Anda di halaman 1dari 13

Tugas Makalah

PRAKTIKUM HIDROLOGI TEKNIK

PANCI PENGUKURAN EVAPORASI

KELOMPOK 1

ANDI ASRI AINUN G411 15 001


SRI RAHAYU NINGSIH G411 15 007
PUTRI WIRANDA G411 15 020
NUR ISLAMIYAH G411 15 301
INDRA HENRIANTO G411 15 303
DESI ASHARI KUMALA G411 15 311
MUHAMMAD REZA F G411 15 305
MEXY MANASYE G411 15 307
ALFIRAH G411 15 507
APRILIA ANGGREANI G411 15 505

PROGRAM STUDI KETEKNIKAN PERTANIAN


DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang
disusun untuk memenuhi tugas makalah HIDROLOGI TEKNIK sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan.
Terima kasih kami sampaikan kepada dosen bidang studi yang telah
memberikan kesempatan bagi kami untuk mengerjakan tugas makalah ini,
sehingga kami menjadi lebih mengerti, mengetahui, dan memahami tentang
materi PANCI EVAPORASI. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar besarnya kepada seluruh pihak yang baik secara langsung maupun tidak
langsung telah membantu dalam upaya penyelesaian makalah ini baik mendukung
secara moril dan materil.
Kami menyadari bahwa kami hanya manusia biasa yang tidak pernah lepas
dari kesalahan, maka dalam pembuatan makalah ini masih banyak yang harus di
koreksi dan jauh dari kesempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat
dianjurkan guna memperbaiki kesalahan dalam makalah ini. Demikian, apabila
ada kesalahan dan kekurangan dalam isi makalah ini, kami mohon maaf yang
sebesar-besarnya dan akhir kata, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
kami semua.
Terima kasih

Makassar, 01 Mei 2017

Kelompok I
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu planet dalam tata surya yang mempunyai kandungan air yang
cukup banyak adalah bumi. Lapisan air yang menyelimuti bumi disebut hidrosfer.
Hidrosfer merupkan lapisan yang terdapat dibagian luar bumi terdiri ata air laut,
sungai, danau, air dalam tanah, dan resapan-respan.
Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer
ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi
dan transpirasi. Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses
siklus hidrologi yang berjalan secara terus menerus berevaporasi, kemudian jatuh
sebagai presipitasi dalam bentuk air hujan, salju, hujan es, dan lain sebagainya.
Kehilangan air melalui permukaan teras atau penguapan (evaporasi) dan
melalui permukaan tanaman (transpirasi) disebut evapotranspirasi atau kadang-
kadang disebut penggunaan air tanaman (water use). Evapotranspirasi merupakan
salah satu komponen neraca air atau menjadi dua komponen bila dipilih menjadi
evaporasi dan transpirasi.
Uap air memiliki keberagaman. Keberagaman itulah yang terkait dengan
kenyataan bahwa uap air terus-menerus ditambahkan ke dalam atmosfer oleh
penguapan dan hilang akibat pengembunan dan curahan yang menjadikannya
bagian yang demikian penting dalam udara. Segi yang paling menonjol dari cuaca
(hujan, salju, hujan es, kabut, halilintar, dan sebagainya) dihasilkan oleh adanya
air dalam atmosfer.

1.2 Rumusan Masalah

1 Apa yang dimaksud siklus hidrologi?

2 Apa yang dimaksud dengan evaporasi?

3 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi evaporasi?

4 Apa yang dimaksud dengan evaporator?


5 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaporasi terhadap
kecepatan penguapan?

