Anda di halaman 1dari 13

Tugas Kelompok 4 Dosen Pengampu

Lisa Utami, S.Si, M.Si

KAJIAN BUKU AJAR KIMIA II


MANFAAT RADIOKIMIA DALAM BIDANG KIMIA, KEDOKTERAN,
INDUSTRI DAN PERTANIAN

Oleh:
ANAS ILHAM / 11417103365
ANNISA/ 11417201001
ANNISA NAIRUL RAHMI/ 11417203536
AYU LESTARI/11417204299

ASRIDA SARI HASIBUAN/11417203159

BELLA PRATIWI/11417203181

CHINTIA DEWI/11417203150

CINDY PERMATA SARI/11417203149

PENDIDIKAN KIMIA 6A
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
TAHUN 2016/2017
I. MANFAAT RADIOKIMIA DALAM BIDANG KIMIA
1. Teknik Perunut
Teknik perunut dapat dipakai untuk mempelajari mekanisme berbagai reaksi kimia.
Misal pada reaksi esterifikasi. Dengan oksigen-18 dapat diikuti reaksi antara asam karboksilat
dan alkohol. Dari analisis spektroskopi massa, reaksi esterifikasi yang terjadi dapat ditulis
seperti berikut. (isotop oksigen-18 diberi warna). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa
molekul air tidak mengandung oksigen-18. Adapun jika O-18 berada dalam alkohol maka
reaksi yang terjadi seperti berikut.
2. Penggunaan Isotop dalam Bidang Kimia Analisis
Penggunaan isotop dalam analisis digunakan untuk menentukan unsur-unsur kelumit
dalam cuplikan. Analisis dengan radioisotop atau disebut radiometrik dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu, sebagai berikut.
1) Analisis Pengeceran Isotop
Larutan yang akan dianalisis dan larutan standar ditambahkan sejumlah larutan yang
mengandung suatu spesi radioaktif. Kemudian zat tersebut dipisahkan dan ditentukan
aktivitasnya. Konsentrasi larutan yang dianalisis ditentukan dengan membandingkannya
dengan larutan standar.
2) Analisis Aktivasi Neutron (AAN)
Analisis aktivasi neutron dapat digunakan untuk menentukan unsur kelumit dalam
cuplikan yang berupa padatan. Misal untuk menentukan logam berat (Cd) dalam sampel ikat
laut. Sampel diiradiasi dengan neutron dalam reaktor sehingga menjadi radioaktif. Salah satu
radiasi yang dipancarkan adalah sinar gamma . Selanjutnya sampel dicacah dengan
spektrometer gamma untuk menentukan aktivitas dari unsur yang akan ditentukan.
3. Radiologi dalam Pengukuran Usia Bahan Organik
Radioisotop karbon-14, terbentuk di bagian atas atmosfer dari penembakan atom
nitrogen dengan neutron yang terbentuk oleh radiasi kosmik.
Karbon radioaktif tersebut di permukaan bumi sebagai karbon dioksida dalam udara
dan sebagai ion hidrogen karbonat di laut. Oleh karena itu karbon radioaktif itu menyertai
pertumbuhan melalui fotosintesis. Lama kelamaan terdapat kesetimbangan antara karbon-14
yang diterima dan yang meluruh dalam tumbuh-tumbuhan maupun hewan, sehingga
mencapai 15,3 dis/menit gram karbon. Keaktifan ini tetap dalam beberapa ribu tahun. Apabila
organisme hidup mati, pengambilan 14C terhenti dan keaktifan ini berkurang. Oleh karena itu
umur bahan yang mengandung karbon dapat diperkirakan dari pengukuran keaktifan jenisnya
dan waktu paruh 14C. ( 12 T = 5.730 tahun).
4. Mempelajari Reaksi Esterifikasi.
Reaksi esterifikasi yaitu reaksi pembentukan suatu ester yang dapat dibentuk dengan
reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dan suatu alkohol. Esterifikasi berkataliskan
asam dan merupakan reaksi yang reversibel.
Asam karboksilat bereaksi dengan alkohol membentuk ester dan air.

