Anda di halaman 1dari 65

1

Nama : Heri Sutantopm : 0615041044Tugas : SP Fisika Dasar II

CONTOH SOAL

FISIKA DASAR II

Contoh 1.1

Muatan titik q1 dan q2 terletak pada bidang XOY dengan koordinat berturut turut (x1, y1) dan
(x2, y2).

a). Tentukan gaya pada muatan q1 oleh muatan q2

b). Tentukan gaya pada muatan q2 oleh muatan q1



F 21
F 21

q1 q2

F12


r1 r 12


r2

Gambar1.3 Posisi muatan dan gaya gaya dalam notasi vektor

Penyelesaian :

Gaya pada muatan q1 dan q2 :

1 q 1.q 2

F 12 = r^ 12
4 0 r 212

r12 = = (x1 x2 ) + (y1 y2 ) ^


r1 r2 i^ j

r 12 = = [(x1 x2 )2 + (y1 y2 )2 ^ ]
|
r 12| i^ j

^ y 1 y 2) ^j
( x 1x 2) i+(
r 12
r^ 12 = = 1
|r12| [ ( x x ) +( y y ) ]
1 2
2
1 2
2 2

( x 1x 2) i^ +( y 1 y 2) ^j
= q 1.q 2
= 3
4 0
[ ( x 1x 2 )2 + ( y 1 y 2 )2 ] 2

Gaya pada muatan q2 oleh muatan q1 :

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


2

1 q 1.q 2

F 21 = r 21
4 0 r 221

r12 = = (x2 x1 ) + (y2 y1) ^


r2 r1 i^ j

r 21 = = [(x2 x1 )2 + (y2 y1 )2 ^ ]
|
r 21| i^ j

^ y 2 y 1) ^j
( x 2x 1) i+(
r 21
r^ 21 = = 1
|r21| [ ( x 2x 1 )2 +( y 2 y 1 )2 ] 2
^ y 2 y 1) ^j
( x 2x 1) i+(
q 1.q 2
F21 =
= 3
4 0
[ ( x 2x 1 ) +( y 2 y 1 )
2 2 2
]

Contoh 1.2

Tiga muatan listrik terletak pada bidang XOY seperti pada gambar.diketahui q1 = q3 = 5C

q2 = -2 C dan a = 0,1 m. hitunglah besar dan arah gaya pada muatan q3

F31 = gaya pada muatan q3 oleh muatan q1

F32 = gaya pada muatan q3 oleh muatan q2

F3 = gaya resultan pada muatan q3


Gambar. Gaya pada q3 oleh q1 dan q2

Penyelesaian :
Dari gambar dapat ditentukan :

Penyelesaian

r1 0
r2
=a ^j
r3
=a i^ + a ^j

Sehingga :

r 31 =
r3 r1
dan r 32
=
r3 r2

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


3

= a i^ + a ^j = a i^
r 31 = |
r 31| = a 2 r
32 = |r 32| = a

r 31
r 32

1
r 31
= = ( i^ + ^j ) r 32
= = i^
|r |

31
2 |r |

32

a = 0,1 m

1 q 3. q 2

F31 = r 31
4 0 r 231

2
( 5.106 C ) ( 5.106 C )
= ( 9.10 9
Nm
C
2 ) (a 2) 2
1
2
( i^ + ^j )

11,25
= ( i^ + ^j )N
2

1 q 3. q 2

F32 = r 32
4 0 r 232

2
= ( 9.10 9
Nm
C
2 ) ( 5.106 C ) (2.106 C )
a 2
1
2
i^

= -9,0 i^ N

Gaya Listrik total pada q3 oleh q1 dan q2 :



F3 =
F31 +
F32

11,25
= ( 11,25
2
9,0 ) i^ +
2
i^

= (1,05 i^ +7,95 ^j ) N

Besar gaya q3 adalah :

F3 = |
F 3| = (1,05 ) +( 7,95 ) 2 2

= 8,0 N

Arah gaya
F3 :

7,95
= arc tg
1,05

= 97,5240 terhadap sumbu x positif

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


4

Contoh 1.3

Muatan q terletak pada bidang XOY dengan koordinat (x1, y1). Tentukan kuat medan listrik di titik
P yang koordinatnya (xp, yp).

Penyelesaian :

Kuat medan di titik P oleh muatan titik q :

1 q

E (P) = r^
4 0 r 2

= = (xp x1 ) + (yp y1) ^


r^ rp
r1 i^ j

r 21 = = [(x2 x1 ) + (y2 y1 ) ^ ]
|
r 21| i^ j

^ yp y 1) ^j
( xpx 1) i+(
r
r 21 = = 1
|r| [ ( x x ) +( y y ) ]
2 2 2
p 1 p 1

^ yp y 1) ^j
( xpx 1) i+(
q
E (P) =
= 3
4 0
[ ( x px 1 )2 +( y p y 1 )2 ] 2

Contoh 1.4

Muatan q1 = 7 C diletakkan pada koordinat, dan muatan q2 = 5 C terletak pada sumbu


x positif berjarak 0,3 m dari pusat koordinat.
a). Tentukan besar dan arah kuat medan listrik di titik P
b). Tentukan gaya yang dialami oleh muatan sebesar 2.10-3 jika diletakkan di titik P

E1(p) = kuat medan dititik P oleh muatan q1

E2 (p) = kuat medan dititik P oleh muatan q2

E (p) = kuat medan resultan dititik P

Penyelesaian:
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
5

r 1 = 0,4
a). ^j m

r2

r1 =
|
r 1| = 0,4 m dan r^1 = = ^j
|r |

r 2 = (3 i+
^ 4 ^j ) m

r2

1
r2 = r 2| = 0,5 m dan r^2 =
| =
|r |

5
2

Kuat medan di titik P oleh muatan q1 :

1 q1

E 1(p) r^
4 0 r1
2

0,4 m 2

= (9 x 109 Nm2/C2)
7. 106 C

N
= 3,9. 105 J^
C

Kuat medan ditik P oleh muatan q2

1 q1

E 2(p) r^ 2
4 0 r 12

0,4 m 2
= (9 x 109 Nm2/C2) (-3/5 i^ + 4/5 ^j )
5. 106 C

N
= (1,1 i^ - 1,4 ^j ) . 105 J^
C

Kuat medan ditik P oleh muatan q1 dan q2 adalah



E (p) =
E 1 (p) +
E 2(p)

N
= (1,1 i^ - 1,4 ^j ) . 105 J^
C

E (p) = |
E (p) |

= (1,1 .105 )2 +(2,5 . 105 )2


N
= 2,7 . 105
C
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
6
5
2,5 . 10
Arah = arc tg
1.1 . 105

= 60o terhadap sumbu x positif

Contoh 1.5

Suatu batang yang panjangnya L mempunyai rapat muatan linear

a). Buktikan bahwa kuat medan di titik P


d
E (P) sin ^j
2 0a

b). Hitung kuat medan listrik di titik P jika diketahui :

a = 2 cm

L = 3 cm

Q = 10-10 C (muatan total batang)

E(p)

++++++++++
A L B

Penyelesaian :

~

E (P)
4 0a [ ( cos Bcos A ) i+ ( sin Bsin A ) ~j ]

Berdasarkan aturan perhitungan sudut B dan A, dapat ditentukan :

A, = 360O , sehingga cos A = cos ( 360 )

= cos
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
7

sin A = sin ( 360 )

= sin

1= B=
Dan , sehingga cos
cos
sin B = sin

Substitusikan harga harga tersebut ke dalam persamaan


E (P) , maka diperoleh

~ ~

E (P)
4 0a [ ( cos B cos A ) i+ ( sin B +sin A ) j ]


= sin ^j
2 0a

b . dari gambar dapat dihitung :

1 1
L
2 2L 3.102 3
sin = = = =


2
1 10 4 4.22+32 5
a 2+ ( 21L ) 2
4 a 2 + L2

q 1010 C
= =
L 3.102 m

Sehingga,

[ ][ ]
10 9 2 2
10 C 18.10 Nm /C 3 ^
E (P) = j
3.10 m 5
2 2
2.10 m

1800 ^j N /C

contoh 1.6

Sebuah partikel bermuatan q dan bermassa m berada dalam listrik serba sama-besar dan arahnya
sama di setiap titik (uniform)-E dengan arah sumbu x positif. Jika pada saat awal partikel tersebut
dalam keadaan diam pada x = 0, tentukan persamaan gerak dan energi kinetik partikel pada saat
melintas sejauh x.

Penyelesaian:

Percepatan partikel konstanta yaitu a = Qe/m sehingga partikel merupakan gerak lurus berubah
beraturan dalam arah sumbu x (tanda vektor dihilangkan karena geraknya dalam 1 dimensi).
Dengan demikian maka :

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


8

V = a.t
qE
= m t

X = at2
qE
= 2 m t2

dari kedua persamaan tersebut diperoleh :

2 qE
v2= x
m

sehingga energi partikel :

EK = mv2

=qEx

contoh 1.7

Sebuah elektron memasuki daerah yang dipengaruhi medan listrik serba sama seperti pada gambar
1.11

Vo
x
y
+++++++++++++++++ v

dengan vo=3 x106 m/s, E =200 N/C dan l= 0,1 m. Hitunglah :

a. Percepatan elektron dalam medan listrik


b. Waktu yang diperlukan untuk melintasi plat tersebut
c. Perpindahan vertikal elektron ( y ) dalam medan listrik
d. Kecepatan elektron pada saat meninggalkan medan listrik

Penyelesaian :

a. Menurut persamaan ( 1.12 ) percepatan elektron :

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


9
19
1,6 .10 C
eE ~
a = j = N ^j
m (200 )
C 9,11 .1031 kg

= -3,51 .1013 ^j m/s2

b. Komponen gerak elektron dalam arah mendatar merupakan gerak lurus beraturan,
sehingga :

1 1 0,1 m
t = = = 3,33 .108 s
v0 Vo 3.10 6 m/ s

c. Perpindahan vertikal :

