Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

Batubara

Batubara adalah suatu materi heterogen yang terdiri dari komponen-


komponen : moisture, inorganik matter (zat anorganik) dan organik matter (zat
organik). Elemen-elemen zat organik disebut mineral, sedangkan elemen-elemen
zat organik disebut maceral. Ketiga komponen tersebut bercampurbaur dalam
jenis, jumlah, bentuk dan ukuran yang tidak merata serta berkaitan dalam ikatan
yang berbeda pula (ARBIE, 2001).

Sedangkan menurut ELLIOTT (1981), batubara adalah batuan sedimen


yang secara kimia dan fisika adalah heterogen yang mengandung unsur-unsur
karbon, hidrogen dan oksigen sebagai unsur utama dan belerang serta nitrogen
sebagai unsur tambahan. Zat lain yaitu senyawa anorganik pembentuk ash
tersebar sebagai partikel zat mineral yang terpisah-pisah di seluruh senyawa
batubara. Beberapa jenis batubara meleleh dan menjadi plastis apabila dipanaskan,
tetapi meninggalkan suatu residu yang disebut dengan kokas. Batubara dapat
dibakar untuk membangkitkan uap atau dikarbonisasikan untuk membuat bahan
bakar cair atau dihidrogenasikan untuk membuat metan. Gas sintetis atau bahan
bakar berupa gas dapat diproduksi sebagai produk utama dengan jalan gasifikasi
sempurna dari batubara dengan oksigen dan uap atau udara dan uap.

Moisture

Pada dasarnya, air yang terdapat di dalam batubara maupun yang terurai
dari batubara apabila dipanaskan sampai kondisi tertentu terbagi dalam bentuk-
bentuk yang menggambarkan ikatan serta asal mula air tersebut dalam batubara.
Moisture pada batubara bukan seluruh air yang terdapat di dalam pori-pori
batubara dan yang terbentuk dari penguraian batubara selama pemanasan.
Moisture batubara adalah air yang menguap dari batubara apabila dipanaskan

3
sampai pada suhu 105-110C (ARBIE, 2001). Berdasarkan pengertian diatas serta
melihat kembali kepada bentuk-bentuk air yang terdapat di dalam batubara, maka
hanya air dalam bentuk inherent dan bentuk adherent saja yang dapat
dikategorikan sebagai moisture batubara, sedangkan dua bentuk lainnya yaitu air
kristal mineral dan air hasil penguraian zat organik karena oksidasi tidak termasuk
sebagai air batubara.

Inherent moisture adalah moisture yang dianggap terdapat di dalam


rongga-rongga kapiler dan pori-pori batubara yang relatif kecil pada kedalaman
aslinya yang secara teori dinyatakan bahwa kondisi tersebut adalah kondisi
dengan tingkat kelembapan 100% serta suhu 30C. Banyaknya jumlah inherent
moisture dalam suatu batubara dapat dipergunakan sebagai tolak ukur tinggi
rendahnya tingkat rank batubara tersebut. Semakin tinggi nilai inherent moisture
suatu batubara maka semakin rendah tingkat rank batubara tersebut.

Adherent moisture adalah moisture yang dianggap terdapat pada


permukaan batubara dan pori-pori batubara yang relatif besar. Nilai adherent
moisture diperoleh dari pengurangan nilai total moisture oleh nilai inherent
moisture. Keberadaan adherent moisture pada batubara dimungkinkan terjasi
dalam beberapa situasi, antara lain : bercampurnya air tanah dengan batubara pada
waktu ditambang maupun pada kondisi asalnya di dalam tanah, taburan air hujan
pada tumpukan batubara, sisa-sisa air yang tertinggal pada permukaan batubara
setelah proses pencucian, dan air yang disemprotkan untuk mengurangi debu pada
tumpukan batubara. Keberadaan adherent moisture ini dapat dikurangi jumlahnya
dengan proses-proses penirisan (drainage), centrifuge, pengeringan di udara
terbuka dan pengeringan dengan pemanasan (ARBIE, 2001).