RCOOH + ROH R COOR + H2O


Hal yang mau diselidiki adalah asal atom Oksigen yang membentuk air pada reaksi
tersebut, dari asam atau dari alkohol? Dengan 18O dapat diikuti reaksi antara asam
karboksilat dan alkohol.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa pada reaksi esterifikasi, atom O yang
membentuk senyawa H2O berasal dari asam karboksilat. Adapun atom O yang membentuk
senyawa ester berasal dari alkohol.
5. Mempelajari Reaksi Fotosintesis.
Percobaan menggunakan perunut telah dilakukan tahun 1950 oleh Melvin Calvin dan
pembantu-pembantunya universitas Berkeley California untuk menentukan mekanisme
fotosintesis tanaman. Proses keseluruhan fotosintesis melibatkan reaksi CO 2 dan H2O untuk
menghasilkan glukosa dan O2.
6CO2(g) + 6H2O(l) C6H12O6(s) + 6O2(g)
14
Dalam percobaannya, gas CO2 yang mengandung lebih isotop C radioaktif
diterpakan kepada tanaman alga selama satu tahun, selanjutnya alga diekstrak dengan alkohol
dan air. Senyawa terekstrak dipisahkan dengan kromatografi selanjutnya diidentifikasi.
Dalam kerja jenis ini, digunakan alat deteksi seperti sebuah pencacah Geiger untuk mengikuti
14
atom radioaktif lewat pelbagai zat antara ke produk akhir. Senyawa yang mengandung C
radioaktif terdapat dalam zat antara yang dibentuk selama fotosintesis. Berdasarkan analisa
terhadap isotop 14C Calvin mengajukan mekanisme atau tahap-tahap dalam fotosintesis.
6. Mempelajari Kesetimbangan Dinamis.
Kesetimbangan dinamis kimia bersifat dinamis artinya bahwa dalam keadaan
setimbang reaksi tetap berlangsung dengan laju yang sama pada kedua arah. Hal itu dapat
dibuktikan sebagai berikut. Perhatikan kesetimbangan PbI2 (timbal (II) klorida) padat dan
larutan jenuhnya yang mengandung Pb2+(aq) dan I-(aq) persamaannya:
PbI2(s) Pb2+(aq) + 2I-(aq)
Ke dalam tabung yang berisi PbI2 padat non radioaktif tambahkan larutan yang berisi ion ioda
radioaktif (I131) hingga jenuh, kocok campuran dan biarkan beberapa lama.
Saring campuran dan keringkan endapan tersaring. Jika dianalisis maka dalam padatan PbI 2
akan terdapat PbI2 yang radioaktif. Hal ini menunjukan bahwa dalam larutan jenuh tedapat
keadaan setimbang dinamis antara padatan dan ion-ionnya.
7. Analisis/Titrasi Radiometri
Analisis radiometri adalah cara analisis kimia untuk unsur atau zat tak radioaktif
dengan jalan penambahan zat radioaktif dan Analisis radiometri ini digunakan untuk
menentukan kadar zat yang sangat rendah dalam suatu campuran.
Penentuan kadar Ag+ ataupun Cl- dapat menggunakan radioisotop. Jika yang ingin
ditentukan kadar Cl- maka yang digunakan adalah Ag dalam bentuk radioisotop (110Ag+) dan
jika yang ingin ditentukan kadar Ag maka yang digunakan ion radioklor.
Pada titrasi radiometri, isotop dapat digunakan sebagai petunjuk akhir titrasi.
Misalnya pada titrasi penentuan ion Cl- dan ion Ag+ membentuk endapan AgCl. Baik titran
maupun cuplikan dapat mengandung komponen radioaktif.
Pada awal titrasi, dalam labu Erlenmeyer yang berisi ion Cl - non radioaktif tidak
terdapat keaktifan. Setelah ion 110Ag+ radioaktif ditambahkan ke dalam Erlenmeyer dan
bereaksi dengan ion Cl- membentuk endapan AgCl. Bagian supernatan (endapan) tidak
menunjukan tanda-tanda keaktifan, tetapi setelah titik ekivalen tercapai, kelebihan ion Ag +
berada dalam larutan, dan secara perlahan meningkatkan keaktifan, dari perubahan keaktifan
dan jumlah volume larutan yang ditambahkan dapat dicari titik akhir titrasi atau titik akhir
titrasi juga dapat diperoleh dengan cara ekstrapolasi grafik.
