Anda di halaman 1dari 16

PENGGUNAAN APLIKASI CROPWAT 8.

0 PADA
TANAMAN JAGUNG

Disusun Oleh:

Nama : Ervina Prasentya Sari


NIM : 155040201111252
Kelas :Q

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
SOAL
Menghitung :
1. Evapotranspirasi potensial metode Penman-Monteith
2. Kebutuhan air tanaman (Etc atau CWR)
3. Kebutuhan air irigasi (IWR)
4. Analisis kemungkinan reduksi produksi (%)

5. Berapa debit pemberian air sesuai dengan Efisiensi


Irigasinya/Metode Irigasi.
Kriteria skejuling :
Non-padi
No Irrigation Timing Irrigation Application
1 Irrigate at critical depletion (100%) Refill soil to 100% Field capasity
2 Irrigate at critical depletion (100%) Refill soil to 50% Field capasity
3 Irrigate at given ET crop reduction perstage Refill soil to 100% Field capasity
4 Irrigate at critical depletion (100%) Fixed application depth (50 mm)
5 Rainfed (No Irrigation) -
Menghitung hujan efektif menggunakan SCS USDA (tanaman
selain padi)
Irigasi yang digunakan adalah irigasi permukaan (surface
irrigation dengan efisiensi irrigasi sebesar 70%)
Berikut ini merupakan penjelasan mengenai bagian-bagian cropwat 8.0
yang telah diisi data meteorologi, data tanah serta data tanaman yang
terdapat dalam Cropwat atau FAO-56 yang berlokasi di stasiun
Karangkates dengan data tanaman sampel Maize dari FAO.
1. TABEL IKLIM / ET0 / CLIMATE
Data tersebut merupakan data yang berasal dari stasiun pengamatan
Karangkates yaitu negara (Indonesia), altitude (285 m), latitude (8.09 oL.S),
stasiun tempat pengamatan cuaca, kemudian longitude (112.30 oB.T). Sehingga
didapatkan hasil data rata-rata suhu minimum (20.5oC), rata-rata suhu maksimum
(31.8oC), rata-rata kelembaban (79%), rata-rata kecepatan angin (166 km/hari),
rata-rata penyinaran (7.8 jam), rata-rata radiasi (20.6 MJ/m 2/day), dan rata-rata
Eto (4.52 mm/day).

Diagram Batang Data Iklim


Dari diagram tersebut dapat diketahui bahwa temperatur minimum
tertinggi ada pada bulan desember (21.70C) dan terendah berada di bulan agustus
(18.30C). kemudian untuk temperatur maksimum tertinggi berada di bulan oktober
(32.60C) dan terendah berada di bulan desember (31.10C). Lalu nilai kelembaban
relatif tertinggi berada di bulan januari (85%) dan terendah berada di bulan
september (72%). Kemudian untuk nilai kecepatan angin tertinggi berada di bulan
agustus (228 km/hari) dan terendah pada bulan januari (107 km/hari). Kemudian
untuk nilai lama penyinaran tertinggi berada di bulan agustus (9.3 jam) dan
terendah berada di bulan desember (4.8 jam). Lalu untuk nilai radiasi tertinggi
berada di bulan agustus (23.4 MJ/m2/hari) dan terendah berada di bulan desember
(14.7 MJ/m2/hari). Dan nilai ET0 / Evapotranspirasi standart ertinggi berada di
bulan september (5.30 mm/hari) dan terendah berada di bulan desember (3.27
mm/hari).

2. TABEL HUJAN / RAIN


Setelah memasukkan data iklim/ ET0, tahap kedua yang dilakukan
adalah memasukkan data curah hujan. Jadi apabila data dari curah hujan
dari stasiun Karangkates sudah dimasukkan maka secara otomatis data
curah hujan efektif juga akan terisi. Dan data curah hujan efektif
menggunakan Metode USDA S.C. Sehingga diketahui rata-rata hujan per
tahun adalah 2208.0 mm dan hujan efektif dengan rata-rata total 1228.4 mm per
tahun.