1 2 1 3,33 .10 s
8
y = at = ( 13 2 )2
2 2 3,51.10 m/ s

= -1,95 cm

d. Kecepatan elektron pada saat meninggalkan medan listrik :


2
1
(
vy =a . t= 3.51.1013
2
m (
s
3,33 .108 s ) )
1,17 .106 m/s

Contoh 1.8

Suatu ruang berbentuk bola dengan jari-jari a mempunyai rapat muatan ruang serba sama dengan
muatan total Q. Tentukan :

a) Kuat medan listrik di luar bola ( r > a )


b) Kuat medan listrik di dalam bola ( r < a )

Penyelesaian :

a) Distribusi muatan mempunyai simetri bola maka kuat medan listrik yang dihasilkannya
juga mempunyai simetri bola ( mempunyai fungsi r sja, dalam arah radial ). Dibuat
permukaan Gauss berjari-jari r > a yang sepusat dengan bola, maka :


qin
E .
dA=

A 0


Q
E r^ .dA r^ =
A 0

2 Q
E4 r =
0

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


10

Q
E=
4 0 r 2

Q
sehingga
E= 2
r^ untuk r >a
4 0 r

Dari hasil perhitungan E tersebut dapat disimpulkan bahwa kuat medan listrik di luar bola
yang dihasilkan oleh muatan terdistribusi merata dalam bola ekuivalendengan kuat medan
listrik yang dihasilkan oleh muatan listrik sebesar muatan bola yang diletakkan di pusat
bola.

b) Dibuat permukaan Gauss berupa bola berjari-jari r < a yang sepusat dengan bola, maka :

qin
E .
dA=

A 0

Q
rapat muatan ruang bola= sehingga,
4 3
a
3

qin= dV

Q
4 3
dV
a 0
3

Dengan demikian

Q
E .
4 3
dA= dV
a 0
3

Q
4 3
r^ . dA r^ = dV
a 0
3

E
A

Q 4 3
E 4 r 2= r
4 3 3
a 0
3

Qr
E= 3
untuk r < a
4 a 0

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


11

Hasil perhitungan E di dalam bola menujukan bahwa E - > untukr ->0 . grafik yang
menggambarkan E sebagai fungsi dari r untuk seluruh ruang, baik didalam maupun diluar bola,

contoh 1.9

Tentukan kuat medan listrik yang dihasilkan oleh muatan terdistribusi merata pada suatu bidang
datar tak terhingga luas dengan rapat muatan permukaan.

Penyelesaian :

Simetri distribusi muatan memberikan kesimpulan bahwa kuat medan listrik E pasti tegak lurus
bidang dan arah E dikedua sisi permukaan bidang berlawanan ( ingat sifat garis gaya ).

Untuk menghitung besar kuat medan listrik yang dihasilkan oleh muatan yang terdistribusi pada
bidang tersebut buatlah permukaan Gauss berupa silinder dengan sumbu tegak lurus bidang dan
luas kedua tutupnya masing-masing A serta berjarak sama terhadap bidang tersebut ( lihat gambar
1.17 )

A
E
E


qin Permukaan gauss
E .
dA=

A 0

A
2 E r^ . dA r^ =
0

A
2 EA=
0


E=
0

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


12

Faktor 2 pada perhitungan diatas muncul karena silinder mempunyai 2 tutup , sedangkan
permukaan selimut silinder tidak memberi sumbangan pada perhitungan karena dA pada daerah
tersebut tegak lurus E sehingga E . Da

Contoh 1.10.

Suatu bola konduktor pejal berjari-jari a mempunyai muatan positif sebesar 2 Q, delingkapi oleh
kulit bola konduktor dengan jari-jari dalam b dan jari-jari c, konsentrasi dengan bola pertama dan
bemuatan Q (Gambar 1.20). dengan menggunakan Hukum Gauss, `tentukan kuat medan lisrik
dengan daerah:

(1) r<a
(2) a<r<c
(3) b<r<c
(4) r > c setara distribusi muatan pada kulit bola

-Q

R a

b
C

Gambar 1.20 konduktor berbentuk bola pejal jari-jari a dan bermuatan 2 Q dilingkupi oleh kulit
bola konduktor bermuatan Q

Penyelesaian:

Karma distribusi muatan pada kedua bola mempunyai simetri bola, maka permukaan Gauss dipilih
berbentuk bola yang konsentris dengan kedua bola tersebut pada daerah-daerah yang diminta.

(1) untuk r < a, qin = 0, sehingga E1 = 0


(2) untuk a < r < b, qin = 2Q, sehingga
E2 A = qin / 0

E2 (4r2) = 2Q / 0

E2 =1 2Q

40 r2

(3) untuk b < r < c ,E3 = 0, sebab kulit bola konduktor dalam kesetimbangan. Hal ini berarti
permukaan Gauss yang di buat pada daerah ini melingkupi muatan total yang besarnya =
0. Jadi, muatan pada permukaan dalam kulit bola konduktor besarnya -2Q, dengan
demikian muatan pada permukaan luar kulit bola konduktor besarnya +Q.
(4) unutk r > c makan qin = 2Q + (-Q) = Q]

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


13

Dengan menggunakan Hukum Gauss dapat diperoleh :

Contoh 2.1 :

Suatu muatan titik 5 C diletakkan di pusat koordinat, dan muatan titik kedua sebesar -2 C
diletakkan pada posisi (3,0) m (Gambar 2.4a). jika titik yang sangat jauh dipilih sebagai acuan nol
potensial listrik, hitunglah :

a) Potensial listrik total dititik P (4,0) m,


b) Kerja yang diperlukan untuk membawa muatan ketiga sebesar 4C dari tempat yang sangat
jauh ke titik P,
c) Energi potensial total sistem tiga muatan seperti pada Gambar 2.4b.

r1 r2

q1 q2

5C 2C

Gambar 2.4a Gambar 2.4b

Penyelesaian :

Potensial listrik total di P yang dihasilkan oleh dua muatan titik adalah :

a. V(P) =
1
4
+[
q q
r r ]
(
= 9.10
9 Nm
C 4m)[
5.10 C 2.10

5m ]
3
= 7,65.10 Volt

b. W = q3 . V(P)
= (4.10-6 C) (7,65.103 V)
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
14

= 3,06.10-2 J

c. U = [
1 q q q q q q
+
4 r r r r
+
]
= 9.10 [
( 5.10 ) (2.10 ) ( 5.10 ) ( 4.10 ) (2.10 ) ( 4.10 )
3
+
4
+
5 ]
= 6.10 J

Contoh 2.2 :
Tentukan potensial listrik di titik P yang terletak pada sumbu kawat lingkaran bermuatan serba
sama dengan muatan total Q dan jari-jari a. Dari hasil perhitungan yang diperoleh, tentukan pula
kuat medan listrik di titik P.
Penyelesaian :
Pilih sumbu kawat lingkaran sebagai sumbu X dengan pusat koordinat di pusat lingkaran, dan
misalkan titik P berjarak x dari pusat lingkaran seperti pada gambar 2.6.

dq

a x2 + a2

Gambar 2.6

Setiap elemen dq pada kawat berjarak sama terhadap P, yaitu x 2+a 2 dan menghasilkan
potensi listrik di P sebesar :

1 dq
dV(P) =
4 x + a

Sehingga :

1
V(P) = j Q dq
4 x + a

1 Q
= .. (2.15)
4 x + a

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


15

Persamaan 2.15 menyatakan bahwa V hanya bergantung pada x untuk Q dan a tertentu. Hal ini
tidak mengherankan sebab perhitungan tersebut hanya berlaku untuk titik-titik yang terletak pada
sumbu X. Berdasarkan sifat simetri distribusi muatan, mudah diduga bahwa kuat medan listrik E
pada titik-titik yang terletak pada sumbu X hanya mempunyai komponen pada arah sumbu
tersebut. Dalam hal ini, persamaan 2.15 dapat ditulis dalam bentuk :
x

V(x) = E
ds
w

= Ex dx (2.16)
w

Sehingga E dapat dientukan melalui diferensial persamaan 2.16 yaitu :


dV
Ex =- dx

= - 4
Q d
dx [ 1
x +a ]
1 Qx
= - 4 . (2.17)
( x +a )3/ 2

Jadi, kuat medan listrik di P ( yang berjarak x dari pusat koordinat ) adalah :

1 Qx

E (P) = - 4 1
( x +a )3/ 2

Contoh 2.3 :
Tenukan potensial listrik di tiik-titik yang terletak pada sumbu suatu piringan bermuatan serba
sama dengan jari-jari a dan rapat muatan permukaan . Dari hasil perhitungan yang diperoleh
tentukan pula kuat medan listrik di titik-titik tersebut.
Penyelesaian :

Pilih sumbu piringan sebagai sumbu X dengan pusat


piringan sebagai pusat koordinator. Andaikan titik yang ditinjau (P) berjarak x dari pusat koordinat
seperti pada gambar 2.7.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


16

a r2 + x2

x P

dr

luas permukaan = 2 r dr

Gambar 2.7. piringan dibagi menjadi cincin-cincin tipis yang konsentris dengan jari-jari r dan
tebal dr

Piringan dapat dipandang sebagai kumpulan dari cincin-cincin konsentris dengan jari-jari mulai
dari 0 hingga a. Perhatikan suatu cincin dari kumpulan tersebut yang berjari-jari r dan tebal dr,
maka muatan yang dimiliki cincin tersebut adalah :

dq = dA = 2 r dr

potensial listrik yang dihasilkan cincin ini di titik P dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan 2.15 (periksa conttoh 2.2 ) yaitu :

1 dq
dV =
4 x +r
1 dr
= 4
x +r
Potensial listrik total di P :
a
2 r dr
V =
4 0 x + r


= [ x + a x ] .. (2.19)
2

Kuat medan listrik di P ditentukan dengan menggunakan persamaan 2.17:

dV
Ex =-
dx

d
=- [ x + a x ]
2 dx

=-

2 [
1
x
x +a ]
Contoh 2.4 :