1.3 Tujuan

1 Untuk mengetahui dasar teori mengenai evaporasi.

2 Untuk mengetahui faktor-faktor evaporasi.

3 Untuk mengetahui cara menentukan besarnya evaporasi.

4 Untuk mengetahui dasar teori mengenai evaporator.

1.4 Ruang Lingkup Materi

1 Pengertian Evaporasi

2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Evaporasi

3 Penentuan Besarnya Evaporasi

4 Perkiraan Evaporasi Berdasarkan Panci Evaporasi

5 Perkiraan Evaporasi Dengan Menggunakan Rumus Empiris

6 Alat pengukur evaporasi

7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Evaporasi Terhadap Kecepatan


Penguapan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Siklus Hidrolgi

Siklus air (siklus hidrologi) adalah rangkaian peristiwa yang terjadi dengan
air dari saat ia jatuh ke bumi (hujan) hingga menguap ke udara untuk kemudian
jatuh kembali ke bumi yang merupakan konsep dasar keseimbangan air secara
global dan menunjukkan semua hal yang berhubungan dengan air. Prosesnya
sendiri berlangsung mulai dari tahap awal terjadinya proses penguapan
(evaporasi) secara vertikal dan di udara mengalami pengembunan
(evapotranspirasi), lalu terjadi hujan akibat berat air atau salju yang ada di
gumpalan awan. Lalu air hujan jatuh keatas permukaan tanah yang mengalir
melaui akar tanaman dan ada yang langsung masuk ke pori-pori tanah. Dan
didalam tanah terbentuklah jaringan air tanah (run off) yang juga mengalami
transpirasi dengan butir tanah. Sehingga dengan air yang berlebih tanah menjadi
jenuh air sehingga terbentuklah genangan air (Suryono, 2013).
Gambar 1. Siklus Hidrologi
(Suryono, 2013).
Hujan yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi aliran maupun tidak
langsung yaitu melalui vegetasi atau media lainnnya akan membentuk siklus
aliran air mulai dari tempat yang tinggi (gunung, pegunungan) menuju ke tempat
yang rendah baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir di
laut. Dengan adanya penyinaran matahari, maka semua air yang ada dipermukaan
bumi akan berubah wujud berupa gas/uap akibat panas matahari dan disebut
dengan penguapan atau evaporasi dan transpirasi. Uap ini bergerak di atmosfer
(udara) kemudian akibat perbedaan temperatur di atmosfer dari panas menjadi
dingin maka air akan terbentuk akibat kondensasi dari uap menjadi cairan (from
air to liquid state). Bila tempertur berada di bawah titik beku (freezing point)
kristal-kristal es terbentuk. Tetesan air kecil (tiny droplet) umbuh oleh kondensasi
dan berbenturan dengan tetesan air lainnya dan terbawa oleh gerakan udara
turbulen sampai pada kondisi yang cukup besar menjadi butir-butir air. Apabila
jumlah butir sir sudah cukup banyak dan akibat berat sendiri (pengaruh gravitasi)
butir-butir air itu akan turun ke bumi dan proses turunnya butiran air ini disebut
dengan hujan atau presipitasi. Bila temperatur udara turun sampai dibawah 0
Celcius, maka butiran air akan berubah menjadi salju (Suryono, 2013).
Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah yang
rendah, dari gunung-gunung, pegunungan ke lembah, lalu ke daerah yang lebih
rendah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut. Aliran air ini
disebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas muka tanah. Aliran ini
biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju kesistem
jaringan sungai, sistem danau atau waduk. Dalam sistem sungai aliran
mengalir mulai dari sistem sungai kecil ke sistem sungai yang besar dan akhirnya
menuju mulut sungai atau sering disebut estuary yaitu tempat bertemunya
sungai dengan laut (Suryono, 2013).
Menurut Suryono (2013), menjelaskan siklus hidrologi yang merupakan
perjalanan air, terjadi beberapa proses yaitu:
1 evaporasi, adalah proses penguapan air laut oleh karena panas terik matahari,
2 transpirasi, adalah proses pengupan yang terjadi oleh karena pernapasan
(respirasi) tumbuhan hijau,
3 evapotranspirasi, adalah gabungan dari proses evaporasi dan transpirasi.
Misal, curahan yang jatuh di dahan-dahan pohon kemudian menguap bersama
dengan penguapan transpirasi,
4 kondensasi, adalah proses perubahan wujud uap air hasil evaporasi, menjadi
kembali kebentuk yang lebih padat yaitu butiran-butiran air mikro yang
membentuk awan. Proses kondensasi ini dipengaruhi oleh suhu udara, awan
dapat terbentuk pada saat suhu udara dingin,
5 moving, pergerakan awan yang disebabkan oleh angin. Dipengaruhi oleh jenis
angin, angin pantai, darat, gunung, atau lembah,
6 presipitasi, butiran-butiran air mikro dalam awan menjadi dinamis ketika
ditekan oleh angin, sehingga menyebabkan bertabrakan. Tabrakan antar butir
ini menyebabkan terjadinya curahan. Jenis curahan dipengaruhi oleh
temperatur pada iklim suatu daerah, dapat berwujud air ataupun salju, atau
dimungkinkan terjadi hujan es apabila suhu memungkinkan.
7 surface run-off, adalah limpasan permukaan. Air dari proses curahan langsung
melimpas pada permukaan tanah,
8 infiltrasi, adalah proses meresapnya air ke dalam tanah
9 perkolasi, adalah proses kelanjutan dari infiltrasi dengan gerakan air yang
tegak lurus, bergerak terus kebawah tanah hingga mencapai zona jenuh air
(saturated zone),