Zat Anorganik

Elemen dari zat anorganik disebut dengan mineral atau disebut juga
dengan mineral matter. Batubara tidak mengandung abu tetapi mengandung
mineral. Abu hanya residu sisa pembakaran batubara. Pada umumnya kadar

4
mineral matter diperoleh melalui perhitungan. Banyak formula yang dapat
dipergunakan untuk menghitung kandungan mineral matter, Parr formula adalah
salah satunya.

MM = 1.08A + 0.55S

MM = mineral matter (%)

A = ash (%)

S = sulphur (%)

Mineral yang terdapat di dalam batubara terbagi dalam dua bentuk yaitu inherent
mineral dan extraneous mineral.

Inherent mineral adalah material yang terdapat di dalam batubara dalam


bentuk partikel halus yang tersebar keseluruh bagian batubara. Pada dasarnya
sebagian material ini adalah unsur-unsur anorganik yang berasal dari tanaman
yang membentuk batubara tersebut dan sebagian lainnya berasal dari material
sampingan yang terbawa ke dalam batubara selama terjadinya proses
pembentukan batubara. Oleh karena itu, jumlah serta sifat mineral dalam batubara
bisa berbeda dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Berdasarkan bentuk ikatan
mineral ini dengan batubara maka hampir dapat dipastikan bahwa mineral ini
tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan cara mekanis (pencucian).
Extraneous mineral adalah zat-zat mineral yang berasal dari lapisan floor, roof
serta dirt band yang terbawa ke dalam batubara pada saat berlangsungnya proses
penambangan. Terkadang mineral ini disebut juga sebagai free stone.

Pada umumnya tingkat banyaknya kandungan mineral pada batubara


bervariasi mengikuti ukuran partikelnya dimana partikel yang lebih halus akan
mempunyai kandungan mineral yang lebih tinggi sehingga proses liberasi dengan
penggilingan ke ukuran yang lebih kecil dapat dimanfaatkan. Tingkat banyaknya
kandungan mineral dalam batubara diperlukan sesuai dengan kegunaan batubara
tersebut. Dilihat dari segi ekonomi, kuantitas kandungan abu merupakan faktor
yang sama pentingnya dengan kualitas serta sifat abu suatu batubara. Akan tetapi

5
konsistensi kualitas batubara (% abu) pada pengiriman-pengiriman batubara
berikutnya merupakan faktor yang jauh lebih penting (ARBIE, 2001).

Zat Organik

Zat organik (organic matter) adalah satu-satunya komponen batubara yang


menghasilkan kalori pada proses pembakaran. Penguraian komponen batubara
dapat dilihat dari dua sisi berbeda. Pertama dilihat dari sisi bagian dan jenis
tanaman awal yang membentuknya sedangkan sisi yang kedua dilihat dari unsur-
unsur yang membentuknya. Dilihat dari sisi pertama yaitu bagian dan jenis
tanaman awal yang membentuknya, komponen batubara ini diuraikan menjadi
beberapa elemen yang disebut dengan maceral.

Tabel 1. Mean Maceral Group

Maceral group Maceral Bagian/jenis tanaman


Vitrinite Collinite
Telinite Wood and cortical tissues
Exinite Sporinite Spore exines
Resinite Resine and waxes
Cutinite Leaf cuticles
Alginite Algae
Inertinite Fusinite Wood and corticle tissues
Semi fusinite Wood and corticle tissues
Micrinite Uncertain
Seleronite Resin of fungae

Jika dilihat dari sisi kedua yaitu unsur-unsur yang membentuknya,


komponen batubara ini terdiri dari unsur-unsur karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur,
oksigen serta terdapat juga sedikit unsur zat organik bawaan seperti natrium,
kalium, dsb yang terikat sebagian dari zat organik. Menurut ARBIE (2001),
walaupun zat organik batubara merupakan satu-satunya komponen yang