Suatu ruang bentuk bola dengan jari-jari R bermuatan serba sama dengan muatan total Q. Dengan
memilih titik dengan r sebagai acuan nol untuk potensial listrik nol, tentukan :
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
17

a) Potensial listrik sebagai fungsi r di luar bola,


b) Potensial listrik sebagai fungsi r di dalam bola, dan
c) Buatlah sketsa grafik V(r)

Gambar 2.8 Suatu bola bermuatan serba sama dengan muatan total sebesar Q, dan titik
sembarang B, C, dan D

Penyelesaian :

a) Pada contoh 1.8, dengan Hukum Gauss telah diperoleh bahwa besar kuat medan listrik di luar
bola bermuatan serba sama adalah :

1Q
E (r) = r^
4 r 2

E . d^ s
Sehingga = Er dr

Dengan demikian potensial listrik di suatu titik sembarang B di luar bola yang berjarak r dari
pusat bola adalah :
r

VB = - Er dr

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


18
r
Q 1
=-
4 r 2
dr

1 Q
VB =
4 r

Perhatikan bahwa hasil tersebut identik dengan potensial listrik yang dihasilkan oleh sebuah
muatan titik Q yang diletakan pada pusat bola. Selanjutnya mengingat bahwa potensial listrik
kontinyu pada r=R , maka potensial listrik disembarang titik C pada permukaan bola adalah :

1 Q
VC =
4 R

b. pada contoh 1.8 telah diperoleh bahwa kuat medan listrik di dalam bola yang bermuatan serba
sama adalah :

1 Qr

E = r^ (untuk r < R)
4 R 3

dengan menggunakan persamaan 2.4 beda potansial antara suatu titik didalam bola (D) terhadap
permukaan bola (c) adalah :
r
E d s
VD - VC =
R

= Er dr
R

r
Q
=
4 R3
r dr
R

Q 1
= (R2 r2)
4 2 R3

Dengan menggunakan hasil yang diperoleh pada jawaban a yaitu :

1 Q
VC =
4 R

Maka
2
1 Q r
VD = (3 - (untuk r < R)
4 2 R R
2

Terlihat bahwa hasil terakhir yang diperoleh sesuai dengan jawaban a untuk (untuk r< R)

c. sketsa grafik

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


19

1 Q
VC =
4 R
1 Q
VD = (3 -
4 2 R

1 Q
VB =
4 r

Contoh 2.5 :

Diketahui bahwa potensial listrik di suatu daerah yang dipengaruhi oleh muatan yang terdistribusi
dapat dinyatakan sebagai : V = 3x2y + y2 + yz. Tentukan kuat medan listrik di daerah tersebut.

Penyelesaian :

Komponen-komponen kuat medan listrik di daerah yang diminta dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan 2.24 :

_ V _
Ex = = ( 3x2y + y2 + yz )
x x
_ _
= ( 3x2y) = 6xy
x

_ V _
Ey = = ( 3x2y + y2 + yz )
y y
_
= ( 3x2 + 2y + z )

Ez = _ V = _ ( 3x2y + y2 + yz )

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


20

z z
_ _
= ( yz ) = y
z

Jadi, E= Ex i + Ey j + Ez R

= -6xy i (3x2 + 2y + z ) j y R

Contoh 2.6 :

Gunakan fungsi potensial yang dihasilkan oleh suattu muatan titik untuk menghitung kuat medan
listrik di suatu titik yang berjarak r dari muatan tersebut.

Penyelesaian :

Pottensial listrik di suatu titik yang berjarak r dari muatan titik q adalah :

1 q
V =
4 0 r2
Terlihat bahwa V hanya bergantung pada r saja, berarti mempunyai simetri bola, sehingga besar
kuat medan listrik dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 2.25

dV 1 d 1
Er = - =- ( )
dr 4 dr r

q q
Er = atau
E = r^
4 R2 4 r 2

Contoh 2.7 :

Suatu dipol listrik terdiri attas dua muatan titik yang sama besar tetapi tidak sejenis dan terpisah
pada jarak 2a seperti pada gambar 2.11. Hitung potensial listrik dan kuat medan listrik di titik P
yang terletak pada jarak x dari pusat dipol, dengan x >> a.

Penyelesaian :

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


21

a a

-q q

Gambar 2.11 Suatu dipol listrik yang terletak pada sumbu x

Potensial listrik di titik P:

1 q _ q
V = [ ]
4 0 x-2 x=a
2qa
=
4 0 ( x2 - a2 )

2qa
V =
4 0x2 Untuk x >> a, maka

Kuat medan listrik E di titik P hanya dalam arah sumbu X saja, sehingga :

_ dV 4qa
E = Ex = =
dx 4 0x3
Atau

4 qa

E = 3 1
4 x

Contoh 2.8
Dua bola konduktor berjari-jari r1 dan r2 terpisah pada suatu jarak yang jauh lebih besar daripada
jari-jari kedua bola. Kedua bola dihubungkan dengan kawat penghantar seperti pada contoh
gambar. Jika dalam kesetimbangan elektrostatik muatan masing-masing bola disebut q1 dan q2,
tentukan perbandingan besar kuat medan listrik pada permukaan kedua bola.

R1
Q1

R2 SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


22

Q2

Penyelesaian:

Kedua bola dihubungkan dengan kawat penghantar, maka pada keseimbangan elektrostatik
keduanya memiliki potensial listrik sama.

q1 q2
V= =
4 0r 1 4 0 r 2

Dari persamaan tersebut diperoleh :

q1 r 1
=
q2 r 2

Kedua bola terpisah pada jarak yang jauh (dibandingkan jari-jarinya) sehingga muatan pada kedua
bola dapat dianggap tersebar secara merata pada permukaan bola, dan kuat medan listrik pada
permukaan masing-masing bola adalah:

1 q 1
E 1=
4 0 r

1 q 2
E 2=
4 0 r

Dengan menggunakan hasil hasil yang diperoleh tersebut, maka :

E1 R2
=
E2 R1

Contoh 2.9
Tentukan kapasitas ekuivalen (pengganti) antara titik a dan titik b pada rangkaian kapasitor seperti
pada gambar dibawah ini. Jika kapasitas masing-masing kapasitor tersebut dinyatakan dalam
satuan F.

4 1

a b

2 8

Penyelesaian :
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
23

Dengan menggunakan persamaan 2.31 dan persamaan 2.33, rangkaian kapasitor tersebut setahap
dapat disederhanakan seperti terlihat pada g

ambar 2.22 sehingga akhirnya diperoleh kapasitans pengganti sebesar 6 F

4 1 4 4

3 2 6

a b a b a b a b

6 4

2 8 8 8

1. Rangkaian kapasitor di lingkaran merah

Pertama-tama menyelesaikan rangkaian kapasitor yang disusun secara seri dibagian kanan
dalam lingkaran merah:

- R1 + R2 = 1+3 = 4 F

Lalu menambahkan dengan kapasitor dibagian sebelah kiri didalam lingkaran merah:

1 1 1 1 2 1 R5 2
- + = + = = , = = 2 F
R3 R4 4 4 4 2 1 1

2. Rangkaian kapasitor di lingkaran hijau

Pertama-tama menyelesaikan rangkaian kapasitor yang disusun secara seri dibagian kiri
didalam lingkaran hijau :

- R1 + R2 = 6+2 = 8 F

Lalu menambahkan dengan kapasitor dibagian sebelah kanan didalam lingkaran hijau:

1 1 1 1 2 1 R5 4
- + = + = = , = = 4 F
R3 R4 8 8 8 4 1 1

3. Menjumlahkan kedua kapasitor yang telah disederhanakan


- R 5 atas+ R5 bawah = 2 + 4 = 6 F

Contoh 2.10

Dua kapasitor dengan kapasitas C1 dan C2 mula-mula mempunyai beda potensial yang sama
(gambar no. 3a), kemudian dihubungkan dengan cara seperti terlihat pada gambar 3b, yaitu plat
positif kapasitor yang satu dihubungkan dengan plat negatif kapasitor yang lain. Jika C 1>C2,
Tentukanlah:

a) Beda potensial antara a dan b setelah saklar S1 dan S2 ditutup;


SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
24

b) Energi elektrostatik yang tersimpan dalam kedua kapasitor sebelum dan sesudah
saklar S1 dan S2 ditutup.
Q1 C1
+ + -
C1

a b
a b

S1 S2 S1 S2

C2
C2

Q2

Penyelesaian:

a) Misalkan beda potensial masing-masing kapasitor sebelum dihubungkan adalah V0, maka
muatan masing-masing kapasitor sebelum dihubungkan adalah:

Q1=C 1 V 0 dan Q2=C 2 V 0

Jika kedua plat dihubungkan seperti pada gambar, maka muatan total plat-plat yang berhubungan
adalah:

Q1=Q1Q2= ( C1C 2 ) V 0

Muatan-muatan tersebut akan mengatur diri sedemikian rupa sehinga muatan-muatan pada kedua
kapasitor tersebut menghasilkan beda potensial yang sama pada kedua kapasitor (gambar b) atau
dengan kata lain kedua kapasitor itu kini terhubung secara parallel, sehingga:

Qtotal ( C 1C 2 )
V= = V
Cek ( C1 +C 2 ) 0

b) Energi elektrostatik yang tersimpan dalam kedua kapasitor sebelum dihubungkan adalah:

1 1
Ui= C 1 V 02 + C 2 V 02
2 2

1
( C1 +C 2 ) V 02
2

Setelah kedua kapasitor dihubungkan:

1 2 1 2
Ut= C 1 V + C2 V
2 2

1 2
( C1 +C 2 ) V
2

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


25
2
1
( C1 +C 2 )
2 [( C 1C 2 )
( C 1 +C2 )]. V 02


[( C1C 2 )
( C 1+C 2 )]. Ui

Terlihat bahwa energy elektrostatik yang tersimpan dalam kedua kapasitor setelah dihubungkan
Lebih kecil dibandingkan dengan sebelum dihubungkan. Hal ini disebabkan sebagian energy
elektrostatik berubah menjadi bentuk yang energy lain, yaitu kalor dan radiasi elektromegnet
selama proses perpindahan muatan berlangsung.