2.2 Pengertian Evaporasi


Evaporasi adalah proses pertukaran melalui molekul air di atmosfer atau
peristiwa berubahnya air atau es menjadi uap di udara. Penguapan terjadi
pada tiap keadaan suhu sampai udara di permukaan tanah menjadi jenuh
dengan uap air. Evaporasi merupakan faktor penting dalam siklus hidrologi,
evaporasi sangat mempengaruhi debit sungai, besarnya kapasitas waduk, besarnya
kapasitas pompa untuk irigasi, penggunaan konsumtif untuk tanaman. Air
akan menguap dari tanah, baik tanah gundul atau yang tertutup oleh tanaman
dan pepohonan, permukaan tidak tembus air seperti atap dan jalan raya, air
bebas dan air mengalir. Laju evaporasi atau penguapan akan berubah-ubah
menurut warna dan sifat pemantulan permukaan dan hal ini juga akan
berbeda untuk permukaan yang langsung tersinari oleh matahari dan terlindungi
dari sinar matahari. (Anugrah, 2009).

2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Evaporasi

Menurut Herfianto (2013), beberapa faktor meteorologi yang mempengaruhi


besarnya tingkat evaporasi adalah sebagai berikut:
1 Radiasi matahari
Evaporasi adalah proses perubahan air dengan wujud cair menjadi wujud gas.
Proses ini terjadi di siang hari dan kerap kali juga di malam hari. Perubahan dari
wujud cair menjadi gas, memerlukan energy berupa panas. Sumber energi utama
proses evaporasi adalah sinar matahari, dan proses tersebut terjadi semakin besar
pada saat penyinaraan langsung dari matahari. Awan merupakan penghalang
proses evaporasi, yang mengurangi input energi matahari.
2 Angin
ketika air menguap ke atmosfir, maka lapisan batas antara tanah dengan udara
menjadi jenuh dengan uap air, sehingga proses evaporasi berhenti. Agar proses
evaporasi dapat terus berjalan, maka udara tersebut haruslah diganti dengan udara
kering. Pergantian tersebut dapat dimungkinkan jika terjadi angin, jadi kecepatan
angin memegang peranan dalam proses evaporasi.
3 Kelembaban relatif
Faktor lain yang mempengaruhi evaporasi adalahkelembaban relatif udara.
Jika kelembaban relatif ini naik, kemampuannya untuk menyerap uap air akan
berkurang sehingga laju evaporasinya akan menurun. Penggantian lapisan udara
pada batas tanah dan udara dengan udara yang sama kelembaban relatifnya tidak
akan menolong untuk memperbesar laju evaporasi.
4 Suhu/ temperatur.
Seperti disebutkan di atas suatu input energi sangat diperlukan agar evaporasi
berjalan terus. Jika suhu udara dan tanah cukup tinggi, proses evaporasi akan
berjalan lebih cepat dibandingkan jika suhu udara dan tanah rendah, karena
adanya energi panas tersedia. Karena kemampuan udara untuk menyerap uap air
akan naik jika suhunya naik, maka suhu udara memiliki efek ganda terhadap
besarnya evaporasi, sedangkan suhu tanah dan air mempunyai efek tunggal.