6
menghasilkan kalori, namun di dalamnya terdapat beberapa unsur yang dianggap
pengotor karena pada proses pembakaran unsur ini dapat menimbulkan polusi.
Unsur-unsur tersebut antara lain nitrogen dan sulfur. Dalam proses pembakaran,
nitrogen akan membentuk gas NOX sedangkan sulfur akan membentuk SO2. Sulfur
yang ada dalam zat organik ini disebut dengan organic sulphur dan merupakan
bagian dari sulfur total batubara. Sulfur dalam bentuk ini tidak bisa dipisahkan
atau dibersihkan dengan proses mekanis, tapi ada kemungkinan masih bisa
dipisahkan dengan proses kimia namun biayanya mahal.

Klasifikasi Batubara

Batubara bukan hanya merupakan material yang heterogen tetapi juga


merupakan material yang jenisnya beragam. Jenis batubara dapat dilihat dari
umurnya (rank), kandungan mineralnya (grade), elemen tanaman pembentuk
batubara (type) dan kegunaan batubara tersebut. Menurut ARBIE (2001), banyak
para ahli mencoba untuk mengelompokkan jenis batubara tersebut berdasarkan
parameter tersebut di atas tetapi yang paling banyak dipergunakan orang ialah
berdasarkan umurnya (rank).

Tabel 2. Klasifikasi Batubara

Peat (gambut) Sebagian para ahli mengatakan bahwa (peat) bukan


batubara karena masih mengandung selulosa bebas tetapi
sebagian lagi menyatakan bahwa peat adalah batubara
muda.
Carbon = 60-64% (dmmf); Oxygen = 30% (dmmf)
Lignite Carbon = 64-75% (dmmf); Oxygen = 20-25% (dmmf)
Sub-bituminous Carbon = 75-83% (dmmf); Oxygen = 10-20% (dmmf)
Bituminous Carbon = 83-90% (dmmf); Oxygen = 5-15% (dmmf)
Semi-anthracite Carbon = 90-93% (dmmf); Oxygen = 2-4% (dmmf)
Anthracite Carbon > 93%

Di bawah ini adalah klasifikasi yang banyak dipergunakan orang.

7
1. ASTM Classification
Sistem klasifikasi ini mempergunakan volatile matter, fixed carbon
dan calorific value sebagai patokan. Untuk anthracite, fixed carbon
merupakan patokan utama sedangkan volatile matter sebagai patokan
kedua. Bituminous mempergunakan volatile matter sebagai patokan
utama dan calorific value sebagai patokan kedua. Lignite
menggunakan calorific value sebagai patokan.
2. Ralstons Classification
Ralstons mempergunakan hasil analisis ultimate yang sudah
dinormalisasi (C + H + O = 100). Ditampilkan dalam bentuk triaxial
plot. Band yang terdapat pada triaxial plot tersebut adalah area dimana
batubara berada.
3. Seylers Classification
Sistem klasifikasi ini mempergunakan %carbon dan %hydrogen
sebagai dasar utama. Klasifikasi ini ditampilkan dalam bentuk
beberapa grafik kecil yang bertumpuk pada grafik utama. Di tengah
grafik tersebut terdapat band yang menggambarkan area dimana 95%
batubara akan berada serta menunjukkan jenisnya.
4. ECE Classification
ECE membuat sistem klasifikasi yang dapat dipergunakan secara luas
pada tahun 1965 yang kemudian menjadi standar internasional. Sistem
ini mengelompokkan batubara dalam class, group dan sub-group. Coal
class mempergunakan calorific value atau volatile matter sebagai
patokan. Coal group mempergunakan Gray-King coke type atau
maximum dilatation pada Audibert-Arnu dilatometer test sebagai
patokan sedangkan coal sub-group mempergunakan crucible swelling
number dan Roga test sebagai patokan. Sistem ini mampu
menunjukkan coal rank dan potensi penggunaannya terutama coal
group dan coal sub-group yang menjelaskan perilaku batubara jika
dipanaskan secara perlahan maupun secara cepat sehingga dapat
memberikan gambaran kemungkinan penggunaannya. Pada tahun 1988
sistem ini dirubah dengan lebih menekankan pada pengukuran
pertrographic. Sistem ini menjadi tidak dapat diterima secara luas
karena tidak semua laboratorium mampu melakukan pengukuran
petrographic.