Contoh 2.11

Luas Plat sebuah kapasitor plat sejajar 6 cm 2, satu sama lain dipisahkan oleh kertas setebal 1 mm.
Jika tetapan dielektrik kertas = 3,7 dan kekuatan dielektriknya 1,6 . 10 7 v/m:

A ) Tentukan kapasitasnya
B ) Hitung muatan maksimum yang dapat disimpan dalam kapasitor
C ) Hitung energi maksimum yang dapat disimpan dalam kapasitor.
Penyelesaian :
2
6.104 m2
A) C=
K 0A
d (
=3,7 8,85 . 1012 C

Nm
2 )( 10
3 )
=19,6.1012 F 196 pF

b) Kekuatan dielektrik adalah suatu besaran yang menyatakan kuat medan maksimum yang masih
dapat ditahan sebelum sifat dielektrik bahan berubah (rusak)

V maks=E maks . d

C2
(
1,6.107
m )(103 m) 1,6.104 Volt

Q maks=C V maks

19,6 pF .1,6.10 4 Volt

0,31 C

1 2
C) U maks= C V maks
2

1 12 4 3
( 19,6.10 F ) ( 1,6.10 V )=2,5 . 10 J
2

Contoh 2.12
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
26

Sebuah Kapasitor Plat sejajar dihubungkan dengan beterai sehingga bermuatan Q0 seperti pada
gambar No 5a. Jika baterai dilepaskan dari kapasitor dan selembar dielektrik dengan tetapan
dielektrik K disisipkan diantara kedua plat (gambar 5b), tentukan senergi yang tersimpan dalam
kapasitor sebelum dan sesudah disisipi dielektrik.

Q0
Dielektrik
-
C0 Q0 -
+ -

V0

(a) (b)

Penyelesaian:

Energi elekrostatik yang tersimpan di dalam kapastior sebelum disisipi dielektrik adalah:
2
Uo= Co V o
Qo

2 Co

Setelah beterai dilepas dan dielektrik disisipkan dalam kapasitor muatan yang tersimpan dalam
kapasitor tetap sebesar Qo sehingga energy yang terimpan dalam kapasitor :
Qo
U=
2C

Dengan adanya dielektrik didalam kapasitor, maka C = K Co sehingga :


Qo
U=
2 KCo
Uo
U=
K

Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa energy yang tersimpan di dalam kapasitor
berkurang, sebab K>1. Hal ini dapat dipahami dengan memperhatikan bahwa untuk memasukan
dielektrik dalam kapasitor gaya luar harus melakukan kerja negatif untuk mempertahankan
dielektrik agar tidak dipercepat. Kerja dari gaya luar tersebut tepat sama dengan U Uo , dan
secara singkat dapat dikatakan bahwa system melakukan kerja yang positif terhadap gaya luar
sebesar Uo U.

Contoh 2.13

Sebuah kapasitor plat sejajar tanpa dielektrik mempunyai kapasitas Co. Jika ruang diantara kedua
plat diisi dengan bahan yang mempunyai konstanta dielektrik
1/3d K dengan tebal 1/3 d seperti
C1 terlihat
pada gambar. Tentukan kapasitasnya.
1/3d

d
2/3d
2/3d PENDEK TEKNIK KIMIA 2011 C2
SEMESTER
27

(a) (b)

Penyelesaian:

Kapasitor yang disisipi dielektriksebagian seperti pada gambar a dapat dipandang sebagai
rangkaian dua kapasitor yang terhubung seri, masing-masing dengan jarak pisah 1/3d terisi penuh
dengan dielektrik dan yang lain.mempunyai jarak pisah 2/3d tanpa di elektrik. Anggapan seperti
ini diperbolehkan sebab tidak ada beda potensial antara plat bawah C1 dan C2

Berdasarkan persamaan 2.28 dan persamaan 2.38 kapasitans kedua kapasitor adalah

K 0 A
C1 = =3 K C 0
d
3

Dan

0 A 3
C2 = = C0
2d 2
3

Kedua kapasitor terhubung seri, maka kapasitas ekivalen kedua kapasitor adalah :

1 1 1
= +
C C1 C 2

C 1C2 3K
C= =[ ]C
C 1 +C 2 2 K +1 0

Ruaang didalam kapasitor plat sejajar dengan 2 dielektrik, dielektrik pertama


tebalnya 2mm dengan tetapan dielektrik 4 dan dielektrik kedua tebalnya 4
mm dengan tetapan dielektrik 6 (gambar 2.32). luas masing-masing plat 1
cm2 dan kuat medan listrik dan dielektrik pertama 104 N/C, tentukan :

a. kuat medan listrik dalam dielektrik kedua

b. muatan masing-masing plat kapasitor

c. kapasitas kapasitor

d. beda potensial antara kedua plat kapasitor

penyelesaian:

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


28

a. dibuat permukaan gauss seperti terllihat pada gambar 2.32

Gambar 2.32

Sesuai dengan persamaan 2.49 dengan memperhatikan bahwa tidak ada


muatan bebas yang dilingkupi oleh permukaan gauss maka:

A
D .
dA= A D cos Da = 0

-D1A + D2A = 0

D1 = D2

1E1 = 2E2

K1 0E1 = K20E2

K1
E2 = E1 = 4/6 104 N/C
K2

= 6,7 103 N/C

q q
b. E1 = = =
E1 A AK 10

q = AK1 0 E1 = (10-4 m2) (4) ( 8,85 .10-12 C2/Nm2) (104 N/C)

= 3,5.10-11 C
VB d1 d2

c. dV =- E1 dx E 2 dx
VA 0 0


VB VA =- d1 - d2
1 2

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


29

d1 d2
VAB = d1 + d2 = q ( + )
1 2 A1 A2

1
q= d1 d VAB
+ 2
A 1 A 2

1 A 0
q
C = = d1 d = d1 d
V AB + 2 + 2
A 1 A 2 K1 K2

C2
8,85 .1012
N m2
=
( 10 m2 )
4

= 1,33 .10-12 F

q (3,5. 1011 C )
d. VAB = =
C (1,33 .1012 F )

= 26,9 volt

Contoh 3.1
Kawat nichrome mempunyai resistivitas 1,5.10 m dan jari-jari 0,321 mm.
a. Hitung tahanan per satuan panjang kawat tersebut.
b. Hitung arus yang melalui kawat jika panjang kawat 1 m dan diberi beda potensial 10 V.
c. Jika arus yang melalui kawat 2,16 A, hitung kuat medan listrik di dalam kawat tersebut.

Penyelesaian
a. Luas penampang kawat :
A = . r
= . (0,321.10 m) = 3,24.10 m
R = 1/A R/1 = /A = 1,5 . 10 m/3,24 . 10 m = 4,63 /m

b. l = 1 m R = 4,63 , sehingga ;
i = V/R = 10 V/4,63 = 2,16 A

c J = i/A = 2,16 A/3,24 . 10 m = 6,67 . 10 A/m


J = E E = J/ = . J = (1,5 . 10m) (6,67 . 10 A/m) = 10,0 N/C

Contoh 3.2
Suatu silinder berongga dengan konduktivitas mempunyai jari-jari dalam a, jari-jari luar b, dan
panjang L. Jika silinder tersebut dialiri arus dengan arah radial, tentukan tahanan silinder tersebut.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


30

Penyelesaian
Andaikan potensial listrik pada permukaan dalam dan permukaan luar silinder tersebut
dipertahankan konstan masing-masing Va dan Vb, sehingga arus berarah radial. Jika silinder
dipandang sebagai kumpulan selubung-selubung silinder tipis, maka masing-masing selubung
silinder dialiri oleh arus total yang sama (i), karena muatan listrik tetap jumlahnya.
Tinjaulah suatu selubung silinder yang berjari-jari r dan tebal dr. Jika potensial pada permukaan
dalam silinder yang ditinjau V dan potensial pada permukaan luarnya V + dV, maka hubungan
antara arus dan potensial pada selubung silinder tersebut adalah :
i = JA
= E . 2 rL

Menurut persamaan 2.25, E = -dV/dr sehingga arus i menjadi :


i = (- dV/dr) 2rL
-dV = (i/2L) (dr/r)

Karena i berharga kosntan, maka tinjauan untuk seluruh silinder berongga adalah :
Va Vt = i/2L 1n (b/a)

Mengingat Va Vb = i . R, maka diperoleh :


R = ln (b/a)/2L
Resistivitas suatu konduktor bergantung pada beberapa faktor, antara lain temperatur. Untuk
berbagai logam, resistivitas bertambah dengan naiknya suhu. Ini disebabkan karena gerak elektron
makin dihambat oleh getaran ion positif. Resistivitas suatu konduktor berubah hampir linear
terhadap perubahan suhu menurut persamaan :
= 0 (1 + (t t0 ) )
dengan : resistivitas pada suhu t, 0 adalah resistivitas pada suhu acuan t0 (biasanya dipilih 20
C), dan disebut koefisien suhu konduktor.
Dari persamaan 3. 11, koefisien suhu konduktor dapat dinyatakan sebagai :
a = (1/0) ( / t)
Jika i dalam ampere, V dalam volt, dan R dalam ohm, satuan SI untuk daya adalah watt (w). Daya
yang hilang sebagai kalor dalam resistor dengan tahanan R disebut kalor joule.

