Anda di halaman 1dari 8

1. Meulancang (memasak garam).

Pekerjaan meulancang dilakukan oleh sebahagian penduduk yang


mendiami daerah pinggir pantai terutama pada masyarakat adat Aceh.
Mereka mendirikan pondok-pondok kecil di pinggir laut yang disebut
lancang. Pada setiap lancang terdapat 2-3 buah kuali tempat memasak
garam yang terdapat dari drom. Air laut dimasukkan ke dalam kuali
tersebut untuk dimasak. Setelah air laut tersebut menguap dan kering
maka pada dasar kuali tinggallah garam yang mengkristal.

Petani garam foto/http://dkp.acehprov.go.id/

Di samping cara di atas terdapat suatu cara atau teknik memasak garam
yang lebih efisien lagi, yaitu teknik teumireh. Pada teknik ini air laut
yang akan dimasak tidak diambil dari air laut sembarangan. Para
pemasak garam terlebih dahulu mempesiapkan sebidang areal yang
disiram beberapa kali dengan air laut. Pasir yang kena Air laut itu
diuapkan dengan sinar matahari. Kemudian pasir tersebut diangkat dan
dimasukkan ke dalam upih pinang yang dibuat sedemikian rupa
berbentuk kerucut. Lalu disiramkan air laut ke atas pasir dalam kerucut
itu . Air laut itu menetes ke luar melalui lobang yang terdapat pada
bahagian bawah. Air yang jatuh atau air tetesan itu ditampung untuk
dimasak. Air tiereh tersebut mengandung kadar garam yang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan airlaut biasa.

2. Menangkap berbagai jennis siput


Cue (langkitang) dan kleung (lokan) adalah dua jenis binatang molluaca
(lunak) yang digemari oleh masyarakat adat Aceh. Binatang tersebut
hidup di dasar kuala. Di daerah-daerah tertentu seperti Suak Seumaseh,
Kualabatu, terdapat orang-orang yang kerjanya pergi menyelam
mengambil kleung dan Cue untuk dijual di samping dimakan.

3. Penjaja ikan.
Dalam masyarakat adat Aceh dan Jame terdapat juga sekelompok orang
yang mata pencahariannya menjajaikan, di daerah adat Aceh disebut
mageungkot dan di daerah adat Jame disebut mugelauk. Para pemuge ini
dengan berkendaraan sepeda yang dibelakangnya terdapat
raga ungkot (ikan) sudah siap menunggu pukat yang berlabuh atau
perahu kail. Ikan yang mereka beli pada penangkap ikan tadi dibawa
untuk diedar, dilever kepada konsumen dikampung-kampung.

4. Membelah papan.
Dalam masyarakat adat Aceh dan Jame terdapat sekelompok orang yang
bekerja pergi membelah kayu untuk keperluan alat-alat rumah di gunung-
gunung. Pekerjaan ini di daerah adat Aceh disebut seumeuplah, Didaerah
adat Jame disebut membalah. Mereka yang bekerja membelah kayu ini
pergi ke gunung dengan beberapa teman yang mempunyai mata
pencaharian yang sama. Pada jenis-jenis pekerjaan yang agak berat
seperti memotong atau menebang dan mengangkat kayu ke atas
panggung (bantalan) tempat penggergajian balok dilakukan secara tolong
menolong. Penggergajian dilakukansecara perseoransan. Sedangkan
pembelah kayu yang mempergunakan gergaji daun, tenaga penariknya
dua orang.

5. Memanjat kelapa.
Dalam masyarakat adat Aceh dan Jame terdapat jugasekelompokorang
yang kerjanya mengambil upahmemanjat kelapa. Pekerjaan inidi daerah
adat Aceh disebute kue dan di daerah adat Jame disebut naik karambie.
Mereka itu menerima upah dalam bentuk buah kelapa, ya itu 2- 3 buah
perbatang.