8
5. International Classification of Lignites
ISO 2960 : 1974 Brown Coal and Lignites. Classification by Type on
the Basis of Total Moisture Content and Tar Yield, mengelompokkan
batubara yang mempunyai heating value (moist, ash free) lebih kecil
dari 5700 cal/g. Batubara dikelompokkan dalam coal class dengan
patokan total moisture dan coal group dengan patokan tar yield. Tar
yield diukur dengan Gray-King Assay dimana batubara didestilasi dan
hasilnya berupa gas, air, cairan, tar dan char dilaporkan dalam persen.
Tar yield mempunyai korelasi dengan hydrogen dan pengukuran ini
cukup baik sebagai indikator komposisi petrographic.

Analisis Proksimat

Analisis proksimat batubara bertujuan untuk menentukan kadar Moisture


(air dalam batubara) kadar moisture ini mengcakup pula nilai free moisture serta
total moisture, ash (debu), volatile matters (zat terbang), dan fixed carbon (karbon
tertambat).
Moisture ialah kandungan air yang terdapat dalam batubara sedangkan abu
(ash) merupakan kandungan residu non-combustible yang umumnya terdiri dari
senyawa-senyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO), karbonat, dan
mineral-mineral lainnya, Volatile matters adalah kandungan batubara yang
terbebaskan pada temperatur tinggi tanpa keberadaan oksigen (misalnya C xHy, H2,
SOx, dan sebagainya). Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam
batubara setelah volatile matters dipisahkan dari batubara. Kadar fixed carbon ini
berbeda dengan kadar karbon (C) hasil analisis ultimat karena sebagian karbon
berikatan membentuk senyawa hidrokarbon volatil.

Moisture Content

Hasil analisis untuk kelembaban terbagi menjadi free moisture (FM) dan
inherent moisture (IM). Adapun jumlah dari keduanya disebut dengan total
moisture (TM). Kadar kelembaban mempengaruhi jumlah pemakaian udara
primernya. Batubara berkadar kelembaban tinggi akan membutuhkan udara
primer lebih banyak untuk mengeringkan batubara tersebut pada suhu yang

9
ditetapkan oleh output pulveriser. Batubara mempunyai sifat hidrofobik yaitu
ketika batubara dikeringkan, maka batubara tersebut sulit menyerap air, sehingga
tidak akan menambah jumlah air internal.

Volatile Matter

Kandungan zat terbang sangat erat kaitannya dengan kelas batubara


tersebut, makin tinggi kandungan zat terbang makin rendah kelasnya. Sifat kimia
dari abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar dan
tekhnik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan
subbituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida
lebih banyak daripada bituminous. Namun memiliki kandungan silica (SiO 2),
alumina (Al2O3) dan karbon yang lebih sedikit daripada bituminous. Kandungan
karbon dalam abu terbang diukur dengan menggunakan Loss On Ignition Method
(LOI). Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk
bola padat atau berongga.
Kandungan VM mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas
api. Penilaian tersebut didasarkan pada ratio atau perbandingan antara kandungan
karbon (fixed carbon) dengan zat terbang, yang disebut dengan ratio bahan baker
(fuel ratio).
Semakin tinggi nilai fuel ratio maka jumlah karbon didalam batubara yang
tidak terbakar juga semakin banyak. Jika perbandingan tersebut nilainya lebih dari
1.2, maka pengapian akan kurang bagus sehingga mengakibatkan kecepatan
pembakaran menurun.
Ash Content

Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari unsur organik dan


senyawa anorganik, yang merupakan hasil rombakan batuan yang ada
disekitarnya, bercampur selama proses transportasi, sedimentasi dan proses
pembatubaraan. Abu hasil dari pembakaran batubara ini, yang dikenal sebagai ash
content. Abu ini merupakan kumpulan dari bahan-bahan pembentuk batubara
yang tidak dapat terbakar atau yang dioksidasi oleh oksigen. Bahan sisa dalam