Contoh 3.3
Suatu lampu pijar bertulisan 120 V/150 W, artinya lampu tersebut menggunakan daya listrik
sebesar 150 W bila dipasang pada beda potensial 120 V. Filamen kawat terbuat dari bahan dengan
resistivitas 6. 10 dengan luas penampang 0,1 mm.
Hitunglah :
a. Panjang filamen.
b. Arus yang melalui lampu jika dipasang pada tegangan 120 V.
c. Arus dan daya pada lampu jika dipasang pada tegangan 60 V.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


31

Penyelesaian :
a. Dari persamaan 3.9 dan persamaan 3.15 dapat ditentukan :
r/A = V/P
1 = AV/P = (0,1 . 10 m) (120 V)/(6 . 10 m) (150 W)
1 = 0, 16 m

b. P = iV i = P/V = 150 W/120 V = 1,25 A


c. Sebuah lampu dengan spesifikasi tertentu, misalnya 120 V/150 W, mempunyai tahanan
konstan yang dapat dihitung dengan persamaan 3. 15.
R = V/P = (120 V)/150 W = 96
Arus dan daya lampu pada beda potensial 60 V dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 3.
7 dan persamaan 3. 15.
i = V/R = 60 V/96 = 0,625 A
P = V/R = (60 V)/96 = 37,5 W
Perhatikan bahwa arus sebanding dengan tegangan dan daya pada lampu sebanding dengan
kuadrat jarak tegangan.

Contoh 3.4
Sebuah baterai dengan = 12 V dan tahanan dalam sebesar 0,05 . Kedua ujungnya dihubungkan
dengan tahanan beban sebesar 3 .
a. Hitung arus dalam rangkaian dan beda potensial antara kedua ujung baterai.
b. Hitung daya yang terpakai dalam tahanan beban dan pada tahanan baterai serta daya yang
dihasilakn baterai.

Penyelesaian :
a. i = /R + r = 12 V/3, 05 = 3, 93 A
V = - ir = 12 V (3, 93 A) (0, 05 ) = 11, 8 V
Untuk memeriksa hasil V yang diperoleh dapat dihitung berkurangnya tegangan yang melintas
tahanan beban, yaitu :
V = iR = (3, 93 A) (3 ) = 11, 8 V

b. Daya pada tahanan beban :


PR = i R = (3, 93 A) (3 ) = 46, 3 W

Daya tampung yang dihasilkan oleh baterai :


P = PR + P = 47, 1 W atau P = i = (3, 93 A) (12 V) = 47,1 W

Contoh 3.5
Tunjukkan bahwa daya listrik maksimum yang terpakai pada tahanan beban terjadi jika tahanan
beban sama dengan tahanan dalam sumber tegangan. Gambarkan sketsa grafik daya yang terpakai
sebagai fungsi tahanan beban dalam skala relatif terhadap tahanan dalam sumber.

Penyelesaian :

Daya listrik yang terpakai pada tahanan bebas :


P = i R = (/R + r) R = R/(R + r)
Pandanglah P sebagai fungsi R, persyaratan ekstremum untuk P adalah :
dP/dR = 0, atau (R + r) - 2 (R + r) R/(R + r) = 0
Kalikan kedua ruas persamaan tersebut dengan (R + r)/ , akan diperoleh :
(R + r) 2R = 0

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


32

R=r
Selanjutnya dengan menggunakan hasil R = r pada turunan kedua P terhadap R akan diperoleh
hasil negatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa P atau daya pada tahanan beban
mencapai maksimum jika R = r.

Contoh 3.6

Lima buah resistor masing-masing R=8 R2=4 R3=2 R4=4 R5=3,


dirangkai seperti gambar

a. Hitung tahanan ekivalen rangkaian


b. Hitung i, i1,i2, jika Vac=42V

Penyelesaian : R5
R1 R2

R3
Gamabar 3.13 rangkaian resistor unutk contoh 3.6

a. Dengan menggunakan lambang hubungan seri dan pararel dua resistor,


tahanan ekivalen rangakian tersebut dapat di hitung dengan persamaan
3.24 dan persamaan 3.27, sebagai berikut:

Rek=[ ( R 3+ R 4 ) / R5 ] + R1 + R2

(6 / 3 )+12

6.3
+12
6 + 3

14

Vac 42 V
b. i= =
Rek 14 V

i=3 A

Dari gambar terlihat bahwa :

Vbc=i1 ( R3 + R4 )=i 2R5

atau6 i 1=3 i 2

2i 1=i 2

karena

i=i 1+i 2

3 A=3 i
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
33

i 1=1 A

i 2=2 A

Contoh 3.7

Lima buah lampu, masing-masing L1=L2=L3 : 4V/2W, L4=L5 4V/4W


terpasang pada sumber tegangan dengan = 5V seperti pada gambar 3.14

a. Hitung daya yang terpakai pada masing-masing lampu


b. Jika L5 putus, hitung daya pada masing-masing lampu

Penyelesaian :

Masing-masing lampu dapat dianggap sebagai resistor dengan tahanan yang


dapat dihitung dengan menggunakan persamaan 3.15 dan daya pada masing-
masing lampu dapat juga dihitung dengan menggunakan persamaan 3.15

4V
a. R1=R2 =R 3= =8
2W
2
4V


R4 =R5=

Rek=[ ( R 4 + R5 ) / R2 ] + R1 + R3

(8 / 8 )+8 +8

8.8
+8 + 8=20
8 + 8

5V
i= = =0,25 A
Rek 20
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
34
2
Dengan demikia : P1=P3=i R 1

A
0,25

Vbc=i2 R2=i ( R5 + R4 )

Atau 8 i2 = 8 i1

i 1=i 2

Mengingat
i 1+i 2=i maka i 1= i 2=0,125 W

P2=i 22 . R2

0,125 2 .8 =0,125 W

2
P4 =i2 . R 4

0,125 2 .4 =0,0625

b. Jika lampu L5 putus, maka L1,L2 dan L3 terhubung seri ( dialiri arus
yang sama ).

Rek=R1 + R2 + R3=24

5
i= = A
Rek 24

Tahanan masing-masing lampu dan arus yang melalui masing-masing


lampu juga sama yaitu :

P=i 2 . R

A
5

24

Contoh 3.8

Suatu rangkaian tersdiri atas dua beterai masing-masing dengan 1 = 6V 2


= 12 V ( tahan dalam baterai diabaikan ), dan dua resistor, masing-masing
dengan tahanan R1=8 dan R2=10, yang dihubungkan seri seperti pada
Gambar 3.17. hutunglah arus dalam rangkaian tersebut.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


35

R1 R2

Gambar 3.17 suatu rangkaian seri terdiri atas dua buah batrai dan dua buah
resistor

Penyelesaian :

Misalnya dipilih arus seprti pada gambar 3.17 dan arah lintasan sesuai
dengan arah jarum jam. Besar arus disetiap bagian rangkaian sama besar
karena tidak ada titik cabang. Menurut hukum kirchhoff II :

1 i R12i R 2=0

12 6 1
atau i= = = A
R1 + R2 18 3

Hasil negatif pada perhitungan tersebut berarti bahwa arah arus yang
sesungguhnya berlawanan dengan arah yang dipilih

Contoh 3.9

Tiga buah resistor masing-masing dengan tahanan R1=2, R2=4 dan


R3=6 dna dua buah sumber teganan masing-masing 1=10V dan 2=14V
(tahanan dalam diabaikan) terangkai seperti pada gambar 3.18

Tentukan :

a. Arus pada masing-masing cabang


b. Beda potensial antara titik b dan c

R2

R3

R1 SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


36

Gambar 3.1

Penyelesaian :

a. Terdapat tiga arus dan dipilih arah masing-masing arus seperti pada
gambar 3.18 karena tiga variabel yang belum diketahui, maka untuk
menyelesaikannya diperlukan tiga persamaan, yaitu:
1. Titik cabang c : i 1+i 2=i 3
2. Loop denganarah abcda : 1 i 1 R 3i 3 R1 =0
Atau : 106 i 12 i 3
3. Loop dengan arah befcb : i 2 R 22+ i1 R3=0
Atau : 24 +6 i 14 i2 =0
Subtitusikan persamaan (1) ke persamaan (2) dan sederhanakan
persamaan (3) maka :
10=8i 1 +2i 2
12=3 i 1 +2i 2
Dengan menggunakan kedua persamaan terakhir diperoleh :
i 1=2 A
i 2=3 A
i 3=1 A

Seperti pada contoh 3.8 hasil negatif pada i2 dan i3 ini berarti bahwa
arah arus yang sebenarnya pada cabang befc dan cdab berlawanan
arah dengan arah yang dipilih

b. Vbc dapat dihitung melalui berbagai lintasan. Pilihan yang paling


menguntungkan adalah melalui lintasan badc, sehingga :
Vbc=i 3 R 1=(1 A ) .2=2 V

Untuk meyakinkan bahwa perhitungan melalui berbagai lintasan akan


menghasilkan Vbc yang sama, tinjaulah lintasan befc :

V =i 2 R 22

VcVb=(3 A ) . ( 4 )14 V =2 V

Vbc=VbVc=+2 V

Contoh 3.10

Tiga resistor, tiga sumber tegangan dan sebuah kapasitor terangaki seperti
pada gambar 3.19

a. Tentukan arus pada masing-masing cabang pada keadaan stasioner


b. Hitung muatan pada kapasitor

4
a e

5
2
b SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
37

Gambar 3.19 f
8 3
c g

d h
2

Penyelesaian :

a. Pertama-tama yang harus diketahui adalah pada keadaan stasioner


cabang yang mempunyai kapasitor merupakan cabang terbuka, atau
dengan kata lain arus pada cabang tersebut berharga nol.
Dengan memilih arah arus seperti pada gambar maka :
1. Titik cabang c : i 1+i 2=i 3
2. Loop dengan arah defcd : 43 i 25 i 3=0
1 3 i 2=0
3. Loop dengan arah cfgbc :
85 i

Subtitusikan persamaan 1 dan persamaan 2, maka :

85i 3 +8 i 2=0

Gabungkan persamaan terakhir dengan persamaan 3 maka:

i 2=0,364 A

Gunakan hasil i2 dalam persamaan (2) dan (3) maka akan diperoleh :

i 1=1,38 A

i 3=1,02 A

b. Mengingatkan i = 0 pada cabang ghab, maka hukum kirchhoff kedua


pada loop abgha memberikan :

8+Vc3=0

Vc=11 V

Muatan kapasitor : Q=C Vc

( 6 F ) ( 11 V ) 66 C

Pada beberapa buku, hukum kirchhoff II dalam bentuk matematis dituliskan


sebagai berikut:

= i R

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


38

t (s) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
q 13, 51,
0 23,6 31,6 37,9 42,8 46,6 49,5 53,6
(C) 2 8
2,0
I (A) 15 11,6 9,09 7,08 5,5 4,29 3,34 2,1 1,58
3
Contoh 3.11

Kapasitor tak bermuatan dengan C = 5 F, sebuah resistor dengan R= 8.105 dan sebuah sumber
tegangan dengan = 12 V dihubungkan secara seri dan dilengkapi dengan sebuah saklar S seperti
pada Gambar 3.24
a) Tentukan tetapan waktu rangkaian, muatan maksimum pada kapasitor, arus maksimum
pada rangkaian, muatan kapasitor, serta arus rangkaian sebagai fungsi waktu setelah saklar
ditutup.
b) Buat sketsa grafik q(t) dan i(t)

E S

Penyelesaian:
a). = RC = (8.105 ) (5.10-6 F)
=4s
Q = C = (5.10-6 F) (12V)
Q = 6.10-5 C atau 60 C
12V
io = = = 1,5.10-5 A atau 15 A
R 8.105

Gunakan hasil-hasil tersebut pada persamaan 3.37 dan 3.38, diperoleh:


i(t) = 15.e-t/4 A
q(t) = 60 (1-e-t/4) C
b). Dengan menggunakan beberapa titik bantu akan diperoleh grafik berikut

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


39

Contoh 4.1 :
Sebuah kawat lurus panjang berjari-jari a dilalui arus total io yang terdistribusi secara merata pada
penampang kawat. Tentukan induksi magnet pada titik-titik yang berjarak r dari sumbu kawat,
baik didalam kawat (r < a) maupun diluar kawat (r > a)

Penyelesaian

Rapat arus dalam kawat:

i i0
J= = 2
A a

Mengikuti simetri distribusi arus dalam kawat, buatlah lintasan ampere yang berupa lingkaran
berjari-jari r dengan pusat pada sumbu kawat. Melihat simetri persolalan yang dibahas, B
sepanjang lintasan tersebut konstan.

Untuk r a :
B . ds=oi in
B ds = jdA

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


40

io
B(2 r = o r 2
a2
0 i0 r
B= ( untuk r a)
2 a2

Untuk r a

B .
ds = o i in
B ds = o i o
B(2 r = o i o
0 i0
B= (untuk r a)
2 r

Contoh 4.2 :
Suatu bidang yang luasnya tak berhingga mempunyai arus permukaan. Jika bidang tersebut dipilih
sebagai bidang xy, arus dalam arah sumbu y, dan rapat arus permukaan tiap satuan panjang J.
Tentukan induksi magnet B disekitar bidang tersebut.

Penyelesaian:
Buatlah lintasan ampere berupa persegi panjang berukuran a x b yang diletakkan sedemikian rupa
sehingga dua sisi sejajarnya yang terpanjang terletak simetri terhadap permukaan.

Gambar tampak samping permukaan tak berhingga luas dengan arus J yang arahnya dinyatakan
dengan tanda o (arah sumbu Y)

Berdasarkan aturan sekrup kanan arah vector B di atas bidang xy ke kanan, sedangkan dibawah
bidang tersebut berarah kekiri. Tidak ada B dalam arah vertical (sumbu z) dan dengan mengingat

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


41

simetri lintasan ampere yang dibuat, besar B dikedua sisi lintasan yang sejajar bidang sama besar
sehingga


B.ds = o i in

B. a = o J a
o J
B= J
2

Dari persamaan tersebut ternyata bahwa induksi magnet di suatu titik yang dihasilkan oleh bidang
yang luasnya tak berhingga dan dialiri arus permukaan tidak bergantung pada jarak titik tersebut
ke bidang. Hasil ini sangat mirip dengan kuat medan listrik yang dihasilkan oleh bidang yang
luasnya tak berhingga yang bermuatan listrik serba sama.

Contoh 4.3
Dengan menggunakan Hukum Ampere tentukan induksi magnet yang ditimbulkan oleh selenoida
berarus i, sangat panjang dan mempunyai jumlah lilitan per satuan panjang n.

Penyelesaian :
Anggaplah gulungan (lilitan) kawat cukup rapat dan luas penampang selenoida cukup
kecilsehingga medan magnet di dalam selenoida serba sama dalam arah sumbu dan medan magnet
di luar selenoida sama dengan nol.

Medan magnet B di dalam selenoida tak berhingga panjang berarus listrik

Menurut hukum Ampere:



B.
ds = o i in


B dapat dianggap hanya terdapat di dalam solenoid dan searah dengan sumbu solenoid, maka
persamaan tersebut menjadi:

B.a = o (na)i
B = o ni

Telihat bahwa hasil ini sama dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan Hukum Biot-
Savart, tetapi perhitungannya jauh lebih sederhana.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


42

Contoh 4.4:
Toronoida adalah kumparan kawat berarus berbentuk selubung dengan bangun geometri seperti
kue donat sedemikian rupa sehingga setiap lilitan berbentuk lingkaran yang terletak pada bidang
tegak lurus garis tengah (sumbu) toronoida (Gambar 4.10)

Toroida berarus i. Arah B didam kumparan berhimpit dengan garis singgung di setiap detik

Tentukan induksi magnet yang dihasilkan oleh toronoida dengan jumlah lilitan N, dialiri arus I,
jari-jari dalam Rd dan jari-jari luar R.

Penyelesaian
Dengan pengertian toroida seperti diatas, maka dapat dianggap arah induksi magnet di dalam
toroida merupakan arah garis singgung lingkaran-lingkaran yang konsentris dengan lingkaran
sumbu toroida.
Dibuat lintasan ampere berupa lingkaran dengan jari-jari r yang konsentris dengan lingkaran
sumbu toroida.
(a) Untuk r < Rd :

B.
ds = o i in

B =
ds

B=0 ( untuk r < Rd)

(b) Untuk Rd < r < RI :


= in

B =

B.2 =

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


43

B=

Terlihat bahwa di dalam kumparan toroida

~ , namun jika (R1- Rd) << Rd, yaitu untuk toroida yang kurus maka di

dalam kumparan dapat dianggap serba sama, yaitu:

(r) menyatakan rata-rata Rd dan RI, sehingga n =

Menyatakan rata-rata jumlah lilitan per satuan panjang toroida.

(c) Untuk r > Rp


= in

= (sebab jumlah arus yang masuk ke dalam lintasan

ampere sama dengan jumlah arus yang meninggalkannya)

Dengan demikian, B = O untuk r > Ri.

Contoh 4.5
Sebuah electron bergerak dengan kecepatan = 2. 104 ims-1, melintasi medan magnet

serba sama dengan B=0,5 jT.


a) Hitunglah gaya magnet yang bekerja pada electron tersebut.
b) Hitunglah gaya magnet yang bekera proton jika bergerak melalui medan magnet tersebut
dengan kecepatan (3 + 4j). 104 ms-1
Penyelesaian:
a). gaya magnet pada electron:

= (1,6.10-19C)(2.104ims-1) X (0,5jT)
= - 1,6.10-15 k^ N

b). Gaya magnet pada proton:

= (1,6.10-19C) (3i + 4j) . 105 ms-1 x (0,5jT)

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


44

= 2,4.10-14 k^ N
Contoh 4.6 :

Sebuah partikel dengan massa 5.10-24 kg, bermuatan 2.10-16 C, bergerak dengan kecepatan v =
4.106 ms-1 , melintasi medan magnet B = 2 T. Jika kecepatan partikel membentuk sudut dengan tg
= terhadap B, tentukanah:

a. Gaya magnet pada partikel


b. Periode dan jari jari penampang lintasan ( jika diproyeksikan pada bidang yz )
c. Kecepatan sudut partikel

Penyelesaian :

tg = maka sin = 0,06 dan cos = 0,8

v = v cos i + v sin j

= (3,2 i + 2,4 j ). 106 ms-1

F = qv X B

= (10-16 C ) ((3,2i + 2,4j). 106 ns-1 ) X (2iT)

= -4,8 k . 10-10 N

r = mv sin

qB
= (10-24 kg) (4.106 ms-1) (0,6)

(10-16 C) (2T)

= 1,2.10-2 m

v = v cos

= (4.106 ms-1) (0,8)

= 3,2 .106 ms-1

(c) = q B

= (10-6 C) (2T)

(10-24 kg )

= 2.108 ms-1

Contoh 4.7:
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
45

Kawat berarus membentuk suatu loop seperti pada gambar 4.17. Jika kawat tersebut terletak pada
bidang xy dan B bersifat serba sama searah dengan sumbu y, tentukan gaya magnet pada bagian
kawat yang lurus pada bagian kawat yang membentuk busur setengah lingkaran

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


46

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


47

Gambar 4.17 Gaya magnet total pada loop kawat berarus dalam medan magnet serba sama
adalah nol

Penyelesaian :

Gaya magnet pada bagian kawat yang lurus dapat dihitung dengan persamaan 4.31, yaitu :

Fi = i (2R) i X Bj

= 2i R B R

Untuk menentukan gaya magnet pada bagian kawat yang melengkung, busur lingkaran dibagi
bagi menjadi elemen elemen ds yang cukup kecil sehingga dapat dianggap lurus. Ditinjau
elemen ds yang membentuk sudut T terhadap B. Gaya magnet pada elemen ini adalah :

dF2 = i (ds X B )

= -i ds . B sin k ds = R d

= -R B sin d k

Dari Gambar 4.17 terlihat bahwa untuk seluruh busur setengah lingkaran, berubah = 0 hingga =
sehingga gaya total pada busur lingkaran :

F2 = 0 (- i R B ) sin d k

=-2iRBk

Catatan : perhitungan panjang lebar untuk menghitung F2, semata mata hanya dimaksudkan
untuk meyakinkan bahwa hasil perhitungan ini sesuai dengan persamaan (4.31) yang dapat
dilakukan secara cepat ( coba Anda lakukan sendiri ). Hasil perhitungan ini juga menunjukkan
bahwa untuk seluruh loop F1 + F2 = 0

Contoh 4.8 :

Tentukan gaya magnet antara dua kawat berarus yang sejajar seoerti pada Gambar 4.1.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


48

'

Gambar 4.18 Dua kawat lurus berarus panjang diletakkan sejajar saling mengerjakan gaya satu
terhadap yang lain.