6. Penggalas yang mengikuti uroe ganto atau peukan (hari


pasar).
Dalam masyarakat adat Aceh,Jame dan Tamiang terdapat sekelompok
orang yang kerjanya sebagai penjaja atau penggala yang mengikuti hari
pasaran. Mereka yang bekerja pada bidang ini senantiasa membawa dan
membeli barang-barang se tiap hari pasar sesuai dengan peredaran hari
pasar secara bergilir yang terdapat di beberapa desa.

7. Menarik getah.
Di daerah-daerah yang banyak terdapat kebun para, seperti Seumanyam,
Tamiang dan Singkil, didapati se kelompok orang yang kejanya menarik
getah. Di daerah Tamiang pekerjaani ini disebut deres, di daerah adat
Aceh disebut sie geutah. Pekerjaan penarik getah ini sebetulnya mirip
dengan buruh tani yang mengambil upah pada pemilik kebun. Disamping
itu tak jarang pula terjadi pembahagian hasil antara pekerja dengan
pemilik kebun sesuai dengan jumlah getah yang diperolehnya. (Adat
Istiadat Aceh. 1978. Syamsudin, Teku. Dkk. Banda Aceh: Proyek Penelitian
dan Pencatatan Kebudayaan Aceh).
Sejarah Asal Mula Bangsa Aceh

Konon keturunan bangsa Aceh adalah dari tanah Persia. Seperti kita sering dengar kepanjangan
ACEH sebagai Arab, China, Eropa, dan Hindustan (India). Namun sampai sekarang jarang para
sarjana yang mengangkat kisah seperti ini. Hanya Affan Jamuda dan A.B. Lila Wangsa yang menulis
Peungajaran Peuturi Droe Keudroe (Pelajaran mengenal diri sendiri) menyebutkan: Wangsa Acheh
saboh wangsa nyang jak meunanggroe rot blah barat pulo Ruja. Wangsa nyan asai phon nibak
wangsa Achemenia, Wangsa Achemenia nyang asai jih phon bah binak buket Kaukasus di Europa
teungoh. Wangsa Achemenia nyang hudep bak thon 2500 GM (gohlom masehi). Wangsa Achemenia
saboh wangsa nyang harok meurantoe, sampoe wangsa nyang meusipreuk bansaboh Asia, Afrika,
Europa ngon pulo Ruja. Nyang saboh turonan neuweh u tanoh Parsi jeut keuwangsa Parsia, nyang
sabih suke neuweh u pulo Ruja, dudoe teuma jeut keu-wangsa Acheh.Wangsa Acheh asai phon
nibak wangsa Achemenia-Parsia-Acheh, Affan Jamuda and AB. Lila Wangsa, Peungajaran Peuturi
Droe Keudroe (Pidie: Angkasa Muda, 2000).

Terjemahannya; Bangsa Aceh adalah satu bangsa yang membangun negeri di sebelah barat Pulau
Ruja (Sumatera). Bangsa ini asalnya dari bangsa Achemenia, bangsa Achemenis berasal dari sebuah
bukit Kaukasus di Eropa Tengah. Bangsa Achemenia hidup sekitar 2500 Tahun sebelum Masehi.
Bangsa Achemenia satu bangsa yang suka merantau, sampai bangsa ini tersebar di seluruh Asia,
Afrika, Eropa dan juga Pulau Ruja. Satu keturunan pindah ke tanah Persia, kemudian menjadi bangsa
Persia, yang satu suku lagi pindah ke Pulau Ruja, kemudian lahir bangsa Aceh. Bangsa Aceh
pertama sekali berasal dari bangsa Achemenia-Parsia-Acheh). Tentu saja itu bukan sebuah
kebetulan, jika kemudian kita temukan akar sejarah migrasi manusia dari Persia, bahkan sebelum
Raja Darius (521-486 Sebelum Masehi) yang menguasai Persia, konon beragama Zoroasther. Raja
ini menyebarkan sayap pemerintahannya sampai Eropa, Anatolia, Mesir, Mesopotamia, dan India
Barat.
Dalam buku A History of World Societies disebutkan bahwa: They had created world empire
encompassing of the oldest and most honored kingdoms and peoples of the ancient Near East. Jadi,
ada benarnya bahwa penggalan lagu Rafly di atas, yaitu Beek tabeoh kada wangsa meutuwah;
turounan meugah meuri-ri wangsa; khujja ngoen majja lakap geupajah; turoenan meugah dorius raja.
Sampai sekarang, bukti sejarah ini memang masih mengundang sejumlah tanda tanya. Sebab, di
dalam sejarah, selalu disebutkan nama Parsia di dalam sejarah Aceh, namun jarang yang bisa
menarik kembali kemana arah sejarah Aceh sebelum Masehi atau sebelum Islm datang ke daerah
ini. Pada masa Darius dan anaknya Xerxes (486-464 Sebelum Masehi), mereka telah membangun
suatu monarki kekuasaan, yang ternyata telah disebutkan sebagai world empire (kerajaan dunia)
hingga menjadi cikal bakal beberapa kerajaan di Timur Tengah.