2.4. Evaporator

Menurut Rustam (2008), berdasarkan alat pengukur evaporasi adalah


evaporator, evaporator dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
1 Submerged combustion evaporator yang dipanaskan oleh api yang menyala
dibawah permukaan cairan, dimana gas yang panas bergelembung melewati
cairan.
2 Direct fired evaporator adalah evaporator degan pengapian langsung dimana
api dan pembakaran gas dipisahkan dari cairan mendidih lewat dinding besi
atau permukaan untuk memanaskan.
3 Steam heated evaporator adalah evaporator dengan pemanasan stero
dimanauap atau uap lain yang dapat dikondensasi adalah sumber panas
dimana uap terkondesasi di satu sisi dari permukaan pemanas dan panas
ditransmisi lewat dinding ke cairan mendidih.
2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaporator
A. Konsentrasi dalam cairan

Untuk liquida msuk evaporator dalam keadaan encer, juga semakin pekat
larutan, semakin tinggi pula titik didih larutan dan untuk ini harus diperhatikan
adanya kenaikan titik didih (KTD).

B. Kelatutan solute dalam larutan


1 Dengan demikian pekatnya larutan, maka konsentrasi solute makin tinggi
pula, sehingga btas hasil kali kelarutan dapat terlampaui yang akibatnya
terbentuk Kristal solute. Jika dengan adanya hal ini, dalam evaporasi harus
diperhatikan batas konsentrasi solute yang maksimal yang dapat dihasilkan
oleh proses evaporasi.
2 Pada umumnya, kelarutan suatu granul/solid makin besar dengan makin
tingginya suhu, sehingga pada waktu drainage dalam keadaan dingin
dapat terbentuk Kristal yang dalam hal ini dapat merusak evaporator. Jadi
harus diperhatikan suhu drainage.
3 Sensitifitas materi terhadap suhu dan lama pemanasan
Beberapa zat materi yang dipanskan dalam evaporasi tidak tahan terhadap
suhu tinggi atau terhadap pemanasan yang terlalu alam. Misalnya bahan-bahan
biologis seperti susu, jus, bahan-bahan farmasi dan sebagainya. Jadi untuk zat-zat
semacam ini diperlukan suatu cara tertentu untuk mengurangi waktu pemanasan
dan suhu operasi.
2.4.1 Panci Evaporasi
Evaporimeter panci terbuka digunakan untuk mengukur evaporasi. Semakin
luas permukaan panci, maka semakin tinggi pula representative/penguapan yang
terjadi pada suatu permukaan air.

Gambar 2. Panci Evaporasi


A. Bagian-bagian Alat
Pengukuran evaporasi dengan menggunakan evaporimeter memerlukan
perlengkapan sebagai berikut :
1 Panci Bundar Besar : untuk menampung air
2 Hook Gauge : yaitu suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan
air dalam panci. Hook Gauge mempunyai bermacam-macam bentuk,
sehingga cara pembacaannya berlainan.
3 Still Well : bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder dan
mempunyai 3 buah kaki untuk menempakkan hook geuge sehingga mudah
pembacaan
4 kayu penopang untuk penyangga panic sehingga tidak bersentuhan dengan
tanah karena tanah menngandung panas yang akan menambah penguapan
5 temometer aur untuk mengukur suhu air permukaan

