Anda di halaman 1dari 7

B.

DASAR TEORI
1. Aspirin
Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah sejenis obat turunan
dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan
rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-
inflamasi (peradangan). Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan dapat
digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan
jantung. Kepopuleran penggunaan aspirin sebagai obat dimulai pada tahun
1918 ketika terjadi pandemik flu di berbagai wilayah dunia (Schror K. 2009)
Asam salisilat (o-hidroksi asam benzoat) merupakan senyawa bifungsional, yaitu gugus
fungsi hidroksil dan gugus fungsi karboksil. Dengan demikian asam salisilat dapat berfungsi
sebagai fenol (hidroksi benzena) dan juga berfungsi sebagai asam benzoat. Baik sebagai asam
maupun sebagai fenol, asam salisilat dapat mengalami reaksi esterifikasi. Bila direaksikan
dengan anhidrida asam akan mengalami reaksi esterifikasi menghasilkan asam asetil salisilat
(aspirin). Apabila asam salisilat direaksikan dengan alkohol (metanol) juga mengalami reaksi
esterifikasi menghasilkan ester metil salisilat (minyak gandapura) .(Horizon,2011)
Cara Kerja Aspirin dalam bentuk tablet mengandung asam
asetilsalisilat 0,5 g. Dimaksudkan untuk mengatasi segala rasa sakit
terutama sakit kepala/ pusing, sakit gigi, pegal linu dan nyeri otot, pilek,
influenza dan demam. Efek terapeutik aspirin, menghambat pengaruh dan
biosintesa dari zat-zat yang menimbulkan rasa nyeri, demam dan
peradangan (prostaglandin, kinin), days keria antipiretik dan analgetik pada
aspirin berpengaruh langsung susunan saraf pusat (Dirjen POM, 1979).
Beberapa penelitian menyebutkan aspirin dapat digunakan untuk
pencegahan kanker usus besar (kolorektal), kanker payudara, kanker prostat,
kanker paru, Alzheimer dan penyakit lainnya.
Selain mempunyai banyak manfaat, penggunaan aspirin juga dapat
menimbulkan bahaya. Penggunaan berulang dapat menyebabkan
pendarahan gastrointestinal, indikasi tukak lambung atau tukak peptik yang
kadang kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna
dan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi (10 sampai 20 g) dapat
mengakibatkan kematian.(Tjay, 2002).
Sifat-sifat fisika dan kimia dari aspirin adalah sebagai berikut :
Sifat fisika aspirin :
1. Massa molekul relatif aspirin adalah 180 gram/mol
2. Titik leleh aspirin adalah 133,4C
3. Titik didih aspirin adalah 140C
4. Aspirin merupakan senyawa padat berbentuk kristal
5. Berat molekul aspirin adalah 180,2 gram/mol
6. Berat jenis aspirin adalah 1,4 gram/mL
Sifat kimia aspirin :
1. Sukar larut dalam air, kelarutan dalam air 10 mg/mL (20 C)
2. Larut dalam etanol
3. Larut dalam eter
4. Merupakan senyawa polar
Kegunaan dari aspirin adalah sebagai berikut :
Anpiretik
Analgesik
Antiinflamasi
2. Reaksi Asetilasi
Asetilasi merupakan proses penggantian atom H pada gugus -OH atau -NH 3 oleh gugus
asetil. Zat pengasetelasi yang umum ialah anhidra asetat, asetil klorida, dan ketena
<mulyono.Reaksi asetilasi ini merupakan reaksi yang setimbang. Reaksi asetilasi sama dengan
reaksi esterifikasi, yaitu reaksi antara alkohol dan asam sehingga dihasilkan suatu ester dan air
(Groggin, 1985).
Ester merupakan turunan asam karboksilat yang gugus OH dari karboksilnya diganti
dengan gugus OR dari alkohol. Ester dapat dibuat dari asam dengan alkohol, atau dari
anhidrida asam denga alcohol.Suatu ester asam karboksilat merupakan suatu senyawa yang
mengandung gugus -CO2R dengan R dapat berbentuk alkil maupun aril.Alkohol dengan asam
karboksilat dan turunan asam karboksilat membentuk ester asam karboksilat.Reaksi ini disebut
reaksi esterifikasi (Fessenden & Fessenden, 1986).
Produksi ester secara industri dilakukan dengan mereaksikan asam asetat anhidrat
dengan alkohol.Esterifikasi berkataliskan asam merupakan reaksi yang reversible.Asam anhidrat
ialah turunan dari asam dengan mengambil air dari dua gugus karboksil dan menghubungkan
fragmen-fragmennya. Ester yang dibuat dengan cara ini adalah asam asetil salisilat atau yang
lebih dikenal dengan aspirin.
Proses