Diagram Batang Rain

Dari data diatas dapat diketahui bahwa curah hujan (CH) tertinggi ada pada bulan
desember (409.0 mm) dan terendah ada di bulan agustus (6.0 mm). Kemudian CH
efektif tertinggi ada di bulan desember (165.9 mm) dan terendah ada di bulan
agustus (5.9 mm). Sehingga dapat diketahui bahwa hubungan diantara keduanya
(CH dan CH efektif) adalah berbanding lurus.

3. DATA TANAMAN MAIZE / CROP

Setelah mengisi data hujan dan diketahui hujan efektifnya langkah


selanjutnya adalah mengisi data crop dengan jenis tanaman tertentu yang
dikehendaki selain itu juga dapat mengatur tanggal dan bulan penanaman
dilakukan. Dengan menginput data crop, irigator dapat mengetahui kapan waktu
panen, nilai Kc, stage pertumbuhan tanaman yang meliputi 4 fase (initial,,
development, mid-season, dan late season), kedalaman perakaran (m), critical
depletion (fraksi), yield response f., dan tinggi tanaman (m). Dari data diatas dapat
diketahui bahwa irigator mulai menanam tanaman maize pada tanggal 25 bulan
maret mengingat curah hujan pada bulan ini mulai tinggi yaitu sebesar 359.0 mm
sehingga dapat diketahui bahwa musim kemarau sudah akan dimulai dengan
begitu diharapkan tahap awal pertumbuhan tanaman maize ini mendapatkan
pasokan air yang cukup selama fase initial (20 hari) dengan nilai Kc 0.30,
kedalaman akar (0.30 m), deplesi kritis (0.55), yield response 0.40 mulai dari awal
fase inisiasi hingga development. Kemudian pada mid-season (40 hari) nilai Kc-
nya 1.20 dengan tinggi tanaman 1.00 m (optional). Lalu pada late season (30 hari)
nilai Kc-nya turun kembali menjadi 0.35. untuk total stage-nya sendiri adalah 4
bulan 5 hari (125 hari).
4. DATA TANAH / SOIL

Selanjutnya adalah menginput data tanah dari FAO. Dari data tersebut
diketahui bahwa irigator menggunakan tanah medium (loam) sebagai media
tanam tanaman maize yang mana memiliki karakteristik total kelembaban
tanahnya 290.0 mm/meter, rata-rata laju infiltasi maksimum 40 mm/hari,
kedalaman perakaran maksimum 900 cm, deplesi kelembaban tanah 0%, dan
kelembaban tanah awal 290.0 mm/meter.

5. TABEL CWR (Crop Water Requirement)

Maka dari data yang telah di input di peroleh data output seperti diatas.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa tahapan pertumbuhan (stage) tanaman
maize, nilai Kc, nilai ETc mm/hari, nilai ETc mm/dekade, nilai CH efektif untuk
tanaman maize, kemudian diketahui total Etc yaitu 498.2 mm/dekade, total hujan
efektif 332.5 mm/dekade, dan total kebutuhan irigasi sebesar 265.5 mm/ dekade.

6. JADWAL IRIGASI / SCHEDULE dengan kriteria :


a. Irrigation timing : irrigate at critical depletion (100%)
Irrigation application : refill soil to 100% field capacity
Irrigation Eficiency : Surface (70%)

Dari tabel diatas diketahui bahwa, irigasi yang diterapkan untuk


tanaman jagung adalah irigasi permukaan (surface irrigation) dengan
waktu irigasi pada deplesi kritis (100 %) mengisi tanah untuk kapasitas
lapang (100 %) dengan efisiensi irigasinya sebesar 70 %. Irigasi dilakukan
selama 1 kali dengan jadwal irigasi dimulai pada hari ke 89 setelah
penanaman (tahap awal). Dan dari gambar diatas juga diketahui total
irrigasi yang diaplikasikan (total gross irrigation) adalah sebesar 230.6
mm, karena efisiensi irigasinya 70% maka irigasi bersih yang memenuhi
kebutuhan air tanaman sebesar 161.4 mm. Dan air yang sebenarnya
diserap oleh tanaman atau potensial air yang diserap tanaman sebesar
496.1 mm. Sehingga efisiensi irigasi menjadi 100%. Total curah hujan
adalah 448.1 mm dimana hujan efektif untuk tanaman sebesar 236.1 mm
sehingga effisiensi hujan menjadi 52.7% dan mengakibatkan total air
hujan yang terbuang sebesar 212.0 mm. Sedangkan defisit kelembaban
pada saat panen sebesar 98.6 mm. Dan kebutuhan irigasi sebenarnya
yang dibutuhkan tanaman jagung adalah sebesar 260.0 mm. Faktor
respon hasil untuk tanaman jagung berubah mulai dari tahap awal sampai
tahap akhir.