Kemudian Jamuda dan Lilawangsa menulis: hon teuka di tanoh Parsi (Iran-Irak jinoe). Sabab
musabab neueuka sampoe roh neumeunanggroe lam pulo ruja. Bak zameun Raja Dorius neumat
keurajeun di Parsia, lam masa nyang kuasa keurajeun Raja Dorius luah lagoina mulai di Meuser troh
u Hindi ngan lam pula Ruja. Lam masa nyan keu wangsa-ureung bako-bako di nanggroe Parsia
neujak duek u nanggroe blah barat pulo Ruja nyang dudoe neulakap Nanggroe Aceh. Yoh goh nyang
lam tanoh Acheh kana Aulia-Aulia Allah, nyang sahe naggroe Acheh milek harta Aulia-Aulia Allah
(Bangsa Persia sebelum menjadi bangsa Aceh, pertama kali datang di tanoh Parsia (Iran-Irak
sekarang). Sebab datangsampai membangun negeri di Pulau Ruja. Pada masa zaman Raja Darius
memegang tampuk kekuasaan di Persia, pada waktu itu wilayah kekuasaan Raja Darius sangatlah
luas sekali mulai dari Mesir hingga ke India sampai ke Pulau Ruja.

Pada zaman itu berbagai bangsa di negeri Persia berangkat menetap di sebelah Barat Pulau Ruja
kemudian diberinama Nanggroe Aceh. Sebelum itu di tanah Aceh sudah ada wali-wali Allah, yang
jaga negeri Aceh milik harta-harta Aulia Allah). Jadi, dapat dipastikan bahwa asal usul indatu orang
Aceh adalah dari Parsia yang datang ke Pulau Ruja, sebuah pulau yang kemudian diberi nama Aceh.
Namun yang menarik adalah jika benar pada zaman Raja Darius yang beragama Zoroasther sudah
ada Wali-Wali Allah di Aceh, maka pertanyaannya adalah apa benar sudah ada agama yang
menyembah Allah sebelum Masehi. Sebab ungkapan bahwa Aceh milik atau tanah para Wali juga
ditemukan dalam ungkapan lagu Rafly berikut, Han geu meu kafe ureung Aceh nyang/ Saweub
bumoe nyang tanoh Aulia/ Geutem sut nyawong peudong kheun Allah/ Kameunan reusam geutung
pusaka (Tidak akan menjadi Kafir orang Aceh itu/Sebab bumi ini adalah tanah Aulia/ Rela
mengeluarkan nyawa untuk mempertahankan kalimah Allah/ Begitu adat yang diambil sebagai
pusaka). Sayangnya semua sejarah itu masih berupa catatan perang. Kegemilangan Aceh sebagai
salah satu kerajaan besar hanya cerita manis.