sintesis aspirin harus dalam kondisi bebas air, dikarenakan aspirin yang terbentuk akan
terhidrolisis kembali menjadi asam salisilat jika dalam keadaan berair. Mengingat sifatnya yang
higroskopis, asam sulfat juga berperan sebagai penyerap air.
3. Kristalisasi dan Rekristalisasi
Kristalisasi merupakan suatu metode untuk pemurnian zat dengan pelarut dan
dillanjutkan dengan pengendapan. Kristalisasi juga merupakan teknik pemisahan kimia antara
bahan padat-cair, di mana terjadi perpindahan massa (mass transfer) dari suat zat terlarut (solute)
dari cairan larutan ke fase kristal padat. Pelarut kristalisasi merupakan pelarut yang dibawa oleh
zat terlarut yang membentuk padatan dan tergantung dalam struktur Kristal. Karakter proses
kristalisasi ditentukan oleh termodinamika dan faktor kinetik. Faktor-faktor seperti tingkat
ketidakmurnian, metoda penyamburan, desain wadah, dan profil pendinginan bisa berpengaruh
besar terhadap ukuran, jumlah dan bentuk kristal yang dihasilkan. keadaan inilah yang
menyebabkan kristalisasi sulit untuk di kontrol.
Rekristalisasi adalah pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya dengan
cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut yang sesuai. Prinsip
rekristalisasi yaitu perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan kelarutan zat
pencampur atau pencemarnya. Larutan yang terjadi dipisahkan satu sama lain, kemudian larutan
zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya. Rekristalisasi juga berkaitan erat
dengan suhu. Konsentrasi total impuriti biasanya lebih kecil dari konsentrasi zat yang
dimurnikan, bila dingin, maka konsentrasi impuriti yang rendah tetap dalam larutan sementara
produk yang berkonsentrasi tinggi akan mengendap. Kristalisasi dari zat akan menghsilkan
kristal yang identik dan teratur bentuknya sesuai dengan sifat kristal senyawanya. Dan
pembentukan kristal ini akan mencapai optimum bila berada dalam kesetimbangan.
4. Uji Titik Leleh
Titik leleh atau titik lebur dari sebuah benda zat adalah suhu dimana benda atau zat
mengalami perubahan fisik dari fase padat ke fasa cair.(Mulyono,2006. Hal417). Ketika
dipandang dari sisi yang berlawanan (dari cair menjadi padat) disebut titik beku. Pada sebagian
besar benda, titik lebur dan titik beku biasanya sama. Contoh, titik lebur dan titik beku dari
"raksa" adalah 234,32 kelvin (-38,83 C atau -37,89 F) Namun, beberapa subtansi lainnya
memiliki temperatur beku cair yang berbeda. contohnya "agar-agar", mencair pada suhu 85 C
(185 F) dan membeku dari suhu 32-40 C (89,6 - 104 F); fenomena ini dikenal sebagai
hysteresis. Beberapa benda lainnya, seperti kaca, dapat mengeras tanpa mengkristal terlebih
dulu; ini disebut amorphous solid.Tidak seperti titik didih, titik lebur tidak begitu terpengaruh
oleh tekanan (wikipedia, 2014).
Senyawa senyawa murni suhunya hampir tetap selama meleleh atau disebut juga
mempunyai titik leleh yang tajam, misalnya 125,5 - 126 atau 180 - 181, sedangkan untuk
senyawa yang sama tetapi tidak murni akan meleleh pada interval suhu yang lebar, missal 123
126 atau 176 180. Pengotoran yang menyebabkan penurunan titik leleh ini mungkin adalah
suatu bahan berbentuk resin yang tidak diidentifikasi atau senyawa lain yang mempunyai titik
leleh lebih rendah atau lebih tinggi dari senyawa utamanya. Bila suatu senyawa A yang murni
meleleh pada suhu 150 151 dan senyawa B murni meleleh pada suhu 120 121, maka bila
senyawa A ditambah senyawa B, campuran ini akan meleleh secara tidak tajam pada daerah suhu
di bawah 150. Sebaliknya bila senyawa B ditambah sedikit senyawa A, campuran ini akan
meleleh di atas suhu 120. Alat penentu titik leleh ada beberapa macam mulai yang manual
hingga digital seperti thiele, Fisher John Melting point apparatus, blok logam atau dengan
