Anda di halaman 1dari 4

Kemoderatan Syiah Zaidiyah: Antara

Persepsi Universal dan Partikular


Written 3 months ago | 19 Views

Pendahuluan

Islam terbagi ke dalam beberapa firqah atau mazhab. Secara garis besar, terdapat dua mazhab
besar dalam Islam, yaitu Sunni dan Syiah. Dua aliran atau mazhab ini seringkali
menimbulkan konflik. Terutama di Indonesia, seringkali pihak Sunni sebagai mayoritas
mendiskriminasi pihak Syiah.

Hal yang paling terkenal adalah pengusiran warga Syiah Sampang dari Madura pada tahun
2012 dan larangan perayaan Hari Asyura di Bogor pada tahun 2015. Akan tetapi, di balik
konflik yang panas antara Sunni dan Syiah, seringkali pihak Sunni mengklaim bahwa
seharusnya pihak Syiah itu semua alirannya bisa semoderat salah satu aliran mereka, yaitu
Zaidiyah.

Lantas, apakah benar ada yang namanya Syiah moderat? Bila ada, apa sebenarnya yang
dimaksud dengan moderat dalam dunia Sunni dan Syiah terkait konflik antara keduanya?

Secara Singkat Mengenai Sunni dan Syiah

Sunni seringkali disinonimkan oleh aliran Asy'ariah dan Maturidiyah. Setidaknya demikian
menurut banyak ahli terutama pakar tafsir Indonesia, M. Quraish Shihab (57-9). Aliran ini
seringkali dibentrokkan dengan Syiah. Mengapa demikian? Dalam ajaran Syiah, ada yang
namanya konsep imamah.

Dalam konsep tersebut, bagi pihak Syiah, yang pantas menjadi khalifah Nabi Muhammad
adalah dari pihak Ahlul Bait. Akan tetapi, Ahlul Bait dalam pandangan Syiah adalah mereka
yang berasal dari garis keturunan Imam 'Ali bin Abu Thalib a.s. dan Sayyidah Fathimah Az-
Zahra a.s.

Bagi Sunni, yang berhak menjadi khalifah adalah mereka yang pantas dan kepantasan itu
sesuai dengan konsensus umat atau dikenal dengan istilah baiat atau bay'ah.

Oleh karena Syiah hanya mengakui Imam 'Ali sebagai khalifah yang sah, maka dari itu Syiah
ds;aoolf 0t86ta[ss

Ds z;3htidak mengakui tiga khalifah awal, yaitu Abu Bakr bin Abu Quhafah, Umar bin
Khatthab, dan Utsman bin 'Affan. Walaupun demikian, di dalam Syiah pun pada akhirnya
terbagi lagi menjadi beberapa firqah atau aliran atau mazhab.
Mengenai Aliran dalam Syiah

Secara garis besar, Syiah dapat dibagi menjadi ke dalam empat aliran: (1) Imamiyah atau
Ja'fariyah, (2) Zaidiyah, (3) Ismailiyah, dan (4) Ghulat.

(1) Imamiyah atau Ja'fariyah

Aliran ini merupakan aliran terbesar dalam Syiah. Mayoritas penganutnya berada di wilayah
Iran (Ibid. 83). Dalam ajaran ini, mereka percaya bahwa imam setelah Nabi Muhammad itu
ada 12 orang. Oleh karena itu aliran ini juga disebut dengan Syiah Itsna Asy'ariah atau Syiah
Dua Belas Imam. Mereka tidak mengakui tiga khalifah awal sebagai khalifah yang sah.

Akan tetapi mereka tetap mengakui jasa-jasa yang telah mereka capai seperti penetapan
Tahun baru Hijriyah oleh Umar, penyatuan mushaf oleh Utsman dan penumpasan
pemberontakan Riddah oleh Abu Bakr. Selain itu, mereka juga mengakui prestasi yang
dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz karena dia berusaha menyatukan Sunni dan Syiah dan
berusaha dalam mengumpulkan hadits-hadits Nabi baik itu dari redaksi Sunni maupun Syiah.