b. Irrigation timing : irrigate at critical depletion (100%)


Irrigation application : refill soil to 50% field capacity
Irrigation Eficiency : Surface (70%)
Dari gambar diatas diketahui bahwa, irigasi yang diterapkan untuk jagung
dengan waktu irigasi pada deplesi kritis (100 %) yang mengisi tanah untuk
kapasitas lapang (50 %) dengan efisiensi irigasinya sebesar 70 %. Irigasi
dilakukan selama 1 kali dengan jadwal irigasi dimulai pada hari ke 89
setelah penanaman (tahap awal). Dan dari gambar diatas juga diketahui
total irrigasi yang diaplikasikan (total gross irrigation) adalah sebesar 116.7
mm, karena efisiensi irigasinya 70% maka irigasi bersih yang memenuhi
kebutuhan air tanaman sebesar 81.7 mm. Dan air yang sebenarnya
diserap oleh tanaman dan potensial air yang diserap tanaman sebesar
496.1 mm. Sehingga efisiensi irigasi menjadi 100%. Total curah hujan
adalah 448.1 mm dimana hujan efektif untuk tanaman sebesar 240.4 mm
sehingga effisiensi hujan menjadi 53.6% dan mengakibatkan total air
hujan yang terbuang sebesar 207.7 mm. Sedangkan defisit kelembaban
pada saat panen sebesar 174.0 mm. Dan kebutuhan irigasi sebenarnya
yang dibutuhkan tanaman jagung adalah sebesar 255.7 mm. Faktor
respon hasil untuk tanaman jagung berubah mulai dari tahap awal sampai
tahap akhir atau sama dengan perlakuan yang pertama.

c. Irrigation timing : irrigate at given ET crop reduction per


stage
Irrigation application : refill soil to 100% field capacity
Irrigation Eficiency : Surface (70%)

Dari tabel diatas diketahui bahwa, irigasi yang diterapkan untuk tanaman
jagung dengan waktu irigasi pada pengurangan evapotranspirasi tanaman
per fase yang mengisi tanah untuk kapasitas lapang (100 %) dengan
efisiensi irigasinya sebesar 70 %. Irigasi tidak dilakukan sama sekali. Dan
dari data diatas juga diketahui total irrigasi yang diaplikasikan (total gross
irrigation) adalah sebesar 0.0 mm, karena efisiensi irigasinya 70% maka
irigasi bersih yang memenuhi kebutuhan air tanaman sebesar 0.0 mm.
Dan air yang sebenarnya diserap oleh tanaman sebesar 476.3 mm dan
potensial air yang diserap tanaman sebesar 496.1 mm. Sehingga efisiensi
irigasi menjadi tidak efisien tetapi terdapat defisiensi irigasi sebesar 4.0%.
Total curah hujan adalah 448.1 mm dimana hujan efektif untuk tanaman
sebesar 240.4 mm sehingga effisiensi hujan menjadi 53.6% dan
mengakibatkan total air hujan yang terbuang sebesar 207.7mm.
Sedangkan defisit kelembaban pada saat panen sebesar 235.9 mm. Dan
kebutuhan irigasi sebenarnya yang dibutuhkan tanaman jagung adalah
sebesar 255.7 mm. Untuk faktor respons memiliki hasil yang sama
dengan kedua perlakuan sebelumnya. Dengan reduksi ETc sebanyak
4.0%. Pengurangan evapotranspirasi tanaman dari awal tanam sampai
akhir tanam (panen) mengalami fluktuasi (naik turun). Tetapi untuk
pengurangan hasil mengalami penurunan pada setiap fase pertumbuhan
tanaman. Dan penurunan hasil kumulatif mengalami fluktuasi yang
awalnya 0.9% lalu naik menjadi sebesar 9.1% lalu turun lagi sebesar
5.0%.