Kelebihan cara analisis radiometri adalah kepekaannya sangat tinggi, Selain itu, suhu,
pH, kekeruhan dan lainnya tidak mempengaruhi titik akhir titrasi.
8. Analisis pengenceran isotop
Analisis pengenceran isotop untuk menentukan kadar suatu zat dengan cara
menambahkan zat radioaktif yang sudah diencerkan ke dalam zat yang akan ditentukan
kadarnya. Pengenceran isotop adalah pengenceran bahan target yang dilakukan dengan
menambahkan isotopnya. Pengenceran isotop digunakan untuk mengurangi cacat radiasi dan
analisis yang memanfaatkan perubahan rasio isotop.
Untuk mengurangi cacat radiasi akibat penyerapan radioisotop ke dalam tubuh,
konsentrasinya diencerkan dengan menyerap isotop stabil dan dikeluarkan dari tubuh. Misal,
bila iodium radioaktif diserap ke dalam tubuh maka setelah 24 jam sekitar 20% jumlahnya
akan masuk ke dalam tiroid dan sisanya setelah terdistribusi ke seluruh tubuh segera
dikeluarkan melalui urin. Bila sebelumnya telah menggunakan iodium stabil maka
konsentrasi iodium di dalam tiroid menjadi lebih tinggi dan waktu paro biologisnya menjadi
lebih pendek. Bila mengkonsumsi serbuk kalium iodida 100 mg sehari, maka 90% lebih
iodium radioaktif yang diserap akan dikeluarkan.
Pada analisis pengenceran isotop, kedalam suatu larutan yang akan dianalisis
ditambahkan suatu larutan yang mengandung suatu spesi radioaktif yang diketahui jumlahnya
dan zat yang tidak diketahui. Kemudian zat tersebut di pisahkan, lalu keradioaktifannya
ditentukan.
9. Analisis pengaktifan neutron
Analisis pengaktifan neutron adalah adalah analisis unsur-unsur dalam sampel yang
didasarkan pada pengubahan isotop stabil oleh isotop radioaktif melalui pemboman sampel
oleh neutron atau proses pengaktifan neutron dapat diartikan juga sebagai proses reaksi inti
dimana unsur-unsur yang semula tidak radioaktif berubah sifat fisikanya menjadi radioaktif
sehingga dapat memancarkan radiasi. Proses aktivasi yang paling umum disebabkan oleh
penyerapan neutron oleh inti atom suatu unsur, dan unsur yang teraktivasi akan menjadi
radioaktif yang dapat memancarkan radiasi, umumnya adalah radiasi gamma. Reaksi
pengaktifan jenis ini juga sering disebut sebagai reaksi neutron-gamma, karena penyerapan
neutron oleh unsur akan diikuti oleh pemancaran radiasi gamma dari unsur tersebut.
Analisis pengaktifan neutron dilakukan untuk menentukan zat yang berkadar rendah
dengan cara menembak unsur yang dimaksud agar menghasilkan radioisotop dan
memancarakan sinar. Contohnya digunakan untuk mengidentifikasi apakah seseorang itu mati
wajar atau diracun, dapat dianalisis berdasarkan runutan unsur dalam rambut. Ini dapat
dilakukan dengan cara menentukan jumlah dan posisi unsur dalam rambut secara seksama
sehingga dapat diketahui penyebab kemetian orang itu.
Analisis terhadap rambut dapat dilakukan untuk menentukan zat beracun yang
terdapat dalam rambut, misalnya arsen (As). Jika isotop 75As dibombardir dengan neutron,
inti metastabil dari 76Asm diperoleh:
33As75 + 0n1 33As76 m + 00
As di bombardir dengan neutron menghasilkan As metastabil yang inti metastabilnya
berada dalam keadaan tereksitasi, untuk stabil meluruhkan sinar gamma. Frekuensi sinar
yang diemisikan khas untuk setiap unsur. Selain itu, intensitas sinar gamma sebanding dengan
unsure yang ada dalam sample rambut.
II. MANFAAT RADIOKIMIA DALAM BIDANG KEDOKTERAN
Dalam bidang kedokteran radiokimia banyak digunakan yaitu Radioaktif. Penggunaan
radioaktif untuk kesehatan sudah sangat banyak, dan sudah berapa juta orang di dunia yang
terselamatkan karena pemanfaatan radioaktif ini.