Ada yang menarik tentang Aceh, yakni simbol agama yang dikekalkan dalam suasana dayah, sebagai
pusat sumber ilmu agama Islam tempoe doeloe. Ketika Aceh hendak dijajah, semua suku dan ulama
di Aceh sepakat melawan penjajahan. Karena itu, konsep kebencian orang Aceh terhadap
penjajahan, bukan karena kebencian etnisitas atau sejarah, tetapi karena melawan penindasan atau
penjajahan merupakan jihad. Hal itu dibuktikan oleh Tgk Chik Pantee Kulu dengan karyanya kitab
Hikayat Prang Sabi yaitu membakar semangat orang Aceh melawan penjajah dengan ideologi
agama.
Dalam konteks etnis, orang Aceh adalah orang yang berjiwa kosmopolitan alias bisa menerima siapa
saja atau suku bangsa apapun. Untuk mengelompokkan etnisitas, sistem kerajaan Aceh menyusun
kependudukan berdasarkan negeri asal suku bangsa tersebut, sebagaimana dilukiskan dalam hadih
maja Sukee lhee reuthoh bak aneuk drang, Sukee ja sandang jeura haleuba, Sukee tok bate na
bacut bacut, Sukee imuem peut yang gok-gok donya. Sukee di sini dalam kata lain artinya suku
sehingga hadih maja ini menggambarkan keragaman suku bangsa di dunia yang berdomisili di Aceh.
Semuanya berhasil disatukan oleh sultan Alaidin Riayatsyah Al Qahhar (1537-1565) di bawah panji
Islam dan terayomi di bawah payung kerajaan Aceh Darussalam.

Mengenai asal usul masyarakat Aceh, HM. Zainuddin (1961), mengatakan bahwa orang dari suku
Batak/Karee membentuk kaum Lhee Reutoih. Orang asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, Keling
(dagang), Melayu semenanjung, Bugis membentuk kaum Tok Batee Sultan berasal dari kaum Tok
Batee. Kaum percampuran dari Hindu dan Batak Karee membentuk group baru menjadi kaum Ja
Sandang. Pimpinannya diberi gelar dengan panglima kaum dengan gelar kaum imeum peut.
Sedangkan orang Gayo, sebagaimana dikutip Gerini (HM. Zainuddin, 1961) menghubungkannya
dengan Dagroian sesuai dengan catatan- catatan Marcopolo. Menurutnya, Dagroian berasal dari
kata-kata drang gayu, yang berarti orang Gayo. Masyarakat tumbuh dan berkembang dari waktu ke
waktu. Perubahan itu bisa saja berpunca di dalam masyarakat itu sendiri atau bersumber dari luar
lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Aceh mempunyai comparative advantage karena menjadi
pusaran dunia, transit pertama sebelum ke bagian Nusantara.

Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa dalam sejarah kebudayaan Aceh, persoalan bersatu dan
berpisah adalah hal yang sangat biasa. Artinya, mereka bisa bersatu dengan kelompok
manapun,namun budaya yang sudah mengakar yang dibalut dengan kualitas tradisi Islam tidak akan
pernah dapat dihentikan. Jiwa nasionalisme orang Aceh yang menjadi bagian dari Indonesia
merupakan satu nafas dalam perjuangan mereka, sejauh itu tidak dikhianati. Adapun nasionalisme di
Indonesia walaupun masih didominasi oleh pemahaman kebudayaan Jawa, agaknya memang telah
mewariskan persoalan sejarah yang tercecer. Artinya, sejarah nasionalisme di Indonesia adalah
sejarah yang dikendalikan oleh pemerintah. Sehingga dinamika kebudayaan di daerah dianggap
sebagai aset bukan pelaku utama, untuk tidak mengatakan mereka tidak memberikan arti yang
signifikan. Hal ini belum lagi dimana aset budaya Indonesia cenderung dijadikan sebagai objek untuk
kepentingan sosial politik, bukan kepentingan kebudayaan bangsa Indonesia.

A. Kehidupan Politik

Kerajaan Aceh didirikan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1530
setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pidie. Tahun 1564
Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Alaudin al-Kahar (1537-1568).
Sultan Alaudin al-Kahar menyerang kerajaan Johor dan berhasil
menangkap Sultan Johor, namun kerajaan Johor tetap berdiri dan
menentang Aceh. Pada masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Alaudin Riayat
Syah datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman
untuk meminta ijin berdagang di Aceh.

Penggantinya adalah Sultan Ali Riayat dengan panggilan Sultan Muda, ia


berkuasa dari tahun 1604-1607. Pada masa inilah, Portugis melakukan
penyerangan karena ingin melakukan monopoli perdagangan di Aceh, tapi
usaha ini tidak berhasil.

