merupakan produk akhir degenerasi cross-linked fibrin oleh aktivitas plasmin dalam sistem fibrinolitik. D-dimer dihasilkan secara alamiah pada proses penyembuhan luka. Pada beberapa penyakit, trombus

terjadi pada tempat dan keadaan yang tidak

diinginkan. Pada keadaan inilah D-dimer menjadi suatu petanda penting terjadinya trombosis. Sejak

pertengahan tahun 1980-an, pemeriksaan D-dimer ini

telah dikenal dan dianggap sebagai perbaikan dari

pemeriksaan fibrin degradation products metode aglutinasi lateks yang ada.

 Pemeriksaan D-dimer dapat diminta ketika pasien memiliki gejala DVT, seperti nyeri kaki, pembengkakan, perubahan
 Pemeriksaan D-dimer dapat diminta ketika pasien memiliki gejala DVT, seperti nyeri kaki, pembengkakan, perubahan
 Pemeriksaan D-dimer dapat diminta ketika pasien memiliki gejala DVT, seperti nyeri kaki, pembengkakan, perubahan
 Pemeriksaan D-dimer dapat diminta ketika pasien memiliki gejala DVT, seperti nyeri kaki, pembengkakan, perubahan

Pemeriksaan D-dimer dapat diminta ketika pasien

memiliki gejala DVT, seperti nyeri kaki, pembengkakan, perubahan warna, edema, atau gejala PE, seperti sesak nafas, batuk, dan nyeri dada yang

berhubungan dengan paru-paru.

D - Dimer  Pemeriksaan D-dimer bemanfaat untuk mengetahui pembentukan bekuan darah yang abnormal atau
D - Dimer  Pemeriksaan D-dimer bemanfaat untuk mengetahui pembentukan bekuan darah yang abnormal atau
D - Dimer  Pemeriksaan D-dimer bemanfaat untuk mengetahui pembentukan bekuan darah yang abnormal atau
D - Dimer  Pemeriksaan D-dimer bemanfaat untuk mengetahui pembentukan bekuan darah yang abnormal atau

D - Dimer

Pemeriksaan D-dimer bemanfaat untuk mengetahui pembentukan bekuan darah yang abnormal atau adanya kejadian trombotik(indirek)dan untuk mengetahui adanya lisis bekuan atau proses

fibrinolitik(direck).

Indikasi pemeriksaan D-dimer yaitu disseminated intavaskule coagulation (DIC), Deep vein thombosis (DVT), terapi antikoagulan dan trombolitik.

Pemeriksaan D-DIMER
Pemeriksaan D-DIMER
Pemeriksaan D-DIMER
Pemeriksaan D-DIMER

Pemeriksaan D-DIMER

Pemeriksaan D-DIMER
Nilai Rujukan Nilai normal uji D- Dimer adalah < 500 Ug/l, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji D- Dimer adalah < 500 Ug/l, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji D- Dimer adalah < 500 Ug/l, namun hasil ini bisa
Nilai Rujukan Nilai normal uji D- Dimer adalah < 500 Ug/l, namun hasil ini bisa

Nilai Rujukan

Nilai normal uji D- Dimer adalah < 500 Ug/l, namun hasil ini bisa bervariasi untuk tiap laboratorium tergantung pada peralatan dan reagen yang

digunakan.

Beberapa kesalahan tehnis yang paling umum terjadi  Kesalahan saat pengambilan sampel,menyebabkan koagulasi sudah

Beberapa kesalahan tehnis yang

paling umum terjadi

Kesalahan saat pengambilan sampel,menyebabkan koagulasi sudah terjadi sebagian(sehingga waktu pembekuan memendek)

Pengisian tabung tidak penuh,terlalu penuh atau hematokrit yang rendah ataupun tinggi( dapat menyeb

abkan volume citrat dengan perbandingan volume plasma

tidak tepat)

Pengambilan darah dilakukan melalui selang yg sebelumnya terdapat kontak

Kontaminasi kaolin/platelet substitute reagent dengan sisa

tromboplastin ( dapat menyebabkan aptt memendek )

Beberapa kesalahan tehnis yang paling umum terjadi  Penundaan analisis sampel  Pipeting yg tidak

Beberapa kesalahan tehnis yang

paling umum terjadi

Penundaan analisis sampel

Pipeting yg tidak akurat

Malfungsi alat

CaCl tidak tepat konsentrasi nya atau tidak segar

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium  F: Sampel darah membeku,  Membiarkan sampel darah

Faktor yang dapat mempengaruhi

temuan laboratorium

F: Sampel darah membeku,

Membiarkan sampel darah sitrat disimpan pada suhu kamar selama beberapa jam,

Diet tinggi lemak (pemendekan PT) dan penggunaan alkohol (pemanjangan PT) dapat menyebabkan perubahan endogen dari produksi PT.

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium  Pembekuan sampel darah,  Sampel darah hemolisis atau

Faktor yang dapat mempengaruhi

temuan laboratorium

Pembekuan sampel darah,

Sampel darah hemolisis atau berbusa akibat dikocok- kocok,

Pengambilan sampel darah pada intravena-lines (mis. pada infus heparin).

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium  Terapi antikoagulan dapat menyebabkan temuan negatif palsu 

Faktor yang dapat mempengaruhi

temuan laboratorium

Terapi antikoagulan dapat menyebabkan temuan negatif palsu

Kadar D-dimer akan meningkat pada orang lanjut usia

Hasil positif palsu dapat dijumpai pada pasien dengan

rheumatoid arthritis (kadar faktor rheumatoid tinggi)

Hipertrigliseridemi atau lipemia dan hiperbilirubinemia dapat menyebabkan temuan positif palsu

Sampel hemolisis disebabkan oleh pengumpulan dan penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan temuan positif palsu.

TERIMA KASIH
TERIMA KASIH
TERIMA KASIH
TERIMA KASIH

TERIMA KASIH