Aliran ini salah satu aliran yang percaya bahwa Imam Mahdi, imam ke-12 mereka saat ini
ada pada masa keghaiban dan yang menggantikan Imam Mahdi selama ghaib adalah
para naib-nya seperti Imam Khomeini (Musavi Khomeini) dan Ali Khamenei. Mengenai
fiqih, Imamiyah memilih fiqih Ja'fari sebagai landasan fiqihnya.

(2) Zaidiyah

Aliran Syiah ini juga biasa dikenal dengan Syiah Lima Imam. Syiah ini berbeda secara politik
terutama dengan Syiah Imamiyah. Menurut Zaidiyah, yang berhak menggantikan
Muhammad (al-Baqir) bin Ali (Zainal Abidin) bin Husain adalah Imam Zaid, bukan Imam
Ja'far al-Shadiq.

Kaum Zaidiyah juga sangat bersifat revolusioner. Bila Syiah Imamiyah cenderung berdamai
dengan istilah taqiyyah, Syiah Zaidiyah ingin melawan rezim otoriter, melanjutkan
perjuangan Imam Husain di Karbala. Mengenai teologi, Zaidiyah tidak mempercayai
keghaiban Imam Mahdi.

Bagi mereka, Imam Mahdi adalah seorang manusia yang akan lahir di kemudian hari namun
masih tetap pada garis keturunan Nabi Muhammad. Zaidiyah mengakui tiga khalifah awal
sebagai khalifah yang sah. Mengenai dasar fiqih, Zaidiyah pada masa setelah Imam Zaid
lebih cenderung mengikuti mazhab Hanafi.

(3) Ismailiyah

Ismailiyah juga biasa dikenal dengan sebutan Syiah Tujuh Imam. Awal perpecahan dengan
Imamiyah juga sama dengan Zaidiyah, yaitu masalah politik. Bagi mereka, imam ketujuh
bukanlah Imam Musa al-Kadzim, melainkan Imam Ismail.

Menurut Quraish Shihab, sebagian kelompok ini ada yang memiliki kepercayaan yang
menyimpang bahkan dari Islam itu sendiri (Ibid, 73). Sedangkan secara garis besar,
Ismailiyah hampir sama dengan Imamiyah.
(4) Ghulat

Kaum Ghulat bisa disebut juga dengan kaum ekstrem. Kaum ini dianggap telah menyimpang
dari Islam. Banyak dari kaum ini yang menyatakan mereka berasal dari Syiah namun sudah
menyimpang dari akidah Syiah itu sendiri.

Ada sebagian dari kaum ini yang mengakui bahwa Imam 'Ali adalah tuhan. Bahkan ada yang
menyatakan bahwa Imam 'Ali adalah nabi yang sebenarnya. Saat menyampaikan wahyu,
Jibril tidak bisa membedakan Imam 'Ali dengan Nabi Muhammad sehingga Jibril
menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad, bukan Imam 'Ali. Mengenai lebih lanjut
kaum ghulat, akan saya bahas pada artikel selanjutnya, insyaAllah.

Dari klasifikasi singkat mengenai mazhab dalam Syiah, ada Syiah yang dianggap sebagai
Syiah moderat, yaitu adalah Syiah Zaidiyah. Lantas, apakah benar Syiah Zaidiyah adalah
Syiah yang moderat?

Kemoderatan Syiah Zaidiyah

Menurut sebagian besar ulama Sunni, Zaidiyah adalah Syiah yang moderat. Akan tetapi, ada
kerancuan sedikit mengenai kata kemoderatan dalam menunjuk sifat dari Zaidiyah. Bagi
mereka, Zaidiyah dikatakan sebagai Syiah moderat karena memilki pandangan yang hampir
sama dengan Sunni.