Setelah Sultan Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun
1607-1636, kerajaan Aceh mengalami kejayaan dalam perdagangan.
Banyak terjadi penaklukan di wilayah yang berdekatan dengan Aceh
seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar, Pariaman, Minangkabau,
Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).

Gejala kemunduran Kerajaan Aceh muncul saat Sultan Iskandar Muda


digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (Sultan Iskandar Sani) yang
memerintah tahun 1637-1642. Iskandar Sani adalah menantu Iskandar
Muda. Tak seperti mertuanya, ia lebih mementingkan pembangunan
dalam negeri daripada ekspansi luar negeri. Dalam masa
pemerintahannnya yang singkat, empat tahun, Aceh berada dalam
keadaan damai dan sejahtera, hukum syariat Islam ditegakkan, dan
hubungan dengan kerajaan-kerajaan bawahan dilakukan tanpa tekanan
politik ataupun militer.

Pada masa Iskandar Sani ini, ilmu pengetahuan tentang Islam juga
berkembang pesat. Kemajuan ini didukung oleh kehadiran Nuruddin ar-
Raniri, seorang pemimpin tarekat dari Gujarat, India. Nuruddin menjalin
hubungan yang erat dengan Sultan Iskandar Sani. Maka dari itu, ia
kemudian diangkat menjadi mufti (penasehat) Sultan. Pada masa ini
terjadi pertikaian antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan
agama (Teungku).

Seusai Iskandar Sani, yang memerintah Aceh berikutnya adalah empat


orang sultanah (sultan perempuan) berturut-turut. Sultanah yang pertama
adalah Safiatuddin Tajul Alam (1641- 1675), janda Iskandar Sani.
Kemudian berturut-turut adalah Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam, Inayat
Syah, dan Kamalat Syah. Pada masa Sultanah Kamalat Syah ini turun
fatwa dari Mekah yang melarang Aceh dipimpin oleh kaum wanita. Pada
1699 pemerintahan Aceh pun dipegang oleh kaum pria kembali.

Pada tahun 1816, sultan Aceh yang bernama Saiful Alam bertikai dengan
Jawharul Alam Aminuddin. Kesempatan ini dipergunakan oleh Gubernur
Jenderal asal Inggris, Thomas Stanford Raffles yang ingin menguasai Aceh
yang belum pernah ditundukkan oleh Belanda. Ketika itu pemerintahan
Hindia Belanda yang menguasai Indonesia tengah digantikan oleh
pemerintahan Inggris. Pada tanggal 22 April 1818, Raffles yang ketika itu
berkedudukan di Bengkulu, mengadakan perjanjian dagang dengan
Aminuddin. Berkat bantuan pasukan Inggris akhirnya Aminuddin menjadi
sultan Aceh pada tahun 1816, menggantikan Sultan Saiful Alam.

Pada tahun 1824, pihak Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian di


London, Inggris. Traktat London ini berisikan bahwa Inggris dan Belanda
tak boleh mengadakan praktik kolonialisme di Aceh. Namun, pada 1871,
berdasarkan keputusan Traktat Sumatera, Belanda kemudian berhak
memperluas wilayah jajahannya ke Aceh. Dua tahun kemudian, tahun
1873, Belanda menyerbu Kerajaan Aceh. Alasan Belanda adalah karena
Aceh selalu melindungi para pembajak laut. Sejak saat itu, Aceh terus
terlibat peperangan dengan Belanda. Lahirlah pahlawan-pahlawan
tangguh dari Aceh, pria-wanita, di antaranya Teuku Umar, Cut Nyak Dien,
Panglima Polim.

Perang Aceh ini baru berhenti pada tahun 1912 setelah Belanda
mengetahui taktik perang orang-orang Aceh. Runtuhlah Kerajaan Aceh,
yang dikenal sebagai Serambi Mekah, yang telah berdiri selama tiga abad
lebih. Kemenangan Belanda ini berkat bantuan Dr. Snouck Horgronje, yang
sebelumnya menyamar sebagai seorang muslim di Aceh. Pada tahun 1945
Aceh menjadi bagian dari Republik Indonesia.

B. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi masyarakat Aceh adalah dalam bidang pelayaran dan


perdagangan. Pada masa kejayaannya, perekonomian berkembang pesat.
Penguasaan Aceh atas daerah-daerah pantai barat dan timur Sumatra
banyak menghasilkan lada. Sementara itu, Semenanjung Malaka banyak
menghasilkan lada dan timah. Hasil bumi dan alam menjadi bahan ekspor
yang penting bagi Aceh, sehingga perekonomian Aceh maju dengan
pesat.
Bidang perdagangan yang maju menjadikan Aceh makin makmur. Setelah
Sultan Ibrahim dapat menaklukkan Pedir yang kaya akan lada putih, Aceh
makin bertambah makmur. Dengan kekayaan melimpah, Aceh mampu
membangun angkatan bersenjata yang kuat. Pada masa pemerintahan
Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaan. Dari daerah yang
ditaklukkan didatangkan lada dan emas sehingga Aceh merupakan
sumber komoditas lada dan emas.
Aceh cepat tumbuh menjadi kerajaan besar karena didukung oleh faktor
sebagai berikut.
1. Letak ibu kota Aceh sangat strategis, yaitu di pintu gerbang
pelayaran dari India dan Timur Tengah yang akan ke Malaka, Cina,
atau ke Jawa.
2. Pelabuhan Aceh (Olele) memiliki persyaratan yang baik sebagai
pelabuhan dagang. Pelabuhan itu terlindung oleh Pulau We, Pulau
Nasi, dan Pulau Breuen dari ombak besar.
3. Daerah Aceh kaya dengan tanaman lada sebagai mata dagangan
ekspor yang penting. Aceh sejak dahulu mengadakan hubungan
dagang internasional.
4. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menyebabkan pedagang Islam
banyak yang singgah ke Aceh, apalagi setelah jalur pelayaran beralih
melalui sepanjang pantai barat Sumatra.

C. Kehidupa Sosial-budaya

Letak Aceh yang strategis menyebabkan perdagangannya maju


pesat. Dengan demikian, kebudayaan masyarakatnya juga makin
bertambah maju karena sering berhubungan dengan bangsa lain.
Contoh dari hal tersebut adalah tersusunnya hukum adat yang
dilandasi ajaran Islam yang disebut Hukum Adat Makuta Alam.
Menurut Hukum Adat Makuta Alam pengangkatan sultan haruslah
semufakat hukum dengan adat. Oleh karena itu, ketika seorang sultan
dinobatkan, ia berdiri di atas tabal, ulama yang memegang Al-Quran
berdiri di kanan, sedangkan perdana menteri yang memegang pedang
berdiri di kiri.
Hukum Adat Makuta Alam memberikan gambaran kekuasaan Sultan Aceh,
seperti berikut:

1. mengangkat panglima sagi dan ulebalang, pada saat pengangkatan


mereka mendapat kehormatan bunyi dentuman meriam sebanyak 21
kali;
2. mengadili perkara yang berhubungan dengan pemerintahan;
3. menerima kunjungan kehormatan termasuk pedagang-pedagang
asing;
4. mengangkat ahli hukum (ulama);
5. mengangkat orang cerdik pandai untuk mengurus kerajaan;
6. melindungi rakyat dari kesewenang-wenangan para pejabat
kerajaan.

Dalam menjalankan kekuasaan, sultan mendapat pengawasan dari alim


ulama, kadi, dan Dewan Kehakiman. Mereka terutama bertugas memberi
peringatan kepada sultan terhadap pelanggaran adat dan syara yang
dilakukan.
Sultan Iskandar Muda berhasil menanamkan jiwa keagamaan pada
masyarakat Aceh yang mengandung jiwa merdeka, semangat
membangun, rasa persatuan dan kesatuan, serta semangat berjuang anti
penjajahan yang tinggi. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika Aceh
mendapat sebutan Serambi Mekah. Itulah sebabnya, bangsa-bangsa Barat
tidak mampu menembus pertahanan Aceh.