10
bentuk padatan ini antara lain senyawa SiO 2, Al2O3, TiO3, Mn3O4, CaO, Fe2O3,
MgO, K2O, N2O, P2O, SO3, dan oksida unsure lain.
Selain kualitas yang akan mempengaruhi penanganannya, baik sebagai fly
ash maupun bottom ash tetapi juga komposisinya yang akan mempengaruhi
pemanfaatannya dan juga titik leleh yang dapat menimbulkan fouling pada pipa-
pipa. Dalam hal ini kandungan Na2O dalam abu akan sangat mempengaruhi titik
leleh abu. Abu ini dapat dihasilkan dari pengotor bawaan (Inherent impurities)
maupun pengotor sebagai hasil penambangannya.
Kandungan abu ini akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang
bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang (fly ash) yang jumlahnya
mencapai 80 % dan abu dasar sebanyak 20 %. Semakin tinggi kadar abu, secara
umum akan mempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan, dan korosi
peralatan yang dilalui.
Fixed Carbon

Nilai kadar karbon diperoleh melalui pengurangan angka 100 dengan


jumlah air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat terbang. Nilai ini semakin
bertambah seiring dengan tingkat pembatubaraan. Kadar karbon dan jumlah zat
terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu
berupa nilai fuel ratio sebagaimana dijelaskan diatas.

Analisis Total Sulfur

Didalam batubara, sulfur merupakan bagian dan material carbonaceous


atau bagian dari mineral sulfat dan sulfida. Dengan sifatnya yang mudah
bersenyawa dengan unsur hydrogen dan oksigen dan membentuk senyawa
asam,maka keberadaan sulfur diharapkan seminimal mungkin. Karena sifat
tersebut merupakan pemicu polusi, maka beberapa Negara pengguna batubara

11
menerapkan batas kandungan 1% maksimum untukk batubara yang dimanfaatkan
keperluan industri.
Sulfur dalam batubara terdapat dalam 3 bentuk, yaitu pyritic sulphur,
sulphate sulphur, dan organic sulphur. Sulfur dalam bentuk pirit dan sulfat
merupakan bagian dari mineral matter yang terdapat dalam batubara yang
jumlahnya masih dapat dikurangi dengan teknik pencucian, sedangkan organic
sulfur terdapat pada seluruh material carbonaceous dalam batubara, dan
jumlahnya tak dapat dikurangi dengan teknik pencucian.
Terdapatnya sulfur dalam batubara sering dipergunakan sebagai petunjuk
batubara telah mengalami oksidasi, sedangkan pirit sulfur dianggap sebagai salah
satu penyebab timbulnya spontaneous combustion (pembakaran spontan).

Analisis Calorific Value

Analisa Calorific Value (CV) yaitu pengukuran nilai kalori suatu


sampel per satuan massanya, yang dilakukan melalui proses
pembakaran dengan alat Bomb Calorimeter. Kalorimeter bom adalah
alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor (nilai kalori) yang
dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O 2 berlebih) suatu
senyawa, bahan makanan, bahan bakar. Sejumlah sampel ditempatkan
pada tabung beroksigen yang tercelup dalam medium penyerap kalor
(kalorimeter), dan sampel akan terbakar oleh api listrik dari kawat
logam terpasang dalam tabung. Analisa ini menggunakan alat bomb
calorimeter

Bomb Calorimeter

Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang
terlibat dalam suatu perubahan atau reaksi kimia. Kalorimeter bom adalah alat
yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor (nilai kalori) yang dibebaskan pada
pembakaran sempurna (dalam O2 berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, bahan
bakar. Sejumlah sampel ditempatkan pada tabung beroksigen yang tercelup dalam
medium penyerap kalor (kalorimeter), dan sampel akan terbakar oleh api listrik
dari kawat logam terpasang dalam tabung.

12