1. Sterilisasi radiasi
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga dapat
digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran. Steritisasi dengan cara radiasi mempunyai
beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi konvensional (menggunakan bahan
kimia), yaitu:
Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan mikroorganisme.
Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia.
Karena dikemas dulu baru disterilkan maka alat tersebut tidak mungkin tercemar bakteri
lagi sampai kemasan terbuka. Berbeda dengan cara konvensional, yaitu disterilkan dulu
baru dikemas, proses pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit penyakit.
2. Terapi tumor atau kanker.
Co-60 : pemancar gamma untuk terapi tumor/ kanker. Berbagai jenis tumor atau
kanker dapat diterapi dengan radiasi. Sebenarnya, baik sel normal maupun sel kanker dapat
dirusak oleh radiasi tetapi sel kanker atau tumor ternyata lebih sensitif (lebih mudah rusak).
Oleh karena itu, sel kanker atau tumor dapat dimatikan dengan mengarahkan radiasi secara
tepat pada sel-sel kanker tersebut
3. Penentuan Kerapatan Tulang Dengan Bone Densitometer
Pengukuran kerapatan tulang dilakukan dengan cara menyinari tulang dengan radiasi
gamma atau sinar-X. Berdasarkan banyaknya radiasi gamma atau sinar-X yang diserap oleh
tulang yang diperiksa maka dapat ditentukan konsentrasi mineral kalsium dalam tulang.
Perhitungan dilakukan oleh komputer yang dipasang pada alat bone densitometer tersebut.
Teknik ini bermanfaat untuk membantu mendiagnosiskekeroposan tulang (osteoporosis) yang
sering menyerang wanita pada usia menopause (matihaid).
4. Three Dimensional Conformal Radiotheraphy (3d-Crt)
Terapi radiasi dengan menggunakan sumber radiasi tertutup atau pesawat pembangkit
radiasi telah lama dikenal untuk pengobatan penyakit kanker. Perkembangan teknik
elektronika maju dan peralatan komputer canggih dalam dua dekade ini telah membawa
perkembangan pesat dalam teknologi radioterapi. Dengan menggunakan pesawat pemercepat
partikel generasi terakhir telah dimungkinkan untuk melakukan radioterapi kanker dengan
sangat presisi dan tingkat keselamatan yang tinggi melalui kemampuannya yang sangat
selektif untuk membatasi bentuk jaringan tumor yang akan dikenai radiasi, memformulasikan
serta memberikan paparan radiasi dengan dosis yang tepat pada target. Dengan
memanfaatkan teknologi 3D-CRT ini sejak tahun 1985 telah berkembang metoda
pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya (gamma knife).
Dengan teknik ini kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah
konvensional menjadi dapat diatasi dengan baik oleh pisau gamma ini, bahkan tanpa perlu
membuka kulit pasien dan yang terpenting tanpa merusak jaringan di luar target.
5. PET (Positron Emision Tomography)
PET merupakan salah satu hasil di garis depan pengembangan radioisotop untuk
dunia kedokteran. PET adalah metode visualisasi fungsi tubuh menggunakan radioisotop
pemancar positron.Oleh karena itu, citra (image) yang diperoleh adalah citra yang
menggambarkan fungsi organ tubuh. Kelainan dan ketidaknormalan fungsi atau metabolisme
di dalam tubuh dapat diketahui dengan metode pencitraan (imaging) ini. Hal ini berbeda
dengan metode visualisasi tubuh yang lain, seperti MRI (magnetic resonance imaging) dan
CT (computed tomography). MRI dan CT scans adalah visualisasi anatomi tubuh yang
menggambarkan bentuk organ tubuh. Dengan kedua metode ini, yang terdeteksi adalah
kelainan dan ketidaknormalan bentuk organ.