Zaidiyah mengakui tiga khalifah awal, tidak mengakui keghaiban Imam Mahdi dan dalam hal
fiqih lebih memilih fiqih Hanafi. Namun apakah dengan demikian, lantas dapat dikatakan
sebagai Syiah Moderat?

Moderat adalah Masalah Perspektif atau Persepsi Sunni

Bila kita teliti lebih jauh, moderat itu sebenarnya hanya masalah persepsi Sunni. Sebagian
Sunni mengklaim bahwa ajaran Sunni adalah ajaran yang paling benar, sehingga menganggap
Syiah adalah sesat.

Ketika mereka dihadapi dengan Zaidiyah yang hampir sama dengan Sunni, kemudian mereka
menganggap Zaidiyah sebagai Syiah yang moderat. Padahal, bila kita teliti lebih jauh dan
dari sudut pandang universal, tidak ada yang namanya Syiah moderat.

Islam moderat mungkin ada seperti Syiah Imamiyah, Zaidiyah, sebagian besar Sunni, dan
sebagian Khawarij seperti Ibadiyah dan lain sebagainya. Akan tetapi, bila merujuk pada
Zaidiyah, Zaidiyah hanyalah Syiah yang dekat dengan Ahlulsunnah atau Sunni seperti yang
dikatakan oleh Quraish Shihab (82).

Namun itu bukan berarti Zaidiyah adalah Syiah yang moderat. Syiah Imamiyah juga dapat
dikatakan moderat karena pada dasarnya mereka mengimani taqiyyah. Sikap ini adalah sikap
moderat.

Demi terciptanya harmonisasi antara Sunni dan Syiah, maka Syiah yang merupakan minoritas
di suatu wilayah harus ber-taqiyyah. Selain taqiyyah, sikap terhadap tiga khalifah awal pun
dapat dikatakan sebagai moderat.
Walaupun mereka (Syiah Imamiyah) tidak mengakui tiga khalifah awal sebagai khalifah yang
sah, tapi Imamiyah mengakui jasa-jasa mereka karena telah membawa Islam ke sebuah
peradaban yang maju, "Satu hal yang istimewa pada masa kekhalifahan Umar ialah ketatnya
kontrol dan pengawasan terhadap para pejabat." (Nusrati, 254).

Itu menandakan bahwa tidak semua Syiah mencaci para sahabat terutama tiga khalifah awal.
Syiah Imamiyah hanya mengkritisi mereka, bukan mencaci (Tim Ahlulbait Indonesia, 115-
141).

Kesimpulan

Sudah kita lihat bahwa tidak ada yang namanya Syiah moderat, yang ada Islam moderat.
Kemoderatan dalam Syiah terjadi karena adanya sebuah persepsi yang sifatnya partikular,
bukan universal.

Sifat partukular itu karena sebagian Sunni menganggap bahwa ajaran Sunni yang paling
benar sehingga membuat ajaran Sunni sebagai patokan sentral suatu ajaran mazhab dalam
Islam.

Oleh karena Zaidiyah dekat dengan Sunni, maka Zaidiyah dicap sebagai moderat. Padahal,
bila dilihat dari persepsi universal, Syiah Imamiyah pun dapat dikategorikan sebagai Syiah
moderat karena berbagai sikap yang telah saya sebutkan di atas.

Daftar Pustaka
Nusrati, Ali Asgar. Sistem Politik Islam: Sebuah Pengantar terjemahan Musa Mouzawir.
Jakarta: Nur Al-Huda, 2015. Diterjemahkan dari Nizame Siyasi-e Islam, 2003
Shihab, M. Quraish. Sunnah-Syiah Bergandengan Tanga! Mungkinkah? (Edisi Revisi).
Tangerang: Lentera Hati, 2014
Tim Ahlulbait Indonesia. Syiah Menurut Syiah. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat
Ahlulbait Indonesia, 2014