system digital.
5. Analisis Bahan
a. Asam Salisilat
Nama IUPAC : Asam 2 hidroksi benzoate
Sinonim : Acidum salycillum / asetosal
Rumus Molekul : C7H6O3
sun : Tidak kurang dari 99,5 % dan tidak lebih dari 101,0 %C7H6O3 dihitung terdiri dari zat yang
telah dikeringkan.
Titik lebur : antara 158 dan 161
Berat molekul : 1,44
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan benzena mudah larut
dalam air mendidih, agar sukar larut dalam
kloroform.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan dalam praktek : Sebagai bahan dasar pembuatan aspirin
Kegunaan umum : Keratolitikum dan antifungi.
: Padatan ,tidak berbau, rasanya agak manis, berwarna putih, tidak korosif, kemungkinan mudah
terbakar, berbahaya jika kontak langsung dengan mata, kulit, tertelan dan terhirup.
b. Asam Asetat Anhidrat
Nama IUPAC : Acidum Acetic Anhidrat
Sinonim :-
% Unsur : (CH3CO) (Mr = 99 g/mol)
Rumus Molekul : (CH3CO)2O
Berat Molekul : 102,09
% Unsur Penyusun : mengandung tidak kurang dari 95 % C4H6O3
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol 95 %
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
: Cairan jernih tidak berwarna, berbau tajam, rasanya asam, sangat korosif, mudah terbakar.
c. Aspirin
Nama IUPAC : Acidum acetylsalicylium
Sinonim : Asam asetilsalicylium
Berat Molekul : 180, 16
: Agak sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform.
um : Analgetikum, antipiretikum.
:Hablur tidak berwarna, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau, rasa
asam.
d. Asam Sulfat
Nama Resmi : Acidum sulfaricum
Sinonim : Asam Sulfat
Rumus Molekul : H2SO4
Berat molekul : 98,07
Berat jenis : 1, 84 gr/vol
sun : Asam sulfat mengandung tidak kurang dari 95 % dan larut dalam kloroform.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai katalisator
Sifat Bahan : Bersifat Eksoterm
e. Alkohol
Nama Resmi : Aethanolum
Sinonim : Alkohol
Rumus Molekul : C2H6O
Berat molekul : 46, 0 gr/ mol
% unsur penyusun : Hampir larut dalam larutan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pengurang rasa sakit.
f. FeCl3
Nama Resmi : Ferri Chlorida
Sinonim : Besi (III) Klorida
Rumus Molekul : FeCl3
Berat molekul : 162,5 gr/ mol
Berat jenis : 1, 84 gr/vol
% unsur penyusun : Besi (III) Klorida larut dalam air, larutan
berpotensi berwarna jingga.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai pereaksi.
: Padatan, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa, korosif, tidak mudah terbakar, sangat
berbahaya jika tertelan. Dan bahaya ketika kontak langsung dengan mata, kulit, dan terhirup.
g. Aquades
Nama Resmi : Aqua Destilata.
Sinonim : Air Suling / aquadest
Berat molekul : 18,02 gr/ mol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
h. HCl
Nama Resmi : Acidum Hydrochloridum
Sinonim : Asam Klorida
Rumus Molekul : HCl
Berat molekul : 36,46 gr/ mol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai zat tambahan
: Cairan, berbau tajam, tidak berasa, tidak berwarna sampai berwarna kuning terang,
sangat korosif, tidak mudah terbakar, sangat berbahaya jika kontak langsung dengan mata,
kulit,dan terhirup.
i. NaHCO3
Nama Resmi : Natri Subcarbonas Acidum sulfaricum
Sinonim : Natrim Bikarbonat
Rumus Molekul : NaHCO3
Berat molekul : 84,0 g/ mol
sun : NaHCO3 larut dalam 11 bagian air, praktis tidak larut dalam kloroform.
: Dalam wadah tertutup baik
: Sebagai katalisator
: Tidak berbau, berwarna aputih, tidak korosif, tidak mudah terbakar, sedikit berbahaya jika
kontak langsung dengan kulit, mata, tertelan, dan terhirup.
j. Benzena
Nama Resmi : Benzol
Sinonim : Benzene
Rumus Molekul : C6H6

Berat Molekul : 78,11


Kelarutan : Larut dalam 1430 bagian air.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
: Cairan transparan, tidak berwarna, mudah menyala