Berbagai kelainan metabolisme di dalam tubuh, termasuk di dalamnya adalah adanya


metabolisme sel kanker, dapat diketahui dengan cepat melalui PET. Salah satu bentuk
perbedaan sel kanker dengan sel normal di sekelingnya adalah pada bentuk metabolisme
glukosa. Sel kanker mengonsumsi glukosa dalam jumlah yang lebih besar dari sel di
sekelilingnya.Secara umum, kecepatan pertumbuhan sel kanker yang mencerminkan tingkat
keganasannya sebanding dengan tingkat konsumsi glukosa. Bentuk metabolisme glukosa di
dalam tubuh ini dapat dideteksi menggunakan bahan radiofarmaka 18FDG (18 F-2-fluoro-2-
deoxy-D-glucose). Keberadaan radioisotop fluor-18 yang ada di dalam senyawa tersebut
dapat dideteksi dengan mudah dari luar tubuh melalui radiasi yang dipancarkannya
III. MANFAAT RADIOKIMIA DALAM BIDANG INDUSTRI

1. Untuk mendeteksi kebocoran pipa


Radioisotop digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa yang ditanam di dalam
tanah atau dalam beton. Isotop dimasukannya ke dalam aliran pipa, maka kebocoran pipa
dapat dideteksi tanpa penggalian tanah atau pembongkaran beton. Radioisotop
yang digunakan sebagai perunut untuk menguji kebocoran cairan/gas dalam pipa misalnya
sedikit garam24NaCl di masukkan kedalam aliran pipa, selanjutnya detektor geiger-Muller
digerakkan mengikuti aliran pipa. Selanjutnya Detektor akan menangkap radiasi pada pipa
yang mengalami kebocoran.

2. Untuk menentukan kehausan atau keroposan yang terjadi pada bagian


pengelasan atau logam
Jika bagian pengelasan atau logam ini disinari dengan sinar gamma dan dibalik bahan
itu diletakkan film foto maka pada bagian yang terdapat kehausan atau kekeroposan akan
memberikan gambar yang tidak merata.

3. Untuk mengetahui adanya cacat pada material


Pada bidang industri aplikasi baja perlu dianggap bahwa semua bahan selalu
mengandung cacat. Cacat dapat berupa cacat bawaan dan cacat yang terjadi akibat
penanganan yang tidak benar. Cacat pada material merupakan sumber kegagalan dalam
industri baja.Penyebab timbulnya cacat pada material, meliputi desain yang tidak tepat,
proses fabrikasi dan pengaruh lingkungan. Desain yang tidak tepat meliputi pemilihan bahan,
metode pengerjaan panas yang tidak tepat dan tidak dilakukannya uji mekanik. Proses
fabrikasi meliputi keretakan karena penggrindaan, cacat proses fabrikasi dan cacat
pengelasan. Kondisi operasi lingkungan meliputi korosi. Untuk mengetahui adanya cacat
pada material makadigunakan suatu pengujian material tak merusak yang salah satunya
adalah dengan metode radiografi sinar gamma.
Teknik radiografi merupakan salah satu metode pengujian material tak-merusak yang
selama ini sering digunakan oleh industri baja untuk menentukan jaminan kualitas dari
produk yang dihasilkan. Teknik ini adalah pemeriksaan dengan menggunakan sumber radiasi
(sinar-x atausinar gamma) sebagai media pemeriksa dan film sebagai perekam gambar yang
dihasilkan. Radiasi melewati benda uji dan terjadi atenuasi dalam benda uji. Sinar yang akan
diatenuasi tersebut akan direkam oleh film yang diletakkan pada bagian belakang dari benda
uji. Setelah film tersebut diproses dalam kamar gelap maka film tersebut dapat dievaluasi.
Bila terdapat cacat pada benda uji maka akan diamati pada film radiografi dengan melihat
perbedaan kehitaman atau densitas.
Pemilihan sumber radiasi berdasarkan pada ketebalan benda yang diperlukan karena
daya tembus sinar gamma terhadap material berbeda. Pada sumber pemancar sinar gamma
tergantung besar aktivitas sumber. Sedangkan pemilihan tipe film sangat mempengaruhi
pemeriksaan kualitas material. Film digunakan untuk merekam gambar material yang
diperiksa. Pemilihan tipe film yang benarakan menghasilkan kualitas hasil radiografi yang
sangat baik. Pada umumnya kita mengenal dua macam jenis film, yaitu film cepat dan film
lambat. Pada film cepat butir-butirannya besar, kekontrasan dan definisinya kurang baik.
Sedangkan pada film lambat butir-butirannya kecil, kekontrasan dan definisinya lebih baik.
Penentuan jarak sumber ke film (SFD) juga mempengaruhi hasil kualitas film radiografi.
Penghitungan SFD yang tidak benar mempengaruhi tingkat kehitaman atau density hasil film
radiografi sehingga akan mempengaruhi tingkat sensitivitas atau tingkat ketelitian.