Penyelesaian :

Telah s diuraikan bahwa kawat berarus menghasilak medan magnet disekitarnya dan kawat
berarus yang berada dalam medan magnet luar mengalami gaya magnet. Dengan demikian, dua
kawat bearus yang berdekatan akan saling berinteraksi dengan gaya magnet karena yang satu
berada dalam medan magnet yang ditimbulkan oleh kawat yang ain.

Perhatikan duu kawat lurus berarus yang diletakkan sejajar pada jarak d seperti pada Gambar 4.18.
Jika kawat tersebut sangat panjang, maka induksi magnet yang dihasilkan oleh kawat I di titik
titik pada kawat II adalah

B21 = o i1

2 d

Dan sebaliknya:

B12 = o i2

2 d

Arah gaya yang bekerja pada masing masing kawat ditentukan oleh arah B dan i1 dan i2 searah,
maka kedua kawat tersebut akan saling tarik dan sebalinya. Besar gaya tarik atau gaya tolak dua
kawat sejajar yang dialiri arus masing masing i1 dan i2 dan teripisah pada jarak b adalah:
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
49

F= o i1 i2 1 (4.32)

2 d

Besar gaya persatuan panjang pada masing masing kawat adalah :

F = o i1 i2 1 (4.33)

1 2 d

Perlu diperhatikan bahwa sifat ohmmeter berbeda dengan amperemeter atau voltmeter. Hal ini
disebabkan karena R berbanding terbalik terhadap i sehingga dalam multitester
( gabungan fungsi ketiga alat tersebut ) pembaca skala untuk R berlawanan dengan pembacaan
skala untuk i dan v.

Contoh 4.9

Kumparan dalam suatu galvanometer teriri atas N lilitan dengan luas penampang A dan diletakkan
dalam medan magnet yang besarnya konstan dalam arah radial sehingga setiap saat kumparan
dapat dianggap tegak lurus terhadap medan magnet. Kumparan tersebut dihubungkan dengan
pegas dengan tetapan puntir K.

a) Tentukan simpangan sudut kumparan jika alat tersebt dialiri arus i.

b) Jika N = 20 lilitan, A = 40 cm2, B = 0,1 T, K = 103 N.m/rad dan i = 10 mA, hitunglah

Penyelesaian:

a) Untuk kumparan dengan N lilitan, besarnya momen magnetik:

=NiA

Kumparan setiap saat dapat dianggap tegak lurus medan, maka:

= | X B |

= N i AB (4.38)

Andaikan pada saat kesetimbangan tercapai kumparan menyimpang dengan sudut , maka besar
momen gaya yang dihasilkan :

=KE (4.39)

Harga pada kedua persamaan tepat sama pada saat kesetimbangan tercapai, sehingga :

= N i AB (4.40)

Gunakan persamaan 4.40, diperoleh :

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


50

= 0,08 rad

= 4,6o

Berdasarkan harga bahan,secara ringkas sifat magnetik bahan dapat dinyatakan sebagai berikut :

Diamagnetik : r 1

Paramagnetik : r 1

Feromagnetik : r >> 1

Contoh 4.10 :

Suatu toroida dengan 300 lilitan/m dialiri arus 5A. Jika ruang di dalam kumparan toroida diisi
dengan besi yang mempunyai permeabilitas magnetik sebesar 5000 , hitunglah H, B dan M di
dalam besi tersebut.

Penyelesaian :

Bila di dalam kumparan tidak terdapat besi, maka induksi magnet B di dalam kumparan adalah B
= o n i. Dengan adanya besi,permeabilitas mpa ( o) berubah menjadi , sehingga :

B=ni

= 5000 o n i

= 5000 . 4 . 10-7 . 300 . 5

= 9,43 T

Dari hasi tersebut terlihat bahwa dengan adanya besi dengan = 5000 o, B menjadi 5000 kali
semula. Selanjutnya dengan menggunakan persamaan 4.43 dan persamaan 4.42 maka :

H=

= n i = 1500 A / m

M= -H

=( -1)H

= 5000 H = 5000 . 1500 A / m

= 7,5 . 106 A/m

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


51

Dalam hal ini, M dan H searah

Contoh 5.1:

Suatu kumparan berbentuk bujur sangkar dengan sisi 20 cm, terdiri atas 200 lilitan dan
mempunyai tahanan total 4 ,diletakan dalam medan magnet serba sama dengan sumbu kumparan
tegak lurus medan magnet. Jika induksi magnet medan tersebut berubah secara linear mulai dari 0
hingga 1,6 T selama selang waktu 0,8s, tentukan besar ggl induksi dan arus induksi selama
perubahan medan tersebut.

Penyelesaian:

Selama perubahan medan

B (t) = . t = 2t

Fluks magnet :

= B A cos

= 2t . (0,2)2 . 1

= 0,08 t

Ggl induksi pada kumparan :

= 200 . 0,08

=16 v

Arus induksi dalam kumparan :

I=

= 4A

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


52

Contoh 5.2

Suatu kawat berbentuk huruf U, dilengkapi batang logam ab yang dapat digeser dan tetap
menyinggung kawat tersebut. Susunan ini diletakkan dalam medan magnet serba sama B yang
arahnya ditunjukkan dalam gamar 5.4. Jika batang ab digerakkan ke kanan dengn kecepatn V,
maka fluks magnet yang menembus loop bertambah besar dalam arah tegak lurus kedalam (x)
karena luas loop bertambah sedangkan B konstan.

Penyelesaian :

Bidang loop tegak lurus terhadap B, berarti A/B, sehingga :

m = AB

= AB0 e-at

Ggl induksi :

= -N =-N ( AB0 e-at)

= -1 (-a) . A. B0 e-at

= a AB0 e-at

Persamaan tersebut menunjukaan ahwa ggl induksi berubah terhadap waktu secara esponensial
mengikuti B, atau sebanding dengan B. Hasil yang demikian ini tidak berlaki secara umum,
kesebandingan tesebut diperoleh secara kebetulan hanya karena B meluruh secara eksponensial
terhadap waktu.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


53

Gambar 5.6 (a) Sketsa grafik B(t) (b) Sketsa grafik (t)

Contoh 5.3 :

Sebuah loop bujur sangkar dengan sisi a diletakkan sebanding dengan kawat lurus sangat panjang
yang dialiri arus i (t) seperti pada Gamar 5.7. Jika i,

tentukan:

(a) Yang melalui loop sebagai fungsi waktu

(b) Ggl induksi pada loop sebagai fungsi waktu

Gambar 5.7 Keterangan gambar contoh 5.3

Penyelesaian :

(a) Induksi kawat magnet B yang dihasilkan oleh kawat berarus tidak serba sama, melainkan
merupakan fungsi jarak terhadap kawat. Memperhatikan sifan simetri, tinjaulah suatu
elemen luasn loop sebesar dA yang letaknya simetri terhadap kawat,berjarak x dari kawat
dan lebarnya dx. Karena dx cukup kecil, ,aka induksi magnet B diseluruh elemen tersebut
dapat dianggap homogen, yaitu:

B (x) = o i(t)

2x

Sehinnga d m = B d A

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


54

= o i(t) a d x

2x

= o a i(t) d x

2 x

m = o a i(t) b + a d x

2 b x

= o a i(t) (b + a) i (t)

2 b

m(t) = o a i(t) In (b + a) Im cos t

2 b

Ggl induksi: = - N . dm

Dt

= -1 o a In (b - a) Im (-) sin t

2 b

(t) = -1 o a In (b + a) In (-) Im sin t

2 b

Contoh 5.4:

Sebuah batang penghantar dengan panjang L diputar dengan kecepatan sudut W terhadap sumbu
tegak lurus batang lewat salah satu ujung batang. Jika batang tersebut berada dalam medan
magnet serba sama B searah dengan sumbu putar seperti pada Gambar 5.9, tentukan besar ggl
yang timbul pada batang logam trrsebut.

Ganbar 5.9 ket contoh 5.4

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


55

Penyelesaian:

Ditinjau elemen batang setebal posisi berjarak r dari sumbu putar, maka kecepatan elemen batang
tersebut adalah v = r dengan arah tegak lurus B maupun batang penghantar . Ggl yang timbul
pada elemen batang adalah (berdasarkan persamaan 5.6):

d=Bvdr
B r dr
Ggl induksi pada seluruh batang penghantar:
=

= 1/2 B L

Contoh 5.5:
Sebuah batang penghantar ab dengan panjang L dan massa m bergerak sepanjang kawat sejajar
tanpa gesekan dan melintasi medan magnet B serba sama serta tegak lurus seperi pada Gambar
5.10. Jika pada saat awal batang tersebut bergerak kekanan dengan kecepatan V, tentukan
kecepatan batang, arus induksi dan ggl induksi pada batang sebagai fungsi waktu.

Penyelesaian:
Berdasarkan Hukum Lenz, arus induksi dalam batang ab berarah dari b ke a sehingga gaya magnet
pada batang ab adalah:

Tanda negatif pada persamaan tersebut menyatakan bahwa arah gaya magnet ke kiri. Gaya magnet
tersebut merupakan satu-satu nya gaya dalam arah horizontal sehingga menurut Hukum Newton
II:
Fm = m

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


56

-liB = m

Berdasarkan persamaan 5.6 karena =90 maka: =Blv. Jika tahanan total loop adalah R, maka i
= Blv/R , sehingga:
-I B =m

atau = , dengan =

Pengintegrasian persamaan tersebut dengan syarat awal V = V0 pada t=0 memberikan:

dt

ln

atau v = vo

Dengan menggunakan hasil ini, maka :

i=

= i R = Bl vo.

Terlihat bahwa V mengecil dan selaras dengan itu dan i juga mengecil.