d. Irrigation timing : irrigate at critical depletion (100%)


Irrigation application : fixed application depth (50mm)
Irrigation Eficiency : Surface (70%)
Dari gambar diatas diketahui bahwa, irigasi yang diterapkan untuk
tanaman jagung dengan waktu irigasi pada deplesi kritis (100 %) yang
kedalamannya (50 mm) dengan efisiensi irigasinya sebesar 70 %. Irigasi
dilakukan selama 1 kali dengan jadwal irigasi dimulai pada hari ke 89
setelah penanaman (tahap pertengahan). Dan dari tabel diatas juga
diketahui total irrigasi yang diaplikasikan (total gross irrigation) adalah
sebesar 71.4 mm, karena efisiensi irigasinya 70% maka irigasi bersih
yang memenuhi kebutuhan air tanaman sebesar 50.0 mm. Dan air yang
sebenarnya diserap oleh tanaman dan potensial air yang diserap tanaman
sebesar 496.1 mm. Sehingga efisiensi irigasi menjadi 100%. Total curah
hujan adalah 448.1 mm dimana hujan efektif untuk tanaman sebesar
240.4 mm sehingga effisiensi hujan menjadi 53.6% dan mengakibatkan
total air hujan yang terbuang sebesar 207.7 mm. Sedangkan defisit
kelembaban pada saat panen sebesar 205.7 mm. Dan kebutuhan irigasi
sebenarnya yang dibutuhkan tanaman jagung adalah sebesar 255.7 mm.
Faktor respon hasil untuk tanaman jagung fluktuatif mulai dari tahap awal
sampai tahap akhir. Reduksi ETc nya sama yaitu 0% Dan penurunan hasil
kumulatif sebesar 0 % pada setiap fase pertumbuhan tanaman jagung.

e. Irrigation timing : Rainfed (no irrigation)


Irrigation application :-
Irrigation Eficiency : Surface (70%)
Dari gambar diatas diketahui bahwa, irigasi yang diterapkan untuk
tanaman jagung dengan tidak ada irigasi. Dan dari tabel diatas juga
diketahui total irrigasi yang diaplikasikan (total gross irrigation) dan irigasi
bersih yang memenuhi kebutuhan air tanaman sebesar 0 mm. Dan air
yang sebenarnya diserap oleh tanaman sebesar 476.3 mm dan potensial
air yang diserap tanaman sebesar 496.1 mm. Tetapi defisiensi irigasi
sebesar 4.0%. Total curah hujan adalah 448.1 mm dimana hujan efektif
untuk tanaman sebesar 240.4 mm sehingga effisiensi hujan menjadi
53.6% dan mengakibatkan total air hujan yang terbuang sebesar 207.7
mm. Sedangkan defisit kelembaban pada saat panen sebesar 235.9 mm.
Dan kebutuhan irigasi sebenarnya yang dibutuhkan tanaman jagung
adalah sebesar 255.7 mm. Pengurangan evapotranspirasi tanaman dari
awal tanam sampai akhir tanam (panen) mengalami fluktuasi (naik turun).
Dan untuk pengurangan hasil mengalami fluktuasi pada setiap fase
pertumbuhan tanaman. Dengan Reduksi yieldnya 5.0%.

7. TABEL POLA TANAM (CROPPING PATTERN)

Dari data tabel pola tanam diatas, dapat diketahui bahwa pola tanam pada
tanaman maize menggunakan pola tanam monokultur dengan luas area
sebesar 100%.
8. SKEMA TANAMAN

Berdasarkan tabel skema diatas dapat diketahui skema kebutuhan irigasi


bersih per hari tertinggi yang dibutuhkan tanaman jagung adalah pada
bulan juni sebesar 3.7 mm/hari dan yang terendah pada bulan Agustus
hingga april sebesar 0 mm/hari. Dan irigasi bersih per bulan tertinggi
adalah pada bulan juni sebesr 109.7 mm/bulan. Sedangkan irigasi bersih
per jam tertinggi adalah pada bulan juni sebesar 0.42 l/s/h. Kemudian juga
dapat diketahui bahwa area irigasi yang sebenarnya dibutuhkan tanaman
jagung terbesar adalah pada bulan juni sebesar 0.42 l/s/h.