4. Pemeriksaan tanpa merusak.


Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada logam atau
sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tehnik ini berdasarkan sifat bahwa
semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka intensitas radiasi yang diteruskan makin
berkurang, jadi dari gambar yang dibuat dapat terlihat apakah logam merata atau ada bagian-
bagian yang berongga didalamnya. Pada bagian yang berongga itu film akan lebih hitam.

5. Mengontrol ketebalan bahan


Ketebalan produk yang berupa lembaran, seperti kertas film atau lempeng logam
dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya sama seperti diatas, bahwa intensitas radiasi yang
diteruskan bergantung pada ketebalan bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan
dengan alat penekan. Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima
detektor akan berkurang dan mekanisme ala akan mengatur penekanan lebih kuat sehingga
ketebalan dapat dipertahankan.

6. Digunakan dalam pengujian kualitas las pada waktu pemasangan pipa


minyak/gas serta instalasi kilang minyak.
Teknik radiografi merupakan teknik yang sering dipakai terutama pada tahap-tahap
konstruksi. Pada sektor industri minyak bumi, teknik ini digunakan dalam pengujian kualitas
las pada waktu pemasangan pipa minyak/gas serta instalasi kilang minyak. Selain
bagianbagian konstruksi besi yang dianggap kritis, teknik ini digunakan juga pada uji kualitas
las dari ketel uap tekanan tinggi serta uji terhadap kekerasan dan keretakan pada konstruksi
beton. Radioisotop yang sering digunakan adalah kobal-60 (60Co). Dalam bidang industri,
radioisotop digunakan juga sebagai perunut misalnya untuk menguji kebocoran cairan/gas
dalam pipa serta membersihkan pipa, yang dapat dilakukan dengan menggunakan radioisotop
iodoum-131 dalam bentuk senyawa CH3131l. Radioisotop seng-65 (65Zn) dan fosfor-32
merupakan perunut yang sering digunakan dalam penentuan efisiensi proses industri, yang
meliputi pengujian homogenitas pencampuran serta residence time distribution (RTD).
Sedangkan untuk kalibrasi alat misalnya flow meter, menentukan volume bejana tak
beraturan serta pengukuran tebal material, rapat jenis dan penangkal petir dapat digunakan
radioisotop kobal-60, amerisium-241 (241Am) dan cesium-137(137Cs).
7. Pengawetan bahan.
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan seperti kayu, barang-
barang seni dan lainlain. Radiasi juga dapat menningkatkan mutu tekstil karena inengubah
struktur serat sehingga lebih kuat atau lebih baik mutu penyerapan warnanya. Berbagai jenis
makanan juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman sehingga dapat disimpan lebih lama.

IV. MANFAAT RADIOKIMIA DALAM BIDANG PERTANIAN


1. Pemberantasan homo dengan teknik jantan mandul
Radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, misalnya hama kubis. Di laboratorium
dibiakkan hama kubis dalam bentuk jumlah yang cukup banyak. Hama tersebut lalu diradiasi
sehingga serangga jantan menjadi mandul. Setelah itu hama dilepas di daerah yang terserang
hama. Diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan mandul
dilepas. Telur hasil perkawinan seperti itu tidak akan menetas. Dengan demikian reproduksi
hama tersebut terganggu dan akan mengurangi populasi.
Radio isotop juga dapat digunakan dalam upaya pemberantasan hama. Radioisotop
dapat meradiasi sel sel kelamin hama jantan sehingga menjadi mandul. Selanjutnya, hama
hama jantan yang mandul ini di lepas kembali sehingga hama betina tidak akan dapat
berkembang biak

Stroberi tampa radiasi, yang berjamur setelah di simpan beberapa hari


Stroberi yang tetap segar setelah penyimpanan dua minggu karena telah disterilisasi
dengan cara radiasi