Contoh 5.6:

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


57

Sebuah solenoida yang panjang mempunyai jari-jari R dan n lilitan per satuan panjang.Jika
solenoida tersebut dialiri I = lm sin wt (Im dan w konstan), tentukan medan listrik induksi yang
dihasilkannya sebagai fungsi r (jarak ke sumbu solenoida)

Penyelesaian:
Induksi magnet B di dalam solenoid dapat dianggap serba sama dan medan magnet B di luar
solenoida dapat diabaikan. Buat loop berupa lingkaran dengan jari-jari r yang sumbunya berhimpit
dengan sumbu solenoida dengan menggunakan persamaan 5.15, maka r<R:
E.2r = ( B . r)

= - r

= - r ( n lm cos wt)

E . 2r = - r n w lm sin wt

E = n lm w r /2 . sin wt

Untuk r > R :
E . 2r = (B . R)

= - R n lm sin wt

Hasil perhitugan tersebut menunjukkan bahwa harga maksimum ( amplitudo) medan listrik
induksi di dalam induktor (solenoida) bertambah sebanding dengan r, sedangkan di luar induktor
berkurang atau berbanding terbalik dengan r.

Contoh 5.7:
Suatu silinder berongga dengan luas penampang luar 8 cm dililiti dengan kawat penghantar
sejumlah 40 lilitan, kemudian disekat dengan bahan isolator dan dililiti lagi dengan kawat
penghantar lain sejumlah 20 lilitan. Panjang kumparan pertama (l1 adalah 40 cm; kumparan
kedua diatur simetri terhadap kumparan pertama (Gambar 5.17) dan luas penampang kedua
kumparan dianggap sama dengan luas penampang silinder.
(a).Temukan induktans bersama (silang) antara kumparan I dan II
(b).Jika kumparan pertama dialiri arus i1 = 2 cos 100 t, hitung ggl induksi pada kumparan II

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


58

(c).Jika kumparan II dialiri arus i2 = 2 cos 100 t, hitung ggl induksi kumoaran I

Gambar 5.17
Penyelesaian:
(a). Kumparan I dianggap cukup panjang sehingga induksi magnet ditimbulkannya di daerah
dalam kumparan II.
B21

21 = A . B21

M21 = N ( )

= 6,4 .. 10 H = 6,4 n H

(b) = - M21

= - 6,4 . . 10 ( - 100 . 2 . sin 100 t)

= 1,28 sin 100y v


(c). = - M di / dt

= - M di / dt

= 1,28 sin 100t mv


SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
59

Contoh 5.8 :
Sebuah induktor terbuat dari kumparan kawat penghantar dengan 100 lilitan. Jika panjang
kumparan l = 16 cm dan luas penampang nya 8 cm, hituglah:
(a).induktans diri kumparan tersebut
(b).induktans diri kumparan jika kumparan tersebut disisispi antibesi dengan = 500 .

Penyelesaian :
(a).Dengan menganggap medan magnet di dalam kumparan bersifat serba sama, sehingga
B N i / l maka fluks magnet dalam kumparan :

m = N I A / l

Induktans kumparan :
L = N m / i
= N A / l

= (4.10) (100) . 8.10 / 0,16

= 2. 10 H atau 20 H

(b). Dengan adanya antibesi dengan = 500 , maka B dan fluks magnet dalam kumparan
menjadi 500 kali semula. Dengan demikian, induktansi kumparan menjadi 500 kali semula.
L 500 . 20 H
= 0,01 H
= 0.0314 H
Contoh 5.9:
Suatu rangkaian seperti pada Gambar 5.20 mempunyai R = 6, L = 30 mH, dan = 12 V. Pada saat
t=0, saklar S dihubungkan dengan posisi 1.

(a).Tentukan tetapan waktu rangkaian

(b).Tentukan arus dalam rangkaian pada t = 2 ms


(c).Jika setelah arus stasioner tercapai saklar dengan cepat dipindahkan ke posisi 2, tentukan arus
dalam rangkaian sebagai fugsi waktu yang dihitung dari saat saklar dipasang pada posisis 2.

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


60

Penyelesaian :
(a).Tetapan waktu rangkaian :
= L / R = 30 mH / 6 = 5 ms
(b).Arus pada rangkaian, gunakan persamaan 5.29 :
i = / R [ 1 - e ]

= 12 v / 6 [ 1 - e]

= 0,66 A
.Jika saklar dipindahkan ke posisi 2, maka = 0 sehingga persamaan 5.26 menjadi:
-i F L di / dt = 0
di / i = - R / L dt
ln i / i = R / L t

i = in e

i menyatakan besar arus dalam rangkaian pada saat saklar menyentuh posisi 2, yaitu harga arus
stasioner untuk soal (a) dan (b) yang besar nya /R. Dengan demikian, arus dalam rangkaian jika
saklar pada posisi 2 adalah :
i (t) = /R

Terlihat bahwa arus tidak langsung berhenti, akinat ggl balik yang berusaha mempertahankan arus
semula.
Contoh 5.10
Dua buah konduktor masing masing berbentuk kulit silinder berjari jari a dan b , panjang l
terpasang secara koaksial. Kulit dalam dialiri arus i keatas dan kulit dalam dialiri arus i kebawah.
Tentukan induktans konduktor tersebut
Hitung energy yang tersimpan dalam konduktor tersebut

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


61

Gambar contoh 5.10

Penyelesaian:

B=(o i)/(2r ) untuk a< r< b


B=0 untuk r < adan r>b
Tinjau suatu elemen bidang setebal dr yang berjarak r dari sumbu silinder, maka
dA = 1 dr
dan
m= dA
= dr

Fluks magnet total yang melaui penampang irisan antara kedua kulit yang letaknya berhimpit
dengan arah radial :
m = dr

= ln [ ]

L=[ ]= ln [ ]

Um=1/2 Li2
= ln [ ]

Contoh 6.1:

Sebuah kapasitor dengan kapasitas 8 F dihubungkan dengan generator AC yang mempunyai


tegangan maksimum 150 V dan frekuensi 60Hz. Hitunglah harga reaktan kapasitif dan arus
maksimum dalam rangkaian tersebut

Penyelesaian:
Frekuensi sudut : = 2f= 377 s-1
Reaktansi positif :
Xc=1/C=1/(377 s-1 (180-6 F))= 332
Arus maksimum dalam rangkaian :
Im= Vm/Xc=150V/332=0,452 A
SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
62

Contoh 6.2

Dari gambar 6.5a, andaikan dietahui : L = 60 mH, tegangan maksimum


generator AC 300 V dengan frekuensi 60 Hz, hitunglah :

a. Tegangan maksimum pada induktor


b. Reaktans induktif, dan]
c. Arus maksimum dalam rangkaian.

Penyelesaian :

a. Tegangan maksimum pada induktor sama dengan tegangan maksimum


generator AC, yaitu : Vm = 300 V.
b. Dari persamaan 6.12, reaktans induktif :

c. Dari persamaan 6.11 arus maksimum dalam rangkaian sama denga


arus maksimum yang melalui induktor yaitu :

Bagaimanakah Im akan berubah jika frekuensi generator AC dilipat-duakan?

Contoh 6.3 :

Dari rangkaian seri R-C-L diketahui R= 250 , L = 0,6 H, C = 3,5 F, W = 377 s-1 Vm = 150 V.
Hitunglah :

(a) impedans rangkaian,


(b) harga maksimum arus dalam rangkaian,
(c) sudut fase antara arus dan tegangan yang digunakan,
(d) harga-harga maksimum dan harga-harga sesaat tegangan pada masing-masing elemen.

Penyelesaian:

(a) XL = L = (377 s-1) (0,6H) = 226

XC = = = 758

Impedans rangkaian :

Z=

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011


63

= = 588


(b) Harga maksimum arus rangkaian:

Im = = = 0,255 A

(c) Sudut fase antara arus dan tegangan yang digunakan:

tg = = 0,255 A

= arc tg = arc tg ( )

= -61,8

negative berarti fase arus mendahului tegangan.

(d) Harga-harga maksimum tegangan pada masing-masing elemen:

VR = ImR = (0,255 A) (250 ) = 63,8 V

VC = ImXC = (0,255 A) (758 ) = 193 V

VL = ImXL = (0,255 A) (226 ) = 57,6 V

Dengan asumsi bahwa sudut fase tegangan yang dipergunakan tertinggal 64,8 terhadap arus, maka
harga-harga sesaat arus dan tegangan yang digunakan masing-masing adalah:

i = Im sin t = 0,255 sin (377 . t) A

v = Vm sin (t 64,8) = 150 sin (377 . t) V

sedang harga-harga sesaat tegangan pada masing-masing elemen adalah:

VR = VR sin (t) = 63,8 sin (377 . t) V

VC = VC sin (t - ) = - VC cos t = - 193 cos (377 . t) V

VL = VL sin (t + ) = - VL cos t = 57,6 cos (377 . t) V

Contoh 6.4:

Hitunglah rata-rata dalam rangkaian seri R-C-L pada contoh 6.3


SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
64

Penyelesaian:

Dengan menggunakan persamaan

Vrms = = = 106 V

Irms = = = 0,180 A

= -64,80 cos = 0,426

Daya rata-rata:

P = Irms . Vrms cos

= (0,180 A) (106 V) (0,426)

= 8,13 W

Catatan: hasil yang sama akan diperoleh bila daya rata-rata tersebut dihitung dengan
menggunakan persamaan P = . R.

Contoh 6.5:

Pada rangkaian seri R-C-L diketahui R = 150 , L = 20 mH, Vm = 20 V dan = 5000 s-1.
Tentukan besarnya kapasitas C agar arus dalam rangkaian mencapai harga maksimum dan
tentukan pula harga maksimum arus tersebut.

Penyelesaian:

Arus maksimum dicapai apabila = .

5.103 s-1 =

C=

= = 2 F

Pada keadaan resonansi, XL = XC, dan Z = R, sehingga harga arus maksimum :


SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011
65

Im = =

SEMESTER PENDEK TEKNIK KIMIA 2011