B. Prosedur Kerja
1 Cara membuat panci evaporasi
a Membuat panci dari drum minyak
2 Memotong drum minyak dengan ukuran tinggi panci 28 cm menggunakan
gerinda pemotong.
3 Menghaluskan daerah dalam panci yang berkarat menggunakan amplas
penghalus.
4 Mengcat daerah dalam panci menggunakan cat warna merah
5 Mengkeringkan hasil cat pada daerah dalam panci
6 Melakukan pengujian pada panci evaporasi
7
8 Cara mendapatkan data penguapan adalah dengan menambahkan atau
mengambil air dari tangki yang berbentuk silinder.
9 Bila tidak terjadi hujan, maka evaporasi adalah jumlah air yang ditambahkan
hingga permukaan air sejajar ujung paku.
10 Bila ada hujan X mm dan permukaan air masih dibawah ujung paku, maka
evaporasi adalah jumlah curah hujan ditambah jumlah air yang ditambahkan
hingga permukaan air sejajar ujung paku.
11 Bila curah hujan Y mm dimana permukaan air setara atau imbang dengan
ujung paku, maka evaporasi adalah sama dengan curah hujan.
12 Bila curah hujan Z mm dimana permukaan air diatas ujung paku, maka
evaporasi adalah jumlah curah hujan dikurangi jumlah air yang dikurangkan
hingga permukaan air sejajar ujung paku
13 Bila curah hujan diatas minimal 54 mm, maka besarnya penguapan tidak
dapat diukur ( karena tumpah ).
14 Selama 3 hari setiap pukul 06.00, 12.00, dan 16.00 dilakukan pengamatan.
15 Mencatat hasil pengukuran perubahan tinggi air pada panci penguapan.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1 Siklus hidrologi adalah prinsip dasar yang paling utama dalam hidrologi.
Siklus hidrologi ini digambarkan sebagai suatu rangkaian yang rumit dari
peredaran air dalam berbagai wujud (cair dan uap air) pada permukaan, di
bawah permukaan bumi dan di atmosfir, dimana hukum kekentalan massa
ditampilkan sebagai azas yang paling mendasar.
2 Evaporasi adalah proses pertukaran melalui molekul air di atmosfer atau
peristiwa berubahnya air atau es menjadi uap di udara. Penguapan terjadi
pada tiap keadaan suhu sampai udara di permukaan tanah menjadi jenuh
dengan uap air.
3 Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya evaporasi meliputi radiasi
matahari, temperatur udara dan permukaan, kelembaban dan Angin.
DAFTAR PUSTAKA

Anugrah S. 2009. Fisiologi Tumbuhan Tranpirasi dan Evaporasi. Universitas


Andalas Padang: Padang.

Herfianto N. 2013. Pengaruh Durasi Evaporasi Etanol Low Grade terhadap


Kadar Etanol pada Residu Hasil Evaporasi. Universitas Brawijaya:
Yogyakarta.

Johannes E. 2010. Pendugaan Evapotranspirasi pada Tanaman Padi Sawah di


Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dengan menggunakan
Model Simulasi Neraca Air. Universitas Sam Ratulangi Manado:
Manado.

Rustam S. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Penerbit Andi.


Yogyakarta

Safitrani. 2008. Studi Variasi Beban Pendinginan di Evaporator Low Stage Sistem
Refrigerasi Cascade menggunakan Heat Exchanger Tipe Concentric
Tube Dengan Fluida Kerja Refrigeran Musicool-22 di High Stage
Dan R-404a di Low Stage. Institut Teknologi Sepuluh Nopember:
Surabaya.

Suryono M. 2013. Model Temperatur untuk Pendugaan Evaporasi pada Stasiun


Klimatologi Barongan. Universitas Bantul: Medan.