2. Pemuliaan tanaman
Pemuliaan tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat dilakukan dengan
menggunakan radiasi. Misalnya pemuliaan padi, bibit padi diberi radiasi dengan dosis yang
bervariasi, dari dosis terkecil yang tidak membawa pengaruh hingga dosis rendah yang
mematikan. Biji yang sudah diradiasi itu kemudian disemaikan dan ditaman berkelompok
menurut ukuran dosis radiasinya.
3. Penyimpanan makanan
Kita mengetahui bahwa bahan makanan seperti kentang dan bawang jika disimpan
lama akan bertunas. Radiasi dapat menghambat pertumbuhan bahan-bahan seperti itu. Jadi
sebelum bahan tersebut di simpan diberi radiasi dengan dosis tertentu sehingga tidak akan
bertunas, dengan demikian dapat disimpan lebih lama.
4. Pembentukan Bibit Unggul

Dalam bidang pertanian, radiasi gamma dapat digunakan untuk memperoleh bibit
unggul. Sinar gamma menyebabkan perubahan dalam struktur dan sifat kromosom sehingga
memungkinkan menghasilkan generasi yang lebih baik, misalnya gandum dengan yang umur
lebih pendek.

Selain sinar gamma, fosfor-32 (P-32) juga berguna untuk membuat benih tumbuhan yang
bersifat lebih unggul dibandingkan induknya. Radiasi radioaktif ini ke tanaman induk akan
menyebabkan ionisasi pada berbagai sel tumbuhan. Ionisasi inilah yang menyebabkan
turunan akan mempunyai sifat yang berbeda dari induknya. Kekuatan radiasi yang digunakan
diatur sedemikian rupa hingga diperoleh sifat yang lebih unggul dari induknya.

5. Pemupukan Tanaman

Radioisotop fosfor dapat dipakai untuk mempelajari pemakaian pupuk oleh tanaman. Ada
jenis tanaman yang mengambil fosfor sebagian dari tanah dan sebagian dari pupuk.
Berdasarkan hal inilah digunakan fosfor radioaktif untuk mengetahui pola penyebaran pupuk
dan efesiensi pengambilan fosfor dari pupuk oleh tanaman. Radioisotop yang digunakan
sebagai perunut dalam penelitian efisiensi pemupukan tanaman
adalah fosfor-32 (32P). Teknik perunut dengan radioisotop akan memberikan cara
pemupukan yang tepat dan hemat.

Teknik radiasi juga dapat digunakan untuk memberantas hama dengan menjadikan serangga
mandul.

6. Untuk mencegah timbulnya penyakit pada Tumbuhan

Penyakit tumbuhan yang disebabkan jamur merupakan masalah pertanian yang utama. Upaya
mengatasinya adalah pengontrolan penyakit itu secara kimiawi Penelusuran dengan
radioisotop, misalnya dengan sulfur-35, dimungkinkan untuk mengukur pertumbuhan
kimiawi dalam spora-spora tunggal dan mengikuti zat kimia sekujur tanaman. Orang bisa
mempelajari siklus kehidupan mikroorganisme dan memahami bagaimana suhu dan
kelembaban mempengaruhi siklus itu.

Orang juga biasa menemukan perubahan kimiawi dalam sel tanaman yang membuat tanaman
itu mudah diserang jamur. Penelusuran radioisotope dapat menentukan serangga predator
yang senang memangsa serangga hama pemakan tanaman. Hama dibuat radioaktif, dan
jejaknya ditemukan dengan detector di dalam serangga predator.
DAFTAR PUSTAKA

Allingger, Norman.1993. Organic Chemistry. New york: Gracindo

Anwar, budiman. 2005. 1700 Bank Soal Bimbingan dan Pemantapan Kimia. Bandung :
Yrama Widya.

Badan Tenaga Atom Nasional. 1998. Pengembangan dan Penelitian Aplikasi Isotop Dan
Radiasi. Jakarta: Jumatom

Gabriel, J.F, 1979. Fisika Kedokteran. New york: Udayana

Jalil, A.A. Abdul. Zat Radioaktif Dan Penggunaan Radioisotop Bagi Kesehatan. Sumatra
Utara: Usu

Prawestiana, Vera. 2006. Penggunaan Radioisotop dalam Kehidupan. Jakarta : UI Press

Retug dan Ngadiran Kartowasono. 2005. Radiokimia. Singaraja: Jurusan Pendidikan Kimia,
Fakultas MIPA, IKIP Negeri Singaraja.

Susilowati, Endang. 2009. Theory and Application of Chemistry 3. Jakarta: PT Tiga


Serangkai Pustaka Mandiri.